Anda di halaman 1dari 14

A. Sejarah fosfor Fosfor ditemukan oleh Hannig Brand pada tahun 1669 di Hamburg, Jerman.

Ia menemukan unsur ini dengan cara 'menyuling' air urin melalui proses penguapan dan setelah dia menguapkan 50 ember air urin, dia baru menemukan unsur yang dia inginkan. Namanya berasal dari bahasa Latin yaitu phosphoros yang berarti 'pembawa terang' karena keunikannya yaitu bercahaya dalam gelap (glow-in-the dark).

B. Keberadaan Unsur Fosfor Di perairan unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. Senyawa fosfor membentuk kompleks ion besi dan kalsium pada kondisi aerob, bersifat tidak larut, dan mengendap pada sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik.

Fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk pertumbuhan dan sumber energi. Fosfor di dalam air laut, berada dalam bentuk senyawa organik dan anorganik. Dalam bentuk senyawa organik, fosfor dapat berupa gula fosfat dan hasil oksidasinya, nukloeprotein dan fosfo protein. Sedangkan dalam bentuk senyawa anorganik meliputi ortofosfat dan polifosfat. Senyawa anorganik fosfat dalam air laut pada umumnya berada dalam bentuk ion (orto) asam fosfat (H3PO4), dimana 10% sebagai ion fosfat dan 90% dalam bentuk HPO42-. Fosfat merupakan unsur yang penting dalam pembentukan protein dan membantu proses metabolisme sel suatu organisme.

Sumber fosfat diperairan laut pada wilayah pesisir dan paparan benua adalah sungai. Karena sungai membawa hanyutan sampah maupun sumber fosfat daratan lainnya, sehingga sumber fosfat dimuara sungai lebih besar dari sekitarnya. Keberadaan fosfat di dalam air akan terurai menjadi senyawa ionisasi, antara lain dalam bentuk ion H2PO4-, HPO42-, PO43-. Fosfat diabsorpsi oleh fitoplankton dan seterusnya masuk kedalam rantai makanan.

Senyawa fosfat dalam perairan berasal dari sumber alami seperti erosi tanah, buangan dari hewan dan pelapukan tumbuhan, dan dari laut sendiri. Peningkatan kadar fosfat dalam air laut, akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi (blooming) fitoplankton yang akhirnya dapat menyebabkan kematian ikan secara massal. Batas optimum fosfat untuk pertumbuhan plankton adalah 0,27 5,51 mg/liter.

Fosfor muncul pada bagian yang beragam di dalam lingkungan bahari, beberapa muncul dalam bentuk susunan organik seperti protein dan gula, beberapa juga muncul dalam bentuk kalsium organik dan sebagian dalam bentuk inorganik dan partikel besi fosfat, lalu juga dalam bentuk fosfat terlarut, walaupun fosfor muncul dalam konsentrasi dibawah nitrogen, tapi pada kenyataanya fosfor dapat dengan mudah di buat atau tersedia di dalam atau tersedia di dalam zona penetrasi cahaya yang mencegah fosfor menjadi faktor pembatas di dalam produktifitas bahari.

Diperairan, bentuk unsur fosfor berubah secara terus menerus akibat proses dekomposisi dan sintesis antara bentuk organik, dan bentuk anorganik yang dilakukan oleh mikroba. Semua polifosfat mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat. Perubahan ini bergantung pada suhu yang mendekati titik didih, perubahan polifosfat menjadi ortofosfat berlangsung cepat. Kecepatan ini meningkat dengan menurunnya nilai pH. Perubahan polifosfat menjadi ortofosfat pada air limbah yang mengandung banyak bakteri lebih cepat dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada air bersih.

Keberadaan fosfor diperairan alami biasanya relative kecil, dengan kadar yang lebih sedikit dari pada kadar nitrogen. Fosfor tidak bersifat toksik bagi manusia, hewan, dan ikan. Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan nitrogen dapat menstimulir ledakan pertumbuhan algae di perairan (algae bloom). Algae yang berlimpah ini dapat membentuk lapisan pada permukaan air, yang selanjutnya dapat menghambat penetrasi oksigen dan cahaya mathari sehingga kurang menguntungkan bagi ekosistem perairan. Pada saat perairan cukup mengandung fosfor, algae mengakumulasi fosfor di dalam sel

melebihi kebutuhannya. Fenomena yang demikian dikenal istilah konsumsi berlebih (luxury consumption). Kelebihan fosfor yang diserap akan dimanfaatkan pada saat perairan mengalami defisiensi fosfor, sehingga algae masih dapat hidup untuk beberapa waktuselama periode kekeurangan pasokan fosfor (Effendi 2003).

