Anda di halaman 1dari 22

I.

PENDAHULUAN

A. Fungsi Malam Gigi
Malam gigi (dental wax) pada mulanya digunakan di kedokteran gigi sejak
awal abad 18 sebagai bahan cetak. Dalam perkembangan selanjutnya, malam
digunakan untuk berbagai prosedur klims dan laboratoris. Sebagai contoh, untuk
membuat pola malam gigi tiruan cekat (wax pattern), mereposisi gigi tiruan
sebagian yang patah (sticky wax), dan membatasi cetakan sebelum diisi gips
(boxingin wax).

B. Komponen Malam Gigi
Malam adalah bahan termoplastis, berbentuk padat pada suhu kamar tetapi
meleleh tanpa mengalami dekomposisi dan membentuk cairan kental pada suhu
yang lebih tinggi. Malam yang berasal dari alam (natural waxes) ataupun sintetis
(synthetic waxes) memiliki sifat fisis dan kimawi yang berbeda-beda.
Perlu dilakukan pencampuran beberapa jenis malam untuk mendapatkan
malam gigi dengan sifat yang sesuai dengan kebutuhan. Malam gigi biasanya
terdiri dari dua atau lebih komponen, dapat berupa malam alami atau sintetis, resin,
minyak (oils), lemak (fats), dan pigmen. Komponen utama malam gigi berupa
malam alami atau sintetis (Tabel I).
Dahulu, malam dikiasifikasikan berdasarkan asalnya, yaitu : mineral,
turnbuhan, insekta, dan binatang. Kiasifikasi yang lebih baik wialah berdasarkan
komposisi kimiawinya. Dua kelompok utama bahan organik yang terkandung dalam
malam adalah hidrokarbon dan ester. Malam terdiri dan kombiriasi bahan organik
yang kompleks dan mempunyai berat molekul yang tinggi. Komposisi setiap jenis
malam sangat bervariasi, tergantung sumbernya dan saat pengambilannya.

Tabel I: Komponen malam gigi
MALAM ALAMI MALAM SINTETIS BAHAN TAMBAHAN
1. MINERAL
Parafin
Mikrokristalin
Barnsdahl
Ozokerite
Ceresin
Montan
2. TUMBUNAN
Camauba
Ouricury
Acrawax C
Aerosol OT
Castorwax
Durawax 1032
Asam stearat
Gliseril tristearat
Minyak
Terpentin
Resin alami
Rosin
Copal
Damar
Shellac
Resin sintetis
Candelilla
Japan wax
Cocoa butter
3. INSEKTA
Beeswax
4. HEWAN
Spermaceti
Polietilena
Polistirena

1. Malam alami
a. Parafin (Paraffin)
Asal : fraksi petroleum (minyak bumi) dengan suhu tinggi.
Komposisi : hidrokarbon jenuh rantai lurus , mengandung 26 - 30 atom
karbon (C).
Titik lebur : 40 - 71 C. Akan meningkat bila berat molekul (BM)
bertambah dan akan menurun bila mengandung minyak.
Parafin kedokteran gigi mengandung minyak 0,5%.
Sifat : Beberapa hidrokarbon mengalami perubahan kristal saat
pendinginan. Bentuk kristal berubah dan jarum ke plat pada
suhu 5 - 8 C di bawah titik lebur. Selama pemadatan dan
pendinginan terjadi kontraksi volumetrik 11-15%.

b. Mikrokristalin (Microcrystalline)
Asal : fraksi petroleum
Komposisi : Hidrokarbon rantai bercabang, dengan atom karbon 41 - 50.
Titik lebur : 60-91C.
Sifat : Hampir sama dengan parafin, tetapi lebih tough (tegar) dan
fleksibel. Perubahan volume selama pengerasan lebih kecil
daripada parafin. Memiliki afinitas terhadap minyak.
Kekerasan dan kelekatannya dapat diubah dengan
menambahkan minyak.
c. Ceresin
Asal : Destilasi petroleum alami yang dimumikan
Komposisi : Hidrokarbon rantai lurus dan bercabang.
Sifat : Memiliki BM dan kekerasan yang lebih tinggi dan yang tidak
dimurnikan.
Fungsi : Meningkatkan titik lebur parafin.


d. Carnauba & Komposisi Titik lebur
Komposisi : Campuran ester rantai lurus, alkohol, asam dan hidrokarbon
Titik lebur : Carnauba 84 -91 C
Ouricury 79- 84C
Sifat : keras, getas, dan titik lebur tinggi.
Fungsi : Memiliki kualitas yang baik dalam meningkatkan titik lebur
dan kekerasan parafin. Carnauba lebih efektif daripada
ouricury. Contoh : parafin bila ditambah 10% carnauba wax
maka titik leburnya akan meningkat dari 20 ke 46C.

e. Candelilla Komposisi
Komposisi : 40-60% hidrokarbon parafin yang mengandung 29-33 atom
C, alkohol, asam, ester, dan lactones.
Titik lebur : 68-75C
Fungsi : Mengeraskan parafin.
Tidak efektif untuk meningkatkan titik lebur parafin.

