Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

S DENGAN GANGGUAN ENDOKRIN :


DIABETES MELLITUS DI BANGSAL MELATI I
RSUD K.H. HAYYUNG KAB. SELAYAR

NAMA : SYAMSIDAR
NIM : 15152235
KELAS : C

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
GUNUNG SARI MAKASSAR
2016

DM tipe 1
(DIABETES MELLITUS)

KONSEP DASAR
A. Pengertian
Diabetes mellitus adalah keadaan dimana tubuh tidak menghasilkan atau memakai
insulin sebagaimana mestinya. Insulin adalah hormon yang membawa glukosa darah ke
dalam sel-sel dan menyimpannya sebagai glikogen (Tambayong, Jan, 2000 : 157).
Pendapat dari Smeltzer, S.C dan Bare (2001 : 1220) Diabetes Mellitus adalah
gangguan metabolisme dengan karakteristik intoleransi glukoda atau penyakit yang
disebabkan oleh ketidakseimbangan antara persediaan insulin dengan kebutuhan- klasifikasi
diabetes yang utama adalah :
1. Diabetes Mellitus tipe I : DM tergantung insulin.
2. Diabetes Mellitus tipe II : DM tidak tergantung insulin.
3. Diabetes Mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya.
4. Diabetes Mellitus gestasional.
B. Etiologi
Menurut Smeltzer, S.C dan Bare (2001 : 1224) penyebab diabetes mellitus
dikelompokkan menjadi 2 :
1. DM tipe I disebabkan oleh
a. Faktor genetik
Penderita DM tidak mewarisi DM tipe itu sendiri tapi mewarisi suatu
kecenderungan genetik ke arah terjadinya diabetes ini ditemukan pada penderita
HLA (Human Leucocyto Antigen).
b. Faktor lingkungan
Karena destruksi sel beta, contoh : hasil penyelidikan yang mengatakan bahwa
virus atau toksin tertentu dapat memicu proses auto imun yang menimbulkan
destruksi sel beta.
2. DM tipe II
Disebabkan oleh usia (retensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65
tahun) obesitas, riwayat keluarga, kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan
hisponik serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar
untuk terjadinya DM)
Terjadinya DM tipe II dibandingkan dengan golongan non Amerika.
C. Manifestasi Klinik
Pendapat Smeltzer, S.C dan Bare (2000 : 1220) manifestasi klinik dari Diabetes
Mellitus antara lain :
1. Glukosuria
: adanya kadar glukosa dalam urin.
2. Poliuri
: sering kencing dan diuresis osmotik.
3. Polidipsi
: banyak minum akibat dari pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebih.
4. Polifagi
: banyak makan akibat menurunnya simpanan kalori.
5. Penurunan berat badan secara drastis karena defisiensi insulin juga mengganggu
metabolisme protein dan lemak.
Berdasarkan Tjokroprawiro (1998 : 1) menyebutkan tanda dan gejala diabetes
mellitus antara lain :
1. Trias DM antara lain banyak minum, banyak kencing dan banyak makan.
2. Kadar glukosa darah pada > 120 mg/dl.
2

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kadar glukosa 2 jam sesudah makan > 200 mg/dl.


Glukosuria (adanya glukosa dalam urin)
Mudah lelalh, kesemutan, kulit terasa panas.
Rasa tebal di kulit, kram, mudah mengantuk.
Mata kabur, gigi mudah goyah, dan mudah lepas.
Kemampuan sexual menurun, impoten.

