Anda di halaman 1dari 17

1

Teknik Pemangkasan Pada Tanaman Kakao (Theobroma cacao L)


Latar Belakang
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) telah dikenal di Indonesia sejak
tahun 1560, tetapi baru menjadi komoditi yang sangat penting sejak tahun 1951.
Jenis yang pertama sekali ditanam di Indonesia Criollo, yaitu di daerah Sulawesi
Utara yang berasal dari Venezuela. Pada tahun 1888 diperkenalkan bahan tanaman
Java Criollo asal Venezuela yang bahan dasarnya adalah kakao asal Sulawes Utara
tersebut, sebagai bahan tanaman tertua untuk mendapat bahan tanaman unggul.
Sebelumnya pada tahun 1880, juga diperkenalkan bahan tanaman jenis forester
asal Venezuela untuk maksud yang sama. Dari hasil penelitian saat itu,
direkomendasikan bahan tanaman klon-klon DR, KWC, dan G dengan berbagai
nomor (Sihotang, 2010).
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan.
Kakao dapat mulai berproduksi pada umur delapan belas bulan (1,5 tahun), dan
dapat menghasilkan biji kakao yang selanjutnya dapat diproses menjadi bubuk
coklat. Secara teknis, rendahnya produktivitas dan mutu kakao disebabkan
beberapa hal, diantaranya: benih yang digunakan beragam dan local, pemeliharaan
dilakukan seadanya dan belum dilakukan fermentasi sebagai factor penentu mutu
kakao (Nasriyati, dkk., 2008).
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya
cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan
kerja, sumber pendapatan dan devisa Negara. Disamping itu, kakao juga berperan
dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri
(Prawoto, 1993).

Hama dan penyakit tanaman kakao yang juga merupakan hama utama bagi
para petani kakao adalah hama penggerek batang yang disebabkan oleh sejenis
serangga yang dalam bahasa latinnya Zeuzera coffeae Nietn dan Glenea spp.
Hama ini dialami hampir semua petani kakao kita, apalagi bila sanitasi lahan
jarang dilakukan dan member peluang untuk hama ini berkembang biak dnegan
baik dan secara perlahan dan pasti akan merusak batang kakao sehingga menjadi
salah satu penyebab menurunnya produktivitas kakao petani (Hidayat, 2008).
Botani Tanaman
Menurut Sihotang (2010) Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) di
klasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae; Divisio : Spermatophyta; Sub
Divisio : Angiospermae; Kelas : Dicotyledoneae; Ordo : Malvales; Family :
Sterculiceae; Genus : Theobroma; Spesies : Theobroma cacao L.
Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan pohon
pohon yang tinggi, curah hujan tinggi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta
kelembapan tinggi dan relatif sama. Dalam habitat seperti itu, tanaman kakao akan
tumbuh tinggi tetapi bunga dan buahnya sedikit. Jika di budidayakan di kebun,
tinggi tanaman umur tiga tahun mencapai 1,8 3,0 meter dan pada umur 12 tahun
dapat mencapai 4,50 7,0 meter. Tinggi tanaman tersebut beragam, dipengaruhi
oleh intensitas naungan serta faktor faktor tumbuh yang tersedia. Tanaman kakao
bersifat dimorsisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang
arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan ortotrop atau tunas air
(Sitompul, 2008).
Akar tanaman kakao (Theobroma cacao L.) adalah akar tunggang (radix
primaria). Pertumbuhan akar kakao bisa sampai delapan meter kearah samping
dan lima belas meter kearah sumber air. Tanaman kakao (Theobroma cacao L.)

