Anda di halaman 1dari 17

EP.

107
TINDAKAN PEMASANGAN
ETT (ENDO TRACHEAL
TUBE)/ INTUBASI
PENGERTIAN
Pemasangan Endotracheal Tube (ETT) atau Intubasi
adalah memasukkan pipa jalan nafas buatan kedalam
trachea melalui mulut. Tindakan Intubasi baru dapat di
lakukan bila : cara lain untuk membebaskan jalan nafas
(airway) gagal, perlu memberikan nafas buatan dalam
jangka panjang, ada resiko besar terjadi aspirasi ke paru.
B. TUJUAN
1. Membebaskan jalan nafas
2. Untuk pemberian pernafasan mekanis (dengan
ventilator).
C. PERSIAPAN ALAT YANG DI GUNAKAN
1. Laryngoscope
2. Endotracheal tube (ETT) sesuai ukuran (Pria : no. 7,7.5,
8 ) (Wanita no. 6.5, 7)
3. Mandrin
4. Xylocain jelly
5. Sarung tangan steril
6. Xylocain spray
7. Spuit 10 cc
8. Orofaringeal tube (guedel)
9. Stetoskop
10.Bag Valve Mask (ambubag)
11. Suction kateter
12. Plester
13. Gunting
14.Masker
D. PERSIAPAN TINDAKAN
1. Posisi pasien terlentang dengan kepala ekstensi (bila
dimungkinkan pasien di tidurkan dengan obat pelumpuh
otot yang sesuai )

2. Petugas mencuci tangan


3. Petugas memakai masker dan sarung tangan
4. Melakukan suction
5. Melakukan intubasi dan menyiapkan mesin pernafasan
(Ventilator)
buka blade pegang tangkai laryngoskop dengan tenang
buka mulut pasien
masukan blade pelan-pelan menyusuri dasar lidahujung blade sudah sampai di pangkal lidah- geser lidah
pelan-pelan ke arah kiri
angkat tangkai laryngoskop ke depan sehingga
menyangkut ke seluruh lidah ke depan sehingga rona
glotis terlihat
ambil pipa ETT sesuai ukuran yang sudah di tentukan
sebelumnya
masukkan dari sudut mulut kanan arahkan ujung ETT
menyusur ke rima glotis masuk ke celah pita suara
dorong pelan sehingga seluruh balon ETT di bawah pita
suara
cabut stylet
tiup balon ETT sesuai volumenya
cek adakah suara keluar dari pipa ETT dengan
Menghentak dada pasien dengan ambu bag
cek ulang dengan stetoskop dan dengarkan aliran
udara yang masuk leawt ETT apakah sama antara paru
kanan dan kiri
o fiksasi ETT dengan Plester
o hubungkan ETT dengan konektor sumber oksigen
6. Pernafasan yang adekuat dapat di monitor melalui cek
BGA (Blood Gas Analysis) 1jam setelah intubasi
selesai
7. Mencuci tangan sesudah melakukan intubasi
8. catat respon pernafasan pasien pada mesin ventilator

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

Sarung tangan steril


Bengkok
Cairan NaCl 0,9% (25 ml)
Plester

EP. 108
PEMASANGAN CENTRAL
VENOUS CATHETER (CVC)
Pengertian
CVP adalah memasukkan kateter poli ethylene dari vena tepi sehingga
ujungnya berada di dalam atrium kanan atau di muara vena cava. CVP
disebut juga kateterisasi vena sentralis (KVS)
Tekanan vena sentral secara langsung merefleksikan tekanan pada
atrium kanan. Secara tidak langsung menggambarkan beban awal
jantung kanan atau tekanan ventrikel kanan pada akhir diastole.
Menurut Gardner dan Woods nilai normal tekanan vena sentral adalah
3-8 cmH2O atau 2-6 mmHg. Sementara menurut Sutanto (2004) nilai
normal CVP adalah 4 10 mmHg.
Beberapa hal yang harus diperhatikan perihal :
1. Mengadakan persiapan alat alat
2. Pemasangan manometer pada standard infus
3. Menentukan titik nol
4. Memasang cairan infus
5. Fiksasi
6. Fisioterapi dan mobilisasi
Tujuan
1. Mengetahui tekanan vena sentralis (TVS)
2. Untuk memberikan total parenteral nutrition (TPN) ; makanan kalori
tinggi secara intravena
3. Untuk mengambil darah vena
4. Untuk memberikan obat obatan secara intra vena
5. Memberikan cairan dalam jumlah banyak dalam waktu yang singkat
6. Dilakukan pada penderita gawat yang membutuhkan erawatan yang
cukup lama
CVP bukan merupakan suatu parameter klinis yang berdiri sendiri, harus
dinilai dengan parameter yang lainnya seperti :
Denyut nadi
Tekanan darah
Volume darah
CVP mencerminkan jumlah volume darah yang beredar dalam tubuh
penderita, yang ditentukan oleh kekuatan kontraksi otot jantung. Misal :
syock hipovolemik > CVP rendah
Persiapan untuk pemasangan
a. Persiapan pasien
Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang:
tujuan pemasangan,
daerah pemasangan, &
prosedur yang akan dikerjakan
b. Persiapan alat Kateter CVP
Set CVP
Spuit 2,5 cc
Antiseptik
Obat anaestesi lokal

Cara Kerja
a. Daerah yang Dipasang :
Vena femoralis
Vena cephalika
Vena basalika
Vena subclavia
Vena jugularis eksterna
Vena jugularis interna
b. Cara Pemasangan :
Penderita tidur terlentang (trendelenberg)
Bahu kiri diberi bantal
Pakai sarung tangan
Desinfeksi daearah CVP
Pasang doek lobang
Tentukan tempat tusukan
Beri anestesi lokal
Ukur berapa jauh kateter dimasukkan
Ujung kateter sambungkan dengan spuit 20 cc yang diisi NaCl 0,9%
2-5 cc
Jarum ditusukkan kira kira 1 jari kedepan medial, ke arah telinga sisi
yang berlawanan
Darah dihisap dengan spuit tadi
Kateter terus dimasukkan ke dalam jarum, terus didorong sampai
dengan vena cava superior atau atrium kanan
Mandrin dicabut kemudian disambung infus -> manometer dengan
three way stopcock
Kateter fiksasi pada kulit
Beri betadhin 10%
Tutup kasa steril dan diplester
Keuntungan Pemasangan di Daerah Vena Subclavia
1. Mudah dilaksanakan (diameter 1,5 cm 2,5 cm)
2. Fiksasi mudah
3. Menyenangkan penderita
4. Tidak mengganggu perawatan rutin dapat dipertahankan sampai 1
minggu
Cara Menilai CVP dan Pemasangan Manometer
Cara Menentukan Titik Nol CVP Manometer
Penderita tidur terlentang mendatar
Dengan menggunakan slang air tang berisi air setengahnya ->
membentuk lingkaran dengan batas air yang terpisah
Titik nol penderita dihubungkan dengan batas air pada sisi slang yang
satu. Sisi yang lain ditempatkan pada manometer.
Titik nol manometer dapat ditentukan
Titik nol manometer adalah titik yang sama tingginya dengan titik aliran
V.cava superior, atrium kanan dan V.cava inferior bertemu menjadi satu.
Penilaian CVP
Kateter, infus, manometer dihubungkan dengan stopcock -> amati
infus lancar atau tidak
Penderita terlentang
Cairan infus kita naikkan ke dalam manometer sampai dengan angka
tertinggi -> jaga jangan sampai cairan keluar
Cairan infus kita tutup, dengan memutar stopcock hubungkan
manometer akan masuk ke tubuh penderita
Permukaan cairan di manometer akan turun dan terjadi undulasi sesuai
irama nafas, turun (inspirasi), naik (ekspirasi)
Undulasi berhenti -> disitu batas terahir -> nilai CVP
Nilai pada angka 7 -> nilai CVP 7 cmH2O

Infus dijalankan lagi setelah diketahui nilai CVP


Nilai CVP
Nilai rendah : < 4 cmH2O
Nilai normal : 4 10 cmH2O
Nilai sedang : 10 15 cmH2O
Nilai tinggi : > 15 cmH2O
Penilaian CVP dan Arti Klinisnya
CVP sangat berarti pada penderita yang mengalami shock dan
penilaiannya adalah sebagai berikut :
1. CVP rendah (< 4 cmH2O)
Beri darah atau cairan dengan tetesan cepat.
Bila CVP normal, tanda shock hilang -> shock hipovolemik
Bila CVP normal, tanda tanda shock bertambah -> shock septik
2. CVP normal (4 14 cmH2O)
Bila darah atau cairan dengan hati hati dan dipantau pengaruhnya
dalam sirkulasi.
Bila CVP normal, tanda tanda shock negatif -> shock hipovolemik
Bila CVP bertambah naik, tanda shock positif -> septik shock,
cardiogenik shock
3. CVP tinggi (> 15 cmH2O)
Menunjukkan adanya gangguan kerja jantung (insufisiensi kardiak)
Terapi : obat kardiotonika (dopamin).
Faktor -faktor yang Mempengaruhi CVP
1. Volume darah :
Volume darah total
Volume darah yang terdapat di dalam vena
Kecepatan pemberian tranfusi/ cairan
2. Kegagalan jantung dan insufisiensi jantung
3. Konstriksi pembuluh darah vena yang disebabkan oleh faktor neurologi
4. Penggunaan obat obatan vasopresor
5. Peningkatan tekanan intraperitoneal dan tekanan intrathoracal, misal :
Post operasi illeus
Hematothoraks
Pneumothoraks
Penggunaan ventilator mekanik
Emphysema mediastinum
6. Emboli paru paru
7. Hipertensi arteri pulmonal
8. Vena cava superior sindrom
9. Penyakit paru paru obstruksi menahun
10. Pericarditis constrictiva
11. Artevac ; tersumbatnya kateter, ujung kateter berada di dalam
v.jugularis inferior

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 109
PARASENTESIS KANDUNG
KEMIH
Indikasi
Retensio urin akut dengan keadaan umum berat,
tidak ada fasilitas lain, dan dalam keadaan
gawat darurat, dengan syarat dalam 1-2 jam
berikutnya dilakukan tindakan selanjutnya.
Bila tidak dilakukan tindakan berikutnya kandung
kemih akan penuh kembali dan merembes
melalui bekas pungsi hingga terjadi infiltrat urin
yang dapat menjadi urosepsis yang berakibat
fatal bagi penderita.

2. Lakukan anestesi pada dinding perut di atas


simfisis pubis. Kemudian tusukkan jarum ke
kandung kemih dengan hati-hati hingga urin
keluar
3. Tampung urin.
Saat melakukan tindakan ini kandung kemih
harus penuh. Bila tidak dapat terjadi perlukaan
pada organ intraperitoneum.
Komplikasi
Perdarahan dan ekstravasasi urin.

Peralatan
Jarum pungsi lumbal, jarum panjang biasa, atau
abbocath berukuran besar (G 18), spuit anestesi
dan zat anestesi, duk steril, wadah penampung
urin steril.
Teknik
1. Penderita dalam posisi telentang dengan
pantat diganjal bantal tipis agar simfisis pubis
menonjol.

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 110
PERAWATAN KATETER
DOUBLE-LUMEN
HEMODIALISIS
Definisi
Kateter double lumen adalah sebuah alat yang terbuat
dari bahan plastic PVC mempunyai 2 cabang, selang
merah (arteri) untuk keluarnya darah dari tubuh ke mesin
dan selang biru (vena) untuk masuknya darah dari mesin
ke tubuh
Kateter double-lumen hemodialisis merupakan alat
akses vaskular hemodialisis akut. Kateternya terbuat dari
polyurethane, polyethylene atau polytetrafluoethylene.
Lokasi penusukan kateter hemodialisis dapat dilakukan di
beberapa tempat,yaitu :
1. Vena femoralis
2. Vena subclavicula
3. Vena jugularis internal
Komplikasi
1.Perdarahan
2.Infeksi sekitar catheter
3.Sumbatan pada pembuluh vena sentral
4.Rasa sakit pada daerah sekitar leher
Cara / teknik perawatan kateter double lumen
1. Tujuan Perawatan Kateter Double Lumen
Adalah mencegah terjadinya infeksi, mencegah adanya
bekuan darah di selang kateter double lumen, kateter
dapat digunakan dalam waktu tertentu dan aliran darah
menjadi lancar.
2. Hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan kateter
double lumen

Adalah kebersihan kateter, kondisi kateter yang tidak


tertekuk, rembesan darah dari sambungan tutup kateter,
kateter lepas atau berubah posisi, tanda tanda
peradangan dan keluhan pasien.
3. Prosedur perawatan kateter double lumen
Perencanaan :
1)
Persiapan alat
Set steril (sarung tangan steril, kasa, pinset
anatomis, 3 kom,doek berlubang, tuffer)
Bethadine
Alcohol 70%
NaCl 0,9%
Sarung tangan disposable
Spuit 5 cc
Kain perlak (alas)
Plester
Piala ginjal
Plastik
Fiksomol / tegaderm
Salep
2)
Persiapan klien
Menjaga privacy klien
Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3)
Pelaksanaan
a. Perawat mencuci tangan
b. Memakai sarung tangan disposable
c. Dekatkan alat yang digunakan
d. Letakkan alas (perlak) di bawah kateter double
lumen
e. Lepaskan balutan kotor dari badan pasien dan
masukkan balutan tersebut ke dalam plastik
kotor.
f. Lepaskan sarung tangan disposible
g. Buka set steril
h. Pakai sarung tangan steril
i. Isilah masing masing kom dengan betadin
solution, alcohol 70 %. Jika di unit hemodialisa
menggunakan bromderm spray (alkohol dan
bethadine)
j. Lakukan desinfektan pada area kulit di

k.
l.

m.

n.
o.
p.
q.

sekitar lokasi penusukan (exit site) dengan


menggunakan alkohol 70% dan diulangi
sampai kulit bebas dari kotoran. Kemudian
berikan desinfektan dengan bethadine solution
secara sirkuler dari arah dalam keluar.
Sekitar exit site, betroban salep lalu ditutup
dengan kasa steril.
Berikan heparin pekat sesuai dengan anjuran
yang tertera dalam selang pada kateter double
lumen (unit hemodialisa).
Kencangkan kateter double lumen dan tutup
kateter double lumen dan klem dalam posisi
terkunci (unit hemodialisa).
Fiksasi kateter double lumen + elastic verban
(femoral)
Tutuplah seluruh kateter dengan kasa steril dan
transparan dressing
Bersihkan alat-alat yang sudah terpakai
Cek kembali keadaan exit site dan kelancaran
kateter

Anjuran Untuk Pasien


Anjurkan klien untuk meminimalkan aktivitas seperti
berjalan (femoralis)
Meminimalkan jongkok terlalu lama (khusus femoralis)
Balutan dipertahankan tetap kering dan bersih

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 111
KATETERISASI SALURAN
KEMIH
Persiapan
Persiapan pasien: rambut pubis dicukur,
lakukan tindakan asepsis/antisepsis daerah
kelamin serta pasang duk steril.
Alat-alat: kateter (karet atau logam), tabung
suntik uretra untuk memasukkan anestesi
lokal, antiseptik, kasa steril, jeli steril, anestesi
lokal.
Persyaratan kateterisasi adalah: ada indikasi,
sterilitas harus dijaga, tersedia pelumas (jeli)
untuk mengurangi trauma, dan anestesi
untuk mengurangi spasme uratra.
Teknik Kateterisasi
1. Penolong berada di sebelah kanan penderita
menghadap ke arah kepala penderita.
2. Orifisium uretra eksterna dicuci dengan
antiseptik.
3. Dengan tabung suntik uretra, masukkan
anestesi lokal berbentuk jeli ke dalam uretra.
Untuk itu dapat digunakan lidokain jeli 1-2%
sebanyak 20 ml. Tunggu beberapa menit
hingga anestesi bekerja.
4. Ujung kateter yang akan dimasukkan

dibubuhi jeli anestetik. Penis dipegang


dengan tangan kanan penolong tepat
pada glans penis (sulkus koronarius glands)
dan ditarik ke atas di antara kedua paha.
Dengan pinset, kateter dimasukkan ke
orifisium uretra eksterna, kemudian kateter
didorong perlahan-lahan masuk ke dalam
uretra hingga pangkal kateter. Pemasukan
tidak boleh dipaksa.

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 112
TRAKEOSTOMI
(TRACHEOSTOMY)
Definisi
Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/
anterior trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat
masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas.
Indikasi trakeostomi
Indikasi trakeostomi termasuk sumbatan mekanis pada jalan nafas dan
gangguan non obstruksi yang mengubah ventilasi.
Gejala-gejala yang mengindikasikan adanya obstruksi pada jalan nafas:
1. timbulnya dispneu dan stridor eskpirasi yang khas pada obstruksi
setinggi atau di bawah rima glotis terjadinya retraksi pada insisura
suprasternal dan supraklavikular.
2. Pasien tampak pucat atau sianotik
3. disfagia
4. pada anak-anak akan tampak gelisah
Gangguan yang mengindikasikan perlunya trakeostomi :
1. terjadinya obstruksi jalan nafas atas
2. sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis,
misalnya pada pasien dalam keadaan koma.
3. untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator).
4. apabila terdapat benda asing di subglotis.
5. penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas ( misal angina ludwig),
epiglotitis dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui
mekanisme serupa
6. mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran nafas atas seperti
rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Hal ini sangat berguna pada
pasien dengan kerusakan paru, yang kapasitas vitalnya berkurang.
Indikasi lain yaitu:
1. Cedera parah pada wajah dan leher
2. Setelah pembedahan wajah dan leher
3. Hilangnya refleks laring dan ketidakmampuan untuk menelan
sehingga mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi
Pembagian Trakeostomi
Menurut lama penggunaannya, trakeosomi dibagi menjadi penggunaan
permanen dan dan penggunaan sementara, sedangkan menurut letak
insisinya, trakeostomi dibedakan letak yang tinggi dan letak yang
rendah dan batas letak ini adalah cincin trakea ke tiga. Jika dibagi
menurut waktu dilakukannya tindakan, maka trakeostomi dibagi dalam
trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana sangat
kurang dan trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat
dilakukan secara baik.
Jenis Tindakan Trakeostomi

1. Surgical trakeostomy
Tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang
operasi. Insisi dibuat diantara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang
4-5 cm.
2. Percutaneous Tracheostomy
Tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat
darurat. Dilakukan pembuatan lubang diantara cincing trakea satu dan
dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat lebih kecil, maka
penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar.
Selain itu, kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil.
3. Mini tracheostomy
Dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi
mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator.
Jenis Pipa Trakeostomi
1. Cuffed Tubes
Selang dilengkapi dengan balon yang dapat diatur sehingga memperkecil
risiko timbulnya aspirasi
2. Uncuffed Tubes
Digunakan pada tindakan trakeostomi dengan penderita yang tidak
mempunyai risiko aspirasi
3. Trakeostomi dua cabang (dengan kanul dalam)
Dua bagian trakeostomi ini dapat dikembangkan dan dikempiskan
sehingga kanul dalam dapat dibersihkan dan diganti untuk mencegah
terjadi obstruksi.
4. Silver Negus Tubes
Terdiri dua bagian pipa yang digunakan untuk trakeostomi jangka
panjang. Tidak perlu terlalu sering dibersihkan dan penderita dapat
merawat sendiri.
5. Fenestrated Tubes
Trakeostomi ini mempunyai bagian yang terbuka di sebelah posteriornya,
sehingga penderita masih tetap merasa bernafas melewati hidungnya.
Selain itu, bagian terbuka ini memungkinkan penderita untuk dapat
berbicara.
Alat-Alat Trakeostomi
Alat yang diperlukan untuk melakukan trakeostomi adalah semprit yang
berisi obat analgesia, pisau, pinset anatomi, gunting panjang tumpul,
sepasang pengait tumpul, klem arteri, gunting kecil yang tajam serta
kanul trakea dengan ukuran sesuai.
Teknik Trakeostomi
1. Pasien tidur terlentang, bahu diganjal dengan bantalan kecil
sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan pada persendian
atalantooksipital. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea
akan terletak di garis median dekat permukaan leher.
2. Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik
dan ditutup dengan kain steril.
3. Obat anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fossa
suprasternal secara infiltrasi.
4. Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah
krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal
dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa
suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang dewasa.
Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira lima sentimeter.
5. Dengan gunting panjang yang tumpul kulit serta jaringan di bawahnya
dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul
sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin tulang

rawan yang berwarna putih. Bila lapisan ini dan jaringan di bawahnya
dibuka tepat di tengah maka trakea ini mudah ditemukan. Pembuluh
darah yang tampak ditarik lateral. Ismuth tiroid yang ditemukan ditarik
ke atas supaya cincin trakea jelas terlihat. Jika tidak mungkin, ismuth
tiroid diklem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya. Sebelum klem
ini dilepaskan ismuth tiroid diikat keda tepinya dan disisihkan ke lateral.
Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat. Lakukan aspirasi dengan
cara menusukkan jarum pada membran antara cincin trakea dan akan
terasa ringan waktu ditarik. Buat stoma dengan memotong cincin trakea
ke tiga dengan gunting yang tajam. Kemudian pasang kanul trakea
dengan ukuran yang sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher
pasien dan luka operasi ditutup dengan kasa.1
Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu diperhatikan insisi kulit
jangan terlalu pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah
terjadinya emfisema kulit.
Perawatan Pasca Trakeostomi
Secera setelah trakeostomi dilakukan:
1. Rontgen dada untuk menilai posisi tuba dan melihat timbul atau
tidaknya komplikasi
2. Antibiotik untuk menurunkan risiko timbulnya infeksi
3. Mengajari pihak keluarga dan penderita sendiri cara merawat pipa
trakeostomi
Perawatan pasca trakeostomi sangat penting karena sekret dapat
menyumbat dan menimbulkan asfiksia. Oleh karena itu, sekret di trakea
dan kanul harus sering diisap ke luar dan kanul dalam dicuci sekurangkurangnya dua kali sehari lalu segera dimasukkan lagi ke dalam kanul
luar. Bila kanul harus dipasang dalam jangka waktu lama, maka kanul
harus dibersihkan dua minggu sekali. Kain basah di bawah kanul harus
diganti untuk menghindari timbulnya dermatitis. Gunakan kompres
hangat untuk mengurangi rasa nyeri pada daerah insisi.
Komplikasi
Komplikasi dini yang sering terjadi:
1. perdarahan
2. pneumothoraks terutama pada anak-anak
3. Aspirasi
4. Henti jantung sebagai rangsangan hipoksia terhadap respirasi
5. paralisis saraf rekuren
Komplikasi lanjut
1. Perdarahan lanjutan pada arteri inominata
2. Infeksi
3. fistula trakeoesofagus
4. stenosis trakea

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 113
PERAWATAN PASCA
MELAHIRKAN
Perawatan pasca melahirkan memang patut dilakukan
agar tubuh bisa kembali normal dan sehat seperti
sedia kala. Jadi setelah melahirkan, seorang bayi
juga harus memperoleh asupan gizi yang seimbang
untuk membantu tumbuh kembangnya agar lebih
optimal, sementara bagi seorang ibu tentunya juga
harus mendapatkan perawatan secara tepat. Berikut
ini tips perawatan pasca melahirkan;
1. Merawat penampilan tubuh
a. Rahim masih membesar dan berkontraksi untuk
beberapa waktu, kemudian mengecil dalam 2
minggu kemudian. Kontraksi rahim tidak terus
menerus terjadi, namun seringkali terasa sakit.
Kontraksi rahim semakin diperkuat dengan
menyusui, karena menyusui dapat merangsang
pembentukan
produksi
hormon
yang
merangsang aliran susu dan kontraksi rahim.
Setelah 2 minggu pasca melahirkan, rahim
kembali ke ukuran normal. Meskipun begitu,
perut ibu tidak lagi manjadi rata seperti sebelum
hamil untuk beberapa bulan, bahkan jika ia
berolahraga. Tanda kerut dapat menghilang
dalam waktu setahun.Gunakanlah gurita atau
yang biasa disebut dengan stagen,ini terbukti
efektif untuk mengecilkan perut, rahim dan juga
untuk menahan otot di area perut.
b. Lakukan luluran pasca melahirkan secara teratur.
Hal ini dikarenakan setelah melahirkan kulit ibu
akan cenderung gelap dan kusam.
c. Jagalah pola makan dengan mengonsumsi menu
yang seimbang serta mengandung tinggi protein

untuk memulihkan luka dengan cepat.


d. Lakukan olahraga ringan seperti lari pagi, senam
maupun berenang. Selain itu minumlah cukup
air putih untuk membersihkan tubuh dari dalam.
e. Kesembuhan
penuh
setelah
kehamilan
memerlukan waktu sekitar 1 sampai 2 tahun.
Sehingga dokter biasanya menyarankan ibu
untuk menunggu sebelum hamil kembali. Pada
saat pemeriksaan ke dokter pertama kali setelah
melahirkan, seorang ibu bisa membicarakan
pilihan kontrasepsi yang sesuai dengan
kondisinya.
2. Merawat Area Tertentu pasca melahirkan
a. Jadi selain merawat tubuh, seorang ibu juga
harus mengetahui bagaimana cara untuk
merawat area tertentu pasca proses persalinan.
Di sini terdapat beberapa cara yang bisa anda
lakukan untuk merawat area tertentu seperti :
b. Untuk mengurangi luka akibat jahitan, maka
anda bisa mengompres di bagian luka jahitan.
Lakukan dengan menggunakan es serta kain
yang bersih kemudian di tempelkan pada luka
c. Selalu bersihkan luka jahitan dengan sabun dan
waslap
d. Selalu bersihkan area tertentu menggunakan air
dingin apabila selesai buang air kecil
e. Hindari melakukan aktivitas berat setelah
melahirkan. Jadi sebaiknya lebih sering berbaring
ataupun duduk.
f. Lakukanlah senam kegel untuk mengencangkan
bagian panggul
g. Oleskan salep anti biotik di bagian luka akibat
jahitan
h. Ibu pasca melahirkan bisa mandi dan daerah
di sekitar vagina bisa dibasuh dengan air
hangat 2 atau 3 kali sehari. Mandi air hangat
sambil duduk bisa meringankan rasa sakit yang
diakibatkan oleh episiotomi atau wasir. Mandi
duduk adalah mengambil posisi duduk dengan
air hanya sampai ke pinggang dan pantat.
i. Ibu yang menyusui perlu belajar bagaimana

meletakkan bayi selama menyusui. Jika letak


bayi tidak baik, puting ibu bisa menjadi luka.
Kadangkala bayi menarik puting dengan bibir
bagian bawah dan menghisapnya, sehingga
dapat melukai puting. Setelah menyusui, air susu
pada puting dapat dikeringan secara alami,
dibandingkan menyeka atau mencucinya.
j. Masalah yang terjadi saat kehamilan biasanya
akan menghilang setelah melahirkan, seperti
misalnya tekanan darah yang tinggi atau rasa
panas di dada. Tetapi ada juga gejala yang tetap
berlanjut hingga setelah melahirkan, seperti
misalnya wasir. Untuk wasir & konstipasi yang
ringan bisa dilakukan penanganan sendiri di
rumah atau menurut petunjuk dokter.
k. Ibu yang tidak menyusui biasanya mulai
berovulasi kembali sekitar 4 minggu setelah
melahirkan. Tetapi, bisa juga terjadi lebih awal.
Ibu yang menyusui cenderung mulai berovulasi
10-12 minggu setelah melahirkan. Kadangkala,
seorang ibu yang menyusui juga bisa mengalami
ovulasi, menstruasi dan menjadi hamil secepat
ibu yang tidak menyusui.

