Anda di halaman 1dari 52

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG PEKERJAAN Pertumbuhan pembangunan di segala bidang yang pesat terutama industri dan pemukiman sangat berpengaruh negative terhadap pengembangan sektor pertanian khususnya produksi padi, karena menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian khususnya lahan sawah menjadi lahan non pertanian atau non sawah yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka upaya untuk memperluas baku lahan pertanian menjadi sangat penting dengan memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan dan air yang ada. Melihat pentingnya peranan ketersediaan sumberdaya lahan dan air dalam pembangunan pertanian, maka pemerintah melalui Perpres No. 24 tahun 2010 dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 61/Permentan/OT.140/10/2010, telah menetapkan pembentukan institusi yang menangani pengelolaan sumber daya lahan dan air yaitu Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian yang salah satu tugasnya adalah melaksanakan perluasan areal tanaman pangan. Mengingat potensi lahan yang tersedia cukup luas, maka masih sangat dimungkinkan untuk melaksanakan kegiatan perluasan areal tanaman pangan dengan menambah luasan/ baku lahan, melalui kegiatan perluasan areal tanaman pangan yangsering disebut dengan perluasan sawah. Kegiatan perluasan sawah secara teknis dimulai dari identifikasi calon petani dan calon lokasi, Survei/Investigasi dan Desain (SID), penetapan lokasi sampai dengan pelaksanaan konstruksi perluasan sawah dan pemanfaatannya. 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dan tujuan pekerjaan Survey Investigasi dan Desain (SID) Perluasan Sawah adalah : a. Melakukan survey dan investigasi dengan cara pengamatan dan pengukuran lapangan pada area yang telah ditentukan sehingga dapat menjadi acuan teknis dalam pelaksanaan sawah baru. Mendesain areal perluasan berdasarkan batasan-batasan norma standar teknis dan criteria perluasan sawah. Pekerjaan survey investigasi dan desain perluasan sawah dibatasi pada areal persawahan dengan rincian sebagai berikut : Pekerjaan persiapan, Persiapan teknis dan non teknis, antara lain pembentukan counterpart Dinas Pertanian, mobilisasi tenaga ahli dan peralatan, serta penyelesaian administrasi pekerjaan. Pengumpulan data sekunder. Data yang dikumpulkan antara lain data eksisting baik data atribut maupun data spesial. Pengumpulan data primer. Survei dan Investigasi, penelitian calon areal tertentu untuk menentukan kelayakan calon lokasi persawahan dan calon petani dengan melakukan kegiatan lapangan dan melakukan wawancara

b. c.

Desain penggambaran rancangan petak sawah yang dibuat untuk dipergunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan konstruksi perluasan sawah. Pekerjaan perhitungan analisa harga satuan dan perhitugan RAB pelaksanaan fisik.

Survey Investigasi dan Desain (SID) Cetak Sawah Seluas 5.750 Ha.
1.3. PENGERTIAN 1.3.1. Dasar Kebijakan Perencanaan Kerangka dasar penyusunan kegiatan Survey Investigasi dan Desain (SID) Cetak Sawah Seluas 5.750 Ha.dilaksanakan atas dasar kebijakan perencanaan sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. g. UU Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang UU Nomor 23 Tahun 1997, Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup UU Nomor 25 Tahun 2004, Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional UU No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan UU No.5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Perpres No.10 Tahun 2005 Peraturan Menteri Pertanian No.229/Kpts/ OT.140/7/2005 Keputusan Menteri Pertanian Nomor 146/Kpts/OT.210/2/2003 Tahun 2003,Tentang Pedoman Manajemen Program dan Proyek Pembangunan Pertanian. Pedoman Teknis Perluasan Areal Tanaman pangan (perluasan sawah), Direktorat perluasan dan pengelolaan lahan . Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementrian Pertanian 2011. Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor : P.9/VI/BPHA/2009 tentang pedoman pelaksanaan Sistem Silvikultur Dalam Areal Izin Usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan produksi.

h.

i.

1.3.2.

Ketentuan Dalam Perluasan Sawah Kegiatan perluasan sawah diarahkan pada lahan irigasi, lahan rawa dan lahan tadah hujan dengan mengikuti norma, standar teknis, prosedur dan kriteria sebagai berikut : a. Perluasan Sawah Pada Lahan Beririgasi 1). Norma Perluasan sawah pada lahan beririgasi merupakan upaya untuk menambah baku lahan sawah yang dilakukan didaerah irigasi baik irigasi teknis, setengah teknis maupun irigasi desa yang sudah mempunyai jaringan irigasi sampai pada tingkat tersier atau akan dibangun jaringan tersebut yang selesainya bersamaan dengan

2).

selesainya sawah dicetak. Pembukaan lahan baru ini dilakukan dalam satu hamparan sehingga dapat terairi seluruhnya. Lahan harus berada pada kawasan budidaya dan bukan berada pada kawasan hutan lindung. Standar Teknis Standar teknis lokasi perluasan sawah pada lahan irigasi adalah : a). b). Berada pada satu hamparan dengan luas > 10 hektar Lebih diutamakan / diperioritaskan pada lahan dengan kemiringan lahan < 5% c). Dekat dari pemukiman Prosedur Prosedur perluasan sawah pada lahan irigasi adalah : a). Identifikasi calon petani dan calon lokasi (CPCL) b). Survei/Investigasi c). Penetapan Lokasi d). Desain e). Konstruksi ( Land Clearing dan Land Leveling) f). Bantuan saprotan untuk pemanfaatan lahan sawah baru Kriteria Kriteria perluasan sawah pada lahan irigasi adalah : a). b). c). Tersedia air irigasi dalam jumlah yang cukup minimal untuk satu kali musim tanam. Lahan sesuai untuk tanaman padi sawah berdasarkan ketentuan dan kriteria yang berlaku. Sudah ada petani dalam suatu wadah kelompok. Apabila belum ada kelompok tani, para petani tersebut bersedia untuk membentuk kelompok tani kegiatan perluasan sawah. Status kepemilikan tanah sudah jelas dan tidak sengketa/tumpang tindih dengan program/kegiatan lainnya. Luas kepemilikan lahan maksimum 2 Ha/ KK. Petugas penyuluh pertanian lapangan sudah ada. Lokasi mudah diakses atau dekat jalan desa. Diutamakan pada lahan bervegetasi ringan atau sedang.

3).

4).

d). e). f). g). h). b. 1).

Perluasan Sawah Lahan Rawa Norma Perluasan Sawah pada lahan rawa merupakan upaya untuk menambah baku lahan sawah yang dilakukan di daerah rawa yang sudah mempunyai dan atau rencana pengembangan jaringan drainase sampai pada tingkat tersier. Lahan harus berada pada kawasan budidaya dan bukan berada pada kawasan hutan lindung. 2). Standar Teknis Standar teknis lokasi perluasan sawah pada lahan rawa adalah :

a. Berada pada satu hamparan. b. Luas satu hamparan 10 hektar. c. Lahan dengan kedalaman pirit dengan kisaran minimal antara 50-60 cm.

d. Dekat dengan pemukiman. 3). Prosedur Prosedur perluasan sawah pada lahan rawa adalah : a. Identifikasi calon petani dan calon lokasi (CPCL) b. Survei/Investigasi c. Penetapan Lokasi d. Desain. e. Konstruksi ( Land Clearing, Land Leveling). f. Bantuan saprotan untuk pemanfaatan lahan sawah baru. 4). Kriteria Kriteria perluasan sawah pada lahan rawa adalah : a. Lahan sesuai untuk tanaman padi sawah rawa pasang surut dan atau lebak berdasarkan ketentuan dan kriteriayang berlaku. b. Sudah ada petani dalam suatu wadah kelompok. c. Status petani jelas bisa pemilik penggarap ataupenggarap. d. Luas lahan pemilik penggarap atau penggarap maksimum 2 Ha/ KK. e. Petugas lapangan sudah ada. f. Lokasi mudah diakses atau dekat jalan desa.

c.

Perluasan Sawah Tadah Hujan 1). Norma Perluasan sawah tadah hujan merupakan upaya untuk menambah baku lahan sawah yang dilakukan didaerah tadah hujan yang belum dimanfaatkan dan mempunyai curah hujan yang cukup untuk pertumbuhan tanaman padi serta potensi sumber-sumber air lainnya yang dapat dikembangkan untuk mendukung pengairan pada lokasi tersebut. Lahan harus berada pada kawasan budidaya dan bukan berada pada kawasan hutan lindung. Standar Teknis

2).

Standar teknis lokasi perluasan sawah pada lahan tadah hujan adalah : Berada pada satu hamparan. Luas satu hamparan > 10 hektar Lebih diutamakan / diperioritaskan pada lahan dengan kemiringan lahan < 5%. Dekat dari pemukiman. 3). Prosedur Prosedur perluasan sawah pada lahan tadah hujan adalah : Identifikasi calon petani dan calon lokasi (CPCL). Survei/Investigasi Penetapan lokasi Desain. Konstruksi Bantuan saprotan untuk pemanfaatan lahan sawah baru 4). Kriteria Kriteria perluasan sawah pada lahan tadah hujan adalah :

Mempunyai bulan basah > 3 bulan terutama yang tersedia air untuk 1 kali tanam setahun. Lahan sesuai untuk tanaman padi sawah tadah hujan berdasarkan ketentuan dan kriteria yang berlaku. Sudah ada petani dalam suatu wadah kelompok. Status petani jelas bisa sebagai pemilik penggarap atau penggarap. Luas lahan pemilik dan penggarap maksimum 2 Ha/ KK. Petugas lapangan sudah ada. Lokasi mudah diakses atau dekat jalan desa (dapat dilalui oleh kendaraan roda 4)

METODOLOGI PEKERJAAN Pelaksanaan Survey/Investigasi. Tahapan Survey/Investigasi sebagai berikut: Tahapan berupa pengadaan peta situasi,peta rancangan, pembuatan daftar pertanyaan dan table-tabel untuk pelaksanaan maupun pengelolaan data. Selain itu dipersiapkan bahan dan peralatan yang diperlukan dilapangan. Tabulasi dan pengolaan data hasil survey. Data hasil survey ditabulasi dan diolah untuk pembuatan laporan hasil survey yang bertujuan untu menentukan kelayakan calon lokasi dan pembuatan desain. Pembuatan laporan kegiatan survey sebagai dasar penetapan lahan sawah yang akan dikonstruksi. Hasil survey calon lokasi perluasan sawah nantinya berupa buku laporan dan daftar lokasi petak tersier yang dinyatakan layak untuk didesain yang selanjutnya dicetak menjadi sawah. Pelaksanaan Desain Desain hanya dilakukan pad calaon lokasi yang berdasarkan hasil survey investigasi telah dinyatakan layak untu perluasan sawah. Jenis- jenis kegiatan dalam pekerjaan desain yaitu

Pembuatan Peta Situasi Lokasi Peta situasi lokasi perluasan sawah dibuat diatas peta Present Land User Peta Tata Guna Lahan, Dengan Skala 1 :1000. Isi dalam Pemetaan situasi adalah: Peruntukan lahan, misalnya persawahan, lahan masyarakat, hutan lindung dan sebagainya. Jaringan kerangka dasar, garis kontur, titik ketinggian, dan lain-lain. Batas pemerintah, kampung, desa, kecamatan, dan lain-lain. Batas tata guna lahan/vegetasi lahan.

