Proses dan Aplikasi Resin Akrilik dalam Kedokteran Gigi
Proses dan Aplikasi Resin Akrilik dalam Kedokteran Gigi
(polimer). Polimerisasi dapat terjadi karena panas, cahaya, oksigen, dan zat kimia. Resin acrylic dapat
berolimerisasi oleh karena panas atau cahaya. Polimerisasi merupakan proses yang lama dan sesungguhnya
tidak pernah selesai. Polimerisasi pada suhu tinggi menghasilkan berat jenis yang lebih rendah daripada
bahan yang dihasilkan polimerisasi pada suhu rendah. Ada dua tipe polimerisasi, yaitu polimerisasi adisi dan
polimerisasi kondensasi. Bila molekul sejenis bergabung menjadi ikatan yang lebih panjang, maka disebut
polimrisasi adisi. Tipe ini banyak dipakai pada kedokteran gigi, missal: resin acrylic. Bila molekul yang
berlainan bergabung dan membentuk molekul ketiga yang sama sekali berbeda pada keadaan awal, disebut
polimerisasi kondensasi. Polimerisasi sempurna terjadi dalam empat tahap:
a. Initiation Tahap pembentukan molekul monomer aktif oleh initiator benzoil peroxide yang dibantu
dengan activator (zat kimia, sinar ultraviolet,atau pemanasan).
b. Propagation Tahap terbentukknya rantai polimer.
c. Termination Tahap pembentukan polimer dimana reaksinya terhenti, yang ditandai dengan pertukaran
sebuah atom hydrogen dari satu rantai yang terbentuk pada rantai lain.
d. Chain Transfer Proses dimana pertumbuhan rantai menjadi aktif kembali untuk pertumbuhan
selanjutnya.
I.3. Permasalahan
I.3.1. Bagaimana klasifikasi resin?
I.3.2. Apa saja syarat resin dalam kedokteran gigi?
I.3.3. Bagaimana komposisi dan sifat resin akrilik?
I.3.4. Bagaimana cara manipulasi resin akrilik?
I.3.5. Apa sajakah pengaplikasian resin akrilik dalam kedokteran gigi?
I.5. Learning Objevtive
I.5.1.
I.5.2.
I.5.3.
I.5.4.
I.5.5
II.1.Klasifikasi resin
Berdasarkan asalnya resin dapat dibedakan menjadi resin alami dan sintetik. Resin alami merupakan
bahan yang disekresikan oleh tumbuhan dan serangga tertentu, misalnya rosin (Harty, 1987). Sedangkan
resin sintetik terdiri dari campuran bahan-bahan kimia dengan struktur kimia yang mengacu pada resin
alami.
Dari sifat termalnya, resin dibagi lagi menjadi resin termoplastik dan termosetting. Resin
termoplastik, seperti kompoun cetak dan akrilik, melunak ketika di panaskan melebihi temperatur transisi
kaca (Tg), kemudian dapat dibentuk dan dengan pendinginan akan mengeras dalam bentuk tersebut. namun,
pada pemanasan ulang bahan dapat melunak kembali dan dapat dibentuk kembali bila diperlukan. Setelah
itu, resin termosetting, merupakan resin yang menjadi keras secara permanen bila dipanaskan melebihi
temperatur kritis dan tidak melunak kembali pada pemanasan ulang (Phillips, 1996).
Sesuai dengan skenario, resin akrilik merupakan resin sintetik termoplastik. Resin akrilik sendiri
memiliki beberapa klasifikasi berdasarkan cara polimerisasinya:
1. Heat cured acrylic resin : resin akrilik yang menggunakan pemanasan untuk polimerisasi.
2. Self cured acrylic resin : resin akrilik yang menggunakan akselerator kimia untuk polimerisasi yaitu
dimetil-para-toluidin.
3. Light cured resin : resin akrilik yang menggunakan sinar tampak untuk polimerisasi.
II.2. Syarat resin dalam KG
Semua dental material harus memenuhi syarat-syarat fundamental sebelum dapat digunakan secara
klinis pada pasien, tidak terkecuali resin akrilik. Berikut adalah syarat-syarat standar dental material:
1. Biologis : tidak memiliki rasa, tidak berbau, tidak toksik, dan tidak mengiritasi jaringan rongga mulut,
tidak boleh larut dalam saliva atau cairan lain yang dimasukkan ke dalam mulut, dan tidak dapat
ditembus cairan mulut.
2. Fisik : memiliki kekuatan dan kepegasan serta tahan terhadap tekanan gigit atau pengunyahan, tekanan
benturan, serta keausan berlebihan yang dapat terjadi di dalam rongga mulut. Resin akrilik jugalah harus
stabil dimensinya dibawah semua keadaan, termasuk perubahan termal serta variasi-variasi dalam
beban.
3. Estetik : menunjukkan transluensi atau transparansi yang cukup sehingga cocok dengan penampilan
jaringan mulut yang digantikan, harus dapat diwarnai atau dipigmentasi, dan harus tidak berubah warna
atau penampilan setelah pembentukan.
4. Karakteristik penanganan : tidak boleh menghasilkan uap atu debu toksik selama penanganan dan
manipulasi, mudah diaduk, dimasukkan, dibentuk, dan diproses, mudah dipoles, dan pada keadaan patah
yang tidak disengaja, resin harus dapat diperbaiki dengan mudah dan efisien.
5. Ekonomis : biaya resin dan penanganannya haruslah rendah, dan proses tersebut tidak memerlukan
Secara umum polimer resin akrilik terdiri dari poli (metil metakrilat), initiator (0.2-0.5% benzoil
peroksida), pigmen (merkuri sulfat, cadmium selenit, ferric oxide), plasticizer (dibutil ptalat), opacifiers
(zinc atau titanium oxide), bahan tambahan berupa serat sintetis organik (serat nilon atau serat akrilik)
dan anorganik (serat kaca, zirkonium silikat). Untuk resin akrilik jenis self cured , ada bahan tambahan
aktivator berupa amin tersier, sedangkan pada light cured terdapat aktivator berupa camphoroquinone.
