Anda di halaman 1dari 36

PETUNJUK TEKNIS JUMANTIK

PSN ANAK SEKOLAH

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN

2014

Petunjuk Teknis Jumantik-PSN Anak Sekolah

KATA PENGANTAR

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama
menyerang di wilayah perkotaan (urban), namun tidak menutup kemungkinan juga
menyerang di wilayah pedesaan (rural). Penyebaran DBD semakin lama semakin meluas,
hingga saat ini tahun 2013 sebanyak 498 Kabupaten/Kota telah endemis DBD.
Peran serta masyarakat merupakan komponen utama dalam pengendalian DBD, mengingat
vektor DBD nyamuk Aedes jentiknya ada di sekitar permukiman dan tempat istirahat nyamuk
dewasa sebagian besar ada di dalam rumah.
Peran serta masyarakat dalam hal ini adalah peran serta sebagai kader juru pemantau jentik
(Jumantik) yang melaksanakan pemantauan jentik dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
yang dilakukan secara rutin seminggu sekali, meliputi kegiatan menguras, menutup dan
mengubur atau memanfaatkan kembali barang-barang yang bernilai ekonomis (3M). PSN 3M
secara rutin dapat membantu menurunkan kepadatan vektor, berdampak pada menurunnya
kontak antara manusia dengan vektor, akhirnya terjadinya penurunan kasus DBD.
Kelompok anak sekolah merupakan bagian kelompok masyarakat yang dapat berperan
strategis, mengingat jumlahnya sangat banyak sekitar 20% dari jumlah penduduk Indonesia
adalah anak sekolah SD, SLTP dan SLTA. Anak sekolah tersebar di semua wilayah
Indonesia, baik daerah perkotaan maupun pedesaan.
Peran serta anak sekolah sebagai Jumantik dapat digunakan untuk menanamkan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) pada usia dini, yang akan digunakan sebagai dasar pemikiran
dan perilakunya dimasa yang akan datang. Selain itu, menggerakan anak sekolah lebih mudah
dibandingkan dengan orang dewasa dalam pelaksanaan PSN.

SAMBUTAN DIREKTUR

Assalamualaikum, Wr.Wb.
Salam sejahtera bagi Kita semua
Puji syukur kehadiran Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas perkenan -Nya
Buku Petunjuk Teknis (Juknis) Jumantik-PSN Anak Sekolah dapat diselesaikan dengan baik.
Demam Berdarah Dengue adalah masalah kita bersama, oleh karena itu penting kiranya peran
serta berbagai sektor dalam rangka pengendalian DBD di Indonesia, termaksuk peran serta
Anak Sekolah.
Anak sekolah dapat berperan penting dalam pengendalian DBD di Indonesia, antara lain
sebagai juru pemantau jentik (Jumantik) dan sebagai pelaksana pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) di lingkungan sekolah dan rumahnya masing-masing. Anak sekolah SD,
SLTP, SLTA jumlahnya sangat banyak hingga 20% penduduk Indonesia, tersebar di seluruh
wilayah Indonesia. Sehingga, apabila dapat berperan dalam pengendalian DBD maka akan
berdampak signifikan terhadap penurunan kasus dan kematian DBD.
Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlah berperan dalam penyusunan
Juknis ini, semoga semua yang diberikan dapat bernilai amal ibadah. Semoga Juknis ini akan
bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi para pengelola program kesehatan, tenaga
pendidik/ guru, pembina pramuka dan lain sebagainya sebagai panduan dalam pembentukan,
pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan serta evaluasi kegiatan PSN Anak Sekolah.
Wassalamualaikum, Wr.Wb.
Salam sejahtera bagi Kita semua,
Direktur PPBB,

dr. Andi Muhadir, MPH


NIP. 195504251982031005

TIM PENYUSUN

Pelindung

: Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Penasehat

: Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang

Penanggung Jawab

: Drh. Endang Burni Prasetyowati, M.Kes

Ketua

: DR. Suwito, SKM, M.Kes.

Anggota

Mitra Bestari

1. Dr. Gertrudis Tandy, MKM


2. Rohani Simanjuntak, SKM, MKM
3. Dr. Galuh Budhi Leksono Adhi
4. Erliana Setiani, SKM, MPH
5. Subahagio, SKM
6. Dr. Sri Hartoyo
7. Dr. Dauries Ariyanti Muslikhah
8. Rita Ariyati, SKM
9. Shelvia Nova, SKM
10. Suratno

1.
2.
3.
4.
5.