Tata letak jalan, jalan desa, jalan setapak, dan lain-lain. Saluran alur sungai, tata letak saluran, bangunan irigasi, drainase dan bangunan lainnya (jika sudah ada). Batas petak tersier, lokasi perluasan sawah dan lahan yang tidak dapat dicetak menjadi sawah. Batas pemilikan lahan setiap petani sebelum dirancang yang direncanakan menjaadi petakpetak sawah. Pekerjaan Pengukuran dan Penbuatan Peta Dasar Teknis Dalam pekerjaan pengukuran harus berdasarkan pada : Titik ikat dasar yang dipakai sebagai titik ikat dalam pengukuran polygon utama dan polygon bantuan. Pengukuran polygon utama dilakukan dengan cara polygon tertutup. Pengukuran rincian dimulai dari titik polygon utama atau polygon bantuan dan berakhir pada titik polygon atau polygon bantuan lainnya. Pembuatan Peta Topografi Peta topografi pada daerah irigasi atau tadah hujan dibuat per blok hamparan dengan skala 1:1000 yang didasarkan pada kemiringan lahan (Slope). Dalam pembuatan peta topografi harus membuat data sebagai berikut : Batas-batas alam : desa, sawah yang ada, areal yang dapat dikembangkan ddan areal yang tidak dapat dikembangkan beserta vegetasi lahan. Jalan usaha tani dan jaringan irigasi yang sudah ada dan yang masih dalam rencana. Batas kepemilikan lahan petani dan exiting. Batas pemilikan lahan setiap petani sebelum dirancang menjadi petak-petak sawah, nomor urut petani pemilik dan pemiliknya. Jaringan-jaringan ukur (polygon ) utama serta titik hasil pengukuran yang dilengkapi dengan elevasinya. Pembuatan Peta Rancangan (Desain) skala 1 : 1000. Pembuatan peta rancangan (desain) pada irigasi dan tadah hujan harus memuat data sebagia berikut : Tata letak petak-petak sawah yang akan dirancang sedapat mungkin sejajar dengan garis kontur.

Rancangan desain petak-petak sawah dibuat maksimal 50 x 100 m pada daerah yang datar. Tata letak jaringan dalam hamparan perluasan sawah dengan memperhatikan system tata air dilokasi tersebut (jika ada atau direncanakan untuk daerah irigasi), sebagai titik ikat dapat digunakan muka air pada saluran tersier aatau sekunder. Tata letak jalan usaha tani dalam hamparan perluasan sawah. Nomor petak tersier, nomor urut petani pemilik sawah, nomor petak sawah perpetani dan luas petak sawah sesudah didesain. Koordinat atau elevasi setiap sudut petak-petak sawah yang akan dirancang, batas jenis vegetasi lahan antara tanah darat, semak ,dan lain-lain. Koordinat letak pintu pembagi air. Batas jenis vegetasi lahan antara tanah darat, semak , dan lain-lain Potongan melintang rencana land leveling. Sepesifikasi teknis Perluasan Sawah. Pebuatan spesifikasi teknis bertujuan untu memudahkan pembuatan rencana biaya, pembacaan gambar dilapangan dan penyusunan Rencana Kerja dan Syarat- Syarat (RKS) lelang kontruksi. Perhitungan Biaya Konstruksi Peluasan Sawah. Hal-hal yang harus diperhitungkan dalam rencana biaya konstruksi (sesuai dengan dana) yaitu: Biaya land clearing yang disesuaikan dengan jenis vegetasi lahan. Biaya land leveling, antara lain terdiri dari biaya penyisihan dan pengembalian top soil, pemadatan dan perataan tanah yang disesuaikan dengan topografi lahan. Pembuatan galangan. Pembuatan jalan usaha tani didalam hamparan perluasan sawah. Biaya pembuatan pematang batas pemilikan. Biaya untuk pekerjaan penunjang lainnya. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN Pekerjaan Survey dan Desain Perluasan Sawah harus dapat diselesaikan dalam jangka waktu 45 (empat puluh ima) hari kalender dihitung dari tanggal tanda tangan kontrak.

SUMBER DANA Dana yang digunakan dalam pekerjaan ini bersumber dari Dana APBD Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2011. PERSONIL PELAKSANA Untuk dapat menyelesaikan pekerjaan yang telah ditetapkan tersebut, diperlukan tenaga ahli dengan kualifikasi sebagi berikut : Tenaga ahli Team Leader Adalah seorang Sarjana S1/S2 Teknik Sipil/Pertanian yang bertanggung jawab terhadap seluruh perencanaan, teknis dan pelaksanaan pekerjaan, koordinasi tim dengan pemberi kerja dan penyusunan laporan. Team leader sekurang-kurangnya telah mempunyai penglaman kerja pada bidang perencanaan pengairan dan irigasi khususnya, selama sekurang-kurangnya 8 (delapan )tahun. Ahli Desain. Adalah seorang Sarjana S1 Teknik sipil/ Pengairan dengan pengalaman minimal 5 (lima )tahun. Ahli Geodesi. Adalah seorang Sarjana S1 Teknik Geodesi dengn pengalaman minimal 5 (lima ) tahun. Tenaga Pendukung. Tenaga Ahli 1 (satu) orang Ahli Teknik Sipil/ Pengairan dan 1 (satu) orang ahli Teknik geodesi dengan Kualifkasi Setara ahli pratama dan Setara Senior Assisten Professional Staff dengan pengalaman kerja minimal 3 (tiga) tahun dalam bidang pembuatan gambar desain bangunan air. Cad Operator Terdiri dari 1 (satu ) orang ahli AutoCad, minimal lulusan D3 Komputer dengan pengalaman kerja kurang lebih 3 (tiga ) tahun dalam bidang pembuatan gambar desain bangunan air. Tenaga Pendukung

Terdiri dari 1 (satu) oarng petugas ukur, minimal lulusan STM/SMU dengan pengalaman kerja pengukuran situasi minimal 3 (tiga ) tahun. PROGRAM KERJA Konsultan Perencanaan harus segera mmenyusun program kerja minimal meliputi : Jadwal Kegiatan Secara Detail. Alokasi tenaga yang lengkap (disiplin dan Keahliannya). Tenaga-tenaga yang diusulkan Konsultan Perencanaan harus mendapatkan persetujuan dari Kuasa Pengguna Anggaran. Konsep Penanganan pekerjaan perencanaan. Program kerja keseluruhan harus mendapat persetujuan dari Kuasa Pengguna Anggaran, setelah sebelumnya dipersentasikan oleh Konsultan Perencanaan dan mendapatkan pendapat teknis dari Tim Teknis Kegiatan. HASIL PEKERJAAN Membuat laporan pendahuluan, draf laporan akhir dan untuk laporan akhir pekerjaan, 1 ( satu) asli, 3 (tiga) rekaman. Menyerahkan peta/album peta perencanaan pada kertas A0 dan A3 masing-masing 3 (tiga) rangkap dan 3 (tiga)soft copy yang memuat : peta topografi, Peta rancang, vegetasi dan lainlain sesuai kebutuhan (sesuai permintaan pengguna barang). SISTEMATIKA PENYUSUNAN LAPORAN Laporan yang dihasilkan merupakan Laporan SID Percetakan Sawah Suka jaya Kecamatan Pulau Besar Kabupaten Bangka Selatan yang terdiri dari 9 ( BAB), yaitu

: PENDAHULUAN Pada Bab ini dibahas mengenai latar belakang pekerjaan, maksud dan tujuan pekerjaan, sasaran pekerjaan, ruang lingkup kegiatan serta sistematika penyusunan laporan. : METEDOLOGI PEKERJAAN Uraian metodologi (cara kerja) yang digunakan konsultan dalan Pekerjaan Survei Investigasi dan Desain (SID) Percetakan Sawah. : TENAGA AHLI DAN TANGGUNG JAWABNYA.

Uraian nama-nama tenaga ahli dalam pekerjaan ini dan tanggung jawabnya dalam pekerjaan. : KONDISI REGIONAL KABUPATEN BANGKA SELATAN Menjelaskan Kondisi administrtif dan geografis Kabupaten Bangka Selatan Secar regional. : KONDISI WILAYAH PEKERJAAN Memaparkan kondisi fisik wilyah pekerjaan baik secara regional maupun detail hasil dari penelitian primer maupun sekunder. : RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) PERCETAKAN SAWAH Total biaya konstruksi yang diperlukan untuk percetakan sawah. : KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan dari hasil pekerjaan SID Percetakan Sawah Desa Suka Jaya Kecamatan Pulau Besar Kabupaten Bangka Selatan. BAB VIII : DAFTAR PUSTAKA

I.11

PENUTUP

A. Setelah Kerangka Acuan Kerja (KAK) in diterima, maka konsultan hendaknya memeriksa semua bahan masukan yang akan diterima dan mencari bahan masukan lain yang dibutuhkan B. Berdasarkan bahan bahan tersebut , Konsultan agar segera menyusun program kerja untuk di bahas dengan Kuasa Pengguna Anggaran.