D. Anatomi Fisiologi
Pankreas panjangnya kira-kira lima belas sentimeter, mulai dari duodenum sampai
limpa, dan terdiri atas 3 bagian : kepala pankreas, badan pankreas, ekor pankreas. Jaringan
pankreas terdiri atas labula dari pada sel sekretori yang tersusun mengitari saluran-saluran
halus. Saluran-saluran ini mulai dari persambungan saluran-saluran kecil dari labula yang
terletak di dalam ekor pankreas dan berjalan menlalui labula yang terletak di dalam ekor
pankreas dan berjalan melalui badannya dari kiri ke kanan. Saluran-saluran kecil itu
menerima saluran dari labula lain dan kemudian bersatu untuk membentuk saluran utama
yaitu ductus wirsungi.
Kepulauan langerhans pada pankreas membentuk organ endokrin yang menyekresi
insulin, yaitu sebuah hormon antidiabetika, yang diberikan dalam pengobatan diabetes.
Insulin adalah sebuah protein yang dapat turut dicernakan oleh enzim-enzim pencerna
protein. Insulin mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan sebagai pengobaan dalam
hal kekurangan, seperti pada diabetes, ia memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk
mengabsorbsi dan menggunakan glukoda dan lemak (Pearce, E., 1995 : 207 dan 237).
Insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas, kelenjar pankreas terletak di lekukan
usus dua belas jari, sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah yaitu
waktu puasa antara 60-120 mg/dl dan dalam dua jam sesudah makan di bawah 140 mg/dl.
Bila terjadi gangguan pada kerja insulin, baik secara kuantitas maupun kualitas
keseimbangan tersebut akan terganggu dan kadar glukoda cenderung naik (Tjokroprawiro,
1998 : 1).
E. Patofisiologi
Defisiensi insulin terjadi sebagai akibat dari kerusakan sel beta langerhans, defisiensi
insulin tersebut akan menyebabkan peningkatan pembentukan glikogen sehingga glikogen
akan mengalami suatu penurunan yang mengakibatkan hiperglikemi, peningkaan kadar
glukosa hepar dan peningkatan lipolisis.
Hiperglikemi akan mengakibatkan seseorang mengalami glukosuria, yang
menyebabkan osmotik diuresis.
Osmotik diuresis akan menimbulkan sesuatu keadaan di mana ginjal tidak dapat
meningkatkan glukosa yang difiltrasi. Ginjal tidak mengikat glukosa yang difiltrasi akan
mengakibatkan cairan diikat oleh glukosa, sehingga cairan dalam tubuh akan berlebihan
yang akan dimanifestasikan dengan banyak mengeluarkan urin (poliuri).
Poliuri akan menyebabkan banyak kehilangan elektrolit dan dalam tubuh dan
akibatnya akan menimbulkan masalah kurang volume cairan, dehidrasi akan membuat
seseorang banyak minum (polidipsi).
Apabila tubuh kehilangan kalori, akan menyebabkan seseorang dalam keadaan
lemah, sehingga akan muncul permasalahan intoleransi aktifitas sedangkan keadaan
polifagia akan mengakibatkan munculnya masalah perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan
(Price, S.A. dan Wilson, L.M., 1995 : 112).

F.

Pathway dan Masalah Keperawatan


Kerusakan sel beta langerhans
Defisiensi insulin
Peningkatan kalori

Polifagia

Lemah
Intoleransi
aktivitas

Cidera
Luka
Resiko tinggi
infeksi

Perubahan
mikrovaskuler
retina
Gangguan
sensori
perseptual
Ketajaman
pandangan
menurun
Resiko injuri

Peningkatan pembentukan glikogen


Penurunan glukagon
Hiperglikemia

Glukosauria
Perubahan nutrisi :
kurang dari
Osmotik diuresis
kebutuhan tubuh

Dehidrasi

Ginjal tidak
mengikat
kembali glukosa
yang difiltrasi
Gluksa mengikat
cairan
Cairan yang
berlebih
Poliuri
Perubahan
volume cairan
kurang dari
kebutuhan tubuh

Peningkatan
lipolisis
Peningkatan
oksidasi asam
lemak bebas
Pembentukan
keton
PH turun
Asidosis
metabolik
Tekanan parsial
O2 menurun
Hipotensi

Sumber :
- Price, S.A dan Wilson (1995 : 112)
- Long, B.C (1996 : 70)
- Smeltzer, S.C (2002 : 1223)
- Doenges (2000 : 729)

G.

Komplikasi
Menurut Price, S.A dan Wilson, L.M (1995 : 1117) komplikasi diabetes mellitus
dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
1. Komplikasi metabolik akut
a. Komplikasi metabolik yang serius adalah ketoasidosis diabetes yang akan
mengakibatkan kerosis terjadi pada jangka pendek.
b. Peningkatan beban ion hidrogen dan asidosis metabolik.
c. Hipolikemi
2. Komplikasi metabolik kronik
a. Makro angiopati yang mengenai pembuluh darah besar seperti pada jantung pada
otak.
b. Mikro angiopati yang mengenai pembuluh darah kecil seperti retinopati diabetik,
nefropati diabetik.
c. Neuropati diabetik rentang infeksi seperti TBC, infeksi saluran kemih, ulkus pada
kaki.

H. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik pada DM menurut Donges dkk (2001 : 728) antara lain :
1. Glukosa darah : meningkat 100-200 mg/dl atau lebih.
2. Aseton plasma (keton) : positif secara metabolik.
3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
4. Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mosm/lt
5. Elektrolit
a. Natrium : mungkin normal, meningkat atau menurun.
b. Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler selanjutnya akan
menurut).
6. Haemoglobin glikosilat : kadarnya melipat 2-4 dari dari normal.
7. Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO 3 (asidosis
metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
8. Trombosit darah, hematokrit mungkin meningkat atau (dehidrasi / leukositosis, hema
konsentrasi, merupakan respon terhadap stres atau infeksi).
9. Ureum atau kreatinin : mungkin meningkat atau normal (dehidrasi atau penurunan fungsi
ginjal).
10. Amilase darah : mungkin meningkat yang mengidentifikasikan adanya pankreatitis akut
sebagai penyebab dari DKA (Diabetik Keto Asidosis).
11. Insulin darah mungkin menurun bahkan sampai tidak ada (tipe I) atau normal sampai
tinggi (tipe II) yang mengidentifikasikan infusiensi insulin atau gangguan dalam
penggunaannya (endogen atau eksogen).
12. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan
glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
13. Urin : gula dan aseton positif berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
14. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi
pernafasan dan infeksi pada luka.
I. Penatalaksanaan
Menurut Smeltzer, S.C dan Bare (2001 : 1226) ada 5 komponen dalam
penatalaksanaan DM yaitu :
1. Diit
2. Latihan jasmani
5

3. Pemantauan
4. Terapi (jika diperlukan)
5. Pendidikan
Berdasarkan Engram, B (1998 : 535) penatalaksanaan DM yaitu :
1. Untuk DM tipe I
Insulin (karena tidak ada insulin endogen yang dihasilkan).
2. Untuk DM tipe II
Modifikasi diit, latihan dan agen hipoglikemia.
Menurut Long B.C (1996 : 81) pencegahan DM yaitu :
1. Pencegahan primer
a. Menghindari obesitas (jika perlu)
b. Pengurangan BB dengan supervisi medik merupakan fokus utama dalam pencegahan
DM tidak tergantung insulin.
2. Pencegahan sekunder yaitu dengan deteksi DM.
J. Fokus Pengkajian
Fokus pengkajian pada penyakit DM menurut Doenges, dkk (2000 : 726)
1. Aktifitas dan istirahat
2. Sirkulasi
3. Integritas ego
4. Eliminasi
5. Makanan atau cairan
6. Neurosensori
7. Nyeri atau kenyamanan
8. Pernafasan
9. Keamanan
10. Sexualitas
11. Penyuluhan
K. Diagnosa Fokus Intervensi Keperawatan
Menurut Doenges, dkk (2000 : 729) diagnosa keperawatan dan intervensi
keperawatan pada penyakit DM adalah :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik, kehilangan gastrik
berlebihan : diare, muntah, masukan dibatasi, mual, kacau mental.
Kriteria hasil : Pasien dapat mendemonstrasikan hidrasi adekuat.
Intervensi :
a. Pantau tanda-tanda vital.
b. Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
c. Pantau masukan dan pengeluaran catat berat jenis urin.
d. Ukur berat badan tiap hari.
e. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan
insulin, penurunan masukan oral, status hiper metabolisme.
Kriteria hasil : a. Pasien akan mencerna jumlah kalori yang tepat.
b. Pasien menunjukkan tingkat energi biasanya.
c. Pasien akan mendemonstrasikan BB stabil.
Intervensi :
a. Timbang BB setiap hari sesuai dengan indikasi.
b. Tentukan program diet akan pola makan pasien.
c. Berikan makanan cair yang mengandung zak makanan dan elektrolit.
6

