Anda di halaman 1dari 19

ETIKA MEDIK

1.1 Pendahuluan Maraknya kasus dugaan malpraktik belakangan ini, menjadi peringatan dan sekaligus sebagai dorongan untuk lebih memperbaiki kualitas pelayanan. Melaksanakan tugas dengan berpegang pada janji profesi dan tekad untuk selalu meningkatkan kualitas diri perlu untuk selalu dipelihara. Kerja sama yang melibatkan segenap tim pelayanan kesehatan perlu dieratkan dengan kejelasan dalam wewenang dan fungsinya. Oleh karena tanpa mengindahkan hal-hal yang disebutkan tadi, maka konsekuensi hukum akan muncul tatkala terjadi penyimpangan kewenangan atau karena kelalaian. Sebagai contoh umpamanya, terlambat memberi pertolongan terhadap pasien yang seharusnya segera mendapat pertolongan, merupakan salah satu bentuk kelalaian yang tidak boleh terjadi. Mengenai hal itu jelas dapat diketahui dari Pasal 54 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yaitu: Tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin. Selanjutnya dari penjelasan pasal tersebut dapat diketahui bahwa tindakan disiplin berupa tindakan administratif, misalnya pencabutan izin untuk jangka waktu tertentu atau hukuman lain sesuai dengan kesalahan atau kelalaian yang dilakukan. Dari sudut hukum, profesi tenaga kesehatan dapat diminta pertanggungjawaban berdasarkan hukum perdata, hukum pidana, maupun hukum administrasi. Tanggung jawab dari segi hukum perdata didasarkan pada ketentuan Pasal 1365 BW (Burgerlijk Wetboek), atau Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Apabila tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian pada pasien, maka tenaga kesehatan tersebut dapat digugat oleh pasien atau keluarganya yang merasa dirugikan itu berdasarkan ketentuan Pasal 1365 BW, yang bunyinya sebagai berikut: Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hati. Dari segi hukum pidana juga seorang tenaga kesehatan dapat dikenai ancaman Pasal 351 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ancaman pidana tersebut dikenakan kepada seseorang (termasuk tenaga kesehatan) yang karena kelalaian atau kurang hati-hati menyebabkan orang lain (pasien) cacat atau bahkan sampai meninggal dunia. Meski untuk mengetahui ada

tidaknya unsur kelalaian atau kekurang hati-hatian dalam tindakan seseorang tersebut perlu dibuktikan menurut prosedur hukum pidana. Ancaman pidana untuk tindakan semacam itu adalah penjara paling lama lima tahun. Tentu saja semua ancaman, baik ganti rugi perdata maupun pidana penjara, harus terlebih dahulu dibuktikan berdasarkan pemeriksaan di depan pengadilan. Oleh karena yang berwenang memutuskan seseorang itu bersalah atau tidak adalah hakim dalam sidang pengadilan. Tanggung jawab dari segi hukum administratif, tenaga kesehatan dapat dikenai sanksi berupa pencabutan surat izin praktik apabila melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya. Tindakan administratif juga dapat dikenakan apabila seorang tenaga kesehatan : 1. Melalaikan kewajiban; 2. Melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah jabatannya maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan; 3. Mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan; 4. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan undang-undang. Selain oleh aturan hukum, profesi kesehatan juga diatur oleh kode etik profesi (etika profesi). Namun demikian, menurut Dr. Siswanto Pabidang, masalah etika dan hukum kadangkala masih dicampur baurkan, sehingga pengertiannya menjadi kabur. Seseorang yang melanggar etika dapat saja melanggar hukum dan tentu saja seseorang yang melanggar hukum akan melanggar pula etika.

1.2 Kewajiban dan Hak Tenaga Medis Di dalam UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pada pasal 50 disebutkan adanya hak-hak dokter, yakni:

Memperoleh perlindungan hukum sepanjang sesuai standar profesi dan SOP. Memberikan layanan medis menurut standar profesi (SP) dan standar operasional prosedur (SOP).

Memperoleh info yg jujur dan lengkap dari pasien atau keluarga pasien. Menerima imbalan jasa.