BAB II METODOLOGI PEKERJAAN

II.1 RUANG LINGKUP PEKERJAAN Pekerjaan ini berdasarkan analisis observatif deskriftif untuk mendapatkan spesifikasi lokasi dengan menghubungkan ketersuaian teknis maupun aspek sosial budaya masyarakat setempat. Lingkup wilayah pekerjaan Survey Investigasi dan Desain (SID) Cetak Sawah Seluas 5.750 Ha.Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencakup wilayah administratif Desa Suka jaya yang antara lain meliputi : Koordinasi awal denagn Pemerintah Kabupaten Bangka dalam Penentuan lokasi pekerjaan. Survei dan Pengumpulan Data. Pengolahan dan Analisa Data. Desain Rancangan Sawah Penyusunan Laporan.

II.2 KOORDINASI AWAL Tahapan koordinasi awal merupakan kegiatan yang perlu dilakukan sebaik mungkin , terutama dalam kerangka obyektivitas data sebagai tindak lanjut pelaksanaan tahapan kegiatan berikutnya. Kegiatan yang berlangsung pada tahap ini adalah : Koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bangka Selatan Penyusunan percetakanngka dasar kebutuhan data maupun metode pelaksanaan kegiataan survey. Perancangan peta kerja , terutama dalam kaitannya dengan identifikasi lapangan dan penetapan titik- titik pengukuran lahan. Sosialisasi. Sosialisasi kepada petani peserta percetakan sawah dilakukan untuk memmberikan pengertian terhadap kegiatan percetakan sawah serta tata cara dan pentahapan pelaksanaan kontruksi nya yang akan dilaksanaan, maupun pemanfaatan lahan lahan sawah baru yang nantinya akan dilaksanakan oleh petani sendiri. Dengan demikian petani

diharapkan dapat lebih berpartisipasi didalam pelaksanaan percetakan sawah dan pemanfaatannya. Pendaftaran Ulang Petani. Mengingat adanya tenggang waktu antara pelaksanaan desain dengan pelaksanaan konstruksi yang memungkinkan adanya perubahan- perubahan terhadap status pemilikan tanah dan vegetasi lahan pada lokasi percetakan sawah, maka masih diperlukan pendaftaran ulang petani peserta. Dengan pendaftaran ulang ini akan diperoleh kepastian nama- nama petani dan status pemilikan tanah serta jenis vegetasinya. Pendaftaran ulang petani ini dilakukan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten dan dibantu oleh PPL. Pengajuan Surat Permohonan dan Peryataan Kesanggupan Petani . Petani secara berkelompok mengajukan Surat Permohonan dan Pernyataan Kesanggupan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang menangani kegiatan percetakaan sawah. Petani yang diperkenankan mengajukan surat permohonan hanyalah petani pemilik penggarap atau penggarap yang berdomisili di dalam desa atau daerah kecamatan dari lokasi dan mata pencaharian utamanya dari usaha tani. II.3 PENGUMPULAN DATA Survey Investigasi Desain (SID) Percetakan Sawah dilaksanakan setelah dilakukan survey inventarisasi sehingga calon lokasi pengembangan sudah dipilih . Data yang diperlukan dalam pekerjaan ini meliputi data primer dan data sekunder. PENGUMPULAN DATA PRIMER Data primer atau data lapangan didapatkan dari pengukuran secara langsung dilapangan baik dengan memakai alat ukur maupun tidak. Metode pengumpulan data primer disesuaikan dengan jenis data yang akan dikumpulkan. Data yang dikumpulkan antara lain meliputi : Data Koordinat Bumi. Data koordinat bumi yang dibutuhkan dalam pekerjaan yaitu : system koordinat geografis ( derajat, menit , detik), system koordinat geografis ( derajat decimal) dan system koordinat UTM (jarak ) Pengambilan dan pengukuran titik- titik koordinat pad pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan alat GPS (Global Positioning System).

Data Pengamatan Topografi dan Morfologi. Data Pengamatan Geologi dan Litologi. Pengambilan Dokumentasi Foto Data Sosial Ekonomi ; data kependudukan , perhubungan dan transportasi, kepemilikan tanah dan perundangan. Data Kuisioner ; data kuisioner perlu disiapkan secara ringkas tetapi jelas. Pengisisan data kuisioner dapat dilakukan melalui wawancara dengan petani dan observasi langsung dilapangan. Kuisioner yang dibuat berisikan data-data antara lain sebagai berikut :

Nama pemilik lahan dan penggarapnya. Keadaan umum lahan calon lokasi. Keadaan jalan dan jembatan. Prasarana usahatani (jalan usahatani, jembatan, jalan dan gorong-gorong). Kelembagaan pertanian (BPP, P3A, PPL, KUD, dan kelompok tani). Peranan PPL PENGUMPULAN DATA SEKUNDER Data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber khususnya dari instansi-instansi terkait serta dari berbagai pustaka yang relevan dengan penelitian baik berupa laporan peenelitian sebelumnya, data statistik, peta dan berbagai informasi lainnya. Data-data sekunder yang diperlukan antara lain adalah : Data Vektor ; data sekunder yang bersifat vector atau grafis adalah peta, baik itu peta topografi maupun peta tematik lainnya. Sumber data bisa didapatkan pada Bakosurtanal, Bappeda dan dinas terkait. Peta-peta dasar yang dikumpulkan antara lain : Peta Administrasi Peta Topografi Peta Geologi Peta Penggunaan Lahan. Dan peta-peta lainnya. Data Tekstual ; didapatkan pada dinas terkait seperti: Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Metereologi dan Geofisika (BMG), Dinas Pekerja Umum (PU), Dinas Pertanian . Data yang dibutuhkan antara lain yaitu : Data curah hujan, temperature dan hari hujan. Data kependudukan. Data potensi desa dan kecamatan Daftar harga satuan dan bahan upah setempat. Data laporan kegiatan terdahulu (bila ada ). Informasi kegiatan fisik yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum termasuk keadaan jaringan tata air.

Kebijakan/Regulasi/Pengatuaran meliputi : Kebijakan yang berhubungan dengan pengembangan pertanian. Kebijakan yang berhubungan dengan perencanaan tata ruang wilayah.

II.4 PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA Data yang telah dikumpulkan baik data primer maupun sekunder diolah dulu sebelum masuk dalam tahap analisis. Data hasil pengukuran di lapangan dengan menggunkan alat GPS akan menghasilkan titik-titik koordinat bumi. Selanjutnya titik-titik Koordinat Geografis dan Koordinat UTM tersebut akan diolah guna menghasilkan peta lokasi pekerjaan, peta percetakan sawah dan peta-peta lainnya. Tahapan pembuatan peta adalah sebagai berikut : Permodelan SIG (Sistem Informasi Geografis) Permodelan SIG (Sistem Informasi Geografis) atau GIS ( Geographic Information System) dilakukan untuk penyusunan item-item guna membangun basis data dan dilakukan sesuai dengan kebutuhan analisis. Dengan demikian perancangan basis data akan memperhatikan kerangka analisis serta permodelannya. Komponen perangkat lunak SIG pad umumnya berfungsi sebagai pemasukan data, pengelolaan basis data, penyajian output data, transformasi data, dan pelacakan informasi (query). Perangkat lunak untuk membangun database SIG akan menggunakn system operasi Microsoft Windows (MS) versi Xp yang didukung oleh perangkat lunak (software) aplikasi sebagai berikut : Arc View Versi 3.3 dan MapInfo versi 6.0 , perangkat lunak aplikasi ini akan digunakan untuk Query database yang telah terbentuk. Ms Access dan Ms Excel. Perngkat lunak ini kan digunkan untuk membangun database program aplikasi data tekstual. Autocad Map 2004 dan Surfer Versi 8 , perangkat lunak ini digunakan dalam proses akhir pekerjaan untuk menghitung keakuratan luas lahan dan pembuatan gambar desain. Langkah langkah Permodelan SIG Pekerjaan ini meliputi : Digitasi, yaitu membuat layer peta dalam bentuk data vector, yang disebut coverange. Editing, yaitu memperbaiki (mengedit) hasil digitasi untuk mengeliminir kesalahan.

Membangun Topologi, yaitu membangun hubungan antara data spasial dan atributnya. Tranformasi, yaitu mentran II.4.4 DESAIN PETA SAWAH Peta rancangan [ desain ] sawah pada lokasi pekerjaan merupakan hasil akhir dari seluruh pekerjaan laporan SID percetakan sawah Desa Suka Jaya Kabupaten Bangka Selatan. Peta sawah ini akan menampilkan pembagian luas rencana lahan sawah secara keseluruhan dan pembagian petak sawahnya dengan menampilkan system koordinat bumi serta dimensi yang terukur dalam satuan luas lahan m dan Ha, di sajikan dalam ukuran kertas kerja A3. Beberapa hal yang di perhatikan dalam proses pembuatannya. Desain hanya di lakukan pada lokasi yang berdasarkan hasil survey investigasi telah di nyatakan layak untuk pencetakan sawah. Desain adalah rancangan petak sawah di buat untuk dipergunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan kontruksi pencetakan sawah. Sebelum dilaksanakan pembuatan desain terlebih dahulu dilakukan penyuluhan dan para petani pemilik lahan diminta untuk memasang patok patok pemilihan lahan. Peta harus di buat dalam multiyear dengan warna dan legenda yang berbeda pada setiap layernya. Peta dapat di tampilkan secara digital [ peta digital ] dalam cakram data [ hard copy ] yang siap di operasikan untuk berbagai kebutuhan segera dan mendadak. Jenis-jenis kegiatan dalam pekerjaan desain yaitu :

PEMBUATAN PETA SITUASI LOKASI Peta situasi lokasi perluasan sawah dibuat diatas peta land use [ peta tata guna tanah ] dengan skala 1 : 1000. Isi dalam pemetaan situasi adalah: Peruntukan lahan, misalnya persawahan, hutan lindung dan sebagainya. Jaringan kerangka dasar, garis kontur, titik ketinggian dll. Batas pemerintah, kampung, desa, kecamatan, dll. Batas tata guna lahan / vegetasi lahan. Tata letak jalan, jalan desa, jalan setapak, dll.

Seluruh alur sungai , tata letak saluran, bangunan irigasi,dranase dan bangunan lainnya. Batas petak tersier, lokasi perluasan sawah dan lahan yang tidak dapat di cetak menjadi sawah. Batas pemilikan lahan setiap petani sebelum di rancang yang di rencanakan menjadi petakpetak sawah.

