Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL METODE PENELITIAN SOSIAL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode penelitian sosial


Dosen Pengajar : Dr. Ridwan efendi

Oleh :
Faizal Bayhaque Al Adhanie (1306237)
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015

Judul : Pengaruh penggunaan smartphone terhadap


perilaku anti sosial Mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan
2013 2014 UPI Bandung
1. Latar belakang
Pada

awalnya

smartphone

diperuntukan

bagi

kalangan entrepreneur dan pekerja kantoran yang memiliki


rutinitas yang padat. Namun saat ini, seperti yang kita
ketahui

bersama

bahwa

smartphone

digunakan

bagi

semua kalangan baik itu kalangan atas, menegah maupun


bawah.

Selain

itu

smartphone

juga

digunakan

oleh

berbagai usia baik itu orang tua, dewasa, remaja, maupun


anak-anak. Tingkat peradaban manusia yang semakin maju
semakin

membuat

kebutuhannya

orang

secara

untuk

terus

memenuhi

maksimal.

Para

produsen

smartphone-pun menawarkan barbagai tawaran menarik


dari mulai harga termurah hingga yang termahal, teknologi
yang terus diperbarui dan dikembangkan, aplikasi yang
beragam, serta perangkat pendukung yang terdapat pada
smartphone yang dijualnya. Alhasil saat ini semua orang
dapat

menikmati

fasilitas

dari

smartphone

tanpa

terkecuali.
Tekonologi informasi saat ini berkembang dengan
pesat hal ini dapat dilihat dari berbagai aplikasi dan media
penyampaian dan penerimaan pesan berbasis internet
yang makin beragam dan menarik salah satunya adalah
jejaring

sosial.

Istilah

jejaring

sosial

pertama

kali

diperkenalkan oleh Professor J.A Barnes pada tahun 1954.


Jejaring sosial merupakan sebuah sistem struktur sosial
yang terdiri dari elemen-elemen individu atau organisasi.
Jejaring sosial ini akan membuat mereka yang memiliki

kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang telah dikenal


sehari-hari

sampai

dengan

keluarga

bisa

saling

berhubungan. Berbagai jenis jejaring sosial yang banyak


digunakan

di

Indonesia

adalah

Facebook,

Twitter,

Instagram, Path, Youtube, Ask Fm, Soundcloud, Google+,


Line, Whatsapp, Kakaotalk, Tumblr dan lain sebagainya.
Berbagai macam jejaring sosial tersebut di dapatkan
dengan mengunduh secara gratis sehingga memungkinkan
semua orang bisa mempunyai akun dan ikut berbagi
informasi baik itu dalam bentuk tulisan, gambar, suara
maupun video didalam jejaring sosial.
Begitu banyaknya jejaring sosial yang tersedia tetapi
setiap jejaring sosial yang ada tidak pernah sepi dari
pengguna (user). Salah satu kalangan yang aktif dalam
mengakses jejaring sosial adalah kalangan remaja. Usia
remaja merupakan usia tanggung, dimana dalam usia
tersebut, pikiran, jiwa, dan psikis mereka masih tergolong
labil. Mereka menghabiskan waktu senggangnya dengan
membuka, membaca, mencari, menyampaikan informasi,
mengobrol, atau sekedar melihat-lihat jejaring sosial yang
mereka miliki. Bahkan para remaja sepertinya lebih rela
meninggalkan dompet mereka daripada meninggalkan
ponsel mereka dirumah. Terdapat kecendrungan bahwa
para remaja lebih suka bertinteraksi dengan temantemannya melalui berbagai media yang terdapat didalam
smartphone mereka dibandingkan berinteraksi langsung.
Mereka beranggapan bahwa berinteraksi lewat jejaring
sosial

membuat

mereka

lebih

berekspresi

dalam

menyampaikan segala perasaan yang mereka miliki, selain


itu jumlah teman yang banyak bisa didapatkan melalui
jejaring sosial.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi,


seperti yang telah dijelaskan, dapat memberikan dampak
berupa perubahan sosial. Salah satu perubahan sosial yang
kami tinjau adalah perubahan sosial yang terjadi pada
kalangan usia remaja. Kecendrungan yang telah dijelaskan
diatas menggambarkan bahwa para remaja saat ini lebih
menyukai berkomunikasi dengan menggunakan media
jejaring

sosial

daripada

Kecendrungan

ini

memprihatinkan,

karena

berkomunikasi
merupakan

seharusnya

mereka

temannya

menggunakan

Kecendrungan

ditinjau

terbiasa

yang

muka.

kondisi
dari

bergaul

yang

usia

remaja

dengan

teman-

tatap

muka.

komunikasi

membuat

tatap

mereka

menghabiskan

waktunya lebih banyak untuk bermain dengan smartphone


yang mereka miliki membuat interaksi mereka secara
langsung dengan teman sebaya menjadi berkurang, para
remajapun biasanya enggan bahkan tidak bisa diganggu
jika mereka sedang sibuk dengan smartphone yang mereka
miliki.
Pada

saat

ini

kegunaan

ponsel

pintar

sudah

menyaingi kemampuan dari sebuah personal computer


(PC). Dulu ponsel hanya bisa untuk sms dan telepon. Ada
beberapa jenis ponsel pintar yang akrab kita jumpai, yaitu
seperti

Blackberry,

Android,

dan

iPhone.

Masyarakat

banyak yang hijrah ke ponsel pintar (terutama masyarakat


perkotaan) karena menurut mereka lebih praktis dan
ergonomis dibandingkan dengan menggunakan sebuah
laptop atau PC untuk mencari ataupun mengirim data.
Kebutuhan

ponsel

pintar

semakin

melejit

semenjak

banyaknya aplikasi hiburan dan utilitas bermunculan.

Kemudahan

yang

ditawarkan

oleh

smartphone

menjadi daya tarik bagi kebanyakan orang. Dengan adanya


smartphone segala pekerjaan yang berhubungan dengan
pengiriman dan penerimaan pesan ataupun informasi
menjadi lebih mudah dan cepat berkat adanya internet.
Konvergensi yaitu penyatuan media yang telah ada yaitu
ponsel dengan internet, menjadi perpaduan sempurna
dalam sebuah smartphone. Internet sendiri adalah jaringan
global antarkomputer untuk berkomunikasi dari suatu
lokasi ke lokasi lain di belahan dunia. Dalam internet
terdapat berbagai macam informasi, baik

yang baik

maupun yang buruk, yang benar maupun yang tidak.


Semua informasi itu dapat diakses lewat internet.
Penggunaan internet berkembang dengan pesat. Kini
masyarakat dapat dengan mudah mengakses internet di
warnet atau melalui laptop dengan modem ataupun
wireless-connected, bahkan lewat ponsel. Jumlah pengguna
internet pun terus bertambah. Berdasarkan perhitungan
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
terdapat sekitar 25 juta pengguna internet. Peningkatan
pengguna internet diprediksi akan terus meningkat sekitar
25 persen setiap tahunnya. Departemen Komunikasi dan
Informatika

mengemukakan,

sekitar

50%

penduduk

Indonesia pada tahun 2015 yang diperkirakan berjumlah


240 juta jiwa, atau sebanyak 120 juta jiwa, diharapkan
sudah terhubung dan mampu menggunakan internet.
Harapan tersebut sesuai dengan deklarasi World Summit
On Informastion Society (WSIS) tahun 2003, dengan point
terpentingnya

adalah pada

tahun

2015

sekitar

50%

penduduk dunia harus memiliki akses informasi yang


terhubung dan mampu menggunakan internet. Sebuah

data menunjukkan bahwa dari jumlah pengguna internet di


atas, rata-rata pengguna internet di perkotaan 60% adalah
di bawah 30 tahun. Artinya, para pengguna itu adalah
anak-anak dan remaja. Internet pun lalu berpengaruh
terhadap

perkembangan

dan

pertumbuhan

mereka,

khususnya para remaja.


Fenomena lain yang dapat dilihat dari maraknya
smartphone ini yaitu pengguna seakan memiliki dunianya
sendiri di dalam smartphone tersebut. Sering kita melihat
bagaimana seseorang selalu sibuk dengan smartphonenya,
sampai-sampai

mengabaikan

orang

disekitarnya.

Kehadiran perangkat ini menjadikan penggunanya menjadi


seseorang yang memiliki kepribadian anti - sosial. Tak
jarang kita menemukan sekelompok orang yang sedang
berkumpul, namun kegiatan berbicara mereka lebih rendah
dibanding dengan menatap layar terpa ponsel pintarnya
masing masing.
Kegemaran

para

remaja

menghabiskan

waktu

dengan mengakses jejaring sosial atau bermain game di


smartphone nya, akan berpengaruh pada perkembangan
psikologisnya, yang mana hal ini akan berpengaruh pada
tingkat

aktivitas

mereka

berkomunikasi

dengan

sesamanya. Terdapat satu hal yang tidak bisa dipungkiri,


bahwa sebaik-baiknya komunikasi adalah berkomunikasi
tatap muka karena suatu komunikasi yang harmonis
diperlukan pertemuan antara komunikator dan komunikan.
Walaupun tingkat komunikasi melalu media jejaring sosial
tinggi, belum tentu akan menghasilkan proses sosial yang
harmonis.
Fenomena remaja pada era modern seperti sekarang
ini sangat dimanjakan oleh alat teknologi dalam berbagai

aktivitas, dalam hal komunikasi jarak jauh para remaja


pada umumnya cenderung menggunakan smartphone,
yang pada awal penciptaan produk ini diperuntukkan bagi
kalangan

entrepreneur

agar

memudahkan

kegiatan

usahanya. Tetapi pada faktanya, para remaja juga memilih


smartphone disebabkan aplikasi dan fitur-fitur canggih
yang terdapat di dalamnya. Ketergantungan ini membuat
para remaja sulit lepas dari gadget jenis ini, intensitas
pemakaian di kalangan mereka dapat merubah pola
interaksinya.
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan
kegiatan

bersosialisasi

dengan

sesamanya

secara

langsung. Khususnya bagi para remaja, hal ini sangatlah


penting karena kepribadian mereka yang masih labil,
jangan sampai teknologi menghambat mereka dalam
bersosialisasi untuk mengenalkan mereka pada lingkungan
kehidupan yang sebenarnya. Hubungan antarmanusia yang
dilakukan

secara

tatap

muka

diperlukan

untuk

perkembangan psikologis mereka. Tetapi bukan berarti


jejaring

sosial

harus

dijauhkan,

karena

tidak

dapat

dipungkiri lagi bahwa kebutuhan akan jaringan komunikasi


dan informasi yang cepat dapat memudahkan semua
orang dalam mendapatkan dan memberikan informasi.
2. Rumusan masalah
1. Bagaimana

pengaruh

intensitas

penggunaan

smartphone terhadap perilaku antisosial Mahasiswa


Ilmu Komunikasi UPI angkatan 2013 2014?
2. Bagaimana pengaruh aplikasi sosial media dan game
terhadap

perilaku

antisosial

Mahasiswa

Komunikasi UPI angkatan 2013 2014?


3. Tujuan Penelitian

Ilmu

Untuk mengetahui dampak dari penggunaan smartphone


terhadap perilaku antisosial Mahasiswa Ilmu Komunikasi
UPI angkatan 2013 2014.

4. Tinjauan Pustaka
a. Teori Ekologi Media
Menurut Marshall McLuhan, media elektronik telah
mengubah masyarakat secara radikal. Masyarakat sangat
bergantung pada teknologi yang menggunakan media dan
bahwa ketertiban sosial suatu masyarakat didasarkan pada
kemampuannya untuk menghadapi teknologi tersebut.
Media membentuk dan mengorganisasikan sebuah budaya.
Ini yang disebut Teori Ekologi Media.
Teori ini memusatkan pada banyak jenis media dan
memandang media sebagai sebuah lingkungan. Menurut
Lance Strate, ekologi media adalah kajian mengenai
lingkungan media, ide bahwa teknologi dan teknik, mode
(cara

penyampaian),

informasi,

dan

kode

komunikasi

memainkan peran utama dalam kehidupan manusia.


Harold Innis menyebut kekuatan membentuk yang
dimiliki oleh teknologi terhadap masyarakat sebagai bias
komunikasi.

Orang

menggunakan

media

untuk

memperoleh kekuasaan politik dan ekonomi dan karenanya

mengubah susunan sosial dari sebuah masyarakat. Media


komunikasi memiliki bias yang terdapat di dalam diri
mereka untuk mengendalikan aliran ide di dalam sebuah
masyarakat.
Asumsi Teori Ekologi Media
1.
Media melingkupi setiap tindakan di dalam
masyarakat.
2.
Media

memperbaiki

persepsi

kita

dan

mengorganisasikan pengalaman kita.


3. Media menyatukan seluruh dunia.
Menurut

asumsi

pertama

teori

Ekologi

Media,

manusia tidak dapat melarikan diri dari media. Dalam


berkomunikasi, manusia mungkin saja tidak menggunakan
media massa. Tetapi mereka tidak dapat menghindarkan
diri dari berkomunikasi dengan menggunakan suara, kata,
isyarat, yang memediasi mereka dalam menyampaikan
pesan..
Asumsi kedua teori Ekologi Media melihat media
sebagai sesuatu yang langsung mempengaruhi manusia.
Cara manusia memberi penilaian, merasa, dan bereaksi
cenderung dipengarhi oleh media. McLuhan menilai media
cukup kuat dalam membentuk pandangan kita atas dunia.
Oleh

karena

itu

menurut

asumsi

ketiga

teori

ini

menyebutkan media mampu menyatukan seluruh dunia.


Pertistiwa atau hal yang dilakukan di belahan dunia lain,
dapat diketahui atau menjalar ke belahan dunia lain. Akibat
dari hal tersebut,
Asumsi ketiga teori ekologi media melihat media
sebagai sesuatu yang dapat menyatukan seluruh dunia
karena sifatnya yang dapat menembus ruang dan waktu.
Media baru seperti smartphone dapat membangun sebuah

hubungan yang jarak nya ber mil mil jauhnya. McLuhan


menyebut, manusia kemudian hidup di sebuah desan
global (global village). Media seolah mengikat dunia
menjadi sebuah kesatuan sistem politik, ekonomi, sosial,
dan budaya yang besar.
b. Pengertian Antisosial
Perilaku antisosial saat ini sering kita jumpai dan ada
pula yang telah terlihat pada anak usia dini. Hal ini akan
menjadi permasalahan yang komplek pada anak dan akan
berdampak pada perilaku agresif. Burt, Donnellan, Iacono &
McGue (2011: 634) berpendapat bahwa perilaku antisosial
adalah sebagai perilaku-perilaku yang menyimpang dari
norma-norma, baik aturan keluarga, sekolah, masyarakat,
maupun hukum. Perilaku antisosial dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu perilaku antisosial tampak (overt) dan tak
tampak (covert). Perilaku antisosial

yang tampak (overt)

berupa perilaku agresif dan perilaku antisosial yang tak


tampak (covert) berupa perilaku non-agresif serta perilaku
melanggar peraturan dengan berbohong.
(2012:

86)

mengungkapkan

bahwa

Supratiknya

ciri-ciri

perilaku

antisosial pada masa kanak kanak (usia 4-6 tahun) adalah


sebagai berikut: sulit diatur, suka berkelahi, menunjukkan
sikap bermusuhan, tidak patuh, agresif baik secara verbal
maupun behavioral, senang membalas dendam, senang
merusak

(vandalisme),

suka

berdusta,

mencuri,

tempertantrums atau mengamuk. Lier, Waner, & Vitaro


(2007: 167) juga berpendapat bahwa perilaku antisosial
anak usia dini berupa perilaku agresif dan perilaku merusak
(vandalisme).

Sikap antisosial memiliki definisi longgar, namun


sebagian besar setuju dengan ciri-ciri perilaku antisosial
yang dikenal umum, seperti mabuk-mabukan di tempat
umum, vandalisme, mengebut di jalan raya, dan perilaku
yang dianggap menyimpang lainnya. Secara sederhana,
perilaku antisosial bisa digambarkan sebagai perilaku
yang tidak diinginkan sebagai akibat dari gangguan
kepribadian dan merupakan lawan dari perilaku prososial
(Lane 1987; Farrington 1995; Millon et al 1998 dalam
Setiyawati, 2010).
Menurut Nevid dkk. (2005: 277) gangguan perilaku
antisosial adalah sebuah gangguan perilaku yang ditandai
oleh perilaku antisosial dan tidak bertanggungjawab serta
kurangnya

penyesalan

untuk

kesalahan

mereka.

Sedangkan menurut Cleckley (1976 dalam Silitonga, 2010)


Orang dengan gangguan kepribadian antisosial (antisocial
personality

disorder)

secara

persisten

melakukan

pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan sering


melanggar

hukum.

Mereka

mengabaikan

norma

dan

konvensi sosial, impulsif, serta gagal dalam membina


hubungan interpersonal dan pekerjaan. Meski demikian
mereka sering menunjukkan kharisma dalam penampilan
luar mereka dan paling tidak memiliki intelegensi rata-rata.
Perilaku antisosial bisa dilakukan oleh siapa saja
tanpa ada batasan usia, namun karena `penyimpangan' ini
dikategorikan sebagai`penyimpangan' ringan dari tatanan
sosial

yang

umum

diterima

bersama,

secara

umum

perilaku antisosial identik dengan anak-anak muda usia


sekolah.

Menurut Kathleen Stassen Berger, sikap antisosial


adalah sikap dan perilaku yang tidak mempertimbangkan
penilaian dan keberadaan orang lain ataupun masyarakat
secara umum disekitarnya. Sikap dan tindakan antisosial
terkadang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat luas
karena

si

pelaku

pada

dasarnya

tidak

menyukai

keteraturan sosial seperti yang diharapkan oleh sebagian


besar anggota masyarakat.
Sikap antisosial dapat terjadi karena berbagai macam
faktor, yaitu:
1.

Kekecewaan terhadap sistem sosial yang

terdapat dalam masyarakat


2.

Kegagalan dalam proses sosialisasi yang dialami

seseorang
3.

Ketidakmampuan memahami secara penuh

sistem nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.


Menurut Soerjono Soekanto, terdapat tiga istilah
yang berhubungan dengan sikap antisosial, yaitu sebagai
berikut:
a.

Antikonformitas

Antikonformitas suatu pelanggaran terhadap nilainilai dan norma-norma sosial yang dilakukan dengan
sengaja oleh individu atau sekelompok individu. Sebagai
contohnya

adalah

keributan,

dan

mencuri,

mengasingkan

masyarakat.

b.

Aksi antisosial

membunuh,
diri

dari

membuat
pergaulan

Aksi antisosial sebuah aksi yang menempatkan


kepentingan

pribadi

ataupun

kepentingan

kelompok

tertentu diatas kepentingan umum. Contohnya adalah,


tidak

mau

masyarakat,

mengikuti

kegiatan

memanipulasi

data

gotong

royong

keuangan

di

sebuah

organisasi demi kepentingan diri sendiri, dan lain-lain.

c.

Antisosial Grudge

Antisosial grudge atau juga dendam antisosial, yaitu


rasa dendam atau sakit hati terhadap masyarakat maupun
terhadap aturan sosial tertentu sehingga menimbulkan
perilaku menyimpang.
5. Hipotesis
H0 : Tidak terdapat hubungan penggunaan smartphone
dengan perilaku anti sosial di kalangan Mahasiswa Ilmu
Komunikasi UPI angkatan 2013 - 2014.
H1 : Terdapat hubungan penggunaan smartphone dengan
perilaku anti sosial di kalangan siswa Mahasiswa Ilmu
Komunikasi UPI angkatan 2013 - 2014.
H0 : Tidak terdapat hubungan kecanduan menggunakan
smartphone dengan perilaku anti

sosial

di kalangan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI angkatan 2013 - 2014.


H1 : Terdapat hubungan kecanduan menggunakan
smartphone dengan perilaku anti

sosial

di kalangan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI angkatan 2013 - 2014.

6. Metode penelitian
Desain penelitian :
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Ilmu komunikasi
UPI angkatan 2013 2014.
2. Sampel
menggunakan rumus slovin:

Dimana
n: jumlah sampel
N: jumlah populasi
e: batas toleransi kesalahan (error tolerance)
3. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian yang di gunakan dalam kasus ini yaitu
dengan menggunakan kuesioner.
Variabel
Penelitian

Definisi

(X)
Smartphone adalah
Penggunaan ponsel pintar yang
Smartphone dimana
kemampuannya
melampaui
personal
computer .

Indikator

Berapa
smartphone yang
dimiliki
Berapa
banyak
akun
social
media yang di
miliki
Berapa
lama
durasi
pemakaian

(Y) Anti Sosial

Anti

sosial

sebuah

memiliki

tidak
terhadap

Intensitas
penggunaan
smartphone
Aplikasi
yang
digunakan

Kepedulian
terhadap
sekitar dan
sesama
Kegiatan
bersosialisa
si
dengan

Intensitas
menegur teman

Intensitas
mengemukakan
pendapat

Kepedulian
terhadap teman

orang

disekitarnya.

rasa

kepedulian

SUB VARIABEL

Berapa
lama
mengobrol
dengan teman

dimana

pengidapnya

N
O

keadaaan

psikologis

orang

adalah

smartphone
Intensitas
mengecek
smartphone

INDICATOR

Jumlah smartphone yang dimiliki


Banyak akun social media yang
dimiliki
Banyaknya game yang di pasang
di smartphone

Intensitas penggunaan
dalam 1 hari

Intensitas memeriksa / mengecek


smartphone

Frekuensi pertemuan.
Durasi tatap muka

Intensitas
teman.

Durasi mengobrol dengan teman

mengobrol

gadget

dengan

teman
Kemampuan
dalam
mengemuka
kan
pendapat

Kemampuan untuk
kejadian sekitar

Kemampuan
untuk
linkungan sekitar

Keterampilan berkomunikasi
- kefasihan berbicara.
- keberanian
mengungkapkan
-

mengamati
peduli

pendapat.
keterampilan berbicara, gaya
berbicara.

4. Teknik pengolahan data


Dalam penelitian ini terdapat variabel yang akan di teliti yaitu
variabel x yaitu pengaruh penggunaan smartphone dan variabel
y yaitu perilaku antisosial . Yang akan menjadi bagian dalam
proses penelitian ini adalah Mahasiswa Ilmu komunikasi UPI
angkatan 2013 - 2014.
5. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian itu yaitu
dengan pendekatan kuantitatif.

Daftar Pustaka
West, Richard dan Lynn H. Turner. 2010. Pengantar Teori Komunikasi
Analisis dan Aplikasi Edisi 3. Jakarta: Salemba Humanika.
Burt, S. A., Donnellan, M. B., Iacono, W. G., & McGue M. (2011). Ageof-Onset or Behavioral Sub-Types? A Prospective Comparison of Two
Approaches to Characterizing the Heterogeneity within Antisocial
Behavior. Journal Abnormal Child Psychology, 3, 633-644.

Nevid, Jeferry S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta :


Erlangga
Setyawati,

Tuti.

2010.

Perilaku

Anti

Sosial.

http://tutisetiyawati.blogspot.com/2010/10/perilaku-antisosial.html.

Online.