Anda di halaman 1dari 63

1

Natal yang terlupakan


(demi spiritualitas berkeadilan)
Oleh:
Pdt Bonar H. Lumbantobing

Ditulis dalam rangka menyambut


Kongres XXIX GMKI
Tanggal 8 14 Desember 2004
Di Pematangsiantar

Natal yang terlupakan


(demi spiritualitas berkeadilan)

Lumbantobing, Bonar H.
Natal yang terlupakan; demi spiritualitas berkeadilan
100 hlm. 21.5 cm
1. Natal 2. Tahun Gerejawi 3. Liturgi 4 Spiritualitas

Percetakan
Hendrik Offset
Pematangsiantar

Daftar Isi

I
Sejarah Singkat
Penyimpangan Perayaan Natal
Perayaan Natal di Indonesia umumnya dan di Sumatera Utara khususnya telah
mengalami perobahan bila dibandingkan pada masa tahun 1950-an dengan masa
sesudah tahun 1970-an. Tahap-tahap perobahan itu akan disampaikan secara singkat
dalam fasal ini. Kalau pun penulis sebutkan sejarah singkat, namun yang dimaksud
adalah beberapa hasil pengamatan yang panjang. Sebenarnya masih diperlukan lagi
data yang lebih lengkap. Dalam buku ini hanya gejalanya yang akan ditunjukkan, maka
data lengkap diharapkan akan muncul melalui penelitian-penelitian oleh pihak lain
yang mungkin boleh diinspirasikan oleh tulisan ini. Adapun pengamatan yang dimaksud
di sini, akan dibatasi pada adanya tiga perkembangan dalam perayaan Natal, yaitu:
perkembangan yang berkaitan dengan pelaksana perayaan,
perkembangan yang berkaitan dengan tanggal perayaan Natal dan
perkembangan yang berkaitan dengan corak perayaan Natal.
1. Berkembangnya pelaksana perayaan Natal
Pada awalnya perkembangan baru bersifat positip: Sampai tahun 1950-an, pada
umumnya perayaan Natal berlangsung di gedung-gedung gereja dan merupakan
perayaan yang dilaksanakan oleh jemaat setempat. Perayaan itu lebih
terkonsenterasi dalam 3 hari yaitu: pertama, malam tanggal 24, pelaksananya adalah
Pendeta dan Majelis Jemaat; kedua: malam tanggal 25 pelaksananya adalah Majelis
Jemaat dan Pendeta, dibantu oleh anak-anak dari Sekolah Minggu kelas kecil sebagai
liturgist; ketiga: malam tanggal 26 Desember pelaksananya adalah Majelis Jemaat
dan Pendeta, dibantu oleh anak-anak dari Sekolah Minggu kelas besar sebagai
liturgist.
Peran anak-anak sebagai liturgist dapat diterangkan sebagai berikut: Khusus di
Sumatera Utara dan juga jemaat di pulau-pulau lain yang berasal dari Gereja-gereja
bekas asuhan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) yaitu sebuah lembaga
Pekabaran Injil dari Jerman-, terdapat suatu tradisi perayaan Natal: pada tanggal
25 dan 26 Desember anak-anak akan bertugas dalam kebaktian sebagai liturgist
mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah dihafal luar kepala. Sebanyak delapan
hingga sepuluh anak-anak akan bergiliran maju ke depan untuk mengucapkan ayat itu.
Ayat-ayat tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, yaitu:

Berita Penciptaan,

Kejatuhan Manusia ke dalam dosa,


Janji kedatangan Messias,
Kelahiran Juruslamat dan
Ucapan Syukur atas keselamatan.

Kesempatan ini merupakan suasana gembira, di mana anak-anak akan mengenakan


baju baru, dan seluruh keluarga akan menantikan giliran anaknya memberitakan ayat
itu di depan.
Pada saat itu di daerah yang penduduknya mayoritas Kristen di Sumatera Utara,
khususnya daerah Tapanuli, sekolah-sekolah dasar yang ada sejak akhir abad 19
adalah sekolah milik gereja. Guru Kepala adalah Guru Zending didikan Missionaris.
Guru Zending juga yang mengajar anak-anak di sekolah Minggu pada hari Minggu dan
di sekolah mulai hari Senin sampai Sabtu. Menjelang perayaan Natal, maka latihan
anak-anak sebagai liturgis adalah sekali gus program Sekolah milik Gereja dan
Sekolah Minggu. Oleh karena itu dalam pelaksanaan Natal itu akan terlihat bahwa
yang dilaksanakan bukan Natal Sekolah milik Gereja atau Natal Sekolah Minggu,
tetapi Natal yang dirayakan jemaat dengan anak-anak sebagai liturgist. Jemaat yang
hadir pun adalah keseluruhan lapisan umur dalam jemaat. Mereka datang mengikuti
kebaktian untuk umum yang turut dilayani anak-anak.
Ketika Sekolah-sekolah Dasar milik Negara sudah mulai banyak didirikan di desadesa, maka Sekolah-sekolah itu masih mengenang bagaimana sekolah-sekolah Gereja
menjadi pelayan liturgist dalam Natal di Gereja. Oleh karena itu mereka mulai
merancang, bagaimana agar mereka mempunyai Natal sendiri yang dilayani oleh anakanak sekolah Negeri ini sebagai liturgist. Lalu mereka pun merayakan Natal itu
bukan lagi tanggal 25 dan 26 Desember, tetapi pada tanggal sebelumnya. Karena
kesempatan hanyalah sebelum libur Natal, maka Natal sendiri itu pun dirayakan
pada tanggal sebelum libur berarti tanggal yang jatuh sebelum hari Natal tiba.
Untuk perayaan Natal sendiri oleh Sekolah Negeri ini, pelaksana adalah sekolah itu
sendiri dengan murid-murid sebagai liturgist dan mengundang Pendeta atau Guru
Jemaat dari Gereja untuk berkhotbah. Hadirin yang turut merayakan adalah
keluarga Guru-guru dan orangtua/keluarga murid-murid yang akan senang melihat
anak-anak mereka turut sebagai liturgist. Biasanya hadirin yang tidak punya kaitan
dengan pelaksana acara itu, tidak akan hadir, kecuali kalau ada undangan khusus,
misalnya undangan pada Kantor Dinas Pendidikan dan lembaga pemerintahan lainnya.
Kebiasaan ini menjadi marak di berbagai desa dan kota, sehingga Sekolah-sekolah
Lanjutan Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) melaksanakan
perayaan Natal sendiri juga.
Perkembangan di luar Gereja ini pun kemudian berakibat pada Natal yang
dilaksanakan di gereja. Anak-anak Sekolah Minggu bukan lagi anak-anak dari sekolah

6
milik Gereja saja, tetapi juga sudah terdiri dari anak-anak yang murid Sekolahsekolah Negeri. Tugas untuk menjadi pelayan liturgist tidak mungkin lagi dilatih
hanya di Sekolah milik Gereja tetapi harus memberi kesempatan latihan bersama
dengan anak-anak lain. Jadinya Sekolah milik gereja berfikir seperti Sekolah
Negeri, yaitu bagaimana supaya ada perayaan Natal sendiri khusus untuk muridmuridnya sebagai liturgist, karena di gereja adalah Natal seluruh anak-anak dan
jemaat. Natal sendiri ini pun jadinya dilaksanakn oleh Sekolah milik Gereja, tidak
lagi bersama dengan jemaat, tetapi bersama dengan orangtua murid dan keluarga
Guru dan undangan khusus lainnya. Pelaksanaannya pun jatuh pada masa sebelum
libur Natal.
Perkembangan selanjutnya terlihat melalui gerakan yang positip juga, yaitu
munculnya perayaan-perayaan Natal yang dilaksanakan secara ekumenis. Gerejagereja yang berbeda-beda keluar dari jemaat masing-masing dan berkumpul untuk
mengadakan perayaan bersama. Di beberapa tempat, kebaktian seperti ini pada
kurun waktu tahun 1950-an dimotivasi oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(ABRI), Karena tugasnya, ABRI tidak sealu terikat pada satu jemaat saja, sehingga
jemaat-jemaat lokal dengan senang hati turut bergabung menyertai angkatan
Bersenjata untuk merayakan Natal. Ini jadinya merupakan kesempatan bagi jemaatjemaat untuk beribadah bersama dengan jemaat-jemaat yang selama ini berkumpul
sendiri-sendiri. Di daerah Medan misalnya terdapat perkembangan lain, yaitu
tersedianya fasilitas umum dengan dibangunnya Stadion Teladan, maka perayaan
Natal secara ekumenis menjadi semakin besar karena tempat yang tersedia lebih
dari cukup.
Dengan pecahnya gerakan yang kemudian oleh Pemereontah Orde Baru disebut
sebagai G30S/PKI, maka kehidupan beragama lebih digiatkan, bahkan melampaui
batas-batas pelaksanaan kegiatan agama yang selama ini terbatas untuk kalangan
lokal. Hal ini sejajar dengan perhatian Pemerintah Orde Baru terhadap bidang
keagamaan yang tidak hanya dalam organisasi keagamaan, tetapi juga hidup
keagamaan dari para pegawai pemerintahan. Perhatian ini didukung oleh fasilitas
yang disediakan bagi kantor-kantor dan instansi pemerintahan misalnya, bahkan
hingga dukungan dana. Beberapa kegiatan keagamaan bahkan ditangani dan
difasilitasi secara langsung oleh pemerintah. Para pegawai yang beragama Kristen
jadinya turut juga menikmati kesempatan ini.
Perayaan Natal pun dipengaruhi oleh perkembangan ini: Kantor-kantor dan instansi
pemerintahan mengadakan perayaan Natal di lingkungan kantor mereka masingmasing. Bila keadaan mendukung, perayaan itu dilaksanakan di gedung sendiri, kalau
tidak, dilaksanakan di gedung-gedung umum yang lebih luas, tetapi jarang diadakan di
gedung gereja. Perayaan ini pun menunjukkan sifat ekumenisnya, terlihat dari
pengkhotbah yang diundang, atau pemimpin doa syafaat mau pun pemberi renungan

7
Natal, yang biasanya adalah pelayan-pelayan penuh waktu dari Gereja-gereja yang
anggotanya ada di kantor tersebut.
Pada kurun waktu 1970-an di Sumatera Utara, sejajar dengan perkembangan
perayaan Natal oleh instansi pemerintahan, muncullah perayaan-perayaan Natal yang
dilaksanakan secara sendiri-sendiri oleh kelompok-kelompok marga, kumpulan sosial
di tingkat RT/RW atau Lorong-lorong dan Wijk. Di tingkat jemaat lokal pun
berkembang juga perayaan Natal: kelompok kaum Ibu, kaum Bapak, Muda/i bahkan
Majelis Jemaat dengan keluarganya, juga akan mengadakan perayaan sendiri-sendiri
yang dilangsungkan di gedung gereja. Selain itu, lingkungan atau rayon yang dilayani
oleh para Penatua, kemudian mengadakan perayaan, terkadang dilaksanakan di
lingkungan sendiri atau di gedung gereja. Kebiasaan untuk mengucapkan ayat hafalan
dari Alkitab, yang tadinya adalah tugas liturgis dari anak-anak, jadinya dilakukan
oleh orang dewasa, baik kaum bapak, Ibu mau pun muda/i.
Dengan demikian ada kemungkinan bahwa dalam masa Natal itu seseorang termasuk
ke dalam berbagai kelompok pelaksana perayaan Natal; atau, mungkin saja satu orang
atau satu keluarga, selain termasuk ke dalam berbagai kelompok pelaksana perayaan,
juga menjadi undangan pada berbagai perayaan-perayaan Natal itu sendiri.
Demikianlah terlihat kesibukan yang luar biasa selama masa Natal, yang membuat
banyak orang harus simpang-siur.

2. Berkembangnya tanggal perayaan Natal


Pada awalnya, perayaan Natal tanggal 25 Desember dibuka pada persekutuan malam
sebelumnya yang disebut Vesper. Hal ini sesuai dengan pemahaman Gereja bahwa
hari mulai pada sore harinya jam 06.00 sore, sebagaimana hari Sabbat sudah mulai
berlaku sejak jam 06.00 sore hari Jumat. Dasar alkitabiah untuk itu adalah berita
penciptaan yang mengatakan: Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama
demikian seterusnya hingga hari ke tujuh. Jadi perhitungan hari menurut kita jaman
ini mulai dari jam 00.00 berbeda dengan Alkitab. Dalam kehidupan gereja, selalu ada
kebaktian khusus pada malam sebelumnya untuk menyambut hari besar esoknya.
Kebaktian seperti itu disebut dalam bahasa Inggris dengan vigil. Itulah sebabnya
setiap tanggal 24 Desember malam, juga tanggal 31 Desember malam dan di
beberapa gereja pada hari Sabtu malam sebelum Paskah, diadakan kebaktian di
Gereja menyambut pesta besar esoknya. Sehubungan dengan perayaan Natal, jemaat
berkumpul di Gereja secara bersama-sama pada malam tanggal 24 Desember, dan
kebaktian dilaksanakan atas nama jemaat setempat secara keseluruhan, tidak atas
nama kelompok tertentu. Kemudian jemaat akan datang lagi tanggal 25 dan 26
Desember untuk merayakan Natal.

8
Tetapi dengan perkembangan di atas, maka tanggal perayaan Natal sendiri
ditentukan menurut kesempatan pelaksana perayaan, yaitu sekolah-sekolah, kantorkantor instansi pemerintahan, kumpulan-kumpulan marga dan persatuan sosial
lainnya, termasuk oleh kelompok-kelompok kategorial dalam jemaat. Tanggal yang
dilihat paling sesuai pada umumnya adalah sebelum tanggal 25 Desember. Memang
ada juga kelompok yang mencoba mengadakannya sesudah tanggal 25 Desember,
tetapi selalu terdengar suara-suara yang keberatan, yang menginginkan agar harihari sesudah tanggal 25 Desember sebaiknya dibiarkan bebas untuk mengadakan
persiapan merayakan Tahun Baru, atau untuk kegiatan penutupan pembukuan dan
laporan-laporan tahunan yang penting bagi sebagian kantor-kantor dan perusahaan.
Dengan alasan seperti itu, bila bulan Desember sudah tiba, itu seolah-olah menjadi
pertanda dimulainya perayaan-perayaan Natal.

3. Berkembangnya corak perayaan Natal


Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Natal itu dirayakan sebagai kebaktian di
gereja. Bagi jemaat yang dipengaruhi oleh penginjilan Jerman perayaan dilaksanakan
dengan pola yang disebutkan sebelumnya, yaitu pembacaan berita penciptaan hingga
kelahiran Yesus. Bagi jemaat yang dipengaruhi oleh Penginjilan Belanda, maka corak
perayaannya berbeda. Seturut perkembangan yang disebutkan sebelumnya, maka
perayaan-perayaan Natal yang dilaksanakan di luar jemaat melibatkan anggotaanggota jemaat dari berbagai latarbelakang yang berbeda. Lalu terjadilah
penggabungan dari cara-cara perayaan itu. Sebagian lagi masih tetap dengan cara
masing-masing.
Dalam perjalanan waktu mulailah terlihat bahwa perayaan ini diiringi dengan acara
menikmati makanan kecil untuk menghangatkan suasana dan sekali gus dengan itu
membutuhkan adanya acara-acara hiburan. Lama kelamaan, acara-acara hiburan ini
pun terlihat menjadi sangat penting dan membutuhkan variasi dari tahun ke tahun.
Lalu berkembanglah penampilan acara-acara hiburan. Dari segi waktu, acara ini
mendominasi seluruh waktu perayaan. Seturut dengan perkembangan ini pun, maka
berkembanglah dekorasi dari berbagai jenis, dibutuhkanlah makanan kecil, bahkan
terkadang hingga makan siang atau makan malam. Acara sedemikian menuntut tata
krama tersendiri sebagaimana layaknya sebuah pesta dalam resepsi perkawinan
misalnya, sehingga personil yang terlibat di dalamnya semakin beranekaragam,
termasuk penerima tamu, petugas dalam melayani makan dan sebagainya.
Demikianlah pakaian-pakaian dan cara berhias lainnya menjadi sangat menentukan.
Seluruh perkembangan ini akan berakibat langsung pada biaya penyelenggaraan
Natal. Dia tampil menjadi suatu pesta mewah.

