Anda di halaman 1dari 8

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK

UAS TAKE HOME

MEYRZA ASHRIE TRISTYANA 070913042

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA 2013

BAB IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

1. TOP DOWN, artinya adalah perencanaan yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan sebagai pemberi gagasan awal serta pemerintah berperan lebih dominan dalam mengatur jalannya program yang berwal dari perencaan hingga proses evaluasi, dimana peran masyarakat tidak begitu berpengaruh. Adapun kelemahan dari tipe Top Down adalah: Masyarakat tidak bisa berperan lebih aktif dikarenakan peran pemerintah yang lebih dominan bila dibanding peran dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat tidak bisa melihat sebarapa jauh suatu program telah dilaksanakan. Peran masyarakat hanya sebagai penerima keputusan atau hasil dari suatu program tanpa mengetahui jalannya proses pembentukan program tersebut dari awal hingga akhir. Tujuan utama dari program tersebut yang hendaknya akan dikirimkan kepada masyarakat tidak terwujud dikarenakan pemerintah pusat tidak begitu memahami hal-hal yang diperlukan oleh masyarakat. Masyarakat akan merasa terabaikan karena suara mereka tidak begitu diperhitungkan dalam proses berjalannya suatu proses. Masyarakat menjadi kurang kreatif dengan ide-ide mereka.

Kelebihan dari sistem ini adalah: Masyarakat tidak perlu bekerja serta memberi masukan program tersebut sudah dapat berjalan sendiri karena adanya peran pemerintah yang optimal. Hasil yang dikeluarkan bisa optimal dikarenakan biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh pemerintah. Mengoptimalkan kinerja para pekerja dipemerintahan dalam menyelenggarakan suatu program.

BOTTOM UP, artinya adalah perencanaan yang dilakukan diaman masyarakat lebih berperan dalam hal pemberian gagasan awal sampai dengan mengevaluasi program yang telah dilaksanakan sedangkan pemerintah pemerintah hanya sebagai fasilitator dalam suatu jalannya program. Kelebihan dari sistem Bottom Up adalah: Peran masyarakat dapat optimal dalam memberikan masukan atau ide-ide kepada pemerintah dalam menjalakan suatu program. Tujuan yang diinginkan oleh masyarakat akan dapat berjalan sesuai dengan keinginan masyrakat karena ide-idenya berasal dari masyarakat itu sendiri sehingga masayarakat bisa melihat apa yang diperlukan dan apa yang diinginkan. Pemerintah tidak perlu bekerja secara optimal dikarenakan ada peran masyarakat lebih banyak. Masyarakat akan lebih kreatif dalam mengeluarkan ide-ide yang yang akan digunakan dalam suatu jalannya proses suatu program. Kelemahan dari sistem Bottom Up adalah: Pemerintah akan tidak begitu berharga karena perannya tidak begitu besar. Hasil dari suatu program tersebut belum tentu biak karena adanya perbadaan tingkat pendidikan dan bisa dikatakn cukup rendah bila dibanding para pegawai pemerintahan.

Hubungan masyarakat dengan pemerintah tidak akan berlan lebih baik karena adanya silih faham atau munculnya ide-ide yang berbeda dan akan menyebabkan kerancuan bahkan salah faham antara masyarakat dengan pemerintah dikarenakan kurang jelasnya masing-masing tugas dari pemerintah dan juga masyarakat. Bila dilihat dari kekurangan serta kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing sistem tersebut maka sitem yang dianggap paling baik adalah suatu sistem gabungan dari kedua janis sistem tersebut karena banyak sekali kelebihan yang terdapat didalamya antara lain adalah selain masyarakat mampu berkreasi dalam mengembangkan ide-ide mereka sehingga mampu berjalan beriringan bersama dengan pemerintah sesuai dengan tujuan utama yang diinginkan dalam mencapai kesuksesan dalam menjalankan suatu program tersebut.

