Anda di halaman 1dari 18

FARMAKOLOGI I

ABSORPSI, DISTRIBUSI, MEKANISME


DAN ELIMINASI OBAT (ADME OBAT)

Disusun oleh :

SRI MONIKA TARIGAN

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA

2009

1
FARMAKOLOGI I

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Farmakologi
I ”Absorpsi, Distribusi, Mekanisme dan Eliminasi Obat (ADME OBAT) ”. Dimana, tugas ini
diambil dari sumber yang membahas tentang dinamika obat.

Tugas ini dibuat untuk melengkapi nilai mata kuliah dan syarat dalam mengikuti
Perkuliahan Farmakologi I.

Selama penyusunan sampai berakhirnya tugas ini, penulis banyak mendapatkan bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak terutama dosen pengajar yaitu Ibu Dra. Refdanita M.Si, Apt.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan mungkin kesalahan dari tugas
yang penulis buat ini. Untuk itu kritik dan saran sangatlah penulis harapkan. Dan akhirnya
semoga tugas ini bermanfaat.

Jakarta, April 2009

Penulis

2
FARMAKOLOGI I

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Farmakologi adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan obat-obatan. Biasa


dalam ilmu ini dipelajari:

1. Penelitian mengenai penyakit-penyakit


2. Kemungkinan penyembuhan
3. Penelitian obat-obat baru
4. Penelitian efek samping obat-obatan dan atau teknologi baru terhadap beberapa penyakit
berhubungan dengan perjalanan obat di dalam tubuh serta perlakuan tubuh terhadapnya.

Obat adalah benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala,
atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh.

Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di
keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme
(biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan
secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi
dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.

Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu interaksi
farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antar
obat (yang diberikan berasamaan) yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan
efek sinergis atau antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat
yang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi,
metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan salah satu kadar
obat dalam darah.

Tubuh kita punya banyak enzim yang dapat berinteraksi dengan berbagai molekul,
termasuk obat, yang berpotensi menjadi racun atau nutrien. Namun, setiap individu juga
memiliki gen berbeda dan produk proteinnya menentukan kemampuan individu merespons obat.

Obat yang masuk dalam tubuh - entah lewat cara oral, irup, suntik, atau serap lewat pori-
pori kulit - akan melalui beberapa tahap sebelum mencapai sasaran. Setelah diserap, protein
menjemput dan mengantarkan obat ke dalam suatu sel, misal sel hati. Di sini mereka mengalami
modifikasi oleh sejumlah enzim metabolik (pembongkar-penyusun); bisa diaktifkan atau diurai.
Pada manusia bentuk enzim itu berlainan akibat perbedaan dari genetic. Bisa jadi seseorang
punya enzim sangat aktif sedangkan milik orang lain malah tidak terlalu aktif.
3
FARMAKOLOGI I

Perbedaan genetik itu mempengaruhi perjalanan obat dalam tubuh yang meliputi
absorbsi, metabolik, pergerakan menuju molekul sasaran, perubahan struktur yang diharapkan
atau tidak diharapkan dari molekul sasaran, degradasi obat, dan pengeluaran hasil degradasi itu.
Maka, tidak aneh bila reaksi setiap individu terhadap obat bisa berbeda-beda. The Journal of the
American Medical Association (1998) melaporkan, 2,2 juta pasien setiap tahun mengalami
ketidakcocokan obat, dan 106.000 di antaranya meninggal.

II. Permasalahan :

- Bagaimana perjalanan obat di tubuh.


- Bagaimana proses absorpsi, distribusi, mekanisme dan eliminasi obat dalam tubuh.
- Faktor-faktor yang mempengaruhi ADME.

III. Manfaat

- Mengetahui perjalanan obat di tubuh.


