Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

VOLUME MOLAR GAS

OLEH:
NI LUH LINDA AYU OKTAVIANI
1108105002
KELOMPOK I

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2011

VOLUME MOLAR GAS


I.
II.

TUJUAN
Menentukan volume relatif dari zat dalam wujud yang berbeda
DASAR TEORI
Kita hidup di dasar lautan udara yang komposisi volumenya secara kasar adalah
78% N2, 21% O2 dan 1% gas lainnya termasuk CO2. Pada tahun 1990-an, kimia tentang
campuran gas-gas penting ini menjadi perhatian yang sangat besar. Hal ini disebabkan
karena efek kerusakan lingkungan yang semakin marak terjadi. Di sini akan dibahas
secara umum mengenai perilaku zat yang berwujud gas pada kondisi suhu 27

dan

tekanan 1 atmosfer.
Gas memiliki ciri yang berbeda dengan zat padat dan zat cair. Berikut ini adalah
sifat-sifat fisis yang khas dari semua gas:
Gas mempunyai volume dan bentuk yang menyerupai wadahnya.
Gas merupakan wujud materi yang paling mudah dimampatkan.
Bila dua gas atau lebih dicampurkan, maka gas-gas tersebut akan bercampur

secara merata dan sempurna.


Gas memiliki kerapatan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan zat padat atau
zat cair.
Gas melakukan tekanan pada permukaan apapun ketika saling bersentuhan,

karena molekul-molekul gas senantiasa dalam keadaan bergerak. Semakin rapat udara,
semakin besar pula tekanannya. Tekanan atmosfer adalah tekanan yang diberikan oleh
atmosfer Bumi yang tergantung pada letak, suhu dan kondisi cuaca.
Terdapat beberapa hukum dasar yang dapat menerangkan perilaku gas
berdasarkan eksperimen laboratorium, diantaranya adalah Hukum Boyle, Hukum Charles
atau Hukum Gay Lussac dan Hukum Avogadro.
Hukum Boyle
Penemuan bahwa tekanan udara dapat diukur dalam bentuk kolom cairan
mendorong Boyle untuk mengkaji secara cermat mengenai perubahan volume gas yang
dikaitkan dengan tekanan. Pada suhu tetap, makin besar tekanan suatu cuplikan gas,
makin kecil volumenya. Gejala tersebut diamati oleh Robert Boyle, hukumnya dikenal
dengan Hukum Boyle, yang menyatakan bahwa: Jika suhu dibuat tetap, volume suatu gas
yang massanya tertentu berbanding terbalik dengan tekanannya:

P=

1
V

Dengan menggunakan data dari sejumlah cuplikan tertentu, tampak bahwa pada
suhu tertentu perkalian tekanan dan volumenya adalah tetap. Artinya, PV = tetap. Jika
dinyatakan secara metematis:
V
P
Px V x =P y V y atau x = y
V y Px
atau PV = tetapan (jika T dan jumlah partikel tetap)
Hukum Charles atau Hukum Gay-Lussac
Volume gas dapat berubah bukan saja akibat perubahan tekanan, melainkan juga
dapat diakibatkan oleh perubahan suhu. Peneliti pertama mengenai hubungan ini adalah
ilmuwan Perancis, Jacques Charles dan Joseph Gay-Lussac. Penelitian mereka
memperlihatkan bahwa, pada tekanan konstan, volume sampel gas akan memuai jika
dipanaskan dan menyusut jika didinginkan. Sejumlah tertentu gas dalam silinder, jika
dinaikkan suhunya maka volume gas akan bertambah pada tekanan tetap. Hubungan ini
dapat dinyatakan dengan persamaan:
V
V T ( P tetap ) atau =tetapan
T
Persamaan diatas dikenal dengan hukum Charles yang menyatakan bahwa: Pada
tekanan tetap, volume sejumlah gas berbanding lurus dengan suhu mutlaknya. Harga
tetapan pada persamaan diatas bergantung pada jumlah gas dan tekanan.
Jika suhu dihubungkan dengan tekanan pada volume tetap dikenal dengan Hukum
Amonton. Hukum Amonton menyatakan bahwa: Pada volume tetap, tekanan sejumlah
tertentu gas berbanding lurus dengan suhu mutlaknya. Hubungan ini dapat dinyatakn
dengan persamaan:
P
P T atau =tetapan
T
Jika hukum-hukum diatas digabungkan dengan mengaitkan ketiga variable gas,
maka akan dihasilkan satu ungkapan matematis tentang perilaku gas. Gabungan kedua
persamaan tersebut dikenal dengan Hukum Charles dan Gay Lussac. Persamaan
matematisnya adalah:

PV
=tetap
T

Oleh karena perkalian tekanan-volume dibagi suhu adalah tetap pada kondisi
apapun, maka untuk keadaan gas yang berbeda juga berharga tetap, sehingga ada
hubungan antara kedua keadaan gas yang kondisinya berbeda menghasilkan persamaan
keadaan gas, yaitu:
P1 V 1 P 2 V 2
=
T1
T2

Hukum Avogadro
Karya ilmuwan Italia bernama Amedeo Avogadro mrlrngkapi studi yang
dilakukan oleh Boyle, Charles dan Gay-Lussac. Pada tahun 1811, ia mempublikasikan
suatu hipotesis yang menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama, sejumlah
volume yang sama dari gas-gas yang berbeda mengandung sejumlah molekul atau atom
yang sama pula. Selanjutnya dinyakan pula bahwa volume gas apapun harus sebanding
dengan jumlah mol dari molekul yang ada, sehingga:
V n
Dimana n menyatakn jumlah mol. Persamaan tersebut adalah bentuk matematis
dari Hukum Avogadro yang menyatakan bahwa: Pada tekanan dan suhu konstan, volume
suatu gas berbanding langsung dengan jumlah mol gas yang ada.
Berdasarkan Hukum Avogadro, terlihat bahwa jika dua gas bereaksi satu dengan
yang lainnya, maka volume gas yang bereaksi memiliki perbandingan yang sederhana.
Jika hasilnya adalah gas, maka volumenya terkait dengan volume pereaksinya dalam
perbandingan yang sederhana.
Persamaan Gas Ideal
Dari hukum-hukum yang telah dibahas, dapat diringkas sebagai berikut:
P=

1
V

Hukum Boyle

Hukum Charles

: V T

Hukum Avogadro

: V n

Semua pernyataan tersebut dapat digabungkan sehingga diperoleh persamaan


induk tunggal untuk perilaku gas:
V

nT
P

V =R

nT
P

PV =nRT

Nilai R bila n = 1 disebut dengan konstanta gas, yang merupakan satu dari
konstanta fundamental fisika. Nilai R beragam bergantung pada satuan yang digunakan.
Dalam sistem metrik, R = 8,2056 x10 2 dm3 atm mol-1 K-1. Kini, nilai R = 8,3145 J mol -1
K-1 lebih sering digunakan.
III.

ALAT DAN BAHAN


1. Alat:
a. Gelas ukur
b. Ember
c. Neraca analitik
2. Bahan:
a. Air
b. Butana cair (korek api yang bahan bakarnya dari butana)

IV.

CARA KERJA
Korek api yang bahan bakarnya butana dan dindingnya tembus cahaya disiapkan.
Korek api ditimbang dan volume dari cairan butana dalam korek api tersebut
diperkirakan. Gelas ukur yang berisi penuh air diletakkan terbalik diatas ember yang
berisi air. Gelas ukur ini nantinya akan berfungsi sebagai alat penampung gas. 2 gelas
ukur lain yang penuh air disiapkan. Klep dari korek api dibuka dan diikat dengan pipa
karet agar klep terbuka terus. Cepat-cepat korek api tersebut diletakkan dibawah alat
penampung gas agar gas yang dibebaskan tertampung. Alat penampung yang telah penuh
ditandai dan dicatat, kemudian diganti dengan alat penampung yang lain. Kemudian
dilanjutkan dengan mengumpulkan gas yang dibebaskan sampai korek api

tersebut

hamper kosong. Klep dari korek api tersebut ditutup kembali. Semua gas butana yang

dikumpulkan dicatat. Korek api tersebut ditimbang kembali dan volume dari cairan
butana yang massanya sama diperkirakan. Perbandingan dari volume gas butana dengan
volume dari cairan butana yang massanya sama dihitung.
V.
a.
b.
c.
d.

VI.