Berdasarkan kadar fosfat total, perairan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: perairan dengan tingkat kesuburan rendah yang memiliki kadar fosfat total berkisar antara 0 0.02 mg/liter; perairan dengan tingkat kesuburan sedang memiliki kadar fosfat 0.021 0.05 mg/liter; dan perairan dengan tingkat kesuburan tinggi, memiliki kadar fosfat total 0.051 0.1 mg/liter (Effendi, 2003).

C. Sifat Fisika dan Kimia Unsur Fosfor a. Sifat Fisika Unsur Fosfor 1.) Warna : tidak berwarna / merah / putih 2.) Wujud : padat 3.) Titik didih : 550 K (2770C) 4.) Titik leleh : 317,3 K (44,20C) 5.) Massa jenis (fosfor merah) : 2,34 g/cm3 Massa jenis (fosfor putih) : 1,823 g/cm3 Massa jenis (fosfor hitam) : 2,609 g/cm3 6.) Energi ionisasi (fosfor putih) : 1011,8 kj/mol 7.) Secara umum fosfor membentuk padatan putih yang lengket yang memiliki bau yang tak enak tetapi ketika murni menjadi tak berwarna dan transparan 8.) Fosfor putih mudah menguap dan larut dalam pelarut nonpolar benzena 9.) Fosfor merah tidak larut dalam semua pelarut.

b. Sifat Kimia Unsur Fosfor 1.) Fosfor putih bersifat sangat reaktif, memancarkan cahaya, mudah terbakar di udara, beracun. Fosfor putih digunakan sebagai bahan baku pembuatan asam fosfat di industri

2.) Fosfor merah bersifat tidak reaktif, kurang beracun. Fosfor merah digunakan sebagai bahan campuran pembuatan pasir halus dan bidang gesek korek api.

D. Pembuatan / Teknik Ekstraksi a. Pembuatan Fosfor Fosfor diperoleh melalui reaksi batuan fosfat dengan batu bara dan pasir dalam suatu pembakar listrik. Fosfor didistilasi dan terkondensasi dibawah air sebagai P4. 2Ca3(PO4)2 + 6SiO2 + 10C P4 + 6CaSiO3 +10 CO P4 disimpan dalam air untuk melindunginya dari udara dimana ia akan mennyala. P merah dan hitam stabil dalam udara namun akan terbakar pada paemanasan. P4 larut dalam CS2, bezena dan pelarut organik yang mirip; ia sangat beracun. Semua unsur mudah beraksi dengan halogen namun tidak terpengaruh oleh asam bukan pengoksidasi. Asam nitrat memberikan secara bertrut-turut asam fosfat, asam arsenat, antimon trioksida, dabn bismut nitrat yang digambarkan secar baik bertambahnya sifat logam bila menurun dalam satu golongan.

Allotrof fosfor Fosfor diproduksi dengan mereduksi kalsium fosfat, Ca3(PO4)2, dengan batuan kuarsa dan batu bara. Alotrop fosfor meliputi fosfor putih, fosfor merah, dan fosfor hitam. Fosfor putih adalah molekul dengan komposisi P4. Fosfor putih memiliki titik leleh rendah (mp 44.1 oC) dan larut dalam benzen atau karbon disulfida. Karena fosfor putih piroforik dan sangat beracun, fosfor putih harus ditangani dengan hati-hati.

Gambar Strktur fosfor putih.

Fosfor merah berstruktur amorf dan strukturnya tidak jelas. Komponen utamanya diasumsikan berupa rantai yang dibentuk dengan polimerisasi molekul P4 sebagai hasil pembukaan satu ikatan P-P. Fosfor merah tidak bersifat piroforik dan tidak beracun, dan digunakan dalam jumlah yang sangat banyak untuk memproduksi korek, dan sebagainya.