Adanya perlindungan hukum bagi dokter ini mengingat bahwa pekerjaan dokter dianggap sah sepanjang memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan bahwa dalam bekerja seorang dokter harus bebas dari intervensi pihak lain, dan bebas dari kekerasan. Jika pun terdapat dugaan malpraktik harus melalui proses pembuktian hukum terlebih dahulu, termasuk diantaranya tentu saja seorang dokter bebas memperoleh pembelaan hukum.

Pada pasal 52 UU yang sama diatur pula mengenai kewajiban dokter, yang meliputi:

Memberi pelayanan medis sesuai SP dan SOP, serta kebutuhan medis pasien. Merujuk pasien bila tak mampu. Menjamin kerahasiaan pasien. Pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila yakin ada orang lain yg bertugas dan mampu.

Menambah / ikuti perkembangan iptek kedokteran. Selain dokter, rumah sakit juga memiliki kewajiban dalam melayani pasiennya.

Kewajiban itu dituangkan dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Kewajiban rumah sakit itu sudah tentu mengikat juga pada para tenaga medis. Dalam pasal 29 UU No.44 menyatakan kewajiban rumah sakit, diantaranya:

Informasi yang benar tentang pelayanan rumah sakit kepada masyarakat. Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, tidak diskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya.

Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya.

Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin. Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan.

Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai acuan dalam melayani pasien.

Menyelenggarakan rekam medis. Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia.

Melaksanakan sistem rujukan. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan perundang-undangan.

Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien. Menghormati dan melindungi hak-hak pasien. Melaksanakan etika rumah sakit. Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional.

Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya.

Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws). Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas.

Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok. Menurut Kode Etik Rumah Sakit Indonesia terdapat beberapa kewajiban bagi tenaga

medis. Kewajiban itu meliputi kewajiban umum, kewajiban kepada masyarakat dan kewajiban terhadap pasien.

Kewajiban umum rumah sakit terdiri dari menaati Kode Etik Rumah Sakit Indonesia, mengawasi dan bertanggungjawab terhadap semua kejadian di RS (corporate liability), memberi pelayanan yang baik (duty of due care), memberi pertolongan darurat tanpa meminta pembayaran uang muka, memelihara rekam medis pasien, memelihara peralatan dengan baik dan siap pakai, dan merujuk kepada RS lain bila perlu.

Kewajiban rumah sakit kepada masyarakat terdiri dari berlaku jujur dan terbuka, peka terhadap saran dan kritik masyarakat, berusaha menjangkau pasien di luar dinding RS (extramural). Sedangkan Kewajiban rumah sakit kepada pasien adalah mengindahkan hak-hak asasi pasien, memberikan penjelasan kepada pasien tentang derita pasien dan tindakan medis atasnya, meminta informed consent, mengindahkan hak pribadi (privacy), menjaga rahasia pasien.

1.3 Kewajiban dan Hak Pasien Menurut UU no. 29 Tahun 2004 : UU tentang Praktik Kedokteran pasal 50 dan 51 : Hak Pasien Pasien, dalam menerima pelayanan para praktik kedokteran, mempunyai hak: 1. .Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat (3), yaitu : Diagnosis dan tata cara tindakan medis; Tujuan tindakan medis yang dilakukan; Alternatif tindakan lain dan resikonya; Risiko dan komplikasi yang mukin terjadi; dan Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; 3. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; 4. Menolak tindakan medis; dan 5. Mendapat isi rekam medis. Kewajiban Pasien Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban : 1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya; 2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;

3. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; 4. Memberikan imbalan atas pelayanan yang diterima. Hak-hak pasien dalam UU No. 36 tahun 2009 itu diantaranya meliputi:

Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan (kecuali tak sadar, penyakit menular berat, gangguan jiwa berat).

Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin pasien, kepentingan pasien, kepentingan masyarakat).

Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan nyawa atau cegah cacat). TRAUMA URETRA

2.1 Definisi Ruptur adalah robeknya atau koyaknya jaringan secara paksa. Ruptur uretra adalah robeknya uretra yang terjadi langsung akibat trauma dan kebanyakan disertai fraktur tulang panggul, khususnya os pubis.

