Anda di halaman 1dari 103

Wahabisme : Memahami Akar,

Model Dan Peran Ekstremisme


Islam
oleh Zubair Qamar, As-Sunnah Foundation of
America

Pengantar
Gerakan paling semu para ekstremis
Sunni sekarang ini adalah Wahabisme (yang
juga dikenal sebagai Salafisme). Mungkin
banyak orang berpikir bahwa teror Wahabi
merupakan

fenomena

baru

yang

hanya

mentargetkan non-Muslim saja, banyak orang


akan

terkejut

kelompok
target

jika

mengetahui

kalau

muslim Sunni ortodoks adalah


pembantaian
1

pertama

yang

disembelih oleh mereka di Saudi beberapa


ratusan tahun yang lalu. Untuk mengetahui
secara

detail

tragedi

mengerikan

itu

seseorang hanya cukup membaca evolusi


sejarah Arab Saudi - tragedi di mana ribuan
muslim Sunni dan Syiah tewas di tangan
militan Wahabi.
Interpretasi
meskipun

ekstremis

sebelumnya

Wahabi,

terbatas

pada

sekelompok kecil orang di Arabia, telah


bertahan

sampai

perlindungan,

hari

dukungan

ini

di

bawah

keuangan,

dan

pengawasan dari organ-organ agama negara


Saudi. Ini telah mengubah Wahabisme - dan
terkait

kelompok

Salafi

yang

mendapat

inspirasi dan dukungan dari mereka- menjadi


2

ancaman global yang harus diperhitungkan


oleh

masyarakat

dunia.

Bagi

seorang

Wahabi-Salafi, semua orang yang berbeda


dengan mereka, termasuk Muslim Sunni,
Muslim Syiah, Kristen, dan Yahudi adalah
orang-orang

yang

menjadi

sasaran

pengkafiran mereka.
Apakah mayoritas Sunni mendukung
Wahabisme? Apakah Sunni dan Wahabi satu
dan sama?

Apa Yang Dimaksud Dengan Wahabi?


Karena

Wahabi

mengklaim

dirinya

sebagai "Sunni yang benar," adalah sulit bagi


orang-orang
Wahabisme

yang
untuk

terbiasa

dengan

membedakannya
3

dari

Islam Sunni ortodoks. Jika Wahabi ditanya


apakah dia Sunni, dia akan selalu menjawab
secara

afirmatif.

Ketika

ditanya

apakah

mereka Wahabi, mereka akan menjawab


dengan

tegas

menganggap
penghinaan

"tidak"

karena

mereka

panggilan

tersebut

sebagai

terhadap

apa

yang

mereka

percaya dan lakukan dalam sebuah gerakan:


"Kemurnian ibadah dan penghormatan hanya
kepada Allah saja. Para pembawa Islam
otentik
sekarang

dari

zaman

"Memanggil

Nabi

saw

mereka

sampai
dengan

panggilan Wahabi untuk menyiratkan bahwa


mereka belajar dari ide-ide seorang pria
bernama Muhammad bin Abdul Wahhab,
bukan dari Al-Qur'an dan Sunnah - dua besar
4

sumber

Islam-.

Terlepas

dari

apa

yang

mereka pikirkan, mereka tidak mengikuti


sumber-sumber Islam yang otentik, tetapi
mengikuti interpretasi yang salah dari pendiri
gerakan Wahabi yang muncul di tahun 1700.
Sunni dan kelompok lain penentang Wahabi
telah

melabeli

mereka

dengan

sebutan

Wahabi untuk membedakannya dari kaum


Sunni ortodoks.

Wahabi

Sebagai

Salafi:

Kalimat

Semantik yang Menipu


Wahabi

sendiri

telah

membedakan

dirinya dari Sunni ortodoks dengan label


5

Salafi, yang mengacu pada kata salaf Satu


periode di mana kaum muslim awal tinggal
pada 300 tahun pertama setelah Hijrah, atau
pada periode hijrah Nabi Muhammad Saw
dari Mekah ke Madinah pada tahun 622,
periode para sahabat, periode mereka yang
mengikuti para sahabat (disebut Tabi'in), dan
periode mereka yang mengikuti para Tabiin
(Taba al-Tabi'in) yang hidup pada periode
Salaf

sebagai

menggambarkan

periode

terbaik

bagaimana

yang

kehidupan

muslim yang seharusnya, sebagaimana Nabi


Muhammad

saw

telah

memuji

kaum

muslimin masa itu sebagai generasi umat


Islam terbaik. Oleh karena itu, setiap muslim
sejak zaman Nabi Muhammad Saw telah
6

menjadinya sebagai perode ideal dimana


mereka dituntut mematuhi dan mengikuti
jejak para penganut salaf. Ini berarti bahwa
ketika seorang Wahabi menyebut dirinya
Salafi, dia mengaku dirinya sebagai pengikut
sejati Islam yang murni. Ini, bagaimanapun
jauh dari kebenaran.
Muslim Sunni Ortodoks percaya bahwa
mereka

adalah

pembawa

Islam

yang

sebenarnya murni karena ada kesenjangan


waktu antara periode mulia salaf dan abadabad berikutnya, posisi otentik kum Muslimin
awal diaku oleh para ulama dan menjadi
acuan untuk generasi kemudian, prosesnya
dilakukan melalui cara pelestarian yang teliti,
sistematis, dan metodologis. Ini merupakan
7

rantai pengetahuan yang tidak terputus dari


zaman

salaf

dilestarikan

sampai

secara

sekarang

otentik

telah

oleh

Sunni

ortodoks. Oleh karena itu Sunni Ortodoks


adalah kelompok sunni yang memiliki akar
kepada salaf, dan sekarang mereka diwakili
oleh

empat

mazhab

hukum

Islam

yang

otentik: Madzhab Hanafi, Syafi'i, Maliki, dan


Hanbali.
Kaum Wahabi, dengan menyebut diri
mereka

sebagai

Salafi,

tidak

hanya

mengklaim dirinya mengikuti jejak kaum


Muslim

awal,

tetapi

juga

menggunakan

semantik ini untuk pembodohan dan sebagai


daya tarik bagi kaum muslimin yang kurang
informasi

tentang

Wahabism.
8

Wahabi

berkata, "Anda harus mengikuti umat Islam


Salaf."

(Ini

diragukan

sebuah
lagi

proposisi

kebenarannya).

yang

tidak

Kemudian

semantik Wahabi berikutnya: "Karena itu


Anda harus menjadi Salafi dan jangan pernah
menjadi yang lainnya. Ketika Anda mengikuti
jalan lain berarti Anda mengikuti jalan yang
berbeda dari umat Islam Salaf". Dengan
semantik yang menipu seperti itu, umat
Islam yang kurang informasi percaya bahwa
Wahabi (yang mengaku Salafi ) benar-benar
mewakili interpretasi murni kaum muslimin
Salaf awal. Setelah itu semua, kata Salafi
terdengar

seperti

salaf,

sehingga

harus

benar-benar menjadi wakil dari itu. Lebih jauh


dari itu, bagi yang kurang informasi hal itu
9

lebih dari sekedar semantik dan kepercayaan


sebagaimana

seorang

Salafi

percaya.

Kebenaran yang diakui secara resmi adalah


bahwa pemahaman Salafi (Wahabi) berbeda
dan bertentangan dengan pemahaman dan
posisi kaum muslimin saleh yang hidup di
zaman Salaf- juga dengan mayoritas umat
Islam Sunni yang pernah hidup.
Berbagai Macam Wahabi-Salafi
Kelompok Wahabi-Salafi percaya bahwa
kelompo muslim Sunni telah salah langkah
selama 1.000 tahun terakhir dan mereka
bertujuan untuk membawa kembali umat
Islam keluar dari keadaan jahilliyyah (seperti
kondisi pra Islam, penj) yang telah ada sejak
zaman para Salaf. Bahkan mayoritas Muslim
10

Sunni ortodoks yang kuat hari ini memerintah


sebuah kerajaan yang membentang jauh ke
setiap sudut dunia mereka tetap masih jauh
dari tradisi Salafi karena dasar-dasar seperti
sistem politik yang mereka anut didasarkan
pada sebuah inovasi tercela (bid'ah) dan
kekufiran.
Bagi kelompok Salafi, kehadiran dan
kekuasaan Sunni ortodoksi, dalam semua
manifestasinya seperti yang digambarkan
sepanjang

sejarah

Islam,

murninya

sebagai

bukti

hegemoni

Eropa

sama

tidak

meningkatnya

dalam

semua

manifestasinya sejak runtuhnya Kekaisaran


Muslim Ottoman. Bagi kelompok Salafi yang
menjadi minoritas di dunia ini, dunia adalah
11

tempat tinggal penuh dengan penghujatan,


diperintah dan dikuasai oleh orang-orang
kafir yang perlu mereka reformasi melalui
kedua

cara

baik

kekerasan

dan

non-

kekerasan untuk menciptakan sistem dunia


yang murni Islam.
Wahabi - Salafi datang dalam berbagai
strategi, beberapa diantaranya denga wajah
lebih ekstrim daripada yang lain. Keragaman
mereka ini disebabkan karena perbedaan
dalam pendekatan untuk membawa umat
Islam

kembali

ke

keadaan

Islam

murni

(keyakinan diperkuat) berdasarkan contoh


dari para pendahulu yang saleh (salafush
shalih,

penj).

Harus

ditekankan

bahwa

meskipun semua Wahabi disebut Salafi, tidak


12

semua Salafi murni Wahabi. " Muslim Salafi "


termasuk orang-orang seperti Sayyid Qutb
yang

ingin

membasmi

kebodohan

(kejahiliyahan) dan membawa umat Islam


kembali

ke

keadaan

mengingatkan

kemurnian

kemurnian

yang

kesucian

umat

Islam yang hidup pada periode Salaf. Namun,


semua Muslim Salafi, apakah mereka Wahabi
atau Qutbi sama-sama mengagumi secara
berlebihan

model

peran

Muhammad

bin

Abdul Wahhab dan Ahmad Ibn Taimiyyah,


dimana kelompok garis keras dan kaum
revolusioner saat ini telah terilhami olehnya.
Oleh karena itu, meskipun tidak semua Salafi
Wahabi,

mereka

benar-benar

sangat

mengagumi model tokoh yang sama, model


13

yang telah ditolak dan dikutuk oleh para


ulama Sunni ortodoks untuk representasi
mereka tidak autentik tentang Islam murni.
Hal ini juga dapat dikatakan bahwa semua
Wahabi menganggap dirinya sebagai Salafi
dan lebih memilih untuk dipanggil dengan
nama ini (dibandingkan panggilan Wahabi),
meskipun masih ada perbedaan diantara
kelompok Salafi.
Meskipun ada perbedaan pendekatan
di antara Salafi, mereka tetap bersekutu
dalam upaya untuk membuat visi Salafi
menjadi kenyataan, yang satu dengan cara
lembut dan yang satunya dengan kekerasan.
Contoh

dari

hal

ini

adalah

Salafi

Deobandis yang berorientasi dan beraliansi


14

dengan

Wahabi.

