Anda di halaman 1dari 32

PERENCANAAN PERKEBUNAN

1. TAHAP INVESTIGASI LAHAN DAN PERSIAPAN


Menurut Malangyudo (2014) pengkajian secara tahap demi tahap atas semua faktor
yang terlibat dalam investigasi lahan dan persiapan pembangunan perkebunan kelapa sawit perlu
didalami dengan seksama sebelum membuat keputusan membangun perkebunan kelapa sawit,
antara lain :
1. Lokasi dan Kesesuaian Lahan
2. Aspek Sosial
3. Pemilihan Benih
4. Asumsi dan Proyeksi
5. Manajemen Proyek
LOKASI DAN KESESUAIAN LAHAN
Survey Pendahuluan
Sebelum pelaksanaan pembukaan areal dimulai, dilaksanakan studi kelayakan terlebih
dahulu. Studi kelayakan ini harus dilakukan melalui survey pendahuluan untuk memeriksa atau
melakukan investigasi atas lahan calon perkebunan yang akan dibangun. Pemeriksaan hanya
dilakukan sebatas luas yang tercantum pada ijin lokasi dengan kajian tentang kawasan (hutan atau
non hutan), aksesibilitas, status dan tata guna kawasan, kesesuaian lahan (antara lain agroklimat,
kelerengan, kelas tanah, dll), kondisi sosial ekonomi wilayah dan dukungan masyarakat sekitar
calon perkebunan. Bila hasil kajian menyatakan bahwa lahan yang diperiksa itu ternyata tidak
layak, maka proyek sebaiknya tidak dilanjutkan. Namun apabila hasil kajian menyatakan lahan
tersebut layak, maka proses dapat dilanjutkan (Malangyudo, 2014).

Studi Kawasan
Investor perlu memahami kawasan yang ditetapkan berdasarkan TGHK dan RTRWP.
TGHK (Tata Guna Hutan Kesepakatan) adalah pembagian hutan negara menurut fungsinya yaitu
hutan lindung, hutan konservasi, hutan produksi, serta hutan produksi yang dapat dikonversi.
TGHK ditetapkan sejak tahun 1983 oleh Departemen Kehutanan yang disepakati oleh Pemerintah
Daerah serta sektor lainnya. RTRWP (Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi) adalah pembagian
tata ruang wilayah propinsi sebagai penjabaran dari Undang Undang Tata Ruang Tahun 1992.
Dalam RTRWP dikenal pembagian ruang sebagai hutan lindung, kawasan budidaya kehutanan
dan kawasan budidaya nonkehutanan. Dalam implementasinya, sejak tahun 1993, antara TGHK
dan RTRWP dipaduserasikan. Salah satu propinsi yang hingga kini belum paduserasi adalah
Kalimantan Tengah. Di propinsi ini, masih 100 % diberlakukan TGHK, sehingga ijin lokasi yang
diterbitkan oleh Bupati setempat sering masih tumpang tindih dengan kawasan hutan menurut
ketetapan TGHK.
Oleh karenanya, langkah awal yang penting dilakukan dalam memilih atau mengambil
alih lahan adalah pemeriksaan kawasan. Di Indonesia terdapat dua kawasan dengan Penggunaan
yang berbeda, yakni Kawasan Hutan dan Kawasan Non Hutan atau dikenal oleh kalangan
perkebunan sebagai Area Penggunaan Lain (APL). Pada Kawasan Hutan yang ditetapkan
berdasarkan TGHK maupun RTRWP, hanya Hutan Konversi yang masih memungkinkan untuk
dialih fungsikan menjadi APL apabila memperoleh persetujuan pelepasan kawasan hutan dari
Menteri Kehutanan, namun dengan prosedur yang tidak mudah dan dapat ditolak oleh Menteri
Kehutanan dengan pertimbangan tertentu. Sedangkan APL dapat digunakan untuk pengembangan
perkebunan dengan cukup mengajukan permohonan Ijin Lokasi kepada Bupati setempat. Oleh

karenanya, dalam perencanaan pembangunan perkebunan sebaiknya tidak memilih lokasi yang
masuk di dalam Kawasan Hutan dan untuk memastikannya, perlu dilakukan cross check melalui
Badan Pemetaan dan Planologi Nasional yang berada di Bogor (Malangyudo, 2014).
Hutan Lindung
Hutan Konservasi
KawasanHutan

Taman Hutan Raya


Hutan Produksi

Tata Ruang Indonesia

Hutan Konversi

Kawasan Non Hutan

Area Penggunaan Lain


(APL)

Studi Bio-physical
Pengkajian berikut adalah menyangkut tentang pelestarian lingkungan hidup dan
tentang persyaratan tumbuh untuk produktifitas tanaman kelapa sawit. Letak ketinggian lahan,
data agroklimat, kemiringan lahan, gambut dalam dan jenis tanah sangat perlu diperhatikan untuk
memastikan bahwa lahan yang akan dipilih adalah sesuai baik dari tinjauan aspek lingkungan
hidup maupun dari aspek persyaratan tumbuh untuk produktifitas. Studi awal untuk memperoleh
informasi tentang kondisi diatas dapat dilakukan melalui intepretasi citra satelit dan lain lain,
namun sangat disarankan untuk melaksanakan survey lapangan dengan menunjuk konsultan yang
sudah berpengalaman (Malangyudo, 2014).

Tanah
Kriteria kesesuaian tanah untuk produktifitas tanaman kelapa sawit di klasifikasikan
dalam empat kelas dari sangat sesuai (S1), Sesuai dengan faktor pembatas minor (S2), bisa
sesuai dengan banyak faktor pembatas (S3) dan tidak sesuai (N), seperti dipaparkan pada
tabel berikut ini :
Kondisi
S1
S2
S3
N
Tanah
Kedalaman
Tanah (cm)
Kemiiringan
Tekstur
Struktur
Konsistensi
pH
Permeabilitas

> 90

60 - 90

0 12
12 16
Sandy
Clay
Loam, Sandy loam
Loam
Strongly
Moderate.Developed
Developed
Gembur
Agak Gembur
>4
3,5 - 4
Tergenang
karena
Tidak Tergenang
sumbat

30 - 60

< 30

16 24

> 24

Sandy loam

Sand

Buruk

Sangat Buruk

Padat
3 3,5
Tergenang
musiman

Sangat Padat
<3
Tergenang
permanen

Fragmen
Tidak ada
Tidak ada
s/d 25 % laterit >25 % laterit
Batuan
Status Hara
Subur
Cukup Subur
Kurang Subur Tidak Subur
Sumber : Malaysian Society of Soil Science 1977 dalam Malangyudo (2014)

Iklim
Salah satu parameter yang sering digunakan mewakili kondisi iklim adalah water
deficit. Water deficit merupakan interaksi kompleks dari elevasi, bulan kering, curah hujan
dan penyinaran matahari. Diketahui bahwa dampak signifikan dari besarnya water deficit per
tahun sangat tidak suitable untuk kelapa sawit sebab akan menyebabkan turunnya
produktifitas hingga 54 65 % dan oleh sebab itu, area seperti ini menjadi tidak ekonomis
buat perkebunan kelapa sawit. Area tanpa adanya water deficit merupakan area yang ideal
untuk kelapa sawit., namun water deficit kurang dari 200 mm masih baik untuk kelapa sawit.
Water deficit antara 200 300 m menjadi faktor pembatas ringan untuk kelapa sawit,
sedangkan area dengan water deficit antara 300 500 mm menjadi area marginal land
perkebunan kelapa sawit (Caliman dan Southworth, 1998). Berikut ini adalah peta
perwilayahan (Zona) agroklimat di Indonesia dalam hubungannya dengan perkebunan kelapa
sawit (Malangyudo, 2014).

Zona

Karakteristik

Distribusi

Dampak

Curah hujan 1750 3000 mm;


1
bulan
kering;
lama
penyinaran matahari 6 jam per
hari

Sumatera Utara bagian


timur, Aceh
bagian
timur, Bagian utara dan
selatan Kepala Burung
Papua, Pantai utara
Papua dan sebagian di
selatan Papua

Water deficit sekitar


200 mm per tahun;

Curah hujan 1750 3000 mm;


1 2 bulan kering; lama
penyinaran matahari 6 jam per
hari

Hampir seluruh wilayah


Riau, Jambi bagian timur
Sumatera Selatan, Pulau
Aru, sebagian kecil di
selatan Papua.

Water deficit rendah


namun
radiasi
matahari
sangat
kuat,
sehingga
produksi dapat turun
di musim kemarau.

Sangat Sesuai untuk


Kelapa Sawit

Curah hujan > 3000 mm ;


1 2 bulan kering; lama
penyinaran matahari 5 5,5
jam per hari

Aceh bagian
Barat, Water deficit rendah
Sumatera Utara bagian namun
radiasi
Barat,
Pulau
Nias, matahari
sangat
Sumatera Barat bagian kuat,
sehingga
utara.
produksi dapat turun
di musim kemarau.

Curah hujan 2500 - 3000 mm; Kalimantan Barat dan Water deficit kurang
1 2 bulan kering; lama Papua bagian Barat
dari 200 mm per
penyinaran matahari 6 jam per
tahun; Sesuai untuk
hari
Kelapa Sawit

Curah hujan > 3000 mm ;


Sumatera Barat bagian
1 2 bulan kering; lama selatan dan bagian utara
penyinaran matahari 6 jam per Bengkulu
hari

Water deficit rendah


namun
radiasi
matahari
sangat
kuat,
sehingga
produksi dapat turun
di musim kemarau.

Curah hujan 1450 1750 mm;


1 2 bulan kering; lama
penyinaran matahari 5 5,5
jam per hari

Sebagian kecil di utara


Kalimantan
Timur,
Sulawesi
Tengah
(kecuali
Palu
dan
sekitarnya) dan bagian
utara Maluku

Water deficit 200


300 mm radiasi
matahari
lemah,
sehingga produksi
rendah.

