Anda di halaman 1dari 10

PERSPEKTIF PENDIDIKAN VOKASI DALAM

KURIKULUM 2013 DAN PERANNYA TERHADAP


PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

M. Agphin Ramadhan dan Sulaeman Deni Ramdani
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Kejuruan
Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Kampus Karangmalang, Yogyakarta 55281 Telp. +62274-550836
Email: agphin.ramadhan@gmail.com

Abstrak
Kurikulum 2013 pada pendidikan vokasi, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang siap kerja, melainkan menghasilkan
insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Salah satu tantangan ke depan bagi
SMK adalah bagaimana meningkatkan kontribusi pendidikan vokasi bagi pembangunan
Indonesia, khususnya pembangunan ekonomi. Thompson (1973) menyatakan bahwa
vocational education is economic education as it geared to the needs of the job marked
and thus contributed to the national economic growth. Pendidikan vokasi pada
dasarnya adalah pendidikan untuk menumbuhkan atau menggerakkan kegiatan ekonomi,
karena pendidikan vokasi dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja dan jelaslah
hal ini akan memberikan sumbangsih positif bagi dunia kerja produktif yang
menghasilkan barang dan komoditi yang mempunyai nilai ekonomi. Untuk itulah dengan
diberlakukannya Kurikulum 2013 diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut.
Makalah ini akan menyajikan tentang perkembangan SMK di Indonesia, implementasi
kurikulum 2013 pada pendidikan vokasi, khususnya SMK, dan upaya-upaya yang dapat
memaksimalkan kontribusi SMK dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
Pendahuluan
Pertumbuhan ekonomi sangat penting bagi suatu negara. Pertumbuhan
ekonomi tinggi diyakini mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, strategi yang dianggap efektif
adalah dengan melakukan industrialisasi. Dalam prosesnya industrialisasi
membutuhkan tenaga-tenaga kerja terampil (skilled workers) yang tidak hanya
mampu mengoperasikan teknologi tersebut, melainkan juga memeliharanya. Oleh
karena, dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi, pendidikan vokasi
menjadi penting.
Pendidikan vokasi pada awal sejarahnya berkembang di berbagai negara.
Sebagai contoh, pengembangan pendidikan vokasi sudah dimulai pada Mesir
Kuno sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Program-program magang yang
terorganisir (apprenticeship) mencakup belajar kemampuan dasar menulis dan
membaca karya sastra. Hal tersebut sebagai usaha awal penggabungan antara
belajar di kelas untuk kemampuan-kemampuan dasar dan belajar langsung di
tempat kerja. Cara ini sempat menyebar ke berbagai bagian dunia lain sampai
sekitar abad ke-19 (Ana: 2009).
Sedangkan di Cina, perkembangan pendidikan vokasi di mulai pada Masa
Konfusianisme, akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Tujuan pendidikan
pada masa itu adalah untuk menciptakan sebuah tatanan sosial yang ideal dimana
orang bisa hidup dalam harmoni, rasa hormat dan ketulusan (konfusianisme).
Pendidikan Vokasi diajarkan oleh orang tua masyarakat kelas bawah. Filsafat
Pendidikan Vokasi diperkenalkan oleh Mo Tzu (476 390 SM). Ia berpendapat
bahwa pendidikan vokasi jangan hanya fokus pada keahlian melainkan juga pada
ilmu pengetahuan, moral, dan bagaimana menciptakan makna (Schmidtke,C., &
Chen,P. :2012).
Di Indonesia, awal perkembangan pendidikan vokasi bermula ketika
zaman pejajahan Belanda. Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) tahun 1830 dan
Sistem Liberal tahun 1870 yang dilaksanakan Pemerintah Belanda di tanah
jajahannya, Hindia Belanda, merupakan politik pengerukan keuntungan yang luar
biasa. Dan dari sinilah muncul Politik Etika yang dicanangkan Ratu Belanda
dalam sidang parlemen Belanda tahun 1901. Sejak pencangan Politik Etika inilah,
pemerintah Balanda berusaha mengembangkan ekonomi agar memiliki anggaran
sendiri dan akhirnya dari pendidikanlah unsur yang perlu dibenahi dan dibangun.
