Anda di halaman 1dari 13

SKEP POST OP APENDISITIS

LAPORAN PENDAHULUAN POST OP APENDISITIS

A. DEFINISI Apendisitis adalah peradangan apendiks mengenai semua lapisan dinding rgan terse!ut" apendisitis #uga di se!ut se!agai peradangan aki!at in$eksi pada usus !untu atau um!ai %a%ing & apendiks '.

(. ANATO)I DAN FISIOLO*I APENDI+S


Apendiks merupakan rgan ,ang ke%il dan -estigial & rgan ,ang tidak !er$ungsi' ,ang melekat sepertiga #ari apendiks terletak di u#ung sa%rum kira.kira / %m di !a0ah anteri r li% saekum" !ermuara di !agian p steri r dan medial dari saekum. Pada pertemuan kegiatan taknsa ,aitu 1 taeura anteri r" medi%al dan p steri r. Se%ara klinik apendiks terletak pada daerah manusia.!urne, ,aitu daerah 234 tengah garis ,ang menghu!ungkan. +anan dengan pusat pan#ang apendiks rata.rata 5.6 %m" le!ar 7"4.7"8 %m" isi 7"2 %%" %airan !ersi$at !asah mengandung am,lase dan musin. P sisi apendiks later sekal,aitu di lateral % l n asendens" sedangkan di daerah inguinal ,aitu mem!el k ke arah a!d men" serta terletak pada pel-is ma, r.

9. ETIOLO*I
Ter#adin,a apendisitis akut umumn,a di se!a!kan leh in$eksi !akteri" namun terdapat !an,ak sekali $a%t r pen%etus ter#adin,a pen,akit ini"

!struksi pada lumen apendiks ini !iasan,a di se!a!kan karena adan,a tim!unan tin#a ,ang keras & $ekalit '" h,perplasia #aringan lim$ id struktur" namun ,ang paling sering men,e!a!kan adalah h,perplasia #aringan lim$ id. !struksi

D. )ANIFESTASI +LINIS
Apendisitis memiliki ge#ala ,ang terdiri dari mual muntah dan n,eri he!at di perut kanan !agian !a0ah. N,eri !ias se%ara mendadak di mulai di perut se!elah atas atau di sekitar pusat" lalu tim!ul mual dan n,eri !erpindah ke perut kanan !agian !a0ah. :ika d kter menekan daerah ini penderita merasa n,eri tumpul dan #ika penekanan ini di lepaskan" n,eri !ias !ertam!ah ta#am" demam !isa men%apai 48";.4;"; %el%ius. Pada !a,i dan anak.anak" n,erin,a !ersi$at men,eluruh" di semua !agian perut. Pada rang tua dan 0anita hamil" n,erin,a tidak terlalu terasa. (ila usus !untu pe%ah" n,eri da demam !isa men#adi !erat in$eksi ,ang !ertam!ah !uruk !isa men,e!a!kan s, k.

E. PE)ERI+SAAN DIA*NOSTI+
Untuk menegakkan diagn se pada apendiksitis di dasarkan atas anamnesa di tam!ah dengan pemeriksaan la! rat rium serta pemeriksaan penun#ang lainn,a. )eningkat pada keadaan apendisitis in$iltrate" urine rutin penting untuk melihat apa ada in$eksi pada gin#al. Pemeriksaan radi l gi pada $ t r ngten tidak dapat men l ngan untuk menegakkan diagn se apendiksitis akut" ke%uali !ila ter#adi perit nitis" tapi kadang kala di temukan gam!aran se!agai !erikut < adan,a sakit $luid le-el di

se!a!kan karena adan,a udara dan %airan" kadng ada $e% lit & sum!atan ' pada keadaan per$ rasi di temukan adan,a udara !esar dalam dia$ragma.