Aliansi

antara

Ikhwanul

Muslimin (dan berbagai faksi dan cabang di


dalamnya)

dan

Wahabi

di

Arab

Saudi

diperkuat selama tahun 1950 dan 1960-an


dalam

perjuangan

Ikhwanul

Muslimin

menentang rezim Nasserist Mesir. Saudi telah


memberikan

perlindungan

bagi

beberapa

pemimpin Persaudaraan (Ikhwanul Muslimin)


dan

juga

mereka

di

memberikan

bantuan

negara-negara

Arab

kepada
lainnya.

Aliansi Wahabi-Salafi ini diperkuat sebagai


respon terhadap meningkatnya ancaman dari
kelompok Syiah ketika Ayatollah Ruhollah
Khomeini dari Iran menggulingkan Shah,
sekutu AS pada tahun 1979.

15

Terakhir,

aliansi

terwujud

dengan

sendirinya dalam perjuangan suci (jihad)


menentang agresi ateis/komunis Soviet di
Afghanistan. Kelompok Salafi dari semua
kalangan bekerja sama sebagai "Sunni yang
benar"

untuk

Komunis.

melawan

Mereka

ancaman

menggunakan

Syiahda'wah

dengan cara membunuh untuk membuat


ideologi Salafi mereka menang. Memang,
Salafi telah menggunakan dakwah dengan
cara revolusioner untuk mengekspresikan
pesan mereka dengan menggunakan dua
pendekatan politik dan non-politis. Jadi yang
disebut

"Sunni

teroris"

saat

ini

adalag

gerakan teror yang dilakukan oleh Salafi


radikal yang ingin mengganti pemerintah
16

"kafir" dengan pemerintahan "ulama" yang


mengikuti interpretasi dan ideologi fanatik
mereka. Cara pandang mereka pun tersebar
ke seluruh pelosok dunia, termasuk Bosnia,
Albania,

Indonesia,

Filipina,

Uzbekistan,

Inggris, Malaysia, Afrika Selatan, Libanon,


Afghanistan, dan Pakistan. Kelompok Salafi
telah

menunjukkan

malapetaka

dalam

beberapa dekade terakhir.

Wahabi Sebagai Neo-Khawarij


Kaum

Wahabi

sangat

terkenal

berupaya menghidupkan kembali cara-cara


Khawarij. Khawarij

adalah mereka yang

berasal dari masa kekhalifahan Utsman dan


Ali, di antara para sahabat yang paling dekat
17

dengan Nabi Muhammad Saw. Mereka adalah


kelompok

fanatik

memisahkan

diri

paling
dari

awal

komunitas

yang
Muslim.

Mereka muncul sebagai oposisi terhadap Ali


Menantu Nabi Muhammad saw - karena
kesediaan

beliau

berdamai

dengan

Muawiyah, Gubernur Damaskus pada waktu


itu terkait permasalahan kekhalifahan. Kaum
Khawarij, yang berarti "mereka yang keluar,"
adalah sebutan yang mereka sandang karena
penghujatannya kepada Ali dan Mu'awiyah
-mereka dan para pengikutnya- mengatakan
bahwa

Al

Qur'an,

dan

bukan

mereka,

memiliki otoritas tertinggi dalam hal ini. Ibn


al-Jawzi,

seorang

ulama

Sunni

ortodoks

dalam bukunya Talbis Iblis di bawah judul


18

"Sebuah Perhatian dari Delusi Iblis pada


Khawarij,"

mengatakan

Khuwaysira

al-Tamimi

bahwa
adalah

DhulKhawarij

pertama dalam Islam dan bahwa adalah


kesalahan

yang

merasa

puas

dengan

pandangannya sendiri; setelah ia berhenti ia


akan

menyadari

bahwa

tidak

ada

percontoham yang lebih tinggi selain dari


Rasulullah Saw". Selain itu, seorang ulama
Sunni

ortodoks,

Baghdadi

Imam

membahas

Abdul

Qahir

al-

pemberontakan

Khawarij dan pembantaian berdarah mereka


terhadap puluhan ribu kaum muslimin dalam
salah satu bukunya. Dia secara eksplisit
menyebutkan Azariqa, salah satu gerakan
Khawarij

yang

paling
19

mengerikan

yang

dipimpin oleh Nafi 'Ibn al-Azraq dari suku


Bani Hanifah, suku yang sama di mana
seorang

pelaku

bid'ah,

Musailamah

al-

Kadzdzab (Musailamah Sang Pembohong)


yang mengklaim kenabian. Mereka samasama

seperti

Khawarij,

jika

Khawarij

melemparkan tuduhan penghujatan kepada


Ali

dan

Mu'awiyah,

melemparkan

tuduhan

kelompok
dan

Wahabi

penghujatan

kepada kelompok Sunni dan Syiah.

Al-Sa`ud

dan

Muhammad

Wahhab - Pendiri Wahabisme

20

Ibn

'Abdul

Dinamai Wahabi karena disesuaikan


dengan nama pendirinya, Muhammad Ibn
'Abdul-Wahhab

(1703-1792),

berbasis

di

wilayah yang sekarang dikenal sebagai Arab


Saudi. Tanpa orang ini, al-Sa`ud, salah satu
klan yang banyak tersebar di jazirah Arab
tidak akan memiliki inspirasi, akal, dan tekad
untuk mengkonsolidasikan kekuatan yang
mereka lakukan dan imbalan "jihad" terhadap
orang-orang yang mereka anggap sebagai
"musyrik",

yaitu

orang-orang

yang

menghubungkan kemitraan dalam beribadah


kepada Allah Yang Mahakuasa. Bagaimana
keintim

hubungan

al-Sa`ud

dengan

Muhammad bin Abdul Wahhab? Robert Lacey


secara fasih menggambarkan hubungan ini:
21

Al Sa`ud sebelumnya adalah sebuah


klan kecil seperti kebanyakan klain lainnya di
Najd sebagai penduduk kota dan petani,
hidup

merasa

perdagangan

cukup
dan

nyaman

dari

mungkin

hasil
sedikit

peternakan kuda. Sampai [Muhammad bin


Abdul

Wahhab]

menggabungkan

datang,

suku-suku

mereka

padang

pasir

untuk menyerang ke wilayah luar ketika


mereka merasa kuat. Mereka tidak mungkin
membangun

jalan

kekaisaran

dan

tidak

mungkin dunia yang lebih luas akan pernah


mendengar mereka tanpa beraliansi dengan
Sang Guru.
Al-Sa`ud yang berasal dari desa adDiriyah, yang terletak di Najd, di bagian timur
22

Saudi terletak di dekat Riyadh modern, ibu


kota

Saudi.

Muhammad,

Leluhur
yang

dari

tidak

Sau'd

terlalu

Ibnu

banyak

diketahui, menetap di daerah agrikulturis dan


secara

bertahap

jumlah

mereka

terus

bertambah dari waktu ke waktu ke dalam


klan al-Sa`ud.
Muhammad
dibesarkan

di

bin

Uyainah,

Abdul

Wahhab,

sebuah

oasis

di

selatan Najd dari suku Bani Tamim. Dia


berasal

dari

keluarga

meninggalkan

Uyainah

pengetahuan

Islam.

religius
dalam
Dia

dan

mengejar
melakukan

perjalanan ke Mekah, Madinah, Irak, dan Iran


untuk memperoleh pengetahuan dari guru
yang berbeda-beda. Ketika ia kembali ke
23

tanah

airnya

di

Uyainah,

ia

berkhotbah

tentang apa yang dia yakini sebagai Islam


yang murni, yang pada kenyataannya apa
yang diyakininya itu adalah serangan kejam
terhadap kelompok muslim Sunni tradisional.
Seorang ulama Sunni ortodoks, Jamil
Effendi al-Zahawi mengatakan bahwa guru
Ibnu `Abdul-Wahhab, termasuk dua guru
dimana ia pernah belajar dengannya di
Madinah

adalah

Syaikh

Muhammad

bin

Sulaiman al-Kurdi dan Syaikh Muhammad


Hayat al-Sindi, keduanya menyadari kalau
Wahabi anti terhadap keyakinan Sunni dan
keduanya
darinya.

memperingatkan
Gurunya,

termasuk

umat

Islam

dua

syeikh

tersebut pernah berkata: "Allah mungkin


24

membiarannya

sesat,

bahkan

ia

akan

menyesatkan banyak orang.


Selain itu, ayahnya sendiri Ibnu Abdul
Wahhab telah memperingatkan umat Islam
darinya,

seperti

yang

dilakukan

saudara

kandungnya, Sulaiman Ibn Abdul-Wahhab,


seorang

ulama

Sunni

ortodoks

yang

menyangkal dia dalam sebuah buku berjudul


al-Sawa'iq

al-Ilahiyya

fi

al-Radd

`ala

al-

Wahabiyya [Bantahan terhadap Wahabi"].


Pemikiran-pemikiran

Ibnu

Abdul

Wahhab

telah banyak disangkal oleh para ulama


Sunni ortodoks. Mungkin buku yang paling
terkenal hasil karyanya adalah Kitab atTauhid (Kitab Keesaan Tuhan) yang beredar
luas di kalangan Wahabi di seluruh dunia,
25

termasuk
populer

di

Amerika

di

meskipun

Serikat.

kalangan

para

ulama

Bukunya

mereka
Sunni

sendiri,
ortodoks

mengatakan bahwa di dalamnya tidak ada


yang ilmiah, baik dari segi isi dan maupun
gaya penyampaiannya.

Ibnu Taimiyyah : Role Model Pendiri


Wahabi
Perlu memberikan gambaran tentang
seorang pria bernama Ahmed Ibn Taimiyyah
(1263-1328)
tahun

yang

sebelum

Wahhab.

hidup

Muhammad

Pendiri

mengaguminya

beberapa
ibn

Wahabi

sebagai

model

ratus
'Abdulyang
dan

menganut ajarannya. Siapa sebenarnya Ibnu


26

Taimiyyah dan apa pendapat ulama-ulama


Sunni

ortodoks

tentangnya?