2. Contoh Top Down: Pendekatan top down dalam perencanaan pembangunan di Indonesia masih banyak digunakan terutama oleh pemerintah pusat dalam beberapa kebijakan nasionalnya, karena pendekatan ini dianggap masih relevan untuk kebijakan-kebijakan tertentu dan memiliki beberapa kelebihan atau keuntungan dalam pelaksanaannya. Salah satu contoh perencanaan pembangunan dengan pendekatan top down adalah program konversi minyak tanah ke elpiji. Alasan dari keluarnya kebijakan ini adalah karena tingginya subsidi BBM termasuk untuk minyak tanah, sementara sebagian penduduk Indonesia masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar rumah tangga. Dengan penggunaan elpiji dapat meningkatkan efisiensi penggunaan efisiensi yang cukup besar (karena nilai kalor efektif elpiji lebih besar dibanding minyak tanah) dan terutama dapat mengurangi subsidi BBM dalam APBN. Terlepas dari pro dan kontra mengenai program ini, setidaknya program ini telah mencatat keberhasilan terutama tercapainya penghematan subsidi terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 5,5 trilyun (Alvin Lie, 2009). Berdasarkan contoh kasus tersebut diatas, pendekatan top down dalam perencanaan pembangunan masih relevan digunakan terutama untuk kebijakan yang sifatnya nasional dan skalanya luas, perlu tindakan secepatnya dan tidak memungkinkan untuk terjadinya konsensus dalam waktu yang cepat dan untuk jumlah anggota (penduduk) yang sangat banyak. Pendekatan top down masih relevan digunakan apabila dalam kondisi-kondisi tersebut diatas, karena pendekatan ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya: Skala ekonominya yang luas sehingga tercapai efisiensi dalam pelaksanaan programnya Dilakukan oleh pemerintah yang memiliki otoritas dan kapasitas sehingga dalam pelaksanaan programnya dapat dilakukan secara efektif Efektif karena proses perencanaan dan pelaksanaannya menggunakan waktu yang relatif lebih cepat Efisien karena dalam proses perencanaan dan pelaksanannya menggunakan biaya yang relatif lebih murah Tepat untuk skala wilayah yang lebih luas (nasional, propinsi)

Tepat dilakukan untuk jenis kebijakan yang tidak memungkinkan terjadinya konsensus

Namun demikian bahwa pendekatan top down juga tidak bisa diterapkan dalam semua kebijakan, karena pada kenyataannya pendekatan ini menuai banyak kritik dan memiliki beberapa kekurangan diantaranya: Masyarakat sebagai penerima manfaat hanya dianggap sebagai obyek yang tidak tahu banyak tentang permasalahan dan solusinya, sehingga tidak dapat mengeluarkan pendapat dan aspirasinya mengenai program tersebut. Program yang dilaksanakan terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat karena solusi permasalahan hanya didasarkan pada hasil pemikiran sekelompok orang penentu kebijakan dan bukan berdasarkan preferensi dan jawaban masyarakat atas kebutuhan riil mereka Masyarakat tidak merasa memiliki program dan cenderung apatis karena tidak dilibatkan dalam proses, sehingga tingkat keberhasilan program rendah Kontrol sosial terhadap pelaksanaan program rendah karena masyarakat tidak bisa mengakses informasi tentang program tersebut dengan mudah dan leluasa Terjadi marginalisasi terhadap masyarakat sehingga masyarakat menjadi tidak aktif, kreatif dan maju dan semakin terbelakang Terjadi pemborosan anggaran karena program yang tidak tepat dan tidak berhasil

Contoh Bottom Up: Hal ini dapat kita lihat pada beberapa kebijakan publik yang berpola bottom up, yaitu Alur perencanaan (pengambilan keputusan) ditetapkan secara berjenjang mulai dari level struktur yang paling bawah atau masyarakat, yang kemudian menjadi dasar keputusan struktur teratas. Pola bottom up ini menunjukkan kecenderungan bahwa pada dasarnya pemerintah menganggap masyarakat sebagai warga Negara atau pemilik sah pemerintahan bukan sebagai pelanggan atau pembeli (serve citizens, not customers).Contoh pola kebijakan ini dapat kita lihat dalam proses pengambilan kebijakan dan perencanaan pembangunan yang melalui proses Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Proses pelaksanaan musrenbang

diawali dari tingkat Kelurahan kemudian ke tingkat Kecamatan, Kota/Kab, Propinsi dan terakhir adalah musrenbang tingkat nasional. Pengertian Musrenbang sendiri adalah forum publik perencanaan (program) yang diselenggarakan oleh lembaga publik yaitu pemerintah kelurahan bekerjasama dengan warga dan para pemangku kepentingan. Penyelenggaraan musrenbang merupakan salah satu tugas pemerintah kelurahan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Penyelenggaraan Pemerintahan Kota Lubuklinggau sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses Administrasi Publik Pemerintah Indonesia secara umum, juga melaksanakan kegiatan Musrenbang. Dasar kebijakan musrenbang yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Lubuklinggau adalah: 1. Undang-undang No.25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Pemerintah No.08 Tahun 2008 Tentang Tahapan tata cara, penyusunan, pengendalian dan Evaluasi pelaksanaan Rencana pembangunan Daerah. 2. Surat Walikota Lubuklinggau No.050/44/Bappeda/I/2011 Perihal Pelaksanaan Musrenbang Tingkat Kelurahan dan Kecamatan. 3. Surat Camat dalam wilayah Kecamatan Lubuklinggau Perihal Pelaksanaan Musrenbang Tingkat Kelurahan. 4. Keputusan Lurah Tentang Penunjukan Tim Penyelenggara Musrenbang. Kebijakan publik Musrenbang mengadopsi model kebijakan Group Theory : Policy as Group Equilibrium. Model kelompok ini merupakan abstraksi dari proses pembuatan kebijakan yang dimana beberapa kelompok kepentingan berusaha untuk mempengaruhi isi dan bentuk kebijakan secara interaktif. Pembuatan kebijakan pada model ini terlihat sebagai upaya untuk menanggapi tuntutan dari berbagai kelompok kepentingan dengan cara bargaining, negosiasi dan kompromi. Hal ini dapat kita lihat pada beberapa kebijakan publik yang berpola bottom up, yaitu Alur perencanaan (pengambilan keputusan) ditetapkan secara berjenjang mulai dari level struktur yang paling bawah atau masyarakat, yang kemudian menjadi dasar keputusan struktur teratas. Pola bottom up ini menunjukkan kecenderungan bahwa pada dasarnya pemerintah menganggap masyarakat sebagai warga Negara atau pemilik sah pemerintahan bukan sebagai pelanggan atau pembeli (serve citizens, not customers).Contoh pola kebijakan ini dapat kita lihat dalam proses pengambilan kebijakan dan perencanaan pembangunan yang melalui proses Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Proses pelaksanaan musrenbang diawali dari tingkat Kelurahan kemudian ke tingkat Kecamatan, Kota/Kab, Propinsi dan terakhir adalah musrenbang tingkat nasional.

