Anda di halaman 1dari 34

BABI PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih mereproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi kembali.

Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan. B. Tujuan

Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui bagaimana cara mencegah penyakit leukimia seperti kita telah tahu bersama bahwa penyakit ini adalah penyakit mematikan. 2. Untuk mengetahui cara pengobatan dan penanganan leukimia kemudian terapi2 apa saja yang harus dilakukan apabila sudah terkena lekimia.

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFINISI LEUKIMIA Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita. Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan banyak sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya. Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah). Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah

memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya

atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi kembali. Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan. Menurut Ahmad Ramadi (1998) leukemia merupakan penyakit ganas, progresif pada organ - organ pembentukan darah yang ditandai dengan proliferasi dan perkembangan leukosit serta pendahulunya secara abnormal di dalam darah dan sumsum tulang belakang. Proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak abnormal, jumlahnya berlebihan, dapat ,menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan kematian (Mansjoer, 1999). Menurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan limfoid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar , pembagian leukemia adalah sebagai berikut yaitu : Leukemia limfoid : Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) Merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidensi antara umur 3 sampai 4 tahun. Manifestasi dari LLA adalah berupa proliferasi limpoblas abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular. Paling sering terjadi pada laiki - laki dibandingkan perempuan, LLA jarang terjadi (Smeltzer dan Bare, 2001). Gejala pertama biasanya terjadi karena sumsum tulang gagal menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang memadai, yaitu berupa: lemah dan sesak nafas, karena anemia (sel darah

merah terlalu sedikit) infeksi dan demam karena, berkurangnya jumlah sel darah putih perdarahan, karena jumlah trombosit yang terlalu sedikit.

B. PATOFISIOLOGI

Manifestasi klinis penderita leukemia akut disebabkan adanya penggantian sel pada sumsum tulang oleh sel leukemik , menyebabkan gangguan produksi sel darah merah . Depresi produksi platelet yang menyebabkan purpura dan kecenderungan terjadinya perdarahan . Kegagalan mekanisme pertahanan selular karena penggantian sel darah putih oleh sel lekemik, yang menyebabkan tingginya kemungkinan untuk infeksi . Infiltrasi sel-sel leukemik ke organ-organ vital seperti liver dan limpa oleh sel-sel leukemik yang dapat menyebabkan pembesaran dari organ-organ tersebut . ( Cawson, 1982 ). Sedangkan pada penderita Leukemia itu sebdiri disebabkan sbb: a. Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast.Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan

trombositipenia. b. Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan

gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi c. Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan. d. Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe,nodus limfe, dan nyeri persendian. (Suriadi, & Yuliani R, 2001: hal. 175)

C. MANIFESTASI KLINIK

Hematopoesis normal terhambat Penurunan jumlah leukosit Penurunan sel darah merah Penurunan trombosit

Leukimia diklasifikasikan dalam 4 bagian 1. Leukeumia Limfositik Kronik (LLK) Leukemia Limfositik Kronik (LLK) ditandai dengan adanya sejumlah besar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening. Lebih dari 3/4 penderita berumur lebih dari 60 tahun, dan 2-3 kali lebih sering menyerang pria. Pada awalnya penambahan jumlah limfosit matang yang ganas terjadi di kelenjar getah bening. Kemudian menyebar ke hati dan limpa, dan kedua nya mulai membesar. Masuknya limfosit ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam darah. Kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan infeksi) juga berkurang. Sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari luar, seringkali menjadi salah arah dan menghancurkan jaringan tubuh yang normal. Manifestasinya adalah :

Adanya anemia Pembesaran nodus limfa Pembesaran organ abdomen Jumlah eritrosi dan trombosit mungkin normal atau menurun Terjadi penurunan jumlah limfosit (limfositopenia)

2. Leukemia Mieloid Akut LMA mempunyai insidensi tahunan 5-6 kasus tiap juta anak kurang dari 15 tahun. Di Amerika ,350-500 kasus baru tiap tahun .LMA merupakan 15-20% dari leukimia anak tetapi terutama sebagai leukimia neonatal atau congenital .Tidak ada perbedaan insidensi dalam hal jenis kelamin atau ras dan, kecuali sedikit kenaikan selama remaja ,disitribusi kasus menurut umur konsisten selama masa anak . Insidensi LMA melebihi angka perkiraan pada kelainan genetic, termasuk trisomi 21,anemia Fanconi ,anemia Diamond Blackfan ,sindrom kostmann, dan sindrom Bloom. Anak yang mendapatkan terapi keganasan sebelumnya juga mengalami rikiso : insidensi LMA sekunder mendekati 5% seteelah terapi beberapa malignitas. Insidensi itu mencapai puncak dalam 10 setahun dari keganasan awal. Kejadian berkaitandengan terapi spesifik { obat alkilasi seperti siklofosfamid, obat yang menghambat reparasi DNA seperti etoposid}. Terapi radiasi yang diberikan bersama kemoterapi juga meningkatkan risiko leukimia sekunder. 3. Leukemia Mielositik akut (LMA) Menurut Smeltzer dan Bare (2001), Leukemia akut ini mengenai sel stem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke sua sel mieloid;monosit, granulosit, eritrosit, dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena , insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi. Gambaran klinis LMA, antara lain yaitu ;terdapat peningkatan leukosit, pembesaran pada limfe, rasa lelah, pucat, nafsu makan menurun, anemia, ptekie, perdarahan , nyeri tulang, Infeksi