Pendidkan vokasi adalah salah satu di dalamnya, dimana dari sekolah vokasi akan
diperoleh lulusan dengan keahlian teknik. Pada permulaannya, pendidikan vokasi
yang pertama kali adalah Sekolah Pertukangan, sekolah yang merupakan sarana
yang digunakan untuk memajukan pertukangan di Indonesia (Supriadi: 2002).
Seiring berjalannya waktu, kini pendidikan vokasi memasuki tahap baru,
dimana menyesuaikan dengan kurikulum yang telah ditetapkan pemerintah, dalam
hal ini Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan hasil evaluasi terhadap
KTSP dan menjadi penguat dalam peningkatan kompetensi yang seimbang antara
sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Kompetensi
nantinya bukan penguatan pada kognitif saja namun memuat sikap, pengetahuan,
dan keterampilan yang merupakan dasar dari kompetensi inti. Pada Kurikulum
2013 proses pembelajaran berbasis pada kompetensi yang didukung oleh 4 pilar
aktivitas pembelajaran, yaitu: produktif, kreatif, inovatif, dan afektif pada
penekanan penguatan soft skill (Dit.PSMK: 2013).
Khusus untuk SMK, berdasarkan Struktur Kurikulum Pendidikan
Menengah SMK, ada 7 isu terkait dengan hal ini, yaitu: (1). Ujian Nasional
sebaiknya tahun ke XI sehingga tahun ke XII konsentrasi ke ujian sertifikasi
keahlian (2). Bidang keahlian yang tidak sesuai dengan kebutuhan global (3).
Penambahan life and career skills (bukan sebagai mata pelajaran) (4). Perlunya
melibatkan pengguna (industri terkait) dalam penyusunan kurikulum (5).
Pembelajaran SMK berbasis proyek dan sekolah terbuka bagi siswa untuk waktu
yang lebih lama dari jam pelajaran (6). Keseimbangan hard skill dan soft skill dan
(7). Perlunya membentuk kultur sekolah yang kondusif. Isu-isu tersebut tidak
menutup kemungkinan nantinya akan diterapkan di SMK.
Hadirnya kurikulum 2013 jelas membawa beberapa elemen perubahan.
Berdasarkan Bahan Uji Publik November 2012, elemen perubahan pada SMK
antara lain: pada kurikulum ini jumlah jam pelajaran normatif dan adaptif
dikurangi sedangkan porsi mata pelajaran produktif ditambah. Pada proses
pembelajaran, kompetensi keterampilan akan disesuaikan dengan trend
perkembangan DU/DI. Termasuk penambahan jenis keahlian berdasarkan
spektrum kebutuhan global dan tetap memperhatikan hard skill dan soft skill.
Perubahan-perubahan di atas dimaksudkan untuk memberikan kontribusi
maksimal agar dihasilkan lulusan SMK yang sesuai dengan tujuan Kurikulum
2013. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah implementasi
Kurikulum 2013 pada SMK?, bagaimana perannya terhadap pembangunan
ekonomi?, serta upaya-upaya apa saja yang dapat memaksimalkan kontribusi
SMK dalam pembangunan ekonomi Indonesia?. Tulisan ini akan memaparkan
tentang perspektif pendidikan vokasi dalam Kurikulum 2013 dan perannya
terhadap pembangunan ekonomi Indonesia.
Kajian Pustaka

.