d. Identifikasi maknan yang disukai termasuk kebutuhan etnik / kultur


e. Observasi tanda-tanda hiperglikemi.
f. Lakukan pemeriksaan gula darah yang menggunakan fingerstick
g. Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan metode insulin intermitten.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi
leukosit, perubahan pada sirkulask, infeksi pernafasan yang ada sebelumnya, atau infeksi
saluran kemih.
Kriteria hasil : a. Pasien akan mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau
menurunkan resiko infeksi.
b. Pasien akan mendemonstrasikan tehnik, perubahan gaya hidup untuk
mencegah infeksi.
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda infeksi.
b. Tingkatkan upaya pencegahan infeksi.
c. Pertahankan tehnik aseptik pada prosedur invansif
d. Pasang kateter atau lakukan perawatan genetalias.
e. Auskultasi bunyi nafas.
f. Bantu pasien untuk melakukan oral hygiene.
g. Lakukan pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai dengan indikasi.
h. Berikan antibiotik yang sesuai.
4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, perubahan kimia
darah : insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi, status hipermetabolis atau
infensi.
Kriteria hasil : a. Pasien mengungkapkan peningkatan tingkat energi.
b. Pasien menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi
dalam aktivitas.
Intervensi :
a. Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitaas.
b. Berikan aktivitas alternatif periode istirahat.
c. Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sebelumnya dan sesudah
aktivitas.
d. Diskusikan cara menghemat kalori.
e. Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN GANGGUAN ENDOKRIN :


DIABETES MELLITUS DI BANGSAL MELATI I
RSUD K.H. HAYYUNG KAB. SELAYAR
A. Pengkajian
Tanggal pengkajian : 13 februari 2016
Jam pengkajian
: 08.00 Wib
1. Identitas
a. Identitas pasien
1) Nama
: Ny. S
2) Tempat/tanggal lahir : Selayar, 1947
3) Umur
: 69 tahun
4) Jenis kelamin
: Perempuan
5) Alamat
: Jl.Hamang DM no.12
6) Suku
: Selayar
7) Agama
: Islam
8) Bangsa
: Indonesia
9) Pendidikan
: 10) Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
11) Dokter yg merawat : dr.Sigit Bayudhono
b. Identitas penanggung jawab
1) Nama
: Ny. S
2) Umur
: 40 tahun
3) Jenis kelamin
: Perempuan
4) Suku/bangsa
: selayar / Indonesia
5) Agama
: Islam
6) Pendidikan
: SMA
7) Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
8) Alamat
: jl. Hamang DM no.12
9) Hubungan dg pasien : Anak kandung
3. Keluhan utama
Pasien mengatakan badannya lemas.
4. Riwayat keperawawatan
a. Riwayat keperawatan sekarang
2 hari yang lalu pasien merasa pusing, mual muntah, badannya lemes dan
nggliyer di rumah pasien sudah diberi obat pusing dan mual muntah, tapi belum ada
perkembangan.
Tanggal 13 februari 2016 pukul 03.00 pagi dibawa ke RSUD K.H. Hayyung,
masuk IGD diberi terapi infus RL 20 tpm, injeksi cefriaxonelx 2 gr, piralen 1 x 1 mg,
ulceranin 1 gr/12 jam, kemudian pukul 05.00 WIB dipindah bangsal Melati I untuk di
rawat inap.
b. Riwayat keperawatan dahulu
1 tahun yang lalu pasien pernah dirawat di rumah sakit dengan penyakit
yang sama dan diperbolehkan pulang karena sudah mengalami perbaikan dalam
kesehatan selama perawatan.
c. Riwayat keperawatan keluarga
Keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular, tetapi ada yang
menderita penyakit hipertensi yaitu ibunya.
. Genogram

Keterangan :
:
:
:
:
:
:
:

Laki-laki
Perempuan
Meninggal
Menikah
Garis keturunan
Pasien
Penderita penyakit hipertensi

