Anda di halaman 1dari 15

Patologi Mata dan Telinga

Komponen mata terdiri dari :


- Bola mata
- Syaraf optik
- Struktur asesori, termasuk alis mata, kelenjar lakrimalis, otot oculomotor.
Bola mata terdiri dari :
- Retinalapis jaringan sensitive cahaya
- Scleralapis pelindung
- Choroidlapis epitel transparan bermodifikasi
Kelainan bola mata (sering ditemukan pada anjing)
1. Kista bola mata turunan (Congenital cystic globe)

Ganggunan perkembangan dari evaginasi /penonjolan vesikel optik. Pigmen vesikel


optik bervariasi dan menyebar hingga jaringan sclera dan choroids. Perkembangan
bola mata beresiko menjadi kista bila setiap vesikel optik melebar ke lateral hingga ke
ektodermal kepala bagian lateral. Di wilayah kontak, syaraf retina diinduksi didalam
vesikel dan lensa ektodermal diinduksi di ektodermal permukaan. Ketika vesikel
gagal untuk kontak ektodermal permukaan dan interaksi timbal balik tidak terjadi,
maka akan menghasilkan congenital cystic globe.
2. Siklopia (cyclopia)

Kelainan perkembangan yang ditandai dengan adanya mata tuggal di fossa orbital.
Siklopia adalah gangguan yang ekstrim berupa kegagalan perkembangan beberapa
tingkat pemisahan ataupun fusi bola mata yang disebut juga Synophthalmia. Beberapa
kelainan yang tergolong siklopia dan synophthalmia adalah hydrocephalus,
lissencephaly tidak adanya struktur otak dan kepala.
3. Anophthalmia
Tidak ada gejala klinis, degenerasi, optik rudimenter, dapat diketahui melalui uji
mikroskopik/histopatologi.
4. Microphthalmia
Bola mata mengecil abnormal, bisa unilateral atau bilateral. Kejadian paling banyak
ditemukan di babi dan anjing. Umumnya microphthalmia diikuti oleh defek lain
seperti struktur okuler, lepasnya retina dsb kemungkinan disebabkan oleh
perbedaan laju pertumbuhan lapis dalam dan lapis luar bola mata.
5. Coloboma
Tidak ada jaringan okuler congenital akibat kegagalan penutupan fissura optik fetus
dan keterlibatan choroids dan retina maupun iris dan ciliary body.

6. Collie ectasia syndrome (collie eye anomaly)


Disebabkan oleh kerusakan diferensiasi mesodermal pada fibrous posterior dan tunika
vaskuler bola mata. Ditandai dengan defek congenital pada sclera, choroids, retina dan

optik. Lesi okuler selalu bilateral walau tingkat keparahannya bervariasi disetiap bola
mata. Abnormalitas dalam kelompok ini termasuk; choroidal hypoplasia, coloboma,
posterior sclera ectasia, retinal detachment, intraokuler hemorhagi, microphthalmia
dan kekeruhan kornea pusat. Mata dengan posterior sclera ectasia secara klinis
memiliki kista orbital di tempat syaraf optik, sclera menipis, kerusakan syaraf optik,
proliferasi epitel tidak berpigmen dan atrofi elemen retina.
PERADANGAN OKULER
Perbarahan/peradangan mata diklasifikasikan menurut karakter eksudat:
a. Supuratif
b. Non supuratif
c. Granulomatous
Proses radang pada mata sering tidak mudah diklasifikasikan diawal, mungkin suppuratif dan
belakangan menjadi non supuratif.
Peradangan okuler disebut: endophthalmitis
Peradangan periokuler (termasuk bola mata, lapis luar dan kapsul Tenon) disebut:
panophthalmitis
Peradangan Suppurative
Termasuk panophthalmitis dan endophthalmitis. Akut suppurative panophthalmitis dan
endophthalmitis sering disebabkan oleh bakteri, benda asing intraokuler, perluasan infesi
kornea ulcerasi dan perforasi, prosedur operasi, sepsis oleh metastase bakteri ke choroid
dan retina. Purulen dan fibrinopurulen infeksi pada mata hewan yang didomestikasi sering
bersifat hematogen dan dikelompokkan pada vasculitis nekrotikan. Penyebab bakteri coliform
seperti: Pseudomonas aeruginosa, Haemophilus somnus, Salmonella spp, Streptococcus
pneumoniae.
Peradangan Non Suppurative
Sering diakibatkan oleh;
a. Operasi dan trauma lain yang memproduksi perdarahan (hemorhagi)
b. Benda-benda asing
c. Infeksi endogenous
d. Reaksi berperantara kekebalan.
Reaksi didominasi oleh lymphocyctic dan plasmacyctic.
Gambaran mikroskopik/HP:
Jaringan rusak, sel mononuclear mengitari buluh darah sclera dan iris, endapan keratin pada
posterior kornea yang sebenarnya merupakan protein dan sel-sel epitel mengambang, eksudasi
radang, edema kornea dan keratitis.
Peradangan Granulomatous
Dapat disebabkan oleh:
a. Benda asing
b. Perlubangan lensa
c. Autosensitisasi protein lentikuler
d. Infeksi jamurcoccidioidomycosis