PEKERJAAN PENGUKURAN DAN PEMBUATAN PETA DASAR TEKNIS. Peta dasar teknis di buat dalam skla 1 : 1000 dan pekerjaan pengukuran harus berdasarkan pada : Titik ikat dasar yang dipakai sebagai titik ikat dalam pengukuran polygon utama dan bantuan. Pengukuran polygon utama dilakukan dengan cara polygon tertutup. Pengukuran rincian dimulai dari titi polygon utama atau bantuan dan berakhir pada titik polygon utama atau polygon bantuan lainnya. PEMBUATAN PETA TOPOGRAFI PER HAMPARAN > 10 Ha. Peta topografi di buat dalam skla 1 : 1000 dan dalam pembuatannya harus memuat data sebagai berikut : Garis kontur dengan interval kontur yang disesuaikan dengan skla peta Dan tingkat kemiringan lereng. Batas-batas alam : desa, sawah yang ada, areal yang dapat dikembangkan beserta vegetasi lahan. Jalan usaha tani dan jaringan irigasi yang sudah ada dan yang akan dilaksanakan. Batas pemilikan lahan setiap petani, nomor urut petani, pemilik dan luas kepemilikannya. Jaring-jaring ukur [polygon] utama serta titik-titik hasil pengukuran yang dilengkapi dengan evaluasi. PEMBUATAN PETA RANCANGAN [ DESAIN ] Peta rancangan [ desain ] dibuat dalam skla 1:1000 dan dalam pembuatannya harus memuat data sebagai berikut : Tata letak petak-petak sawah yang akan di rancang sedapat mungkin sejajar garis kontur.

Rancangan [ desain ] petak-petak sawah dibuat maksimal 50x100 m pada daerah yang datar. Tata letak jaringan irigasi dalam hamparan perluasan sawah dengan memperhatikan system tata air dilokasi tersebut. Tata letak jalan usaha tani dalam hamparan perluasan sawah. Nomor petak tersier. Nomor urut petani pemilik sawah, nomor petak sawah per petani dan luas petakan sawah. Elevasi setiap sudut petak sawah yang sudah dirancang. Batas jenis vegetasi anatar hutan berat, hutan ringan, tegalan, alang-alang dan batas pengguna lahan. Potongan melintang rencana land lavelling.

PEMBUATAN DAFAR PETANI PEMILIK PENGGARAP Daftar nama petani pemilik dibuat pada setiap petak sawah yang memuat : Nomor urut petani per petak tersier sesuai yang tercantum dalam peta topografi dan peta rancangan petak-petak sawah. Luas pemilikan lahan setiap petani. Jumlah dan luas petak-petak sawah yang dirancang setiap petani. Rincian jenis vegetasi per pemilikan lahan.

SPESIFIKASI TEKNIK PERLUASAN SAWAH. Pembuatan spesifikasi teknik bertujuan untuk memudahkan pembuatan rencana biaya, pembacaan gambar dilapangan, dan penyusunan rencana usulan kegiatan kelompok [ RUKK ] PERHITUNGAN BIAYA KONTRUKSI PERLUASA SAWAH. Hal hal yang harus diperhitungkan dalam rencana biaya kontruksi yaitu : Biaya land clearing yang di sesuaikan dengan jenis vegetasi lahan. Biaya land laveling , antara lain terdiri dari biaya penyisihan dan pengembalian top SOIL, pemadatan dan pemerataan tanah yang di sesuaikan dengan topografi lahan. Pembuatan galangan.

Pembuatan jalan usaha tani dalam hamparan perluasan sawah. Pembuatan jaringan irigasi / saluran air atau tat a air dalam hamparan perluasan sawah. Biaya pembuatan pematang batas pemilikan. Biaya untuk pekerjaan penunjang lainnya.

BAB III TENAGA AHLI DAN TANGGUNG JAWABNYA URAIAN PEKERJAAN TENAGA AHLI Untuk dapat mengatur pekerjaan yang efektif dan efisien serta untuk mendapatkan hasil akhir pekerjaan yang optimal dan dapat dipertanggungjawabkan, maka PT Hibar Wahana Persada akan menugaskan Tenaga Ahlinya. Tenaga Ahli perusahaan yang akan ditugaskan dalam pelaksanaan pekerjaan ini terdiri dari berbagai bidang keahlian yang berbeda, antara lain: Team Laeder ( Teknil Sipil) Tugas dan kewajiaban dalam pekerjaan ini adalah: Membuat rencana kerja tim. Menyusun struktur organisasi tim dan mengarahkan tugas masing-masing tenaga ahli dan staff pendukung teknis Mengkoordinasikan rencana dan program tim untuk mewujudkan hasil akhir proyek yang terpadu. Mengevaluasi dan memperbaiki kerja tim. Penyiapan pelaporan dan diskusi Melakukan pengumpulan data tinjauan peta tanah, peta tata guna lahan dan laporan laporan pertanian yang ada. Data tersebut bias didapat dari Kantor Desa atau Kantor Kelurahan, Badan Pusat Statistik (BPS) atau di instansi lainnya. Memastikan kecocokan tanah untu pertanian sawah irigasi. Melakukan klasifikasi lahan berdasarkan hasil kegiatan dilapangan. Berkoordinasi dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan keterpaduan hasil proyek. Ahli Desain Tenaga Ahli ini bertanggungjawab untuk : Merencanakan desain sawah .

Perencanaan saluran irigasi dan jalan usaha tani. Perhitungan debit air andalan. Penyiapan pelaporan dan diskusi. Tenaga Ahli Pemetaan ( Sarjana Geodesi) Tenaga Ahli ini bertanggungjawab untuk : Merencanakan dan memimpin pelaksanaan survey topografi dan pemetaan, melaksanakan pengolahan data hasil survey dan menghasilkan data yang dibutuhkan dalam perencanaan rinci. Melakukan pengumpulan data peta pada skala terbesar yang ada minimal 1 : 250.000 atau skala yang lebih detai. Data-data tersebut bisa didapat dari Kantor Desa setempat, Bakosurtanal, Dinas Pekerjaan umum atau Dinas terkait lainnya. Pengukuran topografi dilakukan untuk mendapatkan gambaran detail situasi lokali pekerjaan. Jenis pengukuran ini meliputi pekerjaa-pekerjaan sebagai berikut : Pembuatan peta situasi Perhitungan luas lahan dan pengmbaran peta lainnya. Membuta laporan yang diperlukan bersama team leader dan tenaga ahli lainnya. Membantu ketua tim dddalam persentasi hasil pekerjaan kepada Pengguna Jasa. Bertanggung jawab kepada Team Leader. Dibantu oleh staff ukur dan drafter dalam pelaksanaan pekerjaan. Tenaga Ahli Pertanian ( Sarjana Pertanian ) Tugas dan tanggungjawabnya dalam pekerjaan ini sebagai berikut : Merencanakan dan memimpin pelaksanaan survey pertanian dan survey social ekonomi, melaksanakan pengolahan data hasil survey dan menghasilkan data yang dibutuhkan dalam pembuatan laporan. Memastikan kecocokan tanah untu pertania sawah irigasi. Melakukan penelitian kondisi tanah dan air dilikasi rencana percatakan sawah. Membuat lapoarn yang diperlukan bersama team leader dan tenaga ahli yang lain. Membantu ketua tim dalam persentasi hasil pekerjaan kepada Pengguna Jasa.

STRUKTUR PELAKSANAAN PEKERJAAN Struktur Organisasi Pekerjaan, struktur Tenaga Ahli dan Jadwal Pekerjaan Personil Dapat dilihat pada Tabel 3.1 ,Tabel 3.2 sebagai berikut.

BAB IV KONDISI REGIONAL KABUPATEN BANGKA SELATAN 4.1 Lokasi dan Administrasi Lokasi pelaksanaan kegiatan yaitu berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Bangka Selatan (Gambar 2.1).

Gambar 2.1. Lokasi Kajian di Kabupaten Bangka Selatan Kabupaten Bangka Selatan terletak di Pulau Bangka dengan luas wilayah lebih kurang 3.607,08 Km2 atau 360.708 Ha. Secara geografis Kabupaten Bangka Selatan terletak pada 2 26' 27" - 3 5' 56" Lintang Selatan dan 107 14' 31" - 105 53' 09" Bujur Timur. Secara administratif wilayah Kabupaten Bangka Selatan berbatasan langsung dengan daratan wilayah kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu dengan wilayah Kabupaten Bangka Tengah. Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari 7 Kecamatan, 3 kelurahan dan 50 desa serta didukung 160 dusun/lingkungan, dengan jumlah penduduk pada tahun 2008 sebanyak 161.087 jiwa.

DEMOGRAFI Jumlah Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Bangka Selatan pada tahun 2008 sebesar 161.087 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 45 orang per Km2. Dari seluruh kecamatan, kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Tukak Sadai yaitu 105 orang per Km2, sedangkan yang terendah terdapat di Kecamatan Air Gegas yaitu 40 orang per Km2. Jumlah penduduk laki-laki pada tahun 2008 sebanyak 82.042 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 79.045 jiwa. Rasio jenis kelamin tahun yang sama sebesar 104, artinya pada tahun 2008 untuk setiap 204 penduduk di Kabupaten Bangka Selatan terdapat 100 penduduk perempuan dan 104 penduduk laki-laki. Rasio jenis kelamin ini bervariasi di tingkat kecamatannya dan yang tertinggi pada Lepar Pongok yang mencapai 111. Untuk lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010

No. Kecamatan Luas Daerah (km2) Laki-laki Perempuan Jumlah/ Total Rata-rata penduduk per km2 1 Toboali 1.460,34 27.160 26.199 53.279 37 2 Air Gegas 853,64 18.108 17.133 35.241 40 3 Payung 372,95 9.430 8.662 18.192 49 4 Simpang Rimba 362,30 10.353 9.972 20.325 56 5 Lepar Pongok 261,98 6.536 5.848 12.374 47 6 Tukak Sadai 126,00 6.715 6.533 13.248 105 7