9
Selain daripada itu, masyarakat juga sudah terpengaruh oleh musik industri dan
kebutuhan akan hiburan. Aspek hiburan dalam perayaan Natal jadinya menyelusup
masuk ke dalam kebaktian. Lama kelamaan kebaktian dirakit agar mampu memberi
variasi dan lebih memunculkan suasana ceria yang menghibur. Demikianlah taritarian, drama, penyanyi-penyanyi tunggal atau Paduan Suara menjadi sangat penting
untuk menghibur hadirin. Walau pun khotbah memang tetap diberi tempat
tersendiri, tetapi acara lainnya menjadi bagian dari hasil fantasi orang-orang yang
merakit acara itu dengan selera hiburan tersebut. Sebagian memang dari sudut seni
sangat memukau, tetapi jelas terlihat, bahwa kebutuhan yang mendasarinya adalah
keinginan untuk hal-hal yang berbau hiburan dan spektakuler.
Penampilan seperti ini akan terwujud dalam bentuk lain di desa-desa. Kekurangan
hiburan mengakibatkan Natal menjadi suatu perayaan yang dinantikan dan akan
benar-benar dipersiapkan agar sungguh-sungguh memenuhi selera. Walau pun
suasana berbeda dibanding dengan di kota, tetapi coraknya sama, dan akibatnya
tetap membutuhkan dana besar. Namun segala usaha akan dijalankan untuk
mengumpulkan sumbangan-sumbangan, entah mencetak kalender sebagai alasan
meminta sumbangan atau mengedarkan undangan yang mempunyai kupon sumbangan.
Bahkan di beberapa desa yang terletak di tepi jalan raya, anak-anak muda
ditugaskan untuk mencegat mobil-mobil yang lewat untuk memohon sumbangan.
Perkembangan kebutuhan ini memang diperhatikan oleh industri, oleh karena itu
sejak tahun 1970-an, bahkan sejak terbukanya Indonesia untuk lebih bebas dalam
peredaran modal, maka seluruh kebutuhan Natal pun menjadi bagian dari industri.
Sebagaimana layaknya dalam masyarakat industri pada umumnya, yaitu bahwa
industri harus mampu untuk mencipta kebutuhan, bukan mengikuti kebutuhan
masyarakat, maka keseluruhan corak perayaan Natal akhirnya menjadi bagian dari
konsumerisme dalam segala bagian-bagiannya, baik kebaktiannya, dekorasinya,
pakaian, dan gedung-gedung yang digunakan.
Di pasar beredarlah dekorasi Natal yang cocok untuk mal-mal, toko-toko lain, acaraacara pemasaran produksi untuk kepentingan Natal dan sebagainya. Pasar jadinya
lebih menentukan selera dekorasi kebaktian Natal, sehingga suasana di gedung
kebaktian tidak beda lagi dari suasana di pasar raya. Pemasaran produk Natal
tertentu menjadi menang sehingga muncullah cirri yang gemerlapan. Dekorasi Natal
yang dahulu adalah bagian dari ibadah yang memberi kesan khusyukm anggun, tenang
namun ceria, akhirnya tidak terlihat lagi.
Demikianlah sekilas perkembangan dari perayaan Natal dilihat dari segi pelaksana
perayaan, tanggal perayaan dan corak perayaan.

10

II
Tiga tahap Perayaan Natal
1. Pengantar: Natal, Bukan perayaan Ulang Tahun:
Salah satu alasan bahwa Natal dapat dirayakan seperti apa yang sudah diuraikan di
atas, adalah karena Natal itu adalah hari ulang tahun Yesus. Oleh karena itu, siapa
pun dapat merayakannya, entah itu kelompok dalam jemaat atau pun di luar jemaat.
Sebagaimana perayaan ulang tahun, maka tanggal perayaan itu pun dapat juga lebih
longgar, menurut kesempatan yang ada: entah sebelum tanggal 25 atau sesudahnya,
sama saja, yang penting kelahirannya itu dirayakan. Sebagaimana layaknya perayaan
ulangtahun, di mana seluruh yang merayakannya akan bersukacita dengan keramaian,
kue-kue dan makanan, maka Natal pun dapat dirayakan demikian.
Pada hal tanggal kelahiran Yesus secara tepatnya tidak diketahui. Kalau berita dari
Lukas 2 diperhatikan misalnya, di sana disebut bahwa para gembala bermalam di
padang menjaga domba-domba, maka untuk daerah Timur Tengah yang mengenal
empat musim, dapatlah diketahui bahwa hanya dalam musim panaslah domba
dibiarkan di padang pada malam hari, sementara pada musim dingin, yaitu termasuk
bulan Desember, maka domba-domba akan dibiarkan di kandang supaya tidak
kedinginan. Para gembala pun tidak mungkin bermalam di padang pada waktu musim
dingin. Oleh karena itu tidaklah mungkin tanggal 25 Desember sebagai tanggal lahir
Tuhan Yesus.
Memang ada usaha untuk mengadakan penelitian ilmiah tentang penentuan tahun
kelahiranNya, misalnya dengan memperhatikan nama-nama Kaisar yang disebut dalam
Alkitab, yang tentunya dalam ilmu sejarah dapat diketahui tahun pemerintahannya.
Perjalanan orang Majus mengikuti bintang dapat juga ditentukan tahunnya menurut
ilmu perbintangan. Namun semuanya itu tidak pasti, lebih lagi tanggal dan bulannya,
lebih sulit lagi untuk ditentukan. Memang tanggal lahir Yesus itu pun tidak pernah
dirasakan sebagai sesuatu yang penting bagi jemaat Kristen mula-mula. Itulah
sebabnya dalam tulisan-tulisan Kristen yang kemudian masuk ke dalam kumpulan
tulisan yang disebut Perjanjian Baru, di sana tidak ada yang menyinggung perlunya
tanggal kelahiran itu. Ada 4 Injil, tetapi yang menuliskan kelahiran Yesus hanya dua

11
saja, yaitu Injil Matius dan Injil Lukas. Surat-surat lainnya dalam Perjanjian Baru
pun tidak menyinggung peristiwa yang ajaib itu. Oleh karena itu, Perjanjian Baru
memang tidak memberi dukungan bagi kita untuk mementingkan tanggal lahir Yesus.
Oleh karena itu, Natal sebaiknya tidak dimengerti sebagai tanggal lahir. Natal
mempunyai arti yang lain, yang jauh lebih mulia daripada sekedar ulang tahun, dan
itulah yang akan kita bahas dalam bagian berikut. Dengan demikian kita tidak perlu
ikut-ikut merayakan tanggal lahir Yesus, melainkan merayakan Natal saja.

2. Rangkaian perayaan Natal:


Melalui Natal, umat Kristen bukan bermaksud merayakan tanggal lahir. Tanggal dari
peristiwa sejarah tertentu tidak menjadi penting bagi umat Kristen. Tetapi yang
ingin dirayakan adalah perbuatan Allah melalui Yesus Kristus. Dengan demikian
perayaannya akan sangat berbeda dibanding dengan sekedar merayakan tanggal
lahir. Perayaan tidak mengingat satu peristiwa saja, tetapi selalu dilihat dalam
rangkaian antara suatu peristiwa iman dengan peristiwa iman yang lain. Itulah
sebabnya seluruh perayaan Kristen selalu mempunyai rangkaian. Tidak ada perayaan
Kristen yang hanya dirayakan untuk satu kali itu saja di dalam satu hari misalnya,
melainkan selalu ada rangkaian yang saling berhubungan. Dengan demikian Natal
adalah bagian dari suatu rangkaian perayaan. Natal tidak hanya tanggal 25 dan
26 Desember saja.Secara garis besar, rangkaian itu akan digambarkan sebagai
berikut:

1.Masa Penantian (Advent)


4 minggu

Rangkaian
Perayaan Natal

2. Masa Raya Natal


25 Desember 5 Yanuari
3. Masa Penampakan
(Epiphania) 6 Januari s/d 24 minggu berikutnya

Rangkaian Perayaan Natal itu sendiri pun berkaitan dengan perayaan lain, yaitu
Rangkaian Perayaan Paskah. Berakhirnya Rangkaian Natal ditentukan oleh Rangkaian
Paskah. Selain itu Perayaan Paskah itu pun mempunyai rangkaiannya sendiri sebagai
berikut:

12

1.Masa Pra Passion (9 Minggu


sebelum Paskah)

Perayaan Paskah

2. Masa Passion (6 Minggu


sebelum Paskah)

3. Masa Raya Paskah


(berlangsung selama 50 hari)

Selanjutnya Rangkaian Paskah masih berlanjut pada Rangkaian Perayaan yang


berkaitan dengan

1.Bagian Pertama selama 24


Minggu
Perayaan
Trinitatis

2. Masa peralihan (antara


Minggu ke 25 dan akhir Tahun
Gerejawi)
3. Minggu Akhir Tahun
Gerejawi

Seluruh rangkaian perayaan tersebut di atas dinamai dengan Tahun Gerejawi atau
Tahun Liturgi. Rangkaian perayaan itu pun mempunyai thema yang berbeda-beda
sesuai dengan tahun Liturgi itu dan thema-thema tersebut merupakan rangkaian dari
suatu awal menuju suatu puncak:
Advent memulai tahun Liturgi dengan thema besar tentang hidup Yesus di
dunia ini dilihat dari sudut nubuatan dari Perjanjian Lama
Natal dengan berbagai thema sekitar kelahiran Yesus
Epiphania dengan berbagai thema tentang mujizat yang diperbuat Yesus dan
awal pelayananNya.
Pra Passion dan Minggu-minggu Passion

13
3. Hubungan Rangkaian Perayaan Natal dengan seluruh perayaan
Gerejawi lainnya (Tahun Gerejawi):
Sebagai penutup dari bagian ini masih perlu diperhatikan lagi, bahwa walau
pun perayaan Natal itu terdiri dari tiga bagian besar yang merupakan satu
rangkaian, namun perayaan Natal itu pun ditentukan oleh rangkaian perayaan
lainnya yang diadakan sepanjang tahun oleh Gereja. Perayaan-perayaan
gerejawi itu dalam sejarahnya memang bermunculan pada waktu yang
berbeda, bahkan sebagian muncul ratusan tahun sebelum yang lainnya. Namun
kehidupan iman umat Kristen akhirnya merakit dan menyatukan perayaanperayaan yang berbeda itu menjadi satu rangkaian perayaan yang mempunyai
maksud sendiri. Perayaan Natal adalah sebagian kecil darinya dan berfungsi
untuk menghantar masuk pada perayaan-perayaan berikutnya. Untuk
memperoleh gambaran singkat, akan didaftarkan sebagai berikut:

Minggu-Minggu Advent (4 kali hari Minggu) merupakan Persiapan


untuk Natal.
Minggu-minggu Natal (25 Desember 5 Januari)
Minggu Epiphania ( mulai tanggal 6 Januari hingga Minggu
sebelum minggu Septuagesima).
Minggu-minggu Pra-Passion ( Minggu Septuagisma sampai
Estomihi) yaitu sekitar Februari hingga awal Maret,
Minggu-minggu Sengsara atau Passion (yaitu 6 Minggu sebelum
Minggu kebangkitan)
Minggu Paskah (50 hari, dimulai dari antara 22 Maret dan 25
April hingga hari Minggu turunnya Roh Kudus)
Minggu-minggu Trinitatis, yang berlangsung sepanjang 24 26
Minggu, yang diakhiri dengan Minggu Kekekalan, yaitu Minggu
memperingati orang-orang yang sudah meninggal.

Bila perayaan-perayaan di atas dilihat, maka jelaslah semuanya itu mempunyai


kaitan satu dengan yang lain bagaikan mata-rantai. Itulah perayaan yang
terbentuk dalam sejarah yang panjang iman Kristen. Oleh karena itu, bila
salah satu mata-rantai itu diputus, sebagaimana halnya dengan cara perayaan
Natal yang salah seperti kita sebut di atas, maka hilanglah kaitan dari yang
satu dengan yang lainnya, sehingga memunculkan kekacauan hidup kerohanian.
Lebih lagi, hal ini berpengaruh pada kerohanian (spiritualitas) yang memimpin
pada hidup yang berjuang untuk keadilan.

14

Melalui seluruh penjelasan di atas, terlihatlah sebuah rimba yang berkaitan


dengan perayaan-perayaan Kristen, yang kelihatannya sangat sederhana,
ternyata mengandung banyak muatan-muatan kerokhanian yang sangat dalam.
Oleh karena itu berbagai pokok-pokok kecil yang disinggung di atas
membutuhkan penjelasan lanjutan, agar makna Natal itu secara keseluruhan
dapat difahami dan kemudian dihidupi, sehingga darinya kita dapat
memperoleh
pertumbuhan
kerokhanian,
khususnya
dalam
rangka
memperjuangkan keadilan di dunia ini.
Adapun pokok-pokok kecil yang perlu diperdalam untuk memahami Natal
seutuhnya, adalah sebagai berikut:

Bertumbuhnya perayaan-perayaan gerejawi, yang mendahului dan


mendasari makna perayaan Natal, serta yang menentukan bentuk
perayaan Natal,
Perincian dari tahap-tahap perayaan Natal itu dan berbagai cara untuk
merayakannya,
Hal-hal teknis dalam perayaan Natal
Hubungan perayaan Natal dengan spiritualitas yang berkeadilan:
sebagai refleksi dari keseluruhan pendalaman tentang perayaan Natal.

15

III
Yesus: bangkit dahulu baru lahir!?
(proses
bertumbuhnya perayaan gerejawi
yang kemudian melahirkan perayaan Natal)
1. Kebangkitan dan Hari Minggu
Dalam kehidupan umat Kristen kebangkitan Yesus Kristus menjadi titik-tolak
segalanya, sesuai dengan apa yang Paulus pesankan: Tetapi andaikata Kristus
tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga
kepercayaan kamu. (I Korintus 15:14). Hal ini berlaku juga dalam munculnya
perayaan Kristen. Perayaan yang pertama sekali dikenal oleh umat Kristen
adalah perayaan mengingat kebangkitan Yesus yang diadakan setiap minggu,
yaitu pada hari Minggu. Walau pun perayaan hari Minggu ini mengalami
sejarah yang panjang, tetapi berikut ini akan disampaikan satu segi dari
proses perkembangan perayaan itu, untuk menunjukkan makna perayaan
yang dikenal oleh iman Kristen:
Sebagaimana kita ketahui, pada awalnya mereka yang menjadi percaya akan
kebangkitan Kristus dan kemudian disebut menjadi Kristen, adalah orangorang Yahudi. Berarti mereka memelihara perayaan pada hari Sabbat, hari ke
tujuh. Pada awalnya, orang-orang Kristen masih tetap bagian dari ke-Yahudian
dan juga Bait Suci. Kita ingat bagaimana pada jam-jam doa Yahudi, Petrus
masih pergi juga ke Bait Suci ( Kis. 3:1). Dalam perjalanan penginjilan Paulus,
dia selalu mengunjungi Sinagoge, tempat kebaktian Yahudi pada hari Sabtu

16
(Kis. 13:12, 42, 44; 14:1; 16:13; 17:2; dll). Namun pada hari berkutnya, hari
Minggu yaitu hari pertama bagi Yahudi mereka berkumpul untuk persekutuan
dan perjamuan kudus (Kis. 2:46). Untuk mengikuti penghitungan hari Yahudi,
maka orang Kristen pun menyebut hari Minggu mereka sebagai hari ke
delapan (Yoh. 20:26).
Dalam perjalanan waktu, hubungan ke-Yahudian dengan Kristen semakin
renggang dan akhirnya terpisah, maka perayaan hari Minggu menjadi sangat
penting. Namanya pun disebut menjadi Hari Tuhan (Wahyu 1:10). Karena
dalam bahasa Latin kata Tuhan adalah dominus, maka hari Tuhan itu disebut
oleh daerah-daerah yang dipengaruhi bahasa Latin dengan kata Domenica,
Domingo, Dimanche. Kita di Indonesia dipengaruhi oleh bahasa Portugis,
Domingo, sehingga menyebutnya dengan hari Minggu. Jadi kita beruntung di
Indonesia, karena hari peristirahatan kita menggunakan istilah yang muncul
langsung dari iman Kristen.
Lama kelamaan makna perayaan hari Minggu itu berkembang lagi menjadi
bagian dari penciptaan, karena di dalam kebangkitan Kristus, maka orang yang
percaya dilahirkan kembali oleh kebangkitan Kristus (I Petrus 1:3) menjadi
ciptaan baru. Itulah sebabnya setiap merayakan hari Minggu, mereka
merayakan penciptaan juga, baik penciptaan manusia mau pun seluruh ciptaan
lainnya. Itulah sebabnya Hari Minggu itu tetap mereka katakan sebagai hari
pertama juga, karena pada hari pertamalah Allah menciptakan terang yang
melenyapkan kegelapan, dan pada hari pertamalah Yesus dibangkitkan yang
melenyapkan kegelapan maut.
Namun semakin dalam umat percaya menghidupi makna hari Minggu, mereka
semakin sadar bahwa bukan saja kebangkitan yang dirayakan, tetapi
kematianNya juga, karena peristiwa Jumat Agung dilihat sebagai satu
kesatuan dengan Minggu Paskah. Oleh karena itu perayaan itu akan mengingat
kematian dan kebangkitan Yesus. Itu dapat dilaksanakan sekali gus melalui
perayaan Perjamuan Kudus, karena dalam Perjamuan Kudus terkandung
perintah untuk memberitakan kematian Yesus hingga Dia datang (I Korintus
11:26). Demikianlah perayaan hari Minggu menjadi titik berangkat untuk
memberitakan Kristus, termasuk kematianNya. Itulah sebabnya Perjamuan
Kudus harus dirayakan setiap Minggu, sehingga tugas pengutusan orang
percaya tetap diteguhkan.

17
Di sinilah terlihat makna perayaan: itu tidak sekedar pesta seperti yang kita
ketahui, tetapi di dalamnya diperbaharui penghayatan akan kematian dan
kebangkitan Kristus, semakin dalam masuk di dalam tugas penginjilan, semakin
dipersatukan dengan Yesus yang sudah menjadi bagian dari diri dan hidup
mereka melalui Perjamuan Kudus dan melalui Baptisan (Roma 6:3-5).
Di sini tidak perlu lagi diterangkan bagaimana orang percaya melihat apa yang
dirayakan pada hari Sabbat, ternyata intinya ditemukan dalam perayaan
kebangkitan Yesus. Thema ini membutuhkan penjelasan yang panjang, tetapi
cukuplah secara singkat dinyatakan di sini untuk semakin menguatkan apa
makna perayaan. Bila dalam perayaan Sabbat umat beristirahat, maka itu
dimaksudkan sebagai undangan bagi umat percaya untuk masuk ke dalam
peristirahatan Allah. Seluruh kelelahan, dan hidup yang sudah usang atau
seolah-olah terpecah-pecah menjadi kepingan-kepingan tugas sehari-hari,
maka dengan masuk ke dalam istirahat Allah itu, manusia kembali dipulihkan
seperti semula, mengalami hidup sebagai yang dicipta kembali. Itulah
sebabnya maka perayaan Sabbat ini pada akhirnya menghantar pada perayaan
kebangkitan Yesus, yang melahirkan kita kembali. Oleh karena itulah, maka
kebangkitan Yesus menjadi pemenuhan istirahat pada hari Sabbat, sebab
Sabbat itu sendiri tidak mampu mencipta kembali, tetapi kebangkitan Kristus
sajalah yang melahirkan kembali. Itulah sebabnya orang Kristen merayakan
hari Minggu dengan beristirahat.
Melalui penjelasan ini kiranya semakin jelas bagi kita akan makna perayaan:
bahwa kita pada akhirnya dipersatukan dengan apa yang menjadi penentu bagi
penciptaan kita dan bagi keselamatan kita. Perayaan kita sangat berbeda
dengan apa yang dilaksanakan oleh dunia ini.
Dengan demikian, kita sudah boleh beralih pada perayaan-perayaan lain yang
muncul sesudah adanya perayaan kebangkitan pada setiap hari Minggu.

3. Munculnya Perayaan Paskah dan terbentuknya tahun Gerejawi


bagian pertama:
Sebagaimana kita ketahui perayaan Paskah adalah perayaan Yahudi. Pada
awalnya, Paskah tidak dirayakan oleh orang Kristen karena tidak melihat
pentingnya merayakan pesta Yahudi. Seperti yang disebutkan di atas,
perayaan Kristen lebih pada kebangkitan Yesus pada setiap hari Minggu.
Namun pada abad ke 2 sudah terdapat kebiasaan untuk merayakan hari ke

18

limapuluh, yaitu perayaan Pentakosta. Perayaan itu bagi orang Kristen


bagaikan perayaan kebangkitan yang sambung menyambung setiap hari, hingga
Ambrosius, seorang Bapa Gereja mengatakan, bahwa perayaan hari-hari yang
panjang itu seolah-olah satu hari saja.
Perkembangan ini memimpin pada perayaan Paskah sebagai perayaan Kristen
dan cepat berkembang di seluruh daerah di mana Kristen hidup, tetapi Paskah
itu tetap dirayakan selalu jatuhnya pada suatu hari Minggu. Namun terjadilah
perbedaan cara penghitungan kapan jatuhnya Paskah: sebagian menghitungnya
berdasarkan perhitungan Yahudi yaitu pada tanggal ke empatbelas bulan
Nisan. Kelompok ini disebut dengan quartodeciman (empatbelas). Masalahnya
adalah, melalui penghitungan ini maka Paskah bisa saja tidak jatuh pada hari
Minggu. Yang lainnya melakukan cara penghitungan yang lain supaya Paskah
tetap jatuh pada hari Minggu. Barulah pada Konsili Nicea tahun 325 diperoleh
kesepakatan: Hari Paskah selalu pada hari Minggu sesudah bulan purnama
yang terjadi pada saat atau sesudah hari di mana waktu siang dan malam sama
panjangnya. Sebagaimana kita ketahui bagi daerah pada bagian tertentu di
atas katulistiwa, pada musim dingin terjadi di mana malam hari lebih panjang
dari siang hari. Tetapi semakin mendekat pada musim panas, maka akan ada
satu hari di mana siang dan malam mulai sama panjangnya. Pada bulan purnama
saat itu atau sesudahnyalah hari Paskah. Oleh karena itu untuk penganggalan
kita sekarang, maka itu selalu ada di sekitar tanggal 22 Maret dan 25 April.
Itulah sebabnya tanggal Paskah tidak pernah selalu sama setiap tahun.
Perayaan Paskah menjadi sangat penting juga, karena pada saat itulah
biasanya orang-orang dewasa dibaptiskan, setelah mereka menjalani masa
katekhisasi. Sebelum dibaptis, mereka harus menjalani masa puasa sebagai
persiapan diri selama 40 hari, mengikuti lamanya puasa Yesus. Bila ke 40 hari
itudiperhatikan itu berarti dia berada dalam ruang lingkup 6 hari Minggu.
Setiap hari mereka dibmbing untuk menjalani masa puasa itu dengan
pembacaan Alkitab, untuk mengikuti perlahan-lahan perjalanan Yesus menuju
salib. Itu menjadi penting, karena melalui baptisan, orang percaya akan mati
dan bangkit bersama Kristus (Roma 6:3-5). Berarti hidup mereka akan
dipersatukan dengan hidup Yesus, sehingga sesudah baptisan mereka
mengaku: namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,
melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi
sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah
mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. ( Galatia 2:20). Selama

19
40 hari mereka akan perlahan-lahan mengikuti Yesus menuju kayu salib,
hingga pada Paskah pada kebangkitanNya, mereka akan dibaptis.
Kebiasaan ini berlangsung terus walau pun mereka sudah dibaptis. Mereka
jadinya turut serta bersama-sama dengan calon baptis lainnya berpuasa dan
berjalan perlahan-lahan dari hari ke hari bersama dengan Yesus menuju
Golgata. Hari-hari perenungan mereka itu ditentukan melalui pembacaanpembacaan Alkitab setiap hari. Ayat-ayat itu dipengaruhi oleh ayat
pembimbing yang kita dengar setiap awal kebaktian. Ayat itu disebut dengan
Introitus. Ayat itu biasanya diambil dari bahasa Latin, dan untuk
memudahkan mengingatnya, maka setiap kata pertama dari ayat itu, dibuat
menjadi nama dari hari Minggu itu. Dengan demikian muncullah 6 Minggu
dengan nama masing-masing sebagai Minggu-minggu dalam masa Puasa. Karena
dalam masa ini penderitaan Yesus yang menjadi perhatian utama, maka minggu
itu disebut dengan Minggu-minggu Sengsara atau Minggu Passion. Minggunya
terdiri dari:

Minggu Invocavit : mengikuti kata pertama dalam bahasa Latin dari


Mazmur 19:5;
Minggu Reminiscere: mengikuti kata pertama dalam bahasa Latin
dariMazmur 25:6, 2b;
Minggu Oculi: mengikuti kata pertama dalam bahasa Latin dari
Mazmur 25:16;
Minggu Letare: mengikuti kata pertama dalam bahasa Latin dari
Yesaya. 66:10;
Minggu Palem: Minggu yang mengingat Yesus masuk ke Yerusalem dan
disambut dengan daun palem.

Sesudah ke 6 Minggu inilah umat percaya masuk ke dalam apa yang disebut
Minggu Kudus, yang di dalamnya terdapat Jumat Agung. Dan hari Minggu
berikutnya adalah Paskah. Demikianlah satu rangkaian perayaan muncul, yaitu
mulai dari masa puasa 40 hari atau 6 Minggu Passion hingga Minggu Paskah.
Lalu rangkaian ini digabung dengan Minggu-minggu sesudahnya yang berjumlah
50 hari, yaitu mulai dari kebangkitan hingga hari Pentakosta. Ke 50 hari ini
pun kemudian dirangkai dalam Minggu-minggu dengan nama demikian:

Paskah hari Pertama dan Paskah Hari kedua


Minggu Quasimodogeniti

20

Minggu Misericordias Domini


Minggu Jubilate
Minggu Kantate
Minggu Rogate
Hari Kenaikan
Minggu Exaudi
Minggu Pentakosta hari Pertama dan Kedua

Dengan demikian, muncullah satu rangkaian perayaan yang panjang dengan


urutan perayaan sebagai berikut:
Persiapan/pendahuluan melalui Puasa
Perayaan Inti Yaitu Minggu Kudus sampai Paskah
Perayaan lanjutan, yaitu hingga hari ke 50.
Tetapi dalam perkembangan kemudian, ditambah lagi 3 Minggu sebagai Pra
Persiapan, yang biasa disebut dengan Pra-Passion, dengan nama Minggu :
Septuagesima, Sexagesima dan Estomihi. Hari Rabu sesudah Estomihilah awal
dari masa Puasa yang kemudian disebut sebagai Rabu Abu. Inilah yang
kemudian membentuk Tahun Gerejawi. Untuk sementara, karena belum
lengkap, marilah kita sebut sebagai Tahun Gerejawi bagian pertama.
4. Munculnya Perayaan Natal dan terbentuknya tahun Gerejawi
bagian Kedua:
Sekitar abad kedua muncullah di Mesir kebiasaan oleh jemaat yang beraliran
Gnostik, merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari. Tetapi kebiasaan
ini bertahan hanya pada kalangan mereka saja. Sekitar abad ke 4 M.
muncullah juga di Mesir secara perlahan-lahan kebiasaan merayakan tiga
pesta sekaligus dalam waktu yang sama (6 Januari), yaitu perayaan yang
namanya Penampakan Yesus. Perayaan ini mempunyai penekanan tiga
peristiwa Yesus yang dilihat sebagai awal penampakanNya, yaitu kelahiran,
baptisan di sungai Yordan dan Perkawinan di Kana (air menjadi anggur).
Ketiga perayaan ini berkaitan dengan tradisi kuno Mesir tentang kelahiran
dewa dari seorang anak dara, dan kekuatan Sungai Nil dalam memberi
kehidupan pada bangsa Mesir, serta peristiwa berobahnya air menjadi anggur
oleh dewa mereka. Tradisi ini seolah-olah mereka temukan dalam Diri Yesus,
sehingga ketiganya dirayakan tidak lagi berkaitan dengan dewa-dewi, tetapi
berkaitan dengan keselamatan yang diterima dari Yesus. Hal ini mereka

21
lakukan untuk menginjili jemaat yang masih kafir agar meninggalkan dewadewi mereka dan beralih pada Yesus yang menjamin kesuburan tanah mereka.
Perayaan ini kemudian dikenal di seluruh bagian Timur kerajaan Romawi
melalui Yerusalem. Seorang Bapa Gereja, bernama Athanasius, yang menjalani
hukuman di daerah Trier, membawa kebiasaan ini ke Eropa, tetapi perayaan
Perjamuan di Kana tidak turut dirayakan jemaat di tempat yang baru itu,
sehingga hanya kelahiran dan baptisan Yesus saja yang dirayakan. Tetapi di
bagian Barat Kerajaan Rumawi berkembang juga tradisi yang lain untuk
perayaan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, yaitu tanggal yang
tadinya berkaitan dengan matahari. Pada hari inilah matahari berada pada
titik terendah sebelum dia kembali naik. Di sinilah mereka berpesta besar
untuk merayakan kemenangan matahari, sebagai Matahari yang tidak
terkalahkan. Bagi jemaat Kristen, Terang dunia adalah Yesus sendiri dan Sang
Surya Kebenaran menurut Maleaki 4 adalah Yesus sendiri. Oleh karena itu
orang Kristen menginjili lingkungannya melalui kebiasaan kebudayaan tersebut
untuk menunjukkan bahwa Yesus sajalah Terang Dunia, oleh karena itu
perayaan dewa matahari harus ditinggalkan.
Perkembangan selanjutnya adalah, bahwa kedua tanggal ini, yaitu 25
Desember dan 6 Januari mulai menyebar ke jemaat-jemaat dan saling
mempengaruhi dalam hidup berjemaat. Melalui suatu proses yang panjang,
yang tidak mungkin diceriterakan dalam buku ini, terjadilah penggabungan di
jemaat-jemaat di Barat menjadi: kelahiran dirayakan pada tanggal 25
Desember dan baptisan Yesus pada tanggal 6 Januari. Di Timur kelahiran
Yesus tetap dirayakan pada tanggal 6 Januari. Memang sejarah tanggal ini
mempunyai perkembangan rumit, karena juga berkaitan dengan perobahan
penanggalan, yaitu tahun menurut Kaisar Julianus tetap digunakan oleh
Gereja-gereja di Timur dan di Barat digunakan tahun Masehi seerti yang kita
gunakan sekarang. Ini juga membawa perbedaan tanggal perayaan. Seluruh
proses ini terjadi mulai abad ke 4.
Melihat perkembangan itu jelaslah terlihat bahwa jemaat Kristen baik di
Barat mau pun di Timur tidak pernah bermaksud merayakan kelahiran Yesus
menurut tanggal yang pasti kelahiran Yesus. Tanggal itu tidak pernah mereka
cari untuk menjadi pertimbangan untuk merayakan kelahiran Yesus. Jemaat
lebih memperhatikan makna simbolis dari setiap tanggal yang dipilih untuk
merayakan kelahiran Yesus tersebut.

22

Sebagaimana sudah disinggung di atas, perayaan Paskahlah yang terbesar dan


yang pertama dirayakan dibanding dengan Natal. Telah disebut juga bahwa
ada kebiasaan jemaat untuk turut serta dengan calon baptis berpuasa selama
6 Minggu. Dalam perkembangan selanjutnya ke 6 minggu tersebut mempunyai
penekanan yang berbeda-beda, yang merupakan rangkaian persiapan
menyongsong perayaan Paskah itu. Persiapan itu lebih merupakan perjalanan
bersama dengan Yesus menuju salib. Oleh karena itu peristiwa Yesus
direnungkan setiap hari Minggu dan setiap hari, perlahan-lahan hingga tiba di
bukit Golgata dan bangkit lagi pada hari ke tiga. Ini dijalani melalui bacaanbacaan Alkitab dan perenungan-perenungan. Selama perenungan inilah puasa
dijalankan. Karena puasa Kristen lebih merupakan doa melalui tubuh, maka
caranya tidak sama. Ada yang hanya berpantang daging tetapi memakan ikan,
ada yang hanya memakan tumbuh-tumbuhan saja, ada yang tidak menyentuh
roti tetapi hanya bubur kacang saja. Satu minggu sebelum Paskah sebahagian
orang malah benar-benar puasa total. Tidak ada rumus yang sama, karena
puasa bukan bentuk kesalehan yang menentukan keselamatan.
Jemaat yang sudah mengalami indahnya persiapan menyongsong Paskah itu
selama 6 minggu, tentunya melihat pentingnya juga menyongsong Natal
melalui suatu persiapan diri. Di Timur memang sudah ada kebiasaan untuk
menjalani masa puasa selama 40 hari sebelum perayaan yang masih tergabung
tiga tadi (kelahiran, baptisan Yesus dan Perjamuan Kana) yang dirayakan
tanggal 6 Januari. Itu berarti puasa itu dimulai tanggal 11 November.
Pemahaman yang sama pun muncul di Barat, sehingga mereka juga
menyongsong Natal melalui puasa di daerah Perancis selama 6 minggu.
Kebiasaan ini pun berkembang hingga ke daerah lain di Barat. Tetapi dalam
perkembangan selanjutnya persiapan ini pun kemudian berobah menjadi 4
Minggu. Sama seperti masa Puasa dalam Paskah, maka masa persiapan
sebelum Natal itu pun mempunyai penekanannya sendiri-sendiri. Penekanan itu
ditandai oleh ayat Introitus tadi, seperti yang telah disampaikan sebelumnya,
dan melalui pembacaan Alkitab dan perenungan-perenungan.
Sama seperti proses munculnya Paskah, muncul jugalah suatu rangkaian
perayaan yang baru yang mempunyai pola yang sama yaitu: Sebagai
pendahuluan dan persiapan ialah ke 4 minggu Advent. Perayaan yang lebih tua
sebelumnya, yang dimulai dengan tanggal 6 Januari digabung dengan perayaan
Natal Oleh karena itu tanggal 25 Desember sampai dengan tanggal 5 Januari

23
menjadi satu kesatuan. Lalu disambung pada kesatuan lainnya yang mulai
tanggal 6 Januari. Dengan demikian strukturnya menjadi sama seperti
rangkaian Paskah, di mana ditemukan
Persiapan/pendahuluan melalui Puasa
Perayaan Inti Yaitu Minggu Kudus sampai Paskah
Perayaan lanjutan, yaitu hingga hari ke 50.
Dalam rangkaian Natal, ketiga struktur Paskah ini terlihat sebagai berikut:
Persiapan:
Advent
Advent
Advent
Advent
Masa

I: Tuhan yang akan datang pada akhir zaman


II: Pertobatan untuk menyongsong Tuhan
III: Kedatangan Tuhan di dunia ini sebagai Penyelamat
IV: Sukacita menyongsong Tuhan (Pujian Maria)

Raya Natal
Hari Pertama: 25 Desember: Kelahiran Yesus.
Hari Kedua: 26 Desember Kematian Stefanus (martir pertama).
Hari Ketiga: 27 Desember Yohannes (murid yang dikasihi).
Hari Keempat: 28 Desember Kematian anak-anak yang tidak bersalah
di Bethlehem
Hari Kelima: 29 Desember Simeon
Hari Keenam: 30 Desember Hanna
Hari Ketujuh: 31 Desember Firman menjadi daging
Hari Kedelapan: 1 Januari Nama Yesus (Yesus di Bait Suci)
Hari Kesembilan: 2 Januari Yohannes 3: 1-8
Hari Kesepuluh: 3 Januari Yoh. 3:9-15
Hari Kesebelas: 4 Januari Yoh. 3:16-21
Hari Keduabelas: 5 Januari Yoh. 3:22-36

Minggu Penampakan (Epiphania)


Minggu I sesudah Epiphania: pembaptisan Yesus di sungai Yordan oleh
Yohanes Pembaptis.
Minggu II sesudah Epiphania: tanda ajaib yang pertama dilakukan
Yesus pada waktu Perjamuan di Kana.
Minggu III sesudah Epiphania:
penyembuhan hamba dari perwira
Kapernaum.
Minggu IV sesudah Epiphania: Yesus meredakan angin ribut.

24

Minggu V sesudah Epiphania: perumpamaan Yesus tentang lalang di


tengah-tengah gandum.

Demikianlah muncul satu rangkaian perayaan besar yang kedua, sesudah yang
pertama tadi, yaitu rangkaian Paskah. Kita lihat pemikiran-pemikiran teologis
yang ada dalam pembentukan dan susunan rangkaian Paskah itu mempengaruhi
proses pembentukan dan susunan rangkaian Natal. Dapat dikatakan bahwa
rangkaian Paskah itulah yang melahirkan rangkaian Natal. Memang
sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, Paskahlah yang paling utama dalam
perayaan dibanding dengan Natal. Namun kedua rangkaian itu kemudian
digabungkan dengan rangkaian Paskah. Ini terlihat dengan jelas melalui
jumlah Minggu Epiphania. Walau pun di atas didaftarkan adanya 5 Minggu
Epiphania, tetapi di dalam kenyataannya Minggu-minggu itu tidak selalu sama
setiap tahun, terkadang dua Minggu terkadang 4 minggu. Jumlah itu
tergantung dari tanggal Paskah.
Seperti sudah disebutkan, tanggal Paskah itu terletak di antara tanggal 22
Maret dan 25 April. Paskah itulah yang menentukan Minggu-minggu PraPassion yang berjumlah 3 dan Minggu-minggu Passion yang berjumlah 6. Jadi
kalau tanggal Paskah sudah ditentukan, maka haruslah dihitung 9 minggu
sebelumnya ke belakang, dan minggu sebelumnyalah yang menjadi akhir dari
Minggu Epiphania. Semakin jauh ke April, maka Minggu Epiphania akan
semakin banyak dan semakin dekat ke April, maka Minggu Epiphania akan
berjumlah lebih sedikit. Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa panjang
tidaknya rangkaian perayaan Natal, ditentukan oleh Paskah. Secara teologis
makin jelaslah juga terlihat, bahwa Paskah sangat menentukan bagi Natal.
Bahkan seperti yang sudah disebutkan di atas, Paskahlah yang melahirkan
Natal.

5. Natal sebagai bagian dari keseluruhan Tahun Gerejawi:


Sebelum bagian ini ditutup perlu kita lihat secara sekilas, bahwa bila
Rangkaian Natal dan Rangkaian Paskah digabungkan, maka terdapatlah suatu
rangkaian perayaan mulai dari Advent sampai Pentakosta, itu berarti dalam
tahun Masehi rangkaian itu terletak mulai dari akhir November hingga Mei.
Dalam rangkaian perayaan ini terlihatlah hampir setengah dari tahun Masehi
kita jadinya dinaungi oleh rangkaian perayaan itu. Cirinya adalah perayaan itu

25
berpusat pada Pribadi dan karya Yesus Kristus dan dimaksudkan untuk
kemuliaanNya. Dalam ide aslinya, rangkaian perayaan itu ingin mengambil
babak-babak penting dari sejarah dalam Injil itu dan membariskannya
sebagai perjalanan tahunan bagi kita, mulai dari kelahiranNya hingga
pencurahan Roh Kudus. Dengan menjalani hidup kita sehari-hari di dalam
tahun Masehi, serentak dengan itu kita menjalani kehidupan Yesus melalui
rangkaian perayaan itu, yang kemudian disebut dengan Tahun Gerejawi atau
Tahun Liturgi, sebagaimana sudah disinggung pada bab yang lalu.
Setengah tahun lagi, tahun Gerejawi itu disebut dengan Minggu-minggu
Trinitatis, atau Minggu-minggu sesudah Pentakosta. Segera sesudah selesai
Minggu Pentakosta, mulailah suatu Minggu yang disebut dengan Minggu
Trinitatis. Di sini Tri Tunggal Kudus menjadi thema perayaan. Minggu-minggu
sesudahnya akan disebut dengan Minggu 1. sesudah Trinitatis dan seterusnya.
Minggu-minggu itu sedemikian panjang hingga menjelang akhir November. Bila
Minggu Advent sudah dimulai, dengan menghitung 4 hari Minggu sebelum
tanggal 25 Desember, maka di situlah akhir dari Minggu Trinitatis. Oleh
karena itu seluruh Minggu Trinitatis berjumlah 24 Minggu, ditambah dengan
3 Minggu lagi yang dapat dijalani semua atau sebagian, tergantung kapan
mulainya Advent.
Thema dari pada Minggu-minggu tersebut adalah berkaitan dengan kehidupan
Gereja, yaitu dasar berdirinya gereja, pertumbuhannya, baik secara pribadi
maupun bersama seluruh jemaat, tentang kelahiran kembali dan kebangkitan
dari mati. Itulah sebabnya minggu-minggu ini disebut juga Semestre
ecclesiae, sementara setengah tahun pertama yang berkaitan dengan Diri
dan Karya Yesus disebut dengan semestre Domini. Pada akhir Minggu
Trinitatis, maka Gereja mengingat akhir dari hidupnya, dan untuk itu Gereja
mengingat orang-orang yang sudah meninggal. Demikianlah satu perjalanan
panjang selesai dilalui, barulah kemudian jemaat akan dihantar pada tahap
berikutnya, yaitu masuk ke dalam perayaan Advent. Setiap tahun perjalanan
ini berlangsung berulang-ulang, mulai dari Advent hingga kembali lagi
memasuki Advent. Dia terlihat menjadi satu rangkaian mata rantai yang
teratur. Oleh karena itu bila Natal dicuri dan dirayakan keluar dari matarantai ini maka akan berakibat pada berantakannya rangkaian perayaan yang
lain dalam tahun gerejawi itu, berarti kekacauan perayaan iman kita.

26

IV
Tahap-tahap
Merayakan Natal

Tahap-tahap itu dimaksudkan untuk menjalani rangkaian perayaan Natal itu


menurut thema-thema yang sudah ditentukan. Thema-thema itu biasanya
dimulai atau terdengar di dalam kebaktian hari Minggu. Disana terdapat
beberapa bacaan Alkitab, dan dari bacaan itulah kita menyadari bahwa kita
sedang berada dalam suatu tahap tertentu. Daftar bacaan itu terdiri dari,
pertama sekali, ayat pembuka dalam kebaktian, yang biasa disebut dengan
Introitus. Dia biasanya terdiri dari satu atau dua ayat. Bila kita jeli
mendengarnya, maka akan terdengarlah di mana posisi kita. Introitus, yang
menurut arti kata juga berarti pintu masuk, memang membuka pintu untuk
memasuki penekanan perayaan, yang kemudian akan terasa dalam pembacaan
Alkitab yang berikutnya, yaitu pembacaan dari Perjanjian Lama, menyusul
Pembacaan dari Surat Kiriman (Epistel) dan kemudian pembacaan dari Injil
(Evangelium). Pembacaan ini sudah tersusun untuk sepanjang tahun dalam
suatu rangkaian bacaan yang disebut dengan Lectionary. Dalam susunan
pembacaan itulah kita mengetahui sedang berada dalam tahap mana di dalam
suatu rangkaian perayaan. Introitus yang telah membuka tadi, akan selalu
berkaitan dengan pembacaan Alkitab dari Perjanjian Lama, Epistel dan Injil
tadi.
Apa yang sudah dibuka dalam kebaktian hari Minggu, akan diteruskan dalam
doa-doa di rumah. Untuk Gereja-gereja di Sumatera Utara, Gereja biasanya
mengeluarkan sebuah buku yang di dalamnya terdapat daftar bacaan Alkitab
untuk setiap hari. Di sana tercantum
Ayat Harian
Bacaan Alkitab untuk Pagi Hari

27
Bacaan Alkitab untuk Malam hari
Ketiga bacaan ini biasanya berkaitan dengan Introitus pada hari Minggu dan
bacaan Alkitab lainnya. Dengan demikian, setiap hari kita dapat mengikuti
thema itu satu persatu. Inilah secara umum yang dapat kita ikuti untuk
benar-benar berada dalam tahap-tahap perayaan itu. Dengan kata lain,
pembacaan Alkitab itulah yang menjadi penentu dalam kita menjalani tahaptahap itu. Untuk itu kita dapat melihat bagaimana itu dijalankan bila kita
mengingat apa yang sedang terjadi dalam masyarakat kita, yang sedang lupa
pada perayaan Natal yang sesuai dengan tahun Gerejawi.
1. Sungguh-sungguh menjalani Menjalani Masa Advent
Pembacaan Alkitab dan Nyanyian
Dalam bagian sebelumnya sudah disebutkan penekanan dari setiap Minggu
Advent. Sayang sekali bahwa Gereja-gereja kita mempunyai tradisi yang
berbeda-beda tentang urutan-urutan penekannnya yang dituang dalam ke
empat Minggu Advent tersebut. Tetapi kalau semua diperhatikan, maka
biasanya Minggu Advent itu berkisar pada penantian Yesus di dalam
kehidupan kita saat ini, di dalam hati kita dan ini lebih mengarah pada
persiapan menyongsong kelahiran, dan kemudian penekanan akan penantian
kedatangan Yesus keduakalinya di akhir zaman. Adapun thema yang ditulis
sebelumnya dan yang didaftarkan kembali berikut ini, adalah berasal dari
satu tradisi:
Advent I: Tuhan yang akan datang pada akhir zaman
Advent II: Pertobatan untuk menyongsong Tuhan
Advent III: Kedatangan Tuhan di dunia ini sebagai Penyelamat
Advent IV: Sukacita menyongsong Tuhan (Pujian Maria)
Jika thema itu pada hari Senin sampai Sabtu dijalani, maka akan terlihatlah,
bahwa kita menikmati hari Senin dari Minggu Advent 1 berbeda dengan hari
Senin dari Minggu Advent ke 2. Demikian seterusnya dengan hari-hari lain.
Selain dari pada bacaan Alkitab, kepada kita dipersiapkan juga nyanyiannyanyian yang dapat kita gunakan, yang sesuai dengan thema dari Minggu yang
sedang dijalani. Bila kita terus menjalaninya setiap hari melalui pembacaan
itu, baik pagi hari dan malam hari, maka kita akan merasakan bagaimana suatu
kehidupan dijalani dalam misteri kehidupan Kristus.

28
Sebagai contoh, berikut ini akan diambil satu rangkaian bacaan Alkitab pada
suatu Advent 1:
Hari
Minggu
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu

Perj. Lama
Yes 1:1-9
Yes. 1;10-20
Yes. 2:1-4
Yes. 2:5-22
Yes.3: 1-4:1
Yes. 4:2-6

Epistel
2 Petr. 3:1-10
1 Tes. 1:1-10
1 Tes. 2:13-20
1 Tes. 3:1-13
1 Tes. 4:1-12
1 Tes. 4:13-18

Injil
Mat. 25-1-13
Luk. 20:1-8
Luk. 20:19-26
Luk. 20:27-40
Luk. 20:41-21:4
Luk. 21:5-19

Bila Injil hari Minggu di atas dilihat, maka kewaspadaan akan kedatangan
Tuhan kedua kali menjadi tekanan. Hal ini dikuatkan dalam Epistel dari 2
Petrus. Bacaan Perjanjian Lama menyediakan tegoran untuk mengarahkan
sikap hidup bagi orang yang menantikan kedatangan Yesus ke duakali. Untuk
itu kita dapat mengambil nyanyian yang sesuai dengannya, misalnya dari
Kidung Jemaat no 272 279.
Bentuk Perayaan-perayaan dalam Advent
Sebagaimana digambarkan pada awal buku ini, masyarakat kita sudah
mencuri
Natal dan melepaskannya dari mata-rantainya, maka untuk
mengembalikannya kita masih dapat mengadakan perkumpulan-perkumpulan
selama masa Advent. Bila memang kantor kita atau sekolah kita tidak
mempunyai kesematan lagi untuk berkumpul bersama, maka kita dapat
membuat perkumpulan tetapi tetap setia pada thema yang sudah ada.
Mungkin sulit bagi kita membayangkan bagaimana menjalankannya, sementara
kita sudah terbiasa bernyanyi Malam Kudus pada Advent pertama misalnya.
Mungkin agak lucu bagi perasaan kita, bahwa untuk meluruskannya kita dapat
mengambil contoh dari pengalaman saudara-saudara Muslim. Pada bulan
Ramadhan mereka berpuasa. Mereka konsisten menjalaninya. Tidak ada yang
mencoba-coba mendahulukan untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri pada bulan
Ramadhan. Seandainya seperti alasan kita, mereka mengatakan bahwa waktu
untuk berkumpul di kantor adalah pada bulan Ramadhan, maka mereka
berpuasa juga pada siang hari, tetapi sesudah berbuka mereka akan
merayakan Idul Fitri dan besoknya kembali puasa. Namun hal seperti itu tidak
pernah mereka laksanakan. Bila mereka ingin berkumpul pada bulan Ramadhan,

29
maka mereka berkumpul untuk berbuka bersama, sebab itulah cara
perkumpulan ibadah yang cocok untuk masa puasa tersebut.
Betapa janggalnya sebenarnya kalau pada sepanjang minggu Advent jemaat
kita merayakan Natal, membaca Lukas 2, menyanyikan Malam Kudus, dan
bersalam-salaman Selamat Natal walau pun belum tiba, lalu kemudian kita
pada hari Minggu masuk dalam kebaktian di Gereja dan mendengar bahwa kita
sekarang sedang berada dalam Minggu Advent lalu kita bernyanyi
Kusongsong bagaimana, ya Tuhan datangMu atau O datanglah Immanuel,
tetapi malamnya Immanuel itu sudah dirayakan sebagai yang sudah datang,
yang tidak perlu disongsong lagi, lalu hari Minggunya masuk lagi ke Gereja
untuk menyongsong dan menyeru agar Immanuel datang. Sungguh lucu
sebenarnya, selucu kalau ada Muslim yang berani-beranian merayakan Idul
Fitri pada bulan Ramadhan.
Oleh karena itu kalau memang harus berkumpul untuk ibadah, baiklah kita
merayakannya dengan menyebut perayaan itu Kebaktian menyongsong Natal.
Lalu kalau kita mencari thema, kita tinggal melihat, pada minggu ke berapakah
dalam Advent kebaktian itu diadakan, dan melihat pada hari apa, maka di sana
sudah tersedia bacaan Alkitab, dan itulah yang menjadi thema dari perayaan
itu. Biarlah kita bernyanyi pada perayaan itu, dengan menyesuaikan misalnya
nyanyian Akhir Zaman untuk Advent 1, pengakuan dosa atau seruan
pertobatan untuk dinyanyikan pada Advent ke 2 dan seterusnya.
Kantor atau sekolah kita masih dapat juga mengadakan perayaan
menyongsong Natal itu dengan kebiasaan jemaat yang lebih dekat pada
tradisi yang selalu membacakan ayat-ayat tertentu melalui susunan seperti
berikut ini:
Berita Penciptaan,
Kejatuhan Manusia ke dalam dosa,
Janji kedatangan Messias,
Kelahiran Juruslamat dan
Ucapan Syukur atas keselamatan.
Tetapi bila kebaktian itu ada pada masa Advent, maka pembacaan Alkitab
hanya sampai pada urutan ke tiga, entah itu janji kedatangan Messias dalam
Perjanjian Lama, atau penantian kedatangan Juruslamat dalam perjanjian

30
Baru, tetapi tidak akan membacakan Lukas 2 misalnya dan tidak menyanyikan
Malam Kudus, atau Hai mari berhimpun.
Dalam perayaan ini, maka Pohon Natal sebaiknya tidak diletakkan di tempat
perayaan. Simbol Advent sebaiknya dibuat, yaitu lingkaran besar dari daun
pohon pinus atau sejenisnya yang diikat dengan pita merah, dan di atasnya
diletakkan 4 lilin. Acara penyalaan lilin adalah menyalakan lilin yang ada dalam
krans Advent itu, tergantung pada tanggal perayaan: kalau perayaan itu
diadakan pada minggu ke tiga misalnya, maka lilin yang dinyalakan adalah tiga
buah. Demikian seterusnya. Dekorasi juga disesuaikan. Masa Advent ditandai
dengan warna ungu, yaitu warna penutup altar. Oleh karena itu kertas-kertas
creppe yang dipakai untuk menghias sebaiknya didominasi warna ungu. Warna
itu menyimbolkan wana penantian yang berkaitan dengan rasa penyesalan.
Tradisi zaman dulu, yang mengisi minggu Advent dengan puasa, sekarang
sudah mulai hilang. Ada juga sebagian warga jemaat yang mengisinya dengan
berpantang makanan tertentu atau kebiasaan-kebiasaan tertentu, agar dia
tertolong untuk menjalani perlahan-lahan apa yang harus dia persiapkan dalam
hidup kerokhaniannya menyongsong kelahiran Yesus. Melalui itulah seorang
warga jemaat dapat membenamkan dirinya pada Firman Allah melalui
persiapan ini, sehingga ketika tanggal 24 Desember tiba, dia akan
memasukinya dengan kegembiraan yang besar, sebagai akhir dari persiapan
itu, akhir dari hari-hari Advent.
Bila kita sepanjang bulan Desember ramai dengan kebaktian-kebaktian
menyongsong Natal, maka kita tidak akan menjadi lelah karena masuk ke
dalam nyanyian yang sama dan thema yang sama, tetapi kita masuk ke dalam
berbagai tahap yang semakin memuncak, sehingga kita aka tertolong untuk
sungguh-sungguh menjalani masa Advent itu, selangkah demi langkah dipimpin
menuju kebaktian malam tanggal 24 Desember. Di situlah jemaat akan
menyanyikan Malam Kudus. Penghayatan iman akan semakin dalam memasuki
Natal, karena sepanjang 4 Minggu sudah berlangsung persiapan rohani.
Seluruh usul-usul di atas untuk merayakan Natal dengan tepat memang
membutuhkan perlengkapan tertentu. Hingga hari ini kita sangat jarang
melihat perayaan menyongsong Natal atau perayaan Advent. Untuk itu jemaat
membutuhkan contoh-cntoh Tata Kebaktian dan pedoman pelaksanaannya.
Terlampir pembaca dapat melihat satu contoh kebaktian Advent dengan

31
mengikuti model Liturgi Lutheran. Dengan sengaja penjelasan singkat Liturgi
Lutheran di lampirkan juga, agar kita dapat melihat mana rumpun ibadah itu
yang sudah menetap, mana yang dapat dirobah-robah.
Bila perayaan ini sudah benar-benar mulai dijalankan, ini akan menjadi
dorongan untuk para pendeta dan teolog untuk mulai mempersiapkannya jauhjauh hari, agar jemaat boleh mempersiapkan diri memedomani perayaan itu
menurut tanggal dan thema perenungan yang sudah tertentu tadi. Ahli-ahli
musik Gerejawi juga sebaiknya mempersiapkan contoh-contoh Koor yang
cocok untuk dinyanyikan selama Masa Advent, sehingga thema tentang
penantian akan kedatangan Yesus kedua kali di samping penantian akan
keselamatan dalam kehidupan di dunia ini, akan terdengar melalui paduanpaduan suara. Hal ini akan semakin memberi kekuatan untuk dunia ini, untuk
benar-benar masuk ke dalam kerinduan yang menjadi thema dari Masa
Advent itu, sehingga ketika Natal tiba, semuanya akan masuk dengan
kegembiraan khusus.
Namun langkah kecil yang dapat dimulai oleh warga jemaat adalah
mensosialisasilan hal ini pada masyarakat. Hampir seluruh perayaan-perayaan
Natal selama ini ditentukan bentuk dan perayaannya oleh kaum awam. Oleh
karena itu kaum awam sebaiknya mengorganisir diri secara ekumenis untuk
memulai hal ini, baik melalui rapat-rapat pembentukan panitia.
2. Sunguh-sungguh menjalani masa raya Natal
Seperti sudah disinggung di atas, maka hari-hari yang masuk pada Natal
adalah tanggal 25 Desember hingga 5 Januari, berarti terdapat 12 hari.
Tahun Baru Masehi tanggal 1 Januari dirayakan dalam rangka Natal juga.
Setiap hari terdapat penekanan-penekanan khusus untuk Natal itu, yang
ditandai oleh bacaan-bacaan Alkitab yang dikhususkan untuk hari itu, sebagai
berikut:
1. Natal Hari Pertama, 25 Desember: perenungan akan peristiwa kelahiran
Yesus itu sendiri.
2. Natal hari kedua, 26 Desember: perenungan akan hidup Stefanus, Diakon
yang pertama dan yang pertama martir menurut Kisah Para Rasul. Melalui
perenungan ini akan tergambar kehidupan Yesus sendiri dan juga hidup
orang percaya.

32
3. Natal hari ketiga, 27 Desember: perenungan akan hidup Yohanes, murid
yang paling dikasihi oleh Yesus.
4. Natal hari ke empat, 28 Desember: perenungan akan anak-anak yang tidak
bersalah di Bethlehem, yang dibunuh oleh Herodes.
5. Natal hari ke lima, 29 Desember: perenungan akan hidup Simeon yang lama
menantikan Messias di Bait Allah.
6. Natal hari ke enam, 30 Desember: perenungan akan hidup Hanna, yang
juga lama menantikan Messias di Bait Suci.
7. Natal hari ke tujuh, 31 Desember: perenungan akan hidup Yesus yang
sudah ada sebelum Penciptaan.
8. Natal Hari ke delapan, 1 Januari: perenungan akan Yesus yang dibawa ke
Bait Suci. Pada saat inilah jemaat merayakan tahun baru Masehi, sehingga
Tahun yang baru itu dilihat dalam rangka keselamatan kita, seperti yang
nyata dalam Nama Yesus.
9. Natal hari ke sembilan, 2 Januari: perenungan akan Yoh. 3:1-8;
10. Natal hari ke sepuluh, 3 Januari: perenungan akan Yoh. 3:9-15;
11. Natal hari ke sebelas, 4 Januari: perenungan akan Yoh. 3: 16-21;
12. Natal hari ke duabelas, 5 Januari: perenungan akan Yoh. 3: 22-36;
Perlu diingat, bahwa gereja-gereja juga mempunyai perbedaan tradisi
tentang isi dari setiap tanggal tersebut, misalnya Gereja Katolik mempunyai
daftar bacaan yang berbeda dengan Lutheran, berbeda juga dengan Kalvinis.
Namun melalui pemaparan thema-thema yang berbeda selama Natal yang
terdiri dari duabelas hari itu, terlihat betapa luasnya segi-segi yang
direnungkan dalam masa Natal itu. Bila semuanya dijalani satu-persatu, maka
akan terlihatlah keindahan Natal itu lebih dalam lagi.
Sejak tanggal 24 Desember sebaiknya Gereja-gereja dan rumah-rumah kita
dihiasi dengan pohon Natal, di samping krans Advent. Dekorasi warna ungu
sudah boleh digantikan dengan dekorasi warna putih, mengikuti warna tutup
altar pada masa raya Natal. Kertas-kertas creppe juga sebaiknya mengikuti
warna ini lebih banyak, warna lain hanya sekedar mencipta keramaian.
Bila kelompok-kelompok merayakan Natal pada kurun waktu 12 hari ini,
hendaknya disesuaikan dengan thema-thema yang sudah tertentu tadi.
Bahkan dalam rangka memilih tanggal perayaan boleh juga berdasarkan
perenungan yang sudah ada. Misalnya Natal anak-anak dapat diadakan pada
tanggal 28 Desember di saat anak-anak yang tak bersalah di Bethlehem

33
direnungkan, atau kaum Ibu boleh memilih tanggal itu juga mengenang
tangisan Ibu-ibu di Bethlehem, atau tanggal 30 Desember, merenungkan
Hanna yang setia menanti-nanti Juruselamat. Kaum Bapak boleh memilih
tanggal 29 Desember sambil merenungkan Simeon, atau juga tanggal 26,
sambil merenungkan Stefanus. Aktivis LSM atau hak-hak azasi manusia boleh
juga memilih hari yang sama, merenungkan keadilan yang nyata dalam mati
syahid.
Bagi sekolah-sekolah tertentu, mungkin merayakan Natal sesudah tanggal 1
Januari lebih tepat, karena tidak akan menggangu kesibukan pelajaran selama
bulan Desember. Suasana Tahun Baru dalam Natal akan sangat tepat bagi
kantor-kantor, ketika mereka awal tahun mulai masuk kantor tetapi kesibukan
belum begitu terlihat, dalam saat itu perayaan Natal akan mempunyai arti
tertentu.

Bila tiba tanggal 5 Januari, maka jemaat dan rumah kita juga sudah boleh
menyimpan semua dekorasi Natal.
3. Merayakan Natal dalam masa Epiphania
Dalam beberapa jemaat, misalnya di Pulau Nias, terdapat juga kebiasaan
untuk merayakan Natal pada masa Epiphania. Beberapa instansi atau
perkumpulan yang anggotanya berasal dari jemaat yang tetap berpegang
tidak merayakan Natal pada masa Advent, mereka mengadakan perayaan pada
bulan Januari.
Karena Epiphania adalah lanjutan dari Masa Raya Natal, maka kemungkinan ini
pun masih terbuka. Yang perlu diperhatikan adalah tanggal pelaksanaannya.
Ini penting karena setiap Minggu sudah mempunyai thema tertentu:

Hari Epiphania 6 Januari: peristiwa datangnya orang Majus.


Minggu I sesudah Epiphania: penampakan pada dunia di sini dinyatakan
melalui peristiwa pembaptisan Yesus di sungai Yordan oleh Yohanes
Pembaptis.
Minggu II sesudah Epiphania: penampakan pada dunia di sini
dinyatakan melalui peristiwa tanda ajaib yang pertama dilakukan Yesus
pada waktu Perjamuan di Kana.

34

Minggu III
sesudah Epiphania: penampakan pada dunia di sini
dinyatakan melalui peristiwa
penyembuhan hamba dari perwira
Kapernaum.

Di sini dibatasi hingga pada Minggu ke tiga, karena biasanya sesudahnya


sudah jarang yang mengadakan perayaan itu. Terlihatlah bahwa thema-thema
di atas dapat terkait dengan mudah pada thema-thema yang ditemukan di
dalam Masa Raya Natal. Oleh karena itu dalam mengambil nyanyian, masih
ditemukan thema Epiphania di dalam nyanyian Natal, misalnya Kidung Jemaat
no. 109, 119, 123, dll. Dekorasi akan didominasi warna putih pada tanggal 6
dan sesudahnya, atau warna hijau pada hari-hari Minggu sesudah Epiphania.
Minggu-minggu penampakan memang benar-benar merupakan seruan yang
mengejutkan, agar jemaat bangkit dan menjadi terang, sebab Terang itu
sudah datang pada kita. Itulah sebabnya di dalam berita Epiphania kita selalu
mengalami suasana yang terhambat, mandek, terbuka kembali oleh Yesus,
baik dalam Baptisan Yesus, Perjamuan di Kana, Pemberian makan 5000 orang,
atau Penyembuhan hamba Perwira dari Kapernaum. Epiphania benar-benar
pemberitaan yang sangat relevan dengan dunia kita saat ini.

V
Dekorasi Natal
Apa boleh buat, perayaan Natal memang sangat erat terkait dengan budaya
Eropa Barat yang menyebar ke dunia lain melalui Kolonisasi di Amerika dan
Australia serta Afrika Selatan, maupun melalui kolonialisme dan penginjilanpenginjilan ke belahan dunia lain. Karena dia adalah perayaan budaya, maka di
dalamnya terdapat berbagai unsur-unsur, termasuk kue-kue tertentu, makan
malam, musik dan juga dekorasi.
Sebaiknya disadari juga, bahwa Natal tetap dirayakan oleh semua orang yang
berlatarbelakang Eropa Barat, walau pun mereka sebagian sudah menyatakan
diri bukan lagi bagian dari Kekristenan. Memang bagi mereka agama adalah

35
urusan pribadi. Bila Minggu pertama Advent jendela-jendela mereka sudah
dihias dengan dekorasi yang sangat teduh, maka itu tidak berarti bahwa
mereka mau menunjukkan bahwa mereka adalah Kristen, tetapi memberi
kesan bahwa mereka adalah dari latar belakang budaya Eropa. Itulah
sebabnya dekorasi yang ditempel dan diletakkan di jendela tidak
menunjukkan segi-segi agama.
Pohon Terang misalnya, yang mulai di pasang di pusat-pusat perbelanjaan,
stasiun kereta api, lapangan terbang dan di pusat-pusat hiburan, semuanya itu
menunjukkan kaitan dengan budaya Eropa. Pohon Terang juga adalah milik
budaya Eropa. Oleh karena itu hiasan-hiasannya pun tidak menunjukkan
nuansa agama. Rasa keagamaan itu barulah kita lihat dalam dekorasi yang ada
di Gereja. Di sana ada juga pohon terang, tetapi melihat hiasan yang
digantungkan pada Pohon Terang memberi kesan religius, termasuk juga
warna. Memang di mana-mana warna tradisionil Natal yaitu merah dan hijau
selalu terasa di mana-mana. Tetapi di gereja akan terlihat sentuhan
dekoratif yang mengingatkan akan Maria dan Bayi itu, akan para Gembala,
salib yang dimunculkan dengan sinar yang lebih lembut, bintang-bintang
dengan latar belakang warna biru mengingatkan suasana Efrata, malaikatmalaikat yang bernyanyi, lonceng gereja yang berpita merah dan lain-lain.
Selanjutnya dekorasi Natal sudah menjadi bagian dari industri. Oleh karena
itu seluruh yang terlibat dengan dunia Industri akan memasuki dekorasi Natal
juga. Itulah sebabnya di Jepang misalnya, di mana Kristen sangat minoritas,
tetapi dalam foto-foto kita lihat pusat-pusat perbelanjaan mereka di kotakota besar terlihat dihiasi dengan pohon terang dan dekorasi Natal lainnya.
Itulah sebabnya dekorasi Natal jadinya diprosduksi di Asia juga, antara lain
dari Hong Kong. Lalu muncullah corak dekorasi khusus di daerah Asia
Tenggara yang dipengaruhi warna Cina, yaitu merah Natal itu menjadi warna
merah Naga yang sering kita lihat pada waktu Imlek. Warna kuning emas pun
jadinya lebih dekat pada kuning emas budaya Cina. Berbagai corak hiasan
baru bermunculan yang sebenarnya merupakan inkulturasi dari budaya Asia
terhadap budaya Eropa (bukan terhadap Kekristenan).
Bagi kita di Indonesia terdapat kesan, bahwa orang Kristen tidak terlalu
membedakan mana dekorasi yang melulu adalah untuk budaya Eropa (versi
Cina) dan mana untuk ekspressi iman Kristen. Itulah sebabnya di gedunggedung gereja dilengketkan berbagai dekorasi yang sebenarnya cocok untuk

36
resepsi di luar atau untuk pusat-pusat perbelanjaan. Atas dugaan bahwa
Natal milik Kristen, maka setiap dekorasi yang ditawarkan sebagai dekorasi
Natal, dianggap milik Kristen, sehingga masuk ke perayaan kita tanpa seleksi.
Beberapa lampu-lampu yang digunakan di diskotek2 atau di bar-bar bahkan
dalam rumah-rumah yang menampung perbuatan kotor, jadinya masuk di
gereja. Seolah-olah setiap lampu yang berkedip-kedip dan berkejaran identik
dengan hiasan Natal Kristen.
Mengembalikan perayaan Natal pada jalurnya jadinya mempertimbangkan
dekorasi. Bila memang perayaan kita juga berkaitan dengan resepsi, maka
dekorasinya tentunya disesuaikan. Tetapi bila itu berkaitan dengan kebaktian
juga, maka akan ada sudut tertentu di mana ekspressinya berbeda dengan
dekorasi budaya tadi. Dengan demikian kesyahduan kehadiran Kristus terasa
melalui dekorasi. Bila harmony dan melodi dari nyanyian Malam Kudus misalnya
diresapi, maka rasa seni kita dapat memilih dekorasi manakah yang sesuai
dengan itu. Dekorasi yang berkilat-kilat mungkin merupakan expressi dunia
industri dengan segala kemenangannya yang gemilang dalam menguasai dunia
ini. Tetapi bila Raja Kita, Sang Juru Slamat dunia, yang datang dalam
kelembutan, maka ekspressi dekoratifnya juga akan dapat disesuaikan.

37

V
Natal dan Keadilan
(sebuah refleksi)
Dalam natal dirayakan Allah menjadi daging. Mysteri ini kita dapat baca di
dalam Filipi 2:6-11. Yesus Kristus terlihat sangat bebas, dan tidak
mempertahankan apa pun. Dia mengosongkan DiriNya sendiri dan mengambil
rupa seorang hamba. KebebasanNya membuat dia radikal, dalam arti kata
sebenarnya, yaitu menembus sampai ke akar-akarnya. Tindakan radikal ini
sungguh mengejutkan: Dia berani melepaskan segalanya, bahkan melepaskan
yang seharusnya menjadi hakNya. Dia meninggalkan itu semua, hatiNya
tertuju hanya pada satu saja, pada keselamatan kita. Dia tinggalkan Bapa.
HatiNya murni! CintaNya terarah pada satu saja dan yang lain menjadi tidak
perlu lagi.
HatiNya yang murni ini nyata dalam keberanianNya untuk melepas. Dia
tidak meraih apa pun lagi, karena kita, dan dia tidak mengharapkan apa pun
untuk DiriNya, karena kita. Demikianlah dia menjadi miskin, mengambil rupa
seorang hamba. KebebasanNya untuk menjadi miskin, membuat dia radikal,
berdampak sampai ke akar-akarnya.
Sekali Dia melangkah, Dia tidak mundur, karena itu bukan untuk DiriNya
tetapi karena melakukan kehendak Bapa. Itulah sebabnya dia taat, bahkan
taat sampai mati! KetaatanNya menujukkan bahwa Dia memang benar-benar
bebas, tertuju pada satu hal saja, kehendak BapaNya. Itulah sebabnya Allah
sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala
nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan
yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku:
"Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil:2:10-11)
Namun dalam ayat 5 disebut agar kita dalam hidup bersama menaruh
pikiran dan perasaan seperti yang terdapat dalam Kristus Yesus. Ini
sungguh suatu rahasia, kita diundang untuk dapat menyatukan diri padaNya.
Mengambil bagian dalam ketaatanNya, kemurnian hatiNya dan kemiskinanNya.

38
Mysteri ini kita sambut dalam perayaan Natal itu. Kita turut ambil bagian
dalam keadilan Allah ini, dan itulah yang kita rayakan. Oleh karena itu
pemahaman dasar terhadap mysteri ini dapat kita petik dari rumusan Martin
Luther dalam khotbah Natalnya yang menyebutkan:

Sebagaimana Firman Allah menjadi daging, maka tentulah sangat


perlu bahwa daging itu menjadi Firman juga. Karena itulah sebabnya
maka Firman menjadi daging, agar daging itu menjadi Firman. Dengan
kata lain: Allah menjadi manusia, agar manusia menjadi Allah. Jadi
Kuasa dijadikan tidak berkuasa, agar kelemahan menjadi berkuasa.
Logos itu mengenakan wujud, bentuk, gambar dan kesamaan dengan
kita, agar Dia mengenakan pada kita gambarNya, WujudNya dan
KesamaanNya.
Ini sejajar dengan II Petrus 1: 4: .supaya olehnya kamu boleh mengambil
bagian dalam kodrat ilahi,. Peristiwa dahsyat ini memang benar-benar
dialami oleh orang percaya dalam hidupnya, sehingga orang percaya mampu
melihat melalui baptisanNya dapat berkata: namun aku hidup, tetapi bukan
lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan
hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam
Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
Dalam Natal, kenyataan inilah yang kita rayakan.
denganNya, sehingga kita menjadi radikal hanya
kita dapat bergerak bebas untuk keadilan yang
Perayaan itu mengembalikan kita pada identitas
terlihat dalam rangkaian perayaan Natal itu:

Kita mengalami penyatuan


di dalam Dia. Demikianlah
sedang diperjuangkanNya.
bebas ini. Seluruhnya itu

Bila Firman itu kita rayakan benar menjadi daging pada tanggal 25 Desember,
maka tanggal 26 Desember kita segera merayakan Stefanus, diaken yang
mati martir. Lalu tanggal 27 Desember prayaan kita mengingat Yohannes, dan
28 Desember mengingat anak-anak Bethlehem yang mati karena kekejaman
Herodes. Apakah ada garis berpikir dibaliknya yang menolong kita untuk
turut berpartisipasi dalam keilahianNya?
Ketiga perayaan ini dan pribadi yang turut dilibatkan dalam perayaan itu
menunjukkan tiga tonggak dari mati syahid: mati syahid dalam kehendak dan
dalam kenyataan (Stefanus), dalam kehendak tanpa sempat dalam kenyataan

39
(Yohanes) dan dalam kenyataan tanpa berkehendak untuk itu, mati syahid
tanpa sadar (anak-anak Bethlehem). Tetapi mati syahid bagi Kekristenan
adalah sebagai kelahiran sorgawi dan buah dari kelahiran Kristus, itulah
sebabnya jemaat mula-mula menyanyikan: Kemarin Kristus lahir di bumi, dan
hari ini Stefanus lahir di sorga! Hubungan yang dekat antara kelahiran
Kristus dan Yohanes adalah karena dia murid yang dikasihi yang dilihat
memberitakan Firman menjadi daging. Dan anak-anak Bethlehem, bunga dari
kemartiran, kuntum mawar yang dihancurkan oleh pengejaran dan
kecemburuan, bagaikan persembahan buah bungaran pada Kristus, kawanan
domba lembut untuk korban bakaran, mereka semua juga adalah mewakili
anak-anak sorgawi. Melalui kemartiran anak-anak ini terngianglah ucapan
Yesus :Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga!
Perayaan Natal memasukkan kita pada mysteri martir, sebagai buah kelahiran
Kristus. Bagi mereka yang mati martir, tidak ada lagi apa pun yang
dipertahankan, mereka rela masuk ke dalam penyerahan total. Mereka benarbenar adalah orang yang sudah dibebaskan, karena mereka turut ambil bagian
dalam kodrat ilahi yang ditemukan dalam Kristus, yang taat sampai mati!
Demikianlah kemartiran ini segera disambung dengan penantian tanpa hentihenti dari Simeon dan Hanna, yang dirayakan tanggal 29 Desember dan
tanggal 30 Desember. Penantian mereka setiap hari di Bait Suci menunjukkan
kepastian walau pun mereka tidak melihat apa-apa. Dan ternyata kepastian
mereka tidak sia-sia. Kristus ada di pangkuannya, dan dia akhirnya berkata :
Biarkanlah hambaMu ini pergi sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah
melihat keselamatan. Penyerahan total. Itulah seruan Simeon, dan seruan
Simeon ini menjadi seruan setiap orang percaya dalam doa malam, yang
merelakan hidupnya pada Allah bila Allah memang berkenan mengambilnya
malam itu. Doa itu tidak mempertahankan apa pum, membuat menjadi bebas,
lepas dari rasa bermilik.
Spiritualitas keadilan yang transformatif, muncul dari perayaan Natal itu. Dia
tidak mungkin lagi dirayakan menjadi bagian dari kemewahan dan
konsumerisme, karena umat percaya dalam perayaan ini diingatkan untuk
bersatu dengan Kristus sehingga dimampukan untuk melepaskan segalanya .
Inilah titik tolak untuk perjuangan keadilan.

40
Perjuangan keadilan tidak lagi semata-mata bagian dari demonstrasi saja atau
perbuatan kebajikan lainnya, tetapi di sana ada kerelaan diundang masuk pada
ketaatan, kemiskinan dan kemurnian Yesus. Itulah sebabnya perjuangan
keadilan adalah perjuangan tanpa kata, melainkan suatu perjalanan yang
tersembunyi di dalam Kristus yang sedang berjuang.
Tentunya bagi manusia yang dibentuk oleh perayaan Natal sedemikian ini akan
memberi tanda-tanda dalam dirinya. Tanda-tanda itu kiranya pembaca
temukan dari kutipan seorang Romo yang saya tidak tahu lagi namanya dan
judul bukunya. Tanda-tanda kepribadian rohani ini akan menunjukkan bahwa
seseorang bersedia dibentuk menjadi bebas seperti Kristus, sebagai berikut:
Tanda-tanda kepribadian rohani:
S E D E R H A N A :
Tidak mudah untuk mengungkapkan apa artinya kata sederhana. Sekedar
untuk membantu usaha pemahaman, dapat dibedakan dua macam
kesederhanaan: Pertama, kesederhanaan seseorang yang kurang mempunyai
pengetahuan karena sedikit pengalaman. Kedua, kesederhanaan seseorang
yang telah lama bergulat dalam hidup lewat pengalaman-pengalaman.
Kesederhanaan yang dimaksud di sini ialah kesederhanaan yang kedua. Orang
yang sederhana ialah orang yang tutur kata, perilaku dan tidakannya
mempunyai keserasian dengan kesederhanaan yang mendalam. Apa yang
dikatakannya, dilakukannya, semuanya itu keluar dari kedalaman hatinya,
bukan yang hanya sekedar keluar secara spontan dan dangkal timbul dari
hatinya. Kesederhanaan seseorang yang telah menguasai diri, tahu mana yang
pokok dan mana yang tidak pokok, akan memancar dalam tata kehidupan
sehari-hari, seperti hidup teratur, tahu batas diri, tahu menerima kegagalan,
tahu menyerahkan diri kepada Allah, tidak malu minta bantuan dan lain
sebagainya.
L E P A S
B E B A S :
Lepas bebas ini merupakan sikap orang yang sadar bahwa dirinya sedang
berada dalam perjalanan, menuju ke suatu yang lebih besar, lebih baik, lebih
penuh. Karena menyadari itu, orang mulai melihat bahwa segala sesuatu yang
dialami dan dimiliki itu dilihat dalam kerangka tujuan yang "lebih" itu tadi.
Dalam pilihan, orang yang lepas abebas akan memilih hal yang lebih menunjang
ke tujuan itu. Terhadap pilihan itu pun dia sanggup meninggalkan segalanya

41
kalau ternyata ada yang lebih membawa ke tujuan. Orang yang lepas bebas
mampu meninggalkan sukses hidup yang sudah dialaminya selama ini untuk
memulai dari nol lagi. Dia tidak terikat oleh pola hidup, dan berani
meninggalkannya kalau dituntut untuk berbuat itu. Memang masih banyak
contohkonkrit lain untuk menggambarkan apa arti lepas bebas. Pada
pokokonya dia hanya melekat pada suatu tujuan yaitu: cintanya kepada
Kristus, yang lain menjadi nomor dua. Meskipun secara konkrit dia harus
masih memperjuangkannya, dia tetap tekun dan kuat memegang prinsip antara
tujuan dan sarana.
H E N I N G :
Orang yang biasa mengalami saat yang hening, dia akan menjadi orang yang
hening. Orang yang hening hidupnya mengetahui ke mana harus pergi dalam
menghadapi gejolak dan pergulatan hidup. Doa semakin mengambil peranan
dalam hidup. Karena semuanya dia lihat dalam perspektif kehadiran dan
kehendak Allah, orang yang hening mempunyai kepekaan rohani. Dalam
menghadapi peristiwa hidup ia tidak emosional. Kalau pun pada suatu saat
mengalami gerakan yang emosional, orang yang hening tahu menanti saat
emosi ditata kembali dan baru merefleksikan secara jernih pengalamannya,
kemudian mulai mengambil sikap atau pun keputusan yang layak. Orang yang
heninga dapat menempatkan segala sesuatu dalam tempatnya yang wajar. Dia
tidak berpandangan ekstrim dan tidak memutlakkan segala sesuatu. Dalam
setiap saat dan peristiwa dia dapat dengan bebas menghayati, bukan sebagai
yang menakutkan atau pun mengancam, melainkan sebagai yang bermakna bagi
dirinya.
D I S I P L I N / T A A T :
Hidup yang sederhana, lepas bebas dan hening itu akan membawa kejernihan
dalam perilaku hidup. Hati selalu makin siap dan berjaga. Karena itu dia akan
bersatu dengan Allah dalam hidup sehari-hari, yaitu taat kepada
kehendakNya. Taat itu keluar dari kedalaman hati yang sadar bahwa Allah
selalu menyapa dirinya. Dia mampu menemukan Allah dalam setiap saat. Orang
seperti itu dalam segala tindakan tidak mencari kepentingan egoistis, tetapi
dalam segala hal, entah hidup atau mati, hanya demi kemuliaan Allah. Dalam
visi ketaatan iman seperti itu, orang mampu menghayati hidup yang monoton,
karena dia sudah ditangkap oleh Allah. Dalam ketidak-pastian, dia menemukan
kepastian bahwa Allah hadir dan mencintai, sebab orang itu sudah
mengingkari kehendak pribadinya dan hanya melakukan kehendak Allah,

42
jiwanya sudah keluar dari diri sendiri dan tertangkap oleh Allah. Kegagalan
untuk berdisiplin dan taat berkaitan dengan hidup yang sederhana, lepas
bebas dan hening. Sebuah persaudaraan atau hidup bersama yang gagal
berdisiplin adalah karena mencari kepentingan egoistis, yang jiwanya belum
menyerah sepenuhnya kepada Allah.
KEHADIRAN YANG MEMBANGUN:
Karena orang itu semakin tertangkap oleh Allah, maka dia akan semakin
diresapi oleh semangat dan sifat-sifat ilahi. Oleh karena itu kehadiran orang
seperti itu akan mampu untuk membangun hidup orang lain. Itu berarti tutur
kata, tingkah laku dan perbuatannya mengarahkan orang yang di sekitarnya
pada nilai-nilai Kristiani, menumbuhkan kerinduan pada hal-hal yang luhur.
Tantangan yang paling besar ialah membuat batu sandungan. Orang yang
kehadirannya membangun hidup sesama tidak menekan dan tidak mengancam;
kehadirannya memberikan keleluasaan dan kemerdekaan, lebih cenderung
untuk mencari unsur-unsur yang positip pada diri orang lain, dan kalau pun
memberikan kritikan, selalu dengan tujuan membangun dan demi kebaikan
bersama. Kehadirannya memberikan kegembiraan, damai dan optimisme hidup.
Tanda-tanda tersebut benar-benar mendorong orang percaya untuk menjalani
hidup yang radikal sesuai Kristus, dan benar-benar menjadi buah dari
kesempatan yang diberikan pada orang percaya untuk mengambil bagian
dalam keilahianNya. Dengan demikian keadilan akan sungguh-sungguh
senantiasa diperjuangkan.
Oleh karena itu, sebagaimana dimaksudkan oleh buku ini, kiranya tidak turut
dengan mereka yang sesuka-suka hati merayakan Natal sesuai dengan
keinginan hatinya. Jangan lagi turut ambil bagian dalam merayakan Natal
sebelum waktunya.

43

VI
Lampiran
(rancangan untuk kebaktian Advent atau
Natal)
1. Pegangan khusus dalam penyusunan kebaktian:
Terdapat kecenderungan bahwa kebaktian yang dilakukan oleh gereja-gereja
dari arus utama dinilai sebagai sesuatu yang membosankan. Penilaian ini
memang sering dilihat dari sudut corak kebaktian Gerakan Kharismatik atau
Gerakan kaum Injili (Evangelikal). Ini mendorong kita untuk selalu mencipta
Liturgi dengan istilah liturgi kontemporer atau liturgi Alternatif yang selalu
dibayang-bayangi oleh corak kebaktian gerakan tersebut. Namun sebaiknya
dalam menyusun kebaktian seperti itu, kita menyadari kesamaan gereja arus
utama dengan Saudara-saudara kita dari Gerakan Kharismatik dan
Evangelikal. Untuk itu berikut ini akan disampaikan beberapa pertimbangan
umum:
UNSUR-UNSUR
KEBAKTIAN
KHARISMATIK
DAN
GERAKAN
EVANGELIKAL
YANG TIDAK DAPAT DIKAITKAN DENGAN Liturgi Kontemporer

A. Corak jemaat non-liturgis

44
1. Bila penyusunan Liturgi Alternatif selalu menunjuk pada kebiasaan
kebaktian di kalangan evangelikal/revialist dan juga gerakan
kharismatik, maka masalah pertama adalah bahwa gerakan-gerakan
tersebut bukan jemaat liturgis. Itulah sebabnya kebaktian mereka
tidak mempertimbangkan unsur-unsur Liturgis, dan keseluruhan hidup
kerokhaniannya tidak berkaitan dengan hidup liturgis.
2. Sementara itu GEREJA-GEREJA ARUS UTAMA adalah jemaat
liturgis, bukan saja karena terlihat susunan kebaktiannya mengikuti
pola liturgis yang benar, tetapi keseluruhan hidup berjemaat dibentuk
melalui hidup liturgis. Penyusunan Liturgi Alternatif harus hati-hati
dengan kenyataan ini, sebab pada umumnya terlihat Liturgi Alternatif
tunduk pada corak yang bukan liturgis, di mana yang terjadi adalah
pengurangan unsur-unsur liturgis bahkan susunan berobah, dan
terlihatlah bahwa pada akhirnya lebih dekat pada corak kebaktian nonliturgis.

B. Fungsi Nyanyian dalam Kebaktian


1. Khotbah adalah inti dan puncak kebaktian. Nyanyian dalam gerakan
Kharismatik dan evangelikal adalah untuk membuka jalannya Firman
memasuki hidup jemaat melalui khotbah.
2. Sementara dalam kebaktian jemaat liturgis
nyanyian adalah
bagian integral dari keseluruhan kebaktian.
C. Penggunaan Sound-system
1. Pengeras suara menentukan dalam kebaktian kharismatik dan
gerakan evangelikal/revialist. Volume harus otoriter, atau
maksimum sehingga hadirin seolah-olah tenggelam dan melihat
dirinya tidak ada lagi, sehingga dia mudah diarahkan dan dipimpin.
2.

Sementara bagi jemaat Liturgis volume tidak akan memekakkan


telinga, jemaat masih dapat mendengar suaranya sendiri ketika
bernyanyi, mereka akan disapa dengan volume yang sesuai untuk
mengambil keputusan sesuai dengan pertolongan Roh Kudus.
Mereka tidak perlu dipengaruhi oleh peralatan tekhnis supaya
bertobat, karena sebagai jemaat Protestant kita sama setuju
dengan Martin Luther: Aku tidak dapat percaya hanya dengan
keinginanku sendiri, tetapi Roh Kudus telah memanggil aku

45

3.

Karena berkaitan dengan sound system ini posisi MC sangat


menentukan, maka di bagian inilah juga MC dibicarakab. Dia pada
dasarnya adalah pengarah dari keseluruhan proses kebaktian
menuju khotbah. Siap tidaknya hati dan suasana jemaat sebelum
mendengar Firman, sangat ditentukan oleh peranannya. Itulah
sebabnya dia pun memegang seluruh suasana, termasuk dialog
dengan jemaat. Dialah yang berdiri di tengah-tengah suasana.

4.

Berbeda dengan Pemimpin Liturgi dalam jemaat liturgis, pemimpin


itu mewakili peranan Allah, dalam kebaktian yang dasarnya adalah
dialog antara jemaat dengan Allah. Oleh karena itu Liturgist tidak
berdiri atas dasar kepribadiannya. Di sini beda yang sang sangat
mendasar dengan MC dalam jemaat yang tidak liturgis. Oleh karena
itu, dalam Liturgi Alternatif, MC harus diberi isi Liturgist dalam
bentuk khusus, sehingga bukan keinginannya yang diperintahkan
pada jemaat ketika dia mengajak bernyanyi atau mengajak suasana
yanbg lebih ceria.

UNSUR-UNSUR KEBAKTIAN KHARISMATIK


DAN GERAKAN EVANGELIKAL
YANG MENDUKUNG
PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN
LITURGI ALTERNATIF
1.
Song Leader dan MC
Song Leaders sangat mendukung untuk menolong jemaat menyanyikan
nyanyian sesuai dengan melodi yang tepat. Selain itu semangat yang
diperlukan untuk nyanyian itu telah berhasil ditunjukkan oleh song leaders
sehingga jemaat dapat tertolong untuk bergerak dari satu nyanyian ke
nyanyian lain, sambil masuk ke dalam pesan yang ingin disampaikan oleh
nyanyian tersebut.
Hal seperti ini dapat diikuti oleh Liturgi Alternatif, tetapi sebaiknya
mempertimbangkan sisi negatif tadi, bahwa sebenarnya song leaders
mendominasi juga kebaktian melalui soundsystem agar jemaat tergiring dan
tidak mendengar suara sendiri. Oleh karena itu, peranan song leader harus

46
menjadi apa yang disebut dalam tradisi kita cantor, penolong jemaat untuk
bernyanyi dengan benar.
Kemungkinan lain adalah peranan Paduan Suara. Paduan Suara itu akan
berperanan dari depan sampai akhir. Seandainya ada waktu, supaya suasana
lebih ceria, setiap nyanyian yang akan dinyanyikan diaransemen sedemikian
rupa untuk mengiringi jemaat. Bisa juga jemaat bersahut-sahutan dengan
Paduan Suara. Selain itu Paduan Suara juga akan berperan mengiringi altar
calling pada saat sesudah khotbah. Peranan mereka dalam mengantar
jemaat pulang atau mengiringi orang-orang yang sedang dalam pelayanan
pribadi, juga akan menjadi penting.
2.
Persiapan rohani
Seluruh kebaktian selalu dipersiapkan melalui doa yang intensif. Ini tidak
berlaku bagi pengkhotbah saja, tetapi setiap bagian yang menangani bagianbagian kecil bersama-sama mempersiapkan diri secara rohani. Mereka melihat
setiap penampilan mereka sebagai suatu peperangan rohani yang sangat
menentukan. Semangat seperti ini sudah ditemukan sejak awal dalam bentuk
lain di jemaat kita, di mana pengkhotbah diajak untuk berkhotbah bagaikan
khotbah terakhir, karena hidup pada hari mendatang belum tentu mengijinkan
kembali berkhotbah. Itulah sebabnya persiapan mereka dahulu sangat
intensif.
3.

Persiapan teknis yang matang


Berkaitan dengan itulah persiapan teknis menjadi sangat menentukan dan
umumnya dilakukan sebelum seluruh jemaat datang. Sentuhan-sentuhan
kecil sangat diperhatikan termasuk dekorasi, keindahan letak kursi,
microphone dll.
Persiapan ini berkaitan juga dengan pemahaman imamat am orang percaya
yang sangat kuat, di mana setiap orang pada dasarnya dapat melayani,
baik dalam bagian-bagian pemberitaan Firman dalam kelompok kecil atau
bimbingan pribadi. Oleh karena itu setiap bagian yang diserahkan untuk
dikerjakan seseorang, bukanlah atas nama atasannya atau atas nama
pendeta, tetapi dia memang bertanggungjawab penuh untuk bagian itu.
Dia hanya diminta untuk koordinasi.

4.

Penyambutan tamu dan suasana intim

47
Penyambutan yang intim seperti yang terdapat dalam gerakah kharismatik
dan kaum evangelikal, memang didasari oleh keinginan kuat untuk
memenangkan jiwa-jiwa, sehingga setiap orang mendapat perhatian
khusus, terutama mereka yang pertama sekali datang. Penyambutan itu
juga merupakan pewujudan makna persekutuan di antara sesama yang
sudah lahir baru (yaitu ukuran untuk menilai seseorang sudah termasuk
golongan kita atau belum). Keintiman ini menjadi jalann untuk
meneguhkan hati yang belum supaya terdorong untuk penyerahan diri.
Suasana seperti ini hilang bagi kita, karena ada penghayatan yang salah,
seolah-olah semua datang untuk mengambil sendiri apa yang diperlukan
olehnya, mengisi rohaninya. Sementara Kebaktian lebih didominasi para
parhalado yang tentunya tidak dapat lagi membagi waktu untuk mencipta
suasana intim.

3.

Garis Besar sebuah Liturgi Lutheran

Dalam bagian berikut akan dilampirkan salah satu contoh kebaktian menurut
Liturgi Lutheran yang dilaksanakan bukan di dalam Gereja. Oleh karena itu
bila ingin menggunakannya dan menyesuaikan dengan kondisi setempat,
hendaknya difahami dahulu mana unsur-unsur yang tetap dan mana unsurunsur yang dapat berobah sebagai berikut:

Unsur-unsur
Liturgi
Prelude

Penjelasan Liturgi Lutheran


Dimainkan oleh pemain organ, yang berfungsi untuk
mempersiapkan diri pada sikap doa dan pujian.

Lonceng
dibunyikan

Panggilan pada umat Allah sambil mengingat Mazmur


100:4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan
nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan pujipujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!

Nyanyian untuk
Invocation

Sebagai jemaat yang bernyanyi jemaat yang sudah


berkumpul mengikuti petunjuk Paulus:. menyanyikan
mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu

48
mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

Invocation

Menyeru Allah yang selalu hadir, sehingga ke-Mahahadiran-Nya nyata bagi jemaat. Seruan ini juga mengingatkan
jemaat akan baptisannya. * Matt. 28:19; Matt. 18:20;
Eph. 2:18.

Pengakuan Dosa

Pengakuan menunjukkan penerimaan Allah akan manusia,


walau pun manusia penuh dengan dosa. Dengan demikian
jemaat dimungkinkan juga untuk saling menerima
* I Yoh 1:8-10 [Rom. 7:14-8:4].

Pemberitaan
Pengampunan
Allah

Pemimpin mewakili Allah untuk menyampaikam


pengampunan Allah bagi mereka yang mengaku dosanya.
* John 20:23.
Liturgi Sabda

Sejak jaman Rasul hingga hari ini. Unsur liturgi yang penting adalah
pembacaan Alkitan, termasuk Perjanjian Lama, Epistel dari Perjanjian Baru
dan Pembacaan Injil. Penekanan teologisnya adalah bahwa Firman Allahlah
yang menjadi pembimbing dan pengarah iman dan hidup orang percaya. Liturgi
Sabda disimpulkan di dalam khotbah.(sebagai firman yang diberitakan),
dilanjutkan dengan pengakuan iman sebagai sambutan akan Firman Allah dan
doa jemaat.
Introitus

Introitus yang berasal dari introit dalam bahasa Latin


yang artinya : dia masuk pada . Intoritus adalah bagian
dari Mazmur atau nyanyian yang memberitakan thema hari
itu sesuai tahun gerejawi dan merupakan permulaan
Liturgi Sabda. Pada jaman dulu, jemaat sebelumnya
memulai di luar ruangan, barulah kemudian pada saat
Introitus mereka mulai masuk ke Gereja sambil
menyanyikan Mazmur. Introitus bisasanya terdiri dari
Antiphon, atau refrain, sebuah Mazmur atau rangkaian
beberapa ayat dari Mazmur, Gloria Patri*, dan kemudian
Antiphon
diulangi.

49
* Rom. 16:27; Eph. 3:21; Phil. 4:20; Wahyu. 1:6, 8.
Doa mohon
pengasihan
( Kyrie )

Kyrie adalah doa permohonan untuk pertolongan dan


penguatan*. Pada jaman dulu rakyat akan berseru Tuan,
kasihanilah kami di saat raja memasuki kota mereka.
Jemaat mengambil alih doa ini menyambut kedatangan
Raja mereka, yaitu Yesus Kristus, dalam kehadirannya
pada perayaan Liturgi.
* Mat. 9:27; Mat. 15:22; Mat. 20:30-31; Luk. 17:13.

Nyanyian
Kemuliaan

Dua thema di sini, yaitu nyanyian malaikat akan kemuliaan


Allah dan tentang perayaan penuh kemenangan
Luk. 2:14; Wahyu. 5:12dab.

Salam

Seruan salam satu sama lain di dalam nama Tuhan


* Rut 2:4; Luk. 1:28; II Tess. 3:16; II Tim. 4:22.

Doa Kollekta

Pokok utama dari hari Minggu ini menurut Tahun gerejawi


dikumpulkan (yang menjadikan nama doa ini doa collect)
dan diringkaskan dalam doa pendek.

Pembacaan
Perjanjian Lama

Pada bagian ini selalu Perjanjian Lama yang dibacakan,


kecuali pada masa raya Paskah, di mana Kisah Rasul yang
akan dibacakan. Pembacaan Perjanjian Lama ini biasanya
berkaitan dengan Injil pada hari itu.
* I Tim. 4:13.

Peralihan
(Gradual)

Gradual, berasal dari bahasa Latin yang berarti langkah.


Ini merupakan tanggapan pada Pembacaan PL, dan sering
diambil dari Mazmur, merupakan Mazmur tanggapan, yang
diucapkan atau dinyanyikan.

Pembacaan
Epistel

Diambil dari Surat para Rasul dalam Perjanjian Lama.

Penyambutan
akan
Pembacaan Injil

Sebuah ayat* sebagai pendahuluan. Di beberapa tradisi di


sini dinyanyikan Haleluya untuk menyambut pembacaan
Injil
* Yoh 6:68; Joel 2:13

50

Pembacaan Injil

Pembacaan bagian dari hidup Yesus menurut ke empat


Penginjil Matius, Markus , Lukas dan Yohanes. Karena di
sini Yesus secara khusus hadir, maka jemaat pada saat ini
berdiri untuk penghormatan, bahkan sering didampingi
oleh Lilin yang menyala yang menunjukkan bahwa Yesus
adalah Terang Dunia.

Nyanyian Thema Nyanyian ini berisi thema hari itu sesuai dengan
pembacaan Injil.
Khotbah

Pemberitaan Firman Allah yang menekankan keinginan


Allah (Taurat) dan juga karya Allah bagi kita melalui Yesus
Kristus (Injil).

Pengakuan Iman

Sesudah mendengar firman Tuhan jemaat menanggapi


dengan mengaku apa yang dipercayai.
* I Kor. 15:1ff; I Pet. 3:18ff; I Tim. 3:16.

Doa-doa

Rangkaian permohonan sebagai akhir dari bagian pertama


* I Tim. 2:1-2.

Lalu disambung dengan Liturgi Perjamuan Kudus


3. Contoh Kebaktian Advent :

LITURGI
dalam rangka
Keluarga Besar DORBI menyongsong Natal (Advent)

51

Thema:
Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang: Tuhan sudah dekat
(Filipi 4:5)

sub thema:
melalui persiapan menyongsong Natal, keluarga besar semakin
bersungguh-sungguh menyatakan imannya di dalam hidup saling mengasihi
Pematangsiantar, 18 Desember 2003
A.Ucapan Selamat Datang dari Panitia
B. Persiapan beribadah:
1. Nyanyian untuk Persiapan hati:
Hari Ini Kurasa Bahagia
D=do. Tempo, 120
Hari ini kurasa bahagia, / Berkumpul bersama saudara seiman/ Tuhan Yesus
tlah satukan kita,/ Tanpa memandang di antara kita/ Bergandengan tangan
dalam kasih / dalam satu hati, berjalan dalam terang kasih Tuhan/ Kau
sahabatku, kau saudaraku / Tiada yang dapat memisahkan kita
Satukanlah Hati Kami
Satukanlah hati kami tuk memuji dan menyembah / Oh, Yesus Tuhan dan
Rajaku/ Eratkanlah tali kasih di antara kami semua/ Oh, yesus Tuhan dan
Rajaku/ Bergandengan tangan dalam satu kasih/ Bergandengan tangan dalam
satu iman/ Saling mengasihi diantara kami/ Keluarga Kerajaan Allah
2. Doa penyerahan ruangan untuk tempat ibadah:
Pemimpin:( berdoa menurut II Taw. 6):
Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit dan di
bumi; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hambahambaMu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapanMu. Tetapi benarkah
Allah hendak diam dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan
langit yang mengatasi langit pun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi
rumah ini.
Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hambaMu ini, ya Tuhan
Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hambaMu panjatkan di hadapanMu
ini. Kiranya mataMu terbuka terhadap rumah ini, dengarkanlah permohonan
hambaMu dan umatMu yang mereka panjatkan di tempat ini;

52

Jemaat:
Tuhan, kasihanilah kami! Kristus, kasihanilah kami! Tuhan,
kasihanilah kami!
Pemimpin: bahwa Engkau juga yang mendengarnya dari tempat kediamanMu
dari sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan
mengampuni.
Jemaat: (berdoa menurut Mazmur pembasuhan tangan, pertanda kesiapan
hati memasuki kebaktian -Maz. 26: 6-12-)
Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah,/ lalu berjalan mengelilingi
mezbahMu, ya Tuhan,/ sambil memperdengarkan nyanyian syukur dengan
nyaring, / dan menceritakan semua perbuatanMu yang ajaib./ Tuhan, aku
cinta kepada rumah kediamanMu / dan pada tempat kediamanMu
bersemayam./ Janganlah mencabut nyawaku bersama-sama orang berdosa, /
atau hidupku bersama-sama orang penumpah darah,/ yang pada tangannya
melekat perbuatan mesum,/ dan yang tangan kanannya menerima suapan./
Tetapi aku ini hidup dalam ketulusan; bebaskanlah aku dan kasihanilah aku./
Kakiku berdiri di tanah yang rata;/ aku mau memuji Tuhan dalam jemaah.
Nyanyian Jemaat: El-Shaddai
Tak usah kutakut, Allah menjagaku/ Tak usah kubimbang Yesus pliharaku/
Tak usah kususah Roh Kudus hiburku/ Tak usah kucemas Dia memberkatiku/
El-Shaddai, El-Shaddai Allah maha kuasa/ Dia Besar, Dia besar, El-Shaddai
mulia/ El-Shaddai, El-Shaddai Allah maha kuasa/ BerkatNya melimpah, ElShaddai/
3. Invocatio dan Pengakuan Dosa.
Pemimpin: Di dalam Nama Allah Bapa, dan AnakNya yang Tunggal, Tuhan
Yesus Kristus dan Nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

Jemaat : Amin.
Pemimpin:
Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan. Marilah kita mendekat dengan
hati yang tulus, dan mengaku dosa kita pada Allah Bapa, memohon
pengampunan dosa
di dalam Nama Tuhan kita Yesus Kristus, sebab
pertolongan kepada kita adalah di dalam Nama Allah, Yang menciptakan langit
dan bumi. Marilah kita berdoa: (Pemimpin melanjutkan dengan sebuah doa
pengakuan dosa, dan disambung dengan berita pengampunan.)

53

C. KEBAKTIAN MENYONGSONG NATAL (Advent)


Nyanyian Bersama: Kidung Jemaat no. 85,1-3 : "Kusongsong bagaimana"
Kusongsong bagaimana, ya Tuhan datangMu / Engkau Terang buana, Kau
Surya hidupku / Kiranya Kau sendiri Penyuluh jalanku / supaya kuyakini
tujuan janjiMu.
Kaum Sion menaburkan kembang di jalanMu; / 'ku ikut mengelukan Dikau
di hatiku / Kunyanyi Hosiana, ya Raja, tolonglah / PadaMulah kiranya
hambaMu menyerah.
Betapa Kau berkorban hendak menghiburku / Di kala 'ku di jurang sengsara
kemelut / Kau datang, Jurus'lamat dengan sejahtera:/ keluhkesahku tamat
dan hatiku cerah.
1. Introitus dan Litani Advent
Introitus:
P. : Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai
pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!
Jemaat:
Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya,
dan dunia serta yang diam di dalamnya.
Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan
dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
"Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN?
Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya,
yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan,
dan yang tidak bersumpah palsu.
Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN
dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.
Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia,
yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub."
Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang,
dan terangkatlah kamu,
hai pintu-pintu yang berabad-abad,
supaya masuk Raja Kemuliaan!
"Siapakah itu Raja Kemuliaan?"

54

"Tuhan, jaya dan perkasa, Tuhan perkasa dalam peperangan!"


Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang,
dan terangkatlah kamu,
hai pintu-pintu yang berabad-abad,
supaya masuk Raja kemuliaan.
"Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?"
"Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!"
Pemimpin: Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah
kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!
Jemaat: (berdiri) Kemuliaan bagi Bapa, dan Anak dan Roh Kudus,seperti pada
permulaan, sekarang, selalu dan dari kekal hingga kekal. Amin.
Pemimpin: Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah
kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!
Litani Agung untuk Masa Advent:
P. : Ya Kebijaksanaan, Firman Kudus dari Allah, yang menguasai seluruh
ciptaan dengan pemeliharaanMu yang perkasa dan lembut: datanglah, dan
tunjukkanlah jalan keselamtan bagi umatMu!
J. : Datanglah ya Yesus, datanglah
P : Ya Penganjur Kudus bagi Israel, yang telah menunjukkan diriMu senmdiri
pada Musa dalam semak yang terbakar dan yang memberikan Musa taurat
kudusMu di Sinai; datanglah, bentangkanlah TanganMu yang penuh kuasa itu
untuk menyelamatkan kami!
J. : Datanglah ya Yesus, datanglah
P. : Ya Tunas dari tunggul Isai, Engkau telah dibangkitkan sebagai tanda bagi
bangsa-bangsa, para penguasa berdiri di hadapan hadiratMu, bangsa-bangsa
berlutut menyembah Engkau: datanglah segera untuk menolong kami:
J. : Datanglah ya Yesus, datanglah
P. : Ya Kunci Daud, Tongkat rumah Israel, Yang apabila Engkau membuka,
tidak ada yang dapat menutup; Yang apabila Engkau menutup, tidak ada yang
dapat membuka; datanglah dan bebaskanlah tawanan dari penjara
J. : Datanglah ya Yesus, datanglah
P. : Ya Fajar Merekah, Cahaya dari Sinar abadi, Matahari keadilan; datanglah
dan sinarilah mereka yang diam di dalam kekelaman dan di dalam bayangbayang maut:
J. : Datanglah ya Yesus, datanglah

55
P. :Ya Raja segala bangsa, Kegembiraan tunggal dari setiap hati manusia, batu
penjuru dari bahtera mega dari kemanusiaan; datanglah dan selamatkanlah
kami buatan TanganMu ini dari debu:
J. : Datanglah ya Yesus, datanglah
P. :Ya Immanuel, Raja dan Pemberi Hukum, Pengharapan bangsa-bangsa,
Penyelamat dunia: datanglah dan tebuslah kami, ya Tuhan Allah kami:
J. : Datanglah ya Yesus, datanglah
P. : Allah Yang Mahakuasa, yang berbicara dengan berbagai cara pada umat
pilihanMu melalui para nabi-nabi, dan yang memberikan bagi kami pemenuhan
harapan Israel di dalam AnakMu, Juruslamat kami, Yseus Kristus; kami
memohon kepadaMu agar kiranya hariMu segera datang di mana seluruh
bangsa akan menyembahMu, Yang hidup dan memerintah bersamasama dengan
Engkau dan Roh Kudus, senantiasa satu Tuhan, sekarang, selalu dan dari kekal
hingga kekal.
J.: Amin.
(duduk)

2. Nyanyian Bersama: KJ. No. 88: 1, 7 "Hai Waris Kerajaan" (dengan


versi menurut Buku Ende)
Hai Waris Kerajaan, Rajamu sambutlah / Siapkan kedatangan Penghibur
dunia / Dan tampil ke depan, nyanyikan Hosiana / berharaplah padaNya,
penuh dengan iman.
Ya, Yesus Raja Agung, Kaub'rikan DiriMu; / cela dan aib Kautanggung
dan dosa Kautebus / Seluruh umatMu menyanyi Hosiana / dan sampai
selamanya padaMu bersyukur.
3. Pembacaan Alkitab: Perjanjian Lama, "Gradual" (peralihan) dan Injil
Pembacaan Perjanjian Lama:
1. Berita Penciptaan
P.: Berita tentang penciptaan dunia, akan diperdengarkan, sehingga umat
percaya dalam mempersiapkan diri menyongsong Natal, menemukan sumber
untuk saling mengasihi. Dengan demikian berita penciptaan itu bukanlah
sebagai berita masa lalu, yang sudah kita tinggalkan dan tidak boleh kita
masuki karena kita jatuh dalam dosa. Dengarkanlah di mana terletak sumber
hidup saling mengasihi:

56
Liturgist 1 : Kejadian 1: 1-2, 26-28;
Liturgist 2 : Kejadian 1: 29 s/d 2:4b
Liturgist 3 : Kejadian 2: 18 24;

Mazmur tanggapan:
P. : Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia,
sehingga Engkau mengindahkannya?
Jemaat:
Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!
Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar
kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang
Kautempatkan:
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia,
sehingga Engkau mengindahkannya?
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah
memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah
Kauletakkan di bawah kakinya:
kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;
burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus
lautan.
Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!
Sambutan Jemaat: Nyanyian KJ. 64, 1-2 Bila Kulihat Bintang
Bila kulihat bintang gemerlapan / dan bunyi guruh riuh kudengar / Ya,
Tuhanku, tak putus aku heran / melihat ciptaanMu yang besar. / Maka jiwaku
pun memujiMu / sungguh besar Kau Allahku, / Maka jiwaku pun memujiMu /
sungguh besar Kau, Allahku.
Ya, Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus / 'ku
tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu daraNya kudus / Maka jiwaku
pun memujiMu / sungguh besar Kau Allahku, / Maka jiwaku pun
memujiMu / sungguh besar Kau, Allahku.
2. Berita Kejatuhan Manusia :

57
P.: Berita tentang kejatuhan manusia, akan diperdengarkan, sehingga umat
percaya dalam mempersiapkan diri menyongsong Natal, menemukan sumber
dari hancurnya hidup saling mengasihi. Dengan demikian berita kejatuhan
menusia ini bukanlah sebagai berita masa lalu, yang sudah kita tinggalkan
tetapi sebagai peristiwa masa kini yang senantiasa dapat merusak hidup
saling mengasihi:
Liturgist
Liturgist
Liturgist
Liturgist

4:
5:
6:
7:

Kejadian
Kejadian
Kejadian
Kejadian

3: 1-8;
4: 1-8;
6:1-8
11: 1-9;

Mazmur tanggapan (85:1-8) dan perenungan


P.: Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang
takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.
Jemaat:
Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa
mereka.
Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu
yang menyala-nyala.
Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu
kepada kami.
Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu
turun-temurun?
Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu
bersukacita karena Engkau?
Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah
kepada kami keselamatan dari pada-Mu!
Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah
Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orangorang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada
kebodohan?
Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut
akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.
Liturgist 8:

58

Desaku tak lagi seperti dulu


Ada beban duka; Ada cadar Lara
Menutp wajah, dalam kabut asap kelabu.
Rumput-rumput sudah lama mati
Pohon juga seperti enggan bertumbuh
Semua sudah lama tak tersenyum lagi
Menahan duka, menahan Lara
Pohon-pohon karet, tak lagi segagah dulu;
Biar disadap pagi sekali, Tetap tak punya susu.
Daundaunnya layu,
kuning, kering terbang,
melayanglayang sepanjang jalan, lalu terbakar.
Asap menggumpal, bertebaran seperti awan-awan semu
Langit pun memupur wajah abu-abu.
Kupukupu ikut kehilangan matahari, lalu membentur diri
Pada dinding bambu, dan mati!
Aku pun ikut terlunta, paru-paru terasa padat asap
Pulauku terbakar, desaku terkapar,
Rakyatku terlantar, dan kami semua lapar.
Jemaat:
Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang
takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.
Liturgist 9:
Kami adalah orang-orang miskin
Dari kumpulan nista.....
Kami adalah orang-orang miskin
yang merayap di bawah meja perjamuanmu;
yang menggelepar di kaki pohon Natalmu;
yang menggelantung di sela lampu kristalmu;
yang kaupaksa memakan sisa makananmu dengan ucapan syukur.
memakai bekas pakaianmu yang kedodoran;
menerima limbah cintamu.....
Kami adalah orang-orang miskin
Dari kumpulan nista........

59
Anak-anak kami yang cacingan dan disentri
Adalah refrein lagu natalmu.
Borokkami yang tak kunjung sembuh
adalah musik pengiring tarian ballet anakmu;
Sebab gubuk yang merusak pemandangan kota
telah kau gusur
telah menjadi burung-burung
yang terbang gagah ke segala penjuru
menjadi duta orang-orang miskin sedunia.

Jemaat:
Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang
takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.
Sambutan Jemaat: Nyanyian KJ. No. 85: 7-6 "Kusongsong bagaimana"

Tak usah cari jalan, tak usah berlelah / bersusah siang malam mengatur
datangNya. /Sengaja Ia datang melipur laramu / menaruh kasih sayang,
membuka belenggu.
Kendati hutang dosa membuatmu gentar / padaNya kau sentosa,
anug'rahNya besar / Bagimu Ia datang menjadi Penebus / sejaht'ra
Kerajaan warisanmu terus.

3. Berita tentang Janji Kedatangan Messias:


P.: Berita tentang janji kedatangan Messias, akan diperdengarkan, sehingga
umat percaya dalam mempersiapkan diri menyongsong Natal, menemukan
sumber untuk kembali hidup saling mengasihi:
Liturgist 10: Yesaya 9: 1-6
Liturgist 11: Yesaya 11: 1-5
Liturgist 12: Yesaya 11:6-10
P.: Hidup dalam janji, membawa hidup terbuka bagi masa depan. Inilah
kemungkinan untuk menemukan kembali hati yang murni, kerendahan hati dan

60
rasa syukur. Oleh karena itu hiduplah senantiasa dalam kekuatan janji Allah
dan serukanlah sebuah janji bagi kita di dalam kehidupan kita demikian:
Jemaat:
Sebagai ganti keadaanmu dahulu/ ketika engkau ditinggalkan, dibenci dan
tidak disinggahi seorang pun,/ sekarang Aku akan membuat engkau menjadi
kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun./ Sebagai ganti
tembaga Aku akan membawa emas,/ dan sebagai ganti besi Aku akan
membawa perak, sebagai ganti kayu, tembaga/ dan sebagai ganti batu, besi/
Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan/ yang akan melindungi
dan mengatur hidupmu./ Tidak akan ada lagi kabar tentang perbuatan
kekerasan di negerimu/ tentang kebinasaan atau keruntuhan di daerahmu,/
engkau akan menyebutkan tembokmu Selamat dan pintu-pintu gerbangmu
Pujian.
4. Gradual (peralihan)
P. : Semua yang menanti-nantikan Dikau, tidak akan dipermalukan, ya Tuhan.

J.: Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang
lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada Hukum Taurat. Ia diutus
untuk menebus mereka, yang takluk kepada Hukum Taurat, supaya kita
diterima menjadi anak. (Gal. 4:4-5)
P. : Tunjukkanlah jalanMu bagi kami ya Tuhan, dan ajarlah kami langkahlangkahMu. Hosianna!

J. : Tunjukkanlah kami kasih karuniaMu, ya Tuhan: dan anugerahkanlah kami


keselamatan dariMu. Hosianna!
5. Pembacaan Injil:
P.: Marilah kita mendengarkan berita tentang persiapan menyongsong
Messiasahan hati dan rasa syukur :

Pembacaan Lukas 1:26-38;


6. Penyalaan Lilin Advent

Diiringi Nyanyian bersama: KJ 91:1-3

61

Putri Sion, nyanyilah; soraklah, Yerusalem!


Mari sambut Rajamu. Raja Damai trimalah!
Putri Sion, nyanyilah; soraklah, Yerusalem
Hosiana, Putra Daud,umat-Mu berkatilah!
Dirikanlah takhta-Mu mahatinggi, mulia
Hosiana, Putra Daud, umat-Mu berkatilah!
Hosiana, Putra Daud, Salam, Raja Mulia
Raja Damai Abadi,Putra Allah yang kekal
Hosiana, Putra Daud, Salam Raja Mulia!
4. Khotbah.
5.
Sambutan Jemaat: "S'perti rusa rindu sungaiMu" (sambil
mengumpulkan persembahan)
S'perti rusa rindu sungaiMu, jiwaku rindu Engkau / Kaulah Tuhan hasrat
hatiku kurindu menyembahMu / Engkau kekuatan dan perisaiku /
KepadaMu rohku berserah / Kaulah Tuhan hasrat hatiku, 'kurindu
menyembahMu / Yesus, Yesus, Kau berarti bagiku / Yesus, Yesus, Kau
selamanya bagiku.
6.. Doa syafaat. Diakhiri dengan Litani berikut ini:
P. Tuhan, kasihanilah.
J. : Kristus, kasihanilah!
P.: Tuhan, kasihanilah
J. : Kristus, dengarkanlah kami!
P. : Allah Bapa, Pencipta dunia,
J.: kasihanilah kami!
P. : Allah Anak, Penyelamat Manusia
J. : kasihanilah kami!
P. : Allah Roh Kudus, sumber persekutuan,
J. : kasihanilah kami!
P.: Allah yang Esa dan Tritunggal,
J. :kasihanilah kami!

62

P.: Beserta dengan malaikat dan para penghulu malaikat kami memuji
Engkau Tuhan:
J. : Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi.
P.: Seperti bapa leluhur Israel dan para nabi, kami memuji Engkau:
J. :Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi!
P.: Seperti Maria, jiwa kami akan memuliakan Engkau, ya Tuhan:
J. :Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi.
P.: Seperti para Rasul dan Penginjil, kami memuji Engkau:
J. : Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi.
P.: Sambil mengingat mereka yang mati martir karena iman kami
mengkhususkan hidup kami dengan pujian:
J. : Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi.
P.: Dengan seluruh umat Allah di segala tempat dan abad
J. : Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi!kami memuji
Engkau:
P.: Bersama dengan seluruh ciptaan kami menyatukan pujian kami:.
J. : Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi.
Doa Bapakami
Berkat
Nyanyian Penutup
Soraklah! Haleluya
C=do, Tempo 130
Sgala puji syukur hanya bagiMu Tuhan/ Sebab Kau yang layak dipuja/ Kami
mau bersorak, tinggikan namaMu/ haleluya/ Soraklah haleluya (2x) haleluya/
Soraklah haleluya (2X) haleluya/ Haleluya ku mau nyanyi tentang Dia
haleluya, ku mau sorak tentang Dia/ Haleluya, ku tak dapat hidup tanpa Dia/
Skarang ku adalah ciptaan baru/ Dan hidupku dalam keslamatanMu/ Tak ada
kutuk mengikatku, puji Tuhan.

63