Anda di halaman 1dari 76

Materi 18 Oktober 2012

Teknologi Pengolahan Air Limbah Setempat & Perencanaan IPLT


Setyo S. Moersidik (UI)
smoersidik@yahoo.com

Teknologi Pengolahan Setempat


Individual: Tangki Septic, Biofilter Komunal: IPAL komunal terbatas

Tangki Septic
Tangki septik adalah salah satu cara pengolahan air limbah domestik yang menggunakan proses pengolahan secara anaerobik. Proses ini dapat memisahkan padatan dan cairan di dalam air limbah. Padatan dan cairan memerlukan dan harus diolah lebih lanjut karena banyak mengandung bibit penyakit atau bakteri patogen yang berasal dari kotoran (feces) manusia. Jika tidak diolah, maka dikhawatirkan air limbah dapat menularkan penyakit kepada manusia terutama melalui air (waterborne disease).

Tangki Septic
Secara umum, tangki septik dengan bentuk persegi panjang mengikuti kriteria disain yang mengacu pada SNI 03-2398-2002 yaitu sebagai berikut:
Perbandingan antara panjang dan lebar adalah (2-3): 1 Lebar minimum tangki adalah 0,75m Panjang minimum tangki adalah 1,5m Kedalaman air efektif di dalam tangki antara (1-2,1)m Tinggi tangki septik adalah ketinggian air dalam tangki ditambah dengan tinggi ruang bebas (free board) yang berkisar antara (0,2-0,4)m Penutup tangki septik yang terbenam ke dalam tanah maksimum sedalam 0,4m

Qrata-rata = (q x p) / 1.000
Dimana: Qrata-rata : debit/kapasitas rata-rata air limbah yang akan diolah tangki septik (m3/hari) q : laju timbulan air limbah (liter/orang/hari) p : jumlah pemakai (orang)

Kriteria Perencanaan (1)


Besarnya laju timbulan air limbah bergantung pada jenis air limbah yang akan diolah. Oleh karena itu, besarnya laju timbulan air limbah (q) adalah sebagai berikut (Bintek, 2011):
Bila tangki septik hanya menerima dari kakus saja (sistem terpisah) maka q merupakan gabungan dari limbah tinja dan air penggelontoran yang besarnya antara (5-40) liter/orang/hari

Kriteria Perencanaan (2) lanjutan..


Bila tangki septik menerima air limbah tercampur (sistem tercampur), maka q merupakan gabungan limbah tinja dan air limbah lainnya dari kegiatan rumah tangga seperti mandi, cuci, masak dan lainnya yang besarnya adalah 80% dari konsumsi air bersih pemakai yang besarnya antara (45-150) liter/orang/hari

Waktu retensi untuk tangki septik dengan sistem terpisah: Td = 2,5 0,3 log (p-q) > 5 hari Waktu retensi untuk tangki septik dengan sistem tercampur: Td = 1,5 0,3 log (p-q) > 2 hari Dimana: Td : waktu retensi minimum (hari) q : laju timbulan air limbah (liter/orang/hari) p : jumlah pemakai (orang)

Keterangan
Di dalam tangki septik akan terbagi beberapa zona mengikuti proses degradasi yang terjadi. Zona tersebut adalah zona buih dan gas, zona pengendapan, zona stabilisasi, dan zona lumpur. Fungsi dan besarnya zona tersebut adalah sebagai berikut (Bintek, 2011):
Zona buih (scum) dan gas untuk membantu mempertahankan kondisi anaerobik di bawah permukaan air limbah yang akan diolah. Zona ini disediakan setinggi (25-30) cm atau 20% dari kedalaman tangki Zona pengendapan sebagai tempat proses pengendapan padatan mudah mengendap (settleable).

