Anda di halaman 1dari 34

ASSESMENT DALAM PEMBELAJARAN

ASSESMENT DALAM PEMBELAJARAN


Assesment atau penilaian tidak bisa dilepaskan dengan peran guru sebagai tenaga
pengajar. Assesmenttermasuk salah satu indikator penentu untuk mengetahui seberapa jauh
keberhasilan atau bahkan kegagalan yang dilakukan oleh guru atau dosen selaku agen
pembelajaran dan siswa sebagai subjek pembelajaran, sebelum memilih metode yang tepat
sasaran yang dianggap sesuai dengan kondisi pembelajaran yang ada sehingga untuk langkah
selanjutnya efektifitas, efisiensi dan daya tarik pembelajaran dapat terselenggara dengan baik dan
dapat
menghasilkan
keluaran
belajar
yang
kompeten
yang
dapat
membuat assesment pembelajaran di sekolah tersebut bernilai positif, sesuai tujuan pendidikan
nasional.
Bertolak dari ketentuan perundangan PP.No.19 tahun 2003, tentang Standar Nasional
Pendidikan, yang menguraikan delapan standar mutu pendidikan yaitu, (1) standar isi, (2) standar
proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidikan dan kependidikan, (5) standar
sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian
(assesment), maka kita dapat melihat bahwa standar penilaian (assesment) adalah standar
penentu
bagi
kesuksesan
suatu
proses
pembelajaran.
Hal
ini
berarti
bahwa assesment(penilaian/evaluasi), merupakan indikator penting yang harus dikuasai oleh
setiap guru atau dosen untuk mengetahui apakah seluruh standar tersebut berhasil atau gagal
dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya, setelah diperoleh hasil assesment dari proses
pembelajaran.
Dari assesment ini pula, kita dapat mengetahui apakah guru atau dosen sebagai perancang
dan pengelola proses pembelajaran, telah memenuhi standar kualifikasi akademik yang
dimaksud oleh PP. No.19 tahun 2005, dimana guru harus memenuhi empat standar kompetensi
sebagai agen pembelajaran, yaitu standar kompetensi pedagogis, standar kompetensi
kepribadian, standar kompetensi profesional, dan standar kompetensi sosial, yang
membuatassesment pembelajaran di sekolah tersebut berkualitas.
A.
Pengertian Assesmen dan Pembelajaran
Assesmen yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Assesment mengandung makna
taksiran/penaksiran, penilaian, penilaian keadaan, beban, pembebanan atau pemikulan. Menurut
H.A.R Tilaar assesment adalah alat tes untuk mengukur performan siswa dalam proses belajar.
Salah satu contoh tes (assesment) yang menjadi industri besar di Amerika adalah test TOEFL (tes
bahasa Inggris) yang digunakan untuk memasuki perguruan perguruan tinggi terkemuka di
Amerika. Hal senada diungkapkan oleh Tardif (1989) bahwa assesment adalah evaluasi terhadap
proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai oleh siswa, sesuai kriteria yang
ditetapkan, contoh assesment di Indonesia salah satunya adalah UN (Ujian Nasional) yang
dahulu dikenal dengan EBTANAS. Lebih lanjut Lefrancois (1982:336) mengemukakan bahwa
assesmen adalah alat ukur/evaluasi, bagi guru/dosen untuk mengetahui, memonitor, merekam,
mendorong, dan meningkatkan atau memotivasi prestasi siswa yang akan menjadi umpan balik
bagi diri siswa sendiri untuk mengukur kelemahan dan kekuatannya dalam mengukur diri.
Sedangkan Assessment menurut Hopkins & Antes (1990:31) adalah alat ukur/evaluasi, bagi guru
untuk mengetahui kemajuan siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Lebih tegas lagi Gagne
& Briggs menjelaskan assesment adalah alat ukur keberuntungan guru dan siswa untuk
mengevaluasi diri mereka sendiri (self assesment) dalam meningkatkan keberhasilannya dan
inisiatif diri.

Dalam
pendidikan
assessmen
sering
dirangkai
dengan
kata
pembelajaran
(Assesment Of Learning). Pembelajaran menurut Reigeluth dan Degeng
adalah Upaya untuk membelajarkan siswa. Morton & Macbeth seperti yang dikutip Beard &
Senior (1980:76) mengungkapkan bahwa assesment of learning adalah evaluasi pada landasan
psikologis yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu mengevaluasi
diri, dimana guru dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dengan tahapan :
1. Menjadikan alat evaluasi sebagai umpan balik.
2. Memilih alat evaluasi yang objektif dan adil, dengan menginformasikannya kepada siswa,
3. Memberi kesempatan siswa untuk mengevaluasi diri,
4. Memberi kesempatan siswa untuk mengevaluasi teman.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa assesmen dalam pembelajaran
secara istilah adalah upaya penilaian untuk mengukur (keberhasilan atau kegagalan) suatu proses
pembelajaran sekaligus sebagai umpan balik bagi guru dan siswa. Bagi siswa assessmen dapat
dijadikan evaluasi dirinya sejauhmana mereka memiliki kompetensi setelah mengikuti proses
pembelajaran. Bagi guru assessmen dapat dijadikan alat evaluasi yang objektif untuk mengukur
sejauhmana kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
B.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
C.

Kawasan Assesment dalam Pembelajaran


Assesment sebagai alat evaluasi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
pada tataran silabus, memiliki kompetensi dasar yang terfokus pada tiga kawasan/kategori ranah
(domain), yaitu kognitif ( hal yang harus diketahui dan dipahami oleh siswa) , psikomotor (hal
yang dapat dilakukan oleh siswa setelah memiliki pengetahuan) dan afektif (sikapsiswa setelah
proses pembelajaran diberikan). Proses evaluasi dalam pembelajaran sebagaimana yang
diklasifikasikan oleh Bloom dan teman temannya (1956) melalui tahapan yang dimulai dari
jenjang yang mudah ke jenjang yang sulit. Artinya evaluasi sudah berlangsung sejak awal (pre
test) proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran (post test) dan jenjang tahapan dalam
klasifikasi Bloom adalah dimulai dari :
Pengetahuan (penyajian informasi,dimana siswa mampu mengulang apa yang
diuraikan
guru/dosen).
Pemahaman (siswa menguraikan pesan / pengetahuan yang diterima dari guru
dan menguraikannya berdasarkan pemehamnnya/menambahkan atau mengkritisi).
Aplikasi (Siswa mampu membuat diagram / pola atas informasi / pesan / pengetahuan yang
diterima dari guru berdasarkan pemahamnnya sendiri,yang tentunya tidak keluar dari tujuan
pesan tersebut).
Analisis (memecahkan pesan/ide/pengetahuan menjadi bagian kecil dan menunjukan
hubungannya(keterkaitannya).
Sintesis,menyatukan bagian bagian kecil pesan/ide/pengetahuan menjadi satu kesatuan.
Evaluasi menjadi assesmen penilaian yang berdasarkan pada kriteria tertentu sesuai kondisi
pembelajaran yang ada.

Tujuan Assesment
Tujuan assesment dalam pembelajaran menurut Muhibbin, menjelaskan bahwa tujuan
dari assesment adalah
1. untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dan guru sebagai
pembimbing dalam suatu kurun waktu proses belajar yang sudah ditentukan;

2.

untuk mengetahui posisi siswa dalam kelompok di kelasnya,sehingga guru dapat memberi test
sesuai dengan kemampuan siswa;
3. untuk mengetahui tingkat usaha siswa dalam upaya pembelajarannya;
4. untuk mengetahui sejauhmana siswa mengeksplorasi tingkat kecerdasannya dalam memahami
pelajaran;
5. untuk mengetahui ukuran daya guna dan hasilguna metode yang diterapkan oleh guru selaku
pembimbing.untuk mengetahui apakah metode yang diterapkan sudah sesuai dengan kondisi
pembelajaran dan kondisi siswa yang ada dalam proses pembelajarannya.
D.
Fungsi Assesment
Fungsi assesment dalam pembelajaran adalah
1. Fungsi administratif dalam penyusunan nilai dan buku raport;
2. Fungsi promosi,untuk menetapkan tingkat kelulusan siswa;
3. Fungsi diagnostik,untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dalam belajar;
4. Fungsi data bagi BP(Bimbingan Penyuluhan);
5. Fungsi Pertimbangan , bagi pengembangan kurikulum di masa yang akan datang.
E. Syarat dan Ragam Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran
1. Syarat Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran
Muhibbin menjelaskan bahwa persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik
dalam perspektif psikologi belajar,meliputi dua macam yakni, (1) Reliabilitas, Tahan Uji dan
dapat dipercaya konsistensi dan keajegannya.(diujikan kepada siapapun dan dalam masa yang
berbeda, akan memberi hasil yang pastisama secara prinsip), (2) validitas, keabsahan dan
kebenaran pengukuran yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, (sesuai dengan apa
yang akan diukur/tepat sasaran). Lebih tegas lagi Suryabrata (1995:327) mengungkapkan bahwa
syarat tes yang baik harus reliabel, valid, objektif, diskriminatif, komprehensif, dan mudah
digunakan. Dengan demikian syarat terpenting dalamassesment pembelajaran adalah adanya
indikator kompetensi pedagogi yang dimiliki oleh guru atau dosen selaku evaluator sehingga
guru atau dosen sebagai agen pembelajaran mampu :
a.
Menggunakan berbagai cara / teknik penilaian.
b.
Menghargai karya siswa dan memajangnya.
c.
Memberikan penilaian atas semua aspek perkembangan siswa
(kognitif,afektif,psikomotorik).
d.
Menilai kegiatan siswa dalam pelaksanaan tugas belajar.
e.
Memberikan penilaian atas hasil yang dicapai.
f.
Melakukan penilaian formatif atas pembelajaran dan memperbaikinya
bila kurang efektif.
g.
Mengumumkan hasil penilaian siswa secara terbuka.
h.
Memberikan umpan balik dan penguatan atas kegiatan siswa.
i.
Mengumpulkan data perkembangan siswa.
j.
Melakukan analisis hasil penelitian.
2. Ragam dan Teknik Assesmen dalam Pembelajaran
Dalam Ragam dan Teknik Assesmen Pembelajaran setiap pendidik baik dosen ataupun
guru, harus memahami secara baik dan benar:
a.
Pengertian Evaluasi / assesmen dalam pembelajaran.
b. Tujuan dari assesmen yang akan diberikan.

c.
d.

