Anda di halaman 1dari 26

KELALAIAN DAN MALPRAKTEK DALAM KEPERAWATAN

Latar Belakang

Perawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu,
keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional,
keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek
keperawatan dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teori
keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri
sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat
diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada
masyarakat langsung.
Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk
implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada
pasien/klien baik kepada individu, keluarga dan masyarakat
dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna
mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari
sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi.
Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung
berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan
pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak
diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi
demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku
dan penerima praktek keperawatan. Oleh karena itu profesi
keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya
yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guna
memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya standar
praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang
perawat melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk
pelanggaran praktek keperawatan lainnya.
Kelalaian (Negligence) adalah salah satu bentuk pelanggaran
praktek keperawatan, dimana perawat melakukan kegiatan
prakteknya yang seharusnya mereka lakukan pada tingkatannya,
lalai atau tidak mereka lakukan. Kelalaian ini berbeda dengan
malpraktek, malpraktek merupakan pelanggaran dari perawat yang
melakukan kegiatan yang tidak seharusnya mereka lakukan pada
tingkatanya tetapi mereka lakukan.
Kelalaian dapat disebut sebagai bentuk pelanggaran etik ataupun
bentuk pelanggaran hukum, tergantung bagaimana masalah kelalaian
itu dapat timbul, maka yang penting adalah bagaimana
menyelesaikan masalah kelalaian ini dengan memperhatikan dari
berbagai sudut pandang, baik etik, hukum, manusianya baik yang
memberikan layanan maupun penerima layanan. Peningkatan kualitas
praktek keperawatan, adanya standar praktek keperawatan dan juga
meningkatkan kualitas sumber daya manusia keperawatan adalah hal
penting.

PEMBAHASAN

Kelalaian (Negligence)
Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian
termasuk dalam arti malpraktik, artinya bahwa dalam malpraktek
tidak selalu ada unsur kelalaian. Kelalaian adalah segala
tindakan yang dilakukan dan dapat melanggar standar sehingga
mengakibatkan cidera/kerugian orang lain (Sampurno, 2005).
Negligence, dapat berupa Omission (kelalaian untuk melakukan
sesuatu yang seharusnya dilakukan) atau Commission (melakukan
sesuatu secara tidak hati-hati). (Tonia, 1994).Dapat disimpulkan
bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan
pada tingkatan keilmuannya tetapi tidak dilakukan atau melakukan
tindakan dibawah standar yang telah ditentukan. Kelalaian
praktek keperawatan adalah seorang perawat tidak mempergunakan
tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan keperawatan yang lazim
dipergunakan dalam merawat pasien atau orang yang terluka
menurut ukuran dilingkungan yang sama.

Jenis-jenis kelalaian
Bentuk-bentuk dari kelalaian menurut sampurno (2005), sebagai
berikut:
a. Malfeasance : yaitu melakukan tindakan yang menlanggar
hukum atau tidak tepat/layak, misal: melakukan tindakan
keperawatan tanpa indikasi yang memadai/tepat
b. Misfeasance : yaitu melakukan pilihan tindakan keperawatan
yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat, misal:
melakukan tindakan keperawatan dengan menyalahi prosedur
c. Nonfeasance : Adalah tidak melakukan tindakan keperawatan
yang merupakan kewajibannya, misal: pasien seharusnya dipasang
pengaman tempat tidur tapi tidak dilakukan.

Sampurno (2005), menyampaikan bahwa suatu perbuatan atau sikap
tenaga kesehatan dianggap lalai, bila memenuhi 4 unsur, yaitu:
1. Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan
tindakan atau untuk tidak melakukan tindakan tertentu terhadap
pasien tertentu pada situasi dan kondisi tertentu.
2. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban
3. Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan
oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan yang
diberikan oleh pemberi pelayanan.
4. Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang
nyata, dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara
penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang setidaknya
menurunkan Proximate cause

Liabilitas dalam praktek keperawatan
Liabilitas adalah tanggungan yang dimiliki oleh seseorang
terhadap setiap tindakan atau kegagalan melakukan tindakan.
Perawat profesional, seperti halnya tenaga kesehatan lain
mempunyai tanggung jawab terhadap setiap bahaya yang ditimbulkan
dari kesalahan tindakannya. Tanggungan yang dibebankan perawat
dapat berasal dari kesalahan yang dilakukan oleh perawat baik
berupa tindakan kriminal kecerobohan dan kelalaian.
Seperti telah didefinisikan diatas bahwa kelalaian merupakan
kegagalan melakukan sesuatu yang oleh orang lain dengan
klasifikasi yang sama, seharusnya dapat dilakukan dalam situasi
yang sama, hal ini merupakan masalah hukum yang paling lazim
terjadi dalam keperawatan. Terjadi akibat kegagalan menerapkan
pengetahuan dalam praktek antara lain disebabkan kurang
pengetahuan. Dan dampak kelalaian ini dapat merugikan pasien.
Sedangkan akuntabilitas adalah konsep yang sangat penting dalam
praktik keperawatan. Akuntabilitas mengandung arti dapat
mempertanggung jawabkan suatu tindakan yang dilakukan dan dapat
menerima konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozier, 1991).

Dasar hukum perundang-undangan praktek keperawatan.
Beberapa perundang-undangan yang melindungi bagi pelaku dan
penerima praktek keperawatan yang ada di Indonesia, adalah
sebagai berikut:
1. Undang undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, bagian
kesembilan pasal 32 (penyembuhan penyakit dan pemulihan)
2. Undang undang No.8 tahun 1999 tentang perlindungan
konsumen
3. Peraturan menteri kesehatan No.159b/Men.Kes/II/1998
tentang Rumah Sakit
4. Peraturan Menkes No.660/MenKes/SK/IX/1987 yang dilengkapi
surat ederan Direktur Jendral Pelayanan Medik
No.105/Yan.Med/RS.Umdik/Raw/I/88 tentang penerapan standard
praktek keperawatan bagi perawat kesehatan di Rumah Sakit.
5. Kepmenkes No.647/SK/IV/2000 tentang registrasi dan praktik
perawat dan direvisi dengan SK Kepmenkes
No.1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan praktik
perawat.
Perlindungan hukum baik bagi pelaku dan penerima praktek
keperawatan memiliki akuntabilitas terhadap keputusan dan
tindakannya. Dalam menjalankan tugas sehari-hari tidak menutup
kemungkinan perawat berbuat kesalahan baik sengaja maupun tidak
sengaja. Oleh karena itu dalam menjalankan prakteknya secara
hukum perawat harus memperhatikan baik aspek moral atau etik
keperawatan dan juga aspek hukum yang berlaku di Indonesia. Fry
(1990) menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen
utama, yakni tanggung jawab dan tanggung gugat. Hal ini berarti
tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik
keperawatan, kode etik dan undang-undang dapat dibenarkan atau
absah (Priharjo, 1995).
Beberapa bentuk Kelalaian dalam Keperawatan.
Pelayanan kesehatan saat ini menunjukkan kemajuan yang cepat,
baik dari segi pengetahuan maupun teknologi, termasuk bagaimana
penatalaksanaan medis dan tindakan keperawatan yang bervariasi.
Sejalan dengan kemajuan tersebut kejadian malpraktik dan juga
adanya kelalaian juga terus meningkat sebagai akibat
kompleksitas dari bentuk pelayanan kesehatan khususnya
keperawatan yang diberikan dengan standar keperawatan (Craven &
Hirnle, 2000).
Beberapa situasi yang berpotensial menimbulkan tindakan
kelalaian dalam keperawatan diantaranya yaitu : a. Kesalahan
pemberian obat, b. Mengabaikan keluhan pasien, c. Kesalahan
mengidentifikasi masalah klien, d. Kelalaian di ruang operasi,
e. Timbulnya kasus decubitus selama dalam perawatan, f.
Kelalaian terhadap keamanan dan keselamatan pasien: contoh yang
sering ditemukan adalah kejadian pasien jatuh yang sesungguhnya
dapat dicegah jika perawat memperhatikan keamanan tempat tidur
pasien. Beberapa rumah sakit memiliki aturan tertentu mengenai
penggunaan alat-alat untuk mencegah hal ini.

Dampak Kelalaian
Kelalaian yang dilakukan oleh perawat akan memberikan dampak
yang luas, tidak saja kepada pasien dan keluarganya, juga kepada
pihak Rumah Sakit, individu perawat pelaku kelalaian dan
terhadap profesi. Selain gugatan pidana, juga dapat berupa
gugatan perdata dalam bentuk ganti rugi. (Sampurna, 2005).
Bila dilihat dari segi etika praktek keperawatan, bahwa
kelalaian merupakan bentuk dari pelanggaran dasar moral praktek
keperawatan baik bersifat pelanggaran autonomy, justice,
nonmalefence, dan lainnya (Kozier, 1991) dan penyelesainnya
dengan menggunakan dilema etik. Sedangkan dari segi hukum
pelanggaran ini dapat ditujukan bagi pelaku baik secara individu
dan profesi dan juga institusi penyelenggara pelayanan praktek
keperawatan, dan bila ini terjadi kelalaian dapat digolongan
perbuatan pidana dan perdata (pasal 339, 360 dan 361 KUHP).

