Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bumi merupakan planet yang paling indah yang di dalamnya terdapat
kehidupan, gunung-gunung menjulang tinggi menghiasi bumi, manusia, hewan,
dan tumbuhan serta lingkungan alam saling berinteraksi satu sama lainnya di atas
muka bumi ini.
Permukaan bumi yang menarik tersebut, dibentuk oleh proses-proses
tektonik yang sangat lambat seperti pengangkatan, sedimentasi, erosi, yang
merubah bentuk muka bumi, perubahan tersebut terjadi seragam sepanjang sejarah
geologi. Akan tetapi muka bumi juga dipahat oleh proses-proses tektonik yang
sangat dasyat seperti vulkanisme, gempa bumi, dan peristiwa-peristiwa besar
lainnya seperti jatuhan meteorit yang bisa merubah bentuk muka bumi ini.
Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh ahli geofisika Inggris, Mc Kenzie
dan Robert Parker (1967). Kedua ahli itu menjadikan teori-teori sebelumnya
sebagai satu kesatuan konsep yang lebih sempurna sehingga diterima oleh para
ahli geologi.
Teori lempeng tektonik diyakini oleh banyak ahli sebagai teori yang
menerangkan proses dinamika bumi, antara lain gempa bumi dan pembentukan
jalur pegunungan. Menurut teori ini kulit bumi (kerak bumi) yang disebut litosfer
terdiri dari lempengan yang mengambang di atas lapisan yang lebih padat yang
disebut astenosfer. Ada dua jenis kerak bumi, yaitu kerak samudra dan kerak
benua. Kerak samudra tersusun atas batuan yang bersifat basa, sedangkan kerak
benua tersusun atas batuan yang bersifat asam.
Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi. Namun, akibat adanya
aliran panas yang mengalir di astenosfer menyebabkan kerak bumi pecah menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil. Bagian-bagian itulah yang disebut lempeng kerak
bumi (lempeng tektonik). Aliran panas tersebut untuk selanjutnya menjadi sumber
kekuatan terjadinya pergerakan lempeng. Lempeng tektonik; merupakan dasar
dari terbangunnya system kejadian gempa bumi, peristiwa gunung berapi,
pemunculan gunung api bawah laut, dan peristiwa geologi lainnya.
Menurut teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari
suatu lempengan tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif
terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini
tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an,
dan hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis,
seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang
bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra. Karena teori Lempeng
Tektonik dapat menjelaskan berbagai peristiwa geologi hingga saat ini, maka
makalah ini kami susun dengan tujuan mengetahui segala sesuatu tentang
tektonik dan litosfer samudera.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada makalah ini yaitu
sebagai berikut:
1. Bagaimana batas lempeng di bidang pertemuannya ?
2. Bagaimana sistim lempeng global ?
3. Apa yang dimaksud dengan triple junction ?
4. Apa saja jenis sesar transform ?
5. Bagaimana rotasi lempeng pada bola ?
6. Bagaimana medan magnet bumi ?
7. Apa yang dimaksud dengan paleomagnetik ?
8. Bagaimana pembalikan muatan kutub geomagnetik ?
9. Bagaimana pembalikan medan kutub dan skala waktu geologi ?
10. Bagaimana paleomagnetisme dan pemekaran lantai samudera ?
11. Bagaimana mengukur kecepatan pemekaran ?
12. Bagaimana gerakan lempeng relatif ?
13. Bagaimana pengukuran geodetik pada gerakan lempeng ?
14. Bagaimana gaya yang terlibat dalam gerakan lempeng ?
15. Bagaimana geometri tektonik pematang di transform ?
16. Bagaimana teka-teki magnetik dan lempeng pasifik ?
17. Bagaimana evolusi Sesar San Andreas sebagai batas lempeng ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui batas lempeng di bidang pertemuannya ?
2. Untuk mengetahui sistim lempeng global
3. Untuk mengetahui triple junction
4. Untuk mengetahui sesar transform
5. Untuk mengetahui rotasi lempeng pada bola
6. Untuk mengetahui medan magnet bumi
7. Untuk mengetahui paleomagnetik
8. Untuk mengetahui pembalikan muatan kutub geomagnetik
9. Untuk mengetahui pembalikan medan kutub dan skala waktu geologi
10. Untuk mengetahui paleomagnetisme dan pemekaran lantai samudera
11. Untuk mengetahui mengukur kecepatan pemekaran
12. Untuk mengetahui gerakan lempeng relatif
13. Untuk mengetahui pengukuran geodetik pada gerakan lempeng
14. Untuk mengetahui gaya yang terlibat dalam gerakan lempeng
15. Untuk mengetahui geometri tektonik pematang di transform
16. Untuk mengetahui teka-teki magnetik dan lempeng pasifik
17. Untuk mengetahui evolusi Sesar San Andreas sebagai batas lempeng
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu, secara khusus untuk
memenuhi tugas mata kuliah Geodinamika yang dibebankan kepada kami, dan
secara umum makalah ini dapat memberikan gambaran mengenai tektonik dan
litosfer samudera.