f. Japan wax & Cocoa butter
Bukan malam asli tetapi terutama berupa lemak.
Komposisi : Japan wax terdiri dan glisenda asam palmitat dan stearat,
asam dengan BM tinggi. Cocoa butter berupa lemak yang
terdiri dan gliserida asam stearat, palmitat, oleat, dan laurat
dan asam lemak rendah lainnya.
Sifat : Japan wax bersifat tough, malleable, dan lekat. Titik lebur 5
1C. Cocoa butter bersifat getas pada suhu kamar.
Fungsi : Japan wax bila dicampur parafin akan memperbaiki
tackiness dan emulsifying ability. Cocoa butter untuk proteksi
terhadap dehidrasi janngan lunak. proteksi temporer semen
ionomer kaca dan kelembaban selama pengerasan dan
kekeningan setelah mengeras.

g. Beeswax
Malam insekta yang terutama digunakan di kedokteran gigi.
Komposisi : Campuran ester kompleks, terutama mengandung mirisil
palmitat, hidrokarbon jenuh dan tak jenuh, serta asam
organik dengan BM tinggi.
Titik lebur : 63 -70 C
Sifat : Getas pada suhu kamar, plastis pada suhu tubuh.
Fungsi : 1. memodifikasi sifat parafin.
2. komponen utama sticky wax.

2. Malam Sintetis
Banyak digunakan di kedokteran gigi, tetapi malam alami masih
menupakan komponen utama. Malam sintetis berupa bahan organik kompleks
dengan komposisi kimiawi yang berfariasi. Meski secara kimiawi berbeda
dengan malam alami, sifat fisisnya seperti malam alami. Kemurnian malam
sintetis Iebih tinggi dari malam alami.
CONTOH : 1. Polietilena
2. Polioksietilena glikol
3. Hidrokarbon halogenasi
4. Hidrogenasi
5. Ester hasil reaksi asam dan fatty alcohol

C. Sifat Malam
1. Rentang lebur (melting range)
Malam kedokteran gigi lebih cenderung mempunyai melting range
danpada melting point karena malam tersebut terdiri dan molekul yang sama
tetapi berat molekulnya berbeda, atau beberapa tipe molekul yang berbeda dan
masing-masing memiliki variasi berat molekul.
Sebagai contoh titik lebur parafin 44 - 62 C, titik lebur carnauba wax 50 -
90 C. Campuran parafin 75% dan carnauba 25% memiliki titik lebur yang
berbeda.
2. Suhu transisi padat-padat (solid-solid transition temperature)
Bila malam dipanaskan hingga di bawah titik lebur, terjadi transisi
padatpadat yaitu perubahan struktur kristal lattice yang stabil (biasanya
orthorombik) menjadi heksagonal. Pada keadaan tersebut malam dapat
dimampulasi tanpa menyerpih, robek atau stress. Transisi padat-padat ini juga
menentukan sifat fisis dan kesesuaian malam untuk berbagai prosedur klinis
dan laboratoris. Malam yang harus tetap kaku bila ada dalam mulut, hams
memiliki suhu transisi padatpadat di atas 37C.
3. Ekspansi termis (thermal expansion)
Seperti bahan lain, malam akan mengembang/ekspansi bila suhu
meningkat dan akan mengkerut/ kontraksi bila suhunya menurun. Koefisien
ekspansi termis malam lebih besar danpada bahan lain di kedokteran gigi. Sifat
ekspansi termis linier bahan malam dapat dijelaskan berdasarkan kekuatan
ikatan valensi sekunder dan titik transisi. Malam yang berasal dari mineral
umumnya mempunyai koefisien ekspansi lebih besar dan malam tumbuhan.
Malam mineral ikatan valensi sekundemya lemah, bila suhu meningkat terjadi
pergerakan yang lebih besar pada komponennya, maka ekspansi termalnya
lebih besar. Ekspansi tennis mi berpengaruh terhadap ketepatan restorasi yang
dibuat. Sebagai contoh, malam dengan koeisien ekspansi tennis 350 x 10 / C
bila didinginkan dan suhu 37 ke suhu 20 derajat celcius akan mengalami
pengkerutan linier sebesar hampir 0,6%.
4. Kekuatan mekanis
Modulus elastisitas, limit proporsional, dan kekuatan kompresi malam
lebih rendah daripada bahan lain. Sifat mekanis tersebut sangat dipengaruhi
oleh suhu.
5. Daya alir (flow)
Bila malam diberi beban pada waktu tertentu, akan terjadi deformasi atau
perubahan bentuk. Deformasi plastis dan prosentase daya alimya tergantung
temperatur. Di bawah suhu transisi, daya alirnnya rendah. Daya alir im penting
untuk malam inlay yang polanya dikerjakan secara direct. Pada suhu 5 derajat
di atas suhu mulut, daya alirnya harus besar, tetapi pada suhu mulut /37 derajat
harus tidak ada daya alirnya.
6. Stres internal (Internal stress)
Stres internal sering juga disebut residual stress. Malam memiliki
konduktivitas panas rendah, sehingga sukar mencapai pemanasan yang
merata. Bila malam dicetak atau dibentuk tanpa pemanasan yang cukup di atas
suhu transisi padat-padat, maka akan terjadi stress dalam bahan. Bila malam
dipanaskan, terjadi pelepasan stress dan mengakibatkan distorsi.

