Anda di halaman 1dari 43

ABSES PARU

DAN
ASPEK RADIOLOGISNYA

RUMAH SAKIT SUMBER WARAS DAN ROYAL TARUMA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
PERIODE 3 SEPTEMBER 2012 6 OKTOBER 2012
Disusun Oleh :
Michi A.R.M Sitepu (406117082)

Definisi abses paru


Abses paru : infeksi destruktif berupa lesi
nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir
sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah
(pus) dalam parenkim paru pada satu lobus atau
lebih.
Bila diameter kavitas < 2cm dan jumlahnya
banyak (multiple small abscesses) dinamakan
necrotising pneumonia.

Epidemiologi
Abses paru adalah penyakit yang mematikan di
era preantibiotik
Sepertiga dari pasien dari pasien meninggal,
yang lain sepertiga pulih, dan sisanya
berkembang menjadi penyakit seperti abses
berulang, empiema kronik, bronkiektasis, atau
komplikasi yang lain dari infeksi piogenik
kronis.

Epidemiologi
Pada periode postantibiotik awal umumnya
kasus abses paru ini berhubungan dengan karies
gigi, epilepsy tak terkontrol, kerusakan paru
sebelumnya dan penyalahgunaan alcohol

Pada negara-negara maju jarang dijumpai


kecuali penderita dengan gangguan respon imun
seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik
atau komplikasi dari pascaobstruksi.

Faktor Resiko
Aspirasi bahan infeksi
Cth :- operasi dalam rongga mulut, hidung dan tenggorokan
- keadaan reflek batuk yang berkurang seperti koma, anestersi

Infeksi bakteri primer yang sebelumnya


Cth: penyulit yang dijumpai pneumonia, bronkiektasi,
infeksi jamur

Emboli septic
Neoplasma

Faktor Resiko
Lain-lain
Misalnya: -trauma yang menembus paru

- penyakit infeksi di sekitar paru

- penyebaran infeksi hematogen dari


tempat lain

Tidak diketahui
sekitar 25% sering disebut abses paru kriptogen

Etiologi
Kelompok bakteri anaerob, biasanya
diakibatkan oleh pneumonia aspirasi
Bacteriodes melaninogenus
Peptostreptococcus spesies
Bacillus intermedius
Fusobacterium nucleatum
Microaerrophilic streptococcus
Bakteri anaerob meliputi 89% penyebab abses
paru dan 85% -100% dari spesimen yang
didapat melalui aspirasi transtrakeal.

Etiologi
Kelompok bakteri aerob:
Gram positif: sekunder oleh sebab selain aspirasi
Staphylococcus aureus
Streptococcus microaerophilic
Streptococcus pyogenes
Streptococcus pneumonia
Gram negative : biasanya merupakan sebab nosokomial
Klebsiella pneumonia
Pseudomonas aeruginosa
Escherichia coli
Haemophilus Influenza
Actinomyces Species
Nocardia Species
Gram negative bacilli

Etiologi
Kelompok :
Jamur : mucoraceae, aspergillus species
Parasit, amuba
mikobacterium

Patologi
Makroskopis:
Mula-mula abses itu tampak sebagai fokus
hiperemik berwarna merah kuning padat
nekrosis sentral terbentuk nanah.
Rongga yang terbentuk mula-mula dindingnya
tidak teratur lama kelamaan berbatas lebih
tegas karena fibrosis
Bila abses berhubungan dengan bronchus,
nanah sebagian dapat keluar sehingga rongga
abses mengandung udara di atas cairan nanah
(adanya fluid level).

Patologi
Mikroskopik
Destruksi jaringan paru-paru disertai
pembentukan nanah pada bagian tengah rongga
abses.
Alveolus sekitar abses sering menunjukkan reaksi
radang seperti pada pneumonia. Padakasus yang
menahun, dinding abses akan mengalami fibrosis
sehingga batasnya lebih jelas.

