FOLLOW THE MONEY
Follow the money secara harafiah berarti mengikuti jejakjejak yang ditinggalkan dalam suatu arus uang atau arus dana.
Jejak-jejak ini akan membawa penyidik atau akuntan forensik ke
arah pelaku fraud.
NALURI PENJAHAT
Tanpa disadari, naluri penjahat akan meninggalkan jejak-jejak
berupa gambaran mengenai arus uang, kemudian jejak-jejak
uang atau money trails tersebut yang nantinya akan dipetakan
oleh penyidik. Ketentuan perundang-undangan mengenai tindak
pidana
pencucian
uang
mengingatkan
kita
bahwa
bukan
kejahatan utamanya saja yang merupakan tindak pidana, tetapi
juga
pencucian
uangnya
adalah
tindak
pidana.
Teknologi
informasi merupakan faktor yang sangat menentukan dalam
teknik follow the money.
Adanya
uang
sangat
cair
(likuid),
mudah
mengalir,
menyebabkan follow the money mempunyai banyak peluang
untuk digunakan dalam investigasi. Akan tetapi, mata uang
kejahatan atau currency of crime bukanlah uang semata-mata,
karena currency of crime dapat membuka peluang baru untuk
menerapkan teknik follow the money.
KRIMINALISASI DAN PENCUCIAN UANG
Terdapat tiga cara dalam pola perilaku kejahatan untuk
menjauhkan uang dari pelaku dan perbuatannya, diantaranya
adalah:
1. Placement
upaya untuk menempatkan uang tunai hasil kejahatan ke
dalam system keuangan atau upaya menempatkan kembali
dana yang sudah berada dalam system keuangan ke dalam
system keuangan.
2. Layering
upaya untuk mentransfer harta kekayaan hasil kejahatan
yang telah berhasil masuk dalam system keuangan melalui
tahap placement.
3. Integration
upaya untuk menggunakan kekayaan yang berasal dari
tindak pidana yang telah berhasil masuk dalam system
keuangan melalui placement dan layering, seolah-olah
merupakan kekayaan yang halal.
Tindak tersebut dengan tegas diperlakukan sebagai tindak
pidana sebagaimana diatur dalam UU No. 15 Tahun 2002 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
UU No. 25 Tahun 2003. UU tentang pencucian uang mendorong
teknik investigasi follow the money. Namun, sebelum keluarnya
UU ini pun, para penyidik telah menggunakan teknik tersebut.
Jika naluri penjahat mengarah kepada penyembunyian kejahatan,
maka naluri penyidik tertuju kepada pengungkapan kejahatan.
TERORISME DAN PENCUCIAN UANG
Pengeboman di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton di
Jakarta pada tanggal 17 Juli 2009 dapat berlangsung karena ada
dukungan dana yang cukup memadai. Polisi menduga, beberapa
orang dalam kelompok tersebut menjadi semacam penghubung
antara jaringan dan sumber dana, yang berada di dalam maupun
di luar negeri. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan
antara terorisme sebagai kejahatan utama atau tindak pidana
asal (predicate crime) dengan pencucian uang.
Pencucian uang yang lebih sulit ditelusuri atau dilacak
adalah
dengan
menghindari
transaksi
perbankan
yang
berkewajiban melaporkan transaksi yang mencurigakan kepada
1|Page
otoritas (di Indonesia PPATK). Salah satu cara pemindahan dana
dikenal dengan nama hawala.
KEWAJIBAN MELAPOR BAGI PENYELENGGARA NEGARA
Kewajiban melapor harta kekayaan bagi penyelenggara
negara, ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Ketentuan KPK tersebut
mendefinisikan
Harta
Kekayaan
Penyelenggaraan
Negara
sebagai harta benda yang dimiliki oleh penyelenggara negara
beserta istri dan anak yang masih menjadi tanggungan, baik
berupa harta bergerak, harta tidak bergerak, maupun hak-hak
lainnya
yang
dapat
dinilai
dengan
uang
yang
diperoleh
penyelenggara negara sebelum, selama dan setelah memangku
jabatannya.
Harta kekayaan penyelenggara negara dilaporkan dalam
Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara disingkat
(LHKPN).
LHKPN
adalah
daftar
seluruh
Harta
Kekayaan
Penyelenggara Negara, yang dituangkan dalam formulir yang
ditetapkan oleh KPK.
FOLLOW THE MONEY DAN DATA MINING
Teknik
Kesulitannya
investigasi
adalah
ini
sebenarnya
datanya
yang
sangat
sangat
sederhana.
banyak
dalam
hitungan terabytes. Kita tidak bisa mulai dengan pelakunya,
yang ingin kita lihat justru adanya pola-pola arus dana yang
menuju ke suatu tempat (yang memberi indikasi tentang pelaku
atau otak kejahatan).
Data yang begitu besar tersebut selain dapat menimbulkan
kerumitan, juga diperlukan persistensi serta keceratan dalam
mengumpulkan
bahan-bahannya.
Proses
tersebut
dapat
2|Page
difasilitasi oleh kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi
informasi.
MATA UANG KEJAHATAN
Ciri dari penggunaan currency of crime yang bukan berupa
uang adalah adanya izin-izin atau lisesnsi untuk akses ke
sumber-sumber daya alam yang umumnya dialokasikan kepada
keluarga dan kerabat sang diktator. Dalam hal itu currency of
crime-nya bisa berupa intan berlian, minyak bumi, pasir laut,
kayu bundar (logs), ganja, dan lain sebagainya. Disini ada dua
arus yang bisa diikuti investigator, yakni arus dana dan arus fisik
barang.
3|Page