Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pancasila merupakan dasar dari pembentukan Negara Indonesia sebagaimana yang
dikemukakan oleh Bung Karno didalam lahirnya pancasila. Setiap Negara mempunyai dasar
atau ideologinya. Fungsi dari suatu ideology atau dogma yaitu serangkaian nilai-nilai yang
dijadikan pegangan oleh setiap warga Negara untuk mengikat seluruh anggotanya dalam
suatu organisasi Negara Republik Indonesia. Sebagai ideology, pancasila sebagai dasar
Negara. Oleh sebab itu, setiap warga Negara wajib mengikuti dan menghormati nilai-nilai
tersebut dan secara kolektif ingin mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya.
Pancasila sebagai ideology mempunyai otoritas untuk mengatur dan mengarahkan setiap
kegiatan yang dilakukan baik secara pribadi maupun secara kelompok untuk mencapai tujuan
yang dicita-citakan, yakni aman, nyaman, damai, sejahtera, dan bahagia. Memang dapat
dimengerti bahwa pada masa permulaan dari perjuangan untuk mempertahankan
kemerdekaan dari kekuatan colonial, diperlukan suatu ideology yang kuat yang mengikat
seluruh bangsa Indonesia menetang bahaya yang mengancam keberadaannya. Kekuatan dan
ketahanan pancasila sebagai ideology bangsa Indonesia telah terbukti sejak masa penjajahan
sampai dewasa ini.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana pandangan filsafat pancasila tentang manusia?
2. Bagaimana pandangan filsafat pancasila tentang masyarakat?
3. Bagaimana pandangan filsafat pancasila tentang pendidikan dan nilai-nilai?
4. Bagaimana menggambarkan pandangan filsafat pancasila terhadap system pendidikan
nasional?
5. Bagaimana penerapan nilai pancasila di masyarakat?
6. Bagaimana implementasi dan penerapan nilai pancasila terhadap pendidikan?




2

1.3 Tujuan
Adapun tujuannya adalah:
Mengetahui pandangan filsafat pancasila tentang manusia
Mengetahui pandangan filsafat pancasila tentang masyarakat
Mengetahui pandangan filsafat pancasila tentang pendidikan dan nilai-nilai
Dapat menggambarkan pandangan filsafat pancasila terhadap system pendidikan nasional
Mengetahui penerapan nilai pancasila di masyarakat
Mengetahui implementasi dan penerapan nilai pancasila terhadap pendidikan


















3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia
Pancasila dikenal sebagai filosofi Indonesia. Kenyataannya definisi filsafat dalam
filsafat Pancasila telah diubah dan diinterpretasi berbeda oleh beberapa filsuf Indonesia.
Pancasila dijadikan wacana sejak 1945. Filsafat Pancasila senantiasa diperbarui sesuai
dengan permintaan rezim yang berkuasa, sehingga Pancasila berbeda dari waktu ke waktu.
Pemahaman Pancasila sendiri selain sebagai ideologi, pandangan hidup, kepribadian,
dan kebudayaan negara-bangsa adalah kristalisasi nilai, standar etika, serta manifestasi
norma, dalam aspek moralitas pikiran-tindakan-ucapan. Dengan demikian, seluruh ruang
kehidupan bermasyarakat-bernegara berada dalam koridor landasan ideologis Pancasila. Hal
ini merujuk pada arti kata ideologi itu sendiri, Althusser sendiri menekankan pula bahwa
ideologi adalah relasi imajiner individuindividu terhadap kenyataan real eksistensi mereka,
yaitu ideologi sebagai kekuatan material dalam masyarakat yang menyerap individu-individu
sebagai subjek dalam ideologi tertentu, misalnya relasi imajiner guru-murid menghasilkan
praktik material tentang cara berinteraksi antara guru dan murid (Adian, 2005).
Kedudukan manusia dihadapan Tuhan adalah sama dan sama-sama memiliki harkat
dan martabat sebagai manusia mulia. Paulus Wahana (dalam H.A.R. Tilaar. 2002 : 191)
mengemukakan gambaran manusia pancasila sebagai berikut :
1. Manusia adalah makhluk monopluralitas yang memungkinkan manusia itu dapat
melaksanakan sila-sila yang tercantum di dalam pancasila.
2. Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang tertinggi yang dikaruniakan memiliki
kesadaran dan kebebasan dalam menentukan pilihannya.
3. Dengan kebebasannya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat menentukan
sikapnya dalam hubungannya dengan pencipta Nya.
4. Sila pertama menunjukkan bahwa manusia perlu menyadari akan kedudukannya sebagai
ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan oleh sebab itu harus mampu menentukan sikapnya
terhadap hubungannya dengan pencipta Nya.
5. Manusia adalah otonom dan memiliki harkat dan martabat yang luhur.
6. Sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut akan kesadaran keluhuran
harkat dan martabatnya yaitu dengan menghargai akan martabat sesama manusia.