Kriteria dasar bahan ujian.


Mengenai soal yang bermutu ( soal yang shahih/valid dan
handal/reliable).
e.
Teknik dan Alat Penilaian sebagai berikut :
1)
Teknik Penilaian melalui Test (1.Test Tertulis/Test Objektif
dan Uraian , 2.Test Lisan, 3.Test Perbuatan).
2)
Teknik Penilaian melalui observasi atau pengamatan.
3)
Teknik Penilaian melalui wawancara.
f.
Langkah langkah penyusunan soal.
g. Penentuan Materi yang akan dan harus diujikan.
h. Penetuan Prilaku yang akan diujikan.
i.
Penetuan dan Penyebaran soal.
j.
Penyusunan kisi-kisi.
k. Penyusunan butir soal.
l.
Teknik Penilaian sikap.
Dalam Buku Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru , Muhibbin menjelaskan bahwa
ragam evaluasi terdiri atas beberapa bentuk test ,di antaranya adalah :
1. Pre test (diberikan guru pada setiap awal penyajian pelajaran) dan Post test (diberikan pada
setiap akhir penyajian pelajaran).
2. Evaluasi Prasyarat (appersepsi).
3. Evaluasi Diagnostik,yang diberikan setelah selesai penyajian,yang menitikberatkan pada bahasan
tertentu yang membuat siswa kesulitan,untuk dibahas solusi pemahamannya.
4. Evaluasi Formatif,sejenisulangan yang diberikan pada akhir penyajian satuan pelajaran atau
modul.
5. Evaluasi Sumatif, sejenis ulangan umum yang diberikan pada setiap akhir semester atau akhir
periode pelaksanaan program pengajaran.
6. UN (Ujian Nasional),
Dengan demikian para pendidik harus memahami tujuan yang akan dicapai dalam proses
pembelajaran dan melakukan tahapan sebagai berikut sebagai bentuk evaluasi terhadap proses
pembelajaran :
1.
Merumuskan indikator tiap kompetensi dasar
2.
Menyusun alat evaluasi.
3.
Menetapkan kegiatan belajar
4.
Merencanakan program kegiatan mengajar dengan memperhatikan materi isi pelajaran,
memilih alat, metode serta menetapkan jadwal.
5.
Melaksanakan program(mengadakan pre test, menyampaikan materi, dan akhirnya
mengadakan evaluasi/post test)

1.
3.

Colin Rose, pakar accelerated learning, menjelaskan bahwa diri kita adalah hakim yang
terbaik untuk menilai kemampuan dan kekurangan diri sendiri (self assesment). Kita harus
menguasai 8 kecerdasan yang ada pada diri kita dan siswa didik , sebelum membuat
evaluasi/assesment ke arah tercapainya tujuan pembelajaran. Delapam kecerdasan itu adalah:
Kecerdasan linguistik (berminat pada drama, pendengar yang baik, pembicara yang
fasih,
pandai menjelaskan sesuatu, senang menulis)
2. Kecerdasan matematis, logis (pemikir yang logis dan analisis).
Kecerdasan visual/spasial (pengamat,penentuarah pemikiran,pembuat pola diagram yang teliti).

4. Kecerdasan musikal(pendengar bunyi alam yang baik dan penghafal baik, penulis lirik atau musik
yang baik).
5. Interpersonal (mediator yang tangguh).
6. Intrapersonal (eksklusif, penyendiri, penghayal).
7. Fisik (bekerja dengan benda, senang bergerak,olahragawan).
8. Naturalis (Pencinta alam,yang mampu menyebut nama jenis tanaman ,hewan dan pemerhati
lingkungan yang baik).
Dalam membuat assesment pembelajaran, sebaiknya para pendidik memperhatikan
tingkat kecerdasan siswa dan perbedaan yang ada dalam diri masing-masing siswa sesuai 8
kecerdasan yang tersebut. Pendidik juga harus mampu memotivasi siswa sehingga dapat
memberikan hasil yang baik dalam melatih daya ingat dan menggali potensi kecerdasan mereka
sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian Vernon dari Universitas Texas , yang dikutip oleh
Colin Rose bahwa terdapat perbedaan persentase ingatan dalam proses pembelajaran sebagai
berikut:
1) Belajar dengan Membaca akan menghasilkan daya ingat 20% saja
2) Belajar dengan Mendengar akan menghasilkan daya ingat 30% saja
3) Belajar dengan Melihat akan menghasilkan daya ingat 40% saja
4) Belajar dengan Mengucapkan akan menghasilkan daya ingat 50% saja
5) Belajar dengan Melakukan akan menghasilkan daya ingat 60% saja
6) Maka Belajar dengan Membaca,Mendengar,Melihat,Mengucapkan,dan Melakukan akan
menghasilkan daya ingat sebanyak 90% (Luar biasa).
Penelitian Vernon yang tersebut di atas dapat kita sandingkan dengan Gaya
Pembelajaran Model Quantum Teaching dalam mengevaluasi pemahaman dan interaksi siswa
dalam proses pembelajaran, yang dipaparkan oleh Bobby De Porter, Mark Reardon dan Sarah
Singer Nourie dalam istilah TANDUR (singkatan kata dari, T= Tumbuhkan, A=Alami, N =
Namai, D = Demonstrasikan, U = Ulangi, R = Rayakan ). T = Tumbuhkan minat siswa dalam
pembelajaran, dengan AMBAK ( Apa Manfaatnya BAgiKu /siswa). Dalam hal ini guru
memotivasi minat belajar Siswa untuk ikut memberi keputusan kepada tujuan pembelajaran yang
akan dicapai). A = Ciptakan pengalaman yang membuat siswa, merasa mengalami peristiwa
yang disampaikan, untuk menumbuhkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran. N =
Siapkan kata kunci untuk penamaan yang akan memudahkan daya ingat siswa. D =
Demonstrasikan , sebagai entuk aplikatif dari pengetahuan/ide/pesan yang disampaikan guru.U =
Ulangi , adakan tes formatif atau post test sebagai alat ukur pemahaman. R = Rayakan
keberhasilan Proses Pembelajaran yang interaktif , efisien dan efektif, di antara guru dan siswa.
G. 10 Prinsip Assesment , untuk keberhasilan evaluator rofesional.
Dalam membuat assesment/evaluasi/penilaian, pendidik harus memperhatikan dan
menguasai sepuluh prinsipassesment , dengan melaksanakan tahapan-tahapan berikut ini :
a)
Pendidik
harus
membuat
Perencanaan
yang
efektif
bagi
dirinya
dan
anak didiknya.
b) Assesmen harus terfokus pada siswa sebagai subjek pembelajaran
(student center).
c)
Assesment harus interaktif , Reflektif dan dapat dilaksanakan.
d) Assesment adalah kunci ketrampilan Guru.
e)
Assesment adalah alat evaluasi yang sensitif dan Konstruktif terhadap
dampak emosi siswa.
f)
Assesment harus memperhitungkan Motivasi Belajar siswa.

g)

Promosikan tujuan belajar, dan libatkan siswa sebagai pengambil


keputusan.
h) Assesment adalah Bimbingan Belajar sebagai upaya peningkatan mutu
pendidikan.
i)
Assesment akan membangun jiwa kepemimpinan(kemandirian) dan
kepekaan. siswa.
j)
Assesment harus sesuai dengan tingkat kecerdasan / kemampuan
siswa yang berbeda satu sama lainnya.
F.

1.
2.
a)
b)

c)

1.
2.
3.

Assesmen Alternatif
Penilaian alternatif menawarkan pada murid lebih banyak pilihan ketimbang ujian
tradisional. Sebagai contoh guru bahasa Indonesia di sekolah memberi murid menu penilaian
seperti menulis laporan tentang wawancara, menulis sendiri cerita atau mewawancarai tokoh.
Penilaian demikian digolongkan dalam penilaian autentik. Artinya penilaian yang dilakukan
guru mengevalusi pengetahuan siswa dalam konteks yang mendekati kehidupan nyata. Namun,
dalam merancang atau memilih alat evaluasi guru harus memperhatikan setidaknya tiga
indikator sebelum assesment dalam bentuk evaluasi diberikan kepada siswa didik. Hal ini
dimaksudkan untuk suksesnya proses pembelajaran. Tiga indikator tersebut adalah :
Indikator kondisi yang ada di linkungan pembelajaran dengan terlebih dahulu memperhatikan
tujuan dan karakteristik bidang studi, kendala dan karakteristik bidang studi, karakteristik peserta
didik.
Memilih metode pembelajaran yang dapat memenuhi standar kompetensi yang sudah
diarahkan dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Metode pembelajaran yang
digunakan harus berpijak pada empat komponen KTSP yaitu :
Tujuan pendidikan sekolah
Struktur dan muatan kurikulum (content), yang mencakup mata
pelajaran, muatan lokal, pengembangan diri, beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan dan
kelulusan,penjurusan,pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan
global.
Kalender Pendidikan
3.
Silabus dan RPP
Memilih assesmen alternatif yang sesuai dengan standar kompetensi dengan tidak
mengabaikan indikator kondisi pembelajaran serta metode yang digunalkan dalam proses
pembelajaran tersebut. Intinya, sebagai guru dituntut untuk dapat merancang sistem
instruksional, merancang pesan, merancang strategi pembelajaran yang efisien dan efektif
sehingga proses pembelajaran dapat memberikan assesment yang baik bagi masyarakat
atas output yang dihasilkan oleh sekolah tersebut. Sebagai guru, untuk dapat mengelola proyek,
sumber, sistem dan informasi tentang assesment pembelajaran, khususnya dalam menganalisis
permasalahan di seputar assesment sekolah harus memiliki KSA yaitu :
Knowledge : pengetahuan dan wawasan
Attitude : Sikap yang baik sebagai seorang guru,dosen,atau manager lembaga pendidikan /
kepala sekolah.
Skill : Keahlian dalam menganalisa dan menyelesaikan permasalahan di
seputar assesment dalam kualitas proses pembelajaran.
Guru dituntut untuk mampu memilih dan menggunakan Alat evaluasi yang tepat dan
bermanfaat dalam memberikan umpan balik yang bernilai positif bagi pendidik dan sekolah