II. MALAM GIGI

A. Klasifikasi
Malam gigi dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, seperti tampak
pada Tabel II.

Tabel II: Klasifikasi malam gigi
Pola (pattern) Pemrosesan (processing) Rahan cetak (impression)
Inlay
Casting
Sheet
ready shapes
wax-up
Baseplate
Boxing
Utility
Sticky
Corrective
Bite

Malam pola digunakan untuk membuat model restorasi gigi dengan bentuk
dan ukuran yang ditentukan, kemudian dibuat cetakan dan corlcasting dengan
bahan aloi emas, aloi mkel kromium, atau resin. Malam pemrosesan terutama
digunakan sebagai alat tambahan pada pembuatan alat restorasi gigi, baik di klinik
maupun laboratorium. Malam sebagai bahan cetak sekarang digunakan secara
terbatas untuk mencetak rahang yang tidak bergigi dan undercut, umumnya
dikombinasikan dengan bahan cetak lain seperti zink oksida eugenol.

B. Malam Pola
1. Inlay pattern wax
Guna : malam pola untuk restorasi gigi inlay, mahkota dan
jembatan.
Komposisi : Komponen utamanya adalah parafin, mikrokristalin, ceresin,
carnauba, candelilla, dan beeswax. Contoh : parafin 60%,
carnauba 25%, ceresin 10%, beeswax 5%.
Jenis : hard, medium/regular, dan soft, menunjukkan daya alirnya.
Daya alir dapat dikurangi dengan menambahkan carnauba
atau parafin dengan titik lebur tinggi. Daya alir dapat juga
diatur dengan menambahkan 1% resin.
Sediaan : warna biru tua, hijau, dan ungu sehingga kontras dengan
warna gigi. Bentuk batang/tongkat panjang 7,5 cm dan
diameter 0,64 cm. Ada juga bentuk pelet dan konus.
Sifat : akurasi dan kualitas casting sangat tergantung pada akurasi
dan detil pola malam, dengan demikian malam perlu
memiliki sifat-sifat fisis yang penting. Spesifikasi ANSI/ADA
no. 4 untuk inlay direct dan indirect. Malam bila dipanaskan
akan mencair dan menguap, diharapkan tidak ada sisa,
sehingga akan menghasilkan casting yang sempurna.
Residu maksimum malam inlay adalah 0,10%. Ekspansi
termal limer maksimal pada suhu 25 -30 C adalah 0,2% dan
suhu 25-37 adalah 0,6%. Inlay pattern bertendensi
mengalami warp atau distorsi. Malam inlay terdiri dan 2 tipe,
Tipe I Hard untuk direct technic, dan Tipe II yang lebih lunak
untuk indirect technic.

2. Casting wax
Fungsi : pola kerangka logam gigi tiruan.
Komposisi : komposisi yang tepat tidak diketahui, tetapi hampir sama
dengan inlay wax.
Sediaan : berbentuk lembaran (tebal 0,32 - 0,4 mm), bentuk jadi, dan
gumpalan (bulk).
Sifat : lunak dan dapat diadaptasikan pada suhu 40 - 45 C. Agak
lengket dan terfiksasi pada model keija gips. Mencetak
dengan akurat permukaan yang dilekatinya. Tidak getas
waktu didinginkan. Menguap pada suhu 500C dan tidak
meninggalkan lapisan kecuali karbon.

3. Baseplate war
Fungsi : (1) menentukan dimensi vertikal rahang pada pembuatan
gigi tiruan lengkap, dan (2) malam pola plat dasar gigi tiruan
lengkap dan sebagian, serta alat orthodonsi.
Komposisi : Terdiri dan 70 - 80% parafin I ceresin.
Contoh : Ceresin 80%, Beeswax 12%, Carnauba wax 2,5%, Resin
3%, dan Mikrokristalin 2,5%.
Sediaan : Bentuk lembaran berukuran 7,6 x 15 x 1,3 cm, wama merah
atau merah muda. Ada 3 tipe, tipe I (lunak), tipe II (sedang),
dan tipe III (keras).
Sifat : Syarat yang harus dipenuhi baseplate wax.
a. Ekspansi thermis limer pada suhu 25-40C lebih kecil
dari 0,8%.
b. Tidak mengiritasi jaringan mulut.
c. Tidak flaky / menyerpih dan melekat di jan.
d. Mudah diukir pada suhu 23C.
e. Permukaan halus setelah di flaming (disentuhkan pada
api).
f. Tidak berbekas pada porselen dan gigi tiruan.
g. Tidak mewamai gigi.
Terjadi residual stress pada perlekatan gigi tiruan dan
disekitar gigi tiruan, karena perbedaan suhu, pooling wax
dengan spatula panas, dan manipulasi di bawah suhu
transisi. Model malam harus segera di proses agar
akurasinya terjaga.

C. Malam untuk Pemrosesan
1. Boxing wax
Fungsi : boxing ( memberi batas) cetakan pada waktu diisi gips.
Sediaan : batang atau strip berwama hitam atau hijau.

2. Carding wax
Fungsi : melekatkan gigi artifisial pada plat display.

3. Utility wax
Fungsi : dilekatkan pada sendok cetak untuk memperbaiki kontur.
Komposisi : Beeswax, petrolatum dan malam lunak lain.
Sediaan : bentuk batang atau lembaran berwama merah ma atau oranye.

