Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN DEGENERASI MAKULA

KELOMPOK 5 :

1. CINDY DWI SASTIKA (616080716005)


2. HERVINA LUZWINTA ZAGOTO (6160807160)
3. LIDYA NANDA SARI (616080716022)
4. MARDALISA HUTAGALUNG (616080716024)
5. NUR FAIZA (6160807160)
6. NURHANANI AFIFAH (6160807160)
7. SAFITRI GUNAWAN (616080716050)
8. YANTI OKTAVINA (616080716055)

STIKES MITRA BUNDA PERSADA BATAM


TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa ta’ala


karena telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan Laporan
Pendahuluan & Asuhan Keperawatan pada Degenerasi Makula ini tepat
waktu.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


membantu dalam proses pembuatan Laporan Pendahuluan & Asuhan
Keperawatan pada Degenerasi Makula ini. Tanpa dukungan dari berbagai
pihak mungkin makalah ini tidak bisa selesai tepat waktu.

Kami menyadari makalah yang kami buat ini masih banyak


kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca. Akhir kata kami mengharapkan Laporan Pendahuluan & Asuhan
Keperawatan pada Degenerasi Makula ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Batam, 10 Februari 2018

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG ........................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN ............................................................................................ 2
A. LAPORAN PENDAHULUAN ........................................................... 2
1. Definisi ............................................................................................ 2
2. Etiologi ............................................................................................ 2
3. Anatomi Fisiologi ............................................................................ 3
4. Patofisiologi..................................................................................... 4
5. Manifestasi Klinis............................................................................ 5
6. Pemeriksaan Penunjang ................................................................... 5
7. Penatalaksanaan ............................................................................... 6
8. Komplikasi ...................................................................................... 7
A. ASUHAN KEPERAWATAN ............................................................. 8
1. Kasus ............................................................................................... 8
2. Pengkajian ....................................................................................... 8
3. Analisa Data .................................................................................. 14
4. Diagnosa Keperawatan .................................................................. 16
5. Intervensi Keperawatan ................................................................. 16
6. Catatan Perkembangan .................................................................. 15
BAB III
PENUTUP .................................................................................................... 18
A. KESIMPULAN ................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Membaiknya sistem pelayanan kesehatan disertai pesatnya kemajuan
bidang kedokteran meningkatkan usia harapan hidup (di Indonesia tahun
2004: perempuan 68 tahun, laki-laki 63,8 tahun). Di sisi lain akan muncul
berbagai penyakit degeneratif antara lain yang mengganggu tajam
penglihatan seperti ARMD (Age-Related Macular Degeneration). ARMD
menyerang makula, yang dapat menyebabkan kebutaan; upaya pengobatan,
laser, dan operasi tidak dapat menjanjikan tajam penglihatan yang lebih
baik. Saat ini ARMD merupakan masalah sosial di negara-negara barat. Di
dunia, penderita ARMD diperkirakan telah mencapai 20-25 juta jiwa yang
akan bertambah tiga kali lipat akibat peningkatan usia lanjut dalam waktu
30- 40 tahun mendatang.
Pada tahun 2003, WHO memperkirakan 8 juta orang akan
mengalami kebutaan akibat ARMD. Dampak psikososial akibat ARMD
cukup besar karena penderita akan mengalami gangguan penglihatan sentral
sehingga sulit melakukan aktivitas resolusi tinggi, seperti membaca,
menjahit, mengemudi, dan mengenali wajah. Selain itu, penanganannya
juga membutuhkan biaya tinggi dan sering hasilnya tidak dapat diprediksi.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. LAPORAN PENDAHULUAN
1. Definisi
ARMD (Age-Related Macular Degeneration) merupakan suatu
kelainan degeneratif yang mengenai polus posterior retina khususnya
makula lutea, yang ditandai dengan adanya drusen, biasanya tanpa
keluhan bila belum mengenai makula bagian sentral.
Degenerasi makula adalah keadaan dimana makula mengalami
kemunduran hingga terjadi penurunan ketajaman penglihatan & dapat
menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan sentral.
ARMD merupakan degenerasi makula yang timbul pada usia >50
tahun; ditandai dengan lesi makula berupa drusen, hiperpigmentasi atau
hipopigmentasi yang berhubungan dengan drusen pada kedua mata,
neovaskularisasi koroid, perdarahan sub-retina, dan lepasnya epitel
pigmen retina.