Pembahasan
Perkembangan SMK di Indonesia
Perkembangan pendidikan vokasi di Indonesia dibagi menjadi 2 periode,
yaitu: Pra Kemerdekaan dan Pasca Kemerdekaan. Pada periode Pra Kemerdekaan,
pendidikan vokasi di Indonesia berawal dari pemikiran Ratu Belanda yaitu Politik
Etika (Etische Politiek) merupakan bentuk pertanggungjawaban politik
Pemerintah Belanda terhadap Hindia Belanda (Indonesia) atas diberlakukannya
Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) tahun 1830 dan Sistem Liberal tahun 1870
yang dilaksanakan Pemerintah Belanda.
Pendidikan kejuruan yang pertama kali adalah Sekolah Pertukangan,
sekolah yang merupakan sarana yang digunakan untuk memajukan pertukangan di
Indonesia, kemudian berkembang lagi Pendidikan Kejuruan Pertanian yaitu
sekolah yang berkonsentrasi pada kursus untuk pendidikan pertanian praktis.
Kemudian dibangun Pendidikan Kejuruan Teknik, dimana banyak sekali keahlian
yang dikembangkan seperti keahlian bangunan, keahlian pertambangan,
pendidikan masinis, dan lain-lain. Inilah sejarah singkat mengapa ada pendidkan
kejuruan dan bagaimana prosesnya, walaupun bagaimana juga pendidikan yang
awalnya oleh pemerintah Belanda hanya untuk kebangsaan Eropa dan China,
tetapi akhirnya mereka mengembangkan untuk masyarakat Pribumi (Supriadi:
2002).
Seperti yang dijelaskan Supriadi (2002) dalam bukunya Sejarah
Pendidikan Teknik dan Vokasi di Indonesia, pada periode Pasca Kemerdekaan,
pendidikan vokasi dibagi menjadi tiga babak yaitu: Pertama, tahun 1945-1968
yaitu sejak diproklamasikan kemerdekaan Indonesia sampai sebelum pelaksanaan
Pelita I. Pada periode ini mulai dilakukannya pendekatan ke masyarakat akan
pentingnya pendidikan (social demand approach). Pendidikan vokasi dianggap
mampu menghasilkan tamatan yang dapat langsung bekerja namun keadaan
sekolah kejuruan memprihatinkan dengan fasilitas yang sangat minim. Pendidikan
vokasi yang dikenal pada saat itu adalah STM dan SMEA.
Kedua, pelaksanaan Pelita tahun 1969/1970 hingga akhir Pelita VI tahun
1997/1998. Pada masa ini dilakukan pendekatan kebutuhan tenaga kerja
(manpower demand approach) secara terbatas, proses mencari bentuk yang tepat
untuk pendidikan teknisi industri. Saat itu, pertumbuhan ekonomi di Indonesia
sedang baik dengan tingkat pertumbuhan 7% per tahun, sehingga diperlukan
banyak tenaga kerja untuk mengisi kekosongan di dunia kerja. Akan tetapi
pendidikan kejuruan hanya mampu mengisi 50% saja kebutuhan. Dan keterlibatan
dunia industri di pendidikan kejuruan belum melembaga secara formal.
Pendidikan vokasi pada masa itu terdiri dari vokaasi bidang industri (STMP,
SMEA Pembina, SMTK 4 tahun), dan juru teknik (STM-BLPT, SMEA,SMKK).
Digunakan pula pendekatan kebutuhan masyarakat (untuk sekolah yang belum
direhabilitasi): SMEA, SMKK,SMPS, SMM, SMIK, dan SMSR. Pada Pelita VI
diperkenalkan kebijakan baru untuk pembangunan pendidikan, yang disebut Link
and Match. Dalam pelaksanaannya diberlakukan Pendidikan Sistem Ganda di
SMK.
Ketiga, periode reformasi tahun 1998 yang berlanjut dengan
dilaksanakannya otonomi daerah sejak tahun 2001 hingga sekarang. Pada periode
ini momentum pertumbuhan kuantitatif pendidikan kejuruan semakin meningkat.
