Anda di halaman 1dari 20

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

BAB

Iman Kepada Allah


A. PENDAHULUAN
Setelah mempelajari bab ini Anda akan dapat memahami salah satu rukun iman,
yaitu iman kepada Allah. Dengan kata lain setelah mempelajari bab ini diharapkan
Anda:
1. Dapat menjelaskan eksistensi Allah SWT.
2. Dapat menerangkan Tauhidullah SWT.
3. Dapat menjelaskan hakekat beriman kepada Allah dan hikmahnya.
4. Dapat menerangkan cara berinteraksi yang baik dengan Allah.
B. PEMBAHASAN
1. Eksistensi Allah SWT
Ada dua orang sedang melakukan perjalanan jauh mencoba menembus
kedalaman hutan belantara. Tiba-tiba di tengah hutan mereka menemukan sebuah
istana yang megah dan indah. Lengkap dengan tamannya yang luas dengan beraneka
ragam bunga dan buah.
Melihat istana itu masing-masing kedua orang tersebut memberikan pendapat.
Orang pertama mengatakan, Meskipun tidak melihat sendiri bagaimana dibuat, aku
yakin istana ini dirancang oleh seorang insinyur yang jenius. Lihatlah, betapa ruangruang itu telah diatur dengan amat strategis. Juga warna-warni yang sungguh
menawan, menunjukkan selera seni yang tinggi. Dan pastilah untuk mewujudkan
bangunan seindah itu sang insinyur dibantu para tukang yang bekerja dengan keahlian
dan disilin tinggi....

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

45

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Orang kedua memberikan komentar, Ah, menurutku tidak demikian.... Aku


yakin, dahulu sekitar sekian ratus tahun yang lalu terjadi gempa yang hebat sehingga
dengan demikian rupa terciptalah ribuan batu bata dan adonan semen. Setelah itu
secara kebetulan terjadi angin raksasa yang mengatur ribuan batu-bata dan adonan
semen itu membentuk pondasi dan bangunan. Demikian seterusnya sehingga jadilah
bangunan istana yang sekarang kita lihat ini....
Nah, pendapat siapakah di antara kedua orang itu yang lebih layak kita
terima? Pendapat orang yang pertama atau orang yang kedua?
Tidak ada keraguan lagi, pasti kita akan lebih senang menerima pendapat yang
diberikan orang yang pertama. Dan tidak ada keraguan pula bahwa orang yang kedua
layak kita beri predikat sebagai orang gila. Sungguh, orang gila! Karena orang yang
masih bisa berpikir normal tidak akan pernah berkata seperti itu. Bahkan anak kecil
mana pun di seluruh dunia, dari jaman primitif sampai jaman puncak kemajuan
teknologi sekarang dan sampai kapan pun, akan tertawa mendengar keterangan orang
yang kedua itu. Meskipun misalnya kemudian orang yang kedua mendasarkan
pendapatnya pada teori evolusi....
Jelas, sebuah batu bata pun, bagian paling sederhana dari bangunan istana itu,
tidak akan terbentuk dengan sendirinya. Dengan kata lain harus ada yang membuat.
Lalu bagaimana dengan sebuah sel yang merupakan bagian terkecil dari makhluk
hidup? Apakah sebuah sel juga harus ada yang menciptakan?
Hingga saat ini manusia belum kunjung tuntas mempelajari rahasia-rahasia
yang tersimpan dalam sebuah sel. Jangankan sel, salah satu unsur sel yang disebut
DNA pun manusia, dengan melibatkan seluruh ilmuwan terbaik dari seluruh penjuru
dunia, belum juga berhasil mengungkap seluruh informasi yang dibawa DNA itu.
Dan yang belum sempurna itu pun ternyata sudah menyumbangkan banyak hal
kepada kemajuan dunia ilmiah, di antaranya sebuah kesimpulan bahwa sel tidak
mungkin ada dengan sendirinya. Alias sel pasti ada yang membuat....
Itu sebuah sel yang wujudnya tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang
karena saking kecilnya. Lalu bagaimana dengan alam semesta yang sampai sekarang
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

46

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

manusia belum juga mampu mengetahui seberapa luaskah alam semesta ini? Yang
dari waktu ke waktu manusia semakin takjub akan keserasian dan keteraturan yang
berlaku di sana.