2. Etiologi
Degenerasi makula dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan dapat
diperberat oleh beberapa faktor resiko, diantaranya :
a. Umur
b. Genetik, penyebab kerusakan makula adalah CFH, gen yang
bermutasi atau faktor komplemen H yang dapat dibawa oleh para
keturunan penderita penyakit ini. CFH terkait dengan bagian dari
sistem kekebalan tubuh yang meregulasi peradangan
c. Merokok
d. Ras kulit putih (kaukasia)
e. Riwayat keluarga, resiko seumur hidup terhadap pertumbuhan
degenerasi makula adalah 50% pada orang yang mempunyai
hubungan keluarga penderita dengan degenerasi makula, dan 12 %

2
pada mereka yang tidak memiliki hubungan dengan degenerasi
macula
f. Hipertensi dan diabetes
g. Paparan terhadap sinar Ultraviolet
h. Obesitas dan kadar kolesterol tinggi

3. Anatomi Fisiologi
Makula terletak di retina bagian polus posterior di antara arteri retina
temporal superior dan inferior dengan diameter ± 5,5 mm. Makula adalah
suatu daerah cekungan di sentral berukuran 1,5 mm; kira-kira sama
dengan diameter diskus; secara anatomis disebut juga dengan fovea. 4,5
Secara histologis, makula terdiri dari 5 lapisan, yaitu membran limitan
interna, lapisan fleksiformis luar (lapisan ini lebih tebal dan padat di
daerah makula karena akson sel batang dan sel kerucut menjadi lebih
oblik saat meninggalkan fovea dan dikenal sebagai lapisan serabut
Henle), lapisan nukleus luar, membran limitan eksterna, dan sel-sel
fotoreseptor.
Sel batang dan kerucut merupakan sel fotoreseptor yang sensitif
terhadap cahaya. Sel sel ini memiliki 2 segmen yaitu segmen luar dan
segmen dalam. Segmen luar (terdiri dari membran cakram yang berisi
pigmen penglihatan) berhubungan dengan epitel pigmen retina. Sel epitel
pigmen retina akan memfagositosis secara terus menerus membran
cakram, sisa metabolisme segmen luar yang telah difagositosis oleh
epitel pigmen retina disebut lipofusin. Sel epitel pigmen retina memiliki
aktivitas metabolisme yang tinggi; dengan bertambahnya usia, pigmen
lipofusin makin bertambah, akibatnya akan mengganggu pergerakan
nutrien dari pembuluh darah koroid ke epitel pigmen retina dan sel
fotoreseptor.

3
4. Patofisiologi
Patofisiologi ARMD belum diketahui pasti, ada teori yang
mengaitkanya dengan proses penuaan dan teori kerusakan oksidatif.
a. Proses penuaan
Bertambahnya usia maka akan menyebabkan degenerasi
lapisan retina tepatnya membran Bruch; degenerasi membran Bruch
menyebabkan lapisan elastin berkurang sehingga terjadi penurunan
permeabilitas terhadap sisa-sisa pembuangan sel. Akibatnya terjadi
penimbunan di dalam epitel pigmen retina (EPR) berupa lipofusin.
Lipofusin ini akan menghambat degradasi makromolekul seperti
protein dan lemak, mempengaruhi keseimbangan vascular endothelial
growth factor (VEGF), serta bersifat fotoreaktif, akibatnya akan
terjadi apoptosis EPR. Lipofusin yang tertimbun di dalam sel EPR
menurunkan kemampuan EPR untuk memfagosit membran cakram sel
fotoreseptor. Lipofusin yang tertimbun di antara sitoplasma dan
membran basalis sel EPR, akan membentuk deposit laminar basal
yang akan menyebabkan penebalan membran Bruch. Kerusakan
membran Bruch juga akan menimbulkan neovaskularisasi koroid.
b. Teori kerusakan oksidatif
Sel fotoreseptor paling banyak terkena pajanan cahaya dan
menggunakan oksigen sebagai energi, kedua faktor tersebut akan
menyebabkan terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas adalah atom
atau molekul yang memiliki elektron yang tidak berpasangan, yang

