Anda di halaman 1dari 7

HUBUNGAN ASUPAN SUMBER KALSIUM DENGAN KEJADIAN MENARCHE PADA REMAJA PUTRI (Studi Kasus di 4 Kecamatan Kabupaten Malang)

Yetti Wira Citerawati SY*, Nanik Setijowati**, Eriza Fadhilah* Abstrak Kecukupan asupan kalsium merupakan salah satu faktor penentu terjadinya menarche yang normal pada remaja. Remaja yang mengalami menarche dini memiliki risiko terhadap penyakit kardiometabolik dan kanker sedangkan remaja yang menarche lambat berisiko terkena osteoporosis. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan asupan sumber kalsium dengan kejadian menarche pada remaja putri di 4 Kecamatan Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Lokasi penelitian di 4 Kecamatan di Kabupaten Malang (Pakisaji,Turen,Gondanglegi, Tajinan) dengan pemilihan responden menggunakan teknik purposive sampling. Perhitungan jumlah responden tiap kecamatan menggunakan teknik proportional random sampling. Variabel yang diteliti adalah asupan sumber kalsium dan kejadian menarche. Hasil penelitian (n=99) menunjukkan asupan kalsium responden belum menarche sebesar 594.53+360.09 dan sudah menarche sebesar 552.83+234.55. Uji statistik dengan menggunakan independent t-test menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan sumber kalsium dengan kejadian menarche pada remaja putri di 4 Kecamatan Kabupaten Malang. Kata kunci : asupan kalsium, menarche, remaja putri, kanker, penyakit kardiometabolik, osteoporosis ABSTRACT An adequate intake of calcium is one of the determinants of normal menarche in adolescents. The adolescents who experience early menarche have risk to cardiometabolic disease and cancer, while adolescents who late menarche are at risk of osteoporosis. This study aims to determine the association of the source of calcium intake with the state of menarche in four district Malang. This study is observational analytic and design is cross-sectional. Location of the study in four district in Malang (Pakisaji, Turen, Gondanglegi, Tajinan). The selection of respondents using purposive sampling technique. Proportional random sampling tecnique is used to calculate number of respondents for each district. The variables of the study are the source of calcium intake and state of menarche . This study (n=99) showed that intake calcium respondents who had not menarche at 594.53 +360.09 and who had menarche at 552.83 +234.55. Statictic analyze that used in the study is independent t-test. Its showed no significant association of intake calcium sources with state of menarche in four district of Malang. Keyword : calcium intake, menarche, adolescent, cancer, cardiometabolic disease, osteoporosis * Program Studi Ilmu Gizi Kesehatan FKUB ** Program Studi Pendidikan Dokter FKUB

PENDAHULUAN Remaja memiliki rentang usia sekitar 10-18 tahun dan merupakan waktu tumbuh cepat kedua setelah bayi1. Sebelum memasuki usia remaja, seorang remaja putri akan mengalami periode pubertas, yang salahsatunya ditandai dengan adanya menarche. Menarche diartikan sebagai gambaran dari onset siklus menstruasi. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa usia menarche menurun sebanyak 2-3 bulan perdekade yang salah satunya diakibatkan oleh pengaruh nutrisi yang optimal2. Hasil Riskesdas tahun 2010 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di Indonesia mengalami menarche pada usia 13-14 tahun3. Kejadian menarche pada remaja secara umum dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan, termasuk didalamnya adalah zat gizi, olahraga, kondisi sosial ekonomi, kesehatan secara umum, ras, BMI, geografi,dan persentase lemak tubuh serta genetik (riwayat keluarga merupakan prediktor kuat menarche dini, terutama sangat berkorelasi dengan usia menarche Ibu)2,4,5. Penelitian lain menunjukkan bahwa asupan zat gizi ikut mempengaruhi terjadinya menarche, salahsatunya adalah kalsium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan kalsium yang meningkat pada anak perempuan sebelum pubertas dapat mempercepat terjadinya pematangan seksual6. Selanjutnya asupan kalsium, magnesium, dan phosphor remaja yang tinggi dapat meningkatkan resiko usia menarche < 12 tahun7. Adanya kontribusi mineral kalsium dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja terutama remaja putri menjadikan kecukupan kalsium ini harus diperhatikan. Kecukupan asupan kalsium merupakan salah satu faktor yang menentukan terjadinya menarche yang normal pada remaja, Menarche dini dikaitkan dengan insiden kardiovaskuler yang lebih tinggi, termasuk kanker, khususnya kanker payudara. Kemudian untuk menarche terlambat diasosiasikan dengan osteoporosis dan risiko patah tulang yang meningkat5.

