Anda di halaman 1dari 30

Sumatera Barat adalah Propinsi yang mempunyai sejarah panjang, dimana

setiap sejarahnya mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Minangkabau?


Asal Usul Sumatera Barat

Siapa yang tidak mengenal suku minang? Suku ini merupakan salah satu
suku yang terkenal dengan cerita rakyatnya yang begitu melegenda di seluruh
tanah air. Suku Minang berada di Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi
yang terletak di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Padang sebagai ibu kota
Sumatera Barat dikenal dengan masakannya yang khas dan dominan bumbu asli
dari rempah-rempah Indonesia. Provinsi dengan jumlah penduduk 4.846.909 jiwa
ini memang dominan di huni oleh masyarakat yang beretnis Minang, karena itu
wajar saja jika Sumatra Barat dikenal lewat suku Minangkabau. Namun provinsi
yang begitu elok ini tentu memiliki sejarah tersendiri. Bagaimana asal-usul
Sumatra Barat?
Awal Mulanya Minangkabau

Sejarah bermula pada masa kerajaan Adityawarman, yang merupakan


tokoh penting di Minangkabau. Seorang Raja yang tidak ingin disebut sebagai
Raja, pernah memerintah di Pagaruyung, daerah pusat kerajaan Minangkabau.
Adityawarman adalah seoranga Raja yang berjasa memberi sumbangsih bagi
alam Minangkabau, selain itu beliau juga orang pertama yang memperkenalkan
sistemkerajaan di Sumatera Barat. Sejak pemerintahan Raja Adityawarman
tepatnya pertengahan abad ke-17, Propinsi ini lebih terbuka dengan dunia luar
khususnya Aceh. Karena hubungan dengan Aceh yang semakin intensif melalui
kegiatan ekonomi masyarakat, akhirnya mulai berkembang nilai baru yang
menjadi landasan sosial budaya masyarakat Sumatera Barat. Agama Islam
sebagai nilai baru tersebut berkembang di kalangan masyarakat dan berangsurangsur mendominasi masyarakat Minangkabau yang sebelumnya didominasi

agama Buddha. Selain itu sebagian kawasan di Sumatera Barat yaitu pesisir
pantai barat masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Pagaruyung, namun
kemudian menjadi bagian dari kesultanan Aceh.
Melirik sejarah singkat Minangkabau, merupakan salah satu desa yang
berada di kawasan Kecamatan Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat. Desa
tersebut awalnya merupakan tanah lapang. Namun karena adanya isu yang
berkembang bahwa Kerajaan Pagaruyung akan di serang kerajaan Majapahit dari
Provinsi Jawa maka terjadilah peristiwa adu kerbau atas usul kedua belah pihak.
Kerbau tersebut mewakili peperangan kedua kerajaan. Karena kerbau Minang
berhasil memenangkan perkelahian maka muncul kata manang kabau yang
selanjutnya di jadikan nama Nagari atau desa tersebut. Upaya penduduk
setempat mengenang peristiwa bersejarah tersebut, penduduk Pagaruyung
mendirikan sebuah rumah loteng (rangkiang) dimana atapnya mengikuti
bentuk tanduk kerbau. Menurut sejarah, rumah tersebut didirikan di batas tempat
bertemunya pasukan Majapahit yang di jamu dengan hormat oleh wanita cantik
Pagaruyung. Situasi masyarakat saat itu umumnya hidup dengan cara berdagang,
bertani sawah, hasil hutan dan mulai berkembang pertambangan emas. Beberapa
pernyataan timbul bahwa alat transportasi yang digunakan untuk menelusuri
dataran tinggi Minangkabau adalah kerbau. Alasan menggunakan kerbau karena
agama yang dipercaya pada waktu itu di ajarkan untuk menyayangi binatang
gajah, kerbau, dan lembu. Karena ajaran tersebut mereka menggunakan kerbau
sebagai masyarakat dengan adu kerbau.
Bukti arkeolog mengatakan bahwa daerah kawasan Minangkabau yaitu
Lima puluh Koto merupakan daerah yang dihuni pertama kali oleh nenek moyang
orang Minang. Di daerah tersebut mengalir sungai-sungai yang dijadikan sarana
transportasi pada zaman dulu. Nenek moyang orang Sumatera di perkirakan
berlayar melalui rute ini dan sebagian diantaranya menetap dan mengembangkan
peradabannya di sekitar Lima puluh Koto tersebut. Terbukanya provinsi Sumatera
Barat terhadap dunia luar menyebabkan kebudayaan yang semakin berkembang
oleh bercampurnya para pendatang. Jumlah pertumbuhan penduduk yang
semakin bertambah menyebabkan persebaran penduduk ke berbagai lokasi
Sumatera Barat. Sebagian menyebar ke selatan dan sebagian ke bagian barat
Sumatera.
Jatuhnya kerajaan Pagaruyung dan terlibatnya negara Belanda di Perang
Padri, menjadikan daerah pedalaman Minangkabau menjadi bagian dari Pax
Nederlandica oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian daerah Minangkabau di
bagi menjadi Residentie Padangsche Bovenlanden serta Benedenlanden. Pada
zaman VOC, Hoofdcomptoir van Sumatra's westkust merupakan sebutan untuk
wilayah pesisir barat Sumatera. Hingga abad ke-18, Provinsi Sumatera Barat
semakin terkena pengaruh politik dan ekonomi akhirnya kawasan ini mencakup
daerah pantai barat Sumatera. Kemudian mengikuti perkembangan administratif