4. Leukemia Mielogenus Kronik (LMK) Leukemia Mielositik (mieloid, mielogenous, granulositik, LMK) adalah suatu penyakit dimana sebuah sel di dalam sumsum tulang berubah menjadi ganas dan menghasilkan sejumlah besar granulosit (salah satu jenis sel darah putih) yang abnormal. Dimasukkan kedalam keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak terdapat sel normal dibaniding dalam bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan, jarang menyerang individu di bawah umur 20 tahun, namun insidensinya meningkat sesuai pertambahan umur. Gambaran klinis LMK mirip dengan LMA, tetapi gejalanya lebih ringan yaitu; Pada stadium awal, LMK bisa tidak menimbulkan gejala. Tetapi beberapa penderita bisa mengalami: kelelahan dan kelemahan, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, demam atau berkeringat dimalam hari, perasaan penuh di perutnya (karena pembesaran limpa) (Smeltzer dan Bare, 2001). D. ETIOLOGI Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti, namun diketahui beberapa faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, seperti Radiasi Radiasi dapat meningkatkan frekuensi LMA dan LMA. Tidak ada laporan mengenai hubungan antara radiasi dengan LLK. Beberapa laporan yang mendukung: Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia Penderita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia

Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang

Faktor leukemogenik Terdapat beberapa zat kimia yang telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi leukemia: Racun lingkungan seperti benzena Bahan kimia industri seperti insektisida Obat untuk kemoterapi

Virus Virus dapat menyebabkan leukemia seperti retrovirus, virus leukemia feline, HTLV-1 pada dewasa. Menurut Smeltzer dan Bare (2001) meskipun penyebab leukemia tidak diketahui, presdiposisi genetik maupun faktor-faktor lingkungan kelihatannya memainkan peranan. Faktor lingkungan berupa paparan radiasi pergion dosis tinggi disertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. Zat-zat kimia (misalnya benzen, arsen, pestisida, kloramfenikol, fenilbutazone, dan agen antineoplastil) dikaitkan dengan frkuensi yang meningkat khususnya agen-agen alkil. Leukemia biasanya mengenai sel-sel darah putih. Penyebab dari sebagian besar jenis leukemia tidak diketahui. Virus menyebabkan beberapa leukemia pada binatang (misalnya kucing). Virus HTLV-I (human T-cell lymphotropic virus type I), yang menyerupai virus penyebab AIDS, diduga merupakan penyebab jenis leukemia yang jarang terjadi pada manusia, yaitu leukemia sel-T dewasa.Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi) dan bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan pemakaian obat antikanker, meningkatkan resiko terjadinya leukemia. Orang yang memiliki kelainan genetik tertentu (misalnya sindroma Down dan sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap leukemia.

Faktor Lingkungan Di antara faktor-faktor lingkungan yang dianggap penyebab leukemia, berikut adalah beberapa yang paling masuk akal: Merokok - merokok ini diyakini akan meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Meskipun statistik menunjukkan bahwa sekitar 20 persen dari kasus leukemia akut yang berhubungan dengan merokok, leukemia juga terjadi kepada orang-orang yang tidak merokok dan karena itu tidak dapat dianggap sebagai penyebab leukemia pada dirinya sendiri; Berkepanjangan paparan radiasi - Radiasi dianggap memfasilitasi pengembangan leukemia. Hal ini diyakini bahwa paparan sinar-X dapat menyebabkan leukemia; Pemaparan berkepanjangan untuk benzena - statistik mengungkapkan bahwa ini merupakan faktor utama risiko dalam beberapa bentuk leukemia, seperti leukemia myelogenous; Kemoterapi dan pengobatan kanker - pengobatan kanker dan kemoterapi sebelumnya dikenal untuk memfasilitasi terjadinya dan pengembangan leukemia dan dapat dianggap sebagai penyebab leukemia masuk akal. Dalam beberapa tahun dari penyelesaian kemoterapi dan perawatan lainnya untuk beberapa bentuk kanker, kebanyakan orang dapat mengembangkan leukemia. Diantara faktor-faktor genetik yang dianggap penyebab leukemia, yang berikut ini dianggap paling penting: Kelainan kromosom - beberapa sindrom genetik jarang diketahui berkontribusi pada penyebab leukemia. Sistem kekebalan masalah genetik - sistem kekebalan tubuh lemah sangat mungkin untuk memfasilitasi terjadinya leukemia dan karenanya dapat dianggap sebagai penyebab leukemia; Down syndrome - anak yang lahir dengan sindrom ini mempunyai risiko yang tinggi mengembangkan leukemia akut.

Daftar kemungkinan penyebab leukemia dapat melanjutkan lebih lanjut, tetapi ini adalah faktor yang paling umum yang dianggap terkait dengan leukemia. Sementara beberapa dari mereka dapat dicegah, yang lain berada dalam gen dan sekarang tidak dapat diperbaiki. Di masa depan, Namun, berkat kemajuan medis, kami mungkin akan dapat mencegah leukemia dan bentuk lain dari kanker. E. PATOFISIOLOGI Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan kita dengan infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai dengan perintah, dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Lekemia meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel lekemia memblok produksi sel darah putih yang normal , merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel lekemia juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan. Menurut Smeltzer dan Bare (2001) analisa sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukemia,. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur, yang termasuk translokasi ini, dua atau lebih kromosom mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal. Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Penyusunan kembali kromosom (translokasi kromosom) mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel membelah tak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini

10

menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal dan otak. F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Diagnosa Penyakit Leukemia (Kanker Darah) Penyakit Leukemia dapat dipastikan dengan beberapa pemeriksaan, diantaranya adalah ; Biopsy, Pemeriksaan darah {complete blood count (CBC)}, CT or CAT scan, magnetic resonance imaging (MRI), X-ray, Ultrasound, Spinal tap/lumbar puncture. Menurut Doengoes dkk (1999) menyatakan bahwa pemeriksaan

penunjang mengenai leukemia adalah :


Hitung darah lengkap menunjukkan normositik, anemia normositik. Hemoglobin : dapat kurang dari 10 g/100 ml Retikulosit : jumlah biasanya rendah Jumlah trombosit : mungkin sangat rendah (<50.000/mm) SDP : mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur (mungkin menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.