A. Malpraktek
Pengertian Malpraktek
Bila dilihat dari definisi diatas maka malpraktek dapat terjadi
karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada
misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence), ataupun
suatu kekurang-mahiran/ketidakkompetenan yang tidak beralasan
(Sampurno, 2005). Malpraktek dapat dilakukan oleh profesi apa
saja, tidak hanya dokter, perawat. Profesional perbankan dan
akutansi adalah beberapa profesi yang dapat melakukan
malpraktek.
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak
selalu berkonotasi yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti
salah sedangkan praktek mempunyai arti pelaksanaan atau
tindakan, sehingga malpraktek berarti pelaksanaan atau tindakan
yang salah. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan
istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan
yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.
Sedangkan definisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian
dari seorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat
kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat
pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang
terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama. Malpraktek juga
dapat diartikan sebagai tidak terpenuhinya perwujudan hak-hak
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang baik, yang biasa
terjadi dan dilakukan oleh oknum yang tidak mau mematuhi aturan
yang ada karena tidak memberlakukan prinsip-prinsip transparansi
atau keterbukaan,dalam arti harus menceritakan secara jelas
tentang pelayanan yang diberikan kepada konsumen, baik pelayanan
kesehatan maupun pelayanan jasa lainnya yang diberikan.
Malpraktik sangat spesifik dan terkait dengan status profesional
dan pemberi pelayanan dan standar pelayanan profesional.
Malpraktik adalah kegagalan seorang profesional (misalnya,
dokter dan perawat) untuk melakukan praktik sesuai dengan
standar profesi yang berlaku bagi seseorang yang karena memiliki
keterampilan dan pendidikan (Vestal, K.W, 1995). Malpraktik
lebih luas daripada negligence karena selain mencakup arti
kelalaian, istilah malpraktik pun mencakup tindakan-tindakan
yang dilakukan dengan sengaja (criminal malpractice) dan
melanggar undang-undang. Di dalam arti kesengajaan tersirat
adanya motif (guilty mind) sehingga tuntutannya dapat bersifat
perdata atau pidana.
a. Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
malpraktik adalah:
Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh
seorang tenaga kesehatan
b. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau
melalaikan kewajibannya. (negligence)
c. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan
peraturan perundang-undangan.

Malpraktek dalam keperawatan
Banyak kemungkinan yang dapat memicu perawat melakukan
malpraktik. Malpraktik lebih spesifik dan terkait dengan status
profesional seseorang, misalnya perawat, dokter, atau penasihat
hukum. Vestal, K.W. (l995) mengatakan bahwa untuk mengatakan
secara pasti malpraktik, apabila penggugat dapat menunujukkan
hal-hal dibawah ini :
a. Duty Pada saat terjadinya cedera, terkait dengan
kewajibannya yaitu, kewajiban mempergunakan segala ilmu fan
kepandaiannya untuk menyembuhkan atau setidak-tidaknya
meringankan beban penderitaan pasiennya berdasarkan standar
profesi. Hubungan perawat-klien menunjukkan, bahwa melakukan
kewajiban berdasarkan standar keperawatan.
b. Breach of the duty Pelanggaran terjadi sehubungan dengan
kewajibannya, artinya menyimpang dari apa yang seharusnya
dilalaikan menurut standar profesinya. Contoh pelanggaran yang
terjadi terhadap pasien antara lain, kegagalan dalam memenuhi
standar keperawatan yang ditetapkan sebagai kebijakan rumah
sakit.
c. Injury Seseorang mengalami cedera (injury) atau
kemsakan (damage) yang dapat dituntut secara hukum, misalnya
pasien mengalami cedera sebagai akibat pelanggaran. Kelalalian
nyeri, adanya penderitaan atau stres emosi dapat dipertimbangkan
sebagai, akibat cedera jika terkait dengan cedera fisik.
d. Proximate caused Pelanggaran terhadap kewajibannya
menyebabkan atau terk dengan cedera yang dialami pasien.
Misalnya, cedera yang terjadi secara langsung berhubungan.
dengan pelanggaran kewajiban perawat terhadap pasien).
Sebagai penggugat, seseorang harus mampu menunjukkan bukti pada
setiap elemen dari keempat elemen di atas. Jika semua elemen itu
dapat dibuktikan, hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi
malpraktik dan perawat berada pada tuntutan malpraktik.
Bidang Pekerjaan Perawat Yang Berisiko Melakakan Kesalahan:
Caffee (1991) dalam Vestal, K.W. (1995) mengidentifikasi 3 area
yang memungkinkan perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu:
a. Assessment errors (pengkajian keperawatan), termasuk
kegagalan mengumpulkan data atau informasi tentang pasien secara
adekuat atau kegagalan mengidentifikasi informasi yang
diperlukan, seperti data hasil pemeriksaan laboratorium, tanda-
tanda vital, atau keluhan pasien yang membutuhkan tindakan
segera. Kegagalan dalam pengumpulan data akan berdampak pada
ketidaktepatan diagnosis keperawatan dan lebih lanjut akan
mengakibatkan kesalahan atau ketidaktepatan dalam tindakan.
Untuk menghindari kesalahan ini, perawat seharusnya dapat
mengumpulkan data dasar secara komprehensif dan mendasar.
b. Planning errors (perencanaan keperawatan), termasuk hal-
hal berikut :
1. Kegagalan mencatat masalah pasien dan kelalaian
menuliskannya dalam rencana keperawatan.
2. Kegagalan mengkomunikaskan secara efektif rencana
keperawatan yang telah dibuat.
3. Kegagalan memberikan asuhan keperawatan secara
berkelanjutan yang disebabkan kurangnya informasi yang diperoleh
dari rencana keperawatan.
4. Kegagalan memberikan instruksi yang dapat dimengerti oleh
pasien.
c. Intervention errors (tindakan intervensi keperawatan)
Untuk menghindari kesalahan ini, sebaiknya rumah sakit tetap
melaksanakan program pendidikan berkelanjutan (Continuing
Nursing Education).

Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3
kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar, yaitu :
a. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal
malpractice manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik
pidana,yaitu :
1. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act)
merupakan perbuatan tercela.
2. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang
berupa kesengajaan (intensional) misalnya melakukan euthanasia
(pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP),
membuat surat keterangan palsu (pasal 263 KUHP), melakukan
aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP). Kecerobohan
(reklessness) misalnya melakukan tindakan medis tanpa
persetujuan pasien informed consent. Atau kealpaan (negligence)
misalnya kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau
meninggalnya pasien, ketinggalan klem dalam perut pasien saat
melakukan operasi. Pertanggungjawaban didepan hukum pada
criminal malpractice adalah bersifat individual/personal dan
oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau
kepada badan yang memberikan sarana pelayanan jasa tempatnya
bernaung.
b. Civil malpractice
Seorang tenaga jasa akan disebut melakukan civil malpractice
apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan
prestasinya sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji).
Tindakan tenaga jasa yang dapat dikategorikan civil malpractice
antara lain :
1. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib
dilakukan.
2. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
tetapi terlambat melakukannya.
3. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
tetapi tidak sempurna.
4. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya
dilakukan. Pertanggungjawaban civil malpractice dapat bersifat
individual atau korporasi dan dapat pula dialihkan pihak lain
berdasarkan principle ofvicarius liability. Dengan prinsip ini
maka badan yang menyediakan sarana jasa dapat bertanggung gugat
atas kesalahan yang dilakukan karyawannya selama orang tersebut
dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya.
c. Administrative malpractice
Tenaga jasa dikatakan telah melakukan administrative malpractice
manakala orang tersebut telah melanggar hukum administrasi.
Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police power, pemerintah
mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang
kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan
untuk menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin
Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga perawatan.
Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang
bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.

3. Contoh Malpraktek Keperawatan Dan Kajian Etika Hukum
Pasien usia lanjut mengalami disorientasi pada saat berada di
ruang perawatan. Perawat tidak membuat rencana keperawatan guna
memantau dan mempertahankan keamanan pasien dengan memasang
penghalang tempat tidur. Sebagai akibat disorientasi, pasien
kemudian terjatuh dari tempat tidur pada waktu malam hari dan
pasien mengalami patah tulang tungkai.
Dari kasus diatas, perawat telah melanggar etika keperawatan
yang telah dituangkan dalam kode etik keperawatan yang disusun
oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia dalam Musyawarah
Nasionalnya di Jakarta pada tanggal 29 Nopember 1989 khususnya
pada Bab I, pasal 1, yang menjelaskan tanggung jawab perawat
terhadap klien (individu, keluarga dan masyarakat).dimana
perawat tersebut tidak melaksanakan tanggung jawabnya terhadap
klien dengan tidak membuat rencana keperawatan guna memantau dan
mempertahankan kemanan pasien dengan tidak memasang penghalang
tempat tidur.
Selain itu perawat tersebut juga melanggar bab II pasal V,yang
bunyinya Mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien dalam
melaksanakan tugas, serta matang dalam mempertimbangkan
kemampuan jika menerima atau mengalih-tugaskan tanggung jawab
yang ada hubungan dengan keperawatan dimana ia tidak
mengutamakan keselamatan kliennya sehingga mengakibatkan
kliennya terjatuh dari tempat tidur dan mengalami patah tungkai.
Disamping itu perawat juga tidak melaksanakan kewajibannya
sebagai perawat dalam hal memberikan pelayanan/asuhan sesuai
standar profesi/batas kewenangan.
Dari kasus tersebut perawat telah melakukan kelalaian yang
mengakibatkan kerugian seperti patah tulang tungkai sehingga
bisa dikategorikan sebagai malpraktek yang termasuk ke dalam
criminal malpractice bersifat neglegence yang dapat dijerat
hukum antara lain :
1. Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP, pasal-pasal karena
lalai menyebabkan mati atau luka-luka berat. Pasal 359 KUHP,
karena kelalaian menyebabkan orang mati: Barangsiapa karena
kealpaannya menyebabkan mati-nya orang lain, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama
satu tahun.
2. Pasal 360 KUHP, karena kelalaian menyebakan luka berat:
Ayat (1) Barang siapa karena kealpaannya menyebakan orang lain
mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. Ayat (2)
Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka
sedemikian rupa sehinga menimbulkan penyakit atau alangan
menjalankan pekerjaan, jabatan atau pencaharian selama waktu
tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.
3. Pasal 361 KUHP, karena kelalaian dalam melakukan jabatan
atau pekerjaan (misalnya: dokter, bidan, apoteker, sopir,
masinis dan Iain-lain) apabila melalaikan peraturan-peraturan
pekerjaannya hingga mengakibatkan mati atau luka berat, maka
mendapat hukuman yang lebih berat pula. Pasal 361 KUHP
menyatakan: Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini
dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pencaharian, maka
pidana ditambah dengan pertiga, dan yang bersalah dapat dicabut
haknya untuk menjalankan pencaharian dalam mana dilakukan
kejahatan dan hakim dapat memerintahkan supaya putusnya
diumumkan. Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal
malpractice adalah bersifat individual/personal dan oleh sebab
itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah
sakit/sarana kesehatan.
Selain pasal tersebut diatas, perawat tersebut juga telah
melanggar Pasal 54 :
(1). Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau
kelalaian dalam melak-sanakan profesinya dapat dikenakan
tindakan disiplin.
(2). Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian
sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh Majelis
Disiplin Tenaga Kesehatan.

Kesimpulan
Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian
termasuk dalam arti malpraktik, artinya bahwa dalam malpraktek
tidak selalu ada unsur kelalaian. Dapat dikatakan bahwa
kelalaian adalah melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan pada
tingkatan keilmuannya tetapi tidak dilakukan atau melakukan
tindakan dibawah standar yang telah ditentukan.
Kelalaian praktek keperawatan adalah seorang perawat tidak
mempergunakan tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan
keperawatan yang lazim dipergunakan dalam merawat pasien atau
orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Kelalaian merupakan bentuk pelanggaran yang dapat dikategorikan
dalam pelanggaran etik dan juga dapat digolongan dalam
pelanggaran hukum, yang jelas harus dilihat dahulu proses
terjadinya kelalaian tersebut bukan pada hasil akhir kenapa
timbulnya kelalaian. Harus dilakukan penilaian terlebih dahulu
atas sikap dan tindakan yang dilakukan atau yang tidak dilakukan
oleh tenaga keperawatan dengan standar yang berlaku.
Sebagai bentuk tanggung jawab dalam praktek keperawatan maka
perawat sebelum melakukan praktek keperawatan harus mempunyai
kompetensi baik keilmuan dan ketrampilan yang telah diatur dalam
profesi keperawatan, dan legalitas perawat Indonesia dalam
melakukan praktek keperawatan telah diatur oleh perundang-
undangan tentang registrasi dan praktek keperawatan disamping
mengikuti beberapa peraturan perundangan yang berlaku.
Penyelesaian kasus kelalaian harus dilihat sebagai suatu kasus
profesional bukan sebagai kasus kriminal, berbeda dengan
perbuatan/kegiatan yang sengaja melakukan kelalaian sehingga
menyebabkan orang lain menjadi cedera dll. Disini perawat
dituntut untuk lebih hati-hati, cermat dan tidak cerobah dalam
melakukan praktek keperawatannya. Sehingga pasien terhindar dari
kelalaian.

DAFTAR PUSTAKA

Amir & Hanafiah, (1999). Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan,
edisi ketiga: Jakarta: EGC.
Craven & Hirnle. (2000). Fundamentals of nursing. Philadelphia.
Lippincott
Huston, C.J, (2000). Leadership Roles and Management Functions
in Nursing; Theory and Aplication; third edition: Philadelphia:
Lippincott.
Kozier. (2000). Fundamentals of Nursing : concept theory and
practices. Philadelphia. Addison Wesley.
Kepmenkes RI Nomor 1239/Menkes/SK/XI/2001, Tetang Resgistrasi
Praktik Perawat.
Leah curtin & M. Josephine Flaherty (1992). Nursing Ethics;
Theories and Pragmatics: Maryland: Robert J.Brady CO.
Priharjo, R (1995). Pengantar etika keperawatan; Yogyakarta:
Kanisius.
Redjeki, S. (2005). Etika keperawatan ditinjau dari segi hukum.
Materi seminar tidak diterbitkan.
Supriadi, (2001). Hukum Kedokteran : Bandung: CV Mandar Maju.
Staunton, P and Whyburn, B. (1997). Nursing and the law. 4th
ed.Sydney: Harcourt.
Sampurno, B. (2005). Malpraktek dalam pelayanan kedokteran.
Materi seminar tidak diterbitkan.
Soenarto Soerodibroto, (2001). KUHP & KUHAP dilengkapi
yurisprodensi Mahkamah Agung dan Hoge Road: Jakarta :
PT.RajaGrafindo Persada.
Tonia, Aiken. (1994). Legal, Ethical & Political Issues in
Nursing. 2ndEd. Philadelphia. FA Davis.
Undang-undang Perlindungan Konsumen nomor 8 tahun 1999.
Jakarta: Sinar Grafika.



MALPRAKTEK DALAM KEPERAWATAN
1. Pengertian Malpraktek
Beberapa sarjana sepakat untuk merumuskan penggunaan istilah medical malpractice
(malpaktek medik) sebagaimana disebutkan dibawah ini :
a. John D. Blum memberikan rumusan tentang medical malpractice sebagai a form of
professional negligence in which measerable injury occurs to a plaintiff patient as the direct
result of an act or ommission by the defendant practitioner (malpraktek medik merupakan
bentuk kelalaian profesi dalam bentuk luka atau cacat yang dapat diukur yang terjadinya pada
pasien yang mengajukan gugatan sebagai akibat langsung dari tindakan dokter).
b. Black Law Dictionary merumuskan malpraktek sebagai any professional misconduct,
unreasonable lack of skill or fidelity in professional or judiacry duties, evil practice, or illegal or
immoral conduct (perbuatan jahat dari seorang ahli, kekurangan dalam keterampilan yang
dibawah standar, atau tidak cermatnya seorag ahli dalam menjalankan kewajibannya secara
hokum, praktek yang jelek atau ilegal atau perbuatan yang tidak bermoral).
Dari beberapa pengertian tentang malpraktek medik diatas semua sarjana sepakat untuk
mengartikan malpraktek medik sebagai kesalahan tenaga kesehatan yang karena tidak
mempergunakan ilmu pengetahuan dan tingkat keterampilan sesuai dengan standar
profesinya yang akhirnya mengakibatkan pasien terluka atau cacat atau bahkan meninggal
dunia.
Dari berbagai pengertian mengenai malpraktek yang dikemukakan oleh beberapa sarjana
diatas, terlihat bahwa sebagian orang mengaitkan malpraktek medik sebagai malpraktek yang
dilakukan oleh dokter. Hal ini mungkin disebabkan karena kasus-kasus yang muncul ke
permukaan atau yang diajukan ke pengadilan adalah kasus-kasus yang dilakukan oleh dokter.
2. MALPRAKTEK ADMINISTRATIF
Malpraktek administrastif terjadi apabila tenaga kesehatan melakukan pelanggaran terhadap
hukum administrasi negara yang berlaku, misalnya menjalankan praktek bidan tanpa lisensi
atau izin praktek, melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan lisensi atau izinnya,
Universitas Sumatera Utaramenjalankan praktek dengan izin yang sudah kadaluarsa, dan
menjalankan praktek tanpa membuat catatan medik.
3. TEORI-TEORI MALPRAKTEK
Ada tiga teori yang menyebutkan sumber dari perbuatan malpraktek yaitu:
a. Teori Pelanggaran Kontrak
Teori pertama yang mengatakan bahwa sumber perbuatan malpraktek adalah karena
terjadinya pelanggaran kontrak. Ini berprinsip bahwa secara hukum seorang tenaga kesehatan
tidak mempunyai kewajiban merawat seseorang bilamana diantara keduanya tidak terdapat
suatu hubungan kontrak antara tenaga kesehatan dengan pasien. Hubungan antara tenaga
kesehatan dengan pasien baru terjadi apabila telah terjadi kontrak diantara kedua belah pihak
tersebut.
Sehubungan dengan adanya hubungan kontrak pasien dengan tenaga kesehatan ini, tidak
berarti bahwa hubungan tenaga kesehatan dengan pasien itu selalu terjadi dengan adanya
kesepakatan bersama. Dalam keadaan penderita tidak sadar diri ataupun keadaan gawat
darurat misalnya, seorang penderita tidak mungkin memberikan persetujuannya.Apabila
terjadi situasi yang demikian ini, maka persetujuan atau kontrak tenaga kesehatan pasien
dapat diminta dari pihak ketiga, yaitu keluarga penderita yang bertindak atas nama dan
mewakili kepentingan penderita. Apabila hal ini juga tidak mungkin, misalnya
dikarenakanpenderita gawat darurat tersebut datang tanpa keluarga dan hanya diantar oleh
orang lain yang kebetulan telah menolongnya, maka demi kepentingan penderita, menurut
perundang-undangan yang berlaku, seorang tenaga kesehatan diwajibkan memberikan
pertolongan dengan sebaik-baiknya. Tindakan ini, secara hukum telah dianggap sebagai
perwujudan kontrak tenaga kesehatan-pasien.
b Teori Perbuatan Yang Disengaja
Teori kedua yang dapat digunakan oleh pasien sebagai dasar untuk menggugat
tenaga kesehatan karena perbuatan malpraktek adalah kesalahan yang dibuat dengan
sengaja (intentional tort), yang mengakibatkan seseorang secara fisik mengalami cedera
(asssult and battery)
4. TEORI KELALAIAN
Teori ketiga menyebutkan bahwa sumber perbuatan malpraktek adalah kelalaian
(negligence). Kelalaian yang menyebabkan sumber perbuatan yang dikategorikan dalam
malpraktek ini harus dapat dibuktikan adanya, selain itu kelalaian yang dimaksud harus
termasuk dalam kategori kelalaian yang berat (culpa lata). Untuk membuktikan hal yang
demikian ini tentu saja bukan merupakan tugas yang mudah bagi aparat penegak hukum.
Selain dikenal adanya beberapa teori tentang sumber perbuatan malpraktek, yang apabila
ditinjau dari kegunaan teori-teori tersebut tentu saja sangat berguna bagi pihak pasien dan
para aparat penegak hukum, karena denganteori-teori tersebut pasien dapat
mempergunakannya sebagai dasar suatu gugatan dan bagi aparat hukum dapat dijadikan
dasar untuk melakukan penuntutan. Ada juga teori yang dapat dijadikan pegangan untuk
mengadakan pembelaan apabila ia menghadapi tuntutan malpraktek. Teori-teori itu adalah:
a. Teori Kesediaan Untuk Menerima Resiko (Assumption Of Risk)
Teori ini mengatakan bahwa seorang tenaga kesehatan akan terlindung dari tuntutan
malpraktek, bila pasien memberikan izin atau persetujuan untuk melakukan suatu tindakan
medik dan menyatakan bersedia memikul segala resiko dan bahaya yang mungkin timbul
akibat tindakan medik tersebut. Teori ini mempunyai arti yang sangat besar bagi seorang
tenaga kesehatan, selama tindakan tenaga kesehatan itu bertujuan untuk indikasi medis.
b. Teori Pasien Ikut Berperan Dalam Kelalaian (Contributory Negligence)
Adalah kasus dimana tenaga kesehatan dan pasien dinyatakan oleh pengadilan sama-sama
melakukan kelalaian.
c. Perjanjian Membebaskan Dari Kesalahan (Exculpatory Contract)
Cara lain bagi tenaga kesehatan untuk melindungi diri dari tuntutan malpraktek adalah
dengan mengadakan suatu perjanjian atau kontrak khusus dengan penderita, yang berjanji
tidak akan menuntut tenaga kesehatan atau rumah sakit bila terjadi misalnya kelalaian
malpraktek.Teori pembelaan ini bersifat spekulasi karena berhasil tidaknya tenaga kesehatan
menggunakan pembelaannya, yang dalam hal ini berupa perjanjian khusus dengan pasien,
hasinya sangat tergantung pada penilaian pengadilan.
d. Peraturan Good Samaritan
Menurut teori ini,seorang tenaga kesehatan yang memberikan pertolongan gawat darurat
dengan tujuan murni (setulus hati) pada suatu peristiwa darurat dibebaskan dari tuntutan
hukum malpraktek kecuali jika terdapat indikasi terjadi suatu kelalaian yang sangat mencolok.
e. Pembebasan Atas Tuntutan (Releas)
Yaitu suatu kasus dimana pasien membebaskan tenaga kesehatan dari seluruh tuntutan
malpraktek, dan kedua belah pihak bersepakat untuk mengadakan penyelesaian bersama.
Teori pembelaan yang berupa pembebasan ini, hanya dapat dilaksanakan sepanjang
kesalahan tenaga kesehatan tersebut menyangkut tanggungjawab perdata (masuk kategori
hukum perdata), misalnya wanprestasi, sebab dalam kasus ini hanya melibatkan kedua belah
pihak yang saling mengadakan kontrak atau janji saja. Dalam hal ini apabila mereka ternyata
dapat bersepakat untuk menyelesaikan bersama dengan damai, itu lebih baik, karena sesuai
dengan tujuan yang hendak dicapai dalam penyelesaian kasus perdata, yaitu adanya suatu
perdamaian antara kedua belah pihak.Tetapi apabila kesalahan tenaga kesehatan itu
termasuk dalam kategori hukum pidana (tanggung jawab pidana) misalnya terjadi kelalaian
berat sehingga mengakibatkan meninggalnya pasien, maka teori ini tidak dapat diterapkan,
sebab bicara hukum pidana berarti bicara tentang hukum publik, yang menyangkut
kepentingan umum bersama. Oleh karena itu apabila telah terbukti tenaga kesehatan telah
melakukan malpraktek, maka hukum harus tetap diberlakukan padanya, karena kalau tidak,
berarti kita tidak mendidik kepada masyarakat pada umumnya untuk sadar terhadap hukum
yang berlaku, sehingga selanjutnya akan sangat sulit untuk menegakkan hukum itu sendiri.
Disamping itu, kalau teori ini diterima dalam kasus pidana dikhawatirkan tiap perbuatan
malpraktek seorang tenaga kesehatan tidak akan ada sanksi hukumnya, sehingga dapat
mengurangi tanggung jawab dan sikap hati-hatinya seorang tenaga kesehatan di dalam
menjalankan tugasnya.
f. Peraturan Mengenai Jangka Waktu Boleh Menuntut (Statute Of Limitation)
Menurut teori ini tuntutan malpraktek hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu,
yang biasanya relatif lebih pendek daripada tuntutan-tuntutan hukum yang lain.
g. Workmens Compensation
Bila seorang tenaga kesehatan dan pasien yang terlibat dalam suatu kasus malpraktek
keduanya bekerja pada suatu lembaga atau badan usaha yang sama, maka pasien tersebut
tidak akan memperoleh ganti rugi darikasus malpraktek yang dibuat oleh tenaga kesehatan
tersebut. Hal ini disebabkan menurut peraturan workmens compensation, semua pegawai
dan pekerja menerima ganti rugi bagi setiap kecelakaan yang terjadi di situ, dan tidak menjadi
persoalan kesalahan siapa dan apa sebenarnya penyebab cedera atau luka. Akan
tetapi walaupun dengan adanya teori-teori pembelaan tersebut, tidak berarti seorang tenaga
kesehatan boleh bertindak semaunya kepada pasien. Walaupun terdapat teori-teori
pembelaan tersebut, juga harus dilihat apakah tindakan tenaga kesehatan telah sesuai
dengan standar profesi. Apabila tindakan tenaga kesehatan tersebut tidak sesuai dengan
standar profesi, maka teori-teori pembelaan tersebut tidak dapat dijadikan alasan pembelaan
baginya. Misalnya pada peraturan good Samaritan yang menyebutkan bahwa seorang tenaga
kesehatan yang memberikan pertolongan gawat darurat pada peristiwa darurat dapat
dibebaskan dari tuntutan hukum malpraktek. Walaupun terdapat peraturan good samaritan
ini, seorang tenaga kesehatan dalam memberikan pertolongan gawat darurat pada peristiwa
darurat tetap harus memberikan pertolongannya dengan sepenuh hati berdasarkan
pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya. Apabila dalam memberikan pertolongan gawat
darurat, seorang tenaga kesehatan hanya memberikan pertolongan yang sekedarnya dan
tidak sungguh-sungguh dalam menggunakan pengetahuan dan keahliannya, jika terjadi
sesuatu hal yang membahayakan kesehatan atau nyawa orang yangditolongnya itu, maka
tenaga kesehatan tersebut tetap dapat dituntut secara hukum.
5. KESALAHAN MALPRAKTEK DARI SUDUT PANDANG ETIKA
Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga perawatan berlaku norma etika dan norma
hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah
diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang
etika disebut ethical malpracticedan dari sudut pandang hukum disebut yuridical
malpractice.Hal ini perlu difahami mengingat dalam profesi tenaga perawatan berlaku norma
etika dan norma hukum, sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain apa
yang dilanggar. Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar
menyangkut substansi, otoritas, tujuan dan sangsi, maka ukuran normatif yang dipakai untuk
menentukan adanya ethical malpracticeatau yuridical malpracticedengan sendirinya juga
berbeda.
Yang jelas tidak setiap ethical malpractice merupakan yuridical malpracticeakan tetapi semua
bentuk yuridical malpracticepasti merupakan ethical malpractice (Lord Chief Justice, 1893).
Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang
hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice, Civil malpractice dan Administrative
malpractice.
1. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala
perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni :
a. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela.
b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional), kecerobohan (reklessness) atau kealpaan (negligence).
Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional) misalnya melakukan euthanasia (pasal
344 KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu
(pasal 263 KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP).
Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya melakukan tindakan medis
tanpa persetujuan pasien informed consent.
Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati mengakibatkan
luka, cacat atau meninggalnya pasien, ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan
operasi. Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada
rumah sakit/sarana kesehatan.
2. Civil malpractice
Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah
disepakati (ingkar janji).Tindakan tenaga kesehatan yang dapat dikategorikan civil malpractice
antara lain:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat pula
dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. Dengan prinsip ini maka rumah
sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya
(tenaga kesehatan) selama tenaga kesehatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas
kewajibannya.
3. Administrative malpractice
Tenaga perawatan dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala tenaga
perawatan tersebut telah melanggar hukum administrasi.Perlu diketahui bahwa dalam
melakukan police power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai
ketentuan di bidang kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk
menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta
kewajiban tenaga perawatan.Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang
bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.
Dalam hal tenaga perawatan didakwa telah melakukan ciminal malpractice, harus dibuktikan
apakah perbuatan tenaga perawatan tersebut telah memenuhi unsur tidak pidanya yakni
Apakah perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang tercelab. Apakah
perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang salah (sengaja, ceroboh
atau adanya kealpaan).
Selanjutnya apabila tenaga perawatan dituduh telah melakukan kealpaan sehingga
mengakibatkan pasien meninggal dunia, menderita luka, maka yang harus dibuktikan adalah
adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan sikap batin berupa alpa atau
kurang hati-hati ataupun kurang praduga.
Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan
dua cara yakni :
1. Cara langsung
Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni :
a. Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga perawatan dengan pasien, tenaga perawatan haruslah
bertindak berdasarkan
1) Adanya indikasi medis
2) Bertindak secara hati-hati dan teliti
3) Bekerja sesuai standar profesi
4) Sudah ada informed consent.
b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)
Jika seorang tenaga perawatan melakukan asuhan keperawatan menyimpang dari apa yang
seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard
profesinya, maka tenaga perawatan tersebut dapat dipersalahkan.
c. Direct Causation (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)
Tenaga perawatan untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung)
antara penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya dan tidak ada
peristiwa atau tindakan sela diantaranya., dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. Hasil
(outcome) negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan tenaga perawatan. Sebagai
adagium dalam ilmu pengetahuan hukum, maka pembuktiannya adanya kesalahan
dibebankan/harus diberikan oleh si penggugat (pasien).

2. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien, yakni dengan
mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res
ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada
memenuhi kriteria:
a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai
b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan
c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada
contributory negligence.
Misalnya ada kasus saat tenaga perawatan akan mengganti/ memperbaiki kedudukan jarum
infus pasien bayi, saat menggunting perban ikut terpotong jari pasien tersebut .
Dalam hal ini jari yang putus dapat dijadikan fakta yang secara tidak langsung dapat
membuktikan kesalahan tenaga perawatan, karena:
a. Jari bayi tidak akan terpotong apabila tidak ada kelalaian tenaga perawatan.
b. Membetulkan jarum infus adalah merupakan/berada pada tanggung jawab perawat.
c. Pasien/bayi tidak mungkin dapat memberi andil akan kejadian tersebut.
Seperti dikemukakan di depan bahwa tidak setiap upaya kesehatan selalu dapat memberikan
kepuasan kepada pasien baik berupa kecacatan atau bahkan kematian. Malapetaka seperti ini
tidak mungkin dapat dihindari sama sekali. Yang perlu dikaji apakah malapetaka tersebut
merupakan akibat kesalahan perawat atau merupakan resiko tindakan, untuk selanjutnya
siapa yang harus bertanggung gugat apabila kerugian tersebut merupakan akibat kelalaian
tenaga perawatan.
Di dalam transaksi teraputik ada beberapa macam tanggung gugat, antara lain:
1. Contractual liability
Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban dari hubungan
kontraktual yang sudah disepakati. Di lapangan pengobatan, kewajiban yang harus
dilaksanakan adalah daya upaya maksimal, bukan keberhasilan, karena health care provider
baik tenaga kesehatan maupun rumah sakit hanya bertanggung jawab atas pelayanan
kesehatan yang tidak sesuai standar profesi/standar pelayanan.
2. Vicarius liability
Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang timbul atas kesalahan
yang dibuat oleh tenaga keperawatan yang ada dalam tanggung jawabnya (sub ordinate),
misalnya rumah sakit akan bertanggung gugat atas kerugian pasien yang diakibatkan kelalaian
perawat sebagai karyawannya.
3. Liability in tort
Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hukum (onrechtmatige
daad).Perbuatan melawan hukum tidak terbatas haya perbuatan yang melawan hukum,
kewajiban hukum baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, akan tetapi
termasuk juga yang berlawanan dengan kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang
patut dilakukan dalam pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda orang lain (Hogeraad
31 Januari 1919).
6. BEBERAPA CONTOH KESALAHAN PERAWAT
a. Pasien usia lanjut mengalami disorientasi pada saat berada di ruang perawatan. Perawat
tidak membuat rencana keperawatan guna memantau dan mempertahankan keamanan
pasien dengan memasang penghalang tempat tidur. Sebagai akibat disorientasi, pasien
kemudian terjatuh dari tempat tidur pada waktu malam hari dan pasien mengalami patah
tulang tungkai
b. Pada pasien pascabedah disarankan untuk melakukan ambulasi. Perawat secara drastis
menganjurkan pasien melakukan mobilisasi berjalan, padahal di saat itu pasien. mengalami
demam, denyut nadi cepat, dan mengeluli nyeri abdomen. Perawat melakukan ambulasi pada
pasien sesuai dengan rencana keperawafan yang telah dibuat tanpa mengkaji terlebih dahulu
kondisi pasien. Pasien kemudian bangun dan berjalan, pasien mengeluh pusing dan jatuh
sehingga mengalami trauma kepala.
7. MALPRAKTEK DAN TANGGUNG JAWABNYA
Dalam beberapa tahun belakangan ini yang dirasakan mencemaskan oleh dunia
perumahsakitan di Indonesia adalah meningkatnya tuntutan dan gugatan malpraktik (dengan
jumlah ganti rugi yang semakin hari semakin spektakuler), utamanya sejak diberlakukannya
UU no.8/1999 tentang perlindungan konsumen. Sebelumnya, RS dianggap sebagai lembaga
sosial kebal hukum berdasarkan doctrine of charitable immunity, sebab pertimbangannya,
menghukum RS membayar gantirugi sama artinya dengan mengurangi assetnya, yang pada
gilirannya akan mengurangi kemampuannya untuk menolong masyarakat banyak.
Perubahan paradigma tersebut terjadi sejak kasus Darling vs Charleston Community Memorial
Hospital (1965), yakni kasus mula pertama yang mempersamakan institusi RS sebagai person
(subjek hukum) sehingga oleh karenanya dapat dijadikan target gugatan atas kinerjanya yang
merugikan pasien. Pertimbangannya antara lain karena banyak RS mulai melupakan fungsi
sosialnya serta dikelola sebagaimana layaknya sebuah industri dengan manajemen modern,
lengkap dengan manajemen risiko. Dan dengan manajemen risiko tersebut maka sudah
seharusnya apabila RS mulai menempatkan gugatan ganti rugi sebagai salah satu bentuk risiko
bisnisnya serta memperhitungkannya untuk dipikul sendiri risiko itu ataukah akan dialihkan
kepada perusahaan asuransimelalui program asuransi malpraktik.
Situasi krisis yang mencemaskan tersebut jelas tidak menguntungkan bagi pengelolaan dan
pengembangan RS dan oleh karenanya perlu diwaspadai. Tetapi yang paling penting bagi
setiap pengelola dan pemilik RS adalah memahami lebih dahulu bahwa sebelum gugatan
malpraktik dapat dibuktikan maka setiap sengketa yang muncul antara health care receiver
dan health care provider baru boleh disebut sebagai konflik akibat adanya ketidaksesuaian
logika atas sesuatu masalah; utamanya atas terjadinya adverse event (injury caused by
medical management rather than the underlying condition of the patient). Konflik diartikan
sebagai ketidaksesuaian paham atas situasi tentang pokok-pokok pikiran tertentu atau karena
adanya antagonisme-antagonisme emosional. Maka berbagai konflik yang melanda dunia
perumahsakitan kita sekarang ini tidak harus dipandang sebagai hal yang luar biasa sehingga
tidak perlu disikapi secara tidak proporsional. Dilihat dari sisi positifnya justru konflik atau
sengketa dapat meningkatkan kreatifitas, inovasi, intensitas upaya, kohesi kelompok serta
mengurangi ketegangan. Dunia perumahsakitan juga harus merasa risih dan bersikap jujur
karena pada kenyataannya masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam melaksanakan
tatakelola klinik yang baik (good clinical governance), disamping belum secara sempurna
mampu memenuhi prinsip-prinsip dalam merancang sistem pelayanan kesehatan yang lebih
aman (safer health care system) guna mencegah atau setidak-tidaknya mengurangi terjadinya
adverse events.
Konflik itu sendiri sebetulnya hanya akan terjadi kalau ada prakondisi atau predisposing
factor, misalnya berupa adverse events (yang pada hakekatnya merupakan kesenjangan
antara harapan pasien ketika memilih RS dengan kenyataan yang diperolehnya menyusul
dilakukannya upaya medis). Sedangkan trigger factors-nya antara lain karena adanya
perbedaan persepsi, komunikasi ambigius atau gaya individual yang bisa datang dari pihak
dokter sendiri (arogan, ketus, enggan memberikan informasi dan sebagainya) atau dari pihak
pasien (misalnya chronic complainer atau sikap temperamental). Tarif yang tinggi juga dapat
menjadi pemicu munculnya klaim atas pelayanan yang kurang sempurna. Dari pengalaman
saya sebagai kosultan di salah satu RS swasta diperoleh temuan bahwa tidak jarang
pemicunya justru datang dari penilaian spekulatif yang bersifat negatip atas terjadinya
adverse events dari teman sejawat dokter (yang barangkali saja ingin mengambil keuntungan,
misalnya agar oleh pasien dianggap lebih hebat atau lebih pandai).
8. BEBERAPA PERMASALAHAN YANG DIHADAPI OLEH PROFESI KEPERAWATAN DI
INDONESIA
Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk dan sebab tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia melalui pengkajian mendasar tentang hal-hal yang
melatarbelakanginya, serta mempelajari berbagai bentuk upaya untuk mencapai kebutuhan
dasar tersebut melalui pemanfaatan semua sumber yang ada dan potensial. Bidang garapan
dan fenomena yang menjadi objek studi ilmu keperawatan adalah penyimpangan atau tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (bio-psiko-sosio-spiritual). Oleh karena objeknya
adalah manusia dalam segala tingkatannya, dan manusia adalah makhluk hidup yang sampai
saat ini, belum semua aspeknya terungkap melalui ilmu pengetahuan, berarti pula perawat
senantiasa dihadapkan pada kondisi pekerjaan yang penuh dengan risiko. Oleh karenanya,
perawat dituntut pada tingkat kemampuan profesional agar ia mampu memberikan
pelayanan yang berkualitas dan memuaskan.
Hal ini bermakna bahwa pelayanan keperawatan yang profesional hanya dapat. dimungkinkan
bila tenaga keperawatan yang bertanggung jawab memberikan pelayanan keperawatan.
Tenaga keperawatan yang profesional ditandai dengan pengetahuan yang mendalam dan
sistematis, keterampilan teknis dan kiat yang diperoleh melalui latihan lama dan teliti, serta
pelayanan/asuhan pada yang memerlukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan
teknis tersebut dengan berpedoman pada filsafat moral yang diyakini, yaitu etika profesi. Di
Indonesia, kategori pendidikan yang menghasilkan tenaga keperawatan profesional diperoleh
dan jenjang pendidikan tinggi yang ada saat ini yaitu Akademi Keperawatan (jenjang Diploma
III) dan program pendidikan sarjana keperawatan/Ners.
Undang-undang No. 23 Tahun 1992 telah memberikan pengakuan secara jelas terhadap
tenaga keperawatan sebagai tenaga profesional sebagaimana pada Pasal 32 ayat (4), Pasal 53
ayat (I j dan ayat (2)). Selanjutnya, pada ayat (4) disebutkan bahwa ketentuan mengenai
standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah. Banyak kasus yang terlanjur diajukan ke pengadilan sebelum ditangani
oleh organisasi profesi, misalnya Majelis Kode Etik Keperawatan, yang terkadang bukan
merupakan. pelanggaran hukum (perdata/pidana), tetapi hanya merupakan pelanggaran etik
profesi semata, sebagaimana yang telah diatur dalam AD/ART PPNI (Majelis Kode Etik
Keperawatan tingkat Pusat baru dibentuk pada tanggal 26 Januari 2002) Sebagai suatu
profesi, PPNI memiliki kode etik keperawatan yang ditinjau setiap 5 tahun dalam MUNAS
PPNI. Berdasarkan keputusan MUNAS VI PPNI No. 09/MUNAS VI/PPNI/2000 tentang Kode Etik
Keperawatan Indonesia.
Sanksi administratif atau tindakan disiplin kepada tenaga kesehatan, terrnasuk tenaga
keperawatan, karena dianggap melakukan kesalahan atau kelalaian dalam menerapkan
standar profesi dan memberikan pelayanan kesehatan diberikan oleh pejabat yang
berwewenang (organisasi di tempat tenaga keperawatan tersebut bekerja) atas dasar
pertimbangan yang diajukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK). Majelis ini
dibentuk dengan Kepres No. 56 Tahun 1995, yang terdiri dari MDTK tingkat pusat dan MDTK
tingkat provinsi.
PPNI, terutama di tingkat provinsi dan kabupaten/kota belum berperan sebagaimana
layaknya organisasi profesi. Keberadaan PPNI di daerah tidak dirasakan sebagai suatu
kebutuhan dalam mempertahankan kemampuan profesional anggotanya. Hal ini terkadang
dipertanyakan oleh para anggotanya.

2. BAB I
3. PENDAHULUAN
4. Perkembangan keperawatan di Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat pesat
menuju perkembangan keperawatan sebagai profesi. Proses ini merupakan suatu
perubahan yang sangat mendasar dan konsepsional, yang mencakup seluruh aspek
keperawatan baik aspek pelayanan atau aspek-aspek pendidikan, pengembangan dan
pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kehidupan keprofesian dalam
keperawatan.
5. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 telah memberikan pengakuan secara jelas terhadap
tenaga keperawatan sebagai tenaga profesional sebagaimana pada Pasal 32 ayat (4),
Pasal 53 ayat (I j dan ayat (2)). Selanjutnya, pada ayat (4) disebutkan bahwa ketentuan
mengenai standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
6. Perkembangan keperawatan menuju keperawatan profesional sebagai profesi di
pengaruhi oleh berbagai perubahan, perubahan ini sebagai akibat tekanan globalisasi
yang juga menyentuh perkembangan keperawatan professional antara lain adanya
tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan yang pada
hakekatnya harus diimplementasikan pada perkembangan keperawatan professional di
Indonesia. Disamping itu dipicu juga adanya UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
dan UU No. 8 tahun 1999 tentang perkembangan konsumen sebagai akibat kondisi
sosial ekonomi yang semakin baik, termasuk latar belakang pendidikan yang semakin
tinggi yang berdampak pada tuntutan pelayanan keperawatan yang semakin
berkualitas.
7. Jaminan pelayanan keperawatan yang berkualitas hanya dapat diperoleh dari tenaga
keperawatan yang profesional. Dalam konsep profesi terkait erat dengan 3 nilai sosial
yaitu:
1. Pengetahuan yang mendalam dan sistematis.
2. Ketrampilan teknis dan kiat yang diperoleh melalui latihan yang lama dan teliti.
3. Pelayanan atau asuhan kepada yang memerlukan, berdasarkan ilmu pengetahuan dan
ketrampilan teknis tersebut dengan berpedoman pada filsafat moral yang diyakini yaitu
Etika Profesi.
8. Dalam profesi keperawatan tentunya berpedoman pada etika profesi keperawatan yang
dituangkan dalam kode etik keperawatan. Sebagai suatu profesi, PPNI memiliki kode
etik keperawatan yang ditinjau setiap 5 tahun dalam MUNAS PPNI. Berdasarkan
keputusan MUNAS VI PPNI No. 09/MUNAS VI/PPNI/2000 tentang Kode Etik
Keperawatan Indonesia.
Bidang Etika keperawatan sudah menjadi tanggung jawab organisasi keprofesian untuk
mengembangkan jaminan pelayanan keperawatan yang berkualitas dapat diperoleh
oleh tenaga keperawatan yang professional.
9. Dalam menjalankan profesinya sebagai tenaga perawat professional senantiasa
memperhatikan etika keperawatan yang mencakup tanggung jawab perawat terhadap
klien ( individu, keluarga, dan masyarakat ).selain itu , dalam memberikan pelayanan
keperawatan yang berkualitas tentunya mengacu pada standar praktek keperawatan
yang merupakan komitmen profesi keperawatan dalam melindungi masyarakat
terhadap praktek yang dilakukan oleh anggota profesi dalam hal ini perawat.
10. Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, perawat bisa saja melakukan kesalahan yang
dapat merugikan klien sebagai penerima asuhan keperawatan,bahkan bisa
mengakibatkan kecacatan dan lebih parah lagi mengakibatkan kematian, terutama bila
pemberian asuhan keperawatan tidak sesuai dengan standar praktek
keperawatan.kejadian ini di kenal dengan malpraktek.
11. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga kesehatan berlaku norma etika dan
norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah
seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan
dari sudut pandang etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum
disebut yuridical malpractice. Hal ini perlu dipahami mengingat dalam profesi tenaga
perawatan berlaku norma etika dan norma hukum, sehingga apabila ada kesalahan
praktek perlu dilihat domain apa yang dilanggar.
Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar menyangkut
substansi, otoritas, tujuan dan sangsi, maka ukuran normatif yang dipakai untuk
menentukan adanya ethical malpractice atau yuridical malpractice dengan sendirinya
juga berbeda.
12. Yang jelas tidak setiap ethical malpractice merupakan yuridical malpractice akan tetapi
semua bentuk yuridical malpractice pasti merupakan ethical malpractice.
untuk menghindari terjadinya malpraktek ini, perlu di adakan kajian-kajian etika dan
hukum yang menyangkut malpraktek khususnya dalam bidang keperawatan sehingga
sebagai perawat nantinya dalam menjalankan praktek keperawatan senantiasa
memperhatikan kedua aspek tersebut
13.
14. BAB II
15. PEMBAHASAN
16.
17. A. DEFINISI MALPRAKTEK
18. Malpraktek mempakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu berkonotasi
yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan praktek mempunyai
arti pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktek berarti pelaksanaan atau tindakan
yang salah. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut
dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan
suatu profesi.
Sedangkan definisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari seorang dokter
atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam
mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang
yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama. Malpraktek juga dapat diartikan
sebagai tidak terpenuhinya perwujudan hak-hak masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan yang baik, yang biasa terjadi dan dilakukan oleh oknum yang tidak mau
mematuhi aturan yang ada karena tidak memberlakukan prinsip-prinsip transparansi
atau keterbukaan,dalam arti, harus menceritakan secarajelas tentang pelayanan yang
diberikan kepada konsumen, baik pelayanan kesehatan maupun pelayanan jasa lainnya
yang diberikan.
Dalam memberikan pelayanan wajib bagi pemberi jasa untuk menginformasikan
kepada konsumen secara lengkap dan komprehensif semaksimal mungkin. Namun,
penyalahartian malpraktek biasanya terjadi karena ketidaksamaan persepsi tentang
malpraktek.Guwandi (1994) mendefinisikan malpraktik sebagai kelalaian dari seorang
dokter atau perawat untuk menerapkan tingkat keterampilan dan pengetahuannya di
dalam memberikan pelayanah pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang
lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka di lingkungan
wilayah yang sama.
Ellis dan Hartley (1998) mengungkapkan bahwa malpraktik merupakan batasan yang
spesifik dari kelalaian (negligence) yang ditujukan pada seseorang yang telah terlatih
atau berpendidikan yang menunjukkan kinerjanya sesuai bidang tugas/pekerjaannya.
Ada dua istilah yang sering dibiearakan secara bersamaan dalam kaitannya dengan
malpraktik yaitu kelalaian dan malpratik itu sendiri. Kelalaian adalah melakukan
sesuatu dibawah standar yang ditetapkan oleh aturan/hukum guna, melindungi orang
lain yang bertentangan dengan tindakan-tindakan yaag tidak beralasan dan berisiko
melakukan kesalahan (Keeton, 1984 dalam Leahy dan Kizilay, 1998).
Malpraktik. sangat spesifik dan terkait dengan status profesional dan pemberi
pelayanan dan standar pelayanan profesional. Malpraktik adalah kegagalan seorang
profesional (misalnya, dokter dan perawat) untuk melakukan praktik sesuai dengan
standar profesi yang berlaku bagi seseorang yang karena memiliki keterampilan dan
pendidikan (Vestal, K.W, 1995). Malpraktik lebih luas daripada negligence karena
selain mencakup arti kelalaian, istilah malpraktik pun mencakup tindakan-tindakan
yang dilakukan dengan sengaja (criminal malpractice) dan melanggar undang-undang.
Di dalam arti kesengajaan tersirat adanya motif (guilty mind) sehingga tuntutannya
dapat bersifat perdata atau pidana.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan malpraktik adalah :
a. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang tenaga
kesehatan;
b. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan kewajibannya.
(negligence); dan
c. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan perundang-
undangan.
19.
20. B. MALPRAKTEK DALAM KEPERAWATAN
21. Banyak kemungkinan yang dapat memicu perawat melakukan malpraktik. Malpraktik
lebih spesifik dan terkait dengan status profesional seseorang, misalnya perawat,
dokter, atau penasihat hukum.
Vestal, K.W. (l995) mengatakan bahwa untuk mengatakan secara pasti malpraktik,
apabila pengguagat dapat menunujukkan hal-hal dibawah ini :
a. Duty Pada saat terjadinya cedera, terkait dengan kewajibannya yaitu, kewajiban
mempergunakan segala ilmu fan kepandaiannya untuk menyembuhkan atau setidak-
tidaknya meringankan beban penderitaan pasiennya berdasarkan standar profesi.
Hubungan perawat-klien menunjukkan, bahwa melakukan kewajiban berdasarkan
standar keperawatan.
b. Breach of the duty Pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajibannya, artinya
menyimpang dari apa yang seharusnya dilalaikan menurut standar profesinya. Contoh
pelanggaran yang terjadi terhadap pasien antara lain, kegagalan dalam memenuhi
standar keperawatan yang ditetapkan sebagai kebijakan rumah sakit.
c. Injury Seseorang mengalami cedera (injury) atau kemsakan (damage) yang dapat
dituntut secara hukum, misalnya pasien mengalami cedera sebagai akibat pelanggaran.
Kelalalian nyeri, adanya penderitaan atau stres emosi dapat dipertimbangkan sebagai,
akibat cedera jika terkait dengan cedera fisik.
d. Proximate caused Pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan atau terk
dengan cedera yang dialami pasien. Misalnya, cedera yang terjadi secara langsung
berhubungan. dengan pelanggaran kewajiban perawat terhadap pasien).
22. Sebagai penggugat, seseorang harus mampu menunjukkan bukti pada setiap elemen
dari keempat elemen di atas. Jika semua elemen itu dapat dibuktikan, hal ini
menunjukkan bahwa telah terjadi malpraktik dan perawat berada pada tuntutan
malpraktik.
23. Bidang Pekerjaan Perawat Yang Berisiko Melakakan Kesalahan :
Caffee (1991) dalam Vestal, K.W. (1995) mengidentifikasi 3 area yang memungkinkan
perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian keperawatan
(assessment errors), perencanaan keperawatan (planning errors), dan tindakan
intervensi keperawatan (intervention errors). Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan
sebagai berikut :
a. Assessment errors, termasuk kegagalan mengumpulkan data atau informasi tentang
pasien secara adekuat atau kegagalan mengidentifikasi informasi yang diperlukan,
seperti data hasil pemeriksaan laboratorium, tanda-tanda vital, atau keluhan pasien
yang membutuhkan tindakan segera. Kegagalan dalam pengumpulan data akan
berdampak pada ketidaktepatan diagnosis keperawatan dan lebih lanjut akan
mengakibatkan kesalahan atau ketidaktepatan dalam tindakan. Untuk menghindari
kesalahan ini, perawat seharusnya dapat mengumpulkan data dasar secara
komprehensif dan mendasar.
b. Planning errors, termasuk hal-hal berikut :
1. Kegagalan mencatat masalah pasien dan kelalaian menuliskannya dalam rencana
keperawatan.
2. Kegagalan mengkomunikaskan secara efektif rencana keperawatan yang telah
dibuat, misalnya menggunakan bahasa dalam rencana keperawatan yang tidak
dimahami perawat lain dengan pasti.
3. Kegagalan memberikan asuhan keperawatan secara berkelanjutan yang disebabkan
kurangnya informasi yang diperoleh dari rencana keperawatan.
4. Kegagalan memberikan instruksi yang dapat dimengerti oleh pasien. Untuk
mencegah kesalahan tersebut, jangan hanva menggunakan perkiraan dalam membuat
rencana keperawatan tanpa mempertimbangkannya dengan baik. Seharusnya, dalam
penulisan harus memakai pertimbangan yang jelas berdasarkan masalah pasien. Bila
dianggap perlu, lakukan modifikasi rencana berdasarkan data baru yang terkumpul.
Rencana harus realistis berdasarkan standar yang telah ditetapkan, termasuk
pertimbangan yang diberikan oleh pasien. Komunikasikan secara jelas baik secara lisan
maupun dengan tulisan. Lakukan tindakan berdasarkan rencana dan lakukan secara
hati-hati instruksi yang ada. Setiap pendapat perlu divalidasi dengan teliti.
c. Intervention errors, termasuk kegagalan menginteipretasikan dan melaksanakan
tindakan kolaborasi, kegagalan melakukan asuhan keperawatan secara hati-hati,
kegagalan mengikuti/mencatat order/pesan dari dokter atau dari penyelia. Kesalahan
pada tindakan keperawatan yang sering terjadi adalah kesalahan dalam membaca
pesan/order, mengidentifikasi pasien sebelum dilakukan tindakan/prosedur,
memberikan obat, dan terapi pembatasan (restrictive therapy). Dari seluruh kegiatan ini
yang paling berbahaya tampaknya pada tindakan pemberian obat. Oleh karena itu,
perlu adanya komunikasi yang baik di antara anggota tim kesehatan maupun terhadap
pasien dan keluarganya.
Untuk menghindari kesalahan ini,, sebaiknya rumah sakit tetap melaksanakan program
pendidikan berkelanjutan (Continuing Nursing Education).
24. Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai
bidang hukum yang dilanggar, yaitu :
a. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala
perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana,yaitu :
1. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela.
2. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional) misalnya melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia
jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263 KUHP),
melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP). Kecerobohan (reklessness)
misalnya melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent. Atau
kealpaan (negligence) misalnya kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau
meninggalnya pasien, ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi.
Pertanggungjawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau
kepada badan yang memberikan sarana pelayananjasa tempatnya bernaung.
b. Civil malpractice
Seorang tenaga jasa akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah
disepakati (ingkar janji). Tindakan tenaga jasa yang dapat dikategorikan civil
malpractice antara lain :
1. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
2. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya.
3. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna.
4. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Pertanggungjawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan
dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle ofvicarius liability. Dengan
prinsip ini maka badan yang menyediakan sarana jasa dapat bertanggung gugat atas
kesalahan yang dilakukan karyawannya selama orang tersebut dalam rangka
melaksanakan tugas kewajibannya.
c. Administrative malpractice
Tenaga jasa dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala orang
tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan
police power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di
bidang kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk
menjalankan profesinya (Surat Ijin Kena, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta
kewajiban tenaga perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan
yang bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.
25.
26. C. CONTOH MALPRAKTEK KEPERAWATAN DAN KAJIAN ETIKA
HUKUM
27. Pasien usia lanjut mengalami disorientasi pada saat berada di ruang perawatan. Perawat
tidak membuat rencana keperawatan guna memantau dan mempertahankan keamanan
pasien dengan memasang penghalang tempat tidur. Sebagai akibat disorientasi, pasien
kemudian terjatuh dari tempat tidur pada waktu malam hari dan pasien mengalami
patah tulang tungkai
28. Dari kasus diatas , perawat telah melanggar etika keperawatan yang telah dituangkan
dalam kode etik keperawatan yang disusun oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia
dalam Musyawarah Nasionalnya di Jakarta pada tanggal 29 Nopember 1989 khususnya
pada Bab I, pasal 1, yang menjelaskan tanggung jawab perawat terhadap klien
(individu, keluarga dan masyarakat).dimana perawat tersebut tidak melaksanakan
tanggung jawabnya terhadap klien dengan tidak membuat rencana keperawatan guna
memantau dan mempertahankan kemanan pasien dengan tidak memasang penghalang
tempat tidur.
29. Selain itu perawat tersebut juga melanggar bab II pasal V,yang bunyinya
Mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien dalam melaksanakan tugas, serta
matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih-tugaskan
tanggung jawab yang ada hubungan dengan keperawatan dimana ia tidak
mengutamakan keselamatan kliennya sehingga mengakibatkan kliennya terjatuh dari
tempat tidur dan mengalami patah tungkai.
30. Disamping itu perawat juga tidak melaksanakan kewajibannya sebagai perawat dalam
hal Memberikan pelayanan/asuhan sesuai standar profesi/batas kewenangan.
31. Dari kasus tersebut perawat telah melakukan kelalaian yang mengakibatkan kerugian
seperti patah tulang tungkai sehingga bisa dikategorikan sebagai malpraktek yang
termasuk ke dalam criminal malpractice bersifat neglegence yang dapat dijerat hokum
antara lain :
32. 1. Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP, pasal-pasal karena lalai menyebabkan
mati atau luka-luka berat.Pasal 359 KUHP, karena kelalaian menyebabkan orang mati
:Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan mati-nya orang lain, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.
33. 2. Pasal 360 KUHP, karena kelalaian menyebakan luka berat:Ayat (1) Barangsiapa
karena kealpaannya menyebakan orang lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.Ayat (2)
Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa
sehinga menimbulkan penyakit atau alangan menjalankan pekerjaan, jabatan atau
pencaharian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.
34. 3. Pasal 361 KUHP, karena kelalaian dalam melakukan jabatan atau pekerjaan
(misalnya: dokter, bidan, apoteker, sopir, masinis dan Iain-lain) apabila melalaikan
peraturan-peraturan pekerjaannya hingga mengakibatkan mati atau luka berat, maka
mendapat hukuman yang lebih berat pula.Pasal 361 KUHP menyatakan:Jika kejahatan
yang diterangkan dalam bab ini di-lakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau
pencaharian, maka pidana ditambah dengan pertiga, dan yang bersalah dapat dicabut
haknya untuk menjalankan pencaharian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim
dapat memerintahkan supaya putusnya di-umumkan.Pertanggung jawaban didepan
hukum pada criminal malpractice adalah bersifat individual/personal dan oleh sebab itu
tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan.
35. Selain pasal tersebut diatas, perawat tersebut juga telah melanggar Pasal 54 :
36. (1). Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melak-sanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin.
37. (2). Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana yang dimaksud
dalam ayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.
38.
39. BAB III
40. PENUTUP
41.
42. A. KESIMPULAN
43. - Malpraktik bersifat sangat kompleks
44. - Perawat diperhadapkan pada tuntutan pelayanan profesional.
45. - Banyak kemungkinan yang dapat memicu perawat melakukan malpraktik. Malpraktik
lebih spesifik dan terkait dengan status profesional seseorang, misalnya perawat,
dokter, atau penasihat hokum
46. - untuk mengatakan secara pasti malpraktik, apabila pengguagat dapat menunujukkan
hal-hal dibawah ini :
a. Duty Pada saat terjadinya cedera, terkait dengan
kewajibannya yaitu,
kewajiban mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya untuk menyembuhkan atau
setidak-tidaknya meringankan beban penderitaan pasiennya berdasarkan standar
profesi.
47. b. Breach of the duty Pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajibannya, artinya
menyimpang dari apa yang seharusnya dilalaikan menurut standar profesinya.
c. Injury Seseorang mengalami cedera (injury) atau kerusakan (damage) yang dapat
dituntut secara hukum
d. Proximate caused Pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan atau terk
dengan cedera yang dialami pasien.
48. - Bidang Pekerjaan Perawat Yang Berisiko Melakakan Kesalahan yaitu tahap
pengkajian keperawatan (assessment errors), perencanaan keperawatan (planning
errors), dan tindakan intervensi keperawatan (intervention errors).
49. - yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar,
yaitu :
a. Criminal malpractice
50. b. Civil malpractice
51. c. Administrative malpractice
52.
53. B. SARAN
54. - dalam memberikan pelayanan keperawatan , hendaknya berpedoman pada kode etik
keperawatan dan mengacu pada standar praktek keperawatan
55. - perawat diharapkan mampu mengidentifikasi 3 area yang memungkinkan perawat
berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian keperawatan (assessment errors),
perencanaan keperawatan (planning errors), dan tindakan intervensi keperawatan
(intervention errors) sehigga nantinya dapat menghindari kesalahan yang dapat terjadi
56. - perawat harus memiliki kredibilitas tinggi dan senantiasa meningkatkan
kemampuannya untuk mencegah terjadinya malpraktek