5. Konseptual Model Gordon


a. Pola persepsi dan managemen kesehatan
Pasien mengatakan jika ada keluarga yang sakit segera dibawa ke dokter untuk
diperiksakan dan mendapatkan pengobatan.
b. Pola nutrisi
Sebelum sakit : Pasien makan 3 x/hari, porsi makan cukup, nasi, lauk dan sayur.
Selama sakit : Pasien makan diit yang diberikan RS, pasien makan hanya habis
porsi yang diberikan RS, nafsu makan menurun.
c. Pola eliminasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan BAB 1 x/hari, konsistensi padat, BAK 6-7
x/hari.
Selama sakit : Pasien mengatakan BAB 1 x/hari, BAK dalam urine back 1500
cc/hari, warna kunig agak keruh, bau khas.
d. Pola aktivitas dan latihan
Sebelum sakit : Pasien dapat beraktivitas mandiri tanpa bantuan orang lain.
Selama sakit : Pasien total care, semua aktivitas dibantu oleh perawat dan
keluarga.
e. Pola istirahat tidur
Sebelum sakit : Pasien mengatakan biasanya tidur 6-7 jam /hari.
Pasien jarang tidur siang.
Selama sakit : Pasien mengatakan tidur 5-6 jam pada malam hari.
Pasien hanya dapat sebentar-bentar tidur siang.
f. Pola persepsi kognitif
Pasien mengatakan sudah tahu tentang penyakit yang dideritanya.
g. Pola persepsi dan konsep diri
1) Body image : Pasien mengatakan menerima keadaannya saat ini.
2) Self ideal
: Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan berkumpul dengan
keluarga.
3) Self esteem : Pasien mengatakan tidak minder dengan penyakitnya.
4) Identity
: Pasien menyadari bahwa dia adalah seorang perempuan
h. Pola peran dan hubungan
Pasien mengatakan sebagai seorang ibu dari 8 anak dan nenek dari 12 cucu,
hubungan dengan keluarga tampak harmonis.
9

i. Pola reproduksi dan sexual


Pasien mempunyai 8 anak dengan suaminya, pasien menikah 1 kali dan sudah
masa menopause.
j. Pola koping terhadap stres
Pasien mengatakan setiap ada masalah dibicarakan dengan keluarga.
k. Pola nilai dan keyakinan
Pasien mengatakan beragama Islam, dan rajin beribadah 5 kali sehari, tapi
saat ini pasien hanya mampu berdoa.
6. Pemeriksaan fisik
Pada tanggal 16 februari 2016
a. Keadaan umum
: Lemah
b. Tingkat Kesadaran : Composmentis
GCS Evektor
: 4
Motorik
: 6
Verbal
: 5
c. Tanda-tanda vital
: TD : 180/90 mmHg
BB : 50 kg
N : 80 x/menit
TB : 153 cm
S : 36,9C
Rr : 20 x/menit
d. Kepala
: Messocepal, rambut sebahu beruban, tidak ada lesi.
e. Mata
: Konjungtiva anemis, sklera un ikterik, tampak sayu, pasien
masih cukup tajam dalam penglihatan.
f. Hidung
: Bersih, tidak ada serumen, terpasang O2 2 lt/menit
g. Telinga
: Bersih, simetris, pendengaran normal
h. Mulut
: Gigi masih utuh, mukosa bibir kering, tidak pecah-pecah,
tidak ada stomatitis.
i. Wajah
: Pucat
j. Leher
: Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
k. Dada
Paru :
I
: Pengembangan dada kanan = kiri
P
: Fremitus, raba kanan = kiri
P
: Sonor
A
: Tidak ada wheezing
Jantung :
I
: Ictus cordis tidak tampak
P
: Ictus cordis kuat angkat
P
: Pekak
A
: BJ I II reguler
. Abdomen : I
: Permukaan dada dan perut sama, tidak ada lesi
A
: Peristaltik
P
: Tidak teraba massa
P
: Tympani
l. Ektremitas
Atas
: Terpasang infus RL 20 tpm pada tangan kanan, tangan kiri
bebas bergerak, tidak ada oedem.
Bawah
: Bebas bergerak tidak ada oedem
m. Genitalia urinaria : Pasien terpasang DC, genetalia bersih.
n. Kulit
: Terdapat luka bekas pengambilan sampel darah yang
berwarna biru namun tidak nyeri, kapiler reffil > 2 detik.
7. Pemeriksaan penunjang
a. Hasil laboratorium pada tanggal 13 februari 2016 pukul 08.30 WIB
10

