Anda di halaman 1dari 10

Contoh Sengketa Internasional

1.Konflik perebutan wilayah antara Filipina dengan Malaysia mengenai klaim Filipina atas
wilayah Kesultanan Sabah Malaysia Timur.
2.Konflik antara Singapura dengan Malaysia tentang perebutan Pulau Batu Putih di Selat
Johor;
3.Perbedaan pendapat antara Malaysia dan Brunei mengenai batas wilayah tak bertanda di
daratan Sarawak Malaysia Timur serta batas wilayah perairan Zona Ekonomi Eksklusif;
4.Konflik berlarut antara Myanmar dan Bangladesh di wilayah perbatasan;
5.Sengketa antara Cina dan Vietnam tentang pemilikan wilayah perairan di sekitar Kepulauan
Paracel;
6.Konflik laten antara Cina di satu pihak dengan Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina,
Vietnam di lain pihak sehubungan klaim cina atas seluruh perairan Laut Cina Selatan;
7.Konflik intensitas rendah (Low intensity) antara Cina dengan Filipina, Vietnam dan Taiwan
mengenai status pemilikan wilayah perairan Kepulauan Spratly;
8.Konflik antara Cina dengan Jepang mengenai pemilikan Kepulauan Senaku (Diaoyutai);
9.Sengketa antara Cina dengan Korea Selatan mengenai pemilikan Liancourt Rocks (Takeshima atau Tak do) dibagian selatan laut Jepang;
10.Sengketa berlarut antara Rusia dengan Jepang mengenai status pemilikan Kepulauan Kuril
Selatan;
11.Sengketa India dan Pakistan mengenai status wilayah Kashmir.
Contoh Sengketa Internasional
Nama Negara yang bersengketa : Irak dan Kuwait
Penyebabnya :
Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan
Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai
pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi
minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang
ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang
melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis.
Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam
pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki.
Cara Penyelesaian :
Dewan Keamanan PBB mengambil hak veto. Israel diminta Amerika Serikat untuk tidak
mengambil serangan balasan atas Irak untuk menghindari berbaliknya kekuatan militer
Negara Negara Arab yang dikhawatirkan akan mengubah jalannya peperangan. Pada tanggal
27 Februari 1991 pasukan Koalisi berhasil membebaskan Kuwait dan Presiden Bush
menyatakan perang selesai.

Solusi menurut saya :


Sebaiknya negara negara di dunia tidak ada yang saling iri karena keunggulan di setiap
negara itu berbeda beda. Ada yang unggul di bidang pertanian, ada yang unggul di bidang
pertambangan, dan sebagainya. Seharusnya harus saling berkerja sama melengkapi satu sama
lain. Jangan saling iri yang akhirnya juga rugi karena muncul perang dan orang yang tidak
berdosa menjadi terbunuh. Jadi, intinya kita harus saling berkerja sama agar hidup menjadi
damai.
Contoh Sengketa Internasional
Sengketa internasional antara Indonesia dan timor leste.
Klaim wilayah Indonesia, ternyata bukan hanya dilakukan oleh Malaysia, tetapi juga oleh
Timor Leste, negara yang baru berdiri sejak lepas dari Negara KesatuanRepublik Indonesia
pada tahun 1999. Klaim wilayah Indonesia ini dilakukan oleh sebagian warga Timor Leste
tepatnya di perbatasan wilayah Timor Leste dengan wilayah Indonesia, yaitu perbatasan
antara Kabupaten Timor Tengah Utara (RI) dengan Timor Leste.
Penyelesaian sengketa
Permasalahan perbatasan antara RI dan Timor Leste itu kini sedang dalam rencana untuk
dikoordinasikan antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Timor Leste dan kemungkinan
akan dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendapatkan
penyelesaian.Masalah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste, khususnya di lima titik
yang hingga kini belum diselesaikan akan dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Lima titik tersebut adalah Imbate, Sumkaem, Haumeniana, Nimlat, dan Tubu Banat, yang
memiliki luas 1.301 hektare (ha) dan sedang dikuasai warga Timor Leste. Tiga titik
diantaranya terdapat di perbatasan Kabupaten Belu dan dua di perbatasan Timor Leste dengan
Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).Berlarutnya penyelesaian lima titik di perbatasan
tersebut mengakibatkan penetapan batas laut kedua negara belum bisa dilakukan. Di lima
titik tersebut, ada dua hal yang belum disepakati warga dari kedua negara yakni:
Penetapan batas apakah mengikuti alur sungai terdalam, dan persoalan pembagian tanah.
Semula, pemerintah Indonesia dan Timor Leste sepakat batas kedua negara adalah alur sungai
terdalam, tetapi tidak disepakati warga, karena alur sungai selalu berubah-ubahSelain itu,
ternak milik warga di perbatasan tersebut minum air di sungai yang berada di tapal batas
kedua negara.
Jika sapi melewati batas sungai terdalam, warga tidak bisa menghalaunya kembali, karena
melanggar batas negara.warga kedua negara yang bermukim di perbatasan harus rela
membagi tanah ulayat mereka, karena menyangkut persoalan batas negara
Contoh Sengketa Internasional

