Anda di halaman 1dari 99

PROYEK AKHIR

SISTEM PERENCANAAN AUTOMATIC


VOLTAGE REGULATOR (AVR) METODE
KONTROL LOGIKA FUZZY BERBASIS
MIKROKONTROLLER


ELCA WIRYANTI W.S
NRP. 7308.040.022


Dosen Pembimbing :

Epyk Sunarno, S.ST, MT
NIP. 19620723 199103 1 002


Indhana Sudiharto, ST.MT
NIP. 19660227 199403 1 001



PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2012


PROYEK AKHIR



SISTEM PERENCANAAN AUTOMATIC
VOLTAGE REGULATOR (AVR) METODE
KONTROL LOGIKA FUZZY BERBASIS
MIKROKONTROLLER



ELCA WIRYANTI W.S
NRP. 7308.040.022


Dosen Pembimbing :

Epyk Sunarno, S.ST, MT
NIP. 19620723 199103 1 002



Indhana Sudiharto, ST.MT
NIP. 19660227 199403 1 001



PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2012
iii

ABSTRAK
Ketidakstabilan tegangan kebanyakan disebabkan oleh adanya variasi
beban akibat terjadi distribusi beban yang tidak seimbang pada tiap fasa.
Ketidakstabilan tegangan umumnya terjadi pada beban-beban besar. Untuk
mengatasi ketidakstabilan tegangan ini digunakan AVR (automatic voltage
regulator). Pada penelitian ini akan dirancang suatu alat yang berfungsi untuk
mengatur kestabilan tegangan pada generator sinkron yang berupa Automatic
Voltage Regulator (AVR). Automatic Voltage Regulator terdiri atas rangkaian
rectifier (halfwave controlled rectifier), boost converter yang menghasilkan
tegangan DC yang selanjutnya tegangan DC ini akan digunakan untuk menaikkan
tegangan di kumparan medan yang menghasilkan tegangan sebesar 50 volt dengan
duty cycle yang dapat diatur secara otomatis menggunakan sinyal PWM melalui
mikrokontroler. Sinyal PWM akan dikontrol melalui kontrol logika fuzzy.

Kata Kunci : AVR (Automatic Voltage Regulator), kontrollogika fuzzy , dan
generator sinkrontigafasa.










iv

ABSTRACT
Voltage unstable is caused mostly by the presence of load variations
occur due to an unbalanced load distributionin each phase. Voltage unstable
generally occurs in large loads. To overcome the instability of this voltage is
used AVR (automatic voltage regulator). Voltage regulator output voltage
serves as the controller so that the output voltage from the generator can be
adjusted by regulating the magnetic field coils. Therefore, to regulate the
stability of the voltage at the required three-phase synchronous generator AVR
(Automatic Voltage Regulator). In this study will be designed a tool that serves
to regulate the voltage stability in the form of synchronous generator
Automatic Voltage Regulator (AVR) ..PWM signal will be controlled by fuzzy
logic control.

Keywords: AVR (Automatic Voltage Regulator), fuzzy logic control, and three-
phase synchronous generator.












v

KATA PENGANTAR



Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan buku proyek akhir yang berjudul Sistem Perencanaan
AVR (Automatic Voltage Regulator) Metode Kontrol Logika Fuzzy Berbasis
Mikrokontroller.
Buku ini disusun sebagai gambaran proyek akhir yang akan kami
kerjakan. Buku ini berisi tentang alasan pemilihan judul dan proses
pembuatan AVR (Automatic Voltage Regulator) sebagai penstabil
tegangan output pada generator sinkron tiga fasa.
Selama pembuatan buku ini kami telah banyak memperoleh
bimbingan dan arahan. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada :
1. Epyk Sunarno, S.ST, MT selaku dosen pembimbing 1 Tugas Akhir.
2. Ir. Indhana Sudiharto, MT selaku dosen pembimbing 2 Tugas Akhir.
3. Teman-teman, serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu
per-satu.
Dengan menyadari keterbatasan ilmu kami, tentu buku ini masih
jauh dari sempurna. Untuk itu kami selaku penulis dengan senang hati
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca
buku ini.







UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan penuh rasa syukur kehadirat Allah SWT dan tanpa
menghilangkan rasa hormat yang mendalam, saya selaku penyusun dan
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-
pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan proyek akhir
ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Allah SWT, karena perlindungan, pertolongan dan ridho-Nya saya
mampu menyelesaikan Proyek Akhir ini serta hambanya yang
termulia Nabi Besar Muhammad SAW.
2. Untuk kedua orangtua ku yang telah memberikan semangat dan
nasihat terbaik bagiku.
3. Bapak Ir. Dadet Pramadihanto, M.Eng Ph.D selaku direktur
PENS-ITS.
4. Bapak Indhana Sudiharto S.T, M.T selaku ketua program studi
Teknik Elektro Industri PENS-ITS.
5. Bapak Epyk Sunarno SST, M.T dan Bapak Indhana Sudiharto,
S.T., M.T. selaku dosen pembimbing proyek akhir saya.
6. Bapak Hariono A.md selaku teknisi Laboratorium Rangkaian
listrik yang telah membantu dan memberikat dukungan serta nasihat
terhadap saya.
7. Seluruh Bapak dan Ibu dosen yang telah membimbing dan
membekali ilmu kepada penulis selama penulis menempuh
pendidikan di kampus tercinta ini, Politeknik Elektronika Negeri
Surabaya-ITS ( PENS-ITS ).
8. Teman-teman D408 yang telah memberikan pengalaman yang
belum pernah dialami sebelumnya seperti ini sehingga menjadikan
saya bersemangat dan motivasi tinggi kelak dikemudian hari.
9. Lia kurniawati dan Aprilya Elsandari yang telah mengorbankan
waktunya untuk memberikan motivasi dan menemaniku saat
menemui kegalauan dalam tugas akhir sehingga memiliki semangat
tak terbatas seperti sekarang ini.
10. Mbak Suci Ramadhani yang telah merelakan kamarnya untuk
tempat saya mengerjakan tugas akhir.

Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan, rahmat dan
nikmat-Nya bagi kita semua. Amin
vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................... ii
ABSTRAK ................................................................................ iii
KATAPENGANTAR ............................................................... iv
UCAPAN TERIMA KASIH ..................................................... v
DAFTAR ISI............................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................ viii
DAFTAR TABEL ................................................................... xviii

BAB I. PENDAHULUAN Halaman
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................. 1
1.3 Permasalahan ........................................................................ 2
1.4 Metodologi ........................................................................... 3
1.5 Sistematika Pembahasan ....................................................... 5
1.6 Tinjauan Pustaka .................................................................. 6

BAB II. TEORI PENUNJANG
2.1 AVR (Automatic Voltage Regulator) .................................... 7
2.2 Generator Sinkron ................................................................. 7
2.3 DC-DC Converter (Boost Converter) .................................... 10
2.3.1Prinsip Kerja ................................................................. 11
2.4 Desain Induktor .................................................................... 12
2.5 Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang .......................... 13
2.5.1Silicon Controlled Rectifier ........................................... 13
2.5.2Karakteristik SCR.......................................................... 15
2.5.3Pengaruh Temperatur Pada Suhu ................................... 17
2.5.4Rangkaian Penyearah..................................................... 19
2.5.5Penyearah Setengah Gelombang Terkontrol ................... 19
2.5.6Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang Satu Fasa ... 20
2.6 Sensor Tegangan .................................................................. 22
2.7 PWM Kontrol ....................................................................... 22
2.8 Mikrokontroler Atmega 16 .................................................... 23
2.9 Kontrol Logika Fuzzy ........................................................... 29
2.9.1Desain Rule Base........................................................... 13

viii

2.10 Code Vision AVR ............................................................... 33
2.11MOSFET ............................................................................. 35
2.11.1Simbol Rangkaian
MOSFET .................................................................. 36
2.12Optocoupler ......................................................................... 37
2.13Rangkaian Drive Totempole ................................................. 37
2.14Mikrokontroler .................................................................... 40
2.14.1Konsep Mikrokontroler .............................................. 40
2.15IC TCA 785 ......................................................................... 41

BAB III. PERANCANGAN DAN PEMBUATAN
3.1 Blok Diagram ....................................................................... 45
3.2 Perencanaan Boost Converter ................................................ 47
3.3 Perencanaan Halfwave
Controlled Rectifier .................................................................... 53
3.4 Perencanaan Sensor Tegangan .............................................. 56
3.5 Perencanaan Kontrol Logika
Fuzzy ......................................................................................... 58
3.6 Pembuatan ATMEGA 16 ...................................................... 61
3.7 Perencanaan Hardware pada
mikrokontroler (Optocoupler) ..................................................... 63


BAB IV. PENGUJIAN DAN ANALISA
4.1 Pengujian PWM.................................................................... 65
4.1.1 Pengujian PWM Mikrokontroler ................................... 65
4.1.2Pengujian Optocoupler .................................................. 66
4.1.3 Pengujian Rangkaian
Totempole ............................................................................. 68
4.2 Pengujian Driver TCA 785.................................................... 70
4.3 Pengujian Halfwaved Controlled
Rectifier ..................................................................................... 72
4.4 Pengujian Sensor Tegangan .................................................. 75
4.5 Pengujian Boost Converter .................................................... 77





ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1.Generator AC Konvensional ................................................. 9
2.2.Generator AC Penguat Statis ................................................. 10
2.3.Rangkaian Boost Converter ................................................... 11
2.4.a Switching Mode Saklar ON ................................................ 11
2.4.b.Switching Mode Saklar OFF .............................................. 11
2.5.a Bentuk Fisik Toroid (Tampak Depan) ................................. 12
2.5.b Bentuk Fisik Toroid (Tampak Samping) ............................. 12
2.6.Susunan SCR ........................................................................ 13
2.7.Konfigurasi SCR .................................................................. 14
2.8.Karakteristik Tegangan dan Arus SCR .................................. 16
2.9.Perubahan Break Over Voltage ............................................. 16
2.10.Rangkaian Halfwave Controlled Rectifier............................ 19
2.11.Rangkaian Halfwave Controlled Rectifier............................ 20
2.12.Bentuk Gelombang Tegangan Input Penyearah .................... 21
2.13.Bentuk Gelombang Tegangan Output Penyearah ................. 21
2.14.Bentuk Gelombang Arus Output ......................................... 21
2.15.Rangkaian Resistor Pembagi Tegangan ............................... 22
2.16.Rangkaian PWM Kontrol .................................................... 23
2.17.Gelombang Pulsa Keluaran PWM ....................................... 23
2.18.Pin-Pin ATMEGA 16 kemasan 40 pin ............................... 25
2.19.Arsitektur CPU dari AVR ................................................... 26
2.20.Konfigurasi Pin Port ........................................................... 28
2.21.Blok Diagram Timer/Counter ............................................ 29
2.22.Timing Diagram Timer/Counter Tanpa Prescalling .............. 29
2.23.Timing Diagram Timer/Counter Dengan Prescaling............. 30
2.24.Timing Diagram Timer/Counter, menyeting OCF0 dengan
prescaler (fclk_I/O/8) ................................................................. 31
2.25. Timing Diagram Timer/Counter, menyeting OCF0
Pengosongan Data Timer Sesuai Dengan Data Pembanding Data
Prescaler (fclk_I/O/8) ................................................................ 31
2.26.Blok Diagram Fuzzy ........................................................... 32
2.27.Membership Function ERROR ............................................ 33
2.28. Membership Function DERROR ........................................ 33
2.29. Membership Function DUTY CYCLE ............................... 33
2.30.Code Vision AVR ............................................................... 35
2.31.Membuat Projek Baru menggunakan Code Vision AVR ...... 36
x

2.32.Pengaturan Komponen Pada Code Vision AVR ................... 36
2.33.Simbol MOSFET ................................................................ 38
2.34.Rangkaian Dasar Optocoupler ............................................. 39
2.35 Rangkaian Dasar Totempole ............................................... 40
2.36 IC TCA 785 ........................................................................ 41
2.37 Rangkaian Pembangkit IC TCA 785 .................................... 42
3.1. Blok Diagram Sistem ........................................................... 45
3.2 .Rangkaian Simulasi Boost Converter ................................... 52
3.3 .Bentuk Gelombang Tegangan Output Boost ......................... 52
3.4.Bentuk Gelombang Arus Output Boost.................................. 53
3.5.Rangkaian Boost Converter ................................................... 53
3.6. Rangkaian Single Phase Halfwave Controlled Rectifier
Resistive Load (R) ............................................................... 54
3.7. Bentuk Gelombang Single Phase Halfwave Controlled Rectifier54
3.8. Bentuk Gelombang Output Single Phase Halfwave Controlled
Rectifier .............................................................................. 55
3.9.Rangkaian Halfwave Controlled Rectifier ............................. 56
3.10.Rangkaian Skematik Sensor Tegangan ................................ 57
3.11.Rangkaian Sensor Tegangan ............................................... 57
3.12.Perencanaan Membership Function ..................................... 58
3.13.Membership Function ERROR ............................................ 58
3.14.Membership Function DERROR ......................................... 59
3.15.Membership Function Output .............................................. 59
3.16.Perencanaan Rule Base Pada Matlab ................................... 61
3.17.Minimum Sistem ATMEGA 16 .......................................... 62
3.18.Rangkaian Optocoupler ....................................................... 63
4.1.Pengujian PWM Mikro ......................................................... 65
4.2.Bentuk Gelombang PWM Mikrokontroler ............................. 66
4.3.Rangkaian Hardware Optocoupler ......................................... 67
4.4. Rangkaian Optocoupler ........................................................ 67
4.5. Bentuk Gelombang Output Keluaran .................................... 68
4.6.Rangkaian Drive Totempole.................................................. 68
4.7.Rangkaian Keluaran Totempole ............................................ 69
4.8.Bentuk Gelombang Pada Kaki no 5 ....................................... 70
4.9.Bentuk Gelombang Pada Kaki no 10 ..................................... 70
4.10.Bentuk Gelombang Pada Kaki no 14 ................................... 70
4.11.Bentuk Gelombang Pada Kaki no 15 ................................... 71
4.12.Pengujian Halfwave Controlled Rectifier ............................. 72
4.13.Gelombang Output Penyulutan 90 ..................................... 72
xi