Hasil survey makanan oleh National Institute of Health bahwa remaja perempuan mempunyai risiko terbesar kekurangan asupan kalsium, dimana terjadinya penurunan asupan kalsium cenderung terjadi pada usia 10-17 tahun. Banyaknya konsumsi makanan berkarbonat merupakan salah satu faktor menurunnya asupan kalsium, selain itu minuman ringan berkarbonat umumnya mengandung kafein, yang dapat meningkatkan pengeluaran kalsium melalui urin1. Selain itu adanya bahan makanan sumber fosfat ikut mempengaruhi penyerapan kalsium, dimana asupan fosfat yang tinggi akan meningkatkan kehilangan kalsium dari tubuh8. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan sumber kalsium dengan kejadian menarche pada remaja putri (Studi Kasus di 4 Kecamatan Kabupaten Malang). Manfaat penelitian ini untuk memberikan informasi tentang gambaran rata-rata asupan kalsium pada remaja putri di 4 Kecamatan Kabupaten Malang dan hubungannya dengan kejadian menarche pada remaja putri. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. penelitian berlokasi di 4 kecamatan yaitu Pakisaji, Gondanglegi, Turen dan Tajinan. Perhitungan jumlah responden tiap kecamatan menggunakan teknik proportional random sampling dengan penentuan responden menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah asupan sumber kalsium dan kejadian menarche dengan total responden sebanyak 99 responden Untuk mengetahui hubungan antara asupan dengan kejadian menarche remaja putri menggunakan independent t-test. HASIL PENELITIAN Usia Menarche Responden yang sudah menarche memiliki rata-rata usia 11,75+0,57 sedangkan untuk responden yang belum menarche rata-rata usianya adalah 12,48+0,31.

Kejadian Menarche

Berdasarkan penelitian ada sekitar 10 bahan makanan sumber kalsium yang sering dikonsumsi oleh responden. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2
Tabel 2. Distribusi Bahan Makanan Sumber Kalsium pada Responden

Gambar 1 Kejadian Menarche

Kejadian menarche dikategorikan menjadi belum dan sudah menarche. Berdasarkan gambar 1 terlihat bahwa responden yang sudah menarche sebanyak 47 responden (47,5%) dan yang belum menarche sebanyak 52 responden (52,5%). Asupan Kalsium

BM Sumber Kalsium Tempe Tahu Biskuit Bayam Tepung susu Susu Kental Manis Es krim Susu Segar Susu kedelai Ikan Teri Kering

Jumlah n (%) 79 (79,8) 75 (75,8) 58 (58,6) 32 (32,3) 26 (26,3) 17 (17,2) 12 (12,1) 12 (12,1) 10 (10,1) 9 (9,1)

Nilai Kalsium /100g Bahan Makanan 93 105 111 211 770 300 116 115 106 1200

Gambar 2 Kategori Kalsium berdasarkan AKG 77% Berdasarkan gambar 2 tingkat kecukupan kalsium berdasarkan 77% AKG dikategorikan menjadi cukup dan kurang, dari 99 responden terdapat 87 responden (87,9%) termasuk kategori kurang dan sebanyak 12 responden (12,1%) termasuk dalam kategori cukup. Rata-rata asupan kalsium apabila dibandingkan antara yang sudah menarche dan belum menarche, dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Asupan Kalsium Responden Kejadian Menarche Mean+SD Belum Menarche 594.53+360.09 Sudah Menarche 552.83+234.55

Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa asupan kalsium yang paling sering dikonsumsi responden berasal dari sumber lauk nabati yaitu tempe dan tahu. Walaupun termasuk sering namun kedua bahan makanan tersebut hanya menyumbangkan kalsium sebanyak 93 dan 105 mg saja dalam 100 gr bahan makanannnya. Susu (770mg/100g bahan makanan) dan produknya sebagai bahan makanan yang paling tinggi kalsium ternyata hanya menempati urutan ke lima yang tersering dikonsumsi responden. Asupan Fosfor

Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa rata-rata asupan kalsium responden yang belum menarche adalah sebesar 594.53+360.09. Rata-rata asupan kalsium responden yang sudah menarche adalah sebesar 552.83+234.55.