DR. Drs. Tri Krianto, M.Kes


DR. Dra. Dewi Susanna, M.Kes
Drs. Acep Sukirman
Rudi Sulaeman, SE
Dra. Fitri Riyanti, M.Si

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi problem utama di
Indonesia. Sekalipun angka kematian DBD dapat ditekan hingga di bawah 1 per 100 orang
penderita, namun jumlah dan sebaran kasusnya semakin meningkat. Tahun 2013 jumlah
penderita sebanyak 112.511 orang dengan area penyebaran hingga 498 Kabupaten/Kota.
Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (Dit
PPBB) Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP
dan PL) telah menetapkan tujuh kegiatan pokok dalam pengendalian DBD antara lain
pengobatan dan tatalaksana penderita, pengendalian vektor, peningkatan peran serta
masyarakat, jejaring kemitraan, pendidikan dan pelatihan, monitoring dan evaluasi serta
penelitian dan pengembangan.
Dalam mewujudkan tujuh kegiatan pokok pengendalian DBD, ditentukan lima rencana
pengembangan program antara lain meningkatkan peran serta masyarakat, mengaktifkan
kembali kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD diberbagai tingkat administrasi,
mendorong kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh anak sekolah dan Pramuka,
mendukung pengembangan vaksin serta meningkatkan kemampuan sumber daya manusia
(SDM) pengendalian penyakit bersumber arbovirosis.
Peran serta masyarakat merupakan komponen utama dalam pengendalian DBD, mengingat
vektor DBD nyamuk Aedes aegypti jentiknya ada di sekitar permukiman dan tempat istirahat
nyamuk dewasa sebagian besar ada di dalam rumah. Peran serta masyarakat dalam hal ini
adalah peran serta dalam pelaksanaan PSN secara rutin seminggu sekali. PSN secara rutin
dapat membantu menurunkan kepadatan vektor, berdampak pada menurunnya kontak antara
manusia dengan vektor, akhirnya terjadinya penurunan kasus DBD.
Hingga saat ini peran serta masyarakat dalam pelaksanaan PSN belum optimal, masih banyak
masyarakat yang belum melakukan PSN secara rutin. Banyak faktor yang menjadi penyebab
rendahnya peran masyarakat dalam PSN, di antaranya adalah terbatasnya biaya kampanye
PSN. Langkah awal dari kegiatan kampanye PSN adalah penyusunan pentunjuk teknsis
(Juknis) tentang pelaksanaan PSN, salah satunya adalah Juknis Jumantik-PSN Anak Sekolah.
Kelompok anak sekolah merupakan bagian kelompok masyarakat yang dapat berperan
strategis, mengingat jumlahnya sangat banyak sekitar 20% dari jumlah penduduk Indonesia
adalah anak sekolah SD, SLTP dan SLTA. Anak sekolah tersebar di semua wilayah
Indonesia, baik daerah perkotaan maupun pedesaan. Pemahaman PSN bagi anak sekolah
berperan untuk menanamkan perilaku PSN pada usia sedini mungkin, yang akan digunakan
sebagai dasar pemikiran dan perilakunya dimasa yang akan datang. Selain itu, menggerakan
anak sekolah lebih mudah dibandingkan dengan orang dewasa dalam pelaksanaan PSN.

2.

Tujuan
a. Meningkatkan peran serta anak sekolah sebagai Jumantik dalam pelaksanaan PSN
b. Sebagai salah satu upaya pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak
usia dini.
c. Sebagai panduan bagi pengelola program kesehatan/ petugas kesehatan dan tenaga
pendidik (guru) dalam membentuk/ menggerakan Jumantik-PSN anak sekolah.
d. Mendukung upaya penurunan kasus DBD di Indonesia

3.

Sasaran
a. Pengelola program kesehatan/ petugas kesehatan
b. Kepala sekolah dan guru-guru
c. Para pembina gerakan pramuka
d. Anak sekolah dari SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat
e. Pramuka

BAB II
PENGORGANISASIAN

1. Struktur
Jumantik Anak Sekolah adalah anak sekolah dari berbagai jenjang pendidikan dasar dan
menengah yang telah dibina dan dilatih sebagai juru pemantau jentik (Jumantik) di
sekolahnya. Pembentukan dan pelaksanaan Jumantik-PSN Anak Sekolah dimaksudkan
untuk ikut serta mendukung program pemerintah dalam upaya pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) penular demam berdarah dengue dan chikungunya serta sebagai salah satu
upaya pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak usia dini. Mekanisme
pembentukan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatannya menjadi hak dan
tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dengan mempertimbangkan kebijakan,
peraturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.
Adapun susunan organisasinya adalah sebagai berikut:

Bupati/Walikota

Sekretaris Daerah
Kab/Kota
Kepala Dinas
Kesehatan
Kab/Kota

Kepala
Puskesmas

Kepala Dinas
Pendidikan
Kab/Kota

Kepala Kantor
Kementerian
Agama Kab/Kota

Kepala
Sekolah

Kepala
Madrasah/ Ponpes

Gambar 2.1.Bagan Struktur Pembina Jumantik/ PSN Anak Sekolah Tingkat


Kabupaten/ Kota
Dari bagan diatas menunjukan bahwa Bupati/ Walikota melalui sekretaris darah
merupakan koordinator utama yang membangun kerjasama di antara instansi terkait antara
lain dinas kesehatan, dinas pendidikan dan kantor kementerian agama kabupaten/kota.
Kerjasama tersebut diwujudkan dalam wadah kelompok kerja (Pokja) PSN Anak Sekolah.