BAB II
PEMBAHASAN
Tektonik dan Litosfer Samudra
Istilah tectonic berasal dari Bahasa Yunani, tektonikos, yang berarti
kemampuan untuk membangun. Menurut Twiss dan Moores (1993, 1996),
Tektonik adalah studi sejarah gerakan dan deformasi dari skala regional ke skala
global, sementara geologi struktur adalah studi deformasi batuan dari skala
mikroskopis hingga regional.
2.1 Batas Lempeng dan Bidang Pertemuannya (Plate Boundaries and Their
Junctions)
Batas lempeng terdiri dari tiga jenis, yaitu: a). Batas divergen; b). Batas
konvergen; c). Batas sesar transform. Tiap lempeng adalah satu fragmen tersendiri
yang dibatasi oleh lempeng lainnya.

Gambar 2.1 Lempeng-lempeng Tektonik di bumi

2.2 Sistim Lempeng Global (The Global Plate System)


Segmen batas lempeng merupakan garis menerus antara dua lempeng yang
berhenti pada triple junction. Triple junction merupakan titik temu ketiga
lempeng.
Tabel 2.1 adalah daftar 15 lempeng dengan jumlah segmen batas dan triple
junction.
Nama Lempeng
Jumlah segmen batas dan Triple junction
Lempeng Utama
Pasifik
10
Amerika
Amerika Utara
10
Amerika Selatan
Eurasia
7
Subplate Persia
Afrika
5
Subplate Somalia
3

Australia-India
Antartika
Nazca
Cocos
Filipina
Karibia
Arab
Juan de Fuca
Jumlah
Lempeng Lainnya
Scotia
Carolina
Bismark

5
5
4
5
2
2
4
2
61

Lempeng litosfer aktif harus bergerak sebagai satu unit. Gerakannya pada
bumi harus bergerak sebagai busur lingkaran. Suatu segmen batas tidak perlu
terdiri dari hanya satu jenis segmen (divergen, konvergen, transform).
Bahkan, tiap segmen dapat terdiri dari dua jenis batas lempeng. Umumnya
batas lempeng berupa pertemuan batas pemekaran dan batas transform. Pola
tersebut merupakan suatu aturan bagi pematang tengah samudra. Batas konvergen
biasanya digambarkan dengan bentuk kurva.
2.3 Triple Junction
Terdapat sembilan jenis triple junction. Tiap jenis batas disimbolkan dengan
huruf R (rift) untuk batas divergen; T (trench) untuk batas konvergen; dan F
(fault) untuk batas transform. Gambar 2.2 adalah variasi jenis triple junction.

Gambar 2.2 Triple Junction. Bentuk alternatif (a) dan (b) diberikan untuk tiap jenis variasi

Triple junction dapat bergerak dan menghilang di zona subduksi. Triple


junction yang baru dapat terbentuk oleh pemekaran atau oleh pembentukan batas
subduksi yang baru. Satu jenis triple junction dapat berkembang menjadi jenis
lainnya.

