Anda di halaman 1dari 17

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPORAN KASUS JUNI 2013

ENTEROKOLITIS NEKROTIKANS

OLEH : ABDUL GAFUR ZULKARNAIN 10542 0059 09

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2013

LAPORAN KASUS PSIKOTIK SKIZOFRENIA PARANOID (F20.0)

I. IDENTITAS PASIEN No Status / No. Reg Masuk RS Tanggal Nama Jenis kelamin Tempat / Tanggal Lahir : 111906 : 28 Mei 2013, pkl. 14:56 WITA : Tn. NA : Laki-Laki : Bulukumba / 08 November 1992 (21 tahun) Status perkawinan Warga Negara Suku Bangsa Pendidikan / sekolah Alamat : Belum kawin : Indonesia : Bugis Makassar : SMA :kBonto Kamase Herlang, Bulukumba

Pasien diantar oleh Ayah kandungnya, yaitu Tn MJ , tinggal serumah dengan pasien. Pendidikan terakhir Tn. MJ adalah SMA.

II. LAPORAN PSIKIATRIK A. Keluhan Utama B. Riwayat Gangguan Sekarang Keluhan dan Gejala : Pasien masuk RSKD dengan keluhan utama mengamuk sejak 5 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengamuk dengan menghancurkan barang-barang, mau memukul orang yang berada disekitarnya, sering marah-marah, berteriak-teriak, dan berjalan di genteng sehingga orang di sekitarnya merasa terganggu. Menurut keluarga pasien, pasien mengamuk karena tidak diberi uang untuk membeli rokok dan juga dilarang keluar rumah, karena keluarga takut : Mengamuk :

nanti pasien tidak pulang. Pasien dapat makan, mandi dan berpakaian sendiri. Sejak 10 hari yang lalu pasien sudah menunjukkan perubahan tingkah laku. Pasien sering berbicara sendiri dan tertawa sendiri, terkadang juga pasien menunjuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada apa-apa (udara kosong) sebagai pacarnya. Pasien sering mendengar suara yang menyuruhnya untuk mengamuk, biasanya suara

perempuan. Pasien juga selalu merasa dia mempunyai kelebihan diberikan oleh Tuhan dibanding manusia lain yang, dimana dia dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahui manusia lain seperti hari kiamat yang akan datang dan dia ingin menyelamatkan orang-orang di dunia ini. Pasien ke dokter praktek umum dan mendapat obat haloperidol 0,5 mg 3x1 dan clozapine 25 mg 3x1. Pada bulan Desember 2012 ( 7 bulan yang lalu), pasien ikut berlayar karena pasien mengikuti kursus pelayaran di Bulukumba, saat berlayar pasien mengalami demam dan menggigil dan sembuh dengan meminum obat penurun panas, semenjak setelah sakit tersebut pasien mulai sering mengamuk. Karena keluhan-keluhan tersebut, maka keluarga membawa pasien ke rumah sakit. Pasien masuk RSKD Dadi untuk pertama kalinya.

Hendaya/disfungsi : Hendaya dalam bidang sosial (+) Hendaya dalam bidang pekerjaan (+) Hendaya dalam penggunaan waktu senggang (+)

Faktor stressor psikososial : Merasa mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan orang-orang di dunia karena memiliki kelebihan dari Tuhan yang dapat mengetahui sesuatu, salah satunya tentang hari kiamat.

Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis sebelumnya : Tidak ada

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami infeksi, trauma kepala atau kejang. Dulu sempat demam tinggi dan menggigil saat berlayar bersama ayahnya 7 bulan yang lalu. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif : Riwayat tidak pernah mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang, tetapi pasiem merokok 3 bungkus dalam 1 hari Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya Tidak ada riwayat gangguan psikiatri sebelumnya

D. Riwayat Kehidupan Pribadi Riwayat prenatal dan perinatal (0-1tahun) Pasien lahir di rumah, ditolong oleh dukun, lahir spontan dan dalam keadaan normal. Selama masa kehamilan, ibu pasien dalam keadaan sehat. Pasien tumbuh dan berkembang dengan baik. Riwayat masa kanak-kanak awal ( usia 1 3 tahun ) Pasien mendapat ASI hingga berumur 1 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan pasien sama dengan pertumbuhan dan perkembangan anakanak sebayanya. Pasien suka bermain dengan anak-anak seusianya. Pasien saat masih anak-anak sering mengompol di celana dan sering mengisap ibu jarinya sampai usia 3 tahun. Riwayat masa kanak pertengahan (usia 4-11 tahun) Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Pertumbuhan dan perkembangan baik. Pasien masuk SDN 128 Bulukumba pada umur 7 tahun. Pasien merasa senang ketika pergi ke sekolah. Pasien merupakan anak yang ramah dan mudah bergaul. Pasien bermain dengan teman-temannya seperti anak

