Anda di halaman 1dari 132

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

II.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFIS


II.1.1. KARAKTERISTIK LOKASI DAN WILAYAH

Kota Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur terletak di tepi pantai utara Provinsi Jawa Timur atau tepatnya berada diantara 7 9'- 7 21' Lintang Selatan dan 112 36' - 112 54' Bujur Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Selat Madura di sebelah Utara dan Timur, Kabupaten Sidoarjo di sebelah Selatan dan Kabupaten Gresik di sebelah Barat. Secara topografi, sebagian besar (25.919,04 Ha)

merupakan dataran rendah dengan ketinggian 3 - 6 meter di atas permukaan laut pada kemiringan kurang dari 3 persen, sebagian lagi pada sebelah barat (12,77 persen) dan sebelah selatan (6,52 persen) merupakan daerah perbukitan landai dengan ketinggian 25 - 50 meter di atas permukaan laut dan pada kemiringan 5 15 persen. Jenis batuan yang ada terdiri dari 4 jenis yang pada dasarnya merupakan tanah liat atau unit-unit pasir. Sedangkan jenis tanah, sebagian besar berupa tanah alluvial, selebihnya tanah dengan kadar kapur yang tinggi (daerah perbukitan). Sebagaimana daerah tropis lainnya, Surabaya mengenal 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Curah hujan rata-rata 172 mm, dengan temperatur berkisar maksimum 30 C dan minimum 25 C. Secara geografis, Kota Surabaya terletak di hilir sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang bermuara di Selat Madura. Beberapa sungai besar yang berfungsi membawa dan menyalurkan banjir yang berasal dari hulu mengalir melintasi Kota Surabaya, antara lain Kali Surabaya dengan Q rata2 = 26,70 m3/detik, Kali Mas dengan Q rata2 = 6,26 m3/detik dan Kali Jagir dengan Qrata2 = 7,06 m3/detik. Sebagai daerah hilir, Kota Surabaya dengan sendirinya merupakan daerah limpahan debit air
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 1

dari sungai yang melintas dan mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan. Secara administrasi pemerintahan Kota Surabaya dikepalai oleh Walikota yang juga membawahi koordinasi atas wilayah administrasi kecamatan yang dikepalai oleh Camat. Jumlah kecamatan yang ada di Kota Surabaya sebanyak 31 kecamatan dan jumlah kelurahan sebanyak 160 kelurahan dan terbagi lagi menjadi 1.405 Rukun Warga (RW) dan 9.271 Rukun Tetangga (RT).
II.1.2. POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH

Kota Surabaya sebagai salah satu kota di Jawa Timur memiliki peran strategis pada skala nasional sebagai pusat pelayanan kegiatan Indonesia Timur, dan pada skala regional sebagai kota perdagangan dan jasa yang pada simpul transportasi (darat, udara dan laut) nasional dan internasional sehingga memberi peluang bagi Kota Surabaya untuk meningkatkan perannya sebagai Pusat Kegiatan Nasional. Dalam kaitannya dengan kondisi tersebut, Kota Surabaya memiliki kawasan strategis yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan untuk mendukung eksistensi pengembangan wilayah dimasa mendatang, diantaranya adalah: a. Kawasan Pertahanan Dan Keamanan Kawasan pertahanan dan keamanan/militer yang ada di Kota Surabaya adalah:

Kawasan Bumi Marinir TNI-AL di Karang Pilang Surabaya. Kawasan Basis Armada Timur dan KODIKAL dan LANTAMAL di Tanjung Perak. Kawasan Kodam Brawijaya dan Batalyon Infantri (YONIF) di Kawasan Gunungsari.

II - 2

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

b. Kawasan Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kawasan-kawasan yang akan dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah:

Kawasan Industri dan Pergudangan Ditinjau dari aksesbilitas karena letaknya berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak dan Jalan Tol Sidoarjo Surabaya Gresik, Kawasan industri dan pergudangan Margomulyo merupakan kawasan strategis untuk dioptimalisasi dan dikembangkan dengan orientasi pada industry smart and clean dengan didukung oleh infrastruktur yang memadai.

Kawasan Segi Empat EmasTunjungan dan sekitarnya Sebagai kawasan pusat perdagangan dan perkantoran, kawasan Segi Empat Emas Tunjungan memerlukan penanganan dan pengelolaan yang optimal untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya.

Kawasan Kaki Jembatan Wilayah Suramadu - Pantai Kenjeran Merupakan kawasan strategis ditinjau dari lokasinya yang berada l di persimpangan kaki jembatan dan rencana jalan lingkar luar timur. Disamping itu, kawasan ini memiliki potensi sebagai kawasan perdagangan dan jasa skala regional. Keberadaan Jembatan Suramadu memberikan peningkatan potensi dan peran Kota Surabaya, sebagai pusat kegiatan regional, tidak hanya dalam lingkup Kawasan Gerbangkertosusila (Kabupaten Gresik, Kabupaten Bangkalan, kabupaten dan Kota Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Lamongan), namun juga hingga kawasan kepulauan madura secara keseluruhan (Kabupaten Bangkalan,

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 3

Kabupaten

Sampang,

Kabupaten

Pamekasan

dan

Kabupaten Sumenep).

Kawasan Waterfront city yang terintegrasi dengan rencana pengembangan Pelabuhan Teluk Lamong Kawasan ini akan dikembangkan dengan konsep mixed use antara hunian dan komersial yang didukung oleh rancang kota yang baik yang terintegrasi dengan rencana pengembangan Pelabuhan Teluk Lamong. Kedepannya kawasan pelabuhan dan waterfront city dapat terintegrasi dalam konteks sebuah kesatuan kawasan strategis

Kawasan Terpadu Surabaya Barat Kawasan ini akan dikembangkan menjadi kawasan terpadu yang pusatnya akan dikembangkan di Stadion Bung Tomo sebagai kawasan pusat olahraga berskala nasional yang akan terintegrasi dengan pengembangan kawasan perdagangan dan jasa di sekitarnya.

c. Kawasan Pengembangan Sosial Budaya Kawasan yang dikembangkan dari sudut kepentingan sosial dan budaya adalah kawasan adat tertentu, kawasan dan konservasi warisan budaya. Kawasan strategis sosial-budaya yang ada di Kota Surabaya adalah :

Kawasan Religi Makam Sunan Ampel Merupakan kawasan cagar budaya yang memiliki karakter dan daya tarik kuat sebagai obyek wisata ziarah di Indonesia yang berkembang tidak hanya sebagai kampung budaya yang khas dengan beragam aktivitasnya tetapi juga memiliki kultur religi yang kuat.

Kawasan Kota Lama Surabaya, Kawasan Bangunan dan Lingkungan Cagar Budaya Kawasan kota lama merupakan kawasan yang pada era kolonial terdelienasi sebagai kawasan eropa, kawasan

II - 4

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

arab dan kawasan cina yang tersebar di Kecamatan Krembangan, Kecamatan Pabean Cantian, Kecamatan Semampir dan Kecamatan Bubutan, sedangkan kawasan bangunan dan lingkungan cagar budaya merupakan kawasan bangunan dan lingkungan pada kawasan DarmoDiponegoro serta kawasan kampung lama Tunjungan di Kecamatan Tegalsari. Seiring dengan waktu, pemanfaatan bangunan yang tidak serasi dangan karakter awal kawasan kota lama dan kampung lama membuat kawasan ini terlihat kumuh dan cenderung ditinggalkan, sehingga perlu penetapan sebagai kawasan cagar budaya yang berkarakter untuk mengendalikan pembangunan di kawasan ini. d. Kawasan Pendukung Lingkungan Hidup Kawasan yang dikembangkan untuk meningkatkan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup yang ada di Kota Surabaya adalah:

Kebun Binatang Surabaya (KBS) Merupakan hutan kota di kawasan Wonokromo yang berfungsi sebagai tempat perlindungan satwa, hutan kota dan rekreasi alam di dalam Kota Surabaya. Sebagai kawasan hijau yang masih di tengah Kota, Kebun Binatang Surabaya sangat berperan dalam mengatur iklim mikro di Kota Surabaya. Melihat nilai strategis sebagai kawasan wisata dalam kota, maka keberadaan KBS harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.

Hutan Mangrove Pantai Timur Surabaya. Merupakan kawasan lindung alam berupa vegetasi mangrove yang berada di pesisir timur Kota Surabaya. Kawasan Mangrove Pamurbaya sangat berperan penting

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 5

dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan sebagai barier alami dari proses abrasi dan intrusi air laut.

Kawasan Sempadan Sungai Kota Surabaya dilalui oleh sungai yang sangat berpengaruh pada ketersediaan air baku dan sistem utama drainase kota. Beberapa sungai tersebut adalah Kali Surabaya, Kali Wonokromo, Kalimas dan Kali Makmur. Semua aliran air permukaan dan air buangan bermuara di sungai-sungai tersebut, sehingga akan berpengaruh pada kualitas air baku. Mengingat populasi penduduk Kota Surabaya semakin tinggi yang berdampak pada semakin meningkatnya kebutuhan air bersih dan air buangan, maka perlu adanya pengelolaan kawasan daerah aliran sungai untuk mendukung fungsinya sebagai kawasan lindung.

II - 6

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Posisi Surabaya dalam konteks Nasional & internasional

Surabaya dalam GERBANGKERTOSUSILA

Surabaya dalam SMA

Gambar 2.1 Lokasi dan Peran Kota Surabaya e. Kawasan Strategis Pendayagunaan SDA dan Teknologi Tinggi Kawasan strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 7

adalah penghasil sumberdaya alam yang sangat potensial untuk kepentingan masyarakat beserta perangkat atau instalasi pengolahannya atau kawasan khusus untuk pengembangan teknologi untuk kepentingan strategis negara dan kepentingan umum. kawasan strategis SDA dan Teknologi Tinggi di Kota Surabaya adalah:

Industri Pengembangan Perkapalan Merupakan salah satu kawasan yang digunakan dalam pengembangan teknologi perkapalan tingkat nasional. Sebagai industri perkapalan nasional, kawasan industri ini memiliki nilai strategis dan diperlukan upaya dalam menjaga dan meningkatkan nilai atau potensi kawasan tersebut.

Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER). Merupakan kawasan industri dan pergudangan yang telah lama berdiri di Kota Surabaya. Mengingat Kota Surabaya sebagai kota jasa dan perdagangan,maka kegiatan industri dialihkan ke luar wilayah Kota Surabaya. Sedangkan kawasan SIER, kegiatan industrinya diarahkan menjadi industri dengan teknologi tinggi yang ramah lingkungan.

Kawasan Depo dan Pengolahan BBM . Merupakan kawasan di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak yang memiliki fungsi sebagai penyimpanan bahan bakar minyak. Pengelolaan BBM juga dilakukan pada lokasi tersebut, sehingga nilai strategis dalam kaitanya dengan sistem energi di Kota surabaya dan sekitarnya bergantung pada kawasan ini.

Kawasan TPA Benowo. Merupakan kawasan yang digunakan untuk pemrosesan akhir sampah di Kota Surabaya. Mengingat semakin meningkatnya timbunan sampah di Kota Surabaya dan

II - 8

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

teknik open dumping yang tidak efektif dalam mengolah sampah, maka untuk kedepannya pengolahan sampah akan diarahkan dengan menggunakan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern dan dalam jangka panjang akan dikembangkan dengan konsep: Waste to Energy. Selain potensi pengembangan kawasan strategis, perkembangan pengembangan Kota dan Surabaya juga didukung pembangunan infrastruktur oleh yang

meliputi: 1. Pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak untuk Terminal Peti Kemas/Reklamasi di Teluk Lamong. 2. Pengembangan jaringan jalan arteri yang menghubungkan antar pusat utama kota dengan pusat kota di kabupaten yang berbatasan langsung. 3. Pengembangan jalur komuter / kereta api double track serta angkutan massal dan prasarana pendukungnya yang menghubungkan pusat-pusat pelayanan kota. 4. Pengembangan dan normalisasi saluran drainase kota.
II.1.3. WILAYAH RAWAN BENCANA

Secara geografis Kota Surabaya tidak termasuk daerah rawan bencana karena letaknya jauh dari gunung berapi aktif dan tidak dilalui oleh sungai-sungai besar. Kejadian bencana yang umum terjadi di Kota Surabaya adalah banjir dan kebakaran. Beberapa wilayah di Kota Surabaya mengalami genangan dengan ketinggian yang bervariasi mulai dari 1070 cm dengan waktu genangan paling lama sekitar 6 jam. Jenis bencana lainnya adalah kebakaran. Kejadian

kebakaran adalah jenis bencana yang tidak dapat diprediksi akan tetapi dapat dicegah. Penentuan daerah rawan kebakaran di Kota Surabaya
R P J M D

didasarkan atas
S U R A B A Y A

kepadatan

penduduk, kepadatan
II - 9

K O T A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

bangunan, data kejadian kebakaran, kondisi bangunan dan proporsi kegiatan terbangun dengan luas lahan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kecamatan yang tergolong tingkat kerawanan sangat tinggi adalah Kecamatan Simokerto, Kecamatan Tambaksari, dan Kecamatan Sawahan. Kecamatan yang tergolong tingkat kerawanan tinggi adalah Kecamatan Tegalsari, Kecamatan Bubutan, Kecamatan Semampir, Kecamatan Krembangan, Kecamatan Gubeng, Kecamatan Wonokromo, Kecamatan Sukomanunggal. Sedangkan kecamatan lain yang tidak tergolong tingkat kerawanan sangat tinggi maupun tinggi harus tetap diwaspadai dan diperhatikan. Kawasan rawan banjir di Kota Surabaya gambar peta sebagai berikut : Gambar 2.2 seperti dalam

Peta Kawasan Rawan Bencana Banjir Di Kota Surabaya

Sumber : Review RTRW Kota Surabaya, Bappeko 2009 Sedangkan genangan terjadi disebabkan tertundanya air hujan masuk ke saluran pematusan selama beberapa saat. Kawasan rawan atau berpotensi terjadi genangan di Kota Surabaya seperti dalam gambar sebagai berikut :

II - 10

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Gambar 2.3 Peta Kawasan Rawan Genangan Di Kota Surabaya

Sumber : Review RTRW Kota Surabaya, Bappeko 2009 Sedangkan bencana lainnya yang umum terjadi adalah

bencana kebakaran terutama di kawasan permukiman padat dan kawasan industri. Kawasan rawan bencana kebakaran disebabkan oleh beberapa hal seperti kepadatan penduduk, kondisi bangunan, tingkat kepadatan bangunan, kejadian kebakaran dan proporsi kegiatan terbangun dengan luas lahan. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka daerah dengan tingkat kerawanan sangat tinggi yang memerlukan penanganan dan perhatian terdapat pada Kecamatan Simokerto, Kecamatan Tambaksari, Kecamatan Sawahan, dan daerah dengan tingkat kerawanan tinggi meliputi Kecamatan Tegalsari, Kecamatan Bubutan, Kecamatan Semampir, Kecamatan Krembangan, Kecamatan Gubeng, Kecamatan Wonokromo, Kecamatan Sukomanunggal. Kawasan rawan bencana kebakaran tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 11

Gambar 2.4 Peta Kawasan Rawan Bencana Kebakaran Di Kota Surabaya

Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana yang harus dilakukan oleh semua komponen, baik masyarakat, pemerintah, maupun pengusaha. Mitigasi juga harus dilakukan dengan memperhatikan bagaimana upaya pencegahan bencana, minimalisasi dampak dan upaya pemulihan daerah yang terkena bencana. Mitigasi bencana banjir dan genangan dapat dilakukan dengan pelestarian/konservasi daerah pesisir secara intensif dan pengendalian kawasan sempadan sungai dan saluran pematusan di Kota Surabaya. Sedangkan mitigasi untuk bencana kebakaran dapat dilakukan dengan meningkatkan keandalan sistem proteksi kebakaran baik pada bangunan maupun pada lingkungan serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran.

II - 12

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II.1.4. KONDISI DEMOGRAFIS

Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kota Surabaya memiliki penduduk hingga akhir tahun 2010 sebanyak 2.929.528 orang dengan komposisi yang relative seimbang antara laki-laki dengan perempuan yaitu terdiri dari 50,18 persen Laki-laki dan 49,82 persen perempuan. Dengan luas wilayah yang seluas 33.048 Ha maka tingkat kepadatan Kota Surabaya sebesar 8.864 jiwa / km2. Jika dilihat berdasarkan struktur usianya, penduduk Kota Surabaya lebih banyak berusia produktif yaitu 35 tahun sampai 54 tahun atau sebesar 32,98 persen dari total penduduk, selanjutnya pada usia 15 tahun sampai 34 tahun atau sebesar 32,95 persen. Sedangkan pada proporsi penduduk usia tua hanya 14,89 persen dan sisanya proporsi penduduk usia muda atau anak-anak yaitu usia kurang dari 14 tahun yaitu 19,19 persen. Gambar 2.5. Piramida Penduduk KotaSurabaya Tahun 2010

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Surabaya, diolah Berdasarkan data sensus penduduk, tingkat pertumbuhan penduduk Kota Surabaya dari tahun 1980 sampai 1990 mencapai 2,06 persen, selanjutnya sampai tahun 2000 tingkat pertumbuhan

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 13

penduduk menjadi 0,5 persen. Dalam lima tahun terakhir, berdasarkan hasil registrasi penduduk rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk Kota Surabaya meningkat 1,76 persen. Meningkatnya pertumbuhan tersebut terutama sebagai akibat dari tingkat kelahiran dan urbanisasi diiringi dengan meningkatnya usia harapan hidup penduduk Kota Surabaya. Komposisi penduduk Kota Surabaya dtinjau dari aspek pendidikan (di atas umur 10 Tahun), persentase jumlah penduduk yang manamatkan pendidikan minimal SLTP sebesar 35%, sedangkan jumlah penduduk yang sudah mengenyam pendidikan minimal SMU sederajat sebanyak 29 %. Dibanding kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur, Kota Surabaya memiliki profil pendidikan penduduk yang relatif baik. Secara rinci profil pendidikan penduduk Kota surabaya tahun 2009 adalah sebagai berikut : Gambar 2.6 Profil Penduduk Kota Surabaya Berdasarkan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2010

Perguruan Tinggi 13% SLTA SEDERAJAT 29%

Tidak/Belum Sekolah 19%

Belum Tamat SD Sederajat 4%

SLTP Sederajat 13%

Tamat SD Sederajat 22%

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya, diolah Komposisi Penduduk Kota Surabaya ditinjau menurut agama yang dipeluk menunjukkan bahwa penduduk Kota Surabaya

II - 14

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

mayoritas memeluk agama Islam. Pada tahun 2010, penduduk Surabaya yang memeluk agama islam sebanyak 84,79 persen, selanjutnya pemeluk agama Kristen sebanyak 9,82 persen, kemudian pemeluk agama Katholik sebanyak 4,21% persen sedangkan penduduk yang memeluk agama Hindu, Budha dan lainnya, masing masing 0,33,1,76 dan 0,01 persen. Komposisi penduduk Kota Surabaya berdasarkan agama yang dipeluk untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.1 Profil Penduduk Kota Surabaya Berdasarkan Agama Agama Islam Kristen Katholik Hindu Budha Lainnya 2008 82.31% 10.06% 4.50% 0.83% 2.29% 0.00% 2009 84.86% 9.99% 4.21% 0.34% 1.82% 0.01% 2010 84.79% 9.82% 4.21% 0.33% 1.76% 0.01%

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya, diolah II.2. KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
II.2.1. KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN EKONOMI

a. Kondisi Makro Ekonomi Surabaya Perkembangan ekonomi Surabaya relatif tinggi dibanding pertumbuhan rata-rata Nasional (5,74%) maupun Jawa Timur (5,90%) pada tahun 2006 2010. Pertumbuhan ekonomi ini lebih didorong oleh pertumbuhan sektor tersier khususnya pertumbuhan di sektor perdagangan, jasa dan komunikasi yang pertumbuhan rata-ratanya berkisar antara 6% hingga 7% per tahun. Surabaya sebagai ibukota provinsi, sangat diuntungkan dengan adanya infrastruktur penunjang ekonomi seperti
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 15

Terminal

Purabaya,

Pelabuhan

Tanjung

Perak,

Bandara

Internasional Juanda dan Stasiun Kereta Api Gubeng, yang mempunyai peran cukup strategis dan diperhitungkan dalam menentukan arah kebijakan pembangunan ekonomi Provinsi Jawa Timur. Kekuatan ekonomi dan segala aktivitas ekonomi yang ada, merupakan salah satu penggerak utama ekonomi Jawa Timur. Hal ini tercermin dari output Surabaya yang memberikan kontribusi paling besar dibanding kabupaten/ kota lain di Jawa Timur yang mencapai 26,35% terhadap perekonomian Jawa Timur (diukur dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHB Surabaya 2010). Letak Kota Surabaya yang cukup strategis untuk perdagangan, ekspor dan impor relatif kondusif dapat menghasilkan iklim perekonomian yang cukup stabil dan bergairah. Hal ini tercermin dari tingkat pertumbuhan ekonomi Surabaya yang relatif tinggi di tahun 2010 mencapai 7,09% dan juga pertumbuhan positif pada sub sektor pengangkutan dan komunikasi (9,41%) dan sub sektor perdagangan, hotel dan restoran (8,47%). Perkembangan ekonomi daerah berdasarkan PDRB Kota Surabaya selama tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 relatif cukup baik. Hal ini terlihat dari nilai PDRB berdasarkan harga berlaku mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2006 sebesar Rp 125,36 trilyun meningkat menjadi Rp 162,83 trilyun tahun 2008 dan menjadi Rp 205,16 trilyun pada tahun 2010. Demikian juga dengan perkembangan nilai PDRB berdasarkan harga konstan, dari tahun 2006 sebesar Rp 68,82 trilyun meningkat menjadi Rp 77,72 trilyun tahun 2008 dan menjadi Rp 87,83 trilyun pada tahun 2010. Secara rinci PDRB kota Surabaya tahun 2006 sampai dengan 2010, berdasarkan harga berlaku dan konstan dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan 2.3:

II - 16

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Tabel 2.2 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB tahun 2006 s.d 2010 Atas Dasar Harga Berlaku Kota Surabaya (dalam Milyar Rupiah dan %)
SEKTOR SEKTOR PRIMER I. II. PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK, GAS DAN AIR KONSTRUKSI SEKTOR TERSIER VI. PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 2006 154,25 145,01 9,24 44.024.48 30.932,36 3.401,38 9.690,74 81.181,78 51.834,98 % 0,13 0,12 0,01 35,11 24,67 2,71 7,73 64,76 41,35 2007 153,82 145,48 8,35 49.487,24 34.469,36 4.687,04 10.330,84 93.345,25 60.156,31 % 0,11 0,10 0,01 34,61 24,11 3,28 7,23 65,28 42,07 2008 162,61 153,00 9,61 55.703,03 38.594,05 5.795,78 11.340,19 106.940,73 69.721,73 % 0,10 0,09 0,01 34,23 23,70 3,56 6,96 65,67 42,82 2009 176,2 165,89 10,31 60.188,42 41.277,02 6.662,81 12.248,59 118.194,35 76.354,51 % 0,10 0,09 0,01 33,71 23,12 3,73 6,86 66,19 42,76 2010 189,63 178,30 11,32 67.048,51 45.508,52 7.453,10 14.086,89 137.923,33 88.851,24 % 0,10 0,09 0,01 32,68 22,18 3,63 6,87 67,23 43,31

SEKTOR SEKUNDER III. IV. V.

VII.

12.137,90

9,68

13.619,06

9,52

15.015,84

9,22

17.099,70

9,58

20.230,54

9,86

SEKTOR VIII . IX. KEUAGAN, PERSEWAAN & JS. PERUS JASA-JASA

2006 7.214,88 9.994,02 125.360,5 1

% 5,76 7,97 100

2007 8.382,02 11.187,87 142.986,31

% 5,86 7,82 100

2008 9.630,01 12.573,15 162.833,38

% 5,91 7,72 100

2009 10.879,17 13.860,96 178.558,97

% 6,09 7,76 100

2010 12.388,90 16.452,65 205.161,47

% 6,04 8,02 100

TOTAL PDRB SURABAYA

Sumber: BPS Kota Surabaya

Tabel 2.3 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB tahun 2006 s.d 2010 Atas Dasar Harga Konstan Kota Surabaya (dalam Milyar Rupiah dan %)
SEKTOR SEKTOR PRIMER I. II. PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 2006 97,68 90,9 6,78 23.086,62 16.579,63 1.391,38 5.115,61 % 0,14 0,13 0,01 33,55 24,09 2,02 7,43 2007 89,23 83,22 6,01 24.260,71 17.331,93 1.763,95 5.164,82 % 0,12 0,11 0,01 33,16 23,69 2,41 7,06 2008 82,9 76,80 6,1 25.176,36 17.995,48 1.836,59 5.344,29 % 0,11 0,10 0,01 32,39 23,15 2,36 6,88 2009 84,44 78,24 6,2 26.034,28 18.542,20 1.962,34 5.529,74 % 0,11 0,10 0,01 31,74 22,61 2,39 6,74 2010 85,53 79,17 6,35 27.195,58 19.225,16 2.080,13 5.890,30 % 0,10 0,09 0,01 30,96 21,89 2,37 6,71

SEKTOR SEKUNDER III. IV. V. INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK, GAS DAN AIR KONSTRUKSI

SEKTOR SEKTOR TERSIER VI. PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEUAGAN, PERSEWAAN & JS. PERUS JASA-JASA

2006 45.632,75 27.579,09

% 66,31 40,08

2007 48.810,10 29.647,74

% 66,72 40,52

2008 52.458,60 32.308,31

% 67,50 41,57

2009 55.895,99 34.135,78

% 68,15 41,62

2010 60.547,73 37.025,58

% 68,94 42,16

VII.