- Mengetahui efek-efek dari proses ADME dan
- Mengetahui foktor apa saja yang menjadi pendorong dan penghambat dari ADME

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

4
FARMAKOLOGI I

Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan termasuk produk biologi (vaksin,
imunosera, antigen, hormone, enzim, produk darah, produk hasil fermentasi = antibody
monoclonal dan produk hasil rekombinan DNA) dan kontrasepsi yang siap digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki system fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan kesehatan.

Inti dari obat ini adalah senyawa kimia sintetik dan produk biologi dan kontrasepsi
(senyawa sintetik kimia dan hormone), tidak termasuk di dalamnya obat tradisional (OT=berasal
dari herbal maupun binatang), produk fitofarmaka (obat herbal yg terstandarisasi dan teruji
preklinik dan klinik) dan jamu.

ilmu farmakokinetika, yakni ilmu tentang nasib obat di dalam badan. Obat masuk ke
tubuh kita akan mengalami berbagai peristiwa yakni : absorpsi, distribusi, mekanisme dan
eliminasi.

Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses dan kebanyakan proses
sangat rumit. Umunya ini didasari suatu rangkaian reaksi, yang dibagi dalam tiga fase :

- Fase farmaseutik
- Fase farmakokinetika
- Fase farmakodinamika

Fase farmaseutik meliputi hancurnya bentuk sediaan obat dan melarutnya bahan obat, di
mana kebanyakan bentuk sediaan obat padat yang digunakan. Karena itu fase ini terutama
ditentukan oleh sifat-sifat galenik obat.

Fase farmakokinetika merupakan bagian proses invasi dan proses eliminasi (evasi), invasi
adalah proses yang berlangsung pada pengambilan suatu bahan obat ke dalam organisme dan
proses eliminasi adalah proses yang menyebabkan penurunan konsentrasi obat dalam organisme.
Organisme merupakan sistem terbuka atau sistem aliran karena senantiasa berlangsung
pertukaran bahan dan pertukaran energy dengan sekitarnya. Apabila kesetimbangan tercapai
antara pemasukan dan pengeluaran maka sistem dikatakan mencapai kesetimbangan aliran.

Fase farmakodinamika merupakan interaksi obat reseptor dan juga proses-proses yang
terlibat dimana akhir dari efek farmakologi terjadi.

Kerja obat tidak hanya tergantung dari sifat farmakodinamika bahan obat, tetapi juga
tergantung pada :
5
FARMAKOLOGI I

• Bentuk sediaan dan bahan pembantu yang digunakan.


• Jenis dan tempat pemberian
• Keterabsorpsian dan kecepatan absorpsi, distribusi dalam organism.
• Ikatan dan lokalisasi dalam jaringan
• Biotransformasi dan
• Keterekskresian dan kecepatan ekskresi.

Apabila obat yang diberikan diinginkan kerja yang cepat maka harus dipilih suatu cara
pemberian, yang pada cara ini periode laten antara waktu pemberian dan munculnya kerja
singkat dengan meniadakan absorpsi (penyuntikan intravasal, inhalasi), sebaliknya jika
diinginkan kerja yang tertunda, maka bentuk-bentuk pemberian yang melalui absorpsi,
sedangkan jika kerja obat terarah pada atau dalam daerah tubuh tertentu (topical).

Pada pemberian obat harus diperhatikan juga keadaan pasien dan umur pasien, misalnya
pada keadaan tidak sadar, obat tidak boleh diberikan secara oral, karena terdapat bahaya
pernapasan akibat tak adanya reflex menelan. Demikin juga untuk pasien yang keadaan
lambungnya terbatas maka pemberian secara oral kurang cocok. Selain itu hindari penyuntikan
pada pasien yang ketakutan dan anak-anak.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Fisiologi Obat bagi Tubuh Manusia

Obat merupakan kumpulan zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup setiap
manusia yang mengkonsumsinya dan akan melewati mekanisme kerja dari mulai bagaimana

6
FARMAKOLOGI I

obat itu diabsorpsi, didistribusikan, mengalami biotransformasi dan akhirnya harus ada yang
diekskresikan.