Pulau Besar 169,87 4.383 4.045 8.428 50 Total 2008 3.607,08 82.042 79.045 161.087 45 Sumber : BSDA 2008/2009 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa Kecamatan Toboali mempunyai jumlah penduduk terbanyak (33,07%) dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Bangka Selatan. Akan tetapi dari sisi kepadatan penduduk, maka Kecamatan Tukak Sadai merupakan kecamatan terpadat dengan 105 jiwa/km2 IKLIM Iklim merupakan salah satu faktor yang menentukan untuk pertumbuhan tanaman maupun terhadap faktor lingkungan lainnya. Dalam evaluasi lahan iklim menjadi salah satu parameter penentu, selain faktor tanah dan terrain. Kabupaten Bangka Selatan beriklim Tropis Tipe A dengan variasi curah hujan antara 58,3 hingga 476,3 mm tiap bulan untuk tahun 2007 dengan curah hujan terendah pada bulan Agustus. Keadaan iklim khususnya curah hujan berdasarkan peta wilayah curah hujan P. Sumatera (Balitklimat, 2003), Kabupaten Bangka Selatan dibedakan atas 2 pola curah hujan, yaitu pola IIB dan IIIC (Tabel 2.10). Pola IIB adalah daerah yang mempunyai curah hujan tahunan 1000-2000 mm pertahun atau beriklim agak kering dengan bulan basah (>200mm/bulan) 6-8 bulan dan bulan kering (<100mm/bulan) selama <4 bulan, curah hujan 100-150 mm/bulan <4 bulan dan curah hujan 150-200 mm/bulan selama <5 bulan. Pola IIB terdapat di wilayah bagian timur disekitar Toboali sampai Pulau Lepar. Tabel 4.2 Pola curah hujan daerah Kabupaten Bangka Selatan CURAH HUJAN POLA TIPE IKLIM CH < 100 CH 100 - 150 CH 150 - 200 CH > 200 TAHUNAN (mm) (mm/bln) (mm/bln) (mm/bln) (mm/bln) (mm/bln)

IA 7 - 10 <4 <3 <2 < 1000 IB 8 - 12 <3 0 0 IC IKLIM 8-9 <2 <2 <2 IIA KERING 5-8 <3 <2 <4 1000 - 2000 IIB <4 <5 <5 <4 IIC <5 <5 <6 <5 IIIA <6 <4 <5 <6 2000 - 3000 IIIB

<4 <4 <5 5-6 IIIC IKLIM <4 <4 <5 6-8 IVA BASAH <2 <3 <4 7-9 3000 - 4000 IVB <2 <3 <3 8 - 11 IVC <3 <4 <4 7-9 IVD <1 <3 <5 7-9 Sumber : Peta Sumberdaya Iklim Pertanian Indonesia (Balitklimat, 2003). Pola IIIC adalah daerah yang mempunyai curah hujan tahunan 2000-3000 mm pertahun atau beriklim sedang sampai basah dengan bulan basah (>200mm/bulan) <4 bulan dan bulan kering (<100mm/bulan) selama <4 bulan, curah hujan 100-150 mm/bulan <5 bulan dan curah hujan 150-200 mm/bulan selama <5 bulan. Wilayah pola IIIC terdapat di bagian tengah hingga barat daerah Bangka Selatan. Keadaan curah hujan di daerah Kabupaten Bangka Selatan dari 1 stasiun pengamat, yakni di Pangkal Pinang (Tabel 2.11), menunjukkan bahwa curah hujan tahunan 2.735 mm, dengan

curah hujan terendah pada bulan Agustus sebesar 58 mm dan tertinggi pada bulan Januari (476 mm). Berdasarkan kriteria Oldeman (1975), daerah ini termasuk Zona Agroklimat B2, yaitu zona agroklimat yang mempunyai curah hujan bulan basah (>200 mm/bulan) berturutturut selama 7-9 bulan, dan bulan kering (<100 mm/bulan) berturut-turut selama 2-3 bulan. Namun dari peta Agroklimat P. Sumatera (Gambar 2.2) daerah Kabupaten Bangka Selatan termasuk Zona Agroklimat B1, yaitu zona agroklimat yang mempunyai curah hujan bulan basah (> 200 mm/bulan) berturut-turut selama 7-9 bulan, dan bulan kering (< 100 mm/bulan) berturut-turut selama <2 bulan Tabel 4.3 Curah hujan, arah angin dan kecepatan angin di stasiun Pangkal Pinang( Januari s/d desember 2009 ) Bulan Curah Hujan (mm) Hari Hujan (Hari) Arah Angin Terbanyak Kecepatan Angin Rata-rata Januari 476 25 BL 4,2 Februari 169 16 BL 5,1 Maret 192 18 U 4 April 228 24 U 2,9 Mei 280 19 T 5,5 Juni 212 21 S 5,4 Juli 258 18 T

7 Agustus 58 11 T 10,8 September 85 15 S 9,5 Oktober 209 15 T 5,9 November 241 20 B 3,5 Desember 329 23 BL 4 Rata-rata 19 T 6 Jumlah 2.735 Sumber : Stasiun Meteorologi Pangkalpinang ( Th 2009 ) Berdasarkan pola curah hujan dan data curah hujan di stasiun pengamat iklim Pangkalpinang, menunjukkan bahwa keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Bangka Selatan tergolong cukup baik untuk pertumbuhan berbagai komoditas pertanian. Unsur iklim lainnya yaitu suhu rata-rata daerah Kabupaten Bangka Selatan berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Pangkalpinang menunjukkan variasi antara 26,00 Celcius hingga 27,30 Celcius. Sedangkan kelembaban udara bervariasi antara 77,4 hingga 87,3 persen pada tahun 2007. Sementara, intensitas penyinaran matahari pada tahun 2007 rata-rata bervariasi antara 30,0 hingga 70,4 persen dan tekanan udara antara 1008,1 hingga 1010,8 mb (Tabel 4.3). Tabel 4.4 Tekanan Udara, Suhu Udara, Kelembaban Udara dan Penyinaran Matahari Rata-rata menurut Bulan di Kabupaten Bangka Selatan (bulan januari s/d desember) Bulan

Tekanan Udara rata-rata Suhu Udara Kelembaban Udara rata-rata Penyinaran matahari rata-rata Max Min Ratarata 01. Januari 1010,8 30,2 23,8 26,3 86,3 33,4 02. Februari 1010,7 30,6 23,2 26,1 84,4 50,1 03. Maret 1009,6 31,3 23,2 26,5 84,0 49,4 04. April 1009,7 31,6 23,7 26,6 85,1 46,0 05. Mei 1009,6 31,5 24,2 27,3 83,4 34,4 06. Juni 1008,1 31,5 24,0 27,2 83,2

44,3 07. Juli 1009,7 30,5 24,0 26,7 82,4 49,0 08. Agustus 1009,8 31,3 24,0 27,2 77,4 70,4 09. September 1009,7 31,6 23,9 27,2 78,1 65,9 10. Oktober 1009,5 31,7 24,1 27,2 80,0 56,0 11. November 1009,4 30,4 23,9 26,4 85,5 31,2 12. Desember 1008,6 30,0 23,4 26,0 87,3 30,0 Rata-rata 1009,6 31,0 23,8 26,7 83,0 46,7

Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Pangkalpinang (th 2009) Gambar 4.4 Peta Zona Agroklimat Sumatera Bagian Selatan

Geologi dan Bahan Induk Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bangka Selatan Sumatera Skala 1:250.000 (Puslitbang Geologi, 1995), daerah penelitian wilayah Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari beberapa formasi yaitu formasi Tanjung Genting (TRt), formasi Granit Klabat (TRjkg), Aluvium (Qa), formasi Ranggam (TQr) dan formasi Malihan Pemali (Cpp) (Gambar 4.5). Gambar 4.5 Peta Geologi skala 1:250.000, Kabupaten Bangka Selatan dan sekitarnya Formasi Tanjung Genting (TRt) diperkirakan berumur Trias Awal dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal terdiri dari perselingan batupasir (sandstone) kelabu kecoklatan berbutir halus-sedang terpilah baik, keras, dengan struktur sedimen silang siur, dan batuliat (claystone), kelabu kecoklatan berlapis baik. Formasi Granit Klabat (TRjkg), merupakan formasi batuan terobosan berumur Trias akhir Jura Awal yang menerobos formasi Tanjung Genting dan komplek Malihan Pemali, terdiri dari granit biotit, granodiorit dan granit genesan. Formasi Ranggam (TQr), terdapat hanya sedikit di daerah pantai bagian timur sekitar Lesat atau Paya Pangkat, berumur Miosen Akhir Plistosen Awal dan diendapkan di lingkungan fluvial, merupakan perselingan batupasir, batuliat dan konglomerat. Formasi Malihan Pemali (Cpp) hanya sedikit di sebelah barat daya Air Bara sampai ke Paku, terdiri dari fillit, sekis dan kuarsit. Umur formasi ini tidak diketahui dengan pasti tetapi kedudukannya ditindih tidak selaras oleh formasi Tanjung Genting (TRt). Formasi Aluvium (Qa) terdapat cukup luas di daerah merupakan bahan endapan yang terdiri dari lumpur, liat, pasir, kerikil dan kerakal yang terdapat sebagai endapan sungai, endapan rawa dan endapan pantai. Berdasarkan data dari peta geologi, sebagian besar tanah-tanah di daerah penelitian terutama tanah yang menempati dataran tektonik struktural berkembang dari bahan induk batuan sedimen halus yang berupa batuliat (f) dan batuan sedimen kasar yang berupa batupasir (q). Tanah yang terbentuk dari batuan sedimen ini umumnya mempunyai kandungan kongkresi batu besi (ironstone) yang cukup banyak di dalam penampang tanahnya. Sebagian tanah terutama pada daerah perbukitan terbentuk dari batuan volkan intrusi yang berupa batuan granit. Tanah yang berkembang dari batuan granit umumnya mempunyai kandungan pasir kuarsa dengan ukuran kasar yang cukup tinggi. Tanah pada daerah dataran aluvial, pelembahan dan di sekitar jalur aliran sungai terbentuk dari bahan aluvium yang terdiri dari bahan endapan liat, pasir dan campuran (u). Landform dan Bentuk Wilayah Berdasarkan hasil interpretasi citra landsat, yang ditunjang dengan data radar (SRTM), peta geologi dan pengamatan di lapangan, daerah penelitian terdiri dari 4 grup landform, yaitu: grup tektonik dan struktural, grup Volkan, grup aluvial dan grup marin (Tabel 4.6). Tabel 4.6 Luas masing-masing grup landform di Kabupaten Bangka Selatan SIMBOL GRUP LANDFORM LUAS