lainnya. Pasien sering bermain sepak bola di lapangan dekat rumah. Pasien juga termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya. Riwayat masa kanak-kanak akhir ( usia 12 18 tahun ) Pasien melanjutkan pendidikan ke SMPN 2 Batuasang Bulukumba, hubungan pasien dengan guru-guru dan teman-temannya di sekolah baik Pasien belum memiliki pacar, hanya sebatas beberapa teman yang cukup akrab. Pasien mulai menunjukkan tanda kedewasaan saat SMP kelas 2, pada saat itu pasien juga mulai merokok. Riwayat masa dewasa o Riwayat Pekerjaan Belum bekerja o Riwayat Pendidikan Pasien SMA 1 Herlang Bulukumba tapi karena tinggal kelas saat di kelas 2, pasien tinggal kelas karena sering bolos sekolah mengikuti teman-temannya yang lain sehingga pasien pindah ke SMA Dallo di Bulukumba, tamat SMA tahun 2010. Lalu melanjutkan

pendidikan kursus pelayaran di Bulukumba baru setahun terakhir dan sudah sempat berlayar 7 bulan yang lalu. o Riwayat Penikahan Pasien belum menikah o Riwayat Kehidupan beragama Pasien memeluk agama Islam dan rajin beribadah

E. Riwayat Kehidupan Keluarga Pasien adalah anak pertama dari 4 bersaudara (, , ,) Saudara perempuan pasien yang anak kedua sudah meninggal dunia 2 tahun yang lalu (usia 18 tahun) karena penyakit malaria . Riwayat keluarga yang mengalami keluhan utama yang sama (+) yaitu kakek pasien (paman dari ibu pasien), menderita gangguan jiwa sejak tahun 2003, berobat jalan di RS Bulukumba.

F. Situasi Sekarang Pasien tinggal dengan orang tua kandung dan adik kandung perempuannya, dan seorang nenek dari ibunya Pasien mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga dan tetangga

G. Persepsi Pasien tentang diri dan Kehidupannya Pasien merasa dirinya baik-baik saja. Pasien ingin pulang ke kampung halamannya. Pasien ingin hidup dengan keluarganya dan ingin menyelesaikan kursus pelayarannya.

III. STATUS MENTAL A. Deskripsi Umum 1. Penampilan : Seorang pria tampak sesuai dengan umurnya yaitu 21 tahun. Berambut pendek, bentuk wajah tirus, alis tebal, iris warna, perawakan tinggi. Memakai baju kaos warna hitam, celana jins panjang warna biru. Perawatan diri. Kulit kuning sawo matang. 2. Kesadaran : Berubah

3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : terfiksasi 4. Pembicaraan 5. Sikap terhadap Pemeriksa : Spontan, intonasi biasa : Kooperatif

B. Keadaan Afektif (Mood), Perasaan, Empati dan Perhatian 1. Mood 2. Afek 3. Empati : observasi : Restriktif : Tidak dapat dirabarasakan

4. keserasian : tidak serasi

C. Fungsi Intelektual (Kognitif) 1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : Sesuai dengan taraf pendidikan 2. Daya Konsentrasi :

baik 3. Orientasi (Waktu, tempat, orang) : Cukup 4. Daya Ingat : Cukup 5. Pikiran Abstrak : Terganggu 6. Bakat Kreatif : Tidak ada 7. Kemampuan menolong diri sendiri : Cukup

D. Gangguan Persepsi 1. Halusinasi : Auditorik (+) Pasien mendengarkan suara perempuan yang sering berbisik dan menyuruhnya mengamuk. Visual (+) Pasien menunjuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada apa-apa (udara kosong) sebagai pacarnya. 2. Ilusi 3. Depersonalisasi 4. Derealisasi : Tidak ditemukan : Tidak ditemukan : Tidak ditemukan

E. Proses Berfikir : 1. Arus Pikiran : : Cukup : Relevan, koheren

a. Produktivitas b. Kontinuitas

c. Hendaya Berbahasa : Tidak ada 2. Isi Pikiran a. Preokupasi : tidak ada

b. Gangguan Isi Pikiran

: waham kebesaran, pasien merasa bahwa dirinya diberikan mempunyai Tuhan, kelebihan dia yang dapat

dimana

mengetahui sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya, seperti hari kiamat yang akan datang. Sehingga kewajiban dia merasa untuk

mempunyai

menyelamatkan orang lain.

