Anda di halaman 1dari 12

ini Ki Buyut, ingin bertemu dengan Ki Kamandanu dan Engger

kata Ki Jungkar
Sambil tersenyum Ki Buyut menunduk salam
Selamat datang kembali Ki Kamandanu, maaf
kami tidak bisa memberikan penyambutan kata Ki Buyut
Kamandanu Menunduk hormat ah, kami sangat berterimakasih atas apa yang telah Ki Ju
nkar berikan pada kami
ini anaku, Ki Buyut Lanjut Kamandanu
terimalah Salam ku Ki Buyut
Kata Jambu Nada menunduk hormat
Ya Engger
jawab Ki Buyut tersenyum
Pragolopati adalah Putera dari Ki Martan saudagar Permata di daerah ini, sudah du
a tahun ini dia pergi mengembara,baru tiga bulan ke belakang dia kembali
Padukuhan, tapi ada saja perbuatannya yang aneh, ada tiga gadis yang kata nya pe
rnah dekat dengannya, tapi entahlah apakah kebetulan atau bagaimana, setelah
tidak lagi bersama Pragolopati, gadis-gadis itu menjadi kurang waras
Kata Ki Buyut
yang lansung menceritakan pada Kamandanu dan Jambu Nada.
kenapa tidak lansung ditanyakan pada Pragolopati atas ketiga gadis itu Ki ? tanya Jam
bu Nada pada Ki buyut.
tidak ada yang berani Engger, aku sebagai Buyut di Padukuhan ini terlalu lemah dal
am memimpin, hanya bisa memyerahkan pada Hyang Widhi
jawab Ki Buyut
lemah.
Dahi kamandanu bekerut mendengar penjelasan Ki Buyut.
sebenarnya Ki Buyut tidak tinggal diam Engger, pernah Ki Buyut ingin menyelesaikan
masalah di antara salah satu gadis itu, tapi Pragolopati terlalu kuat,
malahan keponakan Ki Buyut tewas di tangan Pragolopati, belum lagi Pragolopati b
ersama orang-orang nya yang selalu meminta bahan Makanan untuk kelompok
mereka, yah warga desa tidak bisa apa-apa, hanya bisa diam dan melihat kelakuan
Pragolopati yang semakin tidak terpuji
Kata Ki Junkar dengan wajah yang
keruh menimpali cerita Ki Buyut.
kenapa tidak di laporkan, ke Majapahit
tanya Jambu Nada
Ki Junkar menghela napas, dia memandang Ki Buyut dengan lemah.
Ki Buyut tersenyum ah sudahlah Ki Kamandanu dan Engger, itu masalah warga disini, a
ku datang hanya mengucapkan selamat datang kembali buat Aki dan Engger
aku adalah orang Kurawan Ki buyut, jadi apa pun masalah warga Kurawan adalah bagia
n dari masalah aku juga
kata Kamandanu
Ki Buyut menghela nafas, mengaanggukan kepalanya pelan. Kemudian memandang Jambu
nada.
kami tidak berani melaporkan hal ini ke Kota Raja Engger, Pragolopati telah mengan
cam kami, aku tidak ingin banyak korban lagi, cukuplah keponakan ku
sebaiknya Ki kamandanu dan Engger untuk sementara untuk tidak berada di Kurawan du
lu, nanti kalau suasana sudah tenang aku sendiri yang akan menjemput
Aki kata Ki Buyut Pada Kamandanu dengan wajah Khawatir.
kenapa begitu Ki Buyut?
tanya Jambu Nada
tadi sebelum mereka meninggalkan Padukuhan, mereka meminta warga menyerahkan orang
yang telah berani mengganggu kerja mereka, kalau tidak mereka akan
datang untuk merusak padukuhan
Kata Ki Junkar pelan mewakili Ki Buyut.
apakah Ki Buyut atau Ki Junkar tahu di mana letak Padepokan Sekar Kecubung
Kamandanu
bertanya
Dengan wajah cemas Ki Buyut menjawab
tidak ada yang tahu Ki, warga disini hanya ta
u nama Padepokan itu, tapi tidak tahu letaknya, hanya Pragolopati yang
tahu, ayahnya sendiri sudah tidak bisa menegur anak nya itu lagi
sudahlah Ki Kamandanu, tidak perlulah Aki dan Engger terlibat dalam masalah ini, l
agian aku dan adik ku Ki Parkam mengucapkan terimaksih pada Engger
Jambu Nada yang sudah menyelamatkan Putrinya Untari
lanjut Ki Buyut.
sudah aku katakan KI, apa yang menjadi masalah warga Kurawan adalah juga masalah k
u,karna aku adalah warga kurawan, paling tidak aku pernah lahir dan
besar disini
kata Kamandanu memandang Ki Buyut yang kelihatan cemas
Lanjut Kamandanu berkata
apalagi mereka mencari orang yang mengganggu pekerjaan me
reka, dan Jambu Nada harus mempertanggung jawabkan hal ini pada mereka
Ki Buyut hanya bisa menghela napasnya, walaupun dia tahu Kamandanu adalah bekas
Panglima Majapahit, seoarng yang sangat di Segani pada masanya, namun karna
rasa hormatnya dia tak ingin melibatkan Kamandanu, apalagi mereka baru tiba untu

k melihat Padukuhan kelahirannya.


