Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN

PRAKTEK PERSIAPAN PERTENUNAN 1


RENCANA PENGHANIAN

DISUSUN OLEH:
Nama: Maria Ulfah Agustina
NPM: 13010012
Kelas/Group: 2T1
Dosen: Irwan, S., Teks
Amat
Ipan S

Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil


Bandung
2014

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


Supaya mahasiswa mampu membuat rencana hanian satu warna.

II.

TEORI DASAR
Penghanian adalah proses mensejajarkan benang- benang lusi pada tambur yang
telah diketahui jumlah dan panjangnya dan secara bersama-sama dipindahkan dari tambur
ke boom lusi atau boom hani. Tujuannya adalah untuk menggulung benang ke dalam boom
lusi / hani tenun, yaitu boom yang akan dipasang pada mesin tenun dalam bentuk gulungan
sejajar.
Mesin hani adalah salah satu dari urutan proses persiapan pertenunan yang
fungsinya untuk menggulung benang ke dalam boom tenun dengan gulungan sejajar.
Proses penghanian ini diperlukan untuk mengatur tegangan benang karena benang yang
digunakan banyak jumlahnya serta untuk menghemat tempat.
Untuk menghasilkan hasil penghanian yang baik, ada beberapa persyaratan yang
harus di penuhi yaitu :
Benang yang digulung harus sama panjang
Letak benang yang digulung harus sejajar
Benang yang digulung pada boom lusi harus penuh
Panjang benang yang dihani harus lebih panjang dari kain yang ingin dibuat
Permukaan pada boom tenun harus rata
Cakra boom tidak boleh miring
Letak benang pada boom tenun harus lebih besar 1 inch dan lebih kecil 2 inch dari
lebar sisir disisir tenun
Pada proses penghanian menggunakan mesn hani seksi pada prinsipnya dilakukan
dengan membagi benang lusi yang akan dihani menjadi kelompok-kelompok, dimana
setiap kelompok menunjukan jumlah creel yang digunakan setiap penarikan benang.
Jumlah setiap kelompok pada proses penghanian seksi ini idak melebihi creel yang
terpasang pada rak creel yang terpasang pada rak creel mesin hani. Misalkan benang lusi
yang akan dihani, 12000 helai dengan lebar 50. Kapasitas creel yang terpasang 600, maka
proses penghanian dilakukan dengan membagi benang-benang lusi tersebut menjadi 20
seksi dengan jumlah lusi setiap seksinya 600 helai dengan lebar 2,5. Seksi-seksi ini
kemudian disatukan kedalam boom tenun. Kelemahan penhanian dengan mesin hani seksi
ini, panjang dan tegangan benang yang dihasilkan pada setiap band tidak sama. Penghanian
dengan menggunakan mesin hani seksi akan memberikan kerapatan lusi yang sebenarnya
tetapi tiak pada lebar yang sebenarnya.
Proses penghanian merupakan salah satu proses penentu pada persiapan pertenunan
sebab kesalahan-kesalahan yang dilakukan akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :

Tegangan benang lusi yang tidak sama besarnya akan mengakibatkan cacat kain
pada arah lusi
Benang yang putus dan kemudian tidak disambungkan kembali akan
mengakibatkan cucukan yang salah sehingga pada mesin tenun tampak benang
yang berlebih yang tidak dicucukan, melintang dimuka mesin
Kepadatan gulungan yang tidak rata / sama pada proses penghanian mengakibatkan
mulut lusi yang tidak bersih, sehingga kain akan cacat dan proes pertenunan akan
terganggu.
Benang yang lebih atau kurang dari jumlah telah ditentukan akan dihasilkan kain
yang tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan.