2.2

Anatomi Urethra

Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine keluar dari buli-buli melalui proses miksi. Secara anatomis uretra dibagi menjadi 2 bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Pada pria, organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, serta sfingter uretra yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang dipersarafi oleh sistem simpatik sehingga pada saat buli-buli penuh, sfingter ini terbuka. Sfingter uretra eksterna terdiri atas otot bergaris dipersarafi oleh sistem somatik yang dapat diperintah sesuai keinginan seseorang. Pada saat kencing sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada saat menahan kencing. Panjang uretra wanita kurang lebih 3-5 cm, sedangkan uretra pria dewasa kurang lebih 23-25 cm. Perbedaan panjang inilah yang menyebabkan keluhan hambatan pengeluaran urine lebih sering terjadi pada pria. Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea. Di bagian posterior lumen uretra prostatika, terdapat suatu tonjolan verumontanum, dan di sebelah proksimal dan distal dari verumontanum ini terdapat krista uretralis. Bagian akhir dari vas deferens yaitu kedua duktus ejakulatorius terdapat di pinggir kiri dan kanan verumontanum, sedangkan sekresi kelenjar prostat bermuara di dalam duktus prostatika yang tersebar di uretra prostatika .

Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis. Uretra anterior terdiri atas pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikularis, dan meatus uretra eksterna. Di dalam lumen uretra anterior terdapat beberapa muara kelenjar yang berfungsi dalam proses reproduksi, yaitu kelenjar cowperi berada di dalam diafragma urogenitalis dan bermuara di uretra pars bulbosa, serta kelenjar littre yaitu kelenjar parauretralis yang bermuara di uretra pars pendularis. Panjang uretra wanita kurang lebih 4 cm dengan diameter 8 mm. Berada di bawah simfisis pubis dan bermuara di sebelah anterior vagina. Di dalam uretra bermuara kelenjar periuretra, diantaranya adalah kelenjar skene. Kurang lebih sepertiga medial uretra, terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot bergaris. Tonus otot sfingter uretra eksterna dan tonus otot levator ani berfungsi mempertahankan agar urine tetap berada di dalam buli-buli pada saat perasaan ingin miksi. Miksi terjadi jika tekanan intravesika melebihi tekanan intrauretra akibat kontraksi otot destrusor, dan relaksasi sfingter uretra eksterna.

2.3

Epidemiologi Di Amerika Serikat sebagian besar kasus trauma uretra posterior terjadi pada laki-laki

karena fraktur pelvis. Diantara trauma panggul yang terjadi pada laki-laki yang disertai cedera uretra 1-25% dengan rata-rata 10%. Cedera uretra pada wanita yang disebabkan oleh trauma panggul dilaporkan 4-6%. Trauma uretra anterior pada laki-laki jarang dilaporkan. 2.4 Etiologi Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar (eksternal) dan cedera iatrogenik akibat instrumentasi pada uretra. Trauma tumpul yang menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan ruptura uretra pars amembranasea, sedangkan trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan ruptura uretra pars bulbosa. Pemasangan kateter atau businasi pada uretra yang kurang hati- hati dapat menimbulkan robekan uretra karena false route atau salah jalan, demikian pula tindakan operasi transuretra dapat menimbulkan cedera uretra iatrogenik.

2.5

Patofisiologi

Ruptur uretra dibedakan menjadi : 1. Ruptur uretra anterior Uretra anterior terbungkus di dalam korpus spongiosum penis. Korpus spongiosum bersama dengan corpora kavernosa penis dibungkus oleh fasia Buck dan fasia Colles. Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urine akan keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinik terlihat hematom yang terbatas pada penis. Tetapi jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupukupu sehingga disebut butterfly hematoma. 2. Ruptur uretra posterior Ruptur uretra posterior hampir selalu disertai fraktur tulang pelvis. Akibat fraktur tulang pelvis, terjadi robekan pars membranasea karena prostat dengan uretra prostatika tertarik ke kranial bersama fragmen fraktur, sedangkan uretra membranasea terikat di diafragma urogenital. Ruptur uretra posterior dapat terjadi total atau inkomplet. Pada ruptur total, uretra terpisah seluruhnya dan ligamentum puboprostatikum robek sehingga buli-buli dan prostat terlepas ke kranial.

2.6

Manifestasi Klinis Ruptur uretra anterior Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdarahan peruretram. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau butterfly hematoma. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.

Ruptur uretra posterior Pasien yang menderita cedera uretra posterior seringkali dating dengan keadaan syok karena terdapat fraktur pelvis/ cedera organ lain yang menimbulkan banyak perdarahan. Rupture uretra posterior tidak jarang memberikan gambaran yang khas berupa : Perdarahan peruretram Retensi urin Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya floating prostat (prostat melayang) di dalam suatu hematom.