maafkan kami Ki Kamandanu, suasana Padukuhan begitu mengecewakan, tidak memberikan
kenyamanan Pada Aki dan Engger, padahal Aki dan Engger baru saja sampai
disini setelah puluhan tahun tidak lagi berada di sini
Kata Ki Buyut dengan wajah
penyesalan.
Kamandanu tersenyum
tidak usahlah merasa begitu Ki Buyut, apa pun keadaan Kurawan,
tetap Padukuhan ini adalah tempat kelahiran dan tempat aku menikmati
masa muda .
baiklah kita tunggu mereka datang, nanti jika mereka datang menemui Pak Buyut kata
kan kami berada di kediaman Ki Junkar, bukan kami sombong memberanikan
diri menghadapi mereka, tapi sudah menjadi tanggung jawab atas apa yang di lakuk
an Jambu Nada
kata kamandanu sambil menghela nafas.
Ki Buyut hanya mengangguk pelan, tidak ada pilihan lain, orang yang di hormatiny
a itu bukan lah orang yang lemah seperti warganya, dan dia pun tak ingin
padukuhan ini di obrak-abrik oleh orang-orang Sekar Kecubung.
Ki Junkar, kami mohon izin untuk tinggal beberapa hari di kediaman Ki Junkar
Kata Ka
mandanu Pada Ki Junkar.
o
Ki junkar tersenyum,
silakan Ki, tanpa izin sudah menjadi hak Aki dan Engger untuk
tinggal di Pondok ini, dan aku serta istriku sangat senang
bila Aki mau tinggal disini
Demikianlah Kamandanu dan Jambu Nada tinggal di Pondok Ki Junkar yang merupakan
bekas kediaman Emppu Rengga Reksa, seorang Empu pembuat senjata untuk Negeri
Singasari, Negeri yang telah lama runtuh, dan sekarang Keturunannya kembali meng
harumkan Nama Bumi Jawa dengan mendirikan sebuah Negeri yang besar, Negeri
Majapahit.
Kamandanu sering mengajak Jambu Nada berjalan-jalan di Padukuhan itu, menceritak
an keadaan Padukuhan itu di masa mudanya, Kamandanu mengenalkan pada Jambu
Nada tempat kelahirannya, tempat di masa mudanya. Walaupun sudah banyak yang tid
ak mengenal Kamandanu, tapi orang-orang tua di Padukuhan masih ada yang
mengenal dan mengenang nama Arya Kamandanu. Nama seorang panglima besar Majapahi
t pada masa nya dulu. Orang-orang tua begitu menaruh hormat pada Kamandanu,
walaupun sering Kamandanu meminta mereka untuk bersikap biasa, tapi masih ada sa
ja yang tetap memanggil Kamandanu dengan sebutan Gusti.
Jambu Nada merasa senang berada di Kurawan, dia sering berkumpul bersama pemudapemuda di Padukuhan itu, begitu cepat dia beradaptasi dengan orang-orang
di padukuhan, dan pandai mengambil hati orang-orang Kurawan, walaupun Jambu Nada
tinggal dan besar di tempat yang sunyi dan jarang di datangi orang, tapi
prilaku dan adab Jambu Nada tidak menunjukan orang yang tinggal di tempat yang s
epi tak berpenghuni, sebaliknya tatakramanya menunjukan sikap seorang Kasatria
bangsawan. Karna Kamandanu selalu mengajarkan pada Jambu Nada bagaiman cara berh
adapan dengan orang yang lebih tua atau orang yang se usianya
Malam telah menggantikan siang, suara malam mulai mendendangkan lagu tentang dun
ia mereka, dunia yang gelap penuh dangan misteri bagi mereka yang takut
akan kegelapan, sementara di sudut Langit nampak sepotong Bulan menampakan dirin
ya, tersenyum menyaksikan nyanyian malam yang menyambut kedatangannya.
Begitu anggun sepotong Bulan itu menarikan sinarnya yang sejuk, sambil menyataka
n tak beberapa lama lagi akan membawa seluruh pasukannya menerangi malam,
ya hanya butuh waktu sepekan kedepan Bulan itu akan berukuran penuh, tentunya ak
an memberikan keindahan pada suasana yang sejuk.
sudah tiga hari berlalu dari peristiwa di tepi hutan itu, tapi Guru belum juga ke
luar dari biliknnya
kata Pragolopati pada orang Tua berpakain hitam
dengan ikat kepala merah yang sering di panggilnya Paman Guru.
sudahlah tunggu saja, sebentar lagi Kakang Ponco akan menyelesaikan samedinya
jawab
Paman guru memperhatikan bilik kamar yang temaram di sebrang biliknya.
ada berapa gadis kah di dalam sana Paman Guru
tanya Pragolopati
entahlah, tiga atau empat orang mungkin
jawab Paman guru
kenapa sudah sebulan ini Eyang Guru belum juga datang ke padepokan Paman Guru
tanya
Pragolopati sambil memandang sepotong bulan di langit yang cerah.
kau harusnya bertemakasih karna Guru belum datang, gadis-gadis yang kau janjikan p

ada Guru belum sepenuhnya kau dapati


jawab Paman Guru dengan sinis
pada Pragolopati.
kau pasti di hukumnya
lanjut Paman Guru.
kalau saja tidak ada kejadian di Pinggir Hutan itu, tentunya tiga gadis yang aku j
anjikan sudah ada
kata Pragolopati penuh penyelesaian.
kejadian apa Pragolopati?
tanya seeorang besuara serak sambil membuka biliknya.
o
wajah Pragolopati tegang,
Guru
katanya sambil menyonsong Gurunya dan segera berlutu
emberikan hormat.
kita ke bilik adi Pangger
kata orang setengah baya yang nampak cerah, dengan badan y
ang tegap.
kau telah selesai kakang Ponco
kata Paman Guru yang ternyata bernama Pangger menyons
ong kedatangan Kakang Ponco.
ada peristiwa apa Adi Pangger
tanya Kakang Ponco ketika dia telah duduk tikar di baw
ah amben dalam bilik itu.
sebaiknya Pragolopati yang menceritakannya
sahut Adi Pangger.
Mata Kakang Ponco segera memandang Pragolopati untuk mendapatkan jawabannya.
maafkan aku Guru, aku belum bisa memnuhi janji ku buat Eyang Guru,karna ada perist
iwa kecil di pinggir hutan Kurawan
jawab Pragolopati
ah, sudahlah jangan basa basi, aku hanya ingin mendengarkan peristiwa apa yang nam
pak kau gelisahkan sedari tadi
kata kakang Ponco dengan sinis.
Pragolopati kemudian menceritakan apa yang terjadi di hutan kecil itu, dengan se
ksama dan penuh perhatian Kakang Ponco mendengarkan apa yang di ceritakan
Pragolopati.
apa yang kau rasakan di kepalamu saat itu adi
tanya kakang Poco pada Adi Pangger set
elah mendengarkan cerita dari Pragolopati.
Wajah Adi Pangger datar, kemudian mengerutkan kening, dia mencoba mengingat keju
tan yang di dapatkan di hutan kecil itu .
aku merasakan kepalaku menjadi sakit yang luar biasa, darah di kepalaku terasa din
gin membeku, tapi selang beberapa saat terasa panas yang mendidih,
kemudian aku tang ingat apa- apa lagi
jawab Adi Pangger dengan lemah dan penuh kec
ewa.
terus bagaimana sikap Ki Buyut terhadapmu kembali kakang Ponco bertanya,
ketika mereka datang aku sudah sadar, tapi kepalaku masih terasa sakit, aku hanya
mengancam mereka untuk menyerahkan orang itu, kalau tidak aku akan
mengobak-abrik Padukuhan itu
jawab Adi Pangger dengan nada tinggi.
aku yakin orang itu masih di Kurwan
lanjut Adi Pangger
Tiba tiba Kakang Ponco tertawa, Adi Pangger dan Pragolopati mengerutkan dahi deng
an sikap Kakang Ponco.
apakah kau berani mengobrak-abrik Padukuhan itu, terus kalau orang itu datang kemb
ali bagaimana, apa kau akan dapat melawannya, sebelum melawan kau sudah
pingsan di tepi hutan itu, untung saja dia tak menghabisi nyawamu
kata Kakang Ponc
o setelah puas ketawa.
aku akan meminta bantuan Guru
jawab Adi Pangger dengan wajah merah.
sudahlah jangan libatkan guru dulu, tapi bagus kau telah membuat orang itu akan be
rtahan di sana
Besok kita akan kesana, kita akan bertanya pada orang-orang di padukuhan itu
kata ka
kang Ponco
Nampak wajah Pragolopati cerah, dengan Gurunya dia yakin akan dapat meringkus or
ang itu. Dia tak mau di anggap lemah oleh orang-orang kurawan, dia harus
tetap menjadi orang yang di takuti di sana, dengan begitu akan mudah baginya mel
akukan apa saja dan juga akan mendapatkan kembali Untari, yang kelak di
persembahkannya untuk Eyang Guru.
Warga Padukuhan Kurawan nampak begitu pucat, mereka di kumpulkan di halaman besa
r Ki Buyut, dari yang remaja sampai yang tua-tua di kumpulkan, suara gentongan
telah terdiam pertanda hampir seluruh Penduduk Kurawan telah berkumpul, mungkin
hanya bayi-bayi yang masih tinggal bersama ibu mereka di pondok-pondok
mereka.
Pragolopati nampak berwibawa berdiri di banjar kediaman KI Buyut, dengan sinis d
ia memandang penduduk yang telah berkumpul di hadapannya.
dimana dia, tunjukan keberadaan nya, jika ada di antara kalian yang berani menyemb
unyikannya maka jangan salahkan aku jika rumah kalian akan kujadikan

