Anda di halaman 1dari 16

MALPRAKTEK DALAM KEPERAWATAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika & Hukum

Disusun Oleh :
Dicky Budiman

NPM 220110140187

Efi Mulyati

NPM 220110140198

Erlin Marlinda

NPM 220110140203

Poppy Satria Dewi

NPM 220110140214

Rizal Eka Kurniawan

NPM 220110140219

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas izin-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah inii yang diberi judul MALPRAKTEK DALAM
KEPERAWATAN
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut memberikan
bantuan dan dukungan kepada penulis dalam proses pembuatan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi yang posistif kepada
semua pihak yang berkepentingan. Tak lupa penulis mengharapkan kritik dan saran untuk
kemajuan bersama.
Bandung, November 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................1
1.1

Latar Belakang.........................................................................................................1

1.2

Tujuan Penulisan.....................................................................................................2

BAB II MALPRAKTEK DALAM KEPERAWATAN.........................................................3


2.1

Kelalaian..................................................................................................................3

2.2

Malpraktek...............................................................................................................4

2.3

Jenis-Jenis Malpraktek............................................................................................6

2.3.1

Criminal Malpractice.......................................................................................6

2.3.2

Civil Malpractice..............................................................................................6

2.3.3
2.4

Administrative Malpractice..............................................................................7

Malpraktek Dalam Keperawatan.............................................................................7

2.4.1

Assessment Errors............................................................................................7

2.4.2

Planning Errors.................................................................................................7

2.4.3

Intervention Errors...........................................................................................8

2.5

Kajian Etika Dan Hukum Terhadap Malpraktek Keperawatan...............................8

2.6

Upaya Pencegahan Malpraktek...............................................................................9

2.6.1

Kesadaran Diri (Self-Awareness).....................................................................9

2.6.2

Beradaptasi Terhadap Tugas Yang Diemban....................................................9

2.6.3

Mengikuti Kebijakan Dan Prosedur Yang Ditetapkan.....................................9

2.6.4

Mengevaluasi Kebijakan Dan Prosedur Yang Berlaku....................................9

2.6.5

Pendokumentasian..........................................................................................10

2.7

Contoh Kasus.........................................................................................................11

2.8

Pembahasan Kasus.................................................................................................11

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................................13


3.1

Kesimpulan............................................................................................................13

3.2

Saran......................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perkembangan keperawatan menuju keperawatan profesional sebagai profesi di

pengaruhi oleh berbagai perubahan, perubahan ini sebagai akibat tekanan globalisasi yang
juga menyentuh perkembangan keperawatan profesional antara lain adanya tekanan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan yang pada hakekatnya harus
diimplementasikan pada perkembangan keperawatan professional di Indonesia. Disamping
itu dipicu juga adanya UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan UU No. 8 tahun 1999
tentang perkembangan konsumen sebagai akibat kondisi sosial ekonomi yang semakin
baik, termasuk latar belakang pendidikan yang semakin tinggi yang berdampak pada
tuntutan pelayanan keperawatan yang semakin berkualitas.