Daerah yang telah memiliki wadah kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD maka
Pokja PSN anak sekolah dapat dimasukan sebagai bagian dari Pokjanal DBD yang sudah
ada.
Bupati/Walikota berwenang dan bertanggungjawab dalam mengeluarkan ketetapan
pembentukan Pokja Jumantik-PSN Anak Sekolah di wilayahnya melalui sebuah surat
keputusan.
Peran dan tanggungjawab Pokja Jumantik-PSN Anak Sekolah antara lain yaitu:
a. Membentuk kegiatan PSN/ Jumantik anak sekolah di tiap-tiap sekolah di wilayahnya.
b. Memberikan dukungan operasional dalam rangka pelaksanaan PSN anak sekolah.
c. Menjalin koordinasi antara puskesmas, sekolah, madrasah dan pondok pesantren
dalam upaya pembentukan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan PSN
anak sekolah di wilayahnya.
d. Memastikan bahwa pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan PSN/ Jumantik anak
sekolah di wilayahnya berjalan dengan baik dalam rangka mencapai usaha kesehatan
sekolah (UKS) yang optimal dan mewujudkan Sekolah Bebas Jentik.
e. Melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan PSN anak
sekolah di wilayahnya.
f. Memberikan penghargaan terhadap sekolah, madrasah dan pondok pesantren yang
memiliki kinerja dan prestasi yang baik dalam pelaksanaan PSN anak sekolah dan
berhasil mewujudkan Sekolah Bebas Jentik.
g. Memberikan laporan pelaksanaan PSN anak sekolah kepada Pokjanal DBD tingkat
provinsi (jika Pokjanal DBD tingkat provinsi belum terbentuk, maka laporan ditujukan
kepada Gubernur dengan tembusan kepada kepala dinas kesehatan provinsi).
2. Tata Kerja/Koordinasi Di Lapangan
Tata kerja/koordinasi Jumantik-PSN Anak Sekolah di lapangan adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

Tata kerja PSN/Jumantik anak sekolah mengacu pada petunjuk teknis PSN-Jumantik
Anak Sekolah dan ketentuan-ketentuan lainnya yang berlaku di wilayah setempat.
Jumantik anak sekolah berperan dalam kegiatan usaha kesehatan sekolah (UKS)
dalam rangka menciptakan Sekolah Bebas Jentik.
Puskesmas berkewajiban melaksanakan pembinaan/ penyuluhan teknis kepada para
guru dan para kader jumantik anak sekolah secara berkala.
Kepala sekolah bersama dengan para guru dan petugas puskesmas memantau dan
menilai pelaksanaan PSN di sekolahnya.
Kepala sekolah melalui guru penanggungjawab PSN sekolah memberikan laporan
rutin perbulan kepada puskesmas berdasarkan hasil rekap pelaksanaan PSN/Jumantik
Anak sekolah setiap minggunya.

3. Kriteria Dan Perekrutan Jumantik Anak Sekolah dan Guru Penanggung Jawab
PSN
3.1. Kriteria Jumantik Anak Sekolah
Kader Jumantik adalah siswa-siswi sekolah dari tiap-tiap kelas, dengan kriteria sebagai
berikut:
a. Mampu membaca dan menulis
b. Mampu dan mau melaksanakan tugas dan bertanggung jawab
c. Mampu dan mau menjadi motivator bagi rekan-rekan siswa-siswi yang lain.
d. Mampu dan mau bekerjasama dengan petugas puskesmas, guru dan petugas kebersihan
sekolah lainnya.
3.2. Kriteria Guru Penanggung Jawab Jumantik-PSN sekolah
Penunjukan Guru Penanggung Jawab Jumatik-PSN Sekolah menjadi kewenangan kepala
sekolah yang bersangkutan, dengan kriteria antara lain:
a. Sudah mengabdi sebagai guru di sekolah bersangkutan minimal selama 1 tahun.
b. Mampu dan mau melaksanakan tugas dan bertanggungjawab
c. Mampu dan mau menjadi motivator bagi rekan-rekan guru dan kader jumantik anak
sekolah yang menjadi binaannya.
d. Mampu dan mau bekerjasama/ berkoordinasi yang baik dengan petugas puskesmas, tim
Pokja Jumantik-PSN Anak Sekolah dan masyarakat.
4. Perekrutan
Perekrutan kader jumantik anak sekolah dan penunjukan guru penanggungjawab dilaksanakan
sesuai dengan tata cara yang telah diatur oleh masing-masing sekolah. Semakin banyak anak
sekolah yang dilibatkan akan semakin baik, bila perlu seluruh anak sekolah dilibatkan sebagai
Jumantik-PSN Anak Sekolah.
5. Peran Dan Tanggung Jawab
Peran dan tanggung jawab pelaksanaan Jumantik-PSN disesuaikan dengan fungsi masingmasing, yaitu:
5.1. Jumantik Anak Sekolah
a. Melakukan kegiatan pemantauan jentik dan PSN di lingkungan sekolah secara rutin
seminggu sekali.
b. Melakukan kegiatan pemantauan jentik dan PSN di lingkungan tempat tinggalnya secara
rutin seminggu sekali.
c. Membuat catatan/laporan hasil pemantauan jentik dan PSN di sekolah dan tempat
tinggalnya.

