Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

PENDAPATAN PEDAGANG SEMBAKO DI PASAR


BATUPHAT BARAT
Penelitian ini dilatar belakangi penurunan pendapatan para pedagang sembako di
Pasar Batuphat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh parsial maupun
simultan modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan terhadap pendapatan.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dan angket
digunakan sebagai alat pengumpul data. Analisis data yang digunakan adalah regresi
linier berganda. Penelitian ini, merupakan penelitian sensus dengan ukuran populasi 44
pedagang sembako.
Hasil

penelitian

menunjukkan

bahwa

secara

parsial

maupun

simultan

modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan berpengaruh positif signifikan terhadap


pendapatan. Melalui koefisien determinasi (R2 ), diketahui bahwa ketiga variabel bebas
tersebut mempengaruhi

atau

memberikan

naik turunnya pendapatan pedagang sembako.

PENDAHULUAN

kontribusi

sebesar

84,25%

terhadap

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga memiliki peran penting dalam
menunjang perekonomian nasional. Hal ini dapat kita lihat pada saat krisis ekonomi
global yang terjadi pada tahun 2008. Banyak negara-negara maju mendapatkan imbas
yang cukup besar dan menyebabkan banyak perusahaan mengalami kebangkrutan.
Namun Indonesia tidak mendapatkan imbas yang begitu besar, dikarenakan Indonesia
mempunyai pengalaman dalam menghadapi krisis ekonomi tahun 1997 dan sektor
pada saat itu, Sektor UMKM mampu bertahan

sebagai kekuatan perekonomian

Indonesia. Keberadaan usaha kecil harus tetap dipertahankan dan dikembangkan agar
dapat terus berperan dalam meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat terutama
masyarakat pedesaan. Hal tersebut diperjelas oleh Mudrajad Kuncoro (2007 : 363),
bahwa:
Usaha kecil akan menimbulkan dampak positif terhadap peningkatan jumlah
angkatan kerja, pengangguran, jumlah kemiskinan, pemerataan dalam distribusi
pendapatan dan pembangunan ekonomi pedesaan. Jelas bahwa usaha kecil perlu
dikembangkan dan mendapat perhatian karena tidak hanya memberikan penghasilan
bagi sebagian besar angkatan

kerja

Indonesia,

tetapi

juga

merupakan

ujung

tombak dalam upaya pengentasan kemiskinan.


Dari pernyataan di atas, tidak dapat dipungkiri bahwa usaha kecil di Indonesia
memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada
akhirnya akan meningkatkan
sekali

UMKM

dan

memperlancar

perekonomian

negara.

Banyak

yang berpotensi untuk diangkat dan digali menjadi salah satu

bidang usaha yang menghasilkan keuntungan dan income keluarga sekaligus dapat
menyerap

tenaga

kerja.

Salah

satunya adalah usaha yang bergerak di bidang

perdagangan seperti Pedagang Sembako yang berada di Pasar Batuphat Kecamatan


Muara Satu.
Bahkan banyak juga masyarakat diluar Kecamatan muara satu yang berbelanja ke
Pasar Batuphat karena merasa pasar tersebut lebih lengkap dibanding pasar lain.
Adanya pembagian lokasi pada Pasar Batuphat ini yang terdiri dari bangunan permanen
(kios). Kios atau toko dibedakan dalam beberapa kelas mulai dari blok A sampai H
tergantung

dari letak kios tersebut. Jumlah

pedagang

yang terdapat

di pasar

pananjung hingga saat ini berjumlah 649 kios dan diantaranya ada pedagang sembako
yang berjumlah 44 orang dan sisanya terdiri dari pedagang Pakaian, Sepatu, Sayuran,
buah-buahan, toko besi, toko emas, gerabah dan masih banyak lagi Pedagang- pedagang
lain yang berjualan dengan produk yang berbeda.

