Anda di halaman 1dari 5

Pertentangan Sosial dan Upaya Mempertahankan Keberadaan Masyarakat

sebagai

Sistem Sosial

Hidup bermasyarakat adalah hidup dengan berhubungan baik antara dihubungkan


dengan menghubungkan antara individu-individu maupun antara kelompok dan golongan. Hidup
bermasyarakat juga berarti kehidupan dinamis dimana setiap anggota satu dan lainnya harus
saling memberi dan menerima. Anggota memberi karena ia patut untuk memberi dan anggota
penerima karena ia patut untu menerima. Ikatan berupa norma serta nilai-nilai yang telah
dibuatnya bersama diantara para anggotanya menjadikan alat pengontrol agar para anggota
masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah disepakati itu. Rasa solider, toleransi,
tenggang rasa, tepa selira sebagai bukti kuatnya ikatan itu. Paa diri setiap anggota terkandugn
makna adanya saling ikut merasakan dan saling bertanggungjawab paa setiap sikap tindak baik
megnarah kepada yang hang positif maupun negative. Sakit anggota masyarakat satu akan
dirasakan oleh anggota lainnya. Tetapi disamping adanya suatu harmonisasi, disisi lain keadaan
akan menjadi sebaliknya. Bukan harmonisasi ditemukan, tetapi disharmonisasi. Bukan keadaan
organisasi tetapi disorganisasi. Sering kita temui keadaan dimasyarakat para anggotanya pada
kondisi tertentu, diwarnai oleh adanya persamaan-persamaan dalam berbagai hal. Tetapi juga
didapati perbedaan-perbedaan dan bahkan sering kita temui pertentangan-pertentangan. Usaha
untuk mencari keterangan tentang hal itu telah melahirkan beberapa aliran pemikiran, masingmasing dengan sudut pandang yang berbeda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertentangan
Sosial adalah suatu kegiatan yang menentang ilmu - ilmu sosial yang biasanya terjadi karena
kesalah pahaman. Dimana, konflik (pertentengan) dan
permasalahan

dalam

kepustakaan

integrasi telah menjadi pokok


ilmu-ilmu

sosial.

(http://zhainal99.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html)
Terdapat dua ancangan yang dianggap paling populer dan sekaligus paling kontroversial
dalam rangka menjelaskan masalah konflik dan integrasi.
a. Ancangan Integrasi
Ancangan Integrasi ini merupakan pandangan aliran Fungsionalisme Struktural. Aliran
ini memandang masyarakat dengan menganalogikan dengan organisme biologis. Masyarakat
dipandang sebagai suatu sistem, yaitu satu kesatuan yang terdiri dari banyak unsur yang tak
terpisahkan (integral). Hubungan yang ada, baik antar bagian, bagian dengan keseluruhan

maupun sebaliknya bersifat timbal balik. Masing-masing unsur tampaknya berdiri sendiri,
menjalankan fungsinya sendiri-sendiri, tapi sebetulnya satu sama lain terjalin oleh kerja sama
saling tergantung yang serasi hingga keseluruhan sebagai sistem bisa berjalan lancar dan
berfungsi dengan baik.
Menurut paham integrasi, unsur-unsur sosial yang berbeda-beda tidak dipandang sebagai
sesuatu yang berlawanan atau bertentangan, melainkan dipandang sebagai sesuatu yang
berpasangan dan saling melengkapi. Oleh karena itu, faktor yang bisa merusak keselarasan
hubungan antar unsur masyarakat bukanlah faktor yang berasal dari dalam (internal), melainkan
faktor yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri (eksternal), yaitu adanya perubahanperubahan sosial yang disebabkan masuknya nilai-nilai (pandangan hidup) baru, sistem
perekonomian baru, teknologi baru, dan lain-lain.
Untuk menjaga agar masyarakat mampu mempertahankan keberadaannya dan terhindar
dari pertentangan-pertentangan soaial, maka masyarakat yang menganut ancangan integrasi
harus mampu mengembangkan kekuatan di dalam masyarakat itu sendiri, yaitu kekuatan yang
memiliki daya mengintegrasikan masyarakat. Adapun daya tersebut sebagai berikut.
(1) Mengembangkan konsensus (kesepakatan) masyarakat mengenai nilai-nilai sosial-budaya
yang dianggap fundamental (mendasar). Nilai-nilai sosial-budaya yang telah disepakati
tersebut dapat berfungsi ganda, yaitu : a) sebagai daya untuk mengintegrasikan, dalam
arti untuk menjaga keutuhan dan keselarasan masyarakat; dan b) sebagai daya
menstabilisasi, dalam arti untuk meredakan gejolak-gejolak yang timbul akibat perubahan
sosial yang mengganggu keselarasan.
(2) Mengembangkan gejala kesetiaan ganda dalam masyarakat. Artinya, dalam masyarakat
yang terdiri dari bermacam golongan atau kelompok, tidak jarang terjadi bahwa individu
merangkap menjadi anggota bagi kelompok yang lainnya. Keanggotaan rangkap
(keanggotaan ganda) ini menuntut juga adanya kesetiaan ganda, yaitu setia pada
kelompok yang satu juga setia pada kelompok yang lainnya. Misalnya, ada individu yang
bersaudara tetapi menganut agama yang berbeda, jika terjadi pertentangan masalah
agama, pertentangan tersebut dapat dikendorkan dilihat dari kesetiaannya sebagai
saudara. Dalam hal ini, setiap orang atau kelompok sosial memang berbeda, tetapi di
balik perbedaan itu juga ada persamaan. Orang dari suku Bali memang berbeda dengan
orang suku Jawa (termasuk juga suku yang lainnya), tapi semuanya sama-sama bangsa