yang

diperbanyak

secara

vegetatif

pada

awal

pertumbuhannya

tidak

membutuhkan akar tunggang, melainkan akar-akar serabut yang banyak


jumlahnya. Setelah dewasa tanaman tersebut menumbuhkan dua akar tunggang
(Sihotang, 2010).
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) dapat tumbuh sampai ketinggian 810 meter dari pangkal batangnya pada permukaan tanah. Tanaman kakao punya
kecenderungan tumbuh lebih pendek bila tanaman tanpa pohon pelindung. Diawal
pertumbuhannya

tanaman

kakao

yang

diperbanyak

melalui

biji

akan

menumbuhkan cabang-cabang primer. Letak cabang-cabang primer itu tumbuh


disebut jorguette, yang tingginya dari permukaan tanah 1-2 meter. Ketinggian
jorguette yang ideal adalah 1,2 1,5 meter agar tanaman dapat menghasilkan
tajuk yang baik dan seimbang. Dari batang maupun cabang acapkali tumbuh
tunas-tunas air (chupon). Bila tunas air ini dibiarkan tumbuha akan membentuk
jorket kembali. Tunas air tersebut juga menyerap banyak energi sehingga bila
dibiarkan tumbuh akan mengurangi pembungaan dan pembuahan. Karena itu
tunas air harus dipangkas secara berkala (Santoso, 2007).
Sama dengan sifat percabangannya, daun kakao juga bersifat dimorfisme.
Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5 10 cm sedangkan pada
tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya sekitar 2,5 cm. Tangkai daun
bentuknya silinder dan bersisik halus, bergantung pada tipenya. Salah satu sifat
khusus daun kakao yaitu adanya dua persendian (articLarvaion) yang terletak di
pangkal dan ujung tangkai daun. Dengan persendian ini dilaporkan daun mampu
membuat gerakan untuk menyesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari.
Bentuk helai daun Larva memanjang (oblongus) ujung daun meruncing
(acuminatus) dan pangkal daun runcing (acutus). Susunan daun tulang menyirip

dan tulang daun menonjol kepermukaan helai daun. Tepi daun rata, daging daun
tipis tetapi kuat seperti perkamen. Warna daun dewasa hijau tua bergantung pada
kultivarnya. Panjang daun dewasa 30 cm dan lebarnya 10 cm, permukaan daun
licin dan mengkilap (Suhaidi, 2005).
Bunga tanaman kakao tergolong bunga sempurna, terdiri atas daun kelopak
(calyx) sebanyak 5 helai, dan benang sari (androecium) sejumlah 10 helai.
Diameter bunga 1,5 cm. Bunga disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya 2-4
cm. Tangkai bunga tersebut tumbuh dari bantalan bunga pada batang atau cabang.
Bantalan bunga pada cabang akan menumbuhkan bunga ramiflora sedangkan
bantalan bunga pada batang akan menumbuhkan bunga cauliflora, yang diameter
serbuk sarinya hanya 2-3 mikron (Sihotang, 2010).
Buah kakao yang masih muda disebut cherelle, dan sampai 3 bulan pertama
sejak perkembangannya akan terjadi cherelle wilt, yaitu buah muda menjadi
kering dan mengeras. Kehilangan buah dapat mencapai 80% dari seluruh buah
yang semula berkembang. Buah yang sudah masak disebut pod atau tongkol,
warnanya bermacam-macam dan ukurannya antara 10-30 cm. Buah yang sudah
masak pada umumnya memiliki 2 macam warna (Sunanto, 2002).
Syarat Tumbuh
Iklim
Kakao (Theobroma cacao L.) adalah tanaman perkebunan yang dapat
tumbuh di berbagi tempat, asalkan sifat fisik dan kimiawi dapat dipenuhi. Batas
geografis penanaman kakao yaitu 200LU dan 200LS, tetapi daerah kakao yang
paling baik terbatas pada 100LU dan 100LS. Tanaman kakao dapat tumbuh baik
pada suhu 180C-320C dengan suhu rata-rata 250C, suhu rata-rata bulanan terdingin
tidak boleh kurang dari 150C. Pengaruh suhu terhadap kakao erat kaitannya
dengan kertersediaan air, sinar matahari dan kelembapan. Pada suhu rendah sering

meyebabkan pembungaan terlambat dan penurunan suhu dibawah 22 0C


menyebabkan bunga terhenti (Oktaviani, 2008).
Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan pertamanan
kakao adalah distribusinya sepanjang tahun. Hal tersebut berkaitan dengan masa
pembentukan tunas muda dan produksi. Areal penanaman kakao yang ideal adalah
di daerah-daerah bercurah hujan