1.
2.
3.
4.
5.

sehingga pada akhirnya assesmentpembelajaran dari sekolah atau institusi dimana proses
pembelajaran itu berlangsung dapat menjadi nilai plus bagi kualitas sekolah itu sendiri.dan
beberapa hal yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh para evaluator adalah dalam membuat
alat evaluasi sebagai assesment tools diantaranya :
Pembuatan Quiz
Pembuatan assignment untuk siswa
Pembuatan pre test dan post tes dalam berbagai tipe soal
Self test bagi siswa
Presentasi jawaban
Sehingga peserta didik (siswa didik) yang melaksanakan Evaluasi tersebut lebih mempersiapkan
diri dalam menghadapi berbagai test, baik pre test atau post test, test sumatif atau formatif, baik
evaluasi yang dilakukan oleh evaluator dari luar maupun dari dalam,tidak akan menjadi faktor
utama yang perlu dikhawatirkan dalam penilaian assesmen pembelajaran bagi hasil evaluasi
mereka.
G. Model Assesment Alternatif sebagai Pilihan Para Pendidik
Assesmen Alternatif adalah pilhan yang tepat , karena pemilihan alat evaluasi sebagai
unsur terpenting dan pamungkas dalam proses pembelajaran yang akan berpengaruh
bagi assesment sekolah dan unsur yang terlibat di sekolah tersebut.dengan terlebih dahulu
memperhatikan kondisi lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, melihat ketersediaan sarana
dan prasarana (ketersediaan jaringan yang menjadi indikator penting bagi pembelajaran yang
berbasis TIK). Assesmen Alternatif sebagai penilaian program atau proses pembelajaran harus
dilandaskan pada tiga kawasan penidikan dalam taksonomi Bloom yaitu :
1. Landasan Kognitif : Penilaian atas prestasi pengetahuan dan wawasan
2. Landasan Afektif : Penilaian atas respon & sikap siswa setelah PBM
3. Landasan Psikomotorik : Partisipasi siwa dalam melaksanakan tugas.
Dengan memperhatikan aspek kemampuan individu (self assesment) dalam delapan
kecerdasan yang berbeda dan kemampuan kinerja kelompok (performance assesment) dalam
wujud assesmen kinerja siswa dalam mengadaptasi test berbasis komputer,internet,maupun
pembelajaran berjaringan atau pembelajaran multimedia,baik pre test maupun post test,test
pilihan ganda yang diperluas, test jawaban terbuka, tugas individu, tugas kelompok, baik dalam
bentuk wawancara, observasi, assesment portofolio ( dalam tahap persiapan,tahap
pelaksanaan,dan tahap penilaian), proyek pameran, atau demonstrasi karya.

H.

Assessment Portofolio
Assesment portofolio adalah penilaian terhadap kumpulan berkas sebagai bukti fisik
setiap aktivitas siswa selama dan sesudah pembelajaran, bisa berupa dokumen hasil tes, tugastugas, hasil karya, catatan tentang sikap-minat, ketrampilan, dan kompetensi
siswa. Assesment ini adalah salah satu bentuk penilaian autentik yang diadaptasi secara luas di
sekolah-sekolah saat ini. Diane Hart mendefinisikan portofolio sebagai "sebuah wadah yang
memegang bukti keterampilan individu, ide, minat, dan prestasi." Penilaian portofolio
merupakan satu metode penilaian berkesinambungan, dengan mengumpulkan informasi atau data
secara sistematik atas hasil pekerjaan seseorang (Pomham, 1984). Seluruh hasil belajar peserta
didik (hasil tes, hasil tugas perorangan, hasil praktikum atau hasil pekerjaan rumah) dicatat dan
diorganisir secara sistematik.

Fungsi penilaian fortopolio adalah sebagai alat untuk mengetahui kemajuan kompetensi
yang telah dicapai peserta didik dan mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, memberikan
umpan balik untuk kepentingan perbaikan dan penyempurnaan proses pembelajaran. Kumpulan
hasil pekerjaan peserta didik dapat berupa: (1) puisi; (2) karangan; (3) gambar/tulisan; (4)
peta/denah; (5) desain; (6) paper; (7) laporan observasi; (8 ) laporan penyelidikan; (9) laporan
penelitian; (10) laporan eksperimen; (11) sinopsis;(12) naskah pidato/kotbah; (13) naskah drama;
(14) doa; (15) rumus;(16) kartu ucapan; (17) surat; (18 ) komposisi musik; (19) teks lagu; (20)
resep masakan.
Penilaian portofolio sering diibaratkan sebagai satu album photo dari suatu kegiatan yang
merekam aktivitas program dan para partisipannya. Portofolio ini juga sering dianggap sebagai
suatu showcases bagi orang-orang yang tertarik atau memerlukan untuk mendapatkan
gambaran mengenai program tersebut. Bagi dunia pendidikan, penilaian portofolio cukup sering
digunkan untuk mendokumentasikan kemajuan dan pencapaian masing-masing siswa. Penilaian
portofolio jika dilakukan secara benar dan sistematis dapat menjadi alat pengukur praktek,
prosedur, dan keluaran yang lebih baik jika dibandingkan alat pengukuran tradisional.
Tidak semua portofolio merupakan portofolio penilaian. Portofolio juga bisa berisi hasil
kerja dan catatan tersendiri dari guru, atau dari seorang profesional, atau bahkan portofolio suatu
perusahaan. Portofolio penilaian sendiri memiliki beberapa komponen yang harus ada atau
terdapat dalam portofolio tersebut. Komponen-komponen tersebut antara lain :
Merupakan bagian dari komponen hasil mata pelajaran
Didasarkan pada hasil keluaran program
Mencakup dokumentasi dari semua yang didemonstrasikan siswa dari setiap keluaran
Dinilai oleh guru dengan menggunakan rubrik yang umum
Pada dasarnya ada beberapa tipe portofolio, seperti:
Showcase siswa meletakkan semua contoh terbaik atau produk terbaik yang dihasilkannya
dari setiap objektif.
Kumulatif Siswa meletakkan semua pekerjaan yang relevan untuk setiap objektif dalam
portofolionya.
Proses Siswa meletakkan pre/post sample dari pekerjaan untuk setiap objektif dalam
portofolionya.
Dalam setiap tipe portofolio harus terdapat komponen dasar sebagai mana tercantum
diatas. Beberapa ahli membagi portofolio menjadi dua yaitu Portofolio Proses dan Portofolio
Produk. Portofolio proses berisi dokumentasi dari tahapan-tahapan pembelajaran dan catatan
kemajuan siswa. Sedangkan Portofolio Produk hanya berisi kumpulan hasil kerja terbaik siswa.
Untuk mengetahui proses dan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran, biasanya guru
menggunakan portofolio proses, sedangkan untuk mengetahui penguasaan akhir digunakan
portofolio produk.
Ada beberapa kelebihan dari Penilaian Portofolio ( sebagaimana dikutip oleh Julia
Scherba dari Venn ) seperti:
Menunjukkan evaluasi diri siswa, refleksi, dan pemikiran kritis
Mengukur Kinerja dasar berdasarkan contoh original pekerjaan siswa
Memberikan fleksibilitas dalam mengukur bagaimana siswa mencapai tujuan
Memungkinkan guru dan siswa berbagi tanggung jawab dalam menentukan tujuan belajar dan
untuk evaluasi kemajuan.

Memberikan kemungkinan bagi siswa untuk mendapatkan masukkan yang ekstensif dari
proses pembelajaran
Memfasilitasi pembelajaran kooperatif, termasuk evaluasi peer dan tutoring
Memungkinkan pembentukan struktur pembelajaran bertahap
Memungkinkan guru dan siswa untuk mendiskusikan tujuan pembelajaran dan kemajuan
dalam dialog yang terstruktur maupun tidak.
Memungkinkan pengukuran kemajuan siswa multi dimensi dengan memasukkan
berbagai tipe data dan material.
Bagi seorang guru, penilaian portofolio walaupun sedikit lebih rumit tetapi bisa memiliki banyak
kegunaan. Seperti misalnya:
Mendorong pembelajaran mandiri
Memperjelas pandangan mengenai apa yang dipelajari
Membantu mempelajari pembelajaran
Mendemonstrasikan kemajuan berdasarkan keluaran yang diidentifikasikan
Membuat interseksi antara instruksi dan penilaian
Memberikan jalan kepada siswa untuk menilai diri mereka sebagai pemelajar
Memberikan kemungkinan untuk pengembangan dukungan peer
Mengetahui bagaiman Portofolio dapat memperbaiki proses persiapan
Dengan demikian penilaian portofolio berbeda dengan penilaian lainnya, penilaian portofolio
merupakan rangkuman setiap aktivitas yang membutuhkan pencermatan, keobjektifan dan
tranparansi. Penilaian portofolio bukanlah hasil rekaan dan bersumber imajinatif. Hal ini
menunjukkan program pembelajaran dalam persiapan evaluasi harus berkelanjutan dari satu
kegiatan kepada kegiatan lain guna peningkatan mutu kualitas pendidikan bagi input maupun
output di sekolah. Kegiatan tersebut dapat terlembaga secara baik dan profesional baik di
lembaga formal maupun non formal. Assesment positif sebagai penilaian hasil evaluasi terhadap
program atau proses haruslah diakui oleh masyarakat luas yang menjadi penilai objektif bukan
penilaian individualistis.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah . 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Arruz Media.
De Porter, Bobby, dkk. 2007. Quantum Teaching. Bandung: Haifa.
Qualification and Curriculum Agency,QCDA@http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx.

http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasiprogram- pembelajaran.html.


