Anda di halaman 1dari 31

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM

MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PENGUASAAN


KONSEP DALAM MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP PADA
SISWA SMP NEGERI 2 BATEE






diajukan untuk memenuhi syarat guna
memperoleh gelar Magister Pendidikan





Proposal


Oleh
Munawir
NIM 1309200150024






PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pendidikan merupakan komponen penting dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa dan bernegara, dan kini terus berkembang sejalan dengan perkembangan
sosial yang ada. Kegiatan utama dalam proses pendidikan di sekolah adalah kegiatan
belajar mengajar. Proses belajar mengajar yang ada merupakan penentu keberhasilan
dalam mencapai tujuan pendidikan.
Dalam proses belajar mengajar diperlukan suatu strategi pembelajaran yang
digunakan oleh seorang pendidik dalam melaksanakan tujuan pendidikan. Strategi
pembelajaran yang digunakan oleh guru diperlukan suatu pendekatan tertentu.
Pendekatan tersebut merupakan titik tolak dalam penyelesaian masalah yang ada
dalam program belajar mengajar serta menggambarkan cara berpikir dan sikap
seorang pendidik dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
Strategi pengajaran dan pembelajaran biologi diperlukan oleh seorang
pendidik untuk mengarahkan siswa dalam mengembangkan kemampuannya dalam
bentuk psikomotorik, afektif dan kognitif. Keterampilan ini sangat penting bagi
siswa dalam memahami bukti yang mendasari dalam mendukung konsep biologi
dasar dan proses ilmiah (Gehring, 2007). Namun pada kenyataannya saat ini proses
pembelajaran berlangsung lemah (Sanjaya, 2009). Hal tersebut didasarkan kepada
seorang pendidik masih menerapkan pembelajaran konvensional Trianto (2007).
Dalam kegiatan pembelajaran guru memberikan pengetahuan melalui
ceramah yang disajikan dengan sangat sistematis. Seorang pendidik yang merancang
pembelajaran demikian cenderung mentransfer ilmu pengetahuan secara utuh dari
pikiran guru ke pikiran siswa, sehingga menyebabkan siswa tidak pernah
membangun makna belajar tersendiri (Sadia dalam Hermawati, 2012). Hal demikian
dapat mempengaruhi minat serta penguasaan siswa dalam bidang sains (biologi)
yang masih dirasakan sangat kurang dan menyebabkan hasil pembelajaran yang
rendah. Rendahnya pembelajaran disebabkan selama pembelajaran masih
menggunakan sistem menghafal (rote learning) dan menerima atau reception
learning dari pada memahami konsep suatu materi (Ardhana, dkk, 2004).
Berdasarkan data awal yang telah dilakukan pada tahun 2010 di SMP Negeri
2 Batee, hanya 22 siswa dari 60 siswa yang menyukai mata pelajaran biologi. Hal
tersebut dikarenakan hanya sebagian siswa (34 siswa) yang memahami materi
pelajaran biologi berdasarkan materi yang kurang menarik dan banyaknya istilah
latin yang digunakan dalam mata pelajaran biologi.
Pada saat ini di sekolah sudah menerapkan kurikulum 2013, pembelajaran
yang dilaksanakan oleh guru sudah mengalami pergeseran menuju ke pembelajaran
yang berpusat pada siswa (student centered). Pembelajaran dirancang dengan
mengoptimalkan potensi yang dimiliki siswa, dengan harapan dapat membantu
peserta didik dalam mengkontruksi pengetahuannya dan menjadikannya seorang
pembelajar yang aktif. Pembelajaran yang menitikberatkan pada keterlibatan siswa
sehingga siswa lebih aktif dalam membangun pengetahuannya dapat dilaksanakan
dengan metode pembelajaran inkiri (penyelidikan).
Pada pembelajaran biologi khususnya pada materi klasifikasi makhluk hidup
yang menggolongkan makhluk hidup berdasarkan kesamaan dan perbedaan yang
dimilikinya, sehingga materi ini dapat dilaksanakan dengan metode pembelajaran
inkuiri/penyelidikan yang diyakini dapat diterapkan pada materi ini. Belajar dengan
metode inkuiri yang memanfaatkan pengetahuan dalam mendapatkan suatu jawaban
dari pertanyaan/masalah yang dimiliki oleh siswa. Pertanyaan/masalah dapat
memotivasi siswa untuk mencari tahu jawabannya melalui perencanaan dan
pelaksanaan penyelidikan. Proses pembelajaran seperti ini akan melibatkan secara
maksimal seluruh kemampuan siswa dalam mencari dan menyelidiki secara
sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri
penemuannya dengan penuh percaya diri. Dengan demikian proses penyelidikan
yang dilakukan siswa dalam pembelajaran akan memberikan pemahaman yang lebih
baik dan menjadi lebih bermakna. Inkuiri merupakan suatu alat fundamental
bagaimana anak belajar dengan aktif karena pembelajaran sains (biologi) tidak dapat
dijalankan tanpa melalui inkuiri.
Metode pembelajaran inkuiri memberikan keuntungan dalam proses
pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Oates (2002) dalam Irwandi
(2009) yang dilihat pengembangan kecakapan hidup siswa dalam bekerjasama,
merumuskan masalah, menganalisis data, serta membuat kesimpulan. Selain itu, juga
dapat mengembangkan kecakapan hidup siswa dalam berkomunikasi baik secara
lisan maupun tertulis. Pembelajaran inkuiri juga memberikan umpan balik yang
cepat, dapat memberikan penegasan waktu dalam pemberian tugas, dan membuat
anak-anak tanggap dalam perbedaan bakat dan cara belajar. Irwandi (2009) juga
mengatakan hasil belajar kognitif yang baik dapat dilaksanakan dengan strategi
pembelajaran inkuiri.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan suatu permasalahan
sebagai berikut:
1. Apakah penerapan metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan
keterampilan proses dalam materi klasifikasi makhluk hidup pada siswa SMP
Negeri 2 Batee?
2. Apakah penerapan metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan penguasaan
konsep dalam materi klasifikasi makhluk hidup pada siswa SMP Negeri 2
Batee?

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran inkuiri dapat
meningkatkan keterampilan proses dalam materi klasifikasi makhluk hidup pada
siswa SMP Negeri 2 Batee.
2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran inkuiri dapat
meningkatkan penguasaan konsep dalam materi klasifikasi makhluk hidup pada
siswa SMP Negeri 2 Batee.

1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat teoritis
Dengan adanya penelitian ini dapat memberikan suatu pengetahuan kepada
penulis dalam menemukan suatu cara belajar yang efektif dalam proses
pembelajaran biologi
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru, dapat memberikan suatu alternatif metode pembelajaran yang
efektif dalam proses pembelajaran
b. Bagi siswa, dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan
penguasaan konsep pada suatu materi pembelajaran

1.5. Penjelasan Istilah
1. Metode pembelajaran inkuiri adalah suatu metode pembelajaran yang
melibatkan peserta didik dalam proses pengumpulan data dan pengujian
hipotesis. Guru membimbing peserta didik untuk menemukan pengertian
baru, mengamati, perubahan pada praktik uji coba, dan memperoleh
pengetahuan berdasarkan pengalaman belajar mereka sendiri. Metode ini
menekankan peserta didik untuk belajar lebih aktif dan kreatif untuk mencari
pengetahuan. Langkah inkuiri mengacu pada model berpikir reflektif dari
John Deweys (1990). Tahap-tahap inkuiri yang dilakukan peserta didik
meliputi (1) mengidentifikasi masalah; (b) merumuskan hipotesis; (c)
mengumpulkan data; (d) menganalisis dan menginterpretasikan data untuk
menguji hipotesis; (e) menarik kesimpulan. Langkah-langkah pembelajaran
inkuiri yang dilakukan guru adalah (a) menjelaskan tujuan pembelajaran; (b)
membagi petunjuk inkuiri atau petunjuk praktikum; (c) menugaskan peserta
didik untuk melaksanakan inkuiri praktikum, (d) memantau pelaksanaan
inkuiri, (e) menyimpulkan hasil inkuiri bersama-sama (Mulyatiningsih,
2012). Langkah langkah metode pembelajaran inkuiri akan diterapkan
pada siswa SMP Negeri 2 Batee.
2. Keterampilan proses sains adalah keterampilan proses ialah keterampilan
fisik dan mental terkait dengan kemampuan kemampuan yang mendasar
yang dimiliki, dikuasai, dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah,
sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru. Rangkaian
keterampilan proses antara lain mengamati, menggolongkan, menafsirkan,
meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, dan
mengkomunikasikan (Semiawan (1992) dalam Yuniastuti (2013).
Keterampilan proses sains akan dilihat oleh guru selama siswa melaksanakan
proses pembelajaran.
3. Penguasaan konsep adalah kemampuan siswa dalam memahami konsep-
konsep setelah atau sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai. Penguasaan
konsep dapat diartikan sebagai kemampuan siswa dalam memahami makna
secara ilmiah, baik konsep secara teori maupun penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari. Penguasaan konsep lebih menitikberatkan pada
variabel-variabel yang dapat diubah (alterable variables) dari sekolah:
perilaku-perilaku awal kognitif (misalnya keterampilan-keterampilan siswa),
karakteristik-karakteristik afektif (misalya; minat dan motivasi), dan faktor
spesifik yang mempengaruhi kualitas belajar (Dahar, 1989) dalam (Wirtha,
2008).
4. Klasifikasi makhluk hidup adalah pengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dimiliki. Dasar klasifikasi
karena adanya keanekaragaman. Tujuan klasifikasi adalah untuk
menyederhanakan objek studi, artinya mengingat sedikit mungkin, tetapi
dalam ingatan tersebut mengandung informasi yang banyak. Klasifikasi
dapat memberikan petunjuk dalam mengenal hewan maupun tumbuhan yang
belum diberi nama (untuk identifikasi), yaitu dengan membandingkannya
dengan kelompok yang telah diberi nama (Tim Pengajar FKIP Biologi,
2008)





BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Metode Pembelajaran Inkuiri
Salah satu metode pembelajaran dalam bidang sains yang sampai sekarang
masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inquiry.
Devid L. Haury dalam artikelnya Teaching Science Through (1993) mengutip
definisi yang diberikan oleh Alfred Novak "Inquiry merupakan tingkah laku yang
terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena
yang memancing rasa ingin tahu". Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan
aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau
pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu. (Haury, 1993).
Keyakinan akan keunggulan inkuiri dalam pembelajaran biologi didukung
oleh pernyataan Bruner (dalam Amin, 1979) yang menyatakan keuntungan mengajar
dengan metode inkuiri adalah : (1) siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan
ide-ide yang lebih baik, (2) membantu siswa dalam menggunakan daya ingat dan
transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru, (3) mendorong siswa untuk
berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, dan (4) mendorong siswa berpikir inisiatif
dan merumuskan hipotesanya sendiri. Selain itu, pembelajaran menjadi student
centered, membentuk dan mengembangkan konsep diri, dapat mengembangkan
bakat kemampuan individu, dapat menghindari cara-cara belajar tradisional
(menghafal dan menerima informasi) serta memberikan waktu bagi siswa untuk
mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Setiawan (2005) memperoleh
kesimpulan pembelajaran dengan strategi inkuiri memberikan pemahaman konsep
yang lebih baik dibandingkan dengan strategi pembelajaran berbasis masalah pada
siswa SMP.
Pembelajaran metode inkuiri menurut Gulo (2002) menitikberatkan sasaran
utama pada (1) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
yang merupakan kegiatan mental intelektual dan sosial emosional; (2) keterarahan
kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran; (3) mengembangkan
sikap percaya diri (self-belief) pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam
proses inkuiri. Dari pernyataan ini dapat dijelaskan bahwa inkuiri dalam
pembelajaran akan memberikan peluang pada peserta didik untuk mengembangkan
seluruh kompetensinya yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotor.
Metode inquiry adalah cara untuk menyampaikan sesuatu agar tercapai
tujuan, cara melaksanakan, cara menyelidiki, taktik, siasat, pertanyaan, pemeriksaan,
atau penyelidikan (Gulo, 2002). Metode inquiry adalah suatu pola untuk membantu
para siswa belajar merumuskan dan menguji pendapatnya sendiri dan memiliki
kesadaran akan kemampuannya. Metode inquiry adalah strategi mengajar yang
memungkinkan para siswa mendapatkan jawabannya sendiri. (Sanjaya. 2006).
Metode inquiry adalah suatu metode yang menekankan pengalaman-
pengalaman belajar yang mendorong siswa dapat menemukan konsep-konsep dan
prinsip. Metode inquiry adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan
kepada siswa untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru (Suriswo,
1999). Metode inquiry adalah merupakan proses belajar yang memberikan
kesempatan pada siswa untuk menguji dan menafsirkan problema secara sistematika
yang memberikan konklusi berdasarkan pembuktian.
Berdasarkan beberapa pengertian yang tersebut di atas metode inquiry adalah
suatu cara yang digunakan dalam proses pembelajaran sehingga siswa mempunyai
kemampuan untuk bertanya, memeriksa, atau menyelidiki sesuatu. yang melibatkan
seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis,
logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri.
2.1.1. Prinsip-Prinsip Pendekatan I nquiry
Menurut Sanjaya (2006), penggunaan inquiry harus memperhatikan beberapa
prinsip, yaitu :
a. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inquiry adalah pengembangan kemampuan
berpikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil
belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari
proses pembelajaran dengan menggunkan strategi inquiri bukan ditentukan sejauh
mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa
beraktivitas mencari dan menemukan.
b. Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi
antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan
lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan
sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi
itu sendiri.
c. Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan model inquiry adalah
guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan
pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.
d. Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah
proses berpikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh
otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan
dan penggunaan otak secara maksimal.
e. Prinsip keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan
berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya.Tugas
guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa
mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis
yang diajukan.
2.1.2. Tahapan Pembelajaran Metode Inkuiri
Adapun tahapan pembelajaran inkuiri berdasarkan Eggen dan Kauchak
dalam Trianto (2010) adalah
Fase Perilaku Guru
1. Menyajikan
pertanyaan atau
masalah
Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah
dan masalah dituliskan di papan tulis. Guru membagi
siswa dalam kelompok
2. Membuat hipotesis Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah
pendapat untuk membentuk hipotesis. Guru
membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang
relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan
hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan
3. Merangcang Guru member kesempatan pada siswa untuk
percobaan menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan
hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing
siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan
4. Melakukan
percobaan untuk
memperoleh
informasi
Guru membimbing siswa mendapatkan informasi
melalui percobaan
5. Mengumpulkan
dan menganalisis
data
Guru memberikan kesempatan pada tiap kelompok
untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang
terkumpul
6. Membuat
kesimpulan
Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan

2.2. Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses sains adalah berkenaan dengan model pembelajaran
yang dibutuhkan dalam model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran berbasis
peningkatan keterampilan proses sains adalah model pembelajaran yang
mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam sistem penyajian materi secara
terpadu (Beyer 1991). Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan
dari pada transfer pengetahuan, siswa dipandang sebagai subjek belajar yang perlu
dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator
yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar siswa. Dalam model ini
siswa diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan
materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh
para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah (Nur, 1998), dengan demikian
siswa diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan
nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran
diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan
pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai
yang diperlukan (Semiawan 1992). Kepada siswa diberikan kesempatan untuk
langsung terlibat dalam aktivitas dan pengalaman ilmiah seperti apa yang dilakukan /
dialami oleh ilmuwan. Dengan demikian siswa dididik dan dilatih untuk terampil
dalam memperoleh dan mengolah informasi melalui aktivitas berpikir dengan
mengikuti prosedur (metode) ilmiah, seperti terampil melakukan pengamatan,
pengukuran, pengklasifikasian, penarikan kesimpulan, dan pengkomunikasian hasil
temuan.
Model pembelajaran ini merupakan strategi guided discovery yang
membantu siswa belajar untuk belajar (learn to learn), membantu siswa
memperoleh pengetahuan dengan cara menemukannya sendiri (Carin & Sund 1989).
Di dalam model ini juga tercakup penemuan makna (meanings), organisasi, dan
struktur dari ide atau gagasan, sehingga secara bertahap siswa belajar bagaimana
mengorganisasikan dan melakukan penelitian. Pembelajaran berbasis keterampilan
proses sains menekankan pada kemampuan siswa dalam menemukan sendiri
(discover) pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman belajar, hukum-hukum,
prinsip-prinsip dan generalisasi, sehingga lebih memberikan kesempatan bagi
berkembangnya keterampilan berpikir tingkat tinggi (Houston 1988). Dengan
demikian siswa lebih diberdayakan sebagai subjek belajar yang harus berperan aktif
dalam memburu informasi dari berbagai sumber belajar, dan guru lebih berperan
sebagai organisator dan fasilitator pembelajaran. Model pembelajaran berbasis
keterampilan proses sains berpotensi membangun kompetensi dasar hidup siswa
melalui pengembangan keterampilan proses sains, sikap ilmiah, dan proses
konstruksi pengetahuan secara bertahap. Keterampilan proses sains pada hakikatnya
adalah kemampuan dasar untuk belajar (basic learning tools) yaitu kemampuan
yang berfungsi untuk membentuk landasan pada setiap individu dalam
mengembangkan diri (Chain and Evans, 1990 dalam Haryono, 2006). Beberapa
penelitian sebelumnya membuktikan bahwa model-model pembelajaran yang
menempatkan aktivitas siswa sebagai yang utama, lebih banyak memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bersentuhan dengan berbagai objek belajar, dan
adanya hubungan baik antara guru dan siswa, dapat meningkatkan keterampilan
berpikir tingkat tinggi siswa dan mendorong penggunaan analitis kritis dan
partisipasi aktif siswa (Haryono 1997, Nur 1997, Sopyan 1999).
2.3.Klasifikasi Makhluk Hidup
Salah satu kegiatan manusia adalah mengklasifikasikan segala sesuatu yang
ada disekitarnya. Dalam melakukan klasifikasi terdapat dua kegiatan yang
dilaksanakan terlebih dahulu yaitu mengenal ciri objek dan menentukan macamnya
atau namanya.
Dasar klasifikasi adalah adanya keanekaragaman. Keanekaragaman
merupakan gejala yang dapat diamati dan kehadirannya tidak mungkin ditolak serta
berlaku universal. Keanekaragaman dapat berupa bentuk, ukuran, struktur, fungsi,
perawakan, dan tanggapan terhadap faktor lingkungan. Keanekaragaman akan selalu
bertambah dan faktor yang mendorong pertambahan itu adalah genetic, mutasi
(perubahan sifat baka), adaptif, dan kompetitif. Keanekaragaman berguna untuk
keefisienan dan keefektifan pemanfaatan alam dengan kondisi lingkungannya.
Dengan gejala itu manusia berusaha mencari kesamaannya. Kesamaannya terseut
yang menjadi dasar klasifikasi.
Tujuan klasifikasi yang utama adalah untuk menyederhanakan objek studi,
artinya mengingat sedikit mungkin, tetapi dalam ingatan tersebut banyak
mengandung informasi yang banyak. Tujuan klasifikasi yang lain adalah sebagai alat
untuk menyimpan informasi yang setiap saat dapat dipanggil kembali (For storage
and retrivial of data) (Tim Pengajar FKIP Biologi Unsyiah, 2008).
Ilmu yang mempelajari pengelompokan makhluk hidup disebut Taksonomi.
Tujuan klasifikasi makhluk hidup adalah sebagai berikut:
1. Mempermudah dalam mempelajari dan mengenal berbagai macam makhluk
hidup
2. Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup
3. Mengetahui manfaat makhluk hidup untuk kepentingan manusia
4. Mengetahui adanya saling ketergantungan antara makhluk hidup.
Dalam taksonomi terdapat tingkatan takson (hirarki) yang mempunyai fungsi
untuk menunjukkan satuan klasifikasi ditempatkan dalam kategori yang
mencerminkan derajat perbedaan dalam sifat dan kedudukan sifatnya.
Carolus Linnaeus mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan persamaan
dan perbedaan pada struktur tubuhnya. Kategori dalam klasifikasi dari yang tertinggi
hingga yang terendah adalah:
1. Kingdom, dalam bahasa Indonesia dinamakan kerajaan
2. Divisio (phylum) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan divisi (Fillum)
3. Classis, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kelas
4. Ordo, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan bangsa
5. Familia, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama family (suku)
6. Genus, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama marga
7. Species, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama spesies (jenis)
2.3.1. Tata Nama Klasifikasi Makhluk Hidup
Carolous Linnaeus menyusun klasifikasi makhluk hidup berdasarkan
persamaan dan perbedaan struktur tubuh. Dalam klasifikasi Linnaeus
mengelompokkan makhluk hidup menjadi dua kelompok yaitu dunia hewan dan
dunia tumbuhan.
Carolous Linnaeus menciptakan cara pemberian nama ilmiah untuk setiap
makhluk hidup. Tata nama adalah cara pemberian nama ilmiah makhluk hidup
menurut kode tata nama.
Aturan tatanama sesuai Binomial nomenclature:
1. Menggunakan bahasa latin atau bahasa lain yang dilatinkan
2. Menggunakan dua kata
Kata I merupakan genus diawali dengan huruf kapital
Kata II merupakan penunjuk spesies dituliskan dengan huruf kecil semua.
3. Nama spesies ditulis miring atau digaris bawah.
Contoh: Oryza sativa atau Oryza sativa
(Lam, 2013)






BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif jenis pre-
eksperimen yaitu desain pretes-postes satu kelompok (One-Group Pretes-Postes
Design). Penelitian ini terlebih dahulu dilakukan pretes untuk mengetahui keadaan
awal subjek sebelum diberi perlakuan.
Desainnya adalah sebagai berikut:
Pretes Perlakuan Postes
O
1
X O
2
Tabel 3.1. Desain pretes-postes satu kelompok
Keterangan:
O
1
= Prestes
X = Perlakuan
O
2
= Postes

3.2.Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Batee pada semester satu
tahun 2015.

3.3.Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 2 Batee.
Sampel dalam penelitian diambil secara purposive random sampling, yang terlebih
dahulu dilakukan prestest untuk mengetahui kelas yang memiliki nilai tertinggi,
sehingga didapatkan kelas yang akan dijadikan kelas eksperimen.
Untuk menentukan besar sampel ditentukan dengan rumus Slovin:


(Notoatmodjo, 2005 : 92)
Keterangan :
n = besar sampel
N = besar populasi
d = tingkat ketepatan yang diinginkan dengan ketepatan 0,1
3.4.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaan (RPP)
2. Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah bentuk lembaran yang tersusun dari beberapa
soal yang harus diselesaikan oleh siswa berdasarkan langkah-langkah yang telah
ditentukan dalam LKS tersebut.
3. Perangkat tes. Tes yang diberikan berupa tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-
test).

3.5.Teknik Pengumpulan Data
Langkah-langkah pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk 3 JP
2. Memberikan soal prestes terlebih dahulu sebelum mengajarkan materi
pembelajaran
3. Memberikan Konsep materi klasifikasi makhluk hidup kepada siswa kelas
VII
4. Mengamati kegiatan yang dilakukan siswa
5. Memberikan postes kepada siswa kelas VII dalam bentuk pilihan berganda.
Cara penskoran nilai tes :


Keterangan :
S = skor
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar
N = banyaknya butir soal
(Arikunto, 2002)

3.6.Teknik Analisis Data
1. Untuk melihat keterampilan proses sains pada siswa dengan menggunakan skala
likert . Skala likert disajikan dalam bentuk tabel dibawah:
No. Ketrampilan
yang dinilai
Rubrik
1. Hewan pengamatan 3: Membawa hewan pengamatan dengan lengkap.
2: Membawa hewan pengamatan kurang lengkap
1: Tidak membawa hewan pengamatan
2. Cara pengamatan 3: Mengamati pengelompokan tumbuhan dan hewan
sesuai dengan prosedur kerja
2: Mengamati pengelompokan tumbuhan dan hewan
kurang sesuai dengan prosedur kerja
1: Mengamati pengelompokkan tumbuhan dan hewan
tidak sesuai dengan prosedur kerja
3 Cara menggunakan
pinset
3: Memegang hewan pengamatan menggunakan
pinset dengan cara yang benar
2: Memegang hewan pengamatan menggunakan
pinset dengan cara yang kurang benar
1: Memegang hewan pengamatan menggunakan
pinset dengan cara yang tidak benar
4 Cara menggunakan
kaca pembesar
3: Mengamati hewan pengamatan menggunakan kaca
pembesar dengan cara yang benar
2: Mengamati hewan pengamatan menggunakan kaca
pembesar dengan cara yang kurang benar
1: Mengamati hewan pengamatan menggunakan kaca
pembesar dengan cara yang tidak benar
Tabel 3.2. Tabel Keterampilan proses sains
2. Untuk melihat pemahaman konsep yang didapatkan dari hasil belajar dengan
menggunakan uji beda antara nilai pada pretes dan postes dilakukan uji-t yaitu
dengan menggunakan rumus:




Keterangan :
Md = Mean dari perbedaan pretest dengan posttest
Xd = Deviasi masing-masing subjek

= jumlah kuadrat deviasi


= Subjek pada sampel
= ditentukan dengan N-1 (Arifin, 2008)

3. Uji normalitas, Uji homogenitas varians, dan Uji korelasi antar variabel terikat
dengan menggunakan MANOVA dengan bantuan SPSS 17.0 for windows
4. Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikan 0,05 dengan ketentuan
sebagai berikut :
Jika t
hitung


t
tabel
maka H
0
diterima, dan jika t
hitung
t
tabel
maka H
0
ditolak, (Sudjana,
2005 : 219).



DAFTAR PUSTAKA

Amien, Moh. 1979. Apakah Metode Discovery-Inquiry Itu?. Depdikbud.

Ardhana, Wayan, dkk,. 2004. Pembelajaran Inovatif untuk Pemahaman dalam
Belajar Matematika dan Sains di SD, SLTP, dan SMU. Usulan Penelitian
Hibah Penelitian Tim Pascasarjana - HPTP. Malang : Program Pascasarjana
Universitas Negeri Malang.