Dalam profesi keperawatan tentunya berpedoman pada etika profesi keperawatan


yang dituangkan dalam kode etik keperawatan. Sebagai suatu profesi, PPNI memiliki kode
etik keperawatan yang ditinjau setiap 5 tahun dalam MUNAS PPNI. Berdasarkan
keputusan MUNAS VI PPNI No. 09/MUNAS VI/PPNI/2000 tentang Kode Etik
Keperawatan Indonesia.
Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, perawat bisa saja melakukan kesalahan
yang dapat merugikan klien sebagai penerima asuhan keperawatan,bahkan bisa
mengakibatkan kecacatan dan lebih parah lagi mengakibatkan kematian, terutama bila
pemberian asuhan keperawatan tidak sesuai dengan standar praktek keperawatan.kejadian
ini di kenal dengan malpraktek. Dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga kesehatan
berlaku norma etika dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya
kesalahan praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma
tersebut. Kesalahan dari sudut pandang etika disebut ethical malpractice dan dari sudut
pandang hukum disebut yuridical malpractice. Hal ini perlu dipahami mengingat dalam
profesi tenaga perawatan berlaku norma etika dan norma hukum, sehingga apabila ada
kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang dilanggar. Karena antara etika dan hukum
ada perbedaan-perbedaan yang mendasar menyangkut substansi, otoritas, tujuan dan
sangsi, maka ukuran normatif yang dipakai untuk menentukan adanya ethical malpractice
atau yuridical malpractice dengan sendirinya juga berbeda.
Tidak setiap ethical malpractice merupakan yuridical malpractice akan tetapi semua
bentuk yuridical malpractice pasti merupakan ethical malpractice.
untuk menghindari terjadinya malpraktek ini, perlu di adakan kajian-kajian etika dan
hukum yang menyangkut malpraktek khususnya dalam bidang keperawatan sehingga
sebagai perawat nantinya dalam menjalankan praktek keperawatan senantiasa
memperhatikan kedua aspek tersebut

1.2

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian malpraktek


2. Untuk mengetahui pengertian malpraktek dalam keperawatan berikut contohnya
3. Untuk mengetahui dasar hukum yang berkaitan dengan malpraktek
4. Untuk mengetahui bagaimana cara mencegah terjadinya malpraktek

BAB II
MALPRAKTEK DALAM KEPERAWATAN

Terdapat dua istilah yang sering dibicarakan secara bersamaan dalam kaitan
malpraktek, yaitu kelalaian (Negligence) dan malpaktek (Malpractice) itu sendiri.

2.1

Kelalaian
Kelalaian berarti melakukan sesuatu di bawah standar yang ditetapkan oleh

aturan/hukum atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak beralasan dan berisiko


melakukan kesalahan (Keeton, 1998). Hanafiah dan Amir (1999) mengatakan bahwa
kelalaian adalah sikap kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan
sikap hati-hatinya melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan apa yang
seseorang dengan sikap hati-hatinya tidak akan melakukannya. Sementara Guwandi (1994)
mengatakan bahwa kelalaian adalah kegagalan untuk melakukan sesuatu yang umumnya
seseorang yang wajar dan hati-hati akan melakukannya di dalam keadaan tersebut.
Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian tersebut
tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat
menerimanya (Hanafiah dan Amir, 1999). Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian
materi, mencelakakan bahkan merenggut nyawa orang lain, maka ini ini diklasifikasikan
sebagai kelalaian berat (culpa lata), serius dan kriminal.
Sampurno (2005), menyampaikan bahwa suatu perbuatan atau sikap tenaga
kesehatan dianggap lalai, bila memenuhi 4 unsur, yaitu:
1.

Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan atau untuk tidak
melakukan tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi dan kondisi tertentu.

2.

Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban

3.

Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai
kerugian akibat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan.

4.

Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata, dalam hal ini harus
terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian
yang setidaknya menurunkan Proximate cause
Dari beberapa pengertian di atas dapat difahami bahwa kelalaian merupakan bentuk

ketidaksengajaan, kurang hati-hati, kurang peduli dengan kepentingan orang lain, namun
akibat yang ditimbulkan bukan merupakan tujuannya.

