Anda di halaman 1dari 29

Sariawan Pada Lidah

Dona Yuliyanti
(10-2011-442) / F3
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat
Telp: (021) 569 42061
Email: donayulianti20@yahoo.com

Kasus
Seorang pria berusia 30 tahun mengeluh tentang sariawan di sisi kiri lidah bagian
dalam yang tidak sembuh-sembuh. Pada pemeriksaan ada indurasi pada radix linguae sinistra
dan pembesaran kelenjar Nnll cervicalis profundae pars jugulo-digastrica.

I.

PENDAHULUAN
Sistem digestivus atau sistem pencernaan memiliki fungsi utama dalam tubuh
adalah untuk memindahkan zat gizi atau nutrien, air, dan elektrolit dari makanan yang
kita makan ke dalam lingkungan internal tubuh. Makanan yang di makan penting
untuk sumber energi yang kemudian di gunakan oleh sel dalam menghasilkan ATP.
Tetapi untuk di jadikan sebagai sumber energi sel tersebut harus memodifikasi
makanan tersebut dari makronutrien menjadi mikronutrien sehingga dapat diserap
oleh organ-organ pencernaan.

PEMBAHASAN
Proses pencernaan merupakan suatu proses yang melibatkan organ-organ pencernaan
dan kelenjar-kelenjar pencernaan. Sistem pencernaan berfungsi memecah bahan-bahan
makanan menjadi sari-sari makanan yang siap diserap dalam tubuh.
Berdasarkan prosesnya, pencernaan makanan dapat dibedakan
menjadi dua macam seperti berikut :
1) Proses mekanis,
yaitu pengunyahan oleh gigi dengan dibantu lidah serta peremasan yang terjadi di
lambung.
2) Proses kimiawi,
yaitu pelarutan dan pemecahan makanan oleh enzim-enzim pencernaan dengan
mengubah makanan yang bermolekul besar menjadi molekul yang berukuran
kecil.
Makanan mengalami proses pencernaan sejak makanan berada di dalam mulut hingga
proses pengeluaran sisa-sisa makanan hasil pencernaan.
Adapun proses pencernaan makanan meliputi hal-hal berikut :
1) Ingesti
: pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut.
2) Mastikasi
: proses mengunyah makanan oleh gigi.
3) Deglutisi
: proses menelan makanan di kerongkongan.
4) Digesti
: pengubahan makanan menjadi molekul yang lebih sederhana
dengan bantuan enzim, terdapat di lambung.
5) Absorpsi
: proses penyerapan, terjadi di usus halus.
6) Defekasi
: pengeluaran sisa makanan yang sudah tidak berguna untuk
tubuh melalui anus.

Struktur Makroskopis Organ pencernaan


-

Cavum oris (Rongga Mulut)


Mulai dari rima oris dan berakhir di isthimus faucium. Selain berperan dalma
sistem pencernaan, rongga mulut juga berfungsi sebagai rongga yang dilalui oleh
udara pernapasan dan juga penting dalam pembentukan suara. Cavum oris terbagi
menjadi :

1. Vestibulum oris

Merupakan daerah antara bibir dan pipi sebelah luar dan gigi geligi dengna
processus alveolarisnya disebelah dalam.

Bibir atau labium, di sudut mulut kanan kiri yang saling berhubungan pada
angulis oris. Terdapat alur di antara sudut bibir atas dengan hisung yang disebut
sulcus nasolabialis. Sedangkan alur yang menghubungkan antara bibir bawah
dengan dagu adalah sulcus mentolabialis. Philtrum merupakan lekuk di atas
pertengahan bibir atas. Diantara kulit dan mukosa terlerak otot-otot wajah antara
lain : m. Buccinator dan m. Orbicularis oris.1

Pipi atau bucca, daerah di antara angulus orid samapi tepi depan m. Masseter.
Dibawah kulir ditemukan jaringan lemak diantaranta terdapat suatu gumpalan
lemak besar yang bagian depannya gterdapat m. Buccinator dan meluas ke
belakang menyusuo di antara buccinator dan m. masseter dan mencapai tepi depan
m.temporalis.1

Selaput lendir, melapisi vestibulum oris sebelah dalam. Di garis tengah terdapat
suatu liipat yang menghubungakan bibir dengan processus alveolaris dan
dinamakan frenulum labii superioris et inferioris. Terdapat kelenjar-kelenjar kecil
yang dinamakan glandulae buccales et laniales, setinggi geraham molar atas ke 2
yaitu papila salivaria buccalis yang merupakan muara ductus parotidicus.1

Pendarahan vestibulum oris oleh Aa. Labiales suoperiores et inferiores cabang a.


Facialis dan a.temporalis superficialis. Sedangkan pembuluh balik oleh v. Facialis
anterior et posterior yang bergabung menjadi v. Facialis communis yang akan
bermuara ke dalam v. Jugalis interna. Persarafan vestibulum oris oleh kulit wajah
cabang N. Trigeminus dan otot wajah oleh cabang N. facialis . 1

Gambar 1. Vestibulum oris (sumber: anatomy_atlas.academic.ru)

2. Cavum oris proprium


Batas - batas :
Depan dan samping

: arcus dentalis processus alveolaris

Atas

: palatum durum dan palatum molle

Bawah

: diaphragma oris

Belakang

: isthimus faucium

Isi

: lidah

a. Gigi geligi
Terletak pada processus alveolaris yang
dilapisi oleh selaput lendir. Setiap orang memiliki 16 gigi rahang atas
maupun rahang bawah, yang terdiri atas: 2 gigi seri (dens incivus), 1 gigi
taring (dens caninus), 2 geraham depan (dens premolaris), 3 geraham
belakang (dens molaris). Didalam gigi terdapat suatu rongga yang melalui
canalis radicis berhubungan dengan dunia luar. Pendarahan pada gigi
geligi atas berasal dari cabang a. Facialis rr. Alveolaris supperiores dan a,
infra orbitalis ramus alveolaris superior anterior. Gigi geligi bawah a.
Alveolaris inferior cabang dari a. Facialis dan ginggiva saliva lingual oleh
a. Palatini major sedangkan sisi labial oleh a. Buccalis. Pembuluh balik
pada rahang atas ke v. Facialis atau plexsus pterygoideus dan ranhang
bawah melalui v. Alveolaris inferior ke dalam v. Maxillaris.1
Persarafan rahang atas pada gigi geligi oleh
nn. Alveolaris superiores anteriores medii, posteriores . pada gingiva di sisi
labial oleh nn. Alveolaris superiores dan sisi lingual daerah incisivus oleh
nn. Nasopalatini. Sedangkan pada rahang bawah gigi geligi dipersarafi nn.
Alveolaris inferior

yang masuk ke canalis mandibularis bersama a.

Alveolaris inferior, dan oada gingiva dipersarafi nn. Mentalis dan bucalis
sedangkan sisi lingual N. Lingualis.1
b. Palatum
Palatum terdiri atas palatum durum (tulang) dan palatum molle (otot).

Palatum durum adalah suatu sekat yang terbentuk oleh processus


palatinus ossis maxillae dan processus horizontalis ossis palati. Tulang-

tulang dilapisi oleh selaput lendir di sisi posterior (cavum nasi) dan
inferior (cavum oris) di bagian dorsal palatum ini memiliki kelenjarkelenjar, ialah glandulae palatini, yang bermuara di foveolae palatinae.
Di garis tengah terdapat suatu raphe palati yang ke arah depan beakhir
pada papilla incisiva, suatu tonjolan di belakang gigi seri pertama.
Pada bagian anterior ditemukan rigi-rigi melintang, yang dinamakan
rugae transversae.