1.100 3.000 mm per tahun. Disamping

kondisi fisik dan kimia tanah, curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun
tampaknya berkaitan dengan serangan penyakit busuk buah (black pods)
(Sihotang, 2010).
Tanah
Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman
adalah sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sifat kimia tanah meliputi kadar unsur
hara mikro dan makro tanah, kejenuhan basa, kapasitas tukar kation (KTK), pH
atau keasaman tanah, dan kadar bahan organik relatif mudah diperbaiki dengan
teknologi yang ada. Sementara itu, sifat tanah yang meliputi tekstur, struktur,
konsistensi, kedalaman efektif tanah (slum), dan akumulasi endapan suatu
(konkresi) relatif sulit diperbaiki meskipun teknologi perbaikannya telah ada
(Suhaidi, 2005).
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman kakao mempunyai pH
berkisar antara 6.0-7.0, kandungan bahan organik tanah lebih dari 4%, KTK lebih
dari 24 me/100gr, dan kejenuhan basa rata-rata lebih dari 50% (Oktaviani, 2008).
Kakao terbagi menjadi tiga kelompok besar yaitu Criollo, Forastero, dan
Trinitario. Criollo dalam tata niaga kakao termasuk kelompok kakao mulia
(fine- flavoured), Forastero termasuk kakao lindak (bulk), dan Trinitario
merupakan hibrida Criollo dengan Forastero (PPKKI, 2004).

Menurut Susanto (1994) Criollo termasuk kakao yang bermutu tinggi


dengan ciri-ciri memiliki tunas muda yang umumnya berbulu, kulit buah tipis
dan mudah diiris, terdapat 10 alur yang letaknya berselang-seling (lima alur
agak dalam dan lima alur dangkal), ujung buah umumnya tumpul dengan sedikit
bengkok tanpa bottle neck, tiap buah berisi 30-40 biji yang bentuknya agak bulat
hingga bulat dengan endosperm putih, fermentasi cepat, rasa tidak begitu pahit,
warna buah muda umumnya merah dan setelah masak menjadi oranye.
Namun tipe Criollo memiliki pertumbuhan tanaman kurang kuat, produksi
rendah, masa berbuah lambat, dan agak peka terhadap serangan hama dan
penyakit.
Kakao tipe Forastero termasuk kakao bermutu rendah dengan ciri-ciri
pertumbuhan tanaman kuat dengan produksi lebih tinggi, masa berbuah
lebih awal, relatif tahan terhadap serangan hama penyakit, kulit buah agak keras
dengan alur agak dalam, buah ada yang memiliki bottle neck, endosperm warna
ungu tua dan berbentuk gepeng, fermentasi lebih lama, rasa biji lebih pahit, dan
kulit

buah

muda

berwarna

hijau

saat

masak

menjadi

kuning

(Winarsih dan Zaenudin, 1996).


Tipe Trinitario yang merupakan hasil persilangan Criollo dan Forastero
dapat dibedakan menjadi empat golongan yaitu Angoleta, Cundeamor,
Amelonado, dan Calabacillo. Angoleta memiliki ciri bentuk luar buah mendekati
Criollo, tanpa bottle neck, beralur dalam, dan berbiji bulat dengan
endosperm ungu. Cundeamor dengan bentuk buah seperti Angoleta, memiliki
bottle neck, alur tidak dalam, biji gepeng dan mutu superior. Amelonado dengan
ciri bentuk buah bulat telur, biji gepeng, endosperm warna ungu. Calabacillo