Gambar 3. Rasio Asupan Kalsium Fosfor Berdasarkan gambar 3 terlihat bahwa dari 99 responden terdapat 22 responden (22,2%)

dengan rasio < 1,5 dan 77 responden (77,8%) dengan rasio >1,5. Rasio lebih dari 1,5 mengartikan bahwa rasio antara kalsium dan fosfor adalah lebih dari 1:1,5 . Rata-rata asupan fosfor apabila dibandingkan antara yang sudah menarche dan belum menarche, dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata Asupan Fosfor Remaja Putri Kejadian Mean+SD Mean+SD Menarche Fosfor Rasio Ca:P Belum 1082.53+533.29 2.04+0.69 Menarche Sudah 1001.10+404.73 1.90+0.50 Menarche

(206 mg/100 g bahan makanan). Sumber fosfor lain yang nilainya tinggi namun termasuk lebih jarang dikonsumsi adalah susu (600 mg/100 g bahan makanan). Sumber sayur yang sering dikonsumsi yang mengandung fosfor adalah bayam. Analisis Hubungan Antar Variabel
Tabel 5. Hubungan Asupan Kalsium dengan Kejadian Menarche Kejadian Menarche Belum Sudah n (%) n (%) 44 43 (50,6) (49,4) 8 (66,7) 4 (33,3)

Berdasarkan tabel 3 terlihat bahwa asupan fosfor responden yang belum menarche adalah sebesar 1082.53+533.29 dan responden yang sudah menarche adalah sebesar 1001.10+404.73. Rasio antara kalsium dan fosfor untuk yang belum menarche adalah 2.04+0.69 dan responden yang sudah menarche adalah 1.90+0.50. Berdasarkan penelitian ada sekitar 10 bahan makanan sumber fosfor yang sering dikonsumsi oleh responden. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Distribusi Bahan Makanan Sumber Fosfor pada Responden Nilai Fosfor /100g Bahan Makanan 206 132 172 50 72 600 234 12 243 312

Kategori Asupan Kalsium Kurang (TK<77% AKG) Cukup (TK>=77% AKG)

Total n (%) 87 (100) 12 (100)

BM Sumber Fosfor Tempe Coklat Telur ayam Teh Bayam Tepung susu Susu kedelai Soft drink Ikan lele Hati ayam

Jumlah n (%) 79 (79,8) 62 (62,6) 57 (57,6) 44 (44,4) 32 (32,3) 26 (26,3) 15 (15,2) 12 (12,1) 9 (9,1) 7 (7,1)

Berdasarkan tabel 5 terlihat bahwa dari 87 responden yang kategori asupan kalsiumnya kurang persentase terbesar (50,6%) terjadi pada responden yang belum menarche. Begitu pula pada 12 responden yang asupan kalsiumnya termasuk kategori cukup ternyata persentase terbesar (66,7%) juga terjadi pada responden yang belum menarche. Analisis Berdasarkan Uji Statistik Independent t-test menunjukkan bahwa p = 0,981 (n=99) dimana nilai p>0,05 yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan sumber kalsium dengan kejadian menarche pada remaja putri di 4 Kecamatan Kabupaten Malang. PEMBAHASAN Asupan Kalsium Rata-rata asupan kalsium remaja putri adalah sebesar 574,73 +306,17 mg/hari. Kecukupan kalsium untuk remaja putri usia 10-18 tahun adalah sebesar 1200 mg/hari9. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa rata-rata asupan kalsium remaja putri di 4 kecamatan Kabupaten Malang masih rendah dari nilai AKG. Hal ini terlihat dari persentase asupan kalsium

