Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

Pelayanan Informasi Obat


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Informasi
dan Edukasi

Oleh :
Andri Arfaldi ( 1301005 )
Kelompok 4 S1-VI A

Dosen : Septi Muharni, M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Pelayanan Informasi Obat. Dan juga kami berterima kasih
pada Ibuk Septi Muharni, M.Farm, Apt selaku dosen mata kuliah Komunikasi
Informasi dan Edukasi yang telah memberikan tugas ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
diharapkan adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah
kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Pekanbaru, 16 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.3 TUJUAN KAMIAN 2


BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian PIO


3
2.2 Sumber Sumber Informasi 3
2.3 Metode PIO 5
2.4 Tujuan dan prioritas pelayanan informasi obat 6
2.5 Fungsi Fungsi PIO 7
2.6 Sasaran Informasi Obat 7
2.7 Kategori Informasi Obat 9
2.8 Evaluasi Kegiatan 11
BAB III PENUTUP 16
3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN

16

16

DAFTAR PUSTAKA

17

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dari pelayanan

kesehatan. Pelayanan kefarmasian ini merupakan wujud pelaksanaan pekerjaan


kefarmasian berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan.
Sebagai hasil kesepakatan WHO dengan Federasi Farmasi Internasional di
Vancouver tahun 1997, telah disepakati bahwa format baru pelayanan kefarmasian
adalah berbasis pasien dengan prosedur yang dikenal sebagai pelayanan
kefarmasian atau Pharmaceutical Care

. Format baru ini berdampak kepada

cara pelayanan yang baru yang akan merubah format lama menjadi lebih
disempurnakan khususnya peranan apoteker kepada pelayanan pasien, yang
merupakan cerminan dari praktek kefarmasian yang baik Good Phamacy Practice
(GPP).
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang bermutu dan selalu baru up to
date mengikuti perkembangan pelayanan kesehatan, termasuk adanya spesialisasi
dalam pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit pada
dasarnya adalah untuk menjamin dan memastikan penyediaan dan penggunaan
obat yang rasional yakni sesuai kebutuhan, efektif, aman, nyaman bagi pasien.
Pelayanan kefarmasian tersebut memerlukan informasi obat yang lengkap,
objektif, berkelanjutan, dan selalu baru up to date pula. Untuk itu diperlukan
upaya penyediaan dan pemberian informasi yang (1) lengkap, yang dapat
memenuhi kebutuhan semua pihak yang sesuai dengan lingkungan masing masing
rumah sakit, (2) memiliki data cost effective obat, informasi yang diberikan terkaji
dan tidak bias komersial (3) disediakan secara berkelanjutan oleh institusi yang
melembaga dan (4) disajikan selalu baru sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kefarmasian dan kesehatan.
2

RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian dari PIO?
Apa saja sumber sumber dari informasi dan metode PIO?
Apa tujuan dan prioritas dari PIO?

Apa fungsi fungsi dari PIO?


Siapa saja yang menjadi sasaran informasi obat?
Apa saja kategori dari informasi obat?
1.3 TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, antara lain :

Mengetahui dan memahami definisi dari PIO


Mengetahui sumber sumber dari informasi dan metode PIO
Mengetahui tujuan dan prioritas dari PIO
Mengetahui dan memahami fungsi dari PIO
Mengetahui siapa saja yang menjadi sasaran informasi obat
Mengetahui kategori dari informasi obat
Mahasiswa dapat mengaplikasikan pelayanan informasi obat kepada

pasien
Mahasiswa mampu melakukan pelayanan informasi obat kepada pasien
Dapat menambah wawasan kepada pembaca tentang PIO

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian PIO


Pelayanan informasi obat (PIO) merupakan kegiatan pelayanan yang
dilakukan oleh apoteker untuk memberi informasi secara akurat, tidak biasa dan

terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien
(Anonim, 2004).
Ada berbagai macam definisi dari informasi obat, tetapi pada umumnya
maksud dan intinya sama. Salah satu definisinya, informasi obat adalah setiap data
atau pengetahuan objektif, diuraikan secara ilmiah dan terdokumentasi mencakup
farmakologi, toksikologi dan farmakoterapi obat. Informasi obat mencakup, tetapi
tidak terbatas pada pengetahuan seperti nama kimia, struktur dan sifat sifat,
identifikasi, indikasi diagnostik atau indikasi terapi, mekanisme kerja, waktu
mulai kerja dan durasi kerja, dosis dan jadwal pemberian, dosis yang
direkomendasikan, absorpsi, metabolisme detoksifikasi, ekskresi, efek samping
dan reaksi merugikan, kontraindikasi, interaksi, harga, keuntungan, tanda dan
gejala dan pengobatan toksisitas, efikasi klinik, data komparatif, data klinik, data
penggunaan obat dan setiap informasi lainnya yang berguna dalam diagnosis dan
pengobatan pasien (Siregar, 2004).
Definisi pelayanan informasi obat adalah pengumpulan, pengkajian,
pengevaluasian, pengindeksan, pengorganisasian, penyimpanan, peringkasan,
pendistribusian, penyebaran serta penyampaian informasi tentang obat dalam
berbagai bentuk dan metode kepada pengguna nyata yang mungkin (Siregar,
2004).
2

Sumber sumber informasi


Sumber informasi obat meliputi :

Tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan seperti dokter, apoteker, dokter gigi, tenaga kesehatan lain
merupakan sumber informasi obat

Pustaka
Pustaka sebagai sumber informasi obat digolongkan menjadi 3 kategori :
a

Pustaka primer

Artikel asli yang dipublikasikan penulis atau peneliti, informasi yang


terdapat didalamnya berupa hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal
ilmiah. Contoh pustaka primer : laporan hasil penelitian, laporan kasus,
b

studi evaluatif dan laporan deskriptif.


Pustaka sekunder
Berupa sistem indeks yang umumnya berisi kumpulan abstrak dari
berbagai kumpulan artikel jurnal. Sumber informasi yang terdapat dalam
sumber informasi primer. Sumber informasi ini dibuat dalam berbagai data
base. Contoh : medline yang berisi abstrak abstrak tentang terapi obat,
International Phamaceutical Abstract yang berisi abstrak penelitian

kefarmasian.
Pustaka tersier
Berupa buku teks atau data base, kajian artikel dan pedoman praktis.
Pustaka tersier umumnya berupa buku referensi yang berisi informasi
umum, lengkap dan mudah dipahami. Menurut UU No. 23 tahun 1992
tentang kesehatan, pasal 53 ayat 2 menyatakan bahwa standar profesi
adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam
menjalankan profesi dengan baik. Tenaga kesehatan yang berhadapan
dengan pasien seperti dokter dan perawat, dalam melaksanakan tugasnya
harus menghormati hak pasien. Yang dimaksud dengan hak pasien adalah
hak informasi, hak untuk memberika persetujuan, hak atas rahasia
kedokteran dan hak atas pendapat kedua.

3
4

Sarana
Fasilitas ruangan, peralatan, komputer, internet dan perpustakaan
Prasarana
Industri farmasi, Badan POM, Pusat informasi obat, Pendidikan tinggi
farmasi, Organisasi profesi (dokter, apoteker, dan lain lain)
Sumber informasi lainnya
Selain sumber informasi yang sudah disebutkan diatas, masih terdapat
beberapa sumber informasi obat lainnya. Diantaranya informasi obat dari
media massa, leaflet, brosur, etiket dan informasi yang berasal dari
seorang Medical Representative.

Metode PIO

Pada umumnya, ada dua jenis metode utama untuk menjawab pertanyaan
informasi, yaitu komunikasi lisan dan tertulis. Apoteker, perlu memutuskan
kapan suatu jenis dari metode itu digunakan untuk menjawab lebih tepat
daripada yang lain. Dalam banyak situasi klinik, jawaban oral biasanya diikuti
dengan jawaban tertulis.
a

Jawaban tertulis
Jawaban tertulis merupakan dokumentasi informasi tertentu yang
diberikan kepada penanya dan menjadi suatu rekaman formal untuk
penanya dan responden. Keuntungan dari format tertulis adalah
memungkinkan penanya untuk membaca ulang informasi jawaban tersebut
dan secara pelan pelan menginterpretasikan jawaban tersebut. Komunikasi
tertulis juga memungkinkan apoteker untuk menerangkan sebanyak
mungkin informasi dalam keadaan yang diinginkan tanpa didesak
penanya. Jawaban tertulis dapat mengakomodasi tabel, grafik, dan peta

untuk memperlihatkan data secara visual (Siregar, 2004).


Jawaban lisan (oral)
Setelah ditetapkan bahwa jawaban lisan adalah tepat, apoteker perlu
memutuskan jenis metode jawaban lisan yang digunakan. Ada dua jenis
metode menjawab secara lisan, yaitu komunikasi tatap muka dan
komunikasi telepon. Komunikasi tatap muka lebih disukai, jika apoteker
mempunyai waktu dan kesempatan untuk mendiskusikan temuan
informasi obat dengan penanya (Siregar, 2004).