Para

ulama

memiliki pendapat yang beragam tentangnya


tergantung

pada

penafsirannya

terhadap

berbagai isu. Ia dianggap menyimpang dari


Islam Sunni terutama pada isu-isu tertentu
terkait

keyakinan

(`aqidah)

dan

ibadah

(`ibadah) membuatnya menjadi tokoh yang


sangat kontroversial di kalangan masyarakat
Muslim.
Ibn

Taimiyyah

telah

berhasil

mencitrakan dirinya sebagai pembawa Islam


sesungguhnya dari tradisi umat Islam saleh
awal (salafush shalih), terutama di kalangan
kaum

reformis

revolusioner,

sementara

mayoritas Sunni ortodoks telah menuduhnya


27

melakukan bid'ah tercela, beberapa diantara


mereka menuduhnya kufur (kafir).
Karena

itu

sepatutnya

kita

bertanya

mengapa Ibnu Taimiyyah telah menerima


penentangan
ulama

Sunni

dikenal

begitu

terkemuka

dengan

kesalehannya.
Ibnu

banyak

Taimiyyah

dimana

asketisme,

Beberapa
dan

dari

ulamamereka

kualitas

sikap

dan

anti-Sunni

posisinya

yang

kontroversial meliputi:
1) Klaimnya bahwa Asma Allah (nama-nama
Allah)

adalah

"literal",

sehingga

ia

menghubungkan Allah dengan atribut-atribut


tertentu

sehingga

menjadi

anthropomorphist;

28

sebuah

2) Klaimnya bahwa segala ciptaan (makhluk)


ada secara kekal di sisi Allah;
3) Sikap kerasnya menentang konsensus ilmiah
pada masalah perceraian;
4) Penentangannya terhadap praktek tawassul
di

kalangan

Sunni

ortodoks

(memohon

sesuatu kepada Allah dengan menggunakan


perantara (wasilah) individu saleh tertentu);
5) Ia mengatakan bahwa memulai perjalanan
untuk mengunjungi itu Nabi Muhammad Saw
menyebabkan

tidak

diperbolehkannya

menjamak shalat;
6) Ia mengatakan bahwa penyiksaan terhadap
penghuni neraka akan berhenti dan tidak
berlangsung selamanya;

29

7) Ia mengatakan bahwa Allah memiliki batas


(hadd) yang hanya Dia yang Tahu;
8) Ia mengatakan bahwa Allah secara harfiah
duduk

di

Tahta

(al-Kursi)

dan

telah

meninggalkan ruang bagi Nabi Muhammad


Saw untuk duduk di samping-Nya;
9) Ia mengatakan bahwa menyentuh makam
Nabi

Muhammad

Saw

adalah

politeisme

(syirik);
10)

Pernyataannya

bahwa

membuat

permohonan di makam Nabi Muhammad Saw


untuk memohon kondisi lebih baik dari Allah
merupakan praktek bid`ah tercela;
11)

Pernyataannya bahwa Allah turun dan

membandingkan "keturunan" Allah dengan


nya,

saat

ia

turun
30

dari

mimbar

saat

memberikan khotbah (khutbah) kepada kaum


muslimin;
12)

Ia mengklasifikasikan kesatuan dalam

menyembah

Allah

(tauhid)

menjadi

dua

bagian: Tauhid al-rububiyya dan Tauhid aluluhiyya, yang tidak pernah dilakukan oleh
para penganut saleh salaf.
Meskipun Ibnu Taimiyyah itu tidak ortodoks,
ia adalah seorang pseudo-Sunni yang dijauhi
masyarakat

di

Suriah

dan

Mesir

karena

adanya konsensus ulama Sunni ortodoks atas


penyimpangan yang dilakukan juga

atas

ajaran-ajarannya yang tetap beredar secara


sembunyi-sembunyi. Seorang ulama Sunni
ortodoks mengatakan:

31

Memang, ketika seorang pedagang kaya dari


Jeddah

mensponsori

secara

finansial

[Keyakinan] Ibn Taimiyyah pada awal abad ini


dengan

membiayai

pencetakan

Ibnu

Taimiyyah di Mesir berjudul Minhaj al-Sunnah


al-Nabawiyya dan karya lainnya, Mufti Mesir
Muhammad Bakhit al-Muti'i, memunculkan
pertanyaan-pertanyaan

baru

tentang

validitas antropomorfisme, ia menulis: "Itu


adalah

fitnah

(Perselisihan) yang sudah

terlupakan; semoga Allah mengutuk orang


yang kembali menghidupkannya".
Penting untuk ditekankan bahwa
meskipun posisi Ibnu Taimiyyah dan Wahabi
banyak identik, mereka tetap bertentangan
satu sama lain di beberapa posisi. Sementara
32

Ibnu Taimiyah menerima Sufisme (Tasawwuf)


sebagai ilmu yang sah dari Islam (karena
semua Muslim Sunni ortodoks mengakuinya),
Wahabi

menolak

sebagai

sebuah

dna
inovasi

menganggapnya
buruk

terhadap

agama (bidah). Sementara Ibnu Taimiyah


menerima legitimasi memperingati maulid
Nabi Muhammad Saw sebagaimana diterima
keabsahannya oleh Muslim Sunni ortodoks Wahabi menolak dan mengkategorikannya
sebagai inovasi (bidah) yang wajib ditolak.
Ibnu Taimiyyah adalah sebuah inspirasi
bagi

kelompok-kelompok

menyerukan
"Ibnu

revolusi.

Taimiyah

Islam

Kepel

(1268-1323)

yang

mengatakan,

adalah

referensi utama bagi gerakan Islam Sunni


33

Pemikirannya

banyak

dikutip

untuk

membenarkan pembunuhan terhadap Sadat


pada tahun 1981 dan bahkan mengutuk
kepemimpinan

Saudi

dan

menyerukan

penggulingan kekuasaan pada pertengahan


1990 ".
Sivan mengatakan bahwa hanya enam
bulan sebelum Sadat dibunuh, mingguan
Mayo

memilih Ibnu Taimiyah sebagai "Tokoh

paling

berpengaruh

dan

merugikan

bagi

pemuda-pemuda Mesir." Sivan lebih lanjut


mengatakan

bahwa

Mayo

menyimpulkan

bahwa "asosiasi Muslim banyak berkembang


di universitas [Mesir], di mana pandangan
Ibn

Taymiyyah

melahirkan

mendominasi

berbagai
34

dan

kelompok

telah

teroris."

Memang, sebuah buku berjudul The Absent


Precept, yang ditulis oleh `Abd al-Salam Faraj
seorang rohaniawan

dan pemimpin atas

pembunuh Sadat yang diadili dan dieksekusi


oleh pemerintah Mesir - sangat mengacu
pada pemikiran Ibnu Taimiyah dan beberapa
tulisan

murid-muridnya.

pembunuh

Sadat

rela

Tiga

dari

empat

membaca

sendiri

karya-karya Ibnu Taimiyah.


Ibnu Taimiyyah juga tercatat menjadi
favorit

bagi

ekstremis

Salafi

lainnya,

termasuk Syed Quthb Ikhwanul muslimin.


Salah seorang murid Ibnu Taimiyah, Ibnu
Qayyim al-Jawziyyah,

apa pun pemikirannya

sering dikutip oleh kelompok Salafi.

35

Ibnu

Taimiyyah

Ber"Fatwa"

Jihad

Terhadap Umat Islam


Hal yang juga terkenal tentang Ibnu
Taimiyyah adalah bahwa ia tinggal di masa
pergolakan ketika Mongol telah menaklukkan
Bagdad dan menaklukkan Kekaisaran Abassid
pada tahun 1258. Pada tahun 1303, ia
diperintahkan oleh Sultan Mamluk

untuk

memberikan fatwa (Dekrit keagamaan) untuk


legalisasi

jihad

melawan

Mongol.

Melancarkan perang suci terhadap Mongol


untuk

tujuan

menghilangkan

ancaman

terhadap kekuasaan Mamluk adalah hal yang


mudah. Pemimpin Mongol Khan Mahmoud
Ghazan telah masuk Islam pada tahun 1295.
Meskipun

ia

adalah
36

Muslim

yang

tidak

mematuhi praktek hukum Islam, dan juga


mendukung hukum Mongol Yasa, ia dianggap
murtad oleh dekrit Ibnu Taimiyyah. Menurut
Ibnu Taimiyyah, Hukum Islam tidak hanya
ditolak

oleh

Mongol

karena

kepatuhan terhadap Islam,

kurangnya

ia mendukung

praktek hukum "kafir" (hukum Mongol) Yasa


sehingga ia menjadi target pemusuhan. Jihad
pun

dilakukan

wilayah Suriah
Wahabi
Mahmoud

dan

dan

ancaman

Mongol

ke

berhasil mereka hentikan.


Salafi

Ghazan

lainnya

sebagai

memvonis

kafir

(Kafir).

Muslim Sunni Ortodoks, bagaimanapun telah


memuji Mahmoud Ghazan sebagai seorang
Muslim. Syaikh Muhammad Hisham Kabbani
menulis:
37

Bahkan, Ghazan Khan sangat percaya


terhadap

Islam.

Al-Dhahabi

menceritakan

bahwa ia menjadi seorang Muslim di tangan


para syekh sufi Sadr al-Din Abu al-Majami
'Ibrahim al-Juwaini (d.720), salah satu syeikh
Dhahabi

sendiri

mengatakan

selama

pemerintahannya ia memiliki masjid besar


yang dibangun di Tabriz di samping dua belas
sekolah

Islam

(madrasah),

membangun

banyak hostel (khaniqa), benteng (Ribat),


sebuah sekolah untuk ilmu sekuler, dan
observatorium.

Ia

memasok

Mekah

dan

Madinah dengan berbagai macam hadiah.


Dia mengikuti salah satu madzhab dari Ahl
al-Sunnah [yang merupakan Sunni ortodoks]
dan menghormati para ulama. Dalam catatan
38

negara

Dia

adalah

keturunan

Nabi

disebutkan dihadapan pangeran dan putri


raja,

dan

dia

memperkenalkan

sorban

sebagai tutup kepala di pengadilan.


Muhammad

bin

Abdul

Wahhab

kemudian mengikuti jejak Ibnu Taimiyyah dan


melakukan

ribuan

pembantaian

terhadap

umat Islam di Saudi.

Para

Ulama

Sunni

Mencap

Ortodoks

Telah

Ibn Taymiyah

Sebagai Pseudo-Sunni
Ulama

Sunni

Ortodoks

yang

membantah Ibnu Taimiyyah dipenjara oleh


fatwa

(Dekrit

keagamaan)
39

yang

ditandatangani
ortodoks

pada

oleh

empat

tahun

726

hakim
AH

Sunni
untuk

memvonis posisi penentangnya sebagai telah


menyimpang dan tidak ortodoks. Perhatikan
bahwa empat hakim tersebut masing-masing
mewakili empat madzhab fiqih/hukum Islam
Muslim

Sunni

hari

ini.