Sengketa Internasional Antara Jepang Dan Korea.


Perebutan kepemilikan Pulau Daioyu/Senkaku antara China-Jepang telah berlangsung sejak
tahun 1969. Sengketa ini diawali ketika ECAFE menyatakan bahwa diperairan sekitar Pulau
Daioyu/Senkaku terkandung hidrokarbon dalam jumlah besar. Kemudian pada tahun 1970,
Jepang dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian pengembalian Okinawa, termasuk
pulau Daioyu/Senkaku kepada Jepang. Hal inilah yang kemudian diprotes China, karena
China merasa bahwa pulau tersebut adalah miliknya.Sengketa ini semakin berkembang pada
tahun 1978, ketika Jepang membangun mercusuar di Pulau Daioyu untuk melegitimasi pulau
tersebut.
Ketegangan ini berlanjut ketika Jepang mengusir kapal Taiwan dari perairan Daioyu.
Meskipun protes yang terus menerus dari China maupun Taiwan, namun tahun 1990an
Jepang kembali memperbaiki mercusuar yang telah dibangun oleh kelompok kanan Jepang di
Daiyou. Secara resmi
Penyelesaian sengketa.
China memprotes tindakan Jepang atas Pulau tersebut.
Sampai saat ini permasalahan ini belum dapat diselesaikan. Kedua negara telah mengadakan
pertemuan untuk membicarakan dan menyelesaikan sengketa. Namun dari beberapa kali
pertemuan yang telah dilakukan belum ada penyelesaian, karena kedua negara bersikeras
bahwa pulau tersebut merupakan bagian kedaulatan dari negara mereka, akibat overlapping
antara ZEE Jepang dan landas kontinen China. Hal inilah yang belum terjawab oleh Hukum
laut 1982. Meskipun saat ini banyak yang menggunakan pendekatan median/equidistance line
untuk pembagian wilayah yang saling tumpang tindih, namun belum dapat menyelesaikan
perebutan antara kedua negara, karena adanya perbedaan interpretasi terhadap definisi
equidistance line.
Alternatif lain juga telah ditawarkan untuk penyelesaian konflik, yaitu melalui pengelolaan
bersama (JDA, Joint Development Agreement). Sebenarnya dengan pengelolaan bersama
tidak hanya akan menyelesaikan sengketa perbatasan laut kedua negara, tetapi memiliki unsur
politis. Hal ini akan memperbaiki hubungan China-Jepang, karena menyangkut kepentingan
kedua negara, sehingga kedua negara harus selalu menjaga hubungan baik agar kesepakatan
dapat berjalan dengan baik. Namun sayangnya tawaran ini ditolak China, padahal sebenarnya
kesepakatan ini dapat digunakan untuk membangun masa depan yang cerah bersama
Jepang.Melihat sulitnya dicapai kesepakatan China-Jepang, alternatif penyelesaian akhir yang
harus ditempuh adalah melalui Mahkamah Internasional. Namun penyelesaian tersebut cukup
beresiko, karena hasilnya akan take all or nothing.