Curah hujan 1450 1750 mm;


1 3 bulan kering; lama
penyinaran matahari 6 jam per
hari

Sumatera Selatan bagian


selatan,
Bangka
Belitung,Lampung
bagian timur, sebagian
kecil
Kalimantan
Tengah, Hampir seluruh
Sulawesi Selatan dan
perbatasan Papua dengan
Papua Nugini bagian
selatan

Water deficit 300


400
mm,
kontribusinya
menyebabkan
produksi
sawit
rendah.

Curah hujan 1750 3000 mm; Lampung bagian barat Water deficit 200
3 4 bulan kering; lama dan sebagian kecil Jawa 300 mm, sehingga
penyinaran matahari 5,5 6 Barat
produksi
rendah
jam per hari
selama
musim
kemarau

Curah hujan 1250 1450mm ;


3 4 bulan kering; lama
penyinaran matahari 5,5 6
jam per hari

Palu dan sekitarnya,


hampir seluruh Sulawesi
Tenggara,
Maluku
Tengah dan Maluku
Selatan

Water deficit 300


400mm,
menyebabkan
produksi
sawit
rendah.

10

Curah hujan 1250 1450mm ;


> 4
bulan kering; lama
penyinaran matahari 6 jam per
hari

Bagian
timur
Jawa Tidak sesuai untuk
Barat, Jawa Tengah, Kelapa Sawit
Jawa Timur, Bali, bagian
selatan Sulawesi Selatan
dan
bagian
selatan
Sulawesi Tenggara.

11

Curah hujan < 1250 mm ;


Sebagian Nusa Tenggara Sangat
tidak
> 4
bulan kering; lama Barat dan seluruh Nusa direkomendasikan
penyinaran matahari 6 jam per Tenggara Timur
untuk Kelapa Sawit.
hari

Sebagai pegangan, disimpulkan bahwa Iklim yang sesuai untuk produktifitas


tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut :
- Iklim tropikal basah di daerah rendah (< 500 m dpl).
- Curah hujan 1750 - 3000 mm per tahun dan terdistribusi sepanjang tahun.
- Rata rata temperatur minimum 20 - 23 oC dan Rata rata temperatur maksimum 28o 32o
C. Bila dimalam hari temperatur udara turun hingga dibawah 19o C, pembentukan tandan
buah akan terganggu yang pada akhirnya mempengaruhi yield. Pertumbuhan bibit muda
akan berhenti pada temperatur udara dibawah 15o C.
- Penyinaran matahari rata rata 5 jam per hari setiap bulan dalam setahun dan sebanyak
banyaknya 7 jam per hari di bulan bulan tertentu (Malangyudo, 2014).

Suvey Detil dan Tata Ruang Kebun


Perencanaan luas kebun yang akan dibangun serta tata ruangnya. Luas satu kebun
biasanya disesuaikan dengan kapasitas pabrik yang akan dibangun. Satu unit pabrik yang
berkapasitas 30 ton TBS/jam disuplai oleh tanaman yang luasnya 6.000 ha, sedangkan yang
berkapasitas 60 ton TBS/jam membutuhkan areal seluas 11.000 ha-12.000 ha. Satu kebun dibagi
dalam beberapa afdeling yang luasnya 600-800 ha/afdeling tergantung kondisi areal dan tiap
afdeling terdiri dari blok tanaman yang luasnya 16-40 ha/blok tergantung kondisi areal. Blok ini
sangat penting sebagai satuan luas administrasi dan semua pekerjaan akan diperhitungkan dalam
satuan blok. Untuk areal yang rata atau berombak mudah membagi blok tersebut, tetapi untuk
kondisi bergelombang atau berbukit akan memiliki blok yang lebih kecil dan tidak jarang sebagai
batas blok dipakai batas alam seperti sungai, jalan dan lain-lain.
Jadwal atau perencanaan juga harus sudah dibuat, karena banyak pekerjaan atau hal-hal
tertentu yang harus dilaksanakan atau dipesan beberapa bulan sebelumnya, misalnya pemesanan
kecambah dilakukan 3-6 bulan sebelum pembibitan dimulai dan pembibitan dimulai 1 tahun
sebelum penanaman di lapangan. Demikian pula pemesanan alat-alat berat, instalasi penyiraman,

pencarian tenaga kerja, penyelesaian ganti rugi, menghubungi calon pemborong dan lain-lain
(Malangyudo, 2014).

Tata Guna Lahan


Kajian atas lahan dengan melaksanakan survey detil guna memperlajari tata guna lahan
yang ada di lokasi yang dipilih. Kondisi tata guna lahan ini akan mempengaruhi besarnya luas
efektif lahan, ketika ternyata di lokasi tersebut banyak terdapat pemukiman penduduk dan
perlanian masyarakat yang tidak mungkin digunakan untuk pengembangan perkebunan kelapa
sawit. Survey detil ini dilakukan terutama untuk menekan seminimal mungkin dampak negatif
dari pembukaan kawasan untuk perkebunan dalam skala besar terhadap kepentingan masyarakat
lokal, erosi tanah, kesuburan tanah dan biodiversity; melalui upaya upaya menjaga kelestarian
alam dan fungsi sosial atas tata ruang alam semula yang sudah terbentuk sebelumnya. Konsep ini
selaras dengan standar pengelolaan pembangunan perkebunan pelapa sawit berkelanjutan yang
kini telah menjadi perhatian masyarakat dunia. Ide dasar konsep survey detil ini adalah
melakukan prosedur pengkajian dua zona utama :
(1) Zona Fungsional
Fokus pada pengkajian tata guna lahan masyarakat yang sudah ada, keterjalan bukit (slope
gradient) atau kedalaman rawa gambut, dan kemungkinan adanya gangguan atas flora dan
fauna yang harus dilindungi.
(2) Zona Spesifik
Zona yang meliputi wilayah produksi netto untuk ditata secara spesifik pengelolaan kebun
menjadi blok blok homogen yang teratur (Malangyudo, 2014).

Desain Kebun
Maksud perencanaan/desain kebun adalah untuk merencanakan tata ruang alam kebun
dan afdeling yang terbagi atas: jaringan jalan, areal pembibitan, saluran air serta lokasi afdeling
dan blok.

a. Jaringan Jalan
Panjang dan kualitas jalan di kebun merupakan salah satu faktor yang sangat
menentukan dalam menjamin kelancaran pengangkutan bahan, alat dan produksi serta
pengontrolan lapangan. Rencana pembuatan jaringan jalan harus selaras dengan desain kebun
secara keseluruhan, yang disesuaikan dengan kondisi topografi dan kebutuhan kebun.
Berdasarkan kebutuhan di lapangan terdapat beberapa jenis jalan, antara lain:

Jalan Utama (Main Road), yaitu jalan yang menghubungkan antara satu afdeling dengan
afdeling lainnya maupun dari afdeling ke pabrik serta menghubungkan langsung pabrik
dengan jalan luar/umum. Jalan utama dengan lebar 6 & 8 m, dilalui kendaraan lebih sering
dan lebih berat, termasuk kendaraan umum, sehingga perlu diperkeras dengan batu. Jalan
utama biasanya dibangun secara terpadu dengan infrastruktur lain seperti perumahan, bengkel
dan kantor.
Jalan Produksi (Collection Road), yaitu jalan yang berfungsi sebagai sarana untuk
mengangkut produksi TBS dari TPH. Jalan ini terdapat diantara blok dan berhubungan
dengan jalan utama, dibuat tegak lurus terhadap baris tanaman. Jalan ini lebih kecil dari jalan
utama, dengan lebar 5 &ndash; 6 m dan pada tempat tertentu perlu diperkeras. Untuk satu
hektar diperlukan sepanjang 50 m.
Jalan Kontrol (Control Road), yaitu jalan yang terdapat di dalam setiap blok. Jalan kontrol
berfungsi untuk memudahkan pengontrolan areal pada tiap blok dan sebagai batas pemisah
antar blok tanaman. Jalan ini lebarnya 4 & 5 m dan tiap hektar membutuhkan 10 m
(Malangyudo, 2014).

b. Saluran Air
Perencanaan pembangunan saluran air didasarkan atas topografi lahan, letak sumber air,
dan tinggi muka air tanah. Sistem pengeluaran air berlebih (drainase) dibuat berdasarkan kondisi
drainase areal. Untuk lahan gambut, pengelolaan tata air sangat dominan, mengingat karakteristik
lahan gambut yang mengering dan mengkerut tidak balik (irreversible shrinkage) apabila
mengalami kekeringan (Malangyudo, 2014).

c. Afdeling dan Blok


Luas afdeling dan blok disesuaikan dengan keadaan topografi lahan dan efisiensi
pengelolaan areal yang dikaitkan dengan kemudahan perawatan tanaman dan kegiatan panen.
Luas areal satu afdeling yang ideal berkisar 750 ha dan luas satu blok adalah 25 ha (500 m x 500
m) untuk topografi datar, sedangkan luas blok untuk daerah dengan topografi bergelombang atau
berbukit adalah 16 ha (400 m x 400 m). Luas satu blok tersebut juga dikaitkan terhadap
kepentingan penetapan kesatuan contoh daun (KCD) (Malangyudo, 2014).