dengan bentuk buah pendek dan bulat, alur buah dangkal, biji gepeng, rasa
pahit, endosperm ungu (Susanto, 1994).
Tanaman kakao memiliki tinggi mencapai 1.8-3.0 meter pada umur tiga
tahun dan mencapai 4.5 7.0 meter pada umur 12 tahun yang bergantung pada
intensitas naungan dan faktor-faktor tumbuh yang tersedia. Tanaman kakao
bersifat dimorfisme yaitu mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Pada Gambar 1
dapat dilihat bahwa tunas ortotrop memiliki arah pertumbuhan ke atas contohnya
tunas air, dan tunas plagiotrop yang pertumbuhannya mengarah ke samping
contohnya cabang kipas (PPKKI, 2004).
Tanaman kakao asal biji setelah mencapai tinggi 0.9-1.5 meter akan
berhenti

tumbuh

dan

membentuk

jorket

(jorquette)

yaitu

pergantian

percabangan dari pola ortotrop ke plagiotrop. Pembentukan jorket akan


membentuk 3-6 cabang primer yang

membentuk sudut 0-60 dengan arah

horizontal. Kemudian dari cabang primer tersebut tumbuh cabang

lateral

sehingga tanaman membentuk tajuk yang rimbun (Arifin, 2007).

a)
b)
Gambar 1. Pembentukan Tunas dan Sudut Cabang Primer Tanaman
Kakao. (a) Tunas Ortotrop dan Tunas Plagiotrop pada Tanaman
Kakao. (b) Cabang Primer. Cabang primer ditunjukkan oleh huruf
a dan jorket ditunjukkan oleh huruf j
(PPKKI, 2004)

Pemangkasan pada Kakao


Produk primer semua jenis komoditas tanaman adalah asimilat atau hasil
fotosintesis yang selanjutnya akan dikonversi menjadi senyawa-senyawa
sekunder berupa hasil yang dipanen. Pemangkasan kakao merupakan salah satu
upaya agar laju fotosintesis berlangsung optimal, hasil bersih fotosintesis
maksimal, dan distribusinya ke organ-organ yang membutuhkan berlangsung
lancar. Proses tersebut dan faktor-faktor yang berpengaruh perlu dipahami
sebagai

dasar

dalam

melakukan

tindakan

pemangkasan

yang

benar

(Abdoellah dan Soedarsono, 1996).


Agar memperoleh hasil buah yang banyak, tanaman harus mampu
menghasilkan asimilat yang banyak pula. Pada kenyataannya, tidak semua daun
di tajuk tanaman mampu melakukan fotosintesis secara optimal. Adanya flush
juga mempengaruhi kanopi dan praktek pemangkasan (Winarsih dan Zaenudin,
1996). Daun-daun yang ternaungi juga dapat menjadi pemakai (sink) asimilat.
Parameter yang erat kaitannya dengan fotosintesis ini adalah indeks luas daun
(ILD), yaitu angka yang menunjukkan nisbah antara total luas seluruh daun yang
ada di tajuk tanaman dan luas bidang tanah yang dinaungi tajuk tanaman
tersebut.

Pada dasarnya,

pemangkasan

kakao

dimaksudkan

untuk

memperoleh angka ILD optimal agar hasil bersih fotosintesis maksimal. Nilai
ILD optimal pada tanaman kakao adalah 3-5 yang setara dengan hasil
2
fotosintesis 3.5 5.0 mg bahan kering/dm /hari atau 12.8 18.2 ton/ha/tahun
(PPKKI, 2004).
Kegiatan pemangkasan tanaman kakao dimaksudkan agar tunas-tunas liar
yang tumbuh dihilangkan, sehingga dapat membantu pembentukan buah. Tujuan

lain dari pemangkasan adalah membentuk pohon yang sedang berkembang,


memudahkan

akses

saat

penyemprotan

atau

pemanenan,

membantu

pengontrolan hama dan penyakit, memastikan pohon memberikan hasil tinggi


dan optimum, membuang bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki,
memacu tanaman membentuk daun baru yang potensial untuk sumber asimilat
(PPKKI, 2004), serta mengurangi sebagian daun, ranting, dan cabang yang
bersifat parasit atau merugikan tanaman (Winarsih dan Zaenudin, 1996).
Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan

bentuk

dilakukan

agar

tanaman

kakao

memiliki

bentuk/kerangka yang baik agar pertumbuhan seimbang dan terkena sinar


matahari secara merata. Waktu pemangkasan adalah saat tanaman kakao muda
telah membentuk jorket dan cabang primer (PPKKI, 2004) agar tujuan optimal
maka pemangkasan dilakukan saat tanaman berumur 8-12 bulan (tanaman muda)
dan 18-24 bulan (tanaman remaja) pada tanaman yang sama (Prawoto, 1993).
Objek pemangkasan bentuk untuk tanaman asal semaian atau okulasi dari
tunas ortotrop adalah cabang utama (primer). Cabang utama untuk tanaman
kakao di Indonesia umumnya dari 4-6 cabang primer hanya disisakan sebanyak
tiga cabang. Sedangkan untuk tanaman asal stek atau okulasi dari cabang
plagiotrop, pemangkasan bentuk ditujukan untuk mengarahkan cabang kipas
agar pertumbuhan cabang mengarah ke atas (Soedarsono, 1996).
Saat ini, pemangkasan bentuk sering dilakukan pada tanaman kakao yang
berasal

dari

bahan

tanam

plagiotrop.

Tanaman

kakao

asal

cabang

plagiotrop cenderung menghasilkan tajuk yang pendek, tanaman cepat berbuah,

10

dan produksinya tinggi.

Habitus

yang

pendek

memudahkan dalam

pengelolaannya (Prawoto, 1993).


Pemangkasan bentuk dilakukan dengan cara sebagai berikut cabang primer
(lazimnya 4-6 cabang) dipotong hingga tersisa hanya tiga cabang yang tumbuh
sehat dan arahnya simetris (Gambar 2), cabang-cabang sekunder yang tumbuh
terlalu dekat dengan jorket (berjarak 40-60 cm) dibuang, cabang-cabang
sekunder berikutnya diatur agar jaraknya tidak terlalu rapat satu sama lain
dengan membuang sebagian cabangnya, dan cabang-cabang yang tumbuh
meninggi dipotong untuk membatasi tinggi tajuk kakao, sehingga tinggi tanaman
kakao hanya 4-5 m (PPKKI, 2004).

Gambar 2. Skema Pemangkasan Bentuk. Cabang primer a, b, d disisakan karena


pertumbuhannya sehat dan arahnya simetris sedangkan cabang
primer c, e, f dipotong
(Soedarsono, 1996)
Pemangkasan Pemeliharaan
Pemangkasan ini bertujuan untuk memelihara tanaman kakao sehingga
pertumbuhannya tidak terganggu dan terpacu untuk membentuk organ-organ
tanaman seperti daun, bunga, dan buah. Pemangkasan pemeliharaan berlangsung

11

sampai saatnya tanaman kakao menghasilkan. Objek pemangkasan pemeliharaan


adalah cabang sekunder (Soedarsono, 1996).
Kegiatan dalam pemangkasan pemeliharaan yang sering dikenal dengan
istilah

wiwilan,

dilakukan

yaitu

secara

kegiatan

manual

dengan

membuang

tunas

menggunakan

air.
tangan.

Wiwilan

bisa

Pemangkasan

pemeliharaan dilakukan sebagai berikut sebagian daun yang rimbun di tajuk


tanaman dikurangi dengan cara memotong ranting ranting yang terlindung
dan yang menaungi, mengurangi daun yang menggantung dan menghalangi
aliran udara di dalam kebun, pemangkasan dilakukan secara ringan di sela-sela
pemangkasan produksi dengan frekuensi 2-3 bulan sekali per pohon menurut
kegigasan (kecepatan tumbuh) varietas/klon dan jarak tanam (PPKKI, 2004).
Setelah pemangkasan, intensitas cahaya yang diterima sebagian besar daun
meningkat dari 50 % menjadi 7080 % dengan cahaya yang mencapai
permukaan tanah meningkat dari 0-1 % menjadi 1-3 %. Pemangkasan juga
dilakukan untuk mengurangi tinggi tanaman dari 5 m menjadi 3 - 4 m
(Soedarsono, 1996).
Pemangkasan Produksi
Pemangkasan

produksi

bertujuan

percabangan muda masing-masing

untuk

mengatur

keseimbangan

cabang primer hingga distribusi daun

tetap merata, aerasi baik dan mendapatkan produksi tinggi. Pemangkasan jenis
ini diterapkan pada tanaman kakao produktif yang telah mengalami
pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan (Roesmanto, 1991).
Pemangkasan

produksi

dilakukan

secara

periodik

pada

tanaman

menghasilkan untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah yang tumbuh sekitar