d. Melaporkan hasil pemantauan jentik kepada Guru Penanggung Jawab Jumantik-PSN


sekolah seminggu sekali menggunakan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di
Rumah/Tempat Tinggal (lampiran 1) dan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di
Sekolah (lampiran 2)
e. Melakukan sosialisasi PSN 3M dan pengenalan DBD kepada rekan-rekan siswa-siswi
lainnya.
f. Berperan sebagai penggerak dan motivator siswa-siswi lainnya agar mau melaksanakan
pemberantasan sarang nyamuk terutama di lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya.
g. Berperan sebagai penggerak dan motivator bagi keluarga dan masyarakat agar mau
melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk terutama di lingkungan tempat tinggalnya.
5.2. Guru Penanggung Jawab PSN anak sekolah
a. Membuat rekapitulasi laporan mingguan hasil Jumantik-PSN di masing-masing rumah
siswa dan sekolahnya yang telah disahkan/ ditandatangani oleh kepala sekolah (lampiran
3) untuk diserahkan kepada kepala puskesmas setempat selaku pembina UKS wilayahnya.
b. Memeriksa dan mengarahkan kegiatan Jumantik anak sekolah.
c. Mengawasi/memberikan bimbingan teknis kepada Jumantik anak sekolah.
5.3. Kepala Puskesmas
a. Membina dan memantau pelaksanaan kegiatan PSN anak sekolah serta melaksanakan
koordinasi dengan pemerintah daerah setempat (Pokja PSN Anak Sekolah).
b. Memberikan pembinaan teknis kepada guru-guru dan Jumantik anak sekolah.
c. Menganalisa laporan hasil pemantauan jentik oleh Jumantik anak sekolah.
d. Melaporkan rekapitulasi hasil pemantauan jentik oleh Jumantik anak sekolah di wilayah
kerjanya kepada Pokja PSN Anak Sekolah melalui kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.
5.4. Pokjanal DBD tingkat Provinsi
a. Melalui instansi atau SKPD terkait melakukan pembinaan dan evaluasi pelaksanaan
kegiatan PSN Anak Sekolah di masing-masing kabupaten/kota di wilayahnya.
b. Menganalisa dan membuat laporan rekapitulasi hasil kegiatan PSN anak sekolah dari
wilayah kabupaten/kota kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP dan PL), Kementerian Kesehatan RI.
c. Memberikan dukungan operasional kepada Pokja tingkat Kabupaten/Kota.
6. Dukungan Operasional
Agar Jumantik-PSN Anak Sekolah dapat bertugas dan berfungsi sebagaimana yang
diharapkan maka diperlukan dukungan biaya operasional. Dukungan dana tersebut dapat

berasal dari beberapa sumber misalnya APBD, Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), dan
lain sebagainya. Adapun komponen pembiayaan yang diperlukan antara lain adalah:
a.
b.

Transport/insentif bagi petugas pembina teknis di lapangan.


Penyediaan PSN kit berupa topi, rompi, tas kerja, formulir hasil pemeriksaan jentik, alat
tulis, senter, pipet dan plastik tempat jentik dan larvasida.

Gambar 2.2. Contoh PSN kit


c.
d.
e.
f.

Penyediaan alat lainnya misalnya media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
seperti leaflet, stiker, lembar balik (flipchart), buku saku, juknis/juklak dll.
Biaya pelatihan/pembinaan guru-guru sekolah/ guru penanggung jawab PSN anak
sekolah oleh Pokja PSN anak sekolah.
Biaya pelatihan bagi jumantik anak sekolah oleh puskesmas/ dinas kesehatan/ Pokja
PSN anak sekolah.
Biaya monitoring dan evaluasi.