4. Sticky wax
Fungsi : Menyambung melekatkan patahan protesa gigi resin (reparasi)
dan logam (soldering).
Komposisi : Rosin, beeswax, pewarna, dan resin alami.
Sediaan : warna gelap atau terang.
Sifat : Pada suhu kamar bersifat getas, kuat dan tidak Iengket. Bila
dicairkan bersifat Iengket dan melekat kuat pada permukaan
bahan. Residu < 0,2%. Pengkerutan < 0,5% dari suhu 43 ke
28C. Daya alir pada suhu 30C maksimum 5%, dan pada suhu
43C minimum 90%.

D. Malam untuk Cetak
1. Corrective impression wax
Fungsi : wax veneer pada cetakan untuk mendapatkan detil jaringan
lunak.
Komposisi : malam hidrokarbon (parafin, ceresin, dan beeswax) dan partikel
logam.
Sifat : Daya alir 100% pada suhu 37C.
Distorsi waktu dikeluarkan dari mulut.

2. Bite registration wax
Fungsi : mendapatkan artikulasi akurat dan rahang atas dan bawah.
Komposisi : dibuat dari casting wax sheet atau hard base plate wax. Terdiri
dari beeswax atau malam hidrokarbon (parafin & ceresin).
Beberapa malam jenis ini mengandung aluminium dan copper.
Sifat : Daya alir pada suhu 37C adalah 2,5% -22%.
Distorsi waktu dikeluarkan dari mulut.

E. Cara Pelunakan Malam Gigi
Malam gigi dapat dilunakkan dengan 3 cara, yaitu dry heat, waterbath, dan di
atas api.
1. Dry heat
Alat yang digunakan adalah oven atau annealer. Malam dimasukkan ke
dalam alat dengan temperatur tertentu hingga malam menjadi lunak sesuai
yang diinginkan. Cara ini menyebabkan pelunakan malam yang merata
sehingga memberikan hasil yang terbaik.
2. Waterbath
Alat yang digunakan adalah waterbath yang telah diisi air dengan
temperatur tertentu. Malam dimasukkan ke dalam waterbath hingga lunak
sesuai yang diinginkan. Cara ini memiliki 3 kelemahan. Pertama, akan
terbentuk titik-titik air di permukaan malam, sehingga bila malam dipanaskan
kembali akan terjadi percikan air tersebut. Kedua, Akan terbentuk lapisan
malam saat dilakukan pemolesan. Ketiga, Dapat terjadi distorsi model malam
karena adanya perubahan temperatur.
3. Di Atas Api
Alat yang digunakan adalah lampu spiritus. Malam diletakkan pada udara
panas di atas nyala api hingga berkilat (shiny) kemudian dijauhkan. Perlakuan
tersebut diulang-ulang untuk bagian demi bagian malam hingga hangatnya
merata dan malam menjadi lunak secara keseluruhan. Pelunakan malam
dengan cara mi sulit menghasilkan malam yang pelunakannya merata.


1. PENGERTIAN POLIMER DAN POLIMERISASI
Polimer adalah suatu rantai molekul yang panjang, yang tersusun dan
banyak unit atau monomer yang berulang. Proses terbentuknya monomer menjadi
rantai panjang polimer adalah melalui suatu reaksi kimiawi yang disebut
polimerisasi. Pada reaksi polimerisasi molekul dengan berat molekul yang kecil,
bersama-sama akan membentuk suatu molekul barn dengan berat molekul yang
jauh lebih besar. Monomer itu sendiri berarti unit yang paling kecil yang menyusun
suatu rantai polimer.
Sebagai contoh, di kedokteran gigi salah satu polimer yang banyak
digunakan adalah resin akrilik atau disebut juga polimetil metakrilat (PMMA).
Melalui reaksi polimerisasi bahan tersebut awalnya tersusun dan monomer metil
metakrilat yang berat molekulnya kecil.

ASAL POLIMER
a. Didapatkan di alam : protein, misal poliamida, polipeptida
asam nukleat, misal DNA dan RNA
polisakhanida, misal agar, alginate
poli isoprene, misal karet
b. Didapatkan sebagai hasil produksi pabrik atau laboratorium melalui suatu reaksi
kimia: misal resin akrilik.

2. MEKANISME POLIMERISASI
a. Kondensasi: Yaitu suatu reaksi kimia terbentuknya molekul kecil menjadi
molekul yang lebih besar. Pada akhir polimerisasi akan terthpat hasil samping,
misal air.
b. Adisi: Yaitu suatu reaksi kimia terbentuknya molekul kecil menjadi molekul yang
lebih besa. Pada akhir polimensasi tidak terdapat hasil samping. Pada cara
polimensasi im akan terbentuk radikal bebas, sehingga mekanisme polimensasi
adisi sering pula disebut dengan polimerisasi adisi radikal bebas.