Hal

ini

menggambarkan bahwa Ibn Taimiyyah tidak


mengikuti ajaran-ajaran otentik dari Islam
Sunni ortodoks yang diwakili oleh empat
madzhab fiqih/ yurisprudensi Sunni. Tidak
ada bukti yang menunjukkan bahwa ada
"konspirasi" terhadap Ibnu Taimiyah untuk
menyebutnya sebagai Wahabi dan lainnya
sebagai Salafi . Nama-nama empat hakim
tersebut adalah: Qadhi [Hakim] Muhammad
40

bin Ibrahim Ibnu Jama'ah, Abu-Syafi'i, Qadhi


[Hakim] Muhammad Ibn al-Hariri, Al-`Ansari,
al-Hanafi, Qadhi [Hakim] Muhammad bin Abi
Bakr, al-Maliki, dan Qadhi [Hakim] Ahmad
Ibnu 'Umar, al-Maqdisi, al-Hanbali.
Beberapa ulama Sunni ortodoks yang
membantah Ibnu Taimiyah dan menyatakan
bahwa ia bertentangan dengan posisi Islam
Sunni ortodoks adalah: Taqiyy-ud-Din asSubkiyy, Faqih Muhammad Ibnu 'Umar Ibnu
Makkiyy, Hafiz Salah-ud-Din al-' Ala'i, Qadhi,
mufassir Badr -ud-Din Ibn Jama'ah, Syaikh
Ahmad Ibn Yahya al-Kilabi al-Halabi, Hafiz
Ibnu Daqiq al-'Id, Qadhi Kamal-ud-Din azZamalkani,

Qadhi

Safi-ud-Din

al-Hindi,

seorang Faqih (ahli fiqh) dan Muhaddits (ahli


41

hadis) `Ali bin Muhammad al-Baji asy-Syafi'i,


sejarawan

Al-Fakhr

Ibn

al-Mu

`allim

al-

Qurashi, Hafiz Dhahabi, mufassir Abu Hayyan


al-'Andalusi, dan seorang Faqih Ibnu Batutah.

Najd-

Sebuah

Tempat

Yang

Tidak

Begitu Suci
Najd, di Arab Saudi adalah tempat di
mana pendiri Wahabisme berasal. Sebagian
besar lahannya tandus dan kering yang
dihuni oleh suku Badui tempat hewan-hewan
merumput. Persediaan air cukup jarang, dan
di

sebuah

wilayah

yang

ekstrim

panas

pada

ekstrim

dingin

dan

memiliki

musim
musim

panas
dingin

iklim
dan
Najd

bukanlah tempat yang nyaman untuk tempat


42

tinggal. Najd terkenal memiliki reputasi buruk


di komunitas Sunni ortodoks sebagai tempat
berasalnya

berbagai

Muhammad

Ibn

fitah,

jauh

sebelum

'Abdul-Wahhab

datang.

Seorang ulama Sunni ortodoks asal Irak,


Jamal Effendi al-Zahawi mengatakan:
Seorang
catatan

titik

penulis

terkenal

kesamaan antara

membuat
awal

Ibn

'Abdul-Wahhab dan para nabi-nabi palsu di


masa-masa awal Islam seperti Musailama alKadzdzab (Musailima sang pembohong), AlAswad al-Anasi, Tulaiha al-Asadi dan lain-lain.
Fenari mengatakan bahwa meskipun
Najd adalah wilayah paling dekat dengan
kota suci

Mekah dan Madinah, itu hanya

sedikit disinggung oleh Nabi Muhammad Saw


43

dalam hadisnya.

Dia mengangkat titik lain

yang menarik bahwa sementara suku-suku


Arab banyak dipuji oleh Nabi Muhammad
Saw, Bani Tamim, suku paling terkenal di
wilayah

bagian

Muhammad

Ibn

tengah
'Abdul

Saudi

di

Wahhab

mana

berasal-

hanya mendapat satu kali pujian. Selain itu,


hadis-hadis shahih lain mengatatkan "kritik
secara eksplisit " jauh lebih banyak terhadap
Bani Tamim. Ibn al-Jawzi, seorang ulama
Sunni ortodoks telah mendokumentasikan
evolusi

gerakan

Khawarij

dan

menggambarkan bagaimana suku dari Bani


Tamim

memainkan

dalamnya.

Imam

peran
Abdul

utama
Qahir

di
juga

menyatakan bahwa Bani Tamim -dan suku44

suku di bagian Arab Tengah secara umummemiliki

keterlibatan

pemberontakan

cukup

Khawarij

erat

dalam

melawan

kaum

muslimin, kontribusi besar mereka cukup


kontras

dengan

kontribusi

minimal

dari

anggota suku Madinah dan Yaman. Hal ini


berikut nama seorang pria dari Bani Tamim,
Abu Bilal Mirdas, yang meskipun ia menjadi
pemuja

tanpa

henti,

ternyata

ia

orang

Khawarij yang paling barbar dan fanatik. "Dia


dikenal

sebagai

orang

pertama

yang

mengatakan tahkim -penghakiman hanyalah


dari Allah sendiri' - di saat perang Shiffin,
yang

kemudian

menjadi

slogan

dakwah

Khawarij." Hal ini mengingatkan pada apa


yang

dikatakan

Wahabi
45

hari

ini

-bahwa

mereka benar-benar tidak mengikuti apa pun


kecuali Al-Qur'an dan Sunnah- meskipun itu
hanyalah tumpukan kata-kata tanpa makna
yang tidak koheren. Najda bin Amir yang
berasal

dari

suku

Bani

Hanifah

adalah

Khawarij, dan wanita yang paling terkenal di


antara kaum Khawarij adalah seorang wanita
suku Tamim bernama Qutam binti `Alqamah.
Hal ini menarik untuk dilihat bahwa semua
jenis kefanatikan berasal dari wilayah di
mana Muhammad bin Abdul Wahhab berasal.
Kelompok

Wahabi

Serangan

Terhadap

Pembantaian

Adalah
Kuburan

Masyarakat

Riyadh Dan Karbala

46

Pelaku

Muslim

Dan
di

Dengan semangat ganas dalam


slogan memperjuangkan misi "ilahi", yang
ditujukan untuk mengakhiri apa yang mereka
anggap sebagai sampah kotor politeistik.
Tentara Wahabi Saudi yang dipimpin oleh
Muhammad bin Sa`ud pertama-tama mereka
hancurkan kuburan dan beberapa situs di
dalam kota Najdi dan beberapa desa yang
digunakan untuk apa yang mereka dianggap
sebagai "praktek musyrik". Gerakan Wahabi
itu mengarahkan pendukungnya berunjuk
rasa

di

belakang

perjuangan

mereka,

meningkatkan jumlah tentara mereka, dan


sukses

mempersatukan

sebagian

besar

rakyat Najd di bawah bendera Wahabisme


pada tahun 1765.
47

Serangan dan "jihad" kelompok


Wahabi

tidak

berhenti

setelah

kematian

Muhammad Ibn Sa`ud pada tahun 1765, tapi


terus dengan tidak ada hentinya dan dengan
kekuatan barbar di bawah kepemimpinan
anaknya, Abdul Aziz mereka merebut kota
Riyadh
Abdul

pada tahun 1773. Muhammad bin


Wahhab

sebelumnya

meninggal

tetapi

pada

tahun

meninggalkan

empat

putra yang terus menyebarkan Wahabisme


dan

memperkuat

aliansi

Wahabi

dengan

keluarga Al-Sa`ud. Kemudian, pada tahun


1801, tentara Wahabi bergerak ke wilayah
Karbala dengan kekuatan 10.000 orang dan
6.000 unta. Setelah mencapai kota Karbala,
mereka tanpa ampun dan tanpa pandang
48

bulu

menyerang

penghuninya

selama

delapan jam dan berhasil membantai sekitar


5.000

orang.

Selain

itu,

mereka

menghancurkan Masjid Imam Hussein hingga


rusak

parah,

menjarah

isi

kota

dan

meninggalkan kota dengan merampas harta


kekayaan

sebanyak

muatan

200

unta.

Bencana ini telah melahirkan kebencian dan


murka luar biasa kelompok Islam Syiah dan
Sunni kepada kelompok Wahabi dengan terus
mengutuk mereka sampai hari ini. Muslim
Syiah menganggap Imam Hussein, cucu Nabi
Muhammad saw sebagai salah seorang tokoh
paling suci dan makamnya salah satu situs
paling suci di muka bumi. Setiap tahun,
ribuan Muslim Syi'ah berkumpul di lokasi itu
49

untuk memperingati kematian Imam Hussein


a.s. bahkan bagi saya sebagai seorang Sunni
yang taat kunjungan ke Karbala membuat
saya

dipenuhi

kekaguman

dan

kekuatan

spiritual. Kemurkaan muslim Syiah tentu saja


tidak berarti bagi banyak kaum Wahabi.
Syiah bersama dengan kaum Sunni telah
diberi label sebagai kelompok "terkutuk"
karena melakukan tawassul dan tabarruk.
Apakah praktek-praktek ini? Apakah mereka
bagian dari Islam Sunni atau tidak?

Tawassul dan Tabarruk


Nuh Keller, seorang ulama ortodoks
Sunni

ortodoks,

mendefinisikan

tawassul

sebagai "memohon kepada Allah melalui


50

sebuah perantara, baik orang itu masih hidup


maupun sudah mati, atau melalui namanama atau atribut Allah Swt ". Saya teringat
melakukan tawassul pada tahun 1989 di
makam Imam Abu Hanifah, seorang ulama
Islam

yang

mulia

dan

terkenal

yang

ijtihadnya diikuti mayoritas Muslim Sunni.


Meskipun

pada

mempelajari

waktu

banyak

itu

tentang

saya
Islam

tidak
dan

praktik tawassul, saya telah diberitahu oleh


umat Islam terpercaya bahwa menggunakan
orang

saleh

sebagai

perantara

ketika

meminta kepada Allah Swt untuk suatu


kebutuhhan adalah kesempatan berkah yang
tidak

boleh

saya

lewatkan.

Saya

juga

mengunjungi makam ulama dan tokoh besar


51

sufi,

Abdul

Qadir

Jilani

dan

melakukan

tawassul di sana. Contoh tawassul yang


diucapkan di sana adalah: "Ya Allah, saya
meminta

kepada-Mu

untuk

kesembuhkan

penyakitku dengan berkat status mulia Imam


Abu Hanifah di sisi-Mu."
Ketika melakukan tawassul, meminta
kepada Allah melalui sebuah perantara Allah
bukan berarti meminta kepada perantara
tersebut. Perantara hanyalah sarana untuk
meminta sesuatu kepada Allah. Meskipun
bagi seorang muslim tidak menjadi sebuah
keharusan untuk menggunakan perantara
seorang individu saleh ketika meminta Allah,
namun itu dianjurkan karena itu adalah
pernah dilakukan Nabi Muhammad saw, para
52

sahabat ra, dan para ulama besar Islam ra.