2.2

Malpraktek
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu

berkonotasi yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan praktek
mempunyai arti pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktek berarti pelaksanaan atau
tindakan yang salah. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut
dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan
suatu profesi.
Sedangkan definisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari seorang
dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan
dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau
orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama. Malpraktek juga dapat
diartikan sebagai tidak terpenuhinya perwujudan hak-hak masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan yang baik, yang biasa terjadi dan dilakukan oleh oknum yang tidak mau
mematuhi aturan yang ada karena tidak memberlakukan prinsip-prinsip transparansi atau
keterbukaan,dalam arti harus menceritakan secara jelas tentang pelayanan yang diberikan
kepada konsumen, baik pelayanan kesehatan maupun pelayanan jasa lainnya yang
diberikan.
Malpraktek adalah kegagalan seorang profesional untuk melakukan sesuatu sesuai
dengan standar profesi yang berlaku bagi seseorang karena memiliki keterampilan dan
pendidikan (Vestal, K.W,1995)
Hal serupa diutarakan oleh J. Guwandi dengan mengutip Blacks Law Dictionary,
Malpraktek adalah, setiap sikap tindak yang salah, kekurangan keterampilan dalam
ukuran tingkat yang tidak wajar. Istilah ini umumnya dipergunakan terhadap sikap tindak
dari para dokter, pengacara dan akuntan. Kegagalan untuk memberikan pelayanan
profesional dan melakukan pada ukuran tingkat keterampilan dan kepandaian yang wajar
di dalam masyarakatnya oleh teman sejawat rata-rata dari profesi itu, sehingga
mengakibatkan luka, kehilangan atau kerugian pada penerima pelayanan tersebut yang
cenderung menaruh kepercayaan terhadap mereka itu. Termasuk di dalamnya setiap sikap
tindak profesional yang salah, kekurangan keterampilan yang tidak wajar atau kurang
kehati-hatian atau kewajiban hukum, praktek buruk atau ilegal atau sikap immoral.
Any professional misconduct, unreasonable lack of skill. This term is usually
applied to such conduct by doctors, lawyers, and accountants. Failure of one rendering

professional services to exercise that degree of skill and learning commonly applied under
all the circumstances in the community by the average prudent reputable member of the
profession with the result of injury, loss or damage to the recipient of those entitled to rely
upon them. It is any professional misconduct, unreasonable lack of skill or fidelity in
professional or judiciary duties, evil practice, or illegal or immoral conduct.
Malpraktek tidaklah sama dengan kelalaian. Malpraktek bersifat lebih spesifik dan
terkait dengan status profesional seseorang. Ellis dan Hartley (1998) mengungkapkan
bahwa malpraktek merupakan batasan yang spesifik dari kelalaian yang ditujukan kepada
seseorang yang terlatih atau berpendidikan dalam kinerjanya sesuai bidang
tugas/pekerjaannya.
Kelalaian memang bisa masuk di dalam pengertian malpraktek, tetapi tidak semua
malpraktek merupakan bentuk kelalaian. Malpraktek bersifat lebih luas daripada kelalaian,
karena dalam malpraktek bisa mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan dengan sengaja
(criminal malpractice) atau melanggar hukum dan Undang-undang. Artinya di dalam
malpraktek bisa jadi tersirat adanya motif (guilty mind).
Untuk menentukan secara pasti sebuah tindakan itu adalah malpraktik, maka harus
terpenuhi hal-hal berikut ini :
a. Peristiwa terjadi saat pelaku sedang menjalankan tugasnya.
b. Adanya penyimpangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku terhadap
kewajiban profesionalnya.
c. Adanya cedera yang dialami korban.
d. Cedera yang terjadi merupakan akibat langsung dari tindakan salah yang dilakukan
pelaku.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa malpraktek adalah :
1.

Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional

2.

Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang profesional dengan kata
lain melalaikan kewajibannya (negligence)

3.

Melanggar suatu ketentuan peraturan atau perundang-undangan.