PT/PTT : memanjang LDH : mungkin meningkat Asam urat serum/urine : mungkin meningkat Muramidase serum (lisozim) : penigkatabn pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.

Copper serum : meningkat Zinc serum : meningkat Biopsi sumsum tulang : SDM abnormal biasanya lebih dari 50 % atau lebih dari SDP pada sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan prekusor eritroid, sel matur, dan megakariositis menurun.

11

Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

Penatalaksanaan pengobatan Leukimia Mielogenus Kronik Sebagian besar pengobatan tidak menyembuhkan penyakit, tetapi hanya memperlambat perkembangan penyakit. Pengobatan dianggap berhasil apabila jumlah sel darah putih dapat diturunkan sampai kurang dari 50.000/mikroliter darah. Pengobatan yang terbaik sekalipun tidak bisa menghancurkan semua sel leukemik. Satu-satunya kesempatan penyembuhan adalah dengan pencangkokan sumsum tulang. Pencangkokan paling efektif jika dilakukan pada stadium awal dan kurang efektif jika dilakukan pada fase akselerasi atau krisis blast. Obat interferon alfa bisa menormalkan kembali sumsum tulang dan menyebabkan remisi. Hidroksiurea per-oral (ditelan) merupakan kemoterapi yang paling banyak digunakan untuk penyakit ini. Busulfan juga efektif, tetapi karena memiliki efek samping yang serius, maka pemakaiannya tidak boleh terlalu lama. Terapi penyinaran untuk limpa kadang membantu mengurangi jumlah sel leukemik. Kadang limpa harus diangkat melalui pembedahan (splenektomi) untuk: mengurangi rasa tidak nyaman di perut, meningkatkan jumlah trombosit, mengurangi kemungkinan dilakukannya tranfusi. Leukemia Limfoblastik Akut : Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan

menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang. Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan: transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat

12

kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel leukemik di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel leukemik bisa kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi penyinaran. Pengobatan Leukeumia Limfositik Kronik Leukemia limfositik kronik berkembang dengan lambat, sehingga banyak penderita yang tidak memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun sampai jumlah limfosit sangat banyak, kelenjar getah bening membesar atau terjadi penurunan jumlah eritrosit atau trombosit. Anemia diatasi dengan transfusi darah dan suntikan eritropoietin (obat yang merangsang pembentukan sel-sel darah merah). Jika jumlah trombosit sangat menurun, diberikan transfusi trombosit. Infeksi diatasi dengan antibiotik. Terapi penyinaran digunakan untuk memperkecil ukuran kelenjar getah bening, hati atau limpa. Obat antikanker saja atau ditambah kortikosteroid diberikan jika jumlah limfositnya sangat banyak. Prednison dan kortikosteroid lainnya bisa menyebabkan perbaikan pada penderita leukemia yang sudah menyebar. Tetapi respon ini biasanya berlangsung singkat dan setelah pemakaian jangka

13

panjang, kortikosteroid menyebabkan beberapa efek samping. Leukemia sel B diobati dengan alkylating agent, yang membunuh sel kanker dengan mempengaruhi DNAnya. Leukemia sel berambut diobati dengan interferon alfa dan pentostatin. Manifestasi klinik Manifestasi leukemia akut merupakan akibat dari komplikasi yang terjadi pada neoplasma hematopoetik secara umum. Namun setiap leukemia akut memiliki ciri khasnya masing-masing. Secara garis besar, leukemia akut memiliki 3 tanda utama yaitu: Jumlah sel di perifer yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya infiltrasi jaringan atau leukostasis Penggantian elemen sumsum tulang normal yang dapat menghasilkan komplikasi sebagai akibat dari anemia, trombositopenia, dan leukopenia Pengeluaran faktor faali yang mengakibatkan komplikasi yang signifikan

Alat diagnosa Leukemia akut dapat didiagnosa melalui beberapa alat, seperti: Pemeriksaan morfologi: darah tepi, aspirasi sumsum tulang, biopsi sumsum tulang Pewarnaan sitokimia Immunofenotipe Sitogenetika Diagnostis molekuler

Pengobatan Leukimia dengan Tahitian Noni Juice Tahitian Noni Juice bermanfaat untuk Leukimea karena Tahitian Noni Juice bekerja ditingkat selular. Lebih jauh lagi dipercaya bahwa Tahitian Noni Juice meningkatkan struktur selular yang di hancurkan oleh kanker darah. Beberapa penelitian lain telah dilakukan di laboratorium-laboratorium untuk

14

menegaskan kemampuan Tahitian Noni Juice untuk melawan kanker . Dalam suatu penelitian, empat orang ilmuwan dari Jepang menyuntikkan sel ras (sel yang menjadi pemicu bagi pertumbuhan yang merusak) dengan substansi yang disebut damnacanthal yang ditemukan dalam Tahitian Noni Juice. Mereka mengobservasi bahwa pemberian damnachantal ternyata menghambat reproduksi sel ras secara signifikan. Damnachantal adalah suatu substansi didalam Tahitian Noni Juice yang di percaya sebagai agen anti kanker. Sebagai tambahan, riset telah membuktikan bahwa Tahitian Noni Juice merangsang tubuh untuk mereproduksi element-element yang melawan kanker seperti nitrix oxide, interleukin (mediator sistem imunitas yang dibuat oleh dan mempengaruhi limfosit-red), interferon (sitokin yang mencegah terjadinya super infeksi oleh virus lain ? red), faktor nekrosis tumor, lipopolisakarida dan sel-sel pembunuh alami. Dipercaya juga bahwa Tahitian Noni Juice mempunyai fungsi pencegahan dan perlindungan terhadap kanker pada tahap inisisasi, yang merupakan fase pertama pada pembentukan kanker. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mian-Ying Wang, M.D. di Fakultas Kedokteran Universitas Illionis, Rockford, menunjukan bahwa tikus yang diberikan 10% Tahitian Noni Juice selama seminggu dan kemudian disuntukan sel DMBA (agen penyebab kanker) , mempunyai bercak tambahan DNA (suatu tes untuk melihat keabnormalan DNA) yang secara signifikan lebih sedikit di bandingkan dengan tikus yang juga disuntukan DMBA namun hanya diberi air. Semakin sedikit jumlah bercak tambahan DNA, semakin tinggi perlindungan terhadap kanker. Tikus yang diberi Tahitian Noni Juice mempunyai 50% bercak DNA lebih sedikit di paru-paru, 60% lebih sedikit di jantung, 70% lebih sedikit di lever, dan 90% lebih sedikit di ginjal. Tahitian Noni Juice telah terbukti memiliki kemampuan anti oksidan. Hal ini berarti dapat mengikat radikal bebas yang terdapat dalam tubuh. Radikal bebas dapat merusak sel dan membentuk sel kanker.