Arifin, Zaenal. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Lentera cendekia
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Beyer, Barry K. 1991. Teaching Thinking Skill: A Handbook for Elementary School
Teachers. New York, USA: Allyn & Bacon.

Carin, Arthur A and Robert B. Sund, 1989. Teaching Science Through Discovery.
Columbus, Ohio: Merril Publishing Company.

Gehring, Kathleen, M dan Deborah, A, Eastman. 2007. Information Fluency for
Undergraduate Biology Majors: Application of Inquiry-Based Learning in a
Developmental Biology Course. Cell Biology Education-Life Science
Education. Volume 7:54-63.

Gulo, W. 2002. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta. Penerbit Grasindo.

Haryono. 2006. Model Pembelajaran Berbasis Peningkatan Keterampilan Proses
Sains. Jurnal Pendidikan Dasar. VOL.7, NO.1,: 1-13

Haryono. 1997. Penelitian dan Pengembangan Model Proses Belajar yang Bercirikan
Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Kritis Siswa SD. Laporan
Penelitian Hibah Bersaing III/3 Perguruan Tinggi 1996/1997. Semarang:
Lemlit IKIP Semarang.

Haury, Devid L. 1993. Teaching Science Through.Terj. Puta Jaya : Yogjakarta.
Hermawati, Ni Wayan Manik. 2012. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap
Penguasaan Konsep Biologi Dan Sikap Ilmiah Siswa Sma Ditinjau Dari
Minat Belajar Siswa. Jurnal Penelitian Pascasarjana Undiksha. Volume 2
No 2.

Houston, W. Robert., et all. 1988. Touch the Future Teach. St. Paul, MN: West
Publishing Company.

Irwandi. 2009. Pengaruh Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Biologi
melalui Strategi Inkuiri dan Masyarakat Belajar pada Siswa dengan
Kemampuan Awal Berbeda terhadap Hasil Belajar Kognitif di SMA Negeri
Kota Bengkulu. Jurnal Kependidikan Triadik, April 2009 Volume 12, No.
1:33 43.

Lam, Peng Kwan dan Eric Y K Lam. 2013. Biology matters, GCE O 2
nd
edition,
Marshall Cavendish: Malaysia.

Mulyatiningsih, Endang. 2012. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.

Nur, Mohamad (Editor). 1998. Proses Belajar Mengajar dengan Metode Pendekatan
Keterampilan Proses. Surabaya: SIC.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta

Sanjaya Wina, 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.

Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientase Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Semiawan, Conny R. dkk. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta:
Gramedia Widiasarana Indonesia.


Setiawan, I Gusti Agung Nyoman. 2005. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Dalam
Strategi Inkuiri dan Pembelajaran berdasarkan Masalah Untuk Meningkatkan
Kemampuan Berpikir dan penguasaan Konsep-Konsep Biologi Siswa SMP di
Kecamatan Buleleng Bali. Disertasi. Malang: Universitas Negeri Malang
Program Pasca Sarjana Program Pendidikan Biologi.

Sopyan, Ahmad. 1999. Pengaruh Teknik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan
Penalaran terhadap Hasil Belajar IPA Siswa SLTP, Disertasi (tidak
diterbitkan). Jakarta: PPS UNJ.

Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Suriswo, P. 1999. Filsafat Pembelajaran Konstruktivisme. Yogyakarta: Kanisius.
Trianto. 2007. Metode-Metode Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
Trianto, 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif; Konsep,
Landasan, dan Implementasi pada KTSP. Edisi Perta. Jakarta: Kencana.

Tim Pengajar FKIP Biologi. 2008. Buku Ajar Biologi Umum. Unsyiah

Wirtha, I Made dan Ni Ketut Rapi. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran Dan
Penalaran Formal Terhadap Penguasaankonsep Fisika Dan Sikap Ilmiah
Siswa Sma Negeri 4 Singaraja Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Pendidikan Undiksha.Volume 1 No 2: 15 29.


Yuniastuti, Euis. 2013. Upaya Meningkatkan Keterampilan Proses Dan Hasil Belajar
Biologi Dengan Pendekatan Pembelajaran Jelajah Alam Sekitar Pada Siswa
Kelas Vii Smp Kartika V-1 Balikpapan. Jurnal Socioscientia Kopertis
Wilayah XI Kalimantan. Volume 5 No 1: 31 38





















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SatuanPendidikan : Sekolah Menengah Pertama
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Kelas/Semester : VII/Semester 1
Topik : Klasifikasi Mahluk Hidup
Subtopik : Klasifikasi Mahluk Hidup
AlokasiWaktu : 3 X 40 menit ( 3 JP)



A. KOMPETENSI INTI
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan
keberadaannya
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan
rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait
fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret
(menggunakan,mengurai, merangkai, memodifikasi,dan membuat) dan ranah
abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang)
sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam
sudut pandang/teori
B. KOMPETENSI DASAR
1.1. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang aspek fisik
dan kimiawi, kehidupan dalam ekosistem, dan peranan manusia dalam
lingkungan serta mewujudkannya dalam pengalaman ajaran agama yang
dianutnya.
2.1. Menunjukkan perilaku ilmiah (memilki rasa ingin tahu; objektif ; jujur ;
teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif;
inovatif dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud
implementasi sikap dalam melakukan pengamatan, percobaan, dan
berdiskusi.
3.3. Memahami prosedur pengklasifikasian makhluk hidup dan benda-benda tak
hidup sebagai bagian kerja ilmiah, serta mengklasifikasikan berbagai
makhluk hidup dan benda-benda tak hidup berdasarkan ciri yang di amati.
4.3. Mengumpulkan data dan melakukan klasifikasi terhadap benda-benda,
tumbuhan, dan hewan yang ada di lingkungan sekitar.




C. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
1. Mengidentifikasi pengertian klasifikasi makhluk hidup
2. Menjelaskan tujuan klasifikasi makhluk hidup
3. Menjelaskan dasar-dasar klasifikasi makhluk hidup

D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Setelah melakukan pengamatan pada tumbuhan dan hewan, siswa dapat
mengidentifikasi pengertian klasifikasi makhluk hidup.
2. Setelah melakukan diskusi, siswa dapat menjelaskan tujuan klasifikasi
makhluk hidup.
3. Setelah melakukan diskusi, siswa dapat menjelaskan dasar-dasar
klasifikasi makhluk hidup.
E. MATERI PEMBELAJARAN
1. Pengertian Klasifikasi Makhluk Hidup
Klasifikasi adalah suatu cara mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan
kesamaan cirri yang dimiliki.
2. Tujuan klasifikasi makhluk hidup :
a. Tujuan umum :
- Mempermudah
- Mengenali
- Membandingkan, dan
- Mempelajari makhluk hidup.
b. Tujuan khusus :
- Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan
ciri-ciri yang dimiliki.
- Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk
membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain.
- Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup
- Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya.
3. Dasar dasar klasifikasi makhluk hidup :
a. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan yang
dimilikinya.
b. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan ciri bentuk tubuh (morfologi)
dan alat dalam tubuh (anatomi)
c. Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan manfaat, ukuran, tempat hidup,
dan cara hidupnya.
F. PENDEKATAN/ STRATEGI/ METODE PEMBELAJARAN
1. Pendekatan : Scientific
2. Metode : Diskusi
3. Model : Inkuiri


G. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pertemuan Kegiatan Alokasi
waktu
Pertemuan 1








I. Pendahuluan :
Apersepsi :
- Guru memberi salam
- Guru mengabsen siswa
Motivasi :
1. Guru mengaitkan materi yang lalu dengan materi yang
akan dipelajari yaitu tentang klasifikasi makhluk hidup
dengan memberikan pertanyaan yang merangsang rasa
ingin tahu siswa: Pada bab sebelumnya, tentunya
kalian telah mempelajari mengenai benda hidup dan
benda mati, apa sajakah contohnya?
2. Guru menjelaskan tentang tujuan pembelajaran yang
akan diharapkan kepada siswa setelah mempelajari
materi klasifikasi mahluk hidup.
15 menit
II. Kegiatan inti :
Fase 1. Tahap Undangan (10 menit)
1. Untuk menarik perhatian siswa, guru menampilkan
gambar di depan kelas dan mengajukan beberapa
pertanyaan kepada siswa :Anak-anak, tahukah kalian
gambar apakah ini?, Apa yang terjadi pada gambar
tersebut?, Apakah bahan yang dijual ditaruh bercampur
antara satu jenis dengan jenis lainnya?, Mengapa
barang dagangan dikelompok-kelompokkan?, Apa
keuntungan bila mahluk hidup yang ada di dunia
dikelompok kelompokkan?
2. Dalam merespon jawaban siswa, guru hanya boleh
menjawab iya atau tidak.

Fase 2. Tahap Perencanaan Percobaan (15 menit)
1. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok
2. Guru memberi arahan kepada siswa mengenai tugas
observasi
3. Guru memberikan LKS yang diharapkan siswa mencari
berbagai sumber atau literatur dengan berbagai macam
cara untuk mendapatkan jawabannya.



85 menit
Fase 3. Tahap Pelaksanaan Percobaan (35 menit)
1. 1. Guru membimbing siswa untuk mengamati gambar
dan specimen hewan pengamatan.
2. Guru membimbing siswa untuk berdiskusi, dan
mencari sumber/jawaban.

Fase 4. Tahap Mengkomunikasikan (25 menit)
1. Peserta didik mempresentasikan laporan hasil obervasi,
untuk memberikan masukan atau mendapatkan koreksi
dari kelompok lain.
2. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok dan
memberikan informasi yang sebenarnya.
3. Guru memperkuat konsep-konsep yang telah diperoleh
siswa atau mungkin memperbaiki miskonsepsi.
4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya, apabila ada yang kurang dimengerti.
III. Penutup : (20 menit)
1. Mengumpulkan hasil diskusi
2. Guru memutuskan kelompok yang terbaik dan
memberikan penghargaan kepada kelompok tersebut
atas apa yang telah dikerjakan.
3. Guru memberikan post test secara individu
4. Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari pada
pertemuan berikutnya yaitu mengenai Klasifikasi
Dikotom dan Kunci Determinasi.
20 e
n
i
t

H. SUMBER BELAJAR
1. Sumber :
Nuh, Mohammad. 2013. Ilmu Pengetahuan Alam SMP/MTS Kelas VII.
Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Lam, Peng Kwan dan Eric Y K Lam. 2013. Biology matters, GCE O 2
nd

edition, Marshall Cavendish: Malaysia.
Tim Pengajar FKIP Biologi. 2008. Buku Ajar Biologi Umum. Unsyiah
2. Alat :
a. LCD Proyektor
b. Laptop
c. White Board
3. Bahan :
a. Berbagai Literatur
b. Lembar Kerja Siswa
c. Gambar tumbuhan dan hewan
d. Spesimen