Hubungan dengan pihak industri semakin baik. Pemerintah sudah sangat
menyadari pentingnya mengembangkan pendidikan teknologi dan kejuruan di
Indonesia. Kita semua mengetahui bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat
besar untuk tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang sejahtera. Di samping
sumberdaya alam yang kaya, Indonesia memiliki tenaga kerja dalam jumlah yang
berlimpah. Agar potensi tersebut dapat menjadi sumber daya pembaruan, yang
diperlukan pendidikan yang bermutu dan relevan. Begitu pula dengan Diklat
Kejuruan dituntut untuk mampu meningkatkan kompetensi generasi muda
Indonesia yang akan memasuki dunia kerja, melatih ulang dan meningkatkan
kompetensi mereka yang sudah bekerja, selaras dengan perkembangan teknologi
dan perubahan pasar kerja.

Implementasi Kurikulum 2013 pada SMK
Sebagaimana konsep pendidikan vokasi adalah pendidikan menengah
yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang
tertentu. Untuk itu, Pendidikan vokasi di SMK, hendaknya tidak hanya
mempersiapkan peserta didik sebagai pemenuhan (to fit) dan persiapan (to
prepare) kebutuhan pasar, melainkan pendidikan vokasi harus berfungsi sebagai
pendidikan yang mengembangkan (to develop) keterampilan, kemampuan,
pemahaman, sikap, etos kerja, dan apresiasi yang diperlukan oleh pekerja untuk
masuk dan membuat kemajuan dalam pekerjaan secara berguna dan produktif
(Maclean, 2009). Hal inilah yang diangkat oleh Kurikulum 2013, agar
menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui
penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Berdasarkan Sistem EPIK (Elektronik Pemantauan Implementasi
Kurikulum 2013) total ada 1142 SMK yang terdata sebagai sekolah sasaran
implementasi Kurikulum 2013, sedangkan sampai Agustus 2013 Kurikulum 2013
SMK sudah memasuki tahap implementasi bertahap-terbatas pada Kelas X di
1021 SMK di seluruh wilayah Indonesia. Langkah awal yang telah dilakukan
untuk persiapan implementasi Kurikulum 2013 SMK adalah melakukan
Pendidikan dan Pelatihan kepada pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah
serta unsur-unsur lain yang terlibat langsung dalam proses pendidikan. Untuk
mempercepat peningkatan pemahaman dan penguasaan keterampilan
mengimplementasikan kurikulum tersebut, diprogramkan kegiatan pendampingan
untuk para guru dan kepala sekolah. Program pendampingan dilakukan sebagai
penguatan untuk memahami konsep Kurikulum 2013 dengan berbagai
perubahannya dalam implementasi di lapangan, serta untuk membantu mengatasi
berbagai kendala yang muncul pada saat kurikulum tersebut diimplementasikan di
sekolah. Program pendampingan ini juga merupakan upaya menuju implementasi
Kurikulum 2013 secara meluas, sehingga pada Juni 2016 akan dilakukan
penilaian menyeluruh terhadap pelaksanaan kurikulum ini secara nasional.
Ada beberapa faktor pendukung implementasi Kurikulum 2013 di SMK,
antara lain: Pertama, kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
dengan kurikulum yang diajarkan dan buku teks yang dipergunakan. Kedua,
ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang mengintegrasikan
keempat standar pembentuk kurikulum. Ketiga, penguatan manajemen dan
budaya sekolah. Keempat, penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan
pengawasan. Dan terakhir, kerja sama yang baik antara SMK dengan DU/DI
sehingga terjalin link and match.
Namun, pada pelaksanaannya ada beberapa temuan permasalahan dalam
pengimplementasian Kurikulum 2013. Sebagai contoh pada proses pembelajaran,
total 48 jam per minggu di tambah Mulok dirasa memberatkan baik oleh guru
maupun peserta didik, pendekatan scientific tidak dapat dilaksanakan disemua
pelajaran, regulasi pelaksanaan praktik Industri dan Ujian Nasional belum
sepenuhnya ada kejelasan, SMK masih belum siap untuk langsung terjun ke
industri demikian juga dukungan industri pada pelaksanaan prakerin selama 6
bulan belum mendapat tanggapan positif dari pihak industri (FGD Implementasi
Kurikulum 2013 FPTK UPI).