BAB EVALUASI EVALUASI KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH DI JAWA TENGAH Menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dinyatakan bahwa pengembangan kawasan-kawasan tertentu dan strategis perlu diperhatikan. Penataan ruang terdiri atas tiga tahapan yaitu: perencanaan ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian ruang. Pemanfaatan ruang berdasarkan rencana memiliki waktu efektif selama lima tahun dihitung sejak disusunnya rencana tata ruang. Dengan demikian setelah lebih dari waktu tersebut perlu dilakukan peninjauan ulang untuk melihat apakah rencana tersebut masih relevan atau telah terjadi penyimpangan sehingga perlu dilakukan revisi rencana. Jika rencana tata ruang tidak dapat lagi mengakomodasi dinamika perkembangan yang bersifat internal maupun eksternal maka rencana tata ruang yang ada perlu ditinjau kembali atau disempurnakan. Faktor internal yang berubah antara lain konsep dan strategi pengembangan wilayah, seperti konsep kelengkapan unsur perencanaan, kualitas pendekatan dan hasil serta pelaksanaan RTRW Provinsi; kelengkapan produk rencana yang sudah ada; serta kesesuaian prosedur penyusunan perencanaan. Sedangkan faktor eksternal yang berubah antara lain dengan adanya peraturan perundangan baru seperti UU Nomor 26 Tahun 2007; adanya kebijakan penataan ruang yang tingkatannya lebih tinggi seperti RTRWN, RTRW Pulau Jawa-Bali; dan karena adanya kebijakan penataan ruang sekitar Jawa Tengah seperti Jawa Timur, Jawa Barat dan DIY. Pada pembangunan sarana dan prasarana perhubungan, terdapat kebijakan baru seperti peningkatan Bandara Adi Sumarmo menjadi bandara internasional, rencana pembangunan jalan tol serta jalur kereta api yang melalui wilayah Jawa Tengah. Perubahan faktor eksternal dan internal tersebut dapat mempengaruhi rencana sehingga menjadi tidak relevan lagi untuk digunakan sebagai acuan pemanfaatan ruang. Perubahan dan pengaruhnya terhadap Rencana Tata Ruang tidak selalu sama, akan tetapi kadarnya dapat bervariasi. Oleh karenanya dalam kurun waktu setiap lima tahun sekali dilakukan evaluasi terhadap rencana Tata Ruang agar bisa dianalisis apakah diperlukan revisi total, revisi sebagian atau tidak diperlukan revisi sama sekali sesuai dengan perkembangan existing dan tujuan pembangunan.

Dari hasil evaluasi rencana tata ruang wilayah Jawa Tengah yang dilakukan didapatkan hasil bahwa perlu dilakukan revisi terhadap rencana tata ruang wilayah Jawa Tengah tersebut. Revisi yang dilakukan dikategorikan dalam Tipologi C, yaitu suatu keadaan di mana RTRWP sah, tetapi dalam pelaksanaannya telah terjadi simpangan yang cukup besar, didukung pula dengan adanya perubahan faktor eksternal yang cukup besar. RTRWP dengan tipologi C memerlukan peninjauan kembali selain perlunya dilakukan pemantapan dalam pemanfaatan dan pengendalian RTRWP sehubungan dengan adanya simpangan besar tersebut. Dari uraian tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah dilakukan berdasarkan: 1. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 pasal 23 menyatakan bahwa guna pengendalian rencana tata ruang diperlukan adanya peninjauan kembali secara periodik setiap 5 (lima) tahun sekali, dan bila terjadi penyimpangan dapat dilakukan revisi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang Tata Ruang diberlakukan sesuai dengan pasal 78 UU No. 26 tahun 2007 2. Tindak lanjut dari hasil evaluasi RTRWP Jawa Tengah yang menghasilkan rekomendasi bahwa RTRWP Jawa Tengah perlu direvisi sebagian sesuai dengan substansi materi yang menyimpang.