BAB III
PELAKSANAAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) ANAK SEKOLAH
PSN adalah tindakan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan menutup, menguras dan
memanfaatkan barang bekas yang masih berniai (yang dikenal dengan istiah 3M). Kegiatan
PSN anak sekolah meliputi pengamatan jentik dan kegiatan 3M (menutup, menguras,
memanfaatkan barang-barang bekas yang masih bernilai ekonomis). PSN 3M merupakan
kegiatan terencana secara terus menerus dan berkesinambungan. Gerakan ini merupakan
kegiatan yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penyakit DBD serta mewujudkan
kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
1. Mekanisme Pelaksanaan
Mekanisme pelaksanaan Jumantik-PSN anak sekolah sebagai berikut :
- Dinas Kesehatan bersama Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama
Kabupaten/Kota dalam wadah Pokja PSN anak sekolah memberikan pembinaan/pelatihan
Jumantik-PSN anak sekolah kepada guru-guru di sekolah.
- Kepala Sekolah membuat tim pelaksana Jumantik-PSN anak sekolah dan menunjuk
seorang guru penanggung jawab PSN anak sekolah.
- Guru penanggungjawab PSN anak sekolah menyusun program kerja/kegiatan JumantikPSN anak sekolah.
- Guru yg sudah dilatih mengajarkan Jumantik-PSN kepada anak sekolah
- Setiap minggu siswa melakukan pemantauan jentik dan PSN di sekolah dan rumah/
tempat tinggalnya masing-masing dan melakukan pencatatan hari dan tanggal
pelaksanaan, jenis tempat perkembangbiakan nyamuk, ada tidaknya jentik dan kegiatan
PSN 3M yang dilakukan (sebagaimana form 1 dan 2).
- Formulir pencatatan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di Rumah/Tempat
Tinggal (lampiran 1) dan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di Sekolah
(lampiran 2) dilaporkan setiap minggu ke guru penanggung jawab dan diparaf oleh guru
penanggung jawab.
- Guru penanggungjawab memeriksa formulir tersebut, apabila laporan ditemukan jentik
maka guru wajib memberikan arahan kepada siswa untuk meningkatkan kegiatan PSN
3M, serta membuat rekap laporan ke Puskesmas terdekat untuk ditindaklanjuti.
- Dinas Kesehatan/ Pokja PSN anak sekolah melalui Puskesmas setempat melakukan
pembinaan ke sekolah dalam rangka keberlangsungan kegiatan Jumantik-PSN anak
sekolah.

2. Pemantauan Jentik
Kegiatan pemantauan jentik merupakan bagian penting dalam PSN, hal ini untuk mengetahui
keberadaan jentik.
Pengamatan jentik dapat dilakukan sebagai berikut :
- Mencari semua tempat perkembangbiakan jentik nyamuk yang ada di dalam maupun di
lingkungan rumah.
- Setelah didapatkan, maka dilakukan penyenteran untuk mengetahui ada tidaknya jentik
- Mencatat ada tidaknya jentik dan jenis kontainer yang diperiksa pada Formulir Hasil
Pemantauan Jentik Mingguan di Rumah/Tempat Tinggal (lampiran 1) dan Formulir Hasil
Pemantauan Jentik Mingguan di Sekolah (lampiran 2)

Gambar 3.1. Pemantauan jentik


Tempat perkembangbiakan nyamuk di dalam rumah, misalnya tatakan pot bunga, tatakan
dispenser, tatakan kulkas, bak mandi/WC, vas bunga, tempat minum burung, dan lain-lain.

Gambar 3.2. Tempat-tempat potensial perkembangbiakan nyamuk di dalam rumah


Tempat perkembangbiakan nyamuk di luar rumah, misalnya tempayan, drum, talang air,
tempat penampungan air hujan/air AC, kaleng bekas, botol plastik, ban bekas, pelepah tales,
pelepah pisang, potongan bambu, plastik, dan lain-lain.

Gambar 3.3. Tempat-tempat potensial perkembangbiakan nyamuk di luar rumah

3. Menguras
Menguras tempat penampungan air secara rutin dan terus menerus. Menguras harus dilakukan
setiap minggu dengan pertimbangan nyamuk harus dibunuh sebelum menjadi nyamuk
dewasa, karena periode pertumbuhan telur, jentik dan kepompong selama 8-12 hari, sehingga
sebelum 8 hari harus sudah dikuras supaya mati sebelum menjadi nyamuk dewasa.

Gambar 3.4. Menguras Tempat Penyimpanan Air

4. Menutup
Menutup adalah kegiatan menutup semua tempat penyimpanan air yang diperkirakan air akan
disimpan dalam waktu lama (lebih dari satu minggu). Namun apabila tetap ditemukan jentik,
maka air harus dikuras dan dapat diisi kembali kemudian ditutup rapat.

Gambar 3.5. Menutup Tempat Penampungan Air

5. Memanfaatkan Kembali Barang Bekas yang Bernilai Ekonomis


Banyak barang-barang bekas yang dapat digunakan kembali dan benilai ekonomis, dengan
cara mengolah kembali bahan-bahan media penampungan air menjadi produk atau barangbarang yang telah diperbaharui menjadi bernilai ekonomis.