ASPEK SOSIAL
Pada dasarnya, penguasaan lahan menurut hukum negara maupun adat, memiliki
banyak kesamaan, karena pada hakekatnya disusun atas nilai-nilai sosial dan kesejahteraan
bersama di dalamnya. Sehingga penggunaan tanah yang mampu memberi nilai ekonomi lebih,
misalnya dengan membangun perkebunan besar, dapat diterima asalkan misalnya dilakukan di
atas prinsip keadilan. Jika berdasarkan akal sehat, tidak mungkin suatu masyarakat hukum adat
mempertahankan isi dan pelaksanaan hak ulayatnya secara mutlak, seakan-akan ia terlepas dari
pada hubungannya dengan masyarakat masyarakat hukum dan daerah-daerah lainnya didalam
lingkungan negara sebagai kesatuan, k arena akan berakibat terhambatnya usaha-usaha untuk
mencapai kemakmuran rakyat seluruhnya.
Pada umumnya orang hanya memahami bahwa HGU berlaku untuk tanah negara,
sebagaimana Pasal 28 ayat 1 UUPA dan Pasal 4 PP No. 40/1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak
Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah. Namun Pasal 4 ayat 2 Permenag No. 5/1999
menyatakan bahwa: Pelepasan tanah ulayat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b untuk
keperluan pertanian dan keperluan lain yang memerlukan Hak Guna Usaha atau Hak Pakai, dapat

dilakukan oleh masyarakat hukum adat dengan penyerahan penggunaan tanah untuk jangka
waktu tertentu, sehingga sesudah jangka waktu itu habis, atau sesudah tanah tersebut tidak
dipergunakan lagi atau ditelantarkan sehingga Hak Guna Usaha atau Hak Pakai yang
bersangkutan hapus, maka penggunaan selanjutnya harus dilakukan berdasarkan persetujuan baru
dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak ulayat masyarakat hukum adat itu
masih ada sesuai ketentuan Pasal 2.
Harus dipahami bahwa di Indonesia secara garis besar hanya dikenal ada dua jenis Hak
atas Tanah, yaitu Hak Milik sebagai bentuk dari penguasaan tetap atas tanah dan Hak Pakai
dimana penguasaan atas tanah bersifat sementara atau tidak permanen. Hak Pakai dibagi menurut
penggunaannya, yang antara lain Hak Guna Bangunan untuk properti, Hak Guna Usaha untuk
perkebunan dan Hak Pakai untuk kepentingan lain lain.
Bagi perkebunan, Hak Guna Usaha baik diatas tanah negara maupun diatas tanah adat
pada hakekatnya adalah sama, yakni hak penguasaan tanah yang bersifat sementara atau tidak
permanen menurut kurun waktu tertentu. Ketika jangka waktu itu habis, atau sesudah tanah
tersebut tidak dipergunakan lagi, maka tanah tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya
yang sah, yaitu kepada negara bila diatas tanah negara atau kepada masyarakat adat bila di atas
tanah adat atau pemilik perorangan. Bila penggunaannya akan dilanjutkan, maka harus dilakukan
berdasarkan ijin perpanjangan dari negara atau persetujuan baru dari masyarakat hukum adat
yang bersangkutan sepanjang hak ulayat masyarakat hukum adat itu masih menghendaki.
Konflik sosial yang sering terjadi adalah akibat tidak adanya pemahaman tentang HGU,
baik dari pihak investor maupun masyarakat. Pada dasarnya dalam HGU tidak pernah terjadi
pengalihan Hak kepemilikan atas tanah, yang ada hanyalah Hak Pakai selama kurun waktu yang
di sepakati, yaitu selama usia HGU itu berlaku. Tanpa penjelasan melalui proses sosialisasi,
masyarakat menjadi tidak paham dan akan merasa kehilangan. Kompensasi yang diberikan pada
hakekatnya bukan GANTI RUGI, akan tetapi semacam BIAYA PINJAM PAKAI dimana pemilik
lahan juga akan menerima bagian kebun sesuai proporsi luas lahannya dalam konteks Program
Inti Plasma (Malangyudo, 2014).

Dalam hal ini lahan plasma melalui wadah koperasi akan dibuatkan sertifikat HGU atas
nama Koperasinya dan bukan sertifikat Hak Milik. Dengan demikian, ketika Ketika jangka
waktu HGU itu habis, atau sesudah tanah tersebut tidak dipergunakan lagi, maka tanah tersebut
akan mudah untuk dikembalikan kepada pemiliknya atau ahli warisnya yang sah. Melalui pola

seperti ini, potensi konflik sosial akan menjadi sangat kecil, namun terlepas dari semua itu,
pemilihan lokasi sebaiknya diarahkan pada area dimana perkampungan tidak banyak dan
pemanfaatan air untuk kebutuhan sehari hari tidak besar dan pemanfaatan lahan untuk
perladangan atau pertanian masyarakat juga tidak luas. Dari pengalaman, dapat dikatakan bahwa,
luas efektif yang dapat diperoleh untuk pembangunan perkebunan berkisar 60 % hingga 70 %
dari luas ijin lokasi yang diberikan oleh Bupati. Adapun faktor pengurang yang utama dapat
dilihat pada contoh berikut ini :

a. Inti Plasma
Pola pengembangan yang diterapkan atau dikembangkan oleh perusahaan harus
mengikuti pola pengembangan berdasarkan pola kemitraan sebagaimana yang diatur dalam
Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan
Usaha Perkebunan dimana Perusahaan perkebunan yang memiliki IUP atau IUP-B akan
membangun kebun untuk masyarakat sekitar paling rendah seluas 20% (dua puluh per seratus)
dari total luas areal kebun yang diusahakan oleh Perusahaan, artinya adalah jika Perusahaan
membangun kebun milik Perusahaan (Inti). Komposisi inti dan plasma merupakan sebuah hasil
kesepakatan awal antara Pihak Inti dan Masyarakat yang harus dituangkan dalam sebuah
perjanjian ikatan kemitraan. Komposisi tersebut bervariasi dari 50 : 50 hingga 70 : 30 , dimana
pihak inti menguasai 70 % dan pihak Plasma 30 % (Malangyudo, 2014).

Adapun lingkup hunbungan kemitraan meliputi :


Penyediaan Lahan
Lahan yang dimaksud harus memenuhi kriteria kesesuaian lahan (suitable) dari aspek
teknis, terjamin dari aspek Legal dan kondusif secara sosial.
Pembangunan Perkebunan
Inti bertanggung jawab membangun kebun sesuai kriteria pada standar aplikasi
agronomis yang baik, menjadi penjamin pasar hasil produksi kebun plasma dengan menyediakan
pabrik pengolahan TBS, memberikan kesempatan pertama pada anggota plasma untuk menjadi
tenaga kerja perkebunan dll.
Pembiayaan
Inti bertanggung jawab mengupayakan sumber dana perbankan untuk plasma dan
bertindak selaku avalist serta proses pengembalian hutang petani plasma (Malangyudo, 2014).

b. Sosialisasi Kegiatan Proyek


Perubahan Persepsi Masyarakat
Idealnya sosialisasi dimaknai sebagai proses diseminasi dan pembelajaran tentang
norma-norma yang berlaku sehingga dapat berperan dan diakui oleh kelompok masyarakat yang
menjadi sasaran program atau proyek. Pada tingkat implementasi program atau proyek,
sosialisasi pada dasarnya merupakan upaya penyebarluasan informasi (program, kebijakan,
peraturan) dari satu pihak (pemrakarsa program, kebijakan, peraturan) kepada pihak-pihak lain
(aparat, masyarakat yang terkena program, dan masyarakat umum). Isi informasi yang
disebarluaskan harus menyeluruh sesuai dengan tujuan program, seperti : Informasi dan materi
yang disosialisaikan meliputi : kebijakan operasional program atau rencana usaha pada seluruh
tahapan kegiatan baik pada tahap pra-operasi, operasi, panduan dan standar kinerja yang
digunakan, hasil kegiatan, lessons learned dari pengalaman baik (best practices) proyek yang
sama untung ruginya ada proyek, dampak positip dan negatip proyek, program CD atau CSR
yang dirancang untuk masyarakat, pola kemitraan, system rekruitmen tenaga kerja, hak dan
kewajiban perusahaan dan masyarakat, kebijakan exit strategy dan rencana pasca operasi
(Malangyudo, 2014).
c. Perijinan
Pengelolaan Usaha Budidaya Perkebunan
Kebijakan teknis terbaru yang terkait dengan perizinan usaha perkebunan telah diatur
secara operasional oleh Menteri Pertanian melalui Permentan No.26/Permentan/OT.140/2/2007

tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan. Di dalam permentan tersebut, yaitu Pasal 5 dan
Pasal 6, menginformasikan bahwa untuk usaha budidaya tanaman perkebunan dengan luasan
lahan lebih dari 25 hektar wajib memiliki izin usaha perkebunan untuk Budidaya (IUP-B),
sedangkan untuk luasan lahan kurang dari 25 hektar cukup didaftarkan dengan bukti Surat Tanda
Daftar Usaha Budidaya Perkebunan (STD-B) dari Bupati atau Walikota. Terkait dengan pola
usaha perkebunan, Pasal 22 UU No.18/2004 menyebutkan bahwa Perusahaan perkebunan
melakukan kemitraan yang saling menguntungkan, saling menghargai, saling bertanggungjawab,
saling memperkuat dan saling ketergantungan dengan pekebun, karyawan dan masyarakat sekitar.
Adapun Pola kemitraan usaha perkebunan dapat berupa kerjasama penyediaan sarana produksi,
kerjasama produksi, pengolahan dan pemasaran, transportasi, kerjasama operasional, kepemilikan
saham dan jasa pendukung lainnya.
Adapun berdasarkan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal 11 Permentan No.
No.26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan, dinyatakan
bahwa Perusahaan yang memiliki IUP-B wajib membangun kebun untuk masyarakat sekitar
paling rendah seluas 20% (dua puluh persen) dari total luas areal perkebunan yang diusahakan
oleh perusahaan. Pembangunan kebun masyarakat untuk masyarakat tersebut dapat dilakukan
antara lain melalui pola kredit, hibah atau bagi hasil yang dilakukan bersamaan dengan
pembangunan kebun yang diusahakan oleh perusahaan.
UU No.18/2004 memuat ketentuan bahwa usaha industri pengolahan hasil perkebunan
adalah kegiatan penanganan dan pemrosesan yang dilakukan terhadap hasil tanaman perkebunan
yang ditujukan untuk mencapai nilai tambah yang lebih tinggi. Pencapaian nilai tambah tersebut
dapat dilakukan di dalam atau di luar kawasan pengembangan perkebunan dan dilakukan secara
terpadu dengan usaha budidaya tanaman perkebunan, sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 27
ayat (3). Di samping itu, usaha industri pengolahan hasil perkebunan harus dapat menjamin
ketersediaan bahan bakunya dengan mengusahakan budidaya tanaman perkebunan sendiri,
melakukan kemitraan dengan pekebun, perusahaan perkebunan dan atau bahan baku dari sumber
lainnya, sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 17 UU No.18/2004 dimaksud.
Guna menegaskan keterjaminan pasokan bahan baku bagi usaha industri pengolahan
hasil perkebunan, maka Menteri Pertanian melalui Permentan No.26/Permentan/OT.140/2/2007
mengatur mengenai keharusan bagi usaha industri pengolahan hasil kelapa sawit memenuhi
paling rendah 20% kebutuhan bahan bakunya dari kebun yang diusahakan sendiri, sebagaimana
termuat dalam ketentuan Pasal 10 Permentan dimaksud. di dalam atau di luar kawasan
pengembangan perkebunan dan dilakukan secara terpadu dengan usaha budidaya tanaman
perkebunan, sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 27 ayat (3). Disamping itu, usaha industri
pengolahan hasil perkebunan harus dapat menjamin ketersediaan bahan bakunya dengan
mengusahakan budidaya tanaman perkebunan sendiri, melakukan kemitraan dengan pekebun,
perusahaan perkebunan dan atau bahan baku dari sumber lainnya, sebagaimana dimaksud di
dalam Pasal 17 UU No.18/2004 dimaksud.
Guna menegaskan keterjaminan pasokan bahan baku bagi usaha industri pengolahan
hasil perkebunan, maka Menteri Pertanian melalui Permentan No.26/Permentan/OT.140/2/2007
mengatur mengenai keharusan bagi usaha industri pengolahan hasil kelapa sawit memenuhi
paling rendah 20% kebutuhan bahan bakunya dari kebun yang diusahakan sendiri, sebagaimana
termuat dalam ketentuan Pasal 10 Permentan dimaksud. Terkait dengan Perizinan usaha,
Permentan Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 mengatur bahwa untuk usaha industri
pengolahan hasil perkebunan yang WAJIB mendapat Izin Usaha Perkebunan untuk pengolahan
(IUP-P) adalah yang memiliki kapasitas produksi pengolahan 5 ton tandan buah segar per jam.
Sedangkan untuk yang berkapasitas dibawah dari kapasitas tersebut cukup mendaftarkannya yang
kemudian dibuktikan dengan Surat Tanda Daftar Usaha Industri Pengolahan Hasil Perkebunan
(STD-P) yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota.

Dari uraian diatas jelas, bahwa IUP adalah wajib di miliki sebelum mulai melaksanakan
pembangunan Perkebunan, namun IUP itu sendiri tidak akan diterbitkan oleh Bupati atau
Gubernur sebelum pengusaha melaksanakan AMDAL diatas lahan yang sudah dipilih.
Izin Usaha Perkebunan (IUP) diberikan oleh :
Gubernur, apabila lokasi lahan usaha perkebunan berada pada lintas wilayah daerah
Kabupaten dan atau Kota;
Bupati atau Walikota, apabila lokasi lahan usaha perkebunan berada diwilayah daerah
Kabupaten atau Kota.
Izin Usaha Perkebunan berlaku selama perusahaan masih melakukan pengelolaan
perkebunan secara komersial yang sesuai standar teknis dan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta memenuhi seluruh kewajiban yang telah ditetapkan.
Usaha perkebunan dapat dilakukan oleh perorangan warga negara Indonesia atau badan hukum
yang didirikan menurut hukum Indonesia meliputi Koperasi, Perseroaan Terbatas (PT), Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Untuk memperoleh izin
usaha perkebunan, perusahaan perkebunan wajib memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Akte pendirian atau perubahannya yang terakhir,
b. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
c. Surat Keterangan Domisili,
d. Rencana kerja usaha perkebunan,
e. Rekomendasi lokasi dari instansi pertanahan,
f. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari instansi kehutanan sepanjang kawasan hutan,
g. Rekomendasi teknis kesesuaian lahan dari Kepala Dinas yang membidangi usaha perkebunan
Provinsi, Kabupaten atau Kota setempat yang didasarkan pada perencanaan makro,
perwilayahan komoditi dan RUTR,
h. Pernyataan mengenai pola pengembangan yang dipilih dan dibuat dalam akte notaris,
i. Peta calon lokasi dengan skala 1: 100.000,
j. Surat persetujuan dokumen AMDAL dari komisi AMDAL daerah (Malangyudo, 2014).
Dengan telah diperolehnya perijinan dasar yang berupa, Ijin Lokasi, Amdal dan IUP,
maka perusahaan perkebunan baru secara sah dapat mulai beroperasi. Sedangkan proses
sosialisasi dalam rangka perolehan lahan sudah dapat dimulai sejak Ijin Lokasi sudah di terbitkan
dan laporan hasil survey detil sudah selesai. Diagram proses perijinan untuk kawasan hutan
konversi dan kawasan APL dapat dilihat dibawah ini :

BENIH KELAPA SAWIT


Menurut Malangyudo (2014) sasaran utama dari perkebunan kelapa sawit adalah
menghasilkan yield atau produktifitas TBS ton per hektar atau produktifitas CPO ton per hektar
yang tinggi. Faktor faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produktifitas tanaman,
diantaranya adalah kualitas dan karakteristik bahan tanaman atau benih yang ditanam. Benih dan
Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa
sawit dan bersifat monumental, artinya kesalahan memilih benih hari ini, risikonya akan
ditanggung selama 30 tahun.
a. Produksi Benih
Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera
sebagai induk jantan
DURA x PISIFERA (D xP)
Kebanyakan berbasis pada Deli dura yang berasal dari
Chemara, Banting, DOA/MARDI/MPOB, Dami, Socfindo, Dabou
Sumber Utama pisifera
AVROS, NIFOR (Calabar), Ekona, Yangambi, La Me
b. Kecambah Kelapa Sawit

c. Estimasi Produksi Benih Kelapa Sawit Nasional

Sumber : Tony Liwang, PT SMART TBK 2009


Pembelian benih harus berasal dari sumber penyedia benih nasional seperti pada daftar
di atas, di luar dari sumber benih diatas, risiko memperoleh benih palsu atau memperoleh benih
terkontaminasi Dura dan penyakit akan menjadi kenyataan.
d. Akibat Benih Palsu

MANAJEMEN PROYEK

Manajemen merupakan kegiatan untuk mengatur dan mengelola suatu aktivitas. Fungsifungsi manajemen, antara lain fungsi perencanaan atau planning, fungsi organisasi atau
organizing, fungsi pengarahan atau actuating, serta fungsi pengawasan atau
controlling.Manajemen perusahaan perkebunan kelapa sawit meliputi visi dan misi, serta
komitmen untuk memproduksi minyak sawit secara lestari, memiliki SOP untuk praktek
budidaya dan pengolahan hasil perkebunan, memiliki struktur organisasi dan uraian tugas yang
jelas bagi setiap unit pelaksana, memiliki perencanaan untuk menjamin berlangsungnya usaha
perkebunan, memiliki sistem manajemen Keuangan Perusahaan dan keamanan ekonomi dan
keuangan yang terjamin dalam jangka panjang, serta memiliki sistem Manajemen Sumber Daya
Manusia (SDM).Untuk skala perkebunan dalam kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit,
manajemen proyek perkebunan terbagi dalam manajemen jangka pendek dan jangka panjang.
Manajemen jangka pendek merupakan suatu kegiatan pengaturan dan pengelolaan yang
berorientasi pada hasil yang akan dicapain dalam waktu 1 tahun. Sedangkan manajemen jangka
panjang merupakan suatu kegiatan pengaturan dan pengelolaan yang berorientasi pada hasil yang
akan dicapai selama periode 1 hingga 5 tahun yang akan datang dengan memperhitungkan
potensi, peluang, serta kendala yang kemungkinan akan muncul. Manajemen jangka pendek
meliputi :
Melakukan pemupukan dengan pupuk yang dibutuhkan tanaman sesuai dengan prinsip 4T
(tepat waktu, tepat dosis, tepat aplikasi, dan tepat jenis);
Memenuhi alat panen serta perbaikan infrastruktur yang mendukung proses panen;
Melaksanakan kastrasi untuk merangsang pertumbuhan generatif;
Melaksanakan polinasi di daerah yang memerlukan, dll.
Sedangkan, manajemen jangka panjang meliputi :

Peremajaan tanaman yang sudah tua dan tidak terlalu produktif lagi;
Pengembangan areal perkebunan baru;
Pembangunan dan pengembangan kawasan industri di sekitar lahan perkebunan;
Pembangunan dan pengembangan industri hilir berbasis sawit;
Pengembangan program riset oleh perusahaan;
Penyediaan serta pengembangan IPTEK untuk mempertahankan dan meningkatkan
produksi kelapa sawit serta pengembangan perusahaan;

Penyusunan blueprint atau master plan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Selain itu, kegiatan manajemen proyek jangka panjang dalam perkebunan kelapa sawit meliputi
penentuan visi dan misi, serta menyusun sasaran dan strategi untuk mendukung terciptanya visi
yang diinginkan. Sedangkan untuk penyusunan blueprint atau master plan perusahaan merupakan
landasan ke depan bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk menjadikan potensi serta
peluang yang dimiliki sehingga mampu berkompetisi di tengah persaingan yang ketat dan sangat
dinamis, sehingga dengan adanya blueprint atau master plan ini perusahaan mempunyai pijakan
agar kinerja perusahaan perkebunan kelapa sawit akan jelas dan terarah serta lebih siap
menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

PERENCANAAN KEUANGAN

Perencanaan keuangan dalam perusahaan perkebunan kelapa sawit merupakan suatu


kegiatan yang penting untuk mendukung keberlanjutan serta jalannya kinerja dalam perusahaan
perkebunan kelapa sawit. Perencanaan keuangan meliputi kegiatan persiapan lahan, kegiatan
budidaya, panen dan pasca panen, pengolahan bahan mentah dan limbah, serta kegiatan
pendistribusian. Dalam perencanaan perusaan perkebunan kelapa sawit tersedia hasil audit neraca
keuangan perusahaan oleh akuntan publik, serta terdapat laporan keuangan yang diperbarui setiap
tahun.