4
bersifat sangat reaktif dan tidak stabil. Bila produksi radikal bebas
berlebihan dan anti-oksidan yang ada tidak mampu meredamnya, akan
timbul suatu keadaan stres oksidatif yang selanjutnya akan memicu
kerusakan oksidatif tingkat selular.
Kerusakan oksidatif retina dapat terjadi karena terbentuknya
reactive oxygen species (ROS) oleh oksidasi di mitokondria. Makula
sangat rentan terhadap kerusakan oksidatif karena banyaknya sel
fotoreseptor yang bagian dalamnya sangat banyak mengandung
mitokondria sedangkan bagian luarnya banyak mengandung asam
lemak tidak jenuh ganda sehingga dapat membocorkan ROS.
Oksigenasi yang tinggi di koroid mempermudah kerusakan oksidatif.
Selain itu, terpajannya makula dengan sinar ultraviolet juga akan
menimbulkan proses oksidatif. Sel EPR yang mengalami kerusakan
oksidatif ini akan menghasilkan vascular endothelial growth factor
(VEGF) sehingga akan dapat memicu terjadinya choroidal
neovascularization (CNV).

5. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala klinik yang biasa didapatkan pada penderita degenerasi
makula antara lain :
a. Distorsi penglihatan, metamorphopsia
b. Garis-garis lurus mengalami distorsi, terutama dibagian pusat
penglihatan
c. Kehilangan kemampuan membedakan warna dengan jelas
d. Ada daerah kosong atau gelap di pusat penglihatan
e. Kesulitan membaca, kata-kata terlihat kabur atau berbayang
f. kehilangan fungsi penglihatan tanpa rasa nyeri secara tiba-tiba atau
perlahan

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan fisik

5
ARMD biasanya terjadi bilateral, tetapi sering asimetris.
Ketajaman penglihatan menurun. Test yang dapat dilakukan adalah
test Amsler grid dan tes penglihatan warna. Pada test Amsler Grid,
pasien diminta mngamati suatu halaman uji yang mirip kertas
milimeter grafis, untuk memeriksa luar titik yang terganggu fungsi
penglihatannya. Kemudian, retina diteropong melalui lampu senter
kecil dengan lensa khusus. Test penglihatan warna, untuk melihat
apakah penderita masih dapat membedakan warna, dan tes-tes lain
untuk menemukan keadaan yang dapat menyebabkan kerusakan pada
makula.
b. Pemeriksaan laboratorium
Tidak ada hasil laboratorium yang dapat menegakkan
diagnosa dari ARMD.
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan
hasil pemeriksaan oftalmoskopi yang mencakup ruang lingkup
pemeriksaan sebagai berikut :
1. Test Amsler Grid
2. Test penglihatan warna
3. Fundus Fluoresens Angiografi