Aqib, Zainal dan Elham Rohmanto. 2007. Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah, Jakarta:
Yrama Widya.
Rose, Colin. 2002. Accelerated Learning. Bandung: Haifa.
Degeng, Nyoman Sudana & Yusufhadi Miarso. 1993. Buku Pegangan Teknologi
Pendidikan,Terapan TeoriKognitif dalam Disain Pembelajaran. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen DIKTI, Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama
Antar Universitas / IUC (Bank Dunia XVII).
Tilaar, H.A.R. 2006. Standardisasi Pendidikan Nasional,Suatu Tinjauan Kritis, Jakarta: Rineka
Cipta.
Qualification and Curriculum Agency,QCDA@http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx
Susanto. 2007, Pengembangan KTSP dengan Perspektif Manajemen Visi. Jakarta: Mata Pena
Syah, Muhibbin.1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Press.
Hart, D. (1994). Authentic Assessment: A Handbook for Educators . Hart, D. (1994). Authentic
Assesment: A Handbook for Educators. Menlo Park, CA; Addison-Wesley Pub. Menlo Park, CA;
Addison-Wesley Pub. Co. Co.
http://educare.e-fkipunla.net Generated: 4 February, 2010, 07:09
http://educare.e-fkipunla.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=11.
http://rosda.co.id/index.php?info=resensi&resensi=49&page1=2&perpage1=10.
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|
id&u=http://www.teachervision.fen.com/assessment/resource/5942.html.
http://www.provost.cmich.edu:80/assessment/toolkit/developingrubrics.htm.
http://www.provost.cmich.edu:80/assessment/toolkit/types.htm.
Julia Scherba, Ph.D. University of New Mexico, http://www.unm.edu/~devalenz/index.html.
Meg Sewell, Mary Marczak, & Melanie Horn , THE USE OF PORTFOLIO ASSESSMENT IN
EVALUATION , University of Arizona. http://ag.arizona.edu.
Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan . Kerjasama Pusat Teknologi
Komunikasi dan Informasi Pendidikan PUSTEKOM DIKNAS,Cet.ke 3
Prince George County Public School http://www.pgcps.org/~elc/theory.html.
Qualfication and Curriculum Agency,qcda http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx.
http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam-evaluasi-programpembelajaran.html.
Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:
Remadja Rosdakarya.

BAB I
PENDAHULUAN
Urgensi Assesmen Pembelajaran di Bidang Teknologi Pendidikan dalam Pencapaian Tujuan
Pendidikan Nasional

Assesmen termasuk salah satu indikator penentu untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan
atau bahkan kegagalan yang dilakukan oleh Guru atau Dosen selaku Agen Pembelajaran dan
siswa sebagai subjek Pembelajaran,sebelum memilih Metode yang tepat sasaran yang dianggap
sesuai dengan Kondisi Pembelajaran yang ada sehingga untuk langkah selanjutnya
efektifitas,efisiensi dan daya tarik pembelajaran dapat terselenggara dengan baik dan dapat
menghasilkan keluaran belajar yang kompeten yang dapat membuat assesmen pembelajaran di
sekolah tersebut bernilai positif , sesuai tujuan Pendidikan Nasional.

Bertolak dari ketentuan perundangan PP.No.19 tahun 2003 , tentang standar Nasional Pendidikan
, yang menguraikan delapan standar mutu pendidikan yaitu , (1) standar isi , (2) standar proses ,
(3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidikan dan kependidikan , (5) standar sarana dan
prasarana, (6) standar pengelolaan , (7) standar pembiayaan , dan (8) standar penilaian
(assesment) , maka kita dapat melihat bahwa standar penilaian (assesment) adalah Standar
Penentu bagi kesuksesan suatu proses pembelajaran.artinya , Assesment (Penilaian/Evaluasi) ,
merupakan indikator penting yang harus dikuasai oleh setiap guru dan dosen untuk mengetahui
apakah seluruh standar yang tersebut di atas berhasil atau gagal dalam proses pembelajaran yang
dilaksanakannya, tentunya , setelah diperoleh hasil assesmen dari proses pembelajaran tersebut.
Dari Assesment ini pula,kita dapat mengetahui apakah guru dan dosen sebagai perancang dan
pengelola proses pembelajaran, telah memenuhi standar kualifikasi akademik yang dimaksud
oleh PP. No.19 tahun 2005 , dimana guru harus memenuhi empat standar kompetensi sebagai
agen pembelajaran , yaitu standar Kompetensi pedagogis, standar Kompetensi Kepribadian ,
standar Kompetensi profesional , dan standar Kompetensi sosial,yang membuat assesmen
pembelajaran di sekolah tersebut berkualitas.
Urgensi Assesmen Pembelajaran di bidang Teknologi Pendidikan sesuai Tujuan Instruksional
dari AECT 1994 menurut Seels dan Richey harus dikuasai oleh para teknolog pendidikan di era
globalisasi teknologi saat ini, ,yang menjelaskan bahwa seorang teknolog pendidikan harus
mampu menjadi agen pembelajaran yang berkompeten sebagai : (1).Designer (Perancang),(2)
Developer(Pengembang),(3).Utilizer(Pemanfaat),(4) Manager,(5)Evaluator.[1]
[1] Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar , Mozaik Teknologi Pendidikan,diterbitkan
Kencana Prenada
Media Group bekerjasama dengan UNJ
BAB II
ISI MATERI
A. Pengertian Assesmen dan Pembelajaran dalam makna dan Istilah :

Assesmen yang dalam Bahasa Inggris disebut dengan


Assesment mengandung makna Taksiran / penaksiran , Penilaian , penilaian keadaan , Beban,
pembebanan atau pemikulan.[2]
Pembelajaran dan Pengajaran menurut Reigeluth dan Degeng adalah ,
Upaya untuk membelajarkan siswa. [3]
Maka dari dua makna yang tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa Assesmen dalam
pembelajaran , secara istilah adalah : Upaya Penilaian untuk mengukur (keberhasilan atau
kegagalan) suatu proses pembelajaran.
B. Pandangan Pakar Pendidikan dan Teknolog Pendidikan tentang
Assesmen dalam Pembelajaran :
Assesmen menurut H.A.R Tilaar,adalah alat test untuk mengukur performance siswa dalam
proses belajar.
Salah satu contoh test (assesment) yang menjadi industri besar di Amerika adalah test TOEFL
(test bahasa inggris) SAT dan GRE yang digunakan untuk memasuki perguruan perguruan tinggi
terkemuka di Amerika.[4]
Menurut Lefrancois (,1982:336), Assesmen adalah Alat Ukur / Evaluasi, bagi Guru / Dosen
untuk ,1.Mengetahui , 2.Memonitor , 3.Merekam , 4.Mendorong , dan 5.Meningkatkan atau
meotivasi Prestasi Siswa yang akan menjadi umpan balik bagi diri siswa sendiri untuk mengukur
kelemahan dan kekuatannya dalam mengukur diri.
Assesment menurut Hopkins & Antes (1990:31) adalah Alat Ukur / Evaluasi,bagi Guru
untuk,Mengetahui Kemajuan Siswa ,sesuai dalam Tujuan Pembelajaran.
Assesment menurut Gagne & Briggs (1979-157), Soekamto (1994), Bohlin,Martin & Brigss
(1987:11-14), Alat Ukur Keberuntungan Guru dan Siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri
(Self Assesment) dalam meningkatkan keberhasilannya,dan inisiatif diri ,
Assesment Of Learning menurut Morton & Macbeth seperti yang dikutip Beard & Senior
(1980:76) , adalah Evaluasi pada Landasan Psikologis yang dilakukan oleh guru untuk
mengetahui sejauh mana siswa mampu mengevaluasi
diri,dimana guru dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dengan tahapan :

[2] An English Indonesian Dictionary oleh : John M.Echols dan Hassan Shadily
[3] Degeng dan Yusufhadi Miarso,Buku Landasan Teknologi Pendidikan
[4] H.A.R Tilaar,Standarisasi Pendidikan Nasional,Suatu Tinjauan Kritis,Rineka Cipta,Oktober
2006

1.Menjadikan alat evaluasi sebagai umpan balik 2.Memilih alat evaluasi yang objective dan
Adil,dengan menginformasikannya kepada siswa,3.memberi kesempatan siswa untuk
mengevaluasi diri,4.Memberi kesempatan siswa untuk mengevaluasi teman.[5]
Menurut Tardif (1989),Assesment adalah evaluasi terhadap proses penilaian untuk

menggambarkan prestasi yang dicapai oleh siswa,sesuai criteria yang ditetapkan,contoh


assesmen di Indonesia salahsatunya adalah UAN (Ujian Akhir Nasional) yang dahulu dikenal
dengan EBTANAS.[6]
C. Kawasan Assesmen dalam Pembelajaran
Assesmen sebagai alat evaluasi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, pada tataran silabus ,
memiliki tujuan instruksional yang terfokus pada tiga kawasan / kategori ranah (domain) , yaitu :
Kognitif ( hal yang harus diketahui dan difahami oleh siswa) , psikomotor (hal yang dapat
dilakukan oleh siswa setelah memiliki pengetahuan) dan afektif (sikapsiswa setelah proses
pembelajaran diberikan).
Proses Evaluasi sebagai dalam pembelajaran diklasifikasikan oleh Bloom dan teman temannya
(1956) melalui tahapan yang dimulai dari jenjang yang mudah ke jenjang yang sulit,artinya,
evaluasi sudah berlangsung sejak awal (pre test) proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran
(post test) dan Jenjang tahapan dalam klasifikasi Bloom adalah dimulai dari :
1. Pengetahuan (penyajian informasi,dimana siswa mampu mengulang apa yang diuraikan
guru/dosen)
2. Pemahaman (siswa menguraikan pesan / pengetahuan yang diterima dari guru dan
menguraikannya berdasarkan pemehamnnya/menambahkan atau mengkritisi)
3. Aplikasi (Siswa mampu membuat diagram / pola atas informasi / pesan / pengetahuan yang
diterima dari guru berdasarkan pemahamnnya sendiri,yang tentunya tidak keluar dari tujuan
pesan tersebut)

[5] Qualfication and Curriculum Agency,qcda http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx


[6] Muhibbin Syah M.Ed,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Remadja Rosdakarya
Bandung
4. Analisis (memecahkan pesan/ide/pengetahuan menjadi bagian kecil dan menunjukan
hubungannya(keterkaitannya)
5. Sintesis,menyatukan bagian bagian kecil pesan/ide/pengetahuan menjadi satu kesatuan.