SUMBERDAYA MANUSIA

Ruang lingkup manajemen sumberdaya manusia dalam perkebunan meliputi perencanaan


sumberdaya manusia, penyajian data analisa tiap pekerjaan, remunerasi atau tunjangan dan gaji,
pengembangan karier SDM dalam perusahaan, serta penilaian kerja masing-masing individu.
Perencanaan sumberdaya manusia meliputi perencanaan kebutuhan karyawan dan suplai,
inventori tenaga unggul atau kader, serta bagan rencana penggantian posisi serta
ringkasannya. Tujuan dari perencanaan SDM dalam perusahaan adalah untuk
menyelaraskan aktivitas SDM dengan tujuan perusahaan perkebunan serta meningkatkan
pendayagunaan SDM dalam perusahaan. Kegiatan dari perencanaan SDM ini salah satunya
untuk pendataan kinerja individu karyawan serta persiapan penggantian tempat untuk
promosi jabatan.
Penyajian data analisa pekerjaan meliputi standar pekerjaan yang mempunyai SOP
tersendri, uraian pekerjaan, serta spesifikasi pekerjaan. Uraian pekerjaan dari penyajian
data analisa pekerjaan ini antara lain memberikan informasi tentang lingkup pekerjaan tiap
pemangku jabatan dan penjelasan mengenai kewajiban, tugas dan hubungan tanggungjawab
tiap pemangku jabatan, sehingga dapat menghindarkan dari overlapping pekerjaan.
Remunerasi meliputi upah, gaji, dan golongan , serta paket tunjangan. Remunerasi
bertujuan untuk memikat dan menahan karyawan yang vakap, memotivasi karyawan, serta
dapat meningkatkan kepatuhan karyawan pada peraturan perusahaan. Remunerasi meliputi
kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial.
Pengembangan karier meliputi rencana karier dalam organisasi dan rencana karier secara
individu. Pengembangan karier bertujuan untuk kaderisasi karyawan, tersedianya jalur
karier bagi tenaga kerja yang cakap dan berbakat, serta untuk memenuhi kepuasan
kebutuhan dalam pengembangan pribadi karyawan. Dalam perencanaan karier organisasi,
hal-hal yang mencakup di dalamnya, antara lain orang, waktu, serta pangkat atau golongan

tiap jabatan. Sedangkan perencanaan karier individu meliputi masa kerja individu,
minimum tingkat pendidikan dan pelatihan karyawan, serta adanya peluang promosi.
Penilaian kinerja masing-masing individu meliputi standar dan ukuran kinerja masingmasing individu, teknik penilaian karyawan, serta teknik wawancara dan evaluasi masingmasing individu karyawan. Penilaian kerja bertujuan untuk menghasilkan data yang akurat
berkenaan dengan perilaku dan kinerja karyawan sebagai dasar pengambilan keputusan
kepersonaliaan, serta dapat menghasilkan alat bantu untuk pimpinan dalam program
pengembangan kinerja karyawan.
2. TAHAP PEMBANGUAN DAN KONSTRUKSI

PEMBANGUNAN BANGUNAN UNTUK KEGIATAN PRODUKSI SAWIT


(PABRIK)
Untuk
pembangunan
Pabrik
tahapan-tahapannya
adalah
sbb:
1.Pengurusan Legalitas
2. Analisa tanah dan detail topograf
3. Penentuan Desain dan Rencana Anggaran Biaya
4. Pembuatan Cut and fill
5. Pembangunan Pondasi dan Main Building
6. Pembangunan station unit processing dan machinery
7. Water treatment dan kolam limbah
8. Sarana/prasarana
9. Commissioning
Perencanaan pabrik kelapa sawit perlu mempertimbangkan beberapa factor antara
lain ;
1. KAPASITAS OLAH PABRIK
Ukuran besarnya pabrik umumnya dinyatakan dengan kapasitas olah, yaitu
kemampuan pabrik untuk mengolah bahan baku atau menghasilkan produk. Kapasitas
olah dinyatakan dalam berat per satuan waktu atau volume per satuan waktu, dan untuk
pabrik kelapa sawit ( PKS ) dinyatakan dengan ton TBS/jam. Faktor yang diperhatikan
dalam pembangunan pabrik ialah :
1.1. Produksi Tandan Buah Segar
Produksi Tandan Buah Segar (TBS) dinyatakan dalam ton/ha, yang
berarti jumlah produksi TBS dari areal selama satu tahun yang menjadi bahan
baku PKS .Produksi TBS tidak sama untuk setiap bulan atau setiap tahun. Variasi
produksi menjadi pertimbangan dalam penetapan kapasitas olah pabrik.
1.2. Jam Operasi Pabrik
Pabrik kelapa sawit selalu diupayakan agar dapat beroperasi selama 20
jam per hari, akan tetapi jam olah pabrik selalu lebih singkat dari jam operasi, hal
ini karena jam olah pabrik dinyatakan berdasarkan jam olah screw-press, yang
dihitung sejak screw press bekerja hingga berhenti, sedangkan jam operasi
dihitung sejak fire up Boiler hingga pabrik shut down. Disamping itu, karena
sifatnya yang semi-continuous, dan apabila dalam proses pengolahan terjadi
stagnasi pada satu alat atau instalasi tertentu, maka kejadian ini akan berakibat
mengganggu pengoperasian alat di lini selanjutnya.
2. LETAK DAN LOKASI PABRIK KELAPA SAWIT

Pertimbangan utama untuk menentukan lokasi pabrik adalah tersedianya sumber


air yang cukup. Mengapa ? Sebab untuk mengolah 1 (satu) ton TBS per jam diperlukan
sekitar 1,5 ton air per jam. Selain dari itu, rencana lokasi pabrik bila memungkinkan
adalah terletak dipusat areal kebun agar relatif berjarak sama dari setiap sudut kebun
hingga relatif pabrik cepat dijangkau oleh pengangkut TBS. Namun, yang tidak kalah
pentingnya adalah perlu dipertimbangkan juga ketersediaan lokasi pembuangan air
limbah yang tidak berdekatan dengan pemukiman, dan terhindar dari gangguan alam
seperti banjir dan longsor.
Pertimbangan Mendasar untuk menentukan Lokasi Pabrik adalah :
1. Tersedia Sumber Air dengan Debit minimum 20 liter/detik , Tidak Pernah Kering
dan Tidak mengambil dari sumber air yang sama dengan masyarakat.
2. Lokasi Pabrik terletak sekurang-kurangnya 3 Km dari wilayah pemukiman dan tidak
terdapat kali/sungai kecil yang mengalir dari Pabrik ke Pemukiman.
3. Akses jalan keluar-masuk dari kebun menuju Pabrik dan ke Pelabuhan tidak melalui
jalan Desa.
4. Kondisi Tanah, baik Struktur Tanah maupun Topographynya tidak menimbulkan
bencana Tanah Longsor atau Banjir
5. Jarak Lokasi Pabrik terjauh dari kawasan kebun sejauh-jauhnya masih dalam radius
10 Km, dengan pertimbangan agar biaya angkut TBS masih Reasonable.
6. Tidak terlalu jauh dari Jalan Raya atau Sungai Besar untuk Pengeluaran/Pengiriman
hasil produksi CPO dan Kernel ke Pasar.

2.1 Sumber Air


Air merupakan bahan yang sangat penting dalam pengoperasian pabrik yaitu
sebagai air umpan boiler untuk pembangkit tenaga dan untuk air pengolahan. Air
tersebut masih mendapat perlakuan sesuai dengan tingkat mutu air sumber. Oleh
sebab itu dalam perencanaannya perlu dipertimbangkan mutu air dan jaraknya dari
lokasi pabrik.
2.2 Keadaan Tanah Lokasi
Lokasi pabrik dipilih pada tanah yang mempunyai sifat mekanik fisik tanah
yang sesuai untuk tempat berdirinya pabrik. Biasanya dipilih tempat yang tinggi
dengan tujuan agar terhindar dari banjir dan pengaturan drainase yang lebih mudah.
Berbekatan dengan lokasi tersebut harus dimungkinkan pembangunan perumahan
karyawan pabrik dan fasilitas lainnya.
2.3 Sumber Air