No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Tabel 2.2 adalah daftar 20 jenis triple junction


Variasi
Pertemuan lempeng
RRF atau FFR
FFR (?)
FFT (?)
TTT
Belum ditentukan
RTF
FFT
RTF
RRR
RRF atau FFR
TTF
TTF (?)
TTF
TTR
FFR
RRF atau FFR
FFT
FFR
FFT
RRR

Pasifik, Antartika, Australia-India


Pasifik, Filipina, Australia-India
Eurasia, Filipina, Australia-India
Pasifik, Eurasia, Filipina
Pasifik, Eurasia, Amerika
Pasifik, Amerika, Juan de Fuca
Pasifik, Amerika, Juan de Fuca
Pasifik, Amerika, Cocos
Pasifik, Cocos, Nazca
Pasifik, Nazca, Antartika
Amerika, Cocos, Karibia
Amerika, Nazca, Karibia
Cocos, Nazca, Karibia
Amerika, Nasca, Antartika
Amerika, Afrika, Antartika
Amerika, Afrika, Eurasia
Afrika, Eurasia, Arab
Afrika, Arab, Australia-India
Arab, Eurasia, Australia-India
Afrika, Antartika, Australia-India

2.4 Jenis Sesar Transform (Varieties of Transform Fault)


Tuzo Wilson di tahun 1965 mengenal enam jenis sesar transform, yang
ditentukan berdasarkan jenis batas lempeng (divergen atau konvergen) dimana
sesar transform menghubungkan ujung keduanya (gambar 2.3).

Gambar 2.3 Enam jenis transform fault menganan pada litosfer samudera (berdasarakan data dari
J. Tuzo Wilson, 1965. Gambar hak cipta Arthur N. Strahler

Pada jenis A, sesar transform menghubungkan dua batas divergen. Jenis ini
adalah ciri batas kerak samudera yang biasa ditemukan pada pematang tengah
samudera. Pada jenis B dan C, sesar transform menghubungkan batas divergen

dengan batas konvergen. Jenis D, E dan F, menghubungkan sesar transform pada


dua batas divergen.
Dalam pergerakan lempeng diantara enam jenis transform tersebut, jenis A
dan E mengalami perubahan panjang, jenis F bertambah panjang dan jenis D
bertambah pendek.
2.5 Rotasi Lempeng pada Bola (Plate Rotation on a Sphere)
Lempeng litosfer adalah fragmen kulit bola yang bergerak sebagai satu
kesatuan pada permukaan bola. Jika suatu fragmen bola tersebut diletakkan pada
bola lainnya (dengan ukuran bola yang sama), maka terdapat gerakan fragmen
tersebut akan mengikuti pola lingkaran (gambar 2.4).

Gambar 2.4 Lempeng Litosfer bergerak di atas astenosfer, radius rotasi terhadap kutub rotasi
adalah busur dari lingkaran besar. Tiap titik (P,Q,R) pada lempeng mengikuti lingkaran kecil

Gerakan fragmen tersebut juga akan memiliki suatu kutub rotasinya. Dalam
ilmu, kutub rotasi tersebut dinamakan Kutub Euler (Euler Pole). Gerakan fragmen
kulit bola akan mengikuti Teorema Euler, yang menyatakan bahwa gerakan suatu
fragmen bola terhadap permukaan bola akan membentuk rotasi terhadap
kutubnya.
2.6 Medan Magnet Bumi (Geomagnetism)
Adanya magnet bumi dapat diandaikan dengan adanya suatu batang magnet
di inti bumi (gambar 2.5). Sumbu batang magnet tersebut bertepatan dengan
sumbu geografi bumi. Pada titik proyeksi garis sumbu magnetik, atau sumbu
geomagnetik, dari permukaan bumi merupakan kutub magnetik. Sumbu magnet
bumi membentuk sudut 15 terhadap sumbu geografi, akibatnya kutub magnet
tidak bertepatan dengan kutub geografi.

Gambar 2.5 Penampang garis gaya medan magnetik bumi yang melewati sumbu magnetik. Huruf
M adalah Magnetic, G adalah geographic. Panah di permukaan bumi menunjukkan
orientasi jarum magnet.