15

Banyak yang berpendapat bahwa aktifitas anti oksidan adalah fungsi penting dari Tahitian Noni Juice dan salah satu alasan mengapa begitu banyak orang sukses dalam melawan kanker dengan Tahitian Noni Juice. Dari 27.000 pengguna Tahitian Noni Juice dalam survey saya 2.365 orang menderita berbagai jenis kanker. Dari jumlah ini 60% dari mereka berhasil mengalami kemajuan kesehatan yang luar biasa. Dosis Minum Tahitian Noni untuk penderita kanker darah atau leukimia Dosis penggunaan Tahitian Noni Juice untuk Terapi Kanker : jumlah konsumsi rata-rata dari 64% responden yang mengalami kemajuan kesehatan adalah 105 cc setiap hari. Dalam riset Dr.Neil Solomon juga menemukan ?RESEP NONI? yang telah digunakan oleh para pasien penderita kanker untuk meningkatkan energi tubuh mereka secara maksimal. Resep ini datang dari rekan sejawat dari profesional media, Orlando Pile, M.D. Resepnya sebagai berikut: Liter Tahitian Noni Juice perhari selama 4 hari pertama 1. Penyakit Leukemia Akut dan Kronis Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Apabila hal ini tidak segera diobati, maka dapat menyebabkan kematian dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun. 2. Leukemia diklasifikasikan berdasarkan jenis sel Ketika pada pemeriksaan diketahui bahwa leukemia mempengaruhi limfosit atau sel limfoid, maka disebut leukemia limfositik. Sedangkan leukemia yang mempengaruhi sel mieloid seperti neutrofil, basofil, dan eosinofil, disebut leukemia mielositik.

16

G. TANDA DAN GEJALA PENYAKIT LEUKIMIA Gejala penderita leukemia bevariasi tergantung dari jumlah sel abnormal dan tempat berkumpulnya sel abnormal tersebut. Gejala umum pasien leukemia yaitu

Demam atau keringat malam Sering mengalami infeksi Merasa lemah atau capai Pucat Sakit kepala Mudah berdarah atau memar.Misalnya gusi mudah berdarah saat sikat gigi, muda memar saat terbentur ringan)

Nyeri pada tulang dan/atau sendi Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut, akibat pembesaran limpa Pembesaran kelenjar getah bening, terutama di leher dan ketiak Penurunan berat badan

Pada stadium dini leukemia kronik, sel leukemia dapat berfungsi hampir seperti sel normal. Mungkin tidak ada gejala yang dirasakan selama beberapa waktu. Diagnosis pada tahap ini mungkin ditentukan saat pemeriksaan check up rutin. Jika muncul gejala, umumnya ringan dan perlahan-lahan semakin memberat. Pada leukemia akut gejala akan timbul dan memberat secara cepat. Gejala leukemia akut lainnya yaitu muntah, penurunan konsentrasi, kehilangan kendali otot, dan kejang. Sel leukemia juga dapat berkumpul di buah zakar dan menyebabkan pembengkakan. Gejala Leukemia yang ditimbulkan umumnya berbeda diantara penderita, namun demikian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

17

Anemia. Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernafas cepat (sel darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam tubuh kurang, akibatnya penderita bernafas cepat sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan oxygen dalam tubuh).

Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar karena didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan kulit).

Terserang Infeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal (abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena infeksi virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.

Nyeri Tulang dan Persendian. Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel darah putih. Nyeri Perut. Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita leukemia.

Pembengkakan

Kelenjar

Lympa.

Penderita

kemungkinan

besar

mengalami pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang dibawah lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan menyebabkan

pembengkakan. Kesulitan Bernafas (Dyspnea). Penderita mungkin menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.

18

Seperti semua sel-sel darah, sel-sel leukemia mengalir ke seluruh tubuh. Tergantung pada jumlah sel-sel yang abnormal dan tempat sel-sel ini terkumpul, pasien leukemia mempunyai sejumlah gejala umum antara lain:

Demam atau keringat malam Infeksi yang sering terjadi Merasa lemah atau letih Sakit kepala Mudah berdarah dan lebam (gusi berdarah, bercak keunguan di kulit, atau bintik-bintik merah kecil di bawah kulit)

Nyeri di tulang atau persendian Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut (akibat pembesaran limpa)

Pembengkakan, terutama di leher atau ketiak Kehilangan berat badan

H. PENANGANAN DAN PENGOBATAN LEUKIMIA Penanganan kasus penyakit Leukemia biasanya dimulai dari gejala yang muncul, seperti anemia, perdarahan dan infeksi. Secara garis besar penanganan dan pengobatan Leukemia bisa dilakukan dengan cara single ataupun gabungan dari beberapa metode dibawah ini: 1. Chemotherapy/intrathecal medications 2. Therapy Radiasi. Metode ini sangat jarang sekali digunakan 3. Transplantasi bone marrow (sumsum tulang) 4. Pemberian obat-obatan tablet dan suntik 5. Transfusi sel darah merah atau platelet.