F. PENATALA+SANAAN
Pem!edahan di indikasikan !ila diagn se apendisitis telah di tegakkan anti!i ti% dan %airan itu di !erikan sampai pem!edahan di lakukan dapat di !erikan setelah diagn se di tegakkan apedekt mi & pem!edahan untuk mengangkat apendiks ' di lakukan se!erapa mungkin untuk menurunkan resik per$ rasi" apendekt mi dapat di lakukan di !a0ah anestesi umum atau spinal dengan insiti a!d men !a0ah atau dengan laparusk p" merupakan met de ter!aru ,ang sangat e$ekti$. + nsep asuhan kepera0atan se!elum perasi di lakukan klien perlu di persiapkan se%ara $isik maupun psikis" di samping itu #uga klien perlu di !erikan latihan.latihan $isik & perna$asan dalam" gerakan kaki dan duduk ' untuk di gunakan dalam peri de p st perati$" hal ini penting leh karena !an,ak klien merasa %emas atau

kh0atir !ila akan di perasi dan #uga terhadap penerima anastesi. 1. //////////////////////////////////////////////////// A. Definisi Appendiks akut adalah peradangan dari appendiks vermiformis yang merupakan penyebab umum dari akut abdomen (Junaidi, dkk, 1982 . Appendisitis adalah peradangan dari suatu appendiks.

Appendisitis akut adalah keadaan yang disebabkan oleh peradangan yang mendadak pada suatu appendiks ( !arata"aya, 199# . 1. B. Anatomi Fisiologi $mbriologi appendiks berhubungan dengan %ae%um, tumbuh dari u"ung inferiornya. &on"olan appendiks pada neonatus berbentuk keru%ut yang menon"ol pada apek %ae%um sepan"ang ',( %m. )ada orang de*asa pan"ang appendiks rata+rata 9 , 1# %m, terletak posteromedial %ae%um kira+kira - %m inferior valvula ileosekalis. )osisi appendiks bisa retrosekal, retroileal,subileal atau dipelvis, memberikan gambaran klinis yang tidak sama. )ersarafan para simpatis berasal dari %abang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikkularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis ., karena itu nyeri viseral pada appendiks bermula sekitar umbilikus. )erdarahan pada appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan artei tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi maka appendiks akan mengalami gangren. Appendiks menghasilkan lendir 1 , 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin dan musin. /endir itu se%ara normal di%urahkan ke dalam bumen dan selan"utnya mengalir ke %ae%um. 0ambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi appendiks. 1munoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh 2A/& (2ut Asso%iated /ymphoid &issue yang terdapat disepan"ang saluran %erna termasuk appendiks, ialah 1g A. 1munglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem 1munoglobulin tubuh sebab "aringan limfe ke%il sekali "ika dibandingkan dengan "umlah disaluran %erna dan seluruh tubuh. ( 3.4yamsu 5 1996 1. Etiologi Apendiksitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat7 1. 0iperplasia dari folikel limfoid 2. Adanya fekalit dalam lumen apendiks -. &umor apendiks '. Adanya benda asing seperti %a%ing askariasis (. $rosi mukosa apendiks karena parasit seperti $. 0istiliti%a. 8enurut penelitian, epidemiologi menun"ukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan apendiksitis. 0al tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional apendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon. 1. D. Tanda dan Gejala 9yeri terasa pada abdomen kuadran ba*ah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. 9yeri tekan lokal pada titik 8%. !urney bila dilakukan tekanan. 9yeri tekan lepas mungkin akan di"umpai. :era"at nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. !ila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal 5 bila u"ungnya ada pada pelvis, tanda+tanda ini hanya dapat diketahui pada pemeriksaan rektal. 9yeri pada defekasi menun"ukkan bah*a u"ung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekekuan pada bagian ba*ah otot rektum kanan dapat ter"adi.