Fosfor hitam adalah isotop yang paling stabil dan didapatkan dari fosfor putih pada tekanan tinggi (sekitar 8 GPa). Fosfor hitam memiliki kilap logam dan berstruktur lamelar. Walaupun fosfor hitam bersifat semikonduktor pada tekanan normal, fosfor hitam menunjukkan sifat logam pada tekanan tinggi (10 GPa).

Fosfor banyak terdapat dalam apatit, Ca9(PO4)6.CaX2; X = F, Cl atau OH, yang merupakan komponen dalam batuan amorf dimana diproses jutaan ton per tahun. Kulit falensi atomnya, ns2np3 mirip dengan konfigurasi elektron N, namun hanya sedikit kemiripan antara P maupun N dalam kimiawinya. Fosfor bukan bersifat logam. Faktor-faktor kimia yang membedakan antara nitrogen dan fosfor, yaitu: a. Ketidak mampuan unsur deret kedua untuk membentuk ikatan ganda pp, b. Kemungkinan pemanfaatan orbital 3d yang terletak lebih rendah. Keistimewaan nitrogen yaitu dapat membentuk ester O=NOR, sedangkan fosfor memberikan P(OR)3. Nitrogen oksida dan asam fosfor okso semuanya

mengandung ikatan ganda sedangkan fosfor oksida mengandung fosfor oksida P O. Seperti dalam P4O6, dan asam fosfat adalah PO(OH)3 berada dalam NO2(OH). Terdapat 3 pengaruh dari pemanfaatan orbital d, yang pertama, mengizinkan adanya beberapa ikatan p-p seperti dalam R3P=O atau R3P=CH2. Jadi amina oksida R3NO hanya mempunyai satu struktur kanonikal tunggal dan reaktif secara kimia, sedangkan ikatan P O lebih pendek daripada yang diharapkan bagi jumlah jari-jari ikatan tunggal yang menandakan adanya kemungkinan perluasan kulit valensi, sedangkan nitrogen memilki kekovalenan empat. Bagi banyak spesies terkoordinasi -5, khususnya fosfor perbedaan energi antara konfigurasi bipiramidal trigonal dan piramidal segi empat adalah kecil, dan spesies sprti itu biasanya tidak kaku secara stereokimia. Bila koordinasi yang lebih tinggi terjadi pada III, seperti dalam SbF52-, terdapat lima pasang ikatan ditambah satu pasang ikatan menyendiri yang mengisi satu satu posisi ikatan, sehingga ionnya dapat dianggap sebagai oktahedral, dengan satu pasang elektron bertindak sebagai ligan. Bila nitrogen trivalensi dan unsur-unsur lainnya dalam senyawaan seperti NEt3, PEt3, AsPh3, dan sebagainya memiliki pasangan menyendiri dan bertindak sebagai donor, ada perbedaan nyata dalam kemampuan donornya terhadap logam transisi. 17-3 Senyawaan unsur-unsur golongan V Hidrida, MH3 Fosfin, PH3 dibuat dengan pemberian asam pada seng fosfida. Dalam keadaan murni tidak memberikan nyala secara spontan namun sering kali menyala dengan adanya runutan uap P2H4 atau P4. Fosfin ini sangat beracun dan tidak dapat bergabung dalam keadaan cair serta dapat larut sebagian dalam air dan merupakan basa yang sangat lemah. Fosfin larut dalam asam yang sangat kuat misalnya PH3.H2O menghasilkan PH4+. Fosfin digunakan dalam industri untuk membuat senyaawa organofosfor.

Fosfin tersier, PR3, dan fosfit tersier, P(OR)3, merupakan ligan yang sangat penting dalam kimia kompleks logam transisi. Khususnya trifenilfosfin, P(C6H5)3, trietil fosfin, P(C2H5)3, dan turunannya merupakan ligan yang sangat berguna dalam banyak senyawa kompleks, sebab dimungkinkan untuk mengontrol dengan tepat sifat elektronik dan sterik dengan memodifikasi substituennya (rujuk bagian 6.3 (c)). Walaupun ligan-ligan ini adalah donor sigma, ligan-ligan inidapat menunjukkan karakter penerima pi dengan mengubah substituennya menjadi penerima elektron Ph (fenil), OR, Cl, F, dsb. Urutan karakter penerima elektron diperkirakan dari frekuensi uluran C-O dan pergeseran kimia 13C NMR senyawa logam karbonil fosfin atau fosfit tersubstitusi adalah sebagai berikut (Ar adalah aril dan R adalah alkil). PF3 > PCl3 > P(OAr)3 > P(OR)3 > PAr3 > PRAr2 > PR2Ar > PR3

Di pihak lain, C. A. Tolman telah mengusulkan sudut pada ujung kerucut yang mengelilingi substituen ligan fosfor pada jarak kontak van der Waals dapat digunakan sebagai parameter untuk mengukur keruahan sterik fosfin atau fosfit. Parameter ini, disebut sudut kerucut, dan telah digunakan secara meluas berikut adalah gambar sudut kerucut.