10 SENGKETA
INTERNASIONAL YANG TELAH
DISELESAIKAN OLEH
MAHKAMAH INTERNASIONAL
AGUSTINA H NAPITU
XI IA 2
SMA NEGERI 2 BALIGE
TOBA SAMOSIR
2013

SENGKETA INTERNASIONAL
PENGERTIAN
Sengketa internasional adalah suatu perselisihan antara subjek-subjek hukum
internasional mengenai fakta, hukum atau politik dimana tuntutan atau pernyataan satu pihak
ditolak, dituntut balik atau diingkari oleh pihak lainnya.
PENYEBAB
1. Kesalahpahaman tentang suatu hal.
2. Salah satu pihak sengaja melanggar hak / kepentingan negara lain.
3. Dua negara berselisih pendirian tentang suatu hal.
4. Pelanggaran hukum / Perjanjian Internasional.
CARA PENYELESAIAN
1. Secara damai :
Arbitrase: menyerahkannya kepada orang tertentu atau arbitrator, yang dipilih secara bebas
oleh mereka yang bersengketa, namun keputusannya harus sesuai dengan kepatutan dan
keadilan ( ex aequo et bono).
2. Penyelesaian secara paksa, kekerasan atau perang :
Perang dan tindakan bersenjata non perang, bertujuan untuk menaklukkan negara lawan dan
membebankan syarat penyelesaian kepada negara lawan.
3. Mekanisme normal :
1. Penyerahan perjanjian khusus yang berisi identitas para pihak dan pokok persoalan
sengketa.
2. Pembelaan tertulis, berisi fakta, hukum yang relevan, tambahan fakta baru,
penilakan atas fakta yang disebutkan dan berisi dokumen pendukung.
3. Presentasi pembelaan bersifat terbuka dan umum atau tertutup tergantung pihak
sengketa.
4. Keputusan bersifat menyetujui / sepakat dan penolakan. Kasus internasional
dianggap selesai apabila, para pihak mencapai kesepakatan atau para pihak menarik
diri dari prose persidangan mahkamah internasional. Mahkamah internasional telah
memutus kasus tersebut berdasarkan pertimbangan dan telah dilakukan ssuai proses
hukum internasional yang berlaku.
4. Mekanisme khusus :
1. Keberatan awal karena ada keberatan dari pihak sengketa karen mahkamah
internasional dianggap tidak memiliki yusidiksi atau kewenangan atas kasus
tersebut.
2. Ketidak hadiran salah satu pihak yang bersengketa, biasanya dilakukan oleh negara
tergugat atau respondent karena menolak yuridiksi Mahkamah Internasional.
3. Keputusan sela, untuk memberikan perlindungan terhadap subyek persidangan,
supaya pihak sengketa tidak melakukan hal-hal yang mengancah efektivitas
persidangan Mahkamah Internasional.

4. Beracara bersama, beberapa pihak disatukan untuk mengadakan sidang bersama


karena materi sama terhadap lawan yang sama.
5. Intervensi, Mahkamah Internasional memberikan hak kepada negara lain yang tidak
terlibat dalam sengketa untuk melakukan intervensi atas sengketa yang sedang
disidangkan bahwa dengan keputusan Mahkamah Internasional ada kemungkinan
negara tersebut dirugikan.