&anda 3ovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran ba*ah kiri, yang se%ara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran ba*ah kanan. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar 5 distensi abdomen ter"adi akibat ileus paralitikdan kondisi klien memburuk. 1. E. Klasifikasi appendi itis !Ellis" 1#$#% 1. Acute appendicitis tanpa komplikasi. (cataral appendicitis )roses peradangan baru ter"adi di mukosa dan sub mu%osa sa"a. Appendi. kadang tampak normal, atau hanya hiperemia sa"a. !ila appendi. tersebut dibuka, maka akan tampak mukosa yang menebal, oedema dan kemerahan. ;ondisi ini disebabkan invasi bakteri dari "aringan limpoid ke dalam dinding appendi.. ;arena lumen appendi. tak tersumbat. 8aka hal ini hanya menyebabkan peradangan biasa. !ila "aringan limpoid di dinding appendi. mengalami oedema, maka akam mengakibatkan obstruksi lumen appendi., yang akan mempengaruhi feeding sehingga appendi. men"adi gangrena, seterusnya timbul infark. Atau hanya mengalami perforasi (mikroskopis , dalam hal ini serosa men"adi kasar dan dilapisi eksudat fibrin )ost appendi%itis a%ute, kadang+kadnag terbentuk adesi yang mengakibatkan kinking, dan ke"adian ini bisa membentuk sumbatan pula 2. . Acute appendicitis dengan komplikasi7 )eritonitis Abses atau infiltrat. 8erupakan appendi%itis yang berbahaya, karena appendi. men"adi lingkaran tertutup yang berisi <fe%al material=, yang telah mengalami dekomposisi. )erbahan setelah ter"adinya sumbatan lumen appendi. tergantung daripada isi sumbatan. !ila lumen appendi. kosong, appendi. hanya mengalami distensi yang berisi %airan mu%us dan terbentuklah mu%o%ele. 4edangkan bakteria penyebab, biasanya merupakan flora normal lumen usus berupa aerob (gram > dan atau gram , dan anaerob. )ada saat appendi. mengalami obstruksi, ter"adi penumpukan sekresi mu%us, yang akan mengakibatkan proliferasi bakteri, sehingga ter"adi penekanan pada moukosa appendi., dikuti dengan masuknya bakteri ke dalam "aringan yang lebih dalam lagi. 4ehingga timbulah proses inflamasi dinding appendi., yang diikuti dengan proses trombosis pembuluh darah setempat. ;arena arteri appendi. merupakan end arteri sehingga menyebabkan daerah distal kekurangan darah, terbentuklah gangrene yang segera diikuti dengan proses nekrosis dinding appendi.. :ikesempatan lain bakteri mengadakan multiplikasi dan invesi melalui erosi mukosa, karena tekanan isi lumen, yang berakibat perforasi dinding, sehingga timbul peritonitis. )roses obstruksi appendi. ini merupakan kasus terbanyak untuk appendi%itis. :ua per tiga kasus gangrene appendi., fe%alith selalu didapatkan bila kondisi penderita baik, maka perforasi tersebut akan dikompensir dengan proses pembentukan dinding oleh karingan sekitar, misal omentum dan "aringan vis%era lain, ter"adilah infiltrat atau (mass , atau proses pultulasi yang mengakibatkan abses periappendi. 1. F. Patofisiologi )enyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,adanya fekalit dalam lumen appendiks. Adanya benda asing seperti %a%ing, stiktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid . ?bsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang

tunika serosa dan peritonium viseral. ?leh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal @ maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus. 8ukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri men"adi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan ba*ah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut. !ila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. !ila dinding apendiks yang telah akut itu pe%ah, dinamakan appendisitis perforasi. !ila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. )ada anak , anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih pan"ang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian "uga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi ter"adi lebih %epat. !ila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian ge"alanya hilang timbul dikemudian hari maka ter"adi appendisitis kronis (Junaidi 5 1982 . 1. G. Komplikasi )eritonitis 7 )eritonitis lokal merupakan akibat dari mikroperforasi dari appendi%itis yang telah mengalami gangrene. 4edangkan peritonitis umum adalah merupakan tindak lan"ut daripada peritonitis lokal tersebut. !ertambahnya rasa nyeri, defans mus%uler yang meluas, distensi abdomen, bahkan ileus paralitik, merupakan ge"ala+ge"ala peritonitis umum. !ila demam makin tinggi dan timbul ge"ala+ ge"ala sepsis, menun"ukkan peritonitis yang makin berat. Abses / infiltrat 7 8erupakan akibat lain dari perforasi. &eraba masa lunak di abdomen kanan ba*ah. 4eperti tersebut diatas karena perforasi ter"adilah <*alling off= (pembentukan dinding oleh omentum atau vis%era lainnya, sehingga terabalah massa (infiltrat di regio abdomen kanan ba*ah tersebut. 8asa mula+mula bisa berupa plegmon, kemudian berkembang men"adi rongga yang berisi pus. :engan A42 bisa dideteksi adanya bentukan abses ini. Antuk massa atau infiltrat ini, beberapa ahli mengan"urkan anti biotika dulu, setelah B minggu kemudian dilakukan appendektomi. 0al ini untuk menghindari penyebaran infeksi ;omplikasi utama apendiksitis adalah perforasi apendiks, yang dapat berkembang men"adi peritonitis atau abses. 1nsiden perforasi adalah 1#( sampai -2C. 1nsiden lebih tinggi pada anak ke%il dan lansia. )erforasi se%ara umum ter"adi 2' "am setelah a*itan nyeri. 2e"ala men%akup demam dengan suhu -6,6o D atau lebih tinggi, nyeri tekan abdomen yang kontinue. 1. &. Peme'iksaan Pen(njang 1. /aboratorium 9ilai leukosit dan neutrofil akan meningkat, *alaupun hal ini bukan hasil yang karakteristik. )enyakit infeksi pada pelvis terutama pada *anita akan memberikan gambaran laborotorium yang terkadang sulit dibedakan dengan apendisitis akut )emeriksaan laboratorium merupakan alat bantu diagnosis. )ada dasarnya inflamasi merupakan reaksi lokal dari "aringan hidup terhadap suatu "e"as. 3eaksi tersebut meliputi reaksi vaskuler, neurologik, humoral dan seluler. Eungsi inflamasi di sini adalah memobilisasi semua bentuk pertahanan tubuh dan memba*a mereka pada tempat yang terkena "e"as dengan %ara7 mempersiapkan berbagai bentuk fagosit