Gambar 2.5 memperlihatkan garis medan magnet bumi terhadap inti bumi.
Sumbu magnetik berorientasi vertikal. Ekuator magnetik (Magnetic Equator)
terletak pada bidang tegak lurus terhadap sumbu geomagnetik dan mengelilingi
permukaan bumi yang hampir sama dengan equator geografis. Panah kecil pada
gambar 2.5 diasumsikan sebagai jarum kompas yang berorientasi sejajar dengan
garis gaya magnet. Sudut vertikal antara garis gaya dengan bidang horisontal
dinamakan inklinasi magnetik (magnetic inclination) Inklinasi tersebut hampir 0
pada equator geomagnetik, namun hampir 90 pada daerah dekat kutub
geomagnetik. Inklinasi diukur menggunakan dip needle, jarum magnet
ditempatkan pada sumbu horisontal. Garis gaya magnetik memanjang hingga ke
luar angkasa dan menyelimuti bumi. Efek medan magnetik ini dinamakan
magnetosphere.
2.7 Paleomagnetik (Paleomagnetism)
Paleomagnetik adalah studi tentang rekaman medan magnetik bumi dalam
batuan. Mineral-mineral tertentu dalam batuan menunjukkan rekaman arah dan
intensitas medan magnet pada waktu terbentuknya batuan. Rekaman ini
menyediakan informasi keadaan medan magnetik bumi pada masa lampau dan
keberadaan lempeng tektonik pada waktu itu. Rekaman pembalikan arah
geomagnetik terawetkan dalam batuan vulkanik dan sedimen (Wikipedia, online).
Contoh batu yang memiliki sifat magnetik ini menghasilkan 2 jenis
informasi. Pertama, sifat tersebut menunjukkan arah garis gaya atau arah yang
berorientasi pada kutub utara (atau selatan) magnetik Kedua, menunjukkan
inklinasi garis gaya magnetik terdahulu. Besarnya nilai inklinasi magnetik akan
bervariasi terhadap garis lintang magnetik. Sehingga, besarnya nilai inklinasi
magnetik pada batuan dapat menunjukkan jarak batuan sesungguhnya terhadap
kutub utara magnetik terdahulu. Dengan demikian, data paleomagnetik dapat
menunjukkan posisi geografis kutub magnetik bumi terdahulu.
2.8 Pembalikan muatan kutub Geomagnatik (Geomagnetic polarity reversals)
Salah satu penemuan penting adalah medan magnetik bumi mengalami
perubahan medan kutub. Dengan kata lain, kutub utara dengan kutub selatan telah
berganti tempat, namun dengan posisi sumbu magnetik yang tidak berubah.
Fenomena tersebut dinamakan pembalikan medan kutub magnetik (magnetic
polarity reversal). Pembalikan dimulai ketika gaya dari medan geomagnetik
menjadi nol, medan magnetik kembali normal namun dengan arah medan kutub
yang berubah.
Terdapat 3 bukti yang mendukung hipotesa bahwa kutub magnet bumi
berganti arah dengan interval waktu terpendek adalah 50.000 tahun. Pertama,
hubungan fakta geologi di lapangan (gambar 2.6). Pada gambar tersebut, intrusi
dike telah terbentuk dengan zona efek bakar (baked zone) pada batuan sekitarnya.

Gambar 2.6 Sketsa singkapan dike vertikal memperlihatkan zona bakar (the baked zone) yang
terpanaskan dan mempengaruhi batuan sekitarnya (country rock) Panah memperlihatkan
polarisasi magnetik

Kedua, perubahan medan kutub yang menerus pada lapisan sedimen yang
terendapkan di dasar samudra (detrital remnant magnetism). Suksesi inklinasi
pada lapisan telah terjadi sebanyak 180 (gambar 2.7).

Gambar 2.7 Penampang vertikal pada urutan lapisan sedimen di deep-sea core memperlihatkan
perubahan inklinasi magnetik hingga polarisasi magnetik terbalik