Pabrik kelapa sawit banyak menggunakan air pengolah dan air umpan
boiler yaitu 1500 liter/ton TBS, yang berarti membutuhkan air 900 M / hari. Pabrik
kelapa sawit dengan kapasitas olah 30 ton TBS / jam akan menghasilkan buangan
air limbah sebanyak 360 400 M setiap harinya. Oleh sebab itu diperlukan sungai
alam untuk Air Baku Boiler dan sekaligus tempat limpahan Air Limbah yang sudah
mendapat perlakuan khusus di Kolam Limbah .
2.4 Aksesibilitas
Disamping pertimbangan Tersedianya Sumber Air yang cukup, letaknya
yang sentral, Penanganan Limbah, dan kondisi Tanah, lokasi Pabrik juga perlu
memperhitungkan kemudahan akses masuk dan keluar, terutama untuk kelancaran
suplai bahan-bahan dan suku cadang serta untuk pengiriman hasil produk ke pasar
dengan lancar agar tanki timbun tidak menjadi penuh. Akan menjadi masalah
apabila lokasi pabrik yang dipilih sudah ditangah-tengah perkebunan, namun akses
masuk keluarnya melalui pemukiman penduduk, atau harus membuat jembatan
dengan bentangan yang panjang dan lain-lain. Oleh sebab itu dalam
mempertimbangkan lokasi pabrik selalu dicari lokasi yang berpeluang lebih dekat
dengan jalan raya atau dekat sungai besar untuk memudahkan angkutan hasil
produksi ke pasar.
3. RANCANG BANGUN INSTALASI PABRIK KELAPA SAWIT
3.1 Keseimbangan Kapasitas Antar Alat dan Mesin
Telah diutarakan diatas bahwa kapasitas olah berdasarkan atas kemampuan
screw press, sedangkan kapasitas olah alat lainnya dianggap bukan faktor pembatas.
Walaupun demikian kapasitas setiap unit alat harus setara dan seimbang dengan
kapasitas alat yang berada diawal proses atau di akhir proses. Faktor keseimbangan
ini perlu diperhatikan karena erat hubungannya dengan kapasitas pemakaian tenaga
( kebutuhan listrik ) dan investasi. Hal ini sering terlihat pada pabrik yang
berkapasitas 20 ton ditemukan alat yang berkapasitas 30 ton sehingga terjadi
pemborosan energy Alat dan instrumen yang digunakan di pabrik hendaknya
dipasang berdasarkan rekomendasi pada design pabrik tanpa modifikasi, walaupun
dalam buku pedoman dicantumkan alternatif, karena alternatif tersebut merupakan
prioritas ke dua.
3.2 Keseimbangan Sumber Tenaga dan Kebutuhan Pabrik
Sumber tenaga dalam pabrik kelapa sawit digerakkan oleh Uap yang berasal
dari Boiler yang bahan bakar utamanya menggunakan serat dan cangkang yang
merupakan limbah padat Kelapa Sawit. Kebutuhan uap untuk processing tergantung
dari mutu TBS dan sistem pengolahannya.

PERENCANAAN SARANA PRASARANA


1. Perencanaan lokasi Sarana Penunjang
Untuk kelancaran dalam pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit maka
harus segera dibangun beberapa sarana penunjang antara lain:
1. lokasi kantor,
2. lokasi bibitan,
3. lokasi jalan masuk,
4. lokasi pabrik dan
5. lokasi emplasemen.
Untuk menentukan lokasi kantor dan tempat tinggal pengurus. Pimpinan
proyek / manajer kebun segera mengidentifikasi lokasi yang sesuai untuk bangunan

kantor dan tempat tinggal sementara. Lokasi yang sudah ditetapkan tersebut
diupayakan akan menjadi tempat pembangunan kantor permanen, Gudang dan
Emplasemen kebun memasuki masa stabil. Penetapan lokasi harus mendapat
persetujuan dari KAWIL (kepala wiayah) dan GM (general manager) Plantation.
Setelah penentuan lokasi untuk perkantoran, Pimpinan proyek manajer kebun pjuga
mengidentifikasi area yang akan digunakan untuk pembibitan dengan
mempertimbangkan persyaratan lokasi bibitan yang ideal. Setelah lokasi bibitan
disetujui oleh KAWIL ( kepala wilayah) dan GM (general manager) Plantation,
pimpinan proyek / Manager kebun segera menyusun Rencana Kerja dan Anggaran
untuk pelaksanaan oprasional pekerja bibitan.
Menentukan lokasi jalan masuk dengan mempertimbangkna hasil survey
semi detail. Dalam hal ini Pimpinan proyek / manajer kebun bersama-sama dengan
Lahan untuk jalan masuk harus dibebaskan dari kepemilikan masyarakat minimal 50
meter dari kiri kanan jalan. Guna menjaga keamanan dari berbagai gangguan maka
perlu dibuat parit 2 x 2 x 1,5 m sebagai pembatas sepanjang sisi kiri dan kanan jalan.
Kemudian untuk selanjutnya penentuan lokasi pabrik kelapa sawit (PKS) dan
Emplasemen, Pimpinan Proyek / Manager kebun, GIS, dan Enginering malakukan
survey untuk menentukan kelayakan tata letak rencana pembangunan PKS serta
Emplasemen pada tempat yang ditunjuk. Berdasarkan hasil survey tersebut,
managemen memutuskan lokasi terbaik yang akan dibangun. Untuk menghindari
kesalahan penanaman pada lokasi yang di rencanakan akan di bangun PKS maupun
Emplasemen maka harus segera dibuat tanda di lapangan dengan pemasangan papan
nama sekaligus patok batas lokasinya. Pimpinan Proyek/Manajer kebun segera
menginformasikan kepada Asisten Pengembangan untuk menghindari penanaman
pada lokasi yang sudah dicadangkan tersebut.
2. Pembuatan Prasarana Jalan
Jalan merupakan urat nadi perkebunan karena fungsi jalan sangat vital, Yakni:
sebagai penghubung dari dan keluar kebun/ pabrik, jalur transaportasi TBS, jalur
trasportasi pemupukan, karyawan, material bangunan serta sebagai pembatas blok.
Putusnya jalan akan menghambat semua aktivitas sehingga dapat mengganggu. Jenis
-jenis Jalan:
1. Main Road (MR) dibangun dari timur kebarat dengan jarak antar jalan utama
1000M dan lebar badan jalan 9 m. Untuk areal gambut atau rawa jalan dibuat
dengan sistem tanggulan dan pembuatan parit pada salah satu sisi badan jalan.
Ukuran parit lebar atas 4 m, bawah 3 m, dalam 4 m.
2. Collection Road (CR) dibangun searah utara selatan, jarak antar koleksi 300 m dan
lebar badan jalan 7 m.
3. Jalan kontur, jalan yang dibangun padaareal berbukit, dibuat dengn memotong
jalur kontur dngn lebar 5-7 m.

PEMBIBITAN KELAPA SAWIT


Untuk Kualitas bibit dilapangan dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu :
1. Potensi genetik dan asal usul persilangannya
2. Kultur teknis dalam penanaman dan pemeliharaan bibit
3. Seleksi bibit
4. Umur bibit saat ditanam kelapangan
1.6.1 Penentuan Lokasi Bibitan

Adapun faktor faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi


bibitan yaitu :
1. Lokasi harus datar dan lapang
2. Tersedia air yang cukup minimal 40.000 liter/Ha per hari.
3. Aman dari gangguan hama penyakit
4. Dekat dengan Emplasmen sehingga pengawasan lebih intensif
1.6.2 Persiapan Lahan Bibitan
1. Memilih lokasi potensial.
2. Membuat jalan tetap menuju bibitan.
3. Membersihkan areal penyemaian PN (pre nursery) dan MN (main nursery)
secara mekanis.
4. Membuat drainase dengan baik sehingga air hujan tidak tergenang.
5. Membuat irigasi
1.6.3 Sistem Irigasi/ Pengairan
Ada beberapa macam sistem irigasi yang biasa digunakan dalam
pembibitan kelapa sawit, diantaranya :
1. Sistim irigasi manual
2. Sistim irigasi semi manual
3. Sistem irigasi tabung dengan selang plastik berlubang (kirico) yang
bertekanan.
1.6.4 Macam-macam tahapan Pembibitan
a) Pembibitan satu tahap
Pada perkebunana yang sudah mapan ( established ) atau yang
mempunyai topografi area datar cukup luas, dapat digunakan pembibitan
satu tahap
(single stage). Pada pembibitan ini kecambah langsung
ditanam dalam largebag di main nursery yang sudah dilakukan
penjarangan (spacing) dengan jarak tanam 70cm segitiga sama sisi (dalam
1 ha bisa menampung 17.000 sd 20.000 bibit). Sebelum dilakukan
penanaman kecambah maka instalasi air harus sudah terpasang pada
seluruh areal pembibitan yang sudah direncanakan.
b) Pembibitan Dua Tahap
1) Pre Nursery
Tujuan pre nursery adalah memberi waktu lebih longgar untuk
membuat persiapan area bibitan dan mempersempit tempat
pemeliharaan bibit selama 3 bulan pertama atau setelah bibit memiliki
4-5 helai daun. Pre Nursery juga bertujuan untuk mengoptimalkan
dalam pemeliharaan.
2) Main Nursery
Transplanting ke Main Nursery dilakukan pada bibit yang berumur 3
4 bulan atau setelah bibit memiliki 4 5 helai daun.
1.6.5 Kegiatan Perawatan Bibitan
Kegiatan yang dilakukan di Pre Nursery (PN) antara lain pengairan atau
penyiraman, pengendalian gulma, pemupukan, konsolidasi bibit, pengendalian
hama dan penyakit (PHPT) dan seleksi bibit. Penyiraman di Pre Nursery (PN)
dilakukan 2x dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari, kecuali bila hujan

dengan curahan 8 mm maka penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan.


Kebutuhan air untuk setiap bibit adalah 0,2 0,3 Liter/potre per hari.
1.6.7 Transplanting Bibit
Kegiatan transplanting yaitu kegiatan pemindahan bibit dari
pembibitan awal ke pembibitan utama. Adapun kegiatan kegiatannya
antara lain :
1. Persiapan lokasi bibitan utama, yaitu instalasi irigasi
2. Pengisisan media tanam berupa tanah mineral ke dalam largebag
3. Penyusunan largebag
4. Pembuatan lubang tanah.