pemerintahan Belanda, kawasan ini masuk dalam Pemerintahan Sumatra's


Westkust dan di ekspansi lagi menggabungkan Singkil dan Tapanuli. Pada 1905,
wilayah Singkil dialihkan ke Residen Aceh, dan Tapanuli dijadikan residen
Tapanuli. Memasuki tahun 1914, pemerintahan Sumateras Westkust statusnya
diturunkan menjadi Residen Sumateras Westkust. Kemudian wilayah Mentawai di
tambahkan di Samudera Hindia menjadi bagian dari Residen Sumatera. 21 tahun
berikutnya tepatnya 1935 kawasan Kerinci dimasukkan juga ke bagian Residen
Sumatera. Setelah perpecahan pemerintahan Sumatras Ootkust, kedua wilayah
yaitu Kuantan Singingi dan Rokan Hulu dimasukkan ke Residen Riouw, dan
dengan waktu yang hampir sama dibentuk Residen Djambi.
Selanjutnya masa pendudukan Jepang di kawan ini, Residen Sumateras
Westkust berganti nama dengan bahasa Jepang yaitu Sumatora Nishi Kaigan
Shu. Karena alasan strategi militer, wilayah Kampar akhirnya dikeluarkan dari
Residen Sumateras Westkust atau Sumatora Nishi Kaigan Shu kemudian
digabung ke wilayah Rhio Shu. Sampai awal kemerdekaan negara Indonesia
tahun 1945, daerah Sumatera Barat digabungkan dalam Provinsi Sumatera yang
berdomisili di Bukittinggi. Tahun 1949 Provinsi Sumatera mengalami perpecahan
menjadi 3 kawasan, yakni provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan
Sumatera Tengah yang mencakup Sumatera Barat, Jambi dan Riau.
CERITA LENGKAP ASAL USUL MINANGKABAU
Minangkabau termasuk salah satu nagari (desa) yang berada di wilayah
Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat. Nagari
ini dulunya masih berupa tanah lapang. Namun, tersebab oleh sebuah peristiwa,
daerah itu dinamakan Nagari Minangkabau. Peristiwa apakah itu? Berikut
kisahnya dalam cerita Asal Mula Nama Nagari Minangkabau.
***
Dahulu, di Sumatera Barat, tersebutlah sebuah kerajaan bernama Kerajaan
Pagaruyung. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana.
Rakyatnya senantiasa hidup aman, damai, dan tenteram. Suatu ketika,
ketenteraman negeri itu terusik oleh adanya kabar buruk bahwa Kerajaan
Majapahit dari Pulau Jawa akan menyerang mereka. Situasi tersebut tidak
membuat para punggawa Kerajaan Pagaruyung gentar.
Musuh pantang dicari, datang pantang ditolak. Kalau bisa dihindari, tapi kalau
terdesak kita hadapi, demikian semboyan para pemimpin Kerajaan Pagaruyung.
Suatu hari, pasukan Kerajaan Majapahit tiba di Kiliran Jao, sebuah daerah di
dekat perbatasan Kerajaan Pagaruyung. Di tempat itu pasukan Kerajaan
Majapahit mendirikan tenda-tenda sembari mengatur strategi penyerangan ke
Kerajaan Pagaruyung. Menghadapi situasi genting itu, para pemimpin
Pagaruyung pun segera mengadakan sidang.
Negeri kita sedang terancam bahaya. Pasukan musuh sudah di depan mata.
Bagaimana pendapat kalian? tanya sang Raja yang memimpin sidang tersebut.

Ampun, Paduka Raja. Kalau boleh hamba usul, sebaiknya kita hadapi mereka
dengan pasukan berkuda dan pasukan gajah, usul panglima perang kerajaan.
Tunggu dulu! Kita tidak boleh gegabah, sanggah Penasehat Raja, Jika kita
serang mereka dengan pasukan besar, pertempuran sengit pasti akan terjadi.
Tentu saja peperangan ini akan menyengsarakan rakyat.
Suasana sidang mulai memanas. Sang Raja yang bijaksana itu pun segera
menenangkannya.
Tenang, saudara-saudara! ujar sang Raja, Saya sepakat dengan pendapat
Paman Penasehat. Tapi, apa usulan Paman agar peperangan ini tidak menelan
korban jiwa?
Pertanyaan sang Raja itu membuat seluruh peserta sidang terdiam. Suasana pun
menjadi hening. Semua perhatian tertuju kepada Penasehat Raja itu, mereka
tidak sabar lagi ingin mendengar pendapatnya. Beberapa saat kemudian,
Penasehat Raja itu pun angkat bicara.
Ampun, Paduka Raja. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah,
alangkah baiknya jika musuh kita ajak berunding. Kita sambut mereka di
perbatasan kemudian berunding dengan mereka. Jika mereka menolak, barulah
kita tantang mereka adu kerbau, ungkap Penasehat Raja.
Hmmm... ide yang bagus, kata sang Raja, Bagaimana pendapat kalian semua?
Setuju, Paduka Raja, jawab seluruh peserta sidang serentak.
Selanjutnya, sang Raja bersama punggawanya pun menyusun strategi untuk
mengalahkan musuh tanpa pertumpahan darah. Sang Raja segera
memerintahkan kepada putri Datuk Tantejo Garhano untuk menghiasi anak-anak
gadisnya dan dayang-dayang istana yang cantik dengan pakaian yang indah.
Datuk Tantejo Garhano adalah seorang putri yang memiliki tata krama dan
kelembutan. Sifat-sifat itu telah diajarkan oleh Datuk Tantejo Garhano kepada
anak-anak gadisnya serta para dayang istana.
Setelah semua siap, Datuk Tantejo Garhano bersama anak-anak gadisnya serta
dayang-dayang istana menuju ke perbatasan untuk menyambut kedatangan
pasukan musuh. Mereka pun membawa berbagai macam makanan lezat untuk
menjamu pasukan Majapahit. Sementara itu, dari kejauhan, pasukan Pagaruyung
terlihat sedang berjaga-jaga untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa
terjadi.
Tak berapa lama setelah rombongan Datuk Tantejo Garhano tiba di perbatasan,
pasukan musuh dari Majapahit pun sampai di tempat itu.
Selamat datang, Tuan-Tuan yang budiman, sambut Datuk Tantejo Garhano
dengan sopan dan lembut. Kami adalah utusan dari Kerajaan Pagaruyung. Raja
kami sangat senang dengan kedatangan Tuan-Tuan di istana. Tapi sebelumnya,
silakan dicicipi dulu hidangan yang telah kami sediakan! Tuan-Tuan tentu merasa
lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
Melihat perlakuan para wanita cantik itu, pasukan Majapahit menjadi terheranheran. Mereka sebelumnya mengira bahwa kedatangan mereka akan disambut
oleh pasukan bersenjata. Namun, di luar dugaan, ternyata mereka disambut oleh
puluhan wanita-wanita cantik yang membawa hidangan lezat. Dengan kelembutan