Alur proses penghanian mesin hani seksi


Benang-benang dari creel ditarik dan dimasukkan satu-persatu kedalam sisir
silangan, kemudian ditarik lagi melewati rol pengantar dan masuk ke sisir silang kemudian
ke sisir hani. Setelah itu, benang-benang tersebut diikat dan dikaitkan pada paku-paku yang
terdapat pada tambur. Kemudian putar tambur perlahan-lahan, usahakan bagian pinggir
band menyinggung bidang miring pada tambur, setelah itu barulah mesin dapat dinyalakan.
Macam-macam penghanian :
1. Menghani dari creel melalui tambur kemudian digulung pada boom lusi/boom
tenun tanpa melalui larytan kanji.
2. Penghanian langsung dari creel melalui tambur kemudian digulung pada boom
tenun setelah melalui larutan kanji.
3. Penghanian sementara yaitu menggulung benang dari creel ke boom sementara dan
kemudian beberapa boom tersebut disatukan pada mesin kanji.
Mesin hani dapat digolongkan menjadi :
1) Alat hani tangan ( Hand Warping )
2) Mesin hani seksi ( Cylinder sectional warping machine )
3) Mesin hani kerucut ( Cone sectional warping machine )
4) Mesin hani lebar ( High speed warping machine )
Pada percobaan yang dilakukan kali ini digunakan mesin kerucut atau mesin hani
sectional. Proses penghanian dilakukan dengan menggulung benang-benang lusi dalam ban
(tapes)/drum/tambur. Ban-ban benang lusi tersebut digulung sejajar satu dengan yang
lainnya, sehingga menjadi selebar boom tenun.
Mesin hani sectional ini baik sekali digunakan untuk benang-benang lusi yang tidak
perlu dikanji kembali (double yarn). Mesin hani ini juga dapat digunakan untuk segala jenis
benang.
Bagian-bagian mesin hani sectional terdiri atas :

1.

Creel (rak kelos) dengan penghantar benang.

2.

Sisir silangan

3.

Sisir hani

4.

Rol counter besarta hank meter

5.

Rol elektrik statis

6.

Tambur/tromel/pin silinder

7.

Rol pengantar dan pengatur tegangan

8.

Boom tenun/boom lusi.


Skema Mesin Hani sectional

Skema proses menghani berlangsung, benang-benang berangsur-angsur naik


melalui sisi miring kerucut yaitu karena gerakan-gerakan dari bagian mesin yang
menggeserkan sisir hani ke arah luar ( kiri ).
Untuk ban yang memiliki tetal tinggi dan mudah bergeser atau tergelincir,maka
kerucut disetel lebih datar, misalnya untuk benang-benang rayon. Sudut kerucut yang tidak
tepat akan mengakibatkan pergulungan dan tegangan benang yang tidak rata, sehingga
akan mengakibatkan cacat kain. Untuk menghindari hal tersebut dilakukan dengan caracara :
Menyetel sudut kerucut yang disesuaikan dengan nomer benang.
Menyetel pergerakan ban lusi yang disesuaikan dengan tetal dan panjang lusi.
Pada gambar dibawah ini ditunjukan penyetelan sudut kerucut hani lebih besar pada
benang-benang yang lebih besar/kasar, jika pergeseran bannya sama(W2>W1)

Penyetelan Sudut Kerucut Pada


Benang-benang Yang Nomernya Beda

Sedangkan pada gambar dibawah ini, menunjukan penyetelan sudut kerucut harus
lebih besar pada ban dengan tetal lusi yang lebih tinggi dengan nomer benang yang sama
(W2>W1)

Untuk penghanian lusi yang panjangnya lebih besar, pergeseran ban tidak dapat
dilakukan lebih cepat, mengingat panjang sisi kerucut terbatas, oleh karena makin
panjang lusi yang dihani, pergeseran ban harus lebih kecil/sedikit/pendek, begitu pula
sudut kerucutnya harus lebih curam agar lusi dapat digulung pada sisi kerucut.

III.

ALAT DAN BAHAN


Mesin hani seksional
Benang

IV.

LANGKAH KERJA
1.
2.
3.
4.

Menjelaskan fungsi masing-masing peralatan mesin hani seksional.


Menjelaskan rencana hanian.
Menjelaskan contoh pembuatan rencana hani.
Latihan membuat rencana hanian.