2.7 Diagnosis 1. Foto polos pelvis Setiap pemeriksaan trauma uretra sebaiknya dibuat terlebih dahulu foto polos pelvis. Yang harus diperhatikan pada foto ini adalah melihat adanya fraktur pelvis.

2. Urografi retrograde Merupakan jenis X-ray yang memungkinkan visualisasi kandung kemih, ureter, dan pelvis ginjal. Indikasi untuk urografi retrograd adalah untuk melihat anatomi traktus urinarius bagian atas dan lesi-lesinya. Pemeriksaan ini dilakukan jika pielografi intravena tidak berhasil menyajikan anatomi dan lesi-lesi traktus urinarius bagian atas. Teknik Pemeriksaan Urografi retrograd memerlukan prosedur sistoskopi. Kateter dimasukan oleh

seorang ahli urologi. Kerjasama antara ahli urologi dan radiologi diperlukan, karena waktu memasukan kontras, posisi pasien dapat dipantau dengan fluoroskopi atau televisi. Udara dalam kateter dikeluarkan, kemudian 25 % bahan kontras yang mengandung yodium disuntikan, dengan dosis 5-10 ml, ini di bawah pengawasan fluoroskopi. Harus dicegah pengisian yang berlebihan, sebab resiko ekstravasasi ke dalam sinus renalis atau intravasai ke dalam kumpulan saluransaluran. Ekstravasasi kontras dapat menutupi bagian- bagian yang halus dekat papilla.

Klasifikasi trauma uretra berdasarkan (Goldman Classification) : Tipe I

hasil pemeriksaan urografi retrograde

Ruptur ligamentum puboprostatika Prostat bergeser ke superior Uretra tetap intak Tidak ada ekstravasasi zat kontras

Gambar : Tipe I trauma uretra dengan peregangan lumen uretra posterior dan tidak ada ekstravasasi kontras. Tipe II : Trauma uretra posterior dan diafragma urogenital Terlihat ekstravasasi kontras dalam pelvis extra peritoneal Zat kontras tidak ada dalam perineum

Gambar : Robekan uretra tipe II, tampak ekstravasasi kontras di superior dengan diafragma urogenital yang masih intak. Tipe III : Kerusakan meluas sampai ke proksimal uretra pars bulbosa Terlihat ekstravasasi kontras pada rongga pelvis ekstraperitoneal dan perineum.

Gambar : Trauma uretra Tipe III, ekstravasasi zat kontras di kedua ruang pelvis ekstraperitoneal dan di dalam perineum (di atas dan di bawah diafragma urogenital). Tipe IV : Terjadi dekat buli-buli, meluas ke uretra proksimal Ekstravasasi kontras pada pelvis ekstraperitoneal dan sekitar proksimal uretra Dapat merusak sfingter uretra interna

Gambar : Trauma uretra Tipe III pada diafragma urogenital (tanda panah) dan robekan uretra tipe IV di leher buli-buli (garis putus-putus). Tipe V : Terjadi di uretra anterior Terlihat ekstravasasi kontras bagian inferior diafragma urogenital

Gambar : Straddle injury. Trauma uretra tipe V dengan ekstravasasi zat kontras dari distal bulbous uretra. 3. CT-Scan Penggunaan CT-Scan sebagai modalitas skrining awal untuk trauma akut pada umumnya. Beberapa literatur menyebutkan aplikasi CT-Scan dalam mendiagnosis trauma uretra. Pemeriksaan CT-Scan dapat digunakan untuk melihat trauma uretra dengan ekstravasasi kontras.

Gambar : CT-Scan memperlihatkan ekstravasasi kontras di dasar pelvis.

4. USG USG jarang digunakan untuk mendiagnosis trauma uretra. Namun, USG dapat digunakan untuk menentukan ukuran hematom yang terjadi akibat trauma uretra.