Monomer
Monomer resin akrilik terdiri dari metil metakrilat, stabilizer (0.003 0.1% metil ether hydroquinone
untuk mencegah terjadinya proses polimerisasi selama penyimpanan), plasticizer (dibutil pthalat), bahan
untuk memacu ikatan silang (cross-linking agent) yaitu etilen glikol dimetakrilat (EGDMA). Cross-link
agent ini berpengaruh pada sifat fisik polimer dimana polimer yang memiliki ikatan silang bersifat lebih
keras dan tahan terhadap pelarut (Chanaka, 2010)
II.4. Manipulasi resin akrilik
Manipulasi adalah suatu bentuk tindakan atau proses rekayasa terhadap sesuatu dengan menambah
ataupun mengurangi variabel yang berkaitan guna mencapai sifat fisik maupun mekanik yang dikehendaki.
Sebelum diaplikasikan pada pasien, resin akrilik harus diolah dan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga
memenuhi kriteria pengaplikasian klinis yang baik. Secara umum, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam memanipulasi resin akrilik, antara lain:
1. Perbandingan monomer dan polimer
Perbandingan yang umum digunakan adalah 3,5 : 1 satuan volume atau 2,5 : 1 satuan berat. Bila
monomer terlalu sedikit maka tidak semua polimer sanggup dibasahi oleh monomer akibatnya akrilik
yang telah selesai berpolimerisasi akan bergranul. Sebaliknya, monomer juga tidak boleh terlalu
banyak karena dapat menyebabkan terjadinya kontraksi pada adonan resin akrilik.
2. Pencampuran
Polimer dan monomer dengan perbandingan yang benar dicampurkan dalam tempat yang
tertutup lalu dibiarkan beberapa menit sampai mencapai fase dough.( SK Khindria ,2009) . Pada saat
pencampuran ada empat tahapan yang terjadi, yaitu:
1. Sandy stage adalah terbentuknya campuran yang menyerupai pasir basah.
2. Sticky stage adalah saat bahan akan merekat ketika bubuk mulai larut dalam cairan dan berserat
ketika ditarik.
3. Dough stage adalah saat konsistensi adonan mudah diangkat dan tidak melekat lagi, dimana
tahap ini merupakan waktu yang tepat untuk memasukkan adonan ke dalam mould dan
kebanyakan dicapai dalam waktu 10 menit.
4. Rubber hard stage adalah tahap seperti karet dan tidak dapat dibentuk dengan kompresi
konvensional.
3. Pengisian
Tahap ini disebut juga dengan packing, yaitu tahap penuangan resin kedalam mould. Pada
proses manipulasi yang perlu diperhatikan pada tahap pengisian ini adalah ketepatan bahan
mengisi rongga mould. dengan pengisian pada rongga mould secara bertahap. Pada tahap
selanjutnya setelah dilakukan pengisian pada rongga mould adalah dilakukannya press dengan
pada kuvet. Kekuatan press yang diberikan pada kuvet sebesar 1000 psi selama 5 menit
kemudian sebesar 2200 psi selamat 5 menit juga. Selama proses press ini biasanya ditemukan
flash, yaitu adanya kelebihan bahan. Flash ini harus dibersihkan dan dipisahakan dengan bagian
resin yang mengisi mould. Setelah dilakukan ini tahap berikutnya adalah dilakukannya curing.
4. Curring.
Proses curring adalah proses terjadinya pengerasan, dimana setiap jenis resin akrilik memiliki
spesialisasi tersendiri.
Heat cured acrylic resin : yaitu terjadinya curring yang diaktivasi oleh adanya panas.
Self cured acrylic resin : curring cukup dapat dilakukan pada suhu ruang karena adanya
aktivator amin tersier.
Light cured resin : proses curring dicapai dengan dipaparkannya cahaya tampak.
II.5. Aplikasi resin akrilik dalam KG
Resin akrilik merupakan salah satu bahan kedokteran gigi yang telah banyak aplikasikan untuk
pembuatan anasir dan basis gigi tiruan, pelat ortodonsi, sendok cetak khusus, serta restorasi mahkota dan
jembatan dengan hasil memuaskan, baik dalam hal estetik maupun dalam hal fungsinya. Selain itu resin
digunakan untuk reline dan perbaikan prostesa, gigi palsu parsial. Resin juga telah digunakan untuk retainer
ortodontik dan perangkat removable gigi , pelindung mulut dari bruxism, mahkota gigi. (philis, 2003)
Resin akrilik digunakan sebagai bahan restorasi karena memilki kelebihan yaitu daya alir tinggi,
aplikasi mudah setting dengan light-cured selama 10 menit, dan menghasilkan permukaan yang sangat halus
dan mengkilat. Digunakam sebagai sendok cetak karena dibuat untuk menyesuaikan lengkung tertentu
sehingga sering disebut sendok cetak individual. Sebagai alat ortodonsi lepasan karena dipakai sebagai plat
dasar alat ortodontik lepasan yang berupa lempengan plat akrilik berbentuk melengkung mengikuti
permukaan palatum atau permukaan lingual lengkung mandibula. Jenis resin yang dipakai adalah heat
curing dan cold curing. Bahan dari cold curing memiliki berat molekul lebih rendah sehingga
pengkerutannya lebih sedikit namun memiliki porositas lebih banyak sehingga kekuatannya lebih
rendah.Sebagai reparasi yaitu bahan yang biasa digunakan adalah jenis self-cured dan heat-cured. Bias juga
digunakan sebagai relining, Relining adalah mengganti permukaan protesa yang menghadap jaringan. Bahan
yang biasa digunakan adalah self-cured. Namun juga digunakan resin yang diaktivasi dengan energy panas,
sinar, atau gelombang mikro yang nantinya akan menghasilkan panas yang cukup besar dan distorsi basis
protesa cenderung terjadi. Tahap awal dari relining itu membersihkan permukaan yang menghadap jaringan
untuk meningkatkan perlekatan antara resin yang ada dengan bahan relining. Lalu resin yang tepat
dimasukkan dan dibentuk dengan teknik molding tekanan.Dan yang terakhir digunakan untuk rebasing,
rebasing adalah mengganti keseluruhan basis protesa. Bahan yang biasa digunakan adalah sel-cured.