kuburan kalian
lantang suara Pragolopati dengan wajah yang merah.
Pragolopati, apa yang kau lakukan, tak kah kau ingat mereka itu adalah teman-tema
n spermainan mu, janganlah engkau menjadi penguasa di sini, ada Ki
Buyut yang harus kau hormati
muncul seorang setengah baya, di lihat pakaiinnya nam
pak orang itu orang berada.
ayah jangan turut campur dengan urusan ku
jawab Pragolopati lebih lantang,
tapi perbuatan mu sudah keterlaluan Pragolopati, tidak kah kau ingat bagaimana war
ga bersama-sama membawa ibumu yang sakit tiga tahun lalu pada Ki Dukun,
kau tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong ibu mu
kembali orang setengah Baya
berpakaian bagus itu menjawab.
cukup ayah, aku tak ingin tangan ku ini meremukan kepala ayah, lagian tetap saja i
bu mati saat itu
geram Pragolopati
Lelaki setengah baya itu menunduk lemah, wajahnya penuh penyesalan ada air yang
mengenang di kelopak mata, tak lah dia takut akan di bunuh Pragolopati
tapi sebuah penyesalan karna sikap anaknya yang sudah jauh dari norma.
cepat katakan, dimana orang itu , jika kalian tetap melindungi orang itu, aku bisa
buktikan padukuhan ini akan menjadi arang, dan tak akan ku biarkan
satu orang pun yang akan keluar dengan selamat dari padukuhan ini
dengan lebih lan
tang Pragolopati mengancam.
Dan tiba-tiba saja dia memukul dada seorang pemuda yang berdiri di bawang banjar
, dengan sekejap pemuda itu tersungkur tak sadrkan diri, terlihat dada
pemuda itu biru dan dari mulutnya keluar darah segar.
Semua warga mengigil ketakutan, wajah mereka pucat pasi tertunduk dalam diam.
aku dan guruku masih memberikan kesempatan pada kalian, tiga hari kedepan saat kam
i datang, orang itu harus sudah ada, jika tidak kalian akan mendapatkan
akibatnya, dan orang itu hanya contoh
lanjut Pragolopati saat melihat warga yang
semakin ketakutan.
Setelah berbicara demikian Pragolopati segera meninggalkan banjar itu, terlihat
di depannya dua orang lelaki setengah baya yang semakin jauh meninggalkan
padukuhan itu.
Suasana hening, nampak jelas di wajah mereka dalam ketakutan, mereka telah memba
yangkan tiga hari ke depan rumah-rumah mereka akan menjadi arang, dan tentu
jiwa mereka terncam, warga tahu siapa Pragolopati dan orang yang ada di belakang
nya,masih teringat jelas dulu tiga bulan kebelakang, keponakan Ki Buyut
merenggang nyawa dari tangan Pragolopati, dan hari ini dengan tangannya Pragolop
ati membuat seorang pemuda tersungkur dengan darah segar di mulut.
Dalam keheningan itu tiba-tiba saja seorang pemuda berwajah garang berteriak nya
ring
Ki Buyut, serahkan orang itu pada kami ,kami akan meringkusnya
dan memberikannya pada Pragolopati, kami tak ingin rumah-rumah kami di bumi hang
uskan oleh orang Sekar Kecubung, aku baru saja menikah bulan lalu, aku
masih ingin menikmati hidupku
katanya dengan lantang.
Hening sesaat, selang berikutnya warga mulai berteriak
iya Ki Buyut serahkan orang
itu, kalau tidak kami akan mengeledah rumah Ki Buyut untuk menemukan
orang itu
aku yakin anak muda dan lelaki tua yang selalu bersamanya itulah orangnya, semenja
k mereka datang padukuhan kita menjadi tidak tenang
kata pemuda berwajah
garang tadi.
iya,iya benar
sahut yang lain
Tapi beliau adalah Gusti Arya Kamandanu
sahut lelaki Tua yang berdiri di sebelah kan
an halaman Ki Buyut.
ah, itu sudah lam dan dia bukan lagi panglima majapahit
sahut pemuda yang di tengah
Serahkan mereka Ki Buyut
sahut yang lainnya lagi
Gaduh lah sudah halaman Ki Buyut, warga yang lembut tiba-tiba berwajah beringas,
mereka maju bersama-sama untuk naik di banjar dan menggeledah pondok Ki
Buyut.
Ki buyut hanya bisa terdiam tak tahu harus berbuat apa atas kelakuan warganya, s
egeralah warga menggeledah rumah Ki Buyut, dengan penuh amarah karna dalam
tekanan mereka membongkar apa saja yang ada dalam pondok Ki Buyut.
Setelah puas mengobrak abrik pondok Ki Buyut, dengan kecewa mereka menghardik Ki
Buyut, karna Ki Buyut yang tidak bisa menjawab satu pukulan melesat di