Pemeriksaan
Kimia darah
SGOT
SGPT
GDS
Analisa Urine
Urinalisa
Warna
Kekeruhan
Reduksi
Bilirubin
Keton
BJ
pH
Protein
Urobilinogen
Nitrit
Sedimen
Leukosit
Eritrosit
Epitel squamos
Silinder
Kristal
Amorf fosfat
Sel rage/jamur
Bakteri

Hasil

Normal

73 U/L*
71 U/L*
302,1 mg/dl *

Lk : < 35 ; Pr : < 31 u/L


< 31 u/L
70-115 mg/dl

Kuning
Keruh*
Tertentu*
< = 1005
6,5
3,2 E.v/dl
10-15 plp
25. 30 plp
5-7 plp
-

Kuning
Jernih
-

+
+
+

8. Program terapi (13 februari 2016)


a. Infus RL 20 tpm
b. Obat oral
- Captopril 2,5 gr 3 x 1
- Amiodipine 10 mg 1x 1 (siang)
- He pro 3 x 1
c. Injeksi
- Cefriaxon 2 gr/hari
- Piralen 1mg/12 jam
- Ulceranin 1 gr/12 jam
- Lancolin 1 gr/12 jam
- Actropid 10 10 4 unit
d. Pemeriksaan tambahan
Pemeriksaan gula darah sewaktu
B. Data Fokus
1. Data subyektif :
a. Pasien mengatakan badannya lemes.
b. Pasien mengatakan nafsu makan menurun.
c. Pasien mengatakan pusing, nggliyer
2. Data obyektif :
11

(-)

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Keadaan umum lemah


Warna kulit pucat, teraba dingin
TD : 180/90 mmHg, N : 80 x/menit, Rr : 20 x/menit, S : 26,5_8C
BB : 50 kg
Terpasang infus RL 20 tpm pada tangan kanan
Terpasang O2 2 lt/menit
Terpasang DC hari -2
Mukosa bibir kering
Kapileri reffil 72 dtk
Pada tangan kiri ada luka kebiruan bekas pengambilan sampel darah.
Hasil laboratorium saat pengkajian
GDS : 302,1 mg/dl
SGOT : 73 u/l
SGPT : 71 u/l
Amorf pospat : (+)
Sel rage (+)
Bakteri : (+)
l. ADL dibantu keluarga dan perawat.
C. Analisa Data
No
Tgl/jam
Data Fokus
Etiologi
Problem
1.
16/02/16 DS : - Pasien mengatakan Input yang tidak Perubahan
09.00
lemas
adekuat dan
nutrisi kurang
- Pasien mengatakan ketidak cukupan dari kebutuhan
nafsu makan
insulin
tubuh
menurun
- Pasien mengatakan
pusing, nggliyer.
DO: - GDS 302,1 mg/dl
- Mukosa bibir kering
- Makan habis porsi
RS
2
10.00 DS : - Pasien mengatakan Penurunan aliran Resiko tinggi
lemas
darah sekunder terhadap
- Pasien mengatakan akibat
perfusi jaringan
pusing
vasokonstriksi
DO: - TD : 180/90 mmHg, pembentukan
S : 36,9 C
tromboembolik
N : 80 x/menit
Rr : 20 x/menit
- Kapileri reffil 32
detik
- Terpasang O2, 2
lt/menit, kulit pucat,
teraba dingin
- SGOT : 73 u/l
- SGPT : 71 u/l
3.
11.30 DS : - Pasien mengatakan Kelemahan fisik Gangguan
lemas
pemenuhan
DO: - ADL dibantu oleh
ADL
keluarga dan perawat
12