Gambar 3.6. Menfaatkan kembali barang bekas yang bernilai ekonomis atau mendaur ulang

6. Pencatatan dan Pelaporan


Kegiatan pencatatan dan pelaporan berfungsi untuk menilai keberhasilan PSN 3M oleh anak
sekolah, serta sebagai informasi penting dalam rangka menghadapi terjadi serangan DBD.
Pencatatan dan pelaporan PSN anak sekolah dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
Pencatatan dilakukan sesuai dengan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di
Rumah/Tempat Tinggal (lampiran 1) dan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di
Sekolah (lampiran 2).
-

Seminggu sekali siswa melakukan pemantauan jentik dan PSN di rumahnya masingmasing melakukan pencatatan hasil pemantauan jentik, jenis tempat perkembangbiakan
nyamuk/ penampungan air (kontainer), ada tidaknya jentik dan kegiatan PSN 3M yang
dilakukan dengan menggunakan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di
Rumah/Tempat Tinggal (lampiran 1)

Seminggu sekali siswa juga melakukan pemantauan jentik dan PSN di lingkungan
sekolahnya, melakukan pencatatan hasil pemantauan jentik, jenis ruangan yang dipantau,
jenis tempat perkembangbiakan nyamuk/ penampungan air (kontainer), ada tidaknya
jentik dan kegiatan PSN 3M yang dilakukan Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan
di Sekolah (lampiran 2).
Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan Anak Sekolah dilaporkan setiap minggu ke
guru penanggung jawab dan diparaf oleh guru penanggung jawab.
Guru penanggungjawab memeriksa Formulir Hasil Pemantauan Jentik dan PSN Sekolah
dan Formulir Hasil Pemantauan Jentik dan PSN Rumah, apabila laporan ditemukan jentik
maka guru wajib memberikan arahan kepada siwa untuk meningkatkan kegiatan PSN 3M,
serta diharapkan dapat melaporkan ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan
pengendalian lebih lanjut.
Guru Penanggung jawab merekap hasil pemantauan siswa di rumah dan di sekolah ke
dalam form Rekapitulasi Laporan Mingguan Jumantik-PSN Anak Sekolah (lampiran 3)
kepada kepala puskesmas setempat selaku pembina UKS wilayahnya.

BAB 1V
PENGENALAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
Salah satu penyebab kematian penderita DBD adalah karena keterlambatan dibawa ke rumah
sakit. Hal ini disebabkan karena keluarga penderita kurang mengenali tanda dan gejala
penyakit DBD baik tanda/gejala awal maupun tanda/gejala lanjut maupun cara-cara
memberikan pertolongan pertama kepada penderita DBD.
1. Pengertian dan Cara Penularan DBD
1.1. Pengertian DBD
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular melalui gigitan nyamuk yang
ditandai dengan panas (demam) dan disertai dengan perdarahan, yang disebabkan oleh virus
dengue.
1.2. Cara Penularan DBD
Demam Berdarah Dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus yang hidup di dalam dan di sekitar rumah.

Gambar 4.1. Penularan DBD

Proses penularan DBD sebagai berikut :


2. Demam berdarah dengue (DBD) ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus betina.
3. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit/ menghisap darah orang
yang sakit DBD atau di dalam darahnya terdapat virus dengue, tapi tidak menunjukkan
gejala sakit
4. Virus dengue yang terhisap akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh
nyamuk, termasuk kelenjar liurnya.
5. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus itu akan
dipindahkan bersama air liur nyamuk.
6. Virus dengue akan menyerang sel pembeku darah dan merusak dinding pembuluh
darah kecil (kapiler), akibatnya terjadi pendarahan dan kekurangan cairan bahkan bisa
sampai mengakibatkan renjatan (syok).
2. Gejala/Tanda DBD
2.1. Gejala/Tanda awal
1. Hari pertama sakit :
-

Panas
mendadak
terusmenerus, badan lemah/lesu.
Pada
tahap
ini
sulit
dibedakan dengan penyakit
lain

Gambar 4.2. Demam


2. Hari kedua atau ketiga:
- Ulu hati seringkali terasa
nyeri,
karena
terjadi
perdarahan di lambung.

Gambar 4.3. Nyeri ulu hati

Tampak bintik-bintik merah


pada kulit (petekie) seperti
bekas gigitan
nyamuk,
disebabkan
pecahnya
pembuluh darah kapiler di
kulit

Gambar 4.4 Bintik-bintik perdarahan kulit (petekie)


-

Untuk
membedakannya
kulit diregang-kan, apabila
bintik merah
itu hilang,
bukan tanda petekie

Gambar 4.5. Uji tourniket (uji bendung)


2.2. Gejala/Tanda Lanjutan
-

Kadang-kadang terjadi
pendarahan di hidung
(mimisan) dan atau di gusi

Gambar 4.6. Mimisan (epistaksis)

Mungkin terjadi muntah dan


atau buang air kecil/besar
bercampur darah

Gambar 4.7. Muntah bercampur darah


-

Bila sudah parah, penderita


gelisah, ujung tangan dan
kaki dingin berkeringat. Bila
tidak segera ditolong dapat
meniggal dunia

Gambar 4.8. Gelisah, tangan/kaki dingin

3.