7. Penatalaksanaan
Tidak ada terapi khusus untuk AMD noneksudatif Penglihatan
dimaksimalkan dengan alat bantu penglihatan termasuk alat pembesar
dan teleskop. Pasien diyakinkan bahwa meski penglihatan sentral
menghilang, penyakit ini tidak menyebabkan hilangnya penglihatan
perifer. Ini penting karena banyak pasien takut mereka akan menjadi buta
total.
Apabila tidak ada neovaskularisasi retina, tidak ada terapi medis atau
bedah untuk pelepasan epitel pigmen retina serosa yang terbukti
bermanfaat. Pemakaian interferon alfa parenteral, misalnya, belum
terbukti efektif untuk penyakit ini. Namun apabila terdapat membrane

6
neovaskular subretina ekstrafovea yang berbatas tegas (200 um dari
bagian tengah zona avaskular fovea), diindikasikan fotokoagulasi laser.
Setelah fotokoagulasi membrane neovaskular subretina berhasil
dilakukan, neovaskularisasi rekuren di dekat atau jauh dari jaringan parut
laser dapat dapat terjadi pada separuh kasus dalam 2 tahun. Rekurensi
sering disertai penurunan penglihatan berat sehingga pemantauan yang
cermat dengan Amsler grid, oftalmoskopi dan angiografi perlu dilakukan.
Pasien dengan gangguan penglihatan sentral di kedua matanya mungkin
memperoleh manfaat dari pemakaian berbagai alat bantu penglihatan
kurang.
Selain itu terapi juga dapat dilakukan di rumah berupa pembatasan
kegiatan dan follow up pasien dengan mengevaluasi daya penglihatan
yang rendah. Selain itu dengan mengkomsumsi multivitamin dan
antioksidan (berupa vitamin E , vitamin C, beta caroten, asam cupric dan
zinc), karena diduga dapat memperbaiki dan mencegah terjadinya
degenerasi makula. Sayuran hijau terbukti bisa mencegah terjadinya
degenerasi makula tipe kering. Selain itu kebiasaan merokok dikurangi
dan dan pembatasn hipertensi.

8. Komplikasi
Komplikasi pada penyakit Degenerasi makula atau age-related
macular degeneration (AMD/ARMD) adalah kebutaan pada pasien
kronis.

7
A. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Kasus
Ny. K umur 74th tinggal di panti werdha sejak tahun 2016. Pasien
sudah lama mengeluh tidak bisa melihat dan pandangannya kabur, Saat
di periksa didapatkan adanya bintik-bintik abu-abu atau hitam pada pusat
lapangan pandang (retina) Oleh dr. Spesialis mata. Klien juga memiliki
riwayat diabetes mellitus dan hipertensi.
TD : 190/100 mmHg
N : 88x/mnt
R : 28x/mnt
SB : 36,6oC

2. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. K
Umur : 74 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Suku : Gorontalo
Status Perkawinan : Janda
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan yang Dirasakan
Klien mengeluh tidak bisa melihat dengan jelas pada bagian
mata Saat di periksa didapatkan adanya bintik-bintik abu-abu atau
hitam pada pusat lapangan pandang (retina), Oleh dr. Spesialis
mata, Ny. K dinyatakan ARMD. Ny, K sering bertanya-tanya
tentang pertanyaannya dan klien mengatakan tidak tahu cara
menurunkan tekanan darah.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Klien juga memiliki riwayat diabetes mellitus dan hipertensi.

8
c. Genogram

d. Pola Kebiasaan
1) Makan dan Minum
Ny. K mengatakan,”saya makan 2 kali atau 3 kali dalam
sehari tergantung nafsu makan. Makanan yang biasa saya makan
itu makanan yang biasa diantar petugas. Kadang makan makanan
yang dibawa oleh anak – anak saya, berupa bubur, nasi, sayur, ikan,
daging ayam. Saya kadang – kadang juga makan santan.”
2) Eliminasi
a) Buang air kecil sehari 3 – 4 kali dengan jumlah yang sedikit.
Warna urine kuning. Klien mengatakan tidak ada keluhan saat
BAK.
b) Buang air besar klien 2 hari sekali, konsistensi padat, jumlah
sedikit, tidak ada darah atau lendir pada feses. Kegiatan ini
dapat dilakukan sendiri oleh Ny. K tanpa bantuan orang lain di
kamar mandi dan jamban ( jenis leher angsa) yang ada di dalam
wisma.
3) Personal Hygine
a) Mandi
Ny. K mengatakan mandi 2 kali sehari kadang hanya sekali
sehari menggunakan sabun. Kegiatan ini juga dilakukan sendiri