F. Pengendalian Impuls

: Terganggu

G. Daya Nilai : 1. Normo Sosial 2. Uji Daya Nilai : Terganggu : Terganggu

3. Penilaian Realitas : Terganggu

H. Tilikan (Insight)

: Derajat 1 (pasien merasa dirinya tidak sakit)

I. Taraf Dapat Dipercaya

: Dapat Dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT Pemeriksaan Fisik : Status Internus : Tekanan darah : 120/80 mmHg, Nadi 88x/menit kuat angkat, frekuensi pernapasan 20 kali permenit, suhu 36,6 C, konjunctiva tidak pucat, sklera tidak ikterus Status neurologis GCS = E4M6V5 Rangsang meanings = Kaku kuduk (-), kernig sign (-/-) Nn. Cranialis = Pupil bulat isokor 2,5mm ODS. Refleks cahaya langsung (+)/(+), refleks cahaya tidak langsung (+)/(+)

Nn. Cranialis lain dalam batas normal Sistem motorik dan sensorik keempat ekstremitas dalam batas normal SSO dalam batas normal

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Pasien masuk RSKD dengan keluhan utama mengamuk sejak 5 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengamuk dengan menghancurkan barang-barang, mau memukul orang yang berada

disekitarnya, sering marah-marah, berteriak-teriak, dan berjalan di genteng sehingga orang di sekitarnya merasa terganggu. Menurut keluarga pasien, pasien mengamuk karena tidak diberi uang untuk membeli rokok. Pasien dapat makan, mandi dan berpakaian sendiri. Tapi pasien tidak pernah berkeinginan pergi dari rumah. Sudah 10 hari terakhir ini pasien sudah menunjukkan perubahan tingkah laku. Pasien sering berbicara sendiri dan tertawa sendiri, terkadang juga pasien menunjuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada apa-apa (udara kosong) sebagai pacarnya. Pasien sering mendengar suara perempuan yang menyuruhnya untuk mengamuk, biasanya suara perempuan. Pasien juga selalu merasa dia mempunyai kelebihan diberikan oleh Tuhan dibanding manusia lain yang, dimana dia dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahui manusia lain seperti hari kiamat yang akan datang dan dia ingin menyelamatkan orang-orang di dunia ini. Pasien sempat ke dokter praktek umum dan mendapat obal haloperidol 0,5 mg 3x1 dan clozapine 25 mg 3x1. Pada bulan Desember 2012 ( 7 bulan yang lalu), pasien ikut berlayar dengan ayahnya yang berprofesi sebagai nelayan, saat berlayar pasien mengalami demam tinggi dan menggigil, semenjak setelah sakit tersebut pasien mulai sering mengamuk. Karena keluhan-keluhan tersebut, maka keluarga membawa pasien ke rumah sakit. Pasien masuk RSKD Dadi untuk pertama kalinya. Dari pemeriksaan status mental ditemukan seorang Seorang pria

tampak sesuai dengan umurnya yaitu 23 tahun. Berambut pendek, bentuk wajah tirus, berkumis tipis, alis tebal, iris warna coklat dan hidung mancung.

Memakai baju kaos warna merah, celana jins panjang warna biru. Perawatan diri. Kulit kuning langsat, tinggi sekitar 165 cm. Kesadaran berubah, pembicaraan spontan, lancer dan intonasi biasa. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Afek kesan terbatas (restriktif). Fungsi kognitif dan pikiran abstrak terganggu. Bakat kreatif tidak ada. Kemampuan menolong diri sendiri cukup. Terdapat gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik. Proses

berpikir, produktivitas baik, kontinuitas relevan koheren, tidak ada hendaya berbahasa. Terdapat gangguan isi pikir berupa waham kebesaran, pengendalian impuls dan daya nilai terganggu. Tilikan derajat I yaitu penyangkalan penuh bahwa dirinya sakit.