Usaha berdagang sembako merupakan usaha yang cukup mendatangkan


keuntungan mengingat usaha ini menjual berbagai kebutuhan sehari-hari. Sembako
adalah singkatan dari sembilan bahan pokok yang terdiri dari sembilan jenis kebutuhan
pokok masyarakat. Adapun kesembilan

bahan

kebutuhan

pokok

sesuai

dengan

keputusan Menteri Industri dan Perdagangan No. 115/MPP/KEP/2/1998 tanggal 27


Februari 1998 adalah

beras, jagung, telur ayam, daging sapi dan ayam,susu, gula

pasir, garam yang mengadung yodium, minyak goreng dan margarin, minyak tanah dan
gas elpiji. Pendapatan pedagang sembako di Pasar Batuphat berfluktustif dan beberapa
mengalami penurunan, seperti pada tabel berikut:

Tabel 1
Perkembangan Pendapatan Pedagang Sembako di Pasar Batuphat Kecamatan
Muara Satu Periode Agustus 2011 - Januari 2012 (dalam ribu rupiah)
Bulan

Rata-rata Pendapatan

Persentase (%)

Agustus

88.350

September

79.020

-10,56%

Oktober

76.500

-3,18%

November

77.728

1,60%

Desember

80.640

3,74%

Januari

75.430

-6,46%

Sumber: Data Hasil Pra Penelitian, diolah

Tabel 1 menunjukkan perkembangan pendapatan yang naik turun. Meskipun


perkembangan yang berfluktuatif itu sudah biasa terjadi dalam sebuah usaha, namun
dalam hal ini berfluktuatifnya pendapatan pedagang sembako lebih cenderung pada
penurunan pendapatan walaupun beberapa bulan pada periode tersebut mengalami
kenaikan yaitu pada bulan November sebesar 1,6% dan pada bulan Desember naik
kembali sebesar 3,74%. Akan tetapi kenaikan tersebut tidak begitu besar. Sedangkan
penurunan pendapatan lebih sering terjadi yaitu pada bulan September, Oktober
dan Januari. Penurunan terbesar pun dialami pada bulan September yaitu sebesar
10,56%. Adanya penurunan pendapatan menunjukkan bahwa perkembangan usaha
sedang tidak baik. Jika penurunan pendapatan terus saja dibiarkan maka akan
menimbulkan kelesuan pada usahanya karena tidak dapat berkembang dan akhirnya
berdampak pada kesejahteraan pedagang itu sendri sebagai masayarakat.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, Mengetahui pendapatan
pedagang, modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan pedagang sembako. Kedua,
mengetahui pengaruh parsial dan simultan modal, perilaku kewirausahaan dan
persaingan terhadap pendapatan pedagang sembako. Dari pelitian ini secara empiris
diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi para pedagang sembako mengenai
cara-cara untuk meningkatkan pendapatannya dan secara teoritis, penelitian ini
diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
pendapatan pedagang khususnya pedagang sembako di pasar.
Pengaruh

modal kerja, perilaku

kewirauahaan,

dan persaingan

terhadap

pendapatan dilandasi oleh pendapat Schumpeter ( Suryana, (2006), Case and Fair
(2007) dan Puji Astuti (2005).

Schumpeter

( Suryana, 2006 : 168), yang

menyatakan bahwa Keuntungan atau pendapatan bisa tercipta dari penemuan yang
dilakukan para wirausaha. Penemuan dari para wirausaha dapat menciptakan
keuntungan melalui penemuan cara-cara baru dalam memberi pelayanan terbaik kepada
pelanggan Case and Fair (2007) dan Puji Astuti (200) menyatakan tentang faktorfaktor yang mempengaruhi pendapatan yaitu kesempatan kerja yang tersedia,
kecakapan

dan keahlian,

keuletan

dipergunakan.Pada penelitian
menyatakan bahwa

bekerja,

sebelumnya,

banyak

Fitra

Dila

sedikitnya
Lestari

modal

yang

(2011)

yang

perilaku kewirausahaan dan persaingan berpengaruh secara

signifikan terhadap pendapatan pedagang baju pantai, RM seafood, pedagang ikan asin
2

dan pedagang souvenir; penelitian Sri Haryani (2010). Menyatakan bahwa harga jual
tidak signifikan

sedangkan

diferensiasi

produk dan lingkungan persaingan

berpengaruh signifikan terhadap pendapatan ; Hail penelitian Asmie Poniwatie (2008)


menyatakan bahwa tenaga kerja, modal usaha dan lama usaha berpengaruh signifikan
terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di DI Yogjakarta. Berdasar pada
pendapat Schumpeter (2006), Case and Fair (2007), dan Puji Astuti (2005), penelitian
sebelumnya, dan kondisi Pasar
difokuskan

