Anda di halaman 1dari 11

ILUSTRASI KASUS

I.

Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Agama
Alamat
Tanggal masuk
Jam masuk

:
:
:
:
:
:
:

Tn. R
31 tahun 3 bulan
Laki- Laki
Karyawan
Islam
Kp. Tegal Sumur RT 08/ RW 05 Sukabungu
02 Januari 2014

08.00 WIB

Evaluasi Pra Anestesi


a. Anamnesis (autoanamnesis)
Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan luka robek sedalam 3x2x2 cm di lengan
kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dtang dengan keluhan luka robek di lengan kanan pasien yang
terjadi akibat kecelakaan kerja.Pasien
Riwayat Penyakit Dahulu
tifoid
ispa
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan seperti yang dialami
pasien. Riwayat darah tinggi (-), Riwayat kencing manis (-)
Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat maupun makanan.
Riwayat Obat-obatan
Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan, Riwayat alergi terhadap obat
disangkal.

Riwayat Operasi
b. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Pasien tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda Vital
:
Tekanan Darah : 110/80
Nadi
: 98x/menit
Suhu
: 36,5C
Pernafasan
: 24x/menit
BB
: 65kg
Masukan Oral
Kepala

: Pasien dipuasakan
: Normocephali, rambut berwarna hitam tersebar merata,
Deformitas (-)

Mata

: Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),


Pupil bulat isokhor (+/+)
Refleks cahaya langsung dan tak langsung (+/+)

Hidung

: Deformitas (-), lapang, konka eutrofi, sumbatan nafas (-)

deviasi septum (-)


Telinga

: Normotia, serumen (-), sekret (-), darah (-), MT intak (+/+)


Mulut

Tenggorokan

: Trismus (-)
: Uvula ditengah, Faring tidak hiperemis, Tonsil T1/T1 tidak
Hiperemis, detritus (-) kripta tidak melebar,
Sumbatan nafas (-)

Leher

: Kaku (-), Benjolan (-), KGB membesar (-)

Thorax

: Paru : sonor (+/+), vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung : BJ1&2 reguler, murmur (-), gallop (-)


Abdomen :
- Inspeksi : lapangan paru tamapk normal, tidak terdapat luka
jahitan atau tanda-tanda radang ( tanda- tanda infeksi (-)
- Auskultasi: bising usus (+) dalam batas normal
- Palpasi : nyeri tekan (-)
- Perkusi

: timpani

Ekstremitas : atas : Kanan : terdapat luka robek di lengan kanan


Kiri

: tidak tampak kelainan maupun tanda-tanda radang

Bawah: kanan : tidak tampak kelainan maupun tanda-tanda radang


Kiri : tidak tampak kelainan maupun tanda-tanda radang.

II.

Pengertian ruptur tendon


Robek, pecah atau terputusnya tendon. Tendon merupakan jaringan
fibrosa yang menghubungkan otot dengan tulang
Penyebab
1.

Penyakit tertentu, seperti arthritis dan diabetes

2.

Obat-obatan, seperti kortikosteroid dan beberapa antibiotik yang dapat

meningkatkan risiko pecah

3.

Cedera dalam olah raga, seperti melompat dan berputar pada olah raga

badminton, tenis, basket dan sepak bola


4.

Trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis

Tanda dan Gejala


1.

Rasa sakit mendadak dan berat dapat dirasakan di bagian belakang

2.
3.

pergelangan kaki atau betis.


Terlihat bengkak dan kaku serta tampak memar dan kelemahan.
Sebuah kesenjangan atau depresi dapat dilihat di tendon sekitar 2

4.

cm di atas tulang tumit.


Tumit tidak dapat digerakan turun atau naik.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pergerakan otot dan tumit, jika pergerakan tersebut lemah atau tidak
ada maka dicurigai cedera tendon Achilles
2. Pemeriksaan dengan sinar-X

Pengobatan
Tujuan pengobatan adalah untuk mengembalikan ke keadaan normal dan
memungkinkan pasien untuk melakukan apa yang dapat dilakukan sebelum cedera.
Tindakan pembedahan dapat dilakukan, dimana ujung tendon yang terputus
disambungkan kembali dengan teknik penjahitan. Tindakan pembedahan dianggap

paling efektif dalam penatalaksanaan tendon yang terputus.


Tindakan non pembedahan dengan orthotics atau theraphi fisik. Tindakan tersebut
biasanya dilakukan untuk non atlit karena penyembuhanya lama atau pasienya
menolak untuk dilakukan tindakan operasi.,

III.

Pembahasan

Ruptur tendon pada kasus yang didapat merupakan rupture tendon ante brachii
dekstra. Hal ini terjadi Karena pasien mengalami kecelakaan saat bekerja. Paisn
datang ke igd rs bayuakarta utnuk dilakukan tindakan. Pada rupture tendon yang
dilakukan adalah merepair kembali tendon tersebut. Proses perbaikan rupture
tendon dilakukan oleh dokter bedah. Sebelum memulai proses penajhitan mak
penting diketahui , segala sesuatu tidak dapat berjalan tanpa adanya anestesi.
Anestesi yang biasa digunakan adalah anestesi umum.
Anestesi pada pembedahan rawat jalan.
Meskipun ada istilah bedah minor atau bedah kecil dan bedah sedang tetapi tak ada
istilah anesthesia kecil atau sedang. Anestesia pada bedah rawat jalan( day-care
anesthesia, ambulatory anesthesia, one-day care anesthesia, outpatient anesthesia)

harus diusahakan agar supaya pasien cepat sadar, bebas dari nyeri, tidak mual dan
muntah, cepat mobilisasi dan pasien sendiri atau keluarganya merasa aman.
Penjadwalan anesthesia untu pasien bedah rawat jalan idelanya sudah ditentukan
beberapa hari sebelumnya, sehingga ada kesempatan kalau diperlukan atambahan
pemeriksaan laboratorium atau konsultasi, karna baisanya anestetis hanya punya
waktu terbatas bertemu dengan pasien.
Keuntungan anesthesia pada bedah rawat jalan
1. Pasien dapat memilih hari dan jam yang sesuai, terutama untuk anak dan
manula
2. Tidak usah menunggu ada kamar kosong di rumah sakit
3. Insiden infeksi rendah
Pada dasarnya pasien harus sehat dan fit dengan keadaan fisik pasien
sebaikanya ASA-1 atau ASA-2 . kalu ada penyakit sistemik yang kronis misalnya
hipertensi atau diabetes, maka seharusnya sudah terkendali dana diramalkan tak
akan menambah berta penyakit tersebut (ASA-3). Keadaan fisiologis pasien lebih
penting dibandingkan usia pasien, tetapi biasanya dianjurkan usia diatas 6 tahun
dan dibawah 70tahun. Pasien gemuk atau penyakitnya tak terkendali engan abik
terutama penyakit paru , jantung dianjurkan tidak dijadwalkan.
Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan khusus lainnya
sperti pemeriksaan radiologis dan sebagainya, kecuali atas indikasi. Pemeriksaan
kadar Hb atau Ht dan urinalisis masih kontroversial. Sebagian besar setuju tidak
diperlukan, karena menambah biaya.
Pembedahan yang sering dijadwalkan adalah bedah minor dan berlangsung
kurang adari 60 menit misalny acabut gigi, biopsy, atau ekstirpasi tumor
dipermukaan kulit , dilatasi-kuretase, histeroskopi, eksisi kista bartolini,

herniotomi, sirkumsisi, vasektomi, ekstraksi katarak, miringotomi, adenoiktomi,


bronskoskopi dan bedah minor lainnya.
Persiapan pada pasien tetpa dilakukan puasa 3 jam sebelum anestesi
diperkenankan minum cairan bening sperti the manis atau jus buah encer, setelah
pasien pulang harus bisa dihubungi dan ia tidak diperbolehkan mengendarai mobil
sendiri dalam 24-48 jam. Anesthesia umum lebih digemari , karena anesthesia
regional spinal, epidural beresiko terjadinya hipotensi ortostatik, blokade motorik
atau sensorik yang berkepanjangan , retensio urin dan nyeri kepala pasca
anesthesia.
Premedikasi
Biasanya tidak diperlukan premdeikasi. Untuk menenangkan pasien
dicriakan hal-hal yang baik-baik saja. Kalaupun diperlukan hanya diberikan:
1. Analgetika golongan AINS , misalnya ketorolac 10-30 mg
2. Obat anti mual muntah, misalnya simetidin 300mg oral 1 hari menelang
operasi atau iv beberapa saat sebelum induksi anesthesia, ondansentron 4mg
iv, metklopramid 10mg.
3. Opioid kerja singkat misalnya fentanyl 1-2 ug/kg

Induksi dan rumatan anestesia


Induksi propofol 2-2.5 mg/ KgBB iv lebih digemari dibandingkan thiopental 37mg/ KgBB iv dengan alasan propofol efek sampingnya minimal dan pulih
sadarnya cepat. Nyeri pada suntikan propofol iv dapat dikurangi atau dihilangkan
dengan memberikan lidokain 10-20 mg iv sebelumnya. Pada bayi dan anak induksi
pilihan ialah halotan atau sevofluran. Rumatan dapat meggunakan inhalasi halotan,

enfluran, isofluran, desfluran, atau sevofluran. Rumatan anesthesia intravena hanya


digunakan propofol 4-12 mg/KgBB/jam dengan bantuan opioid fentanyl 1ug/Kg
Tatalaksana jalan nafas
Penggunaan sungkup laring makin sering dilakukan mengingat
pemasangannya tidak memerlukan pelumpuh otot asalkan puasa pasien cukup
waktunya. Penggunaan pelumpuh otot, kalaupun diperlukan pilihan jatuh pada
golongan nondepol kerja singkat misalnya mivakurium atau rokuronium . dengan
adanya sungkup laring maka penggunaan pelumpuh otot dan pipa trakea kian
berkurang. Pada penggunaan pelumpuh otot, usahakan pada khir operasi tanpa
menggunakan penawaar neostigmin yang kadang-kadang menyebabkan nyeri otot.
Pulih anesthesia
Nyeri pasca bedah
Mencegah timbulnya nyeri pasca bedah baik sewaktu masih di rumah sakit ataupun
sudah ada di rumah pasien diperlukan pendekatan multifaktorial, misalnya sat
pembedahan dengan anesthesia umum dikombinasikan dengan anestetik lokal
kerja panjang menggunakan opiod kuat dan pasca bedah menggunakan analgetik
kuat nonopioid.
Mual muntah pasca bedah
Pencegahan mual muntah pasca bedah sangat penting , karena sering terjadi pasca
bedah. Penggunaan propofol, opioid kuat kerja pendek disusul analgetik anti
inflamasi non-steroid menjadi rutin dan sangat popular, di samping penggunaan
anti emetic droperidol, metoklopramid, ondansentron atau granisetron

Sumber:
1. Vlymen Jm, White PF. Outpatirnt Anesthesia. In: Miller RD. Anesthesia.5rd
ed Churchill Livingstone Philadelphia.2000;2213-40.
2. Latif A.Said dkk. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi kedua. Jakarta.2000;
121-123
3. Richard A.jaffe, Stanle I. Samuels, Clifford A. Schmiesing, and Golianu.B.
Anesthesiologists Manual of surgical Procedures. 4th ed wolters kluwer
Washington.2009.

General Anestesi Pada Pasien One Day Care

Oleh:
Erwin Tanady
112013006