Berdasarkan tabel 4 terlihat bahwa asupan fosfor yang paling sering dikonsumsi responden adalah berasal dari sumber lauk nabati yaitu tempe

responden dibanding AKG, sebagian besar responden (87,9%) termasuk kategori kurang. Rendahnya asupan kalsium ini salah satunya disebabkan karena rendahnya intake susu pada remaja putri karena susu merupakan salah satu sumber utama makanan yang mengandung tinggi kalsium10. berdasarkan distribusi bahan makanan yang sering dikonsumsi responden terlihat bahwa susu berada pada urutan ke lima setelah tempe, tahu, biskuit dan bayam. Hal ini memperlihatkan bahwa remaja putri termasuk jarang mengkonsumsi susu. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa apabila susu dan produk susu tidak dikonsumsi maka akan sulit untuk mendapatkan asupan kalsium yang cukup, kecuali ditambah dengan konsumsi tablet kalsium11. Asupan Fosfor Kecukupan akan fosfor untuk remaja putri usia 10-18 tahun adalah sebesar 1250 mg/hari9. Kalsium dan fosfor saling berpengaruh erat dalam absorpsi kalsium. Konsumsi kalsium hendaknya dalam kisaran yang sama dengan fosfor walaupun rasio kalsium dengan fosfor adalah 1:1,5 masih mungkin dapat diterima. Tetapi rasio yang lebih dari 1: 2 terutama jika konsumsi kalsium rendah akan menyebabkan pengaruh negatif seperti demineralisasi tulang12,13. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 77 responden (77,8%) dengan rasio fosfor dan kalsium >1,5. Rasio lebih dari 1:1,5 ini harus diperhatikan karena asupan tinggi fosfor mengurangi kehilangan kalsium lewat urin, akan tetapi meningkatkan kehilangan kalsium lewat feses pada waktu yang bersamaan, sehingga tidak ada keuntungan yang didapat8. Hasil selanjutnya menunjukkan bahwa beberapa bahan makanan sumber kalsium yang termasuk sering dikonsumsi responden adalah tempe dan bayam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ternyata kacang-kacangan dan hasil kacang-kacangan, tahu dan tempe, dan sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baik namun bahan makanan ini mengandung banyak zat yang menghambat penyerapan kalsium seperti serat, fitat dan oksalat10.

Hubungan Asupan Kejadian Menarche

Kalsium

dengan

Berdasarkan penelitian tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan sumber kalsium dengan kejadian menarche pada remaja putri di 4 kecamatan Kabupaten Malang. Beberapa hal yang menjadi penyebab tidak adanya hubungan pada penelitian ini adalah karena adanya beberapa faktor. Salah satu penyebabnya adalah rasio kalsium dan fosfor. Sekitar 77 responden (77,8%) ratio kalsium dan fosfor adalah lebih dari 1:1,5. Idealnya konsumsi kalsium hendaknya dalam kisaran yang sama dengan konsumsi fosfor, walaupun rasio P:Ca =1,5:1 mungkin dapat diterima .Tetapi rasio yang lebih dari 2:1, terutama apabila konsumsi kalsium rendah, akan menyebabkan pengaruh negative, yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya demineralisasi tulang12. Tidak adanya hubungan antara asupan sumber kalsium dengan menarche pada remaja putri diperkuat oleh penelitian yang dilakukan sebelumnya bahwa total intake kalori, makro nutrient dan mikro nutrient (kalsium, p=0,52) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian menarche. Dalam penelitian tersebut pada remaja yang belum menarche asupan kalsiumnya sebesar 442,3 mg/hari dan yang sudah menarche asupan kalsiumnya sebesar 373,2 mg/hari. Penelitian tersebut mendapatkan hasil bahwa usia menarche ibu berhubungan dengan kejadian menarche remaja putri. Selanjutnya bahwa meningkatnya berat badan, rendahnya aktivitas fisik berhubungan kuat dengan terjadinya menarche dini pada remaja putri. Dalam penelitian tersebut jelas menggambarkan bahwa faktor diet tidak menunjukkan hubungan yang sinifikan dengan usia menarche remaja putri14. Hal selanjutnya yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara asupan sumber kalsium dengan kejadian menarche adalah dikarenakan adanya faktor lain yang berperan terhadap kejadian menarche. Beberapa penulis menyebutkan bahwa faktor-faktor terjadinya menarche dipengaruhi oleh faktor yang kompleks, diantaranya oleh faktor lingkungan, termasuk didalamnya adalah zat gizi, olahraga, kondisi sosial ekonomi, kesehatan secara umum, ras, BMI, geografi,dan persentase