e. Microfilaria
f. Larva parasit
g. Penyakit bacterial, mis; tbc.
Reaksi ditandai dengan gambaran mikroskopis/HP; sel-sel epiteloid, sel raksasa, sel limfosit
menyebar, infiltrasi sel plasma, fibrosis.
Komplikasi radang okuler meliputi; galukoma, katarak, retinal detachment, (atrofi uvea dan
phthisis bulbi-warna putih) degenerasi bola mata.
Kausa bacterial penyakit okuler meliputi;
Granulomatous tbc, Suppurative coliform
Bakteri penyebab bakteremia dan septicemia;
Disertai meningitis, pada kera disertai septicemia atau meningitis, salmonellosis pada babi,
sapi, burung dan ayam, erysipelas pada babi, listeriosis pada kambing dan sapi, brucellosis
pada anjing.
Kausa viral penyakit okuler
Malignant catarrhal fever sapi
Tanda klinis :
- Keratoconjunctivitis mucopurulenta
- Edema kornea
- Ulcerasi kornea
Mikroskopis/HP :
- infiltrasi sel mononuclear di kornea, sclera, traktus uvea dan retina
- vasculitis pada uvea, sclera dan retina
- edema stroma kornea disertai infiltrasi neutrofil
- arteri retina dan vena dipengaruhi oleh sel-sel mononuclear besar.
Dalam keadaan akut ditandai dengan :
- kongesti/pembendungan
- edema
- eksudasi fibrin
- sel mononuclear diantara iris dan lensa atau antara iris dan kornea.
Feline Infectious Peritonitis
Tanda klinis :
- lesi okuler bias unilateral atau bilateral
- edema konea
- iris mata menebal dan tumpul
- retina terurai (detached)
Mikroskopis :
- endapan sel pada permukaan iris dan melekat pada endotel kornea seperti
makrofag, sel mononuclear dan neutrofil.
- focal radan non suppurative hingga pyogranulomatous pada irin, badan
silier, choroids, retina dan syaraf optik
- radang pyogranulomatous mengenai pembuluh darah dan uvea.
Mareks Disease
- Lesi okuler pada jaringan bola mata ayam oleh herpervirus.
- Eksudat dan sel-sel radang mononuclear pada anterior dan posterior iris.

Infiltrasi sel-sel radang pada choroids, retina, pectin dan syaraf optik.
Retina lepas (detached) akibat akumulasi nodul dari sel limfoid di choroids dan
ruang sub retinal.

Kausa parasit penyakit okuler


a. Elaeophorosis
- Pada rusa Siberia (Elk)
- Penyebab : Elaeophora schneideri
- Hewan terinfeksi seperti rusa, domba, sapi secara klinis menjadi buta akibat lesi
okuler atau hingga ke otak hewan berputar-putar, ataxia.
- Nekrosis pada rongga hidung
- Gangrene kering pada ujung telinga
- Larva E. schneideri terutama berada di arteri jaringan , otak dan bola mata maupun
syaraf optik.
- Microfilaria didapatkan utamanya pada arteri-arteri kecil, arteriol, kapiler otak, bola
mata, syaraf optik dan kulit kepala.
- Pada bola mata lesio belateral dan terjadi di retina, choroids, syaraf optik.
Proses awalnya berupa edema, focal degenerasi, nekrosis, selanjutnya berupa atrofi,
sclerosis.
b. Onchocerciasis
- Pada kuda, microfilaria Onchocerca cervicalis ditemukan di kulit kelupak mata
dengan atau tanpa lesi okuler.
- Pada kasus akut ditemukan Chemosis (edema pada palpebrae),conjunctivitis, keratitis
(radang kornea), uveitis (radang iris, ciliary body dan choroid), iritis (radang iris).
- Pada kasus kronis, ditemukan folikuler conjunctivitis, katarak, uveitis dengan
mikrofilaria di kornea, ruang anterior & jaringan okuler lainnya.
c. Ocular Larva Migrans
- Granulomatosis pada retina dan choroids terjadi di anjing disebabkan oleh larva
Toxocara sp, khususnya T. canis.
- Temuan ophthalmoscopic; nodul di fundus, retinal detachment, retinal hemorrhages,
lesi granuloma di choroids dan papilla optik
- Parasit ditemukan dalam granuloma bersama dengan sel mononuclear, fibrolast, sel
raksasa dan eosinofil.
d. Ocular Leishmaniasis
- Penyebab : Leishmania donovani
- Secara klinis : lesi okuler, eksudat di ruang anterior
- Mikroskopik/HP : bilateral endophthalmitis non supurative, proliferasi jaringan
fibrovaskuler, eksudasi di ruang anterior dan posterior, infiltrasi limfosit, sel
plasma dan histiosit ke dalam vena dan kornea, makrofag di beberapa jaringan
okuler berisi organisme protozoa.
PENYAKIT MATA YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR
1. Aspergillosis
- Infeksi mata paling umum disebabkan Aspergillus fumigatus pada burung, terjadi
sebagai penyakit yang berjalan sistemik.
- Bermanifestasi sebagai keratitis, dan jamur menyebab kedalam retina dan vitreous
menyebabkan endophthalmitis granulomatosa.