4.14.Bentuk Gelombang Output Pada Kaki No 14 ....................... 73
4.15. Gelombang Output Penyulutan 150................................... 73
4.16. Bentuk Gelombang Output Pada Kaki No 14 ...................... 74
4.17. Gelombang Output Penyulutan 180................................... 74
4.18. Bentuk Gelombang Output Pada Kaki No 14 ...................... 75
4.19.Pengujian Sensor Tegangan................................................. 76
4.20. Grafik Luaran Sensor Tegangan ......................................... 77
4.21.Pengukuran Nilai Induktor .................................................. 78
4.22.Gelombang Output PWM pada Kaki Gate dan Source Pada
Mosfet Rangkaian Boost Converter .................................... 79
4.23. Gelombang Output PWM pada Kaki Drain dan Source Pada
Mosfet Rangkaian Boost Converter .................................... 80


DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1. Rule Base Kontrol Logika Fuzzy .......................................... 34
2.2. Tabel Fungsi Kaki TCA 785 ................................................ 42
3.1.Kondisi Tak Berbeban .......................................................... 29
3.2. Kondisi Berbeban (Drop Tegangan) .................................... 46
3.3. Kondisi Berbeban (Tegangan Dinaikkan) ............................. 47
4.1. Hasil Pengujian Halfwave Controlled Rectifier ..................... 75
4.2. Hasil Pengujian Sensor Tegangan......................................... 76
4.3.Pengujian Boost Converter .................................................... 78
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Ketidakstabilan tegangan dapat terjadi di sistem distribusi
dimana saja. Ketidakstabilan tegangan dapat menimbulkan masalah
serius pada peralatan-peralatan listrik dengan sistem induksi tiga
fasa. Kondisi yang tidak stabil lebih sering disebabkan oleh adanya
variasi dari beban (beban yang tidak seimbang). Ketika beban satu
fasa dengan fasa lain berbeda, maka saat itulah kondisi yang tidak
stabil terjadi. Ketidakseimbangan tegangan disebabkan oleh
impendansi, tipe beban, atau jumlah beban yang berbeda antara fasa
yang satu dengan fasa lain.Ketidakseimbangan ini jika dibiarkan
terus menerus akan menyebabkan kerusakan pada peralatan-
peralatan listrik misalnya motor, generator, dan peralatan listrik
lainnya. Saat kondisi berbeban tegangan eksitasinya sebesar 49 volt
menghasilkan tegangan pada generator sebesar 380 volt. Oleh sebab
itu, pada proyek akhir ini kami memfokuskan untuk mendesain AVR
yang berfungsi untuk mengatur tegangan output pada generator agar
tegangan menjadi konstan atau stabil.
Dalam perencanaan AVR diperlukan beberapa komponen
rangkaian penyusun seperti rangkaian halfwave controlled rectifier,
rangkaian boost converter. Boost converter berfungsi untuk
menaikkan tegangan dengan cara mengontrol duty cycle.
Pengaturan duty cycle dari boost converter digunakan untuk
mengatur tegangan keluaran generator sinkron tiga fasa.
Pengontrolan duty cycle dilakukan melalui mikrokontroler
menggunakan metode kontrol logika fuzzy.

1.2 TUJUAN PROYEK AKHIR
Umum :
Untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan dari program
diploma 4 (D4) pada jurusan Teknik Elektro Industri Politeknik
Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh November.
2

Khusus :
Tujuan dri pembuatan proyek akhir ini adalah merancang dan
merealisasikan sebuah alat untuk mengatasi ketidakstabilan tegangan
yang terjadi pada generator sinkron tiga fasa sehingga nantinya akan
didapatkan tegangan konstan sebesar 380 V AC. Pada proyek akhir
ini akan dilakukan pengaturan duty cycle boost converter melalui
mikrokontroler menggunakan metode kontrol logika fuzzy. Hasil
yang diharapkan adalah didapatkan tegangan keluaran boost
converter yang sesuai untuk menaikan tegangan di kumparan medan
sebesar 50 volt yang nantinya akan menghasilkan tegangan konstan
sebesar 380 V AC.

1.3 PERUMUSAN MASALAH DAN BATASAN MASALAH

1.3.1. BATASAN MASALAH
Pada pengerjaan proyek akhir ini memiliki beberapa batasan
masalah diantaranya :
1. Jenis DC-DC converter yang digunakan adalah rangkaian
boost converter.
2. Pengontrolan duty cycle dari boost converter digunakan
untuk mengatur tegangan keluaran pada generator sinkron
tiga fasa.
3. Sensor tegangan yang digunakan untuk mendeteksi
tegangan yang keluar dari generator adalah sensor tegangan
pembagi tegangan.
4. Jenis beban (load) yang digunakan adalah beban lampu.
5. LCD 16x2 yang digunakan untuk menampilkan tegangan
yang dikirim dari mikrokontroler.

1.3.2. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara mengontrol tegangan keluaran generator
sinkron tiga fasa melalui mikrokontroler dengan
menggunakan metode kontrol logika fuzzy.
2. Bagaimana cara mendesain komponen induktor yang ideal
untuk boost converter
3



3. Bagaimana cara mendesain boost converter sehingga
didapatkan tegangan pada kumparan medan sebesar 50
Volt.

1.4 METODOLOGI
1.4.1 STUDI LITERATUR
Pada tahap studi literatur ini dilakukan pemahaman materi
dengan beberapa literatur yang berupa makalah makalah, buku teori
penunjang, paper, jurnal, serta artikel yang didapat dari internet
tentang Automatic Voltage Regulator (AVR), kontrol logika fuzzy,
generator sinkron tiga fasa dan komponen-komponen yang
digunakan dalam pembuatan proyek akhir ini. Serta pengambilan
literatur lain baik secara hardware maupun software sebagai acuan
untuk menyelesaikan tugas akhir.

1.4.2 PERANCANGAN SISTEM
Pada tahap perancangan sistem ini direncanakan pembuatan
sistem perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).
1.4.2.1 Perangkat keras
Tahap ini merupakan pembuatan perangkat keras meliputi
1. Rectifier satu fasa (halfwave controlled rectifier) yang
digunakan untuk mengubah tegangan AC (keluaran dari
generator). Dalam hal ini hanya tegangan tiap fasa yang
digunakan yaitu sebesar 220 volt menjadi tegangan DC
untuk masukan boost converter.
2. DC-DC converter yang berupa boost converter untuk
menaikkan tegangan sehingga didapatkan tegangan sebesar
50 Volt.
3. Sensor tegangan pembagi tegangan untuk mendeteksi
tegangan keluaran generator sinkron tiga fasa.
4. PWM kontrol digunakan untuk switching mosfet pada boost
converter sebesar 40kHz.

1.4.2.2 Perangkat lunak
4

Tahap ini merupakan pembuatan perangkat lunak meliputi :
1. Pembuatan software pada mikrokontroler dengan
CodeVision AVR.
2. Pembuatan program display untuk menampilkan arus dan
tegangan pada lcd dan program keypad.
3. Pembuatan software pada kontrol logika fuzzy dengan
matlab.

1.4.3 PENGUJIAN SISTEM, INTEGRASI SOFTWARE
DAN HARDWARE SERTA PENGAMBILAN DATA.
Pada tahap ini dilakukan pengujian sistem secara keseluruhan.
Pengujian dilakukan secara bertahap yaitu tahap pertama adalah
pengujian hardware dengan melakukan trouble shooting dan tahap
kedua adalah pengujian software dengan mengcompilenya dengan
hardware agar dapat diketahui kesalahan-kesalahan yang ada,
sehingga bias diperbaiki lagi. Setelah itu dapat dilakukan
pengambilan data-data sebagai acuan untuk membuat laporan tugas
akhir.

1.4.4 ANALISA DAN KESIMPULAN HASIL SISTEM
DAN PEMBUATAN LAPORAN TUGAS AKHIR.
Pada tahap terakhir ini dilakukan analisa dan penarikan
kesimpulan dari sistem yang telah dibuat dan telah diuji coba untuk
digunakan dalam penulisan laporan proyek akhir.
Laporan tersebut berisi tentang semua hal yang berhubungan
dengan tugas akhir dari mulai proses pembuatan alat hingga hasil
pengujian akhir dari alat tersebut.

1.5 SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Bab I Pendahuluan
Membahas secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan latar
belakang, alasan pemilihan, tujuan, batasan masalah, metodologi,
dan sistematika pembahasan.


5



Bab 2 Teori Penunjang
Membahas tentang semua landasan teori yang menunjang dalam
pengerjaan Tugas Akhir. Teori yang tercantum adalah AVR, boost
converter, single phase halfwaved controlled rectifier, sensor
tegangan, PWM control dari mikrokontroler, ATMEGA 16, Code
Vision AVR, dan kontrol logika fuzzy.

Bab 3 Perancangan dan Pembuatan Hardware dan Software
Pada bab ini menguraikan tentang tahap perancangan dan pembuatan
hardware dan software.

Bab 4 Analisa Hasil Pengujian
Dalam bab ini menjelaskan tentang hasil pengujian hardware.
Pengintegrasian software dan hardware secara keseluruhan sehingga
dapat diketahui kesalahan dari sistem yang dibuat. Bab ini juga berisi
analisa dari pengujian alat tersebut.

Bab 5 Kesimpulan dan Saran
Bab ini merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan yang
diperoleh dari hasil pengujian sistem secara keseluruhan setelah
dibandingkan dengan teori, serta berisi tentang saran-saran atau
kekurangan dari proyek akhir ini.

1.6 TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka yang digunakan pengerjaan proyek akhir ini
adalah proyek akhir yang dibuat oleh Amien Setiadji yang berjudul
Kontrol PI untuk AVR sebagai penstabil tegangan generator
sinkron 3 fasa. Pada proyek akhir ini dijelaskan bahwa sistem
pengontrolan tegangan output dilakukan menggunakan kontrol PI.
Jenis converter yang digunakani untuk menaikkan tegangan pada
kumparan medan menggunakan DC-DC converter berupa buckboost
converter.
Serta tugas akhir yang disusun oleh M.rasouli yang berjudul
Pengaruh Sistem Pengendalian Eksitasi Pada Pengoperasian Pararel
6

Pada Generator Terdistribusi dan Grid Utama. Pada proyek akhir
ini menitikberatkan pada pengaturan tegangan pada kumparan
medan menggunakan voltage regulator yang dilengkapi dengan
kompensasi reaktif.





7

| Cxnx E =
BAB II
TEORI PENUNJANG

2.1. AVR (Automatic Voltage Regulator)
Automatic Voltage Regulator (AVR) adalah sebuah peralatan
yang berfungsi sebagai pengatur atau penstabil tegangan yang
berfungsi secara otomatis. Automatic voltage regulator berbentuk
rangkaian circuit yang dipasang pada suatu generator pembangkit
listrik. Genset adalah suatu generator pembangkit (biasa disebut
geno) dan rangkaian mesin yang digabungkan menjadi satu kesatuan
yang digunakan untuk membangkitkan arus listrik untuk kebutuhan
listrik sehari-hari. Rangkaian mesin yang berputar akan
menghasilkan energi.
Energi yang dihasilkan kemudian akan disalurkan ke
generator untuk menghasilkan tegangan listrik. Namun yang menjadi
persoalan bahwa tegangan listrik yang dihasilkan harus stabil dan
konstan. Apabila tegangan listrik yang dihasilkan tidak konstan dan
Cenderung fluktuatif maka diperlukan adanya AVR (Automatic
Voltage Regulator) sebagai penstabil tegangan output generator.

2.2. Generator Sinkron
Generator sinkron adalah mesin sinkron yang
mengkonversikan energy mekanik menjadi energi listrik. Generator
sinkron digunakan sebagai generator arus bolak-balik (generator
AC). Prinsip dasar kerja generator AC adalah berdasarkan hokum
Faraday, yaitu apabila suatu batang konduktor digerakkan berputar
dengan kecepatan n memotong medan magnet , maka pada
konduktor tersebut akan timbul tegangan listrik E. besar tegangan
listrik yang ditimbulkan adalah sebagai berikut :

....2.1


Dimana : E = tegangan listrik yang ditimbulkan (V)
C = konstanta mesin
8

n = kecepatan putaran (rpm)
= fluks yang dihasilkan oleh arus medan (Weber)
Ditinjau dari bentuknya generator AC dibedakan menjadi 2
macam yaitu dengan kutub utama didalam dan kutub utama diluar.
Kutub utama adalah yang menghasilkan medan magnet . Untuk
generator besar digunakan jenis dengan kutub utama di dalam yaitu
kutub berada di rotor dan magnet dalam generator sinkron adalah
tetap. Pada generator kecil medan magnet dapat ditimbulkan oleh
magnet tetap, tetapi pada umumnya medan ini dihasilkan dengan
memberikan arus searah (arus eksitasi) pada kumparan medan.
Kumparan utama dapat terletak di stator atau di rotor.
Biasanya kumparan utama terletak di stator karena sulit untuk
memberi atau mengambil arus besar dan tegangan tinggi pada bagian
yang berputar. Bila kumparan utama terletak di rotor maka stator
terdiri dari kutub menonjol yang diberi arus searah. Mesin ini disebut
mesin kutub luar.
Bila kumparan utama terletak di stator terdapat 2 jenis yaitu :
a. Mesin dengan kutub yang menonjol di rotor, digunakan
untuk mesin dengan putaran yang rendah (sampai dengan
1500 rpm) dengan diameter besar dan pendek
b. Mesin dengan kutub silindris di rotor digunakan untuk mesin
dengan putaran tinggi (lebih dari 1500 rpm) dengan diameter
kecil dan panjang.
Apabila medan magnet ditimbulkan pada saat rotor berputar
maka akan dibangkitkan tegangan bolak-balik pada kumparan utama
yang terletak di stator. Pada generator konvensional, arus eksitasi
diperoleh dari dc kecil yang bertindak sebagai exciter.
Generator konvensional digantikan generator AC dengan
penguat statis. Arus searah diperoleh dari tegangan AC output
generator yang dilewatkan transformator dan disearahkan oleh
rectifier. Transformator digunakan untuk menurunkan tegangan
output generator sehingga didapat tegangan rendah yang sesuai
untuk rectifier karena rectifier tidak ikut berputar bersama rotor
maka disebut generator AC dengan penguat statis.
9



Pada mulanya terdapat medan magnet sisa pada kumparan
rotor. Jika rotor diputar, medan magnet sisa menimbulkan tegangan
AC kecil pada kumparan stator. Tegangan disearahkan dan
dimasukkan ke kumparan rotor sehingga medan magnet yang
dihasilkan makin besar dan tegangan naik. Proses ini dilakukan
berulang-ulang sampai dicapai tegangan nominal. Bersama dengan
penyearah tersebut terdapat juga rangkaian pengatur untuk
mendapatkan tegangan nominal yang konstan. Rangkaian ini disebut
pengatur tegangan otomatis (Automatic Voltage Regulator,AVR).
Pada generator AC konvensional maupun generator AC
dengan penguat statis, system eksitasi menggunakan slip ring dan
sikat arang yang menekannya untuk memasukkan arus eksitasi ke
kumparan rotor. Selain itu pada generator AC konvensional terdapat
generator dc kecil yang menggunakan komutator dan sikat arang
yang menekannya untuk menghasilkan arus dc. Komponen
komutator dengan sikat arang dan slip ring memerlukan maintenance
(pemeliharaan) yang teratur karena keausan yang terjadi akibat
gesekan komponen tersebut







Gambar 2.1 Generator AC konvensional
1


Gambar 2.1 diatas merupakan gambar rangkaian generator AC
secara konvensional. Generator tersebut tidak dilengkapi dengan
penguat statis.