lemak tubuh serta genetik (riwayat keluarga merupakan prediktor kuat menarche dini, terutama sangat berkorelasi dengan usia menarche2,4,5. KESIMPULAN 1.Kejadian menarche pada remaja putri adalah terdapat 47 responden (47,5%) sudah menarche dan 52 responden (52,5%) belum menarche. 2.Rata-rata asupan kalsium remaja putri di 4 kecamatan kabupaten Malang adalah sebesar 574,73 +306,17 mg/hari. Persentase asupan kalsium remaja berdasarkan 77% AKG sebanyak 87 responden (87,9%) termasuk kategori kurang dan sebanyak 12 responden (12,1%) termasuk kategori cukup. Rata-rata asupan kalsium pada remaja putri yang belum menarche adalah sebesar 594.53+360.09 dan asupan kalsium pada remaja putri yang sudah menarche adalah sebesar 552.83+234.55 3.Tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan sumber kalsium dengan usia kejadian menarche pada remaja putri di 4 Kecamatan Kabupaten Malang. Saran 1.Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh semua faktor yang menghambat penyerapan kalsium, sehingga benar-benar dapat dipastikan bahwa kalsium yang diasup adalah kalsium yang dapat diserab secara maksimal oleh tubuh. 2.Perlu penelitian lebih lanjut mengenai faktorfaktor penyebab menarche yang lain, sehingga akhirnya dapat diketahui faktor apa saja yang paling berperan dalam mempengaruhi kejadian menarche pada remaja. 3.Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar asupan kalsium remaja masih termasuk kategori rendah dan sebagian besar remaja masih mengkonsumsi sumber bahan makanan yang rendah kalsium serta tinggi akan zat yang menghambat penyerapan kalsium, sehingga disarankan agar remaja putri mengkonsumsi bahan makanan tinggi kalsium dengan memperhatikan bahan makanan yang menghambat penyerapan kalsium.

DAFTAR PUSTAKA 1. Almatsier S, Soetardjo S & Soekatri M. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2. Heffner,LJ and Schust DJ. 2008. At a Glance Sistem Reproduksi. Edisi kedua. Erlangga, Jakarta 3. Kemenkes RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta 4. Long JR, et al., 2005. The Estrogen Receptor Gene is Linked and/or Associated With Age of Menarche in Different Ethnic Groups. J.Med Genet, p. 796-800 5. Karapanou, O and Papadimiriou A. 2010. Determinant of Menarche. Reproductive Biology and Endokrinology 2010, p 8:115, (Online), (http://www.rbej.com/content/8/1/115, diakses 23 Maret 2013). 6. Chevalley T, Rizzoli R, Hans D, Ferrari S, & Bonjour JP. 2005. Interaction Between Calcium Intake and Menarcheal Age on Bone Mass Gain : An Eight-year Follow-up Study From Prepuberty to Post Menarche. TheJournal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 90 (1) : 44-51. 7. Tehrani FR, Moslehi N, Asghari G, Gholami R, Mirmiran P and Azizi F. 2013. Intake of Dairy Products, Calcium, Magnesium and Phosphorus in Chilhood and Age at Menarche in the Tehran Lipid and Glucose Study. Plos One. 8(2) (www.plosone.org) 8. Gibson RS. 2005. Principles of Nutritional Assesment. Second Edition. Oxford University Press Inc. 9. Kemenkes RI. 2013. Pedoman PGRS Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Kemenkes RI. Jakarta 10. Almatsier S. 2009. Prinsip Ilmu Gizi Dasar. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 11. Lutfiah, V. 2007. Hubungan Konsumsi Pangan Sumber Kalsium dengan Keluhan Menstruasi Pada Remaja. Skripsi yang Dipublikasikan. IPB, Bogor. 12. Linder, MC. 2006. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. UIP, Jakarta 13. Kemi V. 2010. Effect of Dietary Phosphorus and Calcium to Phosphorus Ratio on Calcium and

Bone Metabolism in Healthy 20 to 43 Year Old Finnish Women. Departement of Food and Enviromental Sciences. University of Helsinki. Finlandia. 14. Dietz AT, Nichols HB, Remington PL, Yanke L, Hampton JM, Newcomb PA and Love RL et al., 2005. Corelates of Age at Menarche Among Sixth Grade Students In Wisconsin. Wisconsin Medical Journal. 104(7.):65-69