2.3

Jenis-Jenis Malpraktek
Sesuai bidang hukum yang dilanggar maka malpraktek dikategorikan menjadi 3

jenis, yaitu :
2.3.1 Criminal Malpractice
Criminal practice merupakan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku. Perbuatan
seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala perbuatan
tersebut memenuhi rumusan delik pidana,yaitu :
1. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela.
2. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intentional) misalnya melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia
jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263 KUHP),
melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP). Kecerobohan (reklessness)
misalnya melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent. Atau
kealpaan (negligence) misalnya kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau
meninggalnya pasien, ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi.
Pertanggungjawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau
kepada badan yang memberikan sarana pelayanan jasa tempatnya bernaung.
2.3.2 Civil Malpractice
Civil Practice merupakan pelanggaran terhadap kode etik profesi. Seorang tenaga
jasa akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak melaksanakan kewajiban atau
tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji). Tindakan
tenaga jasa yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain :
1. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
2. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya.
3. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.
4. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Pertanggungjawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat
pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle ofvicarius liability. Dengan prinsip ini
maka badan yang menyediakan sarana jasa dapat bertanggung gugat atas kesalahan

yang dilakukan karyawannya selama orang tersebut dalam rangka melaksanakan tugas
kewajibannya.
2.3.3 Administrative Malpractice
Tenaga jasa dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala orang
tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan
police power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di
bidang kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan
profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga
perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan
dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.

2.4

Malpraktek Dalam Keperawatan


Sesuai pengertian malpraktek yang dikemukakan oleh Ellis dan Hartley (1998)

maka Malpraktek dalam keperawatan adalah suatu batasan yang digunakan untuk
menggambarkan kelalaian perawat dalam melakukan kewajibannya.
Caffee (1991) dan Vestal, K.W. (1995) mengidentifikasi 3 area yang
memungkinkan perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian
keperawatan (assessment errors), perencanaan keperawatan (planning errors), dan
tindakan intervensi keperawatan (intervention errors).

2.4.1 Assessment Errors


Adalah kesalahan penilaian dalam melakukan asuhan keperawatan Termasuk
kegagalan mengumpulkan data atau informasi tentang pasien secara memadai atau
kegagalan mengidentifikasi informasi yang diperlukan, seperti data hasil pemeriksaan
laboratorium, tanda-tanda vital, atau keluhan pasien yang membutuhkan tindakan segera.
Kegagalan dalam pengumpulan data akan berdampak pada ketidaktepatan diagnosis
keperawatan dan lebih lanjut akan mengakibatkan kesalahan atau ketidaktepatan dalam
tindakan. Untuk menghindari kesalahan ini, perawat seharusnya dapat mengumpulkan data
dasar secara komprehensif dan mendasar.

10

2.4.2 Planning Errors


Adalah kesalahan dalam melakukan perencanaan asuhan keperawatan. Secara rinci
dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kegagalan mencatat masalah pasien dan kelalaian menuliskannya dalam rencana
keperawatan.
2. Kegagalan mengkomunikaskan secara efektif rencana keperawatan yang telah dibuat,
misalnya menggunakan bahasa dalam rencana keperawatan yang tidak dimahami
perawat lain dengan pasti.
3. Kegagalan memberikan asuhan keperawatan secara berkelanjutan yang disebabkan
kurangnya informasi yang diperoleh dari rencana keperawatan.
4. Kegagalan memberikan instruksi yang dapat dimengerti oleh pasien. Untuk mencegah
kesalahan tersebut, jangan hanva menggunakan perkiraan dalam membuat rencana
keperawatan tanpa mempertimbangkannya dengan baik. Seharusnya, dalam penulisan
harus memakai pertimbangan yang jelas berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap
perlu, lakukan modifikasi rencana berdasarkan data baru yang terkumpul. Rencana
harus realistis berdasarkan standar yang telah ditetapkan, termasuk pertimbangan yang
diberikan oleh pasien. Komunikasikan secara jelas baik secara lisan maupun dengan
tulisan. Lakukan tindakan berdasarkan rencana dan lakukan secara hati-hati instruksi
yang ada. Setiap pendapat perlu divalidasi dengan teliti.