Sistem Therapi yang sering digunakan dalam menangani penderita leukemia adalah kombinasi antara Chemotherapy (kemoterapi) dan pemberian obat-obatan yang berfokus pada pemberhentian produksi sel darah putih yang abnormal dalam bone marrow. Selanjutnya adalah penanganan

19

terhadap beberapa gejala dan tanda yang telah ditampakkan oleh tubuh penderita dengan monitor yang komprehensive.

Dapat juga dengan pengobatan :


Protokol pengobatan Protokol pengobatan menurut IDAI ada 2 macam yaitu : Protokol half dose metothrexate (Jakarta 1994) dan Protokol Wijaya Kusuma (WKALL 2000)

Pengobatan suportif ; Terapi suportif misalnya transfusi komponen darah, pemberian antibiotik, nutrisi, dan psikososial.

Riwayat penyakit Leukemia limfoblastik akut merupakan leukemia yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Dapat mengenai baik anak-anak laki-laki maupun wanita dengan frekunsi yang sama. Gambaran penyakitnya bervariasi, pada anak kecil ditandai dengan mendadak panas, pucat dan memar dikulit. Pada anak yang lebih besar sering didahului dengan nyeri ditulang beberapa minggu/bulan sebelum timbulnya ecchymosis, pucat dan panas badan. Perasaan lemah dan berat badan yang tidak bertambah atau nafsu makan yang sangat menurun, kadangkadang epistaksis dan perdarahan tambahan. gusi dapat merupakan keluhan-keluhan

Kelainan fisik Anak biasanya terlihat pucat, tampak sakit berat, takikardi adalah merupakan tanda yang selalu ditemukan demikian pula perdarahan fundus oculi. Limfadenopati terdapat di leher, axila dan inguinal, biasanya bersifat simetris. Terdapat hepatosplenomegali, demikian pula tonsil membesar. Akan dapat ditemukan ptechiae dan ecchymosis. pada stadium awal

penyakit, susunan saraf pusat tidak akan terkena proses. Baru stadium lanjut akan terlihat gejala rangsangan menigeal dan gejala cerebral dengan timbulnya

20

refleks-refleks patologis. Dapat terjadi perdarahan otak yang berakibat kematian mendadak.

Kelainan hematologis Anemia normokrom normositer dengan jumlah eritrosit yang menurun sekitar 1-3 juta. Tidak terlihat polikromasi dan jumlah retikulosit menurun. Lekositosis dengan jumlah leukosit dapat mencapai rata-rata 100.000. Lekosit terdiri dari limfoblas ( reaksi peroksidase negatif) dan jumlah granulosit sangat berkurang. Kira-kira 10% leukemia limfoblastik akut memberikan gambaran leukemia aleukemik dan limfoblas sangat jarang djumpai dalam darah tepi. Pada kasus leukemia yang aleukemik limfosit yang tampak pada darah tepi biasanya berbentuk limfosit yang atipik. Trombositopenia dengan jumlah trombosit ratarata 75.000/mm3 Kira-kira 10 % kasus mempunyai trombosit yang normal. Sum-sum tulang hiperseluler disebabkan infiltrasi masif dengan limfoblas, megakarioblast dan pronormoblas sangat jarang.

I.

PROGNOSIS Prognosis. Banyak gambaran klinis telah dipakai sebagai indicator prognosis, tetapi kehilangan arti karena keberhasilan terapi. Misalnya imunofenotip penting dalam mengarahan terapi kearah risiko ,tetapi arti prognostiknya telah lenyap berkat regimen terapi kontemporer .Karena itu , terapi merupakan factor prognostic tunggal yang paling penting .Hitung leukosit awal mempunyai hubungan linier terbalik dengan kemungkinan sembunyi.Umur pada waktu diagnosis juga merupakan peramal yang dapat di percaya {reliable}. Penderita berumur lebih dari 10 tahun dan yang kurang dari 12 bulan yang mempunyai penyusunan kembali {rearrangement} kromosom yang meyangkut region 11q23, jauh lebih buruk dibanding anak dari kelompok umur pertengahan {intermediate}. Beberapa kelainan kromosom mempengaruhi hasil terapi .Hiperploidi lebih dari 50 kromosom berkaitan dengan hasil terapi baik dan member respon terhadap terapi

21

berbasis antimetabolit. Dua translokasi kromosom-t { 9:22}, atau kromosom Philadelphia ,dan t{ 4:11}- mempunyai prognosis buruk .Beberapa peneliti menganjurkan CST selama remisi inisial pada penderita dengan translokasi tersebut . LLA progenitor sel-B dengan t { 1:19} mempunyai prognosis kurang baik dibanding kasus lain dengan imunofenotip ini:hanya 60% dari penderita akan remisi setelah 5 tahun jika tidak mendapat terapi sangat intensif. Prognosis ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :Umur anak-anak memiliki prognosis yang lebih baik darpada umur dewasa dan tua. Respons terhadap khemoterapi. Mereka yang berespons baik terhadap Khemo-terapi mempunyai prognosis yang lebih baik. leukemia myeloid akut adalah penyakit yang dapat disembuhkan, kemungkinan obat untuk pasien tertentu tergantung pada sejumlah faktor prognosis.