Ha % A Aluvial 65.725 18,22 M Marin 32.880 9,12 T Tektonik 163.655 45,37 V Volkan 84.970 23,56 X Aneka : 13.479 3,74 - Tambang 12.937 3,59 - Badan Air 452 0,13 - Tambang / pemda 89 0,02 TOTAL 360.708 100,00

Grup Aluvial (Alluvial Landforms) adalah landform yang terbentuk dari bahan endapan (resen dan subresen) yang terbentuk dari proses fluvial (aktivitas sungai), koluvial (gravitasi), atau gabungan dari proses fluvial dan koluvial. Di daerah penelitian dijumpai berupa dataran aluvial (A.1.3), jalur aliran (A.1.5), tanggul sungai (A.1.1.2.1), dan rawa belakang (A.1.1.2.2), dengan bentuk wilayah umumnya datar sampai agak datar. Luas grup aluvial + 65.725 ha atau 18,22% dari luas total Bangka Selatan. Grup Marin (Marine Landforms) adalah landform pantai yang terbentuk dari proses pengendapan bahan yang dipengaruhi oleh aktifitas laut. Berdasarkan pengamatan di lapangan diketemukan beberapa sub landform marin yaitu pesisir pasir (M1.2), punggung dan cekungan pesisir (beach ridges and swales) (M1.1), dataran pasang surut pantai (M.2.2), dan

beting pantai (M.1.4), dengan bentuk wilayah agak datar sampai datar. Luas landform marin + 32.880 ha atau 9,12%. Grup Tektonik dan Struktural (Tectonic and Structural) adalah landform yang terbentuk sebagai akibat proses tektonik (orogenesis dan epirogenesis) berupa proses angkatan, lipatan dan atau patahan yaitu landforms dengan proses pengangkatan lebih lanjut sehingga terbentuk lipatan atau patahan yang ditunjukkan oleh lapisan-lapisan geologi yang terlipat atau tidak menyambung. Landform dataran yang dibedakan berdasarkan relief menjadi dataran tektonik struktural dengan bentuk wilayah datar (T.111), dataran tektonik struktural berombak (T.112), dataran tektonik struktural bergelombang hingga berbukit kecil (T.113), dan perbukitan tektonik struktural (T.121). Landform tektonik merupakan landform terluas di Bangka Selatan yakni + 163.655 ha atau 45,37% dari luas total Bangka Selatan. Grup Volkan yang terdapat di Bangka Selatan merupakan lanform volkan intrusif yang dibedakan menjadi perbukitan volkan (V3.2) dan dataran volkan (V3.1) dengan bentuk wilayah agak datar, berombak, bergelombang hingga berbukit kecil. Luasnya meliputi + 84.970 ha atau 23,56% dari luas total Bangka Selatan. Bentuk wilayah di Bangka Selatan dibedakan 5 kelas, yakni: datar-agak datar, berombak, bergelombang, berbukit kecil dan berbukit. Luas masing-masing kelas bentuk wilayah disajikan pada Tabel 4.7

Tabel 4.7 . Luas masing-masing bentuk wilayah di Kabupaten Bangka Selatan KODE SPT BENTUK WILAYAH LERENG (%) LANDFORM LUAS Ha % L Datar 0-2 Aluvual, Marin 40.448 11,21 NL Agak datar 1-3 Aluvial, Marin 82.308 22,82 U Berombak 3-8 Tektonik, Volkan

112.458 31,18 R Bergelombang 8 - 15 Tektonik, Volkan 82.803 22,96 R-H Berbukit kecil 15 - 25 Tektonik, Volkan 16.917 4,69 H Berbukit curam 25 - 45 Tektonik, Volkan 12.296 3,41 A Aneka :

13.478 3,74 Ti - Tambang

12.937 3,59 X3 - Badan Air

452 0,13 Ti2 - Tambang / pemda

89 0,02 TOTAL 360.708 100,00

Dari Tabel 4.7 tampak bahwa bentuk wilayah yang paling dominan di Bangka Selatan adalah berombak (112.458 ha atau 31,18%), kemudian bergelombang (82.803 ha atau 22,96%), agak datar (82.308 ha atau 22,82%) dan datar (40.448 ha atau 11,21%). Bentuk wilayah berbukit dan berbukit kecil masing-masing kurang dari 5%.

BAB V KONDISI WILAYAH PEKERJAAN

V.1

Peralatan Survey Pekerjaan SID Suka jaya

GPS Handheld Garmin 76 CSX Teodholit Wild T0 ( 1set) Kamera Digital Laptop

V.2 Kondisi Administratif Desa Suka jaya Daerah pekerjaan SID Percetakan Sawah terletak di Desa Suka jaya, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan. Secara administratif Kecamatan Pulau Besar terdiri atas : Desa Panca Tunggal Desa Suka jaya

Desa Sumber Jaya Permai Desa Sukajaya Desa Batu Betumpang V.3 Lokasi pekerjaan dapat ditempuh melalui :

1. Ibukota provinsi : dari Kota Pangkalpinang ke lokasi pekerjaan dapat ditempuh melalui perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan bermotor baik mobil ataupun motor menuju Desa Suka jaya. Dari Pusat Desa Suka jaya (Kantor Kades Suka jaya) menuju lokasi pekerjaan berjarak kurang lebih 5 km. Ibukota Kabupaten : dari Kota Toboali ke lokasi pekerjaan dapat ditempuh melalui perjalanan darat dengan menggunakan kendaraan bermotor baik mobil ataupun motor menuju Desa Suka jaya. Dari Pusat Desa Suka jaya (Kantor Kades Suka jaya) menuju lokasi pekerjaan berjarak kurang lebih 2 km. Secara umum kondisi lahan rencana percetakan sawah di Desa Sukajaya merupakan rawa rawa yang ditumbuhi oleh vegetasi berupa semak belukar dan sebagian hutan dengan pohonpohon dengan diameter antara 10 s.d 15 cm. Lahan yang akan direncanakan sebagai lokasi percetakan sawah merupakan lahan yang masih belum tersentuh atau digarap untuk percetakan sawah. Jadi kondisinya masih lahan alami dimana selama ini juga sebagai tempat bagi penduduk sebagai sumber mata pencarian mereka. Di tengah-tengah rencana lokasi percetakan sawah tersebut mengalir sebuah sungai kecil dengan lebar kurang lebih 5 meter. Di sungai itulah setiap harinya para penduduk mencari ikan.

Kondisi Sungai di Lokasi Pekerjaan

Rencana Lokasi Pekerjaan

Rencana Lokasi Pekerjaan

Rencana Lokasi Pekerjaan

Lokasi Akses Menuju Lokasi

Jalan Utama Desa Sukajaya

Sket Lokasi Rencana Percetakan Sawah Desa Sukajaya

V.4 Kondisi Geografis Luas rencana lokasi percetakan sawah di Desa Sukajaya berdasarkan hasil survey dan identifikasi di lapangan dengan para penduduk setempat dapatlah diketahui luas lahan yang akan di garap seluas kurang lebih 120 Ha. Secara geografis lokasi pekerjaan yang terletak di Desa Sukajaya, Kec. Pulau Besar, Kab. Bangka Selatan dapat digambarkan dengan sebaran titik titik koordinat di bawah ini yaitu : No X (mE) Y (mN) 1 628272 9697650 2 628051 9697490 3 628104 9697279 4 628210 9697041 5 628287 9696874 6 628254 9696754 7 628163 9696730 8 628036 9696731 9

627850 9696685 10 627777 9696535 11 627621 9696481 12 627601 9696426 13 627734 9696371 14 627826 9696398 15 627871 9696349 16 627809 9696211 17 627879 9696099 18 627851 9696055 19 627805 9696067 20 627733 9696050 21 627699 9695984 22 627705 9695929 23 627665 9695916 24 627593 9695924 25 627536 9695952

26 627563 9696158 27 627437 9696189 28 627321 9696157 29 627396 9696083 30 627377 9695981 31 627273 9695870 32 627209 9695837 33 627141 9695826 34 627099 9695983 35 626955 9696050 36 626845 9696051 37 626770 9696085 38 628045 9697845

V.5 Kondisi Tutupan Lahan Berdasarkan Peta Penutupan Lahan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Bangka Belitung tahun 2005, secara regional penutupan lahan di Kabupaten Bangka Selatan dapat dibedakan menjadi : Hutan Produksi (HP), Hutan Lindung (HL), dan Areal Penggunaan Lain (APL). Dari hasil survey dilapangan dan setelah melalui proses pengolahan data, maka dapatlah diketahui bahwa lokasi pekerjaan SID di Desa Sukajaya merupakan Areal Penggunaan Lain

(APL) yaitu areal yang dapat dikembangkan atau digunakan untuk perkebunan, persawahan, dan lainnya.

