Anda di halaman 1dari 23

3 TOKOH WIRAUSAHAWAN BUDIDAYA TANAMAN HIAS

1. BAPAK YAKUP

Sejarah Berdiri
Bapak Yakup lahir pada tanggal 12 Okteber 1962, bapak yakup
merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Beliau
mempunyai lima orang anak, 2 anak laki-laki dan 3 anak
perempun. Dari kecil sudah menjadi tulang punggung keluarga,
karena ketika berumur 5 tahun, beliau sudah ditinggalkan oleh
ayahanda tercinta. Terlahir ditengah-tengah keluarga yang
pendidikan agamanya sangat kuat, maka secara tidak langsung
ikut membentuk karakter beliau dalam melihat keadaan-keadaan
yang terjadi.
Menjadi tulang punggung dalam keluarga memang bukan hal
yang mudah, ditambah dengan pendidikan yang rendah.
Jangankan untuk sekolah, untuk makan sekeluarga saja masih
ketar-ketir. Hingga akhirnya baliau bertekad bahwa adik-adiknya
harus sekolah yang tinggi jangan seperti dirinya yang tidak
pernah mengeyam pendidikan sekolah. Sejak kecil bapak Yakup
dikenal dengan orang yang sangat kreatif dan inovatif.
Termotivasi dengan keadaan yang demikian, bapak Yakup
mencoba mengembangkan hobi menjadi sebuah hal yang positif
dan produktif. Seperti, bagaimana agar hobi tersebut bisa
menghasilkan manfaat bukan hanya untuk dirinya saja tetapi

juga bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Sejak kecil bapak


Yakup sangat hobi dengan tanaman hias.
Dengan modal mental yang tidak mudah menyerah, berani dan
kreatif. Hingga akhirnya pada tanggal 7 Juni 1975 bapak Yakup
memberanikan diri untuk membuka usaha yang pada saat itu
masih jarang dilirik oleh orang-orang, terutama di daerah Kebon
Jeruk. Yaitu membuka Usaha Tanaman Hias. Tetapi, disinilah
kejelian dan keberanian bapak Yakup, dimana beliau dengan
cepat bisa melihat peluang, kesempatan dan keadaan yang ada.
Pada saat itu dia melihat tanah-tanah yang ada didaerahnya
masih menjadi lahan yang kosong dan mubadzir. Melihat
kesempatan yang seperti ini jiwa wirausahanya merasa
tertantang untuk melakukan sesuatu. Bagaimana caranya agar
tanah yang ada didaerahnya tidak menjadi lahan yang mubadzir.
Bapak Yakup mengatakan Dari pada tanah yang ada didepan
rumah ama yang dibelakang rumah mubadzir, lebih baik
digunakan biar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan
produktif.
Sebagai langkah awal, sejak usaha tanaman hiasnya lahir, bapak
Yakup membeli bibt-bibit unggul yang diperlukan dan sesuai
dengan jenis tanah yang ada di tempatnya. Selain itu, sosialisai
dengan masyarakat sekitar (baik formal maupun non-formal),
sering dilakukan dengan harapan lahan-lahan yang tadinya
dibiarkan mubadzir atau terbuang percuma, lebih baik digarap
agar menjadi lahan yang produktif.
Kemudian membangun jaringan ke luar juga sering dilakukannya,
seperti membangun jaringan kesesama pengusaha tanaman
hias, baik yang perorangan maupun organisasi atau lembaga.
Seiring waktu berjalan, usaha ini berkembang menjadi salah satu
pokok mata pencaharian masyarakat Kebon Jeruk. Saat ini beliau
sudah mempunyai enam lahan garapan. Satu sekitar pekarangan
rumah dan yang lima di luar pekarangan, bahkan ada yang di
luar Kelurahan Kebon Jeruk.
Prinsip Dasar

Prinsip dasar yang dimiliki bapak yakup yang sangat khas dan
unik, ini dipengaruhi oleh faktor psikologis, kultur, dan agama.
Yaitu:
Moral: jujur, amanah dan ihsan
Inovatif dan Kreatif
Independen (tidak selalu tergantung dengan pemerintah)
Percaya diri
Berorientasi ke depan
Visi dan Misi
Visi
Mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya agar bisa
berkembang
menjadi
sesuatu
yang
bermanfaat. Serta
mengembangkan jiwa yang mandiri tanpa tergantung dengan
orang lain.
Misi
1. Membangun diri menjadi individu yang berfungsi untuk
keluarga dan masyarakat.
2. Mengembangkan jaringan pemberdayaan masyarakat.
3. Mengembangkan dan menumbuhkan aset masyarakat
yang berbasis kekuatan sendiri.
4. Mengambangkan potensi lokal yang ada.
5. Meningkatkan produktifitas baik kualitas maupun kuantitas.
Sarana dan Prasarana
Kantor/gedung
Untuk hal ini bapak yakup menggunakan rumah sekaligus untuk
kantor, sebagai tempat dialog dengan pegawai, rekan bisnis dan
evaluasi kinerja usahanya. Selain itu, kantor juga berfungsi
sebagai tempat transaksi seperti: pembayaran dan penawaran
barang. Membangun jaringan juga sering dilakukan di kantor.
Dari awal berdiri hingga sekarang kantor bertempat di Jl. F
Pejuangan Kebon Jeruk Rt/Rw. 009/010 No. 25 Jakarta Barat.
Media
Tanah lahan

