Anda di halaman 1dari 2

Pinang (Areca catechu)

Klasifikasi
Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus Species : : : : : : : Plantae (Tumbuhan) Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Liliopsida (monokotil) Arecales Arecaceae Areca Areca catechu L. Nama Daerah : Jawa : Kalimantan Maluku Sumatera : : : Pinang, Jambe (Banyuwangi); jambe (Sunda); wohan Gahat, gehat, kahat, taan, pinang Bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm pineng, pineung (Aceh), pinang (Gayo), batang mayang (Karo), pining (Toba), batang pinang (Minangkabau) mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongon

Sulawesi

Deskripsi Pohon : Habitus


Areca catechu L. (pinang) merupakan tanaman Palma famili Arecaceae yang dapat mencapai tinggi 15-20 m.

Akar & Batang


Akar Batang : Berakar serabut, putih kotor : batang tegak lurus tinggi 10-30 m, bergaris tengah 15 cm, tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. Pembentukan batang baru terjadi setelah 2 tahun dan berbuah pada umur 5-8 tahun tergantung keadaan tanah

Daun , Bunga, Buah dan Biji

Daun

Bunga

Buah

Biji

Daun majemuk menyirip tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm, tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1-1,8 m, anak daun mempunyai panjang 85 cm, lebar 5 cm, dengan ujung sobek dan bergigi Tongkol bunga dengan seludang panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun, panjang sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap. Ada 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning, benang sari 6. Bunga betina panjang sekitar 1,5 cm, hijau, bakal buah beruang satu. Buahnya buah buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5-7 cm, dinding buah berserabut, bila masak warnanya merah oranye. Buahnya berkecambah setelah 1,5 bulan da 4 bulan kemudian mempunyai jambul daun-daun kecil yang belum terbuka Biji satu, bentuknya seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Pada bidang irisan biji tampak perisperm berwarna coklat tua dengan lipatan tidak beraturan menembus endosperm yang berwarna agak keputihan

Sebaran : Dunia Kawasan TNAP

Pinang terdapat merata di seluruh Indonesia antara lain di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi -

Manfaat :
Air rebusan dari biji pinang digunakan untuk mengatasi penya-kit seperti haid dengan darah ber-lebihan, hidung berdarah (mimisan), koreng, borok, bisul, eksim, kudis, difteri, cacingan (kremi, gelang, pita, tambang), mencret dan disentri oleh masyarakat desa Semayang Kutai-Kalimatan Timur. Selain itu diguna-kan juga untuk mengatasi bengkak karena retensi cairan (edema), rasa penuh di dada, luka, batuk berdahak, diare, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, memeperkecil pupil mata. Biji dan kulit biji bagian dalam dapat juga digunakan untuk menguatkan gigi goyah, bersama-sama dengan sirih. Air rendaman biji pinang muda digunakan untuk obat sakit mata oleh suku Dayak Kendayan, di kecamatan Air Besar Kalimantan Barat. Sementara bagi masyarakat Pa-pua umumnya, pinang muda diguna-kan bersama dengan buah sirih untuk menguatkan gigi. Selain se-bagai obat penguat gigi, masyarakat pesisir pantai desa Assai dan Yoon-noni, yang didiami oleh suku Men-yah, Arfak, Biak dan Serui (Papua), biji pinang muda digunakan sebagai obat untuk mengecilkan rahim setelah melahirkan oleh kaum wanita dengan cara memasak buah pinang muda tersebut dan airnya diminum selama satu minggu. Umbut pinang muda digunakan untuk mengobati patah tulang, dan sakit pinggang (salah urat). Selain itu umbut dapat juga dimakan sebagai lalab atau acar. Daun pinang berguna untuk mengatasi masalah tidak nafsu makan, dan sakit pinggang. Selain sebagai obat, pelepah daun diguna-kan untuk pembungkus makanan dan bahan campuran untuk topi. Sabut pinang rasanya hangat dan pahit, digunakan untuk gangguan pencernaan, sembelit dan edema. Biji pinang rasanya pahit, pedas dan hangat serta mengandung 0,3 - 0,6%, alkaloid, seperti arekolin (C8H13NO2), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasi-ne. Selain itu juga mengandung red tannin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid di-bandingkan biji yang telah meng-alami perlakuan. Arekolin selain berfungsi sebagai obat cacing juga sebagai penenang, sehingga bersifat memabokkan bagi penggunanya. Berdasarkan data-data tersebut, biji buah pinang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen sitotoksik yang dapat dikombinasi dengan agen kemoterapi sehingga mampu meningkatkan sensitifitas sel kanker. Tanaman pinang berpotensi antikanker karena memiliki efek antioksidan, dan antimutagenik.

Penelitian : Umum

-. Arifin, Helmi and Riyono, Heppy and Elka, Elka (2010) Efek Ekstrak Etanol Biji Pinang Muda (Areca
catechu L.) terhadap Aktifitas Sistem Saraf Pusat Mencit Putih. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 15 (1). ISSN 1410 0177 -. Fathoni, A. dkk., 1995. Uji Efek Ekstrak Air Akar Jambe (Areca catechu) terhadap Aktivitas Motorik Mencit. Dept. Farmasi ITB -. Kristina, N. N. dan Fatimah S., 2007. Penggunaan Tanaman Kelapa (Cocos nucifera), Pinang (Areca catechu) Dan Aren (Arenga pinnata) Sebagai Tanaman Obat. Warta Puslitbangbun Vol.13 No. 2, Agustus 2007 -. Meiyanto, E. dkk., 2008. Ekstrak Etanolik Biji Buah Pinang (Areca catechu L.) mampu menghambat proliferasi dan memacu apoptosis sel MCF-7. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

TNAP