7.534,56

10,95

7.959,69

10,88

8.346,24

10,74

9.215,35

11,24

10.082,26

11,48

VIII. IX.

4.462,07 6.057,04 68.817,06

6,48 8,80 100

4.801,35 6.401,31 73.160,03

6,56 8,75 100

5.037,07 6.766,98 77.717,87

6,48 8,71 100

5.368,47 7.176,39 82.014,71

6,55 8,75 100

5.745,70 7.694,19 87.828,84

6,54 8,76 100

TOTAL PDRB SURABAYA

Sumber : BPS kota Surabaya

b. Struktur Ekonomi Kota Surabaya Struktur ekonomi Surabaya yang dicerminkan dari data PDRB ditentukan oleh 9 sektor lapangan usaha yang terbagi dalam sub sektor lapangan usaha. Perubahan makro ekonomi Surabaya yang terjadi, baik dari sisi pengeluaran atau produksi masing-masing sektor lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, dapat dijelaskan dan diukur dengan menggunakan PDRB atas dasar harga konstan. Dari analisis peran masing-masing lapangan usaha akan diketahui pergeseran struktur ekonomi Kota Surabaya sehingga dapat diperkirakan arah dan rencana pembangunan kota, antar lapangan usaha pada waktu mendatang. Dari sisi penawaran, kontribusi sektoral terhadap PDRB Surabaya selama 5 tahun (2006-2010) didominasi oleh sektor tersier (sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor jasa-jasa) sedangkan sektor primer (sektor pertanian dan sektor pertambangan) mempunyai kontribusi yang paling rendah jika dibandingkan sektor sekunder dan tersier. Kondisi ini mencerminkan ekonomi Kota Surabaya berkembang ke arah ekonomi yang digerakkan oleh sektor perdagangan dan jasa, sebagaimana terjadi pada kota-kota lain di dunia. Dalam struktur ekonomi Kota Surabaya, dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini, sektor perdagangan dan jasa atau yang tergabung dalam sektor tersier memegang peran besar dalam membentuk ekonomi di wilayah ini. Perkembangan peran sektor primer dan sektor sekunder dalam kurun waktu 5 tahun secara signifikan terus mengalami penurunan, dan sebaliknya peran sektor tersier secara signifikan terus mengalami peningkatan dimana pada tahun 2006 perannya sebesar 66,31% dan pada tahun 2010 peran sektor ini mencapai 68,94%. Pada sektor sekunder, sektor yang paling banyak mengalami penurunan cukup besar adalah sektor
II - 20 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

industri pengolahan. Hal ini dikarenakan sektor industri yang ada di kota Surabaya selama beberapa tahun terakhir pertumbuhannya stagnan, sedangkan dua sektor yang lainnya seperti sektor utilitas (listrik, gas dan air bersih) dan sektor konstruksi perannya dalam tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini dikarenakan pada beberapa tahun terakhir pembangunan mall, pertokoan, perkantoran dan ruko-ruko baru banyak bermunculan. Kenaikan pada sektor konstruksi ini tentunya mempengaruhi permintaan sektor utilitas, sehingga sektor listrik, gas dan air bersih ikut mengalami peningkatan. Untuk sektor tersier, maraknya pangsa pasar

perdagangan yang menimbulkan permintaan fasilitas perdagangan baru seperti mall, pertokoan, perkantoran dan ruko-ruko baru banyak bermunculan. Pada 2 tahun terakhir, beberapa pusat perdagangan baru sudah mulai beroperasi, sehingga berdampak pada peningkatan output sektor perdagangan, hotel dan restoran yang pada akhirnya meningkatnya peran sektor tersebut dalam struktur ekonomi Surabaya. Peningkatan sektor perdagangan, hotel dan restoran tentunya menimbulkan dampak berganda (multiplier effect) pada lainnya yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang selama ini sebagai pendukung pada sektor perdagangan. c. Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya Kegiatan ekonomi Surabaya terkait dengan kegiatan ekonomi Jawa Timur yang juga terkait dengan kegiatan perekonomian secara nasional. Dalam perkembanganya, pertumbuhan ekonomi Surabaya semakin mantap, hal ini tercermin dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang sejak tahun 2006 selalu lebih tinggi dari Jawa Timur bahkan Nasional.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 21

Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 tumbuh sebesar 7,09%, cukup tinggi dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 5,53%. Untuk sektor primer terus mengalami penurunan. Hal bisa dimaklumi mengingat Surabaya saat ini berkembang sebagai kota metropolitan, sehingga karakteristik ekonomi yang melingkupinya lebih cenderung mengarah pada sektor non primer khususnya semakin berkembangnya sektor tersier. Sedangkan sektor sekunder dan sektor tersier terus mengalami pertumbuhan walaupun sektor sekunder pertumbuhannya relatif lebih rendah dibanding sektor tersier namun sektor sekunder masih mempunyai andil yang cukup besar dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi Surabaya, sebagaimana tertera pada tabel berikut : Tabel 2.4 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya Berdasarkan Sektoral Tahun 2006 2010
URAIAN 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian SEKTOR PRIMER 3. Industri Pengolahan 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 5. Konstruksi SEKTOR SEKUNDER 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2006(%) 3,21 -5,79 2,53 5,83 19,67 -2,71 3,84 7,67 7,23 6,04 2007(%) -8,45 -11,44 -8,65 4,54 26,78 0,96 5,09 7,50 5,64 7,60 2008(%) -7,71 1,57 -7,09 3,83 4,12 3,47 3,77 8,97 4,86 4,91 2009(%) 1,87 1,65 1,85 3,04 6,85 3,47 3,41 5,66 10,41 6,58 2010(%) 1,19 2,42 1,29 3,68 6,00 6,52 4,46 8,47 9,41 7,03

II - 22

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

URAIAN 9. Jasa-jasa SEKTOR TERSIER PDRB KOTA SURABAYA

2006(%) 6,71 8,08 6,35

2007(%) 5,68 6,96 6,31

2008(%) 5,71 7,47 6,23

2009(%) 6,05 6,55 5,53

2010(%) 7,22 8,32 7,09

Sumber : PDRB ADHK tahun 2000, BPS kota Surabaya

Tabel 2.5 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya, Jawa Timur dan Nasional Tahun 2006 2010
WILAYAH SURABAYA JAWA TIMUR INDONESIA 2006(%) 6,35 5,8 5,48 2007(%) 6,31 6,11 6,28 2008(%) 6,23 5,9 6,10 2009(%) 5,53 5,01 4,63 2010(%) 7,09 6,68 6,20

Pada kelompok sektor sekunder, sektor yang pertumbuhannya relatif tinggi pada tahun 2010 adalah sektor konstruksi di mana pada tahun 2009 sektor ini tumbuh sebesar 3,47% dan tumbuh mencapai 6,52% (2010). Hal ini disebabkan oleh banyaknya pembangunan mall, ruko-ruko, gedung perkantoran serta infrastruktur baru lainya. Sedangkan sektor industri yang juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, pertumbuhanya relatif kecil yaitu 3,68%. Relatif kecilnya pertumbuhan di sektor ini lebih di sebabkan stagnannya investasi pada sektor industri pengolahan, sehingga pertumbuhan yang terjadi lebih disebabkan oleh peningkatan produktivitas. Sektor tersier pada tahun 2010 tumbuh sebesar 8,32%, lebih tinggi dibanding tahun 2009 yang mencapai pertumbuhan sebesar 6,55%. Pada kelompok sektor tersier ini, sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang paling tinggi yaitu 9,41%, diikuti dengan pertumbuhan di sektor pedagangan, hotel dan restoran, dimana pada tahun 2010
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 23

mencapai

8,47%.

Tingginya

pertumbuhan

pada

sektor

pengangkutan dan komunikasi dikarenakan tumbuh pesatnya bisnis telekomunikasi akibat meningkatnya kebutuhan masyarakat akan penggunaan media komunikasi. Demikian halnya dengan pertumbuhan yang cukup tinggi pada sub sektor perdagangan salah satunya disebabkan investasi di unit usaha perdagangan. oleh masuknya

d. Tingkat Inflasi Salah satu indikator perekonomian makro adalah angka inflasi di suatu daerah. Selama kurun waktu tahun 2006-2010 inflasi di Kota Surabaya rata-rata 6,49% per tahun. Tingkat inflasi sebesar ini masih dalam kategori low inflation atau disebut juga inflasi satu digit. Meskipun tergolong lemah, inflasi di Kota Surabaya telah menyebabkan berbagai permasalahan ekonomi bagi masyarakat terutama masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan transportasi. Perkembangan inflasi di Surabaya pada tahun 2006 sebesar 6,71%, tahun 2007 mengalami sedikit penurunan sebesar 6,27%, tahun 2008 meningkat sebesar 8,73% kemudian tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 3,39%, dan semakin meningkat pada tahun 2010 sebesar 7,33%. Berikut tabel angka inflasi Kota Surabaya tahun 2006 - 2010: Tabel 2.6 Realisasi Inflasi Kota Surabaya Tahun 2006 2010
Tahun Inflasi 2006 6,71% 2007 6,27 % 2008 8,73 % 2009 3,39 % 2010 7,33 % Rata-rata inflasi 2006-2010 6,49%

II - 24

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Kondisi yang sama juga ditunjukkan oleh angka inflasi Provinsi dan Nasional, yang cenderung berfluktuasi per tahunnya. Hal ini dikarenakan inflasi baik di tingkat nasional maupun regional masih terpengaruh oleh kondisi perekonomian global, yang akhir-akhir ini sedang mengalami krisis keuangan. Selain itu, faktor perubahan iklim juga menjadi salah satu penyebab mengapa tingkat inflasi yang ada relatif naik turun. e. PDRB Perkapita Peningkatan laju pertumbuhan PDRB diikuti dengan kenaikan pendapatan per kapita. Selama periode tahun 20062010, PDRB perkapita Kota Surabaya mengalami pertumbuhan yang positif. PDRB perkapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2006 sebesar Rp 46.139.805,- meningkat pada tahun 2007 menjadi sebesar Rp 52.627.084 ,- dan pada tahun 2008 sebesar Rp 59.140.503,- kemudian meningkat lagi pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp 64.516.504,-. Selanjutnya pada tahun 2010 nilai PDRB perkapita ADHB menjadi sebesar Rp 70.032.261,- atau meningkat 8,55 % dari tahun 2009. Gambar 2.7 menunjukkan perkembangan PDRB Surabaya dalam periode lima tahun terakhir. perkapita Kota

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 25

Gambar 2.7 Perkembangan PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan Kota Surabaya Tahun 2006-2010

Sumber : BPS Kota Surabaya PDRB perkapita atas dasar harga konstan dari tahun ke tahun juga menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2006 sebesar Rp 25.328.594,- meningkat menjadi Rp 26.927.047,- pada tahun 2007 dan Rp 28.226.855,- di tahun 2008. Peningkatan kembali terjadi di tahun 2009 dan 2010 di mana PDRB perkapitanya tumbuh tipis sebesar 1,17 % dari Rp 29.633.362,- (2009) menjadi Rp 29.980.544,- (2010). f. Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Nilai ICOR Kota Surabaya untuk beberapa tahun terahir mengalami banyak perubahan. Tahun 2006 nilai ICOR Kota Surabaya sebesar 3,46 dan menurun ke tingkat 3,23 di tahun 2007. Nilai ini kemudian meningkat kembali di tahun 2008 (3,48) dan meningkat kembali mencapai 3,77 (2009) dan terakhir di angka 3,43 pada tahun 2010. Secara umum, nilai ICOR yang menurun menandakan performa ekonomi yang relatif baik, dikarenakan dengan nilai investasi yang sama dapat menghasilkan output yang lebih besar.
II - 26 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

Gambar 2.8 Perkembangan ICOR Kota Surabaya Tahun 2006-2010

Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah


II.2.2. KESEJAHTERAAN SOSIAL

Gambaran secara makro pencapaian pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan salah satu tolok ukur indikator kualitas hidup manusia. Dalam lima tahun terakhir, IPM Kota Surabaya mengalami peningkatan setiap tahunnya, hingga pada tahun 2011 telah mencapai 77,61. Menurut kriteria UNDP, angka tersebut termasuk dalam kategori menengah atas (66-79,99). Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur, angka IPM Kota Surabaya tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan Surabaya telah memberikan dampak yang baik terhadap peningkatan kualitas SDM, sehingga mengalami perkembangan yang positif. Peningkatan IPM terutama ditopang oleh meningkatnya angka harapan hidup (life expectancy of birth), angka melek huruf (adult literacy rate), rata-rata lama sekolah (mean years of schooling), dan daya beli masyarakat (puschasing power parity). Selama tahun 2006-2011, angka harapan hidup cenderung meningkat, yaitu dari 69,8 pada tahun 2006 meningkat menjadi
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 27

70,71 pada tahun 2009, 70,97 pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 mencapai 71,24. Fakta ini merupakan salah satu bentuk keberhasilan pemerintah Kota Surabaya dalam membenahi faktor kesehatan penduduk Kota Surabaya serta mencerminkan adanya peningkatan kemampuan penduduk dalam upaya memperbaiki kualitas hidupnya. Paritas daya beli masyarakat Kota Surabaya dalam rentang tahun 2006-2011 pun mengalami peningkatan walaupun relatif kecil yaitu dari 1.810 ribu per kapita per tahun pada tahun 2006 menjadi 1.823,54 ribu kapita per tahun pada tahun 2011. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan daya beli masyarakat Kota Surabaya semakin meningkat pula seiring dengan inflasi barang dan jasa. Gambar 2. 9 IPM dan Komponennya Kota Surabaya Tahun 2006-2011

Sumber : BPS Kota Surabaya Diolah,

II - 28

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Tabel 2.7 Komponen Pembentuk IPM Tahun 2006-2011 No 1. 2. 3. 4. Komponen Angka Harapan Hidup (tahun) Angka Melek Huruf (%) Rata2 Lama Sekolah (tahun) Paritas Daya Beli (rupiah) IPM 2006 69,80 94,40 10,34 1.810 .431 75,11 2007 70,16 95,72 10,49 1.812. 465 75,87 2008 70,40 95,77 10,49 1.816 .965 76,36 2009 70,71 96,05 10,52 1.819 .518 76,82 2010 70,97 96,45 10,57 1.820 .816 77,18 2011 71,24 96,69 10,59 1.823 .547 77,61

Sumber: BPS Kota Surabaya a. Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu aspek yang berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Semakin baik tingkat pendidikan akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Semakin baik kualitas sumber daya manusia menjadikan semakin baik pula kualitas hidup masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat di Kota Surabaya setiap tahun mengalami peningkatan, pada tahun 2000 penduduk dengan pendidikan terakhir Perguruan Tinggi sebanyak 8,55 persen dan terus mengalami peningkatan sampai pada tahun 2007 bertambah menjadi 13,31 persen. Sedangkan penduduk dengan pendidikan terakhir setara SLTA sebanyak 36,1 persen, angka ini terus mengalami penurunan sejak tahun 2006, akan tetapi jika dibandingkan 7 tahun yang lalu mengalami peningkatan sebesar 2,48 persen.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 29

Tabel 2.8 Perkembangan Angka Melek Huruf Kota Surabaya Tahun 2006-2011 Uraian Angka Melek Huruf 2006 94,40 2007 95,72 2008 95,77 2009 96,05 2010 96,45 2011 96,69

Sumber BPS Kota Surabaya, Penyusunan IPM, IKM dan IPG Kota Surabaya Tahun 2010 Angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah pun mengalami peningkatan dalam rentang tahun 2006-2011. Pada tahun 2006, angka melek huruf mencapai 94,40 persen meningkat menjadi 96,45 persen pada tahun 2010 demikian halnya dengan rata-rata lama sekolah yang meningkat dari 10,34 tahun pada tahun 2006 menjadi 10,57 tahun pada tahun 2010. Keduanya menunjukkan keberhasilan pemerintah kota dalam upaya peningkatan pendidikan dasar. Tabel 2.9 Angka Melek Huruf Menurut Kecamatan di Kota Surabaya Tahun 2009-2010 Angka Melek Huruf No. Kecamatan 2009 1 2 3 4 5 6 7
II - 30

2010 99.73 96.39 100.00 98.65 98.96 97.99 97.44


T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

Karangpilang Jambangan Gayungan Wonocolo TenggilisMejoyo Gunung Anyar Rungkut


R P J M D K O T A

98.74 95.44 99.05 97.67 97.98 97.02 96.48


S U R A B A Y A

Angka Melek Huruf No. Kecamatan 2009 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Sukolilo Mulyorejo Gubeng Wonokromo Dukuh Pakis Wiyung Lakarsantri Sambi Kerep Tandes Sukomanunggal Sawahan Tegalsari Genteng Tambaksari Kenjeran Bulak Simokerto Semampir PabeanCantian Bubutan Krembangan Asemrowo Benowo Pakal 96.8 95.46 97.3 96.35 97.28 96.81 91.88 97.37 96.46 94.48 97.15 99.93 100.00 98.74 89.78 89.29 92.75 96.19 93.29 92.8 97.56 96.26 97.14 96.78 2010 97.77 96.41 98.27 98.12 98.25 97.78 92.8 98.34 97.42 95.42 98.25 100 100 99.73 92.15 90.18 93.68 97.15 94.22 93.73 98.54 97.22 98.11 98.15

Sumber BPS Kota Surabaya, Penyusunan IPM, IKM dan IPG Kota Surabaya Tahun 2009 dan 2010

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 31

Berdasarkan Angka Melek Huruf menurut kecamatan menunjukkan bahwa kecamatan-kecamatan yang memiliki angka melek huruf tinggi di Kota Surabaya dari tahun 20092010 antara lain kecamatan Gayungan, Tegalsari dan Genteng. Sebaliknya kecamatan-kecamatan yang memiliki Angka Melek Huruf yang rendah antara lain kecamatan Kenjeran dan Bulak. Tabel 2.10 Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Kecamatan di Kota Surabaya Tahun 2009-2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Kecamatan Karangpilang Jambangan Gayungan Wonocolo TenggilisMejoyo Gunung Anyar Rungkut Sukolilo Mulyorejo Gubeng Wonokromo Dukuh Pakis Wiyung Lakarsantri Sambikerep Tandes Sukomanunggal Sawahan Tegalsari Rata-Rata Lama Sekolah 2009 10.54 9.5 11.74 11.07 11.22 8.12 9.02 10.45 9.63 10.71 10.59 8.81 11.62 7.85 8.35 10.08 8.53 9.68 11.97 2010 10.65 9.6 11.86 11.18 11.33 8.2 9.11 10.55 9.73 11.74 10.76 8.9 11.74 7.93 8.77 10.18 8.62 10.76 12.09

II - 32

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

No 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Kecamatan Genteng Tambaksari Kenjeran Bulak Simokerto Semampir Pabean Cantian Bubutan Krembangan Asemrowo Benowo Pakal

Rata-Rata Lama Sekolah 2009 12.2 9.44 8.19 7.38 8.71 8.97 9.08 8.94 9.9 8.98 8.93 9.07 2010 12.12 9.53 9.25 9.05 8.8 9.06 9.17 9.03 10 9.07 9.02 9.16

Sumber BPS Kota Surabaya, Penyusunan IPM, IKM dan IPG Kota Surabaya Tahun 2010 Berdasarkan Rata-Rata Lama Sekolah menurut

kecamatan menunjukkan bahwa kecamatan-kecamatan yang memiliki Rata-Rata Lama Sekolah tinggi di Kota Surabaya dari tahun 2009-2010 antara lain kecamatan Genteng, Tegalsari dan Gayungan. Sebaliknya kecamatan-kecamatan yang yang memiliki Angka Melek Huruf yang rendah antara lain kecamatan Lakarsantri dan Gunung Anyar. b. Kesehatan Sebagaimana pendidikan, kesehatan merupakan salah satu aspek yang berperan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Semakin tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan lingkungan dan dirinya maka semakin baik tinggi derajat kesehatan masyarakat. Semakin rendahnya Angka

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 33

Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI) dan Status Gizi Buruk masyarakat maka semakin tinggi derajat kesehatan masyarakat. Dalam rentang tahun 2006 sampai 2010, AKB di Kota Surabaya cenderung mengalami penurunan dari 25,05 kematian bayi dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2006 menjadi sekitar 7.84 kematian bayi dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Kematian bayi ini banyak disebabkan oleh Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), Gangguan Fungsi Multi Organ, Bronkopneomoni, Gizi Buruk, Asfiksia, Kelainan Kongenital, Tetanus Neonatorum, Infeksi, Trauma Lahir. Menurunnya AKB tersebut menunjukkan bahwa derajat kesehatan bayi semakin meningkat. Adapun perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) selama tahun 2006 sampai 2009 yaitu pada tahun 2006 tercatat sebesar 199 per 100.000 persalinan hidup, pada tahun 2007 menurun menjadi 99,28 per 100.000 persalinan hidup. Angka tersebut juga dicapai pada tahun 2008, dan pada tahun 2010 mengalami penurunan yaitu menjadi 71.07 per 100.000 kelahiran hidup. Perkembangan AKI tersebut relatif mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa derajat kesehatan terhadap ibu hamil dan melahirkan semakin meningkat. AKB Peningkatan derajat kesehatan yang terlihat melalui dan AKI tersebut juga mengindikasikan semakin

meningkatnya pelayanan kesehatan yang dapat dibuktikan dengan indikator persentase penangan persalinan. Persentase penangan persalinan oleh tenaga medis tercatat sebanyak 79,04 persen pada tahun 2006, kemudian meningkat menjadi 81,11 persen pada tahun 2007, pada tahun 2008 juga meningkat menjadi 89,10 persen dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 95,6 persen. Dengan demikian perkembangan persentase penanganan persalinan oleh tenaga medis terus meningkat setiap tahunnya.
II - 34 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

Pencapaian Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI) dan persentase penanganan persalinan oleh tenaga medis pada tahun 2009 tersebut, telah mencapai target MDGs Indonesia, yaitu masing-masing ditargetkan 23 per 1000 kelahiran hidup, 102 per 100.000 persalinan hidup dan meningkatnya persentase persalinan oleh tenaga medis. Pada tahun 2006 terdapat 1.617 anak balita yang memiliki status gizi buruk atau 2,09 persen dari keseluruhan jumlah anak balita sebanyak 77.368 anak, pada tahun 2007 tercatat lebih banyak yaitu sebanyak 2.239 anak balita yang memiliki status gizi buruk, namun presentasenya menurun menjadi 1,96 persen dari keseluruhan jumlah anak balita sebanyak 114.401 anak, pada tahun 2008 tercatat sebanyak 2.068 anak balita yang memiliki status gizi buruk atau 1,81 persen dari keseluruhan jumlah anak balita sebanyak 114.108 anak dan pada tahun 2009 tercatat 1.888 anak balita yang memiliki status gizi buruk atau 1,39 persen dari keseluruhan jumlah anak balita sebanyak 136.155 anak dan pada tahun 2010 menurun menjadi 0.95 persen. Dengan demikian, angka balita dengan status gizi buruk cenderung menurun dan telah mencapai target yang telah ditetapkan. Masih adanya angka balita dengan status gizi buruk di Kota Surabaya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Faktor Intern balita yaitu adanya penyakit bawaan (jantung congenital) dan penyakit infeksi ( diare, pneumoni,TBC, kecacingan dan lain-lain ) yang dapat berpengaruh pada status gizi balita. Faktor Ekstern balita yaitu faktor ekonomi yang berpengaruh langsung pada kemampuan dan tingkat daya beli masyarakat yang pasti akan berpengaruh pada pola konsumsi pangan dan faktor sosial yaitu tingkat pengetahuan ibu yang berpengaruh pada perilaku ibu, yang pasti juga akan mempengaruhi pola asuh dan pola konsumsi pangan.
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 35

c. Seni budaya dan olah raga Pembangunan seni budaya dan olahraga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan sekaligus merupakan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, pembangunan seni, budaya dan olahraga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pembinaan dan pembangunan bangsa dalam rangka peningkatan kualitas Sumber Daya Insani, terutama diarahkan pada peningkatan kesehatan jasmani dan rohani, serta untuk membentuk watak dan kepribadian yang memiliki disiplin dan sportivitas yang tinggi. Di samping itu, pembangunan seni, budaya dan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi bangsa melalui pembinaan prestasi yang setinggi - tingginya. Untuk melaksanakan pembangunan seni, budaya dan olahraga, perlu dilakukan berbagai upaya penggalangan dan penggalian terhadap potensi yang ada, baik dalam bidang sistem pembinaan, lembaga/organisasi, maupun adanya landasan hukum yang digunakan sebagai dasar pembangunan seni, budaya dan keolahragaan. Dasar pembangunan seni budaya tentu adalah minat masyarakat kota Surabaya terhadap seni budaya itu sendiri, terutama minat akan budaya lokal. Minat masyarakat kota Surabaya akan budaya lokal menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu. Jumlah kelompok kesenian yang telah mendapat pembinaan dari Pemerintah Kota Surabaya juga menunjukkan trend yang terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2010 jumlah kelompok kesenian yang telah dibina mencapai 162 kelompok meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 147 kelompok. Bidang keolahragaan di Kota Surabaya secara organisasi ditangani oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Kota Surabaya. Berdasarkan data dari KONI Surabaya pada tahun 2009 terdapat 38 cabang olahraga yang
II - 36 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

dibina oleh KONI Surabaya. Diantara beberapa cabang olahraga yang telah dibina tersebut seperti cabang olahraga panahan, panjat tebing, dayung, karate, pencak silat telah mengukir prestasi dalam event nasional maupun internasional dengan menyumbangkan emas pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Untuk menumbuhkan dan menciptakan budaya olahraga yang sehat, diperlukan penyediaan sarana dan prasarana olahraga yang memadai baik di lingkungan sekolah, pekerjaan maupun pemukiman sehingga memungkinkan segenap lapisan warga masyarakat melakukan olahraga dan berbagai aktivitas jasmani. Sehingga sampai dengan tahun 2010, berdasarkan data dari Dinas Pemuda dan Olah Raga telah tercatat sebanyak 69 lapangan olahraga seperti lapangan bola volley, bulutangkis, sepak bola, bola basket, tenis lapangan futsal dan lain-lain yang tersebar di beberapa kecamatan di kota Surabaya. Tabel 2.11 Perkembangan Seni Budaya dan Olahraga di Kota Surabaya Tahun 2006-2010 Capaian Pembangunan Jumlah Grup Kesenian Jumlah Cabang olahraga yang berprestasi Jumlah Lapangan Olahraga Jumlah Gedung Olahraga Jumlah Organisasi/pemuda yang berprestasi Sumber data : Bappeko diolah d. Ketenagakerjaan Peningkatan kegiatan ekonomi di berbagai sektor akan memberikan dampak positif baik langsung maupun tidak
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 37

2006 51 22 69 2 4

2007 96 27 69 2 16

2008 67 28 69 2 30

2009 147 38 69 2 164

2010 162 41 79 3 212

langsung

terhadap

ketersediaan

lapangan

pekerjaan.