2.4.3 Intervention Errors


Adalah kesalahan dalam melakukan tindakan langsung terhadap pasien termasuk
kegagalan menginterpretasikan dan melaksanakan tindakan kolaborasi, kegagalan
melakukan

asuhan

keperawatan

secara

hati-hati,

kegagalan

mengikuti/mencatat

order/pesan dari dokter atau dari penyelia. Kesalahan pada tindakan keperawatan yang
sering terjadi adalah kesalahan dalam membaca pesan/order, mengidentifikasi pasien
sebelum dilakukan tindakan/prosedur, memberikan obat, dan terapi pembatasan (restrictive
therapy). Dari seluruh kegiatan ini yang paling berbahaya tampaknya pada tindakan

11

pemberian obat. Oleh karena itu, perlu adanya komunikasi yang baik di antara anggota tim
kesehatan maupun terhadap pasien dan keluarganya.

2.5

Kajian Etika Dan Hukum Terhadap Malpraktek Keperawatan


Apabila terjadi malpraktek dalam bidang keperawatan maka secara umum kejadian

malpraktek tersebut dapat ditinjau dari dasar hukum dan etika yang
bersumber kepada Kode Etik Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Undangundang Keperawatan, dan Kitab undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

2.6

Upaya Pencegahan Malpraktek


Meskipun kelalaian dan malpraktek bisa terjadi karena ketidaksengajaan namun hal

tersebut sesungguhnya dapat dicegah dengan tindakan-tindakan yang terencana dan


sistematis. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh seorang perawat untuk
meminimalisasi kemungkinan terjadinya malpraktek keperawatan, yaitu :
2.6.1 Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Yaitu mengidentifikasi dan memahami pada diri sendiri tentang kekutan dan
kelamahan dalam praktik keperawatan. Bila terindentifikasi akan kelemahan yang dimiliki
maka berusahalah untuk mencari penyelesaiannya. Beberapa hal yang dapat dilakukan
yaitu melalui pendidikan, pengalaman langsung, atau berdiskusi dengan teman
sekerja/kolega. Apabila berhubungan seorang supervisor, sebaiknya bersikap terbuka akan
kelemahannnya dan jangan menerima tanggung jawab dimana perawat yang bersangkutan
belum siap untuk itu. Jangan menerima suatu jabatan atau pekerjaan kalau menurut kriteria
yang ada tidak dapat dipenuhi.
2.6.2 Beradaptasi Terhadap Tugas Yang Diemban
Tenaga keperawatan yang diberikan tugas pada suatu unit perawatan dimana dia
merasa kurang berpengalaman dalam merawat pasien yang ada di unit tersebut, maka

12

sebaiknya perawat perlu mengikuti program orientasi/program adaptasi di unit tersebut.


Perawat perlu berkonsultasi dengan perawat senior yang ada di unit tersebut
2.6.3 Mengikuti Kebijakan Dan Prosedur Yang Ditetapkan
Seorang perawat dalam melaksanakan tugasnya harus sealu mempertimbangkan
kebijakan dan prosedur yang berlaku di unit tersebut. Ikuti kebijakan dan prosedur yang
berlaku secara cermat, misalnya kebijakan/prosedur yang berhubungan dengan pemberian
obat pada pasien.
2.6.4 Mengevaluasi Kebijakan Dan Prosedur Yang Berlaku
Ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan bersifat dinamis artinya berkembang
secara terus menerus. Dalam perkembangannya, kemungkinan kebijakan dan prosedur
yang ada diperlukan guna menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi. Oleh karena
itu itu ada kebutuhan untuk menyeuaikan kebijakan dan proseudr atau protokol tertentu.
Untuk itu merupakan tanggung jawab perawat profesional bekerja guna mempertahankan
mutu pelayanan sesuai dengan tuntutan perkembangan.
2.6.5 Pendokumentasian
Pencatatan perawat dapat dikatakan sesuatu yang unit dalam tatanan pelayanan
kesehatan, karena kegiatan ini dilakukan selama 24 jam. Aspa yang dicatat oleh perawat
merupakan faktor yang krusial guna menghindari suatu tuntutan. Dokumentasi dalam suatu
pencatatan adalah laporan tentang pengamatan yang dilakukan, keputusan yang diambil,
kegiatan yang dilakukan, dan penilaian terhadap respon pasien.
Oleh karena setiap kasus ditentukan adanya fakta yang medukung suatu tuntutan,
maka diperlukan pencatatan yang jelas dan relevan. Pencatatan diperlukan secara jelas,
benar, dan tepat sehingga dapat dipahami.
Vestal, K.W (1995) memberikan pedoman guna mencegah terjadinya malpraktik,
sebagai berikut :
1. Berikan kasih sayang kepada pasien sebagaimana anda mengasihi diri sendiri. Layani
pasien dan keluarganya dengan jujur dan penuh rasa hormat.