1
Automatic Voltage Regulator. [Didownload pada tanggal 24 Desember 2011.
Sumber: http:// localhost/F:/rezky/automatic-voltage-regulator-avr.html].

10

( ) D
Vin
Vo

=
1

Gambar 2.2 Generator AC dengan Penguat Statis
2

Gambar 2.2 diatas merupakan gambar rangkaian generator AC yang
telah dilengkapi dengan penguat statis sehingga tegangan eksitasi
dapat diatur melalui penguat statis.

2.3. DC-DC Converter (Boost converter)
Boost converter bekerja dengan menghasilkan tegangan
keluaran yang lebih tinggi dari tegangan masukannya. Besarnya
tegangan keluaran dapat dihitung menggunakan persamaan :

.2.2

Dalam perancangan proyek akhir ini akan dibuat boost
converter yang memiliki kemampuan untuk menaikkan tegangan
masukan sebesar 4 volt menjadi 20 volt dengan arus keluaran sebesar
2,5 ampere.
Boost memiliki efisiensi tinggi, rangkaian sederhana, tanpa
transformer dan tingkat ripple yang rendah pada arus masukan.
Tetapi boost tidak memiliki isolasi antara masukan dan keluaran,
hanya satu keluaran yang dihasilkan, dan tingkatan ripple yang tinggi
pada tegangan keluaran.




2
Automatic Voltage Regulator. [Didownload pada tanggal 24 Desember 2011.
Sumber: http:// localhost/F:/rezky/automatic-voltage-regulator-avr.html].
11








Gambar 2.3 Rangkaian boost converter
3


Gambar 2.3 merupakan gambar rangkaian boost converter dimana
boost converter terdiri dari inductor, kapasitor, dan diode.

2.3.1. Prinsip Kerja
Boost converter memiliki 2 mode yaitu mode switch on dan
switch off. Pada mode 1 (transistor on). Arus masukan meningkat
mengalir melalui inductor L dan switch 1. Seperti gambar rangkaian
2.a. pada mode 2 saat switch 1 dimatikan arus mengalir melalui
resistor yang berasal dari inductor L dan difilter oleh kapasitor C
seperti pada gambar rangkaian 2.b




Gambar 2.4.a switch mode saklar ON






3
Mursyida. Dina Rancang Bangun Modul Praktikum Elektronika Daya (Buck
Converter dan Boost Converter). PENS-ITS. 2008. Hal 13
V
12





Gambar 2.4.b switch mode saklar off
Gambar 2.4 merupakan gambar boost converter dengan mode switch
saklar ON dan switch saklar OFF. Dimana switch saklar mode ON
merupakan saklar normally close dan switch saklat OFF merupakan
saklar normally open.
2.4. Design Induktor
Suatu bahan induktor dapat diartikan sebagai sepotong kawat
yang dililit dalam bentuk kumparan, dimana induktansi yang
terbentuk berlawanan dengan perubahan arus. Induktor dapat
dikatakan merupakan sebuah rangkaian yang menyimpan energy
dalam bentuk medan elektromagnetik. Berdasarkan hukum Faraday,
induktansi L boleh diartikan sebagai pembangkit EMF yang
berlawanan dengan arus yang diberikan dari sumber.
Induktansi Toroid
Menemukan medan magnet didalam toroid adalah contoh dari
hukum ampere. Arus diwakilkan oleh garis yang putus-putus yang
merupakan banyaknya arus mengalir pada tiap loop. Kemudian
hokum ampere menentukan medan magnet pada garis tengah toroid
sebagai berikut :
vNI r B = t 2 ....2.3
Atau
r
uNI
B
t 2
= .......2.4
bentuk fisik dari inductor dengan inti toroid ditunjukkan pada
gambar di bawah ini.

13











Gambar 2.5.a Bentuk Fisik Toroid Gambar2.5.b Bentuk fisik Toroid
(Tampak Depan) (Tampak Samping)
4

Induktansi dapat dihitung dengan cara yang sama seperti pada
coil kawat. Penerapan hukum Faraday untuk menghitung tegangan
induksi untuk bentuk toroid
r
A vN
L
t 2
2
= ....2.5
r = jari-jari toroid dari garis tengah
A = luas penampang

2.5. Rangkaian Penyearah setengah gelombang
2.5.1. Silicon Controlled Rectifier (SCR)
Seiring dengan perkembangan sistem kontrol, maka
kebutuhan akan peralatan juga tidak dapat dihindari. Adapun
salah satu peralatan yang mudah diperoleh serta mudah dalam
penggunaannya antara lain adalah SCR, dimana SCR merupakan
sebuah bahan semikonduktor 4 lapis dengan susunan P-N-P-N
dan 3 buah elektroda yang disebut Anoda, katoda, dan Gate
yang menggunakan umpan balik dalam (internal feedback)
untuk memperoleh perilaku penahanan (penguncian latching).
Sedangkan pemakaian yang paling utama dari komponen ini
adalah pada pengendalian arus beban yang besar pada motor,
pemanas, sistem penerangan, dan sebagainya. Adapun susunan
dari konfigurasinya seperti pada Gambar di bawah ini:

4
Effendi. Zaenal Mohammad. Design Of Inductor-07. EEPIS-ITS. 2007. Hal 7
14





Gambar 2.6 Susunan SCR
5


Gambar 2.6 pada tugas akhir ini SCR direncanakan seperti
penyearah, tetapi berbeda dengan dioda yang biasanya, karena pada
SCR terdapat elektroda ketiga yang disebut gate. Melalui gate inilah
diadakan pengontrolan dengan memasukkan arus atau tegangan dari
rangkaian driver, dimana dengan arus gate yang cukup kecil SCR
dapat mengatur arus beban yang besar.






Gambar 2.7 Konfigurasi SCR
Gambar 2.7 merupakan konfigurasi dari SCR. Prinsip kerja dari SCR
dapat diuraikan menjadi beberapa tahap sebagai berikut :

a. Hantaran maju ( Forward Bias )
Anoda lebih positif terhadap katoda, tetapi tidak terdapat
penyulutan pada gate, SCR dikatakan tertahan maju karena memiliki
resistansi yang besar. Pada kondisi ini masih terdapat arus bocor
yang mengalir dalam jumlah yang kecil. Dari gambar diatas dapat
terlihat bahwa meskipun J1 dan J3 mendapat hantaran maju pada

5
Septianto. David Candra. Rancang Bangun Penstabil Tegangan Pada Generator
Sinkron Tiga Phase Akibat Fluktuasi Beban Dengan PI-Fuzzy Logic Control. PENS-
ITS. 2011. Hal 20
15



persambungan dengan J2 mendapat hantaran mundur (Reverse Bias).
Dengan mengacu pada rangkaian ekuivalen dari dua transistor dapat
dijelaskan bahwa hantaran maju tanpa ada sinyal pada gate akan
membuat Tr2 hanya arus bocor yang mengalir.
b. Hantaran mundur ( Reversed Bias )
Pada kondisi ini kaki anoda lebih bersifat negatif terhadap kaki
katoda. SCR berada pada kondisi penahanan mundur, sehingga arus
yang dapat mengalir hanyalah arus bocor yang bernilai relatif kecil
sekali. Pada daerah persambungan SCR, J1 dan J3 mendapat
hantaran mundur. Pada kondisi hantaran mundur inilah, SCR tidak
pernah dapat beroperasi walaupun sudah diberi sinyal trigger pada
daerah terminal gate.

c. Hantaran maju dengan memberikan sinyal pada gate
Pada kondisi forward bias, bila SCR diberikan pulsa
penyulutan pada gerbang gate, maka SCR mulai beroperasi pada
daerah sudut dimana pulsa penyulutan tersebut diberikan. Pulsa
penyulutan tersebut dapat menghantar arus sampai SCR mengalami
komutasi. Waktu hantaran dan besarnya arus yang dilewatkan oleh
SCR hanya dibatasi oleh resistansi luar saja, sehingga besarnya
tegangan yang melewati anoda - katoda turun pada harga yang
sangat rendah. Kondisi ini dapat dijelaskan dengan menggunakan
rangkaian padanan dengan memperhatikan bahwa pulsa gate
menyebabkan Tr2 dapat berfungsi untuk menghantar. Rangkaian dua
transistor ini mempunyai loop umpan balik positif, karena masing-
masing kolektor dihubungkan secara langsung pada kaki basis yang
lain. Dengan demikian kedua transistor tersambung on meskipun
sinyal gate dihilangkan atau dimatikan. SCR akan off jika
mengalami komutasi.

2.5.2. Karakteristik SCR
Dengan memiliki karakteristik yang sama pada saat kondisi
reverse maka besarnya tegangan dan arus yang dihasilkan SCR sama
dengan besarnya tegangan dan arus yang dihasilkan pada dioda,
namun pada saat kondisi forward SCR mempunyai karakteristik
sendiri dimana arus yang masuk melewati gerbang gate berbentuk
16

pulsa-pulsa dengan daya yang relatif cukup kecil. Pulsa-pulsa
tersebut diatur waktunya sesuai dengan kebutuhan. Karakteristik
pada waktu forward bias sama dengan pada saat kondisi reverse bias,
tahanan antara anoda dan katoda pada SCR memiliki harga yang
sangat tinggi. Pada kondisi tersebut SCR menahan aliran arus,
dimana aliran arus yang mengalir dalam jumlah yang kecil tersebut
merupakan arus bocor atau Forward Holding Current.
Untuk nilai tegangan pada Anoda dan Katoda sama dengan nilai
tegangan supply. Pada kondisi seperti ini diusahakan agar tegangan
peak (puncak) dari tegangan supplai tidak melebihi Forward
Breakdown Over Voltage dari SCR. Tegangan supply tertahan di
SCR sampai SCR mendapat pulsa penyulutan pada terminal gate.
Bila tegangan supplai merupakan pulsa sinus, maka selama SCR
dalam keadaan off tegangan antara anoda-katoda membentuk
tegangan sinus.
Keadaan ini berlangsung sampai gate mendapat trigger. Setelah
pulsa trigger mandapat pulsa dari gate, maka pulsa trigger tersebut
menyebabkan perubahan yang cepat dari kondisi off menuju kondisi
on dari SCR dengan cepat dan memiliki kondisi yang sama dengan
forward silicon bias, sehingga tegangan anoda-katoda terus turun
sampai mencapai titik yang disebut Forward Avalance Region.
Disinilah SCR mulai konduksi, sehingga SCR digunakan sebagai
switch yang terpasang atau terpasang secara tertutup.
Pada saat SCR dalam keadaan on, arus anoda (arus beban) tidak
dipengaruhi lagi oleh adanya pulsa - pulsa trigger, kecuali saat arus
anoda sangat kecil. Tegangan antara anoda - katoda lebih kecil dari
yang diperlukan untuk mempertahankan holding current (Arus
bocor) , maka saat itu SCR akan kembali ke keadaan off dan tidak
ada arus konduksi yang mengalir melalui anoda dan katoda lagi.
Keadaan off dari SCR terus tertahan sampai diberikannya pulsa
trigger pada gate yang akan membuat SCR menjadi on. Pulsa trigger
yang diberikan membuat SCR terkonduksi bila tegangan pada anoda
lebih positif dibandingkan dengan tegangan pada katoda dan
tegangan supply belum mencapai harga breakover point dari SCR itu
sendiri.
Untuk menjaga kondisi SCR tetap dalam keadaan on, diperlukan
arus anoda minimum. Karena jika arus anoda turun, maka SCR
kembali kekeadaan blocking. Agar SCR melai mendapat konduksi,
maka diperlukan arus yang lebih besar dari arus holding.
17



Pada Gambar 2.19 menunjukkan Karakteristik Tegangan dan
Arus pada SCR dan Gambar 2.20 menunjukkan Perubahan Break
Over Voltage pada komponen SCR.





Gambar 2.8 Karakteristik Tegangan dan Arus pada SCR
Gambar 2.8 merupakan gambar karakteristik tegangan dan arus pada
SCR. Kurva karakteristik menggambar kondisi ON dan OFF pada
SCR (Silicon Controlled Rectifier).