Peningkatan kesempatan kerja yang diikuti dengan peningkatan produktivitas diharapkan mampu menambah penghasilan/pendapatan masyarakat yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan semakin bertambahnya penduduk maka tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah penduduk usia kerja (tenaga kerja) dari tahun ke tahun semakin meningkat. Perkembangan tenaga kerja di Kota Surabaya selama lima tahun terakhir (Tahun 20052009) terjadi pertumbuhan rata-rata sebesar 1,42 persen per tahun. Penduduk yang tergolong sebagai angkatan kerja (pekerja dan pencari kerja) mengalami penambahan setiap tahunnya rata-rata 0,69 persen, sedangkan peningkatan penduduk yang terserap dalam lapangan pekerjaan (pekerja) rata-rata sebesar 89,77 persen per tahun dengan tingkat pengangguran terbuka pada Tahun 2009 sebesar 8,63 persen. Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka di Surabaya masih relatif tinggi dibandingkan Propinsi Jawa Timur, Pada tahun 2006 Tingkat Pengangguran terbuka sebesar 9,68%, tahun 2007 naik menjadi 11,59%, tahun 2008 naik kembali menjadi 11,84%, sedangkan pada tahun 2009 kembali turun menjadi 8,63%. Tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka pada tahun 2007 dan 2008 tersebut tidak lepas dari kondisi makro ekonomi dimana pada tahun 2007 terjadi krisis global yang menyebabkan turunnya tingkat penyerapan tenaga kerja di Surabaya. Hal lain yang menyebabkan angka pengangguran Kota Surabaya tinggi adalah semakin menyempitnya pasar kerja formal yang ada dimana tidak lebih 30 persen lapangan kerja yang di sediakan di sektor formal. Fenomena ini terjadi salah satunya dipicu oleh melemahnya kinerja sektor riil dan daya saing produk-produk domestik baik di tingkat internasional maupun di pasar domestik khususnya melemahnya sektor industri dan produksi manufaktur. Pelemahan ini bisa dilihat dari
II - 38 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

semakin

mengecilnya

proporsi

sektor

industri

dalam

pembentukan PDRB Kota Surabaya serta tingkat pertumbuhannya dari tahun ke tahun yang terus menurun.

II.3.

PELAYANAN UMUM a. Pendidikan Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pendidikan Kota Surabaya di arahkan pada perluasan dan pemerataan pendidikan. Hal ini dapat dijelaskan antara lain melalui Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Kelulusan (AL) dan Angka Putus Sekolah (APS). Dalam rentang tahun 2006-2010, APK pada jenjang SD/MI menunjukkan angka 105,2% kecuali pada tahun 2008 yang sempat mengalami lonjakan hingga 112,42% sehingga rata-rata keberhasilan pencapaian target yang diharapkan sebesar 101,37% per tahun. Sementara pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP/MTs, menunjukkan nilai APK sebesar 99,31% pada tahun 2006, 99,51% pada tahun 2007, 99,61% pada tahun 2008, 99,80% pada tahun 2009, dan meningkat tajam menjadi 105,0% pada tahun 2010 . Rata-rata pencapaian APK SMP/MTs ini 101,04% per tahun. Sedangkan APK SMA/SMK/MA pada tahun 2006-2009 sebesar 108,11% dan tahun 2010 menjadi 105,00%, sehingga pencapaiannya sebesar 99,42% per tahun. rata-rata

II.3.1. FOKUS URUSAN WAJIB

Angka Partisipasi Sekolah (APS) juga merupakan indikator cakupan penduduk dalam mengenyam pendidikan, bedanya APS dapat melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 39

APS pada jenjang SD/MI dari tahun 2006-2010 mengalami peningkatan yang signifikan, pada tahun 2006 APS SD/MI mencapai 107,74% tahun 2007 meningkat menjadi 92,92%, tahun 2008 meningkat tajam menjadi 99,31%, tahun 2009 dan 2010 masing-masing sebesar 92,93% dan 92,95%. Dibandingkan dengan target yang diterapkan, capian APS SD/MI dari tahun 2006-2010 masih di atas target. Sedangkan APS SMP/MTs menunjukkan angka yang cenderung meningkat setiap tahunnya, pada tahun 2006 sebesar 79,67%, pada tahun 2007 sebesar 78,58%, pada tahun 2008 sebesar 79,65%, pada tahun 2009 sebesar 79,89% dan pada tahun 2010 sebesar 90,0% . Dibanding dengan target yang diterapkan, capian APS SMA/SMK/MA dari tahun 2006-2010 masih diatas target yang telah di tetapkan. Tabel 2.12 Angka Partisipasi Sekolah Kota Surabaya Tahun 2006-2010
NO. 1 1.1 1.2 JENJANG PENDIDIKAN SD/MI Jumlah Murid usia 7 12 tahun Jumlah penduduk kelompok usia 7 12 tahun APS SD/MI SMP/MTs Jumlah Murid usia 13 15 tahun Jumlah penduduk kelompok usia 13 15 tahun APS SMP/MTs 91,501 114,850 90,045 114,591 87,195 109,473 92,572 115,880 88,700 98,552 270,084 250,692 263,341 283,406 221,304 222,842 253,503 272,777 231,052 248,583 2006 2007 2008 2009 2010

1.3 2 2.1 2.2

92.82

92.92

99.31

92.93

92.95

2.3

79.67

78.58

79.65

79.89

90.00

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Surabaya

II - 40

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Menurut Angka Partisipasi Sekolah tingkat kecamatan menunjukkan bahwa kecamatan dengan APS yang tertinggi untuk SD/MI adalah kecamatan Tambaksari dengan nilai 424,90 dan yang terendah adalah kecamatan Asemrowo dengan nilai 23,28 sedangkan untuk tingkat SMP/MTs Genteng menjadi kecamatan dengan nilai tertinggi untuk APS tingkat SMP/MTs dengan nilai 1.174,16 dan Tenggilis Mejoyo menjadi kecamatan dengan nilai APS Terendah untuk tingkat SMP/MTs dengan nilai 19,24. Angka Partisipasi Sekolah menurut kecamatan di Kota Surabaya Tahun 2010 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.13.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 41

Tabel 2.13 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kecamatan di Kota Surabaya Tahun 2010
SD/MI No. Kecamatan Jumlah murid usia 7 12 tahun 6,842 3,157 5,929 7,478 5,091 3,706 8,947 8,872 7,046 12,811 10,820 5,305 4,963 Jumlah penduduk kelompok usia 7 12 tahun 10,650 10,005 10,632 6,053 19,225 8,402 6,360 12,347 3,493 13,844 23,299 9,023 7,072 Jumlah Murid usia 13 -15 tahun 2,917 2,403 1,529 3,112 1,632 1,207 4,503 4,221 2,721 3,586 6,313 1,922 1,169 SMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13 15 tahun 4,116 4,065 4,271 2,117 8,484 3,283 4,799 5,177 755 5,781 8,846 3,543 2,616

APS SD/MI 64.24 31.55 55.77 123.54 26.48 44.11 140.68 71.86 201.72 92.54 46.44 58.79 70.18

APS SMP/MTs 70.87 59.11 35.80 147.00 19.24 36.77 93.83 81.53 360.40 62.03 71.37 54.25 44.69

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Karang Pilang Jambangan Gayungan Wonocolo Tenggilis Mejoyo Gunung Anyar Rungkut Sukolilo Mulyorejo Gubeng Wonokromo Dukuh Pakis Wiyung

SD/MI No. Kecamatan Jumlah murid usia 7 12 tahun 4,634 8,423 9,096 13,897 9,305 6,379 16,125 11,034 5,949 12,011 3,746 7,608 11,549 1,930 4,632 Jumlah penduduk kelompok usia 7 12 tahun 8,519 5,029 4,504 17,452 9,223 4,022 3,795 3,875 3,805 4,664 5,336 8,409 3,919 8,289 4,210 Jumlah Murid usia 13 -15 tahun 2,685 2,252 1,911 3,346 3,095 4,180 4,909 6,598 1,147 2,595 2,019 1,723 6,784 1,132 968

SMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13 15 tahun 3,327 1,628 1,237 7,105 8,131 356 985 1,018 2,485 601 1,710 3,191 1,015 3,288 1,092

APS SD/MI 54.4 167.49 201.95 79.63 100.89 158.6 424.9 284.75 156.35 257.53 70.2 90.47 294.69 23.28 110.02

APS SMP/MTs 80.70 138.33 154.49 47.09 38.06 1,174.16 498.38 647.50 46.16 431.78 118.07 54.00 668.37 34.43 88.64

14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.

Lakarsantri Tandes Sukomanunggal Sawahan Tegalsari Genteng Tambaksari Kenjeran Simokerto Semampir Pabean Cantian Bubutan Krembangan Asemrowo Benowo

SD/MI No. Kecamatan Jumlah murid usia 7 12 tahun 5,093 4,985 3,689 231,052 Jumlah penduduk kelompok usia 7 12 tahun 3,847 4,401 4,879 248,583 Jumlah Murid usia 13 -15 tahun 1,641 2,624 1,856 88700

SMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13 15 tahun 928 1,151 1,450 98,552

APS SD/MI 132.39 113.27 75.61 92.9476

APS SMP/MTs 176.83 227.98 128.00 90.00

29. 30. 31.

Bulak Pakal Sambikerep Jumlah

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Berdasarkan pencapaian keberhasilan angka APK maupun APS menunjukkan bahwa penduduk usia sekolah baik pada jenjang sekolah dasar, SMP dan SMA telah memperoleh kemudahan akses dalam hal pendidikan dan tentunya menunjukkan bahwa pelaksanaan program Wajib Belajar 9 tahun dan program pendidikan menengah telah mencapai target pemerintah Kota Surabaya. Angka kelulusan pada tingkat SD/MI tahun 2006-2010 terus mengalami peningkatan pencapaian dan selalu melampaui target yang ditentukan. Pada tahun 2006 angka kelulusan pencapaian sebesar 99,18%, tahun 2007 sebesar 99,30%, tahun 2008 sebesar 99,38%, tahun 2009 dan 2010 naik menjadi sebesar 100%. Sementara pada tingkat SMP/MTs angka kelulusan di tahun pada tahun 2006 sebesar 99,83%, tahun 2007 meningkat menjadi 99,86%, tahun 2008 meningkat lagi menjadi 99,88%, tahun 2009 turun menjadi 98,80% dan tahun 2010 turun lagi menjadi 98,58%. Sedangkan angka kelulusan pada Tingkat SMA/SMK/MA tahun 2006-2010 cenderung mengalami naik tiap tahunnya, pada tahun 2006 angka kelulusan sebesar 97,95%, pada tahun 2007 meningkat menjadi 98,24%, pada tahun 2008 meningkat menjadi 98,52%, tahun 2009 mengalami sedikit penurunan menjadi 98,43%, dan tahun 2010 meningkat menjadi 99,67%. lagi

Berdasarkan pencapaian angka kelulusan (AL) tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan baik pada jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas telah dilakukan secara optimal dalam rangka peningkatan standar pelayanan minimal pendidikan di Kota Surabaya. Angka Putus Sekolah (APS) di Kota Surabaya dalam rentang tahun 2006 sampai 2009 menunjukkan kecenderungan yang menurun baik pada jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 45

ataupun SMA/SMK/MA, seperti yang tersaji dalam Gambar 2.10. Penyebab utama adanya anak putus sekolah disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua dalam membiayai sekolah anaknya, tetapi dengan adanya program biaya operasional sekolah, biaya pendidikan semakin menurun sehingga diharapkan lebih mudah terjangkau oleh masyarakat. Berdasarkan masih adanya anak putus sekolah yang disebabkan oleh faktor biaya maka salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah Kota Surabaya untuk mengatasinya adalah melalui penyediaan dana Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPDA) kepada siswa jenjang SD/MI sampai dengan jenjang SMA/SMK/MA. Gambar 2. 10 Angka Putus Sekolah (APS)

Sumber Data: Dinas Pendidikan Kota Surabaya, 2010 Terlihat pula bahwa persentase APS terendah pada tingkat SD/MI kemudian pada tingkat SMP/MTs dan terbesar pada tingkat SMA/SMK/MA, namun pada tahun 2009 persentase APS tingkat SMA/SMK/MA masih lebih rendah dibanding tingkat SMP/MTs. Hal ini mencerminkan bahwa kesadaran masyarakat akan pendidikan semakin meningkat. Selain itu, hal ini juga memperlihatkan keberhasilan upaya yang telah dilakukan
II - 46 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

pemerintah Kota Surabaya melalui kegiatan Penyediaan Biaya Operasional Pendidikan Daerah (BOPDA) Untuk Siswa Kurang Mampu Tingkat SMA serta siswa SMKN. Dengan adanya program BOPDA maka jumlah SD/MI dan SMP/MTs Negeri yang telah membebaskan SPP dan uang pangkal sebanyak 612 sekolah pada tahun 2006, 602 sekolah pada tahun 2007, 589 sekolah pada tahun 2008 serta 554 sekolah pada tahun 2009. Terdapat beberapa sekolah negeri yang mengalami merger maupun penambahan jumlah kelembagaan pada tahun 2009 sehingga menjadi 554 sekolah yang terdiri dari 491 Sekolah Dasar Negeri, 2 Madrasah Ibtidaiyah Negeri, 45 SMP Negeri, 12 SMPN Terbuka, dan 4 Madrasah Tsanawiyah Negeri. Dapat disampaikan bahwa 554 sekolah Negeri penyelenggara pendidikan dasar tersebut telah membebaskan SPP dan uang pangkal seluruhnya. Keberadaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan relevansi pendidikan atas kebutuhan dunia kerja yang membutuhkan lulusan jenjang pendidikan menengah yang lebih terampil. Indikasi keberhasilan SMK dalam meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan terhadap dunia kerja diantaranya dapat dilihat dari persentase siswa kejuruan yang diterima bekerja. Pada tahun 2006 siswa kejuruan yang diterima bekerja mencapai 62% dari total siswa kejuruan yang lulus pada tahun tersebut. Pada tahun 2007 meningkat menjdi 64,03%. Pada tahun 2008 menunjukkan peningkatan kembali menjadi 66,07 persen. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan sebesar 2,04 point. Namun pada tahun 2009, siswa kejuruan yang diterima bekerja sekitar 62% sehingga rata-rata pencapaian keberhasilan dari target yang diharapkan mulai tahun 2006 sampai 2009 sekitar 97,83%. Berdasarkan indikasi-indikasi tersebut, menunjukkan bahwa kualitas pendidikan kejuruan semakin berbenah dan mampu menghasilkan lulusan yang siap kerja.
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 47

Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan juga merupakan faktor penting dalam upaya pemerataan dan perluasan pendidikan, baik dari ketersediaan sekolah, kelas ataupun guru. Dengan demikian ketersediaan ruang kelas dan guru pengajar masih kurang memadai sehingga masih membutuhkan perhatian untuk memperlancar proses belajar mengajar pada tingkat pendidikan dasar. Tabel 2.14 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah di Kota Surabaya Tahun 2006-2010
No 1 1.1 1.2 Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah Gedung Sekolah Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun Rasio SMP/MTs Jumlah Gedung Sekolah Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun Rasio 360 114.850 396 114.591 369 109.473 303 115.880 310 98.552 1.034 270.084 977 283.406 945 222.842 953 272.777 897 248.583 2006 2007 2008 2009 2010

1.3 2 2.1 2.2

1 : 261

1 : 290

1 : 236

1 : 286

1 : 277

2.3

1 : 319

1 : 289

1 : 297

1 : 382

1 : 318

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ketersediaan terhadap sarana sekolah juga termasuk salah satu faktor yang berpengaruh dalam terciptanya iklim pendidikan yang sehat. Rasio antara Jumlah penduduk dibandingkan dengan jumlah gedung sekolah dari tahun 2006 sampai tahun 2010 menunjukkan trend yang fluktuatif baik itu
II - 48 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

tingkat SD/MI maupun tingkat SMP/MTs. Pada Tingkat SD/MI misalnya, pada tahun 2006 rasio antara Jumlah penduduk dibandingkan dengan jumlah gedung sekolah menunjukkan rasio 1:261 dimana rata-rata 1 SD/MI menampung 261 siswa jumlah ini mengalami trend yang fluktuatif hingga pada tahun 2010 menunjukkan rasio 1:277 dimana rata-rata 1 SD/MI menampung 277 siswa. Sedangkan keadaan yang hampir sama juga ditunjukkan untuk tingkat SMP/MTs, pada tahun 2006 rasio antara Jumlah penduduk dibandingkan dengan jumlah gedung sekolah menunjukkan nilai rasio 1:319 dimana rata-rata 1 SMP/MTs menampung 319 siswa dan pada tahun 2010 rasio tersebut menjadi 1:319 dimana rata-rata 1 SMP/MTs menampung 319 siswa. Rasio antara Jumlah penduduk dibandingkan dengan jumlah gedung sekolah menurut kecamatan di kota Surabaya pada tahun 2010 menunjukkan bahwa untuk tingkat SD/MI, kecamatan yang memiliki rasio terbesar adalah kecamatan Tenggilis Mejoyo dengan nilai rasio sebesar 1:961 dimana ratarata 1 SD/MI di kecamatan Tenggilis Mejoyo menampung 961 siswa sebaliknya kecamatan yang memiliki rasio terkecil adalah kecamatan Tambaksari dengan nilai rasio sebesar 1:70 dimana rata-rata 1 SD/MI di kecamatan Tambaksari menampung 70 siswa. Pada tingkat SMP/MTs kecamatan Asemrowo memiliki rasio tertinggi yaitu 1:1096 dimana 1 SMP/MTs di Asemrowo rata-rata menampung 1096 siswa dan kecamatan Semampir merupakan kecamatan dengan rasio terendah yaitu 1:35 dimana 1 SMP/MTs di Semampir rata-rata menampung 35 siswa. Rasio antara Jumlah penduduk dibandingkan dengan jumlah gedung sekolah menurut kecamatan di kota Surabaya pada tahun 2010 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 49

Tabel 2.15 Ketersediaan Sekolah Dan Penduduk Usia Sekolah di Kota Surabaya Menurut Kecamatan
SD/MI Jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun 10.650 10.005 10.632 6.053 19.225 8.402 6.360 12.347 3.493 13.844 SMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 4.116 4.065 4.271 2.117 8.484 3.283 4.799 5.177 755 5.781

No.

Kecamatan

Jumlah Gedung

Rasio

Jumlah Gedung

Rasio

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Karang Pilang Jambangan Gayungan Wonocolo Tenggilis Mejoyo Gunung Anyar Rungkut Sukolilo Mulyorejo Gubeng

23 14 21 28 20 9 25 34 25 51

1:463 1:715 1:506 1:216 1:961 1:934 1:254 1:363 1: 140 1:271

10 4 6 8 6 4 12 15 13 16

1:412 1:1016 1:712 1:265 1: 1414 1:821 1:400 1:345 1:58 1:361

SD/MI Jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun 23.299 9.023 7.072 8.519 5.029 4.504 17.452 9.223 4.022 3.795 3.875 3.805

SMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 8.846 3.543 2.616 3.327 1.628 1.237 7.105 8.131 356 985 1.019 2.485

No.

Kecamatan

Jumlah Gedung

Rasio

Jumlah Gedung

Rasio

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Wonokromo Dukuh Pakls Wiyung Lakarsantri Tandes Sukomanunggal Sawahan Tegalsari Genteng Tambaksari Kenjeran Simokerto

50 25 18 20 30 31 56 43 22 54 33 30

1:466 1:361 1:393 1:426 1:168 1:145 1:312 1:214 1:183 1:70 1:117 1:127

19 7 5 8 14 12 16 10 9 18 12 9

1:466 1:506 1:523 1:416 1:116 1:103 1:444 1:813 1:40 1:55 1:85 1:276

SD/MI Jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun 4.664 5.336 8.409 3.919 8.289 4.210 3.847 4.401 4.879 248.583

SMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 601 1.710 3.191 1.015 3.288 1.092 928 1.151 1.450 98.552

No.