- Organisme ditunjukkan dengan pewarnaan periodik acid-Schiff (PAS) dan Gomori


methenamine-silver nitrate.
2.

3.

4.

5.

Blastomycosis
- Penyebab : Blastomyces dermatitidis.
- Banyak terjadi pada anjing, tetapi jarang di kucing.
- Menyebabkan kebutaan, exophthalmos, scleritis, edema kornea, konjunctivitis,
discharge purulent pada mata.
- Organisme menyebar dari bola mata melalui aliran darah dari system respirasi atau
infeksi kulit dan menjadi pyogranulomatous endophthalmitis atau panophthalmitis.
- Eksudat pada ruang anterior dan posterior, dimana eksudat pada ruang anterior dapat
menghambat aliran cairan dan menyebabkan GLAUCOMA (peningkatan tekanan intra
okuler yang menyebabkan gangguan fungsi dan kesehatan mata).
- Lesi syaraf optik tdd multiple granuloma yang berisi jamur. Lesi banyak dijumpai di
lain organ berupa sarang granuloma dengan jamur berbentuk tumpul, spherical bodies,
diameter 8-15 um dan berdinding tebal.
Coccidioidomycosis
- Penyebab : Coccidioides immitis
- Lesi mata pada anjing berupa granulomatous endophthalmitis pada kornea (menjadi
keruh), ciliary body, iris, choroid dan retina.
- Reaksi sel peradangan terutama sel neutrofil dengan eksudat pada ruang anterior,
posterior dan di rongga vitreus. Akumulasi eksudat pada choroid menyebabkan
lepasnya retina. Keterlibatan jaringan yang meluas dapat menyebabkan Glaucoma.
Cryptococcosis
- Penyebab : Cryptococcus neoformans
- Kejadian cukup tinggi pada anjing dan kucing.
- Bisa merupakan perluasan infeksi meninges hematogen menyebar ke bola mata,
syaraf, optik organisme berada di choriocapillaris.
- Perubahan patologi anatomi bilateral radang granuloma menyebabkan luruhnya
retina disertai Cryptococcus dan eksudat peradangan.
Histoplasmosis
- Histoplasmosis okuler pada anjing dan kucing biasanya berbentuk endophthalmitis
granulomatous.
- Gambaran HP :
Infiltrasi sel mononuclear makrofag yang berisi blastofor dari Histoplasmacapsulatum
pada berbagai komponen okuler mata.
Proses peradangan bisa mengembang dari choroids ke syaraf optik, meninges dan lapis
retina luar.
Retina dipisahkan dari epitel pigmen retina dengan eksudat protein. Ruang anterior diisi
oleh makrofag berisi organisme bundar 2-4 um, dengan pewarnaan PAS positive.

PENYAKIT MATA DISEBABKAN OLEH ALGA


1.

Protothecosis
- Penyebab : Prototheca sp., alga uniseluler dengan hyaline, rapuh memiliki dinding
selulose yang mengitari sitoplasma granuler.

- Dilaporkan sebagai penyebab lesi dibeberapa jaringan dari beberapa hewan, lesi mata
hanya digambarkan pada anjing saja dengan penyebabnya Protothecazopfii dengan
ditandai :
- Non suppurative endophthalmitis
- Detachment retina total
- Organisme alga ditemukan bercampur dengna eksudat di sub retina.
- Penebalan choroids dengan eksudat
- Perubahan pada okkuler berupa : katara, perdarahan di ruang belakang, retinitis
optik dengan eksudat dan organism di jaringan ikat.
- Orgainsme banyak ditemuukan pada retina dan sub retina eksudat berbentuk bunda,
oval dan terkadang kolaps menggerombol dengan diameter 5-20 um, dinding sel tebal.
KELAINAN PADA KORNEA
~ Ukuran kornea (megalocornea, microcornea)
~ Kekeruhan turunan (congenital opacities)
~ Pertautan anterior (congenital anterior synechiae)
~ Tumor jinak (dermoid) corneal choristoma
1.
2.
3.

1.