6. Evaluasi menjadi assesmen penilaian yang berdasarkan pada kriteria tertentu sesuai kondisi
pembelajaran yang ada.[7]
D. Tujuan dari Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran
Muhibbin Syah M.Ed , menjelaskan bahwa Tujuan dari Assesmen adalah
untuk ,
1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dan guru sebagai
pembimbing dalam suatu kurun waktu proses belajar yang sudah ditentukan.
2. Untuk mengetahui posisi siswa dalam kelompok di kelasnya,sehingga guru dapat memberi test
sesuai dengan kemampuan siswa.
3. Untuk mengetahui tingkat usaha siswa dalam upaya pembelajarannya.
4. Untuk mengetahui sejauhmana siswa mengeksplorasi tingkat kecerdasannya dalam memahami
pelajaran.
5. Untuk mengetahui ukuran daya guna dan hasilguna metode yang diterapkan oleh guru selaku
pembimbing.untuk mengetahui apakah metode yang diterapkan sudah sesuai dengan kondisi
pembelajaran dan kondisi siswa yang ada dalam proses pembelajarannya.
E. Fungsi Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran adalah ,
1. FungsiAdministratif dalam penyusunan nilai dan buku raport.
2. Fungsi Promosi,untuk menetapkan tingkat kelulusan siswa
3. Fungsi Diagnostik,untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dalam belajar
4. Fungsi data bagi BP(Bimbingan Penyuluhan)
5. Fungsi Pertimbangan , bagi pengembangan kurikulum di masa yang
akan datang.[8]
F. Syarat dan Ragam Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran
A. Syarat Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran
Muhibbin Syah M.Ed,menjelaskan bahwa Persyaratan Pokok penyusunan alat evaluasi yang baik
dalam perspektif psikologi

[7] Muhibbin Syah M.Ed,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Remadja Rosdakarya


Bandung
[8] Muhibbin Syah M.Ed,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Remadja Rosdakarya
Bandung
belajar,meliputi dua macam yakni (1) Reliabilitas, Tahan Uji dan dapat dipercaya konsistensi dan
keajegannya.(diujikan kepada siapapun dan dalam masa yang berbeda , akan memberi hasil yang

pastisama secara prinsip), (2) validitas, keabsahan dan kebenaran pengukuran yang dapat
mengukur apa yang seharusnya diukur, (sesuai dengan apa yang akan diukur/tepat sasaran).[9]
Syarat terpenting dalam assesmen pembelajaran adalah,adanya
indikator Kompetensi Pedagogi yang dimiliki oleh guru atau dosen selaku evaluator sehingga
sebagai agen pembelajaran guru mampu :
1. Menggunakan berbagai cara / teknik penilaian
2. Menghargai karya siswa dan memajangnya.
3. Memberikan penilaian atas semua aspek perkembangan siswa
(kognitif,afektif,psikomotorik)
4. Menilai kegiatan siswa dalam pelaksanaan tugas belajar.
5. Memberikan penilaian atas hasil yang dicapai
6. Melakukan penilaian formatif atas pembelajaran dan memperbaikinya
bila kurang efektif.
7. Mengumumkan hasil penilaian siswa secara terbuka
8. Memberikan umpan balik dan penguatan atas kegiatan siswa.
9. Mengumpulkan data perkembangan siswa
10. Melakukan analisis hasil penelitian.[10]
B. Ragam dan Teknik Assesmen dalam Pembelajaran
Dalam Ragam dan Teknik Assesmen Pembelajaran setiap pendidik
baik dosen ataupun guru,harus memahami secara baik dan benar ,
1. Pengertian Evaluasi / assesmen dalam pembelajaran
2. Tujuan dari assesmen yang akan diberikan
3. Kriteria dasar bahan ujian
4. Mengenai soal yang bermutu ( soal yang shahih/valid dan
handal/reliable)
5. Teknik dan Alat Penilaian sebagai berikut :
a. Teknik Penilaian melalui Test (1.Test Tertulis/Test Objektif
dan Uraian , 2.Test Lisan, 3.Test Perbuatan)
b.Teknik Penilaian melalui observasi atau pengamatan
c. Teknik Penilaian melalui wawancara
6. Langkah langkah penyusunan soal.
7. Penetuan Materi yang akan dan harus diujikan.
8. Penetuan Prilaku yang akan diujikan
9. Penetuan dan Penyebaran soal.
10.Penyusunan kisi-kisi
11.Penyusunan butir soal
12.Teknik Penilaian sikap.[11]

[9] Muhibbin Syah M.Ed,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Rosdakarya,


Bandung,Februari 2008
[10] Yusughadi Miarso,Menyemai Benih Teknologi Pendidikan

[11] Zainal Aqib dan Elham Rohmanto,Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah,Yrama
Widya,Maret 2007
13.Analisis butir soal.
14.Penilaian berbasis kelas.
(profesionalisme guru dan pengawas)
Dalam Buku Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru , Muhibbin Syah M.Ed, menjelaskan
bahwa ragam evaluasi terdiri atas beberapa bentuk test ,diantaranya adalah :
1. Pre test (diberikan guru pada setiap awal penyajian pelajaran) dan
Post test (diberikan pada setiap akhir penyajian pelajaran).
2. Evaluasi Prasyarat (appersepsi)
3. Evaluasi Diagnostik,yang diberikan setelah selesai penyajian,yang menitik beratkan pada
bahasan tertentu yang membuat siswa kesulitan,untuk dibahas solusi pemahamannya.
4. Evaluasi Formatif,sejenisulangan yang diberikan pada akhir penyajian satuan pelajaran atau
modul.
5. Evaluasi Sumatif,sejenis ulangan umum yang diberikan pada setiap akhir semester atau
akhir periode pelaksanaan program pengajaran.
6. UAN (Ujian Akhir Nasional),
Dr.Abdullah Idi M.Ed,menjelaskan bahwa para pendidik
harus memahami tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran ,
dan melakukan tahapan sebagai berikut sebagai bentuk evaluasi
terhadap proses pembelajaran :
1. Merumuskan TIU(Tujuan Instruksional Umum),TPU(Tujuan
Pengajaran Umum),TIK(Tujuan Instruksional Khusus),dan
TPK(Tujuan Pengajaran Khusus)
2. Menyusun Alat Evaluasi.
3. Menetapkan Kegiatan Belajar
4. Merencanakan Prog.Kegiatan mengajar dengan Memperhatikan
Materi isi pelajaran,memilih alat , metode serta menetapkan jadwal.
5.Melaksanakan Program.(Mengadakan pre test,menyampaikan
materi,dan akhirnya mengadakan evaluasi/post test)[12]
Howard Gardner dan para koleganya di Universitas Harvard
telah menunjukan bahwa , ketika orang melibatkan beberapa
kecerdasan,kemampuan belajarnya meningkat pesat,dan 8 kecerdasan
itulah yang menjadi rujukan dalam membuat (alat evaluasi) sehingga
assesmen penilaian dapat memberikan penilaian positif bagi input dan
output sekolah itu sendiri, 8 kecerdasan yang dimaksud adalah :
1. Kecerdasan Linguistik (berminat pada drama,pendengar yang
baik, pembicara yang fasih,pandai menjelaskan sesuatu,senang

menulis [13]
[12] Muhibbin Syah M.Ed,Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Rosdakarya,
Bandung,Februari 2008
[13] Colin Rose,,K.U.A.S.A.I,LEBIH CEPAT,Buku Pintar Accelerated Learning,Haifa,Desember
2002
2. Kecerdasan Matematis,Logis(Pemikir yang logis dan analisis)
3. Kecerdasan Visual/spasial (Pengamat,penentu arah
pemikiran,pembuat pola diagram yang teliti)
4. Kecerdasan Musikal(pendengar bunyi alam yang baik dan
penghafal baik, penulis lirik atau musik yang baik)
5. Inter Personal (Mediator yang tangguh)
6. Intra Personal (eksklusive,penyendiri,penghayal)
7. Fisik (bekerja dengan benda,senang bergerak,olahragawan)
8. Naturalis (Pencinta alam,yang mampu menyebut nama jenis
tanaman ,hewan dan pemerhati lingkungan yang baik)
Dalam membuat Assesmen Pembelajaran,sebaiknya para pendidik memperhatikan tingkat
kecerdasan siswa dan perbedaan yang ada dalam diri masing masing siswa sesuai 8 kecerdasan
yang tersebut di atas , dan pendidik juga harus mampu memotivasi siswa sehingga dapat
memberikan hasil yang baik dalam melatih daya ingat dan menggali potensi kecerdasan
mereka,sebagaimana yang dijelaskan dalam Penelitian Dr.Vernon Magnesen dari Universitas
Texas , yang dikutip oleh Colin Rose dalam Buku K.U.A.S.A.I LEBIH CEPAT,Buku Pintar
Accelarated Learning, bahwa , terdapat perbedaan prosentase ingatan dalam proses pembelajaran
sebagai berikut :
1. Belajar dengan Membaca akan menghasilkan daya ingat 20% saja
2. Belajar dengan Mendengar akan menghasilkan daya ingat 30% saja
3. Belajar dengan Melihat akan menghasilkan daya ingat 40% saja
4. Belajar dengan Mengucapkan akan menghasilkan daya ingat 50% saja
5. Belajar dengan Melakukan akan menghasilkan daya ingat 60% saja
6. Maka Belajar dengan Membaca,Mendengar,Melihat,Mengucapkan,dan Melakukan akan
menghasilkan daya ingat sebanyak 90% (Luar biasa)[14]
Penelitian Dr. Vernon Megnesen yang tersebut di atas dapat kita sandingkan dengan Gaya
Pembelajaran Model Quantum Teaching dalam mengevaluasi pemahaman dan interaksi siswa
dalam proses pembelajaran , yang dipaparkan oleh Bobby De Porter , Mark Reardon dan Sarah
Singer Nourie dalam istilah TANDUR (singkatan kata dari , T= Tumbuhkan , A=Alami, N =
Namai, D = Demonstrasikan , U = Ulangi, R = Rayakan )
T = Tumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran,dengan AMBAK ( Apa
Manfaatnya BAgiKu (siswa) dalam hal ini guru memotivasi minat belajar
Siswa untuk ikut memberi keputusan kepada Tujuan Pembelajaran yang
akan dicapai)
A = Ciptakan pengalaman yang membuat siswa , merasa mengalami
peristiwa yang disampaikan , untuk menumbuhkan minat belajar siswa

dalam proses pembelajaran.