Ketiga, semua medan kutub harus dapat diamati pada medan stratigrafi. Ini
menedakan bahwa durasi suatu medan kutub, apakah dalam kondisi normal atau
terbalik, haruslah cukup untuk mencakup kemungkinan salah (the probable error)
dalam penentuan umur geologi. Sekarang, terdapat kesepakatan umum bahwa
ketika bukti tersebut telah dipenuhi dan bahwa magnetisme batuan bersifat
permanen dan dapat menjadi petunjuk yang handal untuk menentukan medan
magnetik bumi sebelumnya.
2.9 Pembalikan medan kutub dan Skala waktu geologi (Polarity Reversal
and the Geologic Time Scale)
Umur geologi suatu contoh batuan dapat diketahui melalui metoda
radioaktif. Akhir tahun 1950-an, penentuan umur dengan kalium argon dapat
digunakan untuk menentukan umur plistosen. Akhir tahun 1960-an, kemajuan
metoda tersebut dapat menunjukan umur hingga 4,5 juta tahun. Penentuan
ekstensif data magnetik dan umur batuan menunjukan paling tidak ada 7
pembalikan medan kutub geomagnetik dari medan magnet bumi pada 4 juta tahun
terakhir.
8

2.10 Paleomagnetisme dan pemekaran lantai samudra (Paleomagnetism


and Sea Floor Spreading)
Jika axial rift valey memang merupakan tempat keluarnya lava basaltic dan
jika permukaan kerak merupakan proses kontinyu, maka aliran lava yang keluar
dari axial rift akan bergerak menjauhi rift. Lempeng litosfer di kedua sisi batas
pemekaran mengalami akresi dengan kecepatan yang sama. Hasilnya, kerak
samudra yang dihasilkan dalam satuan waktu membentuk dua lapisan yang sejajar
dengan lebar yang sama di kedua sisi pusat pemekaran. Dengan berjalannya
waktu, lapisan tersebut memiliki kesamaan umur di kedua sisi pusat pemekaran
dan semakin bertambah tua menjauhi pusat pemekaran. Dalam pengertian
paleomagnetik, zona lava tersebut akan memiliki ciri normal dan reserved
magnetic polarity (gambar 2.8). Dengan kata lain, lapisan lava dari pemekaran
akan memperlihatkan pola magnetik yang simetris atau biasa dinamakan
magnetic stripe. Dalam sejarah tektonik lempeng, penjelasan tersebut dinamakan
Vine-Mathews hypothesis.

Gambar 2.8 Diagram perkembangan pola simetris garis polarisasi magnetik pada ocean-floor
basalts selama pemekaran lantai samudera

2.11 Mengukur Kecepatan Pemekaran (Calculation of Spreading Rates)


Dengan menggunakan pola anomaly magnetic memungkinkan identifikasi
normal dan reversed epoch pada lantai samudra. Prosedur dilakukan oleh Pitman
dan Hertzler di tahun 1966 dengan contoh di East Pacific Rise (gambar 2.9). Pada
gambar tersebut, bagian atas adalah pengukuran dengan magnetometer, sementara
di bagian bawahnya adalah model profil dari skala waktu pembalikan magnetic
yang diterapkan dari hasil pengukuran magnetometer.

Gambar 2.9 Profil observasi intensitas magnetik di jalur Mid-oceanic ridge, 60 0 lintang selatan di
Pasifik Selatan. Di bawah adalah profil magnetik teoritis berhubungan dengan skala waktu
pembalikan polarisasi magnetik