9
b) Gosok gigi
Klien menggosok gigi sehari 2 kali dengan pasta gigi dan
dilakukan sendiri tanpa bantuan.
c) Mencuci rambut
Klien rutin mencuci rambut seminggu 2 kali menggunakan
shampoo
d) Memotong Kuku
Ny. K mengatakan “ saya belum potong kuku sejak 2 minggu
yang lalu. Saya biasa memotong kuku 2 minggu sekali
dilakukan oleh anak saya”
e) Berpakaian dan Berhias
Klien berpakaian sendiri tanpa bantuan, penampilan kurang rapi
saat dikaji karena klien habis bangun tidur
4) Istirahat
Klien mengatakan klien biasa tidur pukul 21.00 WITA tapi
kadang klien tidur pukul 23.00 karena tidak bisa tidur dan bangun
pukul 05.00 pagi. Klien biasa tidur siang pukul 10.00 pagi sampai
pukul 12.00 siang. Saat tiduran pun tidak ada perasaan yang
mengganggu dan pada saat bangun tidur klien merasa segar.
5) Aktivitas
a) Kegiatan Fisik
Ny. K mengatakan,”saya jarang berolah raga. Walaupun di Panti
sering mengadakan kegiatan senam setiap hari jumat. Saya
sudah tidak bisa mengikuti senamnya.”
b) Mobilisasi di Tempat Tidur
Ny. K dapat melakukan mobilisasi di tempat tidur secara
mandiri.
c) Kemampuan Berpindah
Kemampuan berpindah klien masih dapat dilakukan secara
mandiri. Ny. K mengatakan “ saya itu sudah tidak mampu
berjalan jauh. Selain penglihatan saya kabur, kaki saya akan

10
kesemutan dan terasa sampai pinggang.” Ny. K dapat berjalan
tapi perlahan – lahan.
d) Kemampuan Ambulasi dan ROM
Kemampuan ROM pada ekstremitas bawah sampai pinggang,
leher, mengalami penurunan karena adanya sensasi nyeri pada
sendi dan otot di daerah tersebut ketika berjalan jauh.
e. Pemeriksaan Fisik
Mata
Palpebra : Tidak ada oedem
Konjungtiva : Anemis (+/+)
Sklera : Tidak ikterik
Pupil : Rangsangan cahaya di pupilberkurang
Retina : Makula bergenerasi
Makula yang bergenerasi dapat diperiksa dengan test Amsler
Grid, retina diteropong melalui lampu senter kecil dengan lensa
khusus. Test penglihatan warna.
Tanda – Tanda Vital :
Tekanan darah : 190/100 mmHg
Nadi : 88x/menit
Respirasi : 28x/menit
Suhu badan : 36,6oC

3. Analisa Data
NO SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM
1 DS : Degenerasi Gangguan persepsi
Klien mengeluh tidak bisa melihat makula sensori visual
dengan jelas pada matanya berdasarkan usia
DO :
Tampak sedikit keruh pada lensa mata
kanan