Sitogenetika
Faktor prognosis yang paling penting dalam AML Sitogenetika, atau struktur kromosom dari sel leukemia. sitogenetika kelainan tertentu yang berhubungan dengan hasil yang sangat baik (misalnya, (15, 17) translokasi pada leukemia promyelocytic akut). Sekitar setengah dari pasien AML memiliki "normal" Sitogenetika; mereka jatuh ke dalam kelompok risiko menengah. Sejumlah kelainan sitogenetika lain yang dikenal untuk berasosiasi dengan prognosis buruk dan risiko tinggi kambuh setelah pengobatan.

22

Publikasi pertama untuk alamat Sitogenetika dan prognosis merupakan pengadilan MRC tahun 1998: Kategori Risiko Kelainan 5 tahun Tingkat Relapse

kelangsungan hidup

Baik Menengah

t (8; 21), t (15, 17), inv (16)

70%

33% 50%

Normal, +8, +21, +22, del (7q), 48% del (9q), Abnormal 11q23, semua perubahan struktural atau numerik lainnya

Miskin

-5, -7, Del (5Q), Abnormal 3q, 15% Kompleks Sitogenetika

78%

Kemudian, Southwest Oncology Group dan Timur Onkologi Koperasi Group dan, kemudian masih, Kanker dan Leukemia Grup B dipublikasikan lain, kebanyakan tumpang tindih daftar ramalan Sitogenetika pada leukemia. Myelodysplastic sindrom AML yang timbul dari sindrom myelodysplastic yang sudah ada sebelumnya atau penyakit myeloproliferative (apa yang disebut''sekunder''AML) memiliki prognosis lebih buruk, seperti halnya''AML terkait pengobatan''timbul setelah kemoterapi keganasan yang lain sebelumnya. Kedua perusahaan ini berhubungan dengan tingkat tinggi kelainan sitogenetika kurang baik.

Lain penanda prognostik


Dalam beberapa penelitian, usia> 60 tahun dan peningkatan tingkat laktat dehidrogenase juga dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk. Seperti kebanyakan bentuk kanker, kinerja status (yaitu kondisi fisik umum dan tingkat aktivitas pasien) memainkan peran utama dalam prognosis juga.

23

Duplikasi tandem FLT3''''internal (ITDs) telah terbukti memberikan prognosis yang lebih buruk di AML. Mengobati pasien dengan terapi yang lebih agresif, seperti transplantasi stem-sel di remisi pertama, belum terbukti untuk meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang, sehingga fitur ini prognosis adalah signifikansi klinis tidak pasti pada saat ini. ITDs dari FLT3 dapat berhubungan dengan leukostasis. Para peneliti sedang menyelidiki signifikansi klinis KIT''''c-mutasi pada AML. Ini adalah lazim, dan secara klinis relevan karena ketersediaan inhibitor tirosin kinase, seperti imatinib dan sunitinib yang dapat memblokir aktivitas KIT''''c-farmakologi. gen lain yang sedang diteliti sebagai faktor prognosis atau target terapeutik termasuk''''CEBPA,''''BAALC,''''ERG, dan''NPM1''.

Secara keseluruhan harapan penyembuhan


Tingkat Cure dalam uji klinis telah berkisar 20-45%, namun perlu dicatat bahwa uji klinis sering termasuk pasien yang hanya muda dan orang yang mampu mentolerir terapi agresif. Tingkat menyembuhkan keseluruhan untuk semua pasien dengan AML (termasuk orang tua dan mereka yang tidak mampu mentoleransi terapi agresif) cenderung lebih rendah. Tingkat penyembuhan leukemia promyelocytic dapat setinggi 98%.

24

J.

DIAGNOSIS
Petunjuk pertama diagnosis AML biasanya hasil abnormal pada hitung darah lengkap. Sementara kelebihan abnormal sel-sel darah putih (leukositosis) adalah penemuan yang umum, dan ledakan leukemia kadang-kadang terlihat. AML juga dapat hadir dengan penurunan terisolasi di trombosit, sel darah merah, atau bahkan dengan jumlah''''sel darah putih rendah (leukopenia). Sementara diagnosis dugaan AML dapat dilakukan melalui pemeriksaan apusan darah tepi bila ada ledakan beredar leukemia, diagnosis pasti biasanya membutuhkan aspirasi sumsum tulang yang memadai dan biopsi. Sumsum atau darah diperiksa melalui mikroskop cahaya maupun flow cytometry untuk mendiagnosis adanya leukemia, untuk membedakan AML dari jenis lain leukemia (misalnya leukemia lymphoblastic akut), dan untuk mengklasifikasikan subtipe penyakit (lihat di bawah). Contoh sumsum atau darah biasanya juga diuji untuk translokasi kromosom oleh Sitogenetika rutin atau neon hibridisasi in situ. Studi Genetika juga dapat dilakukan untuk mencari mutasi spesifik dalam gen seperti FLT3, nucleophosmin, dan KIT, yang dapat mempengaruhi hasil dari penyakit. Cytochemical noda pada noda darah dan sumsum tulang sangat membantu dalam pembedaan AML dari SEMUA dan dalam subklasifikasi AML. Kombinasi dari myeloperoxidase atau Sudan noda hitam dan noda esterase non spesifik akan memberikan informasi yang diinginkan dalam banyak kasus. The myeloperoxidase atau reaksi Sudan hitam yang paling berguna dalam membangun identitas AML dan membedakan dari SEMUA. The esterase nonspesifik noda digunakan untuk mengidentifikasi komponen monocytic di AMLs dan untuk membedakan leukemia monoblastic buruk dibedakan dari SEMUA. Diagnosis dan klasifikasi AML dapat menantang, dan harus dilakukan oleh hematopathologist memenuhi syarat atau hematologi. Dalam kasus sederhana, kehadiran fitur morfologi tertentu (seperti batang Auer) atau hasil aliran tertentu cytometry dapat membedakan AML dari leukemia lain, namun tanpa adanya fitur tersebut, diagnosis mungkin lebih sulit. Menurut banyak digunakan kriteria WHO, diagnosis AML ditetapkan dengan menunjukkan keterlibatan lebih dari 20% dari darah dan / atau sumsum tulang oleh myeloblasts leukemia. AML harus hati-hati dibedakan dari "pra-leukemia" kondisi seperti sindrom myelodysplastic atau myeloproliferative, yang diperlakukan berbeda. Karena promyelocytic leukemia akut