Pot
Selang atau ceret untuk menyiram tanaman
Beberapa jenis tanaman yang dibutuhkan
Hambatan dan Tantangan
Setiap orang yang menekuni sebuah usaha pasti akan menemui
berbagai macam kendala, kebanyakan orang-orang yang tidak
bisa eksis dalam menekuni sebuah usaha tidak mampu
menyelesaikan dan menghadapi masalah, kendala dan
tantangan. Begitupun dengan usaha yang dijalankan oleh bapak
Yakup, tidak jauh berbeda jauh orang-orang umumnya. Sejak
usaha ini dimulai tahun 1975, bapak Yakup banyak menemui
berbagai macam masalah, anatar lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sarana transportasi kurang mendukung


Kondisi kantor/gedung kurang representatif
Kondisi tanah yang tidak sesuai
Iklim yang tidak menentu
kurang mampu menguasai bahasa asing dan Indonesia.
Ada beberapa pegawai yang buta huruf atau tidak bisa
membaca.
7. Masyarakat tetangga semakin banyak yang melakukan
usaha serupa.
8. Semakin derasnya arus globalisasi.
Kesimpulan
Wirausaha adalah sikap bukan sebuah profesi. Wirausaha
merupakan objek bukan subjek. Profesi apapun, keahlian apapun
yang dimiliki seseorang, akan memungkinkan individu-individu
tersebut pantas disebut wirausahawan. Sampai saat ini, gelar
wirausahawan adalah gelar yang ditahbiskan relatif hanya
kepada para pedagang saja. Pengertian tersebut berkembang
dalam benak masyarakat sehingga mengendapkan makna yang
sebenarnya lebih luas dari definisi yang ada. Wirausahawan
bukanlah gelar yang berhak diklaim oleh kalangan pedagang
atau pengusaha saja. Bahkan semua profesi yang mengandung
kemaslahatan, merupakan tanah yang humus untuk
menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha.

Pemahaman yang salah terhadap ruang lingkup usaha dan


pengertian wirausaha ini telah membuat sebagian besar
individu beranggapan bahwa dengan menjadi pedagang,
melakukan proses jual-beli, maka otomatis ia telah menjadi
wirausahawan. Kesalahan tersebut mengindikasikan cara
pandang yang menganggap bahwa segala sesuatu bisa
di-bisnis-kan untuk menghasilkan uang. Kewirausahaan bukan
semata-mata kegiatan meraih laba, yang seringkali hinggap pada
anggapan pribadi-pribadi sekuler sebagai tujuan akhir. Kata
usaha-pun bukan monopoli ruang lingkup berdagang atau jualbeli saja. Semua profesi adalah usaha, sehingga seorang dokter,
petani, pelukis, penyanyi, bahkan mahasiswa pantas digelari
wirausahawan, persis sejajar dengan pedagang.
Dalam Islam, usaha sendiri merupakan salah satu syarat dari
Allah Azza wa Jalla agar pintu rezeki dibukakan oleh-Nya.
Berdagang termasuk cabang usaha yang menjadi pintu
datangnya rezeki. Menjadi guru, dokter, pegawai negeri, tentara,
mahasiswa ataupun seniman, juga termasuk profesi-profesi yang
ditempuh manusia dalam membuka pintu-pintu rezeki. Dengan
begitu, besar-kecilnya rezeki tidak tergantung dari seseorang
berdagang atau tidak. Penentu besarnya rezeki bukanlah profesi
seseorang,
melainkan
seberapa
besar
seseorang
menyempurnakan usaha atau ikhtiarnya.
2. FATHUL MAKKI

Maraknya kegiatan bercocok tanam yang dilakukan di rumah ini


mengundang ide pemberian suvenir tanaman. Tak heran, di
beberapa perhelatan, baik event yang diselenggarakan
perusahaan atau sebuah pesta keluarga, memakai tanaman

sebagai suvenir. Jenis tanaman yang dibagikan pun sangat


beragam, mulai dari tanaman hias, sayur hingga bibit-bibit
tanaman buah atau tanaman pelindung.
Minat yang semakin besar untuk memilih tanaman sebagai
suvenir, menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Maklum,
seiring dengan kondisi perekonomian yang bertumbuh, kian
banyak acara yang digelar, baik yang bersifat korporasi atau pun
perseorangan.
Tengok saja usaha Fathul Maki, pemilik Istana Alam Dewi Tara di
Depok, Jawa Barat. Fathul yang sebelumnya terjun dalam usaha
tanaman hias, melihat peluang berbisnis suvenir tanaman
setelah mendapat pesanan Adenium berukuran mini dalam
jumlah besar dari sebuah perusahaan.
"Ternyata, mereka memesan Adenium itu untuk suvenir," kata
dia.
Padahal, pria yang merintis usaha tanaman hias sejak 2010 ini,
mengemas Adenium mini ke dalam sebuah wadah mika secara
tak sengaja. Lantaran terpuruk akibat harga Adenium dan
Anthurium merosot drastis, dia mengemas tanaman itu dalam
tabung mika supaya terlihat menarik saat dijual. Ukuran pohon
pun dibuat kecil, hanya setinggi 15 cm.
Order pertama datang dengan jumlah 7.000 tanaman. Dia
menjualnya dengan harga Rp 15.000 per pot. Alhasil, dari order
itu, Fathul meraup omzet Rp 105 juta. Dia pun mengaku, order
itu bisa mendatangkan laba lebih dari 50%, karena kemasan
yang dipakai hanya plastik mika dan tali kur sebagai pita.
Tergiur dengan laba yang besar, Fathul pun fokus menggarap
bisnis tanaman untuk suvenir. Dia menambahkan sejumlah
tanaman lainnya, seperti sansiviera, pucuk merah, dan Melati.
Kini, ada 13 jenis tanaman yang bisa menjadi pilihan suvenir.
Harganya pun lebih beragam, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp
25.000 per pot.
Demikian juga dengan kemasan. Jika dulu, dia hanya
membungkus tanaman dengan plastik mika, kini Fathul sampai