3.2. Absorpsi Obat Dalam Tubuh

Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut


kelengkapan dan kecepatan proses. Pada klinik pemberian obat yang terpenting harus
mencapai bioavaibilitas yang menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus
metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik.
Hal ini penting, karena terdapat beberapa jenis obat tidak semua yang diabsorpsi dari
tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik, namun akan dimetabolisme oleh enzim
di dinding usus pada pemberian oral atau dihati pada lintasan pertamanya melalui organ-
organ tersebut.
Adapun faktor- faktor yang dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat pada pemberian
oral, antara lain :
• Faktor Obat
Sifat- sifat fisikokimia seperti stabilitas pH lambung, stabilitas terhadap enzim
pencernaan serta stabilitas terhadap flora usus, dan bagaimana formulasi obat seperti keadaan
fisik obat baik ukuran partikel maupun bentuk kristsal/ bubuk dll.
• Faktor Penderita
Bagaimana pH saluran cerna, fungsi empedu, kecepatan pengosongan lambung
dari mulai motilitas usus, adanya sisa makanan, bentuk tubuh, aktivitas fisik sampai dengan
stress yang dialami pasien.

3.3. Distribusi Obat Dalam Tubuh


Setelah diabsorpsi obat akan didistribusi keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah,
karena selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat
fisikokimianya.
Distribusi obat dapat dibedakan menjadi 2 fase berdasarkan penyebaran didalam
tubuh, yaitu :
a. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya

7
FARMAKOLOGI I

sangat baik, seperti jantung, hati, ginjal dan otak.


b. Distribusi fase kedua jauh lebih luas lagi, yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak
sebaik organ pada fase pertama, misalnya pada otot, visera, kulit dan jaringan lemak.

Distribusi obat dari sirkulasi ke Susunan Saraf Pusat sulit terjadi, karena obat
harus menembus Sawar Darah Otak, karena endotel kapiler otak tidak mempunyai celah
antar sel maupun vesikel pinositotik.

Apabila obat mencapai pembuluh darah, obat akan ditranspor lebih lanjut bersama
dalam aliran darah dalam sistem sirkulasi. Akibat landaian konsentrasi darah terhadap
jaringan, bahan obat mencoba untuk meninggalkan pembuluh darah dan terdistribusi dalam
organisme keseluruhan. Penetrasi dari pembuluh darah ke dalam jaringan dan dengan
demikian distribusinya, seperti halnya absorbsi, bergantung pada banyak peubah.
Khususnya ukuran molekul, ikatan pada protein plasma dan protein jaringan, kelarutan dan
sifat kimia. Selanjutnya bergantung pada pasokan darah dari organ dan jaringan masing-
masing, ketelapan membran dan perbedaan pH antara plasma dan jaringan.

1. Ruang Distribusi

Berdasarkan fungsinya, organisme dapat dibagi dalam ruang distribusi yang


berbeda (kompartemen). Ruang Intasel dan ruang ekstrasel, dalam ruang intrasel (sekitar
75%dari bobot badan) termasuk cairan intrasel dan komponen sel yang padat, ruang
ekstrasel (sekitar 22% dari bobot badan) dibagi lagi atas :

• Air plasma : air plasma (sekitar 4% dari bobot badan) meliputi cairan intravasal.

• Ruang usus : ruang usus (sekitar 16-20% dari bobot badan) meliputi cairan yang
mudah berdifusi dalam intestinum serta cairan yang sukar berdifusi dalam jaringan
ikat tebal dari kulit, otot, persendian dan tulang.

• Cairan transsel : cairan transsel (sekitar 1.5% dari bobot badan)

Angka-angka yang diberikan hanya berlaku untuk orang dewasa usia pertengahan.
Pada bayi misalnya, bagian cairan pada bobot badan pada hakekatnya lebih tinggi.

Bergantung pada sifat fisiko kimianya, berdasaran distribusi ke dalam berbagai


ruang distribusi, dibedakan 3 jenis bahan obat :
8
FARMAKOLOGI I

• Obat yang hanya terdistribusi dalam plasma.

• Obat yang terdistribusi dalam plasma dan ruang eksternal sisa.

• Obat yang terdistribusi dalam ruang ekstrasel dan juga dalam ruang intrasel.

Distribusi bahan obat lain antara ruang plasma dan ruang usus dipengaruhi oeh
struktur kapiler dalam daerah atau organ masing-masing. Pertukaran mudah terjadi pada
tempat endotel kapiler dan membran basal menunjukkan ruang (misalnya hati, limpa).
Demikian juga yang baik dilewati ialah kapiler yang memiliki ruang endotel disekelilingi
membran. Sebaliknya, yang sukar ialah penetrasi dalam daerah kapiler dengan endotel
dan membran basal tanpa ruang dan selain itu penetrasinya sangat terbatas, apabila pada
kaliper terdapat sel-sel lain. Kapiler otak misalnya, dikelilingi rapat dengan sel-sel glia
dan dalam darah pleksus khorioidea, yaitu tempat terbentuknya cairan serebrospinalis,
kapiler ke ruang cairan dilapisi oleh selapis tunggal epitel. Akibatnya ialah pembatasan
permeasi. Ini disebut sawar darah otakdan sawar darah cairan otak. Bahan-bahan yang
larut dalam lemak dapat melewati sawar dengan baik, sebaliknya bahan-bahan yang tak
larut dalam lemak sukar melewatinya, sejauh tak terdapat mekanisme transpor aktif,
seperti misalnya pada asam amino.

Pada proses meradang, ketelapan naik seperti dalam jaringan-jaringan lain,


sehingga bahan yang dalam keadaan normal tidak dapat berdifusi melalui sawar darah
otak menembus ke dalam sistem saraf pusat.

Ruang intrasel dipisahkan oleh membran sel lipofil menjadi ruang usus dan ruang
plasma. Karena itu juga hanya zat yang lipofil dapat menembus sel dan organelnya,
dengan kekecualian bahan yang ditranspor secara aktif.

2. Ikatan Protein

Faktor penting lain untuk distribusi obat ialah ikatan pada protein terutama
protein plasma, protein jaringan dan sel darah merah. Sesuai dengan struktur kimia
protein dapat terlibat ikatan ion, ikatan jembatan hidrogen dan ikatan dipol-dipol serta
interaksi hidrofob. Kemungkinan terjadi ikatan yang berbeda-beda menjelaskan juga
mengapa senyawa yang amat beragam diikat pada protein.

9
FARMAKOLOGI I

Kecuali ikatan pada reseptor, ikatan pada protein relatif tidak khas untuk
senyawa-senyawa yang asing bagi tubuh, walaupun begitu ikatan ini terjadi terutama
pada tempat ikatan dengan afinitas tinggi yang jumlahnya relatif kecil. pada albumin
serum manusia dapat dibuktikan dua tempat ikatan yang berbeda (tempat ikatan I dan II).
Beberapa bahan obat terikat selektif hanya pada satu dari kedua tempat ikatan (misalnya
natikoagulansia jenis dikumarol pada tempat ikatan I, benzodiazepin pada tempat ikatan
II) sedangkan yang lain terikat pada kedua tempat ikatan. Pada senyawa basa misalnya
propanolol, lidokain, disopiramid, petidin atau antidepresiva trisiklik, alfa glikoprotein
asam membantu juga pembentukan ikatan protein plasma.

Untuk senyawa tubuh sendiri seringkali terdapat protein transpor spesifik dari
fraksi globulin. Ikatan protein adalah bolak-balik. Ikatan tak bolak-balik (kovalen)
misalnya reaksi sitostatika yang mengalkilasi protein, tidak termasuk dalam ikatan
protein.

Makin besar afinitas bahan yang bersangkutan, pada protein, makin kuat ikatan
protein.Sejauh tetapan afinitas terhadap berbagai protein, misalnya terhadap protein
plasma dan protein jaringan, berbeda, maka kesetimbangan distribusi juga dipengaruhi :
kesetimbangan akan bergeser ke protein dengan tetapan afinitas yang lebih besar.
Selajutnya ikatan protein selain bergantung kepada sifat-sifat bahan berkhasiat, ia
bergantung juga kepada harga pH plasma serta bergantung kepada umur. Contohnya pada
keadaan asidosis, barbiturat yang terikat pada protein menurun. Pada bayi baru lahir,
ikatan protein lebih rendah daripada ikatan protein dewasa (dengan akibat meningkatnya
kepekaan bayi baru lahir).

Ikatan protein mempengaruhi intensitas kerja, lama kerja dan eliminasi bahan
obat sebagai berikut : bagian obat yang terikat pada protein plasma tidak dapat berdifusi
dan umumnya tidak mengalami biotransformasi dan eliminasi. Tanpa memperhatikan
kekecualian, ini berarti bahwa hanya bentuk bebas yang mencapai tempat kerja yang
sesungguhnya dan karena itu dapat berkhasiat. Dipihak lain bagian yang terikat
merupakan bentuk cadangan yang tidak aktif. Pada penurunan konsentrasi bentuk bebas
(misalnya akibat biotransformasi dan aliminasi), molekul obat dibebaskan dari cadangan
ini untuk mengatur kembali kesetimbangan. Apabila dalam darah tedapat beberapa obat
10
FARMAKOLOGI I

dalam waktu yang bersamaan, maka terdapat kemungkinan persaingan terhadap tempat
ikatan dan dengan demikian sebaliknya terjadi pengaruh terhadap intensitas kerja dan
lama kerja, terutama jika besarnya bagian yang terikat lebih dari sama dengan 80%.
Selanjutnya harus dipikirkan bahwa obat dapat juga mengusir senyawa tubuh sendiri,
misalnya bilirubin atau glikokortikoid dari ikatannya pada protein plasma dan
menyebabkan bagian yang tidak terikat meningkat.

3.4. Biotransformasi Obat Dalam Tubuh


Biotransformasi atau lebih dikenal dengan metabolisme obat, adalah proses
perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Pada
proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar atau lebih mudah larut dalam air dan
kurang larut dalam lemak, sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Enzim yang
berperan dalam biotransformasi obat dibedakan berdasar letak dalam sel, yaitu Enzim
Mikrosom terdapat dalam reticulum endoplasma halus dan Enzim Non Mikrosom. Kedua
Enzim Mikroson dan Enzim Non Mikrosom, aktifitasnya ditentukan oleh faktor genetic,
sehingga kecepatan metabolisme obat antar individu bervariasi.

3.5. Ekskresi Obat Dalam Tubuh


Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk
metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar lebih
cepat diekskresi daripada obat larut lemak, kecuali yang melalui paru. Ginjal merupakan
organ ekskresi yang terpenting dan ekskresi disini resultante dari 3 proses, yaitu filtrasi di
glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan reabsorpsi pasif di tubuli proksimal dan
distal.
Ginjal merupakan organ yang penting dalam tubuh dan berfungsi membuang
sampah metabolisme dan racun tubuh dalam bentuk urin atau air seni, yang kemudian
dikeluarkan dari dalam tubuh.
Ekskresi ginjal dari obat aktif dapat juga dipengaruhi oleh terapi obat yang
menyertainya. Ekskresi ginjal dari beberapa obat asam lemah atau basa lemah dapat

11
FARMAKOLOGI I

dipengaruhi oleh obat lain yang mempengaruhi pH urin. Ini disebabkan perubahan ionisasi
dari obat tersebut. Hampir semua obat disaring di glomerulus, apabila obat dalam bentuk
larut lemak akan diserap kembali secara difusi pasif. Jika diharapkan untuk ekskresi, maka
penting untuk pencegahan penyerapan kembali dari tubulus. Dapat dilakukan dengan
mengatur pH urin, obat diusahakan dalam bentuk ion, sehingga obat akan terjebak di dalam
urin. Sehingga asam lemah biasanya lebih cepat diekskresi dalam urin alkalis, basa lemah
biasanya diekskresi di dalam urin asam.

1. Ekskresi
Organ yang paling penting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresikan
dalam struktur tidak berubah atau sebagai metabolit. Jalan lain yang utama adalah eliminasi
obat melalui sistem empedu masuk ke dalam usus kecil, obat atau metabolitnya dapat
mengalami reabsorpsi dan eliminasi dalam feses. Jalur ekskresi jumlah obat sedikit adalah
melalui air ludah dan air susu merupakan suatu rute yang menimbulkan masalah bagi bayi
disusui. Zat yang menguap seperti anestesi berjalan melalui epitel paru-paru.

2. Eliminasi Obat melalui Ginjal


Setiap manusia mempunyai dua ginjal dan berfungsi untuk memindahkan semua
zat yang bersifat toksis terhadap badan manusia dari aliran darah. Zat-zat ini diubah dan
masuk ke dalam urine yang berarti dikeluarkan dari badan. Eliminasi obat melalui ginjal
merupakan kejadian yang kompleks, dan mengakibatkan terjadinya beberapa proses yaitu :
a) filtrasi glomerulus
b) sekresi tubuli aktif
c) reabsorpsi pasif

jika suatu obat yang ekskresinya melalui ginjal diberikan bersamaan obat-obat
yang dapat merusak ginjal, maka akan terjadi akumulasi obat tersebut yang dapat
menimbulkan efek toksik.

12
FARMAKOLOGI I

Contoh: digoksin diberikan bersamaan dengan obat yang dapat merusak ginjal
(aminoglikosida, siklosporin) mengakibatkan kadar digoksin naik sehingga timbul efek
toksik.

Jika di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk
sistem trasport aktif yangsama dapat menyebabkan hambatan sekresi.

Contoh: jika penisilin diberikan bersamaan probenesid maka akan menyebabkan klirens
penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih panjang.

Bila terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens ginjal.
Jika harga pH urin naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat asam lemah,
sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa
lemah.

Contoh: pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan ammonium


klorida maka akan meningkatkan ekskersi pseudoefedrin. Terjadi ammonium klorida akan
mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan ionisasi pseudorfedrin dan eliminasi dari
pseudoefedrin juga meningkat.

3. Eliminasi melalui empedu, air ludah dan air susu


Banyak obat diangkut secara aktif oleh sel-sel hati melalui darah masuk ke dalam
empedu dan selanjutnya berjalan masuk ke dalam usus. Bila obat larut dalam lipid, maka
obat dapat direabsorpsi oleh usus dan akan mengalami siklus enterohepatik. Bila obat sangat
larut dalam obat akan tetap tinggal di usus dan diekskresikan melalui feses. Adanya siklus
enterohepatik dapat memperpanjang umur hidup obat di dalam badan.
Beberapa obat dapat tampak dalam air ludah dan dapat menimbulkan rasa tidak
enak serta mengiritasi jaringan di mulut. Kepindahan obat dalam dari darah ke air ludah
tergantung pada kelarutan obat dalam lipid, ikatan obat dengan protein plasma.
Selama ibu menyusui bayi sedapat mungkin menghindari penggunaan obat karena
dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi bayi akibat pemindahan obat dari ibu ke bayi
yang menyusu ibunya. Hampir semua obat yang terdapat dalam darah ibu yang menyusui
13
FARMAKOLOGI I

terdapat juga pada air susu. Kadarnya dalam lipid, ionisasi dan besarnya ikatan obat dengan
protein plasma. Meskipun jumlah obat dalam air susu ibu relatif kecil, oleh karena fungsi
hepar dan ginjal bayi belum bekerja penuh akan mengakibatkan inaktivasi metabolisme dan
eliminasi obat dan berakibat timbulnya efek yang tak dikehendaki bayi seperti, diazepam,
antrakinon.

4. Eliminasi Obat melalui Bernafas dan Sekresi Lainnya


Zat-zat yang mudah menguap seperti anestetik inhalasi, Halotan akan segera
berdifusi melintasi perintang lipoid darah membran alveoli dan dieliminasi melalui nafas.
Penggunaan anestesi dalam paru-paru kadar obatnya menurun dibanding dalam darah.
Karena obat-obat tersebut sangat larut dalam lemak, maka dia segera dan sangat cepat
kembali melalui ke dalam paru-paru dari peredaran darah dan selanjutnya keluar melalui
nafas dan menimbulkan anestesi.

Obat atau metabolitnya dapat pula berada dalam sekresi lain, meskipun kadarnya
adalah sangat rendah. Rute eliminasi lain adalah melalui berkeringat dari kulit atau sebagai
zat yang terikat dalam sel kulit dan rambut.

14
FARMAKOLOGI I

BAB IV

KESIMPULAN

Obat merupakan kumpulan zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup setiap
manusia yang mengkonsumsinya dan akan melewati mekanisme kerja dari mulai bagaimana obat
itu diabsorpsi, didistribusikan, mengalami biotransformasi dan akhirnya harus ada yang
diekskresikan.

Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut


kelengkapan dan kecepatan proses. Pada klinik pemberian obat yang terpenting harus mencapai
bioavaibilitas yang menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme
obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik.

Distribusi obat dari sirkulasi ke Susunan Saraf Pusat sulit terjadi, karena obat harus
menembus Sawar Darah Otak, karena endotel kapiler otak tidak mempunyai celah antar sel
maupun vesikel pinositotik

Bergantung pada sifat fisiko kimianya, berdasaran distribusi ke dalam berbagai ruang
distribusi, dibedakan 3 jenis bahan obat :

• Obat yang hanya terdistribusi dalam plasma.

15
FARMAKOLOGI I

• Obat yang terdistribusi dalam plasma dan ruang eksternal sisa.

• Obat yang terdistribusi dalam ruang ekstrasel dan juga dalam ruang intrasel.

Mekanisme kerja obat yaitu proses-proses biokimia ataupun biofisika yang mendasari
aktivitas obat didalam tubuh. Karena efek yang ditimbulkan oleh suatu obat dalam organism
bergantung kepada konsentrasi pada tempat kerja dan dengan demikian pada suatu dosis harus
diperhatikan sejauh dosis tertentu bergantung pada bobot badan, maka dosis harus diberikan
dengan tepat.

Mekanisme kerja obat adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam
tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar atau
lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak, sehingga lebih mudah diekskresi
melalui ginjal.

Organ yang paling penting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresikan dalam
struktur tidak berubah atau sebagai metabolit. Jalan lain yang utama adalah eliminasi obat
melalui sistem empedu masuk ke dalam usus kecil, obat atau metabolitnya dapat mengalami
reabsorpsi dan eliminasi dalam feses.

16
FARMAKOLOGI I

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

1. Ernest Mutschler. Dinamika Obat edisi V. Penerbit ITB. 1999.

2. Ganiswara, G, Sulistia. Farmakologi dan Terapi edisi IV. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 1995. hal : 2-12.

3. Biomedik Farmakologi, http://www.yoyoke.web.ugm.ac.id

4. http://www.drugs.com/drug_information.html

5. Farmakokinetika Klinik (Interaksi Obat Mempengaruhi ADME


Obat), Dion Arga Anggayasta 068114013 dan Bernadus Tatag Prasetya
068114075

6. Mutschler, E., 1985, Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi, 88-93, Penerbit ITB,

Bandung

7. Sulistia, dkk, 2007, Famakologi dan Terapi, 862-872, UI Press, Jakarta

17
FARMAKOLOGI I

18