N = Siapkan kata kunci untuk penamaan yang akan memudahkan daya
ingat siswa. [15]

[14] Colin Rose,,K.U.A.S.A.I,LEBIH CEPAT,Buku Pintar Accelerated Learning,Haifa,Desember


2002
[15] Bobby De Porter,Mark Reardon,Sarah Singer Nourie,Quantum Teaching,Haifa,Januari 2007

D = Demonstrasikan , sebagai entuk aplikatif dari Pengetahuan/Ide/Pesan


yang disampaikan guru.
U = Ulangi , adakan test formatif atau post test sebagai alat ukur
pemahaman.
R = Rayakan keberhasilan Proses Pembelajaran yang interaktif , efisien dan
efektif,diantara guru dan siswa.16
G. 10 Prinsip Assesmen , untuk keberhasilan Evaluator Profesional
Dalam membuat Assesmen / Evaluasi (Penilaian) dalam proses pembelajaran, menjelaskan
bahwa setiap Guru, Dosen , Pendidik harus memperhatikan dan menguasai Sepuluh Prinsip
Assesmen , dengan melaksanakan tahapan tahapan berikut ini :
1. Pendidik harus membuat Perencanaan yang efektif bagi dirinya dan
anak didiknya.
2. Assesmen harus terfokus pada siswa sebagai subjek pembelajaran
(student center)
3. Assesmen harus interaktif , Reflektif dan dapat dilaksanakan
4. Assesmen adalah kunci ketrampilan Guru
5. Assesmen adalah alat evaluasi yang sensitif dan Konstruktif terhadap
dampak emosi siswa.
6. Assesmen harus memperhitungkan Motivasi Belajar siswa
7. Promosikan Tujuan Belajar , dan libatkan siswa sebagai pengambil
keputusan.

8. Assesmen adalah Bimbingan Belajar sebagai upaya peningkatan mutu


pendidikan.
9. Assesmen akan membangun jiwa kepemimpinan(kemandirian) dan
kepekaan siswa.
10. Assesment harus sesuai dengan tingkat kecerdasan / kemampuan
siswa yang berbeda satu sama lainnya.17

[16] Bobby De Porter,Mark Reardon,Sarah Singer Nourie,Quantum Teaching,Haifa,Januari 2007


[17] Qualification and Curriculum Agency,QCDA@http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx
BAB III

PERAN TEKNOLOG PENDIDIKAN DALAM ASSESMEN PEMBELAJARAN

1.Assesmen adalah indikator pamungkas bagi keberhasilan Teknolog


Pendidikan sebagai Evaluator.
Sesuai dengan tuntutan Undang undang sistem pendidikan nasional No.20 tahun 2003 , pasal 11
ayat 1 , yang mengamanahkan pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, di
Era Globalisasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) peran para teknolog pendidikan
menjadi sangat penting sebagai Agen Of Changes untuk penyelenggaraan pendidikan berbasis
teknologi.namun untuk mengetahui peningkatan mutu pendidikan yang sesuai dengan tuntutan
Undang undang tersebut ,kita hanya dapat mengetahuinya melalui Evaluasi yang akan menjadi
assesmen atas peningkatan kualitas pendidikan yang sangat bergantung pada peningkatan
kualitas pembelajaran atau proses belajar yang sudah direncanakan dan dirancang sebelumnya
dan sekali lagi,peran para teknolog pendidikan yang kompeten di bidang TIK Menjadi sangat
penting karena :
A. Teknolog Pendidikan sebagai Disainer Assesmen yang kompeten
Teknolog Pendidikan sebagai Perancang (Disainer) dalam merancang atau memilih Alat Evaluasi
sebagai Assesmen Alternatif yang tepat (efektif dan efisien) harus memperhatikan setidaknya
tiga indikator sebelum Assesmen dalam bentuk Evaluasi diberikan kepada siswa didik ,untuk
suksenya proses pembelajaran , tiga indikator tersebut adalah :
1. Indikator Kondisi yang ada di Linkungan Pembelajaran dengan terlebih
dahulu memperhatikan :Tujuan dan Karakteristik Bdang Studi ,
Kendala dan Karakteristik Bidang Studi , Karakteristik Peserta didik
dan Siswa didik

2. Memilih Metode Pembelajaran yang dapat memenuhi Standar


Kompetensi yang sudah diarahkan dalam KTSP (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan).dimana Metode Pembelajaran harus
berpijak pada empat komponen KTSP yaitu :
1. Tujuan Pendidikan Sekolah
2. Struktur dan Muatan Kurikulum (content),yang mencakup mata
pelajaran,muatan lokal,pengembangan diri,beban belajar,ketuntasan

[18]http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-programpembelajaran.html

belajar,kenaikan dan kelulusan,penjurusan,pendidikan kecakapan


hidup,pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
3. Kalender Pendidikan
4. Silabus dan RPP
3. Memilih Assesmen Alternatif yang sesuai dengan standar kompetensi dengan tidak
mengabaikan indikator kondisi pembelajaran serta metode yang digunalkan dalam proses
pembelajaran tersebut.
Intinya,sebagai disainer para teknolog pendidikan dituntut untuk dapat merancang sistem
instruksional ,merancang pesan,merancang strategi pembelajaran yang efisien dan efektif
sehingga proses pembelajaran dapat memberikan assesmen yang baik bagi masyarakat atas
output yang dihasilkan oleh sekolah tersebut.
B. Teknolog Pendidikan adalah Developer Assesmen yang kompeten
Para Teknolog Pendidikan dituntut untuk mampu mengembangkan model assesmen yang sesuai
dengan tuntutan perkembangan globalisasi informasi dan teknologi di bidang pendidikan tanpa
mengabaikan kondisi yang ada pada lingkungan belajar baik dari kondisi kultur budaya
masyarakat setempat,kondisi sekolah,kondisi pendidik,kondisi siswa didik serta bahkan kondisi
religius yang dianut oleh masyarakat setempat. para pendidik ,guru,dosen,trainner atau motivator
pelatihan pembelajaran , harus mampu mengembangkan segala sesuatu yang ada di lokasi atau
lingkungan pembelajaran, baik dari segi sarana dan prasarana , media belajar, pemilihan metode
belajar yang tepat , dan suasana belajar dengan ketrampilan dalam memilih dan menggunakan
teknologi cetak (buku,gambar,peta dll),teknologi audio visual (Radio,tape recorder,TV dll.),
teknologi berbasis komputer(pembelajaran dengan jaringan internet secara global , atau
pembelajaran berjaringan dalam lokal kelas/sekolah),dan teknologi terpadu (pembelajaran

berbasis multimedia).

C. Teknolog Pendidikan adalah Utilizer ( Pengguna yang mampu memanfaatkan sesuatu) dalam
perancangan assesmen yang kompeten.
Sebagai Teknolog Pendidikan yang kompeten, para pendidik dituntut untuk mampu bahkan
mahir dalam memanfaatkan media belajar yang sudah diuraikan di atas,dan menyebarkan
informasi dan inovasi yang dibuatnya dalam dunia pendidikan kepada masyarakat di lingkungan
belajar,sehingga pemetaan assesmen pembelajaran menjadi lebih merata
[19]http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-programpembelajaran.html
(sesuai yang diharapkan oleh Prof.Cony Semiawan pada dialog seputar
UAN dan keputusan MA , di TV One) , sehingga implementasi dan
pelembagaan , serta kebijakan dan peraturan yang berlaku di seputar
assesmen sekolah tidak lagi menjadi pembicaraan yang enak
dibicarakan tetapi tidak enak untuk dilaksanakan.
D. Teknolog Pendidikan sebagai Manager yang kompeten dalam memimpin dan mengelola
proses pembelajaran ke arah perbaikan assesmen sekolah.
Sebagai Teknolog Pendidikan, guru , dosen atau trainner dituntut
untuk dapat mengelola proyek, sumber , sistem dan informasi tentang
assesmen pembelajaran, khususnya dalam menganalisa permasalahan di
seputar Assesmen sekolah.dia harus memiliki KSA yaitu :
1. Knowledge : Pengetahuan dan Wawasan
2. Attitude : Sikap yang baik sebagai seorang guru,dosen,atau manager lembaga pendidikan /
kepala sekolah.
3. Skill : Keahlian dalam menganalisa dan menyelesaikan permasalahan di seputar assesmen
dalam kualitas proses pembelajaran.
E. Teknolog Pendidikan sebagai Evaluator Program Pembelajaran
Evaluator sebuah program pembelajaran sangat bergantung pada
masalah yang akan dievaluasi,masing masing memiliki kelebihan dan
kekurangan mengenai evaluator ini Suharsimi dan Cep Safruddin (2008:2325),mengklasifikasi evaluator menjadi 2 macam :
1. Evaluator dari Dalam
2. Evaluator dari Luar
1. Evaluator dari dalam (Kelebihan dan kekurangannya)
Petugas evaluasi program yang merupakan salah seorang dari tim guru ataui tim pengajar yang

menjadi pelaksana program yang dievaluasi


Dengan demikian,dalam batasan ini,teknolog pendidikan yang menjadi guru atau dosen dapat
menjadi evaluator dari dalam baik sebagi perencana ataupun pelaksana program,yang
berkewajiban menilai ,sikap dan perilaku serta partisipasi siwa dalam proses
pembelajaran.bahkan menilai hasil evaluasi sebagai hasil dari proses pembelajaran.
Kelebihan Evaluator dari dalam,
a. Evaluator dari dalam sangat memahami program yang akan dievaluasi
sehingga kekhawatiran terhadap gagalnya program(tepat sasaran atau
tidak) dapat diminimalisir.
[20]http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-programpembelajaran.html

b. Evaluator dari dalam, dapat segera mengambil kebijakan atau


keputusan dalam memperoleh assesmen atas program yang
dievaluasi tanpa harus mengeluarkan waktu dan beaya yang cukup
banyak.
Kekurangan Evaluator dari dalam,
1. Adanya Subjektifitas dari evaluator dalam mengevaluasi program atau proses pembelajaran,
sehingga penilaian atau assesmen pembelajaran pastinya akan selalu positif,dan menginginkan
kebijakan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik pula sesuai kehendak evaluator .
2. Karena sudah memahami seluk beluk program atau proses evaluasi,terkadang evaluator
tergesa gesa dalam menilai hasil evaluasi , sehingga kurang cermat dalam memberi penilaian.
2.. Evaluator dari Luar (Kelebihan dan kekurangannya)
Adalah evaluator dari luar(eksternal) yang tidak terkait dengan tim
pengajar di sekolah yang dievaluasi, evaluator ditunjuk oleh kepala
sekolah atau oleh Dinas pendidikan untuk memberikan assesmen
penilaian atas keberhasilan program sesuai ukuran penilaian yang
dievaluasi.
. Kelebihan Evaluator dari luar,
1. Evaluator dari luar dapat bertindak secar efektif dalam mengadakan
evaluasi dan kesimpulan,dan tidak ada respon emosional dalam
menilai hasil evaluasi,apaun hasilnya,karena tidak terikat dengan
sekolah yang dievaluasi,kesimpulan yang dibuat kemungkinan akan

lebih objektif dan apa adanya.