Gambar 2.9 Perubahan Break Over Voltage
Gambar 2.9 merupakan gambar perubahan kondisi saat SCR
mengalami fase break over voltage. Kurva perubahan break over
voltage linier.
2.5.3. Pengaruh Temperatur pada SCR
Pengaruh temperatur pada SCR yang didominasi adalah
sebagai berikut:
A. Temperatur Jungtion
Karakteristik dari SCR dipengaruhi oleh temperatur atau
suhu dari persambungan setiap layer dari silikon. Batas
18

pengoperasian temperatur yang diijinkan dari masing-masing SCR
bermacam-macam tergantung dari setiap tipe. Batas temperatur
tersebut tergantung pada tegangan tembus (Breakdown Over
Voltage) SCR itu sendiri. Dalam pemilihan SCR, harus diperhatikan
besar temperatur persambungan yang dimiliki oleh setiap SCR tidak
boleh lebih kecil dari pada batas temperatur dari peralatan yang
dioperasikan oleh SCR tersebut.
B. Thermal Resistance
Thermal resistance adalah suatu besaran yang menunjukkan
kemampuan dari SCR untuk membuang panas yang terjadi pada sisi
plat dari SCR. Panas ini timbul dikarenakan kondisi dari SCR berada
pada kondisi forward conducting, dimana besarnya tergantung dari
konduksi dari bahan - bahan yang digunakan. Biasanya pada sisi plat
dari SCR tersebut dipasang pendingin yang terbuat dari plat
aluminium (heat sting). Untuk menentukan plat heat sting yang
dipasang pada SCR dapat ditentukan dari persamaan 2.38 :
ja= T*Ta/P..................................................................................(2.6)
Keterangan :
ja = Tahananthermis antara junction atmosfer ( C/Watt)
Tj = Temperatur junction (C )
Ta = Temperatur ambient (C )
P = Rugi rugi ( Watt )
Pada SCR mempunyai thermal resistance yang tinggi,
temperatur jungtion dari SCR dalam waktu yang lama akan menjadi
panas, sehingga bila SCR mempunyai thermal yang rendah pada
harga tertentu, maka SCR akan lebih cepat panas karena
pembuangan tidak lagi sebanding dengan panas arus yang mengalir.
C. Turn On Time
Arus penyalaan yang diberikan pada gate SCR tidak akan
merubah keadaan forward blocking ke keadaan fully on, tetapi untuk
suatu periode waktu yang pendek SCR menahan tegangan anoda
yang digunakan. Kemudian forward impedance dikurangi dan
setelah perioda waktu SCR akan hidup.
19



Pada kondisi awal SCR berada pada keadaan blocking.
Kemudian gate mendapat trigger atau ditrigger dan kondisi anoda
naik sampai 10% dari harga akhir yang disebut dengan Time
delay. Waktu yang dibutuhkan untuk kekondisi tersebut tergantung
dari besar arus penyalaan gate yang akan diberikan. Sedangkan
untuk waktu menaikkan arus anode dari 10% sampai 90% dari harga
akhir disebut rise time.
Periode-periode waktu ini dinyatakan dalam bentuk
gelombang arus dan tegangan anoda yang digunakan dalam
rangkaian ini beban terdiri dari tahanan murni. Jadi turn on time-nya
adalah merupakan jumlah delay time dan rise atau dapat ditulis
seperti pada persamaan 2.32 :
Ton=td+tr............................................................................(2.32)
Keterangan :
T on = Perioda mulai On ( ms )
Td = PeriodaTime delay ( ms )
Tr = Perioda Rise time ( ms )
Faktor - faktor yang dapat mempengaruhi dari waktu
penyalaan atau penundaan dari SCR antara lain :
1. Forward Blocking Voltage.
2. Forward Peack Current Level
3. Besar Pulsa Penyalaan Gate
Dari faktor-faktor diatas yang sangat mempengaruhi penyulutan atau
penundaan penyalaan pada gate, maka time delay akan diperkecil dan
akan menimbulkan turn on time menjadi kecil.

2.5.4. Rangkaian Penyearah
Penyearah tipe ini menggunakan thyristor (SCR) sebagai
komponen penyearahnya. Pada penyearahnya ini tegangan rata-rata
dan rms nya dapat diatur dengan cara mengatur nilai / sudut
penyalaan SCR. Prinsip kerja SCR menyerupai diode yaitu akan
melewatkan arus jika anoda lebih positif dari katoda namun itu
20

berlaku jika gate pada SCR mendapatkan arus yang cukup untuk
mentriger sebesar .







Gambar 2.10 Rangkaian Halfwaved Control Rectifier

Gambar 2.10 merupakan gambar rangkaian halfwaved controlled
rectifier. Dimana rangkaian halfwaved controlled rectifier
menggunakan satu SCR (Silicon Controlled Rectifier) yang disulut
oleh driver TCA 785.

2.5.5. Penyearah Setengah Gelombang Terkontrol
Rangkaian dan bentuk gelombang penyearah 1 phasa
setengah gelombang terkendali dengan beban resistif ditunjukkan
pada gambar 4.1 Terlihat bahwa thyristor akan konduksi saat =
dan kondisi ini akan terus berlangsung sampai polaritas dari
tegangannya berubah atau sampai I
T
I
H
, yaitu ketika = . Oleh
karena beban resistif, arus bebannya akan mengikuti bentuk
gelombang dari teganganya. Jadi dengan mengatur tegangan rata-rata
yang muncul pada beban.
Tegangan rata-rata ( Vdc ) pada beban resistif dinyatakan
sebagai berikut :
Vdc=Vo=
1
2

0
sin()(t)..(2.7)
Vdc=

2
1 + cos ...(2.8)
R
21



Daya yang diserap oleh beban resistif adalah V
2
rms
/ R dengan
tegangan efektif ( rms ) yang melalui beban resistif yang dinyatakan
sebagai berikut:
Vrms=
1
2

20
()
2
0
....(2/9)
Vrms =
1
2

()
2
0
..(2.10)
Vrms =1

+
sin (2)
2
(2.11)

2.5.6. Rangkaian penyearah setengah gelombang satu fasa
Seperti gambar di bawah ini hasil penyearahan dari sumber
satu fasa dengan menggunakan penyearah setengah gelombang maka
didapatkan :





Gambar 2.11 Rangkaian halfwave rectifier terkontrol

Gambar 2.11 merupakan gambar simulasi rangkaian halfwave
rectifier terkontrol menggunakan PSIM. Dimana dilakukan simulasi
diatas berfungsi untuk membandingkan tegangan keluaran rectifier
dan arus keluaran dari rectifier dengan teori dasar dari rectifier.



22









Gambar 2.12 bentuk gelombang tegangan input penyearah
Gambar 2.12 merupakan bentuk gelombang tegangan masukan yang
dihasilkan dari simulasi diatas. Dimana tegangan masukan yang
didapat sebesar 12 volt.







Gambar 2.13 bentuk gelombang tegangan output penyearah

Gambar 2.13 merupakan bentuk gelombang tegangan keluaran
dari rectifier yang dihasilkan dari simulasi diatas. Dimana
tegangan keluaran yang dihasilkan ialah sebesar 5 volt.

23




Gambar 2.14 bentuk gelombang arus output

Gambar 2.14 merupakan bentuk gelombang arus keluaran dari
rectifier yang dihasilkan dari simulasi diatas. Dimana tegangan
keluaran yang dihasilkan ialah sebesar 5 volt.

2.6. Sensor Tegangan
Sensor tegangan merupakan suatu alat yang digunakan untuk
mendeteksi tegangan yang keluar dari generator. Untuk mengambil
sinyal tegangan agar bias dibaca oleh rangkaian digunakan resistor
pembagi tegangan dipasang secara pararel antara fasa dengan netral.
Fungsi resistor ini adalah untuk menurunkan tegangan dari tegangan
sumber menjadi tegangan yang dikehendaki. Selain itu, penggunaan
resistor tidak merubah nilai beda fasa yang terjadi pada beban
induktif yang terpasang





24

Rangkaian 2.15Rangkaian resistor pembagi tegangan

Gambar 2.15 merupakan rangkaian resistor pembagi tegangan
dimana nilai R2 lebih besar dari R1.
in out
V
R R
R
V
+
=
2 1
2
..(2.12)
6

Rangkaian resistor pembagi tegangan menggunakan 2 resistor
dipasang seri (R1 dan R2). Dengan mengambil tegangan pada R2
didapatkan tegangan luaran sesuai rumusan di atas.

2.7. PWM Control
PWM merupakan pulsa yang mempunyai lebar pulsa (duty
cycle) yang dapat diubah-ubah. Pada Gambar 2.8 merupakan proses
pembuatan PWM yang terdiri dari gelombang segitiga, tegangan
referensi dan komparator. Komparator merupakan piranti yang
digunakan untuk membandingkan dua buah sinyal masukan. Dua
sinyal masukan yang dibandingkan adalah gelombang
segitigadengan tegangan referensi yaitu tegangan DC.


Gambar 2.16 Rangkaian PWM kontrol
7

Pada Gambar 2.16 adalah hasil perbandingan gelombang
segitiga dengan tegangan DC yang menghasilkan gelombang kotak

6
Anang Lubis. Moh Ali. Pengaturan Motor Induksi Tiga Fasa Dengan Teknik
Artificial Intellegent Berbasis Vektor Kontrol. EEPIS-ITS. 2011. Hal 52

7
Mursyida. Dina. Rancang Bangun Modul Praktikum Elektronika Daya (Buck
Converter dan Boost Converter). PENS-ITS. 2010. Hal 33.
25



dengan lebar pulsa yang dapat diatur. Pengaturan lebar pulsa dapat
dilakukan dengan cara mengubah-ubah nilai tegangan DC referensi.










Gambar 2.17 Gelombang Pulsa Keluaran PWM
Pada Gambar 2.17 adalah hasil perbandingan gelombang
segitiga dengan tegangan DC yang menghasilkan gelombang kotak
dengan lebar pulsa yang dapat diatur. Pengaturan lebar pulsa dapat
dilakukan dengan cara mengubah-ubah nilai tegangan DC referensi.
Masukan yang berupa gelombang segitiga akan menghasilkan
keluaran pulsa.

2.8. Mikrokontroler ATMEGA 16
Mikrokontroler ATMega16 adalah mikrokontroler CMOS8-
bit dan merupakan keluarga dari mikrokontroler AVR
(AVRFamilys) yang beraksitektur RISC (Reduced Instruction
SetComputing), dimana semua instruksi dikemas dalam 1 (satu)
siklusclock, berbeda dengan instruksi MCS51 yang membutuhkan
12siklus clock. Tentu saja itu terjadi karena kedua jenis
mikrokontroller tersebut memiliki arsitektur yang berbeda.
AVR berteknologi RISC(Reduced Instruction Set
Computing), sedangkan seri MCS51berteknologi CISC (Complex
Instruction Set Computing). Secara umum, AVR dapat
dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu keluarga Attiny, keluarga
26

AT90Sxx, keluarga ATMega, dan AT86RFxx. Pada dasarnya yang
membedakan masing-masing kelas adalah memori, peripheral, dan
fungsinya. Dari segi arsitektur dan instruksi yang digunakan, bisa
dikatakan hampir sama. Beberapa fitur yang disediakan oleh
mikrokontroler ini adalah sebagai beikut:
1. Advanced RISC Architecture
a) 130 Powerful Instructions Most Single Clock Cycle
Execution
b) 32 x 8 General Purpose Fully Static Operation
c) Up to 16 MIPS Throughput at 16 MHz
d) On-chip 2-cycle Multiplier
2. Nonvolatile Program and Data Memories
a) 8K Bytes of In-System Self-Programmable Flash
b) Optional Boot Code Section with Independent Lock
Bits
c) 512 Bytes EEPROM
d) 512 Bytes Internal SRAM
e) Programming Lock for Software Security
1. Peripheral Features
a) Two 8-bit Timer/Counters with Separate Prescalers and Compare
Mode
b) Two 8-bit Timer/Counters with Separate Prescalers and Compare
Modes
c) One 16-bit Timer/Counter with Separate Prescaler, Compare
Mode, and Capture Mode
d) Real Time Counter with Separate Oscillator
e) Four PWM Channels
f) 8-channel, 10-bit ADC
g) Byte-oriented Two-wire Serial Interface
h) Programmable Serial USART
4. Special Microcontroller Features
a) Power-on Reset and Programmable Brown-out Detection
b) Internal Calibrated RC Oscillator
c) External and Internal Interrupt Sources 23
27



d) Six Sleep Modes: Idle, ADC Noise Reduction, Powersave, Power-
down, Standby and Extended Standby
5. I/O and Package
a) 32 Programmable I/O Lines
b) 40-pin PDIP, 44-lead TQFP, 44-lead PLCC, and 44- pad MLF
6. Operating Voltages
a) 2.7 - 5.5V for Atmega16L
b) 4.5 - 5.5V for Atmega16











Gambar 2.18 Pin-Pin ATMEGA 16 kemasan 40 pin
Gambar 2.18 merupakan pin-pin pada ATMega16 dengan
kemasan 40-pin DIP (dual inline package) ditunjukkan oleh gambar
2.12.Guna memaksimalkan performa, AVR menggunakan arsitektur
Harvard (dengan memori dan bus terpisah untuk program dan data).
Arsitektur CPU dari AVR ditunjukkan oleh gambar 2.13. Instruksi
pada memori program dieksekusi dengan pipelining single level.
Selagi sebuah instruksi sedang dikerjakan, instruksi berikutnya
diambil dari memori program.





28















Gambar 2.19Arsitektur CPU dari AVR

Gambar 2.19 merupakan arsitektur dari CPU AVR. Konfigurasi ini
menggambarkan fungsi dan komponen-komponen apa sajakah yang
terdapat di dalam CPU AVR.
Port sebagai input/output digital
ATMega16 mempunyai empat buah port yang bernama
PortA, PortB, PortC, dan PortD. Keempat port tersebut merupakan
jalur bidirectional dengan pilihan internal pull-up. Tiap port
mempunyai tiga buah register bit, yaitu DDxn, PORTxn, dan PINxn.
Huruf xmewakili nama huruf dari port sedangkan huruf n
mewakili nomor bit. Bit DDxn terdapat pada I/O address DDRx, bit
PORTxn terdapat pada I/O address PORTx, dan bit PINxn terdapat
pada I/O address PINx.Bit DDxn dalam register DDRx (Data
Direction Register) menentukan arah pin. Bila DDxn diset 1 maka
Px berfungsi sebagai pin output. Bila DDxn diset 0 maka Px
berfungsi sebagai pin input.Bila PORTxn diset 1 pada saat pin
29



terkonfigurasi sebagai pin input, maka resistor pull-up akan
diaktifkan. Untuk mematikan resistor pull-up, PORTxn harus diset 0
atau pin dikonfigurasi sebagai pin output. Pin port adalah tri-state
setelah kondisi reset. Bila PORTxn diset 1 pada saat pin
terkonfigurasi sebagai pin output maka pin port akan berlogika 1.
Dan bila PORTxn diset 0 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin
output maka pin port akan berlogika 0. Saat mengubah kondisi port
dari kondisi tri-state (DDxn=0, PORTxn=0) ke kondisi output high
(DDxn=1, PORTxn=1) maka harus ada kondisi peralihan apakah itu
kondisi pull-up enabled (DDxn=0, PORTxn=1) atau kondisi output
low (DDxn=1, PORTxn=0).
Biasanya, kondisi pull-up enabled dapat diterima sepenuhnya,
selama lingkungan impedansi tinggi tidak memperhatikan perbedaan
antara sebuah strong high driver dengan sebuah pull-up. Jika ini
bukan suatu masalah, maka bit PUD pada register SFIOR dapat diset
1 untuk mematikan semua pull-up dalam semua port. Peralihan dari
kondisi input dengan pull-up ke kondisi output low juga
menimbulkan masalah yang sama. Kita harus menggunakan kondisi
tri-state (DDxn=0, PORTxn=0) atau kondisi output high (DDxn=1,
PORTxn=0) sebagai kondisi transisi.