mengimpor pot keramik dari China sebagai kemasan. Harga yang


ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 3.000 Rp 4.000 per pot.
"Di sini jarang yang jual dalam jumlah banyak, sementara saya
bisa pesan hingga ribuan tiap bulan," ujar dia seperti dilansir
Kontan.
Maklum, pesanan suvenir semakin kian ramai menghampiri
Istana Alam. Kini, dalam sebulan, Fathul bisa mendapatkan order
pembuatan suvenir tanaman hingga belasan ribu unit. Tak heran,
dia bisa mendulang omzet berkisar Rp 300 juta sampai Rp 350
juta per bulan.
Setali tiga uang dengan Fathul, Janet Ulung Mandiri juga
mengawali usaha suvenir tanaman setelah bergelut dalam bisnis
tanaman hias. Dia pun berpendapat,usaha suvenir tanaman ini
cukup potensial, karena tiap bulan, selalu ada orang atau
institusi yang menggelar acara.
"Jadi, tinggal bagaimana membuat suvenir tanaman menjadi
pilihan bagi mereka yang punya acara," ujar dia.
Pesanan pertama yang diterima Janet, berasal dari seorang
temannya yang membutuhkan suvenir untuk pernikahan. "Saya
langsung terpikir untuk membuat suvenir dari tanaman yang ada
di kebun ayah," kata anak pertama Rizal Djafareer, pemilik
Rumah Bunga Rizal di Lembang, Bandung ini.
Dari situlah, lantas Janet membentuk divisi baru dalam bisnis
keluarganya, yaitu menggarap suvenir tanaman. Pesanan
pertama Janet berjumlah 600 tanaman kaktur. Dengan dibungkus
plastik mika, setiap tanaman dibanderol dengan harga Rp 8.000.
Namun berbeda dengan Fathul yang membeli plastik mika dalam
bentuk lembaran, Janet sudah membeli mika dalam bentuk
tabung dengan diameter 8 cm dan tinggi 14 cm. Dia juga
menambah variasi kemasan, yang terbuat dari limbah kayu dan
anyaman bambu. Ukurannya sama dengan kemasan dari plastik
mika.

Sebelum diisi dengan tanaman, kemasan dilubangi dulu untuk


saluran udara. Lalu, kemasan ditambahkan pita agar suvenir bisa
dijinjing. Janet mengeluarkan biaya sekitar Rp 4.000 untuk tiap
kemasan. Adapun modal untuk tanaman berkisar Rp 3.500 per
pot.
Saat ini, Rumah Bunga Rizal menyediakan lebih dari 30 varian
tanaman hias untuk suvenir. Jenisnya adalah kaktus, sansiviera
dan
succulent.
Pemesanan
harus
disesuaikan
dengan
ketersediaan tanaman. Pasalnya, beberapa tanaman butuh
waktu pengembangan cukup lama. Ambil contoh, kaktus tertentu
baru bisa dijual setelah budi daya selama dua tahun.
Karena itu, Janet berpesan kepada pembeli untuk order suvenir
dari jauh-jauh hari. Biasanya, pemesanan dilakukan dua hingga
empat minggu sebelum acara berlangsung. Dari bisnis ini, Janet
bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta saban bulan.
Tanaman harus siap
Apakah Anda tertarik menggeluti usaha ini? Satu modal yang
harus dimiliki untuk menjadi pengusaha suvenir tanaman adalah
kepedulian pada tanaman itu sendiri. Sebab, bukan hanya
mendatangkan profit, pengusaha yang menggeluti bisnis ini juga
punya misi untuk memberikan sumbangsih dalam menjaga
lingkungan.
Setidaknya, misi inilah yang mendorong Astuti Rusmawarati dan
I.G.A. NGR. Novianti Suryakasih terjun di bisnis suvenir tanaman.
Kedua perempuan ini merintis usahanya sejak 2009 dengan
brand Rumah Teduh.
Astuti bilang, suvenir tanaman mendatangkan banyak manfaat,
baik bagi pembeli maupun penerima. Jika produk yang dibagikan
berkualitas bagus, otomatis penyelenggara acara akan mendapat
kesan baik. Selain menjadi kenangan, tanaman juga bisa dirawat
dan menjadi penghias sudut-sudut rumah dan kantor.
Karena fungsinya untuk menghias, sebisa mungkin kemasan
suvenir tanaman dibuat menarik. Astuti sengaja memilih
tanaman hias mini sebagai suvenir. Ada beberapa kriteria yang ia