BAB VI STANDAR TEKNIS DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA VI.1 KONSTRUKSI PERLUASAN SAWAH Dalam pelaksanaan konstruksi diperlukan tahapan-tahapan sebagai berikut:

Persiapan Petani

Persiapan petani diperlukan dalam rangka memperlancar pelaksanaan konstruksi perluasan areal sawah, oleh karena itu diperlukan usaha-usaha sebagai berikut :

a.Sosialisasi kepada Petani. Sosialisasi kepada petani peserta perluasan sawah dilakukan untuk memberikan pengertian terhadap kegiatan perluasan sawah, tata cara dan pentahapan pelaksanaan kegiatan konstruksi perluasan areal sawah serta pemanfaatan lahan sawah baru yang nantinya dilaksanakan oleh petani sendiri. Dengan demikian diharapkan petani dapat lebih berpartisipasi didalam pelaksanaan konstruksi perluasan sawah dan pemanfaatannya. Sosialisasi kepada petani ini dilaksanakan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten atau PPL. b.Pendaftaran Ulang Petani. Mengingat adanya tenggang waktu antara pelaksanaandesain dengan pelaksanaan konstruksi yang memungkinkan adanya perubahan-perubahan terhadap status pemilikan tanah dan vegetasi lahan pada calon lokasi perluasan sawah, maka masih diperlukan pendaftaran ulang petani peserta. Dengan pendaftaran ulang ini akan diperoleh kepastian nama-nama petani dan status pemilikan tanah serta jenis vegetasinya. Pendaftaran ulang petani ini dilakukan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten dan dibantu oleh PPL. c.Pengajuan Surat Permohonan dan Pernyataan Kesanggupan Petani. Petani mengajukan Surat Permohonan dan Pernyataan Kesanggupan melaksanakan kegiatan perluasan sawah kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang menanganikegiatan perluasan sawah. Petani yang diperkenankan mengajukan surat Permohonan hanyalah petani pemilik penggarap/penggarap yang berdomisili di dalam desa atau daerah Kecamatan dari lokasi dengan mata pencaharian utamanya dari usahatani. Surat ini dibuat untuk masingmasingpetani dengan data-data lokasi, foto copy keterangan identitas, pernyataan permohonan dan kesanggupan serta tanda tangan petani yang bersangkutan. 2. Persiapan Administrasi Kegiatan konstruksi perluasan sawah pada tahun 2011 dilakukan oleh pihak ketiga/kontraktor yang berbadan hukum. Penentuan dan pemilihan pemborongan pekerjaan kepada kontraktor dilakukan dengan cara pelelangan dengan berpedoman pada Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan jasa Pemerintah. 3. Persiapan Lapangan a. Penyediaan direksi kit/Saung Tani

Tujuan pembuatan direksi kit atau tempat lainnya yang sejenis dilokasi adalah untuk tempat persiapan dan penyimpanan peralatan dalam menunjang kelancaran kegiatan di lapangan. b. Pemeriksaan lapangan. Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh Koordinator Lapang/Tim Teknis dari Dinas lingkup pertanian yang menangani perluasan areal sawah di Kabupaten bersama Camat, Kepala Desa dan Petani Pemilik Penggarap / Penggarap dengan berpedoman pada Rencana Usaha Kegiatan Kelompok (RUKK) dan desain perluasan sawah guna mencocokkan dengan keadaan sesungguhnya di lapangan. Halhal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan lokasi antara lain: 1) Batas batas areal lokasi yang akan dikerjakan. 2) Batas batas dan luas pemilikan lahan yang akan dikerjakan. 3) Nama nama petani dan keadaan vegetasi. c. Pemasangan patok patok batas pemilikan. Dalam pemasangan patok-patok dilakukan oleh : 1) Pemasangan patok batas pemilikan dilakukan oleh Petani sendiri dengan disaksikan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten, Camat dan Petani Pemilik Penggarap / Penggarap serta Kepala Desa. Apabila patokpatok batas pemilikan lahan hilang, maka harus dipasang patokpatok baru batas pemilikan lahan tersebut oleh petani yang bersangkutan. 2) Setelah pekerjaan konstruksi selesai, maka patok patok tersebut dipasang kembali dengan disaksikan oleh petugas Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten, Camat, Kepala Desa dan Petani. 3) Lokasi yang telah selesai dikonstruksi diperiksa dan diukur ulang oleh Koordinator lapang/Tim Teknis bersama petani untuk mendapatkan gambaran yang pasti terhadap luasannya. d. Pembuatan Dokumentasi (Foto dan Video). Kelompok Tani pelaksana yang dibantuan oleh Tim Teknis/Koordinator lapangan harus membuat foto atau video yang menggambarkan : 1) Lokasi sebelum pekerjaan konstruksi perluasan sawahdilaksanakan. 2) Pada saat tahap pekerjaan konstruksi perluasan sawahdi laksanakan. 3) Pada saat pekerjaan konstruksi perluasan sawah baru selesai di laksanakan.

e. Pembuatan rencana kerja. Kelompok Tani harus membuat rencana kerja mingguandan bulanan yang disampaikan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) setelah mendapatkan persetujuan dari Tim Teknis/Koordinator Lapangan dengan mendasarkan kepada Jadual palang pelaksanaan kegiatan. 4. Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah a. Pekerjaan kontruksi perluasan sawah pada daerah irigasi dan tadah hujan. Ketentuanketentuan pekerjaan konstruksi perluasan sawah sebagai berikut : 1) Konstruksi perluasan sawah terdiri dari land clearing dan land leveling, pembuatan pematang batas pemilikan, pembuatan jaringan irigasi tingkat usahatani, jaringan drainase, pembuatan pintupintu bagi tersier, pintu klep dan pembuatan jalan usahatani serta prasarana lain yang bersifat pelayanan umum. 2) Pelaksanaan konstruksi tidak diperbolehkan merusak fasilitas lingkungan yang sudah ada misalnya, jalandesa, sungai, areal pompa air, saluran yang sudah ada dan lain sebagainya. Bila terjadi kerusakan sebagai akibat pelaksanaan konstruksi atau pekerjaaan konstruksi/ prasarana lain, maka perbaikannya menjadi tanggung jawab kelompok. 3) Pekerjaan konstruksi perluasan sawah harus dilaksanakan dalam satu hamparan yang mengelompok, sehingga memudahkan dalam usaha taninya. 4) Pembangunan prasarana lain yang menunjangperluasan sawah dapat dilaksanakan apabila kegiatan tersebut bersifat mendesak (betul betul diperlukan) menyangkut kepentingan umum seperti pembuatan talang, gorong gorong dan lain-lain. 5) Pelaksanaan pekerjaan perluasan sawah dapat melibatkan petani diluar wilayah tersebut sejauh jumlahtenaga kerja yang ada masih kurang dengan mendasarkan kepada kesepakatan bersama kelompok tersebut (musyawarah kelompok). 6) Kegiatan land clearing antara lain dapat dirinci sebagai berikut : a) Pembabatan / Penebasan semak belukar. Tujuan dilakukannya pembabatan/penebasan semak belukar termasuk pohon pohon kecil yang berdiameter kurang dari 10 cm dan tumbuhan strata bawah berketinggian 1 m, untuk membuka area serta membuat ruang pandang pada pekerjaan berikutnya. b) Penebangan /Penumbangan pohon pohonan. Penebangan/Penumbangan dilakukan terhadap pohon-pohon yang berdiameter lebih dari 10 cm dengan masih menyisakan tunggul. Sedangkan pohon pohon yang berdiameter lebih dari 30 cmdapat dilakukan dengan penumbangan atau perobohan.

c) Pemotongan/ perencekan dan pegumpulan batang, cabang dan ranting. Untuk memudahkan pembersihan hasil penebangan, maka dilakukan pemotongan/ perencekan pohon, cabang dan ranting rantingnya. Sisa-sisa pemotongan/ perencekan dikumpulkan pada suatu tempat yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh kelompok atau masyarakat sekitarnya. d) Pembersihan lahan. Semua sisa-sisa hasil pembabatan, pemotongan/ perencekan, pencabutan akar dan sampah sampah yang ada di lokasi harus dibersihkan/ disingkirkan dari lokasi yang akan dicetak. 7) Kegiatan land leveling dapat dirinci sebagai berikut: a) Penggalian dan penimbunan tanah.Dalam upaya mendapatkan lahan yang datar untuk memudahkan konstruksi perluasan sawah, maka lahan-lahan yang mengalami kemiringan harus dilakukan perataan dengan melakukan penggalian pada daerah yang lebih tinggi dan penimbunan pada daerah yang lebih rendah dengan memperhatikan aspek kesuburan lahan (hindari kerusakan aspek kesuburan lahan akibat penggalian dan penimbunan) b) Perataan tanah. Untuk memperoleh lahan yang datar, maka setelah dilakukan penggalian dan penimbunan dilakukan perataan dan pemadatan sederhana terutama pada bagian timbunan. Perataan tanah dilakukan sesuai dengan kemiringan yang diperbolehkan dan lahan tersebut sudah siap untuk dicetak c) Pemadatan lereng talud teras. Untuk mencegah terjadinya erosi tanah pada lahan yang telah dicetak, maka pada lereng talud teras dilakukan pemadatan. d) Pembuatan jalan usahatani (JUT). Pembuatan jalan usahatani pada hamparan perluasan sawah bertujuan untuk memudahkan pengangkutan saprodi, alat mesin dan hasil panendari atau ke lokasi perluasan sawah. e) Pembuatan jaringan irigasi Pembuatan jaringan irigasi dan pintu-pintu bagipada hamparan perluasan sawah bertujuanuntuk menyalurkan air dari atau ke lokasi perluasan sawah untuk memenuhi kebutuhan air dalam pengelolaan sawah. f) Pembuatan pematang batas pemilikan. Untuk memudahkan penentuan kepemilikan lahan petani, dibuat suatu pematang atau pembatas antar petak-petak sawah petani yang telah dicetak. Hal ini bertujuan agar jangan terjadinya kekeliruan atau kerancuan dalam kepemilikan dan pengolahan lahan yang telah dicetak. g) Penyiapan lahan siap tanam. Penyiapan lahan melalui pengolahan tanah dimaksudkan untuk memudahkan petani dapat menanam segera setelah sawah selesai dicetak, agar sawah tidak menyemak kembali.