CONTOH KASUS SENGKETA INTERNASIONAL


1. Indonesia dengan Malaysia
Persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967 ketika
dalam pertemuan teknis hukum laut antara kedua negara, masing-masing negara ternyata
memasukkan pulau sipadan dan pulau ligitan ke dalam batas-batas wilayahnya. Kedua negara
lalu sepakat agar sipadan dan ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quo akan tetapi
ternyata pengertian ini berbeda. Pihak Malaysia membangun resor parawisata baru yang
dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia memahami status quo sebagai tetap berada
di bawah Malaysia sampai persengketaan selesai, sedangkan pihak indonesia mengartikan
bahwa dalam status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki sampai
persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Pada tahun 1969 pihak malaysia secara
sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta nasionalnya.
Keputusan mahkamah internasional pada tahun 1998 masalah sengketa sipadan dan
ligitan dibawa ke icj, kemudian pada hari selasa 17 desember 2002 icj mengeluarkan
keputusan tentang kasus sengketa kedaulatan pulau sipadan-ligatan antara indonesia dengan
malaysia. Hasilnya, dalam voting di lembaga itu, malaysia dimenangkan oleh 16 hakim,
sementara hanya 1 orang yang berpihak kepada indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 merupakan
hakim tetap dari mi, sementara satu hakim merupakan pilihan malaysia dan satu lagi dipilih
oleh indonesia. Kemenangan malaysia, oleh karena berdasarkan pertimbangan effectivity
(tanpa memutuskan pada pertanyaan dari perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu
pemerintah inggris (penjajah malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata
berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap
pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an.
2. Irak dengan Kuwait
Invasi irak ke kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi irak setelah perang
delapan tahun dengan iran dalam perang iran-irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar
sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan
produksi minyak oleh kuwait serta uni emirat arab yang dianggap saddam hussein sebagai
perang ekonomi serta perselisihan atas ladang minyak rumeyla sekalipun pada pasca-perang
melawan iran, kuwait membantu irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis.
Selain itu, irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan inggris dalam
pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan usmaniyah turki.

Dewan keamanan pbb mengambil hak veto. Israel diminta amerika serikat untuk tidak
mengambil serangan balasan atas irak untuk menghindari berbaliknya kekuatan militer
negara negara arab yang dikhawatirkan akan mengubah jalannya peperangan. Pada tanggal
27 februari 1991 pasukan koalisi berhasil membebaskan kuwait dan presiden bush
menyatakan perang selesai.
3. Indonesia dan Timor Leste.
Klaim wilayah indonesia, ternyata bukan hanya dilakukan oleh malaysia, tetapi juga
oleh timor leste, negara yang baru berdiri sejak lepas dari negara kesatuan republik indonesia
pada tahun 1999. Klaim wilayah indonesia ini dilakukan oleh sebagian warga timor leste
tepatnya di perbatasan wilayah timor leste dengan wilayah indonesia, yaitu perbatasan antara
kabupaten timor tengah utara (ri) dengan timor leste. Permasalahan perbatasan antara ri dan
timor leste itu kini sedang dalam rencana untuk dikoordinasikan antara pemerintah ri dengan
pemerintah timor leste dan kemungkinan akan dibawa ke perserikatan bangsa-bangsa (pbb)
untuk mendapatkan penyelesaian.masalah perbatasan antara indonesia dan timor leste,
khususnya di lima titik yang hingga kini belum diselesaikan akan dibawa ke Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB).
Lima titik tersebut adalah imbate, sumkaem, haumeniana, nimlat, dan tubu banat,
yang memiliki luas 1.301 hektare (ha) dan sedang dikuasai warga timor leste. Tiga titik
diantaranya terdapat di perbatasan kabupaten belu dan dua di perbatasan timor leste dengan
kabupaten timor tengah utara (ttu).berlarutnya penyelesaian lima titik di perbatasan tersebut
mengakibatkan penetapan batas laut kedua negara belum bisa dilakukan.
Di lima titik tersebut, ada dua hal yang belum disepakati warga dari kedua negara:
1. Penetapan batas apakah mengikuti alur sungai terdalam, dan persoalan pembagian tanah.
Semula, pemerintah indonesia dan timor leste sepakat batas kedua negara adalah alur sungai
terdalam, tetapi tidak disepakati warga, karena alur sungai selalu berubah-ubahselain itu,
ternak milik warga di perbatasan tersebut minum air di sungai yang berada di tapal batas
kedua negara. Jika sapi melewati batas sungai terdalam, warga tidak bisa menghalaunya
kembali, karena melanggar batas negara.warga.
2. Negara yang bermukim di perbatasan harus rela membagi tanah ulayat mereka, karena
menyangkut persoalan batas Negara.
4.