tubuh KI Buyut, di susul oleh pukulan yang lain, sehingga Ki Buyut tersungkur di
banjar Pondoknya. Nyi Buyut hanya bisa meraung-raung memohon mereka menghentika
n
tindakan mereka.
Dalam kegaduhan itu, seorang pemuda berteriak nyaring semua orang menoleh, berdi
ri di sana seorang pemuda tampan dengan tubuh bidang, alis yang tebal,
berdagu belah, dan nampak kedua lesung pipitnya saat anak muda itu bicara, ya pe
muda itulah yang mereka cari pemuda yang mereka kenal dengan nama Jambu
Nada, anak dari Ki Kamandanu.
apa yang kalian lakukan terhadap KI Buyut, apa salahnya, tak kah ada rasa hormat p
ada orang yang selama ini memimpin kalian, yang memberikan arahan pada
kalian
Semua warga seperti tersentak oleh ribuan cambuk, dengan wajah tegang beberapa o
rang mundur.
hei anak muda, kau lah penyebab dari masalah ini, kedatanganmu dan orang tua itu t
elah membawa bencana di Padukuhan kami
jawab seorang Pemuda dengan
wajah merah.
hah, apa katamu aku penyebab dari masalah ini, aku yang membuat bencana ini
? tanya
Jambu Nada dengan suara yang tenang. Bukan kah kau yang membuat
bencana di Padukuhan ini, lihat pondok Ki Buyut, kalian obrak abrik isi nya, tid
ak puas kalian pun beramai-ramai memukul Ki Buyut, orang yang seharusnya
kalian hormati tapi kalian jadikan bulan-bulanan, kalian anggap Ki Buyut penjaha
t besar, kalian anggap Ki Buyut lah yang telah mengambil anak, adik gadis
kalian lanjut Jambu Nada dengan lebih lantang.
Kembali warga tersentak, Ki Buyut adalah orang yang selama ini memberikan arahan
pada mereka, yang selalu berusaha melindungi mereka, yang selama ini selalu
tampil di depan untuk menyelesaikan masalah mereka, tapi apa yang di lakukan ter
hadap Ki Buyut , Pondok nya bersama-sama mereka obrak abrik , tidak hanya
itu Ki buyut pun telah menjadi Korban, orang tua itu telah tersungkur di tanah k
arna pukulan yang mereka layangkan pada sekujur tubuh orang tua yang baik
hati itu, bukan Ki Buyut lah yang mengambil gadis-gadis di padukuhan mereka,mala
han keponakan Ki Buyut pun telah menjadi korban.
Warga kembali terdiam tak tahu harus berbuat apa-apa, tiba-tiba saja seorang pem
uda berseru dengan keras,
ayo kita tangkap anak muda dan orang tua itu,
merekalah yang di cari orang Sekar Kecubung, dengan menyerahkan mereka padukuhan
kita akan selamat dari arang
Sejenak warga terdiam, orang-orang tua tahu bahwa orang tua di samping anak muda
itu adalah Bekas panglima majapahit, namanya tetap terpahat di hati mereka,oran
g
yang di anggap orang yang perkasa membela Panji-panji majapahit. Mereka tidak be
gerak ketika pemuda-pemuda yang telah marah beramai-rami maju dan kemudian
memukul anak muda dan orang Tua yang mereka kenal itu.
Tubuh Arya Kamandanu dan Jambu Nada menjadi bulan-bulanan amarah pemuda Padukuha
n Kurawan, dengan beringas mereka menubruk, menendang, dan mendorong ke
dua orang itu. Hampir saja Jambu Nada akan membalas, tapi dengan cepat Kamandanu
menyentuh tubuh Jambu Nada sambil menggelengkan kepalanya. Setelah beberapa
saat di pukul beramai-ramai nampak Kamandanu menoleh Jambu Nada sambil menganggu
kan kepalanya.
Dengan sekali hentakan Jambu Nada melompat mundur kebelakang
cukup hentikan
kata Jambu Nada dengan suara yang nyaring.
Namun pemuda-pemuda itu tidak ingin berhenti bersama-sama mereka mengejar Jambu
Nada. Tapi tiba-tiba saja mereka di kejutkan oleh apa yang di lakukan oleh
Jambu Nada, pohon kelapa yang di dekat Jambu Nada telah tercabut dan terangkat d
alam pelukan Jambu Nada. Pemuda-pemuda padukuhan Kurawan seperti tersihir,
dengn mata tebelalak mereka melihat anak muda yang telah mereka pukul bersama-sa
ma mengangkat pohon kelapa itu dengan mudahnya, dan tak lama kemudian pohon
itu hancur yang tersisa hanya debu bekas pohon kelapa itu. Dan mereka hanya bisa
diam bengong dengan wajah yang pucat.
maaf aku membuat kalian terkejut, aku tak bermaksud menyombongkan diri
sesat Jambu t
erdiam menghela nafas.
spertinya kalian hanya akan mendengarkan

orang yang mampu membuat kalian takut baru kalian akan mendengar apa yang dikata
kan orang itu, dengan kata-kata yang baik kalian tidak pernah menggubrisnya,
apakah kalian lupa bahwa kalian itu adalah orang yang beradab, orang yang mengen
al aturan, kesopanan
kembali Jambu Nada menarik nafas, memberikan kesempatan
pada anak muda padukuhan itu untuk mencerna apa yang di katakannya.
apa kah salah ku terhadap kalian, apakah aku mengambil adik atau mbokyu kalian?
kemb
ali Jambu Nada berkata.
Dengan tenag Jambu Nada berkata apakah aku salah jika aku tak terima dan melarang
orang yang semena-mena mangambil gadis di padukuhan ini, yang aku lakukan
hanyalah ikut menjaga padukuhan ini dari orang-orang yang telah berbuat tak sesu
ai dengan norma, kenapa aku yang kalian adili, kenapa kalian berani memukul
Ki Buyut orang yang telah membela kalian, kenapa kalian tidak berani pada Pragol
opati dan teman-temannya, bukan kah dia juga manusia seperti kita juga,
yang pasti akan merasa sakit bila di pukul, aku yakin dengan bersama-sama seluru
h pemuda di padukuhan ini akan mampu membuat Pragolopati akan takut untuk
berbuat semena-mena di padukuhan ini, bukan kah sudah menjadi kewajiban bersama
untuk menjaga padukuhan ini dari orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Bergetar dada pemuda-pemuda padukuhan mendengar anak muda yang dengan tenang ber
bicara itu, mereka menilik mereka sendiri, mereka bukanlah orang yang lemah,
mereka juga mengenal Ilmu Kanuragan untuk menjaga diri, kenapa harus takut denga
n Padepokan Sekar Kecubung, dengan bersama-sama mereka yakin akan dapat
melawan Padepokan itu, kalaupaun mereka mati, bukan kah itu mati yang mulia, mat
i membela tanah milik mereka sendiri, tempat mereka lahir, tempat mereka
besar, tempat mereka bermain, sudikah mereka membiarkan orang-orang merusak tana
h yang memberi mereka hidup.
aku hanya ingin membela tanah kelahiran nenek moyangku, disini Ayah ku di lahirkan
dan di besarkan, disini pula makan Eyang Empu Rengga Reksa dan Juga
Eyang Putri, sadarkah kalian telah membiarkan orang-orang itu berbuat semena-men
a terhadap tanah kita, gadis-gadis mereka ambil, adik-adik kita mereka
ambil, padi yang kita tanam dengan susah payah dengan keringatpun mereka ambil
kem
baali Jambu Nada berkata.
apakah kita akan membiarkan hal itu ?
tanya Jambu Nada Lantang
tidak
jawab pemuda berwajah garang , kemudian di sahut yang lain
tidak, kami tidak aka
n membiarkan mereka mengambil hak kami, tak akan kami membiarkan
mereka berbuat semena-mena pada tanah kami
ya, tidak.....
bergemuruh yang lain sahut menyahut seakan terbangun dari tidur yang
di dalamnya terdapat mimpi yang buruk.
Jambu Nada tersenyum, dia menarik nafas lega
nah orang-orang Kurawan, apakah kita akan menyerahkan orang yang telah membela tan
ah kita itu ?
Tanya Ki Buyut di sela-sela gemuruh.
Semua warga kembali terdiam, diam dengan rasa bersalah terhadap orang yang telah
semena-mena mereka pukul, orang yang selama ini di hormati, orang yang
selama ini mengayomi mereka. Mendidih hati pemuda-pemuda itu pada Pragolopati da
n teman-temannya.
jawablah orang kurawan, apakah kita akan menyerahkan keluarga kita ini pada mereka
? kembali Ki Buyut bertanya
Tidak ki Buyut , jawab orang dengan gemuruh
terus apa yang akan kita lakukan ,jika besok lusa mereka datang dengan pedang terh
unus?
kita akan melawan Ki buyut
kata Pemuda yang berdiri di depan Ki buyut
iya Ki Buyut, kita akan melawan
sahut yang lainnya
apakah kalian tidak takut, jika nanti nyawa kalian akan terputus oleh pedang-pedan
g mereka?
kembali Ki Buyut Bertanya.
Dengan penuh semnagat pemuda yang berdiri di belakang menjawab
kami tidak takut K
i Buyut, kalaupun kami mati, maka kami mati membela tanah kami sendiri,
mempertahankan tanah kelahiran kami sendiri
jawab pemuda itu
Benar, iya benar
sahut yang lain,kembali dengan gemuruh di halaman Ki Buyut itu.
Ki Buyut mengangguk kecil, dengan senyuman di wajahnya, walaupun badannya terasa
perih dan sakit, tapi rasanya melihat warganya yang penu semangat nampak
di wajahnya terasa cerah, cerah dari hari-hari sebelumnya.