Dengan demikian, implementasi Kurikulum 2013 di SMK masih harus
dibenahi, mulai dari kesiapan dan kompetensi tenaga pendidik, manajemen dan
budaya sekolah, dan kebijakan pemerintah dalam memperbaiki dan
mengembangkan kekurangan yang selama ini terjadi pada proses implementasi
Kurikulum 2013.

Upaya Memaksimalkan Kontribusi SMK dalam Pembangunan Ekonomi
Indonesia SMK harus memperluas fungsinya dari fungsi tunggal menjadi SMK
Model yang menyelenggarakan fungsi majemuk yang selaras dengan
kemajemukan kebutuhan masyarakat.
Hasil-hasil penelitian mengenai peran pendidikan dalam pembangunan
ekonomi menunjukkan bahwa investasi di bidang pendidikan berkontribusi
terhadap pembangunan ekonomi, seperti yang telah disimpulkan oleh Boediono
dan McMahon (2001). Joesoef, J.R, dkk (2007) dalam jurnalnya yang berjudul
Peran SMK dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah: Sebuah Analisis
Makroekonomi menyatakan bahwa SMK berperan positif dalam pertumbuhan
ekonomi daerah. Peran ini dapat dilacak dari tiga hal yang saling berurutan yaitu:
(1) preferensi masyarakat terhadap SMK, (2) kapasitas SMK bagi lulusan SMP,
dan (3) kemampuan SMK dalam mencetak lulusan yang berkualitas. Senada
dengan hasil penelitian sebelumnya, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Ke-juruan (2008) melakukan penelitian yang menyimpulkan bahwa terdapat
hubungan positif antara rasio siswa SMK dan Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Selain itu, hasil penelitiannya juga menemukan bahwa terdapat
hubungan yang positif antara rasio siswa SMK dan laju pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan pemaparan di atas, jelaslah bahwa pendidikan vokasi
memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Selanjutnya,
bagaimana cara memaksimalkan kontribusi SMK dalam pembangunan ekonomi?.
Menurut Slamet, P.H (2012) upaya-upaya yang dapat memaksimalkan kontribusi
pendidikan kejuruan untuk pembangunan ekonomi dapat dilakukan dengan 4 cara,
yaitu: menawarkan pendidikan kejuruan berdasarkan karakteristik Indonesia,
penguatan link and match dengan dunia kerja, mengintegrasikan soft skill ke
dalam pembelajaran, dan menerapkan pendidikan kewirausahaan.
Pertama, menawarkan pendidikan kejuruan berdasarkan karakteristik
Indonesia. Ilmu-ilmu yang diajarkan kepada peserta didik pendidikan vokasi
semestinya ilmu-ilmu yang cocok untuk memfasilitasi pengembangan peserta
didik agar menjadi manusia seutuhnya dan ilmu-ilmu yang sesuai dengan
karakteristik Indonesia sebagai-mana disebut sebelumnya. Keduanya sama-sama
diperlukan dan jangan sampai terpeleset mengorbankan salah satu.
Mengorbankan pengembang-an eksistensi peserta didik berarti men-dehumanisasi
manusia dan mengem bangkan peserta didik yang tidak ada keselarannya dengan
kebutuhan masyarakat, khususnya dunia kerja, akan membuat pendidikan vokasi
terisolasi dan terlepaskan dari kait-annya dengan masyarakat, terutama dengan
dunia kerja. Jika ini terjadi, maka pendidikan vokasi tidak ber-peran sama sekali
terhadap pemba-ngunan masyarakat.
Kedua, Memperkuat kemampuan soft skills
peserta didik pendidikan vokasi me-lalui berbagai ragam cara. Secara ma-
tematis, soft skills = kualitas intraper-sonal + keterampilan interpersonal.