25

(APL) memiliki hal dpt sembuh tertinggi dan membutuhkan bentuk unik pengobatan, penting untuk segera mendirikan atau mengeluarkan diagnosis ini subtipe leukemia. Fluorescent hibridisasi in situ dilakukan pada sumsum tulang darah atau sering digunakan untuk tujuan ini, karena mudah mengidentifikasi translokasi kromosom (t [15, 17]) yang menjadi ciri khas APL

Jika Anda mempunyai gejala atau hasil skrining yang mengarah ke penyakit leukemia, dokter harus mengetahui apakah gejala tersebut berasal dari kanker atau dari kondisi kesehatan yang lain. Anda akan diminta untuk menjalani tes darah dan prosedur diagnostik berikut ini:

Pemeriksaan fisik dokter akan memeriksa pembengkakan di kelenjar getah bening, limfa, limpa dan hati. Tes darah laboratorium akan memeriksa jumlah sel-sel darah. Leukemia menyebabkan jumlah sel-sel darah putih meningkat sangat tinggi, dan jumlah trombosit dan hemoglobin dalam sel-sel darah merah menurun. Pemeriksaan laboratorium juga akan meneliti darah untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda kelainan pada hati dan/atau ginjal.

Biopsi dokter akan mengangkat sumsum tulang dari tulang pinggul atau tulang besar lainnya. Ahli patologi kemudian akan memeriksa sampel di bawah mikroskop, untuk mencari sel-sel kanker. Cara ini disebut biopsi, yang merupakan cara terbaik untuk mengetahui apakah ada sel-sel leukemia di dalam sumsum tulang.

Sitogenetik laboratorium akan memeriksa kromosom sel dari sampel darah tepi, sumsum tulang, atau kelenjar getah bening. Processus Spinosus dengan menggunakan jarum yang panjang dan tipis, dokter perlahan-lahan akan mengambil cairan cerebrospinal (cairan yang mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang). Prosedur ini berlangsung sekitar 30 menit dan dilakukan dengan anestesi lokal. Pasien

26

harus berbaring selama beberapa jam setelahnya, agar tidak pusing. Laboratorium akan memeriksa cairan apakah ada sel-sel leukemia atau tanda-tanda penyakit lainnya.

Sinar X pada dada sinar X ini dapat menguak tanda-tanda penyakit di dada.

Diagnosa banding Limfositosis dapat terjadi akibat infeksi oleh virus yang terjadi pada anakanak oleh karena itu perlu dibuat diagnosa banding dengan leukemia limfoblastik akut. Pada infeksi biasanya tidak disertai dengan anemia dan trombositopenia. Mononukleosis infeksiosa yang juga disertai dengan limfositis harus dibuat diagnosa banding dengan leukemia limfoblastik akut. Limfosit pada

mononukleosis infeksiosa berbentuk limfosit atipik bukan limfoblas, pada mononukleosis tidak ada anemia dan trombositopenia. Apabila gejala trombositopeni yang sangat menonjol maka harus dibuat diagnosa banding dengan purpura trombositopeni idiopatik (P.T.I). Pada PTI tidak terdapat limfositosis akan tetapi terdapat granulositosis. Juga pada PTI tidak terdapat anemia, kecuali apabila disertai dengan perdarahan yang cukup banyak.

Dua hal yang perlu diingat yaitu : 1) Apabila seorang anak terkena suatu infeksi maka sering disertai dengan limfositosis. 2) Dalam hal yang menyulitkan diagnosa banding diselesaikan dengan

pemeriksaan sum-sum tulang, oleh karena kelainan pada sumsum tulang berupa infiltrasi limfoblas telah terjadi sejak stadium awal dari leukemia limfoblastik akut.

Secara klinis leukemia limfoblastik akut dapat menyerupai demam rheumatik karena adanya nyeri di tulang dan sendi, anemia, febris, dan tachykardia.

27

Pemberian obat salisilat kan menyembuhkan sakit sendi pada demam Rheumatik dan tidak pada leukemia. Mononukleosis infeksiosa yang selalu disertai dengan limfadenopati

hepatoslenomegali juga harus dibuat diagnosa banding secara klinis dengan leukemia limfoblstik akut.

Diagnosa pasti Anemia, trombositopenia dan limfoblastoma disertai dengan infiltrasi limfoblas dalam sumsum tulang.

Komplikasi Komplikasi dibagi menjadi dua macam yaitu akibat dari penyakitnya sendiri dan akibat dari pengobatan. Komplikasi dari penyakit : Perdarahan akibat dari trombositopenia yang sering berakibat fatal apabila terjadi

perdarahan otak. Infiltrasi sel leukemia ke otak pun dapat menyebabkan gejalagejala peninggian tekanan intrakranial. Komplikasi terapi adalah terjadinya gejala akibat pemberian kortikosteroid dalam jangka waktu lama berupa : mooface. hipertensi, osteoporosis , diabetes , gangguan keseimbangan elektrolit dan masking effect terhadap adanya infeksi. Komplikasi akibat pemberian terapi dengan terapi dengan antimetabolik menimbulkan ulserasi traktus digestivus sehingga mengakibatkan lebih mudah infiltrasi dengan berbagai macam bakteri dan jamur.