- Terpasang O2 nasal 2
lt./menit
- Terpasang DC
- Pasien lemah
D. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pemasukan yang
tidak adekuat dan ketidakcukupan insulin.
2. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik
3. Resiko tinggi terhadap perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah
sekunder akibat vasokonstriksi, pembentukan tromboli.
E. Intervensi
1. Dx. I
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawtan selama 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi
pasien dapat terpenuhi dengan baik.
Kriteria hasil :
a. Pasien dapat menghabiskan porsi diit yang diberikan.
b. Pasien dapat menunjukkan BB dalam batas normal.
c. GDS menunjukkan angka normal 70-115 mg/dl
d. Mukosa bibir lembab
Intervensi :
a. Berikan makanan sesuai diet DM.
b. Identifikasi makanan yang disukai pasien.
c. Observasi GDS sesuai kolaborasi dokter dengan finger stick
d. Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan metode insulin intermitten sesuai
advis dokter.
e. Observasi tanda-tanda vital.
f. Observasi tanda-tanda hipoglikemia dan hiperglikemia
g. Berikan penyuluhan tentang diit khusus DM yang benar dan menghindari makanan
yang banyak mengandung gula.
h. Timbang BB tiap hari.
2. Dx. II
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien dapat
melakukan aktivitas sesuai toleransi.
Kriteria hasil :
a. Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai toleransi.
Intervensi :
a. Kaji tingkat kemampuan pasien dalam ADL.
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas
c. Ajarkan pasien untuk melakukan aktivitas ringan yang tidak mengganggu
d. Observasi kebutuhan aktivitas yang dibutuhkan
e. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
3. Dx. III
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi
gangguan jaringan perifer.
Kriteria hasil :
b. Kulit hangat, tidak pucat.
13

c. Tanda-tanda vital dalam batas normal


d. Kapileri reffil < 2 detik, turgor kulit baik
e. Tidak ada sesak nafas
Intervensi :
f. Observasi pucat, sianosis, kulit dingin
g. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
F. Implementasi
No.
Tgl/ jam
Implementasi
Respon
Paraf
I,III
17/02/16 - Melakukan pengkajian DS : Pasien mau menyebutkan
08.00
pasien
nama, alamat dan keluhan
- Mengkaji TTV
DO : Pasien tampak lemah
TD : 180/90 mmHg
N : 80 x/menit
S : 36,9C
Rr : 20 x/menit
I

09.00

09.45

II,I

09.45

I, II, III

10.00

I, III

11.00

11.30

I,III

12.00

III

14.30

- Mengambil sampel
darah guna
pemeriksaan GDS
- Membagikan ekstra
siang dengan die
DMTKTP 1500 kal

DS : Pasien mengatakan mau


diambil darahnya
DO: Hasil GDS 302,1 mg/dl
DS : Pasien mengatakan nafsu
makan menurun
DO : Ekstra siang hanya habis
porsi RS
- Menambahkan aqua DS : Pasien mengatakan merasa
dest steril pada oksigen
lebih nyaman
DO : O2 terpasang 2 lt/menit
- Monitor balance cairan DS : DO : Terpasang infus RL 20 tpm,
urin 2/3 jam : 470 cc BL/23
jam : 1261 cc
- Melakukan tindakan DS : injeksi lewat selang
DO : Ceftriaxone masuk 2 gr
infus :
* Ceftriaxone 2 gr
- Membagikan makan
siang diet DMTKTP
1500 kal
- Memberikan obat
Amlodipine 10 mg
Captopril 25 mg
- Mengobservasi
capilary refill
- Mengambil sampel
darah untuk
pemeriksaan SGOT,
SGPT
- Mengambil sampel
14

DS : Pasien mengatakan nafsu


makan berkurang
DO : Makan siang habis porsi
DS : DO : Obat masuk lewat oral
DS : DO : Capilary Refill > 2 dtk
Hasil pemeriksaan darah
SGOT : 70, SGPT : 71

II

15.00

II

I, III

I, III

III
II

III

16.05

16.40

17.30

urin pemeriksaan
ureum kreatinin
Mengkaji kemampuan DS : Pasien mengatakan
pasien dalam ADL
dibantu keluarga dalam
Motivasi pasien untuk
ADL
latihan duduk
DO : Pasien tampak dibantu
Ajarkan pasien untuk
keluarga saat pemenuhan
duduk bersandar di
ADL
tempat tidur
Pasien latihan duduk
Mendekatkan alat-alat
dibantu keluarga
yang dibutuhkan pasien
Membantu dalam
pemenuhan kebutuhan
personal hygiene pasien
Monitor TTV pasien DS : DO : TD : 170/90 mmHg
N : 80 x/menit
S : 37,5C
Rr : 20 x/menit
Mengganti infus RL 20 DO : Infus terpasang RL 20 tpm
tpm
Menyajikan makan soreDS : Pasien mengatakan nafsu
dengan diet DMTKTP
makan menurun
1500 kal
DO : Makan habis porsi