Gambar 2.20 Konfigurasi Pin Port
Gambar 2.10 merupakan gambar konfigurasi pin port. Bit 2 PUD :
Pull-up Disable
30

Bila bit diset bernilai 1 maka pull-up pada port I/O akan
dimatikan walaupun register DDxn dan PORTxn dikonfigurasikan
untuk menyalakan pull-up (DDxn=0, PORTxn=1).

Timer
Timer/counter adalah fasilitas dari ATMega16 yang
digunakan untuk perhitungan pewaktuan. Beberapa fasilitas chanel
dari timer counter antara lain: counter channel tunggal, pengosongan
data timer sesuai dengan data pembanding, bebas -glitch, tahap yang
tepat Pulse Width Modulation (PWM), pembangkit frekuensi, event
counter external.
Gambar diagram block timer/counter 8 bit ditunjukan pada
gambar 2. Untuk penempatan pin I/O telah di jelaskan pada bagian
I/O di atas. CPU dapat diakses register I/O, termasuk dalam pin-pin
I/O dan bit I/O. Device khusus register I/O dan lokasi bit terdaftar
pada deskripsi timer/counter 8 bit.











Gambar 2.21 Blok diagram timer/counter

Gambar 2.21 menggambarkan Timing Diagram
Timer/Counter.Timer/counter didesain sinkron clock timer (clkT0)
oleh karena itu ditunjukkan sebagai sinyal enable clock pada gambar
3. Gambar ini termasuk informasi ketika flag interrupt dalam kondisi
set. Data timing digunakan sebagai dasar dari operasi timer/counter.

31





Gambar 2.22 Timing diagram timer/counter, tanpa prescaling

Sesuai dengan gambar 2.22 diatas timing diagram
timer/counter dengan prescaling maksudnya adalah counter akan
menambahkan data counter (TCNTn) ketika terjadi pulsa clock telah
mencapai 8 kali pulsa dan sinyal clock pembagi aktif clock dan
ketika telah mencapai nilai maksimal maka nilai TCNTn akan
kembali ke nol. Dan kondisi flag timer akan aktif ketika TCNTn
maksimal.







Gambar 2.23Timing diagram timer/counter, dengan prescaling

Sama halnya timing timer diatas, gambar 2.23 timing
timer/counter dengan seting OCFO timer mode ini memasukan data
ORCn sebagai data input timer. Ketika nilai ORCn sama dengan
nilaiTCNTn maka pulsa flag timer akan aktif. TCNTn akan
32

bertambah nilainya ketika pulsa clock telah mencapai 8 pulsa. Dan
kondisi flag akan berbalik (komplemen) kondisi ketika nilai TCNTn
kembali kenilai 0 (overflow).

Gambar 2.24 Timing diagram timer/counter, menyeting OCFO,
dengan pescaler (fclk_I/O/8)

Gambar 2.24 merupakan gambar timing diagram. Ketika nilai ORCn
sama dengan nilai TCNTn maka pulsa flag timer akan aktif. TCNTn
akan bertambah nilainya ketika pulsa clock telah mencapai 8 pulsa.
Dan kondisi flag akan berbalik (komplemen) kondisi ketika nilai
TCNTn kembali kenilai 0 (overflow).









Gambar 2.25 Timing diagram timer/counter, menyeting OCFO,
pengosongan data timer sesuai dengan data pembanding,dengan
pescaler (fclk_I/O/8)

33



Gambar 2.25 merupakan gambar timing diagram. OCRn akan aktif
dan gelombang pulsa akan aktif.

2.9. Kontrol Logika Fuzzy
Logika fuzzy yang pertama kali diperkenalkan oleh Lotfi A.
Zadeh, memiliki derajat keanggotaan dalam rentang 0 (nol) hingga 1
(satu), berbeda dengan logika digital yang hanya memiliki dua nilai
yaitu 1(satu) atau 0(nol). Logika fuzzy digunakan untuk
menerjemahkan suatu besaran yang diekspresikan menggunakan
bahasa (linguistic), misalkan besaran kecepatan laju kendaraan yang
diekspresikan dengan pelan, agak cepat, cepat dan sangat cepat.
Secara umum dalam sistem logika fuzzy terdapat empat buah elemen
dasar, yaitu:
1. Basis kaidah (rule base), yang berisi aturan-aturan secara
linguistik yang bersumber dari para pakar;
2. Suatu mekanisme pengambilan keputusan (inference engine),
yang memperagakan bagaimana para pakar mengambil suatu
keputusan dengan menerapkan pengetahuan (knowledge);
3. Proses fuzzifikasi (fuzzification), yang mengubah besaran tegas
(crisp) ke besaran fuzzy;
4. Proses defuzzifikasi (defuzzification), yang mengubah besaran
fuzzy hasil dari inference engine, menjadi besaran tegas (crisp).
Kontroler fuzzy bekerja dengan cara menerima sinyal dari sensor
tegangan sebagai luaran dari plant yang dikontrol. Sinyal ini berupa
sinyal luaran yang kemudian dibandingkan dengan set point dan
menghasilkan error (selisih set point dengan luaran). Proses
perbandingan antara harga error dilakukan sehingga menghasilkan
delta error (selisih antara error sekarang dan terdahulu). Proses
fuzzyfikasi dilakukan dengan menyusun membership function dari
error dan delta error. Adapun blok diagram controller fuzzy adalah
sebagai berikut :

34






Gambar 2.26 Blok diagram fuzzy

Gambar 2.26 merupakan luaran dari kontroler masih berupa
variable fuzzy untuk itu perlu dilakukan proses defuzzyfikasi untuk
mengubah variable fuzzy menjadi variable linguistik. Fungsi fuzzy
logic kontroler adalah untuk mengatur duty cycle dari rangkaian
boost converter secara otomatis. Adapun membership function dari
controller ini adalah :






Gambar 2.27 Membership Function ERROR
Gambar 2.27 merupakan gambar membership function ERROR.
Membership function menggunakan tiga membership function.







Error (t)
Delta Error (t)
FUZZY
KONTROLLER
Duty Cycle
35










Gambar 2.28 Membership Function DERROR
Gambar 2.28 merupakan gambar membership function DERROR.
Membership function menggunakan tiga membership function.






Gambar 2.29 Membership Function DUTY CYCLE
Gambar 2.29 merupakan gambar membership function OUTPUT.
Menggunakan tiga membership function.

2.9.1. Desain RULE BASE
Proses ini berfungsi untuk mencari suatu nilai fuzzy luaran
dari nilai fuzzy masukan. Prosesnya adalah suatu nilai fuzzy
masukan dimasukkan kedalam sebuah rule yang telah dibuat
kemudian dijadikan fuzzy luaran. Sebagai contoh aturan-aturan
fuzzy adalah :
- If Error = R and Delta Error = K then DC = KR
- If Error = S and Delta Error = S then DC = S
- If Error = T and Delta Error = T then DC = BT
36

Ada beberapa operator yang digunakan dalam fuzzy, antara
lain and, or, dan not. Dalam proyek akhir ini menggunakan operator
and maka masukan terkecil yang diambil, misal if error = -10(R) and
Derror = 20(T) then DC = 60 (BT) nilai fuzzy luaran dari nilai diatas
adalah 79. Nilai -10 diambil dari membership function masukan
dengan cara menarik garis lurus vertical yang diinginkan. Aturan-
aturan (rule) mengikuti perilaku umum sistem dan ditulis dalam pola
label linguistic fungsi keanggotaan. Untuk dua masukan yaitu Error
dan Delta Error dan satu sistem luaran, aturan (rule) tersebut dapat
ditulis dalam bentuk matriks seperti tabel di bawah.

Tabel 2.1 Rule Base Kontrol Logika Fuzzy
K S T
R KR BT BT
S KR S BT
T BT S BT

Tabel 2.1 merupakan tabel rule base dari kontrol logika fuzzy.
Dimana dari tiga membership function terbentuk Sembilan rule
base(9).
2.10. Code Vision AVR
Code Vision AVR adalah software compiler yang digunakarn
untuk mikrokontroler AVR. Software ini compatible terhadap semua
OS yang biasa digunakan seperti windows XP, 2000, Vista, Seven,
dan lain-lain. Code Vision AVR ini masih bahasa C sebagai bahasa
pemrogramannya.



Derror
error
37












Gambar 2.30 CodeVision AVR

Gambar 2.30 pada Code Vision AVR disediakan bermacam-
macam IC diantaranya adalah atmega 16 dan 128. Pada tugas akhir
menggunakan IC atmega 16. Code Vision AVR juga menyediakan
pengaturan komunikasi serial, LCD, RTC, ADC, DAC, Timer, dan
lain-lain yang berhubungan dengan mikrokontroler. Berikut ini akan
diuraikan tentang langkah-langkah dalam membuat project baru
menggunakan code vision avr.
Berikut ini akan diuraikan tentang langkah-langkah membuat
project dalam menggunakan Code Vision AVR. Klik pada menu file
new pilih project untuk membuat project yang baru, lalu klik
OK.











38

Gambar 2.31 Membuat Projek Baru Menggunakan Code Vision AVR

Gambar 2.31 merupakan window projek baru menggunakan code
vision AVR. Kemudian aturlah IC mikrokontroller, port, usart,
timer, LCD, dan lain-lain sesuai dengan kebuthan pemrograman.










Gambar 2. 32 Pengaturan Komponen Pada Code Vision AVR
Gambar 2.32 merupakan komponen pada code vision AVR.
lalu simpan dengan mengklik menu filegenerate,save, dan exit.
Untuk mendownloadkan program yang sudah dibuat maka perlu
untukdecompile terlebih dahulu, setelah klik icon make project untuk
mendownloadkan program ke IC mikrokontroller.
2.11. Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor
(MOSFET)
Dalam JFET, besar keefektifan pada channel dikontrol oleh
medan listrik yang diberikan ke channel melalui P-N junction.
Bentuk lain dari piranti pengaruh medan dicapai dengan penggunaan
bahan elektroda gate yang dipisahkan oleh lapisan oxide dari channel
semikonduktor. Pengaturan metal oxide semikonduktor (MOS)
mengijinkan karakteristik channel dikontrol oleh medan listrik
39



dengan memberikan tegangan diantara gate dan body semikonduktor
serta pemindahan melalui lapisan oxide. Seperti halnya piranti yang
disebut dengan MOSFET atau MOS Transistor. Hal ini penting
digaris bawahi dengan kenyataan bahwa IC lebih banyak dibuat
dengan piranti MOS dari pada jenis piranti semikonduktor lain.
Ada dua tipe MOSFET, deplesi MOSFET mempunyai tingkah
laku yang sama dengan JFET pada saat tegangan gate nol dan
tegangan drain tetap, arus akan maksimum dan kemudian menurun
dengan diberikan potensial gate dengan polaritas yang benar (piranti
normally on). Jenis yang lain dari piranti ini disebut dengan
Enhancement MOSFET yang menunjukkan tidak ada arus pada saat
tegangan gate nol dan besar arus keluaran besar dengan bertambah
besar potensial gate (normally off). Kedua tipe dapat berada dalam
salah satu jenis channel P atau N.

2.11.1. Simbol Rangkaian Mosfet
Terdapat 4 simbol yang digunakan untuk MOSFET yang
ditunjukkan pada Gambar 2.10 Simbol-simbol pada Gambar (a) dan
(b) merupakan Mosfet tipe N yang digunakan untuk enchancement
dan depletion device. Simbol pada Gambar (c) dan (d) merupakan
Mosfet tipe P yang digunakan pada mode enchancement dan
depletion device.



Gambar 2.33 Simbol Mosfet
8


8
Mursyida. Dina Rancang Bangun Modul Praktikum Elektronika Daya (Buck
Converter dan Boost Converter). PENS-ITS. 2010. Hal 37
40


Gambar 2.33 merupakan symbol dari MOSFET. Pengertian
positif untuk semua terminal arus menuju ke dalam piranti.
Kemudian mosfet channel N, Id adalah positif dan Is adalah negatif.
Ketika Id=Is, Ig sebenarnya berharga nol. Tegangan drop diantara
drain dan source didesain oleh Vds, Vgs digunakan untuk
menunjukkan tegangan drop dari gate ke source. Untuk mosfet
channel P digunakan dengan arah reverse. Terminal arus dan
terminal tegangan adalah negative sebanding dengan kualitas mosfet
channel N. source dan substrate dihubung singkatkan di dalam
Mosfet channel P yang standard.

2.12. Optocoupler
Optocoupler atau optotransistor merupakan salah satu jenis
komponen yang memanfaatkan sinar sebagai pemicu on-off. Opto
berarti optic dan coupler berarti pemicu. Sehingga bisa diartikan
bahwa optocoupler merupakan suatu komponen yang bekerja
berdasarkan pemicu cahaya optic. Optocoupler termasuk dalam
sensor, yang terdiri dari dua bagian yaitu transmiter dan
receiver.Dasar rangkaian optocoupler ditunjukkan pada Gambar
2.34.