Bila sudut kerucut besar, bilangan koordinasi akan menurun karena halangan sterik, dan konstanta kesetimbangan disosiasi dan laju disosiasi ligan fosfor menjadi lebih besar. Ungkapan numerik efek sterik sangat bermanfaat dan banyak studi telah dilakukan untuk mempelajari hal ini. Berikut adalah tabel Sudut kerucut fosfin dan fosfit tersier.

Halida dan Oksohalida Fosforil Halida adalah X3PO, dimana X mungkin F, Cl atau Br. Salah satu yang terpenting adalah Cl3PO, dapat diperoleh dengan reaksi : 2PCl3 + O2 2 Cl3PO P4O10 + 6PCl5 10 Cl3PO. Trihalida kecuali PF3, diperoleh melalui halogenasi langsung, dengan membiarkan unsurnya berlebih. Halogen berlebih menghasilkan MX5. Trihalidanya terhidrolisis secara cepat dengan air dan sidikit mudah menguap. Molekul gas mempunyai struktur piramidal.

Fosfor trifluorat adalah gas tidak berwarna dan beracun, dibuat dari flourinasi PCl3. Ia membentuk kompleks dengan logam transisi serupa dengan kompleks yang dibentuk oleh karbon monoksida. Tidak seperti trihalida yang lain PF3 dihidrolisis hanya secara lambat oleh air, tetapi diserang cepat oleh alkali. Ia tidak memiliki sifat keasaman lewis.

Fosfor triklorida adalah cairan yang bertitik didih rendah yang terhidrolisis kuat oleh air menghasilkan asam fosfit. Ia mudah bereaksi dengan oksigen memberikan OPCl3.

Fosfor pentaflorida disebut juga dengan interaksi PCl5 dengan CaF2 pada 300 sampai 400. Ia adalah asam lewis yang sangat kuat dan membentuk kompleks dengan amina, eter, dan basa lain demikian pula pada F, dimana fosfor menjadi terkoordinasi-6. Meskipun demikian, kompleks organik ini kurang stabil daripada kompleks organik BF3, dan terdekomposisi secara cepat oleh air dan alkohol. Fosfor (V) klorida mempunyai struktur bipiramida trigonal dalam gasnya, lelehan, dan larutan dalam pelarut non polar, namun padatannya adalah [PCl4]+[PCl6]; pada pelarut polar dapat terionisasi. Padatan fosfor pentabromida juga ionik namun berbeda bentuknya yakni PBr4+Br.

Fosforil halida adalah X3PO, dimana X mungkin F, Cl atau Br. Salah satu yang terpenting adalah Cl3PO dapat diperoleh dengan reaksi 2 PCl3 + O2 2 Cl3PO P4O10 + 6 PCl5 10 Cl3PO Hidrolisis dengan air menghasilkan asam fosfat. Cl3PO mempunyai sifat donor dan banyak kompleksnya yang dikenal dimana oksigen adalag atom yang menjadi ligan.

Oksida Fosfor

Struktur oksida fosfor P4O10, P4O9, P4O7, dan P4O6 telah ditentukan. Fosfor pentoksida, P4O10, adalah padatan kristalin putih dan dapat tersublimasi, terbentuk bila fosfor dioksidasi dengan sempurna. Empat atom fosfor menempati tetrahedra dan dijembatani oleh atom-atom oksigen. Karena atom oksigen diikat ke setiap atom fosfor, polihedra koordinasi oksigen juga tetrahedral.

