Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Prinsip-prinsip akuntansi maupun teknik-teknik akuntansi dibuat untuk menghasilkan suatu informasi akuntansi yang relevan, akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan sehingga menghasilkan informasi yang dapat membantu pengambilan keputusan yang tepat. Prinsipprinsip akuntansi tersebut disusun berdasarkan teori akuntansi yang ada dan mengacu pada suatu kerangka konsep yang jelas sehingga teori tersebut cukup kuat sebagai dasar untuk membentuk prinsip dan teknik akuntansi. Yang penting untuk dicatat adalah konsep serta prinsip tersebut harus dapat diterima secara universal oleh setiap orang yang berkepentingan, baik profesional dalam bidang akuntansi dan pihak-pihak berkepentingan lainnya. Maka dari itu, dalam merumuskan suatu teori akuntansi harus ada suatu tujuan dan alasan kuat dan dapat diterima umum yang mendasari penentuan kerangka konseptual yang menjadi pondasi perumusan teori tersebut. Hal tersebut mendorong para ahli dan profesional dalam bidang akuntansi untuk mencoba merumuskan tujuan dari laporan keuangan serta kerangka konseptual untuk akuntansi dan pelaporan keuangan. Dengan adanya suatu tujuan yang jelas dan diterima umum, maka dapat dihasilkan prinsip dan teknik akuntansi yang komprehensif. Serta dengan adanya kerangka konseptual yang cukup kuat untuk akuntansi dan pelaporan keuangan, akan menjadi dasar yang kuat dan meyakinkan bahwa informasi akuntansi yang disajikan dalam pelaporan keuangan telah sesuai.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Klasifikasi dan Konflik Kepentingan Perumusan tujuan akuntansi tergantung pada penyelesaian konflik kepentingan yang terdapat di pasar informasi. Ada tiga kelompok yang berkepentingan, yakni : perusahaan, pengguna, dan profesi akuntansi. Perusahaan (firm) merupakan kelompok utama, dimana seluruh aktivitas mereka (keuangan dan non keuangan) yang menjadi dasar pembuatan laporan keuangan. Pengguna (user) adalah kelompok kedua, yang mana pembuatan informasi akuntansi dipengaruhi oleh kebutuhan penggunanya, seperti pemegang saham, pemerintah, masyarakat, kreditur dan lain sebagainya. Lalu kelompok ketiga adalah profesi akuntansi (accounting profession) yang dapat mempengaruhi informasi akuntansi di dalam laporan keuangan, karena mereka lah (dalam hal ini auditor) yang akan memastikan apakah laporan keuangan tersebut telah memenuhi prinsip-prinsip yang berlaku umum. Melihat ada tiga kelompok yang berkepentingan disini, maka dapat digunakan tiga pendekatan dalam perumusan tujuan akuntansi, yakni pendekatan berorientasi kepada perusahaan, pendekatan berorientasi kepada pengguna, dan pendekatan berorientasi kepada profesi akuntansi. Jika kita amati, pendekatan yang paling besar kemungkinannya untuk diterapkan adalah pendekatan berorientasi kepada pengguna, mengingat selain persentase mereka yang paling besar dan menyangkut dominasi kepentingan politik dan legislatif. 2.2. Menuju ke Arah Perumusan Tujuan Laporan Keuangan Tujuan Laporan Keuangan Menurut APB Statement No. 4: 1. Tujuan khusus 2. Tujuan umum 3. Tujuan kualitatif a. Tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai prinsip akuntansi berterima umum, posisi keuangan, hasil operasi dan perubahan lain dalam posisi keuangan. b. Tujuan umum adalah sebagai berikut: 1. Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang sumber daya ekonomi dan kewajiban suatu usaha bisnis. 2. Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang perubahan sumber daya bersih sebagai hasil dari aktivitas-aktivitas perusahaan yang menghasilkan profit. 3. Menyediakan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk mengestimasi earning potensial perusahaan. 4. Menyediakan informasi lain yang dibutuhkan tentang perubahan sumber daya ekonomi dan kewajiban. 5. Mengungkapkan informasi lain yang relevan dengan kebutuhan pemakai.