Terapi Pertama-tama perbaiki dahulu keadaan umum dengan memperbaiki kondisi anemia, trombsitopenia yang mengancam. Perbaikan keadaan umum tentu hanya dengan transfusi darah. Dapat diberikan transfusi dengan darah lengkap atau dengan transfusi dengan darah merah saja. Apabila trombositopenianya berat, maka kemungkinan perdarahan alat dalam tinggi maka diberikan transfusi darah merah saja. Terapi terhadap

28

leukemia terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap induksi dengan pemberian : Vincristin dosis satu minggu satu kali. Prednison

Apabila telah terjadi remisi yang ditandai dengan perbaikan keadaan umum dan status hematologis maka dilanjutkan dengan tahap konsolidasi .Remisi klinis adalah : perbaikan keadaan umum, tidak ada febris lagi. Remisi hematologis dimana kadar hemoglobin naik, mencapai kadar normal, jumlah lekosit menurun demikian juga trombosit menjadi normal. Jumlah limfoblas dalam sumsum tulang kurang dari 10% tahap konsolidasi ini ditujukan terhadap sel-sel leukemia yang bersarang di susunan saraf pusat yaitu dengan pemberian metotrexat intratechal + radiasi susunan saraf pusat. Setelah selesai tahap konsolidasi dilanjutkan dengan tahap pemeliharaan dengan pemberian purinethol (antagonis purin ). Kemoterapi di atas adalah salah satu protokol yang banyak dipergunakan . Apabila respon terapi di atas tidak berhasil dapat diberikan protokol lain. Tindakan yang juga dapat dilakukan adalah cangkok sumsum tulang. Mengingat bahwa respon terhadap khemoterapi pada umumnya cukup baik maka terapi dengan tindakan cangkok sumsum tulang dilaksanakan pada remisi kedua. Data WHO Darah manusia terdiri dari cairan yang disebut sebagai plasma darah, dan tiga kelompok sel darah. Kelompok sel darah itu dibedakan menjadi sel darah merah, sel darah putih, dan keping-keping darah. Sel darah putih atau leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi atau serangan penyakit lainnya. Sel darah merah atau eritrosit berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, dan membawa karbon dioksida dari jaringan tubuh kembali ke paru-paru.? Kepingkeping darah atau trombosit sangat berperan dalam proses pembekuan darah.

29

Ketika terjadi leukemia, tubuh akan memproduksi sel-sel darah yang abnormal dan dalam jumlah yang besar. Pada leukemia, sel darah yang abnormal tersebut adalah kelompok sel darah putih. Sel-sel darah yang terkena leukemia akan sangat berbeda dengan sel darah normal, dan tidak mampu berfungsi seperti layaknya sel darah normal. Penyebab leukemia sejauh ini belum diketahui. Namun banyak penelitian yang dilakukan untuk memecahkan masalah ini. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa leukemia lebih sering menyerang kaum pria dibandingkan kaum wanita, dan juga pada kelompok orang kulit putih dibandingkan dengan orang kulit hitam. Namun sampai saat ini belum diketahui mengapa hal tersebut dapat terjadi. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab leukemia misalnya tubuh sering terpapar oleh bahan kimia tertentu, sinar radiasi, serta obat-obatan (seperti pada pengobatan kanker), atau karena adanya kromosom yang abnormal (seperti pada Down syndrome). Bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan terjadinya mutasi dan akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan atau proses pembelahan sel darah putih. Gejala penyakit leukemia biasanya ditandai dengan adanya anemia. Infeksi akan mudah atau sering terjadi karena sel darah putih tidak dapat berfungsi dengan baik, rasa sakit atau nyeri pada tulang, serta pendarahan yang sering terjadi karena darah sulit membeku. Jika tidak diobati, maka akan mengakibatkan leukemia akut dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.

30

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan


Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita. Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan banyak sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya. Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah). Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih mereproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi kembali. Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol

31

(abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan. Menurut Ahmad Ramadi (1998) leukemia merupakan penyakit ganas, progresif pada organ - organ pembentukan darah yang ditandai dengan proliferasi dan perkembangan leukosit serta pendahulunya secara abnormal di dalam darah dan sumsum tulang belakang. Proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak abnormal, jumlahnya berlebihan, dapat ,menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan kematian.

Menurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan limfoid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar , pembagian leukemia adalah sebagai berikut yaitu : Leukemia limfoid : Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) Merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidensi antara umur 3 sampai 4 tahun. Manifestasi dari LLA adalah berupa proliferasi limpoblas abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular. Paling sering terjadi pada laiki - laki dibandingkan perempuan, LLA jarang terjadi (Smeltzer dan Bare, 2001). Gejala pertama biasanya terjadi karena sumsum tulang gagal menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang memadai, yaitu berupa: lemah dan sesak nafas, karena anemia (sel darah merah terlalu sedikit) infeksi dan demam karena, berkurangnya jumlah sel darah putih perdarahan, karena jumlah trombosit yang terlalu sedikit. B. Saran Diharapkan kepada seluruh masyarakat agar dapat mengetahui tanda dan gejala leukimia dan segera melakukan terapi bagi yang telah menderita leukimia. Kemudian bagi yang belum terkena leukimia dapat mengetahui pencegahan-pencegahannya.

32

DAFTAR PUSTAKA Cunningham, gary dkk.2006.Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC Buku Nelson Edisi ke 15 Behrman, kliegman dan Arvin.2000.Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 3.Jakarta : EGC Viethanurse,2009.Leukimia.diakses 19 april 2011 http://viethanurse.wordpress.com/2009/02/25/asuhankeperawatan-anak-dengan-leukemia/ News-medical,2011.Leukimia.diakses 20 april 2011 http://www.news-medical.net/health/Acute-MyeloidLeukemia-Diagnosis-%28Indonesian%29.aspx Buku Nelson Edisi ke 15 Behrman, kliegman dan Arvin.2000.Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 2.Jakarta : EGC

33

34