Kualitas intrapersonal adalah kuali-tas batiniah (kualitas rohaniah) ma-nusia yang
bersumber dari dalam lu-buk hati manusia yang dimensi-di-mensinya meliputi
antara lain keren-dahan hati, harga diri, integritas, tang-gung jawab, komitmen,
motivasi diri, rasa keingintahuan, menyukai apa yang belum diketahui (umumnya
ma-nusia menyukai apa yang sudah di-ketahui), kejujuran, kerajinan, kasih sayang
(cinta sesama), disiplin diri, kontrol diri, kesadaran diri, dapat di-percaya, dan
berjiwa kewirausahaan dimana yang terakhir ini umumnya bersumber dari
pendidikan yang me-merdekakan manusia sehingga tidak tertekan dan menjadi
kreatif yang aki-batnya menjadi inovatif dan mampu membentuk jiwa
kewirausahaan ma-nusia. Tentu saja masih banyak di-mensi kualitas
intrapersonal yang la-in, tetapi terlalu banyak untuk dise-but satu per satu.
Keterampilan inter-personal adalah keterampilan yang berkaitan dengan
hubungan antar-manusia yang dimensi-dimensinya meliputi antara lain
bertanggung jawab atas semua perbuatannya, si-kap hormat/respek kepada orang
lain, perdamaian, kecintaan kepada sesama, komunikasi yang mengenak-kan,
kepemimpinan, kerjasama/kerja kelompok, kehalusan berbudi, sosia-bilitas,
solidaritas, toleransi/tenggang rasa, bijaksana, beradap, berani ber-buat benar
meskipun tidak populer, demokratis, sikap adil, sikap tertib, dan masih banyak
dimensi-dimensi keterampilan interpersonal lainnya yang terlalu banyak untuk
disebut satu per satu. Istilah soft skills sangat erat kaitannya dengan istilah-
istilah lain, seperti karakter, akhlak, budi pekerti, kecerdasan emosi, nilai-nilai
kehidupan (living values), moralitas, personality, dan employability skills bagi
yang sudah bekerja. Sepanjang ber-urusan dengan hubungan antarma-nusia
yang dilandasi oleh humanitas, itu disebut soft skills.

Simpulan
Daftar Pustaka
Ana, dkk. (2009). Sejarah Pendidikan Teknologi dan Vokasi. Makalah, tidak
diterbitkan, UPI, Bandung.
Boediono & McMahon. (2001). Pembangunan Pendidikan untuk Mendukung
Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Schmidtke,C., & Chen,P. (2012). Philosophy of Vocational Education in China: A
Historical Overview. Journal of Philosophy of Education, --,--
Supriadi, Dedi. (2002). Sejarah Pendidikan Teknik dan Vokasi di Indonesia.
Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
Direktorat Pembinaan SMK. (2013). Petunjuk Teknis Pendampingan Kurikulum
2013 Sekolah Menengah Vokasi.
Direktorat Pembinaan SMK. (2008). Peran SMK dalam Mendukung Pertumbuhan
Ekonomi Daerah.
Focus Group Disscussion Implementasi Kurikulum 2013. (2013, 7 Oktober).
Diambil pada tanggal 26 November 2013, dari
http://fptk.upi.edu/2013/10/07/focus-group-disscussion-implementasi-kurikulum-
2013-2/
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Sekolah Sasaran Implementasi
Kurikulum 2013. Diambil pada tanggal 26 November 2013, dari
http://kurikulum.kemdikbud.go.id/public/school
Jalal, Fasli, & Supriadi, Dedi. (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks
Otonomi Daerah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Thompson, John F. (1973). Foundation of Vocational Education Social and
Philosophical Concepts, New Jersey: Prentice-Hall.
Joesoef, J.R., dkk. (2007). Peran SMK dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi
Daerah: Sebuah Analisis Makroekonomi. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan.