Anda di halaman 1dari 3

Menerima dan Melanjutkan Penugasan

Secara garis besar, dalam memutusan untuk menerima/melanjutkan/menolak suatu


penugasan auditor wajib:

Mengidentifikasi dan menilai faktor risiko yang relevan dalam menentukan menerima
atau menolak penugasan.
Menyepakati dan mendokumentasikan syarat-syarat perikatan.

Sebelum menerima penugasan audit, auditor melakukan prosedur pendahuluan sebelum


menerima/melanjutkan/menolak penugasan, yang bertujuan untuk memutuskan apakah
auditor menerima/melanjutkan/menolak penugasan. Selanjutnya mencatat hasil inventarisasi
semua faktor risiko, segala masalah yang ada tentang independensi, dan surat perikatan (jika
penugasan diterima atau dilanjutkan).
Dalam proses menerima/melanjutkan/menolak penugasan seorang auditor harus menilai
apakah KAP mempunyai SDM, waktu, kompetensi yang memadai untuk menangani
penugasan tersebut? Apakah KAP (auditor) independen? Apakah ada benturan kepentingan?
Jika menerima penugasan, apakah risikonya acceptable? Jawaban dari pertanyaan inilah yang
menjadi dasar dari keputusan untuk menerima atau menolak penugasan.
Jika keputusannya adalah menerima penugasan, maka ada beberapa kondisi yang harus
diperhatikan, yaitu:
1) Prakondisi audit dipenuhi, yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi klien sudah ada.
Dalam kondisi ini auditor wajib (a) menentukan apakah kerangka pelaporan keuangan
yang digunakan untuk membuat laporan keuangan acceptable; (b) mendapatkan
persetujuan manajemen bahwa ia sadar dan memahami sepenuhnya akan tanggung
jawabnya berkenaan dengan penyusunan laporan keuangan entitas sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang diterapkan termasuk ketentuan mengenai penyajian
yang wajar, serta berkenaan dengan pengendalian internal yang dianggap perlu oleh
manajemen untuk menyusun laporan keuangan yang bebas dari salah saji yang material
yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan, dan berkenaan dengan kebebasan
akses yang diberikan kepada auditor berkaitan dengan informasi yang relevan untuk
membuat laporan keuangan, informasi tambahan yang diminta auditor dari manajemen
untuk keperluan audit, dan akses tanpa batas kepada orang di dalam entitas untuk
memperoleh bukti audit yang diperlukan.
2) Pembatasan lingkup audit, yaitu apakah manajemen menetapkan pembatasan lingkup
audit dalam bentuk apapun, seperti tenggat waktu yang tidak realistis, pembatasan atau
penolakan akses kepada fasilitas, personel, dokumen, dan lain-lain. Jika pembatasan
lingkup audit tersebut yang menurut auditor akan mengakibatkan penolakan opini
(disclaimer of opinion), KAP (auditor) harus menolak penugasan.
3) Menyepakati syarat-syarat perikatan, yaitu auditor harus bekerja dengan aturan main
yang jelas dan benar. Oleh karena itu, auditor dan manajemen (klien) harus menyepakati
syarat-syarat penugasan dan menuangkannya dalam surat penugasan audit, dan syaratsyarat penugasan harus sesuai dengan ketentuan ISA dan ISQC.

4) Tanda tangani surat perikatan, yaitu tahap akhir dalam menerima dan melanjutkan
penugasan.
Strategi Audit Menyeluruh
Strategi audit merupakan hasil dari perencanaan audit yang bertujuan agar audit yang
dilakukan terlaksana secara efisien dan efektif. Strategi audit menyeluruh disusun pada awal
dimulainya penugasan. Partner selaku pemimpin penugasan serta anggota tim audit wajib
dilibatkan dalam perencanaan audit. Strategi audit secara menyeluruh berisi lingkup,
pengaturan waktu dan arahan audit, yang menjadi petunjuk pengembangan rencana audit.
Dalam menyusun strategi audit menyeluruh ada langkah-langkah dasar yang harus
dilakukan, yaitu:
1) Cara memulai, yaitu (a) lakukan kegiatan pra penugasan; (b) mengumpulkan informasi
yang relevan tentang entitas (klien); (c) menunjuk staf, pengendali mutu, dan ahli yang
diperlukan; (d) jadwalkan pertemuan dengan tim audit dan partner guna membahas
kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan; (e) menentukan tanggal-tanggal di
mana hal penting dalam audit harus dilakukan, seperti mengitung persediaan, menilai
risiko, konfirmasi, dll.
2) Menilai risiko dan memberikan tanggapan, yaitu (a) menentukan materialitas secara
menyeluruh terhadap laporan keuangan; (b) menentuka sifat dan luasnya prosedur
penilaian risiko dan siapa yang akan melakukan; (c) setelah risiko dinilai pada tingkat
laporan keuangan, buat tanggapan secara menyeluruh; (d) komunikasikan garis besar
lingkup dan waktu untuk audit kepada manajemen (klien); (e) mutakhirkan dan ubah
strategi dan rencana jika ada perubahan situasi.
Pada saat risiko salah saji yang material telah diidentifikasi dan dinilai, strategi
menyeluruh (termasuk penetapan waktu, staf, dan supervisinya) dapat difinalkan dan
selanjutnya rencana audit terinci dapat disusun.
Mengkomunikasikan rencana audit dengan pihak manajemen (poin 2 di atas) wajib
dilakukan auditor, untuk lebih detailnya bisa dilihat pada ISA 260 alenia 15, hal ini dapat
membantu manajemen untuk membahas masalah risiko dan konsep materialitas dengan
auditor dan mengidentifikasi area dimana manajemen meminta auditor melakukan prosedur
tambahan. Dialog ini dapat membantu auditor mengembangkan pemahaman yang lebih baik
mengenai entitas dan lingkungannya. Tetapi hal ini perlu diperhatikan jangan sampai
prosedur audit terinci menjadi sangat terang benderang bagi klien mengenai apa yang akan
dilakukan auditor dan kapan akan dilakukan, sehingga menurunkan efektifitas prosedur itu
sendiri. Selain itu hal-hal terkait perencanaan yang juga perlu dibahas dengan pihak
manajemen (klien) dapat dilihat di ISA 265 terkait denga kelemahan-kelemahan signifikan
dalam pengendalian intern.
Dokumentasi terhadap strategi dan rencana audit juga wajib dilakukan oleh auditor (ISA
300 alinea 12). Selain itu setiap perubahan signifikan yang dibuat selama penugasan audit,

terhadap strategi audit atau rencana audit, dan alasan untuk melakukan perubahan juga wajib
untuk di dokumentasikan.
Diskusi Tim Audit
Diskusi di antara anggota tim audit dan partner wajib dilakukan, komunikasi yang
dilakukan mengenai bagaimana dan di mana laporan keuangan entitas rentan terhadap salah
saji yang material karena kecurangan, termasuk bagaimana kecurangan bisa terjadi serta
terhadap penerapan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Diskusi dilakukan dengan
mengenyampingkan pendapat anggota tim tentang kejujuran dan integritas manajemen.
Diskusi tim audit berguna untuk pengambilan keputusan yang lebih baik mengenai sifat,
waktu pelaksanaan, dan luasnyapnilaian risiko dan prosedur audit selanjutnya. Komunikasi
secara terbuka memungkinkan reaksi yang cepat tanggap terhadap informasi baru mengenai
hal-hal seperti transaksi dan peristiwa luar biasa, hubungan istimewa, dan masalah pelaporan.
Setelah dilakukan pertemuan dan diskusi audit ada 3 hal yang akan dibahas selanjutnya,
yaitu:
1) Berbagi insights tentang entitas, yaitu di dalam pertemuan tim audit dapat memberikan
kesempatan kepada partner dan anggota tim untuk berbagi insights mengenai entitas,
manajemen, dan faktor risiko yang diketahui, misalnya tentang manusia, kegiatan,
tujuan entitas, budaya perusahaan, sifat/struktur organisasi, pengendalian intern, peluang
dilakukannya kecurangan, dll.
2) Bertukar pikiran, yaitu di dalam pertemuan tim audit bertukar pikiran mengenai gagasangagasan dan pendekatan audit yang mungkin diterapkan, seperti potensi untuk kesalahan
dan kecurangan, dan tanggapan terhadap risiko
3) Perencanaan audit, yaitu memberikan pengarahan kepada tim audit mengenai tingkat
materialitas, peran dan tanggung jawab masing-masing, dan penekanan terhadap sikap
skeptisisme profesional selama audit berlangsung.
Komunikasi selama audit berlangsung harus dilakukan karena setiap anggota tim audit
mestinya memiliki sedikit perbedaan dalam perspektif mereka mengenai entitas. Informasiinformasi yang diperoleh dari tiap anggota tim kemudian dikumpulkan untuk membentuk
suatu pengungkapan terhadap sebuah temuan, misalnya kecurangan. Hanya dengan berbagi
informasi di antara anggota tim temuan tersebut terungkap. Diskusi tim baiknya tidak hanya
terbatas pada perencanaan saja, tim audit perlu didorong untuk berkomunikasi dan berbagi
informasi yang mereka peroleh, dengan berbagai relevansinya, khususnya ketika informasi
itu berdampak pada penilaian risiko dan prosedur audit yang direncanakan.