Gambar 2.34.Rangkaian dasar optocoupler

41



Gambar 2.34 Bagian pemancar atau transmiter dibangun dari
sebuah infra led merah untuk mendapatkan ketahanan yang lebih
baik terhadap sinar tampak daripada menggunakan led biasa. Sensor
ini bisa digunakan sebagai isolator dari rangkaian tegangan rendah
ke rangkaian bertegangan tinggi, selain itu juga bisa dipakai sebagai
pendeteksi terhadap penghalang antara transmiter dan receiver
dengan memberikan ruang uji dibagian tengah antara led dan
phototransistor. Penggunaan seperti ini bisa diterapkan untuk
mendeteksi putaran motor atau mendeteksi lubang penanda pada disk
drive komputer. Penggunaan optocoupler tergantung pada
kebutuhan. Ada berbagai macam tipe dan jenis, diantaranya 4N25,
4N26, TLP 250 dan lain-lain.
Salah satu yang terpenting dari aplikasi phototransistor adalah
photocoupler (optocoupler). Optocoupler biasa digunakan pada
rangkaian elektronik yang diisolasi dari rangkaian lain, sehingga
disebut juga photoisolator. Hanya cahaya yang menghubungkan
rangkaian masukan ke rangkaian keluaran.

2.13. Rangkaian Drive Totempole
Sudah menjadi hal yang sangat penting untuk dapat
mengurangi atau meminimalkan power losses pada switching
elektronik (electronic switching) pada saat mendesain suatu
rangkaian elektronika daya. Switch losses terjadi karena terdapat
perubahan dari kondisi satu ke kondisi (low) yang lain (high) secara
cepat. Drive citcuit MOSFET harus dapat dengan cepat memberikan
arus dan membuang arus pada saat berada pada switching frekuensi
tinggi. Rangkaian yang sangat cocok untuk digunakan sebagai dri
circuit pada MOSFET adalah yang dinamakan totem-pole, yang
terdiri dari transistor NPN dan PNP. Rangkaian totem-pole
ditunjukkan pada Gambar 2.35.



42











Gambar 2.35 rangkaian drive Totempole
Gambar 2.35 merupakan gambar rangkaian drive totempole.
Totempole menggunakan BD 139 dan 140.

2.14. Mikrokontroller

2.14.1. Konsep Mikrokontroller
Mikrokontroler adalah sebuah sistem microprosesor di mana
didalamnya sudah terdapat CPU, ROM, RAM, I/O, Clock dan
peralatan internal lainnya yang sudah saling terhubung dan
terorganisasi (teralamati) dengan baik oleh pabrik pembuatnya dan
dikemas dalam satu chip yang siap pakai. Sehingga kita tinggal
memprogram isi ROM sesuai aturan penggunaan oleh pabrik yang
membuatnya. Seperti umumnya komputer, mikrokontroler adalah
alat yang mengerjakan intruksi-intruksi yang diberikan kepadanya.
Artinya, bagian terpenting dan utama dari suatu sistem komputerisasi
adalah program itu sendiri yang dibuat oleh seorang programmer.
Program ini mengintruksikan komputer untuk melakukan jalinan
yang panjang dan aksi-aksi sederhana untuk melakukan tugas yang
lebih kompleks yang diinginkan oleh programmer. Dalam proyek
akhir ini mikrokontroler yang digunakan adalah AVR ATmega 16.

2.13 IC TCA 785
Rangkaian driver berfungsi sebagai pembangkit pulsa dari rangkaian
AC-DC terkontrol, pengaturan AC DC yang akan dikontrol melalui
43



potensiometer. Pengontrolan dengan menggunakan IC TCA 785 akan
diperoleh keuntungan sebagai berikut :
a. Penetapan titik nol lebih pasti
b. Pengaturan sudut penyulutan dari 0-180
c. Daerah pemakaian yang lebih luas
d. Arus kerja yang relatif kecil 250 sampai dengan 400mA
e. Tegangan kerja 18 Volt
f. Dapat digunakan untuk kontrol tiga phasa.

Untuk penyearah terkontrol 1 fasa siklus positf dengan siklus
negatif berbeda 180
o
maka akan dihasilkan sebuah pulsa penyalaan
yang memiliki perbedaan fasa sebesar 180
o
.


Gambar 2.36 IC TCA 785
Gambar 2.36 digunakan untuk penyearah gelombang 1 fasa
yang terkontrol, karena masukkan dari tegangan jala-jala mempunyai
beda fase 180 maka dibutuhkan pulsa penyalaan yang mempunyai
beda phase 180 untuk setiap siklus tegangan positif dan negatif. Hal
ini dapat diatasi dengan cara mengambil tegangan input dari
singkronisasi IC diatas ( terdapat pada kaki no 5)






44








Gambar 2.37 Rangkaian Pembangkit IC TCA 785
9






9
Datasheet of TCA 785 . [didownload pada Desember 2011.
Sumber:http://en.wikipedia.org/wiki/TCA_785











45



Tabel 2.2 Tabel fungsi kaki TCA 785
PIN SIMBOL KAKI FUNGSI
1 GND Ground
2 Q2 Output 2 inverted
3 QU Output U
4 Q2 Output 1 inverted
5 Vsync
Synchronous voltage
6 I Inhibit
7 QZ Output Z
8 Vref Stabilized voltage
9 R9 Ramp resistance
10 C10 Ramp capacitance
11 V11 Control voltage
12 C12 Pulse extension
13 L Long pulse
14 Q1 Output 1
15 Q2 Output 2
16 Vs Supply voltage








46









Halaman ini sengaja dikosongkan






47

RECTIFIER
TRAFO
BOOST
CONVERTER
KUMPARAN
MEDAN
GENERATOR
SINKRON TIGA
FASA
MIKROKONTROLER
LOAD
SENSOR
TEGANGAN KEYPAD
LCD
BAB III
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN
HARDWARE DAN SOFTWARE
3.1 Blok Diagram
Pada pengerjaan tugas akhir ini dibagi menjadi 2 yaitu yang
pertama adalah hardware dimana akan difokuskan pada pembuatan
rangkaian AVR (Automatic Voltage Regulator) sebagai penstabil
tegangan output generator. Dan yang kedua adalah software yang
difokuskan pada pemrograman penyulutan mosfet melalui
mikrokontroler dan pengaturan sinyal PWM menggunakan kontrol
logika fuzzy. Berikut ini adalah perencanaan dari sistem pengerjaan.








Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem

Dari gambar 3.1 tegangan output pada generator tidak stabil
disebabkan adanya pemakaian beban yang bervariasi sehingga menyebabkan
tegangan output menjadi tidak stabil. Oleh karena itu diperlukan suatu alat
yang dapat menstabilkan tegangan output generator.
Sebelum mendesain AVR (Automatic Voltage Regulator) terlebih
dahulu mengambil data awal yaitu pengukuran tegangan output generator
dalam kondisi tak berbeban dan berbeban.
48

Tabel 3.1. Kondisi Tak Berbeban
NO V eksitasi
(DC)
I eksitasi
(DC)
Vo generator
(AC)
1 0 0,06 18
2 1 0,09 54
3 2 0,11 57
4 3 0,15 59
5 4 0,18 61
6 5 0,20 68
7 6 0,22 77
8 7 0,24 83
9 8 0,29 95
10 9 0,31 104
11 10 0,34 122
12 20 0,5 240
13 22 0,6 260
14 24 0,7 280
15 28 0,8 300
16 30 0,9 320
17 34 1,0 340
18 36 1,1 360
19 40 1,3 380

Dari tabel 3.1 merupakan tabel pengukuran pada generator saat
kondisi tak berbeban (generator tidak dihubungkan ke beban).



49



Tabel 3.2. Kondisi Berbeban (drop tegangan)
NO Vexcitasi
(volt)
I excitasi
(ampere)
I beban
(ampere)
Tegangan
(volt)
Frekuensi
(Hz)
1 40 1,2 1 380 50
2 40 1,4 1,5 360 50
3 48 1,4 2,1 380 50

Dari tabel 3.2 merupakan tabel pengukuran kondisi berbeban (saat
generator dihubungkan ke beban).
Tabel 3.3 Kondisi Berbeban
(Tegangan dikumparan medan dinaikkan hingga mencapai 50V)

Dari tabel 3.3 merupakan tabel pengukuran generator kondisi
berbeban namun tegangan di kumparan medan dinaikkan hingga
mencapai 50 V dc.

3.2 Perencanaan Boost Converter
Boost converter bekerja dengan menghasilkan tegangan keluaran
yang lebih tinggi dari tegangan masukannya. Besarnya tegangan
keluaran yang dihasilkan dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan :
Vin-min = 4 V
Vin-max = 10 V
Vout = 20 V
Io = 2,5 A
NO Vexcitasi
(volt)
I excitasi
(ampere)
I beban
(ampere)
Tegangan
(volt)
Frekuensi
(Hz)
1 42 1,4 1 380 50
2 48 1,38 1,5 380 50
3 49 1,5 2,1 380 50
50

Fs = 40 KHz

a. Duty Cycle
= 1

100%
= 1
4
20
100%
= 80 %

b. Nilai Induktor

= 0,4

= 0,4


(1)
= 0,4 x [
8 ) 8 , 0 1 (
4
x
] = 1
A
R
Vo
I I
R L
5 , 2
8
20

=
1


=
1
40000
4 0,8
1
1

=
1
40000
3,2
= 0,00008
= 80

c. Arus Max Inductor
I


= 2,5
20 + 0,7
4

= 12,9375
I

2

= 12,9375 +
1
2

= 13,4375

51



d. Arus RMS Inductor
I

2

=

12,9375
2

1
2

2


= 3,734

e. Arus Puncak Diode
I

=


=
2,5
0,8

= 3,125

f. Arus RMS Diode
I

= I


= 3,125 0,8
= 2,79

g. Arus RMS Kapasitor
I

=

2

= 2,79
2
2,5
2

= 7,231 6,25
= 1,5341
= 1,23

h. Ripple Tegangan Output

= 1%


= 0,01 20
52

= 0,2

i. Kapasitas Output

=
x T


=

RCf

0,2 =
200,8
8 x C x 40000

64000 = 16
C= 0,00025F
C=250uF

j. Jumlah Lilitan
=
L x Imax x 10
4
Bmax x


n =
80 x 10
6
x 13,4375 x 10
4
0,25 x 2,0096

= 1075 x10
2

= 10,75 lilitan

k. Panjang kawat
L
g
= keliling bobin x jumlah lilitan x split x 40%
L
g
= 5,652 x 11 x 6 x 40 %
Lg = 373,032 +149,2128
Lg = 522,2448 cm

Split : 3
IL(rms) setelah di split = 3,734 : 6 = 0,622 A
Jadi dengan melihat data sheet tabel winding data, yang digunakan adalah
AWG 21 dengan arus 0,622 A dan diameter kawat yang digunakan 0,45.

l. Desain rangkaian snubber
53



ns t
V V
V V V
I I I
fall
off
out in off
L in on
43
24 20 4
9375 , 12






Cs =
Ion x Tfall
2 x Voff


Cs =
12,9375 x 43.10
9
2 x 24


= 11,58 nF

= 0,8
0,8 25 10
6
2 11,58
= 690,84


Gambar 3.2 Rangkaian Simulasi Boost Converter

Gambar 3.2 merupakan gambar rangkaian simulasi boost converter
dengan nilai inductor sebesar 80uH.
54


Gambar 3.3 Bentuk Gelombang Tegangan Output Boost Converter

Gambar 3.3 merupakan bentuk gelombang tegangan output boost
converter dari simulasi rangkaian boost converter di atas.


Gambar 3.4 Bentuk Gelombang Arus Output Boost Converter

Gambar 3.4 merupakan bentuk gelombang dari arus keluaran boost
converter dari simulasi di atas.
55





Gambar 3.5 Rangkaian Boost Converter

Gambar 3.5 merupakan perencanaan boost converter yang telah
dibuat berdasarkan perhitungan teori.

3.3 Perencanaan Halfwaved Controlled Rectifier
Penyearah satu fasa terkontrol digunakan untuk
mengubah tegangan keluaran pada generator (AC) menjadi
tegangan DC. Tegangan DC inilah yang nantinya akan
digunakan sebagai inputan untuk rangkaian boost converter.
Penyearah satu fasa terkontrol dikendalikan oleh semikonduktor
yang berupa thyristor (Semiconductor Controlled Rectifier).
Suatu rangkaian penyearah satu fasa terkontrol setengah
gelombang menggunakan satu (1) buah thyristor.
56


Gambar 3.6 Rangkaian Single Phase Halfwaved Controlled
Rectifier Resistive (R) Load

Gambar 3.6 merupakan gambar rangkaian single phase halfwave
controlled rectifier dengan beban R

Gambar 3.7 Bentuk Gelombang Single Phase Halfwaved Controlled
rectifier Resistive Load (R)
Gambar 3.7 merupakan bentuk gelombang tegangan input yang
berasal dari simulasi rectifier di atas.

Gambar 3.8 Bentuk Gelombang Single Phase Halfwaved Controlled
Rectifier
57



Gambar 3.8 diatas menunjukkan bentuk gelombang arus
dan tegangan output halfwaved controlled rectifier dengan beban R.
Jika penyearah memiliki beban yang bersifat induktif, ketika
tegangan sumber atau tegangan masukan sudah mencapai 180,
thyristor masih tetap menghantar karena arus masih mengalir oleh
karena adanya sifat induktif beban, bahkan ketika tegangan sudah
mengayun ke negative (>180). Thyristor baru mati ketika arus
beban sudah di bawah arus genggamnya. Dalam gambar 3.6 jelas
bahwa jika thyristor dipicu dengan sudut , maka secara praktis
thyristor baru mati setelah tegangan mengayun ke negative sebesar
180 + i. Penjelasan lain yang lebih mudah ditangkap adalah
sebagai berikut : ketika tegangan sumber di anode SCR sudah masuk
ke nol, (pada titik atau 180), logikanya SCR tidak mendapat
tegangan panjar maju yang cukup untuk mempertahankan arus
genggamnya (holding current), tetapi dengan adanya inductor di jalur
katodanya, ujung atas inductor (titik A) berpolaritas negative
terhadap ujung bahwanya (titik B) akibat tegangan induksi yang
muncul di induktor. Dengan fenomena seperti inilah SCR tetap
terjaga dalam panjar maju, karena anodenya berpolaritas nol,
katodanya berpolaritas negative. Anode tetap lebih positif daripada
katodanya. SCR baru mati setelah tegangan pada anodanya bergerak
lebih jauh menuju negative (gelombang bergerak dari menuju 2).
Apabila menyatakan sudut fasa yang diukur dari titik persilangan nol
tegangan ( atau 180) ke titik ketika SCR yang sedang menghantar
menjadi mati secara alamiah saat katodanya lebih positif dari
anodanya.