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan
siang, sungguh menjadi bukti bagi orang yang berakal. (QS. Ali Imran [3]: 189)
Bila kita mengamati alam semesta ini, dengan menggunakan akal yang sehat
dan hati yang bersih, niscaya kita semua tanpa kecuali akan tiba pada sebuah
kesimpulan bahwa bangunan alam semesta yang demikian megah dan indah pasti ada
yang membuat! Bumi yang tiada henti berotasi, bulan yang tiada henti mengelilingi
bumi, kemudian keduanya yang selalu rukun bersama-sama mengelilingi matahari.
Dan itu terjadi sejak ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, sementara mereka tiada
mengenal lelah terus-menerus melakukannya. Sehingga dari peristiwa itulah kita bisa
menikmati perbedaan antara siang dan malam. Itu semua mengantarkan kita kepada
sebuah keyakinan yang tanpa keraguan lagi akan adanya Sang Pencipta.
Pendapat Ahli Ilmu Alam dalam Menetapkan Eksistensi Allah
Issac Newton, penemu gaya gravitasi dan ilmuwan terbesar abad XVIII di
bidang fisika dan ilmu matematika, mengatakan, Jangan kalian ragu tentang
Pencipta, karena tidak masuk akal bahwa sesuatu yang bersifat kebetulan adalah satusatunya yang mengatur segala wujud ini.1
Herbert Spencer, seorang filosof asal Inggris, mengatakan, Ilmu berlawanan
dengan takhayul, namun ia tidak berlawanan dengan agama. Dalam ilmu alam yang
yang berkembang saat ini ditemukan terlalu banyak spirit ateisme. Akan tetapi ilmu
yang benar, yang berhasil mengalahkan pengetahuan parsial dan gagal dalam
mencapai hakekat kebenaran, terbebas dari spirit itu. Ilmu alam tidak menafikan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

47

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

agama, dan berkonsentrasi pada ilmu alam juga tidak menafikan agama, sehingga
konsentrasi terhadapnya dapat disebut sebagai ibadah yang dilakukan diam-diam.2
Ia kemudian mengambil contoh, Seorang ilmuwan yang memperhatikan
setetes air kemudian ia tahu bahwa air terdiri dari oksigen dan hidrogen dengan kadar
prosentasi yang sedemikian pas, sehingga kalau saja prosentasi tersebut berubah
maka ia bukan lagi sebagai air; ia kan yakin betapa Agung-Nya Sang Maha Pencipta.
Kekuasaan, hikmah dan ilmu-Nya yang Mahaluas, jauh lebih dahsyat dan lebih agung
serta lebih kuat dibanding seorang fisikawan manapun yang hanya tahu bahwa yang
ia perhatikan hanyalah setetes air. Begitu juga dengan seorang ilmuwan yang
memperhatikan sepotong salju, melalui mikroskop ia akan melihat betapa indahnya
artistiknya dan detailnya bagian-bagiannya. Sungguh tanpa ragu hal ini menunjukkan
betapa keindahan Sang Pencipta dan ketelitian hikmah-Nya jauh lebih besar
dibanding dengan semua yang tidak manusia ketahui, kecuali hanya sekedar hujan
yang membeku karena suhu dingin yang teramat sangat.
Demikian terang keberadaan Allah SWT. Sama seperti kita bisa merasakan
kehadiran pagi hari bersama terbitnya fajar, dan kehadiran malam dengan
terbenamnya matahari. Atau bahkan lebih terang dari itu. Sebab keberadaan Allah
bisa kita rasakan melalui semua yang kita lihat, kita dengar dan kita fikirkan. Bahkan
diri kita pun tidak akan pernah ada bila tanpa kehendak-Nya.
2. Tauhidullah SWT
Tauhid artinya mengesakan. Mengesakan dengan tidak menduakan, ataupun
menyetarakan dengan yang lain. Baik dalam sifat maupun perbuatan Allah SWT.
Lebih detail, sesuai dengan tuntunan Al-Quran, akidah tauhid dalam Islam
mencakup tiga aspek yang meliputi tauhid rububiyah, tauhid mulkiyah dan tauhid
uluhiyah. Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas ketiga aspek tersebut satu persatu.
a. Tauhid Rububiyah
Yaitu mengesakan Allah SWT dalam penciptaan, pemeliharaan dan pemilikan.
Alam semesta ini ada karena diciptakan Allah SWT. Binatang, tumbuh-tumbuhan,
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

48

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

batu, air, manusia, bumi, bulan, matahari, bintang dan seluruh isi alam ini ada bukan
karena sebuah peristiwa kebetulan yang tanpa tujuan, tapi karena diciptakan Allah
SWT dengan tujuan tertentu yang telah ditetapkan-Nya sendiri.