Jepang dan Korea


Perebutan kepemilikan pulau daioyu/senkaku antara china-jepang telah berlangsung
sejak tahun 1969. Sengketa ini diawali ketika ecafe menyatakan bahwa diperairan sekitar
pulau daioyu/senkaku terkandung hidrokarbon dalam jumlah besar. Kemudian pada tahun
1970, jepang dan amerika serikat menandatangani perjanjian pengembalian okinawa,
termasuk pulau daioyu/senkaku kepada jepang. Hal inilah yang kemudian diprotes china,
karena china merasa bahwa pulau tersebut adalah miliknya.sengketa ini semakin berkembang
pada tahun 1978, ketika jepang membangun mercusuar di pulau daioyu untuk melegitimasi
pulau
tersebut.
Ketegangan ini berlanjut ketika jepang mengusir kapal taiwan dari perairan daioyu. Meskipun
protes yang terus menerus dari china maupun taiwan, namun tahun 1990an jepang kembali

memperbaiki mercusuar yang telah dibangun oleh kelompok kanan jepang di daiyou. Secara
resmi.
China
memprotes
tindakan
jepang
atas
pulau
tersebut.
Sampai saat ini permasalahan ini belum dapat diselesaikan. Kedua negara telah mengadakan
pertemuan untuk membicarakan dan menyelesaikan sengketa. Namun dari beberapa kali
pertemuan yang telah dilakukan belum ada penyelesaian, karena kedua negara bersikeras
bahwa pulau tersebut merupakan bagian kedaulatan dari negara mereka, akibat overlapping
antara zee jepang dan landas kontinen china. Hal inilah yang belum terjawab oleh hukum laut
1982. Meskipun saat ini banyak yang menggunakan pendekatan median/equidistance line
untuk pembagian wilayah yang saling tumpang tindih, namun belum dapat menyelesaikan
perebutan antara kedua negara, karena adanya perbedaan interpretasi terhadap definisi
equidistance line. Alternatif lain juga telah ditawarkan untuk penyelesaian konflik, yaitu
melalui pengelolaan bersama (jda, joint development agreement). Sebenarnya dengan
pengelolaan bersama tidak hanya akan menyelesaikan sengketa perbatasan laut kedua negara,
tetapi memiliki unsur politis. Hal ini akan memperbaiki hubungan china-jepang, karena
menyangkut kepentingan kedua negara, sehingga kedua negara harus selalu menjaga
hubungan baik agar kesepakatan dapat berjalan dengan baik. Namun sayangnya tawaran ini
ditolak china, padahal sebenarnya kesepakatan ini dapat digunakan untuk membangun masa
depan yang cerah bersama jepang.melihat sulitnya dicapai kesepakatan china-jepang,
alternatif penyelesaian akhir yang harus ditempuh adalah melalui mahkamah internasional.
Namun penyelesaian tersebut cukup beresiko, karena hasilnya akan take all or nothing.
5. Kamboja dengan Thailand
Sengketa perbatasan sekitar Candi Preah Vihear antara Kamboja dan Thailand jadi pusat
perhatian media internasional pada saat KTT ASEAN, Mei, di Jakarta. Diharapkan mediasi Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua ASEAN merukunkan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen
dan Perdana Menteri Thailand (waktu itu) Abhisit Vejjajiva dalam masalah Candi Preah Vihear
membuahkan hasil. Itu karena konsep Masyarakat Politik dan Keamanan ASEAN yang dicanangkan
para kepala negara dan pemerintahan ASEAN menggambarkan mekanisme penyelesaian sengketa
antarnegara ASEAN. Di samping itu, Dewan Keamanan PBB telah memberikan amanah kepada
ASEAN untuk menyelesaikan masalah tersebut secara damai.
6. Asean dan laut China Selatan
Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, minggu lalu, berakhir dengan
menyisakan satu persoalan rumit. Negara-negara ASEAN belum berhasil menyatukan sikap mengenai
bagaimana mengelola sengketa di Laut China Selatan yang belakangan ini kian panas. Proses
pengelolaan sengketa yang melibatkan China dan empat negara ASEAN (Vietnam, Filipina, Malaysia,
Brunei) itu kini memasuki tahapan penting dengan adanya rencana menyusun Code of Conduct (CoC)
yang nantinya akan disepakati oleh semua negara anggota ASEAN dan China.
7. Jepang dengan China