Pertolongan Penderita DBD


3.2. Pertolongan Pertama DBD dengan Gejala/Tanda Awal
-

Beri
minum
sebanyakbanyaknya dengan air yang
sudah dimasak seperti air
putih, susu, teh atau air
minum lainnya, atau larutan
oralit.

Gambar 4.9. Minum banyak

Berikan kompres air hangat

Gambar 4.10. Kompres hangat


-

Berikan obat penurun panas


(parasetamol)

Gambar 4.11. Minum Obat Penurun Panas

3.3. Tindakan apabila ada penderita dengan gejala/tanda lanjut


-

Anjurkan segera
untuk periksa ke
dokter, poliklinik,
Puskesmas atau
rumah sakit untuk
memastikan
penyakitnya dan
mendapat
pertolongan yang
tepat

Gambar 4.12. Bawa penderita ke puskesmas/ RS

BAB V
PENGENALAN NYAMUK PENULAR (VEKTOR) DBD
Penyakit DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes, terdiri dari Aedes aegypti dan Aedes
albopictus. Nyamuk jenis ini lebih banyak hidup di air bersih dan menghisap darah pada siang
hari.
1. Siklus Hidup Nyamuk Aedes
Nyamuk Aedes memiliki siklus hidup (tahapan kehidupan) secara sempurna, antara lain telur,
jentik, kepompong dan nyamuk dewasa. Masa pertumbuhan dari telur, jentik, kepompong
hingga menjadi nyamuk sekitar 8-12 hari, tergantung dari suhu dan kelembaban. Semakin
tinggi suhu dan kelembaban semakin cepat masa pertumbuhan nyamuk.

Gambar 5.1. Siklus Hidup Nyamuk Aedes

2. Ciri-ciri Nyamuk Aedes


2.1. Telur
Telur diletakkan satu persatu di atas permukaan air, biasanya pada dinding bagian dalam
kontainer di permukaan air. Jumlah telur nyamuk untuk sekali bertelur dapat mencapai 300
butir dengan ukuran 5 mm. Telurnya berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu
dengan yang lain. Pada kondisi yang buruk (dalam kondisi musim kering yang lama), telur
dapat bertahan hingga lebih dari satu tahun. Telur akan menetas menjadi jentik setelah 1-3
hari terendam air.

Gambar 5.2. Telur Nyamuk Aedes


2.2. Jentik
Setelah telur terendam 2-3 hari, selanjutnya menetas menjadi jentik. Jentik mengalami 4
tingkatan atau stadium yang disebut instar, yaitu instar I, II, III dan IV. Waktu pertumbuhan
dari masing-masing stadium adalah jentik instar I selama 1 hari, jentik instar II selama 1-2
hari, jentik instar III selama 2 hari, jentik instar IV selama 2-3 hari. Jentik Aedes di dalam air
dapat dikenali dengan ciriciri berukuran 0,51 cm dan selalu bergerak aktif dalam air. Pada
waktu istirahat posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air untuk bernapas
(mendapatkan oksigen). Selanjutnya jentik berkembang menjadi kepompong.

Gambar 5.3. Jentik Nyamuk Aedes


2.3. Kepompong
Kepompong adalah periode puasa, membutuhkan waktu 1-2 hari. Kepompong berbentuk
seperti koma dan lebih pendek dibandingkan jentik, aktif bergerak dalam air terutama bila
terganggu. Pada tingkat kepompong ini tidak memerlukan makan, tetapi perlu udara. Dalam
waktu 1-2 hari perkembangan kepompong sudah sempurna, maka kulit kepompong pecah dan
nyamuk dewasa muda segera keluar dan terbang. Pada umumnya nyamuk jantan menetas
lebih dahulu dari nyamuk betina.

Gambar 5.4. Kepompong Aedes


2.4. Periode Dewasa
Secara umum nyamuk Aedes terdiri tiga bagian, yaitu kepala, thorax dan abdomen,
mempunyai dua pasang sayap dan tiga pasang kaki. Nyamuk Aedes dewasa memiliki ukuran

sedang dengan tubuh berwarna hitam bercak putih. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik
dengan bercak putih. Ae.aegypti di bagian punggung tubuhnya tampak dua garis melengkung
vertikal di bagian kiri dan kanan berwarna putih, sedangkan Ae.albopictus di bagian
punggung tubuhnya tampak satu garis lurus tebal berwarna putih.
Kemampuan terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter maksimal 100 meter, namun secara
pasif karena faktor angin atau terbawa kendaraan dapat berpindah lebih jauh. Nyamuk ini
dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah sekitar 1.000 meter dari
permukaan laut, di atas ketinggian 1.000 meter dengan suhu udara terlalu rendah nyamuk
tidak dapat berkembang biak, sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk.