Dengan penuh kesadaran pemuda-pemuda padukuhan Kurawan bertekad akan membela tan
ah kelahiran mereka dari ancaman Pragolopati dan Padepokan Sekar Kecubung.
Semenjak hari itu di bawah binbingan Ki Jagabaya Padukuhan Kurawan mereka mengad
akan latihan-latihan, tidak ketinggalan Arya kamandanu turut serta memberikan
arahan berbagai gelar perang, bagaimanapun juga dia adalah bekas Panglima Majapa
hit, banyak perang-perang yang di lewati, salah satunya berperang dengan
ribuan pasukan Negeri Gelang-gelang Kediri, dan juga ikut berbagai perang dalam
menjaga Kedaulatan Majapahit yang baru berdiri di masa itu, banyak peristiwa
yang bertentangan dengan naluri hatinya, tapi demi kedaulatan Majapahit dia haru
s menepiskan keraguan hatinya seperti terpaksa menumpas pemberontakan Rangga
Lawe di sungai Tambak beras dan berselang lima tahun kemudian harus menumpas pem
berontakan Lembu sora.
Kita pusatkan gelar di luar pedukuhan, kita jadikan gerbang padukuhan sebegai ben
teng terakhir, sebagian berada di luar, sebagian di atas bukit , kemudian
sebagian di dalam yang akan kita jadikan sebagai pasukan cadangan
kata kamandanu m
enjelaskan gelar perang yang akan mereka lakukan.
Ki Jagabaya akan memipin pemuda di luar gerbang, Ki buyut tetap di dalam bersama s
ebagian pemuda, jika kita perlukan maka Ki Buyut akan memimpin pemuda
untuk membantu, di bukit akan di pimpin putera Ki Buyut Pirong
lanjut Kamandanu me
njelaskan.
Ki Buyut mengangguk kecil, dan mereka yang bergumpul di banjar Ki Buyut menyetuj
ui cara gelar yang di sampaikan Arya Kamandanu.
Selanjutnya Kamandanu kembali mengatakan
sebelum terjadi bentrokan, kita akan usah
akan jalan damai, karna mereka ingin bertemu dengan Aku dan anaku,
maka biarlah kami bertemu dengan mereka dulu, semoga tidak banyak korban yang ak
an jatuh kelak .
baiklah, aku rasa penjelasan Ki Kamndanu telah dapat di pahami, jadi silakan kalia
n kembali berlatih, semoga apa yang kita lakukan ini akan selalu mendapat
perlindunganNya
kata Ki Buyut setelah mereka merasa cukup mendengarkan penjelasan
Kamandanu.
Satu persatu pemuda meninggalkan banjar Ki Buyut, beberapa pembantu padukuhan ju
ga telah meninggalkan banjar itu.
Sementara itu di Padepokan Sekar Kecubung, Ki Ponco telah mendapat kabar bahwa p
adukuhan Kurawan telah bersiap untuk menghadapi mereka, maka dengan itu
para murid dan cantrik telah di persiapkan Kakang Ponco, mereka akan di bawa ke
Kurawan. Mereka akan menghancurkan padukuhan itu, mereka merasa padukuhan
itu telah tidak menghormati Sekar Kecubung, dengan beraninya padukuhan itu menen
tang Sekar Kecubung.
apakah kita perlu menghadap Guru, Kakang
tanya Adi Pangger
Guru pasti datang kalau kita dalam maslah, tapi aku rasa ini hanya masalah kecil
jaw
ab Kakang Ponco.
Dengan mendengus Kakang Ponco geram
aku yakin , orang itu telah mempengaruhi Pend
uduk, sebelum orang itu menguasai Kurawan dan pedukuhan lainnya kita
harus bergerak cepat, besok malam kita akan berangkat, dan kita akan membakar po
ndok-pondok padukuhan itu
Demikianlah ratusan orang cantrik dan murid-murid padepokan Sekar Kecubung yang
dipimpin oleh Kakang Ponco, begerak menuju Kurawan, dengan gelora amarah
Kakang ponco melecut kudanya.
selamat malam Ki Jagabaya, kenapa begitu banyak pemuda berkumpul disini
kata Pragolo
pati bertanya dengan suara sinis.
kami hanya menyambut kedatangan Engger bserta orang-orang padepokan Sekar Kecubung
, bukan Engger juga membawa banyak teman Engger disini
jawab Ki Jagabaya
tenang.
Kakang Ponco tertawa lepas sampai tubuhnya terguncang, kemudian dia turun dari k
uda hitam miliknya,
terimaksih Ki Jagabaya atas penyambutan ini, bagaimana
dengan permintaan kami tiga hari yang lalu ?
Ki Jagabaya tersenyum
ternyata dia sendiri yang ingin bertemu dengan Aki ,dia jug
a turut membawa kami sebagai temannya, dan kami dengan senag hati menemani
dia

Kembali Kakang Ponco tertawa.