c. Tujuan kualitatif akuntansi keuangan adalah sebagai berikut: 1. Relevan, memilih informasi yang paling mungkin untuk membantu pemakai dalam pembuatan keputusan ekonomi. 2. Dapat dipahami, informasi yang dipilih harus jelas, juga harus dapat dipahami pemakai. 3. Dapat diuji kebenarannya, hasil-hasil akuntansi dibenarkan oleh ukuran-ukuran yang independen, menggunakan metode pengukuran yang sama. 4. Netral, informasi akuntansi diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan bukan pemakai khusus pemakai tertentu. 5. Tepat waktu, berarti mengkomunikasikan informasi seawal mungkin untuk menghindari keterlambatan pembuatan keputusan ekonomi. 6. Dapat diperbandingkan, perbedaan-berbedaan seharusnya tidak mengakibatkan perlakuan akuntansi yang berbeda. 7. Kelengkapan, semua informasi yang memenuhi persyaratan tujuan-tujuan kualitatif lain harus dilaporkan. AICPA pada bulan April 1971 membentuk dua kelompok studi untuk menyusun sebuah kerangka konseptual akuntansi. Kelompok pertama adalah Komite Wheat yang bertugas memperbaiki proses penetapan standar dan Komite Trueblood yang bertugas mengembangkan tujuan laporan keuangan. Laporan Trueblood menyebutkan tujuh karakteristik kualitatif dari pelaporan: 1. relevansi dan materialistis 2. bentuk dan substansi 3. keandalan 4. kebebasan dari bias 5. komparabilitas 6. konsistensi; dan 7. dapat dimengerti. 2.3. Menuju ke Arah Kerangka Konseptual Kerangka konseptual adalah berfungsi sebagai suatu konstitusi, yang mana ia menjadi pedoman dalam penetapan standar. Muncul beragam masalah yang disajikan untuk didiskusikan dan diselesaikan Masalah pertama adalah pandangan mengenai laba atau penghasilan mana yang harus digunakan? Pandangan aktiva/kewajiban, atau disebut juga pandangan neraca atau pandangan pemeliharaan modal (balance sheet or capital-maintenance view), berpendapat bahwa pendapatan dan beban hanya berasal dari perubahan dalam aktiva dan kewajiban. Pandangan pendapatan/beban, yang disebut juga pandangan laporan laba rugi atau pandangan penandingan (income statement or matching view), berpendapat bahwa adanya pendapatan dan beban yang dihasilkan oleh adanya kebutuhan akan penandingan yang tepat (proper matching).

Pandangan nonartikulasi didasarkan atas adanya kepercayaan bahwa artikulasi akan diikuti oleh redundansi (pencatatan yang berlebihan), karena seluruh peristiwa yang dilaporkan di laporan laba rugi juga dilaporkan di neraca, meskipun dari sudut pandang yang berbeda. Masalah selanjutnya adalah mengenai definisi. Menurut pandangan aktiva/kewajiban, aktiva adalah sumber daya ekonomi dari sebuah perusahaan; mereka mencerminkan keuntungan-keuntungan di masa depan yang diharapkan menimbulkan arus kas masuk bersih secara langsung maupun tidak langsung. Kewajiban adalah keharusan perusahaan untuk mentransfer sumber daya ekonomi kepada entitas lain di masa depan. Penghasilan adalah peningkatan dari aktiva bersih perusahaan di luar beban-beban modal. Menurut pandangan pendapatan/beban, aktiva tidak hanya meliputi aktiva yang didefinisikan oleh sudut pandang aktiva/kewajiban, tetapi juga hal-hal yang tidak mencerminkan sumber daya ekonomi namun diperlukan untuk penandingan yang benar dan penentuan laba. Kewajiban tidak hanya terdiri atas kewajiban seperti yang didefinisikan oleh sudut pandang aktiva/kewajiban namun juga kredit-kredit yang ditangguhkan dan cadangan tertentu yang tidak mencerminkan kewajiban untuk mentransfer sumber daya ekonomi namun dibutuhkan untuk prinsip penandingan yang benar dan penentuan laba. Penghasilan diperoleh dari penandingan antara pendapatan dan beban. Setiap kemungkinan komponen dari penghasilan (pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian) dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. Pendapatan dan beban Menurut pandangan aktiva/kewajiban, pendapatan, yang mencakup keuntungan dan kerugian, didefinisikan sebagai peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban yang tidak mempengaruhi modal. Begitu pula beban, yang mencakup keuntungan dan kerugian, didefinisikan sebagai penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban yang timbul dari penggunaan sumber daya ekonomi dan jasa selama suatu periode tertentu. 2. Keuntungan dan kerugian Menurut pandangan aktiva/kewajiban, keuntungan didefinisikan sebagai meningkatnya aktiva bersih di luar peningkatan dari pendapatan atau perubahan modal. Begitu pula kerugian didefenisikan sebagai penurunan dari aktiva bersih di luar penurunan dari beban atau perubahan modal. Jadi keuntungan dan kerugian merupakan bagian dari penghasilan yang tidak dijelaskan oleh pendapatan dan beban. Lalu juga ada masalah mengenai metode pengukuran akan berkaitan dengan penentuan baik dari unit pengukuran maupun atribut yang hendak diukur. Sepanjang kepentingan dari unit pengukuran, pilihannya adalah antara jumlah dolar akrual dan dolar yang telah disesuaikan dengan daya beli umum. Sedangkan sepanjang kepentingan dari atribut tertentu yang hendak diukur, ada lima pilihan yang tersedia:

1. 2. 3. 4. 5.

Metode biaya historis; biaya saat ini; nilai jual saat ini; nilai jual yang diharapkan; dan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan.