para wanita cantik tersebut, pasukan Majapahit pun mulai goyah untuk
melancarkan serangan hingga akhirnya menerima tawaran itu.
Setelah pasukan Majapahit selesai menikmati hidangan dan beristirahat sejenak,
Datuk Tantejo Garhano segera mengajak pemimpin mereka ke istana untuk
menemui sang Raja.
Mari, Tuan! Raja kami sedang menunggu Tuan di istana! bujuk Datuk Tantejo
Garhano dengan santun.
Baiklah, saya akan segera menemui Raja kalian, jawab pemimpin pasukan itu.
Setiba di istana, Datuk Tantejo Garhano langsung mengantar pemimpin pasukan
itu masuk ke ruang sidang. Di sana, sang Raja bersama punggawanya terlihat
sedang duduk menunggu.
Selamat datang, Tuan, sambut sang Raja, Mari, silakan duduk!
Terima kasih, Paduka, ucap pemimpin itu.
Ada apa gerangan Tuan kemari? tanya sang Raja pura-pura tidak tahu.
Kami diutus oleh Raja Majapahit untuk menaklukkan Pagaruyung. Kami pun
harus kembali membawa kemenangan, jawab pemimpin itu.
Oh, begitu, jawab sang Raja sambil tersenyum, Kami memahami tugas Tuan.
Tapi, bagaimana kalau peperangan ini kita ganti dengan adu kerbau. Tujuannya
adalah untuk menghindari pertumpahan darah di antara pasukan kita.
Pemimpin pasukan Majapahit itu terdiam. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia
pun menyetujui usulan sang Raja.
Baiklah, Paduka Raja. Kami menerima tawaran Paduka, jawab pemimpin itu.
Akhirnya, kedua belah pihak bersepakat untuk beradu kerbau. Jika kerbau milik
sang Raja kalah, maka Kerajaan Pagaruyung dinyatakan takluk. Tapi, jika kerbau
milik Majapahit kalah, mereka akan dibiarkan kembali ke Pulau Jawa dengan
damai.
Dalam kesepakatan tersebut tidak ditentukan jenis maupun ukuran kerbau yang
akan dijadikan aduan. Oleh karena ingin memenangi pertandingan tersebut,
pasukan Majapahit pun memilih seekor kerbau yang paling besar, kuat, dan
tangguh. Sementara itu, sang Raja memilih seekor anak kerbau yang masih
menyusu. Namun, pada mulut anak kerbau itu dipasang besi runcing yang
berbentuk kerucut. Sehari sebelum pertandingan itu dihelat, anak kerbau itu
sengaja dibuat lapar dengan cara dipisahkan dari induknya.
Keesokan harinya, kedua kerbau aduan segera dibawa ke gelanggang di sebuah
padang yang luas. Para penonton dari kedua belah pihak pun sedang berkumpul
di pinggir arena untuk menyaksikan pertandingan yang akan berlangsung sengit
tersebut. Kedua belah pihak pun bersorak-sorak untuk memberi dukungan pada
kerbau aduan masing-masing.
Ayo, kerbau kecil. Kalahkan kerbau besar itu! teriak penonton dari pihak
Pagaruyung.
Dukungan dari pihak pasukan Majapahit pun tak mau kalah.
Ayo, kerbau besar. Cincang saja anak kerbau ingusan itu!
Suasana di tanah lapang itu pun semakin ramai. Kedua kerbau aduan telah
dibawa masuk ke dalam arena. Suasana pun berubah menjadi hening. Penonton

dari kedua belah pihak terlihat tegang. Begitu kedua kerbau tersebut dilepas,
kerbau milik Majapahit terlihat beringas dan liar. Sementara itu, anak kerbau milik
Pagaruyung segera memburu hendak menyusu pada kerbau besar itu karena
mengira induknya.
Tak ayal, perut kerbau milik Majapahit pun terluka terkena tusukan besi runcing
yang terpasang di mulut anak kerbau milik Pagaruyung. Setelah beberapa kali
tusukan, kerbau milik pasukan Majapahit akhirnya roboh dan terkapar di tanah.
Melihat kejadian itu, penonton dari pihak Pagaruyung pun bersorak-sorak
gembira.
Manang kabau..., Manang kabau..., demikian teriak mereka.
Akhirnya, pasukan Majapahit dinyatakan kalah dalam pertandingan tersebut.
Mereka pun diizinkan kembali ke Majapahit dengan damai. Sementara itu, berita
tentang kemenangan kerbau Pagarayung tersebar ke seluruh pelosok negeri.
Kata manang kabau yang berarti menang kerbau pun menjadi pembicaraan di
mana-mana. Lama-kelamaan, pengucapan kata manang berubah menjadi kata
minang. Sejak itulah, tempat itu dinamakan Nagari Minangkabau, yaitu sebuah
nagari (desa) yang bernama Minangkabau.
Sebagai upaya untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk negeri
Pagaruyung merancang sebuah rumah rangkiang (loteng) yang atapnya
menyerupai bentuk tanduk kerbau. Konon, rumah itu dibangun di perbatasan,
tempat pasukan Majapahit dijamu oleh para wanita-wanita cantik Pagaruyung.
***
Demikian cerita Asal Mula Nama Nagari Minangkabau dari Sumatra Barat. Cerita
di atas hanyalah sebuah legenda yang tidak mesti sesuai dengan fakta sejarah.
Terlepas dari benar atau salah cerita di atas, yang penting adalah pesan moral
yang terkandung di baliknya. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik adalah
bahwa penyelesaian sebuah masalah tidak harus selalu diakhiri dengan
kekerasan. Masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh, salah satunya adalah
jalan perundingan.

Sistem Kekerabatan Yang Berlaku di Minangkabau


Masyarakat minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal.
Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban
suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu.
Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah
tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku
dalam sistem patrilineal.Dengan kata lain seorang anak di minangkabau akan
mengikuti suku ibunya.
Segala sesuatunya diatur menurut garis keturunan ibu.Tidak ada sanksi
hukum yang jelas mengenai keberadaan sistem matrilineal ini, artinya tidak ada
sanksi hukum yang mengikat bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap
sistem ini. Sistem ini hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati

dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun
demikian, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada
hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu
sendiri.
Ciri-ciri Sistem Kekerabatan Matrilineal
Adapun karakteristik dari sistem kekerabatan matrilineal adalah sebagai berikut:
1.Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
Seorang laki-laki di minangkabau tidak bisa mewariskan sukunya kepada
anaknya. Jadi
jika tidak ada anak perempuan dalam satu suku maka dapat
dikatakan bahwa suku itu telah punah.
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
Menurut aturan adat minangkabau seseorang tidak dapat menikah dengan
seseorang yang berasal dari suku yang sama . Apabila hal itu terjadi maka ia
dapat dikenakan hukum ada, seperti dikucilkan dalam pergaulan.
4. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki
Yang menjalankan kekuasaan di minangkabau adalah laki-laki ,perempuan
di minangkabau di posisikan sebagai pengikat ,pemelihara ,dan penyimpan harta
pusaka.
5. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
6. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari
saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.
Peran dan Kedudukan Wanita di Minangkabau
Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau
memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga,
melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah
pusaka dan sawah ladang.Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan
sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan
pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan.
Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan
adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak
dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik
mamak. Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah
prosedur apalagi bantahan.

Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat
menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua
harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk
mengatur dan mempertahankannya.
Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan
minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau
menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan
emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem
matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.
Peran dan Kedudukan Laki-laki di Minangkabau
Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada
dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di
dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian maupun pembagian harta pusaka.
Perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk
keperluannya anak beranak.
Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang
harus dijalankannya dengan seimbang dan sejalan.