Gambaran Makro & Mikrokospik

Makroskopik Abses Paru

Mikrokospik Abses Paru

Patofisiologi
Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara
yaitu aspirasi dan hematogen. Yang paling
sering dijumpai adalah kelompok abses
bronkogenik yang termasuk akibat aspirasi,
stasis sekresi, benda asing, tumor dan striktur
bronchial.
Keadaan ini yang menyebabkan obstruksi
bronkus dan terbawanya organism virulen yang
akan menyebabkan terjainya infeksi pada daerah
distal obstruksi tersebut

Patofisiologi
Abses jenis ini banyak terjadi pada pasien
bronchitis kronik karena media yang sangat baik
bagi organism yang teraspirasi. Pada perokok
usia lanjut keganasan bronkogenik bias
merupakan dasar untuk terjadinya abses paru.

Patofisiologi
Secara hematogen, yang paling sering terjadi
adalah akibat septicemia atau sebagai fenomena
septic emboli, sekunder dari fokusinfeksi dari
bagian lain tubuhnya seperti tricuspidvalve
endocarditis.
Penyebaran hematogen ini umumnya akan
berbentuk abses multiple dan keil-kecil adalah
lebih sulit dari abses single walaupun ukurannya
besar Secara umum diameter abses paru
bervariasi dari beberapa mm sampai dengan cm
atau lebih.

Aspirasi berulang, MOterjebak disal


nafas
bawah.proses
lanjut
Aspirasi
berulang,
MOpneumonia
terjebak di
inhalasi
bakteri
sal. Nafas
bawah,
proses lanjut

pneumonia inhalasi bakteri


Faktor predisposisi
Faktor predisposisiFaFFFaa

Bakteri mengadakan multiplikasi


dan menyerang bakteri lain

Patofisiologi

Dilepaskannya zat pirogen


oleh leukosit pada
jaringan

Proses peradangan

Dikelilingi jaringan
granulasi

Panas

Gangguan rasa nyaman


: hipertermi

Proses nekrosis

Difusi ventilasi
terganggu

Kelemahan
fisik

Intoleransi
aktifitas

Kadar O2 turun

Gangguan
Pertukaran udara

Produksi sputum yang berlebih

Refleks
batuk

Bersihan jalan
napas

Ujung saraf
paru

Gangguan rasa
nyaman: nyeri

Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan Lab
1. Pemeriksaan darah rutin : leukositosis >
12.000 m3 dan disertai peningkatan laju endap
darah >58 mm/ jam
2. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan
gram tahan asam dan KOH
3. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan
antibiotik

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologi
Foto dada: berupa gambaran densitas homogen yang
berbentuk bulat. Kemudian akan ditemukan gambaran
radiolusen dalam bayangan infiltrat yang padat.
Selanjutnya bila abses tersebut mengalami rupture
sehingga terjadi drainase abses yang tidak sempurna ke
dalam bronkus, maka baru akan tampak kavitas ireguler
dengan batas cairan dan permukaan udara (air fluid level)
di dalamnya.
Gambaran spesifik ini tampak dengan mudah bila kita
melakukan foto dada PA dengan posisi berdiri.

Pemeriksaan Penunjang
Khas pada abses paru anaerobic kavitas single
(soliter) yang biasanya ditemukan pada infeksi
paru primer,sedangkan abses paru sekunder
(aerobic, noskomial atau hematogen) lesinya
bisa multiple
Sepertiga kasus abses paru bisa disertai dengan
empiema. Empiema yang terlokalisir dan
disertai dengan fistula brokopleura akan sulit
dibedakan dengan gambaran abses paru.