tetapkan. Dari segi ukuran, tanaman harus berdiameter sekitar 9


cm dengan tinggi 10 cm. Tanaman tidak harus lebar, tapi terlihat
rimbun, jelas dia.
Untuk kemasan, Astuti memakai pot tanah liat, pot keramik dan
plastik mika. Berbagai kemasan itu kemudian masih mendapat
sentuhan hiasan. Misalnya pot plastik, ditempeli ornamen dari
pasir halus atau kasar. Plastik mika pun ditambah pita atau tali
serat bambu sebagai pegangan.
Di samping kemasan, menurut Astuti, kesediaan tanaman pun
harus diperhatikan. Berbeda dengan Fathul dan Janet yang sudah
punya kebun sendiri, Astuti memasok tanaman dari para petani.
Ia membina petani yang ada di Lembang, Parung, Bogor, dan
kawasan puncak di Cisarua untuk memproduksi tanaman sesuai
dengan kriterianya.
Lantas, jika ada pesanan, Astuti akan memberi panjar 50% pada
para petani untuk menyiapkan tanaman. Selanjutnya, tanaman
itu dikirimkan ke workshop di Pamulang yang memiliki luas 45
m2. Tempat itu bisa menampung sekitar 5.000 pot tanaman.
Supaya tetap rapi, ia meletakkan tanaman itu dalam keranjang.
Selanjutnya, karyawan akan mengemas tanaman sebelum
dikirimkan.
Untuk
mengurangi
risiko,
minimal
seminggu
sebelum
pengiriman, tanaman sudah ada di workshop. Rumah Teduh
memasarkan suvenir tanaman hias mini dengan kisaran harga Rp
13.000 Rp 20.000 per pot. Selain itu, mereka menjual parsel
tanaman. Produk ini mirip parcel biasa, tapi diisi dengan
beberapa suvenir tanaman dengan kisaran harga Rp 60.000 Rp
650.000 per pot.
Sama seperti pengusaha suvenir tanaman yang lain, pesanan
yang datang ke Rumah Teduh bisa mencapai ribuan. Astuti
bilang, bisa mengirim sekitar 6.900 pot dalam sebulan. Dari
bisnis ini, dia bisa mengantongi laba hingga 30%.
Jika Anda tertarik menjajal bisnis serupa, Fathul punya beberapa
tips. Yang paling penting, menurut Fathul, ketersediaan tanaman.
Makanya, lebih baik jika pengusaha suvenir tanaman juga

membudidayakan sendiri tanaman. Dengan demikian, ia bisa


lebih mudah menyediakan tanaman untuk dijadikan suvenir.
Seluruh tanaman yang dijadikan suvenir di Istana Alam
merupakan hasil budi daya sendiri. Meski tidak semua dijadikan
suvenir, Fathul memisahkan tanaman suvenir dari tanaman lain.
Lantaran, tanaman untuk suvenir harus dikondisikan sedemikian
rupa, terutama penampilan maksimal. Pembeli akan senang jika
melihat tanaman yang segar dan berwarna cerah sebagai
suvenir.
Ukuran tanaman yang menjadi suvenir harus seragam. Ini tidak
mudah. Pasalnya, setiap saat tanaman bertumbuh. Agar tinggi
atau lebarnya seragam, pengusaha harus rajin-rajin memangkas
(pruning) tanaman. Seluruh tanaman dibuat tetap prima dengan
ukuran yang sama, tuturnya.
Selain pruning, Fathul pun menggunakan zat khusus untuk
mengerdilkan tanaman. Ketika sudah mencapai tinggi yang
diinginkan, yakni 15 cm20 cm, ia menyebar zat tersebut pada
tanaman. Bila hanya mengandalkan pemangkasan, akan butuh
waktu lama. Sementara, tanaman harus siap sedia kalau-kalau
ada yang pesan sebagai suvenir. Dengan zat tersebut,
pertumbuhan tinggi tanaman akan terkontrol dan berlangsung
lebih lama dari biasanya.

3. RIZAL DJAAFARER

Nama Rizal Djaafarer di blantika tanaman hias Indonesia


khususnya anggrek dan kaktus tak terbantahkan lagi. Dialah
salah satu maestro penyilang anggrek Indonesia selama 25
tahun, inovator sekaligus lokomotif tren jenis-jenis baru.
Berawal dari sebuah keputusan besar yang membuat keluarga
dan sanak kerabat kaget bukan kepalang pada 1985. "Saya
memilih jadi petani anggrek," ujar ayah 3 anak itu. Padahal di
saat sama hidupnya sudah nyaman sebagai dosen dan
konsultan. Modal saya hanya lahan seluas 100 meter persegi,
katanya. Lokasi lahan itu berada di Lembang, Jawa Barat.
Motivasi menjadi seorang petani anggrek memang diyakini Rizal
dapat memberi membuat perubahan dalam hidupnya.
Mengubah cara pandang, status, keuangan, meyakini anggrek
mampu menjadi andalan hidup, ujar pria 62 tahun itu. Rizal
sadar budidaya anggrek tidak mudah. Namun di balik itu,
alumnus Fakultas Teknik Arsitektur IKIP Bandung itu menuturkan
tersimpan pesan moral kehidupan dari sosok anggrek, yakni
kesabaran, kepedulian, dan kebaikan.
Pesan moral itu apabila dijalani secara ikhlas, dapat
mengantarkan seseorang kepada pencapaian kebahagiaan
hidup. Nilai-nilai kehidupan yang diperolehnya menurut Rizal
adalah sebuah kesadaran untuk selalu bersukur serta hidup itu
adalah pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi, kata Rizal
yang memiliki filosofi, "Kehidupan adalah proses belajar, fokus
pada hal-hal yang dijalani, peduli pada sesama dengan berbagi
pengetahuan, keuntungan, dan kesempatan".