MONOMER SISA
Satu hal yang penting diketahui adalah bahwa reaksi polimerisasi
merupakan suatu proses kimia yang tidak pernah dapat berakhir dengan
sempuma, meskipun reaksi tersebut sudah dikendalikan dengan sangat teliti. Misal
sudah menggunakan perbandingan bahan yang benar, menggunakan cara
polimerisasi yang sesuai termasuk dengan suhu yang terkontrol, tetapi hasil
polimerisasi tetap tidak akan bisa sempurna. Ketidak sempurnaan hasil
polimerisasi ini ditinjau dari sisi adanya sejumlah konsentrasi monomer sisa.
Monomer sisa (residual monomer) adalah monomer yang pada akhir
polimerisasi tidak habis bereaksi menjadi polimer. Monomer sisa akan terdapat
pada semua hasil akhir polimensasi, baik dengan mekanisme kondensasi maupun
dengan mekanisme adios radilkal bebas. Besar atau kecilnya konsentrasi monomer
sisa sangat tergantung pada kecermatan melakukan polimerisasi.
Makin besar konsentrasi monomer sisa tentunya akan memberikan efek
negatif. Pengaruh negatif monomer sisa bisa terjadi pada kekuatan polimer, yaitu
dengan menyebabkan menururmya kekuatan polimer. Selain itu bisa menimbulkan
efek negatif pada pemakai polimer tersebut, tetapi hal ini tergantung pada sifat
biologik atau biokompatibilitas monomernya.

STRUKTUR POLIMER
a. Lurus : monomer akan berjejer-jejer membentuk suatu rantai panjang polimer
b. Bercabang : monomer selain berjejer membentuk rantai panjang polimer, juga
akan membentuk cabang atau rantai
c. Cross-Linked: disebut juga net work, karena monomer selain berbentuk rantai
yang lurus juga mempunyai banyak cabang, sehingga membentuk suatu
jala. Biasanya pada polimerjenis cross-linked mempunyai copolimer.yaitu
mempunyai monomer lebih dari satu. Misal etil akrilat.

3. MEKANISME POL1MERISASI ADISI RADIKAL BEBAS
Dibedakan menjadi empat tahapan, yaitu:
a. Aktivasi:
Pada tahap ini, inisiator (misal bensoil peroksida) akan terurai dan
membentuk radikal bebas. Yang dimaksud radikal bebas athlah senyawa
dengan ikatan rangkap, yaitu berupa elektron yang tidak mempunyai pasangan.
Secara kimiawi senyawa radikal bebas bersifat sangat reaktif.
Tahap aktivasi dapat dilakukan dengan menggunakan bermacam-macam
aktivator, yaitu bahan kimia, sinar ultra violet, sinar tampak, panas yang terjadi
karena perebusan, atau gelombang elektromagnetik.
b. Inisiasi:
Pada tahap ini proses polimerisasi dimulai, yaitu dengan bereaksinya
radikal bebas dengan monomer.
c. Propagasi:
Merupakan kelanjutan dan tahap inisiasi, yaitu bereaksinya radikal bebas
dengan monomer. Radikal bebas akan terus bereaksi dengan monomer-
monomer yang masih ada untuk memperpanjang rantai polimer.
d. Terminasi:
Pada tahap terakhir ini polimerisasi sudah berakhir, yaitu dengan
bertemunya dua radikal bebas untuk membentuk molekul yang stabil.

RESIN AKRILIK
1. SYARAT IDEAL POLIMER BASIS GIGI TIRUAN
Pada dasarnya tidak ada bahan yang betul-betul sempurna, tetapi secara
ideal ada beberapa syarat yang dapat digunakan sebagai standar dipakainya
suatu jenis polimer untuk basis gigi-tiruan, yaitu:
a. Biokompatibilitas baik, artinya tidak mengandung komponen atau senyawa
penyusun yang bersifat toksik atau iritatifbagi pemakai.
b. Tidak akan terpengaruh oleh cairan mulut maupun cairan yang berasal dan
makanan, artinya bahan tersebut tidak akan mengalami kelarutan.
c. Tidak menimbulkan terjadinya tarnis maupun korosi.
d. Mempunyai sifat fisik maupun mekamk yang baik, antara lain dapat
menerima beban pengunyahan
e. Mempunyai warna yang alami, baik dan stabil, artinya tidak mengalami
perubahan warna selama pemakaian, baik karena memudar warnanya
maupun karena pengaruh makanan minuman.
f. Mudah untuk dikerjakan, termasuk mudah untuk dilakukan reparasi.
g. Tidak menjadi tempat pertumbuhan mikrorganisme
h. Mudah untuk dibersihkan
i. Harga relative murah
j. Tidak mengalami perubahan dimensi, baik karena polimerisasi, maupun
karena pemakaian yang telah lama.
k. Tidak menimbulkan bau yang tidak sedap
l. Dapat melekat baik dengan bahan lain, baik plastik, logam maupun porselin
m. Radiopak, apabila gigitiruan atau pecahan gigi tiruan yang secara tidak
langsung tertelan oleh pemakai, hal tersebut dapat terlihat melalui
gambaran dan sinar X.
SIFAT POLIMER
Dipengaruhi antara lain, oleh:
1. Berat molekul : makin besar berat molekul makin baik sifat fisiknya
2. Derajat polimerisasi : makin besar derajat polimerisasi polimer, makin baik
sifat fisiknya
3. Ko-polimer : penambahan ko-polimer dalam susunan bahan akan
menaikkan sifat fisiknya
4. Cross-link: penambahan bahan cross-link dalam susunan polimer akan
membuat polimer lebih tahan terhadap pelarut
5. Plasticiser: penambahanplasticiser menjadikan polimer menjadi lunak dan
fleksibel.