Megalocornea jarang dijumpai pada hewan-hewan yang didomestikasi. Buphthalmos


pembesaran cornea dengan bola mata besar akibat Glaucoma.
Microcornea biasanya mirip bagian dari microphthalmia. Kekeruhan cornea bawaan
bisa focal atau diffuse dan melibatkan stroma permukaan maupun bagian dalam.
Dermoid Cornea tumor yang ditandai sebagai adanya ptongan kulit pada cornea,
conjunctiva atau keduannya. Paling umum terjadi di sapi, bisa unilateral atau bilateral.
Terjadinya congenital (diturunkan) dan bisa didaptkan saat lahir atau saat kelupak mata
terbuka. Bila kejadiannya bersamaan dengan iritasi dermatoid dikelompokkan dengan
mukopurulenta discharge dan blepharospasmus. Secara mikroskopis Dermoid
mempunyai struktur kulit dan mungkin kista, berwarna (pigmen) dan tanpa rambut.
DEGENERASI dan DYSTROPHIA.

Keratoconjunctivitis sicca
- Ditandai dengan mata kering, xerophthalmia
- Umum terjadi di anjing dan jarang di hewan lain
- Merupakan penyakit kronis kornea dan konjunctiva disebabkan tidak cukup produksi
air mata.
- Kejadiannya bisa primer, sekunder atau penyebab yang tidak diketahui
a. Sebab primer merupakan hasil gangguan congenital dari sekresi lakrimasi atau
respon spontan senilitas atrofi kelenjar lakrimalis (produksi air mata tidak
mencukupi)
b. Sebab sekunder mengikuti distemper injing, kerusakan trauma kelenjar
lakrimalis atau syaraf, penyumbatan kelenjar lakrimalis akibat konjunctivitis
bacterial kronis, racun yang merusak kelenjar lakrimalis yang diproduksi oleh
bakteri.
Gejala klinis : sangat bervariasi.
Kondisi parah akumulasi residu mucus dan melekat pada konjunctiva, kornea
apazue, ulcer dan vaskularisasi berpigmen. Ulcer pada kornea bisa menjadi
perforasi.

Perubahan pada kornea :


- Degenerasi
- Erosi
- Penipisan dan ulcerasi epitel kornea
- Stroma berisi buluh darah dan epitel mengalami epidermalisasi dan keratinisasi
pada kasus kronis.
- Pigmen di stroma dan epitel
- Infiltrasi sel plasma dan limfosit.
2.

Lipidosis Cornea
- Degenerasi lemak kornea terjadi pada anjing tua dan dikategorikan perbarahan
aktif dengan hiperlipoproteinemia akibat atrofi tyroid, tyroiditis limfositik dan
carcinoma tyroid.
- Beberapa kasus bilateral
- HP : tunika propria berisi depo lemak netral, makrofag, kristal kolesterol,
proliferasi fibroblastic pada depo lemak.

3.

Keratitis Pigmentasis
- Pigmentasi kornea tidak lazim pada hewan domestik dan hewan lab. Hanya
melnosis cukup berarti.
- Melanosi dapat menybabkan kebutaan.
- Keratitis pigmentasis di anjing bermanifestasi pada kejadian keratitis kronis
- Umumnya bilateral, simetris.
- Keratitis pigmentasis superficial terjadi pada kornea yagn tervaskularisasi tapi
tidak seluruh kornea mengalami pigmentasi.
Degenerasi Pannus
- Lesi ditandai dengan edema dan perbarahan kornea
- Invasi jaringan fibrovaskuler dibawah epitel kornea yang disebut : PANNUS massa
hyaline bukan sel dan bukan buluh darah berakumulasi dibawah epitel dan mingisi
tempat di bullae dan vesicle
- Degenerasi pannus berbeda dengan peradangan pannus khususnya pada akumulasi sel
plasma dan limfosit di mass hyaline.

4.

5.

Band Keratopathy
Adalah kalsifikasi kornea akibat proses degenersi menjadi peradangan intraokuler,
hypercalcemia, hyperparatyroidisme dan keracunan Vit. D. Terdiri dari deposisi garam
kalsium di lapis superficial kornea.

DYSTROPHYA CORNEA
- Distrophya cornea merupakan penyakit primer, diturunkan dan bersifat bilateral.
- Beberapa kasus disertia dengan lipidosis kornea, edema dan depo Krista.
- Kekeruhan pada distrophya cornea seperti pada anjing Boston Terrier dan Chihuahua
digambarkan sebagai edema.
- Cornea berwarna puth biru tanpa vaskularisasi, nyeri atau iritasi konjunctiva.
- Anjing Beagles dengan kekeruhan pada kornea dikarakterisasi sebagai dystrophya
cornea dengan lesi pada stroma cornea anterior dan berisi sel-sel stroma, kristal, vakuol
yang berisi sel debris.
1. Peradangan Kornea (KERATITIS)

- Kurangnya buluh darah di kornea memodifikasi lesi awal peradangan dan perubahan
patologi.
- Ditandai dengan :
a. Edema dan stroma
b. Cairan air mata meningkat akibat kerusakan endotel kornea
c. Infiltrasi neutrofil pada daerah kornea rusak
d. Makrofag dan sel stroma transformasi akan memfagosit bakteri, sel neutrofil mati
dan jaringan kornea yang rusak.
e. Eksudat peradangan berisi limfosit dan sel plasma.
f.Keratitis mungkin disertai nyeri, fotofobia, blepharospasmus dan lakrimasi.
Keratitis sub epitel :
a. Infiltrasi sel radang neutrofil, limfosit kedalam stroma dan kebawah epitel
b. Edema pada stroma
c. Degenerasi serabut stroma
Keratitis Stroma :
- Terjadi bila infeksi konjunctiva, sclera dan superficial cornea menyebar ke stroma
cornea.
Kertitis superficial kronis
- Umum terjadi pada anjing ras German Sheperd ditandai dengan reaksi radang
progresif kronis dengan bentukan jar. Granuloma di kornea serta depo pigmen
melanin. Kejadian sering pada anjing umur 4-8 tahun, tidak ada predileksi jenis
kelamin.
- Penyebabnya diduga :
a) Hipersensitif seluler terhadap protein kornea,
b) Radiasi ultraviolet.
Gambaran HP;
Stadium awal : - Infiltrasi sel mononuclear pada stroma cornea sub epitelial
- Infiltrasi sel plasma, limfosit, makrofag dan neutrofil.
Stadium lanjut :
- Proliferasi ekstensif buluh darah di stroma kornea superficial disertai sel
plasma.
- Degenerasi epitel kornea, hiperplastik dan perubahan metaplastik,
vacuolisasi sitoplasma, keratinisasi.
- Pigmen melainin ada di sel epitel kornea dan stroma
- Sel radang mononuclear di stroma superficial dan buluh darah.
- Membran basal epitel kornea menebal dan berlipat tapi epitel nampak
normal dengan variasi pada lapis sel.
Stadium parah :
- Foci irregular jaringan fibrous dengan sel radang dan buluh darah.
- Banyak ditemukan pigmen melanin dan epitel kornea bervariasi dalam
ketebalan.
Keratokonjunctivitis infeksius
a. Sapi (Bovine pink eye)
- Penyebab : Moraxella bovis
- Vektor : lalat
- Penyakit berjalan dalam 1- 3 minggu

- Predisposisi : debu, cahaya matahari, berbagai macam serangga seperti lalat.


Kasus Akut ditandai :
- Lakrimasi
- Blepharospasmus/blepharitis (radang pelupuk mata)
- Konjunctivitis
- Cscular congestion
- Photophobia
- Edema
- Hyperemia
Discharge dari mata diawali dengan mata berair dan menjadi purulenta, kelupak mata
menebal, kornea menjadi keruh dan dilapisi oleh eksudat. Kekeruhan sering dimulai
dalam bentuk titik, keratitis bermanifestasi sebagai vesikel, titik bercak dan ulcer. Kondisi
kronis ditandai dengan perubahan ekstensif berupa penebalan dan ulcer kornea serta
uveitis anterior dan hypopyon.
b. IBR (infectious bovine rhinotracheitis)
- Penyebab : virus
c. Contagious ovine keratoconjunctivitis (Ovine pink eye)
- Penyebab : belum jelas, mycoplasma pernah diisolasi dari domba terinfeksi.
d. Infectious keratoconjunctivitis
-Penyebab : mycoplasma
- hewan terinfeksi : kambing
2.

Ulcer Kornea
Disebabkan oleh virus, jamur dan paling banyak oleh bakteri pyogenik (Streptococcus,
Staphylococcus, E.coli, Pseudomonas pada kuda, Moraxella bovis pada sapi).
- Terjadi dalam kasus keratitis akut dan kronis ophthalmitis supurative, trauma dan
bahan kimia perusak.
- Ulcer kornea secara klinis dapat menyebabkan blepharospasmus, discharge okuler
seromukoid, nyeri dan hyperemia konjunctiva.
- Ulcer berbentuk tidak beraturan dan umum disertai konjunctivitis dan chemosis
- Ulcer cornea yang disebabkan oleh jamur sering diikuti kerusakan komplikasi
akibat treatment antibiotik dan corticosteroid dalam periode lama, mis.
Aspergillosis, Mucor, Candida albicans, Fusarium.

UVEA
Kelainan-kelainan pada Uvea berupa ;
1. Aniridia iris tidak lengkap berbentuk rudimenter
2. Coloboma iris tidak ada kemampuan dalam variasi membentuk pupil
3. Persistent pupillary membrane lazim di anjing, sapi, kuda, kucing dn primata
Melekatnya jaringan ikat vaskuler di ruang anterior dan lensa atau kornea.
4. Heterochromia irides pada sapi, babi, tikus, kelinci, kucing, anjing dan kuda.
Kelainan berupa warna keputihan pada iris. Gambaran HP: anomali pigmen hipoplasia
stroma iris, pigmen iris berkurang dan menggerombol tidak beraturan, terkadang tidak
hadir pigmen di stroma iris.
5. Kista iris dan ciliary body terjadi pada permukaan posterior iris dan ciliary body
hasil dari pemisahan 2 lapis neuroektodermal pada anjing muda dan tua. Kista tidak
akan terjadi lagi setelah diangkat.

6. Uveitis peradangan pada iris, siliary body dan choroid baik tunggal maupun
kombinasi. Peradangan bisa melibatkan uvea anterior (iritis, cyclitis, iridiocyclitis),
uvea posterior (choroiditis) atau keseluruhan traktus uvea (panuveitis). Uveitis dapat
bersifat supurative atau non suppurative bahkan granulomatous atau non
granulomatous.
Uveitis Supurative
Radang pyoigen uvea akibat kecelakaan atau luka bedah/operasi, ulcer kornea dan sclera,
penyebaran sistemik infeksi bakteri (hematogen). Uveitis purulenta adalah bagian dari
endophthalmitis supurative dengan eksudat di ruang anterior (hypopyon) yang tdd neutrofil
dan fibrin. Pembuluh darah uvea berdilatasi dan berisi leukosit dan trombus fibrin. Stroma
uvea edema dengan infiltrasi neutrofil.
Uveitis non supurative
Reaksi radang lebih ringan Infiltrasi difus limfosit, monosit, sel plasma, Russels bodies
di uvea. Eksudat fibrin pada ruang anterior dan rongga vitreum. Idiopatik limfositikplasmositik uveitis anterior sering menyebabkan glaukoma pada kucing.
Uveitis granulomatous
Disebabkan oleh : tuberculosis, aktinomikosis, coccidioidomycosis, blastomycosis,
cryptococcosis, penyakit parasitik. Buluh darah dilatasi, endapan keratin dan protein pada
endotel kornea. Nodul berisi limfosit, sel plasma, sel epiteloid dan sel raksasa berinti banyak.
Epitel iris, ciliary body pigmen retina atrofi dan ditempat lainnya berproliferasi membentuk
nodul. Atrofi dan fibrosis uvea mengikuti peradangan atrofi menyebabkan penurunan
produksi cairan, degenerasi dan hypotony.
Uveitis yang diinduksi oleh lensa :
- Infeksius canine hepatitis
- Canine graulomatous panuvitis dan depigmentasi kulit
- Avian encephalomyelitis.
LENSA
Kelainan pada lensa :
1. Lensa tidak ada (aphakia) --- jarang terjadi
Akibat kegagalan perkembangan okuler bola mata yang ditunjukkan dengan kista, tidak
ada struktur internal, kapsul lentikuler tipis dan robek.
2. Katarak
Lesi pada lensa yang ditandai dengan kekeruhan lentikuler. Secara klinis kekeruhan
lensa mengkristal bisa kongenital atau dapatan (acquired). Beberapa kasus katarak
kongenital diturunkan dan sering bersifat bilateral, multiple dan lokasinya sub
kapsuler. Katarak dapatan disebabkan oleh trauma, radang intra okuler, granuloma dan
toksin. Serabut lentikuler nekrose dan cair, membentuk belahan/celah yang berisi
bahan protein epitel sub kapsuler degenerasi, nekrosis atau proliferasi.
3. Luksasio Lensa
Dislokasi kongenital dari lensa terjadi pada anjing, sapi dan kuda. Luksasio dapatan
paling sering pada anjing jenis Sealiham dan Wirehaired Terrier.

VITREUS BODY
Vitreus (hyaloid) body adalah gel avasculer transparan yang mengisi bola mata posterior
hingga lensa 99% beratnya adalah berupa air. Fungsinya: menjaga posisi retina dan mencegah
penyebaran cepat molekul besar dan sel ketika molekul nutrisi kecil berdifusi kedalamnya.
1. Vitreus Hiperplastik Primer Persisten
Tidak umum terjadi pada hewan domestikasi ditemukan pada anjing Doberman
Pincher dengan gambaran lapis lensa fibrovasculer, sistem vasculer hyaloid, titik-titik
fibrous berpigmen atau plaque di kapsul posterior lensa. Plaque berisi jaringan ikat
fibrous dengan pigmen melanin, tulang rawan, tulang dan jaringan lemak.
2. Asteroid Hyalosis
Adalah badan putih berbentuk sperical atau cakram didalam vitreus.
Pewarnaan HE badan kristal (Calcium-lipid) dalam cairan vitreus. Pewarnaan
Lipida : Oil red O, Sudan Black B, Pewarnaan karbohidrat asam : Alcian Blue,
Coloidal Iron Method.
RETINA
Tersusun atas epitel pigmen retina dan sensor retina yang keduanya merupakan derivat dari
neuroepitel.
Kelainan-kelainan pada retina :
1. Displasia Retina. Bentuk rosettes pada lapis inti luar, bisa diikuti mikrophthalmia, katarak,
vitreus persisten primer, kolobola traktus uvea dan syaraf optik.
2. Atrofi Retina Herediter. Pada anjing, merupakan displasia Red-cone.
3. Degenerasi retina senilitas. Degenerasi kista dengan berbagai ukuran pada retina
4. Degenerasi retina-perbarahan. Degenerasi yang diikuti atrofi pada retina, melibatkan
beragam spesies hewan diakibatkan oleh bakteri, virus, fungi dan parasit. Misalnya :
a. Distemper anjing Virus Canine Distemper
Lesi berupa : degenerasi sel-sel ganglion retina, perivascullar cuffing, eosinofilik
intranuklear inklusi bodi, retinitis dengan destruksi myelin, astrocytic gliosis.
b. Pseudorabies Virus herpes
Lesi berupa : perineuritis syaraf optik neuritis optik dengan perivascullar lymphocytic
cuffing (pertambahan limfosit perivaskuler), degenerasi sel-sel ganglion, focal retinal
gliosis.
c. Toxoplasmosis Parasit Toxoplasma sp.
Lesi berupa : Anterior uveitis, retinochoroiditis (retina berdarah dan terkelupas), HP :
multifokal nekrosis retina dengan reaksi radang ringan terutama sel plasma, retinitis
dengan proliferasi sel mononuklear, papillitis dengan gliosis dan pertambahan buluh
darah, uveitis non suppurative.
5. Degenerasi Retina Toksik. Menyebabkan kebutaan pada domba umur 3-4 tahun, kadang
kurang dari 2 tahun yang digembalakan pada tanaman paku (Pteris aguilina). Lesi berupa:
fragmentasi dan penebalan segmen luar Rod dan cones, struktur fragmentasi berupa granul
halus pada epitel pigmen.
6. Degenerasi Retina Nutirisi. Diakibatkan defisiensi taurin. Degenerasi retina pada kucing
yang mengkonsumsi pakan semimurni dengan diet protein kasein adalah progresif, dimulai

dari lapis Red dan Cone dan dalam waktu bersamaan juga melibatkan lapis retina.
Pemberian methionin dan cysteine (precursor taurin) tidak mampu mengatasi degenerasi
retina, mis. Kucing, hanya sebagian kecil mengubah cysteine menjadi taurin karena
keterbatasan aktivitas enzim dalam sintesisnya.
SYARAF OPTIK
Kelainan yang bisa ditemukan :
1. Aplasia. Jarang ditemukan di hewan. Kasus yang terjadi berupa tidak adanya cakram
optik, syaraf optik dan traktus optikus.
2. Hipoplasia. Jarang dilaporkan di hewan. Dianggap sebagai hasil kegagalan
perkembangan lapis sel ganglion dan tidak adanya hubungan sejumlah serabut syaraf
optik. Chiasma dan traktus optikus hypoplastik.
3. Coloboma syaraf optik. Lesio bisa terjadi tunggal, tapi sering dikelompokkan dengan
microphthalmia t.u di anjing. Sering diikuti dengan displasia retina.
4. Papilledema (edema cakram) adalah edema dengan pembesaran syaraf kepala, akibat
tekanan gradien sehingga cairan jaringan keluar dari syaraf optik ke bola mata.
Perubahan mikroskopis berupa pembendungan buluh darah, syaraf optik pucar dan
bengkak serta menonjol ke vitreus. Pada kondisi kronis syaraf optik atrofi.
5. Peradangan
6. Degenerasi
7. Kelemahan syaraf optik bersifat proliferatif defisiensi vit. A.
Storage disease.
Adalah penyakit yang ditandai dengan lesi okuler, bola mata dan syaraf optik khususnya
neuron retina, akumulasi material dalam lisosom diakibatkan defisiensi enzim.
a. Gangliosidosis. Pada anjing, kucing dan sapi. Kekeruhan kornea disebabkan akumulasi
polisakarida dalam endotel kornea dan stroma fibroblast. Sel ganglion retina meluas,
bengkak dan sitoplasma bergranuler.
b. Mannosidosis. Sel retina bervakuol. Fissurapalpebrae mengecil.
c. Mucopolysaccharidosis. Vakuolisasi intrasitoplasma di kornea, konjunctiva, sclera,
choroid, iris.
GLAUKOMA
Adalah keadaan akibat meningkatnya tekanan intraokuler dan perubahan stuktur okuler,
menyebabkan obstruksi/penyumbatan cairan keluar ke ruang anterior.
CONJUNCTIVA
Konjungtivitis : peradangan konjungtiva. Penyebab : staphylococcus, streptococcis,
Pseudomonas aeruginosa, E.coli dan moraxella bovis.
KELUPAK MATA (eyelids)
Radang kelupak mata disebut : Blepharitis.
Reaksi pada kulit kelupak mata termasuk hiperemia, ederma dan eksudasi sereus. Lebih
lanjut terjadi nekrosis, ulcerasi dan infiltrasi leukosit.
HORDEOLUM, adalah folikulitis yang disebabkan kuman pyogenik dari jaringan
perifokuler. Infeksi pyogenik kelenjar Meibomian (Tarsal) merupakan hasil dari abses.

Radang kronis meibomian atau kelenjar zeis (CHALAZION) umumnya granulomatous


akibat iritasi kronis ditandai dengan proliferasi sel Giant, makrofag, limfosit dan sel
plasma.
TUMOR
Kelupak mata.
- Tumor kelenjar sebaceous (muncul dari kelenjar Meibomian) pada anjing.
- Squamous cell carcinoma pada sapi,
- Melanogenic neoplasma, pada anjing
- Squamous cell papilloma pada anjing.
Kelenjar lakrimalis :
- Adenoma
- Adenocarcinoma
TELINGA
Adalah organ sensorik yang secara anatomis terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan
telinga dalam (labyrinth). Labyrinth dibagi 2 : (a) Cochlea, untuk mendengar, (b) Sistem
vestibular, untuk keseimbangan. Telingan luar terdiri dari : (a) Auricle (pinna), (b) meatus
auditorius external.
Radang telinga : Otitis
a.

Otitis eksterna parasitik


Nama

tipe

Amblyomma spp.
Boophilus spp.
Demodex canis
Dermacentor nitens
Haemaphysalis leporis-palustris
Isodes cati
Otobius megnini

kulit, caplak
kulit, caplak
kulit, tungau
kulit caplak
kulit caplak
kulit, tungau
telinga, caplak

Otodectes cynotis
Psoroptes cuniculi

telinga, tungau
telinga, tungau

Rallietia auris
Rhipicephalus spp.
Sarcoptes scabiei

telinga, tungau
kulit, caplak
kulit, tungau

b.

c.

host
anjing, kuda, ruminansia
sapi, ruminansia lain, kuda
anjing
kuda, ruminansia
kelinci
kucing
anjing, kucing, kuda,
ruminansia, angsa
kucing, anjing
kelinci, domba, kambing,
kuda, rusa
sapi
anjing, kuda, ruminansia
anjing, babi.

Otitis eksterna jamur


Disebabkan oleh fungi genera microsporum, candida, trichophyton, aspergillus,
peyronellaea dan malassezia pachydermatis.
Otitis eksterna bakteri

d.

Disebabkan oleh Staphylococcus intermedius, S. aureus, B-hemolytic streptococcus,


proteus, pseudomonas, E.coli.
Otitis eksterna non infeksius
Disebabkan oleh benda asing, ketidak-seimbangan hormon, hypothyroidisme, tumor sel
Sertoli.
Lesi otitis eksterna berupa lesi coklat berisi serum, leukosit dan debris epitel. Lesi kronis
menunjukkan hiperplasia epidermis dengan acanthosis, parakeratosis, perifolikulitis,
folikulitis dan atrofi kelenjar.
Otitis Media.
Bakteri penyebab otitis media pada hewan.
Nama
Actinomyces pyogenes
Corynebacterium pseudotuberculosis
Coryneform group E
Escherichia coli
Mycoplasma pulmonis
Pasteurella haemolytica
Pasteurella multocida
Proteus mirabilis
Pseudomonas aeruginosa
Staphylococcus spp.
Streptococcus spp.

host
babi, sapi, domba
sapi
angsa
anjing
tikus, mencit
anak domba, sapi
kelinci, kucing, sapi, angsa
anjing, gorilla
babi, mencit
anjing
babi, anjing.

POLYPNASOPHARYNG
Adalah respon terhadap radang berupa massa polyp dari mukosa rongga timpani, telinga
tengah, tuba auditori. Mis. Pada kucing. Penyakit akan sembuh setelah polyp
diangkat/operasi. Massa polyp terdiri dari jaringan fibrous hingga myxomatous dengan
infiltrasi limfosit, epitel squamous, epitel columnar bersilia atau tidak. Polyp pada
nasopharyng mengakibatkan ulcer dengan infiltrasi sel neutrofil.

TELINGA DALAM
Kelainan yang dapat ditemukan :
a. Displasia dan degenerasi ductus cochleus akan berakibat ketulian. Penyebabnya
adalah herediter, toksin, acoustic, senilitas, peradangan dan lesi tumor. Peradangan
telinga bagian dalam (otitis interna) dan tumor metastatik seperti limfosarcoma dapat
berakibat kerusakan dan hilangnya ductus cochleus maupoun struktur vestibular
labyrinth.
b. Vestibular disorder penyebabnya adalah defisiensi vit. A, Mn dan squamous sel
carcinoma

c.

Tumor telinga bagian dalam squamous sel carcinoma, adenoma epitel respirasi yang
berhubungan dengan telinga bagian dalam, mis. pada anjing.