Hal ini tidak hanya kepada nabi dan orang
suci (di kuburan mereka) yang digunakan
sebagai

sarana/wasilah

untuk

meminta

kepada Allah, seorang muslim juga dapat


meminta kepada Allah dengan bertabarruk
melalui peninggalan milik orang-orang saleh,
dan

bahkan

ayat-ayat

dapat

pada

menggunakan

Al-Qur'an

milik

tulisan
mereka

sebagai sarana untuk meminta perlindungan


kepada Allah Swt dari kejahatan. Ini bukan
berarti benda atau tulisan tersebut yang
memberikan perlindungan, tapi Allah lah
yang memberinya.

53

Wahabi Menolak Satu Jenis Tawassul


Yang

Diterima

Oleh

Muslim

Sunni

Ortodoks
Meskipun Sunni, Syiah, dan Wahabi
percaya bahwa tawassul menggunakan nama
atau atribut Tuhan merupakan perbuatan
baik,

atau

seseorang

memohon
yang

masih

syafaat

kepada

hidup

adalah

diperbolehkan, Wahabi menuduh Sunni (dan


Syiah)

(Menghubungkan

mitra

dalam

beribadah kepada Allah) ketika melakukan


tawassul

melalui

perantara

orang

yang

masih hidup atau sudah mati. Artinya, bagi


Wahabi bertawassul melalui perantara orang
yang

telah

meninggal

dan

dikuburkan

tidaklah diperbolehkan. Hal ini penting untuk


54

diketahui

karena

inilah

alasan

utama

mengapa Muhammad Ibn 'Abdul-Wahhab dan


Al-Sa`ud bekerja sama dalam melakukan
pembantaian kepada umat Islam di Jazirah
Arab.

Kaum

muslimin

telah

melakukan

tawassul selama lebih dari 1.000 tahun,


namun

Wahhab

percaya

itu

merupakan

perbuatan buruk yang harus dibasmi oleh


pedang. Apa yang dilakukan Wahabi dalam
kenyataannya

mereka

telah

membantai

Muslim Sunni ortodoks, meskipun bodohnya


mereka percaya bahwa mereka berjuang
melawan komunitas jahat yang tidak layak
untuk

hidup.

mengikuti

jejak

Sebenarnya
orang-orang

Wahabi

tidak

saleh

Salaf,

namun jejak Ibnu Taimiyah yang beberapa


55

ratus tahun sebelum mereka mengecam dan


mengatakan

bahwa

tawassul

sebagai

perbuatan dosa. Sekarang Wahabi melarang


umat

Islam

melakukan

tawassul

melalui

perantara Nabi Muhammad Saw, dan telah


memberlakukan aturan ketat di sekitar kubur
beliau di Madinah, Arab Saudi. Karena alasan
inilah

Wahabi

mengunjungi

melarang
makam

kaum

muslimin

orang-oang

muslim

yang saleh, dan telah menghancurkan tanda


di atas kuburan mereka untuk mencegah
kaum muslimin mengetahui di titik-titik mana
saja orang-orang suci telah dimakamkan.
Namun, menarik untuk dicatat bagaimana
sifat

munafik

mereka

telah

kelompok
menolak
56

Wahabi

ketika

menghancurkan

makam Ibnu Taimiyyah di Damaskus, Suriah


untuk

proyek

bagaimana

pembuatan

bagi

mereka

jalan.

Entah

ini

bukan

"politeisme", tetapi ini adalah "politeisme"


bagi mayoritas umat Islam.
Kesalahan Wahabi Memahami Tawassul:
Menyamakan

Media

Tawasul

Dengan

Allah
Wahabi salah menuduh Sunni ortodoks
melakukan

politeisme

ketika

mereka

meminta sesuatu kepada Allah menggunakan


sebuah perantara/wasilah, apakah perantara
tersebut adalah seorang manusia yang saleh
yang sudah mati, bertabarruk dengan objek
tertentu, atau mencari perlindungan dari
Allah

dengan

menggunakan
57

jimat

yang

ditulis

dari

ayat-ayat

Al-Qur'an

(ruqya).

Kelompok Wahabi percaya bahwa meminta


sesuatu

kepada

sarana/media

Allah

adalah

melalui

sebuah

sama

dengan

menyembah sarana itu sendiri. Artinya, bagi


orang

yang

melakukan

tawassul

melalui

seorang saleh di kuburnya berarti ia meminta


kepada orang saleh itu
Allah.

Orang

yang

dan bukan kepada

melakukan

tabarruk

(mencari berkah, penj) melalui benda-benda


peninggalan Nabi Muhammad saw untuk
meminta berkat -dan bukan Tuhan-, dan
orang yang memakai ruqya untuk memohon
perlindungan

-dan

bukan

Tuhan-.

Ketika

seorang muslim mengunjungi makam Nabi


Muhammad Saw dan meminta kepada Sang
58

Nabi (saw), "Wahai Nabi," wahai Rasulullah,


Wahabi menuduh orang seperti ini telah
menyembah Nabi saw. Mereka tidak mau
menerima pemahaman bahwa Nabi sendiri
adalah sarana untuk meminta kepada Allah
Swt. Orang seperti ini menurut Wahabi telah
keluar dari agama Islam. Singkatnya, Wahabi
percaya bahwa orang tersebut menyembah
makhluk bersama Allah, dan karenanya itu
disebut politeisme -menyertakan mitra dalam
beribadah kepada Allah-.
Mantan mufti Arab Saudi -sekarang
almarhum-, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
telah

membela

menuduh

Ibn

kemusyrikan

Abdul-Wahhab
sudah

yang

sedemikian

memuncak di kalangan umat Islam dan


59

menyerukan "jihad" kepada umat Islam yang


menurutnya

telah

tersesat

"menyembah"

sesuatu

selain

karena
Allah.

Ia

berkata:
Orang-orang Najd hidup dalam kondisi
yang jauh dari ciri-ciri kehidupan orang
beriman.

Politeisme

telah

muncul

dan

menyebar luas di sana. Orang menyembah


kubah, pohon, batu, gua-gua atau orang
yang

mengaku

sebagai

Auliya

(wali)

meskipun mereka mungkin seorang gila dan


bodoh.
Ada

beberapa

hal

penting

perlu

dilakukan untuk bangkit demi Allah dan


mendukung Agama-Nya. Situasi di Makkah
dan Madinah serta Yaman ternyata sama saja
60

dimana orang-orang membangun kubah di


atas kuburan, memanggil orang-orang suci
untuk memohon bantuan, berbagai bentuk
kemusyrikan
wilayah

telah

itu.

keyakinan

mendominansi

Namun

demikian

terhadap

di

politeisme

ketiga
Najd
dan

praktiknya sudah jauh lebih intens.


Di

Najd

orangorang

menyembah

berbagai macam objek sembahan mulai dari


gua-gua, kuburan dan pohon juga kepada
orang-orang gila dan berobsesi yang disebut
orang suci.
Ketika
melihat

Sheikh
bahwa

[Ibn

Abdul-Wahhab]

kemusyrikan

telah

mendominasi banyak orang dan tidak ada


orang yang menunjukkan penolakan juga
61

tidak

ada

mereka

yang

kembali

siap

untuk

kepada

memanggil

Allah

memutuskan untuk berjuang

Saw,

ia

sendiri dan

bersabar di lapangan. Dia tahu tidak ada


jihad (perang suci) yang bisa dicapai tanpa
kesabaran dan penderitaan.
Sunni Ortodoks, bagaimanapun tidak
pernah mengaku telah menyembah sarana
(dalam bertawassul, penj), hanya Allah yang
mereka sembah tidak yang lain. Namun
Wahabi

tidak

mereka

tetap

mentolerir

alasan

membantai

ini

ribuan

dan
kaum

muslimin yang mereka lihat sebagai pelaku


"musyrik" di Saudi. Kenyataan sebenarnya,
Muslim

Sunni

adalah

orang-orang

yang

mengikuti Islam dalam kemurniannya seperti


62

yang diajarkan oleh para pendahulu yang


saleh yang hidup pada periode Salaf.

Wahabi

Menghubungkan

Tempat

Dan

Arah Kepada Allah


Sementara menuduh kaum Muslim lain
sebagai

musyrik,

Wahabi

sendiri

telah

membedakan dirinya dari umat Islam lainnya


dalam

pemahaman

mereka

tentang

keyakinan (aqidah). Karena Wahabi bukan


ortodoks mereka memahami atribut-atribut
Allah secara harfiah, mereka percaya bahwa
Allah

memiliki

manusia,

dan

atribut
untuk

antropomorfismenya

seperti

atribut

menyembunyikan

mereka

mengatakan

bahwa mereka tidak tahu bagaimana Allah


63

memiliki atribut tersebut. Sebagai contoh,


Bilal Philips, penulis Wahabi mengatakan:
Dia tidak memiliki tubuh jasmani dan Dia
juga tidak berbentuk. Dia memiliki bentuk
yang cocok dengan keagungan-Nya [tulisan
miring dari saya], yang tidak ada seorangpun
mampu melihat atau memahaminya, dan
yang hanya akan terlihat oleh manusia di
surga (dengan tingkat keterbatasan manusia
yang terbatas).
Membahas

setiap

bagian

dari

pernyataannya akan menjelaskan bagaimana


keyakinan Wahabi sebenarnya. Bilal Philips
mengatakan bahwa "Allah memiliki bentuk..."
artinya mereka meyakini bahwa Allah pasti
memiliki form (bentuk). Sekalipun Ia tidak
64

menentukan

bagaimana

bentuk

yang

dimaksud, dengan mengatakan: "Dia [Allah]


tidak memiliki tubuh jasmani ..." yang berarti
bahwa Allah memiliki bentuk yang tidak
seperti

bentuk-bentuk

ciptaan-Nya,

dan

kemudian berkata, " Ia memiliki bentuk yang


cocok dengan keagungan-Nya ..." Masalah
dengan pernyataan seperti itu untuk seorang
Muslim

adalah

mengekspresikan

bahwa
antropomorfisme

mereka
secara

terang-terangan. Apa yang dilakukan Bilal


Philips

di sini adalah pernyataan bodoh

menisbatkan "bentuk" kepada Allah. Oleh


karena itu, Bilal Philips percaya bahwa Allah
memiliki beberapa jenis bentuk, atau tubuh
non-jasmani. Dan tidak ada seorang ulama
65

Sunni ortodoks pun yang pernah mengatakan


hal seperti itu.
Imam

Ahmad

Ibn

Hanbal,

salah

seorang imam mujtahid Sunni terbesar yang


pernah

hidup,

membantah

pernyataan

antropomorfik seperti itu lebih dari seribu


tahun sebelum Bilal Philips lahir. Seorang
ulama besar Sunni Ash`ari, Imam al-Baihaqi,
dalam

bukunya

Manaqib

Ahmad

berdaarkan sebuah riwayat shahih bahwa


Imam Ahmad mengatakan:
Seseorang melakukan perbuatan kafir jika dia
mengatakan Allah memiliki tubuh, bahkan
sekalipun ia mengatakan: Allah memiliki
tubuh tapi tubuh-Nya tidak seperti tubuhtubuh lainnya, ia adalah kafir.
66

Imam Ahmad melanjutkan:


Kata
bahasa

tersebut

maupun

diambil

istilah

baik

(Islam).

secara
Tubuh

menurut ahli bahasa berarti suatu hal yang


memiliki panjang, lebar, ketebalan, bentuk,
struktur, dan komponen. Sementara menurut
perspektif syariah masih belum ada. Oleh
karena itu, tidak valid dan tidak dapat
digunakan.
Imam Ahmed adalah salah seorang
saleh yang hidup pada periode para salaf
yang

dipuji

oleh

Nabi

Muhammad

Saw.