Memperebutkan kepemilikan Pulau Daioyu/Senkaku. Sengketa kedua negara besar


tersebut telah berlangsung lama yaitu sejak tahun 1969. Awal mula sengketa ini adalah dari
pernyataan ECAFE tentang hidrokarbon dalam jumlah besar yang menurutnya terkandung di
sekitar Pulau Daioyu/Senkaku. Kemudian pada tahun 1970, Amerika Serikat dan Jepang

sepakat untuk menandatangani perjanjian pengembalian Okinawa, termasuk pulau


Daioyu/Senkaku kepada Jepang. Dengan perjanjian tersebut, kemudian China memprotesnya,
karena menurut China keberadaan pulau tersebut adalah hak miliknya. Sengketa tersebut
semakin berkembang pada tahun 1978, ketika Jepang membangun mercusuar di Pulau
Daioyu untuk melegitimasi pulau tersebut. Dan ketegangan tersebut semakin memuncak pada
saat Jepang mengusir kapal Taiwan dari perairan Daioyu. Walaupun China dan Taiwan terus
melakukan protes, tetapi pada tahun 1990an Jepang kembali memperbaiki mercusuar yang
telah dibangun oleh kelompok kanan Jepang di Daiyou. Penyelesaian sengketa internasional
Penyelesaian dari kasus tersebut sangatlah rumit, karena dari masing-masing negara
bersikukuh dengan hak mereka masing-masing.
Ada beberapa alternatif yang ditawarkan untuk menyelesaikan sengketa tersebut
misalnya dengan jalan pengelolaan bersama (JDA, Joint Development Agreement). Namun
cara penyelesaian tersebut masih tetap susah untuk dilakukan karena kasus tersebut lamakelamaan menjadi bermuatan politik. Dengan semakin sulitnya dicapai antara kesepakatan
China-Jepang, alternatif penyelesaian akhir yang harus dilakukan adalah melalui Mahkamah
Internasional. Walaupun penyelesaian tersebut cukup beresiko, namun jalan itulah yang
paling efektif untuk dilakukan.
8. Indonesia dengan Filipina

Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara P. Miangas (Indonesia)
dengan pantai Mindanao (Filipina) serta dasar laut antara P. Balut (Filipina) dengan pantai
Laut Sulawesi yang jaraknya kurang dari 400 mil. Disamping itu letak P. Miangas (Indonesia)
di dekat perairan Filipina, dimana kepemilikan P. Miangas oleh Indonesia berdasarkan
Keputusan Peradilan Arbitrage di Den Haag tahun 1928. Di Kecamatan Nanusa, Kabupaten
Talaud, Pulau Miangas merupakan titik terluar yang paling jauh dan berbatasan dengan
Filipina. Dalam adat Nanusa, Miangas disebut Tinonda. Konon, pulau ini sering menjadi
sasaran bajak laut. Selain merebut harta benda, perompak ini membawa warga Miangas untuk
dijadikan budak di Filipina. Di masa Filipina dikuasai penjajah Spanyol, Miangas dikenal
dengan sebutan Poilaten yang memiliki arti: Lihat pulau di sana. Karena di Miangas banyak
ditumbuhi palm mulailah disebut Las Palmas. Lambat laun pulau ini disebut Miangas.
Miangas bukan hanya menjadi sasaran perompakan. Pulau ini memiliki sejarah panjang
karena menjadi rebutan antara Belanda dan Amerika. Amerika mengklaim Miangas sebagai
jajahannya setelah Spanyol yang menduduki Filipina digeser Amerika. Tapi, Belanda
keberatan. Sengketa berkepanjangan terjadi, kasus klaim Pulau Miangas ini diusung ke
Mahkamah Internasional.