11
Ny. K tampak berjalan pelan – pelan
TTV :
TD : 190/100 mmHg
N : 88x/mnt
R : 28x/mnt
SB : 36,6oC
2 DS : Tekanan Darah Defisiensi
Menurut Ny. K bahwa hipertensinya Tinggi pengetahuan
meyebabkan timbulnya kekaburan pada terhadap proses
matanya patologis penyakit
DO :
Klien sering bertanya tentang
penyakitnya
TTV :
TD : 190/100 mmHg
N : 88x/mnt
R : 28x/mnt
SB : 36,6oC
3 DS : Perubahan dalam Ansietas
Klien merasa cemas dengan kondisi status kesehatan
matanya, klien takut akan terkena
kebutaan
DO :
Klien tampak gelisah saat mengeluh
penglihatannya kabur
TTV :
TD : 190/100 mmHg
N : 88x/mnt
R : 28x/mnt
SB : 36,6oC

12
4. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan persepsi sensori visual b/d degenarasi
2) Defisiensi pengetahuan terhadap proses patologis penyakit b/d
kurangnya informasi kognitif
3) Ansietas b/d perubahan dalam status kesehatan

5. Intervensi Keperawatan

DIAGNOSA NOC NIC

Gangguan Setelah dilakukan Pencapaian Komunikasi: Defisit Penglihatan


persepsi tindakan keperawatan • Kaji reaksi pasien terhadap penurunan
sensori selama 3x24 jam, penglihatan
visual b/d diharapkan klien masalah • Ajak pasien ntuk menentukan tujuan dan
degenarasi persepsi sensori belajar melihat dengan cara yang lain
penglihatan teratasi, • Deskripsikan lingkungan disekitar pasien
dengan KH : • Jangan memindahkan sesuatu di ruangan
• Memakai penyinaran pasien tanpa memberi informasi pada pasien
atau cahaya yang • Bacakan surat atau koran atau info lainnya
sesuai • Sediakan huruf braile
• Tidak terjadi cidera • Informasikan letak benda-benda yang sering
terhadap klien diperlukan pasien
• Memakai kacamata
atau lensa dengan Manajemen Lingkungan
benar • Ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien
• Pindahkan benda-benda berbahaya dari
lingkungan pasien
• Pasang side rail
• Sediakan tempat tidur yang rendah
• Tempatkan benda +benda pada tempat yang
dapat dijangkau pasien

13
Defisiensi Setelah dilakukan tindakan Teaching : disease Process
pengetahuan keperawatan setelah 3x24
 Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan
terhadap jam, diharapkan klien
pasien tentang proses penyakit yang spesifik
proses menyatakan pemahaman
 Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
patologis mengenai kondisi / proses
bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi
penyakit b/d penyakit dan pengobatan
dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
kurangnya dengan KH :
 Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul
informasi
• Klien mengatakan pada penyakit, dengan cara yang tepat
kognitif
paham tentang penyakit,  Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang
kondisi, dan program tepat
pengobatan  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara
• Klien mampu yang tepat
menjelaskan kembali  Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi,
apa yang telah dengan cara yang tepat
dijelaskan oleh perawat  Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin
• Klien mampu diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa
melaksanakan prosedur yang akan datang dan atau proses pengontrolan
yang telah dijelaskan penyakit
secara benar.
 Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
 Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan

Ansietas b/d NOC : NIC :


perubahan
 Anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
dalam status
 Anxiety level
kesehatan  Gunakan pendekatan yang menenangkan
 Coping
 Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku
Kriteria Hasil : pasien
 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan

14
 Klien mampu selama prosedur
mengidentifikasi dan  Pahami prespektif pasien terhadap situasi stress
mengungkapkan gejala  Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
cemas. mengurangi takut
 Mengidentifikasi,  Dorong keluarga untuk menemani anak
mengungkapkan dan  Lakukan back / neck rub
menunjukkan tehnik  Dengarkan dengan penuh perhatian
untuk mengontol cemas.  Identifikasi tingkat kecemasan
 Vital sign dalam batas  Bantu pasien mengenal situasi yang
normal. menimbulkan kecemasan
 Postur tubuh, ekspresi  Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,
wajah, bahasa tubuh dan ketakutan, persepsi
tingkat aktivfitas  Instruksikan pasien menggunakan teknik
menunjukkan relaksasi
berkurangnya  Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
kecemasan.