(lekosit polimorfonuklear, makrofag pada tempat tersebut, pembentukan berbagai ma%am antibodi pada daerah inflamasi, menetralisir dan men%airkan iritan, membatasi perluasan inflamasi dengan pembentukan fibrin dan terbentuknya dinding "aringan granulasi. )ada anak dengan keluhan dan pemeriksaan fisik yang karakteristik apendisitis akut, akan ditemukan pada pemeriksaan darah adanya lekositosis 11.###+1'.###/mm-, dengan pemeriksaan hitung "enis menun"ukkan pergeseran kekiri hampir 6(C. Jika "umlah lekosit lebih dari 18.###/mm- maka umumnya sudah ter"adi perforasi dan peritonitis (3affensperger, 199# . 8enurut $in (2### pada penderita apendisitis akut ditemukan "umlah lekosit antara 12.###+ 2#.###/mm- dan bila ter"adi perforasi atau peritonitis "umlah lekosit antara 2#.###+-#.###/mm-. 4edang :orais*amy (1969 , mengemukakan bah*a komnbinasi antara kenaikan angka lekosit dan granulosit adalah yang dipakai untuk pedoman menentukan diagnosa appendi%itis a%ut. &es laboratorium untuk appendi%itis bersifat kurang spesifik., sehingga hasilnya "uga kurang dapat dipakai sebagai konfirmasi penegakkkan diagnosa. Jumlah lekosit untuk appendisitis akut adalah F1#.###/mmk dengan pergeseran kekiri pada hemogramnya (F6#C netrofil . 4ehingga gambaran lekositosis dengan peningkatan granulosit dipakai sebagai pedoman untuk appendi%itis a%ute (!olton et al, 196( . ;ontroversinya adalah beberapa penderita dengan appendi%itis a%ut, memiliki "umlah lekosit dan granulosit tetap normal (9auts et al, 198B . D+re%tive protein (D3) . )emeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen. 2. Eoto )olos abdomen 8ungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan ba*ah yang sesuai dengan lokasi apendiks, gambaran ini ditemukan pada 2#C kasus (Dloud, 199- . ;alau peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus pada bagian kanan ba*ah akan kolaps. :inding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan ba*ah abdomen kosong dari udara. 2ambaran udara seakan+akan terdorong ke pihak lain. )roses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot sehingga timbul skoliosis ke kanan. 2ambaran ini tampak pada penderita apendisitis akut (8antu, 199' . !ila sudah ter"adi perforasi, maka pada foto abdomen tegak akan tampak udara bebas di ba*ah diafragma. ;adang+kadang udara begitu sedikit sehingga perlu foto khusus untuk melihatnya. ;alau sudah ter"adi peritonitis yang biasanya disertai dengan kantong+kantong pus, maka akan tampak udara yang tersebar tidak merata dan usus+usus yang sebagian distensi dan mungkin tampak %airan bebas, gambaran lemak preperitoneal menghilang, pengkaburan psoas shado*. Galaupun ter"adi ileus paralitik tetapi mungkin terlihat pada beberapa tempat adanya permukaan %airan udara (air+fluid level yang menun"ukkan adanya obstruksi (3affensperger, 199#5 8antu, 199' . Eoto .+ray abdomen dapat mendeteksi adanya fe%alith (kotoran yang mengeras dan terkalsifikasi, berukuran sebesar ka%ang polong yang menyumbat pembukaan appendik yang dapat menyebabkan appendisitis. 1ni biasanya ter"adi pada anak+anak. Eoto polos abdomen supine pada abses appendik kadang+kadang memberi pola ber%ak udara dan air fluid level pada posisi berdiri///: ( de%ubitus , kalsifikasi ber%ak rim+like( melingkar sekitar perifer mukokel yang asalnya dari appendik. )ada appendisitis akut, kuadran kanan ba*ah perlu diperiksa untuk men%ari appendikolit 7 kalsifikasi bulat lon"ong, sering berlapis. 1. )emeriksaan radiologi dengan kontras barium enema hanya digunakan pada kasus+kasus menahun. )emeriksaan radiologi dengan barium enema dapat menentukan penyakit lain yang menyertai apendisitis 2. Altrasonografi