Sejatinya Rizal menyampaikan terdapat tantangan dan rasa puas


saat menekuni budidaya anggrek. Apalagi faktanya menurut
Rizal, Indonesia memiliki potensi dan prosek pengembangan
anggrek sangat besar, meskipun saat ini pelaku usahanya masih
sedikit. "Hal itu yang membuat orang dengan mengimpor
anggrek dari Thailand, Malaysia, Taiwan, dan Amerika, ujarnya.
Sebab
impor
Indonesia
kehilangan
devisa.
Populasi penduduk Indonesia di atas 250-juta jiwa adalah pasar
besar bagi produk apapun, termasuk anggrek, kata Rizal. Kakek
satu cucu itu menyatakan bahwa Indonesia dengan potensi
kekayaan alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki
seharusnya bukan hanya target pasar bagi produsen asing,
melainkan juga dapat berperan sebagai pemasok kebutuhan
anggrek dunia sehingga menyumbang devisa.
Bagi Rizal kunci sukses yang sudah dialaminya memiliki resep
sederhana. Mempunyai Usaha yang dapat dimulai dari Hobi.
Bangunlah usaha berdasarkan hobi. Asalkan kita ikhlas dan fokus
maka insyaallah usaha yang dibangun dari hobi ini akan
menghasilkan, katanya. Hal lain usaha dapat dibangun dengan
melihat peluang, dan mengandeng orang yang usahanya sudah
maju. Usaha juga dapat dimulai sesuai dengan ilmu atau
pengalaman dan bentuknya jasa. Usaha seperti ini low risk, high
profit, ujar Rizal.
Pesan penting yang menjadi sukses Rizal adalah selalu berbagi
supaya usaha terus tumbuh. Jangan pelit untuk berbagi ilmu
dengan sesama orang. Banyak pengusaha yang sulit
membagikan ilmunya karena takut tersaingi atau ilmunya dicuri.
Dampaknya pengusaha tersebut akan kesulitan dalam hal
pendelegasian, katanya.

3 WIRAUSAHAWAN TANAMAN PANGAN


1. SUTRISNO

SUTRISNO, SUKSES DENGAN BISI-12 SETELAH 4 THN MENEKUNI USAHA TANI JAG

Dulunya, Sutrisno adalah salah seorang pengrajin kerupuk opak


di Kecamatan Patumbak, Deli Serdang. Namun pada tahun 2007
ia memutuskan untuk beralih profesi menjadi petani jagung, dan
setelah empat tahun menekuni usaha tani itu, ia baru merasakan
keberhasilan setelah menanam jagung super hibrida BISI-12 di
lahannya. Produksi jagungnya menjadi lebih dari dua kali
lipatnya setelah menanam jagung produksi PT. BISI International
Tbk itu.
Belum ada setahun Sutrisno mengenal jagung super hibrida BISI12. Petani asli Desa Marindal I, Kecamatan Patumbak, Kabupaten
Deli Serdang, Sumatera Utara itu pertama kali menanam BISI-12
pada awal April 2011 yang lalu. Dari lahan seluas 1,5 hektar, ia
pun bisa mendapatkan hasil panen hingga 17 ton jagung
gelondongan atau setara dengan 11,9 ton pipil kering.

Hasil itu, menurut Sutrisno, jauh lebih tinggi dibandingkan


dengan yang biasa ia dapatkan dari bertanam jagung varietas
lain. Biasanya hanya dapat tujuh ton gelondongan kering.
Setelah dipipil hasilnya hanya sekitar 3,5 ton, ujar suami dari
Setiawati ini.
Sebelum menekuni usaha tani jagung, bapak dua anak itu
berprofesi sebagai pengrajin kerupuk opak di Patumbak, Deli
Serdang. Lantas sekitar tahun 2007 ia bersama istrinya
memutuskan untuk beralih profesi menjadi petani jagung dengan
memanfaatkan sejumlah luasan lahan yang mereka miliki.
Keberhasilan Sutrisno mengem-bangkan jagung yang memiliki
potensi produksi hingga 12,4 ton pipil kering per hektar itu pun
terapresiasi dengan digelarnya panen raya yang dihadiri
sejumlah petani jagung di sekitar Patumbak pada 13 Juli 2011
lalu.
Tanaman BISI-12 yang kokoh dan tahan roboh, serta mampu
menghasilkan tongkol yang panjang dan seragam menjadi daya
tarik utama bagi Sutrisno dan petani lainnya. Selama saya
bertani jagung, baru sekarang ini bisa menemukan varietas yang
bagus dan mendapatkan hasil yang banyak seperti ini, ungkap
Sutrisno.
Tak ayal, hasil yang memuaskan itu membuat Sutrisno mantap
untuk kembali menanam jagung super hibrida BISI-12 di
lahannya. Bahkan, luasan tanamnya lebih luas dari sebelumnya.
Sekarang ini saya telah menanam BISI-12 seluas 2,5 hektar.
Sebelumnya kan hanya 1,5 hektar, terangnya.
Sementara itu, Market Development Corn Seed Manager PT.
Tanindo Intertraco Doddy Wiratmoko mengatakan, kelebihan
jagung super hibrida BISI-12 terletak pada kemampuannya
beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi lingkungan, baik
basah maupun kering, sehingga cocok ditanam saat musim
kemarau maupun hujan.

Jagung ini juga terbukti sangat tahan penyakit bulai, karat daun,
dan juga hawar daun. Sehingga bisa menjadi jaminan bagi para
petani untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi dengan
perawatan yang lebih mudah, ungkap Doddy.
Selain itu, kata Doddy, karakteristik tongkol yang dihasilkan BISI12 juga bisa menjadi jaminan tersendiri bagi para petani. Jagung
yang memiliki tagline hasil melimpah, petani sejahtera itu
memiliki karakter biji yang menancap dalam, ukuran janggelnya
juga kecil, sehingga randemen dan produksinya tinggi. (AT : Vol.
13 No. 1 Edisi XLIV, Januari - Maret 2012)

2. GIGIN MARDIANSYAH

Kehadiran seorang wirausaha muda bernama Gigin Mardiansyah


bisa disebut tergolong unik pada tataran usaha di Indonesia.
Ketika masih berstatus mahasiswa di Institut Pertanian Bogor,
alur pendidikannya jelas tidak terlepas dari manajerial pertanian,
peternakan
dan
perkebunan.
Namun siapa menyangka jika saat ini disiplin ilmu tersebut
ditanggalkannya untuk berkonsentrasi menjalankan bisnis
industri boneka di bawah bendera usaha Rumah Boneka Horta.
Horta adalah singkatan dari Holtikultura, sesuai program studi
holrikultura yang diambil Gigin.