VI. EVALUASI MULTI AKSIAL Aksis I Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis ditemukan gejala klinis yang bermakna yaitu perubahan tingkah laku seperti mengamuk dan memukul. Keadaan ini terjadi karena dia tidak diberikan uang saat ingin membeli rokok. Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) pada pasien dan keluarga serta terdapat hendaya (disability) pada fungsi psikososial, pekerjaan dan penggunaan waktu sehingga dapat

disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa. Pada pemeriksaan status mental ditemukan hendaya berat dalam menilai realita berupa halusinasi auditorik dan waham kebesaran sehingga didiagnosis gangguan jiwa psikotik. Pada pemeriksaan status internus dan neurologik tidak ditemukan adanya gangguan medis umum yang menimbulkan disfungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien saat ini, sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan dan didiagnosa gangguan jiwa psikotik non organik. Dari alloanamnesis, autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan pasien mempunyai halusinasi auditorik, mendengar suara perempuan yang selalu menyuruhnya mengamuk dan juga halusinasi visual, dimana dia selalu menunjuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada

apa-apa (udara kosong) sebagai pacarnya. Sehingga memenuhi diagnosis Skizofrenia (F20). Pada pasien ditemukan gejala halusinasi dan waham yang menonjol, maka berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III), pasien ini memenuhi kriteria untuk diagnosis dengan skizofrenia paranoid (F20.0) Aksis II Ciri kepribadian pasien sebelum sakit, yaitu pasien seorang yang ramah dan mudah bergaul, tapi semenjak sakit pasien menjadi seorang yang pemarah. Aksis III Pasien tidak pernah sakit/gangguan fisik hanya demam saat pasien pergi berlayar. Aksis IV Faktor stressor psikososial : Stressor psikososial untuk saat ini belum jelas.

Aksis V GAF Scale 50-41 (gejala berat, disabilitas berat)

1. DAFTAR PROBLEM Organobiologik : Tidak ditemukan kelainan fisik yang bermakna.

Namun diduga terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter, maka pasien memerlukan farmakoterapi. Psikologik : Ditemukan adanya hendaya berat dalam menilai

realita berupa waham dan halusinasi sehingga menimbulkan gejala psikis. Sosiologi : Ditemukan adanya hendaya berat dalam bidang

sosial, pekerjaan dan penggunaan waktu senggang sehingga diperlukan sosioterapi

2. PROGNOSIS Dubia Faktor Pendukung : o Gejala positif o Tidak ada kausa organik o Dukungan keluarga yang cukup baik Faktor Penghambat : o Ketidakaturan minum obat o Sosial ekonomi rendah

3. DISKUSI PEMBAHASAN Berdasarkan PPDGJ III untuk mendiagnosis skizofrenia (F20), jika memenuhi kriteria berikut; Harus ada sedikitnya 1 gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas); a. Gangguan isi pikiran b. Thought echo Thought insertion or withdrawal Thought broadcasting

Gangguan waham Delusion of control Delusion of influence Delusion of passivity Delusional perception

c.

Halusinasi auditorik Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh

d.

Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada dan secara jelas; a. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas, negativism, mutisme dan stupor d. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal)

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), dan bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak

bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (selfabsorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial. Pada saat autoanamnesis pasien memperlihatkan afek restriktif. Pasien ini mempunyai halusinasi auditorik, Pasien mendengarkan suara perempuan yang sering berbisik dan menyuruhnya mengamuk dan juga halusinasi visual, dimana pasien selalu menunjuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada apa-apa (udara kosong) sebagai pacarnya. Pasien juga mengalami gangguan isi pikir berupa waham kebesaran, yaitu pasien merasa bahwa dirinya mempunyai kelebihan yang diberikan Tuhan, dimana dia dapat mengetahui sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya, seperti hari kiamat yang akan datang. Sehingga dia merasa mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan orang lain. Pada pasien ini jelas terlihat gambaran klinis didapatkan adanya waham kebesaran dan halusinasi auditorik serta visual serta adanya relevan dalam arus pikir dan gejala-gejala tersebut berlangsung lebih dari satu bulan, sehingga di diagnosis sebagao skizofrenia paranoid (F20.0) Pemilihan jenis obat antipsikosis mempertimbangakn gejala psikosis yang dominan, efek samping obat dan kemampuan keluarga pasien. Haloperidol termasuk obat anti-psikotik tipikal golongan butyrophenone. Pemberian

haloperidol pada kasus ini dikarenakan obat ini efektif untuk skizofrenia, efek sedatifnya yang lemah dan efek hipotensi kurang sehingga cocok digunakan jenis psikosis dengan gejala dominan halusinasi dan waham. Obat antipsikotik generasi pertama bekerja dengan memblok reseptor D2 di jalur mesolimbik dopamin pathways sehingga menurunkan hiperaktivitas dopamin. Kadar puncak plasma haloperidol dicapai dalam waktu 2-6 jam setelah pemberian oral dan waktu dalam 20 menit setelah pemberian intramuskular. Waktu paruhnya antara 10-12 jam. Diekskresi dengan cepat melalui urin dan tinja dan berakhir dalam 1 minggu setelah pemberian. Efek samping yang paling menonjol adalah toksisitas terhadap ekstrapiramidal. Sehingga pemberian haloperidol dimulai dengan dosis awal yang rendah yaitu 1.5 mg 3x1 yang sesuai dengan dosis anjuran, diberikan dosis awal yang rendah karena untuk meminimalisir gejala EPS. Dosis ini dapat ditingkatkan per 2-3 hari sampai dosis efektif, dievaluasi per 2 minggu dan bila perlu

