Anda di halaman 1dari 1

Contoh Kasus Autonomy :

Oleh : Hellen Marsella/B/102013179


Seorang pasien B datang kepada dokter spesialis THT. Pasien B ini
berprofesi sebagai seorang penyanyi profesional. Ia datang menemui
dokter untuk memeriksakan kondisi tenggorokannya. Ia mengalami sakit
tenggorakan yang amat sakit dan tidak sembuh-sembuh. Dia juga
mengalami batuk yang disertai keluarnya sedikit darah. Keadaan ini sudah
berlangsung lebih dari 2 minggu. Setelah mendengar masalah dari pasien
B, dokter segera melakukan pemeriksaan. Dokter menduga bahwa
ditenggorokan pasien B terdapat tumor. Setelah melakukan pemeriksaan
yang mendalam, pasien B dinyatakan positif menderita kanker
tenggorokan stadium lanjut. Untuk mencegah terjadinya penyebaran sel
kanker, jalan satu-satunya yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan pembedahan. Namun, dokter menjelaskan bahwa jika
dilakukan pembedahan pada tenggorokan pasien, kemungkinan besar
pasien tidak akan bisa bernyanyi lagi karena sebagian pita suaranya akan
diangkat. Pasien begitu terkejut dan meminta waktu untuk berpikir. Dokter
memberi kesempatan kepada pasien untuk memutuskan apakah ia mau
dioperasi atau tidak. Pasien B meminta dokter tersebut untuk
merahasiakan kondisinya, agar jangan sampai tersebarluas ke media dan
dokter itu menyetujuinya.