6. Catatan Perkembangan

Hari/Tgl Dx Kep Implementasi Evaluasi

Rabu, I • Mengkaji reaksi pasien S : Klien mengatakan, “saya hanya bisa


18/05/16 terhadap penurunan berdoa, berusaha, bertawakal, untuk
pukul penglihatan kesembuhan mata saya.”,
08.00 • Memindahkan barang –
Klien mengatakan,”iya. Letakkan saja Al-
pagi barang diruang klien
Qur’an saya di atas meja saya agar mudah di
dengan member
jangkau.”
informasi kepada klien
• Mengukur TTV O : Klien tampak lebih tenang, dan lebih
• Menempatkan benda – banyak mengaji, Kamar klien tampak rapi

15
benda pada tempat yang TTV :
bisa dijangkau oleh TD : 160/100 mmHg
klien
N : 88 x/mnt
R : 28x/mnt
SB : 36,6oC

A : Gangguan persepsi sensori visual belum


teratasi

P : Lanjutkan intervensi

Rabu, II • Menjelaskan S:
18/05/16 patofisiologis penyakit
 Klien mengatakan belum mengetahui jelas
pukul • Mendiskusikan
tentang penyakitnya
12.00 perubahan gaya hidup
 Ny. K mengatakan tidak tahu penyebab
siang • Memberikan penilaian
hingga terjadi darah tinggi
tentang tingkat
 Ny. K mengatakan tidak tahu cara
pengetahuan pasien
mengobati penyakit darah tinggi
tentang proses
penyakit O:

 Klien bertanya – Tanya tentang


penyakitnya
 Klien tampak bingung menjawab
pertanyaan dari perawat

A : Defisiensi pengetahuan terhadap


patofisiologis penyakit belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

Rabu, III • Menggunakan S:


18/05/16 pendekatan yang

16
pukul menenangkan  Klien mengatakan mengerti dengan
12.00 • Nyatakan dengan jelas penjelasan perawat
siang harapan terhadap
O:
pelaku pasien
• Menjelaskan semua  Klien dapat menjawab dengan baik
prosedur dan apa yang pertanyaan perawat
dirasakan selama  Klien berjanji untuk menghindari
prosedur makanan yang dapat menaikkan tekanan
• Temani pasien untuk darah
memberikan keamanan
A : Defisiensi pengetahuan terhadap proses
dan mengurangi rasa
patofisiologi penyakit teratasi
takut
• Dengarkan dengan P : Pertahankan Intervensi
penuh perhatian

17
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
ARMD (Age-Related Macular Degeneration) merupakan suatu
kelainan degeneratif yang mengenai polus posterior retina khususnya
makula lutea, yang ditandai dengan adanya drusen, biasanya tanpa keluhan
bila belum mengenai makula bagian sentral.
Degenerasi makula dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan dapat
diperberat oleh beberapa faktor resiko, diantaranya Umur, Genetik,
Merokok, Ras kulit putih (kaukasia), Riwayat keluarga, Hipertensi dan
diabetes, Paparan terhadap sinar Ultraviolet, Obesitas dan kadar kolesterol
tinggi.
Gejala-gejala klinik yang biasa didapatkan pada penderita degenerasi
makula antara lain Distorsi penglihatan, metamorphopsia, Garis-garis lurus
mengalami distorsi, terutama dibagian pusat penglihatan, Kehilangan
kemampuan membedakan warna dengan jelas, Ada daerah kosong atau
gelap di pusat penglihatan, Kesulitan membaca, kata-kata terlihat kabur atau
berbayang, Kehilangan fungsi penglihatan tanpa rasa nyeri secara tiba-tiba
atau perlahan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC.
Jogjakarta: MediAction.
CDK-194. vol. 39. 2012. ARMD (Age-Related Macular Degeneration)
Departemen Kesehatan RI, Jakarta, Indonesia