Kecamatan

Jumlah Gedung

Rasio

Jumlah Gedung

Rasio

23 24 25 26 27 28 29 30 31

Semampir Pabean Cantian Bubutan Krembangan Asemrowo Benowo Bulak Pakal Sambikerep Jumlah

50 22 38 41 9 16 21 22 16 897

1:93 1:243 1:221 1:96 1:921 1:263 1:183 1:200 1:305 1:277

17 7 9 18 3 4 5 7 7 310

1:35 1:244 1:355 1:56 1:1096 1:273 1:186 1:164 1:207 1:318

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Kebutuhan guru yang memenuhi kualifikasi menjadi sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan di semua jenjang pendidikan. Dengan pendidikan guru yang sesuai dengan standar kualifikasi maka diharapkan akan mampu menghasilkan kualitas siswa didik yang lebih berkualitas pula. Dan tentunya juga dibutuhkan ketersediaan guru yang berkompetensi di setiap sekolah. Tabel 2.16 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar
No 1 1.1 1.2 1.3 2 2.1 2.2 2.3 Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah Guru Jumlah murid Rasio SMP/MTs Jumlah guru Jumlah murid Rasio 9.172 114.058 1 : 12 8.923 114.030 1 : 13 9.763 109.046 1 : 11 9.331 115.331 1 : 12 7.399 103.480 1 : 14 13.560 284.128 1 : 21 13.532 298.143 1 : 22 13.807 250.519 1 : 18 12.841 286.951 1 :22 13.809 261.509 1 : 19 2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Surabaya Rasio antara Jumlah murid dibandingkan dengan jumlah guru dari tahun 2006 sampai tahun 2010 menunjukkan trend yang fluktuatif baik itu tingkat SD/MI maupun tingkat SMP/MTs. Pada Tingkat SD/MI misalnya, pada tahun 2006 rasio antara jumlah murid dibandingkan dengan jumlah guru menunjukkan 1: 21 dimana rata-rata 1 guru di Surabaya menangani 21 siswa. Jumlah ini mengalami trend yang fluktuatif hingga pada tahun 2010 menunjukkan nilai rasio 1:19 dimana rata-rata 1 guru menangani 19 siswa. Sedangkan keadaan yang hampir sama juga ditunjukkan untuk tingkat SMP/MTs, pada tahun 2006 rasio antara Jumlah murid dibandingkan dengan jumlah guru

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 53

menunjukkan 1:12 dimana rata-rata 1 guru menangani 12 siswa dan pada tahun 2010 rasio tersebut menurun menjadi 1: 14 dimana rata-rata 1 guru menangani 14 siswa. Rasio antara jumlah murid dibandingkan dengan jumlah guru menurut kecamatan di kota Surabaya pada tahun 2010 menunjukkan bahwa untuk tingkat SD/MI, kecamatan yang memiliki rasio terbesar adalah kecamatan Gununganyar dengan rasio 1 : 25 dimana rata-rata 1 guru SD/MI di Gununganyar menangani 25 siswa sebaliknya kecamatan yang memiliki rasio terkecil adalah kecamatan Mulyorejo dengan nilai rasio sebesar 1 : 14 dimana rata-rata 1 guru SD/MI di Mulyorejo menangani 14 siswa. Pada tingkat SMP/MTs kecamatan Asemrowo memiliki rasio tertinggi yaitu 1 : 22 dimana 1 guru SMP/MTs di Asemrowo rata-rata menangani 22 siswa dan kecamatan Simokerto merupakan kecamatan dengan rasio terendah yaitu 1 : 8 dimana 1 guru SMP/MTs di Simokerto rata-rata menangani 8 siswa. Rasio antara Jumlah murid dibandingkan dengan jumlah guru sekolah menurut kecamatan di kota Surabaya pada tahun 2010 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

II - 54

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Tabel 2.17 Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Menurut Kecamatan
SD/MI No. Kecamatan Jumlah Guru 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Karang Pilang Jambangan Gayungan Wonocolo Tenggilis Mejoyo Gununganyar Rungkut Sukolilo Mulyorejo Gubeng 333 191 450 414 292 158 447 674 557 875 Jumlah Murid 7.767 3.439 6.751 8.383 5.549 4.009 9.961 10.094 8.013 14.653 Rasio 1: 23 1 : 18 1 : 15 1 : 20 1 : 19 1 : 25 1 : 22 1 : 15 1 : 14 1 : 17 Jumlah Guru 295 187 122 216 105 62 430 359 323 380 Jumlah Murid 3.723 2.792 1.441 3.546 1.659 1.018 5.287 5.328 3.915 4.054 Rasio 1 : 13 1 : 15 1 : 12 1 : 16 1 : 16 1 : 16 1 : 12 1 : 15 1 : 12 1 : 11 SMP/MTs

SD/MI No. Kecamatan Jumlah Guru 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Wonokromo Dukuh Pakis Wiyung Lakarsantri Tandes Sukomanunggal Sawahan Tegal Sari Genteng Tambaksari Kenjeran 688 391 361 269 451 563 733 571 400 835 487 Jumlah Murid 12.461 6.078 5.591 5.325 9.629 10.271 16.039 10.665 7.201 18.031 12.097 Rasio 1 : 18 1 : 16 1 : 15 1 : 20 1 : 21 1 : 18 1 : 22 1 : 19 1 : 18 1 : 22 1 : 25 Jumlah Guru 553 168 68 254 173 105 277 180 349 438 382

SMP/MTs Jumlah Murid 8.153 2.068 1.028 3.272 2.393 1.895 4.067 3.390 5.267 6.405 7.384 Rasio 1 : 15 1 : 12 1 : 15 1 : 13 1 : 14 1 : 18 1 : 15 1 : 19 1 : 15 1 : 15 1 : 19

SD/MI No. Kecamatan Jumlah Guru 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Simokerto Semampir Pabean Cantian Bubutan Krembangan Asemrowo Benowo Bulak Pakal Sambi Kerep Jumlah 387 673 231 521 644 107 245 293 331 237 13.809 Jumlah Murid 6.763 13.692 4.272 8.739 13.327 2.125 5.191 5.651 5.671 4.071 261.509 Rasio 1 : 17 1 : 20 1 : 18 1 : 17 1 : 21 1 : 20 1 : 21 1 : 19 1 : 17 1 : 17 1 : 19 Jumlah Guru 167 309 173 176 515 52 60 157 177 187 7.399

SMP/MTs Jumlah Murid 1.392 2.959 2.242 1.824 8.471 1.127 764 1.666 2.880 2.070 103.480 Rasio 1:8 1 : 10 1: 13 1: 10 1 : 16 1 : 22 1 : 13 1: 11 1 : 16 1: 11 1 : 14

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Surabaya

Dalam upaya meningkatkan minat dan budaya gemar membaca masyarakat Kota Surabaya dan meningkatkan akses dan kualitas perpustakaan, pemerintah Kota Surabaya berupaya dengan menyediakan perpustakaan daerah, perpustakaan keliling yang menggunakan sarana angkutan bis keliling yang melayani di sekolah-sekolah dan taman, menyediakan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di kelurahan dan kecamatan, bahkan ada pula ditempat-tempat pelayanan publik lainnya seperti puskesmas, taman-taman kota, balai RW, Rusun dan Liponsos. Kondisi jumlah pengunjung perpustakaan daerah setiap tahunnya mengalami peningkatan yaitu 93.335 pengunjung pada tahun 2006, 140.232 pengunjung pada tahun 2007, 315.432 pengunjung pada tahun 2008, 343.271 pengunjung pada tahun 2009, dan 1.292.388 pada tahun 2010. Demikian pula dengan Koleksi buku setiap tahunnya selalu ditambah untuk memperkaya perpustakaan-perpustakaan tersebut sehingga semakin menambah minat baca masyarakat. Keberadaan koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah setiap tahunnya terus meningkat, pada tahun 2006 tercatat sebanyak 10.000 buku dengan 7.935 judul buku dan menjadi 96.520 buku dengan 10.358 judul buku pada tahun 2010. Distribusi koleksi buku tersebut sebagian besar berada di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kecamatan, Kelurahan dan Balai RW yaitu 44.36 persen atau 42.817 buku, kemudian terdapat di perpustakaan sekolah 17.61 persen atau 17.000, di perpustakaan umum 10.81 persen atau 10.436, di PAUD 9.84 persen atau 9.500 buku, untuk bis keliling Taman Bungkul, Taman Prestasi, dan TBM Kebun Bibit 5.83 persen atau 5.628 buku, di TBM Rumah Susun 4.12 persen atau 3.978 buku, layanan paket 3.46 persen atau 3.341 buku, di TBM Liponsos 1.99 persen atau 1.920 buku, sudut baca di Puskesmas 1.35

II - 58

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

persen atau 1300 buku, Masjid Muhajirin 0.52 % atau 500 buku, dan RS. Bhakti Dharma Husada 0.10 persen atau 100 buku. Atas upaya-upaya yang telah dilakukan dalam meningkatkan pelayanan perpustakaan dan minat baca masyarakat, Pemerintah Kota Surabaya berhasil mendapatkan penghargaan Unit Kerja/Kantor Pelayanan Masyarakat Percontohan Jawa Timur Tahun 2010 oleh Gubernur Jawa Timur pada tahun 2010. b. Kesehatan Arah pembangunan kesehatan di kota Surabaya selama tahun 2006-2010 secara umum adalah untuk mewujudkan kualitas pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat kota serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang lingkungan sehat dan perilaku sehat. Ketersediaan sarana dan merupakan faktor penting dalam prasarana pelayanan kesehatan kesehatan

masyarakat. Jumlah fasilitas kesehatan di Kota Surabaya dalam rentang tahun 2005-2010 relatif menunjukkan adanya peningkatan. Pada tahun 2005 tercatat terdapat 43 Rumah Sakit meningkat menjadi 50 Rumah Sakit pada tahun 2010. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya maka rasio rumah sakit dengan jumlah penduduk adalah sekitar 1:78.470. Menurut standar pelayanan minimal, setiap rumah sakit dapat melayani 240.000 penduduk. Dengan demikian keberadaan rumah sakit di Kota Surabaya dapat dikatakan sudah memadai. Sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat, Puskesmas di Kota Surabaya tercatat sebanyak 53 unit pada tahun 2010. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk maka rasio antara Puskesmas dengan penduduk adalah 154.781, sementara menurut standar pelayanan minimal kesehatan, setiap puskesmas minimal melayani sekitar 30.000 penduduk. Sehingga secara rasio masih terdapat kekurangan saranan
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 59

kesehatan dasar/ puskesmas di Kota Surabaya. Namun demikian, untuk mengatasi kekurangan tersebut, setiap Puskesmas di Kota Surabaya ini memiliki puskesmas pembantu (Pustu) masing-masing sekitar 1-2 unit sehingga sampai dengan tahun 2010 tercatat terdapat 69 Pustu. Ditambah lagi dengan keberadaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang tersebar hampir di setiap Rukun Warga (RW) sehingga tercatat sebanyak 2,794 unit. Selain itu, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, terdapat 38 Puskesmas yang memberikan pelayanan diluar jam kerja yaitu pada hari Senin sampai dengan Sabtu, pukul 14.00 19.00 WIB serta puskesmas dengan layanan spesialis sebanyak 25 unit. Ketersediaan dokter atau tenaga medis merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam terciptanya keseimbangan dalam dunia kesehatan. Jumlah dokter yang ada di Kota Surabaya dari tahun 2005-2010 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 jumlah dokter yang tercatat adalah sebanyak 2.398 dokter dan pada tahun 2010 sudah meningkat sebanyak 3.899 dokter. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk maka rasio antara jumlah dokter dengan jumlah penduduk adalah 1:753 dimana 1 dokter menangani sekitar 753 penduduk kota Surabaya pada tahun 2010. Selain itu terlihat peran yang semakin besar oleh pihak swasta dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, hal ini telihat dari semakin meningkatnya jumlah klinik kesehatan yang dikelola oleh pihak swasta. Dengan demikian dapat dikatakan jumlah fasilitas kesehatan di Kota Surabaya relatif sudah lebih baik dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Namun demikian pemerintah Kota Surabaya harus tetap mempertimbangkan pertumbuhan penduduk yang tentunya secara otomakebutuhan fasilitas kesehatan akan bertambah. Dari data di atas diperoleh gambaran bahwa cakupan pelayanan kesehatan masyarakat semakin meluas melalui

II - 60

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

pengembangan sarana dan prasarana serta tenaga medis dan paramedis disamping semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeliharaan kesehatan bagi dirinya dan keluarganya. Namun demikian masih dialami kasuskasus penyakit menular yang terjadi di Kota Surabaya seperti demam berdarah, infeksi saluran pernafasan bagian atas (ISPA), diare, dan HIV/AIDS. Atas berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan akses serta mutu pelayanan kesehatan tersebut, Pemerintah Kota mendapatkan sejumlah penghargaan antara lain yaitu Pemenang Otonomi Award 2009 Special Category (Region in an inovative brekthrough on health service) dari JPIP (the jawa pos institute of pro-otonomi) kepada Kota Surabaya dan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari Menteri Kesehatan RI kepada Pemerintah Kota Surabaya pada tahun 2009. c. Pekerjaan Umum c.1. Sarana Prasarana Jalan dan Jembatan Sistem jaringan jalan di kota Surabaya membentuk pola grade dengan pusat-pusat pertumbuhan primer dan sekunder saat ini tersebar di koridor Utara dan Selatan serta Timur dan Barat Kota. Panjang ruas jalan di kota Surabaya pada tahun 2010 sepanjang 1.911,34 km yang terdiri atas ruas jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kota. Terkait kondisi jalan saat ini, dari total 11,021 ruas jalan di Surabaya terdapat 9,632 ruas jalan masih layak, 1,374 ruas jalan yang harus diperbaiki, dan 15 ruas masih dalam perbaikan. Adapun masalah utama pada sistem jaringan jalan di Surabaya adalah sebagai berikut : Kemacetan dan rendahnya tingkat aksesibilitas ke beberapa wilayah di kota Surabaya. Masalah kemacetan yang terjadi di koridor Utara-Selatan saat ini disebabkan
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 61

karena koridor tersebut secara alami telah terbentuk dan akses koridor terhubung dengan sempurna sehingga pusat pusat kegiatan primer dan sekunder lebih dahulu tumbuh dengan pesat pada wilayah koridor ini dari pada wilayah yang dihubungkan oleh koridor Timur-Barat. Pada wilayah koridor Timur-Barat Surabaya saat ini mulai tumbuh dengan pesat namun masih belum didukung oleh akses yang sempurna untuk menghubungkan kedua wilayah tersebut sehingga apabila pergerakan menuju wilayah Timur atau wilayah Barat harus melewati pusat kota dan pada akhirnya lalu lintas akan menumpuk pada koridor Utara-Selatan Kota. Isu lain yang menjadi pendorong terjadinya masalah kemacetan adalah terdapatnya ruas jalan yang berbentuk bottle neck sehingga menghambat arus lalu lintas serta adanya persimpangan yang sebidang dengan rel kereta. Volume kendaraan yang semakin meningkat mengakibatkan kapasitas jalan menjadi semakin kecil jika tidak diimbangi dengan peningkatan jaringan dan kapasitas jalan. Tabel 2.18 dibawah mengindikasikan bahwa sistem jaringan jalan Kota Surabaya secara mayoritas sudah tidak sanggup lagi mengimbangi pertumbuhan volume kendaraan. Hal ini juga terlihat dari tingkat pelayanan jaringan jalan berdasarkan angka rasio volume lalu lintas terhadap kapasitas ruas jalan (V/C ratio) berkisar pada angka 0,7.

II - 62

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Tabel 2.18 Data V/C Ratio di Beberapa Ruas Jalan SurabayaTahun 2006 2009
2006 No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

2007
DS Volume Kapasitas (smp/jam) (smp/jam) DS

2008
Volume Kapasitas (smp/jam) (smp/jam) DS Volume

2009
Kapasitas DS (smp/jam) (smp/jam)

Nama Ruas Jalan


A. Yani (Polda) A. Yani (Waru) Bubutan Darmahusada Darmawangsa Diponegoro Dupak Embong Malang Gresik Gubeng Gunungsari HR. Muhammad Mastrip Mayjen Sungkono Menganti Ngagel Nginden Oso Wilangun Pahlawan Panglima Sudirman Prof. Dr. Moestopo Rajawali Raja Rungkut Raya Wonokromo Rungkut Industri Rungkut Menanggal Semarang Tandes Tunjungan Urip Sumoharjo Wiyung Banyu Urip Semolowaru Menur Frontage Road A.Yani

Volume Kapasitas (smp/jam) (smp/jam)

8,757 11,034 5,006 3,706 2,966 4,206 4,265 5,112 2,343 5,627 5,003 4,902 1,516 7,690 1,674 2,891 5,564 1,610 5,240 6,965 5,783 3,187 3,566 9,724 5,461 2,383 2,307 3,025 5,926 10,421 2,435

9,742 9,742 6,215 5,078 6,105 9,810 9,810 7,453 3,603 6,539 5,483 9,384 2,770 8,744 2,371 5,792 9,504 3,293 12,055 8,234 10,137 7,913 5,504 9,181 8,997 2,386 2,986 3,127 7,499 10,002 2,589

0.90 1.13 0.81 0.73 0.49 0.43 0.43 0.69 0.65 0.86 0.91 0.52 0.55 0.88 0.71 0.50 0.59 0.49 0.43 0.85 0.57 0.40 0.65 1.06 0.61 1.00 0.77 0.97 0.79 1.04 0.94

8,757 11,034 5,006 3,706 2,966 4,000 4,265 4,650 2,343 5,120 4,852 4,902 1,516 7,690 1,674 2,891 5,564 1,610 5,240 6,965 5,783 3,187 3,586 9,724 5,461 2,383 2,307 3,025 5,926 10,421 2,435

9,742 9,742 6,215 5,078 6,105 9,810 9,810 7,453 3,603 6,539 5,483 9,384 2,770 8,744 2,371 5,792 9,504 3,293 12,055 8,234 10,137 7,913 5,504 9,181 8,997 2,386 2,986 3,127 7,499 10,002 2,589

0.90 1.13 0.81 0.73 0.49 0.41 0.43 0.62 0.65 0.78 0.88 0.52 0.55 0.88 0.71 0.50 0.59 0.49 0.43 0.85 0.57 0.40 0.65 1.06 0.61 1.00 0.77 0.97 0.79 1.04 0.94

8,757 11,034 5,006 3,706 2,966 4,000 4,265 4,650 2,343 5,120 4,852 4,902 1,516 7,690 1,674 2,891 5,564 1,610 5,240 6,965 5,783 3,187 3,586 9,724 5,461 2,383 2,307 3,025 5,926 10,421 2,435

9,742 9,742 6,215 5,078 6,105 9,810 9,810 7,453 3,603 6,539 5,483 9,384 2,770 8,744 2,371 5,792 9,504 3,293 12,055 8,234 10,137 7,913 5,504 9,181 8,997 2,386 2,986 3,127 7,499 10,002 2,589

0.90 1.13 0.81 0.73 0.49 0.41 0.43 0.62 0.57 0.78 0.88 0.50 0.55 0.88 0.71 0.50 0.59 0.49 0.43 0.85 0.57 0.40 0.65 1.06 0.61 1.00 0.77 0.97 0.79 1.04 0.94

J UML A H RATA - RATA

22.35 0.72

J UML A H RATA - RATA

22.15 0.71

J UMLA H RATA - RATA

22.05 0.71

8,757 9,742 11,034 9,742 5,006 6,215 3,706 5,078 2,966 6,105 4,000 9,810 4,265 9,810 4,650 7,453 2,343 4,103 5,120 6,539 4,852 5,483 4,902 9,884 1,516 2,770 7,960 8,744 1,674 2,371 2,891 5,792 5,564 9,504 1,610 3,293 5,240 12,055 6,965 8,234 5,783 10,137 3,187 7,913 3,586 5,504 9,724 9,181 5,461 8,997 2,383 2,386 2,307 2,986 3,025 3,127 5,926 7,499 10,421 10,002 2,435 2,589 1,360 2,350 1,465 2,350 0 2,350 3,285 3,425 JUMLA H RATA - RATA

0.90 1.13 0.81 0.73 0.49 0.41 0.43 0.62 0.57 0.78 0.88 0.50 0.55 0.88 0.71 0.50 0.59 0.49 0.43 0.85 0.57 0.40 0.65 1.06 0.61 1.00 0.77 0.97 0.79 1.04 0.94 0.58 0.62 0.00 0.96 24.20 0.69

Sumber : Hasil Survey Dinas PU Bina Marga dan Pematusan, 2009

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 63

c.2. Pematusan Kota Banjir dan genangan di jalan berakibat pada gangguan terhadap mobilisasi penduduk karena menyebabkan/meningkatkan kemacetan lalu lintas dan beresiko terhadap penurunan kesehatan masyarakat apabila permukiman terjangkit wabah penyakit akibat banjir. Upaya yang telah dilakukan adalah pengembangan sistem drainase. Secara administrasi Kota Surabaya memiliki luas area 33.048 ha, namun untuk rencana pengembangan sistem drainase perlu ditambahkan sekitar 3.000 ha di bagian Barat (Kabupaten Gresik) dan Selatan kota (Kabupaten Sidoarjo) serta 500 ha tanah reklamasi di pantai Timur. Sistem drainase Kota Surabaya dibagi dalam 5 (lima) wilayah rayon, yaitu rayon Genteng, Gubeng, Jambangan, Wiyung dan Tandes dengan total luas wilayah pematusan kurang lebih sebesar 36.396,46 ha, seperti yang ditampilkan pada Tabel berikut ini. Tabel 2.19 Luas Wilayah Pematusan Berdasarkan Rayon Rayon Pematusan Genteng Gubeng Jambangan Wiyung Tandes Total Luas Wilayah Pematusan (ha) 3.841 7.123 7.421 7.290,27 10.721,19 36.396,46

Sumber: Surabaya Drainage Master Plan 2018, Review Berdasarkan sejarah pengembangan drainase perkotaan di Surabaya, beberapa dari saluran-saluran yang dulu dirancang untuk penyediaan irigasi sekarang beralih

II - 64

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

fungsi sebagai saluran drainase seiring dengan pesatnya pertumbuhan kawasan terbangun. Dalam peralihan fungsi saluran irigasi menjadi saluran drainase diperlukan banyak perbaikan dan penggalian pada elevasi yang lebih rendah karena adanya prinsip konstruksi saluran irigasi yang berbeda dengan prinsip konstruksi saluran drainase dimana saluran irigasi umumnya menyempit di bagian hilir. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah mengubah irigasi menjadi drainase beberapa saluran antara lain: Saluran Menur sepanjang 572 meter, Saluran Semolowaru sepanjang 649 meter dan Saluran Gunungsari (Banyuurip) sepanjang 2.878 meter yang dilakukan secara bertahap pada tahun 2009 - 2010 mulai Jl. Girilaya sampai dengan Jl. Simojawar. Upaya perubahan fungsi saluran irigasi ini diharapkan dapat terus berlanjut agar dapat memperbaiki kondisi drainase di Kota Surabaya. Untuk mengurangi genangan yang terjadi pada musim hujan, dilakukan pengerukan saluran secara rutin, rehabilitasi dan pembangunan saluran serta peningkatan kapasitas pompa banjir. Sampai dengan tahun 2010 Kota Surabaya memiliki 42 rumah pompa yang melayani areal seluas 32 sampai 1.500 ha (lihat tabel 2.20). Sementara untuk melindungi daerah rendah di pesisir dari genangan air selama pasang tertinggi dan mencegah terjadinya back water, maka dibangun tanggul dan pintu-pintu laut pada saluran primer. Terkait dengan hal tersebut, upaya penambahan pompa dan pintu laut di muaramuara saluran masih sangat diperlukan.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 65

Tabel 2.20 Rumah Pompa Eksisting di Kota Surabaya Tahun 2010


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Lokasi PA. Kalikepiting PA. Dharmahusada PA. Mulyorejo (Galaxy) PA. Kalidami Screw PA. Pesapen PA. Simolawang PA. Kenari PA. Dinoyo PA. Darmokali PA. Tidar PA. Jagir/Kalimir PA. Gunungsari I PA. Keputran PA. Wonorejo I No 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Lokasi PA. Flores PA. Bratang (Boezem) PA. Semolowaru I PA. Grahadi PA. Kutisari PA. Kalidami Boezem I PA. Kenjeran PA. Gunungsari II PA. Semolowaru II PA. Kalisari PA. Kalijudan PA. Dupak Bandarejo PA. Asem Jaya PA. Greges No 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Lokasi PA. Balong PA. Kalibokor PA. Pandugo PA. Kalirungkut PA. Kebon agung PA. Wonorejo (boezem) PA. Kedung Asem PA. Jemur Andayani PA. Mulyosari Ring Road ITS PA. Kalidami Boezem II PA. Jeblokan PA. Tambakwedi PA. Boezem Morokrembangan PA. Medokan Semampir

Kondisi topografi Kota Surabaya terdiri atas perbukitan di bagian barat, relatif rendah di pantai sisi utara dan timur serta daerah datar di sisi selatan. Oleh karenanya pengendalian banjir di kota ini tidak cukup hanya dengan penambahan kapasitas saluran dan pompa banjir saja, namun juga perlu ditambah dengan kolam

II - 66

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

penampungan/boezem/waduk. Pembangunan boezem di hilir dimaksudkan untuk menampung aliran dari catchment area sebelum pada akhirnya dipompa ke laut. Saat ini Kota Surabaya didukung oleh 5 boezem utama yaitu boezem Morokrembangan, Kedurus, Kalidami, Bratang dan Wonorejo. Dalam rangka penerapan sistem drainase berwawasan lingkungan dan mewujudkan upaya konservasi serta pelestarian air, maka perlu juga dilakukan pembangunan waduk di daerah hulu. Tujuannya antara lain untuk menahan air di daratan selama mungkin sehingga dapat mengurangi laju aliran air permukaan ke hilir dan menstabilkan permukaan air tanah pada musim kemarau. Revitalisasi waduk-waduk BTKD di daerah Surabaya barat dan pemanfaatan fasum fasos milik pengembang sangat berpotensi untuk menambah resapan di hulu. Selama 5 tahun terakhir telah dapat diturunkan area genangan seluas 832,93 ha dari luas area genangan semula 3.016 ha pada tahun 2005 menjadi 2.183,07 ha pada tahun 2009. Waktu genangan 6 jam pada tahun 2005 dapat diturunkan menjadi 0,98 jam pada tahun 2009. Begitu pula dengan tinggi genangan, semula 40 cm pada tahun 2005 menjadi 20,36 cm pada tahun 2009. Capaian tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.11, Gambar 2.12 dan Gambar 2.13 dibawah ini.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 67