sudahlah Ki Jagabaya, di temani atau tidak sama saj
a bagi kami, sekarang tunjukan padaku mana orangnya, apakah orang yang
berpakain putih itu Ki Jagabya
Ki Jagabaya menoleh arah yang di tunjuk Kakang Ponco.
bukan Ki, tapi ini Ki yang a
da di sampingku
Kali ini tawa Kakang Ponco lebih keras,
dia terlalu muda untuk menjadi tukang sap
u padepokan kami Ki
terimakasih Ki telah sudi menginginkan aku menjadi tukang sapu di padepokan Aki, s
ungguh besar pengharapan Aki menginginkan aku menjadi tukang sapu di
padepokan Aki, sampai-sampai hampir seluruh penghuni padepokan datang untuk menj
emputku
pelan suara Jambu Nada sembari matanya menatap tajam pada Kakang
Ponco.
ah, Guru aku sudah tidak telaten dengan basa basi ini, kalau hanya dia yang berani
mengganggu ku beberapa hari yang lalu, biarlah aku yang menghadapinya,
di hutan itu dia hanya berani bermain petak umpet
kata Pragolopati keras dan lanta
ng.
bagaimana Pragolopati, permainan petak umpet ku nampak nya membuatmu merasa tidak
telaten untuk menemukan ku sehingga kau tertidur lelap bersama Aki
yang berpakain hitam dengan ikat kepala merah itu
kata Jambu Nada sambil menunjuk
Adi Pangger. atau kau ingin tidur lagi Pragolopati, kelihatan nya
kau begitu nyenyak saat itu sampai-sampai Aki yang baik hati itu mau membopongmu
pulang? lanjut Jambu Nada
Panaslah telinga Pragolopati dan Adi Pangger mendengar kata-kata Jambu Nada, ham
pir saja Pragolopati meloncat untuk menyerang Jambu Nada tapi itu tak terjadi
karna segera di gamit Kakang Ponco.
sungguh permainan yang seru anak muda, sayang aku tidak berada di situ, mungkin ka
u juga akan tidur hingga kau tak sadar untuk bangun lagi
Kata Kakang
Ponco sambil menerapkan Ajian Gelap Ngampar Tingkat tinggi.
Dengan serangan tiba-tiba itu, pemuda-pemuda Kurawan jatuh bertumbangan, mereka
tak mampu membendung kedahsyatan ajian itu, Ki Buyut pun hampir jatuh pula,
tapi dengan sigap Jambu Nada memegang lengannya mengalirkan tenaga murni pada KI
Jagabaya membantunya melawan aliran tenaga Kakang Ponco lewat Ajian Gelap
Ngampar.
aneh, harusnya dengan Ajian Gelap Ngampar yang sekuat ini, bukan hanya kami yang m
erasakannya, tapi kelihatan orang-orangnya samasekali tidak terpengaruh,
ada dua kemungkinan, pertama orang-orang nya mempunyai tenaga dalam nyang luar b
iasa, paling tidak setara dengan nya sehingga tidak meraskan pengaruhnya,
kedua Ajian Gelap Ngampar yang berbeda dari Ajian Gelap Ngampar yang selama ini
ada, mungkin dapat di serangkan pada lawannya saja , dan tidak mempengaruhi
orang yang tidak di serang
membathin Arya Kamandanu yang merasakan keanehan Ajian
Gelap Ngampar yang di terapkan Kakang Ponco.
Hal itu pun terpikirkan oleh Jambu Nada, ayahnya banyak megenalkan Ajian-ajian a
tau kekuatan yang ada di dunia ilmu kanuragan, salah satunya Ajian Gelap
Ngampar, menurut Ayahnya sifat dari Ajian Gelap Ngampar adalah terbuka merata da
n merusak, artinya siapa pun orang yang mendengarkan suara yang di aliri
Ajian Gelap Ngampar pasti akan di pengaruhi oleh Ajian itu, hanya mereka yang me
mpunyai tenaga dalam yang tinggi yang dapat terhindar dari pengaruh Ajian
itu, dan dia pun melihat keanehan dari Ajian Gelap Ngampar dari Kakang Ponco, ka
rna orang-orang Padepokan Sekar Kecubung yang samasekali tidak terpanguruh
sedikitpun.
Dengan menghela napas Kamandanu maju dan menjawab kata Kakang Ponco
ternyata kisan
ak sudah tidak telaten juga dengan pemuda-pemuda Kurawan yang berada
disini, yang tidak mau pulang dan segera tidur dirumah mereka,sampai-sampai kisa
nak sendiri yang menyanyikan kidung sehingga mereka tertidur, tapi aku
merasa kasian dengan mereka yang tidur di tanah, lebih baik mereka tidak tidur s
ekarang Kisanak, mereka harus menemani anak muda itu menemui Kisanak dan
teman-teman Kisanak
Sesat kemudian Kakang Ponco dan orang-orang padepokan Sekar Kecubung terkesiap d
engan apa yang terjadi, tiba-tiba saja pemuda-pemuda yang pingsan segera
siuman dan seperti tak merasakan sesuatu, mereka bangun dan berdiri tegap sepert

i awal mereka datang.


Kakang Ponco mendehem, dia memperhatikan Kamandanu dengan seksama, dari Ikat kep
ala yang putih, sampai pakaian kamandanu yang seba putih,
siapakah kisanak
ini, kenapa justru membangunkan mereka, biarlah mereka tidur untuk beberapa saat
j
awab Kakang panco dengan mata yang tak lepas memandang Kamandanu.
hmm, rupanya ayah menggunakan Ajian Eling
membathin Jambu Nada.
Kamandanu tidak mempelajari juga tidak menginginkan Jambu Nada menguasai Ajian G
elap Ngampar, karna sifat ajian itu yang merusak, Kamandanu hanya membimbing
Jambu nada untuk menguasai Ajian Eling, sifat yang berlawanan dengan Ajian Gelap
Ngampar, dengan Ajian Eling, akan dapat melawan kekuatan Ajian Gelap Ngampar,
bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga pada sekelilingnya.
beliau adalah Arya Kamandanu Ki, Ayah dari anak muda ini
Ki Jagabaya lah yang menja
wab pertanyaan Kakang Panco sambil menepuk pundak Jambu Nada.
pasti Aki pernah mendengar nama beliau
lanjut Ki Jagabaya.
Kakang Panco terhenyak mendengar nama itu, namun kembali senyumaannya mengembang
di garis-garis keras wajahnya.
ternyata aku bertemu dengan seorang pembesar Majapahit, sungguh kehormatan buat ku
dapat bertemu dengan pendekar pilih tanding, namanya telah menggetarkan
bumi Majapahit, dari timur hingga ke barat,bahkan negeri sebrang pun mengenal na
ma Arya Kamandanu, Pendekar Pedang Naga Puspa
kata Kakang Ponco
Kamandanu tersenyum mendengar apa yang di katakan Kakang Ponco
ah, itu berlebihan
Ki sanak, tak kah kau lihat aku sudah mendekati uzur, dan aku bukan
lagi menjadi pembesar Majapahit, aku hanya rakyat biasa, sama seperti Kisanak, m
alahan Kisanak mempunyai Padepokan yang sangat di kenal di daerah ini
Kakang Ponco tertawa lirih,
tapi dimanakah Pedang yang pernah menggegerkan Majapa
hit itu Tuan Kamandanu, pedang yang menjadi dambaan pendekar di masa
itu, walaupun belum tentu pedang itu mampu menyentuh Keris Panjer Agung
pedang itu sudah tidak bersama denganku Kisanak, sudah aku katakan,aku sudah tua
tak pantaslah orang tua seperti aku membawa pedang
jawab Kamandanu
aku rasa keris yang kisanak sebutkan tadi tentunya keris yang hebat, dan kita yan
g sudah tua ini tentunya tak pantas membawa benda-benda seperti itu
mohon maaf guru , tiba-tiba Pragolopati datang menghampiri Kakang Ponco, aku sudah tida
k telaten dengan basa basi ini guru, mohon ijinkan aku masuk
ke Padukuhan mencari Untari, bukan kah aku sudah berjanji pada Eyang Guru, dan U
ntari termasuk salah satu dari syarat itu guru
tak baik membawa gadis berjalan di malam hari seperti ini Pragolopati
sebuah suara m
enyela, yang tak lain adalah Jambu Nada.
kurang ajar, apa hak mu melarangku, aku adalah orang Kurawan, dan menjadi hak ku m
embawa siapa saja yang aku mau
geram Pragolopati.
Pragolopati meloncat dan menyerang kepala Jambu Nada, dengan sedikit memiringkan
kepalanya Jambu Nada mengelak, belum sempat Pragolopat memperbaiki posisinya,
tiba-tiba saja tangannya merasa di pelintir, ya ketika tangan Pragolopati hendak
menerkam kepala Jambu Nada, dengan gerakan yang tak dapat di lihat mata
orang biasa kerikil kecil yang melekat di sela jari kaki Jambu Nada melayang ke
atas dan menyentuh tangan Pragolopati.
kau curang jahanam
teriak Pragolopati
hei, kenapa kau bilang aku curang, memangnya apa yang aku lakukan
tanya Jambu Nada d
engan senyuman yang tetap terhias di bibirnya.
sudahlah Pragolopati, kau bukan lawannya, terimalah kenyataan itu
suara Kakang Ponco
berkata lirih tapi kau jangan khawatir setelah aku bermain-main
dengan bekas pembesar Majapahit ini, aku akan membawanya ke Padepokan untuk menj
adi tukang sapu dibilikmu,
ah, apakah kita yang sudah tua ini masih pantas bermain-main Kisanak
kata Kamandanu
Kakang Ponco tertawa
jangan begitu Tuan Kamandanu, aku hanya ingin mencari sediki
t keringat di malam yang dingin ini, aku juga ingin mengenal lebih
jauh permainan dari pembesar Majapahit yang mengegerkan itu
matanya tajam menatap
Arya Kamandanu.
nah Pragolopati, bawalah teman-temanmu juga Paman
guru mu mencari gadis itu, tapi sebelumnya kau ajaklah pemuda-pemuda Kurawan itu
bermain-main
Kakang Ponco terkesiap demgan wajah yang memerah, baru saja Pragolopati ingin me