Bila P4O10 molekular dipanaskan, terbentuk isomer yang berstruktur gelas. Bentuk gelas ini merupakan polimer yang terdiri atas tetrahedra fosfor oksida dengan

komposisi yang sama dan dihubungkan satu sama lain dalam lembaran-lembaran. Karena senyawa ini sangat reaktif pada air, senyawa ini digunakan sebagai bahan pengering. Tidak hanya sebagai desikan, tetapi merupakan bahan dehidrasi yang kuat, dan N2O5 atau SO3 dapat dibentuk dengan mendehidrasikan HNO3 dan H2SO4 dengan fosfor pentoksida. Fosfor pentoksida membentuk asam fosfat, H3PO4, bila direaksikan dengan sejumlah air yang cukup, tetapi bila air yang digunakan tidak cukup, berbagai bentuk asam fosfat terkondensasi akan dihasilkan bergantung kuantitas air yang digunakan.

Fosfor trioksida, P4O6, adalah oksida molekular, dan struktur tetrahedralnya dihasilkan dari penghilangan atom oksigen terminal dari fosfor pentoksida. Masing-masing fosfor berkoordinasi 3. Senyawa ini dihasilkan bila fosfor putih dioksidasi pada suhu rendah dengan oksigen terbatas. Oksida dengan komposisi di antara fosfor pentoksida dan trioksida memiliki 3 sampai 1 atom oksigen terminal dan strukturnya telah dianalisis. Walaupun arsen dan antimon menghasilkan oksida molekular As4O6 dan Sb4O6 yang memiliki sruktur yang mirip dengan P4O6, bismut membentuk oksida polimerik dengan komposisi Bi2O3.

Asam okso fosfor

Asam fosfat, H3PO4. Asam fosfat adalah asam utama yang digunakan dalam industri kimia, dihasilkan dengan hidrasi fosfor petoksida, P4O10. Asam fosfat komersial memiliki kemurnian 75-85 %. Asam murninya adalah senyawa kristalin (mp. 42.35 C). Satu atom oksigen terminal dan tiga gugus OH diikat pada atom fosfor di pusat tetrahedral. Ketiga gugus OH dapat melepaskan proton, membuat asam ini adalah asam berbasa tiga (pK1 = 2.15). Bila dua asam fosfat berkondensasi dan melepaskan satu molekul air, dihasilkan asam pirofosfat, H4P2O7. Asam fosfat merupakan cairan kental tidak berwarna dan mudah larut dalam air. asam fosfat dapat diperoleh dari reaksi antara fosfor putih dengan oksigen

kemudian tambahkan air. Selain dengan cara ini asam fosfat dapat diperoleh dari batu fosfat yang direaksikan dengan asam sulfat pekat. Selain itu, Asam fosfat dengan batu gamping akan membentuk dikalsium fosfat yang merupakan bahan dasar pasta gigi dan makanan ternak. Reaksi sederhananya sebagai berikut: Ca3 (PO4)2 + CaCO3 Ca HPO4 (dikalsium fosfat). Asam fosfat direaksikan dengan soda abu menghasilkan 3 produk dengan fungsi berbeda. Reaksi sederhananya sebagai berikut : H3PO4 + Soda abu 1,2,3. 1. Sodium tripoly phosphate sebagai bahan detergent 2. Sodium triotho phosphate pelembut air 3. Tetra sodium pyro phosphate industri keramik.

Asam fosfit, H3PO3, satu atom H mengganti gugus OH dalam asam fosfat. Karena masih ada dua gugus OH, asam ini berbasa dua.

Asam hipofosfit, H3PO2, dua gugus OH asam fosfat diganti dengan atom H. Satu gugus OH sisanya membuat asam ini berbasa satu. Bila tetrahedral PO4 dalam asam terikat dengan jembatan O, berbagai asam fosfat terkondensasi akan dihasilkan. Adenosin trifosfat (ATP), asam deoksiribo nukleat (DNA), dsb., yang mengandung lingkungan asam trifosfat digabungkan dengan adenosin. Senyawa-senyawa ini sangat penting dalam sistem biologis

Senyawaan Fosfor-Nitrogen

Fosfazen merupakan senyawa sikliks atau rantai yang mengandung atom fosfor dan nitrogen yang berselang seling dengan dua pensubtitusi pada setiap atom fosfor. Ketiga jenis struktur utama adalah trimer siklik, tetramer siklik dan oligomer atau polimer tinggi. Berikut adalah masing-masing gambarnya