Gambar 2. 11 Luas Area Genangan Kota Surabaya (2005 2009)


3500 3016 3000 2500 2931 2825,2 2411,7 2183,07

Luas (ha)

2000 1500 1000 500 0 2005 2006 2007 2008

2009

Gambar 2.12 Waktu Genangan Kota Surabaya (2005 2009)


7 6 6 5 4 3 2 1 0 2005 2006 2007 2008 2009 3,25 2,5 1,5 0,98

Gambar 2.13 Tinggi Genangan Kota Surabaya (2005 2009)


45 40 35 Tinggi (cm ) 30 25 20 15 10 5 0 2005 2006 2007 2008 2009 21 20,36 27 25,58 40

II - 68

Waktu (jam)

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

d. Perumahan Kawasan perumahan adalah kawasan yang pemanfaatannya sebagai perumahan serta berfungsi sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan penyediaan sarana dan prasarana lingkungan. Kawasan perumahan di Kota Surabaya tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya dengan distribusi kawasan perumahan terbesar di Kota Surabaya terdapat di wilayah Surabaya Timur dengan persentase 12 persen dari luas wilayah Kota Surabaya. Sedangkan untuk kawasan Surabaya Barat distribusi perumahannya paling sedikit yaitu 2 persen. Secara keseluruhan luasan kawasan perumahan di Surabaya sebesar 38,14 persen dari luas wilayah Kota Surabaya. Gambar 2.14 Persebaran Perumahan dan Permukiman di Kota Surabaya

Sumber : RP4D Kota Surabaya, 2008


R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 69

Jenis perumahan yang ada di Kota Surabaya terklasifikasi dalam perumahan formal dan informal. Perumahan formal yaitu jenis perumahan yang didirikan oleh pengembang dan/atau pemerintah, seperti real estate di wilayah Perumahan Galaxy, Pakuwon, Citraland, dan perumahan militer. Dan sampai dengan tahun 2011, terdapat 128 pengembang real estate yang ada di Kota Surabaya dengan luas total 4.983.61 Ha. Sedangkan perumahan informal adalah perumahan yang dibangun dengan swadaya masyarakat seperti rumah perkampungan, yang dimaksudkan dengan kampung di sini adalah perumahan dan permukiman legal di kota yang berkembang atas inisiatif dan kemampuan masyarakat secara mandiri. Karakter yang tampak pada penduduk di perkampungan adalah adanya homogenitas dan nilai kebersamaan yang lebih kental karena telah lama tinggal berkelompok pada satu wilayah. Daya tarik Kota Surabaya telah mengakibatkan tumbuhnya penduduk kota dalam jumlah besar yang diakibatkan tingginya angka urbanisasi ke kota. Kondisi ini menyebabkan dibutuhkannya keseimbangan antara penambahan rumah tangga dengan penyediaan rumah. Perkembangan harga lahan dan perkembangan biaya mendirikan bangunan menyebabkan harga rumah di Kota Surabaya semakin meningkat dan menyebabkan banyaknya penduduk yang tidak mampu menjangkau harga rumah. Munculnya rumah-rumah kumuh dan rumah-rumah illegal memberikan indikasi adanya ketidakseimbangan antara jumlah perumahan dengan jumlah penduduk. Jumlah bangunan rumah (vertikal dan horisontal) yang ada di Kota Surabaya saat ini adalah 678.058 unit rumah. Jumlah penduduk sebesar 2.947.003 jiwa. Dengan asumsi rata-rata anggota KK adalah 4 jiwa, maka seharusnya jumlah rumah yang ada di kota Surabaya adalah 736.751 unit. Berdasarkan

II - 70

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

kondisi tersebut, maka selisih antara kebutuhan akan rumah dengan jumlah rumah yang ada/ tersedia, menjadi nilai kekurangan/backlog kuantitas rumah di Kota Surabaya saat ini, yaitu sebesar 58.693 unit. Pemerintah kota telah mengupayakan penyediaan lahan bagi terbangunnya rumah sederhana layak huni yang memiliki konsep pembangunan vertikal dengan dukungan dana dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Di Kota Surabaya terdapat beberapa 8 rusun yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya (Lihat tabel 2.21). Tabel 2.21 Rusun di Kota Surabaya
No 1. Nama Rusun Dupak Bangun Rejo Sombo Lokasi Kel. Dupak Kec. Krembangan Kel.Simolawan g Kec. Simokerto Kel. Embong kaliasin Kec. Genteng Tipe (m2) 18 Jum lah Blok 6 Jum lah Unit 150 Luas Lahan (m2) 3.000 Jum lah Lantai 4

2.

18

10

618

25.000

3.

Urip Sumo harjo

21

120

3.500

4. - Penjari ngan Sari I - Penjari ngan Sari II - Penjaring an Sari III Kel. Penjari ngan Sari Kec. Rungkut

18

250

9.000

21

288

9.000

24

96

6.000

5. - Wonorejo I
R P J M D

Kel. Wonorejo Kec.


S U R A B A Y A

21

96

2.500

K O T A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 71

No

Nama Rusun - Wonorejo II

Lokasi KarangPilang Kel. Waru Gunung Kec. Karang Pilang

Tipe (m2) 21 21

Jum lah Blok 4 10

Jum lah Unit 192 480 92 unit usaha 28 unit fasum

Luas Lahan (m2)

Jum lah Lantai 4

6.

Waru Gunung

29.845

7.

Randu

Kel. Sidotopo Wetan Kec. Kenjeran Kel. Tanah Kalikedinding Kec. Kenjeran TOTAL (m2) TOTAL (ha)

21

288

6.800

8. - Tanah Merah I - Tanah Merah II

21 24

4 4 56

192 192 2.520

6.000 6.000 106.645 10,664

5 5

Gambar 2. 15 Luasan Total Rusunawa yang dikelola Pemkot Surabaya 10,664 Ha

II - 72

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Selain mengupayakan konsep pembangunan rumah sederhana layak huni vertikal, Pemerintah Kota Surabaya juga mengupayakan perbaikan sarana prasarana di lingkungan permukiman kumuh melalui kegiatan Perbaikan Kampung Terpadu (KIP Komprehensif) pada tahun 2002-2006, Pembenahan Lingkungan Perkampungan (PLP) pada tahun 2006-2008, dan NUSSP (Neigborhood Upgrading and Shelter Sector Program) pada tahun 2011. Program perumahan dan permukiman yang telah dilaksanakan untuk RPJMD Kota Surabaya tahun 2006-2010, ditujukan bagi masyarakat miskin di perkotaan khususnya yang terkait dengan ketidakterjangkauan finansial masyarakat guna memperoleh perumahan yang layak serta kemampuan meningkatkan sarana prasarana lingkungan permukimannya sedangkan sasaran programnya adalah terciptanya kelengkapan standar sanitasi maupun utilitas umum. Pembangunan dibidang perumahan dan permukiman tidak berarti hanya membangun perumahan atau permukiman baru, akan tetapi juga menjaga kualitas sarana prasarana permukiman itu menjadi lebih baik, lebih sehat dan tidak kumuh. Pemerintah Kota Surabaya sangat menaruh perhatian pada ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan permukiman ini, utamanya kawasan kumuh karena pada umumnya sarana prasarana yang tersedia kurang memadai khususnya dalam hal penyediaan sanitasi sehingga berakibat pada rendahnya kualitas kesehatan masyarakat. Terkait dengan, ketersediaan sarana dan prasarana dasar lingkungan permukiman di Kota Surabaya seperti listrik, air bersih dan sanitasi yang layak, dapat di ketahui pada tahun 2009 jumlah pelanggan listrik rumah tangga di Kota Surabaya telh mencapai 726,405 Rumah Tangga (RT) (Sumber : Surabaya Dalam Angka 2010). Sedangkan layanan air bersih bagi masyarakat Kota Surabaya, hampir sebagian besar
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 73

perumahan baik perumahan formal maupun perumahan kampung di Kota Surabaya di layani sambungan air minum oleh PDAM, dan setiap tahun jumlah pelanggan PDAM kategori rumah tangga terus meningkat, dari tahun 2007 sebanyak 342.509 RT yang terlayani, tahun 2008 meningkat menjadi 355.799 (RT) dan meningkat lagi menjadi 367.456 RT dan meningkat lagi menjadi 367.456 RT (Sumber : PDAM Surya Sembada Online, 2011). Untuk memenuhi kebutuhan prasarana sanitasi bagi perumahan di Kota Surabaya saat ini belum terdapat jaringan pembuangan limbah. Sebagian besar perumahan di Kota Surabaya mengandalkan sistem sanitasi setempat (on-site) terutama untuk pembuangan limbah manusia. Sistem sanitasi tersebut meliputi tangki septik, sumur resapan, serta jamban. Berdasarkan hasil pengambilan sampel jamban keluarga di wilayah Kota Surabaya, dapat diketahui bahwa dari 693.986 KK yang telah memiliki jamban keluarga sebesar 86,64% Sebagian besar perumahan telah memiliki fasilitas ini pada masing-masing rumah tangga tetapi pada perumahan kampung padat fasilitas tersebut bersifat komunal atau digunakan untuk sekelompok keluarga. Penyediaan sistem sanitasi pengolahan limbah domestik terpusat (off site system) diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Secara bertahap sistem sanitasi tersebut akan ditingkatkan menjadi sistem komunal yang terintegrasi dengan sistem sanitasi pengolahan limbah domestik perkotaan. e. Perencanaan Pembangunan Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Untuk mencapai target-target tahunan yang telah ditetapkan di dalam

II - 74

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

RPJMD diperlukan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD. Indikator yang digunakan sebagai tolok ukur

pencapaian kinerja peningkatan efektifitas perencanaan dan pembangunan adalah prosentase Ketepatan Waktu Penyusunan Dokumen Perencanaan. Yang dimaksud Ketepatan Waktu Penyusunan Dokumen Perencanaan adalah jumlah dokumen perencanaan yang tepat waktu dibanding dengan jumlah dokumen perencanaan. Pada tahun 2010 jumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD di lingkungan Pemerintah Kota sebanyak 1.789 kegiatan. Dari seluruh kegiatan tersebut, realisasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai waktu dan target perencanaan sebanyak 1.770 kegiatan. Gambar 2.16 Ketepatan Waktu Kegiatan 2006-2010

Sumber Data: Bagian Bina Program Kota Surabaya, 2010

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 75

f.

Perhubungan fungsi Sebagai urat nadi pembangunan, transportasi memiliki sebagai penggerak, pendorong dan penunjang

pembangunan. Beberapa aturan mendasari program ini yaitu: Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 2006 tentang manajemen dan rekayasa lalu lintas: Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya. Kondisi umum lalu lintas di kota Surabaya hampir sama dengan kotakota besar lainnya di Indonesia. Pertumbuhan kendaraan bermotor terutama sepeda motor sangat tinggi sehingga menimbulkan dampak kemacetan yang sering terjadi di sebagian ruas jalan di kota Surabaya. Dari data dinas Perhubungan Kota Surabaya tahun 2008 laju pertumbuhan pengguna sepeda motor adalah 10-13 persen per tahun. Selain kemacetan lalu lintas dampak lain yang mengikuti adalah polusi udara. Isu kemacetan di kota Surabaya bukan hanya disebabkan oleh tingginya laju pertumbuhan kendaraan saja, namun beberapa hal lain yang ikut berperan adalah rendahnya tingkat layanan angkutan umum sehingga pengguna kendaraan pribadi enggan beralih moda menggunakan angkutan umum, kurangnya integrasi antar moda transportasi yang dikarenakan masih belum optimalnya fasilitas alih moda serta simpul-simpul transportasi yang ada, aksesibilitas wilayah yang belum optimal dikarenakan jaringan jalan masih ada yang belum terbentuk sempurna, belum adanya kebijakan pembatasan terhadap kendaraan pribadi, masih terpusatnya pusat-pusat kegiatan primer dan sekunder di kawasan-kawasan tertentu sehingga menimbulkan tarikan yg besar, pemanfaatan jalan diluar fungsinya serta belum signifikannya penambahahan kapasitas jalan.

II - 76

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Gambar 2.17 Jumlah Kendaraan di kota Surabaya

Sumber: Polwiltabes Surabaya, 2010 Dari data tersebut diatas, pada tahun 2009 total jumlah kendaraan yang berada di kota Surabaya sebesar 3.723.886 sedangkan jumlah angkutan umum yang ada (Mikrolet dan Bus Kota) sesuai data dari Dinas Perhubungan sebagaimana dalam tabel berikut ini : Tabel 2.22 Jumlah Mikrolet dan Bus kota 2005 - 2009 No 1 2 Jenis angkutan Mikrolet Bus kota 5.261 359 5.291 359 2005 2006 2007 (kendaraan) 5.291 359 5.233 270 5.016 270 2008 2009

Sumber: Dinas Perhubungan Kota Surabaya, 2010 Tabel data di atas menunjukkan bahwa jumlah angkutan umum tahun 2009 sebesar 5.286 kendaraan terdiri atas 19 trayek untuk bis kota dan 58 trayek untuk angkutan kota atau 0.14 persen dari jumlah kendaraan di kota Surabaya. Selain itu tabel di atas juga menunjukkan bahwa layanan
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 77

angkutan umum dari sisi kuantitas mengalami penurunan sebesar -1,17 persen untuk mikrolet dan -6,20 persen untuk bis kota, dengan rasio ijin trayek sebesar nol, atau bisa dikatakan dari tahun ke tahun tidak mengalami pertumbuhan. Adapun jumlah arus penumpang angkutan umum di 2 terminal tipe A yaitu Terminal Purabaya dan Terminal Tambak Osowilangun meliputi penumpang datang dan berangkat pada jalur AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) dan AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.23 Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum di Terminal Purabaya dan Terminal Tambak Osowilangun
No Lokasi Terminal Pura baya Terminal Tambak Oso Wilangun 2006 2007 2008 Orang 18.679.700 14.296.412 22.380.262 21.250.961 21.080.342 2009 2010

2.098.965

1.928.629

1.888.267

1.914.343

1.916.742

Sumber : UPTD Terminal Purabaya dan UPTD Terminal Tambak Oso Wilangun, Dinas
Perhubungan Kota Surabaya, 2010

Dari data yang terdapat di dalam tabel 2.23 .pada kurun waktu 2008 2010 terjadi penurunan arus penumpang angkutan umum. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa angkutan umum yang ada saat ini mengalami kesulitan dalam hal biaya operasional dikarenakan semakin menurunnya jumlah pengguna angkutan umum. Ketertarikan masyarakat untuk menggunakan angkutan umum tersebut berkurang dikarenakan tingkat layanan angkutan umum yang ada saat ini masih rendah serta salah satu dampak yang diakibatkannya yaitu polusi udara. Maka beberapa upaya ke depan adalah

II - 78

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

dengan meningkatan layanan angkutan umum dengan mengoperasionalkan angkutan massal perkotaan maupun regional, memperbaiki sistem kelembagaan angkutan umum serta mulai menerapkan sistem transportasi yang berkelanjutan (sustainable transportation) dan kebijakan sisi permintaan lalu lintas (traffic demand management) untuk membatasi jumlah pengguna kendaraan pribadi yang ada di kota Surabaya. Dalam hal peningkatan keselamatan lalu lintas, Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan berbagai upaya yaitu melalui pemeriksaan kelaikan kendaraan baik angkutan umum maupun pribadi yang meliputi angkutan penumpang dan barang di Pengujian Kendaraan Bermotor, yang dilakukan secara berkala dengan jumlah kendaraan yang lulus uji terdapat pada tabel berikut : Tabel 2.24 Jumlah Kendaraan Lulus Uji KIR
No. 1 2 Lokasi Pengujian UPTD PKB Tandes UPTD PKB Wiyung 2006 2007 2008 Kendaraan 84.070 76.362 85.191 76.084 77.891 81.735 72.629 79.317 84.332 73.411 2009 2010

Sumber : UPTD PKB, Dinas Perhubungan Kota Surabaya, 2010

Selain itu upaya lain peningkatan keselamatan lalu lintas adalah dengan pemasangan rambu jalan baik rambu peringatan, rambu larangan, rambu perintah maupun rambu petunjuk, yang mana sampai dengan tahun 2010 telah terpasang 7421 buah rambu dengan jumlah eksisting pada tahun 2006 adalah 5.062 buah.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 79

Tabel 2.25 Pemasangan Rambu


Tahun NO Jenis Rambu Sampai dengan 2006 772 2216 1154 920 5062 2007 133 327 92 79 631 2008 15 287 45 47 394 2009 84 349 56 94 583 2010 99 378 141 133 751 Total sampai dengan 2010 1103 3557 1488 1273 7421

1 2 3 4

Rambu Peringatan Rambu Larangan Rambu Perintah Rambu Petunjuk Jumlah

Sumber : Dinas Perhubungan Kota Surabaya, 2010

g. Lingkungan Hidup 1. Pengendalian dan Pelestarian Kualitas Udara Upaya pengendalian terhadap pencemaran udara terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk menjamin keberlanjutan kualitas udara bersih serta mengurangi timbulnya dampak negatif pencemaran udara bagi kesehatan manusia, hewan, tanaman dan materi. Dampak negatif tersebut antara lain semakin menipisnya lapisan ozon, berkurangnya oksidasi atmosfer serta pemanasan global. Berdasarkan evaluasi hasil pemantauan kualitas udara ambien, PM10 dan ozon telah menjadi parameter kritis di Kota Surabaya. Hasil pemantauan kondisi kualitas udara di Kota Surabaya berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) selama periode 2006-2010, menunjukkan perkembangan sebagai berikut : Dari data tabel 2.26 menunjukkan bahwa dalam setiap tahun terjadi peningkatan jumlah hari udara baik sebesar 0.18 persen, penurunan jumlah hari udara sedang sebesar 0.82 persen dan peningkatan jumlah

II - 80

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

hari

udara

tidak

sehat

sebesar

0.65

persen.

Perkembangan kondisi kualitas udara diatas menunjukkan kualitas udara yang layak hirup adalah 360 hari atau 98,63 persen dari 365 hari dalam setahun pada tahun 2006, 360 hari atau 98,63 persen dari 365 hari dalam setahun pada tahun 2007, 358 hari atau 97,81 persen dari 366 hari dalam setahun pada tahun 2008 dan 335 hari atau 91,78 persen dari 365 hari dalam setahun pada tahun 2009, 336 hari atau 98.82 persen dari 340 tiap hari dalam setahun pada tahun 2010. Tabel 2.26 Persentase Hari Tiap Kategori ISPU
Th. 2006 Udara baik Udara sedang Udara tidak sehat total % 7,12 91,51 1,37 100 Th. 2007 16,44 82,19 1,37 100 Th. 2008 23,50 74,32 2,19 100 Th. 2009 6,58 85,21 8,22 100 Th. 2010 12,94 85,88 1,18 100

Terkait dengan pengukuran tersebut sepanjang tahun 2006-2010 kondisi kualitas udara kota masih dalam batas yang relatif sehat, tercermin dari rata-rata tahunan sepanjang tahun 2006-2010 kondisi baik sebesar 13,32%, sedang 83,82% dan tidak sehat sebesar 2,86%. Jumlah hari, udara yang tidak sehat paling banyak pada tahun 2009 dan pada tahun 2010 mengalami pekembangan yang lebih baik dimana jumlah hari udara tidak sehat terjadi hanya 1,18 persen hari yang terukur.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 81

2.

Pengendalian dan Pelestarian Kualitas Air Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air dalam penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan. Adapun perkembangan kualitas air sumur di Kota Surabaya selama tahun 2006 - 2010 adalah sebagai berikut : Pada Tahun 2009 yang memenuhi kualitas baku mutu adalah sebesar 20,70 persen dari sampel air. Pada Tahun 2010 yang memenuhi kualitas baku mutu adalah sebesar 20.90 persen dari sampel air.

Sebagaimana terlihat pada Gambar 2.18 dimana setiap kualitas air di Kota Surabaya cenderung mengalami peningkatan. Gambar 2. 18 Perkembangan Kualitas Air di Kota Surabaya Tahun 2006-2010

Sumber data: Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2010

II - 82

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

3.

Pengelolaan sampah Perkembangan lingkungan permukiman di daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduk perkotaan baik karena faktor pertumbuhan penduduk kota itu sendiri maupun karena faktor urbanisasi. Selain itu, akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula sampah yang dihasilkan. Limbah tersebut menjadi permasalahan lingkungan karena kuantitas maupun tingkat bahayanya dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Rata-rata per orang per hari menghasilkan sampah 0,7 kg, dan akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan dan gaya hidup masyarakat. Pengelolaan sampah perkotaan meliputi 4 (empat) kegiatan utama yaitu pewadahan, pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan sementara di TPS, sedangkan tempat pengangkutan dan pengolahan akhir di TPA. Jumlah TPS di Surabaya dari tahun 2006 sampai 2009 terus mengalami peningkatan, dari yang awalnya berjumlah 141 TPS pada tahun 2006 hingga mencapai 168 pada tahun 2009. Berikut adalah data volume sampah yang ditampung di TPS selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 83

Gambar 2.19 Volume Sampah yang ditampung di TPS

Volume Tumpukan Sampah di TPS 2006 - 2009 1000 950 800 750 600 400 200 0 2006 2007 2008 2009 205.2 512

Tempat Pengolahan Akhir (TPA) dari sampah Kota Surabaya adalah TPA Benowo dengan jumlah sampah yang masuk ke TPA Benowo selama kurun waktu 2005 2009. Gambar 2.20 Volume Sampah yang ditampung di TPA Benowo

II - 84

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Volume tumpukan sampah di TPS per hari dari tahun 2006 sampai dengan 2009 mengalami penurunan. Bila pada tahun 2006, volume tumpukan sampah di TPS mencapai 950 m3 per hari, maka pada tahun 2009 turun hingga 205,5 m3 per hari. Sedangkan volume tumpukan sampah yang ditampung di TPA per hari juga semakin tahun semakin menurun. Pada tahun 2005 volume sampah yang masuk di TPA adalah 1819 Ton/Hari terus menurun tiap tahunnya hingga menjadi 1229,43 Ton/Hari pada tahun 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa penanganan sampah secara mandiri di masyarakat sudah mulai baik. Kondisi dan letak lahan TPA Benowo yang dekat dengan kegiatan tambak-tambak penduduk, juga kurang memenuhi syarat dari segi lingkungan.Dari hal tersebut maka ketersediaan TPA baru di Kota Surabaya ke depan memerlukan pemikiran kembali agar keseluruhan kriteria yang ditetapkan dapat tercapai dan tidak menimbulkan permasalahan-permasalahan di masyarakat. Disamping itu upaya pemrosesan sampah di TPA juga tetap dilakukan sebagai upaya alternatif pemusnahan dan pemanfaatan sampah. 4. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan hijau pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau pemakaman, kawasan hijau pertanian, kawasan jalur hijau dan kawasan hijau pekarangan yang pemanfaatannya lebih bersifat pada pembudiyaan tanaman secara alamiah maupun buatan. Dalam konsep pembangunan berkelanjutan untuk mewujudkan kehidupan yang seimbang baik secara fisik, ekologis,
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 85

maupun sosial bagi warga kota maka keberadaan RTH di perkotaan sangat diperlukan, Karena kebutuhan kota terhadap RTH tersebut maka penyediaan RTH harus dilakukan secara proporsional terhadap pembangunan infrastruktur fisik kota. Rendahnya kualitas lingkungan dan penyediaan ruang terbuka publik secara psikologis dapat menyebabkan kondisi mental dan kualitas sosial masyarakat perkotaan makin buruk dan tertekan. Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, proporsi RTH yang harus dipenuhi minimal adalah sebesar 30 persen dari luas kota dimana 20 persen luasan RTH berupa RTH publik dan 10 persen berupa RTH privat. Selama periode tahun 2002 - 2009, Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan penghijauan kota dalam bentuk penanaman pohon secara mandiri dengan menggerakkan masyarakat bersama sama dalam kegiatan green and clean di permukiman penduduk, penetapan kawasan lindung berhutan bakau, pembangunan taman-taman kota dan hutan kota, mempertahankan dan merevitalisasi RTH berupa lapangan, waduk dan makam yang merupakan aset pemerintah Kota, merevitalisasi fungsi jalur-jalur hijau kota seperti sempadan sungai, sempadan rel KA, median-median jalan dan jalur hijau pedestrian kota serta mempertahankan adanya bufferbuffer sebagai sabuk hijau yang membatasi zona industri dengan penggunaan lain di sekitarnya. Luasan RTH publik Kota Surabaya yang telah direkapitulasi mencapai 20,18 persen dari luas total kota Surabaya atau sebesar 6,670.42 ha yang meliputi RTH makam, RTH lapangan dan stadion, RTH telaga/waduk/boezem, RTH dari penyerahan fasum dan fasos, RTH kawasan lindung, RTH hutan kota, RTH