Aktivitas Gigin menjadi intensif di kewirausahaan diawali ketika


dia bersama enam mahasiswa IPB lainnya sebagai kerabat
dekatnya, mengikuti kontestan lomba kewirausahaan. Dan Gigin
bersama rekannya menemukan ide untuk menciptakan boneka
berdasarkan kreativitas salah satu dosen.
Boneka yang diciptakan bukan sekedar boneka biasa, karena dia
dan rekannya mampu menjadikan mainan tersebut sebagai alat
edukasi untuk anak-anak. Karena sasarannya anak-anak, maka
yang diciptakan adalah boneka-boneka hewan.
Awalnya, boneka-boneka dilengkapi secara unik oleh tanaman
padi-padian di atas kepalanya, apabila boneka direncam di dalam
air. Sebab, di kepala boneka sudah dilengkapi bibit tumbuhan.
Akan tetapi, modifikasi terhadap penampilan boneka terus
disempurnakan,
sehingga
fokusnya
lebih
ke
boneka
konvensional.
Target dari penciptaan boneka itu tentus saja agar anak-anak
sejak dini bisa mengenal berbagai jenis hewan yang hidup di
Indonesia maupun hewan-hewan di manca negara. Selain boneka
hewan, kelompok itu juga menciptakan tokoh legenda seperti
dokter, guru serta tokoh yang menjadi popular di masyarakat.
Adapun bonekanya secara umum tidak terlalu besar, karena
tingginya mulai dari 5 cm-20 cm, kata Gigin Mardiansyah
menjelaskan kepada Bisnis. Seiring perjalanan waktu, ketujuh
mahasiswa yang mulai memiliki jiwa kewirausahaan kental
tersebut akhirnya berpisah setelah dimulai dari satu ajang lomba
pada 2004. Gigin lalu malanjutkan usahanya melalui bendera
Rumah Boneka Horta, dan dikembangkan secara profesional dan
komersial. Yang membuat produk Rumah Boneka mamu Horta
terus bertahan, karena bahan dasarnya memang berbeda
dibandingkan
dengan
produk
boneka
lainnya.
Gigin
mengutamakan bahan baku serbuk gergaji yang dimasukkan ke
dalam stoking serta dibentuk sesuai dengan model yang
diinginkan.
Pembentukan
model
atau
karakteristik
boneka
hewan
dilaksanakan dengan bantuan benang yang diikat dan dijahit.

Sampai saat ini, menurut pengakuan Gigin, produksi Rumah


Boneka Horta terus meningkat, sehingga makin optimistis bisa
dikembangkan lagi.
Sebelumnya pemasaran kami lakukan terbatas pada dunia
pendidikan saja. Namun, karena respons masyarakat secara
umum juga besar, saya lalu membuka pasar lebih luas sekaligus
meningkatkan produksi, papar ayah dari seorang anak ini.
Kapasitasnya saat ini bisa mencapai 10.000 hingga 15.000
boneka per bulan, atau sekitar 1.000 setiap hari. Jika permintaan
menurun, minimal produksi yang dipertahankan sekitar 10.000.
Apabila order meningkat, jumlahnya bisa mencapai 18.000
boneka per bulan.
Dari ajang lomba wajib tersebut tingkat almamater tersebut,
Gigin akhirnya menjadikannya sebagai tumpuan utama, dan
saat ini setidaknya dia berhasil merekrut sekitar 30 tenaga kerja
profesional sebagai pendukung roda bisnisnya yang kian
berkembang.
Tenaga kerja atau perajin yang direkrut merupakan tenaga
istimewa, karena mayoritas adalah kaum ibu-ibu yang
sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Gigin berhasil
mengoptimalkan kemampuan mereka menjadi tenaga trampil
yang ke depan berpotensi menjadi wirausaha. Meski kategori
usahanya home industry, namun kemampan produksinya tidak
meragukan, karena pasokan lebih dominan ke distributor
ketimbang di pasarkan secara ritel. Kondisi itu akhirnya
menempatkan tenaga kerja menjadi lebih piawai.Meski dari tujuh
kerabat saat ini sudah berpencar, namun Gigin memantapkan
diri menjadikan Bogor sebagai base usahanya. Tepatnya di
kawasan Kampus IPB Darmaga, sedangkan mitranya sudah ada
yang membuka bisnis sama di Bandung dan kota-kota lainnya.
Menurut dia, secara konsep produksi, dia maupun rekanrekannya tetap menganut prinsip yang sama. Hanya saja
dipastikan berbeda konsep manajemen, terutama untuk
mengembangkan pasar sebagai target akhir dari setiap
poroduksi.
Itu sebabnya, ketika Gigin menyelesaikan studinya di IPB pada
2007, konsentrasinya tidak terpecah untuk tetap meneruskan