V. JAWABAN PERTANYAAN
1. Jelaskan fungsi masing-masing peralatan mesin hani.
2. Jelaskan maksud pembuatan rencana hanian dari kain dalam proses
penghanian.
3. Berikan contoh suatu proses rencana hanian dari kain yang akan dibuat dalam
proses tenun.
4. Sebutkan syarat-syarat beaming yang baik.
Jawaban:

1) Fungsi masing-masing peralatan mesin hani:


Creel berfungsi untuk tempat penyimpanan benang yang akan ditarik
Tension berfungsi untuk memberikan tegangan pada benang.
Pengantar berfungsi sebagai pengantar jalannya benang pada proses penghanian.
Sisir silang berfungsi untuk memisahkan bagian benang yang bernomer ganjil dengan
benang yang bernomer genap.
Sisir hani berfungsi untuk mengatur tetal lusi dan lebar ban.
Tambur/silinder berfungsi sebagai alat penggulungan sementara benang lusi yang
kemudian akan digulung pada boom tenun. Paku tambur digunakan untuk mengaitkan
tiap-tiap ban pertama untuk membuat simpul.

2) Maksud pembuatan rencana hani adalah untuk mengetahui cara menentukan jumlah
pemasangan benang pada rak, jumlah band, lebar band, cucukan pada sisir hani, kebutuhan
bahan baku, berat masing-masing benang.

3) Diketahui: LP = 42
NSH = 30
PH = 10000 m
KRT = 600
TL = 85

No Benang = 150 Denier

Menentukan jumlah pemasangan benang pada rak = 600 cones

Jumlah Band =

Lebar Band =

Cucukan pada SH =

Kebutuhan bahan baku =

TL x LP

KRT

LP
Band

85 x 42
600

= 5,95

42

= 5,95 = 7,05
KRT

Lebar Band
2

x NSH =

600
7,05
2

x 30 = 5,67 hllubang

lusi x panjang hanian (m)x denier

9000 x 1000

85x42 x 10000 x 150


= 595 kg
9000 x 1000
Kebutuhan benang

Berat masing-masing benang =

Lebar band ke 1 sampai ke 5 =

Lebar band ke 6 (sisa) =

570
3570

KRT
600
3570

595

= 600 = 0,99 kg

x LP = 7,06

x LP = 6,71

4) *Panjang benang hanian lebih besar dari panjang kain


*Permukaan gulungan beam harus rata
*Lebar penghanian harus sesuai dengan perencanaan lebar kain
*Tegangan harus besar

Gambar proses dari rak sampai tambur

VI.

DISKUSI
Pada praktikum rencana hani, banyak terjadi kesalahan-kesalahan yang
menyebabkan praktikum ini berlangsung lama. Berikut ini adalah proses jalannya benang
beserta kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat praktikum sedang berlangsung:
Pertama, cone diletakkan pada creel yang ada pada rak. Kemudian benang dari cone
harus dilewatkan melalui tension, namun karena beban pada tensionnya tidak teratur (ada
yang jumlahnya satu dan ada yang jumlahnya dua) akan menyebabkan tegangan pada
setiap benang berbeda-beda. Tegangan yang berbeda-beda akan mengakibatkan cacat pada
benang. Oleh karena itu, kami harus meneraturkan tegangan-tegangan dengan beban yang
sama agar tegangan tiap benangnya juga sama.
Kedua, setelah benang dilewatkan melalui tension, benang kemudian dilewatkan
ke pengantar. Namun, terjadi kesalahan pada saat memasukkan benang ke pengantar.
Karena terlalu banyak lubang-lubang pengantar sehingga kami jadi kesulitan untuk
memasukkan benang-benang dengan tepat. Memasukkan benang-benang ke lubang
pengantar tidak bisa asal-asalan, harus tepat dan sesuai dengan urutan creel-creelnya.
Ketiga, benang dimasukkan ke sisir silang. Memasukkan benang ke sisir silang ini
cukup lama karena begitu banyak benang yang harus dimasukkan dan itu harus
dimasukkan dengan teratur dan benar. Sisir silang ini juga berfungsi untuk memisahkan
benang ganjil dan benang genap.
Keempat, benang dilanjutkan ke sisir hani. Benang-benang dimasukkan ke sisir
hani. Karena cara memasukkannya sama dengan cara memasukkan benang ke sisir silang
tadi, kami jadi tidak begitu kesulitan saat memasukkan benang ke sisir hani ini. Sisir hani
yang kami gunakan pada praktikum ini adalah sisir hani dengan nomor 30 yang artinya
terdapat 30 lubang dalam 2 inch.
Terakhir, ujung band (terbentuk setelah benang-benang melewati sisir hani)
dibentuk simpul dan dikaitkan di paku tambur, usahakan pinggir band menyinggung
bidang miring pada tambur. Band disilangkan dengan benang putih yang sudah ada pada
tambur. Kemudian putar tambur perlahan.