2. TAHAPAN PADA MANIPULASI RESIN AKRILIK
Pada waktu melakukan pencampuran bubuk dan cairan, maka akan
terjadi empat tahapan sebagai berikut:
a. Sandy: adonan akan menyerupai pasir
b. Sticky: bubuk mulai berpenetrasi ke dalam cairan dan menghasilkan
adonan yang bersifat lengket dan lunak
c. Dough: bubuk yang berpenetrasi ke dalam cairan makin banyak dan
menghasilkan adonan yang bersifat plastis . Ciri tahap mi , tidak
menempelnya adonan pada dinding stelon pot. Disebut pula tahap gel, dan
merupakan tahap paling tepat untuk dimasukkan ke dalam cetakan. tahap
mi merupakan pula waktu kerja.
d. Rubbery : pada tahap im cairan sudah habis dan adonan menjadi seperti
karet, dan bersifat elastis. Apabila adonan pada tahap mi dimasukkan
dalam cetakan, sudah tidak dapat digunakan lagi karena adonan suthh
menjadi sangat keras.

TAHAP DOUGH TERGANTUNG:
1. Ukuran partikel bubuk, makin kecil partikelnya makm cepat proses
pelarutan dan terbentuknya tahap dough.
2. Berat molekul polimer, makin kecil berat molekulnya, makin cepat terjadinya
tahap dough.
3. Apakah ada plasticiser atau tidak dalam susunan bahan, karena pemakaian
plasticizer.cenderung akan mengurangi lamanya tahap dough
4. Suhu yang tinggi (misal dengan menyimpan resin akrilik dalam lemari
pendingin), dapat memperlambat terjadinya tahap dough
5. Perbandingan bubuk dan cairan. Dengan perbandingan yang lebih banyak
bubuknya, akan memperpendek waktu dough

3. POROSITAS SEBAGAI KEGAGALAN POLIMERISASI
Porositas merupakan salah satu kegagalan yang paling sering terjadi
pada hasil polimerisasi.
Ada yang membedakan porositas menjadi porositas internal dan
eksternal. Ada yang membedakan menjadi:
a. Shrinkage porosity: gelembung udara yang tidak beraturan ukurannya dan
tersebar di seluruh polimer dan pada permukaannya
b. Gaseous porosity: gelembung udara yang kecil-kecil cenderung sama
ukurannya dari terlihat terutama pada bagian atau sisi yang tebal. Hal mi
terjadi karena pemanasan dan luar yang tidak merata

FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA POROSITAS
a. Pemanasan yang terlalu cepat.
Keadaan ini terjadi karena adanya kontraksi suhu, misal adanya perubahan
suhu yang mendadak, dan suhu ruang ke suhu pemanasan. Pada kondisi
ini akan terlihat pada polimer athnya gelembung udara yang tidak
beraturan (contraction porosity).
b. Pemanasan yang terlalu singkat
Memungkinkan terdapatnya konsentrasi monomer sisa yang cukup tingi.
Terjadinya penguapan monomer terdapat menimbulkan terdapatnya
gelembung udara di seluruh polimer
c. Pencampuran bubuk dan cairan yang tidak merata
Terlihat porositas yang besar dan tidak merata atau terlokalisir. Keadaan mi
terjadi karena partikel bubuk belum sempurna larut dalam cairan, sehingga
partikel bubuk masih terlihat dengan jelas.

d. Tekanan yang kurang
Pemberian tekanan yang kurang pada saat proses polimerisasi
memungkinkan terbentuknya gelembung udara pada permukaan polimer.
e. Distribusi panas yang tidak merata
Bagian yang dekat dengan sumber panas (dinding kuvet / logam), akan
mendapat panas yang cukup banyak. Sebaliknya, bagian yang kurang
mendapat sumber panas, akan menyebabkan terbentuknya gelembung
udara (gaseous porosity)
f. Pemanasan yang melampaui titik didih air
Metil metakrilat mendidih pada titik didih 100,3 C, sehingga apabila
pemanasan melampaui titik didih air dan mencapai titik didih metal
metakrilat, maka monomer metil metakrilat akan menguap dan
meninggalkan gelembung udara.

AKIBAT POROSITAS
a. Polimerjadi lebih mudah menyerap air
b. Kekuatan (sifat mekanik) jadi berkurang
c. Stabilitas dimensi dapat berubah
d. Menurunkan estetika, karena pada permukaan polimer terlihat ada lubang-
lubang atau gelembung-gelembung kecil
e. Menimbulkan suasana rongga mulut yang tidak sehat. Dengan adanya
porositas, menjadikan polimer jadi sukar dibersihkan. Sisa makanan dengan
mudah tertinggal thiam cekungan atau lubang-lubang porus. Akibatnya
penyikatan atau pembersihan gigitiruan jadi sukar, dan lebih jauh dapat
berakibat pada suasana rongga mulut yang tidak sehat.