Skala waktu tersebut bermulai dengan nol di bagian pusat dan duplikasi ke dua
arah berlawanan. Hasil skala waktu tersebut dapat digunakan untuk menghitung
kecepatan pemisahan dua lempeng. Panjang setengah bagian dari zona anomali
adalah 450 km yang terjadi dalam waktu 10 juta tahun. Jadi, kecepatan gerakan
horizontal rata-rata pada satu lempeng atau half spreading rate adalah 4,5
cm/tahun. Dengan kata lain, kecepatan pemisahan total (full separation rate)
adalah 2 kalinya atau 9 cm/ tahun.
2.12 Gerakan Lempeng Relatif
Gerakan Lempeng Relatif dapat diperkirakan dengan menggunakan
beberapa cara. Diantaranya menggunakan : a) arah ditunjukkan oleh sesar
transform yang dikonfirmasi oleh adanya gelombang P. b) Bukti seismic dapat
menunjukkan arah gerakan penunjaman lempeng; c) Pola anomaly magnetic dan
data umur basalt dari lantai samudra menunjukkan pergerakan kecepatan
lempeng; d) Rangkaian kepulauan gunung api dan seamount dapat digunakan
untuk menentukan arah dan kecepatan gerakan lempeng, baik di masa sekarang
maupun masa lalu.
Gerakan lempeng sebenarnya adalah gerakan relative dari satu lempeng
terhadap lempeng lainnya, atau gerakan relative dari 3 lempeng terhadap salah
satu lempengnya. Untuk mempermudah, salah satu dari 3 lempeng tersebut
diasumsikan tetap pada tempatnya (fixed position). Namun, ini tidak berarti
lempeng tersebut tidak bergerak terhadap mantel.
2.13 Pengukuran Geodetik pada Gerakan Lempeng
Di tahun 1976, NASA meluncurkan satelit Lageos sebagai cara baru untuk
pengukuran gerakan lempeng relatif. Lageos singkatan dari laser Geodynamics
Satelite. Satelit ini berperan sebagai reflector laser yang dikirimkan ke ground
station di bumi. Dengan menggunakan 2 atau lebih ground station sebagai system
triangulasi, satelit ini sanggup menjadi alat triangulasi yang akurat bagi
pengukuran geodetik. Sistem ini dinamakn Satelit Laser Ranging (SLR). Di tahun
1979, NASA menggunakan teknologi VLBI (Very Long Baseline Interferometry)
yang mampu mengukur hingga tingkat sekitar 3 cm di bumi. Sistem ketiga adalah
10

Global Positioning System (GPS) menggunakan beberapa satelit yang


memancarkan sinyal dan diterina oleh Ground Station. Hasill pengukuran satelit
menunjukkan bahwa kecepatan terendah gerakan lempeng adalah 1 cm/tahun,
sementara kecepatan tercepat adalah 10 cm / tahun. Di tahun 1966, hasil
pengukuran dengan system VLBI ternyata cocok dengan fakta geologi /
geophysic.
2.14 Gaya yang terlibat dalam Gerakan Lempeng (Forces involved In Plate
Motion)
Semua gaya yang terlibat dalam gerakan lempeng dibagi menjadi dua
kategori:
a. Driving force adalah gaya yang cenderung menghasilkan gerakan lempeng
relatif terhadap astenosfer, atau gaya pada satu lempeng relatif terhadap
lempeng lainnya di sepenjang batas sesar. Gaya gravitasi adalah agen yang
mengendalikan gaya ini. Gaya gravitasi berasal dari energi potensial pada
litosfer yang terdongkrak oleh proses tektonik dari mantel.
b. Resisting force adalah gaya yang membentuk akibat adanya driving force. Gaya
ini cenderung membentuk resistansi yang sama atau berlawanan dengan
gerakan lempeng. Konsep ini dinyatakan oleh Keary dan Vine; karena
kecepatan lempeng sekarang terlihat konstan, tiap lempeng haruslah berada
dalam kesetimbangan dinamik, dengan driving force yang menjadi seimbang
oleh gaya yang menghambatnya.
2.15 Geometri Tektonik dan Transform (Tectonic Geometry of Rifts and
Transform)
Pada pergeseran pematang dengan posisi kutub rotasi Euler yang tidak
berubah pada kurun waktu geologi ternyata tidak berlangsung menerus. Gerakan
rotasi lempeng dapat berubah tiba-tiba dengan perubahan posisi kutub rotasi.
Gambar 2.10 memperlihatkan perubahan kondisi geologi yang terjadi ketika
kutub berpindah ke posisi yang baru.

Gambar 2.10 Meloncatnya kutub rotasi Euler lempeng dari posisi 1 ke posisi 2 sebagai hasil
perubahan arah tiba-tiba dari small-cirle track pada batas lempeng transform.

11

Pada kutub Euler pertama (P1), sesar transform menghasilkan kumpulan fracture
zone (FZ) pada busur lingkaran kecil. Jika kutub rotasi berubah posisinya
sebanyak 450 ke titik P2, maka orientasi fracture zone dan sesar transform pun
akan berubah mengikuti kutub rotasi yang baru.
Prinsip perubahan ini adalah: adanya perubahan posisi kutub Euler akan
menyebabkan perubahan pola pematang tengah samudera dan sesar transform.
2.16 Teka-teki Magnetik di Lempeng Pasifik (Magnetik Puzzles of the
Pacifik Plate)
Pada dekade 1960-an, para ahli menemukan dua fenomena unik pada
lempeng pasifik. Fenomena pertama adalah pembelokan kecenderungan (trend)
magnetic stripe di Teluk Alaska. fenomena kedua adalah adanya anomali
magnetik Mesozoikum yang memperlihatkan tiga kelompok magnetic stripe yang
saling berbeda kecenderungannya (trend).
Fenomena pertama dinamakan Great Magnetik Bight (GMB). Perubahan
kecenderungan magnetik tersebut ditafsirkan terjadi akibat adanya triple junction
jenis RRR (Rift-rift-rift). Gambar 2.11 adalah peta skematis RRR dengan pola
anomali magnetik yang akan dihasilkannya. Peta tersebut juga memperlihatkan
sebagian Lempeng Pasifik yang diteliti.

Gambar 2.11 Peta triple rift plate junction dengan pola anomali magnetik (garis putus)

Jika penafsiran tersebut dianggap valid bahwa perubahan kecenderungan


magnetik akibat triple junction jenis RRR, maka haruslah ada dua lempeng
lainnya (anggap Lempeng X dan Lempeng Y) pada triple junction tersebut,
namun, dimana kedua lempeng tersebut terletak sekarang masih merupakan suatu
pertanyaan.
Fenomena kedua menunjukkan tiga kelompok magnetic stripe dengan umur
yang sama, yaitu dari Jura akhir hingga Kapur awal. ini berarti tiga kelompok
magnetic stripe tersebut terbentuk pada umur yang sama.
Permasalahannya terletak pada fakta bahwa kumpulan pola magnetik
pertama yang terletak di barat laut, dinamakan Japanese lineation, berposisi tegak
lurus terhadap pola magnetik kedua, dinamakan Hawaiian lineation. Sementara
pola magnetik ketiga Poenix lineation, yang terletak di bagian selatan, berposisi
sejajar dengan Japanese lineation. Ketika pola magnetik tersebut dipisahkan oleh
suatu zona, dinamakan magnetic quiet zone yang tidak menunjukkan adanya
magnetic stripe. Celah waktu (time gap) pada quiet zone adalah Kapur (84-118
12

juta tahun). Area tanpa magnetic stripe menggambarkan suatu perioda ketika
dihasilkannya kerak namun tanpa adanya pembalikkan medan kutub (magnetic
reversal) sehingga tidak dihasilkan adanya rekaman anomali magnetik.
2.17 Evolusi Sesar San Andreas sebagai Batas Lempeng (Evolution of the
San Andreas Fault as a Plate Boundary)
Para ahli geologi menyetujui bahwa Sesar San Andreas adalah sebagai batas
utama Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika. Sejarah Sesar San Andreas telah
disusun oleh Tanya Atwater di tahun 1970. Gambar 2.12 adalah peta skematik
yang memperlihatkan subduksi Lempeng Farallon di bawah lempeng Amerika
sejak Eosen akhir (sekitar 40 juta tahun yang lalu). Batas Benua Amerika
digambarkan sebagai garis lurus. Kecepatan gerakan relatif antara Lempeng
Amerika dan Lempeng Pasifik sekitar 6 cm / tahun. Gerakan relatif ketiga
lempeng tersebut digambarkan dengan vektor.

Gambar 2.12 Peta memperlihatkan konsumsi lempeng Farallon dan pembentukan sesar
transcurrent San Andreas

Pada peta A, batas pemekara Lempeng Pasifik dan Farallon dipisahkan oleh
sesar transform yang panjang. Pada peta B, mulai terjadi kontak antara Lempeng
Pasifik dengan Lempeng Amerika berupa suatu titik yang terletak di Guyama.
Sesudah itu subduksi lempeng Pasifik dan Farallon terhadap lempeng Amerika
mulai terjadi. Bagi lempeng Farallon dengan gerakan relatif timur laut, subduksi
terus terjadi. Namun, bagi Lempeng Pasifik tidak terjadi proses subduksi karena
arah gerakan relatif terhadap Lempeng Amerika adalah barat laut. Akibatnya,
batas Lempeng Pasifik dan Amerika menjadi sesar transform (Peta C). Proses
subduksi Lempeng Farallon terus berlangsung sehingga batas transform semakin
panjang (Peta D). Ujung utara batas transform memanjang ke arah barat laut. Pada
Peta E, adalah kondisi sekarang, dengan sisa Lempeng Farallon berupa Lempeng
Juan de Fuca, Gorda dan Explorer di bagian utara, dan Lempeng Rivera di bagian
selatan.

13

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa yaitu sebagai
berikut :
1. Batas lempeng terdiri dari tiga jenis lempeng yaitu: a). Batas divergen; b).
Batas konvergen; c). Batas sesar transform.
2. Segmen batas lempeng merupakan garis menerus antara dua lempeng yang
berhenti pada triple junction.
3. Terdapat sembilan jenis triple junction. Tiap jenis batas disimbolkan dengan
huruf R (rift) untuk batas divergen; T (trench) untuk batas konvergen; dan F
(fault) untuk batas transform.
4. Tuzo Wilson di tahun 1965 mengenal enam jenis sesar transform, yang
ditentukan berdasarkan jenis batas lempeng (divergen atau konvergen)
dimana sesar transform menghubungkan ujung keduanya.
5. Lempeng litosfer adalah fragmen kulit bola yang bergerak sebagai satu
kesatuan pada permukaan bola.
6. Adanya magnet bumi dapat diandaikan dengan adanya suatu batang magnet
di inti bumi.
7. Paleomagnetik adalah studi tentang rekaman medan magnetik bumi dalam
batuan.
8. Salah satu penemuan penting adalah medan magnetik bumi mengalami
perubahan medan kutub. Dengan kata lain, kutub utara dengan kutub selatan
telah berganti tempat, namun dengan posisi sumbu magnetik yang tidak
berubah.
9. Umur geologi suatu contoh batuan dapat diketahui melalui metoda radioaktif.
10. Jika axial rift valey memang merupakan tempat keluarnya lava basaltic dan
jika permukaan kerak merupakan proses kontinyu, maka aliran lava yang
keluar dari axial rift akan bergerak menjauhi rift.
11. Dengan menggunakan pola anomaly magnetic memungkinkan identifikasi
normal dan reversed epoch pada lantai samudra.
12. Gerakan lempeng sebenarnya adalah gerakan relative dari satu lempeng
terhadap lempeng lainnya, atau gerakan relative dari 3 lempeng terhadap
salah satu lempengnya.
13. Hasill pengukuran satelit menunjukkan bahwa kecepatan terendah gerakan
lempeng adalah 1 cm/tahun, sementara kecepatan tercepat adalah 10 cm /
tahun.
14. Semua gaya yang terlibat dalam gerakan lempeng dibagi menjadi dua
kategori: Driving force dan Resisting force.
15. Pada pergeseran pematang dengan posisi kutub rotasi Euler yang tidak
berubah pada kurun waktu geologi ternyata tidak berlangsung menerus.
Gerakan rotasi lempeng dapat berubah tiba-tiba dengan perubahan posisi
kutub rotasi.
16. Pada dekade 1960-an, para ahli menemukan dua fenomena unik pada
lempeng pasifik. Fenomena pertama adalah pembelokan kecenderungan

14

(trend) magnetic stripe di Teluk Alaska. fenomena kedua adalah adanya


anomali magnetik Mesozoikum yang memperlihatkan tiga kelompok
magnetic stripe yang saling berbeda kecenderungannya (trend).
17. Para ahli geologi menyetujui bahwa Sesar San Andreas adalah sebagai batas
utama Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika.

15

DAFTAR PUSTAKA
Sapile, 2012. Catatan Kuliah Tektonofisik. Bandung : ITB
http://id.wikipedia.org/wiki/Tektonika_lempeng. Diakses tanggal 31 Oktober
2014.
http://en.wikipedia.org/wiki/Paleomagnetism. Diakses tanggal 31 Oktober 2014.
http://saripedia.wordpress.com/2010/10/30/lempeng-tektonik/. Diakses tanggal 31
Oktober 2014.

16