18/02/16 - Mengambil sampel


DS : 09.00
darah guna pemeriksaanDO : Hasil GDS 237 mg/dl
GDS rutin
09.00 - Injeksi : Ceptriasone 2 DO : Ceftriaxone masuk 2 gr
gr
10.00 - Membagikan extra siangDO : Extra siang habis
- Membagikan makan
12.00
siang diet DMTKTP DS : Pasien mengatakan nafsu
1500 kal
makan bertambah
DO : Makan siang habis porsi
12.00 - Memberikan obat oral DO : Obat masuk lewat oral
Hp Pro
Amlodipine 10 mg
Captopril 25 mg
15.00 - Mengobservasi capilaryDS : refill
DO : Capilary Refill < 2 dtk
Infus RL 20 tpm
16.00 - Membantu dalam
DS : Pasien mengatakan mandi
persiapan mandi pasien
dibantu keluarga
DO : Pasien tampak lebih
nyaman
16.40 - Monitor TTV pasien DO : TD : 150/60 mmHg
N : 84 x/menit
S : 36,8C
15

Rr : 22 x/menit
I

17.30

I,III

I
III

G. Evaluasi
No. Dx
I

II

- Menyajikan makan soreDS : Pasien mengatakan nafsu


dengan diet DMTKTP
makan bertambah
1500 kal
DO : Actrapit masuk 10 ui
- Memberikan 10 ui
Makan habis porsi
19/02/16 - Monitor KU pasien
DS : 07.00 - Mengukur TTV pasien DO : TD : 140/90 mmHg
- Memberikan actrapit 10
N : 80 x/menit
ui
Rr : 20 x/menit
S : 36C
08.00 - Mengantarkan makan DS : Pasien mengatakan nafsu
pagi pasien diet DM
maka bertambah
TKTP 1500 kal
09.00 - Mengambil sampel
DO : - Actrapit masuk
darah guna pemeriksaan
- Makan pagi habis 1
GDS
porsi
- Hasil GDS 282 kal
12.00 - Membagikan extra siangDS : Pasien mengatakan nafsu
dengan diet DMTKTP
makan habis porsi
1500 kal
DO : Actrapit masuk
- Memberikan actrapit 10
Makan siang habis porsi
ui
Tanggal/jam
Evaluasi
19-02-2016 S : Pasien mengatakan sudah ada peningkatan
13.00
nafsu makan.
O : - KU pasien sedang
- Pasien makan habis porsi diit RS
A : Gangguan perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan terata si.
P : Intervensi dilanjutkan
- Kolaborasi pemberian actrapid 10-10-4
- Berikan diit khusus DM
13.10
S : Pasien mengatakan badannya masih
nggliyer dan pusing
O : - KU pasien sedang
- TD : 140/90 mmHg
S : 20 x/menit
N : 80 x/menit
Rr : 36C
- Kapileri reffil < 2 detik
A : Resiko tinggi terhadap perfusi jaringan
tidak terjadi
P : Intervensi dilanjutkan
- Berikan O2 2 lt/menit
- Observasi TTV
13.30
S : Pasien mengatakan sudah bisa beraktivitas
16

Ttd

sendiri, tapi kadang masih dibantu


O : Pasien bisa makan sendiri, aktivitas mandi
masih dibantu oleh keluarga.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
- Bantu pasien dalam aktivitas
- Anjurkan pasien untuk beraktivitas
sesuai toleransi

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (terjemahan),
Alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made Sumarwati, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Engram, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Price, A. Sylvia, Lorraine Mc. Carty Wilson, 1994, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, Edisi 4, (terjemahan), Peter Anugrah, EGC, Jakarta.
Smeltzer, S.C. Bare, B.G., 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, EGC, Jakarta.
Tambayong, 2000, Patofisiologi untuk Keperawatan, EGC, Jakarta.

17