Bagaimana Bilal Philips berani mengklaim


bahwa Wahabi mewakili pandangan para
salaf saleh? Dia tidak hanya bertentangan
dengan mereka namun dibantah keras oleh
67

mereka. Para pendahulu yang saleh telah


membantah orang seperti Bilal Philips di
zaman mereka dahulu.
Antropomorfisme terang-terangan juga
diilustrasikan oleh juru bicara Wahabi, Ibnu
Baz dalam karya besar Imam Abu Ja'afar atTahawi disebut "aqidah at-Tahawiyyah", suatu
karya yang telah dipuji oleh kaum Sunni
ortodoks sebagai perwakilan model Sunni
ortodoks.

Ibn

Baz

-sekarang

almarhum-

adalah seorang mufti besar Arab Saudi.

Pasal 38 dari karya Imam Tahawi ini:


Dia (Allah) berada di luar batas yang dapat
ditempatkan pada-Nya, atau dibatasi, atau
memiliki bagian atau anggota badan. Juga
68

Dia

tidak

dikandung

oleh

enam

arah

sebagaimana dikandung oleh semua entitas


yang ada (diciptakan).
Ibnu Baz, dalam catatan kaki berkomentar:
Allah berada di atas batas yang kita tahu
tetapi memiliki batas yang hanya Dia yang
tahu.
Dalam catatan kaki lain, ia berkata:
Hudud

(batas),

pernyataan

penulis

Imam

[mengacu
Tahawi]

pada
berarti

pengertiannya [batas] seperti yang dipahami


oleh orang-orang karena tidak ada seorang
pun kecuali Allah SWT yang tahu batas-Nya.
Ibnu Baz mencoba menipu untuk mewakili
Imam Sunni yang mulia al-Tahawi sebagai
sebuah

anthropomorphist
69

dengan

menempatkan
antropomorfik

interpretasi
tentang

sendiri

kata-kata

Imam

Tahawi dalam mulutnya. Harus ditekankan


bahwa tidak satu ulama Sunni ortodoks pun
yang memahami pernyataan Imam Tahawi
sebagaimana diahami oleh Ibnu Baz.
Ibnu

Baz

juga

menunjukkan

antropomorfisme dalam sebuah komentar


terhadap seorang ulama besar Sunni Ibnu
Hajar al-'Asqalani. Ibnu Baz mengatakan:
Adapun
sahabat

Ahlulssunnah
dan

keutamaan

-ini

mereka
para

adalah

yang

sahabat-

para

mengikuti
mereka

menegaskan arah untuk Allah, dan itulah


arah yang dimaksud, percaya bahwa Allah
Swt berada di atas Arasy.
70

Ulama

Wahabi

lain

juga

sudah

meninggal-, Muhammad Saleh Al-Utsaimin,


terang-terangan mengungkapkan keyakinan
antropomorfismenya. Dia mengatakan:
Pengertian Allah di atas takhta itu
berarti bahwa Dia duduk 'secara pribadi'
pada Arasy-Nya.
Ulama besar Sunni Hanbali, Ibn al-Jawzi,
ratusan

tahun

lalu

telah

membantah

anthropomorphists yang mengatakan bahwa


Allah berdiri pada Tahta secara pribadi (bi
dhatihi). Ia berkata:
Siapapun yang mengatakan: Dia berdiri
pada Tahta 'secara pribadi' (bi dhatihi), ia
telah menyalahartikan maksud ayat tersebut
dengan persepsi sensorik. Orang seperti itu
71

tidak boleh mengabaikan bahwa prinsip yang


dibentuk oleh pikiran dimana dengannya kita
telah mengenal Allah. Jika Anda berkata:
Kami membaca hadis dan diam, tidak ada
yang

mengkritik

mengajak
eksternal

Anda,

mereka
Anda

melainkan

menerima

yang

hanya

pengertian

mengerikan.

Oleh

karena itu madzhab ini tidak membawa


orang kepada kehidupan para Salaf saleh
dimana Imam Ahmad [Ibn Hanbal] - tidak
termasuk

di

dalamnya.

Anda

telah

mengidentikkan madhab ini [atau madzhab


yurisprudensi/fiqh]
berkata

'Hambali'

sehingga

tidak

lagi

kecuali

dalam

arti

'anthropomorphist'.

72

Sulaiman Ibn Abdulllah Ibn Muhammad


Ibn Abd al-Wahhab, cucu pendiri gerakan
Wahabi, mengatakan:
Setiap orang yang percaya atau mengatakan
bahwaAllah secara pribadi (bi dhatihi) ada di
setiap tempat, atau di satu tempat berarti
dia adalah kafir (kafir). Ini adalah wajib untuk
menyatakan bahwa Allah adalah berbeda
dari ciptaan-Nya, berdiri di atas Arsy-Nya
tanpa modalitas atau rupa atau exemplarity
apapun.

Allah

(tempat)

itu

menciptakan

telah

ada

Ia

adakan,

tempat

dan

kebutuhan/kebergantungan
sebagaimana

Dia

sebelum

tempat
73

sebelum

ada

maka

Dia

suci

dari

Dia
pada

tempat,

menciptakan

Sama

seperti

Bilal

Philips

menegaskan

bentuk untuk Allah dalam pikirannya, dan


Ibnu Baz menegaskan batas kepada Allah
dalam pikirannya, al-Utsaimin menegaskan
bahwa Allah secara harfiah duduk 'secara
pribadi' di atas Arsy-pikirannya. Semua dari
mereka telah setia mengikuti jejak Ibnu
Taimiyah dan Muhammad ibn 'Abdul-Wahhab
- dua lengkungan-bidat yang berperan dalam
menyebabkan

kesengsaraan

(fitnah)

dan

interpretasi ortodoks mereka dari sumbersumber Islam.


Anthropomorphists

Wahabi

mengatakan:

Allah adalah arah, Allah memiliki batas, Allah


secara harfiah di atas Arasy, dan bahwa Allah
duduk 'secara pribadi' (bi dhatihi) di Arsy.
74

Seorang

Muslim

kenyataannya
tertentu

dan

memahami

Arasy

berada

tempat

bahwa

dalam

tertentu.

arah

Dengan

memahami Allah berada di atas Arsy secara


harfiah

sebagaimana

dipahami

Wahabi,

mereka yang menghubungkan Allah dengan


atribut yang diciptakan-Nya, sebagai hasil
atau

kesimpulan

itu

menyiratkan

bahwa

bagian dari penciptaan adalah kekal dengan


Allah. Ini bertentangan dengan apa yang
telah dikatakan Al-Qur'an dan juga hadits
shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Ia
mengatakan: Allah ada secara abadi dan
tidak ada (yang abadi, penj) selain-Nya].
Sunni Ortodoksi telah membersihkan
Allah dari segala arah dan tempat. Untuk
75

seorang Sunni, Allah selalu ada tanpa perlu


tempat dan Dia tidak mengambil tempat
untuk

diri-Nya

setelah

Ia

membuatnya.

Seorang ulama Sunni Ortodoks mengatakan


persis

apa

yang

dipahami

oleh

Nabi

Muhammad Saw dan para sahabatnya (ra).


Imam Abu Hanifah, para Imam mujtahid
besar yang tinggal dalam jangka waktu salaf
berkata: "Allah tidak memiliki batas ...", titik.
Dan inilah yang mewakili Sunni ortodoksi.

Ulama

Sunni

Ortodoks

Menentang

Wahabisme
Saya mengakhiri artikel ini dengan
sebuah daftar ulama Sunni ortodoks yang
membantah

Wahabisme
76

dan

memperingatkan umat Islam dari racunnya.


Daftar nama para ulama, bersama dengan
nama

buku-buku

mereka

dan

informasi

terkait, yang dikutip dari seorang ulama


Sunni

ortodoks,

Muhammad

Hisham

Kabbani :

1. Al-Ahsa'i Al-Misri, Ahmad (1753-1826):


naskah

tidak

tekanan

dari

diterbitkan
sekte

karena

Wahabi.

ada

Anaknya

Syaikh Muhammad bin Ahmad ibn 'Abd alLatif

al-Ahsa'i

juga

menulis

buku

menyangkal mereka.
2. Al-Ahsa'i, Al-Sayyid `Abd al-Rahman:
menulis enam puluh tujuh bait puisi yang
dimulai dengan bait: Badat fitnatun kal
77

layli qad ghattatil aafaaqa # wa sha `` di


fa kadat tublighul gharba wasy syaraqa
[Sebuah
malam

kebingungan
yang

muncul

menutupi

langit

seperti
#

Dan

menjadi luas mencapai hampir seluruh


dunia]
3. Al-`Amrawi,` Abd al-Hayy, dan `Abd
al-Hakim Murad (Universitas Qarawiyyin,
Maroko): Al-tahdhir min al-ightirar bi ma
ja'a fi kitab al-hiwar [" Peringatan jangan
Menjadi Tertipu Dengan isi Kitab (oleh Ibnu
Mani) Debat dengan al-Maliki (serangan
terhadap Ibn` Alawi al-Maliki oleh seorang
penulis

Wahabi)

"]

1984).

78

(Fes:

Qarawiyyin,

4. `Ata 'Allah al-Makki: Al-Sarim al-hindi


fil` unuq al-najdi ["Pedang-Pedang India
untuk Leher Najdi "].
5. Al-Azhari, `Abd Rabbih bin Sulaiman
al-Shafi` i (Penulis al-Ushul Syarh Jami 'li
Ahadis al-Rasul, sebuah buku dasar Ushul
al-Fiqh: Fayd al-Wahhab fi Bayan Ahl alHaqq wa man dalla `an al-sawab, 4 jilid ["
Curahan

anugrah

Allah

dalam

Membedakan Muslim sejati Dari Mereka


yang menyimpang dari kebenaran "].
6. Al-`Azzami,`

Allamah

al-Syaikh

Salamah (wafat 1379H): Al-Barahin alSati `at.