2. Evaluator ahli yang ditunjuk dari luar akan mempertahankan
kredibilitas kemampuannya dan bekerja dengan serius dan hati hati.
Kekurangan Evaluator dari luar,
1. Evaluator dari luar belum mengenal kondisi sekolah dan program
evaluasi yang tepat bagi sekolah yang dievaluasinya.yang dapat
mengakibatkan kesimpulan yang diambil menjadi kurang tepat.
2. Pemborosan waktu dan Beaya yang harus dikeluarkan,karena harus
membayar tenaga evaluator tersebut.

[21]http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-programpembelajaran.html
Dari uraian yang tersebut di atas , seorang Teknolog Pendidikan
dituntut untuk mampu memilih dan menggunakan Alat evaluasi yang tepat
dan bermanfaat dalam memberikan umpan balik yang bernilai positif bagi
pendidik dan sekolah sehingga pada akhirnya assesmen pembelajaran dari
sekolah atau institusi dimana proses pembelajaran itu berlangsung dapat
menjadi nilai plus bagi kualitas sekolah itu sendiri.dan beberapa hal yang
harus diperhatikan dan dikuasai oleh para evaluator adalah dalam membuat
Alat evaluasi sebagai assesman tools diantaranya :
1. Pembuatan Quiz
2. Pembuatan assignment untuk siswa
3. Pembuatan pre test dan post tes dalam berbagai tipe soal
4. Self test bagi siswa
5. Presentasi jawaban
Sehingga peserta didik (siswa didik) yang melaksanakan Evaluasi tersebut lebih mempersiapkan
diri dalam menghadapi berbagai Test,baik pre test atau post test,test sumatif atau formatif,baik
evaluasi yang dilakukan oleh evaluator dari luar maupun dari dalam,tidak akan menjadi factor
utama yang perlu dikhawatirkan dalam penilaian assesmen pembelajaran bagi hasil evaluasi
mereka.
Karena tim guru di sekolah tersebut adalah teknolog yang handal dalam memberikat Alat
Evaluasi yang tepat sasaran sehingga efektifitas dan efesiensi belajar di sekolah dapat berdampak
assesmen yang baik pada pendidik,siswa didik,sekolah ,bahkan kurikulum yang digunakan
dalam program pembelajaran di sekolah tersebut.

2. Pengertian Assesmen sebagai Penilaian dari Hasil Evaluasi


Ada tiga istilah yang dipergunakan sebagai Alat Evaluasi yaitu Test
Pengukuran dan penilaian (test,measurement, dan assesment ).

1.Test adalah : alat pengukuran kemampuan siswa secara tidak


langsung,untuk mengetahui respon dari stimulus pertanyaan yang
diberikan guru kepada siswa ( Djemari Mardapi,2008 : 67).
Test juga alat untuk mengumpulkan informasi suatu objek berupa
kemampuan peserta didik,respon peserta didik,sikap,minat maupun
motivasi siswa dalam merespon pertanyaan dari guru,dosen selaku
pendidik.
2. Pengukuran (Measurement), is the process by which information
about the attributes or characteristics of thing are determined and
differentiated (oriondo,1998:2),

[22]http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-programpembelajaran.html
Guilford mendefinisikan measurement sebagai assigning
numbers to,Quantifying things according to a set of rules(Griffin &
Nix,1991:3)
Allen & Yen mendefinisikan pengukuran / measurement
Sebagai penetapan angka secara sistematik untuk menyatakan
keadaan individu.(Djemari Mardapi ,2000:1)
Pengukuran dalam poses penetapan angka terhadap
individu atau karakteristik menurut aturan tertentu (Ebel & frisbie
1986:14).
Maka ,dapat kita simpulkan bahwa Measurement
(pengukuran) adalah kuantifikasi (penetapan angka) terhadap individu
menurut aturan aturan tertentu (kemampuan kognitif,afektif dan
psikomotorik) pengukuran mengandung konsep yang lebih luas dari
test,misalkan pengamatan terhadap skala rating dll.
3. Assesmen mengandung makna yang berbeda dengan evaluasi,
Assesmen dalam pendidikan adalah usaha secara formal untuk
menentukan status siswa yang berkaitan dengan berbagai
kepentingan pendidikan (Popham 1995:3)

Assesmen adalah proses penyediaan informasi tentang


Individu siswa ,tentang kurikulum atau program,tentang institusi atau
yang berkaitan dengan sistem yang ada dalam institusi ( assesment
is process that provide information about individual student ,about
curriculum or programs about institution or about entire systems of
institution (Boyer & Ewel mengutip Stark & Thomas 1994 : 46)
Maka dari teori yang diuraikan di atas dapat kita simpulkan
bahwa Assesmen adalah Penafsiran dari hasil evaluasi atau hasil
pengukuran.
3. Perbedaan Makna Assesmen dan Evaluasi
Assesmen adalah Penafsiran terhadap hasil test,measurement
(pengukuran) dan penilaian atas hasil evaluasi. Perbedaan antara Evaluasi
dengan Assesmen adalah sebagai berikut :
Menurut Stufflebeam & Shinkfield (1985 : 159),Evaluation is the process
of delineating obtaining and providing descriptive and judgmental information
about the worth and merit of some objects goals ,design,implementation and
impact in order to guide decision making ,serve needs of accountability and
promote understanding of the involved phenomena.(Evaluasi adalah proses
penyedia informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk
menentukan harga dan jasa dari tujuan yang dicapai baik
disain,implementasi,dan dampak untuk membantu pembuat keputusan
,membantu pertanggung jawaban dan meningkatkan pemahaman terhadap
[23]http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-programpembelajaran.html
fenomena .(Intinya adalaha bahwa,Evaluasi adalah bahan pertimbangan
dalam mengambil keputusan).
National Study Comitee on Evaluation dari UCLA ,Stark & Thomas
,1994 : 12,menyatakan bahwa ,Evaluation is ascertaining the decision of
concern selecting appropriate information ,and collecting and analyzing
information in order to report summary data useful to decision makers in
selecting among alternatives.(Evaluasi adalah suatu proses atau kegiatan
pemilihan,pengumpulan,analisis dan penyajian informasi yang sesuai untuk
mengetahui sejauhmana suatu program,tujuan,prosedur,produk atau strategi
yang dijalankan telah tercapai,sehingga bermanfaat bagi pengambilan
keputusan,serta dapat menentukan beberapa alternative keputusan untuk
program selanjutnya.
Maka dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ,
Pengertian Evaluasi Adalah , proses yang sistimatis dan berkelanjutan
untuk mengumpulkan,mendeskripsikan ,menginterpretasikan,dan menyajikan

Informasi untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan,dan atau


membuat kebijakan.
Tujuan Evaluasi adalah, untuk memperoleh informasi akurat dan objektif
tentang suatu program
Informasi yang dikumpulkan oleh Evaluasi berupa , Proses pelaksanaan
program,dampak/hasil yang dicapai,efisiensi dan efektifitas hasil evaluasi
yang difokuskan untuk program itu sendiri.
Tindakan setelah informasi evaluasi diperoleh adalah,pengambilan
kebijakan atau keputusan apakah program yang sedang berjalan itu
dilanjutkan atau diperbaiki atau bahkan dihentikan,dan memilih cara lain
sebagai alat evaluasi yang bisa memberi dampak assesmen yang baik bagi
program / proses pembelajarn di sekolah itu.16
4. Model Assesmen Alternatif sebagai pilihan para Teknolog Pendidikan
Assesmen Alternatif adalah pilhan yang tepat , karena pemilihan Alat Evaluasi sebagai unsur
terpenting dan pamungkas dalam proses pembelajaran yang akan berpengaruh bagi assesmen
sekolah dan unsur yang terlibat di sekolah tersebut.dengan terlebih dahulu memperhatikan
kondisi lingkungan masyarakat,lingkungan sekolah,melihat ketersediaan sarana dan prasarana
(ketersediaan jaringan yang menjadi indikator penting bagi pembelajaran yang berbasis TIK).

[24] http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-programpembelajaran.html


Assesmen Alternatif sebagai penilaian program atau proses pembelajaran harus dilandaskan pada
tiga kawasan penidikan dalam taksonomi Bloom yaitu :
1. Landasan Kognitif : Penilaian atas prestasi pengetahuan dan wawasan
2. Landasan Afektif : Penilaian atas respon & sikap siswa setelah PBM
3. Landasan Psikomotorik : Partisipasi siwa dalam melaksanakan tugas.
Dengan memperhatikan aspek kemampuan individu (self assesment) dalam delapan kecerdasan
yang berbeda dan kemampuan kinerja kelompok (performance assesment) dalam wujud
assesmen kinerja siswa dalam mengadaptasi test berbasis komputer,internet,maupun
pembelajaran berjaringan atau pembelajaran multimedia,baik pre test maupun post test,test
pilihan ganda yang diperluas,test jawaban terbuka,tugas individu,tugas kelompok,baik dalam
bentuk wawancara,observasi,assesmen portofolio ( dalam tahap persiapan,tahap pelaksanaan,dan
tahap penilaian) ,proyek pameran,atau demonstrasi karya.