bisnisnya di sektor boneka. Disiplin ilmu boleh berbeda, akan


tetapi tuntutan jiwa kewirausahaannya lebih kental menjadikan
dia
sebagai
pengusaha
potensial.
Sukses membangun bisnis boneka, tidak membuat kreativitas
Gigin terkubur. Ayah dari seorang putra yang baru berusia 10
bulan ini, ternyata sangat inovatif untuk mengejar asanya. Gigin
pada 2007, atau selepas dari pendidikan kampus, membangun
usaha
lain
di
bidang
lembaga
keuangan
mikro.
Bisnis tersebut adalah lembaga keuangan mikro (LKM) berbasis
koperasi serta didirikan dengan modal awal Rp2 juta. Secara
khusus melayani keperluan pelaku usaha mikro dan kecil di
sekitar kawasan Kampus IPB Darmaga Bogor.
Namun dari bisnis keuangan ini ternyata dia mampu meraup
sukses lain yang sebenarnya tidak pernah dibayangkan Gigin,
sama halnya ketika dia memulai bisnis boneka horta melalui
kompetisi
kewirausahaan
di
internal
IPB.
Saat ini LKM El Uma, nama yang kami pilih, memiliki omzet Rp2
miliar lebih. Saya tidak mempunyai basic keuangan, akan tetapi
melalui paket learning by doing, bisnis di sektor keuangan
memberi keberhasilan seperti saat ini, papar Gigin yang bangga
atas kesuksesannya.
Dengan keberhasilan dari sektor jasa keuangan mikro, Gigin
mampu meningkatkan pendapatan pundi-pundinya. Sebab, dari
produksi Rumah Boneka Horta saja, omzetnya per bulan secara
rata-rata antara Rp80 jutaRp100 juta.
Angka yang sangat fantastis bagi penghasilan seorang wirausaha
muda yang secara inovatif mengembangkan dua sektor bisnis
berbeda sekaligus. Meski demikian, kesuksesan tidak membuat
Gigin
menjadi
tinggi
hati.
Penampilan dan tutur bahasanya tetap seperti seorang terdidik,
namun dibalik dari kesederhanaan itu tersimpan potensi besar
untuk menjadikan kelompok usahanya terus bergeliat. Apalagi
usianya masih tergolong sangat muda, sehingga potensi menjadi
pelaku usaha mapan terbayang jelas.

3 Orang Tokoh Wirausahawan Budidaya Tanaman


Perkebunan
1. AKP DRG. LEGAWA HAMIJAYA
Menekuni usaha agrobisnis memang tidak memandang latar
belakang profesi, pendidikan maupun usia sang pelaku usaha.
Berbekal pengalamannya di masa kecil dan kejeliannya dalam
mengamati kebutuhan pasar, seorang AKP drg Legawa Hamijaya
mulai tertarik menggeluti dunia agrobisnis sebagai peluang
bisnis sampingan yang dijalankannya di sela-sela tugas
utamanya menjadi seorang dokter gigi.
Meskipun saat itu Ia telah memiliki posisi yang cukup nyaman
yaitu sebagai dokter polisi di Provinsi Lampung dan membuka
praktek dokter gigi di kediamannya, namun lelaki kelahiran
Yogyakarta 7 Januari 1975 ini masih belum puas dengan
kesuksesan yang dicapainya. Naluri bisnis yang Ia miliki sejak
kecil ternyata tidak bisa dibendung lagi dan Ia pun mulai
menyewa lahan disekitarnya untuk membudidayakan aneka
macam tanaman sayur yang cukup potensial di daerah Lampung.
Seperti misalnya caisim, pakcoy, serta cabe yang kemudian
terpaksa ditinggalkannya karena waktu luang yang Ia miliki tidak
cukup untuk menangani tanaman tersebut secara intensif.

Kegagalannya dalam menjalankan bisnis budidaya sayur ternyata


tidak membuat suami dari dr.Retno Anmi ini menyerah pada
keadaan. Setelah mengevaluasi kegagalan bisnisnya yang
terdahulu, Ia mulai beralih memilih tanaman tahunan seperti
buah-buahan yang tidak membutuhkan perawatan ekstra dalam
membudidayakannya.
Serius Menekuni Budidaya Durian

Berbekal uang tabungan dari hasil membuka praktek dokter, di


awal tahun 2001 Legowo memutuskan untuk membeli kebun
seluas 10 hektar di kawasan Sukadanaham, Provinsi Lampung.
Kebun tersebut ditanami pohon kakao seluas 6 ha, pohon durian
seluas 2 ha, dan sisanya 2 ha ditanami berbagai macam

komoditas potensial seperti alpukat, kelapa, cengkeh, petai,


singkong, dan tanaman lainnya yang bersifat musiman.
Melihat kemajuan bisnisnya yang semakin hari semakin pesat,
alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada ini
mulai serius mengembangkan kebun miliknya pada tahun 2003.
Ia sengaja mempekerjakan dua karyawan dan memutuskan
untuk lebih fokus membudidayakan aneka jenis durian lokal
(seperti jenis siawi, sikoneng, siorens, dan silodong) untuk
mendatangkan untung yang lebih besar.
Bermodalkan 160 pohon durian yang ada dikebunnya, Legowo
membangun kios di depan rumah dan mempersilahkan para
konsumen untuk berkunjung langsung ke kebun duriannya guna
memilih buah yang akan mereka beli. Strategi ini ternyata cukup
efektif untuk menarik minat konsumen, sehingga kebun
duriannya selalu ramai dikunjungi pecinta raja buah dan omset
puluhan juta rupiah pun berhasil dikantongi bapak dua putra ini.
Keseriusan dokter gigi ini dalam mengembangkan kebun durian
memang tidak perlu diragukan lagi, untuk meningkatkan
pengetahuan serta pengalamannya dalam mengembangkan
bisnis durian, Ia bahkan sengaja mengikuti berbagai macam
pelatihan budidaya durian serta beberapa kali mengikuti
kegiatan studi banding hingga ke negara Thailand untuk
meningkatkan kualitas produk duriannya. Ketekunan, kejelian,
serta kecintaannya pada sektor agrobisnis, menjadi modal utama
bagi AKP drg Legawa Hamijaya dalam mencapai puncak
suksesnya.
Semoga kisah sukses pengusaha agrobisnis yang mengulas
tentang budidaya durian mengantarkan dokter polisi jadi jutawan
ini bisa memberikan inspirasi baru bagi masyarakat luas untuk
segera memulai usaha. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari
yang mudah, mulailah dari sekarang. Salam sukses.
2. AHMAD SASMITA
Ahmad Sasmita 36 th adalah petani pepaya calina di Desa
Cibeuteung Muara, Kecamatan Ciseeng, Kab. Bogor mengatakan
bahwa buah pepaya IPB 9 ini agak besar dan punya rasa yang