Pananjung,

maka

dalam

penelitian

ini

pada pengaruh modal, perilaku kewirausaha, persaingan terhadap

pendapatan pedagang.
Dalam hal ini pendapatan yang dimaksud adalah total penerimaan.
Total penerimaan

adalah jumlah

total yang diterima

oleh perusahaan

dari

penjualan produknya. Oleh karena itu, total penerimaan sama dengan harga per
unit (P) dikali kuantitas barang yang terjual (Q). Jika ditulis dalam rumus adalah
seperti ini: TR = P x Q. (Case and Fair,
2007 : 205), dengan demikian pendapatan adalah perolehan hasil penjualan yang
belum dikurangi dengan harga pokok penjualan, biaya penjualan, biaya sewa dan
biaya lainnya. definisi modal adalah Modal adalah barang yang diproduksi oleh
sistem ekonomi yang

digunakan sebagai input untuk memproduksi barang dan jasa di masa depan serta tidak hanya
terbatas pada uang atau asset keuangan seperti obligasi dan saham, tetapi barang-barang fisik
seperti pabrik, peralatan, persediaan dan asset tidak berwujud. . ( Case and Fair, 2007 : 317);
perilaku kewirausahaan tunjukkan oleh 1) hasrat akan tanggung jawab yaitu memiliki rasa
tanggung jawab pribadi terhadap usaha yang dilakukannya serta bertanggung jawab atas
kepuasan konsumen. 2) lebih menyukai risiko menengah. Para wirausaha bukanlah orang
yang mengambil resiko dengan membabi buta, melainkan orang yang mengambil risiko yang
diperhitungkan. 3) meyakini kemampuannya untuk sukses. Para wirausaha percaya pada
kemampuan diri sendiri dan cenderung optimis terhadap peluang kesuksesan.4) hasrat untuk
mendapatkan umpan balik yang sifatnya segera. Wirausaha menyukai tantangan dalam
menjalankan perusahaan dan terus menerus mencari umpan balik.5)tingkat energi yang
tinggi. Wirausaha memiliki semangat dan kerja keras untuk membangun usahanya serta
mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik. 6)orientasi masa depan.
Wirausaha memiliki perspektif dan memiliki pandangan jauh ke depan serta memiliki
kemampuan mencari peluang. 7)keterampilan mengorganisasi yaitu memiliki keterampilan
dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah. 8)menilai prestasi
lebih tinggi daripada uang. Prestasi tampak sebagai motivasi utama para wirausahawan dan
uang hanyalah cara sederhana untuk menghitung pencapaian tujuan atau simbol prestasi.
(Zimmerer (2008 : 7). Adapun persaingan yang terjadi di Pasar Pananjung adalah Persaingan
pada struktur pasar monopolistic competition, yang ditandai dengan 1) terdapat banyak
penjual, 2) keluar dan masuk ke dalam pasar atau industri relatif mudah dan 3) barangnya
berbeda corak.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibuat model kerangka pemikiran sebagai
berikut:
Modal
(X1)

Perilaku
Kewirausahaan
(X2)

Pendapatan
(Y)

Persaingan
(X3)

Gambar 1 Kerangka Pemikiran


Hipotesis
Adapun hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif
secara parsial dan simultan modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan terhadap
pendapatan.
METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik.
Penelitain ini merupakan penelitian populasi (sensus) terhadap 44 pedagang sembako Pasar
Pananjung Kecamatan Pangandaran yang berjumlah 44 orang yang sudah memiliki toko atau
tempat usaha yang tetap tidak berpindah- pindah. Sumber data dalam penelitian ini yaitu
berasal dari data yang langsung diperoleh dari pedagang sembako di Pasar Pananjung sebagai
responden melalui kuisioner atau angket. uji validitas ini digunakan teknik korelasi Product
Moment. uji reliabilitas, dengan menggunakan rumus alpha. Dalam penelitian ini,
method). Dalam penelitian ini, analisis data akan menggunakan analisis regresi linier
berganda (multiple linear regression method). Tujuannya untuk mengetahui variabel-variabel
yang dapat mempengaruhi pendapatan. Alat bantu analisis yang digunakan yaitu dengan
menggunakan program komputer Econometric Views (EViews) versi 7.0. Uji yang dilakukan
meliputi uji asumsi klasik (multikoliniearity, heteroscedasticity, auto korelasi) dan uji
hipotesis satu pihak (one tail) uji t untuk pengujian hipotesis parsial dan uji F ntuk pengujian
hipotesis secara simultan.
HASIL PENEITIAN
Hasil penelitian terhadap 44 pedagang sembako Pasar Pananjung Pangandaran,
meliputi pendapatan yang diperoleh perbulan rata-rata selama 3 bulan, moda yang telah
digunakan selama 3 bulan, perilaku kewirausahaan pedagang dan persaingan yang terjadi
diantara pedagang sembako di Pasar Pananjung. Berdasarkan penelitian pendapatan pedagang
sembako berkisar pada Rp15.000.000,00 sampai dengan Rp149.000.000,00 perbulan., secara
lebih lengkap hal ini dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 2
Klasifikasi Rata-rata Pendapatan Perbulan Dalam Rentang Waktu Tiga Bulan
Pendapatan
F
%
15.000.000-59.000.000
25
56,82
(Rendah)
60.000.000-104.000.000
13
29,55
(Sedang)
105.000.000-149.000.000
6
13,63
(Tinggi)
Total
44
100
Sumber: Data Hasil Penelitian (Diolah)
25
20
15

Klasifikasi Pendapatan
Responden

10
5
0
Rendah

g
Sedang

Tinggi

Gambar 2

Klasifikasi Rata-rata Pendapatan Perbulan Responden

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pendapatan
antara Rp. 15.0000.000,00-59.000.000,00 sebanyak 25 orang atau sekitar 56,82%
dikategorikan ke dalam pendapatan rendah. Kemudian responden yang berpendapatan
menengah sebanyak 13 orang atau sekitar 29,55% dan yang berpendapatan tinggi sebanyak 6
orang atau sekitar 13,63%.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata modal perbulan dalam rentang
waktu tiga bulan yang terendah yaitu sebesar Rp. 37.000.000,00 dan modal tertinggi atau
terbesar yaitu sebesar Rp. 253.200.000,00. Pada penelitian ini modal diklasifikasikan dalam
tiga kriteria atau kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi dengan rentang Rp. 72.000.000,00
yang diperoleh dari hasil perhitungan modal terbesar modal terkecil / banyaknya kelas
interval atau (253.000.000,00 37.000.000,00)/3. Untuk lebih jelasnya klasifikasi rata-rata
modal perbulan yang dimiliki oleh pedagang sembako di Pasar Pananjung dapat dilihat pada
tabel 3 di bawah ini:

Tabel 3
Klasifikasi Rata-rata Modal Perbulan Dalam Rentang Waktu Tiga Bulan
Modal
F
%
37.000.000-109.000.000
28
63,64
(Rendah)
110.000.00010
22,73
182.000.000
(Sedang)
183.000.0006
13,63
255.000.000
(Tinggi)
Total
44
100
Sumber: Data Hasil Penelitian (Diolah)
30
20
Klasifikasi Modal
Responden

10
0
Rendah
a

Tinggi

Sedang

Gambar 3
Klasifikasi Rata-rata Modal Perbulan Responden

Modal usaha yang dimiliki pedagang sembako seperti terlihat pada tabel 4.10 di atas
diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu modal dengan kategori rendah berkisar Rp.
37.000.000,00-109.000.000,00, modal dengan kategori sedang berkisar Rp. 110.000.000,00182.000.000,00 dan modal dengan kategori tinggi berkisar Rp. 183.000.000,00255.000.000,00. Pada tabel 4.10 di atas dapat terlihat bahwa pedagang yang memiliki modal
yang tergolong rendah sebanyak 28 orang (63,64%). Sedangkan yang tergolong memiliki
modal sedang sebanyak 10 orang (22,73%) dan yang memiliki modal tinggi sebanyak 6 orang
(13,63%). Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pedagang sembako di Pasar
Pananjung memiliki modal yang rendah atau termasuk ke dalam kategori pedagang dengan
modal rendah.
Perilaku kewirausahaan diindikasi dengan tingkat kreatifitas, inovasi, hasrat untuk
bertanggung jawab, respon terhadap resiko, menyakini kesuksesan, tingkat energi dan tingkat
orientasi masa depan. Dari tujuh indikator perilaku tersebut, dari hasil penelitian, pedagang
memiliki skor yang relatif tinggi berturut-turut pada hasrat akan tanggung jawab, keyakinan
untuk kesuksesan, dan energy yang tinggi. Hasrat akan tanggung jawab ditunjukkan dengan
selalu datang ke toko dan melayani pembeli secara langsung, tidak memberi wewenang
kepada karyawan untuk mengelola usaha dan menanggapi keluhan pembeli dengan baik.
Energi yang tinggi ditunjukkan dengan rutin membuka toko sebelum jam 06.30, rajin dan
gesit dalam melayani pembeli. Sebaliknya, pedagang mendapatkan skor yang relatif rendah
pada inovasi dan orientasi masa depan. Inovasi yang dimaksud adalah usaha-usaha
pengembangan metode penjualan yang berbeda dari sebelumnya. Inovasi ini meliputi apakah
melayani delivery order, system belanja berkupon atau penyajian barang dagangan dalam
lemari pendingin. Selain itu, pedagang tidak melakukan upaya lain untuk menaikkan
oendapatannya pada masa yang akan datang dan tidak menyusun perencanaan penjualan agar
penjualan mengalami peningkatan.
Persaingan dalam hal ini diukur berdasarkan ciri-ciri pasar persaingan monopolistik
yaitu dilihat dari aspek jumlah pedagang (pedagang sebagai pesaing), produk yang dimiliki,
harga, hambatan masuk yang dialami pedagang dan promosi.Hasil penelitian yang diperoleh,
persaingan secara umum berada pada kategori sedang, persaingan di Pasar Pananjung banyak
disebabkan oleh kemudahan berdagang di pasar, atau hambatan masuk rendah; dan harga
produk yang sama dengan pedagang lain dan barang yang cebderung homogeny. Hal ini
disebabkan karena karakteristik barang yang diperjualbelikan adalah barang kebutuhan pokok
yang cenderung inelastic, maka harga cenderung sama dengan pedagang lain dan sering kali
diadakan operasi pasar untuk menghindari fluktuasi harga, dan kenaikan pendapatan hanya
dapat dinaikkan dengan menaikkan unit penjualan.
Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis parametrik dengan analisis regresi linier
berganda yang memiliki kegunaan untuk mengetahui derajat hubungan antara satu atau
beberapa variabel bebas dengan satu variabel terikat. Untuk perhitungan koefisisen regresi
berganda ini dilakukan dengan bantuan program Eviews 7.0 dan diperoleh hasil sebagai
berikut:
Tabel 4
Hasil Regresi
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 01/28/13 Time: 20:40

Sample: 1 44
Included observations: 44
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
X1
X2
X3

-1.703594
0.660424
1.273796
1.005052

1.361805
0.084497
0.299084
0.263141

-1.250982
7.815921
4.258993
3.819438

0.2182
0.0000
0.0001
0.0005

Sumber : Hasil Perhitungan Eviews 7.0

Berdasarkan hasil tabel 4.18 Di atas, maka model persamaan regresi linier berganda
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Y = -1,70359371355 + 0,66042421277 X1 + 1,27379643773 X2 + 1,00505162616 X3

Dari hasil persamaan regresi tersebut dapat diketahui sebagai berikut:


1. Konstanta persamaan regresi adalah -1,70359371355. Artinya ketika modal, perilaku
kewirausahaan dan persaingan tidak ada (0) maka pendapatan akan turun sebesar 1,70%.
2. Besarnya koefisien regresi variabel X1 (Modal) sebesar 0,66042421277. Artinya ketika
modal naik sebesar 1% maka pendapatan akan naik sebesar 0,66%.
3. Besarnya koefisien variabel X2 (Perilaku Kewirausahaan) sebesar 1,27379643773.
Artinya ketika perilaku kewirausahaan naik sebesar 1%, maka pendapatan akan naik
sebesar 1,27%.
Pengujian
Pengujian Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan sebagai prasyarat analisis data dengan menggunakan analisis
regresi rekapitulasi pengujian asumsi klasik adalah sebagai berikut :
Tabel 5
Rekapitulasi Uji Asumsi Klasik
Asumsi/Jenis Uji
Alat Uji
Hasil
Kesimpulan
Tidak terjadi multikolinearity
Multikolinearity
Korelasi
parsial r < 0,8
product moment
Prob < 0,05
Tidak terjadi heteroscedasticity
Heteroscedasticity Uji Park
Autocorelasi
Durbin Watson
DW = 1,877
Tidak ada autokorelasi
dL = 1,338
dU = 1,659
4-dU = 2,341
Sumber : pengolahan data 2012
Berdasarkan tabel 5 di atas, maka asumsi klasik terpenuhi, dengan demikian, pengunaan
analisis data dengan regresi berganda layak untuk digunakan.
Pengujian Hipotesis
Uji t merupakan pengujian hipotesis secara parsial, dalam hal ini ingin diketahui
apakah modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan berpengaruh secara parsial terhadap

pendapatan pedagang sembako di Pasar Pananjung Kec. Pangandaran. Uji t dilakukan dengan
kriteria sebagai berikut:
Tabel 6
Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Variabel
t hitung
t tabel
Keputusan
Keterangan
X1
7,815
1,684
H0 ditolak, Ha diterima
Signifikan
H0 ditolak, Ha diterima
X2
4,258
1,684
Signifikan
X3
3,819
1,684
H0 ditolak, Ha diterima
Signifikan
Sumber : Hasil Perhitungan Eviews 7.0
Dalam pengujian hipotesis melalui uji t ini, penulis menggunakan tingkat signifikasi 5 % atau
0,05 ( = 5 %) dengan degree of freedom (df) = n-k = 44 4 = 40. Dalam pengujian hipotesis
melalui uji t ini, penulis menggunakan tingkat signifikasi 5 % atau 0,05 ( = 5 %) dengan
degree of freedom (df) = n-k = 44 4 = 40. Dimana n adalah jumlah observasi dan k adalah
jumlah variabel bebas ditambah konstanta sehingga jumlahnya 4 (tiga variabel bebas +
konstanta). Maka dengan df = 40 dan = 5 % maka di diperoleh t tabel sebesar
1,684.Berdasarkan tabel 6 di atas, maka :
Secara parsial terdapat pengaruh modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan
terhadap pendapatan.

Pengujian Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F)


Uji F ini dilakukan untuk mengetahui secara simultan variabel bebas (X) terhadap
variabel terikat (Y), dengan bantuan program Eviews 7.0 diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 7
Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F)
F hitung
F tabel
Keputusan
Keterangan
71,32288
2,84
H0 ditolak, Ha
Berpengaruh secara
simultan
diterima
Sumber : Pengolahan Data eviews
Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai F hitung sebesar 71,32288 dan nilai F
tabel sebesar 2,84 dimana taraf signifikan = 5 %, dan derajat kebebasan (df) = 3, 40 (k-1 =
4-1=3 , n-k = 44-4 = 40). Hal tersebut menunjukkan bahwa F hitung > F tabel = 71,32288 >
2,84 maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga variabel bebas (modal, perilaku
kewirausahaan dan persaingan) secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat
(pendapatan) pedagang sembako di Pasar Pananjung Kec. Pangandaran.
PEMBAHASAN
Pada penelitian ini modal yang dimiliki oleh pedagang sembako dikategorikan rendah
yaitu berada antara Rp. 37.000.000,00 Rp. 109.000.000,00. Hal tersebut dapat dilihat dari
banyaknya pedagang yaitu sebanyak 28 orang pedagang atau sebesar 63,64 % dari 44 orang
pedagang yang memiliki modal antara Rp.37.000.000,00 Rp.109.000.000,00

Modal dalam penelitian ini terdiri dari modal tetap berupa bangunan toko, gudang,
kendaraan, etalase, mesin/alat timbangan dan lemari pendingin serta modal yang
perputarannya atau habis dalam waktu kurang dari satu tahun seperti uang kas dan persediaan
barang dagangan. Selain itu penelitian ini menunjukkan bahwa ketika modal yang dimiliki
pedagang sembako rendah maka pendapatan yang diperoleh pun rendah. Hal tersebut
semakin memperjelas bahwa modal dalam penelitian ini berpengaruh terhadap pendapatan
usaha pedagang sembako. Hal ini sesuai juga dengan hasil penelitian yang telah dilakukan
terhadap pedagang sembako di pasar Pananjung, bahwa perilaku kewirausahaan berpengaruh
signifikan dan memiliki hubungan positif terhadap pendapatan. Artinya ketika perilaku
kewirausahaan seorang pedagang meningkat atau tinggi maka pendapatannya pun akan
meningkat. Pada penelitian ini, perilaku kewirausahaan diukur berdasarkan ciri-ciri perilaku
kewirausahaan menurut Zimmerer yaitu kreativitas, inovasi, hasrat akan tanggung jawab,
lebih menyukai resiko menengah, meyakini kemampuannya untuk sukses, tingkat energi
yang tinggi dan orientasi masa depan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa perilaku
kewirausahaan yang dimiliki oleh pedagang sembako mayoritas berada pada kategori sedang.
Berdasarkan penelitian, dapat diketahui bahwa pedagang sembako bertanggung jawab
dalam menjalankan usahanya. Berdasarkan hasil penelitian juga didapati bahwa pedagang
sembako di pasar Pananjung belum sepenuhnya berorientasi pada masa depan. Alasan lain
yaitu adanya keyakinan yang tinggi yang dimiliki oleh pedagang sembako bahwa dia dapat
sukses dengan menjalankan usahanya pada saat ini . Sangat meyakini kemampuannya untuk
sukses akan membuat pedagang bertahan dalam keadaan apa pun. Pedagang tidak akan
mudah menyerah dalam menjalankan usahanya. Keyakinan untuk sukses dapat dilihat dari
pedagang sembako yang terus menjalankan usahanya ketika mengalami kerugian. Kerugian
yang dialami tidak lantas membuatnya patah semangat atau bermalas-malasan dalam
menjalankan usaha. Begitu pun ketika terjadi persaingan pedagang tidak merasa pesimis
justru pedagang terpacu untuk lebih unggul dari yang lain dan memenangkan persaingan
karena dia merasa sangat yakin atas kemampuannya untuk sukses. Hal tersebut tentunya baik
untuk meningkatkan pendapatan.
Memiliki tingkat energi yang tinggi juga merupakan salah satu alasan kenapa
persaingan berpengaruh positif terhadap pendapatan pedagang sembako di Pasar Pananjung.
Tingkat energi yang tinggi pada pedagang sembako dapat dilihat dari kebiasaan pedagang
yang membuka toko lebih pagi dibandingkan dengan pedagang lain atau pun menutup toko
malam hari di atas jam 18.00, kemudian tidak bermalas-malsan dalam menjalankan usaha dan
melayani pembeli dengan gesit dan cekatan. Membuka toko dengan jam kerja yang lebih
lama dibandingkan pesaing atau pedagang lain akan mendatangkan peluang lebih besar untuk
mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi. Tidak bermalas-malasan dalam menjalankan
usaha dan melayani pembeli dengan gesit dan cekatan akan menciptakan pelayanan yang baik
terhadap pembeli. Sehingga pembeli akan merasa nyaman berbelanja ditempat tersebut
meskipun ada pedagang lain yang tokonya jauh lebih besar. Pada akhirnya pendapatan dapat
meningkat meskipun adanya persaingan.
Penjelasan di atas merupakan alasan yang dilihat dari segi perilaku kewirausahaan
yang dimiliki pedagang sembako. Alasan kedua selain melihat dari perilaku kewirausahaan
yang dimiliki pedagang sembako juga dilihat dari promosi yang dilakukan pedagang untuk
meningkatkan penjualannya. Para pedagang sembako di Pasar Pananjung kebanyakan
melakukan promosi untuk menghadapi persaingan. Promosi yang dilakukan adalah dengan
memberikan potongan harga kepada konsumen yang membeli barang dalam jumlah yang
banyak. variabel modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan signifikan dan berpengaruh
secara positif terhadap pendapatan pedagang sembako di Pasar Pananjung Kecamatan
Pangandaran. Dengan kata lain ketika modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan
semakin tinggi maka pendapatan pun akan semakin tinggi, begitupun sebaliknya ketika

modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan semakin rendah maka pendapatan yang
diperoleh pun akan rendah. Hasil penelilitian juga menunjukkan bahwa besarnya pengaruh
variabel bebas (X1, X2, dan X3) terhadap variabel terikat (Y) yaitu sebesar 84,25%. Artinya
pendapatan dipengaruhi oleh modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan secara bersamasama sebesar 84,25% dan sisanya sebesar 15,75% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak
dikaji dalam penelitian ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengaruh ketiga variabel bebas
yaitu modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan memiliki pengaruh yang besar terhadap
naik turunnya pendapatan pedagang sembako di Pasar Pananjung.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis dapat menarik
kesimpulan tentang pengaruh modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan terhadap
pendapatan usaha melalui suatu kasus pada pedagang sembako di pasar Pananjung
Kecamatan Pangandaran. Adapun kesimpulannya sebagai berikut:
1. Modal, perilaku kewirausahaan dan persaingan secara bersama-sama (simultan)
berpengaruh terhadap pendapatan pedagang sembako di Pasar Pananjung.
2. Modal berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap pendapatan usaha pedagang
sembako di Pasar Pananjung Kecamatan Pangandaran. Artinya semakin besar atau
meningkatnya modal yang dimiliki maka pendapatan yang diperoleh akan semakin
meningkat dan sebaliknya jika modal yang dimiliki kecil atau mnurun maka pendapatan
yang diperoleh pun akan menurun.
3. Perilaku kewirausahaan berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap pendapatan
usaha pedagang sembako di Pasar pananjung Kecamatan Pangandaran. Artinya ketika
perilaku kewirausahaan yang dimiliki pedagang semakin meningkat maka pendapatan
akan meningkat dan begitu pun sebaliknya.
4. Persaingan berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap pendapatan. Artinya
semakin ketatnya persaingan akan membuat pedagang semakin terpacu untuk lebih
unggul dari yang lain sehingga pendapatan semakin meningkat dan begitu pun
sebaliknya.
Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis uraikan diantaranya sebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan pendapatan maka para pedagang harus meningkatkan modalnya
terutama modal lancar, yaitu uang kas dan persediaan barang dagangan yang habis dalam
satu kali putaran produksi atau kurang dari satu tahun. Modal dalam sebuah usaha baik itu
modal yang terdiri dari modal lancar dan tetap haruslah tetap ada dan bahkan meningkat
agar pedagang sembako mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi.
2. Pedagang haruslah meningkatkan perilaku kewirausahaannya dengan cara memperluas
wawasan dengan mencari informasi dari berbagai sumber baik dari buku, televisi, internet
atau sumber-sumber lainnya serta apabila ada kesempatan para pedagang diharapkan
dapat mengikuti berbagai pelatihan yang berhubungan dengan dunia usaha guna
memperluas wawasan. Dengan meningkatnya perilaku kewirausahaan akan tercipta
inovasi-inovasi dan kreatifitas yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan. Serta
pedagang akan cepat tanggap dalam menghadapi kondisi lingkungan usaha yang selalu
berubah setiap saat.

3. Sebagai upaya untuk menghadapi persaingan antar pedagang yang semakin ketat, maka
para pedagang harus lebih memotivasi diri sendiri untuk terus terpacu lagi untuk lebih
unggul dari pedagang lain dalam segala hal. Pedagang haruslah menerapkan strategi
persaingan yang tepat agar dapat bertahan dalam menghadapi persaingan dan
memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.
4. Untuk mendukung peningkatan wawasan atau pengetahuan para pedagang tentang dunia
usaha, sebaiknya pemerintah daerah setempat melalui instansi terkait dapat ikut berperan
serta dalam membantu para pedagang dengan cara mengadakan pelatihan-pelatihan atau
seminar tentang wirausaha bagi para pedagang atau wirausaha
DAFTAR PUSTAKA
Asmie Poniwati. (2008). Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan
Pedagang Pasar Tradisional Di Kota Yogyakarta. Jurnal Neo-Bis. 2, (2), 197-210.
Case and Fair. (2007). Prinsip-prinsip Ekonomi Mikro. Jakarta : Erlangga.
Fitra Dila Lestari. (2011). Pengaruh Perilaku Kewirausahaan Dan Persaingan Terhadap
Pendapatan Pedagang Di Daerah Wisata Pantai Pangandaran (Suatu Kasus Pada
Pedagang Di Sepanjang Pantai Pangandaran Kabupaten Ciamis). Skripsi Upi tidak
dipublikasikan.
Mudrajad Kuncoro. (2007). Ekonomika Industri Indonesia Menuju Negara Industri Baru
2030. Yogyakarta : CV. ANDI.
Samuelson, P.A. & W.D.Nordhaus. (1996). Mikro Ekonomi Edisi Keempatbelas. Jakarta :
Erlangga.
Sadono Sukirno. (2005). Teori Pengantar Mikro Ekonomi. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.
Sri Haryani. (2010). Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pada Industri
Paving Blok Nanjung. Skripsi Upi tidak dipublikasikan.
Tulus Tambunan. (2002). Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat.
Zimmerer, Thomas W. (2008). Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil. Jakarta :
Salemba Empat.
Keputusan Menteri Industri dan Perdagangan No. 115/MPP/KEP/2/1998 tanggal 27 Februari
1998