Apendiks yang meradang tampak sebagai lumen tubuler, diameter lebih dari B mm, tidak ada peristaltik pada penampakan longitudinal, dan gambaran target pada penampakan transversal (2ustavo 23, 199( ;eadaan a*al apendisitis akut ditandai dengan perbedaan densitas pada lapisan apendiks, lumen yang utuh, dan diameter 9 , 11 mm. ;eadaan apendiks supurasi atau gangrene ditandai dengan distensi lumen oleh %airan, penebalan dinding apendiks dengan atau tanpa apendikolit. ;eadaan apendiks perforasi ditandai dengan tebal dinding apendiks yang asimetris, %airan bebas intraperitonial, dan abses tunggal atau multipel (2ustavo 23, 199( . 1. Domputed &omography 4%anning (D&+4%an )erbandingan pemeriksaan penun"anng apendisitis akut7 )lt'asonog'afi *T+S an 4ensitivitas 8(C 9# , 1##C 4pesifisitas 92C 9( + 96C Akurasi 9# , 9'C 9' , 1##C ;euntungan Aman /ebih akurat relatif tidak mahal 8engidentifikasi abses dan flegmon lebih baik :apat mendignosis kelainan lain 8engidentifikasi apendiks pada *anita normal lebih baik !aik untuk anak+anak ;erugian &ergantung operator 8ahal 4ulit se%ara tehnik 3adiasi ion 9yeri ;ontras 4ulit di 34 daerah 4ulit di 34 daerah 1. /aparoskopi (Laparoscopy 2. 0istopatologi :ifinisi histopatologi apendisitis akut7 1 4el granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di lapisan epitel. 2 Abses pada kripte dengan sel granulosit dilapisan epitel. - 4el granulosit dalam lumen apendiks dengan infiltrasi ke dalam lapisan epitel. ' 4el granulosit diatas lapisan serosa apendiks dengan abses apendikuler, dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukusa. ( 4el granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses mukosa dan keterlibatan lapisan mukosa, bukan apendisitis akut tetapi periapendisitis. 1. I. Penatalaksanaan )ada apendiksitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi apendiks. :alam *aktu '8 "am harus dilakukan. )enderita di obsevarsi, istirahat dalam posisi fo*ler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang tidak merangsang persitaltik, "ika ter"adi perforasi diberikan drain diperut kanan ba*ah. a. &indakan pre operatif, meliputi penderita di ra*at, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirabaring dan dipuasakan b. &indakan operatif 5 apendiktomi %. &indakan post operatif, satu hari pas%a bedah klien dian"urkan untuk duduk tegak di tempat