Tujuan dan prioritas PIO


A Tujuan PIO
1. Menunjang ketersediaan dan penggunaan obat yang rasional, berorientasi
pada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain.
2. Menyediakan dan memberikan informasi obat kepada pasien, tenaga
kesehatan, dan pihak lain.
3. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang
berhubungan dengan obat terutama bagi PFT/KFT (Panitia/Komite Farmasi
dan Terapi) (Anonim, 2006).

B Prioritas PIO
Sasaran utama pelayanan informasi obat adalah penyempurnaan perawatan
pasien melalui terapi obat yang rasional. Oleh karena itu, prioritas harus
diberikan kepada permintaan informasi obat yang paling mempengaruhi
secara langsung pada perawatan pasien. Proritas untuk permintaan informasi
obat diurutkan sebagai berikut :
a
b
c
d

Penanganan/pengobatan darurat pasien dalam situasi hidup atau mati


Pengobatan pasien rawat tinggal dengan masalah terapi obat khusus
Pengobatan pasien ambulatory dengan masalah terapi obat khusus
Bantuan kepada staf professional kesehatan untuk penyelesaian tanggung

jawab mereka
e Keperluan dari berbagai fungsi PFT
f Berbagai proyek penelitian yang melibatkan penggunaan obat
Fungsi fungsi PIO
1

Menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien dan tenaga

kesehatan dilingkungan rumah sakit


Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan kebijakan yang

3
4
5

berhubungan dengan obat, terutama bagi Komite Farmasi dan Terapi


Meningkatkan profesionalisme apoteker
Menunjang terapi obat yang rasional
Meningkatkan keberhasilan pengobatan

Sasaran informasi obat


Yang dimaksud dengan sasaran informasi obat adalah orang, lembaga,

kelompok orang, kepanitiaan, penerima informasi obat, seperti dibawah ini :


1

Dokter

Dalam proses penggunaan obat, pada tahap pemilihan obat serta regimennya
untuk seorang pasien tertentu, dokter memerlukan informasi dari apoteker
agar ia dapat membuat keputusan yang rasional. Informasi obat diberikan
langsung oleh apoteker, menjawab pertanyaan dokter melalui telepon atau
sewaktu apoteker menyertai tim medis dalam kunjungan ke ruang perawatan
pasien atau dalam konferensi staf medis (Siregar, 2004).

Perawat

Dalam tahap penyampaian atau distribusi obat dan rangkaian proses


penggunaan obat, apoteker memberikan informasi obat tentang berbagai aspek
obat pasien, terutama tentang pemberian obat. Perawat adalah professional
kesehatan yang paling banyak berhubungan dengan pasien, karena itu
perawatlah yang umumnya mengamati reaksi obat merugikan atau mendengan
keluhan mereka. Apoteker adalah yang paling siap, berfungsi sebagai sumber
informasi bagi perawat. Informasi yang dibutuhkan perawat pada umumnya
harus praktis dan ringkas misalnya frekuensi pemberian dosis, metode
pemberian

obat,

efek

samping

yang

mungkin,

penyimpanan

obat,

inkompatibilitas campuran sediaan intravena dan sebagainya (Siregar, 2004).


3

Pasien dan keluarga pasien

Informasi yang dibutuhkan pasien dan keluarga pasien pada umumnya adalah
informasi praktis dan kurang ilmiah dibandingkan dengan informasi yang
dibutuhkan professional kesehatan. Informasi obat untuk PRT diberikan
apoteker sewaktu menyertai kunjungan tim medis ke ruang perawatan,
sedangkan untuk pasien rawat jalan, informasi diberikan sewaktu penyerahan
obat. Informasi obat untuk pasien/keluarga pasien pada umumnya mencakup
cara penggunaan obat, jangka waktu penggunaan, pengaruh makanan pada
obat, penggunaan obat bebas dikaitkan dengan resep obat dan sebagainya
(Siregar, 2004).
4

Apoteker

Setiap apoteker rumah sakit masing masing mempunyai tugas atau fungsi
tertentu, sesuai dengan pendalaman pengetahuan pada bidang tertentu.
Apoteker yang langsung berinteraksi dengan professional kesehatan dan
pasien, sering menerima pertanyaan mengenai informasi obat dan pertanyaan
yang tidak dapat dijawabnya dengan segera, diajukan kepada sejawat apoteker
yang lebih mendalami pengetahuan informasi obat. Apoteker di apotek dapat

meminta bantuan informasi obat kepada sejawat di rumah sakit (Siregar,


2004).
5

Kelompok, Tim, Kepanitiaan dan Peneliti

Selain kepada perorangan, apoteker juga memberikan informasi obat kepada


kelompok professional kesehatan, misalnya mahasiswa, masyarakat, peneliti
dan kepanitiaan yang berhubungan dengan obat. Kepanitiaan dirumah sakit
yang memerlukan informasi obat antara lain : panitia farmasi dan terapi,
panitia evaluasi penggunaan obat, panitia sistem pemantauan kesalahan obat,
panitia sistem pemantauan dan pelaporan reaksi obat merugikan, tim pengkaji
penggunaan obat retrospektif, tim program pendidikan in service dan
sebagainya (Siregar, 2004).

Kategori informasi obat

NO

KATEGORI

CONTOH PERTANYAAN

PERTANYAAN

Reaksi merugikan

Dosis

Dapatkah ranitidin menyebabkan keracunan hati?


Apa saja efek samping rifampisin?
Bagaimana dosis fenitoin untuk status epilepsi?
Bagaimana

dosis

gentamisin

untuk

penderita

gangguan ginjal?
Bagaimana dosis PCT untuk bayi 6 bulan?
Dapatkah karbamazepin diberikan secara rektal?

Pemberian obat

Seberapa cepat simetidin dapat diberikan secara IV?

Identifikasi obat

Bolehkah penisiliin diberikan peroral?


Apa nama obat baru untuk tukak peptik produksi
industri farmasi X?
Apa saja nama dagang obat generik ampisilin yang
tersedia secara komersial?
Apa

nama

obat

baru

yang

disetujui

untuk

endometriosis?
Amankah asetosal

dan

warfarin

diberikan

bersamaan?
5

Interaksi obat

Dapatkah tetrasiklin diberikan bersamaan dengan


susu?
Apakah sefaleksin mempengaruhi penetapan glukosa
serum?
Seberapa efektif mesalamin untuk pengobatan

Indikasi

Kompatibilitas
7

intavaskular atau
intramuskular

Farmakokinetik

ulseratif kolitis?
Untuk apa digunakan vibramisin?
Dapatkah heparin dan nitroprusid ditambahkan
kedalam botol atau kantong IV yang sama?
Dapatkah morfin dan difenhidramin ditarik kedalam
spuit yang sama?
Berapa waktu paruh streptokinase?
Berapa banyak fenitoin harus diberikan kepada
penderita dengan konsentrasi steady state 5mg/ml?
Apa resiko terhadap janin seorang ibu jika ia
mengonsumsi asetosal 650 mg 2 x sehari untuk 2

Teratogenitas

minggu selama trimester pertamanya?


Antibiotik

apa

yang

dapat

digunakan

untuk

mengobati infeksi saluran urin pada seorang ibu

10

11

12

Toksisitas dan
keracunan

Terapi dan
farmakologi

Perhitungan
farmasetik

yang memasuki trimester ketiganya?


Apa gejala pada seorang penderita

yang

mengonsumsi tablet luminal secara berlebihan?


Apa obat pilihan untuk penyakit Parkinson?
Bagaimana

mekanisme

kerja

antibiotik

dalam

pengobatan

aminoglikosida?
Apa

kelebihan

hipertensi?
Bagaimana

nifedipin

menghitung

dosis

obat

pediatri

berdasarkan luas permukaan tubuh?


Kecepatan suatu IV adalah 199 ml/jam. Berapa

seharusnya kecepatan sediaan IV tersebut dalam


tetes atau menit?

Evaluasi kegiatan
Evaluasi ini digunakan untuk menilai atau mengukur keberhasilan

pelayanan informasi obat itu sendiri dengan cara membandingkan tingkat


keberhasilan sebelum dan sesudah dilaksanakan pelayanan informasi obat
(Anonim, 2006).
Untuk mengukur tingkat keberhasilan penerapan pelayanan informasi
obat, indikator yang dapat digunakan antara lain :
1) Meningkatkan jumlah pertanyaan yang diajukan.
2) Menurunnya jumlah pertanyaan yang tidak dapat dijawab.

3) Meningkatnya kualitas kinerja pelayanan.


4) Meningkatnya jumlah produk yang dihasilkan (leflet, buletin,
ceramah).
5) Meningkatnya pertanyaan berdasarkan jenis pertanyaan dan tingkat
kesulitan.
6) Menurunnya keluhan atas pelayanan (Anonim, 2006).
2. Apotek
Menurut Kepmenkes RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan
Permenkes No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek. Pasal 1 ayat (a) : Apotek adalah suatu tempat tertentu,
tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi,
perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. (Hartini dan Sulasmono,
2006).
a. Kegiatan apotek
1) Pembuatan, pengelolaan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan, dan penyerahan obat atau bahan obat.
2) Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi
lainnya.
3) Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi, meliputi :
Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya
yang diberikan baik kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya

maupun kepada masyarakat.


Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan,
bahaya dan atau mutu obat dan perbekalan farmasi lainnya. Pelayanan
informasi wajib didasarkan pada kepentingan masyarakat (Anonim,
1993).

b. Peran apoteker dalam proses pelayanan kesehatan


Menurut Kepmenkes RI No.1332/MENKES/SK/X/2002 Apoteker adalah
Sarjana Farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan
apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai Apoteker (Hartini
dan Sulasmono, 2006).

1) Apoteker Pengelola Apotek (APA) :


a) Fungsi dan tugas :

Membuat visi, misi


Membuat strategi, tujuan, sasaran, dan program kerja.
Membuat dan menetapkan peraturan atau SPO (Standar Prosedur

Operasional) pada setiap fungsi kegiatan di apotek


Membuat dan menentukan indicator form record pada setiap fungsi

kegiatan di apotek.
Membuat sistem pengawasan dan pengendalian SPO dan program
kerja pada setiap fungsi kegiatan di apotek.

b) Wewenang dan tanggung jawab

Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan.


Menentukan sistim atau peraturan yang akan digunakan.
Mengawasi pelaksanaan SPO dan program kerja.
Bertanggung jawab terhadap kinerja yang diperoleh (Umar, 2003).

2) Pelayanan apoteker di apotek:


a) Apotek wajib dibuka untuk melayani masyarakat dari pukul 08.00-22.00.
b) Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan.
Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker pengelola apotek.
c) Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian
profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat. Apoteker tidak
diizinkan untuk mengganti obat generik yang ditulis di dalam resep dengan
obat paten. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam
resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang
lebih tepat.
d) Apoteker wajib memberi informasi :

Yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan pada

pasien.

Penggunaan obat secara tepat, aman, rasional atas permintaan


masyarakat.

Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep ada kekeliruan


atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan
kepada dokter penulis resep. Bila dokter penulis resep tetap pada

pendiriannya, dokter wajib membubuhkan tanda tangan yang lazim diatas


resep atau menyatakan secara tertulis.

Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker.

Resep harus dirahasiakan dan disimpan baik dalam waktu tiga


tahun. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter
penulis resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan,
petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku (Anief, 2000).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelayanan informasi obat (PIO) merupakan kegiatan pelayanan yang
dilakukan oleh apoteker untuk memberi informasi secara akurat, tidak biasa dan
terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.
Tujuan pelayanan informasi obat adala untuk menunjang ketersediaan dan
penggunaan obat yang rasional, berorientasi pada pasien, tenaga kesehatan, dan
pihak lain; menyediakan dan memberikan informasi obat kepada pasien, tenaga
kesehatan, dan pihak lain; menyediakan informasi untuk membuat kebijakankebijakan

yang

berhubungan

dengan

obat

terutama

bagi

PFT/KFT

(Panitia/Komite Farmasi dan Terapi).


3.2 Saran
Pelayanan Informasi Obat sangat disarankan dan sangat penting dilakukan
di Pusat Pelayanan Kesehatan baik itu di rumah sakit, puskesmas, apotek maupun
pelayan kesehatan lainnya untuk membantu masyarakat guna menyelesaikan
masalah kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Manfaat dari
Pelayanan Informasi Obat adalah pengobatan menjadi lebih rasional dan optimal
serta dapat meningkatkan tingkat kepatuhan pasien dalam menggunakan obat.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 2000. Ilmu Meracik Obat Teori Dan Praktek. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Anonim,

2004.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

1197/Menkes/SK/X/2004. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.


Jakarta : Kemenkes RI.

Hartini, Y.S, dan Sulasmono. 2006. Apotek : Ulasan Beserta Naskah Peraturan
Perundang-undangan Terkait Apotek. Yogyakarta : Penerbit Universitas
Sanata Dharma
.
Siregar, Charles. 2006. Farmasi Klinik, Teori dan Penerapan. Jakarta : EGC
Wahyu, Dadang. 2010. Pelayanan Informasi Obat dan Praktek. Yogyakarta : Graha
Ilmu