58










Gambar 3.9 Rangkaian Halfwave Controlled Rectifier

Gambar 3.9 merupakan rangkaian halfwave controlled rectifier yang
telah dibuat dan diuji.

3.4 Pembuatan Sensor Tegangan
Sensor tegangan menggunakan resistor pembagi tegangan
dipasang secara pararel antara fasa dengan netral. Fungsi resistor ini
adalah untuk menurunkan tegangan dari tegangan sumber menjadi
tegangan yang dikehendaki. Selain itu juga penggunaan resistor tidak
mengubah harga beda fase yang terjadi pada beban induktif yang
terpasang.
in out
V
R R
R
V

2 1
2
...(3.1)

Dalam perhitungan Vin yang digunakan adalah 380 volt dan Vout
yang diharapkan adalah 5 volt apabila menggunakan AVR
Mikrokontroler ATMEGA 16 dan dimisalkan R1 = 10K, sehingga
didapatkan :
59






33 , 133
50000 375
380 5 50000
380 5 ) 10000 5 (
380
10000
5
2
2
2 2
2 2
2
2
2 1
2
R
R
R R
R R x
x
R
R
xV
R R
R
Vout
in

Maka komponen R
2
yang digunakan, yang mendekati nilai
pasaran adalah 100.





Gambar 3.10 Rangkaian Skematik Sensor Tegangan

Gambar 3.10 merupakan gambar rangkaian skematik dari sensor
tegangan secara teori.






Gambar 3.11 Rangkaian Sensor Tegangan
Gambar 3.11 merupakan perencanaan sensor tegangan yang telah
dibuat dan diuji.

60


3.5 Perencanaan kontrol logika fuzzy
Pada proyek akhir ini digunakan kontroler fuzzy. Luaran dari kontrol
fuzzy nantinya digunakan untuk pengaturan duty cycle dari boost
converter. Pada proyek akhir ini perancangan membership function
diambil dari error, delta error, dan output dibuat 3 membership
function (MF). Dibawah ini adalah rancangan membership function
dari masukan dan output yang digunakan.


Gambar 3.12 Perencanaan Membership Function
Perancangan range membership function ERROR



Gambar 3.13 Membership Function ERROR

Gambar 3.13 merupakan gambar membership function ERROR.





61



Tabel 3.4 Range nilai membership function ERROR

MF R S T
Nilai 105.8 165 297

Tabel 3.4 merupakan tabel membership function kontrol logika fuzzy
dari ERROR. Dengan batas nilai rule base antara 105.8 sampai
dengan 297.

Perancangan Membership Function DERROR












Gambar 3.14 Membership Function DERROR

Gambar 3.14 merupakan gambar membership function dari
DERROR.membership function DERROR menggunakan tiga
membership function.

Tabel 3.5 Range nilai membership function DERROR

MF K S T
Nilai -132 165 296.1

Tabel 3.4 merupakan tabel membership function kontrol logika fuzzy
dari DERROR. Dengan batas nilai rule base antara 132 sampai
dengan 296.1.
62

Perancangan range membership function OUTPUT



Gambar 3.15 Membership Function OUTPUT

Gambar 3.14 merupakan gambar membership function dari
OUTPUT. .membership function OUTPUT menggunakan tiga
membership function.

Tabel 3.6 Range nilai membership function OUTPUT

MF KR S BT
Nilai -15 50 105

Tabel 3.6 merupakan tabel membership function OUTPUT.
Setelah dibuat membership function maka dapat dibuat rule basenya
untuk mengatur logika pembuatan keputusan fuzzy-nya atau aturan
yang menghubungkan antara masukan dan luaran seperti yang
ditunjukkan di atas :










63



Tabel 3.7 Rule Base Kontrol Logika Fuzzy

K S T
R KR BT BT
S KR S BT
T BT S BT

Tabel 3.7 merupakan tabel rule base dari kontrol logika fuzzy

















Gambar 3.16 Perencanaan Rule Base pada Matlab

Gambar 3.16 merupakan perencanaan rule base pada matlab



error
derror
64

3.6 Pembuatan ATMEGA 16
Mikrokontroler adalah sebuah sistem komputer lengkap dalam
satu serpih (chip). Mikrokontroler lebih dari sekedar sebuah
mikroprosesor karena sudah terdapat atau berisikan ROM (Read-
Only Memory), RAM (Read-Write Memory), beberapa bandar
masukan maupun keluaran, dan beberapa peripheral seperti
pencacah/pewaktu, ADC (Analog to Digital converter), DAC
(Digital to Analog converter) dan serial komunikasi. Salah satu
mikrokontroler yang banyak digunakan saat ini yaitu mikrokontroler
AVR. AVR adalah mikrokontroler RISC (Reduce Instuction Set
Compute) 8 bit berdasarkan arsitektur Harvard. Secara umum
mikrokontroler AVR dapat dapat dikelompokkan menjadi 3
kelompok, yaitu keluarga AT90Sxx, ATMega dan ATtiny. Pada
dasarnya yang membedakan masing-masing kelas adalah memori,
peripheral, dan fiturnya. Seperti mikroprosesor pada umumnya,
secara internal mikrokontroler ATMega16 terdiri atas unit-unit
fungsionalnya Arithmetic and Logical Unit (ALU), himpunan
register kerja, register dan dekoder instruksi, dan pewaktu beserta
komponen kendali lainnya. Berbeda dengan mikroprosesor,
mikrokontroler menyediakan memori dalam serpih yang sama
dengen prosesornya (in chip).






Gambar 3.17Minimum System ATMEGA 16

65



Gambar 3.17 merupakan gambar minimum sistem
ATMEGA 16. Mikrokontroler ATMEGA 16 arsitektur havard yang
memisahkan memory program dari memori data baik alamat bus dan
data bus, sehingga pengaksesan program dan data dapat diakses
secara bersamaan.
Secara garis besar ATMEGA 16 terdiri dari :
1. Arsitektur RISC dengan throughput mencapai 16 MIPS pada
frekuensi 16 MHz.
2. Memiliki kapasitas memory flash 16 Kbyte, EEPROM 512 Byte
dan SRAM 1 Kbyte.
3. Saluran I/O 32 buah.
4. User interrupt terdiri dari user internal dan eksternal.
5. Bandar interface SPI dan USART.
6. Fitur peripheral
a. Dua buah timer/counter 8 bit dengan prescaler terpisah dan
mode compare.
b. Satu buah timer/counter 16 bit dengan prescaler terpisah mode
compare dan mode capture.
c. Real Time Clock dengan osilator tersendiri.
d. 8 kanal 10 bit ADC.
e. Watchdog timer sebagai osilator internal.
f. Byte-oriented Two-wire Serial Interface.

3.7 Perencanaan Hardware Pada Mikrokontroller
Pada proyek akhir ini kami menggunakan Mikrokontroler
menggunakan bahasa C untuk mengprogram chip IC-nya. Software
CodeVision C Compiler digunakan untuk memprogram AT Mega16.
Dimana nantinya Mikrikontroler tersebut digunakan sebagai
penyulutan mosfet menggunakan PWM kontrol pada mikrokontroler.
Pada proyek akhir ini penyulutan yang digunakan menggunakan
PWM. PWM dibangkitkan dari mikrokontroller ATMEGA 16.
PWM pada proyek akhir akan disulut maximal antara 80%. PWM ini
akan digunakan untuk pengaturan frekuensi pada boost converter.
66

Amplitude PWM pada proyek akhir sebesar 15 V, dipilih besar
tegangan 15 V karena IRFP 460 bekerja pada tegangan sebesar 15
Volt. Sebagai pembatas antara PWM kontrol dengan mikrokontroller
digunakan rangkaian yang disebut rangkaian optocoupler. Dimana
rangkaian optcoupler ini menggunakan NV 25.








Gambar 3.18 Rangkaian Optocoupler
Gambar 3.18 merupakan gambar rangkaian optocoupler yang
telah dibuat dan telah diuji.




67

BAB IV
PENGUJIAN DAN ANALISA
Pada bab IV dibahas tentang pengujian terhadap sistem
yang dibuat dan disertai dengan analisa. Metode pengujian pada
proyek akhir ini dilakukan untuk mengetahui prinsip kerja dari
alat yang dirancang serta untuk mengetahui pengukuran arus,
tegangan. Kemudian setelah itu hasil pengukurannya
dibandingkan dengan teori yang telah dipelajari. Pada bab ini
akan disajikan pengujian dan hasil pengujian sebagai berikut :
4.1. Pengujian PWM
Penyulutan yang dipakai pada proyek akhir ini
menggunakan metode PWM. PWM dibangkitkan dari
mikrokontroler ATMEGA 16. PWM pada proyek akhir ini
disulut sebesar 80%. PWM ini akan digunakan untuk pengaturan
duty cycle pada boost converter . Amplitudo PWM pada proyek
akhir ini sebesar 15 volt, dipilih tegangan 15 volt karena
MOSFET IRFP460 bekerja pada tegangan 15 volt.

4.1.1. Pengujian PWM Mikrokontroler
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui respon
dari keluaran boost converter yang akan disulut pada kaki
Gate dari mosfet tersebut. Berikut ini adalah hasil dari
pengujian PWM analog yang akan digunakan untuk
penyulutan kaki gate pada mosfet IRFP460.







68










Gambar 4.1 Pengujian PWM mikrokontroler

Gambar 4.1 merupakan pengujian pwm mikro. Apabila kita ingin
mengatur duty sebesar 80% (delapan puluh persen) maka kita
setting pwm mikrokontroler sebesar 181. Duty cycle sebesar
delapan puluh persen tersebut kita ubah kedalam bentuk 255.



Gambar 4.2 Bentuk Gelombang PWM mikrokontroler

Gambar 4.2 merupakan bentuk gelombang keluaran pwm (berbentuk
gelombang pulsa).



69



4.1.2. Pengujian Optocopler
Rangkaian optocoupler pada Gambar 4.5 menggunakan
IC 4N25 dan dihubungkan dengan transistor C 9013. Ground pada
sisi masukan harus dipisahkan dengan ground pada sisi keluaran.
Pemisahan ground terkait dengan sifat dasar dari optocoupler yang
berfungsi mengisolasi rangkaian masukan dengan rangkaian
keluaran. Pada saat optocoupler diberi masukan sinyal dari
rangkaian PWM yang dihasilkan mikrokontroller ATmega-16,
maka frekuensi keluaran juga sama dengan masukan yang
membedakan adalah besar amplitudo yaitu 12 volt. Perbedaan
amplitudo antara masukan dan keluaran karena keluaran dari
rangkaian optocoupler dihubungkan dengan transistor C 9013
untuk dikuatkan.










Gambar 4.3 Rangkaian Hardware Optocoupler

Gambar 4.3 merupakan gambar perencanaan hardware dari
optocoupler. Optocoupler ini berfungsi sebagai pemisah antara
rangkaian boost converter dengan mikrokontroler. Jika terjadi
gangguan dengan mikrokontroler, gangguan tersebut tidak mengenai
rangkaian boost converter.




70






Gambar 4.4 Rangkaian Optocoupler
Gambar 4.4 merupakan gambar rangkaian optocoupler secara teori.
Dan akan diaplikasikan seperti gambar rangkaian di atas.

Gambar 4.5 Bentuk Gelombang Keluaran Optocoupler

Gambar 4.5 merupakan bentuk gelombang keluaran optocoupler
berdasarkan rangkaian hardware yang telah dibuat dan dilakukan
pengujian .

4.1.3. Pengujian Rangkaian Totempole
Rangkaian yang ditunjukkan pada Gambar 4.6 dibawah
ini difungsikan sebagai sinkronisasi sinyal gelombang kotak ke
MOSFET,agar pengisian dan pembuangan pulsa dapat dilakukan
dengan cepat. Rangkaian ini memerlukan tegangan supply sebesar
12 Voltagar tegangan output gelombang juga sebesar 12 Volt.
Pada rangkaian ini ground tegangan supply totem-pole dapat
digabung dengan ground pada tegangan supply optocoupler.
Keluaran dari totem-pole ini langsung disambungkan dengan gate
71



dan source MOSFET. Dan akan diperoleh hasil gelombang
keluaran totem-pole seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.6







Gambar 4.6 Rangkaian drive totempole
Gambar 4.6 merupakan gambar rangkaian dari driver totempole.







Gambar 4.7 Rangkaian keluaran totempol
Gambar 4.7 merupakan bentuk gelombang keluaran dari totempol.
4.2. Pengujian TCA 785
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk
gelombang output kaki TCA 785. Pertama-tama kita mengukur
tegangan input untuk TCA 785 apakah telah sesuai dengan
72

tegangan referensi yaitu sebesar 12 volt. Setelah itu ukur
gelombang pada kaki nomor lima, sepuluh, empat belas, dan
lima belas.








Gambar 4.8 Bentuk Gelombang pada kaki no 5

Gambar 4.8 merupakan gambar bentuk gelombang pada kaki no 5.
Kaki no 5 merupakan tegangan sinkronisasinya.










Gambar 4.9 Bentuk Gelombang pada kaki no 10

Gambar 4.9 merupakan bentuk gelombang pada kaki no 10.
Kaki no 10 merupakan tegangan DC besarnya kisaran antara 0-
12 volt.

73












Gambar 4.10 Bentuk Gelombang pada kaki no 14
Gambar 4.10 merupakan bentuk gelombang pada kaki no 14
(berbentuk pulsa).









Gambar 4.11 Bentuk Gelombang pada kaki no 15

Gambar 4.11 merupakan bentuk gelombang pada kaki no 15
(berbentuk pulsa).

Hasil pengujian data gelombang diatas telah sesuai dengan teori
yang terdapat pada datasheet TCA 785.

4.3. Pengujian Halfwave Controlled Rectifier
74

Pengujian halfwave controlled rectifier bertujuan untuk
mengetahui tegangan keluaran dari rectifier dengan sudut penyulutan
yang berubah-ubah. Tegangan keluaran ini nantinya akan digunakan
untuk masukan boost converter.








Gambar 4.12 Pengujian rangkaian halfwave controlled rectifier

Gambar 4.12 merupakan gambar pengujian rangkaian halfwave
controlled rectifier.









Gambar 4.13 Gelombang output penyulutan 90

Gambar 4.13 merupakan bentuk gelombang keluaran rectifier (saat
penyulutan sebesar 90).