II - 86

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

taman dan jalur hijau. Secara rinci luasan RTH publik dapat dilihat pada Tabel 2.27 berikut. Tabel 2.27 Distribusi Ruang Terbuka Hijau Publik Tahun 2009
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. RTH makam RTH lapangan dan stadion RTH telaga/waduk/boezem RTH dari penyerahan fasum dan fasos permukiman RTH kawasan lindung(Pamurbaya, Benowo, Pakal, Waru Gunung) RTH hutan kota di (Pakal, Lakarsantri, Balas Klumprik, KBS) RTH tsmsn fsn jslur hijsu (JH) Jumlah Luasan RTH Publik total Luas Kota Surabaya Prosentase Luas RTH Publik terhadap Luas Kota Jenis RTH PUBLIK Luas (Ha) 178,45 220,68 144,33 108,15 4.115,90 41,16 1.861,74 6.670,41 33.048,00 20,18

Secara kuantitas, proporsi dan jumlah RTH publik di Kota Surabaya telah memenuhi standar minimum kebutuhan RTH publik suatu kota, namun sebagian besar dari RTH publik tersebut masih belum dimanfaatkan atau berfungsi secara optimal sebagai paru-paru kota, sehingga program RTH secara umum diarahkan pada pengoptimalan fungsi, kualitas dan distribusi RTH publik secara proporsional di seluruh Kota Surabaya. h. Kependudukan dan Catatan Sipil Kependudukan dan Catatan Sipil diarahkan pada Peningkatan Pelayanan Kependudukan dan Pencatatan Sipil sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan kependudukan bagi masyarakat dengan biaya yang terjangkau dan proses cepat serta terkendalinya mobilitas penduduk.
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 87

Tabel 2.28 Pengurusan KK, KTP dan Akte Kelahiran


Tahun KK Jumlah Keluarga Penduduk ber-KK Prosentase KTP Penduduk Wajib KTP Penduduk ber KTP Prosentase Akte Kelahiran Laporan Kelahiran Yang mengurus Akte Kelahiran Prosentase 47.984 14.388 41.699 40.796 41.091 37.917 14.137 14.025 21.180 18.765 2.139.448 1.818.650 85 2.197.348 1.865.014 85 2.242.837 1.919.717 86 2.243.893 1.921.368 86 2.232.046 1.924.283 86 926.936 715.690 77 952.557 752.279 79 967.503 820.957 85 813,595 813,595 100 818.595 818.595 100 2006 2007 2008 2009 2010

30

98

92

99,208

88,60

Sumber data : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Presentase Penduduk yang memiliki Kartu Keluarga dalam rentang tahun 2005 sampai 2009 menunjukkan angka yang meningkat, demikian halnya dengan prosentase penduduk yang mempunyai KTP dan presentase pengurusan Akte Kelahiran juga cenderung meningkat. Secara detail, disajikan dalam Tabel 2.28 Terlepas dari meningkatnya jumlah penduduk, data tersebut memberikan indikasi akan adanya kesadaran masyarakat untuk tertib terhadap administrasi kependudukan. Jumlah laporan kematian dari kecamatan sebanyak 14.482 pada tahun 2007, 14.548 pada tahun 2008, sebanyak 8.858 pada tahun 2009 dan 12.151 pada tahun 2010 sehingga sampai dengan akhir 2010 jumlah laporan kematian dari

II - 88

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

kecamatan sebanyak 50.039, sedangkan yang mengurus akte kematian sebanyak 1.690 orang atau hanya 13.10 persen pada tahun 2006, 1.942 orang atau hanya 13.40 persen pada tahun 2007, 1.776 orang atau hanya 12.20 persen pada tahun 2008, 2.792 orang atau hanya 31.52 persen pada tahun 2009 dan 4.634 orang atau hanya 38.13 persen pada tahun 2010 sehingga sampai dengan akhir 2010 yang mengurus akte kematian sebanyak 12.834 orang atau hanya 25.65 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran warga Kota Surabaya dalam mengurus akte kematian masih rendah, karena pada umumnya yang mengurus akte kematian hanya masyarakat tertentu yang memiliki kepentingan/tujuan tertentu misalnya untuk kepentingan pengurusan warisan. Dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap masalah tersebut, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil telah melaksanakan sosialisasi mengenai pelayanan kependudukan dari Pencatatan Sipil kepada masyarakat melalui Camat dan Lurah. Peningkatan pelayanan administrasi kependudukan diukur berdasarkan kecepatan waktu pelayanan pengurusan KTP, KK, akte kelahiran dan akte kematian Rata-rata tenggang waktu penyelesaian pengurusan KTP telah mencapai 1 hari. Sehingga kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengurus KTP mulai dari memasukkan surat pengantar di Kecamatan hingga tercetaknya KTP sudah sesuai dengan target yang diharapkan. Demikian halnya dengan pengurusan Kartu Keluarga, Akte Kelahiran, dan Akte kematian, apabila semua persyaratan sudah lengkap maka masingmasing telah mampu mencapai target waktu yang telah ditetapkan, yaitu 5 (lima) hari untuk pengurusan Kartu Keluarga serta 6 (enam) hari untuk pengurusan Akte Kelahiran dan Akte Kematian. Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan sebagaimana dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 tahun 2011 menyatakan bahwa setiap penduduk berhak
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 89

mendapatkan

pelayanan

pendaftaran

penduduk

dan

pencatatan sipil. Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil diarahkan pada Peningkatan Pelayanan Kependudukan dan Pencatatan Sipil sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan kependudukan bagi masyarakat secara mudah, cepat, dekat dan dengan biaya yang terjangkau. Upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan kemudahan layanan administrasi kependudukan selain layanan yang dilakukan di 31 kecamatan dan 24 kelurahan adalah layanan counter KTP di Mall, layanan mobil keliling dan layanan di taman. Pelayanan perpanjangan KTP dan akta kelahiran di Mall pada bulan Juni sampai dengan Oktober tahun 2010 ratarata mencapai kurang lebih 2.998 pemohon. Sedangkan pelayanan malam hari yang dilakukan pada 10 kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 2.29 Pelayanan Perpanjangan KTP dan Akta Kelahiran Pada Malam Hari di 10 Kecamatan
PELAYANAN JAM 15.30 S/D 20.00 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KECAMATAN KTP Rungkut Semampir Sawahan Bubutan Tambaksari Gubeng Pabean Cantian Tandes Karang pilang Wonokromo 8.301 8.781 8.073 1.198 6.850 5.880 691 6.322 4.960 6.073 KK 1.024 517 0 360 0 0 73 0 964 29 Lain2 1.865 168 0 160 0 0 85 0 87 0 Total 11.190 9.466 8.073 1.718 6.850 5.880 849 6.322 6.011 6.102

II - 90

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Selain upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya, kesadaran masyarakat akan pentingnya dokumen administrasi kependudukan juga merupakan faktor yang mendukung. Berbeda dengan pengurusan dokumen Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk dan Akte Kelahiran, untuk pengurusan dokumen Akte Kematian bagi warga Kota Surabaya masih perlu ditingkatkan. Hal ini dikarenakan beberapa warga Kota Surabaya mengurus Akte Kematian di saat warga masyarakat tersebut memiliki kepentingan/tujuan tertentu, misalnya untuk pengurusan warisan. i. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kepedulian Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat tercermin dalam indikator jumlah penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak umumnya adalah tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), non KDRT dan trafficking (perdagangan orang). Jumlah kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 150 kasus pada tahun 2006, 191 kasus pada tahun 2007, 162 kasus pada tahun 2008, 202 kasus pada tahun 2009 dan 229 kasus pada tahun 2010. Penanganan atas tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut dilakukan dengan tindakan Konseling; Medis berupa rujukan ke Pusat Pelayanan Terpadu / Rumah Sakit, Hukum berupa konsultasi hukum serta pendampingan ke Polisi, Pengadilan Agama (PA) maupun Pengadilan Negeri (PN); Psikososial meliputi identifikasi kasus, konseling, home visit, out reach, sosialisasi serta reintegrasi (pelatihan ketrampilan) dan pemberdayaan (bimbingan rohani, pemberian ketrampilan serta pendampingan pemulangan); Shelter (Rumah Aman).
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 91

Terkait dengan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Surabaya ada perbaikan di mana pada tahun 2009 tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan sebesar 2,51 , pada tahun 2010 meningkat menjadi 2,63. Ini mengidikasikan semakin meningkatnya perempuan yang beraktifitas bekerja. j. Sosial Penanggulangan Masalah Sosial bertujuan untuk dapat meningkatkan kualitas hidup bagi penyandang masalah sosial dengan sasaran meningkatnya pelayanan bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang tertangani sebanyak 2.707 orang pada tahun 2006, 3.588 orang pada tahun 2007, 5.333 orang pada tahun 2008 dan 10.203 orang pada tahun 2009. Adapun penanganan PMKS pada tahun 2010 sebesar 15,699 orang atau 38.95 persen. Upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota dalam penanganan PMKS antara lain Peningkatan kualitas pelayanan, sarana dan prasarana rehabilitasi sosial PMKS, Pembinaan dan pelatihan ketrampilan bagi lanjut usia, Peningkatan kualitas SDM keluarga miskin yang berprestasi, Pembinaan mental sosial bagi PMKS, Pembinaan Tenaga Kerja Sosial Masyarakat serta Bimbingan teknis penanganan PMKS dan Pendataan PMKS. Banyaknya jumlah PMKS di Kota Surabaya menunjukkan bahwa Kota Surabaya merupakan salah satu daerah tujuan urbanisasi bagi PMKS, sehingga anggaran yang dialokasikan Pemerintah Kota Surabaya untuk pelayanan PMKS tidak akan optimal bilamana Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota lain tidak melakukan upaya penanganan sesuai dengan MoU antara Gubernur Jawa Timur dengan Bupati/Walikota Se Jawa Timur Nomor: 120.1/037.012/2004 dan 462.1543.4/436.1.2/2004 tanggal 27 April 2004 tentang

II - 92

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Kerjasama Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) khususnya anak jalanan, wanita tuna susila, gelandangan, gelandangan psikotik dan pengemis bertempat di Gedung Bank Jawa Timur Jl. Basuki Rachmad No. 98 - 104 Surabaya pukul 13.00 WIB disaksikan oleh Ketua DPRD Kabupaten/ Kota Se Jawa Timur dan sejumlah pejabat di Provinsi Jawa Timur dan ditindaklanjuti dengan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Pemerintah Kota Surabaya tentang Kerjasama Pembangunan Daerah dengan Nomor Surat 120.1/84/012/2009 dan 415.4/4167/436.2/2009 tanggal 1 September 2009. k. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Mikro k.1. Koperasi Selain UKM, yang berperan dalam ekonomi kerakyatan adalah Koperasi. Sebagai usaha ekonomi yang tak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga pada kualitas kehidupan anggota-anggotanya. Dengan demikian, maka keberadaan ekonomi perlu didukung agar semakin diminati masyarakat. Gambar 2. 21 Kondisi Eksisting Jumlah Koperasi Skor Baik di Surabaya

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 93

Kota Surabaya merupakan kota yang sangat kondusif bagi pertumbuhan koperasi, salah satu bukti nyata adalah keberadaan Koperasi Wanita (Kopwan) terbesar ada di Surabaya yang anggotanya mencapai lebih dari 4000 orang. Angka tersebut belum ditambah jumlah ratusan koperasi lain yang saat ini eksis di Surabaya. Secara detail perkembangan jumlah koperasi yang ada di Surabaya pada periode 2006 2008 tersaji dalam Gambar 2.21. Pertumbuhan jumlah koperasi di Surabaya tak lepas dari intervensi pemerintahan, baik Kementrian Koperasi dan UKMK maupun Dinas Koperasi di tingkat Daerah. Bentuk intervensi yang dilakukan diantaranya melalui: penyelenggaraan diklat perkoperasian bagi pengurus; pendampingan RAT; Bantuan modal bergulir; bantuan pemasaran; dan pendampingan usaha. Diharapkan pada tahun-tahun berikutnya, perhatian pemerintah terhadap pembinaan koperasi tetap serius seperti tahun-tahun lalu, karena terbukti bahwa tanpa intervensi pemerintah koperasi dan UKM tidak akan mampu menjadi besar. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat inilah yang dperlukan untuk memperkuat ekonomi rakyat. k.2. Usaha Kecil dan Menengah Kondisi mikro ekonomi adalah hal-hal yang berkaitan dengan sektor usaha informal, Usaha Kecil Menengah, dan Koperasi. Ketiga sektor tersebut merupakan pilar ekonomi kerakyatan. Kebutuhan akan eksistensi sektor informal semakin tinggi, karena terbatasnya jumlah pekerjaan dalam sektor formal dibandingkan dengan jumlah perkembangan penduduk usia kerja di kota Surabaya.

II - 94

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Gambar 2.22 Jumlah UKM Berdasarkan Ijin di Surabaya Tahun 2006-2009

Selama 2006 - 2009 kondisi UKM berdasarkan ijin menunjukkan bahwa sektor ini mengalami pertumbuhan, seperti tersaji dalam Gambar 2.22. Hal tersebut tentu saja merupakan capaian yang menggembirakan, karena kedepan UKM inilah yang diharapkan menjadi penopang ekonomi di kawasan-kawasan sub urban Surabaya. k.3. Penataan Pedagang Kaki Lima Pedagang Kaki Lima adalah sektor informal yang jumlah eksistingnya paling banyak apabila dibandingkan dengan sektor informal lain. Keberadaan PKL di Surabaya tersebar hampir di seluruh titik kota, dengan konsentrasi terpadat ada di daerah Surabaya Pusat. Para PKL tersebut utamanya adalah penjual makanan dan minuman (78,1 persen). Penjual ma-min (makanan dan minuman) ini tentu akan mencari daerah-daerah yang dekat dengan pusat keramaian. Dan, Surabaya Pusat sebagai sentral dari
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 95

kegiatan perekonomian dan pusat pemerintahan, sehingga konsentrasi pedagang kaki lima di Surabaya Pusat tentu tak terelakkan lagi. Berikut data jumlah PKL berdasarkan wilayah administratifnya: Tabel 2.30 Jumlah PKL Berdasarkan Wilayah Administratif
Wilayah Administratif Surabaya Pusat Surabaya Timur Surabaya Barat Surabaya Utara Surabaya Selatan Jumlah PKL 5.779 3.986 1.498 2.834 4.776

Berdasarkan hasil riset, diketahui beberapa alasan seseorang memilih untuk menjadi pedagang kaki lima, namun tiga alasan terbanyak yang dikemukakan adalah sulitnya mendapatkan pekerjaan di sektor formal (33,1 persen), tidak mepunyai keahlian lain (22,3 persen), dan keinginan untuk berwiraswasta (17 persen). Dari motif-motif tersebut, tampak bahwa

permasalahan yang sebenarnya adalah terbatasnya lowongan pekerjaan di sektor formal, kemudian yang kedua adalah sumber daya manusia yang tidak memiliki kompetensi untuk mengisi ruang-ruang di sektor formal. Dengan kondisi tersebut tentunya peran pemerintah dalam memberikan ruang berusaha sangat di perlukan khususnya pada pola pengembangan sektor informal seperti pembangunan sentra PKL, sentra UKM, ataupun pengembangan industri kreatif. PKL yang dari tahun ke tahun jumlahnya meningkat menjadi sebuah permasalahan kota, baik dari sisi keamanan, kenyamana, dan keindahan. PKL menemati area-area public, sehingga kebersihan area tersebut menjadi crowded dan

II - 96

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

kotor, belum lagi fasilitas umum yang mereka gunakan untuk menggelar dagangannya, seperti trotoar, jalan, atau saluran. PKL pun seolah-olah oleh sebagian masyarakat mengganggu kenyamanan namun sebagian masyarakat beranggapan keberadaan mereka juga menguntungkan untuk mendapatkan makanan dan minuman yang murah dan cepat. Guna mengatasi hal tersebut, maka Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan satu bentuk perencanaan pengelolaan sentra PKL. Sentra-sentra tersebut akan dibangun di beberapa titik yang menjadi titik konsentrasi PKL. Sentra yang dibangun tentu saja telah memenuhi standar kelayakan baik dari sisi kebersihan maupun keindahan dan kenyamanan. Sentra tersebut diprioritaskan bagi PKL yang ada disekitar lokasi sentra. Melalui manajemen pemgelolaan sentra yang baik, diharapkan sentra-sentra PKL akan berkembang menjadi potensi wisata tersendiri. Beberapa sentra PKL yang telah terbentuk adalah Urip Sumoharjo, Terminal Manukan, Bungkul, Rungkut Asri, Dharmawangsa, Penjaringan, Sukomanunggal, Karah, Taman

Prestasi, Ketabang, Wiyung, Gayungan, Putroagung dan Indrapura. Pemerintah kota Surabaya juga telah memberikan pembinaan pada PKL melalui pelatihan manajemen usaha, sosialisasi tentang pentingnya kesehatan produk, masalah perijinan, pemberian modal bergulir, pengelolaan limbah, dan bantuan peralatan ringan. l. Penanaman Modal dan Investasi Nilai investasi yang mengalir ke Kota Surabaya pada empat periode terakhir telah berjasa dalam meningkatkan perekonomian Kota Surabaya. Perkembangan investasi dikota Surabaya secara akumulatif sejak tahun 2006 hingga tahun 2010 dilihat dari angka persetujuan Penanaman Modal Asing
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 97

(PMA) menunjukkan angka 264 (2006), 286 (2007), 323 (2008), 364 (2009) dan 437 (2010). Sementara, perkembangan PMDN pada 2006 sampai 2010 di Kota Surabaya menunjukkan angka persetujuan 353 (2006), 359 (2007), dan 367 (2008) , 375 (2009) dan 385 (2010). Selama 5 tahun terakhir tercatat angka persetujuan PMA 173 dan PMDN 32. Berikut rekapitulasi perkembangan PMDN dan PMA di Surabaya yang tersaji pada tabel 2.31 dibawah ini. Tabel 2.31 Akumulasi Perkembangan Angka Persetujuan Investasi PMDN dan PMA di Kota Surabaya Tahun PMA PMDN 2006 264 353 2007 286 359 2008 323 367 2009 364 375 2010 437 385

Sumber : Badan koordinasi pelayanan dan Penanaman Modal Tabel 2.32 Nilai Investasi di Kota Surabaya Tahun 2005-2008 Tahun 2005 2006 2007 2008 Total Rata-Rata Nilai Investasi PMDN (Juta Rp) 366.456.835 941.386.000 275.075.540 682.144.172 2.265.062.547 566.265.637 PMA (US$) 157.611.742 234.087.111 397.436.992 558.827.182 1.347.963.027 336.990.757

Sumber, BPS, Jawa Timur dalam Angka, 2010 Pada tahun 2010 tercatat penambahan angka persetujuan penanaman modal sebanyak 73 PMA dengan nilai

II - 98

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Rp. 298.301.583.900 dan $93.516.647 dan 10 PMDN dengan nilai investasi Rp 1.796.505.846.000. Dan total penambahan angka persetujuan PMA dan PMDN pada tahun 2010 sebanyak 83 perusahaan atau meningkat sebesar 11,23% dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebesar 5%. Sedangkan jika dilihat dari besaran nilai investasi yang telah terjadi di Kota Surabaya selama tahun 2005-2008. Investasi PMDN mengalami fluktuatif, sedangkan untuk PMA cenderung meningkat setiap tahunnya. Mesipun demikian secara nilai nominalnya, investasi PMDN masih lebih besar dibandingkan dengan PMA. Ini berarti bahwa baik investor lokal maupun investor asing masing percaya bahwa Surabaya masih merupakan alternatif wilayah terbaik untuk melakukan investasi dan pengembangan usaha. Secara lengkap besarnya investasi tahun 2005-2008 dapat dilihat pada tabel 2.32. Perkembangan investasi sebagaimana digambarkan diatas, setidaknya harus tetap menjadi perhatian bagi semua pihak dalam hal kelengkapan infrastruktur yang memadai, kesiapan SDM yang berkualitas, pemberian layanan perijinan yang prima serta jaminan stabilitas keamanan yang mantap serta peraturan daerah berikut aturan pendukungnya termasuk dalam pengimplementasiannya, sudah tidak dapat ditawar tawar lagi dalam mendorong pertumbuhan investasi di Kota Surabaya. m. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Meningkatnya ketertiban dan ketentraman masyarakat dapat dilihat dari persentase penertiban terhadap pelanggaran Perda. Pada tahun 2006, jumlah pelanggaran Perda yang terjadi di Kota Surabaya sebanyak 61.720 obyek, kemudian pada tahun 2007 terdapat pelanggaran Perda sebanyak 59.907 obyek, pada tahun 2008 terdapat pelanggaran Perda sebanyak 62.439 obyek, pada tahun 2009 terdapat pelanggaran Perda
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 99

sebanyak 61.714 obyek dan sampai dengan akhir tahun 2010 terdapat pelanggaran Perda sebanyak 68.647 obyek. Dari seluruh obyek tersebut, pada tahun 2006 pelanggaran Perda yang berhasil ditindaklanjuti adalah sebanyak 43.574 obyek. Pada tahun 2007 pelanggaran Perda yang berhasil ditindaklanjuti adalah sebanyak 44.652 obyek, pada tahun 2008 pelanggaran Perda yang berhasil ditindaklanjuti adalah sebanyak 54.440 penindakan, pada tahun 2009 pelanggaran Perda yang berhasil ditindaklanjuti adalah sebanyak 62.685 penindakan dan pada tahun 2010 pelanggaran Perda yang berhasil ditindaklanjuti adalah sebanyak 63.114 obyek. n. Pemerintahan Umum 1. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Kinerja Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Kinerja dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas dari instansi pemerintah kota serta mendorong terwujudnya praktik kepemerintahan yang baik dan bersih. Hal tersebut dapat dilihat dari pelanggaran disiplin aparatur Pemerintah Kota Surabaya, dimana selama tahun 2006- 2010 pelanggaran hukum dan disiplin aparatur terus menurun mulai dari 382 pelanggaran hukum dan disiplin aparatur menurun sampai 108 pelanggaran hukum dan disiplin aparatur. Penurunan pelanggaran hukum dan disiplin aparatur Pemerintah Kota Surabaya tersebut menunjukkan semakin efektifnya pelaksanaan peningkatan pengawasan dan akuntabilitas kinerja pemerintah Kota Surabaya.

II - 100

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Gambar 2. 23 Jumlah Sanksi Pelanggaran Hukum Dan Disiplin Aparatur Pemkot Surabaya

Sumber Data: Inspektorat Kota Surabaya, Tahun 2010 2. Peningkatan Kinerja Legislatif Meningkatnya kinerja DPRD Kota Surabaya dapat terlihat dari Persentase rancangan produk hukum yang dapat diselesaikan menjadi produk hukum, jumlah publik hearing yang dilaksanakan dan persentase keluhan masyarakat yang ditindaklanjuti. Persentase rancangan produk hukum yang dapat diselesaikan menjadi produk hukum dapat menggambarkan tingkat produktivitas lembaga legislatif dan Pemerintah Kota dalam menghasilkan produk hukum berupa Peraturan Daerah. Dari tahun 2006 lembaga legislatif dan Pemerintah Kota dapat menyelesaikan 17 buah raperda dari 22 raperda yang diproses, pada tahun 2007 dapat menyelesaikan 7 buah raperda dari 15 raperda yang diproses, tahun 2008 dapat menyelesaikan 12 buah raperda dari 16 raperda yang diproses, tahun 2009 dapat menyelesaikan 14 buah raperda dari 19 raperda yang diproses, dan pada akhir tahun 2010
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 101

lembaga

legislatif

dan

Pemerintah

Kota

dapat

menyelesaikan 24 raperda dari 27 raperda yang diproses. 3 raperda yang belum dapat disahkan menjadi peraturan daerah yaitu Raperda tentang Pajak Daerah, Raperda tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan, Raperda tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk. Beberapa Raperda yang masuk belum seluruhnya dapat disahkan menjadi peraturan daerah disebabkan semakin komplek dan cepatnya perkembangan permasalahan yang ada di masyarakat. Upaya untuk menyelesaikan hambatan tersebut antara lain adalah mengefektifkan koordinasi, komunikasi dan sinkronisasi dalam menyikapi permasalahan yang ada di masyarakat dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi dan Instansi terkait. Tabel 2.33 Rekapitulasi Pemrosesan Raperda Menjadi Perda
Masuk Thn berja lan 2006 2007 2008 2009 2010 10 10 8 15 22 Sisa Thn Lalu 12 5 8 4 5 Jum lah 22 15 16 19 27 77,27% 84% 91,99% 46,67% 85% 54.91% 75% 86% 87,21% 73.68% 87% 84.69% 2006 Sele sai 17 Si sa 5 7 8 12 4 14 5 24 3 2007 Sel esai Si sa 2008 Sele sai Si sa Se le sai 2009 Si sa 2010 Se le sai Si sa 3

Persentase Penyelesaian Target RPJM Persentase Capaian

88,89% 88% 101%

Publik hearing dilaksanakan untuk menilai apakah suara masyarakat telah cukup diakomodasi dalam membuat suatu produk hukum/pengambilan keputusan.