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya
dengan serapi-rapinya. (QS. al-Furqan[25]: 2)

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang


yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai
hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari
langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki
untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal
kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah [2]: 21-22).
Dengan tegas ayat di atas menyebutkan bahwa Allah-lah yang telah
menciptakan alam semesta ini untuk manusia. Dan manusia diciptakan untuk
menyembah Allah SWT. Dan Allah menciptakan manusia lengkap dengan janji dari
Allah sendiri untuk memberikan rezeki padanya.



Aku tidak menghendaki rezki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi
rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. adz-Dzariyat [51]: 57-58)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

49

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah
yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari
ketauhidan)? (QS. Faathir [35]: 3)
Allah SWT yang menciptakan alam semesta ini, memberi rezeki seluruh
makhluk hidup di sana, maka kepunyaan Allah-lah seluruh yang ada di langit dan di
bumi ini.


Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
(QS.al-Baqarah [2]: 284)




Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam
dan meumdukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang
ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah
kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari. (QS. Fathir [35]:13)
b. Tauhid Mulkiyah
Yaitu mengesakan Allah SWT sebagi satu-satunya pemimpin dan pembuat
hukum.


Sesungguhnya pemimpinku ialah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (AlQuraan) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. (QS. Al-Araaf [7]: 196)




Allah Pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari
kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir,
pemimpin-pemimpin mereka ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

50

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

kepada kegelapan (kekafiaran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2]: 257)



Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah
Pembuat perhitungan yang paling cepat. (QS. Al-Anam [6]: 62)
c. Tauhid Uluhiyah
Yaitu mengesakan Allah SWT dalam penyembahan. Bahwa hanya Allah yang
berhak menerima ibadah dan hanya Allah yang berhak disembah.


Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-Anam [6]: 162)



Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka
sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha [20]: 14)
3. Hakekat Beriman Kepada Allah dan Hikmahnya
Dengan demikian beriman kepada Allah tidak cukup dengan meyakini
eksistensi Allah, bahwa Allah itu ada. Tidak pula cukup dengan meyakini bahwa
Allah-lah yang menciptakan alam semesta, dan memberi kita rezeki. Karena ternyata
keyakinan dan pengakuan tersebut baru merupakan satu di antara tiga unsur tauhid,
yaitu Tauhid Rububiyah.
Dahulu iblis diusir dari surga dan dimasukkan dalam golongan orang-orang
kafir bukan karena iblis tidak percaya kepada eksistensi Allah. Sebab dengan jelas
dalam surat Al-Hijr ayat 32 hingga beberapa ayat berikutnya diterangkan iblis pernah
berdialog secara langsung dengan Allah. Dan orang yang pernah berdialog langsung
dengan Allah sudah pasti percaya akan eksistensi Allah.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

51

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Demikian pula orang-orang kafir pada masa Rasulullah saw. Bila ditanyakan
kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Mereka pasti akan
menjawab, Allah! Namun demikian itu belum cukup. Karena sekali lagi pengakuan
tersebut baru merupakan unsur yang pertama dalam konsep tauhid, yaitu Tauhid
Rububiyah.



Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, Siapakah yang
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? tentu mereka
akan menjawab, Allah, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan
yang benar). (QS. Al-Ankabut [29]: 61)
Selain percaya kepada Allah sebagai satu-satunya Dzat yang menciptakan
alam semesta dan memeliharanya, makna beriman kepada Allah juga harus mengakui
bahwa hanya aturan-aturan Allah-lah yang berhak untuk kita taati. Hanya aturanaturan Allah-lah yang layak kita indahkan. Maka aturan-aturan manapun, bila
bertentangan dengan aturan-aturan Allah, tidak boleh kita perhatikan apalagi kita
patuhi.
Dalam Al-Quran, bila Allah menyebutkan kata beriman (amana, yuminu,
amanu atau yuminuna) selalui disertai dengan kata-kata yang berarti perbuatan.
Sebab beriman tanpa perbuatan adalah dusta. Sementara perbuatan yang tidak disertai
iman adalah bentuk kemunafikan. Maka beriman kepada Allah
Hakekat Beriman kepada Allah SWT3
Allah tidak menyuruh kita membicarakan hal-hal yang tidak tercapai oleh akal
dalam hal kepercayaan.


Allah tidak membebani seseorang
kekuatannya. (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

melainkan

seimbang

dengan

Sebab akal manusia tidak mungkin mencapai pengertian tentang Dzat Allah
dan hubungan-Nya dengan sifat-sifat yang ada pada-Nya. Maka janganlah engkau
membicarakan hal itu.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

52

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Hadits dari Ibnu Abbas, bahwasanya orang banyak sama memikirkan


keadaan Allah Yang Maha Mulia dan Agung, maka Nabi saw bersabda: Pikirkanlah
makhluk Allah dan janganlah memikirkan Dzat-Nya, karena kamu tidak akan dapat
menduga kekuasaan-Nya.
Memang Al-Quran telah menutup pintu pemikiran dalamn membicarakan hal
yang tak mungkin tercapai oleh akal dengan firmannya yang berbunyi: Tiada sesuatu
yang serupa dengan-Nya. (Surat Syura: 11) Dia pun telah menjelaskan bahwa
kekuatan akal itu terbatas dan bahwa Dia meliputi semua manusia, dalam firmanNya: Dia tahu segala yang ada dimuka dan dibelakang mereka sedang pengetahuan
mereka tak mungkin mendalaminya. (Surat Thaha: 110) Bagi orang mukmin
memadailah bila mereka memikirkan segala makhluk-Nya, guna membuktikan akan
ada-Nya, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.
Hikmah Beriman kepada Allah SWT
Apakah sama antara manusia yang beriman kepada Allah dan manusia yang
tidak beriman kepada Allah? Pertanyaan tersebut tentu bukan untuk dijawab. Sebab
sudah pasti berbeda antara keduanya. Sama seperti kita bertanya, apakah sama antara
orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Tentu berbeda.
Dengan beriman akan eksistensi Allah SWT, manusia akan lebih berhati-hati
dalam bertindak. Sebab ada Dzat yang selalu mengawasi gerak-geriknya setiap saat,
dan pada akhirnya nanti dia akan diminta pertanggung jawaban atas semua
perbuatannya selama di dunia.
Dengan beriman kepada mulkiyatullah (Allah sebagai satu-satunya pemimpin
dan pembuat aturan), manusia mengetahui secara pasti apa yang semestinya dia
kerjakan di muka bumi ini. Dengan kata lain dia tidak disibukkan dengan konsepkonsep hidup yang dibuat oleh sesama manusia yang mereka sendiri tidak yakin akan
kebenarannya.
Dan dengan berimanan kepada uluhiyatullah (Allah sebagai satu-satunya Dzat
yang berhak disembah dan menerima semua bentuk ibadah), manusia mempu
memandang bahwa seluruh makhluk yang lain adalah sederajat dengan dirinya.
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

53

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Sehingga dia mampu memposisikan dirinya sebagai hamba Allah yang tidak perlu
menghambakan diri kepada selain Allah.
4. Cara Berinteraksi Yang Baik dengan Allah
Ketika hendak makan kita memulai aktivitas itu dengan mengucapkan:
bismillah (dengan menyebut nama Allah)
Demikianlah tuntunan yang diberikan Rasulullah saw. Tuntunan ini
membimbing kita pada dua hal. Pertama, pengakuan bahwa makanan yang ada di
depan kita sesungguhnya adalah milik Allah SWT. Demikian pula tangan yang akan
mengantarkan makanan itu ke mulut kita juga milik Allah. Kedua, dengan basmalah
tersebut kita sedang memohon ijin kepada Allah untuk memanfaatkan semua fasilitas
tersebut.
Dan begitulah! Seluruh aktivitas selalu kita mulai dengan basmalah. Yang itu
berarti kita mengakui akan kepemilikan seluruh yang kita gunakan; makanan,
minuman, sarana transportasi, komunikasi, dan seterusnya sesungguhnya hanya ada
pada Allah SWT. Allah sebagai pemilik tunggal bagi seluruh isi alam semesta.
Adapun sifat kepemilikan manusia adalah nisbi, alias tidak mutlak. Maka apa
yang disebut sebagai miliknya hari ini, boleh jadi esok akan berpindah tangan pada
orang lain. Atau bahkan hilang tanpa dia ketahui kemana larinya hak miliknya itu.
Lebih rinci berikut kami sampaikan beberapa contoh adab berinteraksi yang
baik dengan Allah SWT4:
a. Bertakwa Secara Maksimal.



Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam. (QS. Ali Imran [3]: 102)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

54

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH




Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertakwa diantara kamu. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)


Sesungguhnya seutama-utama manusia denganku adalah orang-orang yang
bertakwa, siapa pun dan bagaimana pun keadaan mereka. (HR Ahmad)
b. Cinta dan Ridha



Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (QS. Al-Baqarah [2]: 165)






Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu
cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah [9]: 24)



Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Ali Imran [3]: 31)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

55

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Barangsiapa yang terdapat padanya tiga perkara, maka dia akan merasakan
kemanisan iman. Yang tiga perkara itu ialah: (1) mencintai Allah dan Rasul-Nya
melebihi cinta kepada yang lain-lain; (2) mencintai manusia karena cinta kepada
Allah semata-mata; (3) membenci kembali kepada kufur seperti kebenciannya bila
dilemparkan ke dalam api neraka. (HR Bukhari dan Muslim)
c. Ikhlas
Tiga unsur keikhlasan, yaitu pertama, niat yang ikhlas. Dua orang sedang
melangkahkan kaki menuju ke masjid. Tiba di masjid nampak keduanya juga samasama melaksanakan rukun shalat. Namun boleh jadi satu orang diantaranya diterima
ibadahnya dan seorang lagi ditolak. Orang pertama diterima ibadahnya karena niat
yang ikhlas semata karena menunaikan perintah Allah. Sementara orang kedua
ditolak ibadahnya karena ternyata dia menyertakan niat-niat yang lain, seperti supaya
dikatakan ahli ibadah, supaya disebut rajin shalat jamaah, atau niat-niat yang lain.
Pada masa Rasulullah peristiwa seperti itu juga pernah terjadi bahkan
kemudian diabadikan dan dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh generasi Islam
berikutnya. Peristiwa itu bermula ketika Rasulullah saw memerintahkan para sahabat
berhijrah ke Madinah, karena kondisi kota Mekah waktu itu sangat tidak kondusif
untuk kelangsungan dakwah. Dan tentu saja perintah tersebut bersifat wajib bagi
seluruh sahabat kecuali beberapa orang sahabat yang diperintahkan oleh Rasulullah
untuk sementara tetap tinggal di Mekah berkaitan dengan strategi yang beliau
rancang.
Nah, ternyata ada seorang sahabat yang sebenarnya dia enggan hijrah ke
Madinah. Tapi karena Ummu Qais calon istrinya- tidak mau dinikahi kecuali di
Madinah, akhirnya sahabat itu terpaksa turut berhijrah. Mengetahui kasus itu
Rasulullah memperingatkan kepada kaum muslimin untuk meluruskan niat mereka
kembali:





BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

56

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan sesungguhnya


setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah
pada jalan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ialah kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrah karena ingin memperoleh keduniaan, atau untuk
mengawini seorang wanita, maka hijrahnya ialah ke arah yang ditujunya itu."
(Muttafaq alaih)
Kedua, beramal dengan sebaik-baiknya. Niat ada dalam hati, sehingga orang
lain tidak ada yang tahu apakah niat kita ikhlas atau tidak. Bahkan diri kita seringkali
merasa telah beramal dengan ikhlas, tapi beberapa waktu kemudian kita mengerti
bahwa ternyata amal tersebut tidak ikhlas.
Di antara cara mendeteksi apakah amal kita sudah ikhlas yaitu dengan melihat
kualitas amal kita tersebut. Apakah kita telah beramal dengan kemampuan kita secara
maksimal? Atau kita beramal dengan setengah-setengah? Apakah kita akan beramal
secara maksimal karena ada imbalan dan sebaliknya, beramal dengan setengahsetengah karena tidak ada imbalan?
Rasulullah saw memberikan sebuah informasi: Sesungguhnya Allah SWT
menyukai, bila seseorang beramal, dia melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
(HR Baihaqi)
Allah SWT menyukai seseorang yang beramal dengan kemampuannya yang
terbaik, tidak peduli apakah akan memperoleh upah atau tidak. Sebab dia beramal
bukan untuk memperoleh upah dari sesama manusia, tapi dia beramal demi
memperoleh upah dari Allah SWT. Namun demikian bukan berarti dia tidak mau
menerima upah dari sesama manusia. Karena betapa banyak orang yang menerima
upah dengan harapan supaya dikatakan oleh orang lain bahwa dirinya telah beramal
dengan ikhlas. Dan tentu dengan begitu orang tersebut telah merugi dua kali. Tidak
memperoleh upah dari sesama manusia juga tidak memperoleh upah dari Allah SWT.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

57

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Ketiga, memanfaatkan hasil usaha dengan tepat. Seorang pelajar yang tekun
mengikuti perkuliahan dengan tertib, tidak pernah terlambat, tidak mengantuk di
kelas, serta dia melaksanakan semua itu karena semata dia sedang melaksanakan
perintah Allah SWT, maka pelajar tersebut telah memenuhi unsur pertama dan kedua
sifat ikhlas. Tapi apakah setelah lulus nanti dia hanya akan menggunakan ilmunya
untuk kepentingan dan target-target pribadi? Atau dia akan menggunakan ilmunya itu
untuk kemajuan dakwah Islam dan kepentingan masyarakat luas?
Dengan demikian keikhlasan bukan hanya menyangkut niat dan etos kerja, tapi
juga berkaitan dengan pemanfaatan hasil usaha dengan tepat.
d. Takut dan Harap (Khauf dan Raja)
Takut dan harap adalah sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh
setiap muslim. Ada dua sebab seseorang takut kepada Allah SWT, yaitu pertama,
takut karena dia mengenal Allah SWT. Semakin sempurna pengenalannya kepada
Allah SWT semakin bertambah takutnya.



Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
para ulama (orang-orang yang berilmu). (QS. Fathir [35]: 28)
Rasulullah saw bersabda:


Demi Allah, sesungguhnya aku orang yang paling mengenal Allah diantara mereka,
dan aku pulalah yang paling takut diantara mereka kepada-Nya. (Muttafaq alaih )
Kedua, takut karena dosa-dosa yang dilakukannya sehingga dia takut azab Allah
SWT. Ada dua dampak positif dari sikap takut kepada Allah SWT:
1. Membuat

seseorang

berani

menyatakan

kebenaran

dan

memberantas

kemungkaran secara tegas tanpa ada rasa takut kepada sesama makhluk yang
menghambatnya.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

58

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

2. Membuat seseorang sadar untuk tidak meneruskan kemaksiatan yang telah


dilakukannya dan menjauhkannya dari segala macam kefasikan dan hal-hal yang
diharamkan Allah SWT.
Namun apabila seseorang terlalu takut, dia akan dihinggapi penyakit pesimisme
dan putus asa. Sehingga dia malas belajar atau bekerja.
Selain sikap takut, seorang mukmin juga harus memiki sikap harap. Bila beribadah
dan beramal, dia amat berharap ibadah dan amalnya akan diterima dan memperoleh
balasan dari Allah SWT. Dan bila berbuat maksiat, kemudian menyadarinya, dia
segera minta ampun dan penuh harap bahwa Allah SWT akan mengampuninya. Bila
seseorang terlalu menggantungkan pada harapan-harapan yang melambung, sikap
tersebut akan membuatnya lupa diri.
Sikap terlalu takut hingga membuat seseorang merasa pesimis akan
kemurahan Allah SWT merupakan diantara sifat orang kafir.


Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.
(QS. Yusuf [12]: 87)
Adapun sikap harap yang berlebihan termasuk diantara ciri-ciri orang yang
merugi.


Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
(QS. Al-Araf [7]: 99)
e. Tawakal
Tawakal yaitu membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah
dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepada-Nya.



Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah
dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah
kepada-Nya. Dan sekali-sekali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
(QS. Hud [11]: 123)
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

59

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH


Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar
orang yang beriman. (QS. Al-Maidah [5]: 23)
Tawakal, Ikhtiar dan Ikhlas
Rasulullah saw bersabda:



Jika saja kamu sekalian bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati niscaya
Allah akan memberi rezeki untukmu sekalian, sebagaimana Ia memerinya kepada
burung; burung itu pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.
(HR Ahmad)
Ada orang yang salah paham makna hadits tersebut. Berdasarkan hadits itu
dia memahami bahwa Allah akan memberinya rezeki, meskipun dia tidur-tiduran di
rumah sepanjang hari. Namun bila kita teliti kembali hadits itu dan kita renungkan
lebih dalam, bukankah di sana disebutkan sebuah syarat burung itu harus pergi dari
sarangnya. Burung itu keluar dari sarang, berangkat pagi hari tepat ketika matahari
terbit, terbang kesana kemari, dan baru pulang ketika matahari hendak terbenam.
Dengan syarat itulah Allah membuat burung itu pergi dalam keadaan lapar dan
pulang dalam keadaan kenyang.
Seseorang yang bertawakal bukan berarti kemudian dia tidak berikhtiar. Justru
semakin besar tawakalnya, maka semakin giat ikhtiarnya. Dia berusaha dengan
sungguh-sungguh, berikhtiar dengan kemampuan maksimal. Kemudian dia
menyerahkan keputusan berhasil atau tidak dari usaha dan ikhtiarnya tersebut kepada
Allah SWT. Dengan pemahaman makna tawakal seperti itu berarti dia juga telah
memenuhi satu diantara syarat sifat ikhlas, yaitu beramal dengan sebaik-baiknya.
f. Syukur
Syukurnya seorang hamba mencakup atas tiga hal, yang apabila ketiganya tidak
berkumpul, maka tidaklah dinamakan bersyukur, yaitu:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

60

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Mengakui nikmat dalam batin.


Membicarakannya secara lahir.
Menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah.


Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku. (QS. alBaqarah [2]: 152)



Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim
[14]: 7)
g. Muraqabah
Muraqabah yaitu kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu berada dalam
pengawasan Allah SWT.


Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa [4]: 1)
Kesadaran itu lahir dari keimanan bahwa Allah SWT dengan sifat ilmu, bashar
dan sama-Nya mengetahui apa saja yang dia lakukan kapan dan dimana saja.
h. Taubat
Apabila seorang muslim melakukan kesalahan atau kemaksiatan dia wajib segera
bertaubat kepada Allah SWT. Yang dimaksud dengan kesalahan di sini adalah semua
perbuatan yang melanggar ketentuan syariat Islam, baik dalam bentuk meninggalkan
kewajiban atau melanggar larangan.


Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman
supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur [24]: 31)
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

61

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH




Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan-mu akan menghapus kesalahankesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir ei bawahnya
sungai-sungai. (QS. At-Tahrim [66]: 8)


Hai manusia, bertaubatlah dan minta ampunlah kamu kepada Allah, karena
sesungguhnya saya bertaubat seratus kali dalam sehari. (HR Muslim)
1. RANGKUMAN
Tidak ada seorang manusia pun yang meragukan eksistensi Allah SWT
kecuali manusia yang tidak mau menggunakan akalnya dengan baik. Dan manusia
seperti itu tidak ubahnya seperti binatang, atau lebih hina dari binatang. Dimana
sehari-hari dia hanya disibukkan dengan urusan makan, minum, tidur, kawin,
membangun tempat tinggal, dst.
Tapi iman kepada Allah tidak cukup dengan mempercayai keberadaan Allah
SWT. Iman kepada Allah berarti juga harus siap menerima hukum-hukum atau
aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya, dan mempersembahkan semua bentuk
ibadah hanya kepada Allah SWT.
C. PERTANYAAN

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

62

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

1. Dengan cara Anda sendiri, jelaskanlah eksistensi Allah SWT!


2. Sebutkan tiga unsur tauhid dalam Akidah Islam dan jelaskan konsekwensinya
dalam kehidupan sehari-hari!
3. Jelaskanlah hakekat beriman kepada Allah!
4. Terangkan hikmah beriman kepada Allah!
5. Terangkanlah cara berinterakasi yang baik dengan Allah SWT!
1. REFERENSI
Himpunan

Putusan

Majelis

Tarjih

Muhammadiyah,

Pimpinan

Pusat

Muhammadiyah.
Kuliah Akhlaq, Yunahar Ilyas, LPPI UMY, cet. IV, 2001 M.
Pemikiran Hasan al-Banna dalam Akidah dan Hadits, Jumah Amin Abdul Aziz,
Pustaka Al-Kautsar, cet. I, 2005 M.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

63

Pemikiran Hasan al-Banna dalam Akidah dan Hadits hal 76, Jumah Amin Abdul Aziz, Pustaka Al-Kautsar, cet. I, 2005
M.

Sda

Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kitab Iman.

Kuliah Akhlaq hal 17-64, Yunahar Ilyas, LPPI UMY, cet. IV, 2001 M.