12

enam bulan setelah pemotongan cabang yang tumbuh meninggi (lebih dari 3-4
m), serta ranting dan daun dipangkas hingga 25 50 %. Pemangkasan produksi
dilakukan dua kali setahun, yaitu pada akhir musim kemarau-awal musim hujan
serta pada akhir musim hujan (PPKKI, 2004). Selain itu, untuk mengurangi
bagian tanaman yang rimbun, cabang yang sakit, overlapping, dan menggantung
untuk mencapai efisiensi pemanfaatan sinar matahari sebanyak-banyaknya pada
pertanaman agar indeks luas daun (ILD) optimum dan produktivitas tinggi
karena tidak semua daun yang tumbuh produktif (Abdoellah dan Soedarsono,
1996).
Alat Pangkas
Penggunaan alat pangkas yang tepat berpengaruh terhadap kondisi
tanaman setelah pemangkasan dan keberhasilan pemangkasan. Alat pangkas
harus dalam keadaan tajam agar luka merata dan teratur serta tidak
merusak kulit cabang atau ranting. Alat pangkas yang digunakan berbeda sesuai
dengan besar kecilnya cabang seperti pada cabang yang berukuran kecil
(ranting) pemotongan menggunakan gunting pangkas atau pisau pangkas.
Cabang lebih besar dapat dipotong dengan gergaji pangkas dan ranting yang
tinggi letaknya dapat dipotong dengan sabit bergalah (Soedarsono, 1996).
Penggunaan alat pangkas bergantung pada jenis pemangkasan yang akan
dilakukan. Pemangkasan pemeliharaan menggunakan galah pangkas, gunting
pangkas bergalah, dan golok sedangkan untuk pemangkasan produksi
menggunakan galah pangkas, gergaji pangkas, gunting pangkas, gunting pangkas
bergalah dan golok . Pemangkasan dengan menggunakan gergaji pangkas dan

13

golok memiliki keberhasilan pemangkasan lebih besar 8.13 % dibandingkan


menggunakan cungkring dan golok (Arifin, 2007).
Prinsip Pemangkasan
Prinsip dasar pemangkasan kakao adalah memangkas secara ringan tetapi
sering. Selain itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pemangkasan antara lain: 1) menghindari pemotongan cabang yang terlalu besar
(diameter lebih dari 2.5 cm) karena berisiko cabang menjadi mati, lapuk,
dan menjalar ke arah pangkal tanaman (Prawoto, 2008). Jika terpaksa, luka
bekas potongan harus ditutup dengan obat penutup luka, 2) pemotongan ranting
dan cabang kecil yang letaknya rapat (kira-kira 0.5 cm) dengan cabang
induknya, pemotongan cabang besar meninggalkan sisa sekitar 5 cm, 3)
menghindari tajuk kakao yang terlalu terbuka, 4) tidak melakukan pemangkasan
saat tanaman sedang berbunga banyak atau sebagian besar ukuran buah masih
kecil, 5) jangan memotong cabang atau ranting tanpa mempertimbangkannya
secara bijaksana (PPKKI, 2004)
Kerusakan dan Keberhasilan Pemangkasan
Pemangkasan pada kakao bertujuan untuk membuang bagian tanaman
yang tidak dikehendaki, antara lain tunas air, cabang sakit atau patah, dan
cabang atau ranting yang kurang kuat pertumbuhannya (cabang cacing). Tunas
air sangat banyak menyerap makanan (asimilat), sehingga merupakan parasit
bagi tanaman kakao. Cabang sakit juga harus dibuang dengan pemangkasan
sanitasi yang teratur dan konsekuen sehingga tidak menjadi sumber penularan ke
bagian tanaman yang masih sehat (Soedarsono, 1996).