Gambaran radiologis

Komplikasi Pneumonia
pneumococcus oleh nekrosis paru
dan pembentukan abses

Foto rontgen dada lateral


menunjukkan tingkat air fluid level
abses paru

Gambaran radiologis

Abses paru pada lobus kiri


bawah, segmen superior

CTscan pada abses paru

Pemeriksaan Radiologis
CT-scan
Gambaran khas CT scan abses paru ialah berupa
lesi dens bundar dengan kavitas berdinding
tebalm tidak teratur, dan terletak di daerah
jaringan paru yang rusak.
Tampak bronkus dan pembuluh darah paru
berakhir secara mendadak pada dinding abses,
tidak bertekan atau berpindah letak. Sisa-sisa
pembuluh darah paru dan bronkus yang berada
dalam abses dapat dilihat dengan CT scan.

Diagnosis

Riwayat Penyakit sebelumnya


Hasil pemeriksaan fisik
Pemeriksaan laboratorium sputum gram
Gambaran radiologis
Bronkoskopi
Aspirasi jarum perkutan

Riwayat penyakit sebelumnya


Keluhan penderita yang khas misalnya malaise,
sesak napas, penurunan berat badan, panas,
badan yang ringan, dan batuk yang produktif.
Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan
dengan sedasi, trauma atau serangan epilepsy.
Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin
teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar
atau adanya emboli kuman di paru akibat
suntikan obat.

Hasil Pemeriksaan Fisik

a. Redup pada perkusi


b. Suara nafas yang meningkat
c. Sering dijumpai adanya jarih tabuh
d. Takikardi
e. Febris

Pemeriksaan Lab sputum gram


Kultur darah dapat mengarah pada organism
penyebab infeksi. Jika TB dicurigai, tes BTA dan
mikobakterium dapat dilakukan.
Pada pemeriksaan darah rutin ditemukan:
leukositosis.
Laju endap darah meningkat,
hitung jenis sel darah putih didapat pergeseran ke
kiri

Gambaran Radiologis
Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas
dengan proses konsolidasi di sekitarnya, adanya
air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan
gravitasi.
Abses paru sebagai akibat aspirasi paling sering
terjadi pada segmen posterior lobus superior
atau segmen superior lobus inferior.

Bronkokospi
Cara diagnostik yang paling baik dengan akurasi
diagnostik bakteriologi melebihi 80 %.
Cara ini hendaknya dimulai pengobatan karena
banyaknya kuman yang terlibat dan sulit
diprediksi secara klinis.

Aspirasi jarum perkutan


Cara ini mempunyai akurasi tinggi untuk
diagnosis bakteriologis, dengan spefisitas
melebihi aspirasi transtrakeal.

Diagnosis Banding
Karsinoma bronkogenik yang mengalami kavitas, biasanya
dinding kavitas tebal dan tidak rata. Diagnosis pasti
dengan pemeriksaan sitologi / patologi.
Tuberkulosis paru atau infeksi jamur. Gejala klinisnya
hamper sama atau lebih menahun daripada abses paru.
Pada tuberculosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur
ditemukan jamur.
Bula yang terinfeksi, tampak air fluid level. Di sekitar buka
tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi.
Kista paru yang terinfeksi, dindingnya tipis dan tidak ada
reaksi di sekitarnya.

Diagnosis Banding
Hematom paru, kemungkinan ada riwayat trauma dimana
batuknya hanya sedikit.
Penumokoniosis yang mengalami kavitas seperti pekerjaan
penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple
pneumoconiosis pada penderita
Hiatus hernia, tidak ada gejala paru diserta nyeri
restrostrenal dan heart burn bertambah berat pada waktu
membungkuk. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan foto
barium
Sekuester paru. Letak di basal kiri belakang dengan
diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi
retrograde.

Terapi - Medikamentosa
Antibiotik yang paling baik adalah klindamisin
oleh karena mempunyai spektrum yang lebih
baik daripada bakteri anaerob.
Klindamisin diberikan mula-mula dengan dosis
3 x600 mg intravenous, kemudian 4 x 300 mg
oral/ hari.
Regimen alternative adalah penisilin G 2-10 juta
unit/ hari, ada yang memberikan samapi dengan
25 juta unit atau lebih/ hari dikombinasikan
dengan streptomisi, kemudian dilanjutkan
dengan penisilin oral 4 x 500-750 mg/ hari.