F. Ragam dan Sejarah Alat Evaluasi Sebagai Assesmen dalam Peningkatan


Mutu Pendidikan di Indonesia.
( Sabar dulu yah? Masih disusun , maklum stripping task from Teacher ,)

BAB IV
KESIMPULAN
Nilai Positif Assesmen Penilaian terhadap proses atau program yang Pembelajaran yang
diketahui melalui proses evaluasi adalah peningkatan bagi pembelajaran atau pendidikan yang
menjadi Tujuan Pendidikan Nasional dalam Era Globalisasi Informasi dan Komputer (TIK).
Peran teknolog pendidikan yang kompeten di bidangnya sangat berpengaruh bagi kesuksesan
evaluasi yang akan berdampak assesmen yang positif bagi input dan output di sekolah itu.dengan
memperhatikan tahapan sebagai berikut.
1. Sebelum Para Evaluator mengevaluasi program atau proses pembelajaran,,para pengelola

pendidikan baik kepala sekolah,guru dan teknolog pendidikan harus merencanakan dengan
matang proses pembelajaran yang akan memberikan assesmen yang positif bagi sekolah
tersebut.
2. Program Pembelajaran dalam persiapan evaluasi harus berkelanjutan
dari satu kegiatan kepada kegiatan lain.guna peningkatan mutu
kualitas pendidikan bagi input maupun output di sekolah tersebut.
3. Kegiatan tersebut dapat terlembaga secara baik dan profesional baik di
lembaga formal maupun non formal.
4. Assesmen Positif sebagai penilaian hasil evaluasi terhadap program atau
proses haruslah diakui oleh Masyarakat luas yang menjadi Penilai
Objektif bukan penilaian individualistis.
Demikianlah pemaparan kami tentang pentingnya Evaluasi dan Assesmen dalam upaya
peningkatan mutu kualitas pendidikan yang sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional.
Dalam hal evaluasi diri sebagai upaya peningkatan mutu seseorang, Allah SWT,telah
mengingatkan kita dalam Al Quran pada ayat :



Bacalah Kitabmu,cukuplah dirimu sendiri sebagai penghisab terhadapmu (sebelum Allah SWT
yang menghisabmu) (QS.17:14)


Siapa yang bertaqwa dan selalu mengadakan perbaikan (evaluasi) maka tidak akan kekhwatiran
dan kesedihan baginya (QS.17:14)
Wallaahu alam bisshowab
DAFTAR PUSTAKA

Salma Dewi Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi


Pendidikan , diterbitkan Kencana Prenada Media Group bekerjasama
dengan UN
M.Echols John - Hassan Shadily,Kamus An English Indonesian
Dictionary,Gramedia Jakarta Cet.XXVI April,2005
Degeng Nyoman Sudana Yusufhadi Miarso,Buku Pegangan Teknologi

Pendidikan,Terapan Teori Kognitif dalam Disain


Pembelajaran.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen
DIKTI,Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama Anatar
Universitas / IUC (Bank Dunia XVII) Jakata 1993
Tilaar H.A.R , Standarisasi Pendidikan Nasional,Suatu Tinjauan Kritis,Rineka
Cipta,Oktober 2006
Qualification and Curriculum Agency,QCDA@http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx
Syah Muhibbin , Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,
Remadja Rosdakarya Bandung
Susanto ,Pengembangan KTSP dengan Perspektif Manajemen Visi,Mata Pena
Muhibbin Syah,Psikologi Belajar,Rajawali Press,Februari 1999
Miarso Yusufhadi ,Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.Kerjasama Pusat
Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan PUSTEKOM
DIKNAS,Cet.ke 3 Agustus 2007
Aqib Zainal -Elham Rohmanto,Membangun Profesionalisme Guru dan
Pengawas Sekolah,Yrama Widya,Maret,2007 Cet.1
Idi Abdullah ,Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Arruz Media,Mei 2009

Rose Colin , K.U.A.S.A.I,LEBIH CEPAT,Buku Pintar Accelerated Learning


Kaifa,Desember 2002
De Porter Bobby ,Mark Reardon,Sarah Singer Nourie,Quantum Teaching
Kaifa,Januari 2007
Qualfication and Curriculum Agency,qcda http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx
http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam-evaluasi-programpembelajaran.html
Departemen Pendidikan Nasional,Kamus Besar Bahasa Indonesia,Edisi
Keempat ,Gramedia ,Jakarta ,2008

PENGERTIAN EVALUASI, PENGUKURAN, DAN PENILAIAN DALAM


DUNIA PENDIDIKAN

A.

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari sebenarnya kita sering membuat suatu kegiatan
evaluasi dan selalu menggunakan prinsip mengukur dan menilai. Namun, banyak orang belum
memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian bahkan masih banyak orang
yang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut dengan suatu pengertian yang sama.
Secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena
aktifitas mengukur biasanya sudah termasuk didalamnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi
merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut tidak dapat
dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.
B.

Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

Untuk memahami pengertian evaluasi, pengukuran dan penilaian kita dapat memahaminya lewat
contoh berikut :
Apabila ada seseorang yang memberikan kepada kita 2 pensil yang berbeda ukuran ,yang satu
panjang dan yang satu lebih pendek dan kita diminta untuk memilihnya, maka otomatis kita akan
cenderung memilih pensil yang panjang karena akan bisa lebih lama digunakan. Kecuali
memang ada kriteria lain sehingga kita memilih sebaliknya.

Peristiwa menjual dan membeli di pasar. Kadang kala sebelum kita membeli durian di pasar,
sering kali kita membandingkan terlebih dahulu durian yang ada sebelum membelinya. Biasanya
kita akan mencium, melihat bentuknya, jenisnya ataupun tampak tangkai yang ada pada durian
tersebut untuk mengetahui durian manakah yang baik dan layak dibeli.
Dari kedua contoh diatas maka dapat kita simpulkan bahwa kita selalu melakukan penilaian
sebelum menentukan pilihan untuk memilih suatu objek/benda. Pada contoh pertama kita akan
memilih pensil yang lebih panjang dari pada pensil yang pendek karena pensil yang lebih
panjang dapat kita gunakan lebih lama. Sedangkan pada contoh yang kedua kita akan
menentukan durian mana yang akan kita beli berdasarkan bau, bentuk, jenis, ataupun tampak
tangkai dari durian yang dijual tersebut. Sehingga kita dapat memperkirakan mana durian yang
manis.
Untuk mengadakan penilaian, kita harus melakukan pengukuran terlebih dahulu. Dalam contoh 1
diatas, jika kita mempunyai pengaris, maka untuk menentukan pensil mana yang lebih panjang
maka kita akan mengukur kedua pensil tersebut dengan menggunakan pengaris kemudian kita
akan melakukan penilaian dengan membandingkan ukuran panjang dari masing-masing
penggaris sehingga pada akhirnya kita dapat mengatakan bahwa Yang ini panjang dan Yang
ini pendek lalu yang panjanglah yang kita ambil.
Dalam contoh yang ke 2, kita memilih durian yang terbaik lewat bau, tampak tangkai, maupun
jenisnya. Hal itu juga diawali dengan proses pengukuran dimana kita membanding-bandingkan
beberapa durian yang ada sekalipun tidak menggunakan alat ukur yang paten tetapi berdasarkan
pengalaman. Barulah kita melakukan penilaian mana durian yang terbaik berdasarkan ukuran
yang kita tetapkan yang akan dibeli.
Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa dalam proses penilaian kita menggunakan 3 ukuran,
yakni ukuran baku (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya), ukuran tidak baku (depa, jengkal,
langkah, dan sebagainya) dan ukuran perkiraan yakni berdasarkan pengalaman.
Langkah langkah mengukur kemudian menilai sesuatu sebelum kita mengambilnya itulah yang
dinamakan mengadakan evaluasi yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan
evaluasi sebelum melakukan aktivitas mengukur dan menilai.
Berdasarkan contoh diatas dapat kita simpulkan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi
sebagai berikut :
Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat
kuantitatif.
Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria
baik buruk dan bersifat kualitatif. Sedangkan
Evaluasi adalah kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian
C.

Evaluasi dalam Pendidikan

Secara harafiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau
penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971)

mendefinisikan evaluasi sebagai The process of delineating, obtaining, and providing useful
information for judging decision alternatives. Artinya evaluasi merupakan proses
menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan
suatu alternatif keputusan.
Evaluasi menurut Kumano (2001) merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui
kegiatan asesmen. Sementara itu menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan
tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. Sejalan dengan pengertian tersebut, Zainul dan
Nasution (2001) menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan
keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik
yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas
sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan,
memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatifalternatif keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk
menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai
oleh siswa (Purwanto, 2002).
Arikunto (2003) mengungkapkan bahwa evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan
untuk mengukur keberhasilan program pendidikan. Tayibnapis (2000) dalam hal ini lebih
meninjau pengertian evaluasi program dalam konteks tujuan yaitu sebagai proses menilai sampai
sejauhmana tujuan pendidikan dapat dicapai.
Berdasarkan tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi
formatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program, sementara
itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil keputusan
(Lehman, 1990).
D.

Penilaian Dalam Pendidikan

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian
untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian
kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang
sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai
kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran
berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru)
dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh
mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana
tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian
kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu
dapat dinyatakan dengan nilai.
E.

Pengukuran dalam pendidikan

Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar
atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat
diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti
tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.
Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk
merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau
misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan
pengukuran.
Menurut Cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran (Measurement) adalah suatu
proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang
relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan
membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar
apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar,
menyentuh, mencium, dan merasakan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran
memiliki dua karakteristik utama yaitu: 1) penggunaan angka atau skala tertentu; 2) menurut
suatu aturan atau formula tertentu.
Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan
menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif
dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et al.1996).
Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat yang menyatakan bahwa pengukuran merupakan
pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang, atau
suatu obyek tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi
tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli (Zainul & Nasution, 2001). Dengan
demikian, pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik
peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi
karakteristik atau atributnya. Senada dengan pendapat tersebut, Secara lebih ringkas, Arikunto
dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan
membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.
F.

Perbedaan Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran

Berdasarkan pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk
mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil
belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan hasil tes
dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah
kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membandingbandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan.Penilaian bersifat kualitatif.
Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk pengertian masing-masing :
Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteriajudgment atau tindakan dalam pembelajaran.

Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara
berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan
perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.
Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan
kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan
merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud
pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data
melalui pengamatan empiris.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta: Ministry of
Education and Culture.
Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Calongesi, J.S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB
Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment and Portfolio Assessment-Its Theory and Practice.
Japan: Shizuoka University.
Lehmann, H. (1990). The Systems Approach to Education. Special Presentation Conveyed in
The International Seminar on Educational Innovation and Technology Manila. Innotech
Publications-Vol 20 No. 05.
Stiggins, R.J. (1994). Student-Centered Classroom Assessment. New York : Macmillan College
Publishing Company
Tayibnapis, F.Y. (2000). Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta
Zainul & Nasution. (2001). Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti.