Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Perawat merupakan aspek penting dalam pembangunan kesehatan.
Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang diatur dalam PP No. 32
Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. Bahkan dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan, tenaga perawat merupakan jenis tenaga kesehatan
terbesar yang dalam kesehariannya selalu berhubungan langsung dengan
pasien dan tenaga kesehatan lainnya.
Perawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga
dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan
menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan
menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat
dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body
of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat
diimplementasikan kepada masyarakat langsung.
Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk
implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik
kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan
kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan
serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan
berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi.
Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung
berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat
interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik
disengaja

maupun

tidak

disengaja,

kondisi

demikian

inilah

sering

menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek


keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar
profesi dan aturan lainnya yang didasari

oleh ilmu pengetahuan yang

dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya


standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang
perawat melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek
keperawatan lainnya.
Kelalaian (Negligence) adalah salah satu bentuk pelanggaran praktek
keperawatan,

dimana

perawat melakukan

kegiatan prakteknya

yang

seharusnya mereka lakukan pada tingkatannya, lalai atau tidak mereka


lakukan. Kelalaian ini berbeda dengan malpraktek, malpraktek merupakan
pelanggaran dari perawat yang melakukan kegiatan yang tidak seharusnya
mereka lakukan pada tingkatanya tetapi mereka lakukan.
Kelalaian dapat disebut sebagai bentuk pelanggaran etik ataupun bentuk
pelanggaran hukum, tergantung bagaimana masalah kelalaian itu dapat timbul,
maka yang penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah kelalaian ini
dengan memperhatikan dari berbagai sudut pandang, baik etik, hukum,
manusianya baik yang memberikan layanan maupun penerima layanan.
Peningkatan

kualitas

praktek

keperawatan,

adanya

standar

praktek

keperawatan dan juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia


keperawatan adalah hal penting.
Dengan berbagai latar belakang diatas maka kelompok membahas
beberapa hal yang berkaitan dengan kelalaian, baik ditinjau dari hukum dan
etik keperawatan, disamping itu juga kelompok membahas bagaimana dampak
dan bagaimana mencegah serta melindungi klien dari kelalaian praktek
keperawatan.
B.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini, secara umum adalah mahasiswa dapat
memahami kelalaian dalam bidang keperawatan dilihat dari dimensi etik dan
dimensi hukum. Dan secara khusus mahasiswa dapat menjelaskan tentang
pengertian, kriteria dan unsur-unsur terjadinya kelalaian, disamping itu juga
dapat menjelaskan dampak yang terjadi dengan adanya kelalaian serta
bagaimana mencegah terjadinya kelalaian dalam praktek keperawatan.

C.

Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini dengan membuat kasus yang sering terjadi
di ruang rawat keperawatan

dan membahasnya, kemudian kelompok

mendiskusikannya dengan menganalisa sebuah studi kasus kemudian


menghubungkannya dengan aspek legal etik keperawatan..
D.

Sistematika Penulisan
Penulisan makalah kelompok ini terdiri dari empat bab, yang terdiri dari:
Bab I, pendahuluan ; yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan,
metode penulisan dan sistematika penulisan, Bab II, tinjauan teoritis yang
terdiri dari ; Definisi kelalaian, Jenis-jenis kelalaian, Liabilitas dalam
keperawatan, Dasar hukum perundangan-undangan keperawatan, Tanggung
jawab profesi perawat, Beberapa bentuk kelalaian dalam keperawatan,
Dampak kelalaian, Definisi patient safety, Tujuan patient safety, Langkahlangkah pelaksanaan patient safety, Aspek hukum terhadap patient safety,
Manajemen patient safety, Sistem pencatatan dan pelaporan paient safety,
Monitoring dan evaluasi patient safety Bab III Pembahasan, di bab ini akan
dibahas kasus tentang pasien jatuh akibat kelalaian petugas kesehatan dan
tingkat kelengkapan dan keamanan fasilitas sarana pasien, serta mencoba
untuk menganalisa dari kasus tersebut berkaitan dengan prinsip legal etis
dalam keperawatan. Bab IV merupakan penutup, terdiri dari kesimpulan dan
saran.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.

Beberapa Definisi
1.

Hukum dalam keperawatan


Hukum adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah
hukum, sedangkan etika adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidahkaidah non hukum, yaitu kaidah-kaidah tingkah laku (etika) (Supriadi,
2007).
Banyak sekali definisi-definisi yang berkaitan dengan hukum,
tetapi yang penting adalah hukum itu sifatnya rasionalogic, sedangkan
tentang hukum dalam keperawatan adalah kumpulan peraturan yang berisi
kaidah-kaidah

hukum

keperawatan

yang

rasionalogic

dan

dapat

dipertanggung jawabkan.
Fungsi hukum dalam keperawatan, sebagai berikut:
a. Memberi kerangka kerja untuk menetapkan kegiatan praktek
perawatan apa yang legal dalam merawat pasien.
b. Membedakan tanggung jawab perawat dari profesi kesehatan lain
c. Membantu menetapkan batasan yang independen tentang kegiatan
keperawatan
d. Membantu mempertahankan standar praktek keperawatan dengan
membuat perawat akontabilitas dibawah hukum yang berlaku.
2.

Kelalaian (Negligence)
Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian termasuk
dalam arti malpraktik, artinya bahwa dalam malpraktek tidak selalu ada
unsur kelalaian.
Kelalaian adalah segala tindakan yang dilakukan dan dapat
melanggar standar sehingga mengakibatkan cidera/kerugian orang lain
(Sampurno, 2005).

Dapat disimpulkan bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu


yang harusnya dilakukan pada tingkatan keilmuannya tetapi tidak
dilakukan atau melakukan tindakan dibawah standar yang telah ditentukan.
Kelalaian

praktek

keperawatan

adalah

seorang

perawat

tidak

mempergunakan tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan keperawatan


yang lazim dipergunakan dalam merawat pasien atau orang yang terluka
menurut ukuran di lingkungan yang sama.
B.

Jenis-jenis kelalaian
Bentuk-bentuk dari kelalaian menurut sampurno (2005), sebagai berikut:
1. Malfeasance : yaitu melakukan tindakan yang menlanggar hukum atau
tidak tepat/layak, misal: melakukan tindakan keperawatan tanpa indikasi
yang memadai/tepat
2. Misfeasance : yaitu melakukan pilihan tindakan keperawatan yang tepat
tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat
Misal: melakukan tindakan keperawatan dengan menyalahi prosedur
3. Nonfeasance : Adalah tidak melakukan tindakan keperawatan yang
merupakan kewajibannya.
Misal: Pasien seharusnya dipasang pengaman tempat tidur tapi tidak
dilakukan.
Sampurno (2005), menyampaikan bahwa suatu perbuatan atau sikap
tenaga kesehatan dianggap lalai, bila memenuhi empat (4) unsur, yaitu:
1. Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan atau
untuk tidak melakukan tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada
situasi dan kondisi tertentu.
2. Dereliction of the duty atau penyimpanagan kewajiban
3. Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien
sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh
pemberi pelayanan.
4. Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata, dalam
hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan

kewajiban dengan kerugian yang setidaknya menurunkan Proximate


cause
C.

Liabilitas dalam praktek keperawatan


Liabilitas adalah tanggungan yang dimiliki oleh seseorang terhadap setiap
tindakan atau kegagalan melakukan tindakan. Perawat profesional, seperti
halnya tenaga kesehatan lain mempunyai tanggung jawab terhadap setiap
bahaya yang timbulkan dari kesalahan tindakannya. Tanggungan yang
dibebankan perawat dapat berasal dari kesalahan yang dilakukan oleh perawat
baik berupa tindakan kriminal kecerobohan dan kelalaian.
Seperti telah didefinisikan diatas bahwa kelalaian merupakan kegagalan
melakukan sesuatu yang oleh orang lain dengan klasifikasi yang sama,
seharusnya dapat dilakukan dalam situasi yang sama, hal ini merupakan
masalah hukum yang paling lazim terjadi dalam keperawatan. Terjadi akibat
kegagalan menerapkan pengetahuan dalam praktek antara lain disebabkan
kurang pengetahuan. Dan dampak kelalaian ini dapat merugikan pasien.
Sedangkan akuntabilitas adalah konsep yang sangat penting dalam praktik
keperawatan.

D.

Dasar hukum perundang-undangan praktek keperawatan.


Beberapa perundang-undangan yang melindungi

bagi pelaku dan

penerima praktek keperawatan yang ada di Indonesia, adalah sebagai berikut:


1.

Undang undang No.38 tahun 2014 registrasi,, izin praktik, dan


registrasi ulang pada bagian kedua pasal 18, pasal 19, pasal 20, pasal 21,
pasal 24, pasal 25, dan pasal 27.

2.

Undang

undang

No.38

tahun

2014

tentang

praktik

keperawatanbbagian kesatu pasal 28 umum, bagian kedua pasal 29, pasal


30, pasal 31, pasal 32, pasal 33, pasal 35.
3.

Undang-undang No.38 tahun 2014 tentang hak dan kewajiban


bagian kesatu hak dan kewajiban perawat pasal 36, pasal 37. Bagian kedua
hak dan kewajiban klien pasal 38, pasal 40.

4.

Undang- undang No.38 tahun 2014 tentang Sanksi Administratif


pasal 58,.

5.

Undang-undang No.38 tahun 2014 tentang ketentuan peralihan


pasal 59.
Perlindungan hukum baik bagi pelaku dan penerima praktek keperawatan

memiliki

akuntabilitas

terhadap

keputusan

dan

tindakannya.

Dalam

menjalankan tugas sehari-hari tidak menutup kemungkinan perawat berbuat


kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja. Oleh karena itu dalam
menjalankan prakteknya secara hukum perawat harus memperhatikan baik
aspek moral atau etik keperawatan dan juga aspek hukum yang berlaku di
Indonesia.
E.

Tanggung jawab profesi perawat


Perawat adalah salah satu pekerjaan yang memiliki ciri atau sifat yang
sesuai dengan ciri-ciri profesi. Saat ini Indonesia sudah memiliki pendidikan
profesi keperawatan yang sesuai dengan undang-undang sisdiknas, yaitu
pendidikan keprofesian yang diberikan pada orang yang telah memiliki
jenjang S1 di bidang keperawatan, bahkan sudah ada pendidikan spesialis
keperawatan. Organisasi profesi keperawatan telah memiliki standar profesi
walaupun secara luas sosialisasi masih berjalan lamban. Profesi perawat telah
juga memiliki aturan tentang kewenangan profesi, yang memiliki dua aspek,
yaitu kewenangan material dan kewenangan formil. Kewenagan material
diperoleh sejak seseorang memperoleh kompetensi dan kemudian terregistrasi, yang disebut sebagai Surat ijin perawat (SIP) dalam kepmenkes
1239. sedangkan kewenangan formil adalah ijin yang memberikan
kewenangan kepada perawat (penerimanya) untuk melakukan praktek profesi
perawat, yaitu Surat Ijin Kerja (SIK) bila bekerja didalam suatu institusi dan
Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan atau
kelompok. (Kepmenkes 1239, 2001).
Kewenangan profesi haruslah berkaitan dengan kompetensi profesi, tidak
boleh keluar dari kompetensi profesi. Kewenangan perawat melakukan

tindakan diluar kewenangan sebagaimana disebutkan dalam pasal 20


Kepmenkes 1239 adalah bagian dari good samaritan law yang memang diakui
diseluruh dunia. Otonomi kerja perawat dimanifestasikan ke dalam adanya
organisasi profesi, etika profesi dan standar pelayanan profesi. Oragnisasi
profesi atau representatif dari masyrakat profesi harus mampu melaksanakan
self-regulating,

self-goverming

dan

self-disciplining,

dalam

rangka

memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa perawat berpraktek adalah


perawat yang telah kmpeten dan memenuhi standar.
Etika profesi dibuat oleh organisasi profesi/masyrakat profesi, untuk
mengatur sikap dan tingkah laku para anggotanya, terutama berkaitan dengan
moralitas. Etika profesi perawat mendasarkan ketentuan-ketentuan didalamnya
kepada etika umum dan sifat-sifat khusus moralitas profesi perawat, seperti
autonomy, beneficence, nonmalefience, justice, truth telling, privacy,
confidentiality,

loyality,

dan

lalin-lain.

Etika

profesi

bertujuan

mempertahankan keluhuran profesi umumnya dituliskan dalam bentuk kode


etik dan pelaksanaannya diawasi oleh sebuah majelis atau dewan kehormatan
etik.
Sedangkan standar pelayanan Kepmenkes 1239 disebut sebagai standar
profesi, dan diartikan sebagai pedoman yang harus dipergunakan sebagai
petunjuk dalam menjalanankan profesi secara baik dan benar.
Tanggung jawab hukum pidana profesi perawat jelas merupakan tanggung
jawab perorangan atas perbuatan pelanggaran hukum pidana yang
dilakukannya. Jenis pidana yang mungkin dituntutkan kepada perawat adalah
pidana kelalaian yang mengakibatkan luka (pasal 360 KUHP), atau luka berat
atau mati (pasal 359 KUHP), yang dikualifikasikan dengan pemberatan
ancaman pidananya bila dilakukan dalam rangka melakukan pekerjaannya
(pasal 361 KUHP). Sedangkan pidana lain yang bukan kelalaian yang
mungkin dituntutkan adalah pembuatan keterangan palsu (pasal 267-268
KUHP).
Didalam setting Rumah Sakit, pidana kelalaian yang dapat dituntutkan
kepada profesi perawat dapat berupa kelalaian dalam melakukan asuhan

keperawatan maupun kelalaian dalam melakukan tindakan medis sebagai


pelaksana delegasi tindakan medis. Kelalaian dapat berupa kelalaian dalam
mencegah kecelakaan di Rumah Sakit (jatuh), kelalaian dalam mencegah
terjadinya decubitus atau pencegahan infeksi, kelalaian dalam melakukan
pemantauan keadaan pasien, kelalaian dalam merespon suatu kedaruratan, dan
bentuk kelalaian lainnya yang juga dapat terjadi pada pelayanan profesi
perorangan.
F.

Beberapa bentuk Kelalaian dalam Keperawatan.


Pelayanan kesehatan saat ini menunjukkan kemajuan yang cepat, baik dari
segi pengetahuan maupun teknologi, termasuk bagaimana penatalaksanaan
medis dan tindakan keperawatan yang bervariasi. Sejalan dengan kemajuan
tersebut kejadian malpraktik dan juga adanya kelalaian juga terus meningkat
sebagai akibat kompleksitas dari bentuk pelayanan kesehatan khususnya
keperawatan yang diberikan dengan standar keperawatan. Beberapa situasi
yang berpotensial menimbulkan tindakan kelalaian dalam keperawatan
diantaranya yaitu :
1. Kesalahan pemberian obat: Bentuk kelalaian yang sering terjadi. Hal ini
dikarenakan begitu banyaknya jumlah obat yang beredar metode
pemberian yang bervariasi. Kelalaian yang sering terjadi, diantaranya
kegagalan membaca label obat, kesalahan menghitung dosis obat, obat
diberikan kepada pasien yang tiak teoat, kesalahan mempersiapkan
konsentrasi, atau kesalahan rute pemberian. Beberapa kesalahan tersebut
akan menimbulkan akibat yang fatal, bahkan menimbulkan kematian.
2. Mengabaikan Keluhan Pasien: termasuk perawat dalam melalaikan dalan
melakukan observasi dan memberi tindakan secara tepat. Kesalahan
Mengidentifikasi Masalah Klien: Kelalaian di ruang operasi: Sering
ditemukan kasus adanya benda atau alat kesehatan yang tertinggal di tubuh
pasien saat operasi. Kelalaian ini juga kelalaian perawat, dimana peran
perawat di kamar operasi harusnya mampu mengoservasi jalannya operasi,
kerjasama yang baik dan terkontrol dapat menghindarkan kelalaian ini.

3. Timbulnya Kasus Decubitus selama dalam perawatan: Kondisi ini muncul


karena kelalaian perawat, kondisi ini sering muncul karena asuhan
keperawatan yang dijalankan oleh perawat tidak dijalankan dengan baik
dan juga pengetahuan perawat terdahap asuhan keperawatan tidak optimal.
4. Kelalaian terhadap keamanan dan keselamatan Pasien: Contoh yang sering
ditemukan adalah kejadian pasien jatuh yang sesungguhnya dapat dicegah
jika perawat memperhatikan keamanan tempat tidur pasien. Beberapa
rumah sakit memiliki aturan tertentu mengenai penggunaan alat-alat untuk
mencegah hal ini.
G.

Dampak Kelalaian
Kelalaian yang dilakukan oleh perawat akan memberikan dampak yang
luas, tidak saja kepada pasien dan keluarganya, juga kepada pihak Rumah
Sakit, Individu perawat pelaku kelalaian dan terhadap profesi. Selain gugatan
pidana, juga dapat berupa gugatan perdata dalam bentuk ganti rugi.
(Sampurna, 2005).
Dari segi hukum pelanggaran ini dapat ditujukan bagi pelaku baik secara
individu dan profesi dan juga institusi penyelenggara pelayanan praktek
keperawatan, dan bila ini terjadi kelalaian dapat digolongan perbuatan pidana
dan perdata (pasal 339, 360 dan 361 KUHP).

H.

Definisi Patient Safety


Patient safety atau keselamatan pasien adalah suastu sistem yang membuat
asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

I.

Tujuan Patient Safety


Tujuan patient safety adalah, terciptanya budaya keselamatan pasien di
rumah sakit., meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat, menurunnya kejadian tidak diharapkan, terlaksananya program-

10

program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak


diharapkan.
J. Langkah-langkah Pelaksanaan Patient Safety
Adapun pelaksanaan patient safety meliputi beberapa hal yaitu :
1) Sembilan solusi keselamatan pasien di rumah sakit (WHO Collaborating
Centre For Patient Safety, 2 May 2007) :
a) Perhatikan nama obat, rupa, dan ucapan mirip (Look-alike, soundalike medication names).
b) Identifikasi pasien.
c) Komunikasi secara benar saat serah terima pasien.
d) Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar.
e) Kendalikan cairan elektrolit pekat.
f) Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan.
g) Hindari salah kateter dan salah sambung selang.
h) Gunakan alat injeksi sekali pakai.
i) Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.
2) Tujuh Standar keselamatan pasien, yaitu :
a) Hak pasien
Standarnya adalah pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk
mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk
kemungkinan terjadinya kejadia tidak diharapkan. Dengan kriteria ;
harus ada dokter penanggung jawab pelayanan, dokter penanggung
jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan benar
kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan,
pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya kejadan tidak diharapkan.
b) Mendidik pasien dan keluarga
Standarnya adalah rumah sakit harus mendidik pasien dan
keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam
asuhan pasien. Dengan kriteria ; keselamatan dalam pemberian
pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien adalah
partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di rumah sakit harus ada
sistem dan mekanisme dalam mendidik pasien dan keluarganya
tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
c) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Standarnya adalah rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan
dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antaar unit pelayanan.

11

Dengan kriteria ; koordinasi pelayanan secara menyeluruh, koordinasi


pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya,
koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi, komunikasi
dan transfer informasi antar profesi kesehatan.
d) Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
Standarnya adalah rumah sakit harus mendesain proses baru atau
memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja
melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif kejadian tidak
diharapkan dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja
serta keselamatan pasien. Dengan kriteria ; setiap rumah sakit harus
melakukan proses perancangan (desain) yang baik, sesuai dengan
tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit, setiap rumah
sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja, setiap rumah sakit
harus melakukan evaluasi intensif, setiap rumah sakit harus
menggunakan semua data dan informasi hasil analisis, peran
kepemimpinan dalam meningkatakan keselamatan pasien.
e) Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
Standarnya adalah pimpinan dorong dan jamin implementasi program
keselamatan pasien melalui penerapan 7 langkah menuju keselamatan
pasien rumah sakit. Dengan kriteria ; terdapat tim antar disiplin untuk
mengelola program keselamatan pasien, tersedia program proaktif
untuk identifikasi resiko keselamatan dan program meminimalkan
insiden, tersedianya mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua
komponennm dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi.
f) Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Standarnya adalah rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan
dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan
dengan keselamatan pasien secara jelas. Dengan kriteria ; memiliki
program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik
keselamatan pasien, mengintegrasikan topik keselamatan pasien
dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang

12

jelas tentang pelaporan insiden, menyelenggarakan pelatihan tentang


kerja sama kelompok (teamwork) , guna mendukung pendekatan
interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.
g) Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien
Standarnya adalah rumah sakit merencanakan dan mendesain proses
manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan
informasi internal dan eksternal, transmisi data dan informasi harus
tepat waktu dan akurat. Dengan kriteria ; disediakan anggaran untuk
merancanakan dan mendesin proses manajemen untuk memperoleh
data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien,
tersdia mekanisme identifiksi maslaha dan kendala komunikasi untuk
merevisi manajemen informasi yang ada.
3) Tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit (berdasarkan
KKP-RS No.001-VIII-2005) sebagai panduan bagi staf rumah sakit
a) Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien ciptakan
kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.
b) Pimpin dan dukung staf anda, bangunlah komitmen dan focus yang
kuat dan jelas tentng KP di rumah sakit anda.
c) Integrasikan aktivits pengelolaan resioko, kembangkan sistem dan
proses pengelolaan resiko, serta lakukan identifikasi dan assesment
hal yang potensial bermasalah.
d) Kembangkan sistem pelaporan, pastikan staf anda agar dengan
mudah dapat melaporkan kejadian/insiden serta rumah sakit mengatur
pelaporan kepada KKP-RS.
e) Libatkan dan bekomunikasi dengan pasien, kembangkan xara-cara
komunikasi yang terbuka dengan pasien.
f) Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien, dorong
staff anda untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar
bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul.
g) Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien,
gunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk
melakukan perubahan pada sistem pelayanan.
4) Langkah-langkah Kegiatan Pelaksanaan Patient Safety

13

a) Rumah sakit agar membentuk tim keselamatan pasien rumah sakit,


dengan susunan organisasi.
b) Rumah sakit agar melakukan pelaporan insiden ke Komite
Keselamatan Pasien Rumah sakit (KKPRS) secara rahasia.
c) Rumah sakit agar mengembangkan sistem informasi pencatatan dan
pelaporan internal tentang insiden.
d) Rumah sakit agar memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit
dan menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah
sakit.
e) Rumah sakit pendidikan mengembangkan standar pelayanan medis
berdasarkan hasil dari analisis akar masalah dan sebagai tempat
pelatihan standar-standar yang baru dikembangkan.
f) Di provinsi/kabupaten/kota melakukan advokasi program keselamatan
pasien ke rumah sakit di wilayahnya.
g) Melakukan advokasi ke pemerintah daerah agar tersedianya dukungan
anggaran terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit.
h) Melakukan pembinaan pelaksanaan program keselamatan pasien
rumah sakit.
i) Di pusat membentuk komite keselamatan pasien rumah sakit di bawah
perhimpunan rumah sakit seluruh Indonesia.
j) Menyusun panduan nasional tentang keselamatan pasien rumah sakit.
k) Melakukan soisalisasi dan advokasi program keselamatan pasien ke
Dinas

Kesehatan

Proovinsi/Kabupaten/Kota,

dan rumah sakit

pendidikan dengan jejaring pendidikan.


l) Mengembangkan laboratorium uji coba program keselmatan pasien.
Selain itu, menurut Hasting G, 2006, ada delapan langkah yang bisa
dilakukan untuk mengembangkan budaya patient safety ini, yaitu :
1. Put the focus back on safety
Setiap staf yang bekerja di RS pasti ingin memberikan yang
terbaik dan teraman untuk pasien. Tetapi supaya keselamatan
pasien ini bisa dikembangkan dan semua staf merasa menapatkan
dukungan, patient safety ini harus menjadi prioritas strategis dari
rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya.
2. Think small and make the right thing easy to do
Memberikan pelayanan kesehatan yang amana bagi pasien
mungkin membutuhkan langkah-langkah yang agak kompleks.

14

Tetapi dengan mencegah kompleksitas ini dan mebuat langkahlangkah yang lebih mudah mungkin akan memberikan peningkatan
yang lebih nyata.
3. Encourage open reporting
Belajar dari pengalaman, meskipun itu sesuatu yang salah
adalah pengalaman yang berharga. Koordinator patient safety dan
manajer rumah sakit harus membuat budaya yang mendorong
pelaporan. Mencatat tindakan-tindakan yang membahayakan
pasien sama pentingnya dengan mencatat tindakan-tindakan yang
menyelamatkan pasien. Diskusi terbuka mengenai insiden-insiden
yang terjadi bisa menjadi pembelajaran bagi semua staf.
4. Make data capture priority
Dibutuhkan sistem pencatatan data yang lebih baik untuk
mempelajari dan mengikuti perkembangan kualitas-kualitas dari
waktu ke waktu. Misalnya saja data mortalitas. Dengan perubahan
data mortalitas dari tahun ke tahun, klinisi dan manajer bisa
melihat bagaimana manfaat dari penerapan patient safety.
5. Use systems-wide approaches
Keselamatan pasien tidak bisa menjadi tanggung jaab
individual. Pengembangan hanya bisa terjadi jika ada sistem
pndukung yang adekuat. Staf juga harus dilatih dan didorong untuk
melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan
terhadap pasien. Tetapi jika pendekatan patient safety tidak
diintegrasikan secara utuh ke dalam sistem yang berlaku di rumah
sakit, maka peningkatan yang terjadi hanya akan bersifat
sementara.
6. Build implementation knowledge
Staf juga membutuhkan motivasi dan dukungan untukl
mengembangkan metodologi, sistem berfikir, dan implementasi
program. Pemimpin sebagai pengarah jalannya program disini
memegang peranan kunci. Di Inggris, pengembangan mutu
pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien sudah dimasukkan ke
dalam

kurikulum

kedokteran

dan

keperawatan,

sehingga

15

diharapkan sesudah lulus kedua hal ini sudah menjadi bagian


dalam budaya kerja.
7. Involve patients in safety efforts
Keterlibatan pasien dalam pengembangan patient safety
terbukti dapat memberikan pengaruh yang positif. Perannya saat
ini mungkin masih kecil, tetapi akan terus berkembang.
Dimasukkannya perwakilan masyarakat umum dalam komite
keselamatan pasien adalah salah satu bentuk kontribusi aktif dari
masyarakat (pasien). Secara sederhana pasien bisa diarahkan untuk
menjawab ketiga pertanyaan berikut; apa masalahnya? Apa yang
bisa kubantu? Apa yang tidak boleh dikerjakan?
8. Develop top-class patient safety leaders
Prioritas keselamatan pasien, pembangunan sistem untuk
pengumpulan data-databerkualitas tinggi, mendorong budaya tidak
saling menyalahkan, memotivasi staf, dan melibatkan pasien dalam
lingkungan kerja bukanlah sesuatu hal yang bisa tercapai dalam
semalam. Diperlukan kepemimpinan yang kuat, tim yang kompak,
serta dedikasi dan komitmen yang tingggi untuk tercapainya tujuan
pengembangan budaya patient safety. Seringkali rumah sakit harus
bekerja dengan konsultan leaadership untuk mengembangkan
kerjasama tim dan keterampilan komunikasi staf. Dengan
kepemimpinan yang baik, masing-masing anggota tim dengan
berbagaiperan yang berbeda bisa saling melengkapi dengan
anggota tim lainnya melalui kolaborsi yang erat.
K. Aspek Hukum Terhadap Patient Safety
Aspek hukum terhadap patient safety atau keselamatan pasien
adalah sebagai berikut :
UU tentang kesehatan dan UU tentang Rumah Sakit
1. Keselamatan pasien sebagai isu hukum
a. Pasal 53 (3) UU No.36/2009
Pelaksanaan pelayanan kesehatan harus mendahulukan
kselamatan nyawa pasien.
b. Pasal 32n UU No.44/2009
Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan
dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit.

16

c. Pasal 58 UU No.36/2009
1) Setiap orang berhak

menuntut

G.R

terhadap

seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara


kesehatan

yang

menimbulkan

kerugian

akibat

kesalahan atau kelalaian dalam pelayaan kesehatan


yang diterimanya.
2) Tidak berlaku bagi
melakukan
pencegah

tindakan
kecacatan

tenaga

kesehatan

penyelamatan
seseorang

nyawa

dalam

yang
atau

keadaan

darurat.
2. Tanggung jawab hukum Rumah Sakit
a. Pasal 29b UU No.44/2009
Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti
diskriminasi,

dan

efektif

dengan

mengutamakan

kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah


sakit.
b. Pasal 46 UU No.44/2009
Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap
semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan di rumah sakit.
c. Pasal 45 (2) UU No.44/2009
Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam mealksanakan tugas
dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia.
3. Bukan tanggung jawab rumah sakit
a. Pasal 45 (1) UU No.44/2009 tentang Rumah Sakit
Rumah sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila
pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan
pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah
adanya penjelasan medis yang komprehensif.
4. Hak pasien
a. Pasal 32d UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan
kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur prosedur operasional.
b. Pasal 32e UU No.44/2009

17

Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang


efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian
fisik dan materi.
c. Pasal 32j UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis,
alternatif tindakan, resiko dan komplikasi yang mungkin
terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
serta perkiraan biaya pengobatan.
d. Pasal 32q UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak mengunggat dan/atau
menuntut rumah sakit apabila rumah sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar
baik secara perdata ataupun pidana.
e. Pasal 43 UU No.44/2009
1) Rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan
pasien.
2) Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui
pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan
pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka
kejadian yang tidak diharapkan.
3) Rumah sakit melaporkan kegiatan keselamatan pasien
kepada komite yang membidangi keselamatan pasien
yang ditetapkan oleh menteri.
4) Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara
anonim dan ditujukan untuk mengoreksi sistem dalam
rangka meningkatkan keselamatan pasien.
Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang
keselamatan pasien. Keselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu
sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem
tersebut meliputi:
a. Assesment resiko.
b. Identifikasi dan penglolaan yang terkait resiko pasien.
c. Pelaporan dan analisis insiden.
d. Kemampuan belajar dari insiden.
e. Tindak lanjut dan implementasi solusi menimalkan resiko.
L. Manajemen Patient Safety

18

Pelaksanaan patient safety ini dilakukan dengan sistem pencatatan


dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi.
M. Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Pada Patient Safety
1. Di Rumah Sakit
a. Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian
terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris
Cedera, kejadian tidak diharapkan dan kejadian sentinel)
pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
b. Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua
kejadian terkait dengan keselamatan pasien (kejadian
nyaris cedera, kejadian tidak diharapkan dan kejadian
sentinel) kepada tim keselamatan pasien rumah sakit pada
formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
c. Tim keselamatan pasien rumah sakit menganalisis akar
penyebab masalah semua kejadian yang dilaporkan oleh
unit kerja.
d. Berdasarkan hasil analisis akar masalah, maka tim
keselamatan pasien rumah sakit merekomendasikan solusi
pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan
masalah kepada pimpinan rumah sakit.
e. Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi
masalah kekomite keselamatan pasien rumah sakit
(KKPRS) setiap terjadinya insiden dan setelah melakukan
analisis akar masalah yang bersifat rahasia.
2. Di Provinsi
Dinas kesehatan provinsi dan daerah menerima produk-produk dari
komite keselamatan rumah sakit
3. Di pusat
a. Komite keselamatan pasien rumah sakit (KKPRS)
merekapitulasi laporan dari rumah sakit untuk menjaga
kerahasiaanya.

19

b. Komite keselamatan pasien rumah sakit (KKPRS)


melakukan analisis yang telah dilakukan oleh rumah
sakit.
c. Komite keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS)
melakukan sosialisasi hasil analisis dan solusi masalah ke
dinas kesehatan provinsi dan daerah, rumah sakit terkait
dan rumah sakit lainnya.
N. Monitoring Dan Evaluasi
1. Di rumah sakit
Pimpinan rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi
pada unit-unit kerja di rumah sakit, terkait dengan pelaksanaan
keselamatan pasien di unit kerja.
2. Di Provinsi
Dinas kesehatan Provinsi dan daerah melakukan monitoring
dan evaluasi pelaksanaan program keselamatan pasien Rumah
Saskit di wilayah kerjanya.

3. Di Pusat
a. Komite keselamatan pasien rumah sakit melakukan
monitoring dan evaluasi pelaksanaan keselamatan pasien
di tiap-tiap rumah sakit.
b. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahun
satu kali.

20

BAB III
PEMBAHASAN
A. Tinjauan Kasus
JAMBI - Hefniarti (43), warga Kelurahan Cempaka Putih RT 24,
Kecamatan Jelutung harus menghembuskan nafas terakhirnya di ruang
instalasi gawat darurat (IGD) Raden Mateher akhibat terjatuh dari tempat
tidurnya. Pasien perempuan yang menderita stroke ringan tersebut terjatuh
saat suami pasien, Effendi (48), mencari tempat tidur kosong untuk
memindahkan isterinya ke ruang ICU.Pasien jatuh, diduga karena tanpa
penjagaan petugas, dan tempat tidur yang tanpa besi pengaman samping.
"Lima menit kami cari tempat kosong ICU, katanya penuh. Sudah pesan
supaya dijaga, tapi balik sudah jatuh," ujar Effendi, kepada wartawan di
depan ruang ICU RSUD Mattaher, Kamis (25/10) lalu. Sementara itu,

21

Direktur Pelayanan Medik RSUD Mattaher, Djarizal, sangat sulit ditemui


wartawan, bahkan awalnya enggan untuk menemui. Baru setelah sejumlah
wartawan menunggu hingga 1 jam ia muncul dan mau dikonfirmasi.
Ketika dikonfirmasi para awak media masih enggan menjelaskan
bagaimana insiden tersebut bisa terjadi."Detil teknisnya belum bisa kita jawab
sekarang. Kita kumpulkan data, kronologis dari kawan-kawan di sana lebih
dahulu," katanya. (Sumber : Http ://www.jambiekspres.co.id/berita-1670jatuh-dari-ranjang-pasien-rsud-tewas.html_2012)
B. Analisa Kasus
Contoh kasus di atas merupakan salah satu bentuk kelalaian perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan, seharusnya perawat memberikan rasa aman
dan nyaman terhadap pasien terutama pasien dengan penyakit stroke yang
sangat rentan sekali terhadap faktor resiko terjadinya injuri atau cedera.
Karena kondisi pasien yang mengalami kelumpuhan sehingga mengalami
kesulitan dalam beraktifitas atau menggerakkan tubuhnya.
Pada kasus diatas menunjukkan bahwa kelalaian perawat dalam hal ini
yaitu membiarkan pasien tanpa penjagaan dari tempat tidur yang tidak
memiliki besi pengaman tempat tidur samping (side drill), sehingga dengan
tidak adanya penghalang tempat tidur membuat pasien merasa leluasa
bergerak dari tempat tidurnya tetapi kondisi inilah yang menyebabkan pasien
terjatuh.
Bila melihat dari hubungan perawat pasien dan juga tenaga kesehatan
lain tergambar pada bentuk pelayanan praktek keperawatan, baik dari kode
etik dan standar praktek atau ilmu keperawatan. Pada praktek keperawatan,
perawat dituntut untuk dapat bertanggung jawab baik etik, disiplin dan
hukum. Dan prinsipnya dalam melakukan praktek keperawatan, perawat
harus menperhatikan beberapa hal, yaitu: Melakukan praktek keperawatan
dengan ketelitian dan kecermatan, sesuai standar praktek keperawatan,
melakukan

kegiatan

sesuai

kompetensinya,

dan

mempunyai

upaya

peningkatan kesejaterahan serta kesembuhan pasien sebagai tujuan praktek.

22

Kelalaian implikasinya dapat dilihat dari segi etik dan hukum, bila
penyelesaiannya dari segi etik maka penyelesaiannya diserahkan dan
ditangani oleh profesinya sendiri dalam hal ini dewan kode etik profesi yang
ada diorganisasi profesi, dan bila penyelesaian dari segi hukum maka harus
dilihat apakah hal ini sebagai bentuk pelanggaran pidana atau perdata atau
keduannya dan ini membutuhkan pakar dalam bidang hukum atau pihak yang
berkompeten di bidang hukum.
Bila dilihat dari beberapa teori diatas, maka kasus tersebut merupakan
kelalaian dengan alasan, sebagai berikut:
1.

Kasus kelalaian terjadi karena perawat tidak melakukan tindakan


keperawatan yang merupakan kewajiban perawat terhadap pasien, dalam hal
ini perawat tidak melakukan tindakan keperawatan sesuai standar profesi
keperawatan, dan bentuk kelalaian perawat ini termasuk dalam bentuk
Nonfeasance.
Terdapat beberapa hal yang memungkinkan perawat tidak melakukan
tindakan keperawatan dengan benar, diantaranya sebagai berikut:
A.

Perawat tidak kompeten (tidak sesuai dengan kompetensinya)

B.

Perawat tidak mengetahui SAK dan SOP

C.

Perawat tidak memahami standar praktek keperawatan

D.

Rencana keperawatan yang dibuat tidak lengkap

E.

Supervisi dari ketua tim, kepala ruangan atau perawat primer tidak
dijalankan dengan baik

F.

Tidak mempunyai tool evaluasi yang benar dalam supervisi


keperawatan

G.

Kurangnya komunikasi perawat kepada pasien dan kelaurga


tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan perawatan pasien.
Karena kerjasama pasien dan keluarga merupakan hal yang penting.

H.

Kurang atau tidak melibatkan keluarga dalam merencanakan


asuhan keperawatan

23

2.

Dampak dampak kelalaian


Dampak dari kelalaian secara umum dapat dilihat baik sebagai
pelanggaran etik dan pelanggaran hukum, yang jelas mempunyai dampak
bagi pelaku, penerima, dan organisasi profesi dan administrasi.
A.

Terhadap Pasien
1)

Terjadinya

kecelakaan

atau

injury

dan

dapat

menimbulkan masalah keperawatan baru


2)

Biaya Rumah Sakit bertambah akibat bertambahnya hari


rawat

3)

Kemungkinan terjadi komplikasi/munculnya masalah


kesehatan/keperawatan lainnya.

4)

Terdapat pelanggaran hak dari pasien, yaitu mendapatkan


perawatan sesuai dengan standar yang benar.

5)

Pasien dalam hal ini keluarga pasien dapat menuntut


pihak Rumah Sakit atau perawat secara peroangan sesuai dengan
ketententuan yang berlaku, yaitu KUHP.

B.

Perawat sebagai individu/pribadi


1)

perawat tidak dipercaya oleh pasien, keluarga dan juga


pihak profesi sendiri, karena telah melanggar prinsip-prinsip
moral/etik keperawatan, antara lain:
a)

Beneficience, yaitu tidak melakukan hal yang


sebaiknya dan merugikan pasien

b)

Veracity, yaitu tidak mengatakan kepada pasien


tentang tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh pasien
dan keluarga untuk dapat mencegah pasien jatuh dari tempat
tidur

c)

Avoiding killing, yaitu perawat tidak menghargai


kehidupan manusia, jatuhnya pasien akan menambah
penderitaan pasien dan keluarga.

d)

Fidelity, yaitu perawat tidak setia pad komitmennya


karena perawat tidak mempunyai rasa caring terhadap

24

pasien dan keluarga, yang seharusnya sifat caring ini selalu


menjadi dasar dari pemberian bantuan kepada pasien.
2)

Perawat akan menghadapai tuntutan hukum dari keluarga


pasien dan ganti rugi atas kelalaiannya. Sesuai KUHP.

3)

Terdapat unsur kelalaian dari perawat, maka perawat akan


mendapat peringatan baik dari atasannya (Kepala ruang
Direktur RS) dan juga organisasi profesinya.

C.

Bagi Rumah Sakit


1)

Kurangnya kepercayaan masyarakat untuk memanfaatkan


fasilitas pelayanan kesehatan RS

2)

Menurunnya kualitas keperawatan, dan kemungkinan


melanggar visi misi Rumah Sakit

3)

Kemungkinan RS dapat dituntut baik secara hukum


pidana dan perdata karena melakukan kelalaian terhadap pasien

4)

Standarisasi pelayanan Rumah Sakit akan dipertanyakan


baik secara administrasi dan prosedural

D.

Bagi profesi
1)

Kepercayaan masyarakat terhadap profesi keperawatan


berkurang, karena menganggap organisasi profesi tidak dapat
menjamin kepada masyarakat bahwa perawat yang melakukan
asuhan keperawatan adalah perawat yang sudah kompeten dan
memenuhi standar keperawatan.

2)

Masyarakat atau keluarga pasien akan mempertanyakan


mutu dan standarisasi perawat yang telah dihasilkan oleh
pendidikan keperawatan

3.

Hal yang perlu dilakukan dalam upaya pencegahan dan perlindungan bagi
penerima pelayanan asuhan keperawatan, adalah sebagai berikut:
A. Bagi Profesi atau Organisasi Profesi keperawatan :

25

1)

Bagi perawat secara individu harus melakukan tindakan


keperawatan/praktek keperawatan dengan kecermatan dan

2)

ketelitian tidak ceroboh.


Perlunya standarisasi praktek keperawatan yang di buat

3)

oleh organisasi profesi dengan jelas dan tegas.


Perlunya suatu badan atau konsil keperawatan yang
menyeleksi perawat yang sebelum bekerja pada pelayanan

keperawatan dan melakukan praktek keperawatan.


4)
Memberlakukan segala ketentuan/perundangan yang ada
kepada perawat/praktisi keperawatan sebelum memberikan
praktek keperawatan sehingga dapat dipertanggung jawabkan
baik secara administrasi dan hukum, missal: SIP dikeluarkan
dengan sudah melewati proses-proses tertentu.
B. Bagi Rumah Sakit dan Ruangan
1) Hendaknya Rumah Sakit melakukan uji kompetensi sesuai
standarisasi yang telah ditetapkan oleh profesi keperawatan.
2) Rumah Sakit dalam hal ini ruangan rawat melakukan uji
kompetensi

pada

bidangnya

secara

bertahap

dan

berkesinambungan.
3) Rumah Sakit/Ruang rawat dapat melakukan system regulasi
keperawatan yang jelas dan sesuai dengan standar, berupa
registrasi, sertifikasi, lisensi bagi perawatnya.
4) Perlunya pelatihan atau seminar secara periodic bagi semua
perawat berkaitan dengan etik dan hukum dalam keperawatan.
5) Ruangan rawat harus membuat SAK atau SOP yang jelas dan
sesuai dengan standar praktek keperawatan.
6) Bidang keperawatan/ruangan dapat memberikan pembinaan
kepada perawat yang melakukan kelalaian.
7) Ruangan dan RS bekerjasama dengan organisasi profesi dalam
pembinaan dan persiapan pembelaan hukum bila ada tuntutan
dari keluarga.
8) Hendaknya RS memakai tempat tidur/bed pasien yang sesuai
standar keamanan pasien.

26

Penyelesaian Kasus dari kelalaian perawat diatas, harus memperhatikan


berbagai hal baik dari segi pasien dan kelurga, perawat secara perorangan,
Rumah Sakit sebagai institusi dan juga bagaimana padangan dari organisasi
profesi.
Pasien dan keluarga perlu untuk dikaji dan dilakukan testomoni atas
kejadian tersebut, bila dilihat dari kasus bahwa kurangnya komunikasi yang
baik antara perawat dan keluarga sehingga kurangnya kordinasi terhadap
penjagaan pasien.
Segi perawat secara perorangan, harus dilihat dahulu apakah perawat
tersebut kompeten dan sudah memiliki Surat ijin perawat, atau lainnya sesuai
ketentuan perudang-undangan yang berlaku, apa perawat tersebut memang
kompeten dan telah sesuai melakukan praktek asuhan keperawatan pada
pasien

dengan

mempertanggung

stroke.

Tetapi

jawabkan

bagaimanapun

semua

bentuk

perawat

kelalaian

harus
sesuai

dapat
aturan

perundangan yang berlaku.


Bagi pihak Rumah Sakit, harus juga memberikan penjelasan apakah
perawat yang dipekerjakan di Rumah Sakit tersebut telah memenuhi syaratsyarat yang diperbolehkan oleh profesi untuk mempekerjakan perawat
tersebut. Apakah RS atau ruangan tempat pasien dirawat mempunyai standar
(SOP) yang jelas. Dan harus diperjelas bagaimana Hubungan perawat sebagai
pemberi praktek asuhan keperawatan di dan kedudukan RS terhadap perawat
tersebut.
Bagi organisasi profesi juga harus diperhatikan beberapa hal yang
memungkinkan perawat melakukan kelalaian, organisasi apakah sudah
mempunyai standar profesi yang jelas dan telah diberlakukan bagi
anggotannya, dan apakah profesi telah mempunyai aturan hukum yang
mengikat anggotannya sehingga dapat mempertanggung jawabkan tindakan
praktek keperawatannya dihadapan hukum, moral dan etik keperawatan.
Keputusan ada atau tidaknya kelalaian/malpraktek bukanlah penilaian atas
hasil akhir pelayanan praktek keperawatan pada pasien, melainkan penilaian

27

atas sikap dan tindakan yang dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh tenaga
medis dibandingkan dengan standar yang berlaku.

BAB IV
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian termasuk dalam
arti malpraktek, artinya bahwa dalam malpraktek tidak selalu ada unsur
kelalaian.
Dapat dikatakan bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu yang harusnya
dilakukan pada tingkatan keilmuannya tetapi tidak dilakukan atau melakukan
tindakan dibawah standar yang telah ditentukan.
Kelalaian

praktek

keperawatan

adalah

seorang

perawat

tidak

mempergunakan tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan keperawatan yang


lazim dipergunakan dalam merawat pasien atau orang yang terluka menurut
ukuran dilingkungan yang sama.
Kelalaian merupakan bentuk pelanggaran yang dapat dikategorikan dalam
pelanggaran etik dan juga dapat digolongan dalam pelanggaran hukum, yang
jeas harus dilihat dahulu proses terjadinya kelalaian tersebut bukan pada hasil

28

akhir kenapa timbulnya kelalaian. Harus dilakukan penilaian terleih dahulu


atas sikap dan tindakan yang dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh tenaga
keperawatan dengan standar yang berlaku.
Sebagai bentuk tanggung jawab dalam praktek keperawatan maka perawat
sebelum melakukan praktek keperawatan harus mempunyai kompetensi baik
keilmuan dan ketrampilan yang telah diatur dalam profesi keperawatan, dan
legalitas perawat Indonesia dalam melakukan praktek keperawatan telah diatur
oleh perundang-undangan tentang registrasi dan praktek keperawatan
disamping mengikuti beberapa peraturan perundangan yang berlaku.
Penyelesaian kasus kelalaian harus dilihat sebagai suatu kasus profesional
bukan sebagai kasus kriminal, berbeda dengan perbuatan/kegiatan yang
sengaja melakukan kelalaian sehingga menyebabkan orang lain menjadi
cedera dll. Disini perawat dituntut untu lebih hati-hati, cermat dan tidak
ceroboh dalam melakukan praktek keperawatannya. Sehingga pasien terhindar
dari kelalaian.
B.

SARAN
1. Standar profesi keperawatan dan standar kompetensi merupakan hal
penting untuk menghindarkan terjadinya kelalaian, maka perlunya
pemberlakuan

standar

praktek

keperawatan

secara

Nasional

dan

terlegalisasi dengan jelas.


2. Perawat sebagai profesi baik perorangan dan kelompok hendaknya
memahami dan mentaati aturan perundang-undangan yang telah
diberlakukan di Indonesia, agar perawat dapat terhindar dari bentuk
pelanggaran baik etik dan hukum.
3. Pemahaman
dan
bekerja
dengan

kehati-hatian,

kecermatan,

menghindarkan bekerja dengan cerobah, adalah cara terbaik dalam


melakukan

praktek

keperawatan

sehingga

dapat

terhindar

dari

kelalaian/malpraktek.
4. Rumah Sakit sebagai institusi pengelola layanan praktek keperawatan dan
asuhan keperawatan harus memperjelas kedudukannya dan hubungannya

29

dengan pelaku/pemberi pelayanan keperawatan, sehingga dapat diperjelas


bentuk tanggung jawab dari masing-masing pihak
5.

Penyelesaian terbaik dalam menghadapi masalah kelalaian


adalah dengan jalan melakukan penilaian atas sikap dan tindakan yang
dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh tenaga perawat dan
dibandingkan dengan standar yang berlaku.

30

DAFTAR PUSTAKA

Redjeki, S. (2005). Etika keperawatan ditinjau dari segi hukum. Materi


seminar tidak diterbitkan.
Sampurno, B. (2005). Malpraktek dalam pelayanan kedokteran. Materi
seminar tidak diterbitkan.
Komalawati, Veronica. (2010) Community & Patient Safety Dalam
perspektif Hukum Kesehatan.
Lestari, Trisasi (2006). Konteks Mikro Dalam Implementasi Patient
Safety: Delapan Langkah Untuk Mengembangkan Budaya Patient Safety. Buletin
IHQN Vol II/ Nomor.04. Hal 1-3.
Pabuti, Aumas. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien (KP)
Rumah Sakit. Proceedings Of Expert Lecture Of Medical Student Of Block 21st Of
Andalas University, Indonesia.
Yahya, Adib A. (2006) Konsep Dan Program Patient Safety.
Proceedings Of National Convention VI Of The Hospital Quality Hotel Permata
Bidakara, Bandung 4-15 November 2006.
Yahya, Adib A. (2007) Fraud & Patient Safety. Proccedings Of PAMJAKI
Meeting Kecurangan Fraud Dalam Jaminan/Asuransi Kesehatan Hotel Bumi
Karsa, Jakarta 13 Desember 2007.
Http://www.jambiekspres.co.id/berita-1670-jatuh-dari-ranjang-pasienrsud-tewas.html

31