Volume zona pengendapan (Vpengendapan) ditentukan dengan persamaan:


Vpengendapan = Qrata-rata x Td > 37,5 cm3

Keterangan
Zona stabilisasi adalah zona yang disediakan untuk proses stabilisasi lumpur yang baru mengendap melalui proses pencernaan secara anaerobik (anaerobic digestion). Volume zona ini ditentukan berdasarkan kecepatan stabilisasi lumpur dan jumlah pemakai tangki septik. Volume zona stabilisasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
Vstabilisasi : Rs x p

Dimana:
Rs : kecepatan stabilisasi = 0,0425 m3/orang p : jumlah pemakai (orang)

Small Bore Sewerage (SBS)


Small bore sewerage (SBR) adalah salah satu alternatif pengolahan lanjutan untuk effluent dari tangki septik yang didisain untuk menerima hanya limbah rumah tangga dalam wujud cair (liquid) yang selanjutnya dialirkan melalui jaringan pengumpur air limbah dengan sistem terpusat (Otis & Mara, 1985). Effluent dari tangki septik tersebut selanjutnya akan diolah di instalasi pengolahan limbah terpusat (IPAL) sebelumnya akhirnya dibuang bila telah memenuhi baku mutu. Air limbah yang akan dialirkan masuk ke tangki penerima (interceptor) haruslah dihilangkan terlebih dahulu dari grit, lemak dan bentuk-bentuk padatan lainnya yang dapat mengganggu atau berpotensi menyumbat saluran/jaringan perpipaan. Padatan yang telah terakumulasi pada tangki interseptor harus dibersihkan secara berkala.

Pengolahan Sistim Komunal-Terbatas

Pengolahan Sistim Komunal-Terbatas

IPLT
IPLT hanya menerima dan mengolah lumpur tinja yang diangkut melalui truk tinja. Proses penguraian lumpur tinja menggunakan proses biologis yang berlangsung dalam kondisi anaerobik (tanpa udara)

10- 30 hari 5-30 hari Tipikal 6-10 5-20 hari 6-10 hari

2 hari

IPLT DURI KOSAMBI JAKARTA BARAT

TRUK TINJA

DIGESTER AEROBIK

INLET BAK PENGENDAP LUMPUR

KOLAM FAKULTATIF 1

KOLAM FAKULTATIF 2

EFLUEN

KOLAM MATURASI

PENGERING

IPLT di MOJOSONGO SOLO MANGKRAK IPLT MANGKRAK-Warga melintas di depan bangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Mojosongo, Solo, Selasa (25/10/2011). IPLT tersebut mangkrak kurang lebih dua tahun karena akses jalan masuk tertutup sampah TPA Putri Cempo. Sumber : http://www.solopos.com/2011/feature/iplt-di-mojosongo-mangkrak-121241

Bioreaktor anaerobik
Tempat truk tinja saat feeding

Outlet bioreaktor

Kolam fakultatif 1

Bioreaktor anaerobik Tinja masuk

Tempat truk tinja

Bioreaktor anaerobik

Kran lumpur (slugde)

Unit sludge drying-bed

Pipa-pipa outlet sludge

Kolam maturasi

Kolam fakultatif 2

Kolam fakultatif 1

Lumpur Tinja
Lumpur tinja dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan tingkat dekomposisinya (Balai Pelatihan Air Bersih & Penyehatan Lingkungan Permukiman, 2000), yaitu:
1. Lumpur tinja segar yaitu lumpur tinja berumur kurang dari 8 (delapan) jam 2. Night soil yaitu lumpur tinja yang telah mengalami proses dekomposisi antara 8 (delapan) sampai 7 (tujuh) hari 3. Lumpur tinja (septage) yaitu tinja yang telah mengalami dekompisisi dalam jangka waktu 1-3 tahun 4. Sludge yaitu lumpur tinja yang telah mengalami dekomposisi pada IPLT yang khusus dibangun

Perencanaan IPLT, perlu data:

Kapasitas IPLT
Debit lumpur tinja = Persentasi pelayanan x jumlah penduduk daerah layanan x laju timbulan lumpur tinja Keterangan:
Debit lumpur tinja dalam liter/hari atau dibagi dengan 1.000 untuk konversi menjadi m3/hari adalah jumlah lumpur yang akan masuk dan diolah di IPLT setiap harinya Persentasi pelayanan dapat menggunakan pendekatan (50-60)% Laju timbulan lumpur tinja dapat menggunakan pendekatan 0,5 liter/orang/hari

Kolam Anaerobik

Kolam Anaerobik

Kolam Anaerobik

Kolam Anaerobik

Kolam Fakultatif

Kolam Fakultatif

Kolam Maturasi

Kolam Maturasi

Bak Pengering Lumpur

Bak Pengering Lumpur

Bak Pengering Lumpur