Palatum molle terdiri atas suatu aponeurosis yang merupakan tempat


lekat bagi beberapa otot. Ke arah posterior ia melengkung ke bawah
seperti suatu tirai dan di pertengahan tepi posterior tergantung uvula.
Kanan dan kiri terhadap uvula ini terdapat suatu lengkung, ialah arcus
palatoglossus, yang di dekat lidah melebar menjadi plica triangularis.
Sebelah posterior terdapat lengkung kedua yang lebih condong ke
medial, sehingga akan tampak pada mulut yang terbuka. Inilah arcus
palatopharyngeus, yang melekat pada dinding pharynx. Daerag di
antara kedua lengkung ini adalah fossa/sinus tonsilaris, di dalam mana
terletak tonsila palatina. Otot-otot palatum molle: M. Tensor veli
palatini, M. Levator veli palatini, Mm. Uvulae, M. Palatoglossus, M.
Palatopharyngeus.

Pendarahan: cabang-cabang a. Maxillaris: a. Palatina descendes, aa.


Palatina major: untuk palatum durum, aa. Palatinae minores: untuk
palatum

molle.

a.

Palatina

major

melalui

foramen

incisivum

beranastomosis dengan a. sphenopalatina, yang terdapat di mucosa hidung.


Di tempat ini dapat terjadi epitaxis (hidung berdarah).
Persarafan: plexus pharyngeus (N IX + N X), kecuali m. Tensor veli
palatini yang dipersarafi oleh n. Tensoris veli palatini, cabang n.
Trigeminus V3.
c. Diaphragma oris
Dasar mulut di bentuk oleh 3 otot: M. Digastricus venter anterior, M.
Mylohyoideus, M. Geniohyoideus. Fungsi: membuka mulut.

Persarafan: M. Digastricus venter anterior dan M. Mylohyoideus (N. V3),


M. Geniohyoideus oleh ansa cervicales radix superior (C1-2) atau ramus
descendes n. Hypoglossi.
d. Isthmus faucium
Isthmus faucium adalah hubungan antara rongga mulut dan oropharynx.
Batas-batas: tepi bebas palatum molle, arcus palatoglossus, dorsum
linguale.
Bila mulut dibuka, akan tampak dua lengkung, yaitu arcus palatoglossus di
depan yang lebih ke lateral dan arcus palatopharyngeus di belakang yang
lebih ke medial. Di antara kedua arcus tersebut terdapat sinus (fossa)
tonsilaris, di dalam mana terletak tonsila palatina (amandel). Tonsila tidak
mengisi seluruh fossa tonsilaris sehingga terdapat rungan di sebelah atas,
yaitu recessus supra tonsilaris dengan plica semilunaris dan di sebelah
bawah terdapat recessus ventralis dengan plica triangularis. Di dinding
lateral terdapat m. Buccopharyngeus (bagian m. Constrictor pharyngis
superior) dengan fascia buccopharyngea.
Pendarahan: arteri: a. tonsilaris (cabang a facialis) yang menembus m.
Buccopharyngeus menuju ke bagian bawah tonsila. Cabang-cabang: a.
palatina ascendes (a.facialis), a. palatina descendes, a. dorsalis linguae
(cabang a facialis), a. paharyngica ascendes. Vena: v. Palatina externa (v.
Paratonsillaris) yang bermuara ke plexus venosus pharyngealis.
Pembuluh-pembuluh getah bening: dialirkan ke kelenjar-kelenjar noduli
lymphatici cervicalis profundus pars superior (dinamakan nodus
tonsilaris).
Persarafan: plexus tonsilaris: terbentuk dari N. IX dan N. X.
e. Lidah (linguae)
Lidah adalah suatu organ yang sangat lentur, terutama berfungsi bila
berbicara. Lidah mengisi cavum oris hampir seluruhnya dan melekat pada
dasar mulut. Padanya dapat dibedakan bagian oral (apex dan corpus) dan
pharyngeal (radix). Di antara corpus dan radix linguae terdapat alur
berbentuk V yang dinamakan sulcus terminalis. Pada ujung alur tersebut di
garis tengah terdapat suatu lekuk kecil yaitu foramen caecum linguae

(morgagnii) yang merupakan muara ductus thyreoglossus sewaktu


embrional.
Dorsum linguae: di garis tengah terdapat sulcus medianus yang
letaknya sesuai dengan septum lingue, suatu sekat di bawahnya yang
vertikal. Dorsum linguae (punggung) ini melengkung konveks ke atas
menyentuh palatum. Bagian 2/3 depan (corpus): selaput lendir
mengandung banyak tonjolan yaitu papillae linguales yang bermacammacam: filiformis, fungiformis, foliatae, vallatae. Bagian 1/3 belakang
(radix): mengandung banyak kelenjar-kelenjar getah bening (tonsila
lingualis) yang bersama dengan tonsillae palatinee dan tonsila pharyngea
(adenoid) membentuk cincin waldeyer.
Pada permukaan bawah lidah ditemukan suatu lipat di garis tengah
ialah frenulum linguae. Di samping kanan-kirinya tampak bayangan vv.
Linguales, lebih ke lateral ada plicae fimbriatae yang melapisi aa.
Profunda linguae bersama n. Lingualis.
Otot-otot lidah: lidah terutama terdiri atas otot-otot yang dibedakan
menjadi

otot

ekstrinsik

dan

otot

intrinsik.

Otot-otot

ekstrinsik

menggerakan lidah sebagai satu kesatuan . otot-otot intrinsik merubah


bentuk lidah. Otot-otot ekstrinsik: M. Genioglossus, M. Hyoglossus, M.
Styloglossus, M. Palatoglossus. Otot-otot intrinsik: M. Verticalis, M.
Longtudinalis superior, M. Longitudinalis inferior, M. Transversalis.
Pendarahan: pembuluh-pembuluh nadi: a. lingualis (cabang a. carotis
externa) melalui suatu medial m. Hyoglossus dan bercabang menjadi a.
dorsalis linguae untuk radix linguae dan a. profunda linguae untuk corpus
dan apex linguae. Pembuluh-pembuluh balik: v. Dorsalis linguae yang
mengikuti nadinya, vv. Profunda linguae (vv. Raninae), menerima darah
dari glandula sublingualis dan bermuara ke dalam v. Sublingualis, v.
Sublingualis bermuara ke dalam v. Jugularis interna.
Getah bening: dari apex linguae dan glandula sublingualis: ke nodi
lymphatici submentales, dari bagian tengah corpus linguae: bagian medial
ke nodi lymphatici cervicales profundae pars superior, dan bagian lateral
ke nodi lymphatici submandibulares, dari radix linguae ke nodi lymphatici
cervicales profundae pars superior.
Persarafan: motorik: semua otot ekstrinsik dan intrinsik di persarafi
oleh N. Hypoglossus (N. XII) kecuali m. Palatoglossus, yang dipersarafi
oleh N. Glossopharyngeus (N. IX). Sensorik: bagian 2/3 anterior: sensibel:

n.lingualis (N. V3), pengecap: chorda tympani (N. VII), bagian 1/3
posterior: (+papillae vallatae) sensibel: N. IX dan X, (+vallecua
epiglottica) pengecap: N. IX.
Kelenjar-Kelenjar Ludah
1. Glandula parotis
Glandula parotis berbentuk piramida dan terletak di fossa retromandibulare
antara os mandibula dan m. Sternocleidomastoideus. Di dalam kelenjar ini terletak
(dari lateral ke medial) n. Facialis (N.VII), v. Facialis posterior dan a. carotis
externa. Dari pertengahan tepi depannya keluar saluran keluarnya: ductus
parotideus (stenoni), yang menuju ke arah depan sejajar dengan arcus
zygomaticus, 1 cm di bawahnya. Di tepi depan m. Masseter ia membelok ke
dalam, menembus m. Buccinator dan bermuara di vestibulum oris setinggi gigi
molar ke-2 atas. Kelenjar ini diliputi oleh fascia yang tebal, yaitu fascia yang
tebal, yaitu fascia parotidea, yang ke arah depan juga meliputi m. Masseter
sebagai fascia parotideo-masseterica.
2. Glandula submandibularis
Pada glandula submandibularis dapat dibedakan 2 bagian: yang dangkal dan
yang dalam. Bagian yang dangkal terletak di bawah m. Mylohyoideus, antara m.
Stylohyoideus, m. Digastricus dan mandibula. Pada permukaannya terdapat
beberapa nodi lymphaticy submandibulares. Melalui tepi dorsal m. Mylohyoideus
kelenjar ini membelok ke sisi atasnya (bagian yang dalam) dimana ia terletak di
antara mandibula (sebelah lateral) dan m. Hyoglossus (sebelah medial) dan
bersentuhan dengan glandula sublingualis. Saluran keluarnya adalah ductus
submandibularis whartoni, yang menuju ke depan melalui sisi medial glandula
sublingualis dan bermuara bersama saluran keluar kelenjar sisi yang lain di
caruncula sublingualis s. Papilla salivalis inferior, yang terletak di belakang gigi
seri rahang bawah.
3. Glandula sublingualis
Glandula sublingualis berbentuk memanjang dan terletak di dasar rongga mulut
dekat frenulum linguae, di antara m. Geniohyoideus dan m. Genioglossus sebelah
medial dan m. Hyoglossus sebelah lateral. Glandula sublingualis menimbulkan
suatu lipat pada selaput lendir di atasnya, yang disebut plica sublingualis. Bagian
depannya terletak di fossa sublingualis; bagian belakangnya menyentuh glandula

submandibularis dan dilalui oleh n. Lingualis dan n. Hypoglossus (N.XII). di sisi


medial berlalu ductus submandibularis. Saluran keluar dari bagian depan (ductus
sublingualis major) bermuara ke dalam ductus submandibularis. Bagian belakang
memiliki beberapa saluran keluar (ductuli sublingualis minores dari rivini) yang
bermuara ke dalam rongga mulut pada plica sublingualis.
Sistem simpatis: dari segmen Th I dan Th II melalui plexus-plexus sekitar nadi
sampai di kelenjar-kelenjar ludah.
Sistem parasimpatis: glandula

parotis:

serabut

preganglioner

dari

n.

Glossopharyngeus (N.IX) sampai di ganglion oticum, sedangkan serabut


postganglioner melalui n.auriculotemporalis. glandula submandibularis dan
glandula sublingualis: serabut preganglioner dari n. Facialis (N.VII) melalui
cabangnya, chorda tymphani, kemudian bergabung dengan n. Lingualis dan
berakhir di ganglion submandibularis. Dari sini serabut postganglioner melalui n.
Lingualis kembali masuk ke dalam kelenjar-kelenjar.

Gambar 2, kelenjar ludah (sumber : google dengan kata kunci kelenjar ludah)

Otot-Otot Pengunyah
Terdapat 4 otot pengunyah yang melekatkan mandibula pada basis cranii, ialah:

Otot-otot yang dangkal


M. masseter, menutupi ramus ascendes mandibulae dan terdiri atas 2 bagian:

pars superficialis, pars profunda


M. Temporalis
Otot-otot yang dalam
M. Pterygoideus lateralis/externus
M. Pterygoideus medialis/internus
Persarafan otot-otot ini: n. Mandibularis (portio minor N. Trigemini V3)

Pharynx

Pharynx adalah suatu pipa musculo-fascial yang contractil. Ia terbentang di antarabasis


cranii sebelah kranial dan berakhir pada oesophagus disebelah kaudal setinggivertebra
cervicalis ke-6. Pada sisi lateral, pharynx berbatasan dengan aa. Carotidescommunis et
internae, vv. Jugulares internae, cornu majus os hyoid dan laminacartilago tyhyreoidea.
Fungsinya sebagai tempat yang dilalui oleh aliran udara pernapasan dan makanan. Sesuai
dengan ruang-ruang yang terletak di depannya, pharynx terbagi dalam 3 bagian1 :

Nasopharyx ( pars nasalis pharyngis ), dorsal terhadap cavum nasi.

Oropharynx ( pars oralis pharyngis ), dorsal terhadap cavum oris.

Laryngopharynx ( pars laryngis pharyngis ), dorsal terhadap larynx

Oesophagus
Oesophagus adalah suatu pipa musculair sepanjang 25 cm, yang merupakan lanjutan
pharynx dan mulai di tepi bawah cartilago cricoidea setinggi vertebra C6, dan berakhir di
cardia ventriculi setinggi vertebra th X-XI. Selama perjalanannya ke distal, ia mengikuti
lengkung-lengkung columna vertebralis, yang terletak tepat dibelakangnya. Pada oesophagus
dapat dibedakan 3 bagian : pars cervicalis, parsthoracalis, dan pars abdominalis.
Persarafan: Simpatis : cabang-cabang truncus symphaticus pars thoracalis atas.
Parasimpatis: cabang-cabang N.vagus dan N.recurrens, Dibawah hilus pulmonalis,nn. Vagi
membentuk plexus pada dinding oesophagus ; yang kiri ke sisi depannya dan yang kanan ke sisi
belakangnya.
Pendarahan: arteri: dua cabang ventral yang tunggal dari aorta. Pars cervicalis: cabang a.
thyreoidea inferior. Pars thoracalis: aa. Intercostales dextrae yang atas, aa. Oesophagei. Pars
abdominalis: a. gastrica sinistra, a. gastrica inferior. Vena: mendapingi nadi-nadi yang
senama. Darahnya di alirkan ke dalam sistem azygos. Di bagian bawah: terdapat hubungan
antara sistem pembuluh balik oesophagus dan vena porta. Melalui sistem azygos, darah
mengalir ke dalam v. Cava superior. Darah dari v. Gastrica sinistra masuk ke dalam v. Porta.
Getah bening: dari pars cervicalis: ke noduli lymphatici cervicales profundii. Dari pars
thoracalis: ke noduli lymphatici mediastinalis posteriores. Dari pars abdominalis: ke noduli
lymphatici gastrica sinistra.1
Lambung

Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama
di

daerah

epigaster,

lambung

terdiri

dari

bagian

atas

fundu s

uteri

yang berhubungan dengan oesophagus melalui orifisium pilorik, terletak di


bawahdiaphragma didepan pankreas dan limpa, menempel disebelah kiri fundus uteri.
Lambung terbagi menjadi beberapa regio1 :
1. Fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri dari ostium
kardium dan biasanya penuh dengan gas.
2. Korpus ventrikuli, setinggi ostium kardium merupakan suatu lekukan oada bagian
bawah kurvakura minor.
3. Antrum pilorus, bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal
membentuk sphinter pylorus.
4. Kurvaktura minor, terdapat disebelah kanan lambung, terbentang dari sotium kardiak
sampai ke pylorus.
5. Kurvaktura major, lebih panjang dari kurvaktura minor. Terbentang dari sisi kiri
ostium kardium melalui fundus ventrikuli menuju kanan sampai ke pylorus inferior.
Ligamentum gastro lienalis terbang dari bagian atas kurvactura major samapi kelimfa.
6. Ostium kardium, merupakan tempat di amna oesophagus bagian abdomen masuk ke
almbung. Pada bagian ini terdapat orfisium pylorik.