VI.2 PENGAWASAN DAN PENYERAHAN HASIL PEKERJAAN Pengawasan / Supervisi pekerjaan perluasan sawah dilakukan oleh pihak ketiga / konsultan supervisi yang di tunjuk oleh pemerintah daerah dalam hal ini dinas pertanian dan peternakan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dengan berpedoman pada Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010. A. Ruang lingkup dan pelaksanaan pekerjaan Tim Konsultan Supervisi Lapangan meliputi: 1) Memeriksa patokpatok batas areal yang akandikonstruksi, patokpatok batas pemilikan lahan dan luasnya. Hal ini dilakukan bersamasama dengan kelompok tani dengan disaksikan Camat dan atau Lurah/Kepala Desa wilayah tersebut. 2) Melakukan penyesuaian/ perbaikan desain pembukaan lahan, apabila dijumpai ketidak sesuaian antara keadaan di lapangan dengan desain pembukaa perlusan areal. Penyesuaian desain ini digambarkan langsung pada peta desain yang ada dan ditandatangani oleh Tim Teknis/Koordinator Lapangan serta disetujui oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten. 3) Memeriksa hasil pekerjaan Kelompok tani yang didasarkan atas Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK) dan perjanjian kerja sama pekerjaan konstruksi pembukaan lahan. disetujui oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten. 4) Memberikan petunjuk dan arahan teknis kepada kelompok tani pelaksana konstruksi perluasan areal sawah dan tembusannya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang menangani perluasan areal sawah. 5) Membuat Berita Acara Pemeriksaan Hasil Pekerjaan yang berisi tentang : (1) Luas lahan yang selesai di konstruksi, (2) Namanama petani yang lahannyasudah selesai di konstruksi dan (3) Kemajuan pekerjaan yang tergambar di dalam desain perluasanareal sawah yang menunjukkan bahwa areal tersebut sudah selesai dikonstruksi maupun yang sedangdalam pelaksanaan. Berita Acara tersebut ditandatangani oleh Tim Teknis/Koordinator Lapangan dan Kelompok Tani (dalam hal ini Ketua Kelompok) serta diketahui oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Selaku Kuasa Pengguna Anggaran. B. Hasil Pekerjaan Konsultan Jasa Supervisi 1. Hasil pengawasan pekerjaan dibuat dalam suatu Berita Acara 2. Berita Acara supervise pekerjaan tersebut dibuat sesuai dengan prestasi pekerjaan yang di capai oleh kontraktor 3. Pemeriksan hasil pekerjaan konsultan jasa supervise oleh Tim pemeriksa. Pemeriksaan hasil pekerjaan konsultan supervise dilakukan oleh: a. Tim Pemeriksa Pekerjaan

b. Tim Pemeriksa di bentuk oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang menangani kegiatan pengembangan lahan. C. Pembayaran Hasil Pekerjaan Konsultan Jasa Supervisi Pembayaran pekerjaan konsulta jasa supervise dilakukan secara bertahap, berdasarkan presentase luas lahan yang 100% selesai di buat dan telah di periksa oleh Tim pemeriksaan dengan dibuktikan dalam suatu Berita Acara serah terima Hasil Pengawasan Pekerjaan. D. Penyerahan hasil Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah Setelah Berita Acara Pengawasan Pekerjaan ditanda tangani, selanjutnya diajukan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang menangani perluasan areal untuk dipergunakan sebagai dasar dalam pembuatan Berita Acara Penyerahan Hasil Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah. Berita Acara Penyerahan Hasil Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah baru ditanda tangani oleh Kelompok Tani dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang menangani perluasan areal. F. Pembayaran Hasil Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah Pembayaran hasil pekerjaan untuk pelaksanaan konstruksi perluasan sawah mengikuti ketentuan sebagai berikut : a. Transfer uang ke rekening kepada pelaksana sesuai ketentuan berdasarkan Perpres no.53 tahun 2010. b. Pembayaran hasil pekerjaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan prestasi pekerjaan yang dicapai (luas areal yang 100% selesai dikerjakan buka pertahap kegiatan) yang dinyatakan dengan Berita Acara Penyerahan Hasil Pekerjaan Konstruksi Perluasan Sawah. G.Pelaporan Pihak pelaksana/kontraktor secara berkala (1 bulan sekali) menyampaikan laporan hasil pelaksanaan kepada kuasa pengguna anggaran Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten. VI.3 PEMANFAATAN SAWAH BARU Lahan sawah baru yang telah selesai dicetak harus segera dimanfaatkan/ditanami oleh petani dengan tanaman padi. Alokasi anggaran untuk kegiatan pemanfaatan sawah baru (penyediaan Saprotan antara lain benih, pupuk, pestisida dan juga dapat berupa alat mesin pertanian) menjadi satu kesatuan dengan kegiatan konstruksi. Bila dimungkinkan dari anggaran saprotan yang tersedia, diarahkan untuk pengadaan alat mesin pertanian (hand traktor), sedangkan untuk benih, pupuk, dan pestisida diharapkan dari swadaya masyarakat atau sumber pembiayaan lainnya. 2. Bantuan saprotan berdasarkan kesepakatan petani dapat digunakan untuk penguatan kelembagaan dan pemberdayaan petani.

3. Kegiatan pemanfaatan lahan sawah baru meliputi pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen dan pemeliharaan prasarana. 4. Dalam melaksanakan pemeliharaan prasarana tersebut dibuat rencana pemeliharaan mulai dari pemeliharaan saluran irigasi, batas, galengan, batas pemilikan dan bangunan pelengkap. Selain itu dibuat jadwal pemeliharaan mulai dari pemeliharaan rutin, pemeliharaan ringan, pemeliharaan berat, perbaikan jika terjadi bencana dan pemeliharaan tanaman. VI.4 INDIKATOR KINERJA PERLUASAN SAWAH Dalam rangka menunjang peningkatan produksi tanaman pangan khususnya padi, dukungan sarana perluasan sawah diharapkan dapat memberikan hasil dan dampak bagi penerima manfaat. Secara kualitatif indikator kinerja kegiatan perlusan areal sawah adalah sebagai berikut: A. Indikator Masukan (Input) Dalam pelaksanaan perluasan sawah beberapa hal pokok yang merupakan masukan / input meliputi antara lain : Penyedian anggaran baik yang berasal dari pemerintah (APBN,APBD), bantuan luar negeri, swasta maupun masyarakat sendiri. 2. Data potensi lahan sawah pada berbagai tipologi lahan. 3. Hasil monitoring dan pelaporan pada berbagai wilayah. 4. Hasil koordinasi dengan instansi terkait. B. Indikator Keluaran (Output) Indikator keluaran yang diharapkan dari perluasan sawah antaralain sebagai berikut : Tersedianya data dan informasi hasil survei/investigasi dan desain. 2. Terwujudnya sawahsawah baru dalam upaya mendukung peningkatan produksi tanama pangan. 3. Bertambahnya luas baku lahan sawah

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN VII.1 KESIMPULAN Luas wilayah pada lokasi pekerjaan SID percetakan sawah di Desa Suka Jaya Kecamatan Pulau Besar adalah sebesar 119,03 Ha

Berdasarkan hasil survey lapangan, analisa peta geologi, peta topografi, survey terdahulu yang telah dilakukan didaerah pekerjaan, maka lokasi lahan sawah pada daerah pekerjaan menunjukkan jenis tanah alluvial dengan ciri ciri tanah : Bahan induk sedimen homogeny, warna coklat terang kekuningan sampai kuning kekelabuan. Tekstur halus, struktur belum berkembang, penyebarannya hingga ke arah barat kearah Desa Batu Betumpang 3. Luas rencana lokasi percetakan sawah di Desa Sukajaya berdasarkan hasil survey dan identifikasi di lapangan dengan para penduduk setempat dapatlah diketahui luas lahan yang akan di garap seluas kurang lebih 120 Ha. Secara geografis lokasi pekerjaan yang terletak di Desa Sukajaya, Kec. Pulau Besar, Kab. Bangka Selatan dapat digambarkan dengan sebaran titik titik koordinat di bawah ini yaitu : No X (mE) Y (mN) 1 628272 9697650 2 628051 9697490 3 628104 9697279 4 628210 9697041 5 628287 9696874 6 628254 9696754 7 628163 9696730 8 628036 9696731 9 627850 9696685 10 627777 9696535 11 627621 9696481 12

627601 9696426 13 627734 9696371 14 627826 9696398 15 627871 9696349 16 627809 9696211 17 627879 9696099 18 627851 9696055 19 627805 9696067 20 627733 9696050 21 627699 9695984 22 627705 9695929 23 627665 9695916 24 627593 9695924 25 627536 9695952 26 627563 9696158 27 627437 9696189 28 627321 9696157

29 627396 9696083 30 627377 9695981 31 627273 9695870 32 627209 9695837 33 627141 9695826 34 627099 9695983 35 626955 9696050 36 626845 9696051 37 626770 9696085 38 628045 9697845 4. Secara umum kondisi lahan rencana percetakan sawah di Desa Sukajaya merupakan rawa rawa yang ditumbuhi oleh vegetasi berupa semak belukar dan sebagian hutan dengan pohonpohon dengan diameter antara 10 s.d 15 cm. Lahan yang akan direncanakan sebagai lokasi percetakan sawah merupakan lahan yang masih belum tersentuh atau digarap untuk percetakan sawah. Jadi kondisinya masih lahan alami dimana selama ini juga sebagai tempat bagi penduduk sebagai sumber mata pencarian mereka. Di tengah-tengah rencana lokasi percetakan sawah tersebut mengalir sebuah sungai kecil dengan lebar kurang lebih 5 meter. Di sungai itulah setiap harinya para penduduk mencari ikan. 5. Berdasarkan Peta Penutupan Lahan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Bangka Belitung tahun 2005, secara regional penutupan lahan di Kabupaten Bangka Selatan dapat dibedakan menjadi : Hutan Produksi (HP), Hutan Lindung (HL), dan Areal Penggunaan Lain (APL). Dari hasil survey dilapangan dan setelah melalui proses pengolahan data, maka dapatlah diketahui bahwa lokasi pekerjaan SID di Desa Sukajaya merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) yaitu areal yang dapat dikembangkan atau digunakan untuk perkebunan, persawahan, dan lainnya. VII.2 SARAN

1. Kondisi lahan kritis di wilayah Kabupaten Bangka Selatan merupakan salah satu factor penghambat untuk perkembangan pertanian, untuk itu diperlukan langkah pengembangan lahan pertanian sesuai pada kecocokan kondisi lahan dan iklim dengan melakukan perbaikan lahan yang dapat di lakukan dengan beberapa langkah : - Penggunaan tanaman penutup - Pemupukan dan pengapuran - Penggunaan tanaman starter - Pengolahan lahan tanah minimum 2. Untuk meningkatkan perkembangan hasil pertanian di wilayah Kabupaten Bangka Selatan dapat di rencanakan dengan melakukan evaluasi kembali terhadap kondisi lahan serta membuat perencanaan penggunaan lahan tersebut untuk komoditi unggulan dengan menyesuaikan pada kondisi lahan. BAB VIII DAFTAR PUSTAKA 1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bangka Selatan 2005 2010 2. Kajian Pengembangan Ekonomi Daerah Berbasis Komoditi Unggulan 3. Pedoman Teknis Perluasan Areal Tanaman Pangan (Cetak Sawah) 2011 . Direktorat Perluasan dan Pengelolaan lahan. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Kementerian Pertanian 2011. 4. Laporan SiD Percetakan Sawah Desa Fajar Indah Kabupaten Bangka Selatan 2009. 73