4. RESIN AKRILIK KURING PANAS
Disebut juga Heat Curing Acrylic Resin, dan mempunyai komposisi bahan
sebagai berikut:
a. Bubuk : Polimetil metakrilat
Bensoil peroksida (inisiator)
Pigmen
b. Cairan : Metil metakrilat
Hidrokinon (menjaga agar tidak terjadi polimemrisasi pada saat
dalam penyimpanan. Etilen glikol dimetakrilat sebagai cross-link
Perbandingan bubuk dan cairan adalah 3 : 1 berdasarkan volume atau 2 :
1 berdasarkan berat

SIFAT
a. Tidak larut dalam air maupun cairan mulut
b. Dapat menyerap air, dengan titikjenuh setelah 17 han
c. Dapat larut dalam ester, keton dan juga alkohol. Pada permukaan resin
akrilik yang larut karena pelarut organik akan terlihat adanya garis retak,
disebut crazing
d. Dapat mengalami pengkerutan karena proses pemanasan
e. Konsentrasi monomer sisa cukup tinggi, yaitu sekitar 0,2 0,5 %
f. Ketahanan terhadap impaksi dan kelelahan (fatique) cenderung kurang baik
g. Estetika sangat baik, sifat im merupakan keunggulan dan resin akrilik.
h. Sangat mudah untuk dilakukan reparasi
i. Ketahanan terhadap abrasi kurang memuaskan
j. Permukaan polimer dapat menjadi perlekatan mikrorganisme

PENGISIAN CETAKAN DAN PEMANASAN
Sebelum mulai mencampur bubuk dan cairan disiapkan terlebih dahulu
cetakan yang disebut kuvet. Bahan dasar untuk membuat kuvet berbeda-beda,
ada yang dan logam, ada pula yang dan poliester. Jems kuvet mi tergantung
dari cara aktivasinya resin akrilik.
Di dalam kuvet terdapat cetakan rahang dan gip yang disebut mould.
Sebelum campuran bahan dimasukkan dalam mould, permukaan mould (gip)
diolesi dengan bahan separasi (mould lining / separating medium). Jems yang
biasa digunakan adalah Cold Mould Seal.
Fungsi mould lining, yaitu agar:
a. Monomer dan resin akrilik tidak masuk ke dalam gip
b. Air dan gip tidak masuk ke dalam resin akrilik
Pengisian mould hams dilakukan dengan benar, untuk itu beberapa ha!
yang perlu diperhatikan adalah sebagai benkut:
a. Jumlah adonan hams lebih dan cukup untuk bisa mengisi seluruh cetakan
rahang
b. Sebelum kuvet ditutup, d.iatas adonan diletakkan selembar plastik
cellophan (bahan polietilen) yang fungsinya untuk mencegah terjadinya
perlekatan antara model dan kontra-model
c. Setelah kuvet ditutup, pada kuvet harus diben cukup tekanan. Pemberian
tekanan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada adonan untuk
dapat bergerak atau mengalir untuk mengisi rahang
d. Tekanan dihentikan sampai tidak ada lagi sisa adonan resin akrilik yang
mengalir ke luar melalui tepi kuvet. Selain itu perlu diperhatikan bahwa
kuvet bagian atas dan bagian bawah sudah menutup dengan sempurna.
Ada beberapa macam teori tentang suhu dan lama pemanasan resin
akrilik. Persamaannya adalah bahwa semua menggunakan waterbath untuk
pemanasannya.
a. 740 C selama 16 jam
b. 72 C selama 2 jam untuk kemudian dilanjutikan dengan menaikkan suhu
menjadi 100 C, juga selama 2 jam
c. 740 C selama 9 jam, tanpa suhu mendidih
d. untuk praktikum digunakan cara modifikasi
Setelah pemanasan, kuvet tidak boleh langsung dibuka, tetapi supaya
didiamkan sampai mendingin dengan sendirinya. Mendinginkan kuvet dengan
cara mengaliri kuvet dengan air dingin, dapat menyebabkan terjadinya
pengkerutan pada gigitiruan. Hal mi disebabkan karena ada perubahan suhu
yang mendadak.

5. RESIN AKRILIK KURING DINGIN
Disebut juga : Autopolymerising Acrylic Resin atau Chemically Activated
Acrylic Resin. Resin akrilik mi menggunakan aktivasi bahan kimia dan
polimerisasi terjadi pada suhu ruang.

KOMPOSISI
a. Bubuk : Polimetil metakrilat
Bensoil peroksida (inisiator)
Pigmen
b. Cairan : Metil metakrilat
Hidrokinon
N-N-p-Toluidin (activator)
Etilen glikol dimetakrilat (cross-link)
SIFAT (dibandingkan dengan resin akrilik kuring panas)
a. Waktu polimerisasi sangat smgkat dan caranya sangat mudah, karena
dapat teijadi dalam suhu kamar
b. Konsentrasi monomer sisa relatifagak tinggi, sekitar 3 5 %
c. Kemungkinan terjadinya porositas lebih banyak
d. Penyerapan air lebih besar
e. Berat molekul lebih kecil, sehingga kekuatan mekaniknya juga tidak terlalu
baik. Kurang Iebih 80 % - nya resin akrilik kuring panass.
f. Agak lunak
g. Ketepatan dimensi kurang baik
h. Digunakan terutama untuk melakukan reparasi rebasing atau relining pada
basis gigi tiruan

Yang penting untuk difahami adalah bahwa cara aktivasi resin akrilik kuring
dingin sangat berbeda dengan resin akrilik kuring panas. Aktivasi terjadi
dengan cara sebagai berikut bensoil peroksida bereaksi dengan n-n-p-toluidin
untuk kemudian menghasilkan radfikal bebas. Dan reaksi mi terjadi dalam suhu
kamar.