GEARING DIAGRAM MESIN HANI SEKSIONAL

VII.

KESIMPULAN
Bagian-bagian beserta funsinya, pada mesin hani seksional:
Creel berfungsi untuk tempat penyimpanan benang yang akan ditarik
Tension berfungsi untuk memberikan tegangan pada benang.
Pengantar berfungsi sebagai pengantar jalannya benang pada proses penghanian.
Sisir silang berfungsi untuk memisahkan bagian benang yang bernomer ganjil dengan
benang yang bernomer genap.
Sisir hani berfungsi untuk mengatur tetal lusi dan lebar ban.
Tambur/silinder berfungsi sebagai alat penggulungan sementara benang lusi yang
kemudian akan digulung pada boom tenun. Paku tambur digunakan untuk mengaitkan
tiap-tiap ban pertama untuk membuat simpul.

Alur proses penghanian polos yang dilakukan saat praktikum:


Cone diletakkan pada creel yang ada pada rak. Kemudian benang dari cone harus
dilewatkan melalui tension. Setelah benang dilewatkan melalui tension, benang kemudian
dilewatkan ke pengantar. Benang dimasukkan ke sisir silang. Benang dilanjutkan ke sisir
hani. Ujung band (terbentuk setelah benang-benang melewati sisir hani) dibentuk simpul
dan dikaitkan di paku tambur, usahakan pinggir band menyinggung bidang miring pada
tambur. Band disilangkan dengan benang putih yang sudah ada pada tambur. Kemudian
putar tambur perlahan.

Jumlah pemasangan benang pada rak = 600


Jumlah band = 5,95
Lebar Band = 7,05
Cucukan pada sisir hani = 5,67 hl/lubang
Kebutuhan bahan baku = 595 kg
Berat masing-masing benang = 0,99 kg
Lebar band ke-1 s/d ke-5 = 7,06
Lebar band ke-6 (sisa) = 6,71

VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Sulam, Abdul Latief. Teknik Pembuatan Benang dan Pembuatan Kain. 2008. Jakarta: Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Erwinasari, Wiwin. Penghanian Polos. http://erwinawiwin.blogspot.com/2014/01/vbehaviorurldefaultvmlo_1776.html (diakses pada 7 Januari 2014)
https://www.scribd.com/doc/101607805/Teknologi-Pembuatan-Kain-2009
http://www.slideshare.net/mariaelf13/savedfiles?s_title=pertenunan&user_login=septianraha
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&cad=rja&uact=8&ved=0CDsQF
jAF&url=http%3A%2F%2Fwww.pps.unud.ac.id%2Fdisertasi%2Fpdf_thesis%2Funud-69-676807686disertasi%2520bab%25202.pdf&ei=dNpmVO6GMMexuAT81ILYBQ&usg=AFQjCNExwPJbfB1LGwe77DNi5ZiX4vKtA&bvm=bv.79142246,d.c2E
Rusmawan, Iman. Penyambungan benang Pengelosan, Penggintiran, Penghanian, Penganjian,
Pencucukan, Pemaletan. http://perpuskecilseputartekstil.blogspot.com/2012/07/penyambunganbenang-pengelosan.html (diakses pada 28 Juli 2012)