Caranya adalah bahan self-cured dicampur sampai konsistensi encer lalu dimasukkan ke daerah yang kan
direparasi. Polimerisasi yang timbul akan lebih sedikit apabila polimerisasi dilakukan di bawah tekanan
hydrolic hingga sebesar 250 kN/m pada suhu 40-50oC. (Philips,2003)
BAB III
PEMBAHASAN
II.1.Klasifikasi resin
Resin merupakan suatu dental material yang telah digunakan secara luas. Secara umum, resin ada
yang alami (berasal dari tumbuhan atau serangga tertentu) dan sintetik (dari senyawa kimia yang strukturnya
mengacu pada struktur resin alami). Resin akrilik adalah salah satu contoh dari resin sintetik. Selain itu,
resin juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat termalnya, yaitu termoplastik dan termosetting. Resin
termoplastik dalah suatu resin yang akan melunak apabila diberi suhu melebihi suhu transisi kaca (Tg)-nya,
dan kemudian mengeras. Apabila resin tersebut dipanaskan kembali, maka akan lunak kembali. Contoh resin
termoplastik adalah resin akrilik. Hal tersebutlah yang membedakan resin termoplastik dengan resin
termosetting. Untuk resin termosetting, resin jenis ini akan mengeras secara permanen apabila dipanaskan
melebihi suhu kritisnya. Sehingga bentuk resin ini akan tetap atau tidak berubah meskipun mengalami
pemanasan ulang.
Sesuai dengan skenario, resin akrilik yang merupakan jenis resin sintetik, juga memiliki klasifikasi
tersendiri berdasarkan cara polimerisasinya, yaitu: heat-cured, self-cured, dan light-cured.
Heat cured acrylic resin : yaitu terjadinya curring yang diaktivasi oleh adanya panas.
Self cured acrylic resin : curring cukup dapat dilakukan pada suhu ruang karena adanya aktivator
amin tersier.
Light cured resin : proses curring dicapai dengan dipaparkannya cahaya tampak
Setiap jenis resin akrilik tersebut, memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
A. Heat Cured Acrylic (Resin Akrilik teraktivasi Panas)
Pada resin jenis ini, energy thermal diperoleh dari proses perendaman akrilik di dalam air,
selain itu juga diperoleh dari proses perebusan. Resin ini memiliki komposisi bubuk atau powder
berupa polimethyl metakrilat dengan tambahan inisiator berupa benzoil peroksida. Disamping juga ada
liquid atau cairan berupa methyl metakrilat yang di dalamnya terkandung sedikit kandungan
hydroquinone yang ditambah dengan glikol dimetakrilat sebagai bahan ikat silang.
Kelebihan dari heat cured acrylic adalah nilai estetis unggul dimana warna hasil akhir akrilik
sama dengan warna jaringan lunak rongga mulut. Selain itu, resin akrilik ini tergolong mudah
dimanipulasi dan harga terjangkau. Sedangkan jika dilihat dari segi kekurangan heat cured acrylic
adalah daya tahan abrasi atau benturan masih tergolong rendah, fleksibilitas juga masih rendah dan
hasil akhir dari manipulasi akrilik akan terjadi penyusutan volume.
B. Self Cured Acrylic (Resin Akrilik teriaktivasi Kimia)
Berbeda dengan heat cured acrylic, self cured acylic menggunakan activator berupa cairan
kimia. Cairan kimia yang digunakan adalah dari golongan amin tersier biasanya adalah dietil
paratuloidin. Jenis ini memang tidak sesempurna tipe I karena residu monomer yang terbentuk dari
proses polimerisasi dan manipulasi lebih banyak. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan mengatur
suhu dan waktu manipulasi secara tepat.
Kelebihan dari tipe ini adalah mudah dilepaskan dari kuvet, fleksibilitas lebih tinggi dari tipe
I, pengerutan volumeakhir tergolong rendah karena proses polimerisasi dari tipe ini tergolong kurang
sempurna. Sedang kekurangannya adalah elastisitas dari tipe ini tergolong kurang dari tipe I, kemudian
karena digunakan bahan kimia hal tersebut dapat mengiritasi jaringan rongga mulut, dandari segi
ekonomis lebih mahal.
C. Light Cured Acrylic (Resin Akrilik teriaktivasi Cahaya)
Cahaya yang dapat digunakan sebagai activator pada resin akrilik jenis ini adalah sinar UV
dengan panjang gelombang 290-4nm dan sinar tampak dengan panjang gelombang 400-700 nm.
Pada proses manipulasi resin akrilik jenis ini, ditambahkan bahan inisiator berupa champorquinon.
Kelebihan dari resin akrilik jenis ini adalah penyusutan saat polimerisasi rendah, hasil akhir
manipulasinya dapat dibentuk dengan baik dan resin ini dapat dimanipulasi dengan peralatan
sederhana. Kekurangan dari resin akrilik ini adalah elastisitas dari resin akrilik ini kecil dan
penggunaan sinar UV pada resin ini dapat merusak jaringan rongga mulut.
D. Microwave Cured Acrylic (Resin Akrilik teriaktivasi Kimia)
Activator pada resin akarilik ini adalah gelombang mikro dimana gelombang ini membuat
molekul bergerak secara merata dan seimbang ke segala arah sehingga hasil akhir dari resin akrilik ini
lebih sempurna dari yang lain. Hal tersebut disebabkan karena hamper semua monomer beraksi
sehingga proses polimerisasinya sempurna.
Kelebihan dari jenis resin akrilik ini adalah waktu pemanasan yang dibutuhkan dari resin ini
lebih singkat, perubahan warna kecil, sisa monomer lebih sedikit karena polimerisasinya lebih
sempurna. Kekurangan dari resin jenis ini yakni resin akrilik ini masih dapat menyerap air, selain itu
harga cukup mahal karena peralatan manipulasinya canggih.
Jenis Resin
Heat Curing
Aktivator
Energi termal yang
Kelebihan
Warna stabil dan
Kekurangan
Terdapat pengerutan
acrylic resin
murah
volume akhir,
pembuatannya tidak
Self Curing
Dimethyl
Pengerutan volume
praktis
Terdapat sisa-sisa
acrylic resin
paratoluidine atau
monomer, kestabilan
amin tersier
murah
monomer lebih
banyak, porositas lebih
Light Curing
Waktu polimerisasi
tinggi.
Bila menggunakan
acylic resin
sinar UV
dapat diatur
sinar UV dapat
Waktu lebih
merusak jaringan.
Membutuhkan
singkat,
polimerisasi lebih
sempurna, proses
menyerap air.
Microwave
Gelombang mikro
Curing acrylic
pembuatannya
lebih bersih, sisa
monomer lebih
sedikit.
Sehingga diharapkan dokter gigi dapat memilih mana resin akrilik terbaik untuk digunakan.
II.2. Syarat resin dalam KG
Persyaratan bahan basis gigitiruan yang ideal untuk pembuatan basis gigitiruan adalah:
1. Tidak toksis dan tidak mengiritasi
2. Tidak terpengaruh oleh cairan mulut: tidak larut dan tidak mengabsorbsi
3. Mempunyai sifat-sifat yang memadai, antara lain:
b. Initiator
Initiator merupakan suatu bahan yang
akrilik. Bahan initiator yang biasa ditemukan adalah berupa 0.2 - 0.5% benzoil peroksida. Substansi ini akan
mengalami pemutusan ikatan oleh karena adanya pemicu seperti panas pada heat-cured, kimia pada selfcured, dan cahaya pada light-cured. Pemutusan ikatan satu benzoil peroksida akan menghasilkan dua buah
radikal bebas. Radikal bebas inilah yang nantinya akan mengikat monomer-monomer sehingga terjadilah
reaksi polimerisasi.
c. Pigmen
Zat pigmen pada resin akrilik akan membuat resin akrilik dapat memiliki bermacam warna, yaitu
transparan yang menyerupai warna gigi, atau pink yang menyerupai gingiva. Beberapa sedian bahwa
mengandung serat-serat merah sehingga menyerupai pembuluh darah. Zat pigmen dapat berupa merkuri
sulfit, cadmium sulfit, cadmium selenit, dan ferric oxide.
d. Plasticizer
Plasticizer adalah zat additif untuk menambah kefleksibilitasan resin akrilik. Zat ini dapat berupa
dibutil pthalat.
e. Opacifiers
Tujuan bagi penambahan opacifiers adalah untuk memastikan resin akrilik terlihat di dalam sinar-X
apabila tertelan. Opacifiers yang biasa digunakan adalah zinc atau titanium oxide.
f. Bahan tambahan
Bahan yang umumnya ditambahkan pada resin akrilik adalah serat sintetis/organik (serat nilon atau
serat akrilik) dan partikel inorganik, seperti serat kaca, zirkonium silikat. Adanya penambahan bahan-bahan
ini biasanya dilakukan untuk merubah sifat fisik dan menkanik, seperti penambahan serat kaca akan
menyebabkan densitas resin akan akrilik semakin meningkat.
2. Monomer
a. Metil metakrilat
Cairan monomer adalah metil metakrilat, yaitu suatu cairan bening pada suhu ruangan yang
mempunyai sifat fisikal berikut:
Metil metakrilat menunjukkan tekanan uap yang tinggi dan merupakan pelarut organik yang baik.
b. Stabilizer
Terdapat sekitar 0.003 0.1% metil ether hydroquinone untuk mencegah terjadinya proses
polimerisasi selama penyimpanan.
c. Plasticizer: dibutil pthalat
d. Bahan untuk memacu ikatan silang (cross-linking agent)
Cross-linked agent dapat berupa etilen glikol dimetakrilat (EGDMA). Bahan ini berpengaruh pada
sifat fisik polimer dimana polimer yang memiliki ikatan silang bersifat lebih keras dan tahan terhadap
pelarut.
Sifat
Beberapa sifat-sifat umum resin akrilik adalah:
a. Berat molekul
Resin akrilik polimerisasi panas memiliki berat molekul polimer yang tinggi yaitu 500.000
1.000.000 dan berat molekul monomernya yaitu 100. Berat molekul polimer ini akan bertambah hingga
mencapai angka 1.200.000 setelah berpolimerisasi dengan benar. Rantai polimer dihubungkan antara satu
dengan lainnya oleh gaya Van der Waals dan ikatan antar rantai molekul.
Bahan yang memiliki berat molekul tinggi mempunyai ikatan rantai molekul yang lebih banyak dan
mempunyai kekakuan yang besar dibandingkan polimer yang memiliki berat molekul yang lebih rendah.
b. Monomer sisa
Monomer sisa berpengaruh pada berat molekul rata-rata. Polimerisasi pada suhu yang terlalu rendah
dan dalam waktu singkat menghasilkan monomer sisa lebih tinggi. Monomer sisa yang tinggi berpotensi
untuk menyebabkan iritasi jaringan mulut, inflamasi dan alergi, selain itu juga dapat mempengaruhi sifat
fisik resin akrilik yang dihasilkan karena monomer sisa akan bertindak sebagai plasticizer yang
menyebabkan resin akrilik menjadi fleksibel dan kekuatannya menurun. Pada akrilik yang telah
berpolimerisasi secara benar, masih terdapat monomer sisa sebesar 0.2 sampai 0.5%. Proses kuring yang
kuat pada temperatur tinggi sangat direkomendasikan untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien yang
diketahui memiliki riwayat alergi terhadap MMA (Metil Metakrilat).
c. Absorbsi air
Resin akrilik polimerisasi panas relatif menyerap air lebih sedikit pada lingkungan yang basah. Nilai
absorbsi air oleh resin akrilik yaitu 0.69% mg/cm2. Absorbsi air oleh resin akrilik terjadi akibat proses
difusi, dimana molekul air dapat diabsorbsi pada permukaan polimer yang padat dan beberapa lagi dapat
menempati posisi di antara rantai polimer. Hal inilah yang menyebabkan rantai polimer mengalami ekspansi.
Setiap kenaikan berat akrilik sebesar 1% yang disebabkan oleh absorbsi air menyebabkan terjadinya
ekspansi linear sebesar 0.23%. Sebaliknya pengeringan bahan ini akan disertai oleh timbulnya kontraksi.
e. Retak
Pada permukaan resin akrilik dapat terjadi retak. Hal ini diduga karena adanya tekanan tarik (tensile
stress) yang menyebabkan terpisahnya molekul-molekul polimer. Keretakan seperti ini dapat terjadi oleh
karena stress mekanik, stress akibat perbedaan ekspansi termis dan kerja bahan pelarut. Adanya crazing
(retak kecil) dapat memperlemah gigi tiruan.
f. Ketepatan dimensional
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi ketepatan dimensional resin akrilik adalah ekspansi mould sewaktu
pengisian resin akrilik, ekspansi termal resin akrilik, kontraksi sewaktu polimerisasi, kontraksi termis
sewaktu pendinginan dan hilangnya stress yang terjadi sewaktu pemolesan basis gigi tiruan resin akrilik.
g. Kestabilan dimensional
Kestabilan dimensional berhubungan dengan absorbsi air oleh resin akrilik. Absorbsi air dapat
menyebabkan ekspansi pada resin akrilik. Pada resin akrilik dapat terjadi hilangnya internal stress selama
pemakaian gigi tiruan. Pengaruh ini sangat kecil dan secara klinis tidak bermakna.
h. Resisten terhadap asam, basa, dan pelarut organik
Resistensi resin akrilik terhadap larutan yang mengandung asam atau basa lemah adalah baik.
Penggunaan alkohol dapat menyebabkan retaknya protesa. Ethanol juga berfungsi sebagai plasticizer dan
dapat mengurangi temperatur transisi kaca. Oleh karena itu, larutan yang mengandung alkohol sebaiknya
tidak digunakan untuk membersihkan protesa.
i.
Porositas
Porositas adalah gelembung udara yang terjebak dalam massa akrilik yang telah mengalami polimarisasi.
Timbulnya
porositas
menyabababkan
efek
negatif
terhadap
kekuatan
dari
resin
akrilik.
Ada 2 jenis porositas yang dapat kita temukan pada basis gigi tiruan yaitu shrinkage porosity dan gaseous
porosity. Shrinkage porosity kelihatan sebagai gelembung yang tidak beraturan bentuk di seluruh permukaan
gigi tiruan sedangkan gaseous porosity terlihat berupa gelembung kecil halus yang uniform, biasanya terjadi
terutama pada protesa yang tebal dan di bagian yang lebih jauh dari sumber panas.
j. Radiologi
Akrilik tidak dapat dideteksi dalam foto karena sifat radiolusensinya. Ini disebabkan karena atom C,H,O
yang terdapa dalam alrilik melemahkan, menyerap sinar x- ray. Hal ini akan meyulitkan jika terjadi
kecelakaan dimana ada bagian akrilik yang tertelan atau tertanam di dalam jaringan lunak.
II.4. Manipulasi resin akrilik
Manipulasi adalah suatu bentuk tindakan atau proses rekayasa terhadap sesuatu dengan menambah
ataupun mengurangi variable yang berkaitan guna mencapai sifat fisik maupun mekanik yang dikehendaki.
Dengan demikian, apabila manipulasi dilakukan pada resin akrilik memiliki tujuan agar resin akrilik ini
nantinya mampu memenuhi persyaratan sebagai material yang digunakan pada kedokteran gigi dengan sifat
fisik dan mekanik yang sesuai dengan pengaplikasiannya pada kedokteran gigi.
Manipulasi kedokteran gigi meliputi : menentukkan perbandingan polimer dan monomer, pencampuran
keduanya, pengisian, serat terakhir adalah proses curring.
1. Perbandingan monomer dan polimer
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa resin akrilik dikemas dalam dua bentuk yaitu cairan (yang
mengandung poli (metil metakrilat)/PMMA yang tidak terpolimerasi atau dengan kata lain dalam bentuk
monomer) dan bubuk ( berupa PMMA prapolimerasi yang berbentuk butiran-butiran halus. Perbandingan
keduanya sangat penting bila digunakan untuk pengaplikasian di kedokteran gigi, semisal pembuatan
protesa, hal ini dikarenakan konsistensi yang tepat diantara keduanya mampu menghasilkan sifat fisik dan
mekanik yang tepat pula.
Perbandingan yang tidak sesuai antara bubuk dan cairan mampu menyebabkan pengerutan volumetrik dan
pengerutan secara linier. Selain itu keadaaan dimana:
a. Konsentrasi Bubuk > Cairan
Keadaan ini mampu menyebabkan terbentuknya granula-granula pada adonan. Hal ini dikarenakan
bubuk tidak sepenuhnya mampu dibasahi oleh cairan
b. Konsentrasi Cairan > Bubuk
Keadaan ini mampu menyebabkan kontraksi pada adonan resin akrilik, akibatnya akan terjadi
perubahan dimensi yang tampak, serta adanya pengerutan volumetrik dan linier yang telah dijelaskan
sebelumnya.
Akibat yang paling harus diwaspadai dari ketidaktepatan perbandingan ini adalah mampu
menghasilkan monomer sisa. Dimana monomer sisa ini apabila bereaksi dengan jaringan rongga mulut
terutama fibroblas akan menimbulkan respon iritasi, hal ini sangat dihindari pada tindakan kedokteran gigi
karena menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan kerugian bagi pasien. Disamping itu monomer sisa juga
mampu bertindak sebagai plasticizer yang mampu berakibat pada menurunnya sifat flexibel dari resin dan
menurunkan kekuatannya.
Untuk itu,dalam mencapai campuran antara bubuk dan cairan yang tepat. Perbandingan antara bubuk
dan cairan resin akrilik adalah 3:1 dilihat berdasarkan volumenya.
2. Pencampuran
Tidakan berikutnya yang berkaitan dengan proses manipulasi setelah menentukkan perbandingan
yang tepat adalah pencampuran antara bubuk (polimer) dan cairan(monomer).Begitu kedua variable ini
dicampur akan terbentuk beberapa tahap yang terlihat. Pada point ini yang perlu diperhatikan adalah
kemampuan dalam mengenali tahap-tahap tersebut guna menentukan waktu yang tepat untuk dilakukan
pengisian pada mould. Jika tidak, akan berakibat pada adonan yang terlanjur menjadi keras yang berujung
pada ketidakmampuannya dilakukan pembentukan. Atau bahkan campuran yang masih pada tahap lunak
akibatnya dapat berpengaruh terhadap perubahan dimensi nantinya, serta timbulanya porositas.
Tahap yang nampak setelah dilakukan pencampuran antara cairan dan bubuk adalah sebagai berikut:
a. Sandy stage
Tahap ini dicirikan dengan terbentuknya bentukan pasir basah. Ini adalah bentuk respon mulai
berinteraksinya bubuk dan cairan. Pada tahap ini interaksi tingkat molekuler belum sepenuhnya terjadi atau
bahkan belum sama sekali.
b. Adonan seperti Lumpur basah (mushy stage).
c. Sticky stage
Pada tahap ini mulai terjadi interaksi antara bubuk dan cairan. Dimana cairan mulai larut pada bubuk yang
dapat berakibat pada terdispersinya rantai polimer (pada bubuk) pada monomer (cairan). Sehingga rantai
polimer melepaskan jalinan ikatan yang berpengaruh terhadap adukan yang secara fisual dapat dilihat
dengan adanya bentukan serat begitu adonan tersebut ditarik.
d. Dough Stage
Pada tahap ini adalah kesempurnaan dari sticky stage. Yaitu tahap dimana polimer dalam jumlah besar telah
terlarut sepenuhnya pada monomer. Dengan demikian adukan yang terbentuk tidak lagi berserat ataupun
lengket. Bahkan tidak laki adanya bentukan rekatan pada spatulan ataupun cawannya, yaitu benar-benar
berbentuk adonan. Pada tahap inilah yang dikatakan tahap paling tepat untuk dituangkan pada mould.
e. Rubber hard stage
Tahap ini adalah tahap yang telah dikatakan sebelumnya, yaitu ketika adukan sudah tidak lagi mampu
dilakukan pembentukkan dengan teknik kompresi konvensional . hal ini dikarenakan sepenuhnya monomer
bebas telah diuapkan dan polimer telah seutuhnya masuk lebih jauh di antara monomer, sehingga adonan
nampak seperti karet dan tidak lagi memiliki kemampuan ketika diregangkan.
Waktu dough (waktu sampai tercapainya konsistensi liat) tergantung pada:
1. Ukuran partikel polymer; partikel yang lebih kecil akan lebih cepat dan lebih cepat
mencapai dough.
2. Berat molekul polymer; lebih kecil berat molekul lebih cepat terbentuk konsistensi liat.
3. Adanya Plasticizer yang bisa mempercepat terjadinya dough.
4. Suhu; pembentukan dough dapat diperlambat dengan menyimpan adonan dalam tempat
yang dingin.
5. Perbandingan monomer dan polymer; bila ratio tinggi maka waktu dough lebih singkat.
3. Pengisian
Tahap ini disebut juga dengan packing, yaitu tahap penuangan resin kedalam mould. Pada proses
manipulasi yang perlu diperhatikan pada tahap pengisian ini adalah ketepatan bahan mengisi rongga mould.
Apabila terjadi keadaan:
a. Overpacking : akibatnya akan berpengaruh terhadap ketebalan berlebih pada pembuatan basis proteosa
yang nantinya akan mempengaruhi posisi elemen gigi protesa di dalamnya.
b. Underpacking : sedangkan keadaan bahan yang tidak sepenuhnya memenuhi rongga mould akan mampu
menimbullkan porus.
Untuk menghindari over ataupun under packing. Dapat dilakukan dengan pengisian pada rongga
mould secara bertahap. Pada tahap selanjutnya setelah dilakukan pengisian pada rongga mould adalah
dilakukannya press dengan pada kuvet. Kekuatan press yang diberikan pada kuvet sebesar 1000 psi selama 5
menit kemudian sebesar 2200 psi selamat 5 menit juga. Selama proses press ini biasanya ditemukan flash,
yaitu adanya kelebihan bahan. Flash ini harus dibersihkan dan dipisahakan dengan bagian resin yang
mengisi mould. Setelah dilakukan ini tahap berikutnya adalah dilakukannya curing. Ruang cetak diisi
dengan acrylic pada tahap adonan mencapai tahap plastis (dough).
Sebelum rongga tersebut diisi dengan acrylic, lebih dulu diulasi dengan bahan separator/pemisah,
yang umumnya menggunakan could mould seal (CMS). Ruang cetak diisi dengan akrilik pada waktu adonan
mencapai tahap plastis (dough stage). Pemberian separator tersebut dimaksudkan untuk:
a. Mencegah merembesnya monomer ke bahan cetakan (gips) dan ber-polimerisasi di dalam gips
sehingga menghasilkan permukaan yang kasar dan merekat dengan bahan cetakan/gips.
b. Mencegah air dari bahan cetakan masuk ke dalam resin acrylic.
4. Curring
Proses curring adalah proses terjadinya pengerasan, dimana yang menjadi komponen pembantu
dalam terjadinya curring adalah dibagi menjadi 4:
a.
Heat curring : yaitu terjadinya curring yang diaktivasi dengan adanya panas. Dimana panas yang
diperlukan untuk terjadinya polimerasi dan tercapainya curring yang sempurna adalah 740C (1650F)
yang dilakukan pada bak air dengan menjaga suhu tersebut selama 8-12 jam tanpa adanya prosedur
pendidihan terminal. Baru selanjutnya masuk ke tahap yang kedua dengan meningkatkan suhu
mencapai 100oC dan diproses selama 1 jam.
Metode pemasakan dapat dilakukan dengan cara cepat atau lambat. Ada tiga metode pemasakan resin
acrylic, yaitu:
1. Kuvet dan Begel dimasukkan ke dalam waterbath, kemudian diisi air setinggi 5 cm diatas
permukaan kuvet. Selanjutnya dimasak diatas nyala api hingga mencapai temperature 700C
(dipertahankan selama 10 menit). Kemudian temperaturnya ditingkatkan hingga 1000C
(dipertahankan selama 20 menit). Selanjutnya api dimatikan dan dibiarkan mendingin sampai
temperature ruang.
2. Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (1000C), kemudian kuvet dan beugel
dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali (dipertahankan selama 20 menit), api
dimatikan dan dibiarkan mendingin sampai temperature ruang.
3. Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (1000C), kemudian kuvet dan beugel
dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali. Setelah mendidih api segera dimatikan dan
dibiarkan selama 45 menit.
Kuvet dan begel yang terletak dalam water bath harus dibiarkan dingin secara perlahan-lahan.
Selama pendinginan terdapat perbedaan kontraksi antara gips dan acrylic yang menyebabkan timbulnya
stress di dalam polimer. Pendinginan secara perlahan-lahan akan akan memberi kesempatan terlepasnya
stress oleh karena perubahan plastis. Selama pengisian mould space, pengepresan dan pemasakan perlu
dikontrol perbandingan antara monomer dan polimer. Karena monomer mudah menguap, maka
berkurangnya jumlah monomer dapat menyebabkan kurang sempurnanya polimerisasi dan terjadi porositas
pada permukaan acrylic. Hal-hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah monomer adalah:
1. Perbandingan monomer dan polimer yang tidak tepat.
2. Penguapan monomer selama proses pengisisan rongga cetak.
3. Pemasakan yang terlalu panas, melebihi titik mdidih monomer (100,30C).
Secara normal setelah pemasakan terdapat sisa monomer 0,2-0,5%. Pemasakan pada temperature
yang terlalu rendah dan dalam waktu singkat akan menghasilkan sisa monomer yang lebih besar. Ini harus
dicegah, karena:
a. Monomer bebas dapat lepas dari gigi tiruan dan mengiritasi jaringan mulut.
b. Sisa monomer akan bertindak sebagai plasticizer dan membuat resin menjadi lunak dan lebih
flexible.
Porositas dapat memberi pengaruh yang tidak menguntungkan pada kekuatan dan sifat-sfat optic
acrylic. Porositas yang terjadi dapat berupa shrinkage porosity (tampak geleembung yang tidak beraturan
pada permukaan acrylic) dan gaseous porosity (berupa gelembung uniform, kecil, halus dan biasanya terjadi
pada bagian acrylic yang tebal dan jauh dari sumber panas).
Permasalahan yang sering timbul pada acrylic yang telah mengeras adalah terjadinya crazing (retak)
pada permukaannya. Hal ini disebabkan adanya tensile stress ysng menyebabkan terpisahnya molekumolekul primer. Retak juga dapat terjadi oleh karena pengaruh monomer yang berkontak pada permukaan
resin acrylic, terutama pada proses reparasi.
Keretakan seperti ini dapat terjadi oleh karena :
1. Stress mekanis oleh karena berulang-ulang dilakukan pengerigan dan pembasahan denture
yang menyebabkan kontraksi dan ekspansi secara berganti-ganti. Dengan menggunakan bahan
pengganti tin-foil untuk lapisan cetakan maka air dapat masuk ke dalam acrylic sewaktu
pemasakan; selanjutnya apabila air ini hilang dari acrylic maka dapat menyebabkan keretakan.
2. Stress yang timbul karena adanya perbedaan koefisien ekspansi termis antara denture porselen
atau bahan lain seperti klamer dengan landasan denture acrylic;retak-retak dapat terjadi di
sekeliling bahan tersebut.
3. Kerja bahan pelarut; missal pada denture yang sedang direparasi, sejumlah monomer
berkontak dengan resin dan dapat menyebabkan keretakan.
Denture dapat mengalami fraktur atau patah karena:
1. Impact; missal jatuh pada permukaan yang keras.
2. Fatigue; karena denture mengalami bending secara berulang-ulang selama pemakaian.
b. Self curring : cukup dilakukan pada suhu ruang dikarenakan aktivator yang digunakan telah mengunakan
amin tersier yang telah dijelaskan sebelumnya pada klasifikasi
c. Light curring : proses curring dicapai dengan dipaparkannya cahaya tampak dengan panjang gelombang
sebesar 400-500nm dengan kemampuan menembus ketebalan sebesar 5-6 mm dengan pemaparan radiasi
selama 10-25 menit.
menggantikan bahan basis gigi tiruan sebelumnya. Resin akrilik digunakan karena memiliki sifat yang
menguntungkan yaitu estetik, warna dan tekstur mirip dengan gingiva sehinggga estetik di dalam mulut
baik, daya serap air relatif rendah dan perubahan dimensi kecil.
Light Curing selama 10 menit, dan menghasilkan permukaan yang sangat halus dan mengkilat.
individual. Bahan yang digunakan adalah bahan self-cured resin. Tetapi akhir-akhir ini sering digunakan
bahan resin urethra dimetakrilat yang diaktivasi sinar. Sendok cetak dari bahan ini mempunyai dimensi yang
stabil selama pasca polimerisasi tetapi rapuh dan melepaskan partikel bubuk selama proses pengasahan.
melengkung mengikuti permukaan palatum atau permukaan lingual lengkung mandibula. Jenis resin yang
dipakai adalah heat curing dan cold curing. Bahan dari cold curing memiliki berat molekul lebih rendah
sehingga pengkerutannya lebih sedikit namun memiliki porositas lebih banyak sehingga kekuatannya lebih
rendah. Cold curing polimerisasinya lebih cepat sehingga waktu pengolahannya pun singkat. Waktu
pembuatan yang singkat ini membuat bahan ini cocok untuk pembuatan alat ortodontik lepasan dan untuk
reparasi plak akrilik. Selain itu cold curing juga mudah dimanipulasi dalam pembuatan.
Relining
Relining adalah mengganti permukaan protesa yang menghadap jaringan. Bahan yang biasa digunakan
adalah self-cured. Namun juga digunakan resin yang diaktivasi dengan energy panas, sinar, atau gelombang
mikro yang nantinya akan menghasilkan panas yang cukup besar dan distorsi basis protesa cenderung
terjadi. Tahap awal dari relining itu membersihkan permukaan yang menghadap jaringan untuk
meningkatkan perlekatan antara resin yang ada dengan bahan relining. Lalu resin yang tepat dimasukkan
dan dibentuk dengan teknik molding tekanan.
Rebasing
Rebasing adalah mengganti keseluruhan basis protesa. Bahan yang biasa digunakan adalah sel-cured.
Caranya adalah bahan self-cured dicampur sampai konsistensi encer lalu dimasukkan ke daerah yang kan
direparasi. Polimerisasi yang timbul akan lebih sedikit apabila polimerisasi dilakukan di bawah tekanan
hydrolic hingga sebesar 250 kN/m pada suhu 40-50oC.
Die lepasan
2.2 KEUNTUNGAN RESIN Resin merupakan bahan yang laris digunakan sebagai bahan basis dari
berbagai piranti kedokteran gigi. Alasannya ialah karena bahan tersebut memiliki beberapa keuntungan atau
kelebihan . 1) Warnanya harmonis dengan jaringan sekitarnya, sehingga memenuhi faktor estetik 2) Dapat
dilapis dan dicekatkan kembali dengan mudah 3) Relatif lebih ringan 4) Teknik pembuatan dan
pemolesannya mudah 11 5) Harga relatif murah.
2.3 KERUGIAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS Selain mempunyai sifat-sifat menguntungkan,
gigi tiruan dari bahan resin akrilik mempunyai kelemahan yaitu mudah patah bila jatuh pada permukaan
yang keras atau akibat kelelahan karena ulangan lenturan oleh suatu beban1 . 1. Penghantar panas yang
buruk 2. Dimensinya tidak stabil pada waktu pembuatan, pemakaian maupun reparasi 3. Mudah terjadi
abrasi pada saat pembersihan atau pemakaian. 4. Walaupun dalam derajat kecil, resin menyerap cairan
mulut, yang mempengaruhi stabilitas warna 5. Kalkulus dan deposit makanan mudah melekat pada basis
resin
Persiapan Model Malam
Pada saat pembentukan mould space ini pada tahap awal dilakukan penutupan celah yang ada pada
tepi malam dengan malam cair hal ini bertujuan agar pada saat penanaman tidak ada gips yang
masuk. Selain itu juga bertujuan untuk memberikan kesempatan pada operator untuk melakukan
finishing.
Penanaman / Investing
Untuk penanaman igunakan gips putih karena jenis gips ini gips memerlukan detail dan kehalusan
yang baik sedangkan gips biru yang mempunyai ukuran partikel yang lebih kecil dan halus
dipergunakan pada pembukaan kuvet maka permukaan gips pada kuvet bagian atas dan bawah
masing-masih diolesi dengan bahan separator yaitu vaselin.
Pembuangan Malam
Pada pembuangan malam ini yang perlu diperhatikan adalah suhu air yang besarnya 1000 C
sedang lama perebusan 10 menit. Waktu perebusan harus tepat, bila terlalu lama malam yang ada
akan mencair dan merembes kepori-pori gips, hal ini berpengaruh jelak pada hasil permukaan
mould space yaitu bahan separator CMS tidak dapat menempel dan melapisi secara sempurna.
Manipulasi Bahan Akrilik
* Pencampuran. Pencampuran bahan akrilik ini harus sesuai dengan perbandingan antara
powder atau polimer dengan liguid atau monomer yaitu 3 : 1. Bila ratio terlalu tinggi maka
akrilik yang telah digodok akan bergranula dan bila terlalu rendah kontraksi yang terjadi akan
lebih besar. Pada pencampuran tempat yang digunakan terbuat dari bahan porselen atau dari
bahan kaca yang tertutup karena akrilik ini prosesnya melalui polimerisasi dan bila tempat
yang digunakan terbuat dari plastik maka bagian dari tenpat berjenis polimer tersebut akan
ikut bereaksi dalam reaksi polimerisasi adonan gips, sehingga hasilnya tidak sesuai dengan
yang diharapkan. Tempat yang tertutup untuk meminimalkan pengaruh-pengaruh dari luar
yang nantinya akan mengurangi tingkat keberhasilan dalam pencetakan akrilik. Misalnya
sinar
matahari,
kelembaban
udara
dan
faktor
yang
lain.
* Pengisian. Pada tahap ini diawali dengan pemberian bahan separator yaitu CMS. dan labih
cepat tercapai konsistensi liat.
Kiur/ pemanasan
Karena tipe akrilik ini adalah heat cured maka polimerisasinya dibantu dengan pemanasan.
Cara dari pemanasannya yaitu dengan memanaskan pada air mendidih yang suhunya kira-kira
1000 C selama 20 menit. Pendinginan Kuvet yang masih dalam press dibiarkan perlahan
karena selama pendinginan terdapat kontraksi antara bahan cetakan dan akrilik yang
menyebabkan timbulnya stress dalam polimer.
a. Processing dengan panci dan kompor gas
Kuvet yang telah berisi resin akrilik dimasukkan ke dalam panci yang telah diisi air,
kemudian dipanaskan di atas api kompor sedang. Suhu dibiarkan naik perlahan
hingga mencapai kurang lebih 70o C. Suhu ini dipertahankan hingga 1 jam 30 menit
dengan mengecilkan api kompor atau menambahkan air dingin jika suhu
diperkirakan naik. Suhu dinaikkan dari 70o C menjadi 100o C (mendidih) dan
dibiarkan selama 30 menit.
b. Processing dengan Curing Unit
Alat kuring unit yang dipergunakan terbuat dari bak stainless steelberukuran
35x48x53 cm. Alat ini dilengkapi dengan sensor panas yang dihubungkan dengan
pembaca suhu di bagian dalam bak. Pada bagian luar bak dipasang komponen
pengatur panas dan waktu. Alat kuring unit yang digunakan telah dikalibrasi untuk
pengendalian suhu dan waktu. Pemrosesan resin akrilik dilakukan dengan mengisi
bak kuring unit dengan 5 liter air. Pengaturan kuring unit untuk suhu dan waktu
dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama diatur pemanasan mulai suhu kamar
dinaikkan perlahan-lahan hingga mencapai suhu 70o C. Suhu ini dipertahankan
sampai 1 jam 30 menit. Tahap kedua suhu dinaikkan menjadi 100 o C dan
dipertahankan selama 30 menit.
Deflasking/ pelepasan
Pelepasan akrilik ini sulit dilakukan karena : a. Tebal tipisnya lapisan yang dibentuk CMS pada
waktu mengering. Keadaan akrilik setelah dilepas terdapt kelebihan dipinggir cetakan akrilik
hal itu dapat ditanggulangi dengan cara mengurangi dan merapikan sesuai dengan outline
formnya pada waktu finishing. Akrilik tidak patah karena pendinginan yang dilakukan berhatihati. Tidak terdapat porus karena mould space karena pencampuran yang sudah homogen.
Akrilik berwarna merah muda pucat seharusnya berwarna merah muda. Hal ini dikarenakan
cara pemanasan yag salah suhu yang digunakan terlalu tinggi. b. Pemberian bahan separator
tidak sepenuhnya menempel pada permukan mould space yang hal ini disebabkan karena ada
malam yang masih menempel pada proses pembuangan malam.
Penyelesaian / finishing
Pada tahap ini dilakukan pemotongan bagian-bagian yang berlebih. Merapikan pinggiran
akrilik dan meratakan permukaan akrilik dengan bor stone, fraiser dan amplas halus.
Pemolesan/ polishing
Pemolesan ini merupakan tahap terakhir dalam manipulasi gips. Bahan yang digunakan untuk
pemolesan pertama kali adalah pumish yang merupakan bahan dari batu apung yang
dipergunakan dalam suspensi dalam air. Bahan selanjutnya dipoles dengan bahan yang lebih
halus yaitu whiting yang dipergunakan dalam bentuk suspensi dalam air. Pemolesan ini
dilakukan sampai permukaan akrilik halus dan mengkilap. Setelah itu diaplikasikan dalam
model rahang yang baik yaitu pada waktu dilepas mudah dan pada waktu posisi terbalik akrilik
tetap pada model rahang atau tidak jatuh.