14

Pemangkasan yang salah atau penggunaan alat pangkas yang tidak tepat
dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman kakao. Kerusakan yang
terjadi salah satunya adalah banyaknya cabang-cabang besar (diameter lebih
dari 2.5 cm) yang terpotong. Cabang besar yang terpotong mengakibatkan
rusaknya kerangka tanaman, dan memerlukan waktu lama serta energi yang
banyak untuk pembentukannya kembali. Selain itu, pemotongan cabang besar
juga mendorong pertumbuhan tunas air lebih banyak ((Arifin, 2007)).
Oleh karena itu, kriteria keberhasilan pemangkasan dapat dilihat dari
beberapa indikator antara lain, pada siang hari di lantai kebun terdapat bercakbercak cahaya matahari, tetapi gulma tidak tumbuh lebat. Proporsi cahaya
langsung maksimum yang sampai pada lantai kebun 25 % dari luas areal
sehingga suasana dalam kebun tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang.
Pertumbuhan diameter batang kakao sama antara yang di tengah dan di pinggir
kebun. Bunga dan buah merata di batang pokok dan cabang-cabangnya, serta
merata di semua penjuru kebun (PPKKI, 2004).
Hubungan Pemangkasan dengan Iklim Mikro dan Kesuburan Tanah
Pemangkasan yang optimum dapat dilakukan dengan pendekatan aspek
iklim mikro dan kesuburan tanah, karena dua aspek tersebut berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Peran yang diharapkan dari
pemangkasan terhadap iklim mikro adalah fungsinya untuk mengatur
intensitas dan lama penyinaran matahari, suhu, kelembaban udara, dan gerakan
udara di sekitar pohon kakao (Arifin, 2007).
Pengaruh pemangkasan terhadap intensitas dan lama penyinaran matahari
adalah agar sebagian besar daun menerima sinar matahari sampai titik jenuhnya

15

dan dalam waktu yang sama sehingga produksi asimilat oleh setiap daun
mencapai maksimum. Hubungan dengan suhu udara, pemangkasan dapat
mengurangi perbedaan suhu udara di dalam dan di luar tajuk pohon kakao.
Pemangkasan juga dapat mengurangi kelembaban udara di dalam tajuk tanaman
karena kelembaban yang tinggi dapat memacu perkembangan jamur-jamur
parasit. Selain itu, gerakan udara di dalam tajuk juga menjadi lebih leluasa
akibat pemangkasan (FAO, 2010).
Pemangkasan juga berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Brangkasan
hasil pemangkasan dapat berguna sebagai mulsa atau cadangan hara bagi
tanaman. Adanya mulsa melindungi permukaan tanah, menjadikan struktur
tanah dan konsistensi tanah menjadi lebih baik, menekan erosi, meningkatkan
kemampuan tanah mengikat air, serta menjaga agar perbedaan suhu tanah tidak
terlalu besar. Serasah hasil pemangkasan juga merupakan tempat yang disukai
serangga penyerbuk bunga kakao Forcipomyia sp. untuk bersarang dan berbiak
(Abdoellah dan Soedarsono, 1996).
Iklim Mikro dan Kesuburan Tanah yang Ideal bagi Tanaman Kakao
Menurut Abdoellah dan Soedarsono (1996), iklim mikro dan kesuburan
tanah yang ideal untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kakao adalah pada
intensitas sinar matahari sebesar 30 sampai 60 % sinar matahari penuh. Selain
itu, curah hujan 1 500 2 000 mm/tahun dengan jumlah bulan dengan curah
hujan kurang dari 100 mm/tahun tidak lebih dari tiga bulan. Suhu maksimum
30-32C dan suhu minimum 18-21C. Kecepatan angin kurang dari 4 m/detik
dan tidak berlangsung terus menerus.

16

Sedangkan kondisi tanah yang baik adalah dengan kedalaman solum lebih
dari 1.5 m agar tidak menghambat pertumbuhan akar, mengandung pasir 50 %,
debu 10 20 %, lempung 30 40 %, dan bahan organik 3.5 %, pH netral, nisbah
C/N > 9, kapasitas tukar kation >12 me/100 g, kejenuhan basa > 35 %,
kejenuhan Al kurang dari 30 %, dan tidak mengandung unsur racun (FAO, 2011).

DAFTAR PUSTAKA
Abdoellah, S., dan Soedarsono. 1996. Penaung dan pemangkasan kakao, suatu
tinjauan dari aspek iklim mikro dan kesuburan tanah. Warta Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao 12(3):153-160.
Arifin. 2007. Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.)
di Kebun PT Rumpun Sari Antan I, PT Sumber Abadi Tirtasantosa,
Cilacap, Jawa Tengah. Skripsi. Program Studi Agronomi, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tidak Dipublikasikan).
FAO.

2010. Exports Countries by Commodity


http://faostat.fao.org Diakses 19 Oktober 2014

Cocoa

Beans.

FAO. 2011. Crops Production : Cocoa Beans. http://faostat.fao.org Diakses 19


Oktober 2014
Hidayat, H. 2008. Hama Penggerek Batang Tanaman Kakao.2008. Balai Besar
Penelitian
Tanaman
Perkebunan.
Kalimantan.
Diakses
dari
http://www.deptan.go.id/ pada tanggal 19 Oktober 2014 pukul 17.30 wib

17

Nasriaty ; Firdausil, A.B. ; dan Yani, A. 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai
Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balitbang
Peranian. Jakarta. http://www.deptan.go.id/ diakses pada tanggal 19 Mei
2012 pukul 14.30 wib
Oktaviani, W. 2008. Peningkatan Produksi Buah Kakao (Theobroma cacao L.)
Melalui Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Paclobutrazol pada Berbagai
Konsentrasi. Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.
Prawoto, A. A. 1993. Prospek Indonesia sebagai produsen kakao dunia. Warta
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao 14:1-8.
PPKKI. 2004. Panduan Lengkap Budidaya Kakao. PT Agromedia Pustaka.
Jakarta. 328 hal.
Roesmanto, J. 1991. Kakao : Kajian Sosial Ekonomi. Aditya medika.
Yogyakarta. 210 hal.
Santoso, B. 2007. Mekanisme Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.)
pada Lahan eks PT Perkebunan Nusantara XI dengan Teknik Tumpang
Sari. diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 19 Oktober 2014
Pukul 19.30 wib
Sihotang, B. 2010. Kakao [Artikel-Budidaya Tanaman]. Bogor Agriculture
Institute e-repository. diakses dari http://repository.ipb.ac.id/ pada tanggal
18 Mei 2012 pukul 20.00 wib.
Sitompul, A.G. 2008. Analisis Pertanaman Kakao (Theobroma cacao L.) dengan
Perlakuan Berbeda di Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor. Diakses
http://repository.ipb.ac.id/ pada tanggal 19 Oktober 2014 pukul 17. 20 wib
Soedarsono. 1996. Cara pemangkasan pada tanaman kakao. Warta Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao 12(3):178-186. 62
Suhaidi, E. 2005. Pengembangan Budidaya Kakao dan Pengolahan Kakao.
diakses http://www.scribd.bertanamkakao/0r994889 pada tanggal 19 Mei
2012 pukul 18.20 wib
Sunanto, H. 2002. Cokelat, Budidaya, Pengolahan Hasil Studi dan Aspek
Ekonominya. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Susanto, F. X. 1994. Tanaman Kakao, Budidaya dan Pengolahan Hasil. Kanisius.
Yogyakarta. 185 hal.
Winarsih, S., dan Zaenudin. 1996. Dasar-dasar fisiologi pemangkasan tanaman
kakao. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao 12(3):148-152.