manis. Beliau menanam pepaya jenis ini mulai Juni 2011, dan
hingga sekarang telah panen 16 kali dengan hasil 1,2 ton dari
112 pohon yang ia tanam. Saat ini ia punya 500 pohon pepaya
Calina.
Para pedagang pun berdatangan ke kebun pepaya Ahmad
Sasmita, ada juga pedagang buah dari Pasar Induk Kramat Jati,
Jakarta. Mengenai pasarnya, ia tak bingung, karena pedagang
dari Kramat Jati tersebut memasok buah pepaya untuk super
market carrefour dan meminta 8 kuintal pepaya dalam tiap
minggunya dengan harga Rp 3.500/kg.
Prof. Dr. Ir Sriani Sujiprihati yang membudidayakan pepaya
unggul IPB-9 menyatakan bahwa ia sudah melakukan penelitian
papaya calina ini sejak tahun 2001. Pepaya ini telah melalui uji
pasar, pelepasan varietas dan diseminasi kepada beberapa
petani di berbagai wilayah. Untuk respon pasar, papaya calina ini
sangat diminati konsumen, hasil produktivitasnya sangat tinggi
dan harga juga bagus, tutur Prof Sriani di Kebun Buah milik Pusat
Kajian Buah-buahan Tropika IPB di Tajur, Bogor.
Pemenang Rusnas Award tahun 2004 dan Dosen Berprestasi
Tingkat Nasional 2006 itu telah membuktikan bahwa buah
Indonesia punya kualitas unggul. Kita punya prinsip bahwa buah
Indonesia tak kalah dengan buah impor. Buah dengan label
Indonesia yakni pepaya Calina, toh laku di pasaran dan
berkualitas, tuturnya.
Beliau juga mengatakan bahwa pepaya Calina dapat ditanam
dengan populasi 1.000 1.500 pohon/ ha. Di usia tanam 4 bulan,
pepaya ini sudah berbunga, dan pada usia tanaman 7 sampai 8
bulan buahnya sudah dapat dipanen. Hingga umur 2 tahun,
pohon pepaya Calina tetap berbuah. Tinggi pohon papaya calina
pada umur 2 tahun masih dapat dijangkau tangan manusia. Jadi
untuk panennya masih dapat dipetik dengan tangan. Jika
populasi tanaman 1.500 pohon per ha, maka usaha tani ini bisa
menghasilkan keuntungan Rp 82,5 juta, hanya dalam sekali awal
masa panen.

3. RIZAL PAHLAWI

Raup Rp 30 Juta Per Minggu dari Pepaya Calina


Tanah tandus tak membuat Rizal Pahlawi kehilangan akal untuk
menanaminya demi mengeruk rupiah. Tanah kritis yang berada
di Perbukitan Bentar, Desa Tamansari, Kecamatan Dringu,
Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dia sulap menjadi kebun
papaya.
Rizal tengah merawat pepaya calina. Dari pepaya ini, Rizal
mengaku bisa meraup keuntungan puluhan juta tiap pekan
Warga Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, itu membudidaya
pepaya jenis calina. Ia pun memetik hasilnya kini. Dalam
seminggu, ia mengaku meraup keuntungan hingga puluhan juta
rupiah.
Dengan menggandeng PT Bentar Makmur, Rizal (45) berhasil
membudidaya pepaya seluas 8 hektar di lahan kritis. Ilmu yang
dimilikinya dari disiplin ilmu pertanian juga ikut andil dalam
kesuksesannya memanfaatkan tanah marginal yang tidak
produktif menjadi tanah produktif. Walau ditanam di tanah
gersang, namun pepaya jenis ini memiliki rasa manis dan nikmat.

Keunggulan dari pepaya calina, rasanya lebih manis jika


dibandingkan dengan pepaya lain, ujarnya di lokasi budidaya
pepaya calina, Selasa (22/05/2012).
Dari hasil membudidaya pepaya calina, bapak beranak tiga ini
meraup puluhan juta rupiah dalam sekali panennya. Hal itu
didasarkan dengan 10.000 pohon pepaya yang dimilikinya,
dalam seminggu ia memanen sebanyak satu kilogram pepaya
matang per pohon. Dari jumlah pohon sebanyak itu, ia
menghasilkan 10 ton pepaya segar. Dengan harga Rp 4.0006.000 per kilogram, keuntungan yang dapat dikantonginya
terbilang besar, berkisar Rp 40 juta. Dengan dipotong 10 persen
untuk biaya operasional, Rizal mampu meraup keuntungan
hingga Rp 30 juta per minggu.
Menurut Rizal, pepaya jenis calina harganya stabil dan mampu
berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim. Selain rasanya
manis, tinggi pohonnya hanya berkisar 1,5 meter. Kelebihan
lainnya adalah tanaman ini mudah perawatannya dan tidak
membutuhkan banyak air. Untuk pengolahan sistem pengairan,
ia menggunakan sumur artesis.