II - 102

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Rata-rata penyelenggaraan publik hearing sampai dengan akhir tahun 2010 sebanyak 3 kali. Persentase keluhan ditindaklanjuti menggambarkan lembaga legislatif dalam masyarakat yang

tingkat responsifitas menanggapi dan

mengakomodasi keinginan/keluhan masyarakat. Jumlah keluhan masyarakat yang diterima sebanyak 185 keluhan pada tahun 2006, 320 keluhan pada tahun 2007, 207 keluhan pada tahun 2008 dan 135 keluhan pada tahun 2009 dan 152 keluhan pada tahun 2010, sehingga sampai dengan akhir tahun 2010 jumlah keluhan masyarakat yang diterima menjadi sebanyak 999 keluhan. Dari jumlah tersebut, pada tahun 2006 telah ditindaklanjuti sebanyak 125 keluhan, 252 keluhan pada tahun 2007, 164 keluhan pada tahun 2008 dan 68 keluhan pada tahun 2009, 125 keluhan pada tahun 2010. 3. Peningkatan Kualitas Pelayanan Perijinan Meningkatnya pelayanan perijinan dapat diindikasikan dari rata-rata tenggang waktu penyelesaian ijin dan jumlah kecamatan yang menerapkan pelayanan perijinan. Untuk menilai dan mengevaluasi sampai sejauh mana kecepatan birokrasi dalam melayani permohonan perijinan maka dapat dilihat dari rata-rata tenggang waktu penyelesaian ijin. Sampai dengan tahun 2009, rata-rata penyelesaian perijinan untuk beberapa jenis ijin/surat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah < 7 hari. Berkaitan dengan pelayanan perijinan,

Manajemen Sistem Pelayanan Perizinan Perdagangan dan Industri, dapat diinformasikan bahwa Pemerintah Kota Surabaya telah mendapatkan sertifikasi ISO
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 103

9001:2000 tahun 2003 atas pelayanan-pelayanan: Ijin Mendirikan Bangunan, Surat Ijin Usaha Perdagangan, Tanda Daftar Perdagangan, dan Uji Kir Kendaraan yang berlaku 3 tahun berlakunya. dan telah diperpanjang masa

Jumlah Kecamatan yang pelayanan perijinan. Pelayanan

menerapkan IMB telah

didesentralisasikan ke beberapa kecamatan. Hal ini dimaksudkan agar mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan mempercepat pelayanan akibat tidak terkonsentrasinya proses perijinan. Adapun perijinan yang diterapkan di Kecamatan adalah Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK) dan atau IMB untuk bangunan tempat tinggal satu lantai dengan luas tanah 200 m2, mulai pemberkasan sampai dengan penerbitan IMB. Sampai dengan akhir tahun 2009 semua kecamatan Kota Surabaya yaitu 31 kecamatan telah menerapkan pelayanan perijinan. Atas upaya-upaya yang telah dilakukan dalam bidang perijinan, maka Pemerintah Kota Surabaya berhasil mendapatkan penghargaan JPIP Otonomi Award Regional in Leading Breakthrouht on Publik Service di berikan oleh The Jawa Pos Institue of Pro-Otonomi (JPIP) pada tahun 2009. 4. Pendayagunaan Sumber Daya Aparatur Pendayagunaan sumber daya aparatur dilakukan untuk meningkatkan kapabilitas aparatur Pemerintah Kota untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sebaik-baiknya. Peningkatan kapasitas dan kompetensi tersebut dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui Pendidikan dan Pelatihan bagi Aparatur. Jenis Diklat bagi aparatur yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Surabaya

II - 104

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

terhadap Aparatur adalah Diklat Teknis, Diklat Struktural, dan Diklat Fungsional. Pegawai yang mengikuti Diklat sebanyak 1.939 pegawai pada tahun 2006, 1.564 pegawai pada tahun 2007, 2.333 pegawai pada tahun 2008, 5.219 pegawai pada tahun 2009,dan 2.971 pegawai pada tahun 2010. Sehingga pada akhir tahun 2010, jumlah pegawai yang mengikuti diklat menjadi sebanyak 14.026 pegawai. Diklat tersebut terbagi menjadi Diklat teknis yang diikuti oleh 12.411 pegawai serta Diklat struktural yang diikuti oleh 1.503 pegawai serta diklat fungsional bagi PNS 112 pegawai. Peserta diklat yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan diklat yang diikuti sebanyak 1.939 pegawai (80%) pada tahun 2006, 1.380 pegawai (88,24%) pada tahun 2007, 1.947 pegawai (83,45%) pada tahun 2008 dan 4.869 pegawai (93,29%) pada tahun 2009, dan 2719 pegawai tahun 2010 (91,52%).Sehingga sampai dengan akhir tahun 2010 peserta diklat yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan diklat yang diikuti menjadi sebanyak 12.854 (91,64%). Apabila dibandingkan dengan target yang sudah ditetapkan maka capaiannya adalah 100% pada tahun 2006, 110,30% pada tahun 2007, 104,31% pada tahun 2008, 116,61% pada tahun 2009 dan 114,40% pada tahun 2010. Upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja adalah memberi kesempatan kepada aparatur yang memiliki kualitas dan kompetensi tertentu untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Struktural dan Teknis, melaksanakan penyusunan formasi secara cermat terhadap kebutuhan personil organisasi berdasarkan kualifikasi, kualitas maupun kuantitasnya, melaksanakan pembinaan pegawai, melaksanakan
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 105

pelayanan

administrasi

kepegawaian

yang

prima,

melaksanakan upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai, serta melaksanakan mutasi pegawai, promosi dan rotasi. 5. Kearsipan Urusan kearsipan dilakukan melalui Program penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan dengan sasaran meningkatnya tertib administrasi pemerintahan. Capaian sasaran program ini diukur melalui indikator Persentase SKPD/unit kerja yang melaksanakan tertib administrasi. Menurut UU No. 43 Tahun 2009 menyatakan bahwa Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang di buat dan diterima oleh lembaga Negara, Pemerintah Daerah, Lembaga Pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbaikan Sistem bermasyarakat, Kearsipan

Administrasi

bertujuan untuk menyelamatkan, melestarikan dan memperbaiki sistem administrasi kearsipan dengan meningkatkan kapasitas penyimpanan arsip daerah. Kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Kota dalam upaya melestarikan kearsipan adalah penataan dan pendataan sistem kearsipan daerah, Pengadaan sarana prasarana sistem penyimpanan, pengolahan, pemeliharaan dan penyelamatan sistem kearsipan daerah serta pembinaan sistem kearsipan. Dari seluruh SKPD yang ada, pada tahun 2006 sebanyak 31 SKPD telah melaksanakan tertib

II - 106

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

administrasi, 9 SKPD pada tahun 2007,10 SKPD pada tahun 2008, 18 SKPD pada tahun 2009 dan 3 SKPD pada tahun 2010 sehingga sampai dengan akhir tahun 2010 SKPD yang telah melaksanakan tertib administrasi sebanyak 71 SKPD. Maka terjadi peningkatan jumlah SKPD yang telah melaksanakan tertib administrasi sebanyak 44,29% pada tahun 2006, 57,14% pada tahun 2007, 71,42% pada tahun 2008, 95,77% pada tahun 2009 dan 100% pada tahun 2010. Atas upaya-upaya yang telah dilakukan dalam meningkatkan kualitas kearsipan, Pemerintah Kota Surabaya berhasil mendapatkan penghargaan penyelenggaraan dan pembinaan sistem kearsipan sehingga terwujud peningkatan mutu penyelenggaraan kearsipan pemerintah daerah Kota Surabaya dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada tahun 2008.
II.3.2. FOKUS URUSAN PILIHAN

a. Perdagangan Kegiatan perdagangan dalam Kota Surabaya terus menunjukkan perkembangan ditunjukkan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang memiliki kontribusi besar pada PDRB dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Subsektor perdagangan dalam Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh diatas 9% setiap tahun sejak tahun 2005 dengan peranan dalam Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 62,91% tahun 2005 menjadi 64,97% tahun 2008 menunjukkan aktivitas perdagangan sangat besar di Kota Surabaya. Nilai tambah sub sektor perdagangan yang semakin besar menunjukkan aktivitas produksi di bidang perdagangan meningkat.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 107

Tabel 2.34 Ekspor Impor Non Migas Kota Surabaya Tahun 2005-2009
TAHUN NILAI (US$) TINGKAT PERUBAHAN (persen) Volume (Kg) TINGKAT PERUBAHAN (persen) NILAI (US$) TINGKAT PERUBAHAN (persen) Volume (Kg) TINGKAT PERUBAHAN (persen) Sumber : Bank Indonesia, Surabaya 2005 7.044.400.900 46,08 2006 8.944.983.885 26,98 2007 11.476.675.627 28,3 2008 11.403.436.885 -0,64 2009 10.595.003.087 -7,09

EKSPOR

5.794.278.265 11,54

6.981.942.708 20,5

7.815.033.190 11,93

7.152.617.178 -8,48

7.094.070.094 -0,82

5.490.991.377 17,61

5.583.966.005 1,69

7.606.630.962 36,22

11.261.739.913 48,05

8.806.632.932 -21,80

IMPOR

11.574.632.864 25,18

11.018.958.649 -4,8

12.933.365.479 17,37

14.451.552.160 11,74

12.508.082.078 -13,45

Perdagangan luar negeri, realisasi nilai ekspor-impor Kota Surabaya masih pada kondisi yang fluktuatif selama periode 2005-2008. Dilihat dari sisi nilai maupun volume ekspor belum menunjukkan kondisi yang optimal dan cenderung menurun pada dua tahun terakhir. Nilai ekspor Surabaya pada tahun 2005 mencapai US$ 7,044 millyar atau mengalami kenaikan cukup tinggi sebesar 48,08% dibandingkan tahun 2004. Tahun 2006 nilai ekspor mengalami kenaikan sebesar 26,96% dibandingkan tahun 2005. Tahun 2007 meningkat lebih tinggi dibandingkan kenaikan pada tahun 2006 yaitu sebesar 28,30%. Tetapi tahun 2008 tingkat kenaikan ekspor justru turun drastis dibandingkan tahun 2007 yaitu sebesar -0,64% dan lebih rendah lagi sebesar -7,09% pada tahun 2009. Selama lima tahun terakhir rata-rata nilai ekspor Surabaya sebesar US$ 9,892 milyar dengan volume ekspor sebesar 6.967.588.287 kg. Turunnya nilai maupun volume ekspor dimungkinkan karena krisis ekonomi global yang melanda dunia pada tahun 2008 sampai dengan awal tahun 2009. Sedangkan pada posisi impor Kota Surabaya, justru nilai maupun impor meningkat dari tahun 2006-2008 dan turun pada tahun 2009. Secara rata-rata selama lima tahun terakhir nilai impor Kota Surabaya sebesar US$ 7.749 milyar dengan volume impor sebesar 12.495.377.380,95 kg. Demikian halnya nilai ekspor selama tahun 2005-2007 meningkat, namun tahun 2008 dan 2009 cenderung menurun, namun tetap terjadi ekspor netto sebesar US$ 1,803 milyar walaupun dari sisi volume justru minus sebesar 12,712 milyar kg.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 109

b. Pariwisata Surabaya merupakan kota muliti etnis yang kaya akan budaya, beragam etnis telah bermigrasi ke Surabaya. Oleh karena itu sebagai kota yang telah cukup lama berdiri dengan ragam sejarah dan budaya, tentunya terdapat banyak potensi pariwisata di Kota Surabaya yang dapat dinikmati oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Tempat - tempat yang sangat berpotensi yang dapat dijadikan sebagai tempat wisata, mulai dari obyekobyek wisata bersejarah, sampai dengan pada obyekobyek wisata yang sebenarnya memiliki potensi kuat untuk dikunjungi sebagai tempat wisata. Selain itu munculnya berbagai macam mall dan fasilitas hiburan belanja yang beragam, dapat menambah daya tarik terbesar bagi Surabaya untuk berubah menjadi kota tujuan wisata dan hal ini seiring dengan perkembangan surabaya sebagai kota perdagangan dan jasa. Semakin berkembangnya sektor pariwisata di kota Surabaya berdampak pada meningkatnya kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara ke kota ini. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.35 Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Nusantara ke Kota Surabaya Tahun 2006 2010
TAHUN NO. 1. Wisatawan 2006 Wisatawan Domestik Wisatawan Mancanegara 1.988.423 2007 2.194.867 2008 7.017.011 2009 7.230.202 2010 7.544.997

2.

19.599

152.818

137.274

154.866

168.804

II - 110

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

c. Pertanian Peran sektor pertanian dalam struktur ekonomi kota surabaya relatif kecil dan cenderung menurun, yaitu sebesar 0.13 persen pada Tahun 2006 dan cenderung menurun pada tahun berikutnya, yaitu 0.11 persen pada Tahun 2007 dan 0.10 persen pada Tahun 2008. Ditinjau dari kontribusi terhadap Ruang Terbuka Hijau (RTH), lahan pertanian merupakan sektor terbesar kedua yang memberikan sumbangan terhadap Ruang Terbuka Hijau (RTH) setelah lahan kosong, serta memiliki nilai tertinggi dalam hal tingkat produktivitas dibandingkan dengan kategori dalam RTH lainnya. Dengan demikian, selain untuk kepentingan estetika dan perbaikan kualitas lingkungan, pengembangan RTH di masa mendatang dapat diarahkan untuk peningkatan produktivitas dalam rangka peningkatan kontribusinya pada sektor ekonomi daerah. Salah satu langkah meningkatkan ketahanan pangan lokal, pemerintah daerah mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming). Untuk beberapa tahun ke depan, program ini belum bisa diharapkan dalam meningkatkan sumbangan sektor pertanian terhadap ekonomi daerah karena membutuhkan waktu pengembangan dan pemantapan program. Namun, target jangka pendek program ini adalah untuk menekan social cost untuk kalangan masyarakat miskin sehingga diharapkan meningkatkan kesejahteraan mereka. mampu

Adapun sub sektor pertanian yang dikembangkan dalam urusan pilihan pertanian adalah pertanian tanaman pangan dan peternakan.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 111

c.1. Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan Produksi terbesar hasil pertanian Kota Surabaya adalah Tanaman pangan yaitu padi sedangkan produksi lainnya adalah jagung, kacang-kacangan, ubi kayu, sayurmayur dan buah-buahan. Untuk Kota Surabaya, kawasan pertanian umumnya tersebar di daerah pinggiran yaitu Kecamatan Jambangan, Wiyung, Gunung Anyar, Benowo, Sukolilo, Lakarsantri, Karangpilang, Sambikerep dan Pakal serta sebagian kecil di Kecamatan Wonocolo, Mulyorejo,Kenjeran, Tandes, Rungkut dan Sukomanunggal. Produktivitas padi terus mengalami peningkatan pada tahun 2006 2010. Dengan pola tanam yang bervariasi 1-3 kali dalam setahun, pada tahun 2006 produktivitas padi mencapai 51,18 Kw/Ha, tahun 2007 produktivitas padi 54,34 Kw/Ha, tahun 2008 produktivitas padi 54,52 Kw/Ha, tahun 2009 produktivitas padi 54,55 Kw/Ha, serta pada tahun 2010 produktivitas padi mencapai 56,51 Kw/Ha. Hal ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, produktivitas hasil pertanian (padi) terus mengalami peningkatan. c.2. Sub Sektor Peternakan Peternakan, sebagai bagian dari usaha pertanian masyarakat, masih diusahakan di sebagian wilayah kota, terutama di wilayah yang masih memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Peternakan yang ada merupakan peternakan tradisional yang diusahakan dalam skala kecil oleh kelompok masyarakat petani. Hewan ternak yang diawasi dan masih dikembangbiakkan di kota Surabaya adalah sapi potong, sapi perah, kambing, domba, ayam kampung, ayam dan itik dan babi. Perkembangbiakan hewan ternak berada di beberapa wilayah di Surabaya

II - 112

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

seperti Gayungan, Tandes, Pakal, Mulyorejo, Jambangan, Karangpilang, Sambikerep, Gununganyar dan Kenjeran. Tabel 2.36 Populasi Ternak dan Unggas Menurut Jenisnya di Kota SurabayaTahun 2005-2009
Jenis Ternak Sapi Sapi Perah Kerbau Kuda Kambing Domba Itik Ayam Populasi (ekor) 2005 222 780 32 24 2,845 400 1,076 17,034 2006 409 696 42 28 5,383 950 7,666 83,720 2007 448 759 20 16 6,041 652 7,361 84,260 2008 112 751 0 0 3,216 587 4,548 45,178 2009 340 799 32 0 6,605 487 3,678 27,989

Lakarsantri,

Benowo,

Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya, 2009 Produksi peternakan baik berupa daging, telur dan susu yang beredar dan dikonsumsi masyarakat Surabaya sebagian besar berasal dari luar Surabaya, termasuk impor dari luar negeri. Untuk melindungi masyarakat terhadap potensi adanya penyakit, hasil peternakan yang masuk ke Surabaya berupa daging hasil sembelihan maupun ternak hidup yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan maupun Tempat Pemotongan Unggas terus diawasi oleh pemerintah. Berikut kondisi realisasi jumlah produk peternakan yang diawasi di kota Surabaya tahun 2006-2010. Berikut kondisi realisasi jumlah produk peternakan yang diawasi di kota Surabaya tahun 2007-2010.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 113

Tabel 2.37 Realisasi Jumlah Produk Peternakan yang Diawasi Tahun 2007-2010
JENIS DAGING Sapi / Kerbau Kambing/Domba Babi Unggas Daging Import Potongan Luar RPH Potongan Idul Qurban Daging dari luar Kota JUMLAH Thn 2007 (Ton) 16.572,19 564,1 2.217,88 28.457,52 3.490,60 898 604,39 955,22 53.759,90 Thn 2008 (Ton) 15.095,80 354,4 2.392,50 38.783,20 658,9 395,7 330,9 58.011,40 Thn 2009 (Ton) 13.527,30 254,20 2.081,80 43.104,60 1.047,50 396,20 1.133,70 61.545,30 Thn 2010 (Ton) 14.991,80 269,40 2.164,60 48.799,00 927,50 454,80 1.345,90 68.953,00

Sumber : Dinas pertanian, 2010 d. Kelautan dan Perikanan Kota Surabaya yang secara geografis dikelilingi oleh laut membuat sebagian warga kota bermata pencaharian dari sektor perikanan dan kelautan. Daerah-daerah yang perekonomiannya bergantung dari hasil laut adalah Gunung Anyar, Rungkut, Mulyorejo, Bulak, Asemrowom, Benowo, Krembangan, Kenjeran, dan Sukolilo. Adapun hasil produksi ikan laut tersebut tampak pada tabel berikut:

II - 114

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Tabel 2.38 Produksi Ikan Laut Menurut Daerah Asal Tahun 2006 2009 2006 Kecamatan persen 2007 persen 0,23 4,99 6,45 55,88 6,26 10,04 5,78 10,48 269,55 247,82 458,64 1.893,82 2.470,98 391,65 239,63 2.561,17 330,34 8.863,60 2008 Persen 3,16 2,90 5,37 22,19 28,96 4,59 2,81 30,01 3,87 283,03 260,22 481,58 1.988,56 2.594,59 411,24 251,62 2.689,39 346,87 9.307,01 2009 persen 3,04 2,80 5,17 21,37 27,88 4,42 2,70 28,90 3,73

Gn. Anyar 270,51 2,86 19,62 Rungkut 405,76 4,29 416,33 Mulyorejo 434,14 4,59 550,28 Bulak 4.653,50 49,20 4.767,35 Asemrowo 1.823,57 19,28 534,07 Benowo 787,88 8,33 856,55 Krembangan 461,57 4,88 493,12 Kenjeran 621,40 6,57 894,09 Sukolilo Jumlah 9.458,33 8.531,41 Sumber : Dinas Pertanian Kota Surabaya

Daerah Bulak sebagai daerah terbesar hasil produksi lautnya, memiliki jumlah nelayan yang paling banyak pula yaitu 647 orang, diikuti oleh kecamatan Asemrowo sebanyak 527 orang, dan Kenjeran 228 orang. Sebagian besar nelayan menamatkan pendidikan hanya pada tingkat Sekolah Dasar. Dengan jumlah produksi sebanyak 4 kali panen selama setahun, pada tahun 2006 dengan luas areal budidaya tambak 2.127,35 Ha produktivitas hasil perikanan budidaya udang mencapai 773 kg/ha dan di tahun 2007 dengan areal 1.125,35 Ha mencapai 795,30 kg/Ha. Pada luas areal budidaya yang sama yaitu sebesar 1.036,08 Ha, di tahun 2008 produktivitas budidaya udang mencapai 814,72 kg/Ha, tahun 2009 mencapai 877,75 kg/Ha, serta pada tahun 2010 mencapai 864 kg/Ha. II.4. DAYA SAING KOTA SURABAYA
II.4.1. FOKUS KEMAMPUAN EKONOMI DAERAH

Daya Saing Kota Surabaya merupakan kemampuan perekonomian Kota Surabaya dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan provinsi Jawa Timur khususnya dan Kabupaten/kota disekitar Kota Surabaya, Nasional ataupun Internasional. Surabaya yang tumbuh dan berkembang dengan kekuatan ekonomi dan segala aktivitas ekonomi yang ada, merupakan salah satu penggerak utama ekonomi Jawa Timur. Hal ini tercermin dari output Surabaya yang memberikan kontribusi paling besar dibanding kabupaten kota yang lain di Jawa Timur, mencapai 22,54% terhadap perekonomian Jawa Timur (diukur dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHB Surabaya tahun 2009). Letak Kota Surabaya yang cukup strategis untuk

perdagangan, ekspor dan impor dan sosial masyarakat relatif kondusif, menghasilkan iklim perekonomian yang cukup stabil dan
II - 116 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

bergairah, seolah kota tIdak merasa krisis global yang terjadi tahun akhir 2009, bahkan tidak sedikit mall-mall baru untuk menjawab ramainya perdagangan di kota pahlawan ini. Budaya belanja (shopping) dan budaya hidup praktis sangat menyuburkan sektor perdagangan. Ini juga menunjukkan daya beli masyarakat relatif stabil. Ekonomi Surabaya berkembang ke arah ekonomi yang digerakkan oleh sektor perdagangan dan jasa, sebagaimana terjadi pada kota-kota lain di dunia. Potensi besar Kota Surabaya tersebut dapat terlihat dari semakin dominannya kontribusi sektor perdagangan dan jasa dalam PDRB. Peningkatan sektor perdagangan dan jasa tentunya menimbulkan dampak multiplier effect pada lainnya seperti sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang selama ini sebagai supporting pada sektor perdagangan dan jasa. Daya saing ekonomi kota Surabaya dilihat dari daya beli masyarakat nya, relatif paling tinggi di bandingkan kota atau kabupaten yang ada di Jawa Timur, hal ini dapat di lihat dari data SUSENAS yang di terbitkan oleh BPS, pada tahun 2009, persentase penduduk surabaya yang berpengeluaran di atas Rp 500.000,- per bulan perkapita sebanyak 46,36 persen, sedangkan dibanding seluruh penduduk Jawa Timur, hanya sebanyak 16,74% penduduk saja yang berpengeluaran di atas Rp 500.000,per bulan perkapita. Demikian juga dari sisi angka pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita, rata-rata pengeluran penduduk Surabayasebesar Rp 640.224,- perkapita per bulan. dengan komposisi 55,96 % untuk konsumsi non makanan dan 44,04 % untuk konsumsi makanan. Artinya dengan komposisi tersebut menunjukkan kemampuan daya beli masyarakat kota Surabayarelatif cukup tinggi tercemin sebagian besar pengeluaran rumah tangga penduduk Surabayadi gunakan untuk memenuhi kebutuhan non pangan.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 117