Indonesia. Orang beragama Hindu berbeda dengan orang beragama Islam (termasuk juga
agama yang lainnya), tetapi semuanya adalah sama-sama ciptaan Tuhan.

b. Ancangan Konflik
Ancangan Konflik merupakan cara pendekatan aliran Strukturalisme. Menurut paham ini,
setiap masyarakat sebagai satu kesatuan sosial (sistem sosial) yang terdiri dari banyak unsur
yang berbeda-beda, di dalam dirinya sudah mengandung sumber-sumber ketegangan dan
pertentangan potensial. Dengan kata lain, konflik itu sudah lengket (inherent) di dalam tiap
sistem sosial itu sendiri.
Konflik (pertentangan) mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada
yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau
perang. Dasar konflik berbeda-beda. Terdapat 3 elemen dasar yang merupakan cirri-ciri dari
situasi konflik yaitu :
1. Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagianyang terlibat di dalam konflik
2. Unti-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhankebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasangagasan
3. Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan
tersebut.
Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang
sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi paa
lingkungan yang paling kecil yaitu individu, sampai kepaa lingkungan yang luas yaitu
masyarakat.
1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan,
ketidakpastian, atau emosi-emosi dan dorongan yang antagonistic didalam diri seseorang
2. Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi dalam diri individu,
dari perbedaan-perbedaan pada para anggota kelompok dalam tujuan-tujuan, nilai-nilai,
dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk menjadi anggota kelompok, serta
minat mereka.

3. para taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara nilai-nilai dan
norma-norma kelompok dengan nilai-nilai an norma-norma kelompok yang bersangkutan
berbeda.Perbedan-perbedaan dalam nilai, tujuan dan norma serta minat, disebabkan oleh
adanya perbedaan pengalaman hidup dan sumber-sumber sosio-ekonomis didalam suatu
kebudayaan tertentu dengan yang aa dalam kebudayaan-kebudayaan lain.
Menurut kaum strukturalis ini, konflik tidak bisa dihindarkan. Meskipun demikian, untuk
menjaga agar masyarakat mampu mempertahankan keberadaannya, maka konflik harus
dikendalikan. Terdapat tiga bentuk mekanisme yang dapat mengendalikan konflik secara
bertingkat, yaitu :
a) Konsiliasi, yaitu menyelesaikan konflik dengan cara bermusyawarah dan mufakat di
antara wakil kelompok yang bertikai.
b) Mediasi, yaitu menyelesaikan konflik dengan cara menghadirkan pihak ke tiga sebagai
penengah (mediator).
c) Arbitrasi, yaitu lahirnya kekuatan pihak ketiga yang akan mendiktekan cara penyelesaian
pertikaian, yang terpaksa diterima oleh kelompok-kelompok yang bertikai.
Selain mekanisme untuk mengendalikan konflik adapaun

cara-cara pemecahan konflik

tersebut adalah :
1. Elimination; yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang telibat dalam konflik yagn
diungkapkan dengan : kami mengalah, kami mendongkol, kami keluar, kami membentuk
kelompok kami sendiri
2. Subjugation atau domination, artinya orang atau pihak yang mempunyai kekuatan
terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk mentaatinya
3. Mjority Rule artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting akan menentukan
keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4. Minority Consent; artinya kelompok mayoritas yang memenangkan, namun kelompok
minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta sepakan untuk
melakukan kegiatan bersama
5. Compromise; artinya kedua atau semua sub kelompok yang telibat dalam konflik
berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah

6. Integration; artinya pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan


dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi
semua pihak

http://illsionst.blogspot.com/2011/06/pertentangan-pertentangan-sosial-dan.html