6. RESIN AKIULIK GELOMBANG MIKRO
Untuk polimerisasinya menggunakan kuvet yang berbeda bahannya
dengan resin akrilik resin kuring panas. Untuk aktivasi gelombang mikro
digunakan kuvet dan bahan poliester, dan bukan dari logam. Tempat
pencampuran bubuk dan cairan juga berbeda, karena tidak dilakukan dengan
stellon pot (bahjan porselin), tetapi dengan piring petri (bahan gelas).
Pada polimerisasi cara konvensional, tenaga panas berasal dari luar, dan
suhu pemanasan tidak sama mencapai puncaknya pada akhir polimenisasi.
Dengan cara polimensasi konvensional, relatif masih banya monomer yang
belum habis bereaksi, sehingga konsentrasi monomer sisa cukup besar, dan
akibatnya kekuatan mekanik tidak ideal.
Pada polimerisasi dengan aktivasi gelombang mikro, panas berasal dan
dalam. Suhu pemanasan sangat terkontrol dalam arti dapat memberikan pamis
yang sama selama proses polimerisasi. Dengan cara ini, konsentrasi monomer
sisa relative sedikit
SIFAT (dibandingkan dengan resin akrilik kuring panas)
a. Perubahan wama yang terjadi sedikit
b. Ketepatan hasil jauh lebih besar
c. Secara statistik, sebetulnya tidak ada perbedaan terhadap sifat mekaniknya
(kekuatannya).

KEUNTUNGAN:
a. Waktu polimerisasi sangat singkat, kurang lebih hanya l5memt
b. Proses kerja jauh lebih bersih
c. Cara kerjajugajauh lebih mudah
d. Konsentrasi monomer sisa lebih sedikit

KERUGIAN:
a. Memerlukan kuvet dan oven yang khusus
b. Memerlukan bahan ( bubuk dan cairan) yang jauh lebih mahal

7. RESIN AKRILIK SINAR TAMPAK
Disebut juga Visible Light Cured Acrylic Resin. Tidak terdiri dari bubuk
dan cairan, tapi berupa lapisan / lembaran. Tidak memeriukan tempat
pengadukan, serta tidak perlu kuvet, karena gip cetakan rahang langsung
dimasukkan dalam oven sinar tampak.

SIFAT (dibandingkan dengan resin akrilik kunng panas).
a. Polimerisasi hanya memerlukan waktu yang singkat, kurang lebih sekitar
20 menit.
b. Proses dapat dilakukan dalam ruang praktek, yaitu dengan menyediakan
oven sinar tampak di dalam ruangan
c. Ketepatan hasil sangat baik
d. Sifat fisik dan mekanik secara umum baik
e. Dapat menyerap banyak air, dan hal ini menjadi kerugiannya.

8. TISSUE CONDITIONER
Digunakan sebagai pelapis gigi tiruan yang mukosa penyangganya
sedang mengalami iritasi atau sedang ada luka. Jadi maksud penggunaannya
adalah agar bagian mukosa yang sedang luka, tidak langsung berkontak
dengan basis gigi tiruan
Dapat dikerjakan di wang praktek Bahan hanya dapat berfungsi untuk
waktu yang relatifpendek, yaitu sekitar 3 han, dan bila masih diperlukan dapat
diganti lagi

KOMPOSISI:
a. Bubuk : polimetil metakrilat
b. Cairan: etil alkohol

SIFAT:
a. Pada suhu mulut menjadi slunak
b. Bersifat sangat elastic
c. Sangat viskus
d. Campuran bersifat gel dan mengalir sesuai dengan bentuk anatomi rahang
e. Menghambat pertumbuhan bakteri mulut , bahkan beberapa produk ada
yang mempunyai kemampuan mempercepat penyembuhan lika.
f. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi

9. REPARASI, RELINING DAN REBASING
Merupakan bahan yang digunakan untuk memperbaiki basis gigitiruan
yang rusak, dalam arti pecah atau patah, sehingga ada fragmen yang hilang,
atau bisa juga karena gigi tiruan menjadi longgar.
Reparasi: Dilakukan pada basis gigitiruan yang patah atau pecah, yang
diperbaiki dengan cara menyambung kembali.
Relining: Dilakukan pada basis gigitiruan yang pada bagian tepinya menjadi
longgar (karena gingiva mengalami atrophi), dan diperbaiki dengan memben
tambahan bahan pada bagian tepi, sehingga basis gigitinian menjadi cekat
kembali
Rebasing: Dilakukan pada basis gigitiruan yang bagian dasamya menjadi
Ionggar (mukosa atropbi). Untuk itu diperbaiki dengan memberi tambahan
bahan sebagai penebalan pada bagian dasar, agar gigitiruan menjadi cekat
kembali.


SYARAT BAHAN:
a. Tidak menimbulkan perubahan dimensi
b. Mempunyai kekuatan yang baik
c. Mempunyai ikatan yang baik (fisiko mekanik) dengan bahan lain
d. Dapat dikerjakan dengan cepat, di ruang praktek.

10. AKIBAT BIOLOGIK PEMAKAIAN RESIN AKRILIK
Perlu hati-hati dalam bekerja dengan menggunakan bahan polimer (resin
akrilik), karena dapat menimbulkan respon biologik, khususnya terhadap
operator. Pada waktu bekerja diwajibkan untuk menggunakan sarung tangan
dan juga masker penutup hidung dan mulut.
Monomer metil metakrilat bersifat sangat mudah menguap, sehingga uap
mudah terhisap dan masuk dalam saluran pernafasan.