13

2. Gunakan pengetahuan keperawatan untuk menetapkan diagnosa keperawatan yang


tepat dan laksanakan intervensi keperawatan yang diperlukan. Perawat mempunyai
kewajiban untuk menyusun pengkajian dan melaksanakan pengkajian dengan benar.
3. Utamakan kepentingan pasien. Jika tim kesehatan lainnya ragu-ragu terhadap tindakan
yang akan dilakukan atau kurang merespon terhadap perubahan kondisi pasien,
diskusikan bersama dengan tim keperawatan guna memberikan masukan yang
diperlukan bagi tim kesehatan lainnya.
4. Tanyakan saran/order yang diberikan oleh dokter jika : Perintah tidak jelas, masalah itu
ditanyakan oleh pasien atau pasien menolak, tindakan yang meragukan atau tidak tepat
sehubungan dengan perubahan dari kondisi kesehatan pasien. Terima perintah dengan
jelas dan tertulis.
5. Tingkatkan kemampuan anda secara terus menerus, sehingga pengetahuan/kemampuan
yang dimiliki senantiasa up-to-date. Ikuti perkembangan yang terbaru yang terjadi di
lapangan pekerjaan dan bekerjalah berdasarkan pedoman yang berlaku.
6. Jangan melakukan tindakan dimana tindakan itu belum anda kuasai.
7. Laksanakan asuhan keperawatan berdasarkan model proses keperawatan. Hindari
kekurang hati-hatian dalam memberikan asuhan keperawatan.
8. Catatlah rencana keperawatan dan respon pasien selama dalam asuhan keperawatan.
Nyatakanlah secara jelas dan lengkap. Catatlah sesegera mungkin fakta yang anda
observasi secara jelas.
9. Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya. Biasakan bekerja berdasarkan
kebijakan organisasi/rumah sakit dan prosedur tindakan yang berlaku.
10.Pelimpahan tugas secara bijaksana, dan ketahui lingkup tugas masing-masing. Jangan
pernah menerima atau meminta orang lain menerima tanggung jawab yang tidak dapat
anda tangani.

2.7 Contoh Kasus Malpraktek Keperawatan


Tn P usia 25 tahun masuk RS dengan keluhan lemas,pusing, mual, muntah dan
BAB mencret selama 2 hari. Tn P di diagnosa medis GEA dengan dehidrasi sedang dan
mendapat terapi cairan RL 2500 ml/hari. Selama dirawat pasien sering ke kamar mandi.
Setelah 1 hari perawatan Tn P mengeluh nyeri pada daerah tusukan infus dan terlihat pada

14

selang infus terdapat bekuan darah dan kasa penutup tampak kotor,basah dan terdapat
darah yang kering. Perawat S datang dan menghampiri Tn P untuk memperbaiki selang
infus yang terdapat darah dengan cara memutar selang infus dan memasukan bekuan
darah. Selain itu perawat S tidak mengganti kasa infus dan hanya mengompres tempat
infusan dengan alkohol 70%. Setelah 3 hari tangan pasien yang terdapat infus menjadi
bengkak dan mengeluarkan nanah pada tusukan infus. Setelah dilakukan pemeriksaan Tn P
di diagnosa infeksi daerah insersi infus dan harus dilakuakan tindakan insisi untuk
mengeluarkan nanah.
2.8 Pembahasan Kasus
Dalam UU Keperawatan tahun 2014 Pasal 30 ayat 1 poin a melakuakan pengkajian secara
holistik, poin b menetapkan diagnosa keperawatan, poin c merencanakan tindakan
keperawatan yang menjelakan tentang tanggung jawab perawat terhadap klien (individu,
keluarga dan masyarakat). Perawat S tersebut tidak melaksanakan tanggung jawabnya
terhadap klien dengan tidak membuat rencana keperawatan perawatan pasien dengan
terpasang infus. Selain itu Perawat S telah melakukan kelalaian yang mengakibatkan
kerugian beruapa infeksi daerah infus terhadap klien. Selain itu Perawat S melanggar UU
Keperawatan tahun 2014 pasal 38 tentang hak dan kewajiban klien poin c Klien
mendapatkan pelayanan keperawatan sesuai dengan kode etik, standar pelayanan
keperawatan, satandar profesi, standar prosedur operasional, dan ketentuan perundangundangan yang berlaku.
Selain pasal tersebut diatas, perawat tersebut juga telah melanggar Pasal 54:
a) Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin.
b) Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana yang dimaksud dalam
ayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas menjadi jelas bahwa masalah malpraktik bersifat sangat

kompleks karena berbagai faktor yang terkait di dalamnya. Saat ini perawat diperhadapkan

15

pada berbagai tuntutan pelayanan profesional melalui peraturan perundang-undangan yang


berlaku, yang apabila melakukan kesalahan dan kelalaian akan dihadapkan pada suatu
tuntutan baik dari organisasi profesi, organisasi pelayanan kesehatan, dan tuntutan hukum.
Perawat di Indonesia sangat berisiko melakukan malpraktik karena tidak didukung
oleh kemampuan yang memadai (profesional dalam bidangnya), banyak mengerjakan
tindakan kolaboratif/tindakan invasif yang mungkin bukan bidang pekerjaannya sebagai
layaknya seorang perawat profesional.

3.2

Saran
Sebagai perawat profesional dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuannya

dengan mengikuti perkembangan yang terjadi baik oleh karena perkembangan IPTEK
khususnya IPTEK keperawatan, tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang semakin
meningkat.
Organisasi profesi sebagai wadah para anggotanya bertanggung jawab untuk
meningkatkan mutu tenaga keperawatan sebagai konsekuensi perannya untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan kesejahteraan anggotanya. Operasionalisasi
kegiatan organisasi PPNI terjadi disemua tingkat organisasi baik di Pusat, Provinsi,
Kabupaten/Kota, dan Komisariat
Instituasi pendidikan sebagai lembaga yang menghasilkan tenaga keperawatan
profesional bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan secara berkualitas dengan
cara mengembangkan dan mengorganisasikan kurikulum nasional kedalam kurikulum
institusi, menyediakan segala sumber daya yang dapat mendukung sepenuhnya kegiatan
pendidikan. Demikian pula perlu didukung tersedianya lahan praktik yang memungkinkan
mengimplementasikan teori-teori kedalam situasi nyata, serta berbagai kebijakan yang
mendukung.

DAFTAR PUSTAKA

Amir & Hanafiah, (1999). Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, edisi ketiga: Jakarta:
EGC.
Kepmenkes RI Nomor 1239/Menkes/SK/XI/2001, Tetang Resgistrasi Praktik Perawat.
Priharjo, R (1995). Pengantar etika keperawatan; Yogyakarta: Kanisius.

16

Undang-undang Perlindungan Konsumen nomor 8 tahun 1999. Jakarta: Sinar Grafika.


Undang-undang Republik Indonesia tahun nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
Christian Nordqvist (2014), What is Medical Malpractice?. http://www.medicalnewstoday.com.
Nopember 2014