2.4. Perkembangan dari Sebuah Kerangka Konseptual Secara ringkas, lima Statement of Financial Accounting Concepts yang dikeluarkan dan berhubungan dengan pelaporan keuangan untuk perusahaan bisnis adalah: 1. SFAC No. 1, Objective of Financial Reporting by Business Enterprises, yang menyajikan sasaran dan maksud dari akuntansi. 2. SFAC No. 2, Qualitative Characteristics of Accounting Infomation, yang melihat karakteristik-karakteristik yang membuat informasi akuntansi berguna. 3. SFAC No. 3, Elements of Financial Statements of Business Enterprises, yang memberikan definisi mengenai elemen-elemen dalam laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban. 4. SFAC No. 5, Recognition and Measurement in Financial Statements of Business Enterprises, yang menetapkan pengakuan dan kriteria pengukuran fundamental serta pedoman mengenai bagaimana informasi sebaiknya secara formal dicantumkan dalam laporan keuangan. 5. SFAC No. 6, Elements of Financial Statements, yang menggantikan SFAC No. 3 dan memperluas ruang lingkupnya untuk mencakup organisasi-organisasi nirlaba. 6. SFAC No. 7, Using Cash Flow Information and Present Value in Accounting Measurements, memberikan sebuah kerangka untuk menggunakan arus kas dan menyajikan nilai-nilai sebagai basis pengukuran 2.5. Tujuan Pelaporan Keuangan Pelaporan keuangan tidak hanya memuat laporan keuangan namun juga cara-cara lain dalam mengkomunikasikan informasi yang berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan informasi yang diberikan oleh sistem akuntansi, yaitu informasi mengenai sumber daya, kewajiban, penghasilan perusahaan dan lain-lain. Tujuan Pelaporan Keuangan oleh Organisasi-organisasi Nonbisnis Tiga karakteristik utama yang membedakan organisasi-organisasi nonbisnis adalah : 1. Sejumlah besar sumber daya diterima oleh penyedia sumber daya, yang tidak mengharapkan untuk menerima pembayaran kembali ataupun keuntungan ekonomi yang proporsional terhadap sumber daya yang telah mereka berikan. 2. Operasi bisnisnya terutama bergerak untuk tujuan-tujuan selain penyediaan barang atau jasa yang mendapatkan laba atau ekuivalen laba.

3. Tidak ada saham kepemilikan yang pasti yang dapat dijual, dialihkan, atau ditebus, atau yang akan menjadi hak atas bagian dari distribusi nilai sisa dari sumber daya pada saat organisasi dilikuidasi. 2.6. Konsep-konsep Fundamental Karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi a. Relevansi mengacu pada kemampuan informasi untuk mempengaruhi keputusan menajer dengan mengubah atau mengonfirmasikan ekspetasi mereka atas hasil atau konsekuensi dari tindakan atau peristiwa. b. Keandalan (reliability) diartikan sebagai kualitas yang memungkinkan pengguna data agar dengan yakin mengandalkannya sebagai pencerminan dari apa yang dimaksud untuk disajikan. c. Kualitas sekunder (secondary qualities). Komparabilitas dan konsistensi adalah kualitas kedua yang diusulkan oleh Statement of Financial Accounting Concepts No. 2 FASB. Komparabilitas dijabarkan sebagai penggunaan metode yang sama dalam suatu waktu oleh perusahaan tertentu. d. Pertimbangan biaya-manfaat (cost-benefit consideration) diakui sebagai salah satu batasan umum. Informasi akuntansi manfaat akan dicari jika keuntungan yang didapat dari informasi tersebut melebihi biayanya. Jadi, sebelum menyiapkan dan menyebarkan informasi keuangan, biaya dan manfaat dari penyediaan informasi tersebut harus diperbandingkan. e. Materialistis (materiality) dipandang sebagai ambang batas untuk pengakuan. Materialistas adalah suatu kondisi yang dianggap penting secara relatif. 2.7. Laporan-Laporan Lain Laporan Perusahaan 1. Laporan nilai tambah, yang menunjukkan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari usaha perusahaan dibagi di antara para karyawannya, penyandang modal, negara dan investasi kembali. 2. Laporan ketenagakerjaan, yang menunjukkan jumlah dan komposisi dari tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan, kontribusi pekerjaan dari para karyawan dan manfaat-manfaat yang diterima. 3. Laporan pertukaran uang dengan pemerintah, yang menunjukkan hubungan keuangan antara perusahaan dengan negara. 2.8. Laporan Stamp Pendekatan yang diusulkan oleh Laporan Stamp ini bersifat revolusioner. Hal ini mengidentifikasikan masalah dan permasalahan konseptual dan memberikan solusi bagi identifikasi tujuan-tujuan pelaporan keuangan perusahaan, pengguna laporan perusahaan, sifat dari kebutuhan para pengguna, dan kriteria untuk penilaian mutu standar dan

akuntabilitas korporat sebagai kemungkinan komponen-komponen bagi kerangka konseptual Kanada.

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Perumusan dari teori akuntansi akan berawal dari pengembangan tujuan dari laporan keuangan dan diakhiri dengan penyusunan sebuah kerangka konseptual sebagai pedoman bagi prinsip dan teknik akuntansi. Kerangka konseptual yang dibuat harus dapat diterima oleh semua orang yang berkepentingan. Selain bermanfaat sebagai pedoman, kerangka konseptual juga dapat menghasilkan suatu standar yang cukup baik yang juga dapat diterima secara universal.