tidur selama 2 . -# menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketu"uh luka "ahitan diangkat, klien pulang. 1. ,. As(-an Kepe'a.atan 1. 1. Pengkajian a. 1dentitas 8eliputi nama, umur, "enis kelamin, pendidikan, tanggal atau "am masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa, nama orang tua, alamat, umur pendidikan, peker"aan, peker"aan orang tua, agama dan suku bangsa. b. 3i*ayat penyakit sekarang ;lien dengan post appendiktomy mempunyai keluhan utama nyeri yang disebabkan insisi abdomen. %. 3i*ayat penyakit dahulu 8eliputi penyakit apa yang pernah diderita oleh klien seperti hipertensi, operasi abdomen yang lalu, apakah klien pernah masuk rumah sakit, obat+abatan yang pernah digunakan apakah mempunyai ri*ayat alergi dan imunisasi apa yang pernah diderita. d. 3i*ayat penyakit keluarga Adalah keluarga yang pernah menderita penyakit diabetes mellitus, hipertensi, gangguan "i*a atau penyakit kronis lainnya uapaya yang dilakukan dan bagaimana genogramnya . e. )ola Eungsi ;esehatan 1 )ola persepsi dan tatalaksana hidup sehat Adakah kebiasaan merokok, penggunaan obat+obatan, alkohol dan kebiasaan olah raga (lama frek*ensinya , bagaimana status ekonomi keluarga kebiasaan merokok dalam mempengaruhi lamanya penyembuhan luka. 2 )ola &idur dan 1stirahat 1nsisi pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat sehingga dapat mengganggu kenyamanan pola tidur klien. )ola aktifitas Aktifitas dipengaruhioleh keadaan dan malas bergerak karena rasa nyeri luka operasi, aktifitas biasanya terbatas karena harus bedrest berapa *aktu lamanya setelah pembedahan. ' )ola hubungan dan peran :engan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa melakukan peran baik dalam keluarganya dan dalam masyarakat. penderita mengalami emosi yang tidak stabil. ( )ola sensorik dan kognitif Ada tidaknya gangguan sensorik nyeri, penglihatan, pearaan serta pendengaran, kemampuan berfikir, mengingat masa lalu, orientasi terhadap orang tua, *aktu dan tempat. B )ola penanggulangan stress ;ebiasaan klien yang digunakan dalam mengatasi masalah. 6 )ola tata nilai dan keper%ayaan !agaimana keyakinan klien pada agamanya dan bagaimana %ara klien mendekatkan diri dengan tuhan selama sakit. 1. /. Peme'iksaan fisik 1. 4tatus ;esehatan umum ;esadaran biasanya kompos mentis, ekspresi *a"ah menahan sakit tanpa sakit ada tidaknya

kelemahan. 2. 1ntegumen Ada tidaknya oedem, sianosis, pu%at, pemerahan luka pembedahan pada abdomen sebelah kanan ba*ah . -. ;epala dan /eher $kspresi *a"ah kesakitan pada kon"ungtiva lihat apakah ada *arna pu%at. '. &ora. dan )aru Apakah bentuknya simetris, ada tidaknya sumbatan "alan nafas, gerakan %uping hidung maupun alat !antu nafas frek*ensi pernafasan biasanya normal (1B , 2# kali permenit . Apakah ada ron%hi, *heHing, stridor. (. Abdomen )ada post operasi biasanya sering ter"adi ada tidaknya pristaltik pada usus ditandai dengan distensi abdomen, tidak flatus dan mual, apakah bisa ken%ing spontan atau retensi urine, distensi supra pubis, periksa apakah produksi urine %ukup, keadaan urine apakah "ernih, keruh atau hematuri "ika dipasang kateter periksa apakah mengalir lan%ar, tidak ada pembuntuan serta terfiksasi dengan baik. B. $kstremitas Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya nyeri yang hebat, "uga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan. 1. K. Diagnosa Kepe'a.atan :iagnosa kepera*atan a. )re operasi 1. 3esiko tinggi kekurangan volume %airan berhubungan dengan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah pre operasi. 2. 2angguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi "aringan usus oleh inflamasi. -. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. b. )ost operasi 1. 2angguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka post operasi apendektomi. 2. gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berkurang baehubungan denga anore.ia, mual. -. 3esiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah. ;urang pengetahuan tentang pera*atan dan penyakit berhubungan dengan kurang informasi. 1. Pe'en anaan 1. )ersiapan umum operasi a. 8emperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa %emas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan . 1. 8engukur tanda+tanda vital. 2. 8engukur berat badan dan tinggi badan. -. ;olaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (0t, 4erum 2lukosa, Arinalisa . '. Ga*an%ara. (. )ersiapan klien malam sebelum operasi