7. Al-Barakat al-Shafi `i al-Ahmadi alMakki,` Abd al-Wahhab bin Ahmad:
79

naskah

tidak

diterbitkan

karena

ada

penentangan dari sekte Wahabi.


8. al-Bulaqi,

Mustafa

al-Masri

menulis

sanggahan untuk puisi San `a'i dimana ia


puisi terakhir telah memuji Ibnu` Abd alWahhab. Hal ini dalam Samnudi "Sa`adat
al-Darayn " terdiri dari 126 bait yang
dimulai dengan: Bi hamdi wali al-hamdi la
al-dhammi astabdi # Wa bil Haqqi la bil
khalqi lil Haqqi astahdi [Dengan kemuliaan
Pemilik kemuliaan, tidak ada kehinaan,
apakah saya lakukan # Dan demi Allah,
tidak

melalui

makhluk,

apakah

saya

mencari bimbingan kepada Allah


9. Al-Buti,

Dr

Muhammad

Sa

`id

Ramadhan (Universitas Damaskus): Al80

Salafiyyatu

marhalatun

mubarakatun

la

zamaniyyatun

madhhabun

Islami

["Salafiyah adalah periode sejarah yang


diberkati bukan madzhab hukum Islam"]
(Damaskus:

Dar

lamadhhabiyya

al-fikr

akhtaru

1988);

tawaran

Al`Atin

tuhaddidu al-syariah al-Islamiyyah [" tidak


ada madhhab yang paling berbahaya dan
mengancam

saat ini

terhadap

hukum

Islam "] (Damaskus: Maktabat al-Farabi,


nd).
10.

Al-Dahesh

ibn

'Abd

Allah,

Dr

(Universitas Arab Maroko), ed. Munazara


`ilmiyya bayna` Ali bin Muhammad alSharif wa al-Imam Ahmad bin Idris fi alRadd `ala Wahabiyyat Najd ["Debat Ilmiah
81

Antara Sharif Ali bin Muhammad dan


Ahmad bin Idris Terhadap Wahabi Najd "].
11.

Dahlan, al-Sayyid Ahmad ibn Zayni

(w. 1304/1886). Mufti Mekah dan Syekh alIslam (otoritas keagamaan tertinggi di
wilayah hukum Ottoman) untuk wilayah
Hijaz: al-Durar al-Saniyyah fi al-Radd ala
al-Wahabiyyah ["Mutiara Murni Menjawab
Wahabi"] pub. Mesir 1319 & 1347 H; Fitnat
al-Wahabiyyah

["Fitnah

Kelompok

Wahabi"]; al-Balad al-Khulasat Kalam fi


bayan Umara 'al-Haram ["Uraian Banding
Mengenai

Para

pemimpin

al-Haram"],

sebuah sejarah fitnah kelompok Wahabi di


Najd dan Hijaz.

82

12.

al-Dajwi, Hamd Allah: al-Basa'ir li

Munkiri al-tawassul ka amthal Muhd. Ibnu


Abdul Wahhab ["Berbagai Bukti Terhadap
Mereka yang menolak Tawassul Seperti
Muhammad Ibnu Abdul Wahhab"].
13.

Syaikh

al-Islam

Dawud

bin

Sulaiman al-Baghdadi al-Hanafi (18151881 M): al-minha al-Wahbiyya fi Radd alWahabiyya

["Keringanan

Mengenai

bantahan terhadap Wahabi"]; Ashadd alJihad

fi

Ibtal

Da`wa

al-Ijtihad

["Jihad

dengan banyak kekerasan Membuktikan


Kepalsuan

Mereka

yang

secara

salah

mengklaim Ijtihad "].


14.

Al-Falani al-Maghribi, al-Muhaddith

Shalih:

menulis

sebuah
83

buku

besar

menyusun

jawaban

para

ulama

dari

Empat Madzhab kepada Muhammad ibn


'Abd al-Wahhab.
15.

al-Habibi, Muhammad `Ashiq al-

Rahman:` Adhab Allah al-Mujdi li Junun


al-Munkir al-Najdi ["Hukuman Mengerikan
Allah untuk kelompok Majdi (Wahabi, penj)
dari Najd"].
16.

Al-Haddad, al-Sayyid al-'Alawi bin

Ahmad bin Hasan bin Al-Qutb. Sayyidi


`Abd Allah ibn 'Alawi al-Haddad AlShafi`i: al-Sayf al-batir li `unq al-munkir`
ala al-akabir ["Pedang Tajam untuk Leher
para penyerang ulama besar"]. Naskah
dengan ketebaan sekitar 100 folio ini tidak
diterbitkan; al-zalam Misbah al-anam wa
84

jala 'fi Radd shubah al-tawaran `i al-najdi


al-Lati adalla biha al-' awamm ["Lentera
bagi Manusia dan Penerangan Kegelapan
Mengenai sanggahan terhadap Kesalahan
dari

pemikiran-pemikirna

(Wahabi,

penj)

dimana

baru

Najd

dia

telah

menyesatkan Rakyat biasa "]. Diterbitkan


1325H.
17.

Al-Hamami

al-Misri,

Syekh

Mustafa: Ghawth al-'ibad bi bayan alRashad

["Penolong

Para

Hamba

Allah

dengan Penegasan hukum"].


18.

Al-Hilmi

al-Qadiri

al-Sakandari,

Syekh Ibrahim: Jalal al-haqq fi Kashf


ahwal al-khalq ashrar ["Keagungan Al-Haq

85

(Allah,penj) dalam menyingkap berbagai


rahasia makhluk] (pub. 1355H).
19.

Al-Husayni, 'Amili, Muhsin (1865-

1952). Kashf al-irtiyab fi atba `Muhammad


ibn

'Abd

al-Wahhab

["Menghilangkan

Keraguan para Pengikut Muhammad Ibn'


Abd al-Wahhab "] [Yaman]:. Maktabat alYaman al-Kubra, 198?.
20.

Al-Kabbani,

Muhammad

Hisyam,

Ensiklopedia Ajaran Islam, vol. 1-7, AsSunnah Foundation of America, 1998.


_____, Islamic Beliefs and Doctrine According
to Ahl as-Sunna - A Repudiation of "Salafi"
Innovations (Islam Doktrin dan Keyakinan
Menurut Ahl as-Sunnah Sebuah Penolakan

86

Terhadap Inovasi kelompok "Salafi"), ASFA,


1996.
_____,

Innovation

Celebration

of

and

Mawlid

True

Belief:

According

to

the
the

Qur'an and Sunna and the Scholars of Islam,


(Inovasi

dan

Perayaan

Kepercayaan

Maulid

Menurut

Yang

Benar:

Al-Qur'an

dan

Sunnah dan Cendekiawan Islam,) ASFA, 1995.


_____, Salafi Movement Unveiled (Gerakan
Salafi Dibongkar), ASFA, 1997.
21.

Ibn `Abd al-Latif al-Shafi`i, `Abd

Allah: Tajrid Sayf al-jihad `ala mudda`i alijtihad

["

Gambar

pedang

jihad

sesungguhnya melawan penuntut ijtihad


palsu "].

87

22.

Keluarga Ibnu `Abd al-Razzaq al-

Hanbali

dalam

Zubara

dan

Bahrayn

memiliki kedua naskah dicetak oleh para


ulama dari Empat Madzhab dari Mekah,
Madinah, Al-Ahsa', al-Basrah, Baghdad,
Aleppo, Yaman dan daerah Islam lainnya.
23.

Ibn

`Abd

Allamah

al-Syaikh

Muhammad
Sawa'iq

al-Wahhab

ibn

Wahabiyya
menjawab

Sulaiman,

'Abd

al-Ilahiyya

al-Najdi,`

fi

al-Wahhab:
al-Radd'

["Kilat-Kilat
kelompok

kakak

Ilahi

Wahabi

ala

alal-

dalam
"].

Ed.

Ibrahim Muhammad al-Batawi. Kairo: Dar


al-insan, 1987. dicetak ulang oleh Waqf
Ikhlas, Istanbul: hakikat Kitabevi, 1994.
Prefaces oleh Syaikh Muhammad bin
88

Sulaiman

al-Kurdi

al-Shafi

`i

dan

Syaikh Muhammad Hayyan al-Sindi


(Syaikh

Muhammad

bin`

Abd

al-

Wahhab) yang menyatakan bahwa Ibn


`Abd

al-Wahhab

adalah"

dall

mudill

"("Sesat dan Menyesatkan ").


24.

Ibnu

Abidin

al-Hanafi,

al-Sayyid

Muhammad Amin: Radd al-Muhtar `ala


al-Durr al-mukhtar, Vol. 3, Kitab al-Iman,
Bab

al-bughat

["Jawaban

untuk

yang

Bingung: Sebuah Komentar terhadap buku


" al-Durr al-mukhtar", Kitab Iman, bab
tentang Pemberontak]. Kairo: Dar al-Tiba
`ah al-Misriyya, 1272 H.
25.

Ibnu al-Hanbali Afaliq, Muhammad

bin

`Abdul

Rahman:
89

Tahakkum

al-

muqallidin bi man idda`a tajdid al-din


[Kesewenang-wenangan/pengendalian
kekuasa

para

mengklaim
Agama].

pengikut
sebagai

Sebuah

buku

orang

yang

Pembaharuan
yang

sangat

komprehensif menyangkal ajaran sesat


Wahabi dan berbagai pertanyaan yang
sebagian besarnya tidak dapat dijawab
oleh

Ibnu

Abdul

Wahhab

dan

para

pengikutnya.
26.

Ibnu Dawud al-Hanbali, 'Afif al-Din

`Abd Allah: as-Sawa`iq wa al-ru`ud ["


terjadilah kilat dan guntur "], buku yang
sangat

penting

terdiri

dari

20

bab.

Menurut Mufti Yaman Syaikh al-'Alawi ibn


Ahmad

al-Haddad,
90

"Buku

ini

telah

mendapatkan
Basrah,

persetujuan

Baghdad,

[semenanjung

dari`

ulama

dan

Ahsa'

Diringkas

oleh

Aleppo,

Arab].

Muhammad bin Bashir kadi Ra al-Khayma


di Oman. "
27.