HASIL PENGAMATAN
Dari hasil percobaan diperoleh data sebagai berikut :
Massa awal korek api = m1 = 18 gr
Perkiraan volume awal gas butana dalam korek api = V1 = 5 mL
Massa akhir korek api = m2 = 15 gr
Perkiraan volume akhir gas butana dalam korek api = V2 = 0 mL
e. Volume gas butana = Vgas = 1085 mL
f. Volume cairan butana = V1 V2 = 5 0 = 5 mL
g. Massa gas butana yang digunakan = m1 m2 = 18 15 = 3 gr
PEMBAHASAN
Dari hasil data percobaan tersebut, dapat diperoleh perbandingan dari volume
cairan butana dengan volume gas butana yang massanya sama yaitu:
V cairan
5 ml
1
=
=
V gas 1085 ml 217
Berdasarkan data yang didapat, kita dapat melakukan perhitungan untuk mencari
massa molekul relatif dari gas X.
Diketahui
: Volume gas butana: V = 1085 mL = 1,085 L
Massa gas butana: m = 3 gr
Suhu: T = 270 C = 300 K
Tekanan: P = 1 atm
Konstanta molar gas: R = 0,082
Ditanya
: Mr gas butana = ?
Jawab
: P .V =n . R . T
P .V =

gr
.R.T
Mr

1. 1,085=
1,085=

3
. 0,082. 300
Mr

73,8
Mr

73,8=1,085 Mr

Mr=

73,8
1,085

Mr=68

Dari perhitungan tersebut didapat bahwa massa molekul relatif dari gas butana
yang digunakan adalah 68. Namun menurut teori, massa relatif atom dari gas butana atau
C4H10 (bahan bakar yang biasa digunakan dalam pembuatan korek api gas) adalah 58.
Ketidakcocokan antara hasil percobaan dengan teori bisa disebabkan oleh beberapa hal,
seperti: ketidaktelitian saat memperkirakan volume awal cairan butana, ketidaktelitian
saat menimbang massa korek api, neraca yang kurang berfungsi maksimal serta kondisi
ruangan yang mungkin tidak dalam tekanan 1 atm dan temperatur 27 .
Jawaban pertanyaan :
Gas yang keluar dari sumber gas yang ditampung sebanyak 1,30 ltr. Berat gas
tersebut adalah 2,9 gram. Bila suhu dan tekanan pada kondisi tersebut adalah 27 0C dan
72cmHg. Hitunglah massa 1 mol gas tersebut.
Diketahui

Ditanya
Jawab

: V = 1,30 L
m = 2,9 gr
T = 270 C = 300 K
P = 1 atm
R = 0,082
: Mr gas X = ?
: P .V =n . R . T
P .V =

gr
.R.T
Mr

1. 1,30=
1,30=

2,9
. 0,082. 300
Mr

71,34
Mr

71,34=1,30 Mr
Mr=

71,34
1,30

Mr=54,87

VII.

KESIMPULAN
Pada percobaan ini, dapat disimpulkan beberapa hal. antara lain :
a. Berdasarkan wujudnya, zat dibedakan menjadi 3, yaitu: padat, cair dan gas.

b. Kerapatan molekul gas sangan kecil sehingga volumenya mudah berubah-ubah sesuai
wadahnya.
c. Sifat-sifat gas antara lain: gas bersifat transparan, gas tersebar secara merata dalam
ruangan apapun bentuk ruangannya, gas dalam ruang akan memberikan tekanan ke
dinding, volume sejumlah gas sama dengan volume wadahnya, dan sebagainya.
d. Hukum Charles : pada tekanan yang tetap volume gas berbanding lurus dengan suhu
mutlaknya. Persamaan: V T
e. Hukum Gay Lussac : pada volume yang tetap tekanan berbanding lurus dengan
suhunya. Persamaan:

P T

f. Hukum Avogadro : pada suhu dan tekanan yang tetap, gas yang bervolume sama
mengandung jumlah mol yang sama. Persamaan: V n
g. Hukum Boyle : pada suhu yang tekanan konstan volume gas berbanding terbalik

dengan tekanan. Persamaan:


h. Rumus persamaan gas ideal :
P . V = n. R . T

P=

1
V

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.
Sunarya, Yayan. 2010. Kimia Dasar 1: Berdasarkan Prinsip-prinsip Kimia Terkini. Tangerang :
Yrama Widya.
Tim Laboratorium Kimia Dasar. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Bukit Jimbaran :
Jurusan Kimia, F.MIPA, UNUD.
Permana, Dedi. 2006. Intisari Kimia SMA. Bandung: Pustaka Setia.
Sumber lain:
http://chem-is-try.org
http://id.wikipedia.org