Gambar 3. gaster (sumber : kreatifivan.blogspot.com)

Pendarahan: arteri: a. gastrica sinistra cabang a. coeliaca (tripus halleri), aa. Gastricae
breves cabang a. lienale di fundus ventriculi, a. gatroepiploica (gatro omentalis) sinistra
cabang a. lienale. Vena: mengikuti jalannya arteri. Darah dari v. Gastrica dextra dan sinistra
dialirkan ke dalam v. Porta, darah dari v. Gastrica brevis, v. Gastroepiploica sinistra, dialirkan
ke dalam v. Lienalis yang bergabung dengan v. Mesenterica superior menuju v. Porta.

Getah bening Nnll. Gastroomentalis , terdapat pembuluh nadi sepanjang kurvactura


major et minor akan di alirkan ke dala nnll. Coeliaca. Persarafan oleh sistem saraf ototonom.
Persarafan: oleh sistem saraf otonom: parasimpatis berasal dari N.X anterior dan
posterior. Simpatis berasal dari nervi spinales T6-T9 melalui plexus coeliacus dan
mendistribusikan melalui anyaman saraf di sekitar a. gastrica dan a. gastroomentalis.1

Usus halus
Adalah saluran pencernaan doantara lambung dan usus besar yang merupakan tuba terlilit
yang merentang dari sphinter pylorus samapi katup ileosekal, tempatnya menyatu dengan
usus besar. Usus halus terbagi menjadi1 :
1. Duodenum
Organ ini disebut juga usus 12 jari yang panjangnya 25-30 cm, berbentuk
sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdpat pancreas yang yang
menghasilkan amilase. Duodenum merupakan bagian yang terpendek dari usus halus.

Bagian-bagian duodenum1 :
Pars superius duodeni. Terletak [ada bidang transpyloric. Pars superior duodeni
dimulai dari pylorus memuju ke belakang berakhir pada flexura duodenalis superior

yang panjangnya 5 cm.


Pars descendens duodeni, bermula dari flexura duodeni superior yang beraloh ke
bawah kemjudian membelok ke kiri desebut flexura duodeni yang panjangnya sekitar

10 cm.
Pars inferior duodeni, terletak setinggi vertebra L3 dengan panjang 7,5 cm .
Pars ascendens duodeni, terletak setinggi vertebra L2 , kurang lebih 2,5 cm sebelah
kiri bidang tengah dengan panjang 5 cm.
Pendarahan duodenum oleh a. Gastroduodenalis, a. Pancreaticoduodenalis
superior dan a. Pancreatico inferior . darah dari v. Pancreaticoduodenalis superior di
alirkan ke v. Porta dan darah dari v. Pancreaticoduodenalis inferior dialirkan ke v.

Mesenterica superior ke v. Porta.1


2. Jejunum
Adalah bagian kelanjutan dari duodenum yang panjangnya kurang lebih 1- 1,5 m.
3. Ileum

Ileum merentang sampai menyatu dengan usus besar dengan panjang 2-2,5
m.Lekukan jejunum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior
dengan perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk berbentuk kipas dikenal
sebagaimesenterium (penggantung usus). Ujung bawah ileum berhubungan
dengancaecum

dengan

perantaraan

lubang

yang

bernama

orifisium

ileoseikalis,orifisium ini di perkuat oleh sphincter, ileoseikalis dan pada bagian ini
terdapatkatup valvula seikalis atau valvula baukini. 1

Gambar 4. usus halus (gurungeblog.wordpress.com)

Usus besar
Usus besar merupakan bagian akhir dari proses pencernaan. Panjangnya kurang lebih
1,5 m, lebarnya 5-6 cm. Lapisan-lapisan usus besar dari dalam ke luar adalah selaput lendir,
lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, dan jaringan ikat. Ukurannya lebih besar
daripada usus halus, disini terdapat taenia coli dan apendicsapeploica. Serabut otot
longitudinal dalam muskulus externa membentuk tiga pita,taenia coli yang menarik colon
menjadi kantong-kantong besar yang disebut haustra. Di bagian bawah terdapat katup
ileosekal yaitu katup antara usus halus dan usus besar. Katup ini tertutup dan akan terbuka
untuk merespon gelombang peristaltik,sehingga memungkinkan kimus mengalir 15 ml sekali
masuk dan untuk total aliran sebanyak 500 ml/hari. Usus besar terdiri dari caecum, colon
ascendens, colon transversum, colon descendens, colon sigmoid, rectum dan canalis ani serta
sphincter ani. 1

Gambar 5. usus besar (sumber: mahdalenakristypur.wordpress.com)

a. Coecum, Terletak pada fossa iliaca dextra dan diproyeksikan pada dinding abdomen
padapertengahan garis SIAS kanan-symphysis pubis.
b. Colon ascendens, Colon ascendens dimulai pada junctura ileocoecalis sampai flexura
coli dextra.Pendarahan oleh a. Colica dextra.
c. Appendix vermiformis, sering dianggap bagian usus yang tidak mempunyai
fungsi.Appendix mempunyai lipatan peritonium yang disebut mesenteriolum.
Pendarahan : aa. Appendiculares.
d. Colon tranverserum, Terletak dibawah bidang transpyloric dan menyilang pars
descendens duodeni,melengkung di antara flexura coli dextra dan flexura coli sinistra.
Pendarahan : a.Colica media dan a. Colica sinistra.
e. Colon descendens, Pendarahan : a. Coli sinistra yang merupakan cabang a.
Mesenterica inferior.
f. Colon sigmoideum, Colon sigmoideum berbentuk menyerupai huruf S dan
memanjang dari crista iliacasampai vertebrae S2-3. Pendarahan : aa.sigmoideum (2-4
buah) yang merupakancabang a. Mesenterica inferior.
g. Rectum, panjangnya kurang lebih 12-15 cm. Rectum merupakan lanjutan colon
sigmoideum yang memanjang dari vertebra S3 sampai anus. Setinggi vertebra S3
taenia colon sigmoideum berubah menjadi lapisan otot polos longitudinal dan
appendicesepiploicae menghilang. Berbeda dengan colon, rectum tidak mempunyai
haustra, taenia, appendices epiploicae, mesocolon.
Pendarahan : a. Rectalis superior, a.Rectalis media, a. Rectalis inferior.
Persarafan : sistem saraf ototonom
Simpatis melalui saraf spinalis Nn splanchnicus lumbales

dan

plexushypogastricus/plexus pelvicus
Parasimpatis berasal dari nervus spinalis S2-4 melalui N. Splanchnicus
pelvicus, plexus hypogastricus inferior kanan dan kiri menuju plexus
rectalis/pelvicus.

Rectum

Panjang: 12-15 cm. Rectum merupakan lanjutan colon sigmoideum yang memanjang dari
vertebra S3 sampai anus. Setinggi vertebra S3 taenia colon sigmoideum berubah menjadi
lapisan otot polos longitudinalis dan epiploicae menghilang.
Pendarahan: arteri: a. rectalis superior, a. rectalis media, a. rectalis inferior. Vena: v.
Rectalis superior, v. Rectalis medius, v. Rectalis inferior
Pembuluh getah bening: rectum pertengahan bagian proximal: nnll. Pars rectal
menuju atas nnll. Mesenterica inferior. Rectum pertengahan bagian distal: nnll. Sacralis
Persarafan: simpatis melalui spinalis nn splanchnicus lumbales dan plexus
hypogastricus/plexus pelvicus. Parasimpatis berasal dari nervus spinalis S2-4 melalui N.
Splanchnicus pelvicus, plexus hypogastricus inferior kanan dan kiri menuju plexus
rectalis/pelvicus.1

Struktur Mikroskopik Organ Pencernaan


Labium oris
Terdiri dari tiga bagian area kutaneus (sebelah luar), area mukosa ( sebelah dalam), dan
perbatasan berpigmen disebut mikromillion atau area intermedia.
1. Area kutanea adalah daerah permukaan bibir ini merupakan lanjutan kulit disekitar
mulut. Maka gambaran hstologisnya sebagai kulit pula. Paling luar dilapisi oleh
epidermis yang merupakan epitel gepeng berlapis dengan lapisan tanduk. Dibawah
epidermis terdapat jaringan pengikat yang disebut corium yang membentuk tonjolantonjolan kearah epidermis yang disebut sebagai papila corii. Sel-sel basal epidermis
mengandung butir-butir pigmen. Seperti juga pada struktur kulit lainnya pada
permukaan kulit ini dilengkapi oleh alat-alat tambahan kulit seperti glandula
sudorifera, glandula sebacea dan folikel rambut.2
2. Area merah bibir (area intermedia ): Epitelnya

berlapis

gepeng

tidak

bertanduk epitelnya transparan (jernih) karena mengandung butir-butir eleidin. Papilla


jaringanikatnya tinggi-tinggi dan mengandung banyak kapiler. 2
3. Area mukosa dilapisi olej epitel selapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan mengandung
sejumlah kelenjar mukosa. Secara histologinya mirip seperti pipi, pada area mukosa
lamina proprianya agak kompak. Dengan tunika submukosa di dapati kelenjar labialis
yang bersifat seromukosa. Dan di bawah submukosa di dapati M. Orbicularis oris. 2

Gambar 6. Labium oris ( sumber : lab.anhb.uwa.edu.au)

Gigi
Secara klinis, gigi terdiri mahkota, leher gigi, dan akar gigi. Mahkota adalah
bagian gigi yang terlihat pada rongga mulut, akar adalah bagian gigi yang tertanam
pada tulang rahang, dan leher gigi adalah bagian pertemuan mahkota dengan akar.
Struktur gigi terdiri dari 4 bagian yaitu : enamel, dentin, pulpa, dan sementum.
Mahkota tersusun atas :
o Enamel/email (bagian terluar), adalah lapisan terluar gigi, yang menutupi
seluruh mahkota gigi dan merupakan bagian tubuh yang paling keras dan
dibentuk oleh sel-sel yang disebut ameloblast. Jaringan email adalah struktur
kristalin yang tersusun oleh jaringan anorganik 96 %, material organik hanya 1
% dan sisanya adalah air. Komposisi ini membuat sifat email gigi mirip seperti
keramik. Meskipun sangat keras, email rentan terhadap serangan asam, baik
langsung dari makanan atau dari hasil metabolisme bakteri yang
memfermentasi karbohidrat yang kita makan dan menghasilkan asam. Pola
makan yang kaya asam akan mempercepat kerusakan email gigi. Demikian
juga pada penderita penyakit tertentu misalnya bulimia yang selalu
memuntahkan kembali makanan yang baru dimakan, di mana makanan yang
dimuntahkan tersebut telah bercampur dengan asam lambung sehingga bersifat
erosif bagi gigi.
o Dentin, merupakan struktur penyusun gigi yang terbesar. Jaringan ini jauh
lebih lunak dibandingkan email karena komposisi material organiknya lebih
banyak dibandingkan email yaitu mencapai 20 %, di mana 85 % dari material

organik tersebut adalah kolagen. Sisanya adalah air sebanyak 10 % dan


material anorganik 70 %. Secara anatomis, dentin sangat berhubungan erat
dengan jaringan pulpa.
Secara mikroskopis, dentin berbentuk seperti saluran yang disebut tubuli
dentin dan berisi sel odontoblast dan cairan tubuli dentin. Sel ini dianggap
sebagai bagian dari dentin maupun jaringan pulpa karena badan selnya ada di
rongga pulpa namun serabutnya (yang disebut serabut tomes) memanjang ke
dalam tubuli-tubuli dentin yang termineralisasi. Serabut tomes inilah yang
membuat dentin dianggap sebagai jaringan hidup dengan kemampuan untuk
bereaksi terhadap rangsang fisiologis maupun patologis.
o Pulpa (bagian terdalam)
Pulpa adalah suatu rongga yang berisi pembuluh darah dan persyarafan bagi
gigi. Pulpa gigi banyak memiliki kemiripan dengan jaringan ikat lain pada
tubuh manusia, namun ia memiliki karakteristik yang unik. Di dalam pulpa
terdapat berbagai elemen jaringan seperti pembuluh darah, persyarafan,
serabut jaringan ikat, cairan interstitial, dan sel-sel seperti fibroblast,
odontoblast dan sel imun.
Di dalam pulpa, terdapat dua jenis serabut syaraf yaitu serabut syaraf
bermyelin (serabut A) dan tanpa myelin (serabut C). Serabut sensorik pada
pulpa berasal dari syaraf trigeminal dan memasuki ujung akar pulpa melalui
foramen apikal. Serabut syaraf A terletak di daerah perbatasan dentin-pula, dan
bila terstimulasi maka akan terasa rasa sakit yang tajam. Sedangkan serabut
syaraf C terdistribusi di seluruh kamar pulpa, bila serabut syaraf tipe ini
terangsang maka akan terasa rasa sakit yang lebih berat dan biasanya gigi telah
mengalami cedera, misalnya karena benturan atau karies mencapai pulpa.

Akar tersusun atas :


o Sementum (bagian terluar), semen gigi melapisi akar gigi dan membantu
menahan gigi agar tetap melekat pada gusi. Terdiri atas: lapisan semen
merupakan pelindung akar gigi dalam gusi dan gusi merupakan tempat
tumbuh gigi.
Lidah

Sebagai indera pengecap, pada permukaan lidah terdapat badan sel saraf
perasa (papila). Ada tiga bentuk papila, yaitu:
Papila fungiformis
Papila filiformis
Papila sirkumvalata

Gambar 7, Papila lidah (sumber : itey.blogspot.com)

Papila fungiformis
Papila fungiformis menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah dan
berbentuk jamur.

Gambar 8, Papila fungiformis (sumber: foto pratikum histologi)

Papila firiformis
Papila filiformis banyak dan menyebar pada seluruh permukaan lidah
yang berfungsi untuk menerima rasa sentuh dari rasa pengecapan.

Gambar 9, Papila firiformis (sumber : www.google.com)

Papila sircumvalata
Papila sirkumvalata memiliki bentuk V dan terdapat 812 jenis yang
terletak di bagian dasar lidah. Papila ini berukuran paling besar daripada
yang lain

Gambar 10, papila sicumvalata (sumber : foto pratikum histologi)

Pharynx
Pharynx: ruangan dibelakang cavum nasi, yang menghubungkan traktus digestivus
dan traktus respiratorius. Yang termasung bagian dari faring:
Nasopharynx merupakan epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Dibawah
membrana basalis, pada lamina propia terdapat kelenjar campur. Pada bagian
posterior terdapat jaringan limfoid yang membentuk tonsila faringea. Pada anakanak sering membesar dan meradang adenoiditis. Terdapat muara dari saluran
yang menghubungkan rongga hidung dan telinga tengah disebut osteum
faringeum tuba auditiva. Sekelilingnya banyak kelompok jaringan limfoid disebut

tonsila tuba faringea.


Oropharynx merupakan epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Terletak di
belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah. Oropharynx akan
dilanjutkan ke bagian atas menjadi epitel mulut dan ke bawah ke epitel
oesophagus. Disini terdapat tonsila palatina, yang sering meradang disebut

tonsilitis.
Laringopharynx epitel bervariasi, sebagian besar epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk. Laringopharynx terletak di belakang larynx.

Oesophagus
Dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Dalam submukosaterdapat
kelompokan kelenjar penghasil mukus kecil, yaitu kelenjar esofageal. Padalamina propria
dekat lambung terdapat kelompokan kelenjar yang disebut kelenjarkardia esofagus yang juga
menghasilkan mukus. Pada ujung distal esofagus, lapisanototnya terdiri atas serat otot polos, pada

bagian tengah terdapat campuran serat ototbergaris (rangka) dan serat otot polos, pada ujung
proksimal terdapat serat ototrangka. Hanya bagian esofagus dalam rongga peritoneum yang
ditutupi oleh serosa.Sisanya ditutupi lapisan jaringan ikat longgar yang disebut adventisia. 3

Gambar 11. esophagus (sumber: egacy.owensboro.kctcs.edu)

1. Tunika mukosa
Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
TMM hanya satu lapisan longitudinal
Pada lamina propria didapati kelenjar mukus tubulosa kompleks yang
merupakan perluasan kelenjar kardia.
2. Tunika submukosa
Terdapat kelenjar mukus tubulosa komppleks yang disebutjuga kelenjar
submukosa.
3. Tunika muskularis
Pada 1/3 proksimal terdiri dari otot lurik
1/3 medial terdiri dari campuran otot polos dan lurik
1/3 distal seluruhnya otot polos
Lambung (Gaster)
Seluruh permukaan mukosa gaster terdapat gastric pits atau foveola gastrica
Epitel mukosa selapis torak tanpa sel goblet
3 daerah: cardia, fundus, pilorus
Lapisan otot tebal untuk menggiling/mencampur makanan
Mensekresikan enzim-enzim dan asam untuk memulai pencernaan
Dindingnya sangat berlipat yang dinamakan rugae
Sitoplasma pada permukaan apikalnya mengandung musigen
Intinya oval
Pada lamina propria terdapat kelenjar di cardia, fundus maupun pilorus
Kelenjar mulai dari dasar gastric pit meluas ke arah TMM

Gambar 12. gaster (sumber : studypackage.blogspot.com)

Usus halus

Dibagi dalam 3 bagian yaitu: duodenum, jejunum dan ileum


Epitel terdiri dari selapis torak dan sel goblet
Sel torak pada bagian apikalnya terdapat brush border/mikrovili memperluas
permukaan absorptif. Juga mengandung enzim-enzim pencernaan(alkaline fosfatase,

maltase, dan lain-lain)


Sel goblet ke arah distal makin banyak
Terdapat vili intestinal
Vili di duodenum bentuknya lebar, di jejunum bundar seperti lidah dan padailem

berbentuk jari
Plika Sirkularis Kerkringi: lipatan mukosa dan submukosa
Pada jejunum plika kerkringi tinggi-tinggi
Sepanjang membran mukosa terdapat kelenjar Intestinalis (cryptusLieberkuhn),

tubulosa simpleks, yang bermuara di antara vili intestinalis


Pada dasar cryptus terdapat sel paneth, di bagian apikalnya mengandunggranula

eosinofilia
Sel-sel cryptus menggantikan sel-sel epitel permukaan yang rusak.
a. Duodenum, memiliki ciri khas terdapat kelenjar Brunner, kompleks tubulosa
bercabang, mukus.
b. Jejunum
Tidak terdapat kelenjar Brunner ataupun agmina peyeri
Plica sirkularis Kerckringi tinggi-tinggi.
c. Ileum , Terdapat agregat limfonodus atau Agmina Peyeri/Plaque Peyeri di lamina
propriameluas ke Tunika submukosa.

Usus Besar (Colon)

Tunika mukosa tidak mengandung plica sirkularis dan vili intestinal


Sel goblet banyak di antara sel epitel
Cryptus Lieberkuhn ada
Sel paneth dan sel argentafin sedikit sekali
Terdapat limfonodus solitarius
Tunika longitudinal membentuk 3 pita longitudianal disebut taenia coli

Rectum

Bagian sebelah bawah disebut Anal Canal


Mukosa mempunyai lipatan longitudinal Rectal collumn (Anal column,Collumn of

Morgagni) berakhir kira2 inchi dari orrificium anal


Epitel selapis torak
Terdapat cryptus
Pertemuan rektum dengan anus disebut Linea Pectinata

Mekanisme Pencernaan Karbohidrat di Mulut


Awal dari pencernaan adalah masuknya makanan ke mulut yang akan di teruskan ke
oesophagus, lambung, usus halus, usus besar hingga akhirnya dikeluarkan dalam bentuk feses
dan urin. Fungsi dari sistem pencernaan ini adalah untuk memindahkan zat gizi atau nutrien,
air, elektrolit makanan ke lingkungan internal tubuh. Proses ini melibatkan empat faktor
penting yaitu motilitas atau gerakan, sekresi, digesti atau pencernaan dan absobsi atau
penyerapan. Pada faktor motilitas atau geraka terdapat dua jenis gerakan yang penting yaitu
gerakan propulsif (mendorong) dan gerakan mencampur. Sekresi pencernaan berupa aor,
elektrolit, enzim garam dan mucus. Dalam proses sekresi dibuthkan enrgi unutk transport
bahan mentah ke sel dan sintesis produk sekretork olej reticulum endplasma. Tiga kategori
makanan yang kaya energi akan di cerna yaitu krbohidrat, lemak, dan protein, sedangkan
pada proses penyerapan hasil pencernaan di salurkan ke darah dan limpe. Pada proses secara
mekanis umumnya akan di bahas pada matikasi dan menelan.4

Motilitas mengacu pada kontraksi otot yang mencapur dan mendorong isi saluran
pencernaan seperti otot polos vaskuler, otot polos di dinding saluran pencernaan
terus menerus berkontraksi dengan kekuatan rendah yang dikenal sebagai tonus.
Tonus penting untuk mempertahankan agar tekanan pada isi saluran pencernaan
tetap serta untuk mencegah dinding saluran pencernaan melebar secara permanen
setelah mengalami distensi (peregangan). Terdapat aktivitas tonik yang terus
menerus tersebut , terjadi 2 jenis dasar motilitas pencernaan: gerakan propulsif

(mendorong) dan gerakan mencapur. Gerakan propulsif mendorong atau memajukan


isi saluran pencernaan ke depan dengan kecepatan yang berbeda-beda, dengan laju
propulsi bergantung pada fungsi yang dilaksanakan oleh setiap regio saluran
pencernaan; yaitu, makanan bergerak maju dalam suatu segmen dengan kecepatan
yang cukup bagi segmen tersebut melaksanakan tugasnya. Sebagai contoh, transit
makanan melalui esofagus berlangsung cepat karena struktur ini hanya berfungsi
sebagai tempat lewat makanan dari mulut ke lambung. Sebagai perbandingan, di
usus halus, tempat utama berlangsungnya pencernaan dan penyerapan makanan
bergerak sangat lambat, sehingga tersedia cukup waktu untuk penguraian dan
penyerapan makanan. Gerakan mencapur memiliki fungsi ganda. Pertama dengan
mencapur makanan dengan getah pencernaan, gerakan tersebut membantu
pencernaan makanan. Kedua, gerakan tersebut mempermudah penyerapan dengan

memanjakan semua bagian isi usus ke permukaan penyerapan saluran pencernaan.


Sekresi sejumlah getah pencernaan disekresikan ke dalam lumen saluran pencernaan
oleh kelenjar-kelenjar eksokrin yang terletak di sepanjang rute, masing-masing
dengan produk sekretorik spesifiknya sendiri. Setiap sekresi pencernaan terdiri dari
air, elektrolit, dan konstituen organik spesifik yang penting dalam proses
pencernaan, seperti enzim, garam empedu, atau mukus.sel-sel sekretorik
mengekstrasi dari plasma sejumlah besar air dan bahan-bahan mentah yang penting
untuk menghasilkan produk sekretorik mereka. Sekresi semua getah pencernaan
memerlukan energi, baik untuk tranportasi aktif sebagian bahan mentah ke dalam sel
(sebagian berdifusi secara pasif) maupun untuk sintesis produk sekretorik oleh
retikulum endoplasma. Sel-sel eksokrin ini memiliki banyak mitokondria untuk
menunjang tingginya kebutuhan energi yang diperlukan dalam proses sekresi.
Sekresi tersebut dikeluarkan ke dalam lumen saluran pencernaan karena adanya
rangsangan saraf atau hormon yang sesuai. Dalam keadaan normal, sekresi
pencernaan direabsorpsi dalam satu bentuk atau bentuk lain untuk dikembalikan ke
darah setelah produk sekresi tersebut ikut serta dalam proses pencernaan. Kegagalan
proses reabsorpsi ini (misalnya akibat diare atau muntah) menyebabkan hilangnya

cairan yang dipinjam dari plasma tersebut.


Pencernaan mengacu pada proses uraian makanan dari yang strukturnya kompleks
diubah menjadi satuan-satuan lebih kecil yang dapat diserap oleh enzim-enzim yang
diproduksi di dalam sistem pencernaan. Manusia mengkonsumsi tiga kategori
biokimiawi makanan kaya-energi: karbohidrat, protein, dan lemak. Molekul-molekul

besar tersebut tidak mampu menembus membran plasma utuh untuk diserap dari
lumen saluran pencernaan ke dalam darah atau limfe. Proses pencernaan

menguraikan molekul-molekul nutrien yang lebih kecil yang dapat diserap.


Penyerapan pencernaan diselesaikan dan sebagian besar penyerapan terjadi di usus
halus. Melalui proses penyerapan (absorpsi), satuan-satuan kecil yang dapat diserap
yang dihasilkan dari proses pencernaan tersebut, bersama dengan air, vitamin, dan
elektrolit, dipindahkan dari lumen saluran pencernaan ke dalam darah atau limfe.

Proses menelan (deglutisi) menggerkan makanan dari faring menuju esophagus


1. Fase volunter
Lidah menekan palatum keras dan mengarahkan bolus ke arah orofaring
2. Fase faring
Bolus makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim impulske
pusat menelan dalam medulla dan batang otak bagian bawah, dan terjadi penutupan
semua lubang kecuali esophagus.4
a. Lidah menekan palatum keras dan menghalangi makanan kembali ke mulut
b. Otot menekan palatum lunak dan uvula mengangkat palatum lunak untuk
menutup mulut saluran nasal sehingga makanan tidak akan masuk ke rongga
nasal
c. Laring terelevasi, glottis tertutup, dan epiglottis condong ke bawah
d. Menutup mulut laring yang menahan makanan sehingga tidak memasuki
saluran pernapasan
e. Sfingter esophagus atas pada mulut esophagus secara normal menyempit
untuk mencegah udara memasuki esophagus
f. Gelombang peristaltic kontraksi yang menggerakkan bolus ke dalam
esophagus
3. Fase esophagus
Sfingter esophagus bawah, melakukan gelombang peristaltic danmemungkinkan
makanan terdorong ke dalam lambung

Mulut
Pada mulut selain terjadi pencernaan mekanik terjadi pula mekanisme pencernaan secara
kimiawi, yaitu dengan bercampurnya makanan yang telah dikunyah dengan air liur yang

mengandung ptialin. Enzim ini berfungsi untuk mengubah amilum menjadi maltosa. Selain
itu enzim ini juga berfungsi unutk membunuhkuman yang masuk bersamaan dengan
makanan.5

Karbohidrat

Pencernaan
Di dalam mulut, zat tepung dicerna oleh -amilase saliva. Tetapi, pH optimal
enzim ini adalah 6,7, sehingga kerjanya dihambat oleh getah lambung yang asam bila
makanan masuk ke lambung. Di dalam usus halus, -amilase saliva dan pankreas
keduanya juga bekerja pada polisakarida yang dimakan. Akibatnya, hasil akhir
pencernaan -amilase adalah oligosakarida : maltosa, maltitriosa dan beberapa
polimer yang sedikit lebih besar dengan glukosa pada ikatan 1:4, dan -dekstrin,
yaitu polimer molekul glukosa yang terdiri atas rata-rata sekitar 8 molekul glukosa
dengan ikatan 1:6.5

Penyerapan
Heksosa dan pentosa cepat diserap melalui dinding usus halus. Hal yang
pentingadalah bahwa semua heksosa diserap sebelum sisa makanan mencapai bagian ujung
ileum. Molekul molekul gula bergerak dari sel-sel mukosa ke dalam darah
kapilerlalu masuk ke dalam vena porta.
Oleh karena kadar Na+ intraseluler di dalam usus halus dan sel ginjal
rendah,seperti juga di dalam sel-sel lainnya, Na + bergerak ke dalam sel sesuai dengan
beda konsentrasinya. Glukosa bergerak bersama Na+ dan dilepaskan di dalam sel. Na+
diangkut ke dalam ruang interseluler lateral, dan glukosa diangkut oleh GLUT 2
kedalam interstitium lalu masuk ke dalam kapiler. Jadi, transpor glukosa
merupakancontoh transpor aktif sekunder ; energi untuk transpor glukosa diperoleh
tidak langsung, melalui transpor aktif Na+ keluar sel. Ini akan mempertahankan beda
konsentrasi di kedua sisi batas sel luminal, sehingga lebih banyak Na + dan akibatnya
lebih banyak glukosa yang masuk.5
Mekanisme transport glukosa

juga

mengangkut

galaktosa.

Fruktosa

menggunakanmekanisme berbeda. Penyerapannya tidak bergantung pada Na+ atau


transpor glukosadan galaktosa; transportnya dengan difusi fasilitasi dari lumen usus
halus ke dalamenterosit melalui GLUT 5 dan keluar dari enterosit masuk ke dalam
interstitium melalui GLUT 2. Sebagian fruktosa diubah menjadi glukosa di dalam selsel mukosa. Pentosa diserap dengan difusi sederhana. Insulin sedikit berpengaruh

pada transporglukosa dalam usus. Sehubungan dengan ini, penyerapan kembali


glukosa dalam tubulus kontortus proksimal ginjal ; kedua proses tidak memerlukan
fosforilasi, dan keduanya normal pada diabetes tetapi dihambat oleh obat florizin.
Kecepatan absorpsi maksimal glukosa dari usus kira-kira 120 g/jam.5
Mekanisme Pencernaan Lemak dan Protein
Lemak

Pencernaan lemak
Kebanyakan pencernaan lemak mulai di duodenum, dengan melibatkan salah
satu enzim terpenting, yaitu lipase pankreas. Kebanyakan kolesterol makanan
berbentuk ester kolesteril, dan ester kolesteril hidrolase menghidrolisis ester-ester ini
di dalam lumen usus halus Lemak diemulsifikasi dengan halus didalam usus halus
oleh kerja garam empedu,lesitin, dan monogliserida. Bila konsentrasi garam empedu
dalam usus halus tinggi,seperti setelah kontraksi kandung kemih, lipid dan garam
empedu berinteraksi spontan membentuk misel. Agregat agregat silindris ini
mengikat

lipid,

danmeskipun

konsentrasi

lipidnya

berbeda-beda,

umunya

mengandung asam lemak,monogliserida, dan kolesterol pada pusat hidrofobiknya.


Pembentukan miselselanjutnya melarutkan lipid dan memungkinkan mekanisme
untuk transpornya ke enterosit. Jadi, misel bergerak ke konsentrasi yang lebih rendah
melalui lapisan statiske brush border sel-sel mukosa. Lipid berdifusi keluar dari misel,
dan suatu larutan cair jenuh lipid dipertahankan kontaknya dengan brush border sel

sel mukosa.5
Penyerapan
Di dalam sel lipid lipd ini akan mengalami esterifikasi cepat, sehingga
gradien konsentrasi yang memudahkan zat masuk ke sel dipertahankan. Berbeda dengan mukosa
ileum, kecepatan penyerapan garam empedu oleh mukosa jejunum rendah,dan
sebagian besar garam empedu tetap berada dalam lumen usus halus, dan dapat
digunakan untuk pembentukan misel baru. Nasib asam lemak di enterosit bergantung pada
ukurannya. Asam lemak yang atom karbonnya kurang dari 10-12 dari sel mukosa langsung
masuk kedarah portal, danakan ditransport sebagai asam lemak bebas ( tanpa
esterifikasi ). Asam lemak yangatom karbonnya lebih dari 10 12 mengalami
esterifikasi kembali menjadi trigliserida dalam sel-sel mukosa. Selain itu, sebagian
kolesterol yang diserap diesterifikasi. Trigliserida dan ester kolesteril kemudian

dilapisi oleh lapisan protein,kolesterol, dan fosfolipid membentuk kilomikron. Zat ini
kemudian meninggalkan seldan masuk ke peredaran limfatik.5
Dalam sel-sel mukosa, sebagian besar trigliserida dibentuk oleh asilasi 2monogliserida yang diserap, terutama di dalam retikulum endoplasma halus.
Akantetapi, sebagian trigliserida dibentuk dari gliserofosfat, yang adalah hasil
katabolismeglukosa. Gliserofosfat juga dikonversi menjadi gliserofosfolipid yang ikut
berperandalam pembentukan kilomikron. Asilasi gliserofosfat dan pembentukan
lipoproteinterjadi di dalam retikulum endoplasma kasar. Bagian molekul karbohidrat
ditambahkan pada protein dalam aparatus golgi, dan kilomikron yang telah selesai
dikeluarkan melalui eksositosis dari bagian basal atau lateral sel.Penyerapan asam
lemak rantai panjang terutama di usus halus bagian atas, tetapi sejumlah tertentu juga
diserap dalam ileum. Pada masukan lemak sedang, 95% atau lebih lemak yang
dimakan diserap.5

Protein

Pencernaan protein
Pencernaan protein dimulai di dalam lambung, di situ pepsin menguraikan
beberapa ikatan peptida. Pepsin menghidrolisis ikatan

ikatan antara asam

aminoromatik seperti fenillalanin atau tirosin dan asam amino kedua, sehingga
hasilpencernaan peptik adalah berbagai polipeptida dengan ukuran yang sangat
berbeda. Oleh karena pH optimum untuk pepsin adalah 1,6 3,2 kerjanya terhenti
bila isilambung bercampur dengan getah pankreas yang alkali di duodenum dan
jejunum. pH isi usus halus di bagian superior duodeni 2,0 - 4,0 tetapi pada bagian
lain ialah kira-kira 6,5. Di usus halus, polipeptida yang terbentuk melalui pencernaan
di lambungdicerna lebih lanjut oleh enzim-enzim proteolitik kuat yang berasal dari
pankreas dan mukosa usus halus. Jadi pencernaan akhir terhadap asam amino terjadi

di 3 tempat : lumen usus halus, brush border, dan sitoplasma sel-sel mukosa.5
Penyerapan
Ada paling sedikit 7 sistem transpor yyang berbeda yang mengangkut asam
aminoke dalam enterosit. Lima darinya memerlukan Na+ dan kotransport asam amino
danNa+ dengan cara yang mirip dengan kotranspor Na+ dan glukosa. Dua dari 7 sistem
transpor ini membutuhkan Cl-. Pada 2 sistem, transpor tidak membutuhkan Na+.
Transpor dipeptida dan tripeptida ke dalam enterosit dilakukan oleh sistem

yangmembutuhkan H+ dan Na+. Sedikit sekali peptida berukuran besar yang


diabsorpsi. Didalam enterosit, asam amino yang dilepaskan dari peptida oleh
hidrolisis intraselditambah asam amino yang di absorpsi dari lumen usus halus dan
brush border akandiangkut keluar enterosit sepanjang tepi basolateral melalui paling
sedikit 5 sistem transpor. Dari sini, asam amino ini akan masuk peredaran darah portal
hepatik. Dua diantara sistem ini bergantung pada Na+ , dan yang tidak. Cukup banyak
peptida kecil yang juga masuk ke dalam darah portal. Penyerapan asam-asam amino di
duodenum dan jejunum berlangsung cepattetapidi dalam ileum lambat. Hampir 50%
protein yang dicerna berasal dari makananyang dimakan, 25% dari protein getah
pencernaan, dan 25% dari deskuamasi sel-selmukosa. Hanya 2-5 % protein dalam
usus halus lolos dari pencernaan dan penyerapan. Sebagian protein yang dimakan
masuk ke dalam kolon dan kemudian dicerna oleh kuman. Protein dalam feses tidak
berasal dari makanan tetapi dari kuman. 5

KESIMPULAN
Sistem gastrointestinal merupakan pintu masuknya bahan energi baik berupa
makromolekul ataupun mikromolekul yang akan di uraikan menjadi unit-unit yang
dapat di cerna dan di serap, terutama di dalam usus halus. Pencernaan melibatkan
sejumlah besar enzim dan hormon yang di sekresikan oleh organ bersangkutan,
sehingga hasil dari saluran pencernaan akan menghasilkan energi dalm bentuk ATP
dan panas serta hasil penyerapan dari saluran pencernaan akan di sekresikan dalam
bentuk keringat dan feses.

DAFTAR PUSTAKA
1. Winami WW, Kindangen K, Inggriani YK. Buku ajar traktus digestivus. Edisi 2.
Jakarta: Fakultas kedokteran Universita Kristen Krida Wacana; 2010 .h. 29- 86.
2. Junqueria LC, Carneiro J. Histologi dasar teks dan atlas. Edisi 10. Jakarta: EGC;
2007.
3. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore dengan kolerasi fungsional. Edisi 9. Jakarta :
EGC; 2003. 147-215.
4. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2011.h. 538- 69.
5. Ganong W F. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC; 2008.h. 450-89.