II.4.2 FOKUS FASILITAS WILAYAH / INFRASTRUKTUR

Pembangunan Infrastruktur akan meningkatkan mobilitas manusia dan barang antar daerah dan antar kabupaten/kota, yang meliputi fasilitas transportasi (jalan, jembatan, pelabuhan), fasilitas kelistrikan, fasilitas komunikasi, fasilitas pendidikan dan fasilitas air bersih. Tersedianya infrastruktur yang memadai merupakan nilai tambah bagi perwujudan pembangunan suatu kota. a. Aksesbilitas Daerah Surabaya selain sebagai sebuah kota pemerintahan yang berdiri sendiri sebagai kota juga sebagai ibukota propinsi, sehingga dengan posisi seperti ini Surabaya sangat diuntungkan dengan adanya infrastruktur penunjang ekonomi seperti seperti Terminal Purabaya, Pelabuhan Tanjung Perak, Bandara Internasional Juanda dan Stasiun Kereta Api Gubeng, yang mempunyai peran cukup strategis dan diperhitungkan dalam menentukan arah kebijakan pembangunan ekonomi Propinsi Jawa Timur dan juga alur distribusi perdagangan wilayah Indonesia khususnya Indonesia Timur. Beberapa aspek daya saing dalam bidang aksebilitas daerah kota surabaya adalah sebagai berikut : Tabel 2.39 Volume Bongkar/muat Antar Pulau dan Luar Negeri di Pelabuhan Tanjung Perak Bongkar muat Barang Tahun Bongkar 2004 2005 2006 2007 2008 15.038.957 6.948.637 16.852.207 18.502.143 21.399.074 Muat 10.182.759 6.874.140 14.397.846 14.648.097 16.076.786 Bongkar muat Peti Kemas Jumlah peti kemas 1.089.660 1.042.175 1.238.350 1.363.480 1.441.235 Tonase 16.165.856 13.642.506 18.117.318 20.255.331 22.093.689

Sumber : BPS Kota Surabaya Surabaya Dalam Angka 2010


II - 118 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

Tabel 2.40 Arus lalu lintas penumpang domestik dan Internasional Pelabuhan Udara Juanda
Penumpang Tahun Tiba 2004 2005 2006 2007 2008 2009 4.316.495 3.858.973 4.166.300 4.387.601 4.310.587 5.226.775 Berangkat 3.767.985 3.621.487 3.923.156 4.029.689 3.999.303 4.808.684 Tiba 28.281.801 35.658.621 36.286.913 40.809.108 39.719.201 42.182.651 Berangkat 26.035.562 35.040.976 35.583.885 37.884.394 34.302.157 35.041.756 Bongkar 23.970.355 39.339.609 27.642.604 26.641.659 27.016.562 30.688.767 Muat 22.710.786 38.115.922 29.983.292 30.827.477 30.548.062 34.581.499 Bagasi Banyaknya Cargo

Sumber : BPS Kota Surabaya Surabaya Dalam Angka 2010

b. Penataan wilayah Sebagaimana renacana Tata Ruang wilayah kota surabaya, Kota surabaya sebagai kota jasa dan perdagangan maka penataan kawasan perdagangan dan jasa dalam penataan dan pemanfaatan ruang wilayah Kota Surabaya dikembangkan dalam skala pelayanan sebagai berikut : Internasional dan nasional dilakukan secara terintegrasi melalui pengembangan kawasan Segiempat Emas Surabaya yang meliputi : Unit Pengembangan VI Tunjungan yaitu di kawasan Basuki Rahmat, Embong Malang, Blauran, Praban, Bubutan, Pahlawan, Pasar Turi, Kapas Krampung, Tunjungan dan di wilayah Unit Pengembangan V Tanjung Perak yaitu di kawasan Jalan Perak Barat dan Timur, Jalan Jembatan Merah dan Jalan Kembang Jepun. Regional dan kota meliputi pusat pengembangan di Unit Pengembangan XI Tambak Oso Wilangun, Unit Pengembangan VIII Satelit, dan Unit Pengembangan II Kertajaya.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 119

Unit pengembangan dan lingkungan tersebar pada setiap pusat Unit Pengembangan dan pusat lingkungan perumahan. Sementara Kawasan Budidaya Kota Surabaya yang merupakan wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan Kota Surabaya, sebagaimana ditetapkan dalam Review RTRW adalah dengan meningkatkan kawasan perumahan; kawasan perdagangan dan jasa; kawasan perkantoran;kawasan industri;kawasan pariwisata;kawasan ruang terbuka non hijau;kawasan ruang evakuasi bencana;kawasan peruntukan ruang bagi kegiatan sektor informal dan kawasan peruntukan lainnya; dan Kawasan budidaya wilayah laut. Kawasan perumahan dilakukan dengan mengembangkan dan menata kepadatan perumahan secara proporsional dalam memenuhi kebutuhan vertikal seluruh masyarakat sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan kawasan perumahan, perluasan penyediaan perumahan vertikal, serta pengembangan kawasan siap bangun/lingkungan siap bangun. Dikembangkan pula kawasan perumahan baru yang terintegrasi dengan kawasan sekitarnya. Kawasan perdagangan dan jasa dilakukan dengan mengembangkan dan merevitalisasi Pasar Tradisional, mengembangkan pusat perbelanjaan secara terintegrasi dalam skala UP, koridor dan kawasan;mengembangkan toko modern yang terbatas hanya pada minimarket dalam tingkat unit lingkungan yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan; mengembangkan pusat perdagangan dan jasa pada setiap Unit Pengembangan maupun Unit Distrik secara berhierarki; dan mengakomodasi penyediaan lahan bagi kegiatan sektor informal pada setiap kawasan perdagangan.

II - 120

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Kawasan

perkantoran

dilakukan

dengan

mempertahankan fungsi perkantoran yang telah ada. Selain itu dilakukan pula pemusatan layanan perkantoran pemerintah/pemerintah provinsi/pemerintah daerah secara berhirarki pada kawasan pelayanan publik dan pengembangan perkantoran swasta pada pusat-pusat pelayanan kota. Sementara Kawasan Industri yang merupakan salah satu potensi ekonomi Kota Surabaya selain perdagangan dan jasa, dikembangkan sebagai kawasan industri yang ramah lingkungan. Dikembangkan buffer zone yaitu zona pembatas atau penyangga kawasan yang berfungsi sebagai pembatas aktivitas industri, dapat berupa jalur hijau, danau pada kawasan industri besar dan menengah untuk upaya konservasi lingkungan. Peran industri kecil dan industri rumah tanggapun ditingkatkan sebagai sentra industri yang berbasis komunitas. Pariwisata Kota Surabaya terintegrasi dengan berbagai kawasan fungsional kota lainnya sehingga obyek wisata yang dikembangkan adalah obyek wisata tematik terintegrasi sebagai satu sistem kepariwisataan baik di dalam kota maupun sekitar wilayah kota. Sebagai kota perdagangan dan jasa maka disediakan area khusus untuk pameran produk wisata dan pembangunan serta gelar event wisata. Obyek wisata potensial yang juga akan dikembangkan adalah ODTW yang berbasis bahari. Kawasan ruang terbuka non hijau dikembangkan sebagai satu kesatuan sistem yang menghubungkan sistem jaringan dalam kawasan maupun antar kawasan budidaya dan mengembangkan estetika dan kenyamanan pada setiap kawasan ruang terbuka non hijau. Pemerintah Kota telah melakukan penghijauan kota dalam bentuk penanaman pohon secara mandiri dengan menggerakkan masyarakat bersama sama dalam kegiatan green and clean di permukiman penduduk, penetapan kawasan

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 121

lindung

berhutan

bakau,

pembangunan

hutan

kota,

mempertahankan dan merevitalisasi RTH berupa lapangan, waduk dan makam yang merupakan aset pemerintah Kota, merevitalisasi fungsi jalur-jalur hijau kota seperti sempadan sungai, sempadan rel KA, median-median jalan dan jalur hijau pedestrian kota serta mempertahankan adanya buffer-buffer sebagai sabuk hijau yang membatasi zona industri dengan penggunaan lain di sekitarnya. Luasan RTH yang telah direkapitulasi mencapai 20,18 persen dari luas total kota Surabaya yang meliputi RTH makam, RTH lapangan dan stadion, RTH telaga/waduk/boezem, RTH dari penyerahan fasum dan fasos, RTH kawasan lindung, RTH hutan kota, RTH taman dan jalur hijau. Penyediaan kawasan ruang evakuasi bencana dilakukan dengan menggunakan ruang terbuka hijau dan non hijau yang ada pada setiap lingkungan dan Kecamatan untuk menampung korban bencana; serta menggunakan ruang-ruang dan bangunan lainnya yang pengungsian sementara. dapat berubah menjadi tempat

Kawasan peruntukan ruang bagi kegiatan sektor informal terintegrasi antara ruang untuk kegiatan sektor informal dan sektor formal dalam satu kesatuan sistem. Diupayakan pula untuk mendukung penyediaan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung bagi kegiatan sektor informal. untuk Sedangkan kawasan peruntukan lainnya dimaksudkan mengembangkan kawasan pendidikan tinggi dan

mendistribusikan secara merata fasilitas pendidikan yang berhierarki mengembangkan fasilitas peribadatan untuk tiap Unit Pengembangan dan pemukiman baru,mengembangkan fasilitas kesehatan yang berhierarki serta peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan yang bertaraf internasional,membatasi perkembangan secara fisik pada sekitar kawasan militer dan depo Bahan Bakar

II - 122

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Minyak

dan

mengembangkan

kawasan

pelabuhan

yang

terintegrasi dengan kawasan sekitarnya. c. Ketersediaan air bersih Air Bersih merupakan kebutuhan pokok manusia. Air Bersih banyak dibutuhkan untuk keperluan sehari hari seperti minum, memasak, mandi dan sebagainya. Kebutuhan air bagi warga kota tidak dapat dipisahkan dari PDAM, Karena PDAM Surya Sembada Kota Surabaya merupakan usaha jasa milik pemerintah kota Surabaya yang bergerak dalam bidang penyediaan dan pendistribusian air bersih. Dengan demikian PDAM Surya Sembada Kota Surabaya bertanggungjawab terhadap pendistribusian air minum yang memenuhi standart kualitas baku mutu. Jumlah pelanggan PDAM Surya Sembada Kota Surabaya adalah 403.263 pelanggan pada tahun 2009 yang terdiri atas perumahan/rumah Tangga, pemerintah, perdagangan, industri, sosial dan pelabuhan. Dari total pelanggan PDAM sebesar 403.263 pelanggan, didominasi oleh pelanggan rumah tangga sebesar 367.456 pelanggan. Meskipun demikian, pengguna rata-rata terbesar adalah pelanggan pelabuhan, sosial khusus, industri dan Pemerintah dengan ratarata pemakaian diatas 5.000 m . Data selengkapnya mengenai jumlah pelanggan air bersih PDAM dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
3

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 123

Tabel 2.41 Pelanggan Air Bersih PDAM di Kota Surabaya Tahun 2009
No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Pelanggan Perumahan Pemerintah Perdagangan Industri Sosial Umum Sosial Khusus Pelabuhan Jumlah Pelanggan 367.456 1.199 28.609 881 3.598 1.516 4 Pemakaian Air (m3) 125.639.148 6.583.547 16.275.374 5.797.255 5.189.188 10.988.951 383.994

Sumber data : PDAM Surya Sembada Kota Surabaya Semua jenis pelanggan PDAM Surya Sembada Kota Surabaya guna ketersedian air bersih disuplai dari 7 instalasi pengolahan air minum, terdiri atas : Sumber Air Instalasi Pengolahan Air Minum Ngagel I Instalasi Pengolahan Air Minum Ngagel II Instalasi Pengolahan Air Minum Ngagel III Instalasi Pengolahan Air Minum Karangpilang I Instalasi Pengolahan Air Minum Karangpilang II Instalasi Pengolahan Air Minum Karangpilang III Tabel 2.42 Kapasitas Produksi PDAM
NO 1 2 3 4 Instalasi Sumber Air Ngagel I Ngagel II Ngagel III Kapasitas (liter/detik) pada tahun 2008 330 1.800 1.000 1.750 2009 330 1.800 1.000 1.750 2010 330 1.800 1.000 1.750

II - 124

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

NO 5 6 7 Total

Instalasi Karangpilang I Karangpilang II Karangpilang III

Kapasitas (liter/detik) pada tahun 2008 1.450 2.500 8.830 2009 1.450 2.500 8.830 2010 1.450 2.500 2.000 10.830

Sumber data : PDAM Surya Sembada Kota Surabaya Jumlah produksi air di 7 instalasi pengolahan air minum mengalami peningkatan kapasitas pada tahun 2010 sebesar 2.000 liter/detik dikarenakan telah selesainya pembangunan IPAM Karangpilang III. Kapasitas yang dihasilkan pada tahun 2008 sebesar 8.830 liter/detik, tahun 2009 sebesar 8.830 liter/detik dan tahun 2010 sebesar 10.830 liter/detik, dimana IPAM Karangpilang II memberikan kontribusi terbesar yaitu 23,08 persen, IPAM Karangpilang III sebesar 18,47 persen, IPAM Ngagel I sebesar 16,62 persen, IPAM Ngagel III sebesar 16,16 persen, IPAM Karangpilang I sebesar 13,39 persen, IPAM Ngagel II sebesar 9,23 persen dan Sumber Air sebesar 3,05 persen. PDAM Surya Sembada Kota Surabaya pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 telah memasang pipa tersier sepanjang 356.929,41 m dan direncanakan 5 (lima) tahun kedepan telah mampu melampaui target MDGs Nasional.

d.Ketersediaan sarana Listrik Sumber energi listrik merupakan kebutuhan dasar perkotaan yang diperlukan bagi kebutuhan aktivitas produksi pada setiap fungsi perkotaan baik hunian, jasa, perdagangan, industri, transportasi dan sebagainya. Listrik sebagai kebutuhan dasar kota ini di sediakan oleh PLN sebagai penyedia listrik
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 125

resmi dari pemerintah.

Kapasitas Listris terpasang untuk kota

surabaya berdasarkan data dari PT PLN Distribusi Jawa Timur tahun 2007 sebesar 2.817.915 KVA, meningkat menjadi 2.929.962 KVA pada tahun 2008 dan pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 3.016.678 KVA. Konsumsi daya terpasang listrik rata-rata ada pada kelompok/golongan indutri, namun pada tahun 2009 lebih banyak pada kelompok/golongan rumah tangga. Tabel 2.43 Daya terpasang listrik menurut kelompok pelanggan PLN Distribusi Jawa Timur untuk Kota Surabaya
Jumlah Daya terpasang menurut kelompok pelanggan PLN Distribusi Jawa Timur untuk Kota Surabaya (dlm KVA) Tahun 2006 2007 2008 2009 Rumah Tangga 910.026 953.353 994.031 1.029.286 Industri 998.888 1.004.971 1.014.831 1.018.281 Umum 179.557 196.407 212.006 222.890 Usaha 605.959 663.184 709.114 746.221 Jumlah 2.694.430 2.817.915 2.929.962 3.016.678

Sumber : BPS Kota Surabaya Surabaya Dalam Angka 2010 Dilihat dari jumlah pelanggan listrik di kota Surabaya, pelanggan mayoritas pelanggan pengguna PLN adalah Kelompok Rumah Tangga lalu kelompok Usaha dan setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan jumlah pelanggan pada jenis kelompok tersebut. Peningkatan ini salah satunya di sebabkan tumbuhkan dan berkembangnya wilayah-wilayah pemukiman dan tempat usaha baru di kota surabaya dalam beberapa terakhir ini. Banyaknya pelanggan PLN menurut jenis pelanggan di Surabaya untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut

II - 126

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

Tabel 2.44 Banyaknya Pelanggan PLN Menurut Jenis Pelanggan di Kota Surabaya
Banyaknya Pelanggan PLN Menurut jenis Pelanggan di Kota Surabaya Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rumah Tangga 635,090 655,474 672,087 685,551 702,434 721,369 736,103 Industri 4,087 4,099 3,997 3,950 3,924 3,888 3,862 Umum 14,451 15,083 15,916 16,774 17,670 18,730 19,602 Usaha 50,450 53,091 55,893 57,595 58,922 60,441 61,934

Sumber : BPS Propinsi Jawa Timur,Surabaya Dalam Angka 2010

II.4.3 FOKUS IKLIM INVESTASI Daya tarik investasi untuk menanamkan modalnya sangat dipengaruhi faktor-faktor seperti suku bunga, kebijakan perpajakan dan regulasi perbankan, sebagai infrastruktur dasar yang berpengaruh terhadap kegiatan investasi. Iklim investasi juga sangat di pengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mendorong berkembangnya investasi antara lain fasilitas keamanan dan ketertiban, kemudalah proses perijinan, dan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing. a. Keamanan dan ketertiban Secara umum kondisi keamanan dan ketertiban sampai dengan tahun 2009 relatif kondusif bagi berlangsungnya aktivitas masyarakat maupun kegiatan investasi. Berbagai tindakan kejahatan kriminalitass, unjuk rasa dan mogok kerja yang merugikan dan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat dapat ditanggulangi dengan sigap oleh aparatur pemerintah. Situasi tersebut juga didorong oleh pembinaan
R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5 II - 127

keamanan dan ketertiban masyarakat dengan melibatkan partisipasi masyarakat lingkungannya. dalam menjaga keamanan

Tabel 2.45 Angka Kriminalitas di Kota Surabaya tahun 2005-2009

No Jenis Kriminal 1 Jumlah kasus narkoba 2 Jumlah kasus pembunuhan 3 Jumlah kejahatan seksual 4 Jumlah kasus penganiayan 5 Jumlah kasus pencurian 6 Jumlah kasus penipuan 7 Jumlah kasus penipuan uang

2005 641 23 48 857 1,965 1,322 12

2006 986 28 57 794 2,380 1,417 16

2007 1,454 22 48 797 2,864 1,384 12

2008 1,127 22 28 1,016 3,597 1,662 6

2009 971 28 21 919 3,462 1,554 16

Sumber BPS Kota Surabaya, Surabaya Dalam Angka 2010 Jumlah kasus narkoba mulai tahun 2005 sampai 2007 terus meningkat dari tahun ke tahun. Kasus narkoba tahun 2005 mencapai 641 kasus dan pada tahun 2007 meningkat lebih dari 2 kali, mencapai 1454 kasus. Tetapi pada tahun 2008 dan 2009 kasus narkoba berangsur turun. Tahun 2008 turun menjadi 1127 kasus dan tahun 2009 menjadi 971 kasus. Jumlah kasus pembunuhan di setiap tahun mencapai angka duapuluhan. Kasus pembunuhan paling tinggi terjadi pada tahun 2006 dan 2009, mencapai 28 kasus. Jumlah kejahatan seksual sebelum tahun 2008 cukup tinggi. Pada tahun 2005 dan 2007, kasus kejahatan seksual mencapai 48 kasus, sedangkan pada tahun 2007 mencapai 57 kasus. Penurunan terjadi pada tahun 2008 dan 2009, yang hanya mencapai 28 dan 21 kasus. Jumlah kasus penganiayaan pada tahun 2005 mencapai 857 kasus. Pada tahun 2006 dan 2007 sedikit berkurang menjadi 794 dan 797 kasus. Tahun 2008 meningkat lagi hingga 1016 kasus. Sedangkan di tahun 2009 turun menjadi 919 kasus. Jumlah

II - 128

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

kasus pencurian setiap tahun meningkat. Pada tahun 2005 kasus pencurian mencapai 1965 kasus, dan pada tahun 2009 meningkat hampir 2 kali menjadi 3462 kasus. Jumlah kasus penipuan pada tahun 2005 mencapai 1322 kasus. Pada tahun 2006 sedikit meningkat menjadi 1417 kasus. Tahun 2007 berkurang menjadi 1384 kasus. Sedangkan tahun 2008 dan 2009 kembali meningkat menjadi 1662 dan 1554 kasus. Kasus penipuan yang bermoduskan uang dari tahun 2005-2007 berfluktuatif pada 12 dan 16 kasus, menurun drastic pada tahun 2008 menjadi 6 kasus tetapi juga meningkat lagi menjadi 16 kasus pada tahun 2009. Tabel 2.46 Jumlah Demo Kota Surabaya tahun 2007 - 2010

No 1 2 3 4

Uraian Bidang Politik Ekonomi Sosial Budaya Jumlah Unjuk Rasa

2007 25 54 71 160

2008 34 64 83 181

2009 60 59 16 135

2010 40 54 83 177

Sumber : Bakesbangpol dan Linmas Kota Surabaya Sedangkan untuk kasus aksi unjuk rasa, Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kejadian unjuk rasa/ demonstrasi yang terjadi di kota Surabaya cenderung mengalami kenaikan dimana pada tahun 2007 jumlah unjukrasa/demonstrasi sebanyak 160 kejadian dan pada tahun 2010 sebanyak 177 kejadian. Dari total unjukrasa/demonstrasi yang terjadi sebagian besar mengenai permasalahan sosial budaya dan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa warga kota Surabaya semakin kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang ada.

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 129

b.Pelayanan Perijinan Kemudahan Prosedur dan tata cara memperoleh perijinan atau pengurusan ijin untuk berinvestasi merupakan salah satu faktor pendukung minat investor untuk berinvestasi di surabaya. Kecepatan birokrasi dalam melayani permohonan perijinan Sampai dengan tahun 2009, rata-rata penyelesaian perijinan untuk beberapa jenis ijin/surat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah < 7 hari . Beberapa pelayanan perijinan bahkan sudah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 tahun 2003 atas pelayanan-pelayanan: Ijin Mendirikan Bangunan, Surat Ijin Usaha Perdagangan, Tanda Daftar Perdagangan, dan Uji Kir Kendaraan yang berlaku 3 tahun dan telah diperpanjang masa berlakunya. Pelayanan perijinan ini akan terus disempunakan dan diperbaiki oleh Pemerintah Kota Surabaya, sehingga terjamin kepastian prosedur, waktu dan keamanan perijinan serta pada akhirnya akan memberi kenyamanan dan kemudahan investor untuk berinvestasi di Surabaya. II.4.4 FOKUS SUMBER DAYA MANUSIA a. Kualitas tenaga kerja (rasio lulusan S1/S2/S3) Tabel 2.47 Rasio lulusan S1/S2/S3 Kota Surabaya Tahun 2007- 2011
No 1 2 3 Uraian Jumlah Lulusan S1/ S2/ S3 Jumlah Penduduk Rasio Lulusan S1/ S2/ S3 (4/5) 2007 252.652 2.829.552 0.089 2008 273.574 2.903.382 0.094 2009 277.610 2.938.225 0.094 2010 301.079 2.929.528 0.103

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Salah satu faktor penting yang tidak dapat diabaikan dalam rangka pembangunan adalah menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM ini berkaitan erat
II - 130 R P J M D K O T A S U R A B A Y A T A H U N 2 0 1 0 - 2 0 1 5

dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi kesempatan kerja. Peningkatan kualitas SDM yang merupakan hal penting, disebabkan adanya kesenjangan antara kualitas tenaga kerja dengan yang dibutuhkan oleh dunia usaha/industri. Seperti tampak pada data rasio kelulusan S1/S2/S3 Kota Surabaya masih cukup rendah. Kesenjangan ini akan menimbulkan dua akibat yaitu terjadinya pengangguran yang terus meningkat dan rendahnya produktifitas. Pada tahun 2007 telah ada peningkatan untuk penduduk dengan kelulusan pendidikan sarjana dan pasca sarjana. Yaitu dengan rasio 0,089 pada tahun 2007, 0.094 tahun 2008, 0.094 di tahun 2009 dan 0.103 pada tahun 2010. Fakta ini mencerminkan bahwa sudah ada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. tinggi dalam

b. Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) Table 2.48 Rasio Ketergantungan


No 1 2 3 4 5 Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk Usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) & (2) Jumlah Penduduk Usia 1564 tahun Rasio ketergantungan (3) / (4) 2007 603.762 142.496 746.258 2.083.294 0.358 2008 648.629 144.341 792.970 2.110.412 0.376 2009 605.861 176.944 782.805 2.155.420 0.363 2010 562.189 192.749 754.983 2.174.545 0.347

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Rasio ketergantungan (dependency ratio) adalah

perbandingan antara jumlah penduduk dan umur 0-14 tahun

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5

II - 131

ditambah dengan jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Semakin tingginya rasio ketergantungan menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif, demikian pula sebaliknya. Dari data rasio ketergantungan yang ada menunjukkan bahwa struktur umur penduduk dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu (1) kelompok umur muda, dibawah 15 tahun; (2) kelompok umur produktif, usia 15-64 tahun; dan (3) kelompok umur tua, usia 64 tahun keatas. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan Kota Surabaya mengalami penurunan, hal ini tercermin dari jumlah penduduk usia tidak produktif sebesar 782.805 di tahun 2009 dibandingkan dengan jumlah penduduk usia produktif sebesar 2.155.420 sehingga rasio ketergantungan sebesar 0.363 sedangkan untuk tahun 2010, rasio ketergantungan Kota Surabaya sebesar 0.347 yaitu dari jumlah penduduk usia tidak produktif sebesar 754.983 dibandingkan dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai 2.174.545. Hal ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang yang berusia kerja mempunyai tanggungan sebanyak 34 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi.

II - 132

R P J M D

K O T A

S U R A B A Y A

T A H U N

2 0 1 0 - 2 0 1 5