ditingkatkan sampai dosis optimal yang dipertahankan 8-12 minggu. Kemudian diturunkan bertahap per 2 minggu yang dilanjutkan dengan dosis maintenans yang diselingi drugs holiday 1-2 hari per minggu selama 6 bulan sampai 2 tahun. Jika pada pasien terdapat gejala-gejala EPS, maka pemberian Trihexylphenidil dianjurkan untuk memperbaiki gejala ekstrapiramidal tersebut. 4. RENCANA TERAPI Farmakoterapi : - Haloperidol 1.5 mg 3x1 Psikoterapi Supportif dengan dukungan keluarga agar lebih memperhatikan dan memberikan dukungan kepada pasien serta lebih memperhatikan keteraturan pasien dalam meminum obat. Sosioterapi : Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat pasien tentang gangguan yang dialami pasien, sehingga tercipta dukungan sosial dalam lingkungan yang kondusif sehingga membantu proses penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.

5. FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas terapi serta kemungkinan terjadinya efek samping dari terapi farmakologi yang diberikan

6. AUTOANAMNESIS DM P DM : Selamat malam Pak! : Selamat malam dok! : Perkenalkan pak, saya Gafur, dokter muda disini, bapak siapa namanya? P DM P : NA : Pak NA, bisa saya tanya-tanya sebentar? : Iye, apa ?

DM P DM P DM P DM P DM P

: Bapak NA asalnya dari mana? : Dari Bulukumba bu, di Bonto Kamase : Tinggal sama siapa di Bulukumba pak? : Sama orang tuaku, adikku, sama nenekku : Apa kegiatanta hari-hari pak ? : kursus pelayaran ka di Bulukumba. : sejak kapanki kursus pak ? : sudah satu tahun mi : Anak ke berapa Pak ? : anak pertama, 3 ka bersaudara bu tapi meninggal mi adikku yang

kedua karena penyakit malaria DM P DM P DM P : Kalau orang tua bapak masih hidup semua? : iye masih : Bapak NA, siapa yang antar bapak ke sini? : Bapakku : Bagaimana bisa kita dibawa kesini ? : nakira ka orang orang gila, padahal mau ji kutanya bilang mau mi

kiamat dunia, baru minta ka uang sama mamaku mau beli rokok tidak nakasih jadi marah-marah, baru ada yang bisik-bisik ka bilang mengamukko, baru naik ma ka di genteng DM P DM P DM P DM P DM P : siapa itu bisik ki ? : tidak tau juga tapi suara perempuan : masih diingatki kapan itu kita mengamuk ? : waktuku di Bulukumba, baru langsung ma ka nabawa ke sini : Bapak masih ingat kapan dibawa kesini? : Kemarin : Bapak NA sekarang ada dimana? : ada ka di RS. Dadi : Pernahki liat sesuatu pak? : iye, selalu ka liat cewekku, sebenarnya ini bu ada kelebihanku na kasih ka Tuhan, kutahuki semua yang akan terjadi kayak ini sekarang toh dok mau mi kiamat

P DM P DM P DM P DM P DM P DM

: Tidak pernah : Bapak dalam satu hari mandi berapa kali? : Dua kali : bagaimana ka itu orang kalau mandi? : Siram air baru pakai sabun, masa tidak ditau ki dok. : Bapak tau apa artinya panjang tangan? : pencuri, tapi bukan ka pencuri saya : Bapak bisa berhitung? : Bisa : 50-2 berapa? : 48 : terus kalau seumpamanya toh bapak lagi jalan baru dapatki dompetnya orang yang jatuh, apa mi kita bikin?

: Saya kembalikan ke yang punya itu dompet karena bukan ka pencuri.

DM P DM

: Bapak senang tinggal disini? : Tidak , mau ka pulang ke rumahku di Bulukumba : Iya, nanti kalau bapak sudah sembuh. Rajin maki saja minum obat supaya cepatki sembuh pak. Baik Bapak NA, terima kasih banyak, atas waktunya pak

: Iya sama-sama