2.8

Penatalaksanaan
Ruptur uretra anterior

Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat menimbulkan penyulit striktura uretra dikemudian hari, maka setelah 4-6 bulan perlu

dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Pada ruptur uretra parsial dengan ekstravasasi ringan sebagian klinik hanya melakukan sistostomi dan setelah 2 minggu dilakukan uretrogram serta dicoba miksi. Jika didapatkan striktura, kateter sistostomi dilepas. Tetapi jika timbul striktura uretra, dilakukan reparasi uretra atau sachse. Sebagian klinik lain melakukan reparasi primer jika pasien datang dalam waktu kurang dari 6-8 jam yaitu dalam masa golden periode. Jika tedapat rupture uretra anterior dengan ekstravasasi urin dan hematom yang luas perlu dilakukan insisi hematom dan pemasangan kateter sistostomi.
Ruptur uretra posterior Ruptur uretra posterior biasanya diikuti oleh trauma mayor pada organ lain (abdomen dan fraktur pelvis) dengan disertai ancaman jiwa berupa perdarahan. Oleh karena itu sebaiknya di bidang urologi tidak perlu melakukan tindakan yang invasif pada uretra. Tindakan yang berlebihan akan menyebabkan perdarahan yang lebih banyak pada kavum pelvis dan prostat serta menambah kerusakan pada uretra dan striktur neovaskuler di sekitarnya. Kerusakan neovaskuler menambah kemungkinan terjadinya disfungsi ereksi dan inkontinensia. Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistosomi untuk diversi urin. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi, melakukan primary endoscopic realligment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint melalui tuntutan uteroskopi. Dengan cara ini diharapkan kedua ujung uretra yang terpisah dapat saling didedakatkan. Tindakan ini dilakukan sebelum 1 minggu pasca rupture dan kateter uretra dipertahankan selama 14 hari. Sebagian ahli lain mengerjakanreparasi uretra (uretroplasti0 setelah 3 bulan pasca trauma dengan asumsi bahwa jaringan parut pada uretra telah stabil dan matang sehingga tindakan rekonstruksi membuahkan hasil yang lebih baik.

2.9

Komplikasi Komplikasi dini setelah rekonstruksi uretra adalah infeksi, trauma,hematom, abses periuretral,

fistel uretrokutan dan epididimitis. Komplikasi lanjut yang paling sering terjadi adalah striktur uretra. Khusus pada ruptur uretra posterior dapat timbul komplikasi disfungsi ereksi sebanyak 13- 30 %

sebagai akibat terputusnya persarafan parasimpatik dan pembuluh darah yang memelihara penis, dan inkontinensia urin yang terjadi sebanyak 2- 4 % yang disebabkan karena kerusakan sfingter uretra eksterna.

Setelah rekonstruksi uretra seringkali masih timbul striktura ( 12-15%) yang dapat diatasi dengan uretrotomia interna (sachse). Meskipun masih bisa kambuh kembali, striktura ini biasanya tidak memerlukan tindakan uretroplasti ulangan.

KATETERISASI 3.1 Definisi Dower Kateter


Dower kateter merupakan salah satu tipe kateter yang berupa selang yang dimasukkan kedalam uretra melalui genitalia. Dower kateter termasuk ke dalam kateter indwelling (foley kateter) atau kateter menetap, yang mana kateter ini tetap di tempat untuk priode waktu yang lebih lama sampai klien mampu berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama pengukuran akurat perjam dibutuhkan. 3.2 Indikasi Dengan memasukkan kateter Foley, memudahkan akses ke kandung kemih dan

isinya. Sehingga memungkinkan untuk menguras isi kandung kemih, tekanan udara kandung kemih, mendapatkan spesimen, dan memperkenalkan bagian ke dalam saluran. Ini akan memungkinkan untuk mengobati retensi urin, dan obstruksi kandung kemih. Berikut beberapa indikasi pemasangan kateter : 1. Mengeluarkan urin dari buli-buli pada keadaan obstruksi infravesikal, baik yang disebabkan oleh hiperplasia prostat maupun oleh benda asing ( bekuan darah) yang menyumbat uretra. 2. 3. Mengeluarkan urin pada disfungsi buli-buli. Diversi urin setelah tindakan operasi sistem urinarius bagian bawah, yaitu pada operasi prostatektomi, vesikolitektomi. 4. 5. Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra. Memasukkan obat-obatan intravesika, antara lain sitostatika atau antiseptik untuk buli-buli. 3.3 Kontraindikasi