75















Gambar 4.14 Bentuk Gelombang pada kaki no 14 (dengan
penyulutan 90)

Gambar 4.14 merupakan bentuk gelombang rectifier terkontrol pada
kaki no 14 (saat penyulutan 90)



Gambar 4.15 Gelombang Output Penyulutan 150

Gambar 4.15 merupakan bentuk gelombang keluaran halfwave
terkontrol dengan pengaturan sudut penyalaan sebesar 150.
76


Gambar 4.16 Bentuk gelombang pada kaki no 14 (penyulutan 150

Gambar 4.16 merupakan bentuk gelombang pada kaki no 14 dengan
sudut penyalaan sebesar 150.








Gambar 4.17 Gelombang Output penyulutan 180

Gambar 4.17 merupakan bentuk gelombang keluaran dari halfwave
controlled rectifier dengan sudut p enyulutan sebesar 180.






77





Gambar 4.18 Bentuk Gelombang Output pada kaki 14 (saat
penyulutan 180)

Gambar 4.18 merupakan bentuk gelombang keluaran pada halfwave
controlled rectifier pada kaki no 14 (saat sudut penyulutan sebesar
180).

Tabel 4.1. Pengujian Halfwave Controlled Rectifier

NO TEGANGAN
INPUT
(VOLT)
SUDUT
PENYULUTAN()
TEGANGAN
OUTPUT
(VOLT)
1 12 0 5.26
2 12 30 5.24
3 12 60 4.23
4 12 90 2.27
5 12 120 1.99
6 12 150 0.32
7 12 180 0

Tabel 4.1 merupakan tebel pengujian halfwave controlled rectifier
dengan tegangan masukan konstan sebesar 12 volt dengan sudut
penyulutan yang diubah-ubah dari 0 hingga 180.
78

4.4. Pengujian sensor tegangan
Pengujian sensor tegangan ini bertujuan untuk memsensing
tegangan luaran dari generator sinkron yang nantinya menjadi suatu
masukan yang akan dibaca ke dalam mikrokontroler ATMEGA 16
melalui ADC port A. dengan ini hasil dari pengujian sensor tegangan
AC dengan masukan sebesar 380 Vac, dan hasil tegangan output
yang diharapkan adalah 5 Vdc yang sudah disearahkan, sehingga
bisa langsung dimasukkan ke dalam mikrokontroller. Dibawah ini
adalah gambar hasil pengujian beserta data pengujian.







Gambar 4.19 Pengujian Sensor Tegangan

Gambar 4.19 merupakan pengujian sensor tegangan dengan tegangan
maximal sebesar 380 V AC.








Gambar 4.20 Pengujian Sensor Tegangan

79



Gambar 4.20 merupakan pengujian sensor tegangan dan hasil
tegangan keluaran dari sensor tegangan dengan tegangan maximal
sebesar 380 V AC.

Tabel 4.2 Hasil Pengujian Sensor Tegangan
NO TEGANGAN
INPUT
(VOLT)
TEGANGAN
OUTPUT
(TEORI) (VOLT)
TEGANGAN
OUTPUT
(PRAKTEK)
(VOLT)
1 50 0.65 0.45
2 100 1.315 0.85
3 150 1.97 1.43
4 200 2.63 2.11
5 220 2.89 2.4
6 250 3.28 2.72
7 300 3.94 3.3
8 330 4.34 3.68
9 350 4.6 3.99
10 380 5 4.47

Tabel 4.2 merupakan hasil pengujian dari sensor tegangan. Pengujian
sensor dilakukan mulai dari tegangan terkecil hingga tegangan
maximal yaitu antara 50 380 volt. Lalu tegangan keluaran yang
dihasilkan dibandingkan dengan tegangan keluaran secara
perhitungan teori.
80


Gambar 4.21 Grafik luaran sensor tegangan
Gambar 4.21 merupakan grafik luaran sensor tegangan dari
hasil pengujian sensor tegangan pada tabel 4.2 maka untuk
teganagan masukan 380 VAC hasil luaran pada sensor tegangan
adalah 4.47 VDC dimana pada pembacaan maksimal ADC adalah 5
VDC sesuai dengan nilai AVCC atau AREF pada ADC yang
digunkan pada mikrokontroller. Begitupun selanjutnya semakin
turun tegangan masukan dari sensor tegangan maka semakin kecil
nilai tegangan luaran yang dihasilkan. Oleh karena ini maka sensor
tegangan yang digunakan sudah linier untuk dimasukan kedalam
pembacaan ADC pada mikrikontroller.

4.5. Pengujian boost converter

4.5.1. Pengukuran Nilai Induktor
Pengukuran nilai inductor dimaksudkan untuk
mengetahui induktansi yang telah dibuat. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui apabila nilai induktansi inductor terlalu kecil
atau lebih kecil dari desain yang direncanakan maka hal ini akan
menyebabkan converter tidak dapat menghasilkan tegangan
keluaran maksimal. Pengukuran induktansi inductor
menggunakan LCR meter didapatkan hasil seperti gambar 4.22
0
50
100
150
200
250
300
350
400
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
TEGANGAN
INPUT
TEGANGAN
OUTPUT
(PRAKTEK)
Vac (Volt)
Vdc (Volt)
81














Gambar 4.22 Pengukuran Nilai Induktor

Gambar 4.22 merupakan pengukuran dari inductor. Pengukuran ini
bertujuan untuk mengetahui besar atau kecilnya nilai inductor agar
apabila inductor nilainya kurang maka akan dilakukan lilit ulang agar
sesuai dengan perhitungan teori.


Gambar 4.23 Rangkaian Integrasi Boost dengan rectifier

Gambar 4.23 merupakan rangkaian integrasi antara boost converter
dengan halfwave controlled rectifier. Halfwave controlled rectifier
digunakan sebagai masukan untuk boost converter.

82

Tabel 4.3 Pengujian Boost Converter
(Dengan beban lampu 1 buah)

Duty
Cycle (%)
TEGANGAN
INPUT (dc)
TEGANGAN
OUTPUT
(TEORI)
(VOLT) (dc)
TEGANGAN
OUTPUT
(PRAKTEK)
(VOLT) (dc)
ARUS
INPUT
(A)
ARUS
OUTPU
T (A)
DAYA
INPUT
(kW)
DAYA
OUTPUT
(kW )
Efisiensi
10% 4 4.44 3.97 0.08 0.06 0.32 0.2382 74.43%
20% 4 5 4.45 0.1 0.07 0.4 0.3115 77.87%
30% 4 5.71 5.07 0.12 0.07 0.48 0.3549 73.93%
40% 4 6.67 6.08 0.15 0.08 0.6 0.4864 81.06%
50% 4 8 7.79 0.21 0.09 0.84 0.7011 83.46%
60% 4 10 9.52 0.29 0.1 1.16 0.952 82.06%

Tabel 4.3 merupakan hasil pengujian dari boost converter (dengan
beban satu buah lampu). Apabila duty cycle dibuat maximum maka
tegangan keluaran yang dihasilkan semakin tinggi. Nilai efisiensi
dari boost converter tinggi hingga mencapai 82%.

Tabel 4.4 Pengujian Boost Converter (Dengan beban motor)
Duty
Cycle
(%)
TEGANG
AN
INPUT
(dc)
TEGANGAN
OUTPUT
(TEORI)
(VOLT) (dc)
TEGANGAN
OUTPUT
(PRAKTEK)
(VOLT) (dc)
ARUS
OUTPUT
(A)
ARUS
INPU
T (A)
DAYA
INPUT
(kW)
DAYA
OUTPU
T (kW )
EFISIENSI
10% 4 4.44 3.826 0.24 0.3 1.2 0.91824 76.52%
20% 4 5 4.14 0.25 0.33 1.32 1.035 78.4%
30% 4 5.71 4.72 0.25 0.38 1.52 1.18 77.63%
40% 4 6.67 5.76 0.27 0.48 1.92 1.5552 81%
50% 4 8 7.31 0.29 0.67 2.68 2.1199 79.1%
60% 4 10 8.58 0.31 0.86 3.44 2.659 77.33%
83



Tabel 4.4 merupakan tabel pengujian boost converter dengan beban
motor. Pada pengujian boost dengan beban motor arus input dari
boost relative tinggi karena dalam motor mengandung komponen
induktor. Apabila duty cycle dibuat maximum maka tegangan
keluaran yang dihasilkan semakin tinggi. Nilai efisiensi dari boost
converter tinggi hingga mencapai 77%.

Tabel 4.5 Pengujian Boost Converter
(Dengan beban lampu 4 buah)

NO VINPUT
(VOLT)
IOUT
(AMPERE)
IIN
(AMPERE)
VOUT
(VOLT)
PINPUT POUTPUT EFISI EN
SI ()
1 4 0.39 1.06 8.37 4.24 3.2643 76.98%
2 5 0.42 1.15 10.61 5.75 4.4562 77.49%
3 6 0.46 1.24 12.96 6.2 5.9616 96.15%
4 7 0.47 1.31 15.31 9.17 7.1957 78.47%
5 8 0.49 1.38 17.54 11.04 8.5946 77.84%
6 9 0.53 1.46 20.34 13.14 10.7802 82.04%
7 10 0.56 1.52 22.64 15.2 12.678 83.4%

Selain melakukan pengukuran hasil keluaran dari rangkaian
boost konverter, juga perlu dilakukan pengamatan terhadap
gelombang keluaran PWM pada MOSFET seperti yang tampak pada
Gambar 4.23 dan gelombang keluaran Vds pada kaki drain dan
source pada MOSFET seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.24
untuk mengetahui kualitas kerja dari komponen switching
(MOSFET).

84











Gambar 4.24 Gelombang output PWM pada kaki gate dan source
pada MOSFET rangkaian boost converter

Gambar 4.24 merupakan bentuk gelombang pada kaki gate dan
source pada mosfet. Bentuk gelombang GS (Gate Source)
menyerupai sirp ikan hiu.












Gambar 4.25 Gelombang output gelombang Vds pada kaki drain
dan source pada MOSFET rangkaian boost konverter

Gambar 4.25 merupakan bentuk gelombang keluaran pada kaki DS
(Drain Source) pada mosfet.




85

BAB V
5.1. Kesimpulan
Setelah dilakukan proses perencanaan, pembuatan dan
pengujian alat dan simulasi serta dengan membandingkan dengan
teori-teori penunjang, dan dari data yang didapat maka dapat di
ambil kesimpulan mengenai sistem perencanaan AVR metode
kontrol logika fuzzy berbasis mikrokontroler yaitu:
1. Dari pengujian sensor tegangan didapatkan tegangan
keluaran sebesar 4.47 volt.
2. Kesalahan persen error (% error) yang terjadi pada
rangkaian boost konverter dengan setpoint 4 volt
3. Pendesainan boost converter telah sesuai dengan
perhitungan dan tegangan yang dibutuhkan
4. Saat dilakukan pengintegrasian boost converter dengan
halfwaved controlled rectifier tegangan keluaran boost
converter tidak dapat diatur-atur melalui penyulutan duty
cycle PWM. Hal ini dikarenakan boost seolah-seolah
terisolasi sehingga saat dilakukan penyulutan duty cycle
yang bervariasi tegangan konstan.

5.2. Saran
Saran-saran sistem perencanaan automatic voltage regulator
(AVR) metode kontrol logika fuzzy berbasis mikrokontroler
antara lain:
1. Penggunaan BT 151 sebagai pengganti BTA 12 pada
rangkaian halfwaved controlled rectifier dikarenakan BT
151 lebih kuat karena memiliki rating arus dan tegangan
yang lebih baik.
2. Penggunaan resistor pembagi tegangan mengggunakan
10k dan 100 karena lebih presisi dari 47100 dan 570
namun penggunaan resistor ini lebih cepat panas daripada
penggunaan resistor 47100 dan 570.
86

3. Pengujian boost converter belum mencapai hasil yang
maksimal sesuai dengan hasil perhitungan. Hal ini
dikarenakan nilai faktor kualitas dan nilai inductor kurang
sesuai dengan yang diharapkan.





























DAFTAR PUSTAKA
[1] Sain, M Patrick. Sensor dan Komunikasi Segments Hughest
Aircraft Company, Inc, 1999.
[2] Rezende Costa, Angelina Borges de. Eksitasi sederhana sistem
kontrol fuzzy (avr) dalam analisis stabilitas sistem tenaga
Fakultas Teknik Elektro, Federal Universitas Uberlandia, 2008.
[3] S. Kazemi. Pengaruh Sistem Pengendalian Eksitasi pada
Paralel Pengoperasian Dirjen dengan Grid Utama , Tugas
Akhir, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2010.
[4] Sumardjati, Prih. AVR untuk generator sinkron 3 fasa
Fakultas Teknik Elektro Universitas Diponegoro.
[5] Mursyida, Dina. Rancang Bangun Modul Praktikum
Elektronika Daya (Buck-Boost Converter) Fakultas Teknik
Elektro Industri Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. 2010.
[6] Ali Anang Lubis, Muhammad Pengaturan Kecepatan Motor
Induksi Tiga Fasa Dengan Teknik Artificial Intelegent Berbasis
Vektor Kontrol Fakultas Teknik Elektro Industri Politeknik
Elektronika Negeri Surabaya
[8] Putra Perdana, Wahyu Surya Pengontrolan Kecepatan Exhaust
Pada Ruang Merokok Berdasar Kendali Logika Fuzzy Berbasis
Mikrokontroler ATMEGA 16 Fakultas Teknik Elektro Industri
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
[9] http://en.wikipedia.org/wiki/TCA_785.
BIOGRAFI PENULIS

















Nama : Elca Wiryanti W.S
Tempat tanggal lahir : Bekasi, 24 juli 1990
Alamat : Jl. Puyuh III Blok F/262 PTI Bekasi
Telepon / HP : +6285648570136
Email : elza.ranino@gmail.com ; leon_vinish@yahoo.com
Hobi : bersepeda, dengerin music jazz
Motto : dimana ada kemauan disitu ada jalan allah tak
kan tidur melihat hambanya diperlakukan tak adil oleh orang lain.!!
Riwayat Pendidikan :
SD Angkasa, Tahun 1996 2002
SMPN 18 Surabaya, Tahun 2002 2005
SMAN 9 Surabaya, Tahun 2005 2008
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya-ITS, tahun 2008
2012 Jurusan D4 Teknik Elektro Industri