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 114
PENILAIAN NYERI SECARA
NONVERBAL PADA PASIEN
Pasien yang tidak bisa melaporkan nyeri sangat
bergantung pada perawat untuk menilai nyeri
secara akurat dan untuk memberikan intervensi
yang tepat. Perawat memiliki beberapa alat
penilaian perilaku nyeri yang tersedia. Namun,
beberapa studi telah menyelidiki alat-alat
penilaian nyeri tersebut benar-benar berguna
dalam pengkajian nyeri dan manajemen nyeri
secara bed side.
Menilai tingkat nyeri secara akurat pada semua
pasien sakit kritis adalah langkah pertama dalam
mengevaluasi delirium yang mungkin terjadi
pada pasien. the behavioral pain scale dan
the Critical-Care Pain Observation Tool adalah
alat penilaian nyeri yang valid dan handal yang
dapat digunakan untuk menilai nyeri nonverbal
pasien dengan fungsi motorik utuh. Ketika
dikombinasikan dengan alat untuk mengevaluasi
sedasi, seperti RichmondAgitation Sedation Scale
atau Sedation Agitation Scale, dan alat untuk
menilai adanya delirium, seperti Confusion
Assessment Method-ICU atau Intensive Care
Delirium ScreeningChecklist, maka pasien akan
mendapat intervensi yang tepat.
Berikut adalah Apa yang Dapat Anda Lakukan
1. Evaluasi alat penilaian nyeri yang digunakan
dalam unit Anda untuk pasien tidak dapat

berkomunikasi. Pastikan yang digunakan alat


valid dan reliabel.
2. Mengevaluasi skala sedasi digunakan di unit
Anda untuk memastikan alat yang digunakan
valid dan reliabel.
3. Meninjau dan mengevaluasi pendekatan unit
Anda untuk mencegah delirium pada orang
dewasa yang sakit kritis.
4. Bekerja dengan dokter, apoteker, dan anggota
tim interprofessional lain untuk mengembangkan
atau meninjau nyeri dan protokol manajemen
sedasi.
5. Meningkatkan kesadaran dengan rekan-rekan
Anda dengan berbagi praktik evidence-base
untuk mengelola rasa sakit, obat penenang, dan
mencegah delirium pada orang dewasa yang
sakit kritis.

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 115
EDUKASI MANAJEMEN NYERI
Definisi
suatu pengalaman sensorik dan emosional
yang tidak menyenangkan, yang berkaitan
dengan kerusakan jaringan yang nyata atau
yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan
jaringan.
Fisiologis Nyeri
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang
berfungsi untuk menerima rangsang nyeri.
Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor
nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit
yang berespon hanya terhadap stimulus kuat
yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri
disebut juga nosireceptor, secara anatomis
reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien
dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf
perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor
dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian
tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam
(deep somatic), dan pada daerah viseral, karena
letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang
timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Tipe Nyeri
Ada 3 tipe nyeri yang dapat terjadi :
Nyeri akut merupakan hasil dari injuri akut,

penyakit atau pembedahan.


Nyeri kronik non keganasan dihubungkan
dengan kerusakan jaringan yang dalam
masa penyembuhan atau tidak progresif.
Nyeri kronik keganasan adalah nyeri yang
dihubungkan dengan kanker atau proses
penyakit lain yang progresif.

compress, pernapasan dalam, dll.


2. Manajemen farmakologik; dengan obatobatan analgetik/anti nyeri, gol.narkotik
maupun kombinasi keduanya.
3. Manajemen okupasi, fisioterapi, psikologis
seperti; metode pengalihan, imajinasi,dll

Penilaian intensitas nyeri


Dimana evaluasi penilaian disimpulkan dalam
suatu angka sebagai berikut :
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat
berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien
mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan
lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat
mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang
tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon
terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi
nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak
dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang
dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak
mampu
lagi
berkomunikasi,
memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah
tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut
Penatalaksanaan Nyeri
Dapat dilakukan dalam beberapa pilihan
untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri
disesuaikan dengan kompetensi petugas yang
memberikan asuhan dan manajemen nyeri.
1. Manajemen non farmakologik; heat/cold

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 116
PENCEGAHAN PASIEN
JATUH
Dalam buku Preventing Falls in Hospitals: A Toolkit for Improving Quality
of Care disebutkan upaya upaya untuk mengurangi terjadinya kejadian
pasien terjatuh di rumah sakit, yaitu:
Membiasakan pasien dengan lingkungan sekitarnya.
Menunjukkan pada pasien alat bantu panggilan darurat.
Posisikan alat bantu panggil darurat dalam jangkauan.
Posisikan barang-barang pribadi dalam jangkauan pasien.
Menyediakan pegangan tangan yang kokoh di kamar mandi, kamar
dan lorong.
Posisikan sandaran tempat tidur rumah sakit di posisi rendah ketika
pasien sedang beristirahat, dan posisikan sandaran tempat tidur yang
nyaman ketika pasien tidak tidur.
Posisikan rem tempat tidur terkunci pada saat berada di bangsal rumah
sakit.
Menjaga roda kursi roda di posisi terkunci ketika stasioner.
Gunakan alas kaki yang nyaman, baik, dan tepat pada pasien.
Gunakan lampu malam hari atau pencahayaan tambahan.
Kondisikan permukaan lantai bersih dan kering. Bersihkan semua
tumpahan.
Kondisikan daerah perawatan pasien rapi.
Ikuti praktek yang aman ketika membantu pasien pada saat akan ke
tempat tidur dan meninggalkan tempat tidur.
Pernyataan yang paling ringkas, akan tetapi memiliki makna yang
dalam seperti yang disarankan oleh Standart Akreditasi JCI adalah The
program is implemented. Dengan implementasi beberapa saran dalam
tulisan ini diharapkan dapat meminimalkan kejadian pasien terjatuh di
rumah sakit. Sehingga salah satu indikator patient safety dapat dilakukan.
Intervensi Jatuh Standar:
1. Tingkatkan observasi bantuan yang sesuai saat ambulasi.
2. Keselamatan lingkungan: hindari ruangan yang kacau balau;
dekatkan bel dan telepon; gunakan penerangan yang cukup malam
hari; posisi tempat tidur rendah; terpasang penghalang tempat tidur;
serta roda tempat tidur harus selalu terkunci.
3.Monitor kebutuhan pasien. Keluarga menemani pasien yang berisiko
jatuh. Bila tidak ada keluarga, pasien diminta untuk menekan bel bila
membutuhkan bantuan
4. Edukasi perilaku untuk mencegah jatuh kepada pasien dan keluarga
dengan menempatkan standing akrilik edukasi jatuh di meja samping
tempat tidur pasien.
5. Gunakan alat bantu jalan (walker, handrail).
6. Anjurkan pasien menggunakan kaus kaki atau sepatu yang tidak licin.
7. Lakukan penilaian ulang risiko jatuh bila ada perubahan kondisi atau
pengobatan.

Intervensi Jatuh Risiko Tinggi:


1. Pakaikan gelang risiko jatuh berwarna kuning. Pasang tanda
peringatan risiko jatuh warna kuning pada bed pasien
2. Lakukan Intervensi jatuh standar.
3. Strategi mencegah jatuh dengan penilaian jatuh yang lebih detil
seperti analisa cara berjalan sehingga dapat ditentukan intervensi spesifik
seperti menggunakan terapi fisik atau alat bantu jalan jenis terbaru untuk
membantu mobilisasi.
4. Pasien ditempatkan dekat nurse station.
5. Handrail kokoh dan mudah dijangkau pasien.
6. Siapkan komod dan alat bantu jalan.
7. Lantai kamar mandi dengan karpet anti slip/ tidak licin, serta anjuran
menggunakan tempat duduk di kamar mandi saat pasien mandi.
8. Dampingi pasien bila ke kamar mandi, jangan tinggalkan sendiri
di toilet, informasikan cara mengunakan bel di toilet untuk memanggil
perawat, pintu kamar mandi jangan dikunci.
9. Lakukan penilaian ulang risiko jatuh tiap shif.
How to reduce injuries from fall
Although there is no evidence-based bundle of practices to prevent injuryinducing falls, the Institute for Healthcare Improvement has identified six
promising changes to reduce them.
1. Screen risk for falling on admission.
2. Screen fall-related injury risk factors and history upon admission.
3. Assess risk of anticipated physiological falling and risk for serious
injury from a fall.
4. Communicate and educate staff and patients about patients fall and
injury risks.
5. Standardize interventions for patients at risk for falling.
6. Customize interventions for patients at highest risk of fall-related injury.
Four catagories of falls
Falls expert Pat Quigley, from the James A. Haley Veterans Hospital in
Tampa, Fla., encourages hospital executives to categorize patient falls
into four types. The first two types of falls are generally preventable; the
second two are not.
Accidental: These falls occur when low-risk patients trip over an IV pole,
fall out of bed when they reach to get something or encounter another
environmental hazard.
Anticipated physiological: The most common type of patient falls, these
occur in patients who have risk factors that can be identified in advance,
including abnormal gait, high-risk medication, urinary frequency or
dementia.
Unanticipated physiological: These falls occur in patients who have a
low risk of falls in general but suffer an event a seizure, stroke or
fainting episode that results in a fall that could not have been predicted.
Behavioral or intentional falls: These occur when a patient acts out.
a. Latihan fisik
Latihan fisik diharapkan mengurangi resiko jatuh dengan meningkatkan
kekuatan tungkai dan tangan, memperbaiki keseimbangan, koordinasi,
dan meningkatkan reaksi terhadap bahaya lingkungan, latihan fisik
juga bisa mengurangi kebutuhan obat-obatan sedatif. Latihan fisik
yang dianjurkan yang melatih kekuatan tungkai, tidak terlalu berat dan
semampunya, salah satunya adalah berjalan kaki.
b. Modifikasi lingkungan
1) Atur suhu ruangan supaya tidak terlalu panas atau dingin untuk
menghindari pusing akibat suhu.

2) Taruhlah barang-barang yang memang seringkali diperlukan berada


dalam jangkauan tanpa harus berjalan dulu.
3) Jangan sampai ada kabel listrik pada lantai yang biasa untuk melintas.
4) Pasang pegangan tangan pada tangga, kamar mandi.
5) Singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari jalan
yang biasa untuk melintas.
6) Gunakan lantai yang tidak licin.
7) Atur letak furnitur supaya jalan untuk melintas mudah, menghindari
tersandung.
8) Hindari furnitur yang beroda.
c. Memperbaiki kebiasaan pasien lansia
1) Berdiri dari posisi duduk atau jangkok jangan terlalu cepat.
2) Jangan mengangkat barang yang berat sekaligus.
3) Mengambil barang dengan cara yang benar dari lantai.
4) Hindari olahraga berlebihan.
d. Alas kaki
1) Hindari sepatu berhak tinggi, pakai sepatu berhak lebar.
2) Jangan berjalan hanya dengan kaus kaki karena sulit untuk menjaga
keseimbangan.
3) Pakai sepatu yang antislip atau sandal berbahan karet tidak licin.
e. Alat bantu jalan
Pada penggunaannya, alat bantu jalan memang membantu meingkatkan
keseimbangan, namun di sisi lain menyebabkan langkah yang terputus
dan kecenderungan tubuh untuk membungkuk, terlebih jika alat bantu
tidak menggunakan roda., karena itu penggunaan alat bantu ini haruslah
direkomendasikan secara individual. Alat bantu jalan seperti cane
(tongkat), crutch (tongkat ketiak) dan walker. (Jika hanya 1 ekstremitas
atas yang digunakan, pasien dianjurkan pakai cane. Pemilihan cane
type apa yang digunakan, ditentukan oleh kebutuhan dan frekuensi
menunjang berat badan. Jika ke-2 ekstremitas atas diperlukan untuk
mempertahankan keseimbangan dan tidak perlu menunjang berat
badan, alat yang paling cocok adalah four-wheeled walker. Jika kedua
ekstremitas atas diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan
menunjang berat badan, maka pemilihan alat ditentukan oleh frekuensi
yang diperlukan dalam menunjang berat badan.
f. Memelihara kekuatan tulang
1) Suplemen nutrisi terutama kalsium dan vitamin D terbukti meningkatkan
densitas tulang dan mengurangi resiko fraktur akibat terjatuh pada orang
tua.
2) Berhenti merokok
3) Hindari konsumsi alcohol
4) Latihan fisik

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

akibat peningkatan kerja nafas dan konsumsi oksigen)


dapat mengakibatkan jantung kolaps. Pemberian ventilasi
mekanik untuk mengurangi beban kerja sistem pernafasan
sehingga beban kerja jantung juga berkurang.

EP. 117
VENTILATOR
Ventilasi Mekanik Ventilator adalah merupakan suatu alat
bantu mekanik yang berfungsi bermanfaat dan bertujuan
untuk memberikan bantuan nafas pasien dengan cara
memberikan tekanan udara positif pada paru-paru melalui
jalan nafas buatan dan juga merupakan mesin bantu nafas
yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh
proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi.
Tujuan Indikasi Pemasangan Ventilator
Ada beberapa hal yang menjadikan tujuan dan manfaat
penggunaan ventilasi mekanik ini dan juga beberapa
kriteria pasien yang perlu untuk segera dipasang ventilator.
Tujuan Ventilator antara lain adalah sebagai berikut :
Mengurangi kerja pernapasan.
Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien.
Pemberian MV yang akurat.
Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi.
Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat.
Kriteria indikasi pemasangan ventilasi mekanik
1. Pasien Dengan Gagal Nafas. Pasien dengan distres
pernafasan gagal nafas, henti nafas (apnu) maupun
hipoksemia yang tidak teratasi dengan pemberian oksigen
merupakan indikasi ventilasi mekanik. Idealnya pasien
telah mendapat intubasi dan pemasangan ventilasi
mekanik sebelum terjadi gagal nafas yang sebenarnya.
Distres
pernafasan
disebabkan
ketidakadekuatan
ventilasi dan atau oksigenasi. Prosesnya dapat berupa
kerusakan paru (seperti pada pneumonia) maupun karena
kelemahan otot pernafasan dada (kegagalan memompa
udara karena distrofi otot).
2. Insufisiensi jantung. Tidak semua pasien dengan ventilasi
mekanik memiliki kelainan pernafasan primer. Pada
pasien dengan syok kardiogenik dan CHF, peningkatan
kebutuhan aliran darah pada sistem pernafasan (sebagai

3. Disfungsi neurologis. Pasien dengan GCS 8 atau


kurang yang beresiko mengalami apnoe berulang juga
mendapatkan ventilasi mekanik. Selain itu ventilasi
mekanik juga berfungsi untuk menjaga jalan nafas pasien
serta memungkinkan pemberian hiperventilasi pada klien
dengan peningkatan tekanan intra cranial.
4. Tindakan operasi. Tindakan operasi yang membutuhkan
penggunaan anestesi dan sedative sangat terbantu
dengan keberadaan alat ini. Resiko terjadinya gagal napas
selama operasi akibat pengaruh obat sedative sudah bisa
tertangani dengan keberadaan ventilasi mekanik.
Kriteria Pemasangan Ventilasi Mekanik
Seseorang perlu mendapat bantuan ventilasi mekanik
(ventilator) bila :
Frekuensi napas lebih dari 35 kali per menit.
Hasil analisa gas darah dengan O2 masker PaO2
kurang dari 70 mmHg.
PaCO2 lebih dari 60 mmHg
AaDO2 dengan O2 100 % hasilnya lebih dari 350
mmHg.
Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.
Komplikasi
Pneumonia terkait ventilator
Gagal napas

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

pada IV line dan pembuluh darah pada pasien. Kondisi Alaram


terjadi pada saat sensor Occlusion mendeteksi tekanan, nilai
tekanan pada kondisi ini berkisar 60-80 Kpa, 350-500 mmHg.

EP. 118
SYRINGE PUMP
Deskripsi
Alat syringe pump merupakan suatu alat yang di gunakan untuk
memberikan cairan atau obat kepada kedealam tubuh pasien
dalam jangka waktu tertentu secara teratur . Secara khusus alat
ini mentitikberatkan atau memfokuskan pada jumlah cairan yang
diamasukan kedalam tubuh pasien, dengan satuan mililiter per
jam (ml/h).
Alat ini menggunakan motor dc sebagai tenaga pendorong
syringe yang berisi cairan atau obat yang akan dimasukan
kedalam tubuh pasien. Alat ini menggunakan sistem elektronik
mikroprosesor yang berfungsi dalam pengontrolan dalam
pemberian jumlah cairan ke tubuh pasien, sensor dan alarm.
Dalam sistem Mekanik yaitu dengan gerakan motor sebagai
tenaga pendorong.
Pada dasarnya pada syringe pump terdiri dari beberapa
rangkaian yaitu rangkaian pengatur laju motor (pendeteksi rpm),
rangkaian komparator, dan rangkaian sinyal referensi.
Motor akan berputar untuk menggerakkan spuit merespon
sinyal yang diberikan oleh rangkaian pengendali motor, tetapi
putaran motor itu sendiri tidak stabil sehingga perubahanperubahan itu akan dideteksi oleh rangkaian pendeteksi rpm.
Sinyal yang didapat dari pendeteksi rpm akan dibandingkan
dengan sinyal referensi, dimana hasil dari perbandingan tersebut
akan meredakan ketidakstabilan motor. Motor akan mengurangi
lajunya jika perputarannya terlalu cepat dan sebaliknya akan
menambah kecepatan jika perputarannya terlalu pelan sehingga
didapatkan putaran motor yang stabil.
Syringe pump didesain agar mempunyai ketepatan yang tinggi
dan mudah untuk digunakan. Syringe pump dikendalikan
dengan mikro computer / mikro kontrolir dan dilengkapi dengan
system alarm yang menyeluruh.
Sistem Alarm dan Keamanan
Untuk menjaga keamanan ke pasien (patient safety), maka
alat ini dilengkapi dengan sistem Alaram, diantaranya adalah
sebagai berikut
1. Alaram Occlusion / Kemampatan
> berfungsi untuk memberikan tanda bunyi alaram dan
memberhentikan sistem pompa pada saat terjadi sumbatan

2. Alaram Delivery Limit


> Untuk memberikan batasan jumlah cairan yang akan diberikan
pada pasien. Jika jumlah cairan yang diberikan sudah tercapai,
maka alaram akan berbunyi dan alat akan berhenti memompa.
3. Alaram Nearly empty
> Berfungsi untuk memberikan isyarat suara alaram pada saat
cairan yang diberikan pada pasien akan segera habis.
Fungsi alat
Memasukan cairan atau obat ke tubuh pasien dengan tingkat
akurasi yang tinggi.
Untuk mencegah periode kadar obat atau cairan yang
dimasukan,dimana Tingkat obat di dalam darah terlalu tinggi
atau terlalu rendah.
Menghindari penggunaan tablet yang dikarenakan pasien yang
mengalami kesulitan dalam meminum tablet.
Bagian Bagian Syringe Pump
Panel Pengoperasian (operation panel)
Pada panel pengoperasian atau operation panel terdapat
beberapa bagian, antara lain:
1) Power Display; terdiri dari :
a. [AC/DC] indicator; lampu akan menyala jika syringe pump
menggunakan
sumber AC ataupun DC
b. [BATTERY] indicator
2) Power Switch; berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan
syringe pump.
3) Syringe size Indicator; menunjukkan ukuran dari syringe.
Adapun syringe pump type TE-311 ini mampu mendeteksi
ukuran syringe (suntikan) dengan berbagai ukuran diantaranya
adalah (10, 20, 30, 40, 50 ml).
4) Start Switch; merupakan tombol untuk memulai proses
pemasukan cairan kedalam tubuh pasien.
5) Alarm Indicator; terdapat beberapa alarm diantranya:
a. Occlusion Alarm; artinya alarm akan berbunyi jika terjadi
kemacetan pada proses pemasukan cairan kedalam tubuh
pasien.
b. Nearly Empty; artinya alarm akan berbunyi jika cairan yang
terdapat dalam syringe (suntikan) akan habis atau mendekati
habis.
c. Low Battery; alarm akan berbunyi jika tegangan dalam baterai
lemah sehingga perlu dilakukan pengisian kembali (recharge).
d. (Flow Rate/Delivery Limit/Volume Delivered) Display; berfungsi
menampilkan aliran rata-rata / flow rate dalam dalam satuan
ml/h.

Blok Diagram
Fungsi Blok Diagram:
1. Block power supply
Block power supply berfungsi mendistribusikan tegangan dari
PLN, langsung pada alat.
Selain itu, pada alat syring pump dapat juga menggunakan
Battery sebagai cadangan Supply.
2. Block Microcontroller / mikrokomputer / .CPU
Mikrokontroller sebagai pengontrol dan pengendali dari
Syringe pump.
Output berupa perintah untuk mengendalikan motor, baik
untuk memberhentikan motor atau pun mempercepat kerja
motor.
Selain itu mengolah pendeteksian sensor yang berfungsi
sebagai Pengaman dan selanjutnya menyalakan Buzzer sebagai
tanda alarm.
3. Block Sensor
Sebagai pendeteksi cairan yang ada pada syringe. Dapat
menggunakan sistem optocopler
Menggunakan optocoupler sebagai sensor. Dengan sebuah
fototransistor sebagai penerima dari LED yang memancarakan
cahaya, yang akan mempengaruhi resistansi fototransistor.
4. Block Motor Driver
Sebagai tenaga utama pendorong syringe yang berisi cairan.
Berupa motor DC.
Bekerja dengan kecepatan delivery rate sesuai dengan
penyetingan awal yang dilakukan dan dapat dipercepat dengan
menekan push button pada setting alat.
5. Block Alarm dan Display
Alarm sebagai keamanan. Akan berbunyi apabila cairan pada
syring akan habis.
Display pada syringe sebagai indicator penyettingan dari
kecepatan motor dalam mendorong cairan pada syringe yang
diatur terlebih dahulu.
Terdapat pula lampu indikator.

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

4. Spuit 5 atau 10 cc.


5. Mouth piece bila perlu
6. Tisu
7. Lingkungan harus Bersih dan tenang

EP. 119
NEBULIZER
Definisi
Nebulizer adalah alat untuk membantu kelancaran
pernafasan bagi pasien. Karena gangguan pernafasan,
bila dibiarkan, bisa menurunkan kondisi pasien yang
bersangkutan.
Indikasi
Nebulizer itu gunanya untuk yang punya masalah dengan
saluran pernafasan, seperti batuk, pilek, atau asma, yang
juga berfungsi untuk membantu menngluarkan dahak. Dia
lebih bagus dibanding obat oral karena tidak mengendap
dalam darah, karena bentuknya uap, jadi efek samping
obat sangat kecil.
Fungsi Nebulizer
Mengenai nebulizer dan penguapan merupakan suatu cara
pemberian obat melalui inhalasi/pernafasan,Fungsinya
sama seperti dengan pemberian obat lainnya namun
mempunyai daya efektifitas lebih tinggi dibandingkan
melalui mulut. pengobatan lewat nebulizer ini lebih efektif
dari obat-obatan minum, karena langsung dihirup masuk
ke paru-paru, sehingga dosis yang dibutuhkan pun lebih
kecil, otomatis juga lebih aman. Biasanya dipakai untuk
anak asma atau yang memang sering batuk pilek berat
karena alergi.
Memberikan Nebulizer adalah memberikan campuran zat
aerosol dalam partikel udara dengan tekanan udara.

Prosedur Memberikan Nebulizer


1. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pengobatan
khususnya pada pasien yang menggunakan bronkodilator.
2. Jelaskan prosedur pada klien.
3. Atur posisi pasien senyaman mungkin paling sering
dalam posisi semifowler, jaga privasi.
4. Petugas mencuci tangan.
5. Nebulizer diisi obat (sesuai program pengobatan) dan
cairan normal salin 4-6cc.
6. Hidupkan nebulizer kemudian hubungkan nebulizer
dan selangnya ke flow meter oksigen dan set aliran pada
4-5 liter/menit, atau ke kompresor udara.
7. Instruksikan pasien untuk buang nafas.
8. Minta pasien untuk mengambil nafas dalam melalui
mouth piece, tahan nafas beberapa saat kemudian buang
nafas melalui hidung.
9. Observasi pengembangan paru / dada klien.
10. Minta pasien untuk bernafas perlahan-lahan dan
dalam setelah seluruh obat diuapkan.
11. Selesai tindakan, anjurkan klien untuk batuk setelah
tarik nafas dalam beberapa kali (teknik batuk efektif).
12. Pasien dirapikan.
13. Alat dirapikan.
14. Petugas mencuci tangan.
15. Catat respon pasien dan tindakan yang telah
dilakukan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Perlakukan pasien secara hati-hati.
2. Saat awal tindakan pasien perlu didampingi sampai
terlihat
tenang.

Tujuan Memberikan Nebulizer


Untuk memberikan obat melalui nafas spontan pasien
Persiapan Memberikan Nebulizer
Alat dan obat :
1. Oksigen set
2. Nebulizer set
3. Cairan normal saline dan obat yang akan dipakai

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat


menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah.Menyekap, tidak
memungkinkan untuk makan dan batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien
mntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat menekan kulit
dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat
disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan.

EP. 120
NASAL KANUL DAN
SIMPLE MASK

Definisi
Nasal kanul adalah selang bantu pernafasan yang di letakan pada lubang
hidung. Nasal kanul memiliki keuntungan yaitu pemberian oksigen stabil
dengan volume tidal dan laju, pernafasan teratur, Pemasangannya
mudah, Klien bebas makan, Pasient bebas berbicara dengan nyaman.
Selain itu nasal kanul juga memiliki kerugian di antaranya adalah tidak
dapat memberi konsentrasi oksigen lebih dari 44% , suplai oksigen
berkurang bila klien bernafas melalui mulut, dapat mengiritasi selaput
lendir.
Tujuan Pemakaian
Tujuan dari nasal kanul itu sendiri adalah untuk memenui kebutuhan
oksigen dalam tubuh karena mengalami kesulitan dalam pemenuhan
kebutuhan oksigen. Sebelum kita melakukan nasal kanul ada beberapa
persiapan yang harus di lakukan yaitu cek perencanaan keperawatan
klien dan klien di beri penjelasan tentang prosedur yang akan di lakukan.
Selain itu kita juga harus mempersiapkan alat-alat di antaranya adalah
tabung oksigen yang sudah dilengkapi dengan socket dan manometer,
humedifier yang di isi aquadest sampai pembatas yang sudah di lakukan,
nasal kanul.
Keuntungan
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan
teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, murah,
disposibel, klien bebas makan, minum, bergerak, berbicara, lebih
mudah ditolerir klien dan terasa nyaman dan dapat digunakan pada
pasien dengan pernafasan mulut.
Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai
oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas
karena kedalaman kanul hanya 1 - 1.5 cm, tidak dapat diberikan pada
pasien dengan obstruksi nasal. Dapat terjadi pemborosan oksigen dan
menyebabkan mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. Dapat
menyebabkan kerusakan kulit diatas telinga dan di hidung akibat
pemasangan yang terlalu ketat.
SIMPLE MASK
Simple mask (sungkup muka sederhana)Digunakan untuk konsentrasi
oksigen rendah sampai sedang.Merupakan alat pemberian oksigen
jangka pendek, kontinyu atau selang seling. Aliran 5 8 liter/mnt dengan
konsentrasi oksigen 40 60%. Masker ini kontra indikasi pada pasien
dengan retensi karbondioksida karena akan memperburuk retensi. Aliran
O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit untuk mendorong CO2 keluar
dari masker.
Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula
nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup
berlubang besar,dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
Kerugian

Indikasi Terapi O2 pada Pasien


Pengertian : Memberikan tambahan oksigen kepada pasien agar
kebutuhan oksigennya terpenuhi
Tujuan : Agar oksigenasi seluruh tubuh pasien adekuat
Indikasi :
Sumbatan jalan nafas
Henti nafas
Henti jantung
Nyeri dada/angina pektoris
Trauma thorak
Tenggelam
Hipoventilasi (respirasi < 10 kali/menit)
Distress nafas
Hipertemia
Syok
Stroke (Cerebro Vasculer Attack)
Keracunan gas
Pasien tidak sadar
C. Monitoring dalam pemberian oksigen
Persyaratan dalam pemberian terapi oksigen
Yang harus diperhatikan pada pemberian terapi oksigen pada pasien
antara lain:
Mengatur pemberian fraksi O2 (% FiO2) / jumlah liter per menit
Mencegah terjadinya akumulasi kelebihan CO2 oleh karena salah
metode
Resistensi minimal untuk pernafasan (terutama pada kasus PPOK)
Efesiensi dan ekonomis dalam penggunaan O2 - Oksigen harus
dapat diterima pasien
Jenis Peralatan dan Konsentrasi Oksigen
JENIS ALAT

KONSENTRASI OKSIGEN

Nasal kanula

ALIRAN OKSIGEN

24-32%

Simple Face Mask

2-4 LPM

35-60%

6-8 LPM

35-80%

8-12 LPM

Non Rebrether

50-95/100%

8-12 LPM

Venturi

24-50%

4-10 LPM

Bag-Valve-Mask (Ambubag)
Tanpa oksigen

21% (udara)

Dengan oksigen

40-60%

8-10 LPM

Dengan reservoir

100%

8-10 LPM

Perhatian :
- pemberian oksigen atas indikasi yang tepat
- Awas pasien muntah, siapkan penghisap
- Pantau pernafasan dan aliran oksigen (LPM)
Catatan :
- Oksigen dapat menyebabkan mukosa kering
- Pergunakan hummidifier pada pemberian oksigen > 30 menit
- Terangkan pada pasien tindakan apa yang akan dilakukan.
Tabung oksigen dengan 2000 PSI
Ukuran

Vol (Liter)

Durasi/Kecepatan Aliran

Kecil

300

29 menit

Sedang

650

50 menit

Besar

3000

4 jam 41 menit

Prosedur Penggunaan
Peralatan :
Oksigen medis (oksigen tabung)
Humidifier
Face mask
Non rebreather mask
Bag valve mask (ambu bag)
Prosedur pelaksanaannya adalah:
a) Anamnesa
b) Langkah-Langkah Pertolongan
c) Pemeriksaan Fisik

Flowmeter/regulator
Nasal kanul
Partial rebreather mask
Venture mask

d) Penatalaksanaan
e) Penyuluhan
f) Follow Up

Cara kerjanya:
1. perawat cuci tangan dulu,
2. atur posisi yang nyaman,
3. periksa manometer sentral O2 atau tabung O2 humedifier dan
flowmeter,
4. hubungkan kanul dengan O 2 atau alirkan O2 yang rendah,
5. masukan ke dua ujung kanul ke lubang hidung, membersihkan nasal
kanul setiap 8 jan sekali,
6. perawat cuci tangan,
7. Perhatikan dan catat reksi setelah melakukan tindakan tersebut,
perhatikan respon pasien didokumentasikan.
Nasal Canule
Langkah-langkah Pemasangan :
a) Mengatur posisi yang nyaman.
b) Memberi penjelasan pada pasien/keluarga tentang prosedur
pemasangan nasal canule (maksud, tujuan dan prosedur).
c) Memasang nasal canula pada kedua hidung dengan fiksasi kedua
telinga.
d) Mengalirkan oksigen 1 6 liter/ menit.
e) Memberi penjelasan pada pasien/keluarga bahwa prosedur sudah
selesai.
f) Mengobservasi tentang perkembangan terapi.
g) Mencatat hasil kegiatan pada status pasien
Sungkup Muka Sederhana (Simple Mask)
Langkah-langkah Pemasangan :
a) Mengatur posisi yang nyaman ( berbaring/ semi fowler/ fowler ).
b) Memberi penjelasan tentang maksud, tujuan dan prosedur
pemasangan simple mask.
c) Memasang simple mask pada muka pasien sesuai ukuran, alirkan
oksigen 5 8 liter/ menit dan fiksasi karet pengikat pada belakang
kepala.
d) Memberikan penjelasan bahwa prosedur sudah selesai.
e) Mengobservasi tentang perkembangan terapi oksigen.
f) Mencatat hasil kegiatan pada status pasien.

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 121
INFUSION PUMP
Definisi Inffusion Pump
Inffusion pump adalah suatu alat untuk mengatur jumlah
cairan / obat yang masukkan kedalam sirkulasi darah
pasien secara langsung melalui vena. Sehingga obat /
cairan masuk dalam aliran darah dalam jangka waktu
dan dosis yang tepat.
Nama lain Inffusion Pump adalah alat infus
Komponen Alat
- Alarm control
- Pump sistem
- Sensor tetesan
- Kontrol gelembung udara
- Pengatur jumlah tetesan
- Display system
Prinsip Kerja
Buzzer drive / Buzzer volume variable circuit akan berbunyi
dan digunakan sebagai sumber alarm.
Motor drive circuit, yang digunakan pada unit ini adalah
motor stepper untuk motor penggerak, rasio dari motor
tersebut adalah: PK244-01 4V : 2 phasa, 1,8 / step.
Tegangan pada motor akan senantiasa dipilih pada
masing-masing kecepatan digunakan untuk menstabilkan
output putaran. Proses kenaikan tegangan motor dilakukan
oleh tipe switching regulator untuk mengurangi kerugian
tegangan yang hilang. Spesifikasi tegangan dapat dipilih
yaitu sebanyak 32 step.
Nurse call I/O circuit, nurse call relay dikontrol oleh sinyal
nurse call relay dari CPU atau signal run out of control
stop.
Air in-line detection circuit, untuk mendeteksi keberadaan
gelembung pada pipa atau selang pada infus pump, untuk
mendeteksi the air in-line maka diigunakan ultrasonic

sensor.
Delivery detection circuit, digunakan untuk mendeteksi
berapa besar tetesan yang sudah dikeluarkan atau
diberikan. Tetesan pada drip chamber dideteksi dengan
infra red emitting element yang terletak pada drop sensor
probe.
Occlusion detection circuit, rangkaian ini berguna untuk
mendeteksi terjadinya penyumbatan saat terjadi tekanan
internal pada selang keluaran, dimana pendeteksian
secara mekank diatur pada bagian terendah dari fingger
unit. Oclusion plunger yang menggunakan magnet
akan mendeteksi posisi yang berubah dikarenakan oleh
bergeraknya tabung / selang.
Door detection circuit, mendeteksi keadaan door, dimana
akan terdeteksi oleh magnet yang dipasang pada pintu
dan semua bagian element dihubungkan pada display
circuit.
Fail safe circuit, berguna untuk mengetahui keadaan
bekerjanya control circuit dan display circuit board CPU
yang akan digunakan untuk berkomunikasi dengan
bagian lain pada saat status operasi dengan CPU.
Hal yang perlu diperhatikan
- Tegangan
- Jumlah tetesan / menit
- Display
- Control system
- Lakukan pemeliharaan sesuai jadwal
- Lakukan pengujian dan kalibrasi 1 tahun sekali
Indikasi pemakaian
Pasien dengan kebutuhan akan cairan rehidrasi kontinue.
Pasien dengan tirah baring lama
Penggunaan obat antibiotik intravena
Penggunaan obat-obatan intravena yang memerlukan
waktu monitoring tepat

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 122
FOTO TERAPI / BLUE
LIGHT THERAPY
PENGERTIAN
Fototerapi digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada
neonatus dengan hiperbilirubinemia jinak hingga moderat. Fototerapi
dapat menyebabkan terjadinya isomerisasi bilirubin indirect yang
mudah larut di dalam plasma dan lebih mudah di ekskresi oleh hati
ke dalam saluran empedu. Meningkatnya foto bilirubin dalam empedu
menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu ke dalam
usus sehingga peristaltic usus meningkat dan bilirubin akan lebih cepat
meninggalkan usus.
INDIKASI
Penggunaan fototerapi sesuai anjuran dokter biasanya diberikan pada
neonatus dengan kadar bilirubin indirect lebih ddari 10mg % sebelum
tranfusi tukar, atau sesudah transfuse tukar.
PRINSIP KERJA FOTO TERAPI
Foto terapi dapat memecah bilirubin menjadi dipirol yang tidak toksis
dan di ekskresikan dari tubuh melalui urine dan feses. Cahaya yang
dihasilkan oleh terapi sinar menyebabkan reaksi fotokimia dalam kulit
(fotoisomerisasi) yang mengubah bilirubin tak terkonjugasi ke dalam
fotobilirubin dan kemudian di eksresi di dalam hati kemudian ke
empedu, produk akhir reaksi adalah reversible dan di ekresikan ke dalam
empedu tanpa perlu konjugasi. Energy sinar dari foto terapi mengubah
senyawa 4Z-15Z bilirubin menjadi senyawa bentuk 4Z-15E bilirubin yang
merupakan bentuk isomernya yang mudah larut dalam air.
MEMPERSIAPKAN UNIT FOTOTERAPI
Pastikan bahwa tutup plastik atau pelindung berada pada posisinya.
Hal ini mencegah cedera pada bayi jika lampu pecah dan membantu
menapis sinar ultraviolet yang berbahaya.
Hangkatkan ruangan tempat unit diletakkan, bila perlu, sehingga suhu
dibawah sinar adalah 28oC sampai 30oC.
Nyalakan unit, dan pastikan bahwa semua tabung fluoresen bekerja
Ganti tabung fluoresen yang terbakar atau yang berkedip-kedip
Catat tanggal tabung diganti dan ukur durasi total penggunaan
tabung tersebut.
Ganti tabung setiap 2000 jam penggunaan atau setelah tiga bulan,
mana saja yang terlebih dahulu, walaupun tabung masih bekerja.
Gunakan seprai putih pada pelbet, tempat tidur bayi, atau inkubator,
dan letakkan tirai putih disekitar tempat area tempat unit diletakkan
untuk memantulkan sinar sebanyak mungkinkembali ke bayi.
MEMBERIKAN FOTOTERAPI
1. Letakkan bayi di bawah fototerapi
a. Jika berat badan bayi 2 kg atau lebih, letakkan bayi telanjang pada
pelbet atau tempat tidur. Letakkan atau jaga bayi kecil dalam inkubator.
b. Perhatikan adannya bilier atau obstruksi usus.
R/ fototerapi dikontraindikasikan pada kondisi ini karena fotoisomer

bilirubin yang diproduksi dalam kulit dan jaringan subkutan dengan


pemajanan pada terapi sinar tidak dapat diekskresikan.
c. Ukur kuantitas fotoenergi bola lampu fluorensen (sinar putih atau biru)
dengan menggunakan fotometer.
R/ intensitas sinar menembus permukaan kulit dari spectrum biru
menentukan seberapa dekat bayi ditempatkan terhadap sinar. Sinar
biru khusus dipertimbangkan lebih efektif daripada sinar putih dalam
meningkatkan pemecahan bilirubin.
d. Letakkan bayi di bawah sinar sesuai dengan yang di indikasikan.
e. Tutupi mata bayi dengan potongan kain, pastikan bahwa potongan
kain tersebut tidak menutupi hidung bayi. Inspeksi mata setiap 2 jam
untuk pemberian makan. Sring pantau posisi.
R/ mencegah kemungkinan kerusakan retina dan konjungtiva dari sinar
intensitas tinggi. Pemasangan yang tidak tepat dapat menyebabkan
iritasi, abrasi kornea dan konjungtivitis, dan penurunan pernapasan oleh
obstruksi pasase nasal.
f. Tutup testis dan penis bayi pria
R/ mencegah kemungkinan kerusakan penis dari panas
2. Ubah posisi bayi setiap 2 jam
R/ memungkinkan pemajanan seimbang dari permukaan kulit terhadap
sinar fluoresen, mencegah pemajanan berlebihan dari bagian tubuh
individu dan membatasi area tertekan.
3. Pastikan bayi diberi makan :
a. Dorong ibu menyusui sesuai kebutuhan tetapi minimal setiap 2 jam :
- Selama pemberian makan, pindahkan bayi dari unit fototerapi dan
lepaskan kain penutup mata.
- Memberikan suplemen atau mengganti ASI dengan jenis makanan atau
cairan lain tidak diperlukan (mis: pengganti ASI,air, air gula,dsb)
b. Jika bayi mendapkan cairan IV atau perasaan ASI, tingkatkan volume
cairan dan/atau susu sebanyak 10% volume harian total perhari selama
bayi dibawah sinar fototerapi
c. Jika bayi mendapkan cairan IV atau diberi makan melalui slang
lambung, jangan memindahkan bayi dari sinar fototerapi.
4. Perhatiakan bahwa feses bayi warna dan frekuensi defekasi dapat
menjadi encer dan urin saat bayi mendapatkan fototerapi. Hal ini tidak
membutuhkan penangan khusus.
R/ defekasi encer, sering dan kehijauan serta urin kehijauan menandakan
keefektifan fototerapi dengan pemecahan dan ekskresi bilirubin.
5. Dengan hati- hati cuci area perianal setelah setiap defekasi , inspeksi
kulit terhadap kemungkinan iritasi dan kerusakan.
R/ membantu mecegah iritasi dan ekskoriasi dari defekasi yang sering
atau encer.
6. Lanjutkan terapi dan uji yang diprogramkan lainnya:
a. Pindahkan bayi dari unit foterapi hanya selama prosedur yang tidak
dapat dilakukan saat dibawah sinar fototerapi
b. Jika bayi mendapkan oksigen, matikan sinar sebentar saat mengamati
bayi untuk mengetahui adanya sianosis sentral (lidah dan bibir biru).
7. Pantau kulit bayi dan suhu inti setiap 2 jam atau lebih sering sampai
stabil (mis, suhu aksila 97,8 F, suhu rectal 98,9 F).
R/ fluktuasi pada suhu tubuh dapat terjadi sebagai respons terhadap
pemajanan sinar, radiasi dan konveksi.
8. Pantau masukan dan haluaran cairan, timbang BB bayi dua kali
sehari. Perhatikan tanda- tanda dehidrasi (mis, penurunan haluaran
urine, fontanel tertekan, kulit hangat atau kering dengan turgor buruk,
dan mata cekung). Tingkatkan masukan cairan per oral sedikitnya 25%.
R/ peningkatan kehilangan air melalui feses dan evaporasi dapat
menyebabkan dehidrasi.
9. Ukur kadar bilirubin serum setiap 12 jam:
R/ penurunan kadar bilirubin menandakan keefektifan fototerapi,
peningkatan yang kontinu menandakan hemolisis yang kontinu dan
dapat menandakan kebutuhan terhadap transfuis tukar.
a. Hentikan fototerapi jika kadar bilirubin serum di bawah kadar saat

fototerapi di mulai atau 15mg/dl (260umol), mana saja yang lebih


rendah.
b. Jika bilirubin serum mendekati kadar yang membutuhkan tranfusi
tukar atau pemindahan dan segera rujuk bayi kerumah sakit tersier atau
pusat spesialisasi untuk tranfusi tukar, jika memungkinkan. Kirim sampel
darah ibu dan bayi.
10. Jika serum bilirubin tidak dapat diukur, hentikan fototerapi setelah
tiga hari. Bilirubin pada kulit dengan cepat menghilang dibawah
fototerapi. Warna kulit tidak dapat digunakan sebagai panduan kadar
bilirubin serum selama 24 jam setelah penghentian fototerapi
11. Setelah fototerapi dihentikan :
a. Amati bayi selama 24 jam dan ulangi pengukuran bilirubin serum,
jika memungkinkan atau perkiraan ikterus dengan menggunakan
metode klinis.
b. Jika ikterus kembali ke atau di atas kadar di mulainya fototerapi, ulangi
fototerapi dengan banyak waktu yang sama seperti awal pemberian.
Ulangi langkah ini setiap kali fototerapi dihentikan sampai pengukuran
atau perkiraan bilirubin tetap di bawah kadar yang membutuhkan
fototerapi.
12. Jika fototerapi tidak lagi dibutuhkan, bayi makan dengan baik dan
tidak terjadi masalah lain yang membutuhkan hospitalisasi, pulangkan
bayi.
13. Ajari ibu cara mengkaji ikterus, dan anjurkan ibu kembali jika bayi
menjadi lebih icterus.
EFEK SAMPING FOTOTERAPI
1. Tanning (perubahan warna kulit) : induksi sintesis melanin dan atau
disperse oleh cahaya ultra violet.
2. Syndrome bayi Bronze : penurunan ekskresi hepatic dari foto produk
bilirubin.
3. Diare : bilirubin menginduksi seksresi usus.
4. Intoleransi laktosa : trauma mukosa dari epitel villi.
5. Hemolisis : trauma fotosensitif pada eritrosist sirkulasi.
6. Kulit terbakar : paparan berlebihan karena emisi gelombang pendek
lampu fluoresen.
7. Dehidrasi : peningkatan kehilangan air yang tak disadari karena
energy foton yang diabsorbsi.
8. Ruam kulit : trauma fotosensitif pada sel mast kulit dengan pelepasan
histamine.
ALAT FOTOTERAPI
Bagian- bagian alat fototerapi
1. Kabel penghubung alat dengan sumber listrik
2. Pengatur jarak lampu dengan bayi
3. Tombol power on/off untuk menghidupkan atau mematikan lampu
fototerapi
4. Hourmeter (petunjuk berapa jam fototerapi yang sudah dipakai).

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com

EP. 123
ELEKTROKARDIOGRAM (EKG)
Adalah grafik yang dibuat oleh sebuah elektrokardiograf,
yang merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu
tertentu.
Indikasi penggunaan
Merupakan standar emas untuk diagnosis aritmia jantung

EKG memandu tingkatan terapi dan risiko untuk
pasien yang dicurigai ada infark otot jantung akut

EKG membantu menemukan gangguan elektrolit
(mis. hiperkalemia dan hipokalemia

EKG memungkinkan penemuan abnormalitas
konduksi (mis. blok cabang berkas kanan dan kiri)

EKG digunakan sebagai alat tapis penyakit
jantung iskemik selama uji stres jantung

EKG kadang-kadang berguna untuk mendeteksi
penyakit bukan jantung (mis. emboli paru atau hipotermia)
Elektrokardiogram tidak menilai kontraktilitas jantung
secara langsung. Namun, EKG dapat memberikan indikasi
menyeluruh atas naik-turunnya suatu kontraktilitas
Struktur EKG
1.Kertas EKG
Sebuah elektrokardiograf khusus berjalan di atas kertas
dengan kecepatan 25 mm/s, meskipun kecepatan yang
di atas daripada itu sering digunakan. Setiap kotak
kecil kertas EKG berukuran 1 mm. Dengan kecepatan
25 mm/s, 1 kotak kecil kertas EKG sama dengan 0,04
s (40 ms). 5 kotak kecil menyusun 1 kotak besar, yang
sama dengan 0,20 s (200 ms). Karena itu, ada 5 kotak
besar per detik. 12 sadapan EKG berkualitas diagnostik
dikalibrasikan sebesar 10 mm/mV, jadi 1 mm sama dengan
0,1 mV. Sinyal kalibrasi harus dimasukkan dalam tiap
rekaman. Sinyal standar 1 mV harus menggerakkan jarum
1 cm secara vertikal, yakni 2 kotak besar di kertas EKG.
2.Sadapan EKG
Kata sadapan memiliki 2 arti pada elektrokardiografi:

bisa merujuk ke kabel yang menghubungkan sebuah


elektrode ke elektrokardiograf, atau (yang lebih umum)
ke gabungan elektrode yang membentuk garis khayalan
pada badan di mana sinyal listrik diukur. Lalu, istilah
benda sadap longgar menggunakan arti lama, sedangkan
istilah 12 sadapan EKG menggunakan arti yang baru.
Nyatanya, sebuah elektrokardiograf 12 sadapan biasanya
hanya menggunakan 10 kabel/elektrode. Definisi terakhir
sadapan inilah yang digunakan di sini.
3.Sinyal EKG
Sebuah
elektrokardiogram
diperoleh
dengan
menggunakan potensial listrik antara sejumlah titik tubuh
menggunakan penguat instrumentasi biomedis. Sebuah
sadapan mencatat sinyal listrik jantung dari gabungan
khusus elektrode rekam yang itempatkan di titik-titik
tertentu tubuh pasien.
Monitor EKG modern memiliki banyak penyaring untuk
pemrosesan sinyal. Yang paling umum adalah mode
monitor dan mode diagnostik. Dalam mode monitor,
penyaring berfrekuensi rendah (juga disebut penyaring
bernilai tinggi karena sinyal di atas ambang batas bisa
lewat) diatur baik pada 0,5 Hz maupun 1 Hz dan penyaring
berfrekuensi tinggi (juga disebut penyaring bernilai rendah
karena sinyal di bawah ambang batas bisa lewat) diatur
pada 40 Hz. Hal ini membatasi EKG untuk pemonitoran
irama jantung rutin.

Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I,


Jakarta 14350
T. (021) 6400261 F. (021) 6400778
email : info@royalprogress.com
www.royalprogress.com