Kontraindikasi yang terjadi, adanya trauma uretra. Cedera uretra dapat terjadi pada pasien dengan cedera multisistem dan fraktur panggul. Jika ini diduga, kita harus melakukan colok dubur sebagai diagnosis pertama. Jika menemukan darah di meatus dari uretra, hematoma skrotum, patah tulang panggul, atau prostat naik tinggi, maka kecurigaan tinggi terjadinya trauma uretra. Selanjutnya dapat dilakukan urethrography retrograde (suntik 20 cc kontras ke dalam urethra). Kateter tidak dapat digunakan pada pasien yang terinfeksi saluran kemih, dan ekimosis daerah uretra. 3.4 Komplikasi Pemasangan Kateter 1. Bila pemasangan dilakukan tidak hati-hati bisa menyebabkan luka dan perdarahan uretra yang berakhir dengan striktur uretra seumur hidup 2. Balon yang dikembangkan sebelum memasuki buli-buli juga dapat menimbulkan luka pada uretra. Karenanya, balon dikembangkan bila yakin balon akan mengembang di dalam buli-buli dengan mendorong kateter sampai ke pangkalnya 3. Infeksi uretra dan buli-buli 4. Nekrosis uretra bila ukuran kateter terlalu besar atau fiksasi yang keliru 5. Merupakan inti pembentukan batu buli-buli 6. Pada penderita tidak sadar, kateter dengan balon terkembang bila dicabut dapat berakibat perdarahan dan melukai uretra 7. Kateter tidak bisa dicabut karena saluran pengembang balon tersumbat

3.5 Tujuan Tindakan ini dimaksudkan untuk tujuan diagnosis maupun untuk tujuan terapi. Tindakan diagnosis antara lain adalah : Kateterisasi pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urin guna pemeriksaan kultur urin. Mengukur residu ( sisa) urin yang dikerjakan sesaat setelah pasien selesai miksi. Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi, antara lain : sistografi atau pemeriksaan adanya refluks vesiko-ureter melalui pemeriksaan voiding cystourethrography ( VCUG). Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intra vesika. Untuk menilai produksi urin pada saat dan setelah operasi besar.

3.6 Persiapan Alat 1) Bak instrumen berisi : a) foley kateter sesuai ukuran 1 buah b) Urine bag steril 1 buah c) Pinset anatomi 2 buah d) Duk steril e) Kassa steril yang diberi jelly 2) Sarung tangan steril 3) Kapas sublimat dalam kom tertutup 4) Perlak dan pengalasnya 1 buah 5) sampiran 6) Cairan aquades atau Nacl 7) Plester 8) Gunting verband 9) Bengkok 1 buah 10)Korentang pada tempatnya

3.7 Prosedur Pada Wanita Pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan karena uretra wanita lebih pendek. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor uretra/ tumor vaginalis/ serviks. Untuk itu mungkin perlu dilakukan dilatasi dengan busi a boule terlebih dahulu. Pada Pria Teknik Kateterisasi pada pria adalah sebagai berikut : 1. Setelah dilakukan desinfeksi pada penis dan daerah sekitarnya, daerah genitalia dipersempit dengan kain steril. 2. Kateter yang telah diolesi dengan pelicin/ jelly dimasukkan ke dalam orifisium uretra eksterna

3.

Pelan-pelan kateter didorong masuk dan kira-kira pada daerah sfingter uretra eksterna akan tersa tahanan, pasien diperintahkan untuk mengambil nafas dalam supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks. Kateter terus didorong hingga masuk ke buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urin dari lubang kateter.

4.

Kateter terus didorong masuk ke buli-buli hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna.

5. 6.

Balon kateter dikembangkan dengan 10-15 ml air steril. Jika diperlukan kateter menetap, kateter dihubungkan dengan pipa penampung (urinebag)

7.

Kateter difiksasi dengan plester di daerah inguinal atau paha bagian proksimal.

3.9 Perawatan Kateter Menetap Kateter merupakan benda asing pada uretra dan buli-buli, bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan komplikasi serius. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk merawat kateter menetap : 1. Banyak minum, urin cukup sehingga tidak terjadi kotoran yang bisa mengendap dalam kateter 2. Mengosongkan urine bag secara teratur 3. Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh penderita agar urin tidak mengalir kembali ke buli-buli 4. Membersihkan darah, nanah, sekret periuretra dan mengolesi kateter dengan antiseptik secara berkala 5. Ganti kateter paling tidak 2 minggu sekali