9. Abkhazia dan Ossetia Selatan


Abkhazia dan Ossetia Selatan adalah dua negara republik pecahan Georgia di
Kaukasus. Keduanya telah berupaya melepaskan diri dari Georgia sejak tahun 1920-an.
Setelah Revolusi Rusia tahun 1917, Abkhazia dan Ossetia Selatan ditetapkan sebagai dua
republik otonom yang merupakan bagian dari Georgia dan termasuk di dalam wilayah Uni
Soviet. Namun setelah perang tahun 1920-an, Abkhazia dan Ossetia Selatan mendeklarasikan
kemerdekaannya pada 1923 dan 1922. Masalah kedaulatan keduanya semakin kompleks di

masa keruntuhan Uni Soviet dan Georgia mendeklarasikan independensinya yang akhirnya
berujung pada perang di tahun 1992 dan 2008. Rusia pada akhirnya mengakui kedua republik
tersebut sebagai negara yang terpisah dan berdiri sendiri. Namun PBB, Uni Eropa dan NATO
menolak mengakui kedaulatan Abkhazia dan Ossetia Selatan.
10. Inggris dan Argentina
Kepulauan Falkland pada awalnya diperebutkan Inggris dan Spanyol selama
bertahun-tahun. Sampai pada 1816, terjadi perkembangan baru di Amerika Selatan. Argentina
menyatakan merdeka dari jajahan Spanyol, dan membuat batas wilayah negaranya sampai ke
Kepulauan Falkland. Jadilah kini, Inggris yang berseteru dengan Argentina memperebutkan
kepulauan di Amerika Selatan itu.
Perebutan itu terus berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan Argentina berhasil
memasukkan masalah klaim kepulauan itu ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pada 1965,
PBB mengeluarkan Resolusi 2065 yang menyebutkan perlunya penyelesaian masalah itu,
dengan memperhatikan kepentingan penduduk yang ada di kawasan tersebut. Negosiasi
antara Inggris dan Argentina secara baik baik. Menurut survey masyarakat kedua belah
negara menginginkan adanya kompromi mengenai masalah Malvinas. Momen ini dapat
dimanfaatkan sehingga terjadi kesepakatan mengenai pulau tersebut.Penyelidikan. Dalam hal
ini harus ada penyelidik independen untuk mencari fakta-fakta dalam sengketa yang pada
akhirnya akan menjadi pertimbangan untuk keputusan dalam penyelesaian sengketa. Menteri
Luar Negeri Hillary Clinton menyatakan Amerika Serikat siap membantu Argentina dan
Inggris untuk menyelesaikan sengketa Kepulauan Falkland.Posisi kami adalah bahwa ini
merupakan masalah yang harus diselesaikan antara Inggris dan Argentina. Apabila kami bisa
membantu memfasilitasi upaya semacam itu, kami siap melakukan itu, ujar Hillary di
Montevideo, ibu kota Uruguay. Sedangkan esensi terbesar jika dimasukkan ke Mahkamah
Internasional adalah mengenai efektifitas putusan mahkamah itu sendiri. Hingga sekarang
belum terdengar jika pihak atau salah satu pihak sampai menggugat putusan Mahkmah atau
secara terbuka memprotes keras putusan Mahkamah. Hal ini menunjukkan bahwa putusan
dan wibawa Mahkamah masih dihormati dengan baik. Sehingga diharapkan sengketa
Malvinas akan selesai dan tidak berlarut larut.