Ibnu Ghalbun al-Libi juga menulis

sanggahan dalam empat puluh bait puisi


al-San`ani di mana pada bagian terakhir
telah memuji Ibnu` Abd al-Wahhab. Dalam
`Sa Samnudi dimulai sebagai berikut:
Salami `ala ahlil isabati wal-Rushdi # Wa
laysa `ala najdi wa pria Halla fi najdi
[Salam saya kepada para pengikut kebenaran
dan petunjuk # dan bukan pada orang-orang
Najd (Wahabi, penj) maupun orang yang
menetap di Najd]
91

28.

Ibnu

`Ulyawi

Khalifa

al-Azhari:

Hadhihi` aqidatu al-salaf wa al-khalaf fi


Dhat Allahi ta `ala wa` sifatihi wa alihi wa
al-Jawab al-Shahih li ma waqa`a fihi alkhilaf min al-furu` bayna al-da` li alSalafiyah wa atba` al-madzhab al-Arba`ah
al-Islamiyyah ["Ini adalah doktrin aqidah
Salaf dan Khalaf tentang Dzat Alalh Swt
dan sifat-Nya, dna Jawaban yang benar
terhadap perselisihan yang ada terkait
permasalahan Furu`uddin (cabang-cabang
Agama) untuk para pengikut salafi dan
para pengikut Empat Madzhab Hukum
Islam "] (Damaskus: Matba` di Zaid bin
Tsabit, 1398/1977.

92

29.

Kawthari

al-Hanafi,

Muhammad

Zahid. Maqalat al-Kawthari. (Kairo: alMaktabah al-Azhariyah li al-Turats, 1994).


30.

Al-Kawwash al-Tunisi, `Allamah Al-

Syaikh Shalih: Sanggahannya terhadap


sekte Wahabi terkandung dalam buku
Samnudi berjudul:" Sa`adat al-darayn fi alRadd` ala al-firqatayn. "
31.

Khazbek, Syaikh Hasan Al-Maqalat

al-Wafiyyat fi al-Radd `ala al-Wahabiyyah


[" Risalah Lengkap Bantahan terhadap
Kelompok Wahabi "].
32.

Makhluf,

Muhammad

Hasanayn:

Risalat fi hukmi al-tawassul bil-anbiya walawliya

["risalah

93

tentang

Hukum

bertawassul kepada para nabi dan para


wali"].
33.

Al-Maliki al-Husayni, Al-Muhaddith

Muhammad

al-Hasan

ibn

'Alawi:

Mafahimu Yajibu an Tusahhah ["Berbagai


Pemahaman yang perlu diluruskan"] 4th
ed. (Dubai: Hashr bin Muhammad Dalmuk,
1986);

Muhammad

al-Insanu

al-Kamil

["Muhammad, Manusia Sempurna "] 3rd


ed. (Jeddah: Dar al-Shuruq, 1404/1984).
34.

Al-Mashrifi al-Maliki al-Jaza'iri: Izhar

al-'uquq mimman mana`a al-tawassul bil


nabi wa al-wali al-saduq ["Sebuah Paparan
dari

orang-orang

yang

Melarang

bertawassul kepada Nabi dan wali].

94

35.

Al-Mirghani al-Ta'ifi, `Allamah` Abd

Allah ibn Ibrahim (w. 1793): Tahrid alaghbiya 'ala al-Istighatha bil-anbiya' walawliya

["Sebuah

Provokasi

Terhadap

Tawassul kepada para nabi dan para wali"]


(Kairo: al-Halabi, 1939).
36.

Mu'in al-Haqq al-Dehlawi (w. 1289):

Saif al-Jabbar al-maslul `ala a`da 'al-Abrar


["Pedang Maha Kuasa Yang diperintukkan
untuk Musuh orang-orang baik"].
37.

Al-Muwaysi

al-Yamani,

`Abdullah

Ibn 'Isa: Naskah tidak diterbitkan karena


ada penentangan dari sekte Wahabi.
38.

Al-Nabhany al-Shafi`i, al-kadi al-

Muhaddith Yusuf bin Isma`il (18501932): Shawahid al-Haqq fi al-istighatha bi


95

sayyid

al-Khalq

(s)

["Bukti-Bukti

Kebenaran dalam mencari Syafaat dari


Nabi Saw"].
39.

Al-Qabbani

al-Basri

al-Shafi`i,

Allamah Ahmad ibn 'Ali: Sebuah risalah


denagnketebalan sekitar 10 bab.
40.

Al-Qadumi al-Nabulusi al-Hanbali:

`Abdullah: Rihlat [" Journey "].


41.

Al-Qazwini, Muhammad Hasan, (w.

1825).

Al-Barahin

al-jaliyyah

fi

`raf

tashkikat al-Wahabiyah ["Bukti0Bukti Yang


Jelas tentang Kekeliruan Wahabi "]. Ed.
Muhammad Munir al-Husayni al-Milani. 1st
ed. Beirut: Mu'assasat al-Wafa ', 1987.
42.

Al-Qudsi: al-Suyuf al-Siqal fi A`naq al-

ankara

`ala

al-awliya
96

ba`d

al-intiqal

["Sebuah Pedang di leher orang-orang


yang

Tidak

Kedudukan

menerima/Mengakui

Para

Wali

setelah

mereka

Meninggal Dunia "] .


43.

Al-Rifa `i, Yusuf al-Sayyid Hasyim,

Presiden

the

World

Union

of

Islamic

Propagation and Information: `Adillat Ahl


al-Sunnah wa al-Jama`at aw al-Radd almuhkam

al-mani`

ala

munkarat

wa

shubuhat Ibnu Mani `fi tahajjumihi` ala alsayyid Muhammad `Alawi al-Maliki alMakki

["Berbagai

Bukti

Ahlus

Sunnah

Waljama`ah sebagai sebuah Penolakan


kuat dan Tegas dari Ibnu

Mani atas

penyimpangan

`Alawi

Muhammad

97

al-

Maliki al-Makki"] (Kuwait: Dar al-siyasah,


1984).
44.

Al-Samnudi al-Mansuri, al-'Allamah

al-Syaikh Ibrahim: Sa`adat al-darayn fi


al-Radd `ala al-firqatayn al-Wahabiyya wa
muqallidat

al-zahiriyyah

["Sa`adat

al-

darayn: Sebuah Bantahan terhadap dua


sekte Wahabi dan Pengikut Zahiri "].
45.

Al-Saqqaf al-Shafi `i, Hasan ibn

'Ali,

Intitute

Riset

Islam

di

Amman,

Yordania: al-Ighatha bi al-adillat istighatha


wa al-Radd al-Mubin `ala munkiri altawassul ["Argumen memohon Syafaat
dan bantahan yang Jelas bagi Mereka
yang Menolak Tawassul"]; Ilqam al Hajar li
al-mutatawil` ala al-Asha `ira min al98

Bashar ["Rajam (Pelemparan Batu, penj)


bagi Mereka yang menentang Ash'aris "];
Qamus al-Albani shata'im wa al-Alfaz almunkara
ulama

al-Lati

fi

al-haqq

wa fudalai'ha wa ghayrihim ...

["Encyclopedia
yang

yatluquha

al-Albani tentang Orang

Mengingkari

Hak

dan

Berbagai

Keutamaan para Ulama dan Selainnya ..."]


Amman: Dar al-Imam al-Nawawi, 1993.
46.

Al-Sawi al-Misri: Hashiyat `ala al-

Jalalayn

["

Komentar

terhadap

Tafsir

Jalalain"].
47.

Saif al-Din Ahmed bin Muhammad

Al-Albani:
Kesalahannya

Sebuah
tentang

Eksposisi
berbagai

Isu

Penting Lainnya, ed 2. (Jakarta: sn, 1994).


99

48.

Al-Shatti al-Athari al-Hanbali, al-

Sayyid Mustafa bin Ahmad bin Hasan,


Mufti Suriah: al-Nuqul al-shar'iyyah fi alRadd 'ala al-Wahabiyya ["Berbagai Bukti
Hukum Dalam Menjawab Wahabi" ].
49.

Al-Subki, al-hafiz Taqi al-Din (w.

756/1355): Al-Durra al-mudiyya fi al-Radd


`ala Ibn Taimiyah, ed. Muhammad Zahid
al-Kawthari ["Sebuah Penolakan terhadap
Ibnu Taimiyah"]; Al-rasa'il al-subkiyya fi alRadd `ala Ibn Taimiyah wa tilmidhihi Ibnu
Qayyim al-Jawziyyah, ed. Kamal al-Hut
["Sebuah

Risalah

Sebagai

Bantahan

Terhadap Ibnu Taimiyah dan Muridnya Ibnu


Qayyim al-Jawziyyah"] (Beirut: `Alam alKutub, 1983); Al-Sayf al-saqil fi al-Radd`
100

ala Ibn Zafil ["Pedang Mengilap Sebagi


Jawaban/Bantahan

terhadap

Ibnu

Zafil

(Ibnu Qayyim al-Jawziyyah)" Kairo: Matba


`di al-Sa` ADA, 1937; al-siqam Shifa 'fi
ziyarat
Orang

khair

al-anam

Sakit

["Penyembuhan

Dengan

Mengunjungi

Rasulullah Saw, Makhluk Terbaik"].


50.

Sunbul al-Hanafi al-Ta'ifi, Allamah

Tahir: Sima al-Intisar lil awliya 'al-Abrar


["Menanti Kemenangan Para Wali Allah
Yang Bijak"].
51.

Al-Tabataba'i

al-Basri,

al-Sayyid:

juga menulis balasan untuk puisi San`a'i


yang dikutip dalam al-Darayn. Setelah
membacanya, San`a'i membalik posisinya

101

dan berkata:". Saya telah bertobat dari


apa yang saya katakan tentang Najdi "
52.

Al-Tamimi

al-Maliki,

`Allamah

Isma`il (wafat 1248), Syaikh al-Islam di


Tunis:

menulis

sanggahan

terhadap

sebuah risalah Ibn `Abd al-Wahhab.


53.

Al-Wazzani,

al-Syaikh

al-Mahdi,

Mufti Maroko: Menulis sebuah sanggahan


terhadap

larangan

bertawasul

oleh

Muhammad `Abduh.
54.

al-Zahawi

al-Baghdadi,

Effendi

Jamil Sidqi (w. 1355/1936): Al-Fajr alShadiq fi al-Radd 'ala al-tawassul munkiri
wa

al-khawariq

["Fajar

Sejati

dalam

Membuktikan Mereka yang tolak syafaat

102

dan Karamah para wali "]. 1323/1905 di


Mesir.
55.

Al-Zamzami al-Shafi`i, Muhammad

Saleh,

Imam

di

Maqam

Ibrahim

di

Mekkah, menulis buku dalam 20 bab


sebagai bantahan

yang merujuk kepada

pandangan al-Sayyid al-Haddad.


56.

Ahmad,

Qeyamuddin.

Gerakan

Wahabi di India. 2 rev. ed. Baru Delhi:


Manohar, 1994.

103