4

7. Sila persatuan Indonesia berarti manusia adalah makhluk sosial yang berada di dalam
dunia Indonesia bersama-sama dengan manusia Indonesia lainnya.
8. Manusia haruslah dapat hidup bersama, menghargai satu dengan yang lain dan tetap
membina rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh.
9. Manusia adalah makhluk yang dinamis yang melakukan kegiatannya bersama-sama
dengan manusia Indonesia yang lain.
10. Sila keempat atau sila demokrasi dituntut manusia Indonesia yang saling menghargai,
memiliki kebutuhan bersama di dalam menjalankan dan mengembangkan kehidupannya.
11. Dalam sila kelima manusia Indonesia dituntut saling memiliki kewajiban menghargai
orang lain dalam memanfaatkan sarana yang diperlukan bagi peningkatan taraf kehidupan
yang lebih baik.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia Pancasila adalah manusia
yang bebas dan bertanggung jawab terhadap perkembangan dirinya sebagai individu dan
perkembangan masyarakat (sosial) Indonesia. Manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa
dianugerahi kemampuan atau potensi untuk bertumbuh dan berkembang sepanjang hayat.

2.2 Pandangan Filsafat Pancasila tentang Masyarakat
Aktualisasai nilai filsafat pancasila dalam membangun diformulasikan dalam konsep
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini menindikasikan bahwa manusia
Indonesia mulai Sabang sampai Merauke yang tinggal di kota, di pedalaman, mendiami
pulau-pulau besar dan kecil adalah satu yang diikat oleh nilai-nilai Pancasila. Berarti satu
secara mutlak dan tidak dapat terbagi, rakyat Indonesia adalah keseluruhan jumlah semua
orang, warga dalam lingkungan Negara Indonesia. Hakikat rakyat adalah pilar Negara yang
berdaulat. Perbedaan yang ada dalam masyarakat adalah sebagai asset untuk membangun
kebhinekaan dan kesatuan langkah dan perbuatan menuju masyarakat adil, makmur dan
berdaulat. Adil ialah dipenuhinya sebagai wajib salah segala sesuatu yang merupakan hak
dalam hubungan hidup kemanusiaan yang mencakup hubungan antar Negara dengan warga
Negara, hubungan warga Negara dengan Negara, dan hubungan antar sesame warga Negara.
(Surajiyo, 2008:159)
Untuk menghindarkan masalah etno-nasionalisme yang dapat berakibat disintegrasi
bangsa, Hamdi Huruk (dalam H.A.R. Tilaar. 2002: 76) mengemukakan program sebagai
berikut :

5

a. Didalam menyikapi dorongan etno-nasionalisme yang negatif maka dihindarkan cara-cara
pemecahan koersif (militeristik), tetapi dengan menggunakan metode persuasif dan
dialogis, serta mengikut sertakan masyarakat setempat.
b. Perlu diakui identitas etnis dalam arti kultural bukan dalam arti politik. Pengakuan akan
identitas etnis akan menyumbang kepada terwujudnya identitas nasional bangsa
Indonesia. Upaya-upaya tersebut harus dilaksanakan secara bijaksana tanpa ada
kecurigaan timbulnya berbagai tindakan yang berbau SARA.
c. Menyadarkan kelompok-kelompok yang berkeinginan kepada separatisme, bahwa
berpisah dengan negara dan bangsa Indonesia akan merugikan.
d. Menghindari berbagai pelanggaran HAM dan menghormati HAM.
Sesuai dengan keberagaman etnis dan budaya bangsa Indonesia, maka pendidikan
adalah salah satu wahan penting untuk meningkatkan solidaritas dan rasa nasionalisme tinggi
bagi setiap warga Negara, masyarakat-bangsa dan Negara. Budaya etnis masing-masing suku
harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk diperkembangkan sebagai modal dasar
mengembangkan demokrasi atau sikap demokratis, saling menghargai, dan menghormati bagi
setiap warga negara. Itulah yang menjadi nilai-nilai dasar Pancasila terhadap masyarakat
Indonesia.

2.3 Pandangan Filsafat Pancasila tentang Pendidikan
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 dijelaskan
bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa, dan negara.
Selanjutnya dalam UU sidiknas Tahun 2003 BAB II Pasal 3 dijelaskan tujuan
pendidikan sebagai berikut : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta
bertanggung jawab.
Pendidikan berlangsung dikeluarga, dirumah, disekolah, dan dimasyarakat.
Pendidikan harus berlangsung dengan keteladanan dan komunikasi. Orang tua adalah
pendidik dikeluarga (dirumah); Guru dan tenaga kependidikan lainnya adalah pendidik

6

disekolah; Tokoh atau pemuka masyarakat, alim ulama, pejabat dsb. adalah teladan bagi
peserta didik. Karena itu, masing-masing individu atau manusia dewasa adalah pendidik dan
contoh bagi individu lainnya terutama bagi peserta didik yang mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan.
2.4 Pandangan Filsafat Pancasila tentang Nilai
Menurut Kaelan, pada tahun 2000, (dalam Surajiyo, 2008) menjelaskan bahwa
pancasila merupakan suatu kesatuan dari sila-silanya harus merupakan sumber nilai,
kerangka berpikir serta asas moralitas bagi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Oleh karena itu, sila-sila dalam Pancasila menunjukkan sistem etika dalam pembangunan
iptek.
Isi dari Nilai/kandungan Pancasila sebagai Berikut :
1. Ketuhanan yang Maha Esa
a. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
b. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
c. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama
dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
d. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
e. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
f. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan
agama dan kepercayaanya masing masing.
g. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
kepada orang lain.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
a. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
b. Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa
membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan
sosial, warna kulit dan sebagainya.
c. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

7

d. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
e. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
f. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
g. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
h. Berani membela kebenaran dan keadilan.
i. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
j. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia
a. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa
dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
b. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
c. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
d. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.
e. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
f. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/
Perwakilan
a. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
b. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
d. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
e. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.
f. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
keputusan musyawarah.
g. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
h. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

8

i. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan
Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran
dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
j. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
pemusyawaratan.
5. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia
a. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan kegotongroyongan.
b. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Menghormati hak orang lain.
e. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
f. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang
lain
g. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup
mewah.
h. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan
umum.
i. Suka bekerja keras.
j. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
k. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.

2.5 Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem Pendidikan Nasional

Tata cara bernegara di Indonesia di atur dalam UUD 1945 yang selama ini belum
pernah mengalami amandemen, kecuali setelah bergulir reformasi tahun 1998. Kendatipun
amandemen telah rampung bulan agusrus tahun 2002, namun pembukaan UUD 1945 masih
tetap, dan di alenia ke empat disebutkan ; ...untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial,....

9

Tidak berubahnya pembukaan UUD 1945 tersebut mengindikasikan bahwa bangsa
indonesia tetap memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan upaya sebagai langkah
mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
Acuan penyelenggaraan sistem pendidikan nasional, UUD 1945 Pasal 31 hasil amandemen
2002 yaitu :
1. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya.
2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.yang diatur dengan undang-undang.
3. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya duapuluh persen dari
anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja
daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan baik dilihat dari aspek
kuantitatif maupun kualitatif secara nasional pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan
yang berkaitan dengan pendidikan seperti:
1) Perubahan kirikulm pendidikan nasional
2) Undang-undang dan peraturan mengenai pendidikan
3) Peningkatan angka partisipasi belajar anak usia sekolah pada semua jenjang sekolah
4) Penambahan anggaran pendidikan oleh daerah
5) Konsep management pendidikan berbasis sekolah, standarisasi pendidikan dan
sebagainya.
Hafid Abbas (2002) menyebutkan sisdiknas belum dapat berfungsi untuk
mempersatukan manusia Indonesia. Agar dapat berfungsi, maka :
1. Pendidikan harus dikelola dengan prinsip keadilan
2. pengelolaan pendidikan harus terbuka dalam rangka mengakomodir partisipasi
masyarakat banyak
3. pengelolaan pendidikan harus bersifat inklusif dan hindari jauh-jauh eklusif berlebihan
4. pengelolaan pendidikan di semua tingkatan harus secara profesional
5. pengelolaan pendidikan dengan melibatkan semua stakeholder dalam rangka pengayaan
dan demokratisasi pendidikan
6. pendidikan nasional hendaknya benar-benar mendorong tercapainya pemerataan
pendidikan

10


Pendidikan di Indonesia bersifat multi-kultural. Furnivall(1944, 1948) menyabutkan
masyarakat Plural adalah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih unsure-unsur atau
tatanan social yang hidup berdampingan, tetapi tidak bercapur dan menyatu dalam stu unit
politik tunggal. Lebih lanjut Furnivall menyatakan bahwa masyarakat plural asia tenggara
akan menjerumus kedalam anarki jika gagal menemukan formula federasi pluralis yang
memadai (Furnivall, 1994: 468-469). H. A. R Tilaar (2002: 95) mengemukakan bahwa model
pendidikan yang populer dewasa ini adalah pendidikan multicultural. Dengan model
pendidikan seperti ini diakui adanya keragaman budaya, dan stiap su-budaya diberikan
kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang dan dipelihara. Model pendidikan
multicultural semakin diperkuat dengan adanya otonomi daerah, sehingga masing-masing
budaya etnis yang ada didalam masyarakat dapat berkembang dan dikembangkan dengan
seluas-luasnya.
Mastuhu (1999: 94-98) menawarkan gagasan untuk mengantisipasi pendidikan abad
21, yakni:
1. pendidikan yang tidak diskriminatif, antara negeri dan swasta
2. pendidikan dijadikan panglima pembangunan Indonesia
3. dua poin diatas hanya bias dilaksanakan oleh pemerintah yang benar-benar demokratis,
terbuka, adil, jujur, dan memiliki tatanan kehidupan bernegara terletak di tangan rakyat
4. agar pendidikan di atur seluruhnya dengan kewenangan akademik, bukan kewenangan
kekuasaan apalgi sentralitik
5. pendidikan hendaknya menggunakan pendekatan yang beragam bukan yang serba di
ragamkan
6. pendidikan hendaknya berorientasi pada siswa bukan pada guru atau materi pelajaran
7. pendidikan diubah untuk mengarahkan siswa untuk menjadi bukan sekedar memiliki
8. pendidikan perlu membentuk networking dengan berbagai sumber, mengingat kini
muncul fenomena tereduksinya peran sekolah dan guru sebagai sumber pendidikan
9. pendidikan harus mampu mengembangkan budaya akademik, dan jangan terjebak pada
budaya politik kekuasaan.





11

2.6 Penerapan dan Pelaksanaan Nilai Pancasila Di Masyarakat
Pancasila merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, maka ia
diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegeraan. pancasila berperan
sebagai pengatur sikap dan tingkah laku orang Indonesia masing-masing dalam hubungannya
dengan Tuhan Yang Maha Esa (Sila-I), dengan sesama manusia (sila II) dengan tanah air dan
nusa bangsa Indonesia (Sila-III) dengan kekuasaan dan pemerintahan negara (kerakyatan)
dan dengan negara sebagai kesatuan dalam rangka realisasi kesejahteraan (sila-V). Hal ini
tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda,
namun dalam 3 buah Undang-Undang Dasar yaitu dalam pembukaan UUD45, dalam
mukadimah konstitusi RIS dan dalam mukadimah UUDS RI (1950). Pancasila tetap
tercantum di dalamnya. Pancasila yang selalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu
dan menjadi pegangan bersama pada saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap
ekosistem bangsa kita, merupakan bukti sejarah bahwa pancasila memang selalu dikehendaki
oleh bangsa Indonesia sebagai dasar kehormatan Indonesia, yaitu sebagai dasar negara, hal
ini karena telah tertanam dalam kalbunya rakyat dan dapat mempersatukan seluruh rakyat
Indonesia.
Pancasila memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan tak dapat
dipisahkan dari bangsa Indonesia serta merupakan ciri khas yaitu membedakan bangsa
Indonesia dari bangsa lain. Terdapat kemungkinan, bahwa tiap-tiap sila secara terlepas dari
yagn lain, bersifat universal yang juga dimiliki bangsa-bangsa lain di dunia ini, akan tetapi
ke-5 sila yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah pula itulah yang menjadi ciri khas
bangsa Indonesia. Kenyataan sehar-hari yang kita lihat dalam masyarakat bangsa Indonesia
antara lain :
1. Bangsa Indonesia sejak dahulu sebagai bangsa yang religius, percaya akanadanya zat
yang maha kuasa dan mempunyai keyakinan yang penuh, bahwa segala sesuatu yang ada
dimuka bumi ini akan ciptaan Tuhan. Dalam sejarah nenek moyang, kita ketahui bahwa
kepercayaan kepada Tuhan itu dimulai dari bentuk dinamisme (serba tenaga), lalu
animisme (serba arwah), kemudian menjadi politeisme (serba dewa)dan akhirnya menjadi
monoteisme (kepercayaan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa) sisanya dalam bentuk
peninggalan tempat-tempat pemujaan dan peribadatan upacara-upacara ritual keagamaan.
2. Sejak dahulu, bangsa Indonesia berkeyakinan bahwa pada hakekatnya semua manusia
dilahirkan sama, dan karena itu yang hidup dan menikmati kehadapan sepenuhnya watak

12

mesti bangsa Indonesia yang sebenarnya, tidak menyukai perbedaan perihal martabat
yang disebabkan karena perbedaan warna kulit, daerah keturunan dan kasta seperti yang
terjadi masyarakat feodal.
3. Karena pengaruh keadaan geografisnya yang terpencar antara satu wilayah dengan
wilayah yang lainnya, antar satu pulau dengan pulau lainnya maka Indonesia terkenal
mempunyai banyak perbedaan yang beraneka ragam sejak dari perbedaan bahasa daerah,
suku bangsa, adat istiadat, kesenian dan kebudayaannya (bhineka), tetapi karena
mempunyai kepentingan yang sama, maka setiap ada bahagian yang mengancam dari luar
selalu menimbulkan kesadaran bahwa dalam kebhinekaan itu terdapat ketunggalan yang
harus diutamkana kesadaran kebangsaan yang berbeda yaitu sebagai bangsaIndonesia.
4. Ciri khas yang merupakan kepribadian bansga dari berbagai suku, bangsa Indonesia
adalah adanya prinsip musyawarah diantara warga masyarakat sendiri dalam mengatur
tata kehidupan mereka. Sedang kepala desa, kepala suku,dan sebagainya hanya
merupakan pamong (pembimbing mereka yang dipilih dan dari antara mereka sendiri,
prinsip musyawarah dan masyarakat yang merupakan inti dari kerakyatan telah
dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat adat seperti : desa marga, kurnia, nagori,
banua, dsb.
5. Salah satu bentuk khusus dari kerakyatan ialah kerakyatan dibidang ekonomi, yang
dirumuskan sebagai keadilan atau kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia, asas ini
sudah dikenal berabad-abad lamanya yang sisanya masih dapat kita jumpai dalam
masyarakat terutama di desa, yaitu kebisaaan tolong menolong antara sesama masyarakat,
gotong royong dalam mengusahakan kepentingan bersama atau membantu (menolong
seseorang yang sangat membutuhkan seperti materialistik, kapitalisme dan individualisme
sama sekali tidak disukai oleh bangsa Indonesia, karena tidak memungkinkan tercapainya
keadilan / kesejahteraan sosial.
Pancasila sebenarnya adalah cita-cita yang ingindicapai bersama oleh bangsa
Indonesia.Oleh karena itu, Pancasila sering disebut dengan landasan ideal.Maksud dari ideal
adalah bahwa Pancasila merupakan hal yang menjadi sebuah gagasan dan dambaan.Hal ini
sesuai dengan pengeraian Pancasila sebagai ideologi negara.Dalam era yang hiruk-pikuk ini,
eksistensi Pancasilasudah mulai dipertanyakan.Benarkah Pancasila memang menjadi dasar
hidup
bangsa, benarkah Pancasila merupakan identitas bagi bangsa Indonesia.Melihatrealita yang

13

ada, sulit untuk membuktikan bahwa Pancasila masih menjiwai dan mendarah-daging dalam
diri manusia Indonesia.
Pancasila pada saat ini cenderung menjadi lambangdan hanya menjadi formalitas
yang dipaksakan kehadirannya di Indonesia.Kehadiran Pancasila pada saat ini bukan berasal
dari hati nurani bangsa Indoensia.Bukti dari semua itu aalah tidak aplikatifnya sila-sila yang
terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
2.7 Implementasi Pancasila di Bidang Pendidikan
Tampaknya terjadi kekacauan di dalam tidak membedakannya antara Pancasila
sebagai sitem nilai-nilai kebersamaan bangsa Indonesia dengan praktik kehidupan di masa
lalu yang telah menyeleweng dari nilai-nilai etika Pancasila. Di dalam suasana keraguan akan
nilai-nilai luhur Pancasila yang dimiliki oleh bangsa Indonesia orang mencari nilai-nilai baru
yang diperlukan oleh bangsa Indonesia di dalam menghadapi masalah kehidupan masa depan
bangsa.
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan/keahlian dalam kesatuan organis harmonis dinamis, didalam dan diluar
sekolah dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu pengembangan pendidikan haruslah
berorientasi kepada dua tujuan, yakni untuk pembinaan moral dan intelektual. Moral tanpa
intelektual akan tidak berdaya. Intelektual tanpa moral akan berbahaya, karena seseorang
dapat menggunakan kepandaiannya itu untuk kepentingannya sendiri dan merugikan orang
lain. Selain itu pendidikan juga suatu proses secara sadar dan terencana untuk membelajarkan
peserta didik dan masyarakat dalam rangka membangun watak dan peradapan manusia yang
bermartabat. Ialah manusia manusia yang beriman dan brtaqwa kepada Tuhan Yang Maha
kemanusiaan, menghargai sesama, santun dan tenggang rasa, toleransi dan mengembangkan
kebersamaan dan keberagaman, membamgun kedisiplinan dan kemandirian, sesuai dengan
nilai nilai pancasila.
Oleh karena itu proses dan isi pembelajaran hendaknya dirancang secara cermat
sesuai dengan tujuan pendidikan. Pada giliran selanjutnya akan menjadi potensi bagi proses
pembelajaran yang berkualitas.


14

Pembentukan nilai-nilai positif sebagai warga dan sebagai warga negara yang baik
dimulai di lingkungan keluarga. Di dalam lingkungan keluargalah anak-anak mulai mengenal
nilai-nilai yang positif yang dijabarkan dari nilai-nilai Pancasila. Tentunya di dalam
lingkungan keluarga tidak diajarkan secara formal nilai-nilai Pancasila yang abstrak itu tetapi
penjabaran dari nilai-nilai Pancasila seperti toleransi terhadap perbedaan misalnya di dalam
kepercayaan, agama, suku, dan sebagainya sudah dapat dimulai dalam lingkungan keluarga.
Bagaimanakah proses ini dapat dilaksanakan mengingat tingkat pendidikan keluarga masih
rendah?
Dikalangan siswa atau dibangku sekolahan, masih banyak anak sekolahan yang
melanggar aturan sekolah dan lingkungan sekitarnya seperti banyak siswa sekarang yang
mabuk-mabukan, kebut-kebutan di jalan, bolos, dan yang paling marak terjadi penyimpangan
dari aturan atau norma pada saat ini adalah tauran. Tauran dikalangan siswa sudah berada
ditingkat atas dimana tauran tersebut membuat aturan yang telah berlaku hanya sebagai
lukisan dinding yang dipajang. Tauran tersebut telah menjadi-jadi artinya tauran yang disertai
pembunuhan. Meskipun semua orang telah tahu akan hal itu khususnya siswa tetapi mereka
tetap saja tidak sadar akan norma yang mengatur, sebenarnya sebagai siswa harus wajib
menuntut ilmu, belajar dengan sungguh-sungguh, dan yang paling penting sebagai penerus
bangsa dan negara Republik Indonesia yaitu mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam
kehidupan sehari-hari bukan mengamalkan hal-hal yang menyimpang dari aturan.
Selain itu, meskipun sekolah telah menerapkan aturan yang tegas dan mengikat, tetapi
tetap saja penyimpangan itu terjadi. Hal seperti itu masih perlu ditingkatkan dari dalam diri
siswa itu sendiri bila perlu sekolah tersebut membuat aturan lain agar siswa tersebut bisa
disiplin dan tidak menyimpang dari aturan atau norma.
Dalam bidang sosial budaya, disatu sisi kebebasan berbicara, bersikap,dan bertindak
amat memacu kreativitas masyarakat. Namun, di sisi lainjustru menimbulkan semangat
primordialisme. Benturan antar suku, antarumat beragama, antar kelompok, dan antar daerah
terjadi dimana-mana. Kriminalitas meningkat dan pengerahan masa menjadi cara untuk
menyelesaikan berbagai persoalan yang berpotensi tindakan kekerasan. Kondisi nyata saat
ini yang dihadapi adalah munculnya ego kedaerahan dan primordialisme sempit, munculnya
indikasi tersebut sebagai salah satu gambaran menurunnya pemahaman tentang Pancasila
sebagai suatu ideologi, dasar negara, azas, paham negara.

15

Padahal seperti diketahui Pancasila sebagai sistem yang terdiri dari lima sila
(sikap/prinsip/pandangan hidup) dan merupakan suatu keutuhan yang saling menjiwai dan
dijiwai itu digali dari kepribadian bangsa Indonesia yang majemuk bermacam etnis/suku
bangsa, agama dan budaya yang bersumpah menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu
bahasa persatuan, sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika. Menurunnya rasa persatuan dan
kesatuan diantara sesama warga bangsa saat ini adalah yang ditandai dengan adanya konflik
dibeberapa daerah, baik konflik horizontal maupun konflik vertikal, seperti halnya yang
masih terjadi di Lampung, Poso, dan Papua, serta beberapa daerah lain di Indonesia.
Berbagai konflik yang terjadi dan telah banyak menelan korban jiwa antar sesama
warga bangsa dalam kehidupan masyarakat, seolah-olah wawasan kebangsaan yang dilandasi
oleh nilai-nilai Pancasila yang lebih mengutamakan kerukunan telah hilang dari kehidupan
masyarakat Indonesia.
(http://desyandri.wordpress.com/2014/01/04/implementasi-dan-revitalisasi-pancasila-dalam-
menumbuhkembangkan-karakter-bangsa/)
2.8 Penerapan Filsafat Pancasila Dalam Pendidikan

Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 bahwa
pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Hal tersebut sejalan dengan
Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah
jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa
Indonesia, dan dasar negara Indonesia. Berdasarkan peraturan perundangan tersebut jelaslah
bahwa pancasila adalah Landasan Filosofi Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan nasional merupakan suatu sistem yang memuat teori praktek pelaksanaan
pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat bangsa yang bersangkutan
guna diabdikan kepada bangsa itu untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya.
Sedangkan Pendidikan Nasional Indonesia adalah suatu sistem yang mengatur dan
menentukan teori dan pratek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan
dijiwai oleh flisafat bangsa Indonesia yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara
Indonesia guna memperlancar mencapai cita-cita nasional Indonesia.
Sehingga Filsafat pendidikan nasional Indonesia dapat didefinisikan sebagai suatu
sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri

16

di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa Pancasila yang diabdikan demi
kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha merealisasikan cita-cita bangsa dan
negara Indonesia.
Ketika berbicara pendidikan maka kita akan berbicara mengenai definisi pendidikan.
Pendidikan merupakan aktifitas rasional yang membedakan manusia dengan makhluk hidup
lainnya. Hewan juga belajar tetapi lebih ditentukan oleh instinknya. Manusia belajar
dengan otaknya melalu rangkaian kegiatan menuju pendewasaan untuk mencapai kehidupan
yang lebih berarti.
Pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat
bangsa tertentu. Karena itu diperlukan sejumlah landasan dan asas-asas tertentu dalam
menentukan arah dan tujuan pendidikan. Beberapa landasan pendidikan yang sangat
memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan adalah landasan filosofis,
sosiologis, dan kultural, Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong
pendidikan untuk menjemput masa depan.
Kita baru saja menyaksikan pendidikan di Indonesia gagal dalam praktek berskala
makro dan mikro yaitu dalam upaya bersama mendalami, mengamalkan dan menghayati
Pancasila. Lihatlah bagaimana usaha nasional besar-besaran selama 20 tahun (1978-1998)
dalam P-7 (Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila) berakhir kita nilai gagal menyatukan bangsa untuk memecahkan masalah nasional
suksesi kepresidenan secara damai tahun 1998, setelah krisis multidimensional melanda dan
memporakporandakan hukum dan perekonomian negara mulai pertengahan tahun 1997,
bahkan sejak 27 Juli 1996 sebelum kampanye Pemilu berdarah tahun 1997. itu adalah contoh
pendidikan dalam skala makro yang dalam teorinya tidak pas dengan Pancasila dalam praktek
diluar ruang penataran. Mungkin penatar dan petatar dalam teorinya ber-Pancasila tetapi
didalam praktek, sebagian besar telah cenderung menerapkan Pancasila Plus atau Pancasila
Minus atau kedua-duanya. Itu sebabnya harus kita putuskan bahwa P-7 dan P-4 tidak dapat
dipertanggungjawabkan, setidak-tidaknya secara moral dan sosial. Mari kita kembali
berprihatin sesuai ucapan Dr. Gunning yang dikutip Langeveld (1955).Praktek tanpa teori
adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius.
Ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang
yang mampu bertanggung jawab secara rasional, sosial dan moral. Sebaliknya apabila
pendidikan dalam praktek dipaksakan tanpa teori dan alasan yang memadai maka hasilnya
adalah bahwa semua pendidik dan peserta didik akan merugi. Kita merugi karena tidak

17

mampu bertanggung jawab atas esensi perbuatan masing-masing dan bersama-sama dalam
pengamalan Pancasila. Pancasila yang baik dan memadai, konsisten antara pengamalan
(lahiriah) dan penghayatan (psikologis) dan penataan nilai secara internal. Dalam hal ini kita
bukan menyaksikan kegiatan (praktek) pendidikan tanpa dasar teorinya tetapi suatu praktek
pendidikan nasional tanpa suatu teori yang baik.
Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual,
sosial dan kultural. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil
beralngsung dalam skala relatif tebatas seperti antara sesama sahabat, antara seorang guru
dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan isteri,
antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar
manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawaanya
yang baik dengan lengkap.
Pancasila sebagai dasar dan landasan berbagai kehidupan bangsa lahir pada era
kemerdekaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sebenarnya sudah sejak dulu telah
mendasari aspek-aspek kehidupan bangsa Indonesia. Hal tersebut tergambar dari kehidupan
bernegara pada masa Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.Pada era kebangkitan bangsa nilai-
nilai pancasila telah menggugah kesadaran nasionalime bangsa dalam memperjuangkan
kemerdekaan.
Pancasila sebagai sistem filsafat adalah pengungkapan dan penelaahan dunia fisik dan
dunia riil secara sistemik (menyeluruh) dan sistematis (teratur, tersusun rapi). Pancasila
memberi ajaran tata hidup manusia budaya secara harmonis. Pancasila adalah filsafat
keselarasan.
Pancasila sebagai sistem filsafat juga mempunyai ajaran-ajaran tentang metafisika dan
ontologi Pancasila, aksiologi Pancasila dan logika Pancasila.
Pokok-pokok fikiran Pendidikan Nasional adalah:
1) Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan disebut sistem
Pendidikan Pancasila
2) Tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat
kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat memperkuat kepribadian
dan mempertebal semangat kebangsaan

18

3) Fungsi pendidikan nasional Indonesia adalah untuk mengembangkan warga negara
Indonesia, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat, mengembangkan bangsa
Indonesia dan mengembangkan kebudayaan Indonesia
4) Unsur-unsur pokok pendidikan nasional adalah pendidikan pancasila, pendidikan agama,
pendidikan watak dan kepribadian, pendidikan bahasa, pendidikan kesegaran jasmani,
pendidikan kesenian, pendidikan ilmu pengetahuan, pendidikan keterampilan, pendidikan
kewarganegaraan dan pendidikan kesadaran bersejarah.
5) Asas-asas pelaksanaan pendidikan nasional Indonesia adalah asas semesta, asas
pendidikan seumur hidup, asas tanggung jawab bersama, asas pendidikan, asas
keselarasan dan keterpaduan dengan ketahanan nasional dan wawasan nasional, asas
Bhineka Tunggal Ika, Asas keselarasan, keseimbangan dan keserasian, asas manfaat adil
dan merata.
(http://farentysiregar.blogspot.com/2014/03/penerapan-filsafat-pendidikan-
pancasila.html)




















19

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

1) Manusia Pancasila adalah manusia yang bebas dan bertanggung jawab terhadap
perkembangan dirinya sebagai individu dan perkembangan masyarakat (sosial) Indonesia.
Manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dianugerahi kemampuan atau potensi untuk
bertumbuh dan berkembang sepanjang hayat.

2) Sesuai dengan keberagaman etnis dan budaya bangsa Indonesia, maka pendidikan adalah
salah satu wahan penting untuk meningkatkan solidaritas dan rasa nasionalisme tinggi
bagi setiap warga Negara, masyarakat-bangsa dan Negara. Budaya etnis masing-masing
suku harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk diperkembangkan sebagai modal
dasar mengembangkan demokrasi atau sikap demokratis, saling menghargai, dan
menghormati bagi setiap warga negara.
3) Pendidikan berlangsung dikeluarga, dirumah, disekolah, dan dimasyarakat. Pendidikan
harus berlangsung dengan keteladanan dan komunikasi.
4) Sila-sila dalam Pancasila menunjukkan sistem etika dalam pembangunan iptek.