PEMBUKAAN LAHAN
II. DEFINISI DAN TUJUAN
Pembukaan lahan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dalam usaha tani
yang didalamnya terdapat perencanaan tata ruang dan tata letak yang kegiatannya
melifuti pengukuran areal, pembangunan impra struktur, dan pembersihan lahan
sampai dengan lahan siap ditanami kelapa sawit. Tujuan pembukaan lahan adalah
agar bibit yang ditanam mendapatkan ruang dan tempat tumbuh yang normal terhindar
pengganggu baik berupa gulma, hama, ataupun penyakit.
III.
PERENCANAAN TATA LETAK DAN TATA RUANG
2.1 Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan tata ruang dan tata
letak
1. Tofografi
2.
Iklim
3.
Status dan tataguna lahan
4. Tanah
5.
Jaringan saluran air dan sungai
6.
Jaringan jalan
7.
Perkampungan dan kependudukan
2.2 Jenis dan Asal lahan
1. jenis lahan
a. lahan mineral
b. lahan gambut
2. Asal lahan
a. Hutan primer
b. Hutan sekunder
c. Semak belukar
d. Padang alang-alang
e. Areal konversi
f. Areal tanaman ulang
2.3 System Pembukaan Lahan
1. Manual
2. Mekanis
3. Khemis
4. Kombinasi

III. TAHAPAN PEMBUKAAN LAHAN


A. Tahapan Persiapan Lahan
1. Survei lahan
2. Imas (pembabatan)
3. Menumbang
4. Merencek dan menumpuk
5. Membersihkan areal
B. Penataan kebun
1. Tujuan
2. Standar kebun dan afdeling
3. Jaringan jalan
4. Jembatan dan gorong-gorong
5. Parit drainase
IV. PENGAWETAN TANAH
1. Bentuk pengawetan tanah
2. Benteng dan rorak
3. Teras Indipidu (tapak kuda)
4. Teras bersambung
PEMANENAN DAN PERAWATAN
Pemanenan adalah pekerjaan utama di perkebunan kelapa sawit karena langsung
menjadi sumber pemasukan bagi perusahaan. Tugas utama tenaga kerja panen di lapang yaitu
menurunkan buah dari pokok dengan tingkat kematangan yang telah ditentukan dan
mengantarkannya ke TPH dengan cara dan waktu yang tepat. Keberhasilan pemanenan
bergantung kepada sistem yang digunakan, rotasi,tenaga kerja, peralatan panen, dan
pengangkutan.Sistem panen merupakan cara untuk mempermudah pengaturan panen dalam
pembagian hanca, penentuan tenaga panen, pengawasan panen, dan pengangkutan TBS.
Sistem panen yang digunakan sistem hanca giring tetap dimana sistem ini merupakan
modifikasi dari sistem hanca tetap dan giring.Rotasi panen yang digunakan adalah 7/8 yang
berarti terdapat tujuh hari panen dan seksi yang sama dipanen pada hari kedelapan.Kriteria
yang diberikan kepada pemanen yaitu buah yang membrondol 5di pokok dan 10 buah di
TPH. Alat-alat yang digunakan yaitu alat pemotong TBS (dodos besar dan pisau egrek),
alat bongkar TBS (gancu) dan alat mengangkut TBS dan berondolan ke TPH (angkong).
Ten a g a k e r j a p a n e n a d a l a h f a k t o r p e n t i n g ya n g diperlukan dalam kegiatan
pemanenan, dibutuhkan perencanaan dan pengorganisasian tenagakerjapanen.
Kebutuhan tenaga panen ditentukan berdasarkan luas areal tanaman yang telah siap panen.
Luas hanca panen yang harus diselesaikan pada taksasi normal (20-25%) antara 3 4 ha
bergantung pada kemampuan masing-masing pemanen.
PENGENDALIAN GULMA
Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit dilakukan pada piringan (circle)
gawangan hidup (path) dan tempat pengumpulan hasil (TPH).Untuk mendapatkan hasil
yang lebih efektif dilakukan pemberantasan gulma secara kombinasi manual dan kimiawi dengan
rotasi yang telah ditentukan. Pengendalian gulma yang efektif menaikkan produktivitas tanaman
dan menekan biaya pemeliharaan tanaman. Tenaga kerja yang digunakan sebagian besar berasal

dari perumahan kebun dengan sistempekerjaharian lepas. Pengendalian gulma secara


manual yang dilakukan adalah babatgawangan, dongkel anak kayu (DAK) dan
circleweeding manual (CWM). Rotasi pengendalian gulma secara manual dilakukan tiga kali
dalam setahun. Alat yang digunakan dalam pekerjaan ini, yaitu:parang, cangkul, arit, dan sarung
tangan. Pembabatan dilakukan setiap orang untuk tiap jalan pikul lalu pindah ke jalan pikul
selanjutnya sampai norma kerja tercapai.
Norma yang digunakan untuk babatgawangan adalah 0.6 ha/HK, sedangkan prestasi kerja
penulis 0.4 ha/HK. DAK adalah kegiatan mencabut anak kayu hingga ke akar secara selektifdi
sekitar gawangan dan piringan. Alat yang digunakan untuk pekerjaan ini cangkul dodos (cados).
Pekerja mendongkel semua anak kayu yang ada di pasar pikul dan piringan lalu membuangnya
di gawangan mati. Norma kerja DAK 1ha/3HK dan prestasi kerja penulis 0.3
ha/HK.Pengendalian gulma secara kimia dilakukanmenggunakan herbisida, knapsack
sprayer kapasitas 15 liter dengan nozzle hitam tipe polijet (kipas), dan ember wadah air. Sebelum
melakukan penyemprotan, para pekerja melakukan pencampuran herbisida dengan air dengan
perbandingan 1:1 dikantor afdeling. Pengendalian gulma secara kimia dilakukan pada piringan
(circle), pasar pikul (path) dan tempat pengumpulan hasil (TPH). Tujuan pengendalian gulma
secara kimiadi piringanuntuk mempermudah pengutipan brondolan saat panen dan
sebagai tempat aplikasi pupuk. Standar kondisi piringan yang harus dipertahankan yaitu bersih
dari gulma dan anak sawit dengan diameter 3 m. Cara penyemprotan piringan searah jarum jam
dan herbisidayang disemprotkan menyebar m e r a t a . R a d i u s
pathyang
harus
dibersihkanselebar 1.5 meter, bersih darigulma, anak kayu dan anak sawit. Luas
TPHyangi d e a l a d a l a h 4 m x3 m dan kondisiharus bersih dari gulma supaya
pengumpulan brondolan tidak terhambat.Herbisida kontak yang digunakan bersifat kontak
dengan bahan aktif Paraquat diklorida. Dosis yang digunakan 0.6 liter/ha dengan konsentrasi 0.5
%, selain herbisidakontak juga digunakan herbisidasistemik dengan bahan aktif Isopropilamina
glifosat dengan dosis 0.7 liter/ha (konsentrasi 0.67%.), volume semprot 135 liter/ha. Bahan
perekat yang digunakan yaitu Biofuron dengan bahan aktif Metil metsulfuron dengan konsentrasi
0.25 kg/20liter air. Tinggi semprotan 30 cm di atas permukaan tanah

PEMUPUKAN
Pemupukan di SAL 1 dilakukan duakali dalam setahun. Pemupukan semester I dilakukan
pada bulan Februari Juni. Jenis pupuk yang diaplikasikan pada semester I adalah NPK 41-41, Rock Phospate(30 % P2O5), Muriate of Potash( 6 0 % K2O), Kieserite (27 % MgO),
dan Dolomite (60 %CaCO3). Dosis yang digunakan berdasarkan hasil analisis daun atau leaf
sample unit (LSU) yang dibuat oleh Head Office(HO) yang berada di Jakarta. Kegiatan
pemupukan diawali dengan penguntilan pupuk dalam karung. Until-until pupuk tersebut
ditakaruntuk kebutuhan 6 pokokke dalam karung yang selanjutnya dilansir ke kebun pada pagi
hari. Apel pagi dilakukan untuk membagi kelompok dan menjelaskan kembali aturan yang
digunakan dalam pemupukan. KHL mengambil pupuk dan melansir ke dalam blok dan
menempatkan pupuk di baris keenam dandi pasar tengah.Penaburan pupuk dilakukan
setelah pelansiran ke dalam blok sudah dilakukan seluruhnya. Kontrol dilakukan oleh mandor
terhadap ketepatandan kecepatan dalam penaburan. Pengawasan oleh mandor dilakukan
di pasar tengah sebagai pemberi aba-aba menabur dan di jalan transport untuk memastikan
pupuk tidak ada yang tertinggal.Satu takaranpupukdigunakan untuk satu jenis pupuk
ya n g a k a n d i a p l i k a s i k a n . C a r a p e n a b u r a n p u p u k d e n g a n menuangkanpupuk ke

takaran dan ditabur dengan tangan secara meratadi piringan dengan radius 50 cm dari
pokok. Setelah kegiatan pemupukan selesai, karung-karung bekas dikumpulkan dan diantar
kembali ke gudang dengan mobil transport untuk KHL. Sistem kerja pemupukan ini dengan
target harian 7 jam kerja. Rata-rata prestasikerja KHL 0.6ha/Hk.