$mpat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi 7 a. )ersiapan kulit b. )ersiapan saluran %erna 1. )ersiapan kasus yang dilakukan pada saluran %erna berguna untuk 7 1. 8engurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi. 2. 8engurangi kemungkinan obbstruksi usus. -.8en%egah infeksi fases saat operasi. Antuk men%egah tiga hal tersebut dilakukan 7 1. )uasa dan pembatasan makan dan minum. 2. )emberian enema "ika perlu. -. 8emasang tube intestine atau gaster "ika perlu. '. Jika klien menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 , 1# "am sebelum operasi 7 men%egah aspirasi gaster. 4elang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan %airan intestinal atau gester. (. )ersiapan untuk anastesi B. Ahli anastesi selalu berkun"unng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. 0al ini akan menun"ukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi. 8eningkatkan istirahat dan tidur )ersiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu "am sebelum obat+obatan pre operasi 7 1. 8en%atat tanda+tanda vital 2. Dek gelang identitas klien -. Dek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik '. Dek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus (. Iakinkan bah*a klien tidak makan dalam 8 "am terakhir B. An"urkan klien untuk buang air ke%il 6. )era*atan mulut "ika perlu 8. !antu klien menggunakan ba"u 34 dan penutup kepala 9. 0ilangkan %at kuku agar mudah dalam menge%ek tanda+tanda hipoksia 1% Inte'0esi p'e ope'asi 1. ?bsevasi tanda+tanda vital 2. ;a"i intake dan output %airan -. Auskultasi bising usus

'. ;a"i status nyeri 7 skala, lokasi, karakteristik (. A"arkan tehnik relaksasi B. !eri %airan intervena 6. ;a"i tingkat ansietas 8. !eri informasi tentang proses penyakit dan tindakan /% Inte'0ensi post ope'asi 1. ?bservasi tanda+tanda vital 2. ;a"i skala nyeri 7 ;arakteristik, skala, lokasi -. ;a"i keadaan luka '. An"urkan untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk. (. ;a"i status nutrisi B. Auskultasi bising usus 6. !eri informasi pera*atan luka dan penyakitnya. 1. E0al(asi a. 2angguan rasa nyaman teratasi b. &idak ter"adi infeksi %. 2angguan nutrisi teratasi d. ;lien memahami tentang pera*atan dan penyakitnya e. &idak ter"adi penurunan berat badan f. &anda+tanda vital dalam batas normal
DAFTA1 P)STAKA

!arata"aya. 199#. Medikal Bedah. Jakarta7 $2D http7//***.ilmubedah.%om diposting tanggal - agustus 2##8 http7//***.asuhankepera*tan.%om http7//***.pera*atblogger.%om 8.A. 0enderson. 1989. Ilmu Bedah Untuk Perawat, Jakarta7 )enerbit Iayasan essentia media )uruhito, 4oetanto Gibo*o, 4oetomo !asuki. 199-. Pedoman Tehnik perasi ! PT"#$ 4urabaya7 A9A13 )ress. 4oeparman 4ar*ono, Gaspad"i. 199#. Ilmu Penyakit %alam. Jakarta7 !alai )enerbit E;A1. 4meltHer, 4uHHane. 2##2. Buku A&ar #eperawatan Medical Bedah 'olume (. Jakarta7 $2D. 4ylvia. A )ri%e. 2###. Pato)isiologi* #onsep #linis Proses Penyakit +ilid ll. Jakarta7 $2D. Gilkinson, Judith 8. 2##B. !uku 4aku :iagnosa ;epera*atan $disi 6. Jakarta7 $2D Gin :e"ong, 3, 4yamsuhidayat. 1996., Buku A&ar Ilmu Bedah. Jakarta7 $2D $ntry Eiled under7 ;epera*atan. .