I. PENILAIAN
4. Metode dan bentuk instrument
Metode Bentuk Instrument
Sikap a. Lembar pengamatan sikap dan rubrik
Tes unjuk kerja b. Assessment penilain kinerja
Tes tertulis c. Tes uraian
2. Instrument Penilaian
a. Lembar pengamatan sikap (afektif)
Pengamatan prilaku ilmiah
No Aspek yang di nilai 3 2 1 Ket
1 Rasa ingin tahu (curiosity)

2
Ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan
percobaan
3
Ketekunan dan tanggung jawab dalam belajar
dan bekerja baik secara individu atau
kelompok

4 Keterampilan bekomunikasi pada saat belajar



Rubik penilaian
No Aspek yang dinilai Rubik
1. Menunjukan rasa
ingin tahu
3: Menunjukan rasa ingin tahu yang besar,
antusias aktif dalam kegiatan kelompok
2: Menunjukan rasa ingin tahu, namun tidak
terlalu antusias dan baru terlibat aktif dalam
kegiatan kelompok ketika baru di suruh
1: Tidak menunjukan antusias dalam
pengamatan, sulit terlibat aktif dalam
kegiatan kelompok walaupun telah di dorong
untuk terlibat
2 Ketelitian dan
kehati-hatian
3: Mengamati hasil percobaan sesuai prosedur,
hati-hati dalam melakukan percobaan
2: Mengamati hasil percobaan sesuai prosedur,
kurang hati-hai dalam melakukan percobaan
1: Mengamati hasil percobaan sesuai prosedur,
kurang hati-hati dalam melakukan
percobaan
3 Ketekunan dan
tanggung jawab
dalam belajar dan
bekerja baik secara
3: Tekun dalam menyelesaikan tugas dan hasil
terbaik yang bisa dilakukan, berupaya tepat
waktu
2: Berupaya tepat waktu dalam menyelesaikan
individu atau
kelompok
tugas, namun belum menujukan upaya
terbaiknya
1: Tidak berupaya sungguh-sunguh dalam
menyelesaikan tugas, dan tugasnya tidak
selesai
4 Bekomuniksai 3: Aktif dalam tanya jawab, dapat
mengemukakan pendapat atau ide,
menghargai pendapat siswa lain
2: aktif dalam tanya jawab, tidak ikut
mengemukakan gagasan atau ide, menghargai
pendapat siswa lain
1: Aktif dalam tanya jawab, tidak ikut
mengemukakan pendapat atau ide, kurang
menghargai pendapat siswa lain

b. Penilaian keterampilan (psikomotor) pengamatan tumbuh-tumbuhan dan
pengamatan bagian tubuh hewan
No. Ketrampilan
yang dinilai
Rubrik
1. Hewan pengamatan 3: Membawa hewan pengamatan dengan lengkap.
2: Membawa hewan pengamatan kurang lengkap
1: Tidak membawa hewan pengamatan
2. Cara pengamatan 3: Mengamati pengelompokan tumbuhan dan hewan
sesuai dengan prosedur kerja
2: Mengamati pengelompokan tumbuhan dan hewan
kurang sesuai dengan prosedur kerja
1: Mengamati pengelompokkan tumbuhan dan hewan
tidak sesuai dengan prosedur kerja
3.
Cara menggunakan
pinset
3: Memegang hewan pengamatan menggunakan
pinset dengan cara yang benar
2: Memegang hewan pengamatan menggunakan
pinset dengan cara yang kurang benar
1: Memegang hewan pengamatan menggunakan
pinset dengan cara yang tidak benar
4.
Cara menggunakan
kaca pembesar
3: Mengamati hewan pengamatan menggunakan kaca
pembesar dengan cara yang benar
2: Mengamati hewan pengamatan menggunakan kaca
pembesar dengan cara yang kurang benar
1: Mengamati hewan pengamatan menggunakan kaca
pembesar dengan cara yang tidak benar

c. Instrumen soal pengetahuan
1. Apa yang di maksud dengan klasifikasi makhluk hidup ?
2. Siapakah tokoh pelopor klasifikasi makhluk hidup ?
3. Sebutkan tujuan umum dan khusus dari klasifikasi makhluk hidup!
4. Menurut pendapat mu, apa yang menjadi dasar klasifikasi makhluk
hidup, jelaskan !

Kunci Jawaban Dan Penskoran
No. Kunci Jawaban Skor
1
Suatu cara mengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan kesamaan cirri yang dimiliki
4
2 Charleus Linnaeus 4
3
- Tujuan umum: Mempermudah, Mengenali,
Membandingkan, dan Mempelajari makhluk hidup.
Tujuan khusus : Mengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang
dimiliki, Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk
hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup
dari jenis lain, Mengetahui hubungan kekerabatan antar
makhluk hidup, Memberi nama makhluk hidup yang
belum diketahui namanya.
4
4
Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan persamaan dan
perbedaan yang dimilikinya.
Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan ciri bentuk
tubuh (morfologi) dan alat dalam tubuh (anatomi)
Klasifikasi makhluk hidup berdasarkan manfaat,
ukuran, tempat hidup, dan cara hidupnya.
4

Nilai tertinggi 16