SISTEM DRAINASE DAN IRIGASI


Perencanaan pembangunan saluran air didasarkan atas topografi lahan,
letak sumber air, dan tinggi muka air tanah. Sistem pengeluaran air berlebih
(drainase) dibuat berdasarkan kondisi drainase areal. Untuk lahan gambut,
pengelolaan tata air sangat dominan, mengingat karakteristik lahan gambut yang
mengering dan mengkerut tidak balik (irreversible shrinkage) apabila mengalami
kekeringan.
Pembuatan saluran air dimaksudkan untuk mengendalikan tata air didalam
wilayah perkebunan. Metode pengendalian air yang umum digunakan yaitu irigasi
dan drainase. Irigasi merupakan usaha untuk menambah air kedalam wilayah,
sedangkan drainase merupakan kebalikannya. Hal ini perlu disadara agar tidak
terjadi kekeliruan dalam pemakaian terminologi irigasi untuk tata nama
(nemenclature) drainase karena kedua sistem ini saling berlawanan dan tidak
mungkin digabung menjadi satu kesatuan. Untuk mencegah timbulnya kerancuan
dalam tata nama sistem drainase, berikut dijelaskan tipe dan ukuran saluran.
Drainase lapangan (field drains; secara salah kaprah disebut parit tersier)
Berfungsi menyekap air yang ada dan/atau mengalirkannya dipermukaan tanah,
dalam keadaan tertentu berfungsi menurunkan permukaan air tanah. Drainase ini
merupakan parit buatan.
Drainase Pengumpul (collection drains; secara salah kaprah disebut parit
sekunder)
Berfungsi mengumpulkan air dari suatu areal tertentu dan mengalirkannya ke
pembuangan. Merupakan buatan manusia dan dapat berbentuk parit, kolam,
waduk dan lainnya. Dapat juga berupa teras bersambung dan benteng, dimana
bentuk pengumpulannya berdiri sendiri dan pembuangannya melalui peresapan
tanah.
Drainase pembuangan (Outlet drains; secara salah kaprah disebut parit primer)
Berfungsi mengeluarkan air dari suatu areal tertentu dan umumnya memanfaatkan
kondisi alam yang ada seperti sungai, jurang, rendahan dan lainnya. Jika tidak
dapat memanfaatkan kondisi alam juga dapat berupa saluran buatan (kanal),
pompa dll
SENSUS POHON
Sensus pohon adalah menghitung jumlah pohon kelapa sawit tiap blok
pada areal afdeling. Dengan sensus pohon akan diketahui apakah jumlah pohon
tiap blok telah sesuai atau belum terhadap standar.
Standar Sensus Pohon
Jumlah pohon tiap blok harus sesuai dengan standar jarak tanam atau kerapatan
pohon yaitu 136 pohon /ha
Sensus pohon harus dilakukan setelah selesai penanaman dan tidak boleh lebih
dari 6 bulan.
Pelaksanaan sensus harus memakai form sensus yang telah disediakan .
Hasil sensus harus dipetakan tiap blok.

Kode kode dalam peta harus mengikuti aturan yang sudah ada.Sensus dilakukan

setahun sekali oleh petugas sensus.


Ka. Afdeling harus melakukan cross check terhadap hasil sensus yang dibuat
petugas.

PERALATAN KERJA

Peralatan panen
Untuk umur TM muda (3 5 tahun) alat panen yang digunkan adalah
dodos, sedangkan untuk TM dewasa (diatas 5 tahun) alat panen yang digunakan
adalah egrek. Alat alat tambahan dalam kegiatan panen adalah gancu, kereta
sorong (angkong), goni, tali dan kapak.

Untuk peralatan panen kelapa sawit di PT.BSMI menggunakan alat sbb :


Berumur < 7thn
o Dodos dg lebar 10-12,5 cm
o Kantong/ piringan untk pengutipan brondolan
o Kapak kecil untuk memotong tangkai tbs dan batu asah
o Kereta dorong (lori)/ alat pikul
o Jaring panen

Berumur > 7 thn


Egrek
Kapak kecil dan batu asah
Kereta dorong (lori)/ alat pikul
Jaring panen

PENGADAAN PABRIK PENGOLAHAN PASCA PANEN


Perencanaan pabrik disesuaikan dengan luas areal tanaman kelapa sawit yang
produksinya akan diolah dan letaknya tidak mengganggu kesehatan lingkungan
pemukima

Letak lokasi pabrik tersebut harus memenuhi syarat tertentu :


Letak pabrik diusahakan pada titik sentral
Dekat sarana perhubungan baik jalan raya, kereta api yang menghubungkan ke
pelabuhan
Berdekatan dengan sumber air/sungai yang sepanjang tahun terjamin debit airnya
Mempunyai sarana penunjang misalnya bengkel serta tenaga kerja
Areal cukup rata/flat area

PENGOLAHAN LIMBAH

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya sangat
pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping atau limbah pabrik
kelapa sawit juga tinggi. Secara umum limbah dari pabrik kelapa sawit terdiri atas tiga macam

yaitu limbah cair, padat dan gas. Limbah cair pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses
pengukusan (sterilisasi), proses klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah
cair industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga potensial mencemari
air tanah dan badan air.
Sedangkan limbah padat pabrik kelapa sawit dikelompokan menjadi dua yaitu limbah yang
berasal dari proses pengolahan dan yang berasal dari basis pengolahan limbah cair. Limbah padat
yang berasal dari proses pengolahan berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang
atau tempurung, serabut atau serat, sludge atau lumpur, dan bungkil. TKKS dan lumpur yang
tidak tertangani menyebabkan bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat dan potensial
menghasilkan air lindi (leachate). Limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa
lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah. Kandungan unsur hara kompos yang
berasal dari limbah kelapa sawit antara lain N, P2O5, dan K2O.
Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dari kolam anaerobik sekunder dengan BOD 3.5005000 mg/liter yang dapat menyumbangkan unsur hara terutama N dan K, bahan organik, dan
sumber air terutama pada musim kemarau. Kandungan hara limbah cair sisa tanaman kelapa
sawit adalah 450 mg N/l, 80 mg P/l, 1.250 mg K/l dan 215 mg/l. Sistem aplikasi limbah cair
dapat dilakukan dengan system sprinkle (air memancar), flatbed (melalui pipa ke bak-bak
distribusi ke parit sekunder), longbed (ke parit yang lurus dan berliku-liku) dan traktor tanki
(pengangkutan limbah cair dari IPAL/Instalasi Pengolah Air Limbah) ke areal tanam.
Dengan perencanaan yang benar limbah sisa tanaman kelapa sawit tersebut tidak akan mencemari
lingkungan sekitar dan jika pengolahannya sesuai, limbah kelapa sawit tersebut akan member
manfaat seperti bisa digunakan sebagai sumber unsure hara untuk pertumbuhan kelapa sawit
selanjutnya.

PENDISTRIBUSIAN DAN KEMITRAAN

Salah satu strategi pemasaran yang sebaiknya harus diperhatikan agar aktivitas jalannya distribusi
dapat berjalan dengan lancar, adalah dengan memperhatikan saluran distribusi. Saluran ditribusi
dapat membantu perusahaan dalam proses pemasaran terutama untuk menganalisis berbagai
kendala yang terjadi di lapangan, sehingga dapat diambil kebijakan strategi yang tepat untuk
memecahkan masalah yang dihadapi dan distibusi kembali akan dapat berjalan dengan normal
dan baik demi tercapainya kepuasan konsumen.
Salah satu unit yang sangat membantu dalam jalannya proses distribusi adalah unit distributor.
Distributor sangat dibutuhkan oleh perusahaan dalam membantu pemasaran objek produksi.
Dalam menunjuk distributor yang tepat dan juga menetapkan kebijkan yang benar tentang saluran
distribusi dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Melakukan riset dan analisis yang lebih mendalam terhadap pihak-pihak lembaga yang terkait
dalam menunjang proses pemasaran, terutama seabagai contoh adalah pihak-pihak terkait seperti
pedagang perantara antara pihak perusahaan dengan konsumen di daerah tertentu.
2. Mempertimbangkan karakteristisk dari segmen pasar yang telah dibidik, dan secara geografis
bagaimana lokasi pembeli, apakah mudah dijangkau atau keadaan yang terjadi adalah sebaliknya.
3. Memperhitungkan seberapa besar persediaan produk yang dipasok yang disesuaikan dengan
seberapa besar dengan kebutuhan konsumen. Hal ini bertujuan untuk menganailisis efektifitas
proses distribusi yang akan dilakukan dalam jangka panjang.

4. Memikirkan dengan segala jaringan pemasaran yang dimiliki agar dapat didaya upayakan
secara maksimal sehingga hasil pemasaran yang disokong dari proses distribusi dapat
memberikan hasil yang optimal.
5. Melakukan kegiatan promosi. Dengan adanya promosi maka konsumen akan mengetahui
bahwa perusahaan meluncurkan produk baru yang akan menggoda konsumen untuk melakukan
kegiatan pembelian. Kegiatan promosi banyak yang mengatakan identik dengan dana yang
dimiliki oleh perusahaan.
Pola distribusi yang harus dipertimbangkan dan selalu diamati adalah dengan melakukan
penyesuaian dengan perkembangan pola dinamika gaya hidup masyarakat. Jika hal ini dapat
dilakukan dengan baik, maka proses distibusi dapat berjalan dengan baik dan akan mensuport
untuk menghasilkan nilai penjualan yang memuaskan.
Daftar Pustaka
Malangyudo,
Arie.
2014.
Perencanaan
Perkebunan
Kelapa
Sawit
(Online).
http://arieyoedo.blogspot.com/2011/04/perencanaan-pembangunan-perkebunan.html.
Diakses pada tanggal 13 Maret 2014.

TUGAS KELOMPOK MANAJEMEN TANAMAN PERKEBUNAN


Perencanaan Perkebunan Kelapa Sawit

Di susun oleh :
Andi Kurniawan

115040201111128

Erwansyah Budi Raharjo

115040200111124

Intan Kartika Agnestika

115040201111243

Muhammad Nazri Emir

115040201111198

Arachis Ratnasari Sumarsono

115040200111010

M. Rizki Yuliansah

115040200111078
Kelas B

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
MALANG
2014