Gambar 5.5. Nyamuk Aedes


3. Tempat Perkembangbiakan Jentik Aedes
3.1. Buatan
Tempat perkembangbiakan jentik buatan adalah segala sesuatu yang dibuat oleh manusia
dapat berfungsi menampung air dan jernih, yang kemudian digunakan oleh nyamuk Aedes
untuk tempat berkembangbiak, seperti bak mandi, ember, dispenser, kulkas, ban bekas,
pot/vas bunga, kaleng, plastik, dan lain-lain. Tempat penampungan air tersebut berada di
sekitar pemukiman penduduk. Tempat nyamuk berkembangbiak yang dibuat/disediakan oleh
manusia, seperti tempat penampungan air bersih (bak mandi, ember, dispenser, kulkas, dan
lain-lain), maupun tempat-tempat penampungan air lainnya yang ada disekitar pemukiman
penduduk.

Gambar 5.6. Tempat perkembangbiakan buatan.

Petunjuk Teknis Jumantik-PSN Anak Sekolah

32

3.2. Alamiah
Tempat perkembangbiakan jentik alamiah adalah segala suatu yang telah tersedia di
lingkungan pemukiman berupa tanaman yang dapat menampung air jernih sebagai tempat
perindukan nyamuk pada tempat alami, seperti , ketiak daun, tempurung kelapa, lubang
bambu, ataupun pada pelepah daun.

Gambar 5.7. Tempat perkembangbiakan alamiah


4. Perilaku Nyamuk Aedes
4.1. Perilaku menghisap darah
Nyamuk Aedes betina mengisap darah manusia pada waktu siang hari, dengan puncak
kepadatan nyamuk pada jam 08.00-10.00 dan jam 15.00-17.00. Nyamuk betina menghisap
darah yang dipergunakan untuk pematangan telur. Untuk mengenyangkan perutnya, nyamuk
Aedes dapat menghisap darah beberapa kali dari 1 orang atau lebih, sehingga potensi untuk
menularkan penyakit demam berdarah semakin banyak. Nyamuk Aedes aegypti lebih banyak
menghisap darah manusia di dalam rumah, sedangkan nyamuk Aedes albopictus lebih banyak
mengisap darah di luar rumah.

Petunjuk Teknis Jumantik-PSN Anak Sekolah

33

4.2. Perilaku istirahat


Nyamuk Aedes setelah mengisap darah akan beristirahat untuk proses pematangan telur,
setelah bertelur nyamuk beristirahat untuk kemudian menghisap darah kembali. Nyamuk
Aedes aegypti lebih menyukai beristirahat di tempat yang gelap, lembab, tempat tersembunyi
di dalam rumah atau bangunan, termasuk kolong tempat tidur, kloset, kamar mandi dan dapur.
Selain itu juga bersembunyi pada benda-benda yang digantungkan seperti baju, tirai dan
dinding. Walaupun jarang, bisa ditemukan di luar rumah, di tanaman atau tempat terlindung
lainnya.
Sedangkan nyamuk Aedes albopictus jarang ditemukan beristirahat di dalam rumah.
Kebiasaan istirahat nyamuk Aedes albopictus beristirahat di luar rumah, seperti di tanaman,
rerumputan, tanaman kering, dan lain-lain.

Lampiran 1

Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di Rumah/Tempat Tinggal


Nama Siswa
Kelas
Alamat Rumah

:
:
:

Bulan
Minggu ke

:
:

No.

Jenis Kontainer
(tempat penampungan air)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Bak mandi
Bak WC
Tempayan
Ember
Dispenser
Pot/ Vas bunga
Kolam/ akuarium
Ban bekas
Botol/Kaleng bekas

Jentik
Ada

Kegiatan PSN
yang dilakukan

Tidak

Mengetahui
Orang Tua Siswa

(.........................................................)

Lampiran 2

Formulir Hasil Pemantauan Jentik Mingguan di Sekolah


Nama Siswa
Kelas
Alamat Sekolah

:
:
:

Bulan
Minggu ke

:
:

No.

Ruang

Jenis Kontainer

Jentik

(tempat
penampungan air)

Ada
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kegiatan PSN
yang
dilakukan

Tidak

Ruang Kepala Sekolah


Ruang Guru
Ruang Kelas
Toilet/WC siswa
Perpustakaan
Ruang UKS
Laboratorium
Kantin
Mushola/Ruang Ibadah
Halaman

Mengetahui
Guru Penanggung Jawab

(.........................................................)

Lampiran 3

Rekapitulasi Laporan Mingguan Jumantik-PSN Anak Sekolah


Yth
Kepala Puskesmas ................................
Bersama ini kami sampaikan laporan hasil pelaksanaan Jumantik-PSN Anak Sekolah,
sebagai berikut:
Nama Sekolah :
Alamat Sekolah :
Bulan
:
Minggu ke
:

No.

Jenis Kontainer

Jumlah
ditemukan jentik

Keterangan

Mengetahui
Kepala Sekolah

(............................................... )

Petunjuk Teknis Jumantik-PSN Anak Sekolah

Guru Penanggung Jawab

(.................................................)