Trimer siklik

tetramer siklik

polimer tinggi

Set ikatan tunggal dan ikatan rangkap dua yang berselang seling ditulis untuk keserasian, namun pada umumnya semua jarak PN ditemukan sama. Heksasiklorotrifosfazen adalah suatu intermediet kunci dalam sintesis banyak fosfazen lain dan dibuat dipabrik. Fosfazen polimer tinggi yang linier adalah bahan yang sangat berguna sejauh sifat-sifat fisik dan mekanik diperhatikan namun mereka umumnya tidak berguna karena kestabilan hidrolitik. Polimer yang berguna mempunyai perflouroalkoksi dan gugus lain yang mirip polietilen adalah kristal dan penolak air.

Kegunaan dan Kerugian Unsur Fosfor a. Kegunaan 1. Fosfor sangat penting dan dibutuhkan oleh mahluk hidup tanpa adanya fosfor tidak mungkin ada organik fosfor di dalam Adenosin trifosfat (ATP) Asam Dioksiribo nukleat (DNA) dan Asam Ribonukleat (ARN) mikroorganisme membutuhkan fosfor untuk membentuk fosfor anorganik dan akan mengubahnya menjadi organik fosfor yang dibutuhkan untuk menjadi organik fosfor yang dibutuhkan, untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan asam nukleat 2. Kegunaan fosfor yang terpenting adalah dalam pembuatan pupuk, bahan korek api, kembang api, pestisida, odol, dan deterjen 3. Kegunaan fosfor yang paling umum ialah pada ragaan tabung sinar katoda (CRT) dan lampu fluoresen, sementara fosfor dapat ditemukan pula pada berbagai jenis mainan yang dapat berpendar dalam gelap (glow in the dark) 4. Asam fosfor yang mengandung 70% 75% P2O5, telah menjadi bahan penting pertanian dan produksi tani lainnya

5. Fosfor juga digunakan dalam memproduksi baja, perunggu fosfor, dan produk-produk lainnya. Trisodium fosfat sangat penting sebagai agen pembersih, sebagai pelunak air, dan untuk menjaga korosi pipa-pipa 6. Fosfor juga merupakan bahan penting bagi sel-sel protoplasma, jaringan saraf dan tulang 7. Bahan tambahan dalam deterjen, bahan pembersih lantai dan insektisida. Selain itu fosfor diaplikasikan pula pada LED (Light Emitting Diode) untuk menghasilkan cahaya putih 8. Fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan.

b. Kerugian 1. Penyalahgunan fosfor menjadi Bom yang sangat mengerikan. Fosfor bom memiliki sifat utama membakar. Menurut Ang Swee Chai, seorang perempuan, dokter ortopedis kelahiran Malaysia yang juga seorang ahli medis. Dalam bukunya From Beirut to Jerusalem (Kuala Lumpur, 2002), zat fosfornya biasanya akan menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri berkepanjangan. Para korban bom ini akan mengeluarkan gas fosfor hingga nafas terakhir 2. Ketika fosfor putih ditembakan atau dibakar udara maka akan bereaksi dengan oksigen membentuk fosfor pentaoksida (P2O5). Walaupun fosfor berbahaya namun yang paling berbahaya yaitu terletak pada proses pembakaran fosfor dan hasil pembakaran fosfor bukan pada ledakannya 3. Pembakaran fosfor di udara berlangsung sangat eksotermis yaitu menghasilkan suhu sekitar 800C. Suhu yang tinggi inilah yang akan merusak jaringan tubuh seperti luka bakar ketika mengenai organ-organ tubuh. Sedangkan hasil pembakaran fosfor putih yaitu berupa P2O5 dalam bentuk asap. Asap yang dihasilkan sangat berbahaya karena selain beracun asap inipun bersifat korosif atau dapat pula bereaksi dengan organ-organ tubuh manusia. Oleh sebab itu jika fosfor ditembakan atau yang digunakan sebagai bom ketika terbakar akan merusak sebagian besar jaringan tubuh.

Misalnya jika mengenai mata maka akan menyebabkan kebutaan, jika dihirup akan merusak kerongkongan bahkan paru-paru jika dalam jumlah yang lebih banyak, jika mengenai kulit maka akan menyebabkan luka bakar dan akan lebih parah lagi jika terkena dalam jumlah banyak.