ngerahkan orang-orang Padepokan Sekar Kecubung, dengan mengangkat tangannya


pertanda untuk memasuki padukuhan, tubuh Pragolopati menginggil, dan jatuh terku
lai di tanah tak sadarkan diri.
ilmu iblis apa pada anak muda itu, getarannya jelas tidak terasa tapi akibat seran
gannya sungguh luar biasa
membathin Kakang Ponco.
ternyata muridmu seorang penidur Ki
kata Jambu Nada
tunggulah anak muda, setelah aku bermain dengan Ayahmu ini, aku akan melayani mu
kat
a Kakang Ponco yang mulai tidak telaten.
aku harap kau tak bermain terlalu lama Ki, jangan sampai kau keletihan karna terla
lu bnayak bermain dengan ayahku
jawab Jambu Nada dengan nada getir.
Semakin merah wajah Kakang Ponco. serang
suaranya keras menggema
Dengan serentak murid dan cantrik pedepokan Sekar Kecubung maju, kembali mereka
di kejutakan, kini suara raungan aneh yang membuat wajah orang-orang padepokan
Sekar Kecubung pucat pasi, di hadapan mereka berdiri Jambu Nada, dengan tubuh be
rtotol hitam bercahaya merah putih kebiruan.
hmm, anak siluman
suara Kakang Ponco menggeram
aku ingatkan, bawalah kembali orang-orang mu Ki, dan ingat jangan pernah kembali k
e Padukuhan Kurawan atau ke padukuhan-padukuhan lainnya
lantang suara
Jambu Nada berteriak sambil memandang tajam Kakang Ponco.
terima lah ini anak muda
sahut Kakang Ponco,sambil melompat dan berteriak
Ajian Lebur
Seketi !!!
berbarengan dengan itu dua sinar merah mengahantam
tubuh Jambu Nada.
aurngg
raungan pendek Jambu Nada menerima dua sinar itu
Arya Kamandanu terkejut melihat apa yang di lakukan Jambu Nada, barulah dia sada
r bahwa pengalaman anaknya itu barulah sedikit, sehingga tidak telaten
dengan suasana malam yang semakin panas itu.
Dua sinar merah itu tiba-tiba saja berbalik, dengan terkesiap Adi panjer yang ya
ng ikut melontarkan Ajian Lebur Seketinya itu terbelalak den meringis kesakitan
yang sangat luar biasa, ,jantungnya terbakar hebat dan seketika itu juga jatuh m
elayang dan diam selama-lamanya , Ajian Lebur Seketinya berbalik mengahantam
tubuhnya,
Tubuh kakang Ponco melayang , namun belum sempat tubuh itu terjatuh ke tanah, so
sok bayangan hitam berkelebat dan menangkap tubuh Kakang Ponco. Sosok lelaki
tegap dengan rambut putih yang berjuntai tanpa di ikat melayang lembut. Dengan s
igap pula tangan kirinya menarik tubuh Pragolopati yang tak sadrkan diri.
Dengan tubuh Kakang Ponco yang digendong di belakangnya, dan tangan kiri menggen
dong Pragolopati sosok hitam itu mengambang, pertunjukan ilmu meringan
tubuh yang sangat sempurna.
tunggu lah saatnya datang Adi Kamandanu, dan ingatkan anakmu itu juga, sampai jump
a Adi
suara sosok hitam itu menggema, kemudian menghilang di kegelapan
malam.
Kakang Dwipangga
berdesis Kamandanu dengan wajah cemas dan tegang.
benarkah itu Uwak Dwipangga Ayah
tanya Jambu Nada
Kamandanu hanya terdiam, tak ada suara , tak ada yang berani berbicara, bagi pem
uda-pemuda pedukuhan Kurawan dan orang-orang pedepokan Sekar Kecubung apa
yang terjadi di depan mereka seperti mimpi, dengan cepat hal itu terjadi dan ber
lalu.
Tak beberapa lama kemudian pemuda-pemuda pedukuhan Kurawan yang berada di bukit
segera turun dan menggabungkan diri dengan kelompok pemuda yang dipimpin
Ki Jagabaya.
sementara itu murid dan cantrik pedepokan Sekar Kecubung menunduk dan bersimpuh
mereka tidak tahu harus berbuat apa, pemimpin mereka telah pergi meninggalkan
mereka, Paman Gurupun telah tewas di hadapan mereka.
bagaimana denga murid dan cantrik pedepokan Sekar Kecubung Ki Kamndanu, apa yang h
arus kita lakukan terhadap mereka
tanya Ki Jagabaya.
kita bawa saja mereka di halaman pondok Ki Buyut
sahut Kamandanu lemah. aku yakin sekar
ang mereka tak akan melakukan hal yang membahayakan ujar
kamandanu yang melihat kerutan di dahi Ki Jagabya, kerutan cemas dan tanda tanya
.
baiklah, jika memang demikian
kata Ki Jagabaya