Bronkoskopi
Peranan penting dalam penangan abses paru
seperti pada kasus yang dicurigai karsinoma
bronkus atau lesi obstruksi, pengeluaran benda
asing dan untuk melebarkan striktur

Drainase
Drainase dengan tindakan operasi jarang
diperlukan karena lesi biasanya respon dengan
antibiotic.
Bila tidak respons, apalagi, bila kavitasnya besar
maka harus dilakukan drainase perkutan untuk
mencegah kontaminasi pada rongga pleura.

Reseksi Paru
. Reseksi paru diindikan pada abses paru yang
responnya minimal dengan antibiotic, abses
paru dengan ukuran yang besar dan infark paru.

Lobektomi
Lobektomi merupakan prosedur yang paling
sering, sedangkan reseksi segmental biasanya
cukup untuk lesi-lesi yang kecil.

Komplikasi
Komplikasi lokal meliputi penyebaran infeksi
melalui aspirasi lewat bronkus atau penyebaran
langsung melalui jaringan sekitarnya.
Abses paru yang drainasenya kurang baik, bisa
mengalami rupture ke segmen lain dengan
kecenderungan penyebaran infeksi
staphylococcus, sedang yang rupture ke rongga
pleura menjai piotoras (empiema).
bronkopleura.

Komplikasi
Komplikasi sering lainnya berupa abses otak,
hemoptisis massif, rupture pleura visceralis
sehingga terjadinya piopneumotoraks dan fistula

Pencegahan
Perhatian khusus ditujukan kepada kebersihan
mulut.
Kebersihan mulut yang jelek dan penyakitpenyakit periondontal bisa menyebabkan
kolonisasi bakteri patogen orofaring yang akan
menyebabkan infeksi saluran napas sampai
dengan abses paru.

Prognosis
Prognosis abses paru simple tergantung dari keadaan
umum pasien, letak abses serta luasnya kerusakan paru
yang terjadi, dan respon pengobatan yang kita berikan.
Angka mortalitasnya pasien abses paru anaerob pada era
antibiotic kurang dari 10% dan kira-kira 10-15%
memerlukan operasi. Di zaman era antibiotik sekarang
angka penyembuhan mencapai 90-95 %. Bila pengobatan
diberikan dalam jangka waktu cukup lama angka
kekambuhannya rendah.

Kesimpulan
Abses paru adalah infeksi destruktif berupa lesi nekrotik
pada jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk
kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada
satu lobus atau lebih.
Abses paru dapat dipengaruhi faktor predisposisi seperti
gangguan fungsi imun karena obat-obatan, gangguan
kesadaran (anestesi, epilepsy), oral hygiene yang kurang
serta obstruksi dan aspirasi benda asing.

Kesimpulan
Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab
sehingga dapat dilakukan terapi etiologis. Pemberian
antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi
bedah dan terapi suportif fisio terapi.
Lebih dari 90% dari abses paru sembuh dengan
manajemen medis, kecuali disebabkan oleh obstruksi
bronchial sekunder untuk karsinoma. Pada penderita
dengan beberapa factor predisposisi mempunyai prognosa
yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan
satu factor predisposisi.

Daftar Pustaka
Ekayuda I, editor. Radiologi diagnostik. Edisi kedua.
Jakarta : FKUI, 2009
Fauci, Braunwald,editor. Harrisons Principle Internal
Medicine. Edisi XVII vol 2. McGraw Hill: 2011
Sudoyo Aru W, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, dkk,
editor. Ilmu penyakit dalam. Jilid 1 edisi IV. Jakarta :
FKUI, 2007
Patel, Pradip R. Safitri Amalia, editor. Lecture Notes :
Radiologi. Edisi kedua . Jakarta : Erlangga,2007
http://emedicine.medscape.com
http://scribd.com/doc/49253492/refrat

Terima Kasih