BAHASA
Bahasa Minangkabau termasuk salah satu anak cabang rumpun bahasa
Austronesia. Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa
Minangkabau dengan bahasa Melayu, ada yang menganggap bahasa yang
dituturkan masyarakat ini sebagai bagian dari dialek Melayu, karena banyaknya
kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya, sementara yang lain justru
beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan
Melayu serta ada juga yang menyebut bahasa Minangkabau merupakan bahasa
Proto-Melayu. Selain itu dalam masyarakat penutur bahasa Minang itu sendiri
juga sudah terdapat berbagai macam dialek bergantung kepada daerahnya
masing-masing.
Pengaruh bahasa lain yang diserap ke dalam bahasa Minang umumnya
dari Sanskerta, Arab, Tamil, dan Persia. Kemudian kosakata Sanskerta dan Tamil
yang dijumpai pada beberapa prasasti di Minangkabau telah ditulis menggunakan
bermacam aksara di antaranya Dewanagari, Pallawa, dan Kawi.
Menguatnya Islam yang diterima secara luas juga mendorong
masyarakatnya menggunakan Abjad Jawi dalam penulisan sebelum berganti
dengan Alfabet Latin.

Meskipun
memiliki
bahasa
sendiri,
orang
Minang
juga
menggunakan bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia secara meluas.
untuk keperluan pengajaran di sekolah-sekolah.
Bahasa Melayu yang
dipengaruhi baik secara tata bahasa maupun kosakata oleh bahasa Arab telah
digunakan untuk pengajaran agama Islam. Pidato di sekolah agama juga
menggunakan bahasa Melayu. Pada awal abad ke-20 sekolah Melayu yang
didirikan pemerintah Hindia Belanda di wilayah Minangkabau mengajarkan ragam
bahasa Melayu Riau, yang dianggap sebagai bahasa standar dan juga digunakan
di wilayah Johor, Malaysia. Namun kenyataannya bahasa yang digunakan oleh
sekolah-sekolah Belanda ini adalah ragam yang terpengaruh oleh bahasa
Minangkabau.
Guru-guru dan penulis Minangkabau berperan penting dalam pembinaan bahasa
Melayu Tinggi. Banyak guru-guru bahasa Melayu berasal dari Minangkabau, dan
sekolah di Bukittinggi merupakan salah satu pusat pembentukan bahasa Melayu
formal. Dalam masa diterimanya bahasa Melayu Balai Pustaka, orang-orang
Minangkabau menjadi percaya bahwa mereka adalah penjaga kemurnian bahasa
yang kemudian menjadi bahasa Indonesia itu.
Bahasa Minangkabau juga menjadi bahasa lingua franca di kawasan pantai barat
Sumatra Utara, bahkan menjangkau jauh hingga pesisir barat Aceh. Di Aceh,
penutur bahasa ini disebut sebagai Aneuk Jamee. Selain itu, bahasa
Minangkabau juga dituturkan oleh masyarakat Negeri Sembilan, Malaysia yang
nenek moyangnya merupakan pendatang asal ranah Minang sejak berabad-abad
silam.
Untuk komunikasi antar penutur bahasa Minangkabau yang sedemikian beragam
ini, akhirnya dipergunakanlah dialek Padang sebagai bahasa baku Minangkabau
atau disebut Baso Padang atau Baso Urang Awak. Bahasa Minangkabau dialek
Padang inilah yang menjadi acuan baku (standar) dalam menguasai bahasa
Minangkabau.

Sistem religi suku Minangkabau


Pada prinsipnya orang Minangkabau menganut agama Islam. Maka bila
ada orang Minangkabau yang tidak memeluk agama Islam adalah suatu
keganjilan yang mengherankan, walaupun kenyataannya ada sebagian yang tidak
patuh menjalankan syariat-syariatnya. Islam di Sumatera Barat dipeluk oleh
sekitar 98% penduduk Sumatera Barat. Jumlah ini akan meningkat menjadi 99,6%
bila Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak dimasukkan. Namun, meskipun Islam
menjadi mayoritas, hingga saat ini Sumatera Barat belum diberikan keistimewaan
oleh Pemerintah Indonesia untuk menerapkan syariat Islam seperti Aceh.

Masuknya Islam
Agama Islam pertama kali memasuki Sumatera Barat pada abad ke-7,
dimana pada tahun 674 telah didapati masyarakat Arab di pesisir timur Pulau
Sumatera. Selain berdagang, secara perlahan mereka membawa masuk agama
Islam ke dataran tinggi Minangkabau atau Sumatera Barat sekarang melalui
aliran sungai yang bermuara di timur pulau Sumatera, seperti Batang Hari.
Perkembangan agama Islam di Sumatera Barat menjadi sangat pesat
setelah Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar,
yang berhasil meluaskan wilayahnya hampir ke seluruh pantai barat Sumatera.
Sehingga pada abad ke-13, Islam mulai memasuki Tiku, Pariaman, Air Bangis,
dan daerah pesisir Sumatera Barat lainnya. Islam kemudian juga masuk ke
daerah pedalaman atau dataran tinggi Minangkabau yang disebut "darek". Di
kawasan daerak pada saat itu berdiri Kerajaan Pagaruyung, dimana kerajaan
tersebut mulai mendapat pengaruh Islam sekitar abad ke-14. Sebelum Islam
diterima secara luas, masyarakat yang ada di sekitar pusat kerajaan dari
beberapa
bukti
arkeologis
menunjukan
pernah
memeluk
agama Buddha dan Hindu terutama sebelum memasuki abad ke-7.
Disamping meyakini kebenaran ajaran-ajaran Islam, sebagian dari mereka
masih percaya adanya hal-hal bersifat takhayul dan magis, misalnya : hantu-hantu
jahat, kuntilanak, tenung (menggasing) dsb. Untuk menolak kejahatan makhluk
halus itu orang biasanya pergi ke dukun.
Dahulu ada upacara selamatan yang bermacam-macam, seperti : tabuik
(peringatan Hasan Husein), khitan, katam mengaji, dan upacara dalam rangka
lingkaran hidup manusia dari lahir sampai mati. Misalnya : kekah, tedak siten,
selamatan kematian pada hari ke-7 sampa dengan hari ke-100.
Karena kuatnya pengaruh adat-istiadat, maka dalam praktek kehidupan beragama
di dalam masyarakat banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dari ajaran
Islam yang sebenarnya. Maka timbullah gerakan kaum muda yang baru datang
dari Mekah yang membawa pengaruh wahabi untuk membersihkan hal-hal yang
tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Akhirnya timbullah pertentangan yang hebat antara kaum adat yang ingin tetap
bertahan pada adatnya dengan kaum paderi yang ingin membersihkan ajaran
Islam dari pengaruh adat yang menyimpang dari ajaran Islam.
Pertentangan itu kemudian pecah menjadi perang terbuka yang semakin meluas
karena ditunggangi oleh penjajah Belanda, yang kala itu mulai ingin menanamkan
kekuasaannya di Sumatera Barat. itulah awal dari pecahnya Perang Paderi yang
berlangsung cukup lama, mulai tahun 1825 sampai 1837.

Perang Padri
Sejak abad ke-16, agama Islam telah dianut oleh seluruh
masyarakat Minangkabau baik yang menetap di Sumatera Barat maupun di luar
Sumatera Barat. Jika ada masyarakatnya keluar dari agama Islam atau murtad,
secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar dari masyarakat
Minangkabau. Namun hingga akhir abad ke-17, sebagian dari mereka terutama
yang ada di lingkungan kerajaan, belum sepenuhnya menjalankan syariat
Islam dengan sempurna dan bahkan masih melakukan perbuatan yang dilarang
dalam Islam. Mengetahui hal tersebut, ulama-ulama Minangkabau yang saat itu
disebut Kaum Padri dalam suatu perundingan mengajak masyarakat di sekitar
kerajaan Pagaruyung terutama Raja Pagaruyung untuk kembali ke ajaran Islam.
Namun perundingan tersebut pada tahun 1803 berujung kepada konflik yang
dikenal sebagai Perang Padri.
Perang Padri melibatkan sesama masyarakat Minang, yaitu antara Kaum
Padri dan Kaum Adat. Setelah 20 tahun konflik belangsung, pada
tahun 1833 terjadi
penyesalan
di
Kaum
Adat
karena
telah
mengundang Belanda 12 tahun sebelumnya, yang selain mengakibatkan kerugian
harta dan mengorbankan jiwa raga, juga meruntuhkan kekuasaan Pagaruyung.
Saat itu, Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol mulai merangkul
Kaum Adat, dan terjadilah suatu kesepakatan di antara kedua pihak untuk bersatu
melawan Belanda. Tidak hanya itu, Kaum Adat dan Kaum Padri juga mewujudkan
konsesus bersama, yaitu "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" (Adat
berlandaskan ajaran Islam, ajaran Islam berlandaskan Al-Qur'an)

RUMAH ADAT

Rumah Gadang atau Rumah Godang adalah nama untuk rumah


adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai
di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain

oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong atau ada juga yang
menyebut dengan nama Rumah Baanjuang.
Rumah dengan model ini juga banyak dijumpai di Negeri Sembilan, Malaysia.
Namun tidak semua kawasan di Minangkabau (darek) yang boleh didirikan rumah
adat
ini,
hanya
pada
kawasan
yang
sudah
memiliki
status
sebagai nagari saja Rumah Gadang ini boleh didirikan. Begitu juga pada kawasan
yang disebut dengan rantau, rumah adat ini juga dahulunya tidak ada yang
didirikan oleh para perantau Minangkabau.

Fungsi

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal keluarga besar di Minangkabau, terutama


kaum perempuan.
Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama, mempunyai ketentuanketentuan tersendiri. Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang
tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami
memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak
memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar
bersama di ujung yang lain.
Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar
tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang
itu berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar
dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan
menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan
empat. Ruangnya terdiri dari jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.
Rumah Gadang biasanya dibangun diatas sebidang tanah milik keluarga induk
dalam suku/kaum tersebut secara turun temurun ] dan hanya dimiliki dan diwarisi
dari dan kepada perempuan pada kaum tersebut. Dihalaman depan Rumah
Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang, digunakan
untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan
dan kirinya terdapat ruang anjung(Bahasa Minang: anjuang) sebagai tempat

pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah
Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan KotoPiliang memakai tongkat penyangga, sedangkan pada kelarasan BodiChaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya. Hal ini sesuai filosofi
yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, golongan pertama menganut
prinsip pemerintahan yang hirarki menggunakan anjung yang memakai tongkat
penyangga, pada golongan kedua anjuang seolah-olah mengapung di udara.
Tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun
sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan
dan juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang
belum menikah.
Arsitektur
Rumah
adat ini
memiliki
keunikan
bentuk arsitektur dengan
bentuk
puncak atapnya runcing yang menyerupai tanduk kerbau dan dahulunya dibuat
dari bahan ijuk yang dapat tahan sampai puluhan tahun, namun belakangan atap
rumah ini banyak berganti dengan atap seng. Rumah Gadang ini dibuat berbentuk
empat persegi panjang dan dibagi atas dua bahagian, muka dan belakang.
Bagian depan dari Rumah Gadang biasanya penuh dengan ukiran ornamen dan
umumnya bermotif akar, bunga, daun serta bidang persegi empat dan genjang [1].
Sedangkan bagian luar belakang dilapisi dengan belahan bambu. Rumah
tradisional ini dibina dari tiang-tiang panjang, bangunan rumah dibuat besar ke
atas, namun tidak mudah rebah oleh goncangan, dan setiap elemen dari Rumah
Gadang mempunyai makna tersendiri yang dilatari oleh tambo yang ada dalam
adat dan budaya masyarakat setempat.
Pada umumnya Rumah Gadang mempunyai satu tangga yang terletak pada
bagian depan. Sementara dapur dibangun terpisah pada bagian belakang rumah
yang didempet pada dinding.
Karena wilayah Minangkabau rawan gempa sejak dulunya karena berada
di pegunungan Bukit Barisan, maka arsitektur Rumah Gadang juga
memperhitungkan desain yang tahan gempa. Seluruh tiang Rumah Gadang tidak
ditanamkan ke dalam tanah, tapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan
lebar. Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak
memakai paku, tapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu. Ketika gempa
terjadi Rumah Gadang akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu
datar tempat tonggak atau tiang berdiri. Begitu pula setiap sambungan yang
dihubungkan oleh pasak kayu juga bergerak secara fleksibel, sehingga Rumah
Gadang yang dibangun secara benar akan tahan terhadap gempa.

Ragam ukir khas Minangkabau pada dinding bagian luar dari Rumah Gadang
Ukiran
Pada bagian dinding Rumah Gadang di buat dari bahan papan, sedangkan
bagian belakang dari bahan bambu. Papan dinding dipasang vertikal, sementara
semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran, sehingga
seluruh dinding menjadi penuh ukiran. Penempatan motif ukiran tergantung pada
susunan dan letak papan pada dinding Rumah Gadang.
Pada dasarnya ukiran pada Rumah Gadang merupakan ragam hias pengisi
bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. Motifnya umumnya tumbuhan
merambat, akar yang berdaun, berbunga dan berbuah. Pola akar biasanya
berbentuk lingkaran, akar berjajaran, berhimpitan, berjalinan dan juga sambung
menyambung. Cabang atau ranting akar berkeluk ke luar, ke dalam, ke atas dan
ke bawah.
Disamping motif akar, motif lain yang dijumpai adalah motif geometri bersegi tiga,
empat dan genjang. Motif daun, bunga atau buah dapat juga diukir tersendiri atau
secara berjajaran.
Proses pembuatan
Menurut tradisinya, tiang utama Rumah Gadang yang disebut tonggak tuo yang
berjumlah empat buah/batang diambil dari hutan secara gotong royong oleh anak
nagari, terutama kaum kerabat, dan melibatkan puluhan orang. Batang pohon
yang ditebang biasanya adalah pohon juha yang sudah tua dan lurus dengan
diameter antara 40cm hingga 60cm. Pohon juha terkenal keras dan kuat. Setelah

di bawa ke dalam nagari pohon tersebut tidak langsung di pakai, namun direndam
dulu di kolam milik kaum atau keluarga besar selama bertahun-tahun.
Setelah cukup waktu batang pohon tersebut diangkat atau dibangkit untuk dipakai
sebagai tonggak tuo. Prosesi mengangkat/membangkit pohon tersebut disebut
juga sebagai mambangkik batang tarandam (membangkitkan pohon yang
direndam), lalu proses pembangunan Rumah Gadang berlanjut ke prosesi
berikutnya, mendirikan tonggak tuo atau tiang utama sebanyak empat buah, yang
dipandang sebagai menegakkan kebesaran.
Adopsi
Keunikan bentuk atap Rumah Gadang yang melengkung dan lancip, telah
menginspirasi beberapa arsitek di belahan negeri lain, seperti Ton van de Ven
di Negeri Belanda yang mengadopsi desain Rumah Gadang pada bangunan The
House of the Five Senses. Bangunan yang dioperasikan sejak tahun 1996 itu
digunakan sebagai gerbang utama dari Taman Hiburan Efteling. Bangunan
setinggi 52 meter dan luas atap 4500 meter persegi itu merupakan bangunan
berkonstruksi kayu dengan atap jerami yang terbesar di dunia menurut Guinness
Book of Records.

The House of the Five Senses di Negeri Belanda yang mengadopsi desain
Rumah Gadang Minangkabau

Desain Rumah Gadang yang banyak terdapat di Negeri Sembilan juga diadopsi
pada
bangunan paviliun Malaysia di World
Shanghai
Expo
2010 yang
diselenggarakan di Shanghai, China pada tahun 2010.

Paviliun Malaysia di World Shanghai Expo 2010 yang mengadopsi desain Rumah
Gadang Negeri Sembilan.

Simbol
Gonjong (bagian atap yang melengkung dan lancip) Rumah Gadang menjadi
simbol atau ikon bagi masyarakat Minangkabau di samping ikon yang lain, seperti
warna hitam-merah-kuning emas, rendang, dan lainnya. Hampir seluruh kantor
pemerintahan di Sumatera Barat memakai desain Rumah Gadang dengan atap
gonjongnya, walaupun dibangun secara permanen dengan semen dan batu. Ikon
gonjong juga dipakai di bagian depan rumah makan Padang yang ada di berbagai
tempat di luar Sumatera Barat. Logo-logo lembaga atau perkumpulan masyarakat
Minang juga banyak yang memakai ikon gonjong dengan segala variasinya.

MAKANAN TRADISIONAL
Makanan Utama
Masakan berikut merupakan hidangan utama yang dihidangkan dengan nasi.
Di restoran masakan Minang, makanan ini disajikan sekaligus di atas meja.

Rendang

Pangek masin

Randang Lokan

Pangek padeh

Dendeng Balado

Kalio dagiang

Dendeng Batokok

Kalio jariang

Gulai Tunjang

Sambalado tanak

Gulai paku

Sambalado matah

Gulai toco

Cancang

Gulai itiak

Ikan balado

Gulai banak

Ikan baka

Gulai kambiang

Soto padang

Gulai manih

Goreng baluik

Gulai pucuak ubi

Goreng lauak

Gulai asin padeh

Palai Bada

Makanan Selingan

Sate Padang

Sate Pariaman

Sate Padangpanjang

Pical

Dadiah

Lamang

Lamang tapai

Katupek Pitalah

Katan durian

Katan sarikayo

Bubur kampiun

Bubur kampiun adalah perpaduan dari berbagai bubur yg ada di Sumatra Barat ,
terdiri dari : bubur kacang ijo, kolak pisang, bubur ketan hitam, ketan sarikayo,
lupis.

Bubur kacang padi

Kolak kundua

Bubua Cino

Kue-kue Tradisional Sumatra barat

Galamai

Sarabi

Wajik

Kue putu

Kipang Kacang

Bika

Bareh Randang

Sarang balam

Rakik Maco

Lamang Limo Kaum

Karupuak Balado

Dakak-dakak Simabua

Karupuak Jangek

Kue Sapik

Karupuak Sanjai

Pinyaram

Karak kaliang

Lapek bugih

Palai Rinuak

Lamang baluluik magek

Pergedel Jaguang

Batiah

Pensi

Minuman

Es tebak

Es campua

Teh Talua

Jus Pinang

Daun Kawa alias Kopi Daun

Busana Tradisional
Busana Tradisional Wanita Minang

Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang


Baju Batabue (Baju Bertabur
Minsie
Tingkuluak (Tengkuluk)
Lambak atau Sarung
Salempang
Dukuah (Kalung)
Galang (Gelang)
Palaminan

Busana Tradisional Pria Minang

Pakaian Penghulu
Destar
Sarawa
Sasampiang (Sesamping)
Cawek (Ikat Pinggang)
Sandang

KERAMBIT
Senjata Karambit, atau disbeut juga dengan Karambiak, Kurambiak,
Kerambit adalah senjata jenis pisau genggam kecil berbentuk melengkung dari
Indonesia yang telah mendunia.Bahkan senjata ini di produksi secara masal oleh
produsun-produsen senjata dunia, dan menjadi senjata wajib personel US
Marshal. Senjata ini termasuk senjata berbahaya karena dapat digunakan
menyayat maupun merobek anggota tubuh lawan secara cepat dan tidak
terdeteksi.
Dalam klasifikasi senjata genggam paling berbahaya, kerambit sebagai
senjata mematikan menempati urutan kedua setelah pistol. Sabetan senjata
kerambit bila mengenai tubuh lawan, dari luar memang tampak seperti luka
sayatan kecil, namun pada bagian dalam tubuh bisa menimbulkan akibat yang
sangat fatal karena urat-urat putus. Dan apabila mengenai perut, maka usus
terpotong atau tercabik-cabik didalam.
Disamping menjadi senjata khas Minangkabau, permainan senjata
kerambit juga berkembang di Madiun Jawa Timur yang dalam aksen Jawa disebut
dengan nama kerambik. Permainan senjata ini diajarkan oleh Ki Ngabei
Surodiwiryo dalam permainan pencak silat Setia Hati (SH), yang didapatnya dari
Gurunya yang bernama Datuk Rajo Batuah di Kampung Ampang Padang. Dan
Datuk Rajo Batuah tersebut merupakan murid dari para Panglima Minangkabau
yang disebut Harimau Nan Salapan. Di Madiun, permainan senjata kerambit ini
menjadi senjata khas pencak silat Setia Hati.

Sejarah
Berdasarkan sejarah tertulis, kerambit berasal dari Minangkabau, lalu kemudian
dibawa oleh para perantau Minangkabau berabad yang lalu dan menyebar ke
berbagai wilayah, seperti Jawa, Semenanjung Melayu dan lain-lain. Menurut
cerita rakyat, bentuk kerambit terinspirasi oleh cakar harimau yang memang
banyak berkeliaran di hutan Sumatera pada masa itu.
kerambit, ia sengaja dirancang lebih melengkung seperti kuku harimau,
setelah melihat harimau bertarung dengan menggunakan cakarnya, hal ini sejalan
dengan falsafah Minangkabau yang berbunyi Alam takambang jadi guru. Kerambit
akhirnya tersebar melalui jaringan perdagangan Asia Tenggara hingga ke negaranegara, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina dan Thailand.
Pada masa dahulu, permainan senjata kerambit di Minangkabau hanya diwarisi
oleh para Datuk atau kalangan Raja, tidak sembarang orang menguasai
permainan yang dianggap rahasia dan hanya untuk kalangan tertentu saja.
Senjata khas Minangkabau ini menjadi bagian terpenting yang tak dapat
dipisahkan dari silat Minangkabau (silat Taralak). Keistimewaannya seperti kuku
harimau (Minangkabau: inyiak) yang setiap saat secara tiba-tiba keluar dari balik
kaki dan tangannya pada saat menerkam atau memangsa lawan. Untuk itu
harimau menjadi perlambang satria-satria atau Panglima Minangkabau.
Dimainkan dengan sistem langkah silat Taralak, senjata ini bagaikan tanduk
kerbau dan semangat bertarungnya seperti kerbau. Dalam riwayat Minangkabau,
kerbau kecil orang Minang dapat mengalahkan kerbau besar milik Raja Jawa.
Kerbau juga menjadi perlambang suku bangsa Minangkabau.

Dalam pepatah Minangkabau dikatakan bahwa jika seorang pendekar atau satria
belum menguasai kerambit, ibarat harimau tanpa kuku, ayam tanpa tajinya,
burung tanpa paruhnya, gajah tanpa gadingnya, kerbau tanpa tanduknya.

Filosofi
Sepasang kerambit bila dimainkan, menggambarkan seekor kerbau yang
menjadi lambang suku bangsa Minangkabau. Hal ini mengisyaratkan jati diri
seorang satria atau pendekar Minangkabau yang sebenarnya.
Sepasang kerambit bila disatukan, menggambarkan perlambang hati. Dan
barangsiapa yang setia kepada hati sanubarinya atau dapat merasakan sumber
dari rasa yang selalu menghadap kepada Tuhan, niscaya ia akan selamat lahir
bathinnya dan sampai kepada tujuannya. Artinya mengandung nilai ketaqwaan.
Namun, jika ingkar atau menyimpang dari hati sanubarinya, maka ia akan celaka
karena perbuatannya itu. Hal ini digambarkan dari senjata kerambit yang tajam
sisi luar maupun sisi dalamnya, dari luar mampu melindungi ancaman dan dari
dalam juga dapat memberi kontrol diri karena jika menyimpang akan menjadi
senjata makan tuan. Dengan demikian untuk meraih kemenangan atau tujuan,
maka dalam memainkan senjata kerambit juga harus berpedoman pada
hukumnya yakni menjalankan langkah dalam jurus yang benar, tidak asal
melangkah dalam memainkan suatu jurus. Sebab langkah dalam jurus merupakan
sebuah hukum dalam pencak silat. Jika menyimpang atau melanggar dari hukum
itu, maka akan memperoleh akibat hukumnya atau tergelincir karenanya. Dalam
pencak silat, ini apa yang dimaksud sebagai rohnya pencak silat itu sendiri.

Dalam memainkan langkah kerambit, kerambit muncul dari sisi atau samping
perut, tersembunyi disamping iga atau rusuk. Hal ini mengandung maksud:
Kerambit ibarat tulang iga (bentuknya melengkung), mengingatkan kepada
riwayat seorang wanita, sehingga wajib hukumnya untuk menempatkan wanita
pada kedudukan yang terhormat mengingat kedudukannya sebagai seorang ibu.
Dalam sistem adat Minangkabau, wanita memperoleh kedudukan yang sangat
tinggi (matrilineal).
Kerambit ibarat tulang rusuk, memperlihatkan bahwa organ-organ tubuh
bagian dalam manusia terlindungi oleh rusuk yang dapat membentuk tubuh
manusia memiliki alat pertahanan yang kokoh dan kuat. Jika tidak ada tulang
rusuk, maka badan menjadi lemah. Rusuk berfungsi melindungi ancaman dari luar
dan ancaman dari dalam agar organ bagian dalam tidak mudah keluar dari badan.
Dibalik rusuk juga bersemayam hati atau sumber rasa.
Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya senjata kerambit itu adalah senjata
yang berasal dari dalam tubuh manusia. Maka dalam pencak silat Minangkabau
atau pencak silat Setia Hati (disingkat SH) merupakan satu kesatuan sistem yang
tak dapat dipisahkan. Senjata yang ampuh adalah senjata yang berasal dari
dalam diri manusia itu sendiri. Seperti yang digambarkan pada binatang kerbau
yang memiliki tanduk yang kuat dan harimau yang memiliki kuku yang tajam,
senjatanya binatang juga berasal dari dalam dirinya sendiri.
Buku sejarah di Eropa mengatakan bahwa tentara di Indonesia
dipersenjatai dengan keris di pinggang dan tombak di tangan mereka, sedangkan
kerambit itu digunakan sebagai upaya terakhir ketika senjata lain habis atau
hilang dalam pertempuran. Kerambit terlihat sangat jantan, sebab ia dipakai
dalam pertarungan jarak pendek yang lebih mengandalkan keberanian dan

keahlian bela diri. Para pendekar silat Minang, terutama yang beraliran silat
harimau sangat mahir menggunakan senjata ini. Saat ini kerambit adalah salah
satu senjata utama silat dan umumnya digunakan dalam seni beladiri.

Jenis kerambit
Meski secara umum bentuk kerambit adalah sama yaitu melengkung dan memiliki
lobang dibagian pegangannya, namun dalam perkembangannya kerambit
memiliki beberapa varian. Dari bilah tajamnya terbagai menjadi dua yaitu tajam
tunggal dan tajam ganda (double edges). Sedangkan di Indonesia sendiri,
kerambit ada dua yaitu kerambit Jawa Barat dan kurambiak/karambiak Minang.
Kerambit Jawa Barat biasanya memiliki lengkungan yang membulat, sedangkan
kerambit Minang memiliki lengkungan siku.

Beberapa jenis kerambit di Nusantara:


Kuku Alang (kuku elang), Lawi ayam: Cakar elang/ayam dari Sumatera

Barat

Kuku Harimau: Sumatera Barat, Jawa Barat dan Madura

Kuku Bima: Jawa Barat, Jawa Tengah

Kuku Hanoman: Jawa Barat

Kerambit Sumbawa: Pulau Sumba

Kerambit Lombok: Lombok


Kerambit adalah senjata utama dalam Silek Harimau Minangkabau. Desain
kerambit merupakan aplikasi dari kuku harimau yang dibuat lebih panjang Edwel
Yusri Datuk Rajo Gampo Alam, menilai kerambit sudah diklaim sebagai milik
Filipina. Hal itu, sambungnya, telah mendatangkan sebuah kerugian yang sangat
besar. "Kerambit itu sudah dipopulerkan di Eropa. Sekarang malah sudah diklaim
oleh Filipina sebagai warisan nenek moyang mereka. Pemerintah kita sangat telmi
(telat mikir)," ucap Edwel seraya mengerutkan dahinya. Kelebihan dari Kerambit
adalah:
Bentuknya kecil dan mudah disembunyikan
Sulit untuk dilucuti dalam pertarungan

Jarak bisa berubah tanpa merubah langkah


Bisa untuk dua serangan dalam satu gerakan tangan
Lebih membuat robekan besar untuk gerakan-gerakan tarikan yang mematikan
Serangan dapat lebih cepat dengan pegangan standart secara pukulan jab
Cara Memainkan
Senjata dipegang dengan memasukkan jari pertama atau telunjuk ke dalam
lubang di bagian atas pegangan sehingga lengkungan pisau mengarah ke depan
dari bagian bawah kepalan tangan. Hal ini terutama digunakan dalam
pemotongan dengan cara memutar tangan ketika kerambit telah masuk atau
mengenai sasaran, sehingga bagian dalam dari sasaran, seperti urat, usus dan
lainnya menjadi putus. Luka akibat kerambit terlihat kecil dari luar, namun
didalamnya, urat atau usus telah putus. Dengan masuknya jari telunjuk ke dalam
lobang gagang kerambit, membuat lawan sulit untuk melucuti senjata tersebut dan
memungkinkan kerambit untuk bermanuver di jari-jari tanpa kehilangan pegangan.

Menjadi sempurna jika dimainkan sepasang dengan 2 tangan posisi atas dan
bawah secara bergantian kiri dan kanan. Maksudnya untuk menutup semua celah
yang memungkinkan untuk bisa ditembus lawan. Sehingga dengan memainkan
sepasang kerambit menjadi sebuah pertahanan yang sangat rapat dan kokoh
yang sulit untuk ditembus atau dimasuki oleh serangan lawan yang
bagaimanapun hebatnya.
Dimainkan khusus untuk pertarungan jarak dekat atau rapat. Setelah ujung
kerambit berhasil menembus tubuh lawan, dengan seketika harus dibalikkan atau
diputar arah. Hasilnya akan tampak diluar seperti luka dengan robek kecil tetapi di
bagian dalam organ-organ tubuh putus. Apabila menyangkut ditangan lawan,
akibatnya akan sangat mengerikan yakni semua urat tangan putus terkelupas
bahkan tangan bisa potong.
Permainan senjata kerambit ini akan sangat ideal jika dimainkan dengan
permainan silat Taralak (di pencak Setia Hati disebut Sterlak). Taralak dalam
bahasa Minangkabau berarti kabau, sebuah langkah silat tanpa mengenal
mundur, seperti langkah kerbau yang selalu merangsek maju dengan kedua

tanduknya, hanya mengenal istilah hidup atau mati. Untuk melihat akibat dari
keganasan senjata ini, bisa kita lihat di Youtube dalam bentuk video, sungguh
sangat mengerikan.

Kelebihan kerambit

Bentuknyah kecil dan mudah disembunyikan

Sulit untuk dilucuti dalam pertarungan

Jarak bisa berubah tanpa merubah langkah

Bisa untuk dua serangan dalam satu gerakan tangan

Lebih membuat robekan besar untuk gerakan-gerakan tarikan yang


mematikan
Serangan dapat lebih cepat dengan pegangan standart secara pukulan jab

Jenis kerambit
Meski secara umum bentuk kerambit adalah sama yaitu melengkung dan memiliki
lobang dibagian pegangannya, namun dalam perkembangannya kerambit
memiliki beberapa varian. Dari bilah tajamnya terbagai menjadi dua yaitu tajam
tunggal dan tajam ganda (double edges). Sedangkan di Indonesia sendiri,
kerambit ada dua yaitu kerambit Jawa Barat dan kurambiak/karambiak Minang.
Kerambit Jawa Barat biasanya memiliki lengkungan yang membulat, sedangkan
kerambit Minang memiliki lengkungan siku.

Beberapa jenis kerambit di Nusantara:


Kuku Alang (kuku elang), Lawi ayam: Cakar elang/ayam dari Sumatera

Barat

Kuku Harimau: Sumatera Barat, Jawa Barat dan Madura

Kuku Bima: Jawa Barat, Jawa Tengah

Kuku Hanoman: Jawa Barat

Kerambit Sumbawa: Pulau Sumba

Kerambit Lombok: Lombok

Keberadaan kerambit di dunia


Dengan makin populernya seni bela diri Pencak Silat, mulai tahun 1970-an,
senjata inipun semakin populer walaupun berlangsung lambat. Puncaknya pada
tahun 2005, beberapa perusahaan besar AS seperti Emerson Knives dan Strider
Knives membuat pisau kerambit dalam jumlah banyak. Pelopor penggunaan
kerambit adalah Steve Tarani yang mempunyai dasar kerambit dari Silat Cimande
Sunda. Saat ini kerambit telah dikembangkan pihak barat dengan banyak varian.

Di Indonesia sendiri kerambit di pakai oleh Silat Sumatera seperti Silat


Harimau/Silek Harimau Minangkabau dengan sebutan kurambiak/karambiak.
Untuk kerambit asal Sumatera, catatan tertua yang ditemukan adalah
penggunaan kerambit yang ditulis pada Asian Journal British, July Dec 1827.
Meskipun kerambit adalah senjata wajib personel US Marshal, tetapi di Indonesia
sendiri kurang begitu populer. Hal ini dikarenakan senjata ini bersifat senjata
rahasia yang mematikan serta tidak ada upaya pemerintah maupun militer
Indonesia dalam hal ini TNI untuk menggunakan ataupun melestarikannya.
Sehingga di Indonesia sejata ini menjadi senjata yang terlupakan dan lebih
populer di luar negri. Kita bisa melihat berbagai video peragaan senjata ini di
youtube oleh orang-orang berkulit putih, bahkan Situs pasar online dunia
seperti eBay.com, knifecenter.com dll, menjual senjata ini secara online dengan
berbagai model yang beraneka macam dan modern.

DAFTAR PUSTAKA
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2011-2-01297-DS
%20Bab2001.pdf
http://www.saribundo.biz/dialek-bahasa-minangkabau-sejarah-asal-usulnya-partii.html
http://www.pelangiholiday.com/2013/12/asal-usul-sumatera-barat-sejarah.html
Http:// www.kabaranah.com
Http:// www.lintasgayo.com
Http:// www.m.forum.detik.com