Demikianlah, mereka kembali di Padukuhan bersama orang-orang padepokan Sekar kec


ubung, dengan tangan terikat orang-orang padepokan Sekar kecubung di kumpulkan
di halaman pondok Ki Buyut.
apakah kalian menyadari khilafan kalian kisanak ?
tanya Ki Buyut pada orang-orang pa
depokan Sekar kecubung.
kami menyadari nya Ki buyut
jawab seorang lelaki yang memakai ikat kepala berwarna m
erah.
Sebelum warga Pedukuhan menghukum kami, yang hukuman itu pasti akan kami terima d
engan ikhlas, apa pun itu
lelaki itu menghela napas
namun izinkanlah
kami meminta maaf atas apa yang di lakukan Padepokan kami,dan izinkanlah aku ber
cerita tentang sesuatu mengenai padepokan kami lanjutnya.
kita bunuh saja mereka
sahut salah seorang pemuda Kurawan
iya, bunuh saja
sahut yang lain
Dalam gemuruh itu pemuda-pemuda itu telah mencabut pedang mereka, dengan wajah b
eringas, mereka maju ingin menghukum orang-orang padepokan Sekar Kecubung
saat itu juga.
hentikan !!!
berteriak Jambu Nada
Pemuda-pemuda itu terkesiap, bibir mereka bergetar, mereka melihat apa yang tela
h di lakukan anak muda itu di gerbang, dan juga beberapa hari yang lalu
di halaman ini.
apa yang kalian lakukan, kalian akan membunuh mereka dengan tangan mereka yang ter
ikat ?
Tidak ada jawaban, semuanya membisu.
Anak-anaku semuanya, aku tahu apa yang kalian rasakan, aku pun akan melakukan hal
yang sama jika aku seperti kalian, tapi cobalah membuka sedikit pikiran
kalian
lembut suara Arya Kamandanu menggema di halaman itu.
Hyang Widhi mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk beb
an yang tidak perlu. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk
penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan ca
ra yang sangat sederhana, yaitu memaafkan. Selain mulia, memaafkan juga
bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan
melahirkan kesengsaraan, karena membiarkan diri disakiti terus-menerus
oleh diri kita sendiri. Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan j
uga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan
maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bias memaafka
nnya. Ada dua cara yang efektif untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama,
kita menyadari bahwa manusia itu tempatya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai p
ribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Tuhan Yang Maha Kuasa maupun
kepada sesama manusia. Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain ya
ng berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita. Jika ada orang
yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak
memaafkan. Cara kedua, kita meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang itu
Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Tuhan Yang Maha Kuasa mud
ah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain?. Alangkah angkuhnya
kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti k
ita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan
kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat.
begitu lembut dan penuh wibawa
suara Kamandanu mengumandang di halaman itu, terlihat berapa pemuda
meneteskan air mata, begitu juga dengan orang-orang Padepokan Sekar Kecubung, ma
lahan di antara mereka ada yang sampai terisak, entah apa yang membuatnya
begitu terharu dengan alunan wejangan dari Kamandanu. Semua yang hadir di halama
n itu tertunduk lemah, berbicara dengan hati mereka masing-masing.
nah apakah kalian akan mengizinkan mereka untuk bercerita saudara-saudaraku?
tanya J
ambu Nada di atas keheningan penghujung malam itu.
Tak ada jawaban, hanya anggukan dari pemuda-pemuda Kurawan itu, hati mereka masi
h di cekam, mereka merasa bercermin di air yang bening, dalam bayangan
air bening itu nampak lah mereka yang sebenarnya, tubuh yang berlumpur, dan waja
h yang penuh dengan darah dan kotoran-kotoran.
silakan kisanak, katakanlah apa yang ingin katakan
kata Ki Buyut sambil memandang or
ang itu.

terimaksih Ki Buyut, aku tak tahu kata apakah yang pantas untuk aku ucapkan atas k
ebaikan yang luar biasa kami dapatkan, kebaikan dari orang-orang yang
akan kami bunuh dan kami bakar kehidupannya, selayaknya di bumi ini tak ada temp
at yang pantas untuk kami jejaki, karna tubuh kami yang telah penuh dengan
nanah kekotoran
sambil terseguk dalam tangis orang itu pelan berucap.
Lima tahun yan
g lalu padepokan kami adalah padepokan yang sangat menjunjung norma
kehidupan, padepokan kami tempat berbagi ilmu, baik kedigdayaan, kejiwaan, maupu
n kebutuhan kehudpan yang fana ini. Beberapa padukuhan yang dekat dengan
padepokan kami selalu mengirim pemuda-pemudanya untuk beljar di padepokan kami.
Di bawah bimbingan Ki Ajar Tesa padepokan kami di segani dan di hormati,
tapi itulah hidup selalu saja ada yang merasa tidak senang dengan keadaan pedepo
kan Sekar Kecubung yang telah harum namanya, dan itu datang dari adik kandung
Ki Ajar Tesa sendiri, Ki Ponco Tesa dengan bantuan orang yang dipanggil Eyang Gu
ru, Ki Ajar Tesa beserta keluarganya tewas, kami sangat marah ingin membalas
perbuatan mereaka, tapi apa daya, kekuatan kami hanya se ujung ireng pun tak sam
pai di hadapan mereka, kami hanya bisa pasrah dan mengikuti apapun yang
mereka perintahkan, awalnya sangat sulit, tapi lama kelaman kami pun menikmati j
alan hidup seperti mereka. Disini kami mendapatkan kami kembali, kami yang
telah lama hilang, dan hanya rasa syukur yang bisa kami ucapkan. Panjang lebar oar
ang itu becerita, dengan tetesan air mata, dan wajah yang penuh penyesalan.
baiklah , aku putuskan kalian untuk sementara tinggal di pedukuhan ini, kalian bol
eh membuka hutan kecil di utara pedukuhan Kurawan ini untuk di jadikan
tempat tinggal dan membuka lahan pertanian untuk mencukupi kebetuhan kalian seha
ri-hari, kami para warga dengan senang hati membantu jika kalian membutuhkan
bantuan kami, jika kelak kalian tidak betah dan ingin kembali ke tempat asal kal
ian kami pun akan izinkan tapi tentunya dengan melihat sikap kalian selama
tinggal di pedukuhan kami
ujar Ki Buyut lembut dan tegas.
Demikianlah, segala masalah di Pedukuhan Kurawan akhirnya dapat diselesaikan, de
ngan bantuan dan arahan Kamandanu bserta warga pedukuhan, orang-orang bekas
padepokan membuka lahan hutan kecil di utara. Dan mereka memulai hidup baru, den
gan penuh semangat dan tekad mereka berusaha memperbaiki diri mereka.